Anda di halaman 1dari 467

Jelajah Nusantara 4

Catatan Perjalanan 21 Peneliti Kesehatan

Penulis
Agung Dwi Laksono, Lafi Munira, Robi’ah Al-asnawiyah
Putra Apriadi Siregar, Aprizal Satria Hanafi, Ratu Matahari
Isti Kumalasari, Siti Rahmawati, Usman
Marselinus Laga Nur, Diana Debi Timoria, Zulfadhli Nasution
Mariati, Ade Aryanti Fahriani, Nor Efendi
Rizky Amelia Abduh Bavana, Ummu Nafisah, Deni Frayoga
Sutamin Hamzah, Utri Kularia, Titan Amaliani

Health Advocacy
Yayasan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat

i
Jelajah Nusantara 4. Catatan Perjalanan 21 Peneliti Kesehatan
©2017. Health Advocacy

Editor:
Agung Dwi Laksono

Penata Letak – ADdesign


Desain Sampul – ADdesign

Cetakan Pertama – Februari 2017

Buku ini diterbitkan oleh:

HEALTH ADVOCACY
Yayasan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat
Jl. Bibis Karah I/41 Surabaya 60232
Email: healthadvocacy@information4u.com

ISBN 978-602-6958-06-8

Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang


Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh
isi buku ini tanpa izin tertulis dari Pemegang Hak Cipta.

ii
Pengantar

Buku “Jelajah Nusantara 4, Catatan Perjalanan 21


Peneliti Kesehatan” ini merupakan edisi ke-empat sebagai
kelanjutan buku dengan tema catatan perjalanan jelajah
nusantara yang sama pada edisi pertama, kedua dan ke-
tiga. Pada edisi ke-empat kali ini 21 peneliti kesehatan
berkolaborasi penuh menyajikan catatan perjalanan di 25
wilayah yang berbeda.
Catatan perjalanan dalam buku ini disajikan secara
berurutan dari bentangan Timur menuju ke Barat.
Menjelajah dari Provinsi Papua sampai dengan Provinsi
Aceh. Mulai tentang eksotisme Kabupaten Puncak dan
Lanny Jaya di Papua, sampai perjalanan ke Kabupaten Aceh
Timur.
Sampai dengan saat ini kami masih tetap dalam
posisi keyakinan kami, tentang kecintaan kami pada
republik ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Di
balik segala hal kekurangan yang sempat kami lihat dan
kemudian kami tuliskan, kami masih sangat optimis dengan
apa yang bisa kita upayakan dalam membangun dan
memajukan negeri ini. Kita berusaha, dan Dia yang akan
memajukan.
Memahami bahwa kearifan lokal sebagai potensi
adalah modal dasar keyakinan kami untuk negeri ini
menjadi maju, dengan tanpa melupakan akar budaya.
Dimana kaki berpijak, di situ langit dijunjung.
Kami berharap cerita tentang kearifan lokal dalam
jelajah nusantara tidak hanya berhenti sampai edisi ke-

iii
empat ini. Masih terlalu luas negeri ribuan pulau ini untuk
dijelajahi.
Pada akhirnya buku ini menyisakan harapan untuk
bisa memberi kesadaran dan kecintaan pada Republik ini.
Sungguh kami berharap banyak untuk itu!

Saran dan kritik membangun tetap ditunggu.


Salam!

Jakarta, Februari 2017

Penerbit

iv
Daftar Isi

Pengantar iii
Daftar Isi v
1. Menilik jejak di Ilaga; Catatan Perjalanan ke 1
Kabupaten Puncak
Ratu Matahari
2. Eksotisme Negeri di Timur Matahari 9
Robi’ah Al-asnawiah
3. Barapen, Antara Budaya dan Faktor Risiko 25
Kecacingan
Robi’ah Al-asnawiah
4. Antara Manokwari, Sorong, Teminabuan dan 45
Distrik Saifi
Agung Dwi Laksono
5. Antara Hamparan Pasir dan Burung Taun-Taun; 57
Catatan Perjalanan ke Sorong Selatan
Isti Kumalasari
6. Menilik Pelayanan Kesehatan di Tepi Pasifik; 87
Catatan Perjalanan ke Halmahera Barat, Maluku
Utara
Agung Dwi Laksono
7. Balutankehangatan Berahu untuk Mama; 99
Catatan perjalanan ke Obi Timur, Halmahera
Selatan
Siti Rahmawati

v
8. Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu 113
Usman
9. Bertahan dalam Keterbatasan; Catatan 145
Perjalanan ke Kepulauan Sula, Maluku Utara
Putra Apriadi Siregar
10. Membangun Masa Depan Generasi di Pulau 171
Kering
Marselinus Laga Nur
11. Mengenal Negeri Marapu Sumba Timur; Catatan 193
Pendampingan Program STBM
Diana Debi Timoria
12. Manggarai Timur Mengejar Ketertinggalan 215
Zulfadhli Nasution
13. Sang Pengisi Kekosongan di Manggarai Timur 227
Agung Dwi Laksono
14. Mengenal Kesehatan Masyarakat di Kepulauan; 237
Catatan Perjalanan ke Kepulauan Togen, Tojo
Una-una
Lafi Munira
15. Malaria di Desa Terasa; Catatan Perjalanan ke 245
Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan
Mariati
16. Bukan Lelaki Biasa; Catatan Perjalanan ke Kota 259
Makassar
Aprizal Satria Hanafi

vi
17. Ironi Sosial Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat; 285
Catatan Perjalanan ke Kutai Timur
Lafi Munira
18. Kapidaraan; Antara Kepercayaan dan Kesehatan 295
Aprizal Satria Hanafi
19. Eksotisme Kampung Tua Urang Banjar 305
Ade Aryanti Fahriani
20. Paminggir Takkan Terpinggirkan; Catatan 317
Perjalanan di Hulu Sungai Utara-Kalsel
Nor Efendi
21. Pengabdian di Batas Negri Malindo; Catatan 339
Penugasan Nusantara Sehat ke Sajingan Besar,
Sambas
Riazki Amelia Abduh Bavana
22. Memperhatikan Kesehatan dari Akar Rumput; 357
Catatan Penugasan Pencerah Nusantara
Ummu Nafisah
23. Akhir Pekan Bersama Anak Rajamandala dan 379
Rajadatu; Catatan Perjalanan ke Tasikmalaya
Deni Frayoga
24. Tentang Rabies di Desa Muara Danau 391
Sutamin Hamzah
25. Sejundai di Tanah Sepenggal; Catatan 409
Perjalanan ke Kabupaten Bungo
Utri Kularia
26. Berbagi Cerita dari Tanah Karo 419
Putra Apriadi Siregar

vii
27. Bulir Kopi yang Tak Terjangkau; Catatan 435
Perjalanan ke Ogan Komering Ulu Selatan
Titan Amaliani
28. Potret Penanganan Pasien Gangguan Mental di 449
Peudawa
Lafi Munira

viii
“Ini tugas berat, tentu saja!
karena itulah kita ada…”

-ADL-

ix
x
Menilik Jejak di Ilaga
Catatan Perjalanan ke Kabupaten Puncak

Ratu Matahari

Kamis pagi pukul 09.00, saya bersama tim penelitian


berangkat dari Waena menuju bandara Sentani. Hari itu kami
berlima tak sabar ingin segera menjejakkan kaki di Ilaga,
meski kami harus melalui Timika terlebih dahulu. Pada
perjalanan kali ini hanya saya yang berasal dari luar Papua,
tapi kami berlima sama-sama baru pertama kali akan ke Ilaga.
Kalau boleh meminjam istilah salah satu anggota tim saya
“orang buta tuntun orang buta”. Sebuah tanggung jawab
yang cukup berat tapi bismillah saja selama niat kita baik pasti
akan diberi kemudahan oleh Tuhan.

1
Menilik Jejak di Ilaga

Bandara Sentani, setelah tiga puluh menit perjalanan


dari Waena ke Sentani, tibalah kami di Bandara Sentani dan
segera melakuka check in bagasi. Perasaan deg-degan sudah
mulai berdegup kencang, bukan karena saya takut naik
pesawat tapi kami belum mendapat flight untuk ke Ilaga…
Beberapa kali saya menghubungi dokter Merry yang ditunjuk
untuk membantu kami selama berada di Ilaga nanti, namun
pagi itu status kami masih belum jelas, pesawat ke Ilaga
belum ada penerbangan. Ok baiklah… mari mencoba tenang.
“…pengumuman… panggilan ditujukan kepada seluruh
penumpang pesawat GA… dengan tujuan Timika silakan
memasuki pesawat melalui pintu…,” begitulah sapaan merdu
operator maskapai penerbangan yang akan mengantarkan
kami menuju Timika. Akhirnya kami pun masuk pesawat
dengan perasaan khawatir, dan ternyata kami masih harus
excited dengan kejutan-kejutan cerita perjalanan berikutnya.
Jum’at Pukul 08.00, kami dijemput dokter Merry.
Kesempatan ini bagi kami adalah kali pertama bertemu,
beliau akan ikut bersama kami menuju Ilaga. Dokter Merry
adalah dokter yang bertugas di Ilaga tetapi kerap
mengunjungi keluarga yang tinggal di Timika sambil kulakan
barang-barang kios miliknya.
“Mbak, hari ini puji Tuhan kita dapat tiket penerbangan
ke Ilaga setelah hampir dua minggu gontok-gontokan
sama masyarakat dan harga carternya su sampe 25
juta,” ucap dokter Merry.
“Wow… sampe 25juta dok? mahal juga ya,” ucapku
dengan nada setengah kaget.

2
Jelajah Nusantara #4

“Iya mbak… itupun kalau ada yang bayar lebih mahal…


kita punya jatah su bisa diambil.”

Syukurlah… kita semua senang mendengar kabar baik


itu, walaupun biaya carter sedikit lebih mahal dari biasanya
sekitar 15-20 juta… yeayyy! kita akan menjejakkan kaki di
Ilaga… sebuah nama daerah yang baru saya dengar ketika
saya akan ditugaskan disana untuk mendampingi tim survey
diet total (SDT).
Ilaga merupakan ibukota Kabupaten Puncak.
Kabupaten Puncak sendiri juga merupakan wilayah baru dari
pemekaran Kabupaten Puncak Jaya di tahun 2008.
Setelah menunggu selama dua jam akhirnya kami pun
dipanggil untuk masuk ke pesawat setelah melakukan
timbang barang dan badan… hah timbang badan!?? Ya, untuk
flight dengan menggunakan pesawat kapasitas sedikit kita
diminta untuk melakukan timbang badan. Oke… pesawat Susi
Air sudah siap mengantar kita menuju Ilaga.
“Kira-kira penerbangan menuju Ilaga butuh waktu berapa
lama dok?” tanyaku kepada dokter Merry.
“Sebentar mbak… 30 menit… semoga tidak kabut ya… bisa
tidak jadi berangkat kita nanti?” kata dokter Merry.

Ternyata jika cuaca kabut, tidak ada flight ke Puncak,


dan itu berarti kita harus menunggu sampai cuaca bagus atau
kita harus menginap lagi di Timika. Memang butuh kesabaran
dan keikhlasan hati kalau berurusan dengan penerbangan di
wilayah pegunungan Papua.

3
Menilik Jejak di Ilaga

Semua barang kami sudah masuk ke dalam pesawat…


saya dan rombongan masuk kabin… reaksi kami pun
beragam… ada yang kegirangan karena baru pertama kali naik
pesawat kecil, ada yang ketakutan dan terus memejamkan
mata, ada juga yang sibuk foto-foto. Nah, kalau saya termasuk
golongan yang mana? Bisa dipastikan saya termasuk golongan
yang ketakutan tapi berusaha tetep cool, karena sensasi naik
pesawat di antara pegungungan jauh lebih memacu adrenalin
dibanding ketika saya naik pesawat kecil di atas birunya laut
Biak dan Kepulauan Serui.
Dua puluh menit penerbangan, saat suara pilot
berkumandang lewat pengeras suara, “Kabut mulai turun…
kita harus berputar.” Kami satu tim langsung pucat… pasrah…
apapun yang terjadi ikhlas. Pikiran saya sudah tidak karuan…
kalau saja bahan bakar pesawat ini habis… pasti kita akan
menabrak tebing atau pesawat akan hilang arah.
Pilot tetap berusaha untuk bisa mendarat di Ilaga…
dan benar saja… kami berputar selama 10 menit kemudian
berhasil mendarat dengan tepat di Bandara Kaminggaru Ilaga.
Alhamdulillah…

Ilaga dalam Delapan Derajat Celsius


Termometer ruang yang tergantung di tembok rumah
dokter Merry menunjukkan angka delapan derajat celcius, tak
pernah saya menemui suhu sedingin itu di kampung saya di
Jawa sana. Kami sudah berbungkus sleeping bag, memakai

4
Jelajah Nusantara #4

sarung tangan, dan juga kaos kaki, tapi tetap saja tak mampu
menahan dingin Ilaga, nyilunya menembus tulang kami.
“Aduhh, sa pu jari kaki ni tara bisa bergerak e…,” keluh
Lia, salah satu anggota tim saya. Dingin Ilaga membuat kaki
salah seorang anggota tim saya mengalami kram. Jam tangan
sudah menunjukkan pukul 03.00 WIT, dan kami pun masih
terjaga karena suhu yang terlalu ekstrim.
“Ilaga itu becek,” kata penjaga kios di rumah dokter
Merry. Ya, Ilaga memang terkenal dengan jalanan yang
berlumpur, walaupun misalnya di sana sedang tidak turun
hujan.
Pagi itu, kami bersiap untuk melakukan pengumpulan
data di Kampung Kimak. Konon katanya, Kampung Kimak
merupakan Kampung yang terdekat dari Ilaga, jaraknya sih
cuma 30 menit dengan jalan kaki… ya jalan kaki! Karena tidak
ada kendaraan bermotor yang bisa menjangkau Kampung
Kimak. Baiklah… mendengar saya harus berjalan kaki selama
30 menit alangkah baiknya saya membawa minum dari rumah
daripada kehausan di tengah jalan, tapi saya tidak
menemukan botol air saya dan akhirnya saya pun beli di kios.
“Beli Air minum satu, berapa?” tanyaku. “Empat puluh ribu,”
jawab penjaga kios.
Sambil menelan ludah, saya pun berkata dalam hati…,
“Ya ampuun air minum 600 ml dijual 40 ribu?” Ya, jangan
kaget kalau harga-harga di Papua, khususnya di wilayah
Pegunungan Tengah harganya memang setinggi gunung,
karena biaya ongkos angkut menggunakan pesawat bisa

5
Menilik Jejak di Ilaga

puluhan juta. Pesan moralnya adalah selalu siapkan botol


minuman setiap akan turun ke lapangan.
Setelah dipaksa ikhlas menerima kenyataan bahwa
sebotol air minum dibanderol dengan harga puluhan ribu,
akhirnya kami pun berjalan menuju Kampung Kimak yang
katanya hanya ditempuh dalam waktu 30 menit. Lanjuut…

Gambar 1. Jalan menuju kampung Kimak yang berlumpur


Sumber: Dokumentasi Penulis

Kami berjalan kaki melewati jalanan berlumpur yang


sangat lengket, sehingga tak jarang sandal yang kami pakai
tertinggal di dalam lumpur. Lebih dari setengah jam kami
berjalan dan tak kunjung menginjakkan kaki di Kampung
Kimak, ternyata untuk berjalan kaki di wilayah pegunungan
Papua itu pakai rumus 2n+1, jadi realitanya untuk bisa sampai

6
Jelajah Nusantara #4

ke Kampung Kimak kami membutuhkan waktu sekitar satu


jam.

Tentang Mama Karti Wonda


Pertama kali saya bertemu dengannya di Kampung
Kimak, saat dia tengah asyik membuat noken warna-warni.
Tangannya sangat terampil meliuk-liukkan alat rajut noken.
Ada hal yang membuat saya terkesima dengannya, Karti
Wonda hanya memiliki satu tangan saja. Keterbatasan fisik
tak menghalangi keinginannya untuk tetap bisa menghidupi
dan menyekolahkan anak-anaknya. Tekad yang dimilikinya
menunjukkan bahwa dia merupakan sosok perempuan
Indonesia yang kuat, pekerja keras, dan mandiri.

Gambar 2. Foto Mama Karti Wonda


Sumber: Dokumentasi Penulis

7
Menilik Jejak di Ilaga

Yang menarik perhatian saya, Mama Karti Wonda


adalah seorang janda dengan empat orang anak. Sejak
suaminya meninggal ia harus mengurus dan membiayai
keempat anaknya dengan keterbatasan fisiknya.
Hal tersebut tak lantas membuat dia jadi patah
semangat, ia menjadikan keterbatasannya menjadi suatu
kelebihan untuk tetap menciptakan karya. Noken yang dibuat
mama Karti biasa dijual ke Timika dengan harga yang
bervariasi mulai Rp 250.000 hingga Rp 1 juta.
Sedikit terbersit dalam pikiran untuk memberdayakan
para pengrajin noken di Ilaga. Melatih mereka untuk
menghasilkan karya yang lebih bervariasi, dengan sistem
pemasaran yang lebih luas, sehingga bisa meningkatkan taraf
perekonomian mereka.
Ah… betapa Mama Karti Wonda sangat menginspirasi
bagi saya, bahwa perempuan Indonesia itu kuat, kreatif dan
mandiri. Tentu saja dengan tanpa mengesampingkan
kodratnya sebagai seorang ibu.

8
Eksotisme Negeri di Timur Matahari
Catatan Perjalanan ke Kabupaten Lanny Jaya

Robi’ah Al-asnawiyah

“Traveling- it leaves you speechless, then turns you into a


storyteller…”
(Ibn Batuta)

Perjalanan Menuju Distrik Tiom


Selasa, 10 Mei 2016, dengan segenap pertimbangan
akan rasa ragu, khawatir, dan tanggung jawab, saya dan
seorang teman berangkat menuju Jayapura. Tujuan akhir
kami adalah Kabupaten Lanny Jaya.
Rute perjalanan yang harus saya tempuh adalah
Jayapura, kemudian lanjut ke Wamena lewat jalur udara

9
Eksotisme Negeri di Timur Matahari

(jalan satu-satunya), setelah itu masil berlanjut melalui jalan


darat ke tempat tujuan.
Selama tiga hari sebelumnya kami menghabiskan
waktu di Kota Jayapura karena beberapa keperluan. Akhirnya,
pada hari Sabtu tanggal 14 Mei 2016, kami terbang menuju
Wamena atau yang lebih sering disebut sebagai Lembah
Baliem.
Sesampai di Wamena kami bergegas menuju terminal
untuk mencari taksi yang akan membawa kami ke Kabupaten
Lanny Jaya, tepatnya di Distrik Tiom. Menurut informasi yang
kami dapat biasanya pada hari Sabtu para sopir jarang
mengoperasikan taksinya, sungguh beruntung bagi kami
masih ada taksi yang mau berangkat menuju Kabupaten
Lanny Jaya.

Gambar 1. Taksi
yang digunakan
menuju
Kabupaten Lanny
Jaya
Sumber:
Dokumentasi
Penulis

Jalur yang bisa ditempuh untuk menuju Kabupaten


Lanny Jaya adalah jalur darat dan jalur udara. Jalur darat bisa
dengan menggunakan taksi (berupa mobil 4WD) dengan

10
Jelajah Nusantara #4

waktu tempuh kurang lebih sekitar tiga-empat jam dan cukup


membayar 200 ribu rupiah untuk satu buah kursi di kabin
depan. Tarif bisa lebih murah, 150 ribu rupiah, jika mau
berdiri di bak mobil bagian belakang.
Jalur udara bisa ditempuh dari Bandara Wamena
menuju bandara Tiom Kabupaten Lanny Jaya dengan waktu
tempuh sekitar lima belas menit. Sayang sekali selama di
Tiom kami belum sempat merasakan sensasi naik pesawat
menuju atau dari Wamena.

Gambar 2. Pesawat di
bandara Tiom
Sumber: Dokumentasi
Penulis

Setelah sampai Tiom kami juga mendapat informasi,


bahwa dari Bandara Tiom ada juga pesawat yang bias
langsung membawa kita ke Kota Jayapura. Namun sayang,
jadwal keberangkatan dan kedatangan pesawat tidak setiap
hari. Pesawat menuju atau dari bandara Tiom hanya ada di
hari tertentu (Rabu, Kamis, Sabtu), atau jika ada pesanan dari
pihak pejabat Kabupaten Lanny Jaya. Setiap hari saat ada
jadwal penerbangan, pesawat sebanyak dua kali datang dan
pergi membawa penumpang.

11
Eksotisme Negeri di Timur Matahari

Sekitar empat jam perjalanan waktu yang kami


tempuh. Beberapa kali taksi harus berhenti untuk
menurunkan atau menaikkan penumpang. Namun, tidak ada
kata bosan selama perjalanan. Pemandangan yang
disuguhkan alam Pegunungan Tengah Papua sungguh penuh
pikat dan pesona. Aroma khas dedaunan, rerumputan,
diselingi aroma pinang yang sedang dikunyah, menguar di
udara dan terasa segar di indera penciuman.
Hawa dingin perlahan mulai mengelus menggoda
tubuh, merayu, hingga membuat mata ingin terpejam. Berisik
nyanyian alam seperti lagu pengantar tidur yang merdu. Ah,
betapa indah alam Pegunungan Tengah ini!

Gambar 3. Pemandangan alam Kabupaten Lanny Jaya


Sumber: Dokumentasi Penulis

Selain pemandangannya yang luar biasa memanjakan


mata, senyum ramah yang terlukis di kedua sudut bibir warga
Distrik Tiom adalah kehangatan yang nyata. Setiap kali

12
Jelajah Nusantara #4

bertemu pandang atau sekedar berpapasan di jalan kalimat


sapaan berupa, “Selamat pagi, siang atau sore,” tak lupa
terucap. Dengan semua keindahan, kehangatan dan
keramahan masyarakat di Distrik Tiom, seketika hilang rasa
takut akan kabar-kabar kekerasan yang sering dilakukan oleh
anggota separatis setempat.
Berdasarkan hasil diskusi dengan pihak Dinas
Kesehatan Kabupaten Lanny Jaya, selama penelitian
berlangsung kami disarankan tinggal di Distrik Tiom karena
menyangkut keamanan. Apalagi ketika kami datang
Kabupaten Lanny Jaya sedang dalam keadaan siaga satu.
Akhirnya, kami tinggal di Kompleks Kesehatan, tempat yang
paling aman bagi orang baru seperti kami. Kemana pun kaki
melangkah, kami harus menempel dengan petugas
kesehatan.

Distrik Tiom, Ibu Kota Kabupaten Lanny Jaya


Distrik Tiom merupakan pusat pemerintahan
Kabupaten Lanny Jaya. Berbagai pembangunan mulai
dilakukan akselerasi, baik pembangunan fisik maupun non
fisik. Pembangunan jalan sebagai akses menuju luar dan
dalam kota mulai digalakkan. Fasilitas kesehatan seperti RSUD
pun mulai dibangun di Distrik Tiom.
Sebagai ibu kota Kabupaten, Distrik Tiom mayoritas
dihuni oleh penduduk lokal suku Lanny dengan bahasa lokal
Lanny. Selain itu ada beberapa pendatang dari Jawa, Toraja,

13
Eksotisme Negeri di Timur Matahari

Medan, dan daerah lainnya. Kebanyakan pendatang


berprofesi sebagai pedagang, PNS, dan tukang ojek.
Adaptasi dengan suasana baru, tempat tinggal baru,
keluarga baru, dan juga hawa dingin Distrik Tiom yang
seringkali menyurutkan niat untuk mandi. Suhu di Distrik
Tiom terkadang bisa mencapai sebelas derajat celcius,
walhasil mandi pun cukup dua atau tiga hari sekali, sekaligus
sebagai langkah untuk menghemat air.
Akses untuk mendapatkan air bersih di Distrik Tiom
memang masih sulit. Selama di sana kami mengandalkan air
tadah hujan dan air sungai untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari seperti mandi dan mencuci. Sedang untuk minum
dan memasak kami menggunakan air galon isi ulang yang
didatangkan dari Wamena, yang dibanderol dengan harga 40
ribu rupiah per galon.

Gambar 4. Air mata air


Sumber: Dokumentasi
Penulis

Masyarakat di Distrik Tiom dalam mencukupi


kebutuhan akan air seringkali memanfaatkan air tadah hujan,
air sungai dan mata air. Air dari mata air adalah air yang
keluar dari tanah setelah dilakukan penggalian dengan

14
Jelajah Nusantara #4

kedalaman tertentu. Masyarakat biasanya menggunakan air


dari mata air ini untuk keperluan memasak dan minum. Untuk
minum, air dari mata air ini biasanya langsung dikonsumsi
mentah tanpa dimasak terlebih dahulu.
Selain sulitnya akses air bersih, ketersediaan listrik
untuk penerangan juga belum 24 jam. Listrik yang ada di
Distrik Tiom menyala hanya pada waktu tertentu. Pagi hari
listrik mulai menyala sekitar jam 09.00 WIT dan padam jam
14.00 WIT. Listrik akan kembali menyala sekitar jam 19.00
WIT sampai jam 00.00 WIT, dan akan padam sampai pagi
menjelang. Namun, selama penelitian di Distrik Tiom, kami
hanya menikmati listrik sekitar dua minggu saja. Setelah itu
listrik padam, karena terjadi kerusakan akibat masyarakat
yang memasang instalasi listrik tanpa sepengetahuan petugas
PLN.
Listrik padam berlangsung sampai kami kembali ke
daerah masing-masing, dan hal ini sudah berlangsung sekitar
dua bulan lamanya. Meskipun pemadaman listrik tidak di
semua desa atau kampung di Distrik Tiom, namun
pemadaman listrik cukup mengganggu pelayanan Puskesmas
dan Rumah Sakit. Beberapa pasien yang hendak kontrol atau
periksa darah di Puskesmas terpaksa harus mengurungkan
niatnya karena peralatan di laboratorium tidak bisa
beroperasi tanpa listrik.
Tidak hanya air dan listrik yang masih sulit diakses di
Distrik Tiom, begitu juga dengan sinyal telekomunikasi. Hanya
ada satu operator telekomunikasi seluler yang tersedia dan
bisa diakses, Telkomsel.

15
Eksotisme Negeri di Timur Matahari

Pelayanan Kesehatan di Distrik Tiom


Distrik Tiom mempunyai sebuah Puskesmas yang
terletak di Desa Bokon. Dalam menjalankan fungsinya
memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat,
Puskesmas Tiom dibantu dengan 4 Pustu, 3 Balai Pengobatan,
8 Polindes dan 20 Posyandu yang tersebar di seluruh wilayah
Distrik Tiom.
Puskesmas Tiom buka setiap hari Senin-Jum’at dengan
jam kerja 08.30-12.00 WIT. Sebagai Puskesmas yang berada di
pusat pemerintahan, pasien yang datang untuk berobat
berasal dari berbagai distrik di Kabupaten Lanny Jaya. Stok
obat yang kosong, peralatan kurang lengkap, dan tenaga
kesehatan tidak ada di tempat pelayanan merupakan
beberapa alasan masyarakat di distrik lain berobat ke
Puskesmas Tiom.
Setiap pasien yang datang berobat di Puskesmas tidak
dipungut biaya sepeser pun alias gratis. Pasien yang berobat
di Puskesmas diharuskan membawa kartu berobat. Pasien
yang belum mempunyai kartu berobat akan didaftar oleh
petugas Puskesmas untuk mendapatkan kartu. Kartu berobat
yang biasa digunakan pasien berisi informasi mengenai nama
kepala keluarga, alamat dan nomor rekam medik.
Jika hendak berobat, pasien mengumpulkan kartu
berobat di bagian loket Puskesmas untuk mendapatkan
antrian sampai namanya dipanggil menuju dokter atau
mantri. Pernah pada waktu itu sekitar jam 8 waktu setempat
pasien sudah mengantri, namun petugas Puskemas belum

16
Jelajah Nusantara #4

nampak di ruang kerja mereka. Waktu sudah menunjukkan


pukul 10.30, namun petugas loket Puskesmas yang ditunggu
tidak kunjung terlihat batang hidungnya sedangkan antrian
pasien semakin membludak.

Gambar 5. Pasien yang antre untuk berobat di Puskesmas Tiom


Sumber: Dokumentasi Penulis

Saya juga sempat mengobrol dengan salah seorang


pasien yang nampak mengeluh kesakitan. Dia mengaku
sedang sakit gigi dan sakit pinggang. Dia datang dari desa
sebelah dengan menggunakan jasa ojek untuk sampai ke
Puskesmas. Sejak pukul 08.30 waktu setempat dia menunggu
namanya dipanggil, namun baru sekitar pukul 11.00 WIT satu
per satu nama mereka dipanggil oleh petugas Puskesmas
menuju ruang periksa dokter atau mantri Puskesmas.
Tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas terdiri
dari PNS dan honorer. Gaji PNS dibayar setiap bulan,

17
Eksotisme Negeri di Timur Matahari

sedangkan untuk gaji pegawai honorer dibayarkan setiap


triwulan. Tenaga kesehatan yang bertugas bukan hanya
penduduk lokal, melainkan juga pendatang dari tanah Jawa,
Toraja, dan beberapa daerah lainnya. Tenaga kesehatan yang
bertugas beberapa ada yang merupakan rekrutan dari gereja.
Dahulu, pada saat misionaris datang ke tanah Lanny,
selain menyampaikan firman mereka juga mengajari cara
pengobatan secara medis. Mereka merekrut beberapa orang
yang aktif di Gereja untuk diajari cara memberikan
pertolongan kepada pasien atau orang sakit. Walhasil, sampai
saat ini mereka yang dahulu mendapatkan didikan kesehatan
dari misionaris turut membantu memberikan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat. Bahkan, mereka yang kini
sudah pensiun pun tetap membantu pelayanan kesehatan
kepada masyarakat tanpa digaji.

Cerita Maria
Bekerja sebagai tenaga medis di Puskesmas Tiom bagi
Maria merupakan panggilan hati. Tinggal di tempat asing dan
jauh dari orang tua, jauh dari fasilitas yang memadai, dan
dengan segenap risiko yang akan diterimanya bukanlah alasan
yang berarti. Maria percaya Tuhan akan selalu melindungi dan
membimbingnya dalam memenuhi tugasnya sebagai seorang
tenaga medis di laboratorium.
Selama di Tiom dia banyak membantu kami dan
menceritakan beberapa pengalamannya selama bekerja di
Puskesmas Tiom. Beberapa pengalaman yang diceritakannya

18
Jelajah Nusantara #4

ada yang menggelitik hati, bikin tertawa, bahkan


menimbulkan rasa takut. Salah satu ceritanya adalah
mengenai pengalaman seorang dokter yang praktek di
Puskesmas Tiom ketika menangani pasien HIV. Pasien waktu
itu diminta minum ARV secara rutin pada jam yang sama
setiap hari. Akan tetapi, pasien tidak mengetahui cara
membaca jam, sehingga dokter meminta dia untuk minum
ARV setiap kali matahari terbit dari ufuk Timur. Beberapa
minggu kemudian pasien dengan HIV tersebut datang kembali
kepada dokter untuk kontrol. Dokter tersebut bertanya
mengenai alasan obat tidak habis diminum kepada pasien HIV
itu. Pasien menjawab bahwa pernah suatu hari matahari yang
ditunggunya tidak kunjung terbit karena mendung tebal,
sehingga dia tidak minum obat.
Maria juga menceritakan tentang Bidan yang pernah
diculik dan disandera oleh anggota separatisme setempat.
Beberapa bidan yang diculik diperlakukan kurang baik dan
bahkan diminta untuk melayani nafsu para anggota separatis
tersebut. Namun, akhirnya semua sandera dilepaskan dengan
negosiasi dan jaminan. Selain itu, pernah ada kejadian
seorang bidan dibunuh oleh suaminya sendiri karena tidak
memenuhi ajakan sang suami untuk melayaninya. Sedangkan
pada waktu yang bersamaan bidan tersebut harus membantu
persalinan seorang ibu yang mau melahirkan.
Petugas Kesehatan yang bertugas di Kabupaten Lanny
Jaya dihadapkan dengan keadaan yang serba sulit. Mulai dari
keadaan geografis yang sulit dijangkau, kondisi kemanan yang
tidak menentu, sarana prasarana untuk menunjang

19
Eksotisme Negeri di Timur Matahari

kehidupan sehari-hari yang terbatas dan faktor lainnya.


Namun, mereka tetap bertahan untuk berjuang menolong
sesama tanpa banyak mengeluh demi meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat Suku Lanny.

Pasar Tradisional Tiom


Kami sempat mampir ke pasar tradisional di Tiom
untuk melihat kegiatan jual-beli di sana. Pasar tradisional
yang masih jauh dari kata nyaman, apalagi bersih. Pedagang
di pasar membangun sendiri tempat berjualan mereka
seadanya. Ada juga yang hanya menggelar tikar tanpa atap
pelindung. Lumpur becek dan tumpukan sampah menambah
ironis pemandangan di pasar tradisional Tiom. Babi-babi
berkeliaran mengais-ngais makanan di tumpukan sampah.
Namun, senyum mama-mama pedagang membuat kami
betah berlama-lama ngobrol di Pasar. Sampai pada harapan
para pedagang tentang janji Presiden untuk membangun
pasar tradisional mereka. Harapan besar semoga Pemerintah
segera membangun pasar tradisional mereka sehingga lebih
layak dan nyaman bagi para pedagang maupun pembeli.
Pasar tradisional di Tiom ini buka dari pagi sampai sore
hari sekitar pukul 17.00 WIT. Sayur-mayur, bumbu masak
seperti bawang merah dan bawang putih, lauk-pauk, celana
dan pakaian, noken dan beberapa kebutuhan sehari-hari
dijual di pasar tradisional ini. Para pedagang mengambil
barang dari Wamena atau berasal dari hasil panen
masyarakat yang dijual di pasar. Di sekeliling pasar ramai

20
Jelajah Nusantara #4

dengan kios-kios yang menjual perlengkapan kebutuhan


sehari-hari. Pemilik kios hampir semuanya adalah pendatang.
Terkadang ada beberapa pemilik kios yang nakal dengan
tetap menjual dagangan mereka yang sudah kadaluarsa.
Sehingga pemerintah setempat sering mengadakan razia
bahan makanan kadaluarsa demi melindungi konsumen.

Gambar 6. Pasar Tradisional Tiom


Sumber: Dokumentasi Penulis

Tidak ada timbangan di pasar tradisional ini. Sayur


seikat, bumbu seperti cabe, bawang, jahe, sudah ditata
sebagaimana di gambar dan dihargai serba 10 ribu, kecuali
beberapa barang tertentu dihargai lebih. Harga bahan
makanan maupun barang keperluan sehari-hari menurut saya
sungguh fantastis. Pertama kali datang saya sempat melongo
sepersekian detik. Misalnya, harga telur 3 butir 10 ribu

21
Eksotisme Negeri di Timur Matahari

rupiah, bawang satu bungkul dijual 10 ribu rupiah, seikat


sayuran (kangkung, sawi, bayam) dihargai sekitar 20-30 ribu
rupiah, bahkan mie instan yang erat dengan selera anak kost
karena harganya yang murah, di sana dijual dengan harga 5
ribu rupiah per bungkus.
Lalu, bagaimana dengan harga tahu dan tempe?
Sepotong tahu dan tempe kurang lebih seukuran telapak
tangan dihargai 5 ribu rupiah. Tahu yang dijual di pasar Tiom
berasal dari Jayapura. Saya sebut tahu tahan banting, karena
teksturnya yang keras dan tidak mudah hancur.
Di sekitar pasar juga ada warung makan yang menjual
hidangan seperti mie ayam, bakso, rica wam (babi), penyet
ayam atau mujair. Makan nasi lauk telur per porsi dihargai 30
ribu rupiah, seporsi bakso dihargai 35 ribu rupiah, seporsi mie
ayam bakso dihargai 40 ribu rupiah, sedangkan ayam penyet
atau ayam yang lengkap dengan sambal dan lalapan dihargai
60 ribu rupiah, dan mujair penyet dihargai 80 ribu rupiah per
porsinya.

Fenomena Embun Beku


Sekitar awal bulan Juli 2015, telah terjadi fenomena
embun beku di Distrik Kuyawage. Distrik ini berjarak kurang
lebih 30 kilometer dari Distrik Tiom, ibu kota Lanny Jaya.
Fenomena embun beku ini seperti halnya yang sering terjadi
di kawasan pegunungan Dieng, Jawa Tengah. Suhu yang
sangat rendah menyebabkan embun berubah menjadi es,
sehingga disebut dengan embun beku.

22
Jelajah Nusantara #4

Suhu mencapai nol sampai minus dua derajat celcius


merupakan efek dari adanya badai El Nino. Suhu yang
ekstrem menyebabkan masyarakat kedinginan dan
mengalami hipotermia yang berujung pada frostbite serta
gangren. Siang hari embun beku berubah menjadi minyak
yang mencemari tanah dan air, sehingga menimbulkan wabah
diare di masyarakat.
Embun beku juga merusak tanaman pertanian yang
siap panen. Akibatnya, tanaman pertanian membusuk
menyebabkan masyarakat kekurangan bahan makanan.
Rusaknya lahan pertanian ditaksir akan menimbulkan
kurangnya stok makanan di distrik Kuyawage selama setahun
setelah terjadinya fenomena embun beku.
Bencana embun beku yang terjadi di bulan Juli ini
mengakibatkan sebelas orang meninggal. Bantuan dari
pemerintah setempat dan pemerintah pusat berupa bahan
makanan dan tenaga medis dikerahkan untuk mengurangi
penderitaan masyarakat akibat fenomena embun beku.
Fenomena embun beku kembali terjadi pada bulan
Oktober 2015. Hari Minggu pagi pada tanggal 25 Oktober
2015 yang paling parah. Pagi hari masyarakat keluar dari
Honai untuk beraktivitas, namun kulit mereka terasa terbakar
dan menimbulkan luka setelah terkena embun beku.
Demi menghindari adanya korban jiwa seperti
bencana embu beku di bulan Juli lalu, masyarakat distrik
Kuyawage terpaksa harus mengungsi ke distrik Tiom.
Beberapa dari mereka harus mengungsi dengan berjalan kaki
selama kurang lebih 1-2 jam melewati pegunungan menuju

23
Eksotisme Negeri di Timur Matahari

Kota Tiom. Selain menuju Tiom, beberapa dari mereka


mengungsi ke Kabupaten Puncak, Puncak Jaya, dan Nduga.
Orang tua dan orang sakit yang belum mengungsi dijemput
dengan helikopter oleh pemerintah setempat.
Embun beku merupakan siklus lima tahunan. Namun,
bencana yang terjadi hingga menelan sebelas korban jiwa ini
merupakan siklus sembilan tahunan. Beberapa orang
menyebutkan jika siklus embun beku ini merupakan siklus
teraneh di dunia.

24
Barapen, Antara Budaya
dan Faktor Risiko Kecacingan

Robi’ah Al-asnawiyah

“Like all great travelers, I have seen more than I remember,


and remember more than I have seen….”
(Benjamin Disraeli)

Hari ke-tiga tinggal di Ibu Kota Kabupaten Lanny Jaya,


Tiom, saya berkesempatan untuk menyaksikan secara
langsung upacara Bakar Batu atau yang oleh masyarakat
Papua disebut Barapen. Pagi hari sekitar pukul 10.00 WIT,
bergegas saya menuju lokasi Barapen yang dilaksanakan di
Desa Dugom, Distrik Tiom. Upacara Barapen kali ini
dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan

25
Barapen, Antara Budaya dan Faktor Risiko Kecacingan

atas didirikannya gereja di desa tersebut. Selain untuk


peresmian gereja, upacara Barapen umumnya dilaksanakan
saat pesta pernikahan, pesta ulang tahun, peringatan Paskah
dan Natal, serta syukuran kelahiran anak.
Betapa excited-nya saya untuk menyaksikan
serangkain proses dalam upacara Barapen. Barangkali karena
saya baru pertama kali menyaksikan secara langsung upacara
Barapen setelah sebelumnya hanya berkesempatan
menonton di sebuah acara televisi.
Setibanya di lokasi, nampak asap membumbung tinggi
di udara berasal dari pembakaran batu yang akan digunakan
untuk memasak. Menurut penuturan salah seorang informan,
batu yang digunakan untuk upacara ini diambil dari sungai
oleh masyarakat, kemudian dibakar menggunakan kayu
kasuari dengan tanpa bensin atau minyak tanah. Jumlah batu
yang dibakar hanya menurut perkiraan saja, tidak ada standar
baku untuk jumlahnya. Proses pembakaran batu sendiri
memerlukan waktu kurang lebih dua-tiga jam. Sembari
menunggu batu dibakar dan panas, bahan makanan yang
akan dimasak pun dipersiapkan.
Barapen merupakan tradisi yang ada sejak dahulu
kala. Menurut informasi upacara ini pertama kali dilakukan
untuk mengurangi populasi babi yang meningkat tajam
melebihi jumlah populasi manusia. Sehingga diadakanlah
upacara masak babi secara besar-besaran dan melibatkan
masyarakat dari beberapa daerah. Sedang untuk penggunaan
batu sebagai alat masak, bukan karena suku Lanny pernah
mengkuduskan batu besar sebagai tempat hidupnya arwah

26
Jelajah Nusantara #4

yang telah mati. Kepercayaan terhadap arwah yang


bersemayam di dalam batu perlahan sudah mulai hilang
setelah para Misionaris datang mengabarkan Injil. Kembali
kepada penggunaan batu, adalah alat untuk memasak karena
menurut mereka batu yang panas akan lebih efektif
digunakan memasak dari pada menggunakan air panas. Batu
bisa menyimpan panas lebih lama dari air, sehingga diyakini
jika batu panas digunakan untuk memasak, maka makanan
akan matang dengan lebih baik.

Gambar 1. Proses pembakaran batu untuk upacara Barapen


Sumber: Dokumentasi Penulis

Masyarakat yang mengikuti upacara Barapen tidak


hanya dari Distrik Tiom, melainkan juga dari Distrik di luar
Tiom. Termasuk dari luar Kabupetan Lanny Jaya, seperti dari
Tolikara, Puncak Jaya, dan Jaya Wijaya. Mereka berkumpul

27
Barapen, Antara Budaya dan Faktor Risiko Kecacingan

per keluarga untuk menyiapkan babi dan bahan makanan lain


seperti sayur bingga (daun umbi), ipere (umbi) jagung, labu
dan lainnya. Setiap keluarga biasanya menyumbang 5-6 ekor
babi untuk upacara Barapen. Harga seekor babi di Lanny Jaya
bisa mencapai 60 juta rupiah. Menurut informan, dalam
upacara Barapen kali ini kurang lebih ada 398 ekor babi yang
dimasak. Sungguh nilai yang cukup fantastis jika mengingat
tingginya harga babi di Lanny Jaya bukan?
Upacara Barapen melibatkan sanak saudara dari
distrik lain. Hal ini merupakan perwujudan dari rasa
kebersamaan, senasib dan sepenanggungan. Jika ada keluarga
yang tidak mampu memberi persembahan babi untuk
upacara Barapen, maka keluarga lain akan membantu
menyumbangkan babi miliknya. Prinsip gotong royong dan
kebersamaan begitu melekat pada jiwa suku Lanny.
Suara nyanyian menguar di udara. Yel-yel pembangkit
semangat pun teralun dari pita suara mereka.”Hoyaaa…
hoyaa… hoyaa…,” adalah sarana pembakar semangat pada
upacara Barapen. Jika digambarkan, menurut salah seorang
informan, seperti semangat ketika seorang laki-laki bertemu
dengan seorang wanita dalam sebuah acara.
Para peserta menjalankan tugas sesuai dengan job
desk-nya masing-masing. Kesibukan mulai nampak di tempat
pelaksanaan upacara Barapen. Panitia dengan TOA
(pelantang) di tangannya memberikan instruksi pelaksanaan
upacara. Sesekali terucap kata, “Waa… waa… kinaonak…!”
yang berarti ucapan terima kasih atas kerja sama dan

28
Jelajah Nusantara #4

terselenggaranya upacara ini. Butuh waktu sekitar satu bulan


untuk mempersiapkan upacara Barapen kali ini.
Sekelompok laki-laki sibuk mambawa perlengkapan
seperti ranting pohon kasuari, dedaunan dan rerumputan,
serta tongkat kayu yang sudah dibelah di bagian ujungnya
untuk mengambil batu panas. Sedangkan para mama nampak
sibuk menyiapkan sayur bingga dan ipere yang telah mereka
bawa dengan noken di kepala.

Gambar 2. Sekelompok laki-laki berlarian membawa kayu dan


perlengkapan lainnya
Sumber: Dokumentasi Penulis

Segala aktivitas dilakukan dengan cepat dan penuh


semangat. Beberapa orang nampak beramai-ramai
menjinakkan babi yang meronta sekuat tenaga. Tenaga babi

29
Barapen, Antara Budaya dan Faktor Risiko Kecacingan

yang begitu kuat menyebabkan beberapa orang harus ikut


turun tangan.

Gambar 3. Para penjinak babi


Sumber: Dokumentasi Penulis

Setelah babi berhasil dijinakkan, seorang pemanah


handal yang sudah ditunjuk saatnya mengarahkan bidikan
anak panah tepat di jantungnya. Seringkali babi belum mati
hanya dengan satu tusukan anak panah, sehingga babi harus
ditusuk beberapa kali di bagian jantung dengan anak panah
tersebut sampai pekikan suara babi tidak terdengar atau
mati. Babi yang sudah mati dibersihkan bulunya dengan cara
dibakar. Tubuh babi diletakkan di atas bara kemudian bulu-
bulu babi digosok sampai bersih.

30
Jelajah Nusantara #4

Gambar 4. Pembersihan bulu babi


Sumber: Dokumentasi Penulis

Babi yang sudah dibersihkan bulunya kemudian


dibelah menjadi dua bagian untuk dikeluarkan isi perut dan
tulang rusuknya. Semua isi perut dikeluarkan untuk kemudian
dimasak di rumah.
Proses pengeluaran isi perut serta tulang rusuk
dilakukan dengan meletakkan babi di atas sayuran dan
dedaunan. Hal ini bertujuan agar darah babi tidak mengalir ke
tanah melainkan ke sayuran untuk menambah cita rasa
sayuran dan aroma ketika dimasak nanti.

31
Barapen, Antara Budaya dan Faktor Risiko Kecacingan

Gambar 5. Cara pembelahan babi


Sumber: Dokumentasi Penulis

Gambar 6. Babi yang sudah dibelah dan siap dimasak


Sumber: Dokumentasi Penulis

32
Jelajah Nusantara #4

Setelah babi disiapkan dan pelengkap lain seperti


sayur bingga, umbi-umbian juga sudah siap, maka beberapa
lelaki menggali kolam untuk tempat memasak. Kolam ini
dibuat per keluarga dan harus cukup digunakan untuk
memasak sebanyak babi yang disumbangkan. Kolam ini
berdiameter kurang lebih satu meter dan nampak
mengerucut di bagian bawahnya.

Gambar 7.
Proses
pembuatan
kolam untuk
memasak
Sumber:
Dokumentasi
Penulis

Selesai membuat kolam untuk memasak, proses


pemasakan pun dimulai. Peserta menata kolam agar siap
digunakan untuk tempat memasak. Bagian paling bawah atau
dasar kolam dialasi dengan menggunakan semacam rumput
dan dedaunan. Setelah dasar kolam tertutup dengan rumput
dan dedaunan, maka kompetisi pengambilan batu panas pun
dimulai. Tongkat kayu yang ujungnya sudah dibelah untuk
mengambil batu sudah siap di tangan masing-masing.
Pengambilan batu panas seringkali dikerjakan oleh kaum
adam karena butuh kekuatan dan kecepatan, selain harus

33
Barapen, Antara Budaya dan Faktor Risiko Kecacingan

tahan panas tentunya. Mereka berlomba-lomba mengambil


batu panas untuk diisikan ke dalam setiap kolam. Bagi
kelompok yang kalah cepat dan cekatan tentu hanya
mendapatkan sedikit batu panas. Jika batu panas yang
diambil cuma sedikit, maka bisa jadi masakan tidak akan
matang dan mereka harus membawa pulang babi dan bahan
makanan lain untuk dimasak di rumah.
Terkadang karena kompetisi sangat ketat, beberapa
mama turut mengambil batu yang tercecer dengan tangan
mereka yang sudah dialasi dengan baju yang dikenakan atau
tanpa alas sama sekali. Saya tidak bisa melihat dari jarak
dekat saat kerumunan orang menyerbu kumpulan batu yang
sudah menjadi bara karena takut menghalangi jalan dan
memang batu itu panas untuk ukuran saya.

Gambar 8. Batu
panas yang
ditata untuk
memasak
Sumber:
Dokumentasi
Penulis

Apabila batu sudah tertata, maka bahan makanan


seperti ipere, jagung, dan sayur mulai dimasukkan. Diantara

34
Jelajah Nusantara #4

bahan makanan tersebut selalu diberi batu panas agar


makanan bisa matang.
Setelah bahan makanan selain babi masuk, maka
giliran babi dimasukkan dan diletakkan di atas batu panas
yang ditumpuk di atas bahan makanan tadi. Babi disusun di
kolam pemasakan sebanyak jumlah babi yang disumbangkan
setiap keluarga dan disela-sela babi selalu diberi batu panas
dan sayuran. Setelah semua bahan makanan termasuk
beberapa ekor babi masuk, maka ditumpuk lagi dengan batu
panas dan rerumputan atau dedaunan.

Gambar 9. Proses pemasukan bahan makanan (kiri); Kolam pemasakan


yang telah terisi dan ditutup dedaunan (kanan)
Sumber: Dokumentasi Penulis

Supaya panas terperangkap di dalam, terakhir kolam


tersebut ditutup dengan terpal dan diikat kuat agar suhu di
dalam kolam tetap panas dan makanan bisa matang. Setelah
tertutup rapat dengan terpal, lalu kolam pemasakan tersebut
ditindih dengan gumpalan-gumpalan tanah.

35
Barapen, Antara Budaya dan Faktor Risiko Kecacingan

Gambar 10.
Kolam
pemasakan yang
sudah ditutup
Sumber:
Dokumentasi
Penulis

Kolam pemasakan yang sudah ditutup tinggal


menunggu bahan makanan matang. Proses pemasakan
biasanya membutuhkan waktu sekitar 1,5-2 jam. Sembari
menunggu makanan matang, beberapa peserta ada yang
mandi bersama di sungai, ada yang berdo’a bersama di
gereja, juga ada yang tetap menunggu di lokasi upacara
Barapen. Setelah menunggu sekitar dua jam lamanya,
akhirnya kolam yang penuh makanan dibongkar. Terpal mulai
dibuka, isinya mulai dibongkar dan dipilah antara sayur, umbi,
dan daging. Seketika aroma sedap menguar di udara.
Semua makanan yang sudah dimasak telah siap
dinikmati oleh para peserta upacara Barapen. Tamu
undangan mulai berdatangan termasuk Bupati dan beberapa
pegawai pemerintah. Menurut informan, jika peserta yang
diundang sampai tingkat provinsi, biasanya dalam upacara
Barapen tidak hanya babi yang dimasak, melainkan ada ayam
yang dimasak sebagai bentuk penghormatan kepada

36
Jelajah Nusantara #4

penganut agama lain atau mereka yang tidak mengkonsumsi


daging babi.
Para peserta Barapen membentuk kelompok yang
terdiri dari 5-6 orang untuk mempermudah pembagian
makanan. Sayur dan ubi lebih dahulu dibagikan, disusul
kemudian daging babi. Mereka yang sudah membentuk
kelompok dengan sabar menunggu makanan. Para pembagi
makanan berlari-lari menuju kelompok-kelompok yang sudah
siap menerima makanan dengan alas daun yang mereka tata
di depan mereka. Tidak ada piring atau sebangsanya kecuali
untuk tamu undangan.

Gambar 11. Daging babi yang sudah matang (kiri); Para mama yang
membagikan sayur dan ubi (kanan)
Sumber: Dokumentasi Penulis

Sayur dan ubi yang telah terhidang segera disantap


oleh mereka. Rasa lapar sedari pagi baru terobati di waktu
sore hari. Meskipun dalam keadaan lapar, saya salut kepada
mereka yang sabar dan tertib menanti makanan yang dibawa
pembagi. Peserta upacara Barapen yang jumlahnya mencapai
ribuan tentu membutuhkan waktu yang agak lama untuk para
pembagi menghantarkan makanan.

37
Barapen, Antara Budaya dan Faktor Risiko Kecacingan

Gambar 12. Peserta


upacara Barapen
nampak menikmati
sayuran
Sumber: Dokumentasi
Penulis

Setelah sayur dan ubi dibagikan, saatnya membagikan


makanan yang sudah ditunggu-tunggu oleh para peserta
upacara Barapen, ialah daging wam (babi). Babi yang sudah
matang dipotong-potong menjadi beberapa bagian agar bisa
dibagi rata kepada seluruh hadirin yang ikut serta dalam
upacara Barapen. Mereka yang sudah menerima potongan
daging babi biasanya langsung dimakan di tempat atau
dibawa pulang untuk dimasak lagi.

Gambar 13.
Daging wam yang
sudah masak dan
dipotong
Sumber:
Dokumentasi
Penulis

38
Jelajah Nusantara #4

Selama tinggal di Tiom, saya sempat mengikuti


upacara Barapen sebanyak dua kali. Pertama upacara yang
bertujuan untuk bersyukur kepada Tuhan. Kedua upacara
dalam rangka menggalang dana untuk pembangunan kantor
pengurus gereja. Pada upacara kedua yang saya ikuti tidak
ada komponen babi karena saat itu tujuan dari diadakannya
upacara Barapen adalah untuk menggalang dana. Sehingga
pada saat upacara hanya ada sayur, ubi, jagung, dan labu.
Dalam momen inilah saya menyicipi ubi bakar yang rasanya
sungguh manis dan legit.

Tentang Barapen dan Kesehatan


Daging babi yang dimasak saat upacara Barapen ketika
itu nampak kurang matang. Sedangkan mengkonsumsi daging
babi yang kurang matang merupakan faktor risiko penyakit
sistiserkosis dan taeniasis. Sepulangnya dari Tiom saya
kemudian berdiskusi dengan salah satu dosen Epidemiologi
dari FKM Unair mengenai cacing pita pada babi.
Menurut beliau yang juga berprofesi sebagai dokter
umum, menjelaskan bahwa ketika manusia memakan daging
babi yang kurang matang, maka akan mengalami dua
kemungkinan, yaitu sistiserkosis atau taeniasis. Pertama, babi
yang kurang matang kemungkinan mengandung kista atau
sistiserkus aktif yang jika tertelan dan keluar dari organ
pencernaan akan menginfeksi organ tubuh seperti otak, paru,
dan organ lainnya. Apabila otak terinfeksi sistiserkus maka
akan menyebabkan kerusakan pada otak yang dikenal dengan

39
Barapen, Antara Budaya dan Faktor Risiko Kecacingan

istilah neuro sistiserkosis. Penderita akan mengalami kejang


atau epilepsi yang dapat berujung pada kematian.
Selanjutnya, kemungkinan kedua adalah jika kista
termakan dan tetap di saluran pencernaan maka kista akan
tumbuh menjadi cacing pita dewasa (taeniasis). Cacing pita
atau Taenia solium akan menyerap nutrisi makanan penderita
sehingga dapat menyebabkan malnutrisi jika tidak segera
diobati.
Barapen merupakan kebudayaan masyarakat di
Pegunungan Tengah Papua, salah satunya adalah Kabupaten
Lanny Jaya. Upacara ini seringkali dilaksanakan untuk
mengucapkan syukur kepada Tuhan. Sehingga menurut
masyarakat, mereka harus mempersembahkan sesuatu paling
berharga yang mereka miliki, dan itu adalah babi. Ketika
upacara Barapen mereka mempersembahkan babi peliharaan
sendiri, akan tetapi jika kebutuhan akan babi begitu banyak,
terkadang mereka membeli babi dari luar kabupaten.
Wam atau babi ibarat emas bagi masyarakat suku
Lanny. Oleh karena itu, hampir 98% masyarakat memelihara
babi di rumah mereka. Pemeliharaan babi ada yang di
kandang dan diberi makan oleh pemiliknya, namun sebagian
besar masyarakat melepas begitu saja babi peliharaan
mereka. Sehingga babi-babi tersebut mencari makan sendiri.
Hal ini menyebabkan babi makan segala sesuatu yang ada di
depan matanya termasuk tinja manusia. Apalagi masyarakat
di Tiom masih suka buang hajat di sembarang tempat.
Taeniasis merupakan Neglected Tropical Disease (NTD)
atau penyakit tropis yang seringkali masih terabaikan. Selama

40
Jelajah Nusantara #4

di Tiom saya sempat menemui seorang pasien taeniasis.


Pasien ini berusia kurang lebih 17 tahun dan sudah sekolah di
bangku SMA. Sejak 8 bulan yang lalu dia dan saat saya temui
(Juni 2016) tubuhnya kejang-kejang. Bahkan jika kita duduk
sebangku di sampingnya, maka kita akan merasakan getaran
akibat kejangnya. Penyakit yang dideritanya membuat dia
harus off untuk sementara dari sekolah. Makan selalu disuapi
oleh ibunya, untuk berjalan tertatih-tatih dan harus dibantu.
Bahkan air liur yang selalu menetes harus dibantu dibersihkan
juga oleh ibunya.
Dia pernah dirawat di RSUD Tiom dan sempat tidak
sadarkan diri. Waktu itu kedua orang tuanya sudah pasrah
dengan kondisi anaknya. Sebelumnya pernah dibawa ke
Puskesmas dengan keluhan sakit perut, muntah dan sakit
kepala. Kemudian tenaga medis yang memeriksanya
memberikan obat maag dan paracetamol, serta CTM karena
pasien juga mengeluh tidak bisa tidur. Pasien juga sempat di
tes darahnya dan hasilnya menunjukkan tidak ada kelainan.
Sudah berganti-ganti dokter dan obat, pasien tak
kunjung membaik, malah keadaanya semakin memburuk
yakni kejang-kejang. Hingga muncul kecurigaan petugas
Puskesmas jika dia menderita kecacingan. Saya berpikir jika
dia positif menderita kecacingan, maka kemungkinan
masyarakat ada juga yang menderita penyakit serupa
mengingat faktor risiko yang tinggi. Sehingga diharapkan
pemerintah mampu membuat program untuk menyelesaikan
masalah kecacingan di Kabupaten Lanny Jaya.

41
Barapen, Antara Budaya dan Faktor Risiko Kecacingan

Akhirnya, saya dan seorang petugas analis medis


Puskesmas membujuk kedua orang tua pasien agar
membawa tinja pasien untuk diperiksa di lab Puskesmas. Saat
itu listrik di Tiom sudah hampir 4 minggu tidak menyala,
sehingga kami mengandalkan senter HP sebagai penerangan
mikroskop. Setelah diperiksa, tinja pasien positif mengandung
telur cacing ascaris yang sudah menetas. Rupanya dugaan
pasien terinfeksi cacing pita babi belum terbukti.
Kami langsung meminta pasien untuk minum obat
cacing berupa pirantel pamoat dan berpesan untuk
memanggil kami ketika pasien berak. Keesokan harinya ayah
pasien memberitahu kami bahwa pasien berak mengeluarkan
cacing. Setelah kita amati tinja pasien nampak ada segmen
cacing yang putus. Kami bertanya-tanya cacing apakah yang
menginfeksi pasien? Jika ascaris, morfologinya tidak seperti
ascaris.
Setelah berdiskusi, saya diminta petugas analis medis
untuk mengantarkan albendazol ke rumah pasien. Keesokan
harinya pasien berak cacing sepanjang kurang lebih dua
meter dan dilihat secara morfologi itu adalah cacing Taenia
solium. Ibu pasien harus menarik cacing itu melalui anus
karena cacing tidak kunjung keluar sangking panjangnya.
Cacing tersebut dalam keadaan mati dan ditaruh di atas daun
pisang oleh ibu pasien untuk ditunjukkan kepada kami.
Seumur hidup saya baru pertama kali melihat cacing
sepanjang itu keluar dari tubuh manusia. Maklumlah jika saya
mengambil gambar cacing tersebut dengan gemetaran.

42
Jelajah Nusantara #4

Sejak saat itu kondisi pasien mulai membaik. Saya


mendapat kabar teman yang tinggal di Tiom bahwa dia sudah
bisa berjalan, bermain bersama teman-temannya dan kembali
bersekolah. Saya jadi ingat, sejak saya diminta membawa
obat albendazol untuk pasien, kedua orang tua pasien
memanggil saya dengan sebutan dokter. Saya ingin
menjelaskan kalau saya bukan dokter, tapi, ya sudahlah!
“Terimakasih, bu dokter! Tuhan memberkati,” kata mereka.
Hingga saat ini, raut wajah bahagia kedua orang tua pasien
masih melekat kuat di benak saya.
Barangkali kasus tersebut hanya merupakan salah satu
yang berhasil saya temui di antara beberapa kasus lain yang
belum ditemukan. Harapannya, jika ada pasien serupa maka
segera ditemukan dan mendapat pengobatan. Terlebih jika
pasien terinfeksi taeniasis dari kesertaannya dalam upacara
Barapen.
Apabila daging babi yang dimasak saat upacara
Barapen matang secara sempurna, maka dapat dikatakan
daging tersebut aman untuk dikonsumsi. Suhu sangat
mempengaruhi tingkat kematangan daging, selain tebal atau
tipisnya irisan daging babi ketika dimasak. Mungkin perlu
adanya penelitian lebih lanjut tentang suhu dan jumlah batu
yang dibutuhkanpada saat upacara Barapen sehingga daging
babi bisa matang sempurna.
Penulis rasa juga perlu adanya regulasi dan sosialisasi
bagi masyarakat mengenai tata cara pemeliharaan babi yang
baik dan benar. Sedang upaya pemberian obat cacing secara

43
Barapen, Antara Budaya dan Faktor Risiko Kecacingan

rutin kepada masyarakat merupakan jalan akhir untuk


membasmi penyakit akibat cacing pita babi.

44
Antara Manokwari, Sorong, Teminabuan
dan Distrik Saifi
Catatan Perjalanan Pendamping Tim Nusantara Sehat

Agung Dwi Laksono

Teminabuan, 24 Oktober 2016


Perjalanan kali ini disponsori oleh Kementerian
Kesehatan via Pusat Perencanaan dan Penggunaan Tenaga
Kesehatan (Pusrengun). Saya ditugaskan untuk menjadi
pendamping adik-adik yang tergabung sebagai tim Nusantara
Sehat Batch 4 dengan penempatan Puskesmas Saifi di
Kabupaten Sorong Selatan.
Pada Batch 4 kali ini, Kabupaten Sorong Selatan
mendapatkan dua tim, dengan penempatan selain Puskesmas
Saifi, satu lagi di Puskesmas Seremuk. Total ada sekitar tujuh
tim yang ditempatkan di Provinsi Papua Barat dengan

45
Antara Manokwari, Sorong, Teminabuan dan Distrik Saifi

penempatan di tiga kabupaten. Selain Sorong Selatan, dua


kabupaten lain adalah Tambrauw dan Raja Ampat.
Tim Nusantara Sehat penempatan Puskesmas Saifi ini
terdiri dari enam orang tenaga kesehatan dengan spesifikasi
yang berbeda-beda. Pendekatan team work memang menjadi
ciri khas program Nusantara Sehat untuk menggantikan
program PTT (Pegawai Tidak Tetap) yang telah ada
sebelumnya, dengan pendekatan per tenaga.

Menuju Kota Manokwari


Perjalanan kami harus dimulai dengan menyesuaikan
dengan alur birokrasi setempat. Tujuan utama kami adalah
Puskesmas Saifi di Kabupaten Sorong Selatan, tetapi kami
harus menuju Kota Manokwari terlebih dahulu, meski untuk
mencapai Kota Manokwari kami harus transit di Kota Sorong
terlebih dahulu. Sebagai informasi, Kota Manokwari adalah
ibukota Provinsi Papua Barat, dimana Dinas Kesehatan
Provinsi berada.
Tidak ada yang istimewa dalam perjalanan udara
untuk mencapai Kota Manokwari, selain perjalanan yang
lama, serta delay empat jam yang melelahkan karena kondisi
cuaca Bandara Rendani di Manokwari yang cukup ekstrem
dengan hujan lebatnya. Sisanya, adalah kebersamaan yang
cukup menyenangkan bersama tim yang berasal dari berbagai
penjuru republik ini.
Tawaran lanskap Manokwari dari kompleks
perkantoran Gubernur yang menampilkan view laut cukup

46
Jelajah Nusantara #4

menghibur. Setidaknya memuaskan pandangan mata para


pecinta fotografi lanskap.

Gambar 1. ‘Terlantar’ di Bandara Domine Eduard Osok, Sorong


Sumber: Dokumentasi Peneliti

Gambar 2. Lanscape view dari Komplek Perkantoran Gubernur


Provinsi Papua Barat
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Di Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, tim kembali


mendapat pembekalan materi-materi muatan lokal.

47
Antara Manokwari, Sorong, Teminabuan dan Distrik Saifi

Sebelumnya mereka sudah dibekali dengan berbagai program


kesehatan di Pusdikkes TNI AD selama empat puluh hari.
Program yang menjadi andalan dan khas Papua Barat adalah
“Kebas Malaria” (Keluarga Bebas Malaria), yang dimotori oleh
dr. Victor selaku Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan di
Provinsi Papua Barat.

Menuju Kota Sorong


Setelah proses pembekalan perjalanan dilanjutkan
sesuai dengan tujuan akhir masing-masing tim. Enam tim
melanjutkan dengan jalur udara ke Kota Sorong, sedang satu
tim lain dengan jalur darat ke wilayah Kabupaten Tambrauw
di Distrik Miyah, yang memang lebih dekat bila ditempuh dari
Kota Manokwari.

Gambar 3. Sunset dilihat dari Tembok Berlin, Kota Sorong


Sumber: Dokumentasi Peneliti

Dari Kota Sorong, tim berpencar dengan jalur masing-


masing. Tiga tim dengan penempatan Kabupaten Raja Ampat
menggunakan jalur laut menuju Waisai, ibo kota Kabupaten
Raja Ampat. Satu tim dengan jalur darat menuju Sausapor,
ibu kota sementara Kabupaten Tambrauw, sementara ibu

48
Jelajah Nusantara #4

kota aslinya sedang dalam pembangunan infrastruktur. Dua


tim terakhir dengan tujuan Kabupaten Sorong Selatan juga
menggunakan jalur darat.
Tak kalah dengan Manokwari, kawasan pantai Kota
Sorong juga menawarkan landscape view yang menarik. Bila
Manokwari menawarkan view sunrise, maka Kota Sorong
menawarkan view sunset.

Menuju Kota Teminabuan


Perjalanan menuju Teminabuan, ibukota Kabupaten
Sorong Selatan, tidaklah menggambarkan imej ‘Papua’ yang
terbelakang. Perjalanan 3-4 jam dengan jalan aspal dan beton
yang terkelupas sana-sini relatif mudah digilas fortuner
sewaan. Beriring-iringan empat Fortuner terasa gagah melaju
di tengah-tengah hutan menuju Teminabuan.

Gambar 4. Apel Pagi bersama Bupati dan PNS Kabupaten Sorong Selatan
Sumber: Dokumentasi Peneliti

49
Antara Manokwari, Sorong, Teminabuan dan Distrik Saifi

Di Kabupaten Sorong Selatan rombongan tim


Nusantara Sehat diterima dengan baik oleh bapak Bupati.
Kami berdiskusi banyak hal, setelah sebelumnya sempat ikut
apel bersama seluruh PNS kabupaten.

Menuju Distrik Saifi


Selesai urusan dengan kabupaten dan dinas
kesehatan, saatnya kami mempersiapkan diri untuk menuju
Distrik Saifi. Kami sewa mobil double gardan, karena Fortuner
yang kami sewa sebelumnya tidak berani menempuh jalur
seksi menuju Distrik Saifi.

Gambar 5. Dilepas Kadinkes untuk menuju Distrik Saifi


Sumber: Dokumentasi Peneliti

Perjalanan menuju Distrik Saifi aman-aman saja pada


awalnya, jalanan bergelombang bukan hal istimewa di Tana

50
Jelajah Nusantara #4

Papua. Tapi tentu saja tidak berlangsung lama. Bila tidak,


kenapa mobil sekelas Fortuner menolak jalur seksi ini?
Jalur lumpur pertama, kedua, ketiga… dapat dilibas
dengan mudah oleh Triton yang kami tumpangi. Daeng Idris
terlihat lincah menguasi medan. Tentu saja dengan kondisi
penumpang yang teraduk-aduk dengan jerit bersahutan.
Sampai tiba saatnya pada satu titik jalan berlumpur
yang cukup panjang, mobil tak lagi mampu melawan.
Sementara tak jauh di depan terlihat ambulance 4WD milik
Puskesmas Saifi juga tertanam dengan sukses.
Banyak upaya ditempuh untuk mencoba
mengeluarkan mobil dari lumpur. Mengganjal di depan ban
mobil dengan batu, mendorong, menarik, semua tidak
membuahkan hasil, roda berputar tanpa membuat mobil
beranjak, sampai mengeluarkan bau asap ban yang terbakar.
Upaya saling menarik antar mobil juga tidak bisa dilakukan,
bagaimana tidak? Keduanya sama-sama tidak bergerak,
tertanam dalam lumpur.
Drama mobil tertanam semakin tragis saat mendung
datang dengan cepat. Tuhan, bila hujan turun, tidak saja kami
basah kuyup di tengah-tengah antah berantah, tetapi mobil
akan semakin tertanam. Segala rapalan doa terkembang. Ilmu
pawang hujan terpaksa dikeluarkan.
Setidaknya dua jam kami berusaha seperti dalam
kesia-siaan, tapi minimal hujan tidak jadi turun, berganti
dengan terik matahari yang menyengat, yang membekaskan
luka bakar di sekujur wajah dan leher. Cindera mata dari Saifi.
Dua jam terlewat, muncul sebuah harapan, saat
datang mobil lain menuju arah kami. Semangat kembali

51
Antara Manokwari, Sorong, Teminabuan dan Distrik Saifi

tergali, berusaha kembali. Sampai saat harapan kembali


pupus. Mobil ke-tiga tertanam kembali bersama kami. Tapi
setidaknya bertambah lagi teman perjalanan mengasyikkan
ini.

Gambar 6. Tertanam di Jalur Lumpur Menuju Distrik Saifi


Sumber: Dokumentasi Peneliti

Setengah jam berselang, dua mobil datang dari arah


yang berbeda. Tidak mau mengulang pengalaman mobil
sebelumnya yang turut tertanam, kedua mobil ini bertahan di
tempat yang lebih kering, mencoba menarik dengan tali
tambang yang lumayan panjang.
Setelah berkutat satu jam lebih, dengan saling tolong
dan tarik, akhirnya lima mobil bisa keluar dari kubangan
lumpur itu, meski tali tambang besar yang dipakai menarik itu
pada akhirnya juga terputus.

52
Jelajah Nusantara #4

Meski masih banyak jalur lumpur lain, sisa perjalanan


menuju Distrik Saifi terasa lebih ringan, karena jalur lumpur
tak lagi membuat kami takut, kami telah melewati bagian
terdalam. Anak-anak tim Nusantara Sehat ini tetap
bersemangat, selalu terlihat bersemangat. Sepanjang
perjalanan mereka berfoto, selfi, bernyanyi-nyanyi
membangkitkan semangat, dan merekam seluruh kejadian ini
dengan tertawa-tawa. Baju tak lagi sesuai warna asli, berganti
motif polkadot lumpur. Rambut pun bersemu merah dengan
titik-titik lumpur yang menjadi rata bersama keringat.

Gambar 7. Mobil Triton yang berubah warna, dan Tim Nusantara Sehat
yang Tetap Semangat.
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Sampai di rumah dinas calon tempat tinggal tim


Nusantara Sehat semua sampai dengan selamat tanpa luka
sedikitpun. Korban hanya berupa bemper depan terlepas,
besi pelindung bagian belakang patah, dan pengait serta
rantai pengikat ban serep yang putus. Alhamdulillaah.

53
Antara Manokwari, Sorong, Teminabuan dan Distrik Saifi

Masalah Kesehatan di Sorong Selatan


Secara umum Kabupaten Sorong Selatan
menempati ranking 450 dari 497 kabupaten/kota di
Indonesia. Perankingan ini berdasarkan Indeks
Pembangunan Kesehatan Masyarakat ke-dua yang
dilakukan berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan
Dasar) tahun 2013 yang dimotori Badan Litbangkes, dan
data Survei Podes (Potensi Desa) dan Susenas (Survei
Sosial ekonomi) tahun 2013 yang dilakukan oleh Badan
Pusat Statistik.
Apabila kita lakukan perankingan pada level
Provinsi Papua Barat, maka Kabupaten Sorong Selatan
berada pada ranking 10 dari 11 kabupaten/kota yang ada
di Provinsi Papua Barat. Ranking Kabupaten Sorong
Selatan ini satu tingkat lebih tinggi dari ranking
terbawah, Kabupaten Tambrauw yang menempati
ranking 11 dari 11 kabupaten/kota di Provinsi Papua
Barat.
Indikator kesehatan di Kabupaten Sorong Selatan
secara keseluruhan menunjukkan kondisi yang kurang
memuaskan. Kita ambil satu contoh tentang status gizi
balita. Prevalensi balita pendek dan sangat pendek
(stuting) mencapai angka 60,70%. Angka cakupan balita
stunting di Kabupaten Sorong Selatan ini jauh lebih tinggi
dibanding angka nasional yang berada pada angka
37,2%, serta angka Provinsi Papua Barat yang berada
pada kisaran 44,7%.

54
Jelajah Nusantara #4

Secara umum prevalensi balita stunting ini


meningkat tipis dibanding enam tahun sebelumnya. Data
Riskesdas 2007 Kabupaten Sorong Selatan memiliki
cakupan balita stunting sebesar 60,58%.
Tidak berbeda dengan prevalensi balita stunting,
balita dengan status gizi buruk dan kurang di Kabupaten
Sorong Selatan juga cenderung memiliki cakupan cukup
tinggi, sebesar 47,63%. Prevalensi balita gizi buruk dan
kurang ini jauh lebih tinggi dibanding angka cakupan
nasional yang berada pada kisaran 19,6%, serta angka
cakupan balita gizi buruk dan kurang di tingkat Provinsi
Papua Barat yang mencapai angka 30,9%.
Cakupan balita gizi buruk dan kurang di
Kabupaten Sorong Selatan pada tahun 2013 meningkat
tajam dibanding dengan enam tahun sebelumnya. Hasil
survei Riskesdas pada tahun 2007 mencatat angka
prevalensi sebesar 35,20%, artinya ada peningkatan
kasus gizi buruk dan kurang sebesar 12,43% selama
enam tahun.

Potensi Kebangkitan Distrik Saifi


Potensi Tana Papua untuk bangkit cukup besar,
tak terkecuali di Distrik Saifi. Tanahnya cukup subur,
sayuran dan tanaman pangan bisa ditanam dengan
mudah. Sementara di sisi lain, kondisi geografis Distrik
Saifi yang berbatasan dengan laut menawarkan potensi
lain.

55
Antara Manokwari, Sorong, Teminabuan dan Distrik Saifi

Bila kondisi Distrik Saifi diasumsikan sama dengan


kondisi Sorong Selatan, maka agak mengherankan ketika
prevalensi stunting demikian tinggi. Potensi Protein
hewani dari laut sangat bagus. Kerang, lobster, cumi dan
ikan laut tersedia demikian melimpah. Sudah seharusnya
potensi ketersediaan lahan dan pangan ini bisa dijadikan
modal bagi tim Nusantara Sehat untuk memulai
kebangkitan status gizi balita di Distrik Saifi.
Potensi lain? Aparat setempat di level kampong
dan distrik sangat bersahabat, mereka menyambut
dengan antusias kedatangan tim Nusantara Sehat. Kader-
kader kesehatan juga sangat ramah, mereka turut
menyiapkan tempat tinggal bagi tim Nusantara Sehat
yang akan menetap selama setidaknya dua tahun.
Tentu saja bidang kesehatan tidak bisa berdiri
sendiri. Perlu banyak kerja sama dan saling pengertian
dengan bidang lain. Akses jalan yang buruk bukanlah
tanggung jawab bidang kesehatan, meski pada akhirnya
merupakan determinan utama akses masyarakat pada
pelayanan kesehatan. Jangan bicara akses pelayanan
kesehatan yang berkualitas, kalau akses jalan fisik belum
bisa diselesaikan.

56
Antara Hamparan Pasir
dan Burung Taun-taun
Catatan Perjalanan ke Sorong Selatan

Isti Kumalasari

Saat saya ditelepon admin Pusat Humaniora karena


terpilih menjadi salah satu peneliti di Riset Etnografi
Kesehatan 2015, pertanyaan saya adalah dimana saya
ditempatkan? Admin tersebut awalnya menolak
menyebutkan, tetapi karena saya merayu dan memaksa, dia
mengatakan bahwa saya ditempatkan di Sorong Selatan,
Papua Barat. Saya shock saat itu dan seketika sempat terpikir
untuk mengundurkan diri saja.
Saat itu saya merasa bahwa Papua adalah tempat yang
sangat jauh, tidak aman, dan penuh konflik. Pemikiran yang

57
Antara Hamparan Pasir dan Burung Taun-Taun

saya sesali kemudian karena saya membuktikan sendiri


bagaimana karakter orang-orang Papua yang sangat santun.
Mereka sangat toleran dan memahami perbedaan dengan
baik. Hampir tidak ada laporan kejahatan di Sorong Selatan
sehingga membuat saya berani menempuh perjalanan naik
motor sendirian melewati hutan sejauh + 40 km dengan
bonus ban bocor sepanjang perjalanan. Perjalanan ke Sorong
Selatan adalah perjalanan hebat dalam hidup saya dan saat
itu juga saya untuk pertama kalinya naik pesawat (ehh....).
Perjalanan dari Sorong ke Teminabuan memakan
waktu 2,5-4 jam tergantung kemampuan sopir. Kita bisa naik
mobil minibus atau double gardan dari Bandara Domine
Eduart Osok Sorong atau dari terminal. Jika membayangkan
terminal di Jawa diisi dengan angkot atau mobil butut, maka
terminal Sorong dan Teminabuan bisa jadi terminal termewah
di Indonesia karena hanya ada mobil kelas menengah dan
atas. Bisa membayangkan bagaimana mobil Innova atau
Fortuner hanya jadi mobil angkut antar kota?
Perjalanan dari Kota Sorong menuju Teminabuan
memiliki medan yang berkelok-kelok dan naik-turun.
Sebagian jalan sudah bagus tetapi sebagiannya lagi masih
rusak dan membutuhkan perbaikan. Sepanjang jalan dari
Sorong menuju Teminabuan kita bisa menemui anjing, babi
maupun ayam yang berkeliaran di jalan. Sopir akan berjalan
pelan untuk menghindari hewan tersebut dan bahkan
memilih celaka demi tidak menabraknya. Jika menabrak,
mereka harus membayar denda kepada pemiliknya. Satu
anjing bisa dihargai ratusan ribu sampai lima jutaan rupiah

58
Jelajah Nusantara #4

tergantung dari permintaan si pemilik, sedang untuk babi


peliharaan dipatok antara dua sampai lima juta. Jika sopir
melakukan tabrak lari, maka dalam sehari semalam jalan akan
dipalang dan semua kendaraan yang melintas harus
membayar denda. Satu mobil 50 ribu sampai ratusan ribu,
sedangkan motor puluhan ribu tergantung pemberian si
pengendara.
Pertama menjejak di Teminabuan, ibukota Kabupaten
Sorong Selatan, membuat saya tercengang. Suasananya tidak
lebih ramai dari kampung saya yang terletak di pinggiran kota
Kudus. Kami menginap di sebuah hotel dengan tarif lebih dari
400 ribu rupiah dengan kamar mandi di luar. Berasa kayak di
kos-kosan kata saya. Tetapi yang saya suka adalah setiap kita
berpapasan dengan orang maka mereka akan menyapa,
“Pagi... siang... malam... ibu...”.

Tentang Konda dan Wamargege:


Pasir dan Sarang Burung Taun-taun
Atas arahan Bapak Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten
Sorong Selatan dan Kabid Kesga, kami – saya dan ketua tim,
Mas Septa – ditempatkan di Distrik Konda. Alasannya karena
Distrik Konda adalah sebuah daerah yang kaya akan sumber
bahan makanan, letaknya cukup dekat dengan Teminabuan,
penduduknya memiliki penghasilan yang cukup baik, akan
tetapi kasus gizi kurang dan gizi buruk masih terus terjadi.
Pada tahun 2014, dilaporkan satu balita meninggal akibat gizi
buruk.

59
Antara Hamparan Pasir dan Burung Taun-Taun

Gambar 1. Kampung Konda dan Wamargege dilihat dari Dermaga


Wamargege
Sumber: Dokumentasi Penulis

Perjalanan dari Teminabuan menuju Konda dapat


ditempuh dengan jalur darat dan laut. Jalur darat bisa
menggunakan mobil atau ojek, sedangkan jalur laut kita bisa
menumpang pada johnson1 nelayan atau tukang kayu karena
tidak ada perahu komersial. Pada kedatangan pertama kami
menyewa sebuah mobil innova dengan tarif 800 ribu.
Kemahalan kata sebagian orang tetapi karena kondisi jalan
saat itu rusak parah, itu adalah harga terbaik yang kami
dapatkan setelah menawar. Bersama dengan Kepala
Puskesmas Konda, Bapak Alex Tessa, kami sepakat untuk
tinggal di Kampung Konda dan Wamargege yang letaknya

1
Sebutan masyarakat setempat untuk perahu dengan mesin tempel.

60
Jelajah Nusantara #4

berdampingan. Alasannya, pertama jumlah penduduk kedua


kampung tersebut adalah yang terbanyak dibanding tiga
kampung lain di Distrik Konda. Kedua, ada dua suku yang
memiliki karakteristik berbeda, tetapi mampu hidup
berdampingan selama ratusan tahun di kampung tersebut,
dan ketiga, Kampung Konda dahulu adalah pusat
pemerintahan Distrik Konda dan bahkan juga Sorong Selatan
sebelum berpindah ke Bariat dan Teminabuan. Selama 40 hari
kami tinggal di Puskesmas Pembantu (Pustu) Konda bersama
dua orang suster (satu bidan dan satu perawat) pada bulan
Maret-Mei 2015.
Sebelum saya berangkat ke Sorong Selatan, keluarga
menakut-nakuti saya dengan mengatakan kalau kata Konda
bisa berasal dari kata Anaconda dan mungkin Konda sebagai
daerah habitat ular Anaconda. Apalagi setelah googling, saya
menemukan bahwa daerah Konda memiliki kondisi geografi
yang mirip dengan daerah di Sungai Amazon sebagaimana
yang digambarkan di film Anaconda. Sesampai disana saya
tahu bahwa Konda berasal dari kata Kindi atau Kindisfey yang
berarti hamparan pasir dalam bahasa Tehit.
Cerita agak menggelikan adalah saat kami mencari
tahu tentang arti kata Wamargege. Kami sudah bertanya
pada Kepala Suku, Kepala Kampung dan juga beberapa mama
kader yang sudah lansia tentang hal ini. Seorang pegawai
Puskesmas yang memiliki orangtua berasal dari Fakfak –
daerah asal suku Yaben – bercerita pada kami bahwa
Wamargege artinya adalah celana dalam seorang putri Kepala
Suku Fakfak yang tertinggal di daerah tersebut dan menjadi

61
Antara Hamparan Pasir dan Burung Taun-Taun

dasar bagi suku Yaben untuk tinggal di daerah tersebut. Kami


setengah percaya tetapi tetap menuliskannya dalam laporan
sementara. Bersyukurlah suatu sore kami bertemu dengan
Theofilus Simat – salah seorang tetua kampung Konda – yang
baru pulang ke kampung dan kemudian bercerita panjang
lebar tentang kampung Konda dan Wamargege.
Wamargege dalam bahasa Yaben berasal dari kata
wamar (sarang) dan gege (burung) yang berarti wamargege
punya makna sarang burung taun-taun. Dulunya di kampung
itu banyak burung taun-taun, tetapi sekarang populasinya
sudah jauh berkurang. Wamargege mulai berdiri sejak 1998
setelah reformasi bergulir dan dikeluarkannya kebijakan
tentang pemekaran.
Hal yang paling unik ditemukan di Kampung Konda
dan Wamargege adalah bercampurnya dua suku yang berasal
dari moyang dan budaya yang berbeda, yaitu Suku Tehit dan
Suku Yaben. Suku Tehit merupakan suku yang mendiami
sebagian besar wilayah Sorong Selatan. Suku Tehit yang
berdiam di Kampung Konda dan Wamargege adalah Tehit
Afsiah dan Nakna.
Marga pertama yang datang adalah Kofarit yang
berasal dari Klamono (salah satu daerah di Sorong). Mata
pencaharian Suku Tehit umumnya berkebun dan bercocok
tanam di dusun (perkebunan sagu) atau hutan. Mereka
awalnya tinggal jauh di hutan tetapi bersama-sama dengan
Suku Yaben membuka daerah Konda yang dekat dengan
pantai. Suku kedua adalah Suku Yaben yang menurut riwayat
berasal dari Kokas, sebuah daerah di Fakfak.

62
Jelajah Nusantara #4

Suku Yaben dikenal sebagai pelaut dan nelayan serta


hanya mampu hidup di daerah pesisir pantai. Penduduk dari
kedua suku tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.
Suku Tehit cenderung lebih halus, santai dan terbuka,
sedangkan Suku Yaben sedikit menutup diri terhadap orang
baru, keras, suaranya cenderung meninggi dan terlihat selalu
bersemangat.

Gambar 2. Warga Wamargege pulang dari melaut


Sumber: Dokumentasi Penulis

Hidup berdampingan selama bertahun-tahun, terjadi


akulturasi antar dua budaya yang berbeda melalui pernikahan
dan kehidupan keseharian masyarakat, meski tidak serta-
merta meninggalkan budaya asliny. Banyak warga Konda dan
berasal dari Suku Tehit yang kemudian juga berprofesi
sebagai nelayan udang, tetapi Suku Tehit hanya sesekali

63
Antara Hamparan Pasir dan Burung Taun-Taun

melaut dan pulang kembali ke kampung. Waktu paling lama


yang digunakan untuk melaut sampai pulang kembali ke
kampung adalah seminggu, yaitu berangkat melaut Senin dan
kembali ke kampung pada hari Sabtu untuk kemudian
beribadah di gereja pada hari minggu.
Sedang Suku Yaben sanggup melaut sampai berbulan-
bulan dan hanya kembali ke kampung pada saat perayaan
Natal dan tahun baru. Mereka membangun rumah-rumah
sementara (para-para) dan membawa semua barang dan
anggota keluarganya untuk tinggal di Tanjung Bakoi – tempat
mereka biasa mencari udang. Kebijakan gereja yang
mewajibkan para warga untuk sembahyang setiap hari
minggu, kemudian mengubah ritme sebagian Suku Yaben
melaut selama seminggu dan kembali ke kampung setiap hari
Sabtu. Sebagian lagi yang masih tetap bertahan di Bakoi dan
hanya kembali pada saat tertentu atau saat ada perayaan di
kampung.

Tentang Goyang Pantat, TV Kabel dan Sinyal HP


Kesenian yang berkembang adalah goyang pantat
dimana setiap warga berpasang-pasangan dan bergoyang
untuk setiap lagu. Setiap warga baik laki-laki maupun
perempuan berbaur sepanjang malam. Goyang pantat diikuti
oleh semua kelompok usia dari balita sampai kakek-nenek.
Acara dapat berlangsung sepanjang malam sampai pagi dan
keluarga tidak memiliki kontrol sosial.

64
Jelajah Nusantara #4

Goyang pantat dilakukan saat ada momen penting


atau ada perayaan tertentu, semisal acara tahun baru,
penyambutan pejabat penting maupun dalam syukuran
pernikahan dan ulang tahun. Hari itu tanggal 25 Mei 2015,
ada seorang tetangga yang merayakan ulang tahun anaknya
dengan menggelar goyang pantat.
Tuan rumah yang punya hajat akan membuat tenda
biru di halaman rumah dan menyediakan lampu penerangan
yang terang di bawah tenda. Selain itu tuan rumah juga
menyediakan sound sustem dan operator yang bertugas
memutar lagu. Seringkali operator hanya berbekal playlist
yang ada di handphone.

Gambar 3. Goyang Pantat


Sumber: Dokumentasi Penulis

Siapa saja boleh bergoyang asalkan berpasangan.


Umumnya remaja dan ibu-ibu yang akan melantai. Bapak-

65
Antara Hamparan Pasir dan Burung Taun-Taun

bapak baru berani turun bergoyang jika ‘minum’ terlebih


dahulu. Jika tidak ada yang minum, acara akan selesai pada
pukul 01.00-02.00 WIT, tetapi jika ada yang mabuk maka akan
berlangsung semalam suntuk. Goyang pantat adalah hiburan
murah meriah yang dapat dinikmati oleh semua masyarakat
dan semakin menambah keakraban penduduk.
Hal itu juga yang mendasari kami untuk menggelar
goyang pantat di malam sebelum kepergian kami dari
kampung. Memberi sedikit hiburan pada masyarakat
kampung. Apalagi saya melihat pada penyelenggaraan
sebelumnya semua berjalan lancar dan tidak ada yang mabuk.
Awalnya semua berjalan lancar meski dalam kondisi mati
listrik dan memakai diesel. Masalah mulai muncul saat ada
beberapa bapak dan remaja yang mabuk dan suasana
menjadi tidak terkendali. Beberapa tetua menyarankan kami
untuk menghentikan acara. Kami akhirnya menghentikan
acara dengan cara mematikan diesel.
Semua pengunjung bubar, hanya menyisakan para
‘pemabuk’ yang protes kenapa acara dibubarkan. Kami segera
masuk dalam Pustu dan beranjak tidur. Tiba-tiba ada seorang
remaja yang berteriak-teriak dengan membawa parang dan
menggedor pintu, “Kaka suster... kaka suster...kenapa kasi
selesai ini acara... lanjut sudah... kaka sa kasi hancur ini rumah
sakit (Pustu, red)...”. Dia terus meracau sambil merusak
tenda. Kami hanya terdiam di dalam Pustu. Tak berapa lama
dia pergi sambil berteriak-teriak. Beberapa menit kemudian
dia datang dengan menangis, “Kaka suster... tolong sa minta
maaf... bapa marah kasi sa pukul pake batang kayu... kaka

66
Jelajah Nusantara #4

tolong sa minta maaf...”. Kami kasihan dan keluar, “Sudah


bilang ko pu bapa sudah kami kasih maaf...”. Sampai subuh
masih terdengar di sudut-sudut kampung orang meracau
akibat mabuk.
Kami cukup beruntung listrik sudah masuk ke
kampung dua bulan sebelum kedatangan kami. Kami dapat
menikmati listrik dan penerangan, meski setiap hari selalu
saja ada pemadaman.
Listrik menjadi titik balik dalam pemenuhan hiburan di
Konda dan Wamargege. Beberapa rumah kemudian
memasang speaker besar-besar dan menyetel musik
sepanjang hari dengan suara kencang seperti orang hajatan.
TV Kabel mulai masuk ke kampung cukup dengan membayar
800 ribu untuk pemasangan awal dan 100 ribu setiap
bulannya, maka masyarakat bisa menikmati siaran televisi
nasional dan beberapa stasiun mancanegara. Hiburan yang
dulu hanya mengandalkan goyang pantat dan pada saat
perayaan tertentu, dapat dinikmati sepanjang waktu.
Sinyal HP masih menjadi ‘misteri’ sampai kepulangan
saya. Saya dan masyarakat kampung harus pergi ke dermaga
untuk bisa menemukan sinyal, itupun hanya satu operator
saja. Internet atau paket data? Jangan berharap. Sinyal saja
kadang angot-angotan dan kadang putus nyambung seperti
judul lagu. Senja menjadi waktu yang tepat untuk nongkrong
di dermaga, entah untuk menelpon, memancing atau sekedar
mengobrol.

67
Antara Hamparan Pasir dan Burung Taun-Taun

Gambar 4. Aktivitas penduduk di dermaga pada sore hari


Sumber: Dokumentasi Penulis

Tentang Papeda Laut dan ‘Epenkah?’


Perkara bahasa awalnya memang tidak mudah. Saya
dan Mas Septa - teman peneliti -, adalah orang Jawa dan baru
pertama kali ke Indonesia Timur. Kami agak kesulitan
memahami struktur bahasa orang Papua yang menurut saya
terbalik-balik. Contohnya di hari pertama kami tinggal di
Pustu, suster berkata, “Kasih habis sudah”. saya melongo aja.
Ini maksudnya apa? Makanan yang mau dikasih ke saya sudah
habis? Atau apakah dia marah karena makanannya saya
habiskan? Suster mengulang kembali pernyataannya, “Kasih
habis itu makanan yang kakak makan”. Akhirnya saya paham
bahwa maksudnya adalah saya disuruh untuk menghabiskan
makanan tersebut.

68
Jelajah Nusantara #4

Selama penelitian saya cukup bersyukur karena


bahasa Indonesia adalah bahasa pengantar yang digunakan
sehari-hari oleh masyarakat Konda dan Wamargege dan
bahkan semua masyarakat Papua. Kami tidak memerlukan
penerjemah bahasa daerah untuk berinteraksi karena Bahasa
Tehit dan Yaben – bahasa lokal kedua suku – saat ini hanya
dikuasai oleh orang-orang tua saja. Yang cukup susah adalah
memancing informan – khususnya laki-laki penduduk
Wamargege – untuk bercerita panjang lebar. Sebagai contoh,
saat kami bertanya kenapa di Wamargege rata-rata
penduduknya memiliki anak banyak? Si informan menjawab,
“Itu sudah...”. Kami mengulang pertanyaan dengan kalimat
lain dan dia menjawab, “Itu sudah...”. Kami mencoba
memancing apa mungkin kalau anak banyak bisa membantu
pekerjaan orangtua?” Jawabnya, “Itu sudah...”.
Ada sebuah cerita menarik tentang Papeda. Papeda
adalah makanan khas Indonesia Timur yang dibuat dari sagu.
Sekali dua saya mencoba masakan ini tetapi terasa aneh. Saya
bilang seperti makan lem. Papeda ini paling nikmat jika
dimakan dengan ikan kuah kuning dan harus dalam keadaan
panas. Yang saya akan ceritakan bukan tentang papeda
sebagai sebuah masakan tetapi papeda laut. Di suatu siang
saat saya dan Mas Septa ada di Pustu, datang seorang nenek
bersama cucunya. Si nenek berteriak, “Kaka suster...kaka
suster... saya pu cucu terbakar... kena racun...papeda laut...”
Kami berdua mencoba memahami maksud si nenek, “Nenek
pu cucu keracunan papeda?” Si nenek menjawab, “Iya....kena
racun... papeda laut...”. Saya mencoba bertanya lagi,

69
Antara Hamparan Pasir dan Burung Taun-Taun

“Ohhh...keracunan setelah makan papeda?” Nenek


menjawab lagi, “Tidakk... tidak makan... terbakar... kena
racun... papeda laut…”. Kami masih terbengong sampai suster
datang dan menjelaskan kalau yang dimaksud nenek papeda
laut itu adalah ubur-ubur. Cucunya selesai bermain di pantai
dan tersengat ubur-ubur. Dan kami semua tertawa saat
membayangkan bentuk ubur-ubur yang memang mirip
papeda.
Istilah lain yang saya sukai adalah Epenkah. Istilah ini
muncul saat Suster Ludia (bidan kampung Konda) bercerita
tentang ketersediaan obat yang seringkali terlambat dan
terjadi hampir setiap bulan. Pasokan obat dari Puskesmas
Konda tidak sebanding dengan pelayanan Pustu yang
berlangsung selama 24 jam dengan jumlah penduduk lebih
dari seribu penduduk. Transportasi untuk mengambil obat di
Puskesmas Konda serta prosedur yang terlalu lambat dan
lama juga dikeluhkan suster.
“Sa datang Rabu ke Puskesmas dong bilang Sabtu… baru
sa numpang trek… tarada uang transport… sa datang
sabtu sama kaka itu toh… numpang trek lagi… tong pu
ban motor kempes… dong bilang selasa su bisa ambil
obat… ini hari sa ke Puskesmas… dong bilang besok kah…
obat belum dicatat pemasukannya… belum juga dipisah-
pisah mana-mana untuk Konda mana-mana Nakna
mana-mana Wamargege… sa bilang pisah dulu Konda
Wamargege… pace su tunggu di ampera mau titip ke
perahu bawa ke Konda… dong bilang tara bisa…
epenkah… sa tara mau ambil lagi….biar sudah
masyarakat nanti ambil tindakan.”

70
Jelajah Nusantara #4

Pustu Konda dan Wamargege juga kekurangan alat-


alat yang sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) seperti
lumbal untuk menumbuk obat dan sarung tangan pada saat
menangani luka. Alasan yang dikemukakan adalah dana
operasional Pustu dibelikan alat-alat yang sudah disediakan
oleh Dinas Kesehatan Sorong Selatan sehingga tidak dapat
memenuhi kekurangan beberapa alat perlengkapan
pengobatan yang justru lebih dibutuhkan.
Berkali-kali suster mengatakan kata epenkah, saya
hanya manggut-manggut saja. Saya berpikir itu mungkin
bahasa Tehit atau Yaben. Saya hanya memahami bahwa
epenkah digunakan untuk menyatakan kemarahan atau
kekecewaan. Lain waktu saya bertanya apa arti epenkah dan
suster menjawab itu merupakan singkatan dari ‘emang
penting kah’... alamak jan... disitu saya tepok jidat.

Tentang Barang Haram


dan Pikiran yang Melayang-layang
Gereja adalah pusat pemersatu masyarakat. Apa yang
menjadi perintah dan keputusan gereja akan menjadi
keputusan seluruh warga. Gereja Injili Konda merupakan
gereja tertua di Distrik Konda dan sudah berdiri sejak tahun
1940. Setiap minggu masyarakat beribadat di gereja tersebut.
Kepengurusan gereja terdiri dari pendeta dan dewan gereja.
Pada level yang lebih bawah, masyarakat Konda dan
Wamargege dikelompokkan ke dalam wijk (rayon). Ada 7 wijk
yaitu Wijk 1A, 1B, 2A, 2B, 3A, 3B, dan 4. Masing-masing wijk

71
Antara Hamparan Pasir dan Burung Taun-Taun

memiliki majelis yang minimal beranggotan dua orang yaitu


seorang laki-laki dan seorang perempuan.
Setiap wijk menyelenggarakan ibadah mingguan yang
terbagi dalam beberapa unsur menurut kelompok usia.
Unsur-unsur itu terdiri dari PW (Persekutuan Wanita), PKB
(Persekutuan Kelompok Bapak), PKM (Persekutuan Kelompok
Muda) dan anak-anak. Setiap sabtu sore ada ibadah keluarga
yang diikuti semua anggota keluarga dan dilaksanakan secara
bergiliran di rumah-rumah penduduk.
Selain itu, Setiap Minggu pagi jam 9.00 WIT ada ibadah
bersama, sore jam 16.00 ada Ibadah Unsur, kemudian Rabu
sore ada Rabu Gembira untuk anak-anak dan remaja. Selain
materi agama juga materi pendidikan juga disematkan di
antaranya. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan di sebuah
bangunan yang dinamakan Sebuah. Wijk selain digunakan
dalam kegiatan gereja, juga berfungsi dalam pemerintahan
sebagaimana Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT).

Gambar 5. Gereja dan Sebuah


Sumber: Dokumentasi Penulis

72
Jelajah Nusantara #4

Hari itu akan diselenggarakan kegiatan retreat GKI se-


Distrik Konda yang berlangsung selama tiga hari. Beberapa
hari sebelumnya masyarakat bekerja bakti membersihkan
rumput-rumput si sekitar gereja dan halaman rumah mereka.
Ibu-ibu membuat dapur umum untuk menyediakan konsumsi
selama acara berlangsung. Para laki-laki berburu di hutan dan
mencari ikan di laut untuk keperluan makan tamu.
Penjadwalan tugas setiap hari diatur per-wijk. Sebagaimana
penduduk lain, saya pun ingin terlibat dalam kegiatan
tersebut. Bersama dengan bidan Pustu saya datang ke dapur
umum dengan membawa pisau. Bidan tersebut berasal dari
Maros, Sulawesi Selatan dan juga seorang muslim. Kami
bersepakat akan membantu memotong sayur dan mengurus
bahan nabati.

Gambar 6. Dapur umum acara Retreat GKI


Sumber: Dokumentasi Penulis

73
Antara Hamparan Pasir dan Burung Taun-Taun

Sesaat sebelum kami masuk dapur umum, mama-


mama sontak berteriak, “Kaka suster... berhenti... ada barang
haram... berhenti sudah... ada barang haram.” Hal pertama
yang terekam dalam otak saya tentang barang haram adalah
narkoba. Saya terkejut. Ada seorang mama yang kemudian
memperjelas bahwa ada daging anjing dan daging babi. Saya
tersenyum dan menjelaskan bahwa yang terpenting saya
tidak memakannya dan mengusahakan untuk tidak
menyentuhnya. Mereka kemudian mengerti dan kami semua
tertawa. Mereka berpikir bahwa seorang muslim harus sejauh
mungkin dengan daging anjing atau babi. Saya menyadari
bahwa toleransi pun ingin ditegakkan di tempat terpencil ini
sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki.
Di acara itu juga kami – tim peneliti – akhirnya
memiliki kesempatan berbicara panjang dengan pendeta
Ester dan bapak sekretaris kampung yang sekaligus juga
adalah kepala Suku Nagna –sub dari Suku Tehit. Kami
berbicara tentang banyak hal mulai dari sejarah kampung,
politik, moral, kesehatan dan kebiasaan penduduk. Di momen
itu juga terungkap lebih jelas siapa kami sesungguhnya –
sebelumnya masyarakat menganggap kalau Mas Septa adalah
seorang dokter dan mendapat panggilan bapak dokter,
sedangkan saya adalah seorang suster (perawat/bidan) dan
seringkali dipanggil kaka suster.
Ada pernyataan menarik dari bapak sekretaris
kampung yang berusaha menjawab kenapa harus membawa
seluruh anggota keluarga ke Bakoi. Bapak Sekretaris
menyatakan bahwa konsumsi udang membuat para laki-laki

74
Jelajah Nusantara #4

memiliki ‘pikiran yang melayang-layang’. Awalnya kami


mengasumsikan bahwa udang memiliki kandungan kolesterol
dan purin tinggi sehingga orang yang mengkonsumsinya bisa
pusing setelah itu. Akhirnya, penjelasan lebih rinci kami
dapatkan dari pendeta Ester yang mengatakan bahwa
konsumsi udang dan daging buaya dapat meningkatkan
hasrat seksualitas sehingga nelayan harus membawa istri ke
tanjung. Hal itu juga yang menjadi alasan kenapa di
Wamargege banyak keluarga yang memiliki anak di atas lima
orang dan sedikit mengikuti program Keluarga Berencana
(KB). Kesehatan reproduksi merupakan hal yang tabu untuk
dibicarakan dan harus menggunakan bahasa kiasan.

Status Kesehatan di Konda-Wamargege


Data yang tercatat di Pustu Konda menyebutkan
bahwa ISPA adalah penyakit yang paling sering dikeluhkan
warga Konda. Masalah yang sering dikeluhkan oleh
masyarakat adalah gangguan pernapasan, batuk beringus,
demam, capek-capek pada orangtua, kecacingan pada anak-
anak dan diare, baik diare biasa maupun Buang Air Besar
(BAB) berdarah. Diagnosa yang dilakukan oleh suster adalah
dengan melihat hasil catatan anamnesa sebelumnya, seperti
yang disampaikan oleh suster Ludia, “Sa liat dari buku
anamnesa sebelumnya… keluhan apa obat apa… macam
begitu (seperti itu)… sa (saya) samakan saja…”. Tidak ada
perbedaan antara Kampung Konda dan Wamargege terkait
dengan penyakit menular. ISPA juga banyak diderita warga

75
Antara Hamparan Pasir dan Burung Taun-Taun

Wamargege. Data resmi tidak didapatkan karena pencatatan


buku Anamnesa di Pustu Wamargege tidak rapi dan terperinci
sebagaimana di Pustu Konda. Pustu Wamargege juga jarang
dibuka dengan alasan obat akan cepat habis jika terus dibuka,
apalagi jumlah penduduk Wamargege jauh lebih besar, lebih
dari 800 jiwa.
Penyakit tidak menular yang banyak dikeluhkan oleh
masyarakat Konda dan Wamargege adalah maag, hipertensi
(darah tinggi), anemia dan ruda paksa. Semua golongan usia
banyak mengalami anemia dan diberikan obat tambah darah
pada saat berobat di Pustu. Hipertensi banyak dikeluhkan
oleh para mama di Kampung Konda. Mereka akan langsung
datang ke rumah suster untuk meminta pemeriksaan tensi
darah. Jika memang tinggi, maka suster akan memberikan
obat. Jika obat habis, mama biasa mengambil daun pandan
atau daun sirsak sebanyak tujuh helai dari batang yang
berbeda, diseduh dengan air dan diminum.
Cakupan persalinan di fasilitas kesehatan sebesar nol
persen. Semua warga Konda dan Wamargege hanya mau
melahirkan di rumah masing-masing dengan dibantu oleh
keluarga dan atau mama kader. Petugas kesehatan akan
dipanggil jika terjadi masalah. Keluarga biasanya akan
memberi laporan kepada petugas selepas persalinan. Setelah
itu, petugas akan datang untuk memeriksa berat dan panjang
badan bayi. Selain itu juga untuk memeriksa apakah
penanganan pasca persalinan yang dilakukan oleh keluarga
sudah tepat. Tetapi tidak semua warga yang melapor pada
petugas. Terkadang warga baru melapor jika terjadi infeksi

76
Jelajah Nusantara #4

pada bayi atau ibu. Infeksi terjadi biasanya akibat


pemotongan tali pusat yang dilakukan oleh anggota keluarga
dengan gunting/pisau yang tidak steril.
Alasan warga tidak mau bersalin di fasilitas kesehatan
adalah mereka tidak diperbolehkan membuka ‘aurat’ di
hadapan orang asing karena malu. Mereka malu jika pada
saat melahirkan disaksikan oleh orang luar yang bukan bagian
dari keluarga.
Ada perbedaan adat di kedua kampung terkait dengan
persalinan. Di Konda, perempuan yang sudah mengalami
kontraksi (mulas-mulas) akan ditempatkan dalam sebuah
bilik/rumah kecil dan ditemani oleh anggota keluarga yang
perempuan. Selama seminggu suami tidak boleh menjenguk
istrinya. Seminggu kemudian suami baru dapat melihat
istrinya yaitu sesudah tungku dalam bilik tersebut
dibersihkan, diganti dan dibacakan doa-doa. Di Wamargege
tidak ada adat seperti di Konda. Ibu yang selesai melahirkan
boleh keluar kamar dan bertemu dengan suaminya.
Penimbangan balita dilakukan terpisah antara
Kampung Konda dan Wamargege. Biasanya selang satu hari
diantara dua kampung tersebut. Masing-masing posyandu di
tiap kampung memiliki nama tersendiri misalnya Kampung
Konda diberi nama Udang dan Wamargege dengan nama
Siput. Jadwal penimbangan ditentukan oleh Puskesmas
Konda untuk setiap tahunnya. Penimbangan dilakukan oleh
kader yang dipantau petugas Pustu kedua kampung dan
petugas dari Puskesmas Konda.

77
Antara Hamparan Pasir dan Burung Taun-Taun

Gambar 7. Penimbangan Balita di Kampung Konda


Sumber: Dokumentasi Penulis

Proporsi jumlah balita dan yang ditimbang di Kampung


Konda berkisar 50-70%, sedangkan di Wamargege jauh lebih
rendah karena tidak pernah lebih dari 50%. Alasan yang
dikemukakan mama kader adalah warga merasa tidak ada
gunanya melakukan penimbangan bayi dan balita. Alasan lain
adalah banyak balita yang mengikuti kedua orangtuanya
melaut dan tinggal di Tanjung Bakoi. Penimbangan tertinggi
ada pada bulan Januari karena masyarakat belum memulai
kegiatan melaut setelah perayaan Natal dan tahun baru.
Kebiasaan masyarakat selama bertahun-tahun
membuang kotoran di jamban cemplung di pinggiran pantai
tanpa menyiramnya, terus terbawa sampai saat penggunaan
toilet umum. Mereka buang air besar dan tidak menyiramnya.
Apalagi memang air tidak tersedia mudah di kampung

78
Jelajah Nusantara #4

tersebut. Rumah yang berdekatan dengan toilet akhirnya


mengunci pintu toilet dan akan membuka jika tetangga yang
ingin memanfaatkan toilet membawa air. Alasan yang
dikemukakan adalah mereka sangat terganggu dengan bau
kotoran yang tidak disiram. Beberapa masyarakat akhirnya
kembali ke kebiasaan lama di jamban cemplung karena
menganggap buang air besar di toilet cukup merepotkan.

Gambar 8. Toilet cemplung di pinggir pantai dan toilet umum yang


dibangun pemerintah
Sumber: Dokumentasi Penulis

Air menjadi masalah utama selama saya di Konda,


selain agas – hewan kecil yang menggigit dan menghisap
darah serta menimbulkan rasa gatal luar biasa. Untuk
keperluan air sehari-hari, saya sangat bergantung pada air
hujan yang ditampung dalam sebuah bak di belakang Pustu.
Doa turun hujan adalah doa yang saya rapal setiap hari
karena saat persediaan air menipis, saya terpaksa
menggunakan air dari sumur-sumur kecil yang berwarna
kuning-kecoklatan dan terasa berminyak saat disentuh.

79
Antara Hamparan Pasir dan Burung Taun-Taun

Tentang Gizi Buruk: Jeratan Ekonomikah?


Persoalan gizi buruk di Kampung Konda dan
Wamargege menjadi keprihatinan bagi aparat kedua
kampung, petugas Pustu dan dewan gereja. Keprihatinan ini
salah satunya disuarakan oleh Kepala Kampung Wamargege
yang menyatakan bahwa kasus gizi buruk di Kampung
Wamargege cukup banyak, bahkan ada yang sampai
meninggal dunia.
“...anak-anak disini itu ada yang gizi buruk… ada yang su
sampai meninggal… kecil-kecil baku ikut to… bukan…
anak-anak itu tidak jarak to… anak yang besar su
cacingan… saya bukan kasih tau pu warga… kita ini satu
tujuan satu pikiran… kita pu mendapat anak tapi
bagaimana atur dalam keluarga… jarak anak…”
Hasil penimbangan bulan Mei 2015 pada 28 balita di
Konda menunjukkan bahwa balita dengan gizi buruk sebanyak
3 orang, balita dengan gizi kurang sebanyak 7 orang (25%)
dan sisanya 18 orang dengan gizi baik (64,3%), sedangkan di
Wamargege, dari 63 balita ada 6 balita yang masuk kategori
gizi buruk, 10 balita dengan kategori gizi kurang dan 47 dalam
kategori gizi baik.
Temuan yang menarik adalah bayi yang lahir di
Kampung Konda dan Wamargege umumnya memiliki berat
badan normal, namun 2-3 bulan berikutnya menurun dan
masuk dalam kategori kurang atau buruk. Hal ini diungkapkan
Petugas Puskesmas yang datang saat penimbangan.
“Sa heran itu disini anak-anak lahir normal…tapi nanti
baru 2 bulankah 3 bulankah dong pu berat badan

80
Jelajah Nusantara #4

menurun… menyusut… tra tau itu…dong su kasih papeda


umur jalan dua minggu… adalagi satu minggu… rusak itu
pencernaan dong kasih papeda… baru itu nafsu makan
menurun lagi… berkerut kah apa dong pu usus itu…
heran saya… su bagus lahir berat normal…”.
Kampung Konda dan Wamargege dikenal sebagai
pusat makanan oleh masyarakat di distrik lain. Hasil
perikanan yang kaya protein seperti udang dan ikan payau
dapat ditemukan di kampung ini. Demikian juga hasil hutan
baik yang nabati seperti sagu dan buah-buahan maupun yang
hewani seperti rusa, babi hutan, buaya, maupun burung juga
dapat dipesan.
Bulan November sampai dengan Januari atau selama
perayaan natal, banyak orang yang datang ke Kampung Konda
dan Wamargege untuk membeli hewan buruan. Pendapatan
penduduk dari hasil mencari udang sebenarnya cukup tinggi.
Saat musim udang, warga bisa memperoleh sampai lima juta
perhari, dan saat sepi, mereka bisa mendapatkan 300-400
ribu perhari. Pertanyaan besar yang muncul kemudian adalah
dengan penghasilan yang besar dan daerah kaya akan sumber
pangan, bagaimana gizi buruk dapat terjadi di daerah
tersebut?
Pola hidup dengan membawa seluruh keluarga ke
Tanjung Bakoi dan Seneboi menurut saya menjadi penyebab
utama dan menimbulkan banyak ekses negatif. Pola
pengasuhan anak tidak terkontrol karena orangtua sepanjang
hari melaut dan anak-anak dititipkan pada saudara atau
tetangga.

81
Antara Hamparan Pasir dan Burung Taun-Taun

Gambar 9. Para-para (rumah sementara) di Tanjung Bakoi


Sumber: Dokumentasi Penulis

Pelayanan kesehatan juga tidak berjalan dan


masyarakat hanya membeli obat bebas yang dijual oleh
juragan udang apabila mengeluh sakit. Sanitasi juga buruk
karena masyarakat Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di
belakang rumah atau di atas para-para yang langsung
cemplung ke bawah tanpa ada ruang khusus. Sumber air
bersih tidak ada karena masyarakat memanfatkan sumur-
sumur alami yang ada di sekitar pemukiman yang airnya asin
dan berwarna kecoklatan.
Saat kami datang ke Bakoi dengan pejabat Dinas
Kesehatan Kabupaten Sorong Selatan, kami menemukan satu
orang balita berusia tiga tahun dengan Berat Badan (BB)
hanya 8 kg. Perutnya membuncit dan tulang rusuk nampak
menonjol. Balita ini adalah anak ke-empat dari seorang ibu
berusia 20 tahun yang saat itu sedang mengandung anak ke-

82
Jelajah Nusantara #4

lima. Anak pertama meninggal ketika bayi itu berusia 10


bulan, meninggal karena sakit panas. Anak ke-dua umur 6
tahun, anak ke-tiga umur 4 tahun. Ketika ditanya oleh Suster
Puskesmas, dia menyatakan tidak pernah memeriksakan diri
ke Puskesmas, dan mengakui bahwa selama punya anak 5
tidak pernah memeriksakan diri ke bidan atau petugas di
Puskesmas dan tidak ikut KB. ”Tidak ikut KB karena dapat
larang dari suami,” begitu ibu itu menjawab.
Si ibu bercerita kalau anak yang keempat saat itu tidak
bisa berjalan. Dulu anak itu bisa berjalan namun sejak terkena
penyakit serampak (campak), dia tidak dapat berjalan lagi
karena tumit dan lututnya bengkak. Anak ke-empat ini biasa
makan bubur, papeda, ikan merah, namun tidak makan
udang. Suaminya bekerja sebagai nelayan udang, setelah jual
udang uang yang dihasilkan untuk beli jaring dan keperluan
kapal.

Gambar 10.
Penderita gizi buruk
dan akhirnya
meninggal dunia
Sumber:
Dokumentasi
Penulis

83
Antara Hamparan Pasir dan Burung Taun-Taun

Pengamatan secara fisik menunjukkan bahwa balita


tersebut mengalami kwashiorkor. Rentang sepuluh hari
setelah pertemuan saya, si balita meninggal dunia. Balita
tersebut meninggal dalam Johnson saat perjalanan dari Bakoi
menuju Teminabuan untuk mendapatkan pengobatan.
Saat pemakamannya, saya mengikuti semua prosesi
sampai akhir. Kemudian di malam harinya, saya bermimpi
tentang balita yang meminta tolong dan mimpi itu terus
membekas dalam memori.
Faktor penyebab gizi buruk di Konda dan Wamargege
sangat kompleks dan rumit. Meski penghasilan rumah tangga
cukup besar, tetapi pengeluaran juga besar. Jeratan ekonomi
seperti hutang mahar pada keluarga maupun cicilan kapal,
jala, dan bahan bakar bisa jadi menguras penghasilan. Hal ini
diperparah dengan buruknya manajemen keuangan keluarga
sehingga berpendapat bahwa uang yang dihasilkan hari itu
akan dihabiskan hari itu juga. Beruntung juragan udang saat
itu menetapkan aturan menabung dengan membuatkan
rekening bank untuk tiap-tiap orang dengan harapan bahwa
keluarga punya tabungan untuk pendidikan anak.
Masalah sosial lain yang dianggap sebagai penyebab
gizi buruk adalah budaya patriarki yang sangat kuat. Hanya
ada satu suara dalam keluarga yaitu suara suami. Hal ini
diawali pada saat pemberian mas kawin pernikahan. Pihak
perempuan boleh menetapkan harga mas kawin berapapun
yang disesuaikan dengan latar belakang pendidikan maupun
latar keluarga. Saat suami sudah sanggup melunasi, maka ada

84
Jelajah Nusantara #4

istilah seperti “membeli” sehingga perempuan tidak memiliki


posisi tawar dalam keluarga
Dari sisi kesehatan masyarakat, gizi buruk dapat
disebabkan pola makan, jumlah dan paritas kelahiran, higiene
dan sanitasi lingkungan dan perorangan, kepadatan rumah
dan komplikasi. Satu rumah terlalu banyak penghuni antara 3-
4 KK di dalamnya dengan ukuran bangunan yang tidak terlalu
luas ditambah dengan anjing yang juga tinggal dalam rumah.
Seorang mama kader berkata,
“…pernah itu disini mati berturut-turut… enam… delapan
anak… adiknya satu meninggal… satu meninggal…
berturut-turut… anak-anak saja… karena di satu rumah
terlalu banyak orang… keluarga dalam satu rumah begini
itu ada tiga ada empat… empat keluarga dalam…”
Sebenarnya sudah ada aturan adat yang menyatakan
bahwa setiap orang yang sudah punya anak harus membuat
rumah baru, tetapi alasan ekonomi menjadi penghalang
aturan tersebut.
Meski dikenal sebagai daerah surga makanan, pada
kenyataannya hasil laut seperti udang dan ikan yang kaya
akan protein, lebih banyak dijual ke luar daerah daripada
dikonsumsi oleh penduduk. Penampungan udang di Bakoi dan
Seneboi, menerima udang yang ada di wilayah tersebut,
kemudian dibawa dan dijual ke luar daerah sampai ke
Surabaya. Begitupun dengan hewan hasil buruan lebih banyak
yang dijual dibandingkan dengan yang dikonsumsi warga.
Rata-rata penduduk makan papeda ditambah dengan ikan-
ikan kecil yang ditanggap di sekitaran dermaga Pantai Konda.

85
Antara Hamparan Pasir dan Burung Taun-Taun

Terkadang hanya papeda saja atau kue-kue yang dijual di


warung. Jika ada uang berlebih, maka warga akan membeli
beras karena dianggap memiliki prestis yang lebih tinggi.

86
Menilik Pelayanan Kesehatan di Tepi Pasifik
Catatan Perjalanan ke Halmahera Barat, Maluku Utara

Agung Dwi Laksono

Jailolo, Agustus 2016


Perjalanan kali ini saya bersama dua teman lainnya,
ditugaskan untuk melakukan assessment wilayah
penempatan tim Nusantara Sehat di salah satu wilayah
Kabupaten Halmahera Barat, Puskesmas Talaga. Nusantara
Sehat adalah salah satu program andalan Kementerian
Kesehatan untuk mengisi atau memperkuat keberadaan
pelayanan kesehatan di wilayah terpencil dan sangat
terpencil. Pada program ini pendekatan yang dipakai adalah
team based (berbasis tim), yang menempatkan beberapa
jenis tenaga kesehatan secara bersamaan sebagai sebuah tim
untuk memperkuat Puskesmas pada wilayah tertentu.

87
Menilik Pelayanan Kesehatan di Tepi Pasifik

Gambar 1. Peta Lokasi Kabupaten Halmahera Barat


Sumber: Hasil Olahan Penulis dari Berbagai Sumber

Halmahera Barat merupakan salah satu kabupaten


pemekaran Kabupaten Maluku Utara di wilayah Provinsi
Maluku Utara, yang juga sebelumnya wilayah pemekaran dari
Provinsi Maluku. Secara resmi Kabupaten Halmahera Barat
berdiri mulai tanggal 25 Februari 2003. Dasar hukum
pendiriannya adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2003
tentang Pembentukan Kabupaten Halmahera Barat,
Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Selatan,
Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Sula Kepulauan dan
Kota Tidore Kepulauan.
Kabupaten seluas 2.755 km2 ini mulai dikenal secara
luas oleh publik sejak mulai mengadakan even tahunan

88
Jelajah Nusantara #4

Festival Teluk Jailolo. Acara tahunan andalan Dinas Pariwisata


ini biasa diselenggarakan pada bulan Mei setiap tahunnya.
Festival ini menghadirkan tampilan ragam budaya dan juga
kuliner khas wilayah Halmahera Barat.

Menuju Halmahera Barat


Menuju Halmahera Barat bukanlah sebuah perjalanan
yang berat seperti layaknya beberapa wilayah lain yang
masuk kategori terpencil. Dari Kota Ternate sebagai ibukota
provinsi, kita bisa langsung menggunakan speed boat
kapasitas 40 orang langsung menuju Jailolo, ibukota
Kabupaten Halmahera Barat. Jalur laut seharga Rp. 50.000,-
memerlukan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan dari
Pelabuhan Dufadufa di Ternate menuju Pelabuhan Jailolo.

Gambar 2. Pelabuhan DufaDufa, Ternate


Sumber: Dokumentasi Penulis

Menempuh perjalanan laut Ternate-Jailolo sangatlah


menarik, sebanding dengan perjalanan saat saya menempuh

89
Menilik Pelayanan Kesehatan di Tepi Pasifik

perjalanan antara Ranai - Sedanau di Natuna, atau Wanci -


Tomia di Wakatobi. Sebuah pengalaman perjalanan laut
menawan yang dipenuhi dengan pemandangan lanskap
birunya laut menyangga pulau-pulau yang berderet indah.

Gambar 3. Lanskap Pemandangan Laut Selama Perjalanan Menuju Jailolo


Sumber: Dokumentasi Penulis

Speed boat yang langsung menuju Jailolo bukanlah


satu-satunya jalur yang bisa ditempuh untuk menuju
Halmahera Barat. Jalur yang sama juga dilayani oleh kapal
yang lebih besar. Hanya saja dibutuhkan waktu tempuh laut
yang lebih lama untuk sampai ke Jailolo, sekitar 2,5 – 3 jam
perjalanan.
Alternatif lainnya, dari Ternate kita bisa melalui
Pelabuhan Sofifi di wilayah Kota Tidore. Waktu yang
diperlukan sedikit lebih pendek, karena menuju pada Pulau
Halmahera bagian Selatan dengan speed boat seharga Rp.
50.000,- per orang. Hanya saja kita masih harus menempuh
tambahan perjalanan darat selama 1,5 jam menuju Jailolo
seharga Rp. 75.000,-. Meski membutuhkan effort lebih, jalur

90
Jelajah Nusantara #4

ini dinilai lebih aman saat laut sedang tidak tenang, karena
jarak tempuh lautnya yang relatif pendek.

Puskesmas Talaga di Kecamatan Ibu Selatan


Seperti rencana semula, kedatangan kami adalah
untuk melakukan penilaian Puskesmas Talaga sebagai salah
satu calon wilayah penempatan Tim Nusantara Sehat di
wilayah Kabupaten Halmahera Barat. Kami ditugaskan untuk
menilai kelayakannya.
Dari Kota Jailolo kami ke arah Utara menuju wilayah
Puskesmas Talaga. Perjalanan yang memerlukan waktu
tempuh sekitar satu jam dua puluh menit dengan
menggunakan jenis mobil niaga. Jalanan yang ditempuh pun
relatif aman, sekitar 80% jalanan beraspal yang masih cukup
baik, dan sisanya jalanan beraspal yang sudah hancur, yang
membuat perut serasa diaduk-aduk.
Puskesmas Talaga berada di wilayah Kecamatan Ibu
Selatan. Menurut keterangan Dinas Kesehatan, ada dua
Puskesmas yang melayani di wilayah Kecamatan Ibu Selatan,
selain Puskesmas Talaga ada satu lagi Puskesmas Baru.
Puskesmas Baru merupakan Puskesmas baru hasil
pemekaran Puskesmas Talaga. “Puskesmas Baru ini memang
benar-benar Puskesmas baru pak. Baru beroperasional tahun
2015. Belum terregistrasi di Kementerian Kesehatan, masih
kita lengkapi syarat-syaratnya…,” kilah Sadik Umasangadji,
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Kabid Yankes) Dinas
Kesehatan Kabupaten Halmahera Barat yang menemani
perjalanan kami.

91
Menilik Pelayanan Kesehatan di Tepi Pasifik

Gambar 4. Puskesmas Baru


Sumber: Dokumentasi Penulis

Kecamatan Ibu Selatan terdiri dari 16 desa. Kedua


Puskesmas tersebut berbagi wilayah kerja menjadi masing-
masing delapan desa. Puskesmas Baru memegang desa-desa
di bagian Selatan, sementara Puskesmas Talaga di bagian
Utara.
Secara umum kondisi geografis Kecamatan Ibu Selatan
cukup potensial, di sebelah Barat diapit laut lepas yang
langsung terhubung dengan Samudera Pasifik, sementara di
sebelah Timurnya berdiri dengan kokoh sebuah gunung, salah
satu gunung berapi yang masih aktif di wilayah Halmahera.
Kontur tanah di wilayah ini terbilang sangat subur.
Tidak aneh bila mata pencaharian paling dominan di wilayah
ini adalah petani kebun. “Rata-rata masyarakat sini bertani
tanaman tahunan pak. Ada kelapa, pala, coklat, cengkeh, dan
beberapa yang menanam jati. Hanya sedikit saja yang

92
Jelajah Nusantara #4

menjadi nelayan,” jelas James Mawea, Kepala Puskesmas


Talaga yang seorang perawat.
Meski potensi bahari perikanan laut kurang tergali di
wilayah Ibu Selatan, tetapi potensi bahari lainnya sudah
terekspose sejak puluhan tahun lalu, Pelabuhan Laut Bataka.
Pelabuhan ini melayani kebutuhan masyarakat sekitar yang
dipasok dari pelabuhan di Manado dan Bitung.

Gambar 5. Pelabuhan Laut Bataka di Wilayah Kecamatan Ibu Selatan


Sumber: Dokumentasi Penulis

Ada dua suku yang cukup dominan di wilayah Ibu


Selatan, yaitu suku Wayoli dan Tabaru. Sementara suku-suku
lain dari berbagai wilayah melengkapi keberagaman di
wilayah ini. “Masyarakat sini cukup terbuka pak, mau
menerima orang lain dengan ramah. Saya rasa tidak akan ada
hambatan…,” jelas Kepala Puskesmas Talaga ketika kami
menanyakan kemungkinan adanya hambatan budaya saat tim
Nusantara Sehat ditempatkan di wilayah ini nantinya.
Dari delapan desa yang menjadi ampuan atau wilayah
kerja Puskesmas Talaga, hanya dijumpai dua pemeluk agama

93
Menilik Pelayanan Kesehatan di Tepi Pasifik

saja, yaitu Nasrani dan Islam. Pemeluk agama Nasrani lebih


dominan, lima dari delapan desa adalah pemeluk agama
nasrani, sisanya baru pemeluk agama Islam. Kekhasannya
adalah bahwa dalam satu desa seluruh pemeluk agamanya
homogen, baik Nasrani maupun Islam.
Secara umum sulit dijumpai sinyal telepon seluler di
wilayah ini. Diperlukan kesabaran tingkat tinggi untuk
mencari sinyal Telkomsel di beberapa tempat yang terkadang
muncul sinyal. Kalau mau aman bisa bergeser ke kecamatan
sebelah, barang setengah jam perjalanan, untuk mendapat
sinyal Telkomsel yang lebih stabil, satu-satunya operator yang
bisa menjangkau wilayah tersebut. Tidak berbeda dengan
sinyal telepon seluler, aliran listrik pun juga merupakan
barang mewah di wilayah ini. Lampu baru bisa menyala pada
pukul 19.00 WIT sampai dengan pukul 06.00 WIT pagi, itupun
bila tidak sedang ngadat.
Puskesmas Talaga berdiri kokoh di depan sebuah
lereng gunung yang membuatnya terlihat sebagai lanskap
yang sangat eksotis. Dengan papan namanya yang mulai
lapuk termakan usia, bendera merah putih berkibar dengan
gagahnya di halaman depan Puskesmas. Di sekeliling
Puskesmas hamparan rumput hijau tertata dengan sangat
manis, menyejukkan setiap mata yang melihat.
Pasien terlihat sepi, hanya beberapa petugas
Puskesmas saja yang duduk bergerombol di bangku depan
Puskesmas. “Setiap hari rata-rata pasien yang berkunjung ada
10 pak…,” jelas James Mawea. Dengan sejumlah 8.880
peserta BPJS yang terdaftar di Puskesmas ini, saya jadi
mengernyitkan kening mendengar jumlah masyarakat yang

94
Jelajah Nusantara #4

berkunjung ke Puskesmas. Semoga hanya karena masyarakat


benar-benar sehat. Semoga.

Gambar 6. Puskesmas Talaga di Kecamatan Ibu Selatan


Sumber: Dokumentasi Penulis

Secara ketenagaan, ada delapan Pegawai Negeri Sipil


(PNS) yang mengabdi di Puskesmas Talaga, ditambah dengan
dua tenaga Pegawai Tidak Tetap (PTT) Pusat, dan satu PTT
Daerah. Total 11 petugas, plus 10 orang tenaga sukarelawan
yang magang di Puskesmas Talaga.
Tidak ada fasilitas rawat inap di Puskesmas Talaga.
Meski demikian, empat bidan yang ada melayani ibu hamil
yang hendak melahirkan (partus) di empat tempat tidur yang
tersedia di ruang partus, yang terkadang juga memerlukan
menginap, meski hanya satu malam.

95
Menilik Pelayanan Kesehatan di Tepi Pasifik

Di salah satu sudut


ruang partus saya menemui
sebuah alat sterilisasi yang
masih sangat bagus, yang
bahkan plastik pembungkus-
nya sebagian besar masih
menempel. Menurut kete-
rangan Sadik Umasangadji,
Kabid Yankes yang menyertai
perjalanan kami, “Itu alat
drop-dropan dari pusat pak,
datang beberapa waktu lalu…
kan di sini tidak ada listrik yaa. Gambar 7. Alat Sterilisasi yang
Masih Terbungkus Plastik
Ada juga genset, tapi kan watt-
Sumber: Dokumentasi Penulis
nya tinggi kan… sekitar 1.500
watt, jadi ya genset tidak bisa.
Listrik di sini pun (kalau malam), hanya 900 watt. Jadi yaa…”.
Saat mengecek keberadaan kamar mandi atau toilet,
terlihat cukup bagus, sudah berporselen. Hanya saja tidak ada
air sama sekali. Menurut keterangan petugas Puskesmas
sumber air diambilkan dari sumur di rumah dinas, hanya saja
memerlukan pompa air untuk mengalirkan ke Puskesmas.
Sementara saat ini pompa air sedang rusak.
Satu-satunya tenaga dokter yang ada di Puskesmas
Talaga adalah tenaga PTT Daerah. Itupun ternyata harus
berbagi dengan Puskesmas Baru. Menurut keterangan Kepala
Dinas Kabupaten Halmahera Barat hal tersebut memang
terpaksa harus dilakukan, karena keterbatasan jumlah tenaga
dokter. “Tidak ada dokter di Puskesmas Talaga pak. Kami

96
Jelajah Nusantara #4

hanya menempatkan dokter dari wilayah Puskesmas lain di


sekitarnya untuk secara bergiliran melayani di Puskesmas
Talaga. Jadi bergantian saja…,” jelas Dra. Atty Tutupoho, Apt.,
M.Kes.

Kondisi Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Kabupaten


Halmahera Selatan
Dalam sebuah diskusi dengan Kepala Dinas Kesehatan
dan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan
Kabupaten Halmahera Barat di Jailolo, Sadik Umasangadji,
Kabid Yankes menjelaskan bahwa, “Dari 12 Puskesmas yang
ada di wilayah Halmahera Barat kesemuanya bisa ditempuh
melalui jalur darat, kecuali Puskesmas Kedi. Itu kalau ke sana
harus jalur laut… ke wilayah-wilayah kerjanya juga semua
jalur laut. Petugas kesehatan yang ditempatkan disana harus
bisa berenang…”.
Lebih lanjut Kepala Bidang Yankes yang akrab
dipanggil “Om Deki” ini menjelaskan bahwa tidak bisanya
Puskesmas Kedi ditempuh dengan jalur darat ini bukan berarti
bahwa Puskesmas tersebut berada pada daratan atau pulau
yang berbeda. Puskesmas Kedi masih berada di Pulau
Halmahera, hanya saja tidak ada jalur transportasi darat yang
menghubungkan wilayah tersebut dengan wilayah lain di
Halmahera Barat.
Pada kesempatan yang sama Dra. Atty Tutupoho, Apt.,
M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Barat,
menjelaskan bahwa dari 12 Puskesmas yang ada kesemuanya
masuk dalam kategori terpencil, kecuali Puskesmas Kedi yang

97
Menilik Pelayanan Kesehatan di Tepi Pasifik

masuk kategori sangat terpencil. Hal ini sesuai dengan


Keputusan Bupati Halmahera Barat Nomor
133.A/KPTS/V/2016 tentang Penetapan Sarana Pelayanan
Kesehatan yang Termasuk dalam Kriteria Terpencil dan
Sangat Terpencil di Kabupaten Halmahera Barat.
Menutup diskusi kami, Kepala Dinas menitipkan pesan
permohonan pada Kementerian Kesehatan agar Kabupaten
Halmahera Barat diberi tambahan lagi dua tim Nusantara
Sehat untuk Puskesmas yang berbeda. “Masih ada dua
sampai tiga Puskesmas lagi yang sangat membutuhkan
bantuan tenaga di wilayah Halmahera Barat ini, termasuk
Puskesmas Kedi tadi. Saya sangat berharap ada bantuan lebih
dari Kementerian Kesehatan…”
Baiklah, mari tetap bersemangat. Masih banyak
pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk menghadirkan
negara dalam pelayanan kesehatan di setiap sudut republik
ini.

98
Balutan Kehangatan Berahu untuk Mama
Catatan Perjalanan ke Obi Timur, Halmahera Selatan

Siti Rahmahwati

Pengalaman ini saya tulis sehubungan dengan tugas


saya sebagai peneliti etnografi kesehatan pada awal tahun
2015. Kala itu saya mendapatkan lokasi penelitian di
Kecamatan Obi Timur, Kabupeten Halmahera Selatan. Dalam
benak saya terlintas, itu adalah tempat yang jauh.
Sebelumnya, saya belum pernah pergi jauh dari rumah.
Apalagi pergi ke luar Jawa.
Untuk mengetahui di mana lokasi penelitian, saya
bersama rekan saya dari antropologi mencarinya dengan
bantuan search engine. Dapatlah kami bagaimana akses
menuju lokasi penelitian. Kami mendapatkan cerita
sekelompok pemuda yang pernah travelling ke Pulau Obi.

99
Balutan Kehangatan Berahu untuk Mama

Walau perjalanan yang mereka posting di blog hanya sampai


di pelabuhan utamanya. Tidak masalah, kami mendapatkan
referensi dan memutuskan menggunakan jalur yang sama.
Perjalanan saya dimulai pada malam hari dari
Surabaya dan sampai Kota Ternate pukul 06:30 WITA. Meski
Kota Ternate sebagai pintu masuk Provinsi Maluku Utara tapi
statusnya pada saat sudah berubah tidak lagi menjadi ibu
kota provinsi. Melainkan digantikan oleh Sofifi sebagai ibu
kota provinsi. Kantor-kantor pemerintah juga berangsur
pindah ke Sofifi dan salah satunya adalah kantor Dinas
Kesehatan Maluku Utara.
Dari Bandara Sultan Baabulah (Ternate), saya
menggunakan taxi menuju Pelabuhan Sofifi. Alat transportasi
yang tersedia untuk menuju Sofifi adalah speed boat yang
dilengkapi dengan dua sampai empat motor sebagai
penggeraknya. Durasi perjalanan menuju Sofifi sekitar 45
menit perjalanan laut dengan diiringi ombak yang cukup kuat
menggoyang seluruh penumpang di dalamnya, beserta angin
sepoi-sepoi yang turut membumbui rasa ngantuk selama
perjalanan. Kebetulan saya belum sarapan, bahkan belum ada
makanan apapun yang masuk ke perut.
Sesampai di Sofifi, saya langsung mencari becak motor
untuk menuju Dinas Kesehatan Maluku Utara. Sepanjang
perjalanan barisan rumah berjajar rapi layaknya pemukiman
penduduk pada umumnya. Namun sekitar sepuluh meter
menuju Dinas Kesehatan Maluku Utara, kondisi jalan menjadi
sepi dan hanya aspal yang masih rapi dan hitam pekat yang
mencolok.

100
Jelajah Nusantara #4

Ketika memasuki kantor, saya dan rekan saya


disambut hangat oleh staf yang ada di tempat. Kami
mengobrol dengan petugas sambil mengumpulkan data-data
sekunder yang mendukung penelitian.
Ada satu data yang menunjukkan bahwa data
imunisasi di calon lokasi penelitian masih kurang karena
masyarakat suku setempat tidak menyukai dampak panas
setelah bayi diimunisasi. Calon lokasi penelitian menurut staf
promkes sulit dijangkau karena bergantung pada kondisi
ombak dan speed boat yang tidak setiap hari beroperasi. Kami
saling menatap ragu untuk mengambil lokasi penelitian di
tempat tersebut. Selesai berdiskusi dan mengambil data, kami
pamit pulang dan menggunakan becak motor lagi untuk
menuju pelabuhan. Masih dengan speed boat kami harus
menyeberang menuju Kota Ternate.
Malam pun tiba, saya menuju Pelabuhan Bastiong
untuk naik kapal yang masyarakat lebih familiar dengan kapal
perintis. Suasana semakin rame ketika penumpang mulai
berdatangan dan mulai memasuki kapal. Aktifitas ekonomi
pun tetap berjalan seolah tak kenal waktu. Setelah jam
menunjukkan pukul 10:00 WIT kapal pun mulai meninggalkan
pelabuhan dan siap berlayar menuju Pulau Bacan.
Suara mirip klakson mulai dibunyikan dan kapal siap
menepi di Pelabuhan Kupal. Pada saat itu waktu
menunjukkan pukul 05.00 WIT. Saya dan rekan bergegas
keluar dari kapal dan mencari angkutan umum.
Penumpang mulai memenuhi kursi angkutan umum
dan kami pun mulai perjalanan menuju hotel. Tentunya

101
Balutan Kehangatan Berahu untuk Mama

dengan iringan full music beserta suara yang kencang dan


sound system khas Maluku Utara. Di kursi penumpang paling
belakang akan berasa sekali getarannya akibat dentuman
musik dari sound system. Efek suara musik yang kencang ini
cukup membuat penumpang melek seketika.
Hotel yang kami tempati kali ini sepi pengunjung, saya
merasa seperti di rumah sendiri. Waktu menunjukkan pukul
08.00 pagi, saat saya dan rekan saya berjalan kaki menuju
untuk Dinas Kesehatan Halmahera Selatan. Bayangan saya
kantornya akan sama dengan yang ada di ibu kota provinsi.
Namun ternyata tidak. Di depan saya ada bangunan satu
lantai dengan atap dari seng beserta dinding dari semen dicat
putih rapi, meski masih ada kesan bangunan lama.
Keadaan kantor masih sepi dan beberapa staf baru
hadir di tempat. Saya mengobrol dengan staf yang sudah
hadir dan mengambil data yang diperlukan untuk penelitian.
Kami disarankan untuk mengambil lokasi penelitian di
Kepulauan Sula yang kondisi kesehatannya masih kurang.
Namun kami tidak berani mengambil keputusan sepihak dan
masih tetap ingin mengambil lokasi penelitian sesuai dengan
surat tugas kami.
Menurut staf Dinkes, TBC dan HIV-AIDS masih menjadi
“primadona” di beberapa wilayah di Halmahera Selatan.
Namun petugas tidak menjelaskan secara detail penyebab
maupun asumsi masyarakat mengenai dua penyakit tersebut.
Hal unik yang saya temui ketika menuju satu ruangan ke
ruangan lain yang harus melewati ruang terbuka adalah

102
Jelajah Nusantara #4

adanya hewan ternak bisa masuk ke area kantor dan baru kali
ini saya menemui kejadian seperti ini.
Hal lain yang cukup unik di Dinas Kesehatan
Halmahera Selatan adalah adanya inovasi Rumah Tunggu
Kelahiran yang didirikan sejak tahun 2012. Inovasi ini telah
mendapatkan penghargaan dari pemerintah.
Perjalanan kami lanjutkan dengan naik kapal perintis
dari Pelabuhan Kupal pada pukul 10.00 WIT. Beristirahat di
barak merupakan pilihan kami sambil meilihat hiruk pikuk
kegiatan masyakat. Suara klakson kembali dibunyikan sebagai
penanda kapal akan menepi di Pelabuhan Jikotamo. Arloji
rekan saya menunjuk pada jarum pendek pada angka 2 dan
jarum panjang pada angka 12. Pelabuhan seketika menjadi
sangat ramai oleh penumpang turun maupun masyarakat
yang hendak menjajakan jasanya.
Pada akhirnya saya menapakkan jejak kaki ke bumi
Obi. Kami langsung mencari alat transportasi yang
menjangkau ke Puskesmas. Kala itu kami mengambil
keputusan sementara untuk mengambil lokasi penelitian di
Kecamatan Obi. Setelah mendapatkan ojek, kami bergegas
menuju Puskesmas.
Pulau Obi merupakan salah satu pulau yang terletak di
Kabupaten Halmahera Selatan dan berdekatan dengan Kota
Ambon jika kita coba lihat di peta. Pulau ini pernah menjadi
saksi bisu kerusuhan Ambon pada tahun 2003. Luas wilayah
pulau ini mencapai 3.111 km2. Dengan komposisi penduduk
yang terdiri dari berbagai macam etnis di dalamnya. Pulau ini
terdiri dari lima kecamatan, dan salah satunya Kecamatan

103
Balutan Kehangatan Berahu untuk Mama

Obi. Kecamatan ini merupakan pintu gerbang masuk orang


yang datang dari luar Pulau Obi dan tentunya kepadatan
penduduk terjadi di sekitar lingkungan pelabuhan.

Gambar 1. Peta Pulau Obi


Sumber: Google map

Mayoritas penduduk mengandalkan perkebunan dan


hasil laut, yang kemudian hasilnya akan dijual berkeliling
kampung maupun dijual ke pasar. Kaum wanita suka
bepergian ke kebun dalam berkelompok pada pagi hari dan
pulang pada sore hari. Mereka berjalan menyusuri sepanjang
jalan sambil mengobrol dan bercanda menuju ke kebun.
Sedangkan kaum laki-laki lebih suka bepergian sendiri atau
ditemani anaknya menuju kebun dengan menggunakan
motor. Kadangkala mereka menginap di kebun yang telah
tersedia gubuk untuk beristirahat.

104
Jelajah Nusantara #4

Potensi tambang juga ada di Pulau Obi antara lain


nikel dan emas. Tambang nikel dikelola oleh pihak asing,
meski masyarakat sekitar ikut berpartisipasi menjadi
karyawan di perusahaan tersebut. Adapun masyarakat yang
tidak dapat berpartisipasi dalam perusahaan, tetap
mendapatkan kesejahteraan dari perusahaan, yaitu melalui
program CSR.
Lokasi tambang ini berada di sebuah desa bernama
Kawasi. Untuk sampai di desa ini harus menggunakan speed
boat dari ibu kota Kecamatan Obi dengan durasi perjalanan
mencapai dua jam. Di balik kesejahteraan yang dirasakan oleh
masyarakat Desa Kawasi, terselip fenomena penyakit kusta
yang cukup dikenal di kalangan masyarakat di luar Desa
Kawasi. Dulu, pada awalnya para penderita enggan berobat
dan hanya berada di rumah saja. Namun pada saat ini mereka
mulai berangsur mau berobat.
Beberapa tambang emas dikelola oleh masyarakat
yang dikenal dengan tambang rakyat. Sebelum menjadi
tambang rakyat, tambang ini dikelola oleh perusahaan.
Namun karena ada masalah masalah perusahaan sempat
tutup dan digantikan oleh masyarakat setempat. Orang-orang
dari luar Desa Anggai termotivasi untuk mencari emas di sana.

Berahu untuk mama


Berdasarkan hasil rekomendasi dari Puskesmas yang
membawahi Kecamatan Obiyaitu Puskesmas Laiwui, saya dan
rekan memutuskan untuk menetapkan lokasi penelitian di

105
Balutan Kehangatan Berahu untuk Mama

Desa Baru. Menurut keterangan dari staf KIA Puskesmas


Laiwui, Desa Baru merupakan desa yang memiliki jumlah ibu
hamil mencapai sepuluh orang setiap bulannya dibandingkan
dengan desa-desa lain di Kecamatan Obi.
Untuk mencapai Desa Baru, saya harus melewati
empat desa, yaitu Desa Jikotamo, Desa Buton, Desa Laiwui
dan Desa Akegula. Dengan hanya mengandalkan bantuan ojek
di sekitar pelabuhan, saya akan sampai di desa ini. Sedangkan
Puskesmas Laiwui dan Kantor Kecamatan Obi terletak di Desa
Laiwui.
Desa Baru terdiri dari dua etnis, yaitu Etnis Buton yang
tersebar di tiga dusun dan Etnis Tobelo yang ada dalam satu
dusun. Ada pendatang beberapa etnis lain di desa ini, seperti
Jawa, Makasar, dan lain-lain, namun jumlahnya tidak terlalu
banyak seperti Etnis Buton dan Etnis Tobelo. Letaknya yang
jauh dari pelabuhan, membuat desa ini tidak terlalu banyak
pendatang. Hal inilah yang membuat saya dan rekan akhirnya
memilih desa ini sebagai lokasi penelitian.
Berbicara mengenai KIA, ada salah satu tradisi wajib
yang harus dilakukan perempuan setelah melahirkan adalah
Berahu. Tradisi ini dilakukan oleh perempuan Etnis Tobelo
maupun Etnis Buton. Berahu merupakan aktifitas
menghangatkan tubuh perempuan nifas dengan cara
meletakkan perapian dalam ruangan khusus atau kamar tidur
sepanjang masa nifas. Aktifitas seperti ini juga bisa ditemui
pada perempuan nifas di NTT.
Berahu diwariskan dari nenek moyang yang masih
dilakukan sampai saat ini. Tradisi ini tidak memandang

106
Jelajah Nusantara #4

perempuan telah melahirkan berapa kali. Setelah melahirkan,


perempuan harus melakukannya.
Selama perempuan melakukan berahu, hampir semua
aktifitas dilakukan di atas tempat tidur. Salah satunya buang
air kecil yang dilakukan di atas tempat tidur yang sudah diberi
alas atau tikar. Tempat tidur dirancang dari kayu bentuk
persegi panjang atau bambu yang telah dipotong dan telah
disusun rapi. Susunan tersebut dibuat ada celah yang
memudahkan saat ibu nifas buang air kecil, yang membuat air
seni akan jatuh ke bawah melalui celah tersebut. Manfaat lain
dari celah-celah tersebut adalah kehangatan api dari perapian
yang dibuat akan langsung mengena pada badan si ibu.
Ada perbedaan jenis berahu ibu nifas pada Etnis Buton
dan Etnis Tobelo. Pada Etnis Buton, perapian dibuat di atas
tempat tidur, dan biasanya si ibu akan mendekatkan diri pada
perapian hingga membentuk beberapa bulatan-bulatan
gosong. Ibu nifas juga menghangatkan batu yang dibalut
dengan kain yang ditempelkan pada area di bawah perut.
Tujuan aktifitas ini agar rahim dan darah nifas segera
mengering. Selain itu juga untuk menghangatkan payudara
yang dipercaya dapat melancarkan ASI.
Sedang berahu pada Etnis Tobelo, perapian diletakkan
di kolong tempat tidur. Sehingga ibu nifas cukup berbaring
atau membalikkan badannya di tempat tidur untuk
menghangatkan badan. Menurut salah satu biang (dukun
bayi), di sekitar tempat tidur ibu nifas biasanya diberikan
wangi-wangian agar kamarnya tidak berbau darah nifas,
selain tempat tidur juga sering dibersihkan atau dicuci.

107
Balutan Kehangatan Berahu untuk Mama

Gambar 2. Ibu nifas sedang berahu


Sumber: Dokumentasi Penulis

Perapian ini tidak boleh mati kecuali si ibu nifas keluar


dari kamar atau melakukan aktifitas lain di luar rumah. Peran
suami di sini sangat penting agar api atau bara api tetap
menyala. Ketika bara api mulai habis, sang suami akan
menggantinya dengan kayu baru. Biasanya suami akan
mengumpulkan kayu bakar sebelum sang istri melahirkan.
Berahu biasanya dilakukan dalam durasi 40 hari masa
nifas, meski ada juga ibu nifas yang melakukan berahu hanya
selama 3-7 hari. Setelah merasa fisiknya cukup kuat, ibu nifas
akan melakukan aktifitas seperti biasa, dan bahkan sudah
mulai pergi ke kebun.
Ada satu kisah ibu yang akan melahirkan di Dusun
Tabuji, Desa Baru yang terjadi pada bulan Mei. Dusun Tabuji
mayoritas dihuni oleh Etnis Tobelo yang beragama Nasrani.
Waktu itu ada seorang ibu yang akan melahirkan dan para ibu

108
Jelajah Nusantara #4

tetangganya ikut mendampingi di kamar rumah. Tiba-tiba ibu


tersebut kejang-kejang dan mengeluarkan kata-kata yang
tidak jelas. Para ibu kaget dan segera keluar dari kamar
karena takut terjadi hal-hal di luar dugaan. Biang sempat
keluar dari kamar, namun masuk ke kamar lagi untuk melihat
kondisi si ibu. Kemudian si biang berinisiatif memanggil
pendeta menenangkan sang ibu hamil. Pendeta pun datang
meski telat dan langsung membacakan doa di dekat telinga
sang ibu hamil sambil memegang bawang putih yang
beberapa menit kemudian diusap-usapkan pada telinga si ibu.
Akhirnya si ibu hamil tersadar dari kejang-kejang tadi.

Gambar 3. Berahu
pada Etnis Tobelo
Sumber: Dokumentasi
Penulis

109
Balutan Kehangatan Berahu untuk Mama

Para ibu mulai berani masuk ke kamarnya. Beliau pun


menceritakan bahwa beliau melihat almarhum ayahnya
berdiri di samping pintu dan seakan ingin menyampaikan
suatu pesan kepadanya. Mereka antara percaya atau tidak
percaya dengan cerita tersebut karena mereka mengganggap
kondisi psikologis beliau kurang bagus. Namun di sisi lain,
mereka percaya adanya gangguan makhlus halus terhadap
perempuan yang sedang hamil. Salah seorang ibu percaya
bahwa ada makhlus halus yang bisa memakan jantung atau
organ tubuh bayi yang baru lahir.
Selang hampir empat jam kemudian, si ibu hamil
melahirkan yang dibantu oleh biang. Sayang, kejadian
tersebut tidak sempat terdokumentasikan karena pada saat
bersamaan kami harus berpindah tempat ke dusun tiga. Kami
hanya mendapati cerita dari istri kepala dusun empat
sekembali dari dusun empat (Tabuji).
Ketika kami mencoba konfirmasi kejadian tersebut ke
petugas Puskesmas Laiwui, petugas belum bisa mendiagnosa
pasti penyakit atau kelainan apa yang ibu hamil alami, karena
petugas tidak mengetahui bagaimana riwayat kesehatannya.
Uniknya lagi, si ibu hamil tersebut mempunyai anak yang juga
sedang hamil muda yang usianya sekitar enam belas tahun.
Selama ini petugas kesehatan dari Puskesmas tidak
mempermasalahkan berahu yang merupakan tradisi wajib
yang dilakukan oleh ibu nifas. Mereka menjadi akrab dengan
tradisi tersebut. Meski kami belum terbiasa dengan asap
ketika mengunjungi ibu nifas di Dusun Tabuji yang sedang
melakukan berahu. Kami duduk di dekat perapian dan batuk-

110
Jelajah Nusantara #4

batuk seketika di kamar tersebut. Di samping itu, rata-rata


kamar tidak ada ventilasi, sehingga asap yang keluar dari
perapian tersebut hanya berputar-putar ada di sekitar kamar.
Kabar baiknya ketika kami meninggalkan Dusun Tabuji,
ada petugas kesehatan yang akan tinggal di sana. Jadi
masyarakat lebih dekat jika ingin berobat maupun
melahirkan. Harapan kami kesehatan warga Dusun Tabuji
lebih baik dan edukasi mengenai kesehatan akan lebih
dipahami.

111
Balutan Kehangatan Berahu untuk Mama

112
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

Usman

Sore itu, 10 Mei 2016, saya bersama dua peneliti


lainnya - satu koordinator peneliti dan satu lagi peneliti yang
seorang antropolo - berangkat dari Kota Makassar menuju
Bandara Pattimura Ambon pukul 04.00 WITA menggunakan
‘Burung Biru’. Tiba di Ambon pukul 06.15 WIT. Kami langsung
ke loket Trigana Air untuk memesan tiket Ambon-Namrole
yang berangkat pukul 14.00 WIT. Kali ini perjalanan kami
hendak menuju Buru Selatan.
Perjalanan kami ke Namrole, Ibu kota Buru Selatan,
membutuhkan waktu sekitar 45 menit diiringi dengan cuaca
yang cukup cerah. Kami lalu menuju penginapan
menggunakan ojek. Kami harus menginap semalam di ibukota
kabupaten, karena untuk menuju Kecamatan Waesama tidak

113
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

mungkin dilakukan pada sore hari. Untuk kesana, kami harus


mencari kendaraan yang bisa membawa kami. Setelah
bertanya dengan penjaga penginapan, kami memutuskan
untuk menggunakan ojek esok harinya. Dengan ojek
perjalanan tidak terasa perjalanan kami tempuh selama dua
jam dengan jarak sekitar 30 km. Kami harus merogoh kocek
250 ribu rupiah. Tarif yang normal untuk ukuran wilayah
setempat.
Kabupaten Buru Selatan adalah kabupaten pemekaran
dari Kabupaten Buru yang disahkan melalui sidang Paripurna
DPR RI tanggal 24 Juni 2008 melalui UU nomor 32 tahun 2008.
Tahun 2014, penduduknya berjumlah 58.197 jiwa. Kabupaten
Buru Selatan terdiri dari 6 kecamatan termasuk Kecamatan
Waesama yang hendak datangi.
Saat itu sudah mulai memasuki musim Timur
(penghujan). Jalanan yang kami lalui kondisinya belum
beraspal sehingga sedikit mengganggu perjalanan. Jalan yang
dulu batu-batunya masih tersusun rapi kini keadaannya sudah
berhamburan karena dibawa air hujan. Motor yang kami
tumpangi pun berjalan lebih berhati-hati karena kondisi
jalanan yang buruk dan beberapa kali turun jalan kaki karena
banyak anak sungai yang harus dilalui.
Di tengah perjalanan kami menyempatkan diri untuk
rehat sejenak sambil menikmati pemandangan hamparan
kerikil putih yang membentang luas di pesisir pantai, menjadi
ciri khas pesisir pantai di Waesama. Decak kagum akan
keindahan pesisir ini semakin menjadi setelah melihat pesona
batu karang yang berada di hadapan kami. Keindahan pesona
alam di Waesama semakin mempertegas bahwa Indonesia

114
Jelajah Nusantara #4

adalah negeri yang indah nan mempesona yang terbentang di


sepanjang pelosok negeri. Suatu anugerah yang patut untuk
kita syukuri.

Gambar 1. Anak Sungai yang menjadi tempat hilir mudiknya Warga


Waesama
Sumber: Dokumentasi Penulis

Gambar 2. Eksotisme Tanjung Waiyo


Sumber: Dokumentasi Peneliti

Tiba di Desa Walikut, Kecamatan Waesama pukul


13.00 WIT, kami langsung ke rumah Pak Mantri Frans, tenaga
kesehatan di Waesama, yang sebelumnya sudah kami

115
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

hubungi untuk bertemu. Setibanya disana kami disambut oleh


istri Pak Frans.
Berhubung Pak Frans sedang mengunjungi pasiennya,
kami dipersilahkan menunggu dan istirahat sejenak sambil
meneguk teh hangat di ruang tamu, sebelum melanjutkan
perjalanan menuju Gunung Fenamnesa. Beberapa saat
kemudian Pak Frans datang menghampiri kami, yang
kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai maksud
kedatangan kami.

Gunung Fenamnesa dan Tradisi Leluhur yang Terjaga


Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Dusun
Fenamnesa yang terletak di atas Gunung Fenamnesa dengan
jalan kaki. Medan menuju dusun ini sangat menantang
berupa tanjakan dengan kondisi jalan berbatu-batu. Salah
satu sisi jalan mulai longsor karena terbawa hujan yang mulai
turun beberapa hari terakhir. Di sepanjang jalan di sisi kiri dan
kanan terlihat perkebunan seperti cengkeh, kelapa, dan
coklat milik penduduk. Dusun Fenamnesa berjarak sekitar dua
kilometer dari Desa Walikut.
Setelah melewati beberapa tanjakan, jalanan berubah
menjadi dataran yang cukup luas dan kami pun tiba. Di Dusun
Fenamnesa, rumah-rumah yang terlihat tidak begitu banyak
dan letaknya tidak beraturan. Sepanjang pengamatan kami,
tidak ada satupun rumah yang terbuat dari beton, begitu juga
atapnya tidak ada yang menggunakan seng. Nampak jelas
bangunan rumah terbuat dari kayu untuk dinding dan
anyaman daun rumbia sebagai bahan atapnya. Rumah-rumah

116
Jelajah Nusantara #4

yang ada sangat sederhana dan lingkungannya nampak


bersih. Disini hanya ada lima belas rumah saja. Dusun
Fenamnesa sebenarnya terbagi dalam dua wilayah,
fenamanesa 1 yang dihuni oleh Marga Nusalaut dan
Fenamnesa 2 yang dihuni oleh Marga Latbual. Dusun
Fenamnesa 2 lebih sedikit lagi jumlah rumahnya, hanya ada
lima rumah saja.
Disini, warga tidak mengenal kalender layaknya
masyarakat pada umunya. Bahkan tidak mengenal hari,
tanggal, dan tahun ini hanya mengenal terbit dan
terbenamnya matahari. Jika akan melakukan hajatan atau
ritual, dong (mereka) mengikat tali di kayu untuk menjadi
parameter hari dan dihitung secara manual. "Baikat tali dolo
sampai 30 di kayu, terus dilepas setiap harinya untuk
menandakan katong so dekat hari acara", kata salah seorang
warga.

Gambar 3. Sisa Ikatan Tinggal Satu Menunjukkan Acara Sunat akan Digelar
Besok
Sumber: Dokumentasi Penulis

117
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

Perjalanan kami kemudian terhenti di satu rumah


yang memiliki dego-dego (bale-bale) cukup luas. Rumah ini
dihuni oleh sepasang suami istri yang sudah cukup sepuh.
Ketika kami duduk tidak lama kemudian keluar seorang bapak
yang ternyata adalah orang tua dari Pak Mantri Frans
sekaligus Kepala Soa (Suku). Beliau sudah tahu maksud
kedatangan kami karena telah menerima Lenso (sejenis kain
yang dikirim untuk menandakan tamu akan datang) dari darat
sebelumnya. Namun Mantri Frans kembali menjelaskan
maksud kedatangan kami ke Dusun Fenamnesa. Tempat yang
paling aman dihuni karena jauh dari keramaian dan hanya
ditinggali Marga Nusalaut.
Pemerintah sudah pernah berkunjung untuk
merenovasi rumah mereka dengan menggunakan seng dan
listrik, namun Kepala Soa menolak dengan alasan
memepertahankan pesan leluhur. Membuat rumah dengan
menggunakan seng atau beton serta pemanfaatan listrik
dalam perspektif adat adalah hal yang tidak dapat dilakukan
karena dianggap memiliki manfaat yang lebih sedikit dan
merusak tanah leluhur. Tidak heran, walaupun ada upaya
untuk memodernisasi kawasan Fenamnesa oleh pemerintah,
warga masih berpegang kokoh dan teguh dengan
kepercayaan adat. Mereka yakin ketika nilai-nilai adat itu
dilanggar, maka akan mendatangkan malapetaka dalam
berbagai wujud, seperti kematian tiba-tiba warga, lahan
perkebunan hangus, rumah roboh dan lainnya. Untuk
bertahan hidup, warga masih mengandalkan lampu
tradisional dengan sumbu kain dan minyak tanah dalam
menerangi rumah saat malam menjelang.

118
Jelajah Nusantara #4

Kondisi rumah kepala suku berdinding dan beratapkan


daun rumbia yang dibagi dua petak, beralaskan tanah dan
berdaun pintu dari dahan rumbia yang dianyam dan
menempel di dinding dengan menggunakan akar kayu yang
menjadi grendel pintu. Terlihat susunan sarung dan baju yang
rapi dan jejeran tempat air (jirigen) yang berisikan air dari
mata air yang terletak sekitar 800 meter dari pemukiman.
Sesekali angin bertiup membuat kami ingin berlama-lama
duduk. Suasana rumah sangat adem, tenang dan jauh dari
kebisingan. Hal yang nyaris mustahil saya dapatkan ketika
berada di kota. Kondisi rumah Kepala Soa ini adalah
gambaran representatif dari seluruh rumah di daerah ini.

Gambar 4. Potret Fenamnesa Tempat Fam Nusalaut Bermukim


Sumber: Dokumentasi Penulis

119
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

Kepala Soa lalu bercerita tentang marga dan sejarah


hidup mereka yang berpindah-pindah sampai memilih
Fenamnesa jadi tempat bermukim bersama warga
Fenamnesa lainnya (terdapat 14 rumah) yang semuanya
marga Nusalaut. Dahulu, leluhur mereka pernah bermukim di
beberapa wilayah termasuk pesisir dan hidup berdampingan
dengan marga lain. Namun, konflik yang terus terjadi
memaksa mereka harus mencari wilayah lain untuk
menyambung hidup. Wilayah pegunungan Fenamnesa
akhirnya dipilih karena mereka dapat hidup tanpa ada
kelompok lain. Selain itu, kondisi tanah yang subur dapat
dijadikan sumber kehidupan karena baik untuk bercocok
tanam.
Tak terasa matahari telah menyingsing di ufuk barat
dan haripun semakin gelap. Waktu telah menunjukkan pukul
19.45 WIT. Kami masih duduk di dego-dego (tempat duduk)
bersama Kepala Soa yang masih energik dan masih semangat
menemani kami duduk bersantai dan menikmati seduhan teh
hangat dari anak beliau. Tiba-tiba Pak Dedi (salah seorang
warga Fenamnesa) datang menghampiri kami. Beliau agak
mengatur jarak karena sungkan dengan Kepala Soa dan
menyudut duduk di dego-dego. Saya menghampiri beliau
yang diawali dengan diskusi renyah sampai tak terasa ia
menceritakan perjalanan hidupnya selama berada di
Pegunungan Fenamnesa.
Pak Dedi yang berusia 28 tahun, berkulit sawo
matang, berambut hitam dan terbelah dua dengan ramah
memperkenalkan dirinya dan bercerita sampai memilih
wanita Fenamnesa menjadi tambatan hatinya. Ia pertama kali

120
Jelajah Nusantara #4

mengenal sang istri pada saat ada pertandingan bola voli di


pesisir dan sang istri menjadi leader dari timnya. Pak Dedi
yang berprofesi sebagai tukang kayu di perusahaan pada 5
tahun lalu memutuskan untuk kawin lari (karena pihak
keluarga wanita tidak merestui) dan membawa istrinya ke
Kota Ambon dan menikah secara islami. Setahun pernikahan
berjalan mereka diminta untuk kembali ke finamnesa karena
mertua lelaki Pak Dedi jatuh sakit dan mengalami stroke di
bagian tangan dan kaki bagian kirinya. Sudah 5 tahun
membina rumah tangga, mereka belum juga di karunia anak.
Sementara keluarga dari istri di sekelilingnya sudah memiliki
anak, yang usianya tidak terpaut jauh dari mereka. Pak Dedi
yang berasal dari keluarga yang menjunjung adat istiadat
sudah mulai terbiasa dengan lingkungan sekitar. Pak Dedi
yang saat ini berprofesi sebagai petani menanam berbagai
tanaman jangka panjang diantaranya kakao, pala dan cengkeh
dan ditanam tidak jauh dari rumahnya. Pak Dedi berangkat ke
kebun jam 07.30 pagi dan kembali jam 5 sore setiap harinya.
Terkadang ia ditemani istri ke kebun pada saat panen. “Saat
ini musim coklat,” tandasnya. Musim hujan agak mengganggu
aktifitas mereka karena coklat tidak dapat dijemur dan tidak
dapat dijual jika biji coklatnya di panggang.
Bunyi kicauan burung mulai menghentak di belakang
rumah dan angin malam semakin menusuk raga. Para ibu
yang habis mencuci di mata air baru berdatangan. Mereka
pulang kemalaman. Katanya, mereka juga dari hutan
membantu suaminya berkebun. Pak Dedi yang masih
menikmati teh hangat melanjutkan ceritanya setelah saya
menanyakan konsep sakit menurut dia.

121
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

"Sakit menurut beta itu, kalau sudah rasa pusing dan


mau terjatuh begitu, kalau su rasa demam minum
rebusan daun pepaya atau daun langsat saja, nanti
panggil pak Mantri kalau su rasa seng dapat bangun".

Di Dusun Fenamnesa, warga mempercayai tiga macam


konsep sakit. Pertama, sakit alami, sakit yang bisa sembuh
dengan minum ramuan obat dan dapat ditangani oleh Pak
Mantri. Kedua, sakit kiriman, sakit yang berasal dari ilmu
hitam melalui perantara tanaman atau buah yang biasa
dimakan. Ketiga, sakit kutukan leluhur, sakit akibat melanggar
aturan adat. Pemahaman ini terjaga secara turun temurun di
tanah adat Fenamnesa.
Penyakit yang paling ditakuti adalah sakit kutukan
leluhur karena melanggar aturan adat. Pak Dedi memberi
contoh Bapak yang meninggal awal Mei dengan gejala perut
bengkak dan rasa panas. Keluarga dan kerabat tidak bisa
berbuat apa-apa. Penyakit itu dianggap datang dari leluhur
karena pelanggaran yang berat terbayarkan dengan hukuman
yang berat.
"Antua (beliau) akan membangun rumah tembok,
pondasi sudah mau jadi sisa sedikit baru selesai, pada
saat itu juga Antua langsung kena perut bengkak dan
rasa panas, seng cukup sebulan antua meninggal, sisa
pondasi sekarang disana anaknya seng lanjutkan lagi".

Membangun rumah tembok yang berbeda dengan


rumah adat dianggap sebagai sebuah pelanggaran adat. Kasus
lain, beberapa waktu yang lalu bapak yang tinggal di samping
rumah Pak Kepala Soa berencana membeli mesin dan TV

122
Jelajah Nusantara #4

untuk menjadi hiburan anak-anak yang berada di tanah adat.


Esok harinya setelah mereka pergi ke kebun, bapak itu kaget
karena mendapati dua hektar lahan kebunnya hangus.
Semua yang diungkapkan Pak Dedi dan Kepala Soa saya
konfirmasi ke Pak Amen (yang ikut bergabung bersama kami
di dego-dego). Tanpa panjang lebar, ia mengiyakan semua hal
yang saya tanyakan. Wajar, beliau adalah garis keturunan
yang menjaga tradisi adat dengan kuat dan dibesarkan oleh
Kepala Soa. Dalam upaya mengkonfirmasi, saya berusaha
untuk menjaga sikap, tutur kata dan tindakan dengan sopan
dan halus agar tidak menimbulkan kesalahpamahan baik
antara saya dan warga Fenamnesa maupun antara sesama
warga Fenamnesa sendiri.
"Samua itu batul katong sini sangat menjaga titipan cici-
cici dan teteh, seng bisa bangun rumah dari tembok,
pake seng, dan samua tanaman alami, kalau langgar Se
dapat hukumannya, Pemerintah su mau kasi disana seng
(atap) di Wasesoar, tapi katong seng (tidak) bisa pakai,
seng (tidak) ambil".

Segala hal yang berkaitan dengan produk modern dan


bukan bersumber dari budaya adat tidak boleh hadir di
kehidupan mereka karena dianggap bertentangan dengan
nilai-nilai leluhur. Jika dilanggar, ada saja bencana dalam
berbagai wujud yang akan datang menghampiri bagi siapa
saja. Termasuk tradisi yang berkaitan dengan ibu hamil dan
persalinannya.
Pak Amen kemudian mencoba menyambung diskusi
dengan menceritakan kehidupannya. Ia menceritakan prosesi
lamarannya tiga bulan lalu dengan meminang sang istri

123
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

dengan 50 gong dan uang sebesar 90 juta rupiah. Sungguh


sebuah nilai yang mahal untuk ukuran sebuah mahar
pernikahan, namun terasa ringan karena ada bantuan dari
keluarga semarga. Pak Amen menjelaskan uang dan harta
untuk meminang bukan diambil oleh isteri tapi semua
anggota keluarganya atau Fam yang dibagi secara merata.
Terkait pemahaman tentang sehat, Pak Amen
beranggapan bahwa sakit adalah terbaring di tempat tidur,
sesak nafas, badan serasa lumpuh. Kalau pegal dan batuk bisa
sembuh sendiri. Biasanya istrinya akan masak air hangat
untuk mandi agar pegalnya hilang.
Tak terasa obrolan santai kami sudah berlangsung
sekitar dua jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Kami lalu diantar Pak Dedi ke rumah Pak Ace (tuan rumah
dimana kami menginap selama dua hari) untuk istirahat. Tiba
disana kami diskusi sejenak dan tanpa berlama-lama kami
mengajak tuan rumah beristirahat karena dari raut wajah
mereka terlihat sangat kelelahan. Kami pun demikian. Kami
disediakan kamar dengan tempat tidur yang terbuat dari
kapuk dan beralaskan tikar pandan dan ambal. Kamipun
dengan mudah terlelap ditemani hujan yang mengguyur atap
rumah dan pencahayaan pelita minyak tanah yang menembus
horden kamar dari ruang tengah Pak Ace. Rumah ini cukup
bersih dan semua tertata rapih. Tak ada toilet atau kamar
mandi di dalam rumah. Jika ingin buang air, beliau berpesan
untuk memanggilnya biar ditemani ke suatu tempat di luar
rumah. Suasana hening dan damai menambah pulasnya tidur
kami yang sepanjang hari melewati medan dan perjalanan
yang cukup panjang.

124
Jelajah Nusantara #4

***
Sinar matahari pagi nampak malu-malu menampakkan
diri dan bersembunyi di balik anyaman daun rumbia. Itu
tanda bahwa rutinitas akan dimulai. Dari depan kamar, istri
Pak Ace sudah menyapa dan mengantar kami ke dapur. Ia
mulai menuangkan air dari dalam jirigen ke timba untuk
mencuci muka. Kembali ke ruang tamu, kami sudah
disuguhkan teh hangat dan makanan di atas meja.
Dengan lahap kami menyantapnya karena memang
kelaparan. Sambil menikmati sarapan, Pak Ace dan Ibu mulai
membuka obrolan dengan mengeluhkan anak perempuannya
yang sedang batuk sudah menginjak 4 hari disertai demam
sehingga belum ke sekolah. Tidak ada pertolongan yang
dilakukan karena anaknya tidak ingin berobat. Ia takut
disuntik. Kami mencoba memberi pengertian agar ke Pak
Mantri dan meminta obat pil biar tidak disuntik. Pak Ace
mengartikan sakit jika merasa lumpuh dan terjadi kecelakaan.
Kalau hanya demam dapat diatasi dengan kembali beraktifitas
sehari-hari. Ia bahkan merasa tambah sakit jika harus
beristirahat. Pak Ace sudah beberapa bulan terakhir ini
memilih tidak merokok lagi karena dianggap memperburuk
keadaan tubuhnya dan memilih meminum air putih hangat
ketimbang teh atau kopi. Ia memiliki 6 anak dimana anak
tertua sudah menikah tiga tahun lalu. Anaknya yang saat itu
masih duduk di bangku kelas 2 SMK memilih menikah
daripada melanjutkan sekolah, sehingga pada saat proses
lamaran dan pernikahan Pak Ace tidak ikut ambil harta
(proses nikah Suku Gebanglia). Ia merasa kecewa dan sampai
sekarang ia tidak pernah berkunjung kerumah anaknya.

125
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

Sekarang Pak Ace mengharuskan anak-anaknya yang lain


untuk tetap bersekolah selagi beliau masih sanggup untuk
membiayai sekolah. Anak kedua duduk di kelas 3 SMK, anak
ketiga kelas 1 SMK, dan anak lainnya di SMP dan di bangku
SD.

Desa Waelikut, Ritual Kehamilan dan Persalinan


Hari ke tiga, dengan berat hati kami memutuskan
pamit kepada Kepala Soa dan Mama Soa. Kami kembali
menelusuri jalan setapak menuju kaki gunung, menuju Desa
Waelikut, tempat Mantri Frans bermukim. Tidak jauh dari
tempat pak mantri, kami menginap di perumahan dokter
bersama Ners Dewi dan Bidan Ria. Malam yang sunyi dengan
penerangan listrik jauh lebih terang dibandingkan di
pegunungan Fenamnesa. Malam itu, kami mendengar dengan
seksama keluhan dan curhatan mereka selama bertugas di
Waelikut. Sementara asik bercengkerama sambil menyeruput
kopi khas Waelikut, tiba-tiba Bidan Ria mendapat panggilan
warga untuk menolong persalinan saat itu juga. Kami pun
menemani Bidan Ria dan segera bergegas ke rumah warga.
Sesampai di lokasi, ternyata bayi sudah lahir. Bidan Ria
hanya diminta untuk memotong plasenta bayi yang
bermasalah dan tidak dapat ditangani oleh biang. Ya dukun
beranak di daerah ini disebut biang. Mereka dianggap telaten
dan terampil dalam memberikan layanan persalinan bagi ibu.
Tidak hanya persalinan, biang bahkan memperhatikan ibu
sejak hamil. Di rumah itu, kami menyaksikan langsung tradisi
atau ritual yang dilakukan biang kepada bayi dan ibunya.

126
Jelajah Nusantara #4

Tradisi yang secara turun temurun dilakukan demi menjaga


sebuan kepercayaan.
Di dalam ruangan, asap yang bersumber dari
tumpukan kayu yang dibakar mengepul memenuhi ruangan.
Ibu Dede, ibu bayi, juga berada di ruangan itu. Tidak lama
kemudian si bayi datang yang digendong tantenya. Biang
sudah menyiapkan baskom yang berisi arang bara api yang
masih panas. Biang lalu menghangatkan si bayi di atas bara
api itu. Tangan biang di layangkan di atas bara api kemudian
diusapkan ke bagian tubuh anak, pertama di bagian dada,
muka, kaki, hingga ke bagian kepala. Karena pusat bayi masih
terjadi pendarahan, biang kembali meminta benang untuk
mengikat pusat bayi, kemudian dilanjutkan mengayun anak di
atas tumpukan bara api agar anak merasa hangat.

Gambar 5. Biang
sedang
menghangatkan
bayi yang baru
lahir
Sumber:
Dokumentasi
Peneliti

Biang yang akrab disapa Mama La ini, sudah memiliki


banyak pengalaman dalam membantu persalinan warga di

127
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

sekitar Waelikut. Ia meneruskan ilmu dari ibunya yang juga


seorang biang handal dan terkenal.
Dalam menjalankan tugasnya, Mama La memegang
prinsip kemanusiaan. Mama La tidak memasang tarif khusus,
seikhlasnya dari keluarga pasiennya. Namun rata-rata ia
mendapat bayaran 15.000 sampai 20.000 rupiah dari keluarga
pasien. Adapun pelayanan yang diberikan adalah membantu
proses melahirkan, rahu (menghangatkan) anak di atas bara
api, serta ukup dan tidor dong api (menghangatkan) ibu
dengan api.

Gambar 6. Tradisi Tidur dengan Api (Ibu & Bayi sampai 40 hari)
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Pak Dade, bapak si bayi, terlihat terus membakar kayu


dan batok kelapa di atas baskom besi yang digunakan untuk
menghangatkan bayi dan isterinya sampai masa nifas selesai.
Batok kelapa dan kayu pilihan dibakar di atas baskom terus
dinyalakan sampai mendapatkan bara api. Asap yang
mengepul di dalam kamar sudah jadi hal yang biasa bagi Ibu
Dede semenjak melahirkan anak pertamanya sampai anak ke-
lima sekarang. Tradisi tidor dong api merupakan hal wajib
yang dilakoni karena dipercaya cepat memulihkan kondisi ibu
dan bayi tidak kedinginan. Sedangkan manfaat yang diyakini

128
Jelajah Nusantara #4

dari leluhur, Ibu Dede menyarankan ditanyakan langsung


pada isteri Kepala Soa yang duduk di samping kami.
Mama Soa yang tersenyum dengan garis muka yang
cantik, dengan jam tangan plastik hitam favorit melingkar di
tangannya, berceritra bahwa ritual tidor dong api dilakukan di
dalam kamar, jendela kamar ditutup rapat dan membiarkan
asap naik keatap rumah. Leluhur Suku Gebanglia sampai
sekarang meyakini asap yang naik diatap rumah merupakan
pengantar dewa api yang dipercaya menyampaikan kabar
baik kepada Tuhan. Rasa pekat asap yang dirasakan mata bayi
diyakini bayi mengerti arti hidup sebenarnya yang tidak selalu
mulus. Jika bayi merasa batuk berarti leluhur sudah memberi
berkahnya, karena batuk merupakan tanda-tanda kehidupan.
Sementara manfaat untuk ibu selain menghangatkan, api
yang terus dinyalakan digunakan untuk menghangatkan
minyak kelapa yang disimpan dengan jarak 30 cm dari bara
api menggunakan botol kaca, yang minyaknya dimanfaatkan
saat proses pemijatan terhadap ibu dilakukan setiap sore hari
agar cepat pulih dan dapat melayani suaminya setelah dua
minggu pasca melahirkan.
Hal lain juga dijumpai peneliti saat berkunjung di Dusun
Waula, peneliti menemui ibu Uni Latbual yang saat proses
persalinan mendapatkan wejangan dari biang untuk tidak
mengejan sebelum waktunya atau sebelum ada hasil
diagnosa oleh biang, walaupun sudah merasa ada kontraksi.
Ibu Uni merasa Mama La adalah biang yang lebih memahami
kapan waktu bayinya lahir dan kapan harus mengejan.
Berbeda dengan biang sebelumnya yang menyuruhnya

129
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

mengejan terus menerus tanpa memperhatikan pembukaan


servik dan kontraksi sampai dia merasa lemas.
“Saya sampaikan awas e.. jangan se rasa sakit seng
manahan baru se baronda (jalan) dimana saja se antar
(mengejan) seng bole, sampe beta bilang kasi (disuruh
mengejan), baru kasi, karena beta tau suda di ambang
pintu. Ada yang datang su suru tidur miring, makang,
jang matawana (begadang) barang orang melahirkan
butuh dara (darah). Ada yang suda lombo (lemas) la
panggel Puskesmas, karena tidak mendengar,” kata
Mama La.

Biang yang kerap kali melakukan persalinan sendiri ini,


tidak pernah memanggil bidan jika tidak mengalami
hambatan dalam menangani pasiennya.
“Kalau su ada tanda-tanda melahirkan, ibu katong kasi
posisi miring, deng beta kambali ka rumah, kalo beta su
perkirakan mau melahirkan beta datang, kasi aer par
kasi kaluar, Beta matawana sampe pagi.”

Hambatan persalinan yang tidak dapat ditangani oleh


biang La adalah retencio placenta, preklamsi dan eklamsia.
Mama La menyarankan keluarga pasien memanggil tenaga
kesehatan saat-saat kondisi darurat, dan keluarga melakukan
perundingan jika kepala suku atau orang adat setempat tidak
menyarankan, maka kerap kali kematian ibu dan bayi tidak
dapat dihindari. Terakhir kali Mama La menangani persalinan
kondisi kepala bayi terjatuh dan badan bayi baru keluar
setelah 20 menit, bayi meningal karena terlalu lama di pintu
lahir, dan kondisi kepala terputus. Hal ini diyakini terjadi

130
Jelajah Nusantara #4

karena ibu atau suami selama hamil memotong kepala ular


saat ibu menjalani kehamilan.
“Wayang beta suru se angkat bayi, beta taro kain kafan
sama kapas-kapas, beta atur, Wayang bilang sudah beta
yang angkat bayi, beta pikir Wayang su tau kalo kapala
bayi su putus, Wayang angka bayi bagini antua angka
antua pung tangan, antua angka tapi seng tahang kapala,
lalu bayi pung kapala su taloli (terguling).”
Melakukan hal-hal yang tidak disarankan atau biasa
disebut pamali seperti, mengikat kaki ayam dengan cara
diikat melilit secara bolak balik diyakini akan menyebabkan
janin di dalam perut ibu terlilit tali pusatnya sendiri. Selain itu
dilarang membakar roti karena roti yang melekat di alat
pembakaran di identikkan dengan melengketnya plasenta di
dinding perut ibu. Ironisnya, kepercayaan ini bukan hanya
popular di tengah masyarakat, biang, tetapi juga dipercaya
oleh tenaga kesehatan setempat.
“Kalau hamil bagitu beta kasi saran par pasien
menyarankan pasien jang bakar roti dolo deng jang ikat
hewan ato siksa binatang peliharaan, barang (karena)
kasi susah beta pas bantu persalinan, itupun kalo panggil
beta, kalau biang yang menangani, bagemana…”
Hal lain yang saya temukan adalah fenomena dimana
banyak di antara Ibu-ibu Suku Gebanglia yang tinggal di
pesisir menggunakan KB secara diam-diam jika suami mereka
sudah meninggal. Hal ini mereka lakukan dengan terpaksa
karena tuntutan adat. Para wanita Suku Gebanglia yang
menjadi janda, suka tidak suka, mau tidak mau, harus

131
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

melayani ajakan untuk berhubungan suami istri dari keluarga


suami baik saudara suami atau sepupunya. Jika tidak, wanita
harus mengembalikan harta yang diberikan oleh suami saat
pernikahan lalu. Bagi sebagian ibu, hal ini sulit dilakukan
karena harta yang ada digunakan untuk membesarkan anak-
anaknya dari suaminya terdahulu. Meskipun secara adat
diatur, namun mereka menyadari hamil dari hasil percintaan
dengan adik ipar atau adik sepupu suami tanpa ikatan
pernikahan adalah sebuah aib yang membuat mereka malu
berada dan hidup di tengah masyarakat.
“Ronda-ronda (jalan-jalan) kasana kalo be (saya) hamil
terus dong tau suami su mati… em... kalau di dusun seng
mangapa. Katong parampuang ini su ditukar deng
(dengan) kupang (harta) deng laki (suami) pung kaluarga
(keluarga) jadi harus tarima sa…”

Tradisi ini melahirkan fenomena banyaknya anak yang


lahir tanpa adanya proses pernikahan terlebih dulu. Namun,
bagi sebagian orang, hal ini lumrah karena sudah diatur oleh
adat. Hasil observasi saya tempat lain saat berkunjung ke
rumah kepala dusun atau kepala soa, singgah bertanya ke
salah-satu rumah warga. Saya mendapati satu rumah dihuni
oleh tiga istri muda belasan tahun dan masing-masing
memangku bayi mereka. Ibu-ibu muda di kalangan Suku
Gebanglia tidak bersekolah karena orang tuanya lupa
menyekolahkannya. Berdasarkan informasi dari beberapa
petua, bersekolah dianggap tidak mendatangkan manfaat
apapun.

132
Jelajah Nusantara #4

Majunya pelayanan pengobatan modern diakui oleh Suku


Gebanglia. Namun mereka menganggap pengobatan alami
yang mereka pakai jauh lebih baik ketimbang pelayanan
pengobatan modern yang banyak mengandung efek samping.
Kepala Suku Gebanglia bermarga Latubual berpendapat
mereka tidak perlu mengakses pelayanan medis karena
mereka merasa adanya mantri dan dokter berasal dari
metode pengobatan alami yang mereka percaya secara turun
temurun, menjadi referensi dunia medis yang baru ada
sekarang ini.
“Dari 3 obat hanya satu, karena dia punya sebab, kita
belum bisa untuk bisa semua obat itu bertumbuh dari
alam, sampai katong berpisah, baru bisa mantri, dia bisa
kan jadi dokter supaya berobat manusia, kalau katong
belum berpisah dan masi berpisah belum bersatu tidak
ada mantri dokter. Jadi obat kita itu adalah katong
pertama, kalau kita masih berpisah dia obat dari mana,
dokter dari mana.”
(Pak H Latubual, 52 Tahun)
Masyarakat Wamsisi sangat menjunjung tinggi adat
istiadat mereka. Berbagai pantangan dalam interaksi sosial
lingkungan masyarakat diatur dalam kepercayaan budaya
yang diwariskan secara turun temurun. Kepala suku yang
merupakan penutur asli memiliki peranan besar dalam
pewarisan adat istiadat tersebut. Istri dari kepala suku siap
menjadi biang dan menurunkan ilmunya terhadap
turunannya.
“Tiap kapala dusun pung bini disini samua biang, beta
pung bini ini sakarang ada usaha iko (ikut) biang bantu

133
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

kasi lahir bayi, su lima kali iko tapi balom lolos, par siap
jaga persalinan adat.”
(Kadus Kusu-kusu)
Biang istri kepala suku yang berusia 65 tahun
membantu persalinan ibu hamil sampai di negeri manapun
(semua desa di Waesama). Jika terjadi penyulit dalam proses
persalinan oleh biang di daerah pesisir (negeri sana), beliau
dipanggil untuk menyelamatkan ibu bersalin dan bayi. Ibu
yang terkadang belum mengetahui kehamilannya jika
berjumpa dengan Biang, langsung diberitahukan jenis kelamin
si jabang bayi. Kalau dia ta'duduk (positif hamil) tanpa
menggunakan test pack. Ibu hamil dari masa gestasi sebulan
sampai menjalani persalinan selalu rutin menjalani pemijatan
dengan menggunakan minyak kelapa yang sudah diberi doa-
doa dan melalui proses Babeto, pemijatan dilakukan
selembut mungkin sampai membetulkan posisi janin jika
melintang.
“Beta liat saja su satu minggukah, dua minggukah, bet su
tau dia hamil, beta pijat poro pake minyak kelapa...kalo
beta cuma sekali ambil minyak usap ke poro itu anak
perempuan, kalo beta ambil minyak kelapa dua kali itu
laki-laki.”
“Se ini su dua minggu, se sudah ada isi, terus ibu M
bilang balom mama baru barapa hari, ah se sudah ada,
ini laki-laki. Padahal beta nanaku (diamati) laki-laki betul
anak itu laer laki-laki, ihi... hi… beta taro nama syah. Ada
lai yang datang, beta bilang se su tadudu (positif hamil)
se ana parampuang, laer itu parampuang, tadi itu (ketika
melahirkan), terus ibu K bilang, mama tau darimana?

134
Jelajah Nusantara #4

mama bisa tau e, deng beta jawab, itu katong su punya


rahasia seseorang (turun-temurun), itu orang tua-tua
pung pegangan itu par katorang, jadi itu beta pasan par
ana-ana jang ragu, kuat deng barang ini, seng parna
paksa, seng parna pendarahan seng paksa ana kong,
kepaksaan (terpaksa) seng ada.”
Doa-doa dan teknik pola persalinan yang kerap
dilakukan selalu berakhir baik, dengan menggunakan loleba
hutan (bambu suling) yang selalu digunakan untuk memotong
tali pusat bayi. Dalam memilih sembilu loleba yang diwajibkan
karna berdaging tipis dan tidak menimbulkan panas
dibandingkan bambu lainnya.
Terjadinya penyulit dalam persalinan diyakini bahwa
ibu memiliki dosa yang sangat besar terhadap suaminya, dan
dia harus menyadari, meminta maaf dengan tulus yang
disaksikan oleh saudara perempuan dan Biang. Setelah
memohon maaf terhadap suami, tindakan selanjutnya oleh
mama biang untuk mengatasi penyulit persalinan seperti bayi
lama di pintu lahir, biang memberikan segelas air putih yang
sudah diberi doa-doa. Jika ibu mengalami indikasi bayi mati di
dalam perutnya (lahir mati) untuk mengeluarkannya ibu
diberikan air putih untuk di minum.
“Sebagian besar masih percaya sama biang, jadi
mungkin salah satu kendalanya yang dipertimbangkan
biayanya, bidan lebih mahal kalau biang berapa saja.
Pendapatan dari orang sini hanya berkebun to, itupun
musiman.”

135
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

Tahun 2016 terdapat dua kematian neonatus di


daerah ini, bayi yang mati karena berat badan lahir rendah
dan yang satu mati karena terserang demam.

Tantangan Tenaga Kesehatan


Dalam berbagai kasus dan teori, tradisi atau ritual
budaya adat istiadat yang mengakar kuat masih menjadi
faktor penghambat dalam upaya menurunkan tingkat
kematian ibu dan bayi. Berbagai tradisi tersebut sangat
bertentangan dengan konsep kesehatan saat ini. Hal ini
menjadi tantangan yang perlu ditangani melalui peran
berbagai sektor. Tidak hanya pemerintah, namun juga melalui
pendekatan kepada tokoh masyarakat karena dalam upaya
pelestarian tradisi, mereka lah yang memeganag peranan
penting.
Kebijakan kesehatan yang terkait dengan ibu
hamil/bersalin sangat berhubungan dengan jaminan
pelayanan kesehatan yang terjangkau yang diterapkan oleh
pemerintah. Keterjangkauan ini tentunya harus meliputi
seluruh aspek kesehatan masyarakat terutama jaminan
pelayanan yang terkait dengan kehamilan atau persalinan,
tanpa memandang perbedaan dari sisi ekonomi, agama
maupun suku. Disamping itu, kemudahan dalam proses
birokrasi juga menjadi bagian penting dari faktor kebijakan
kesehatan ini.
Hasil observasi ini mengungkapkan bahwa masih terdapat
62,5% penduduk wilayah kerja Puskesmas Wamsisi yang tidak

136
Jelajah Nusantara #4

memiliki kartu BPJS & KIS, itupun dimiliki warga pesisir,


sementara warga yang berada di pegunungan mereka tidak
mengenal kartu BPJS atau KIS, jika menglami luka dan tidak
dapat lagi ditangani orang pintar, semua penanganan atau
tindakan yang diberikan pak mantri atau bidan mereka bayar.
“Beta su ada kartu penduduk, kalau kartu sehat katong
seng tau, baru dengar jua ini pas ana bilang, kartu
penduduk katong pake pas turung ka lao sa, kamareng
waktu pemilihan bupati.”

Persoalan lain adalah keakuratan data masyarakat


penerima kartu jaminan kesehatan. Proses pendataan,
terkadang masih ditemukan tidak dilakukan secara mendalam
dan terintegrasi. Perbedaan data antara BPS dan pelayanan
kesehatan seperti Puskesmas terkait jumlah masyarakat
miskin, menjadikan proses validasi data menjadi tidak
sempurna. Disisi lain, profesionalisme petugas yang
bertanggung jawab terhadap pendataan menjadi masalah lain
dari seluruh persoalan yang terkait birokrasi.
Koordinasi lintas sektor, apalagi yang terkait dengan
kebijakan kesehatan, seharusnya dilakukan berdasarkan
petunjuk teknis yang ada. Petunjuk ini harusnya menjadi
acuan kerja bagi seluruh perangkat birokrasi mulai dari
tingkat atas hingga ke tingkat bawah bahkan pada level
pengumpul data, juknis ini harus menjadi acuan, sehingga
ketika ditemukan masalah, maka alur koreksi dimulai dari
koordinasi ditingkat bawah.
Peran kebijakan kesehatan, seharusnya terfokus pada
upaya bagaimana masalah kehamilan dan persalinan yang

137
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

terkait dengan kematian ibu hamil/bersalin dapat dicegah


semaksimal mungkin. Hal ini hanya dapat dilakukan ketika
kebijakan kesehatan tersebut diarahkan pada menekan
sebesar mungkin hambatan-hambatan yang terkait dengan
mekanisme birokrasi. Ini tentu membutuhkan pandangan dan
cara berfikir yang sama pada seluruh penentu kebijakan
maupun instansi yang terkait atau bertanggungjawab pada
kematian tersebut.
Harus diakui bahwa akar masalah terjadinya kematian
ibu disebabkan keluarga tidak mengetahui bahkan tidak
tanggap terhadap kondisi berisiko ibu hamil, sikap keluarga
yang cenderung menganggap bahwa kelahiran adalah
tanggung jawab ibu saja, bahkan anggaran kesehatan ibu
hamil dan ibu bersalin dalam rumah tangga masih dianggap
tidak penting. Aspek lain, keluarga masih menerapkan terlalu
banyak tabu yang berimplikasi pada kerugian bagi ibu hamil
dan ibu bersalin/masa nifas, baik dalam makan maupun
perilaku, yang pada akhirnya berdampak pada pemenuhan
gizi ibu. Demikian juga dengan persepsi keluarga terhadap
kehamilan dan persalinan yang hanya dianggap sebagai
peristiwa biasa, lalu sikap keluarga yang tidak sensitif; beban
kerja rumah tangga ibu hamil dan tanggung jawabnya dalam
mencari nafkah masih sama seperti biasanya, begitu pula
dengan masih adanya bias gender dimana proses
pengambilan keputusan masih di tangan laki-laki, baik itu
suami, bapak, mertua, bahkan untuk keperluan pemeriksaan
kehamilan dan persalinan, ibu selalu tidak berdaya.
Aspek budaya yang terkait dengan pantangan-
pantangan baik itu pantangan perilaku maupun pantangan

138
Jelajah Nusantara #4

makanan, jumlah penghasilan dalam konteks kemiskinan


serta kesetaraan gender yang tergambarkan dalam pola
pengambilan keputusan dalam keluarga, merupakan hal yang
harusnya ditangani secara komprehensif.
Menurunkan angka kematian ibu bukan hanya pada
sektor kesehatan, namun tentu hal ini juga terkait dengan
pemahaman keluarga akan relasi kuasa dalam hubungan laki-
laki dan perempuan. Kendala-kendala sosial budaya harus
dilihat dalam kerangka fikir masyarakat, dan bukan sudut
pandang pemerintah. Kematian akibat melahirkan adalah
peristiwa langka, harus dilakukan perubahan pada mindset
berfikir masyarakat bahwa kematian tersebut adalah kejadian
luar biasa dan itu harus dilakukan secara terus menerus tiada
henti di lingkungan masyarakat luas agar mereka mengetahui
bahwa suatu kejadian bisa menjadi kejadian luar biasa.
Perubahan kerangka berfikir masyarakat tentunya harus
disertai dengan memberi pemahaman dalam bentuk
penyuluhan dan penyampaian informasi yang benar sehingga
tidak menyebabkan masyarakat menjadi phobia terhadap
kondisi kegawatdaruratan kehamilan/persalinan tetapi justru
sebaliknya masyarakat bertambah yakin untuk ikut
menangani masalah tersebut dengan cara yang baik dan
menurut aturan yang wajar.
Perubahan mindset berfikir dalam bentuk penyuluhan
dan pemberian informasi yang benar tentunya harus
dilakukan dengan tetap melihat pada latar belakang sosial
budaya masyarakat, sehingga mereka bisa melakukan
perubahan dan menerapkannya sesuai dengan adat istiadat
dan kemampuan yang ada padanya. Upaya yang sistematis

139
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

dan terencana dalam menangani masalah determinan sosial


kesehatan ini, akan menjadi jalan baru bagi penyelesaian
masalah kematian ibu. Membangun kedekatan secara utuh
antara petugas kesehatan dengan masyarakat, diharapkan
akan membuka sekat kultur yang selama ini menjadi
hambatan dalam penerapan program-program dibidang
kesehatan utamanya yang terkait dengan kehamilan dan
persalinan.
Berbagai program yang selama ini telah dicanangkan
dan dilaksanakan oleh pemerintah, sebenarnya telah
memenuhi optimisme untuk menurunkan angka kematian
ibu. Hanya memang model pendekatan yang dilakukan selalu
hanya beriorientasi pada kepentingan pencapaian target
pemerintah/program. Padahal, ada hal-hal yang berlaku
dimasyarakat dan telah menjadi salah satu model system
kehidupan dan bermasyarakat yang telah turun temurun
dilakoni oleh masyarakat. Ketika masyarakat melihat bahwa
apa yang diprogramkan oleh pemerintah bertentangan
dengan model kehidupan mereka, maka disitulah kita akan
melihat kegagalan program tersebut untuk diterapkan. Biang
sangat berpengaruh dalam sistem kehidupan masyarakat
yang turun temurun, kemudian dilatih untuk melakukan
penanganan persalinan yang sehat dan aman serta segera
melaporkan jika terjadi komplikasi. Program ini merupakan
salah satu program yang yang berjalan di kabupaten Buru
Selatan.
Tiga model keterlambatan akan membawa konstribusi
cukup besar terhadap kematian ibu, karena didalamnya
mencakup keterlambatan pertama, yaitu keterlambatan

140
Jelajah Nusantara #4

dalam mengenali adanya keadaan kegawatdaruratan


kebidanan yang mengharuskan seorang ibu untuk segera
dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap bila terjadi
komplikasi saat kehamilan, persalinan maupun saat nifas dan
kemudian diikuti dengan keterlambatan dalam pengambilan
keputusan untuk mencari pertolongan (UNFPA, 2011).
Beberapa sebab terjadinya tiga keterlambatan ini
diantaranya, ketidakmampuan keluarga atau ibu untuk
mengenali tanda bahaya. Hasil wawancara yang dilakukan
kepada bidan mengungkapkan bahwa
“Informasi tentang tanda-tanda bahaya kehamilan
maupun persalinan, telah dilakukan secara maksimal
namun hambatan tingkat pendidikan ibu membuat
informasi tersebut tidak mampu diaplikasikan secara
nyata.”
(BIL, 27 thn )
Masalah infrastruktur seperti pembangunan jalan
yang belum merata dan menyulitkan akses perempuan hamil
mencapai sarana kesehatan menjadi penyumbang penting
tingginya AKI dan tiga keterlambatan. Ini disebabkan karena
pusat pelayanan kesehatan terbanyak di wilayah ibukota
kecamatan dan belum menjangkau hingga desa-desa
terpencil. Sulitnya akses jalan menuju fasilitas kesehatan yang
memadai menimbulkan permasalahan mahalnya biaya
transportasi menuju fasilitas kesehatan. Di wilayah desa yang
terpencil akses ke pusat layanan kesehatan harus ditempuh
dengan menggunakan ojek dengan kondisi jalan yang rusak
dan berliku.

141
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

Fasilitas Pelayanan kesehatan yang terjangkau


merupakan salah satu syarat tercapainya secara optimal
kualitas kesehatan masyarakat. Keterjangkauan tersebut
salah satunya terkait dengan posisi fasiltas pelayanan
kesehatan tersebut yang berada pada wilayah yang strategis
untuk diakses oleh masyarakat. Salah satu aspek yang
menjadi kajian terhadap kematian ibu, adalah masih
banyaknya masyarakat yang tidak dapat mengakses secara
cepat layanan layanan kesehatan pada fasilitas pelayanan
kesehatan diakibatkan oleh jarak yang harus ditempuh oleh
masyarakat untuk tiba atau mencapai fasilitas tersebut sangat
jauh.
Wilayah geografis kabupaten Buru Selatan, cenderung
berada pada wilayah dataran tinggi, menyebabkan
masyarakat menempuh waktu yang lebih lama untuk tiba
pada fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Belum lagi
kondisi jalan yang ditemukan dalam kondisi tidak baik bahkan
ada yang harus ditempuh dengan berjalan kaki dan
menyeberangi sungai. Kondisi inilah kemudian yang
mengakumulasi terjadinya berbagai masalah pada ibu
hamil/bersalin sehingga menyebab- kan terjadinya kematian
pada mereka.
Membangun komunikasi kultural terhadap anggota
keluarga juga penting dilakukan untuk membangun
kepedulian keluarga terhadap ibu hamil/bersalin, sehingga
benturan budaya dapat diminimalisir dan pada akhirnya,
menekan jumlah ibu hamil/bersalin yang mengalami
kematian dapat dicapai dengan optimal.

142
Jelajah Nusantara #4

Temuan penelitian ini sekali lagi semakin membuka


mata kita bahwa menjalankan program-program kesehatan
tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak
persoalan yang perlu diidentifikasi secara spesifik, solusi yang
hadir harus menyentuh segala aspek secara komprehensif
dan terjewantahkan dalam berbagai program yang efektif dan
efisien. Terlebih yang berkaitan dengan kepercayaan atau
tradisi masyarakat setempat yang sudah mengakar kuat.
Tentu saja, dinamika kehidupan dalam masyarakat di segala
dimensi berkonsekuensi terhadap program-pemerintah tak
terkecuali di bidang kesehatan. Kita semua yang terlibat baik
langsung maupun tidak langsung harus berkontribusi dalam
upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

143
Buru Selatan dan Tradisi yang Membelenggu

144
Bertahan dalam Keterbatasan
Catatan Perjalanan ke Kepulauan Sula, Maluku Utara

Putra Apriadi Siregar

Pemekaran Provinsi Maluku Utara berdampak kepada


beberapa wilayah di dalamnya, termasuk Kabupaten
Kepulauan Sula. Usaha pemekaran Kabupaten Kepulauan Sula
didukung oleh Bupati Maluku Utara Abbdullah Assagaf
bersama DPRD Maluku Utara yang mengajukan rencana
pemekaran beberapa kabupaten termasuk Kabupaten
Kepulauan Sula diantaranya. Pada tanggal 27 Januari 2003
melalui sidang paripurna DPR RI komisi II memutuskan dan
mengesahkan pembentukan 25 kabupaten dan kota di 10
provinsi, dimana Kabupaten Kepulauan Sula menjadi salah
satu daerah yang mengalami pemekaran. Kabupaten
Kepulauan Sula terbagi menjadi lima wilayah administrasi
kecamatan, yaitu Kecamatan Sanana, Sulabesi Tengah,

145
Bertahan dalam Keterbatasan

Sulabesi Barat, Sulabesi Timur, dan Sulabesi Selatan. Lima


kecamatan tersebut terdiri dari 78 desa di dalamnya.
Menurut hikayat setempat, Tanah Sula adalah tanah
berkah, tanah dimana akan memberikan kesejahteraan
kepada masyarakatnya dan daerah di sekitarnya, Meski
realitas yang terjadi berkata sebaliknya, dalam Indeks
Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) Kabupaten
Kepulauan Sula memiliki peringkat ke-sebelas dari sebelas
kabupaten/kota yang ada di Provinsi Maluku Utara.
Dalam perjalanannya, Kabupaten Kepulauan Sula
menjadi rebutan antara Provinsi Maluku Utara dan Provinsi
Maluku. Hal ini dapat terjadi karena Kabupaten Kepulauan
Sula terletak diantara Provinsi Maluku Utara dan Provisi
Maluku. Namun sepertinya masyarakat lebih memilih untuk
menjadi bagian dari Provinsi Maluku Utara yang baru
mengalami pemekaran, dibanding menjadi kabupaten di
Provinsi Maluku, meski untuk bahasa yang digunakan
masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sula lebih mendekati
bahasa di Kota Ambon (beta-se) dibandingkan bahasa di Kota
Ternate (Kita-Ngana).

Menjelajahi Pulau Sulabesi


Untuk melakukan penjelajahan di Pulau Sulabesi
diperlukan keberanian dan keberuntungan yang kuat karena
transportasi laut yang menggunakan bodi (perahu motor)
sangat bergantung pada keadaan cuaca yang tidak bisa
diprediksi perubahannya. Jika cuaca dalam keadaan cerah dan

146
Jelajah Nusantara #4

angin mendukung perjalanan maka tidak akan terdapat


ombak besar, sehingga perjalanan akan terasa menyenangkan
dan penumpang tidak perlu khawatir akan terhambat. Namun
jika terjadi cuaca yang buruk (angin kencang, ombak atau
hujan) maka akan membuat bodi (perahu motor) melawan
angin dan ombak, sehingga akan sering terjadi guncangan
dalam perjalanan.

Gambar 1. Perjalanan Menggunakan Bodi dari Sanana ke Desa


Sumber: Dokumentasi Penulis

Jika angin dan ombak sangat besar maka bukan tidak


mungkin perjalanan akan ditunda sementara hingga cuaca
baik. Namun kita tidak perlu khawatir karena supir bodi
(perahu motor) sudah sangat ahli dan berpengalaman
menghadapi cuaca di daerah ini.
Bodi sebagai alat transportasi utama, melayani jalur ke
ibu kota kabupaten (Sanana) setiap hari pada pukul 06.30-
07.00, dan akan berangkat kembali pada pukul 15.00. Tarif
secara umum bervariasi, antara Rp 15.000-Rp 20.000.
Selain sebagai alat transportasi penumpang, bodi juga
dimanfaatkan untuk berbelanja kebutuhan barang. Biasanya

147
Bertahan dalam Keterbatasan

mereka akan berangkat lebih cepat pada pukul 05.30-06.30,


dan akan kembali pada pukul 13.30-14.00 ketika mereka
sudah mendapatkan segala barang kebutuhan. Seringkali para
penghasil kopra, sagu dan cengkeh akan menitipkan hasil
panen mereka ke juragan bodi untuk dijual ke Sanana.
Menempuh perjalanan laut di wilayah Kepulauan Sula
adalah sebuah pengalaman yang menakjubkan. Paduan
keindahan laut, gunung dan awan membuat mata seakan
enggan berkedip.
Air laut di daerah ini bisa terlihat dalam dua warna
yang berbeda. Ada yang terlihat berwarna hijau dan ada yang
terlihat berwarna biru. Jika air laut terlihat bewarna hijau
menandakan kondisi laut tofur (dangkal), sedang jika airnya
bewarna biru menandakan bahwa kita berada pada laut yang
dalam.
Alternatif transportasi lain juga dapat dilakukan
melalui darat. Ada dua pilihan, yaitu sepeda motor dengan
biaya Rp 50.000-Rp 100.000 atau mobil angkutan (mobil bak
terbuka yang diberikan tempat duduk kayu dan alas atap)
dengan biaya sekitar Rp 25.000.
Menempuh perjalanan via darat di Kabupaten
Kepulauan Sula menjadi perjalanan yang sedikit berbeda dari
perjalanan darat di perkotaan ataupun kabupaten lainnya, hal
ini disebabkan jalan yang akan dilalui tidak hanya berlubang
dan rusak tetapi terdapat beberapa titik rute perjalanan yang
menanjak dengan tingkat kemiringan hingga 600 yang
membuat mobil angkutan harus bergantian untuk
melewatinya. Mobil angkutan akan memberikan kode klakson

148
Jelajah Nusantara #4

sebanyak 2-3 kali sebagai sebuah tanda akan ada mobil yang
akan melintas, dan mobil yang tidak memberikan kode harus
menunggu mobil tersebut lewat terlebih dahulu.

Gambar 2. Mobil Angkutan Sebagai Kendaraan Umum di Pulau Sulabesi


Sumber: Dokumentasi Penulis

Saat memasuki rute perjalanan yang menanjak ini,


seluruh penumpang laki-laki dewasa dan remaja diharuskan
turun dan berjalan di sisi mobil angkutan hingga ujung jalan.
Dengan jarak sejauh 300-600 meter, penumpang tidak
diperbolehkan berada di belakang mobil angkutan karena
sering terjadi mobil angkutan tidak dapat naik bahkan
menjadi mundur ke belakang dan menggilas penumpang yang
berjalan di belakang mobil.
Mobil angkutan pada umumnya memiliki 4-5 kenek
(asisten supir) yang mengambil posisi di belakang dengan
tugas mengganjal ban mobil agar tidak mundur ketika
memasuki rute menanjak, dan saat mobil tidak bisa menanjak
maka kenek akan membantu mendorong mobil agar bisa naik.
Saat kita mengelilingi Pulau Sulabesi menggunakan
mobil angkutan ataupun sepeda motor, maka akan tersaji
berbagai keindahan pantai dengan air yang biru dan

149
Bertahan dalam Keterbatasan

hamparan langit dengan awan yang sangat mempesona.


Keindahan alam yang didapat selama perjalanan menjadi
sebuah daya tarik tersendiri untuk singgah meski sekedar
mengabadikan keindahan alam atau menghirup udara segar
setelah lelah menghadapi jalan rusak berlobang dan
menanjak sepanjang perjalanan.

Gambar 3. Pemandangan Pantai Fatkauyon yang Menghiasi Perjalanan


Darat
Sumber: Dokumentasi Penulis

Tidak semua rute perjalanan di Pulau Sulebesi dapat


dilalui dengan mobil, ketika memasuki Desa Wai Ina
Kecamatan Sulabesi Barat kita harus berhenti. Jika ingin
melanjutkan perjalanan mengitari Pulau Sulabesi dari Desa
Wai Ina kita hanya bisa menggunakan sepeda motor untuk
perjalanan via darat, selanjutnya akan memasuki Desa Kabau
Pantai, Desa Kabau Darat, Desa Ona dan Desa Nahi di
Kecamatan Sulabesi Barat. Setelah melalui kecamatan ini
kendaraan mobil angkutan akan dapat ditemui untuk kembali
ke Kecamatan Sanana.
Tidak semua desa di Kecamatan Sulabesi Barat dapat
dilalui dengan mobil, di Desa Kabau Pantai misalnya. Setelah

150
Jelajah Nusantara #4

melewati Desa Wai Ina mobil tidak dapat melintas, karena


jalan yang tersedia hanya jalan setapak yang hanya dapat
dilalui oleh sepeda motor. Pengendara yang ingin melintasi
jalan setapak ini pun juga harus berhati-hati, karena jalan
setapak terkadang membelah melewati kebun masyarakat,
sehingga terkadang ada hewan ternak maupun hewan liar
seperti kambing dan lembu yang melintas.

Gambar 4. Perjalanan Desa Wai Ina ke Desa Kabau Pantai dengan Sepeda
Motor
Sumber: Dokumentasi Penulis

Di antara jalan antara Desa Wai Ina dan Desa Kabau


Pantai juga terdapat sebuah rawa yang diberi nama Wai Goi.
Menurut masyarakat setempat di rawa tersebut terdapat
banyak sekali buaya liar dan sering melintasi jalan dari Wai
Goi ke Pesisir Pantai ketika malam hari. Padahal jalan pesisir
pantai yang berpasir itu menjadi satu-satunya jalan yang
harus dilalui pengendara sepeda motor yang melintasi jalan
Desa Wai Ina ke Desa Kabau Pantai.
Wai Goi menjadi daerah yang diperingatkan
masyarakat setempat kepada penulis sebelum memulai

151
Bertahan dalam Keterbatasan

perjalanan antara Desa Wai Ina – Desa Kabau Pantai terutama


jika sudah terlalu malam karena buaya di rawa pasti akan
melintasi jalan yang dilalui sepeda motor.
Salah satu tenaga kesehatan yang mendampingi
penulis menyatakan sudah pernah dikejar buaya ketika coba
melintasi jalan tersebut pada tengah malam, dan patut
bersyukur karena berhasil lolos. Sampai sekarang dia trauma
dan tidak berani lagi melintasi daerah tersebut di malam hari.

Gambar 5. Rawa Wai Goi dan Pesisir Pantai Salah Satu Tempat
Persembunyian Buaya Sekaligus Jalan Perlintasan Desa Wai Ina- Desa
Kabau Pantai
Sumber: Dokumentasi Penulis

Harapan dan Perayaan untuk Pemimpin Baru


Kedatangan penulis di Kabupaten Kepulauan Sula
ternyata bertepatan dengan pengumuman keputusan
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia tentang gugatan
dan keputusan hasil pemungutan suara ulang di beberapa
kecamatan di Kabupaten Kepulauan Sula. Hiruk pikuk disertai
dengan berbagai kemeriahan menghiasi seluruh Kota Sanana

152
Jelajah Nusantara #4

menyambut putusan Mahkamah Konstitusi yang


memenangkan pasangan calon nomor urut dua Bapak
Hendrata Thes dan Zulfahri Abdullah Dwila (HT-Zadi) dengan
jumlah suara sebanyak 18.508 suara mengungguli pasangan
nomor urut 3 bapak H. Safi Pauwah-H. Faruk Bahana (SP-FB)
yang notabene sebagai petahana, yang hanya meraih 18.322
suara.
Kondisi berbeda dirasakan oleh masyarakat
pendukung petahana yang kalah. Ada ketakutan dengan
terpilihnya pemimpin yang baru terpilih, terutama karena
Bupati terpilih memiliki keyakinan agama Kristen, padahal
Kabupaten Kepulauan Sula memiliki penduduk beragama
Islam sebanyak ±90% penduduk.

Gambar 6. Masyarakat Menyambut Kemenangan HT Zadi


Sumber: Dokumentasi Penulis

Kemeriahan menyambut berita putusan Bupati dan


Wakil Bupati dapat dimaklumi, karena Pilkada yang dilakukan
pada tanggal 9 Desember 2015 ternyata berpolemik dan tidak
segera menemu titik terang tentang keputusan pemenang.
Gugat menggugat hasil Pilkada dan meminta pemilihan suara
ulang mewarnai pilkada di Kabupaten Kepulan Sula. Akhirnya

153
Bertahan dalam Keterbatasan

pada Mei 2016 melalui putusan MK No. 100/PHP.BUP-


XIV/2016 telah diputus pemenang Pilkada Kabupaten
Kepulauan Sula.
Kemenangan HT-Zadi dianalogikan sebagai
kemenangan masyarakat, sehingga harus diwujudkan dalam
sebuah pesta rakyat yang sebagai bentuk rasa syukur, pesta
joget-joget. Pesta joget-joget adalah acara hiburan yang
sangat populer di kalangan masyarakat Kabupaten Kepulauan
Sula. Kabar kemeriahan acara joget-joget sudah terdengar
sejak siang hari, hingga membuat rasa penasaran ingin
melihatnya.

Gambar 7. Persiapan Pelaksanaan Pesta Rakyat Masyarakat Sula


Sumber: Dokumentasi Penulis

Pesta joget-joget merupakan kegiatan menari yang


diiringi berbagai lagu baik lagu Ambon, lagu dangdut maupun
lagu lainnya yang dibuat dalam versi disco house music
sehingga membuat para pendengar akan serasa terhipnotis
dan ingin ikut bergoyang begitu mendengar lagu dibunyikan.
Pesta joget-joget akan dihadiri oleh berbagai
kalangan. Mereka menggunakan pakaian terbaik, rapi dan
bersih yang mereka miliki untuk ditampilkan pada acara

154
Jelajah Nusantara #4

joget-joget, serta tidak lupa menggunakan sepatu dan


dandanan yang semenarik mungkin, terutama untuk menarik
perhatian lawan jenis.

Gambar 8. Pesta Joget-Joget Masyarakat Sula


Sumber: Dokumentasi Penulis

Pesta joget-joget dilakukan di seluruh Desa di


Kabupaten Kepulauan Sula dengan waktu beriringan,
tergantung kesepakatan masyarakat dengan tim pemenangan
pasangan. Namun pesta kemenangan yang dilaksanakan
banyak yang tidak berjalan dengan aman, karena ada
keributan yang terjadi antara pemuda pendukung pasangan
HT-Zadi dengan pemuda pendukung pasangan lainnya yang
telah kalah. Keributan dapat terjadi karena pendukung
pasangan HT-Zadi berulang kali menyindir dan mengulang
lagu pemenangan pasangan HT-Zadi ketika pesta rakyat
berjalan sehingga menyulut amarah pendukung pasangan
lainnya.
Acara joget-joget akan dirasa hambar jika tidak
ditemani dengan konsumsi sopi (minuman keras khas
maluku). Konsumsi sopi (minuman keras khas maluku) juga
turut berperan dalam meningkatkan emosi para pemuda

155
Bertahan dalam Keterbatasan

sehingga terciptanya keributan dan tidak jarang menimbulkan


cedera ketika pelaksanaan pesta joget-joget.
Ketika berjalannya acara joget-joget sebahagian
muda-mudi beraksi joget-joget di panggung yang telah
disediakan, meski ada pula muda-mudi yang mengambil
panggung tersendiri dengan teman lawan jenisnya. Penulis
beberapa kali memergoki muda-mudi yang memilih panggung
di pinggir pantai untuk bercinta ketika berjalannya acara
joget-joget.
Tidak perlu heran jika di Kabupaten Kepulauan Sula
memiliki banyak remaja yang tidak tamat sekolah karena
terjadi baku lari (kawin lari), yang didahului hamil di luar
nikah. Saat penulis berjalan mengitari Pulau Sulabesi sering
menemukan wanita di beberapa desa yang sudah
menggendong anak meski terlihat masih sangat muda. Ketika
ditanya tentang umurnya, mereka mengaku berumur 13-15
tahun, dan hanya sempat menyelesaikan pendidikan tamat
Sekolah Dasar (SD).

Mencari Buaya di Telaga (Keramat)


Ketika penulis berada di Desa Kabau Pantai dan Desa
Kabau Darat sering mendengar tentang cerita buaya di Telaga
Desa Kabau yang konon katanya dahulunya adalah manusia
yang berubah menjadi buaya yang disebabkan satu dan lain
hal. Masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sula mayoritas
mengetahui kalau di Desa Kabau Pantai dan Kabau Darat
terdapat buaya yang dahulunya adalah manusia.

156
Jelajah Nusantara #4

Gambar 9. Telaga yang menjadi tempat Buaya


Sumber: Dokumentasi Penulis

Seluruh masyarakat di Desa Kabau menyatakan buaya


tersebut jika memiliki jari kaki berjumlah lima maka buaya
tersebut adalah teteh (nenek moyang) yang sebelumnya
buaya tersebut adalah manusia dan tidak akan pernah
menganggu masyarakat Kabau sehingga tidak boleh diganggu
apalagi dibunuh. Sedang buaya yang memiliki jari kaki
berjumlah empat maka itu merupakan buaya muara yang
mau menyerang manusia, dan diperbolehkan untuk
membunuhnya jika mereka menganggu masyarakat.
Anak buaya yang masih kecil seringkali terlihat di
telaga pada siang hari, namun induk buaya cenderung tidak
terlihat pada siang hari. Pada malam hari induk buaya baru
menunjukkan diri sembari mencari hewan yang akan
dimangsa.
Secara kebetulan penulis sebelumnya sudah berulang
kali melihat sang buaya yang menampakkan diri ketika malam
hari, yaitu ketika bersama dengan peneliti lainnya memancing

157
Bertahan dalam Keterbatasan

ikan saat maghrib, dan ketika penulis bersama masyarakat


berusaha memperbaiki genset desa yang rusak. Penulis
sangat ingin mendokumentasikan buaya telaga tersebut, tapi
masyarakat melarang keras untuk tidak mendokumentasikan
buaya tersebut, ditambah lagi dengan habisnya baterai
handphone karena memang tidak ada listrik di desa.

Gambar 10. Anak Buaya di PinggirTelaga Desa Kabau Pantai


Sumber: Dokumentasi Penulis

Pada pertengahan bulan puasa, ketika mendekati


waktu sahur, Desa Kabau Pantai mengalami suatu kehebohan
yang disebabkan seorang lelaki paruh baya yang mau
diterkam buaya ketika ingin Buang Air Besar (BAB). Sang anak
yang mendengar jeritan ayahnya mengambil tombak dan
menghujamkan tombak pada buaya berkali-kali hingga buaya
mati. Kematian buaya yang hendak menerkam seorang lelaki
paruh baya ini menjadi bahan pembicaraan masyarakat,
karena jika itu buaya teteh (kakek), maka akan membuat
buaya melakukan penuntutan kepada sang pembunuh.

158
Jelajah Nusantara #4

Rasa penasaran pada penampakan buaya saat siang


hari membuat penulis menyewa fiber milik masyarakat untuk
mengelilingi Telaga Desa Kabau Pantai dan Desa Kabau Darat.
Upaya pencarian pun dilakukan di sore hari dengan perasaan
penasaran dan deg-degan.
Setelah hampir setengah jam mengelilingi Telaga maka
sampailah kami di Desa Kabau Darat yang katanya sering
melihat buaya besar. Penulis meminta pengendara fiber
untuk mendekatkan fiber ke buaya untuk mengambil
dokumentasi namun sayangnya sang buaya tidak berkenan
dan menjauhi kami menuju daratan.

Gambar 11. Buaya yang


Berjemur di Telaga Desa Kabau
dari Jarak Jauh
Sumber: Dokumentasi Penulis

Buaya yang menyelam menuju daratan membuat


pengendara fiber tidak mau mendekat dengan alasan sang
buaya sangat berbahaya jika berada dekat daratan, karena
buaya akan melompat jika merasa tidak nyaman. Ketakutan
ini disebabkan pengendara fiber belum mengetahui jenis
buaya yang kami temui itu jenis buaya teteh (kakek) mereka
atau memang buaya muara asli, sehingga pengendara fiber

159
Bertahan dalam Keterbatasan

tidak berani menjamin keselamatan peneliti jika tetap


bersikeras mendekati buaya.
Kami pun bersepakat untuk mengambil gambar dan
video buaya dari jarak jauh demi menjaga keselamatan, dan
kembali mencari lokasi buaya berjemur di sisi lain telaga.
Hingga dua jam perjalanan dan waktu berbuka puasa pun
tiba, kami tidak mendapatkan buaya lainnya.

Dalam Keterbatasan dan Ketertinggalan


Kabupaten Kepulauan Sula menjadi salah satu
kabupaten yang memiliki keterbatasan dan ketertinggalan
dalam banyak aspek di antara kabupaten lain. Hal ini
berdampak secara luas terhadap perekonomian dan kondisi
kesehatan masyarakat.
Komunikasi menjadi salah satu hal yang sangat
penting di era sekarang. Kabupaten Kepulauan Sula adalah
salah satu kabupaten di Indonesia yang wilayah
kecamatannya sulit untuk mendapat akses telekomunikasi.
Hal ini juga berdampak kepada perekonomian masyarakat.
Mereka tidak dapat mengakses informasi apapun terkait hasil
panen dan sumberdaya alam mereka ke kecamatan tetangga,
apalagi ingin mengakses informasi ke kabupaten yang ada di
sekitar mereka, sehingga masyarakat cenderung hanya akan
melakukan kegiatan jual beli hasil pertanian dan ternak antar
desa saja.
Tidak adanya sinyal/jaringan komunikasi di beberapa
kecamatan Kabupaten Kepulauan Sula menjadi permasalahan

160
Jelajah Nusantara #4

tersendiri dalam kesehatan. Hal ini dapat dilihat dari tenaga


kesehatan yang tidak bisa saling berkomunikasi dan
berkoordinasi jika ingin melakukan kegiatan pelayanan
kesehatan, kecuali ketika mendatangi tempat tersebut.
Minimnya sinyal/jaringan komunikasi berdampak kepada
kegiatan-kegiatan rutin yang harusnya terjadwal dengan baik
menjadi sebuah kegiatan yang ‘tiba-tiba’.
Kegiatan Posyandu yang seharusnya terjadwal,
nyatanya beberapa kali tidak dapat terlaksana sesuai jadwal,
sehingga kegiatan Posyandu menjadi tidak maksimal yang
disebabkan kader yang tidak dapat hadir disebabkan sedang
tidak berada di desa, atau kelompok sasaran juga tidak
berada di desa sehiingga kegiatan Posyandu dilaksanakan
seadanya tanpa memperhatikan kualitas pelayanan yang
diberikan.

Gambar 12. Kendaraan Puskesmas Melakukan Pelayanan Kesehatan


Sumber: Dokumentasi Penulis

Pada saat Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sula


ingin melakukan kunjungan ke Puskesmas untuk suatu
program atau informasi terbaru juga tidak bisa berkoordinasi
dengan tenaga kesehatan di desa karena ketiadaan sinyal
telekomunikasi. Seringkali Dinas Kesehatan Kabupaten

161
Bertahan dalam Keterbatasan

Kepulauan Sula datang ke Puskesmas atau desa namun


tenaga kesehatan yang ditunggu sedang tidak berada di desa
karena ada kegiatan lain.
Selain ketiadaan sinyal komunikasi yang berdampak
pada keteraturan jadwal pemberian pelayanan kesehatan,
kendala lain adalah perubahan cuaca mendadak. Kondisi
Kepulauan Sula yang dikelilingi oleh laut menyebabkan
masalah tersendiri dengan perubahan cuaca yang ekstrem,
karena menghambat jalur transportasi laut antar wilayah.

Gambar 13. Kendaraan Dinas Kesehatan Kabupaten Sula Saat Melakukan


Monitoring dan Evaluasi Pelayanan Puskesmas
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Tidak adanya listrik di beberapa Kecamatan di Pulau


Sulabesi juga menjadi masalah tersendiri bagi masyarakat dan
tenaga kesehatan. Menurut masyarakat setempat dulu
sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika belum dilakukan
pemekaran Kabupaten Kepulauan Sula, ternyata mereka telah
sempat menikmati aliran listrik. Hal ini dapat dilihat dengan
adanya tiang-tiang listrik di depan rumah mereka. Namun

162
Jelajah Nusantara #4

setelah terjadi pemekaran dan terbentuknya Kabupaten


Kepulauan Sula ternyata desa mereka mengalami
kemunduran hingga tidak ada lagi listrik di desa mereka.
Kondisi ketiadaan aliran listrik membuat masyarakat marah,
sehingga mereka menumbangkan tiang listrik yang ada dan
mencabut kabel-kabel yang ada di tiang listrik tersebut.
Saat ini harapan kembali muncul. Desa tetangga sudah
mulai dimasuki aliran listrik dari pemerintah. Meski sering
terjadi pemadaman dalam satu hari, namun mereka merasa
tidak menjadi masalah, dibanding bila tidak ada listrik sama
sekali.

Gambar 14. Genset Desa dan tiang listrik yang sudah tidak terpakai
Sumber: Dokumentasi Penulis

Tidak adanya listrik membuat kegiatan pelayanan


kesehatan tidak maksimal, terutama kegiatan yang berkaitan
dengan imunisasi. Vaksin imunisasi yang harus disimpan
dalam keadaan dingin pada nyatanya tidak dapat dilakukan,
sehingga petugas kesehatan hanya akan mengambil vaksin
imunisasi ketika mereka akan melakukan kegiatan imunisasi
di beberapa desa. Kegiatan imunisasi tidak bisa dilakukan

163
Bertahan dalam Keterbatasan

dalam jangka waktu yang lama di dalam suatu desa karena


mereka harus mengejar desa lainnya yang harus diberikan
vaksin imunisasi.

Bersama membangun Kabupaten Kepulauan Sula


Saat ini infrastruktur seperti jembatan sudah mulai
dibangun dan jalan sudah mulai diperluas. Pengaspalan jalan
mulai dilakukan agar masyarakat memiliki akes yang baik ke
Kecamatan Sanana sebagai pusat perekonomian dan
perkantoran di Kabupaten Kepulauan Sula. Ada harapan hal
ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di
Kabupaten Kepulauan Sula.

Gambar 15. Jalan tanah yang mulai dilakukan pengaspalan


Sumber: Dokumentasi Penulis

Proyek pengaspalan dan pembuatan jembatan yang


dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula
mendapat apresiasi sangat positif dari masyarakat desa.
Partisipasi secara langsung juga dilakukan oleh masyarakat
desa untuk mendorong pengaspalan di desa mereka.
Masyarakat bergotong royong memenuhi segala kebutuhan

164
Jelajah Nusantara #4

dalam pengaspalan, baik bergotong royong bekerja


membantu pekerja pengaspalan maupun membantu
menyelesaikan pembebasan lahan jika terdapat masyarakat
yang lahan kebunnya ikut terkena pelebaran jalan.

Keterbatasan Sumber Daya Kesehatan


Keterbatasan sumber daya kesehatan juga menjadi
masalah tersendiri di Kabupaten Kepulauan Sula. Pada tahun
2015 di Kabupaten Kepulauan Sula terdapat fasilitas
pelayanan kesehatan berupa Puskesmas sebanyak 11 unit,
Puskesmas pembantu sebanyak 22 unit, Poskesdes 18 unit,
Polindes 12 unit, desa siaga 4 unit dan Posyandu sebanyak 88
unit.
Sementara untuk tenaga kesehatan dirasakan sangat
minim. Tercatat ada 14 orang Dokter, 172 Perawat, 79 Bidan
dan 14 apoteker. Hampir seluruh dokter, perawat dan
apoteker yang ada bekerja di rumah sakit, sedang untuk
Puskesmas hanya terdapat 3 orang dokter.
Setiap Puskesmas di Kabupaten Kepulauan Sula pada
umumnya tidak memiliki tenaga kesehatan yang memadai,
sehingga seringkali melakukan rekrutmen dalam bentuk
tenaga honor daerah dengan kontrak 12 bulan. Gaji tenaga
kontrak diberikan sebesar Rp 1.800.000 untuk kecamatan
dengan kategori sangat terpencil dan Rp 1.500.000 untuk
kategori kecamatan terpencil. Dengan langkah ini Puskesmas
mendapat tenaga kesehatan tambahan yang bervariasi. Ada

165
Bertahan dalam Keterbatasan

tenaga gizi, kesehatan lingkungan, perawat, kesehatan


masyarakat dan bidan.
Usaha meningkatkan sumberdaya tenaga kesehatan
juga dilakukan Puskesmas dengan merekrut tenaga sukarela
Puskesmas. Gaji tenaga sukarela tersebut didapatkan dari
hasil sisa dana BOK yang akan diserahkan kepada tenaga
kesehatan sukarela dalam jangka waktu tiga bulan sekali
sebesar Rp 300.000-400.000 per bulannya.
Sebenarnya pada tahun 2015 tenaga dokter PTT ada di
beberapa Puskesmas. Namun pada awal tahun 2016 mereka
sudah pulang ke daerah masing-masing karena sudah habis
masa kontrak dengan Kementerian Kesehatan RI. Sampai saat
ini tidak ada tenaga dokter pengganti. Hal ini membuat
hampir seluruh Puskesmas di Kabupaten Kepulauan Sula tidak
memiliki tenaga dokter.
Tidak adanya tenaga dokter di Puskesmas membuat
masyarakat hanya dapat dilayani perawat atau bidan jika
mengalami keluhan kesehatan. Bahkan ada tenaga kesehatan
dengan tamatan Sekolah Perawat Kesehatan (setara SLTA)
yang memberikan tindakan medis disebabkan tidak adanya
tenaga kesehatan di daerah tersebut. Di sisi lain, tenaga
kesehatan lulusan Sekolah Perawat Kesehatan tersebut juga
didaulat menjadi Kepala Puskesmas.

Mama Biang Sang Juru Penyelamat


Minimnya ketersediaan tenaga kesehatan di
Puskesmas dan masih tingginya kepercayaan masyarakat

166
Jelajah Nusantara #4

pada pengobatan yang sudah turun-temurun menjadikan


Puskesmas dan tenaga kesehatan hanya menjadi pilihan ke-
dua. Hal ini juga berlaku dalam pelayanan ibu hamil dan ibu
melahirkan. Berdasar data Dinas Kesehatan Kabupaten
Kepulauan Sula, pada tahun 2014 terdapat 6 kematian ibu,
dan pada pertengahan tahun 2016 sudah terdapat 8 kematian
ibu. Hal ini dapat terjadi disinyalir disebabkan persalinan yang
ditolong tenaga kesehatan sangat rendah. Ibu hamil dan
bersalin lebih menginginkan ditangani oleh mama biang
(dukun beranak). Pada saat seorang ibu sedang hamil, satu-
satunya pilihan yang akan dilakukan adalah memeriksakan
diri pada mama biang.
Pada umumnya pemeriksaan kehamilan pada mama
biang tidak memiliki tarif tersendiri, hanya pemberian
sukarela saja. Biasanya ibu hamil akan memberikan uang
terima kasih sebesar Rp. 10.000 setiap kali pemeriksaan.
Di sisi lain, ada juga ibu hamil yang memilih alternatif
pemeriksaan pada bidan. Pemeriksaan oleh bidan akan
dilakukan ketika ada jadwal Posyandu. Berdasarkan
pengakuan bidan desa, mereka tidak pernah meminta uang
ketika ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan, atau
ketika mereka dipanggil untuk memantau ibu hamil, namun
tetap saja bidan kurang dipercaya untuk mengatasi masalah
kehamilan dan persalinan.
Biasanya saat mendekati persalinan, ibu hamil dan
mama biang akan melakukan komunikasi yang lebih intens
bahkan sering terjadi pertemuan lebih dari tiga kali dalam
sebulan. Komunikasi yang intens ini membahas segala

167
Bertahan dalam Keterbatasan

keluhan ibu dan biang. Hal ini juga dilakukan agar biang bisa
menyiapkan waktu jika ibu hamil melahirkan tidak sesuai
dengan jadwal yang telah diperkirakan.
Pada malam hari, saat mulai diperkirakan memasuki
jadwal kelahiran, mama biang seringkali tidak bisa tidur
nyenyak, karena harus siap siaga untuk menerima panggilan
sewaktu-waktu. Kesiapsiagaan mama biang dalam menolong
persalinan inilah yang menjadi salah satu alasan keluarga ibu
hamil untuk tetap menggunakan jasa mama biang dalam
melakukan persalinan, dibanding dengan beberapa bidan
desa yang masih sering keluar pulau, dan bidan yang sering
silih berganti di desa mereka.
Menjelang persalinan, suami akan disibukkan dengan
mengurus segala keperluan untuk menyambut sang bayi yang
telah dinanti. Saat sudah akan memasuki bulan persalinan
suami disarankan untuk menyiapkan buluh bambu (bambu
yang akan diambil kulitnya untuk dibentuk menjadi sembilu),
yang akan digunakan untuk pemotong tali pusat bayi.
Buluh bambu digunakan dalam memotong tali pusar
bayi meski bidan desa ada ketika persalinan. Berbeda jika
dalam proses persalinan mama biang tidak ada, maka gunting
yang akan digunakan untuk pemotong tali pusar bayi.
Kepercayaan dan kenyamanan dalam menggunakan
jasa mama biang membuat keluarga ibu yang melahirkan
akan menjemput mama biang ketika sudah ada tanda-tanda
akan melahirkan. Pada saat suami telah berjumpa dengan
mama biang, dan mama biang telah melihat kondisi ibu yang
akan melahirkan, biasanya mama biang segera menyuruh

168
Jelajah Nusantara #4

memanggil bidan untuk bekerja sama melihat persalinan yang


akan dilakukannya, sehingga persalinan akan berjalan lancar.
Jika terjadi permasalahan persalinan, bidan memiliki
peran yang sangat penting, terutama untuk merujuk ke
Rumah Sakit Umum di Kecamatan Sanana. Diharapkan kerja
sama ini dapat mengurangi angka kematian yang tinggi pada
ibu melahirkan di Kabupaten Kepulauan Sula.

169
Bertahan dalam Keterbatasan

170
Membangun Masa Depan Generasi
di Pulau Kering

Marselinus Laga Nur

Saat berbicara tentang kesehatan beserta seluruh


aspek yang meliputinya di Pulau Timor, mungkin saya hanya
bisa menepuk dada. Betapa tidak, di pulau ini angka gizi buruk
selalu tinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Kemiskinan selalu
dianggap sebagai penyebabnya. Generasi yang mengalami gizi
buruk tersebut diperkirakan akan terus terdampak sampai
dengan usia sekolah. Oleh sebab itu pemerintah memutuskan
menginisiasi sebuah program gizi bagi anak sekolah yang
diberi nama PROGAS yang dimulai dari pulau ini. Program ini
dimulai di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS),
dan Belu.

171
Membangun Masa Depan Generasi di Pulau Kering

Bagaimana dengan kondisi semua unsur pelaksanaan


PROGAS beserta kemungkinan keberlanjutan perbaikan gizi
dan kesehatan dapat saya ceritakan dalam tulisan ini. Saya
akan bercerita tentang perjalanan saya dua kali ke Kabupaten
Belu dan Timor Tengah Selatan (TTS). Pertama kali saya
sendiri mengunjungi kedua kabupaten tersebut untuk
memberikan trainning kepada guru tentang antropometri.
Pada perjalanan kedua, saya menemani tim peneliti dari IPB
dan Jepang.
Karena padatnya jadwal maka kedua perjalanan di
awali dengan jalur udara Kupang-Atambua. Kemudian setelah
aktifitas di Atambua (ibukota Kabupaten Belu) dilanjutkan
dengan perjalanan darat ke Kota SoE (Ibukota Kabupaten
TTS), lalu kembali ke Kupang. Perjalanan melalui udara
ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit dari Bandara El
Tari di Kota Kupang menuju Bandara AA Bere Tallo Atambua.
Sedang perjalanan darat ke SoE ditempuh dalam waktu
kurang lebih lima jam lalu dari SoE ke Kupang kurang lebih
tiga jam. Penerbangan menuju Atambua kini hanya dilayani
oleh maskapai Wings Air dua kali sehari, setelah sebelumnya
maskapai Merpati dan Susi Air berhenti melayani rute
tersebut.
Dalam perjalanan ke Atambua, dengan penerbangan
yang tidak terlalu tinggi dapat saya saksikan hamparan Pulau
Timor yang berbukit-bukit dengan sejumlah sungai yang
justru bukan mengalir melalui pemukiman. Secara hidrologi,
Pulau Timor sebenarnya cukup kaya air sehingga aneh
rasanya jika pulau ini dibilang pulau yang kering oleh

172
Jelajah Nusantara #4

kebanyakan pihak sebagai alasan sering kurangnya bahan


pangan.
Pola pemukiman di Timor yang ditempati etnis Dawan
dan Tetun sebagian besar berada pada daerah pegunungan.
Hal ini dapat dikaitkan pada sejarah dahulu yang dipenuhi
dengan perang, baik antar suku maupun dengan penjajah
Belanda dan Jepang.
Etnis Dawan dan Tetun sebenarnya cinta damai.
Mereka cenderung untuk menghindari konflik bila masih bisa.
Perang hanya akan terjadi untuk membela diri. Hal itulah
yang turut mempengaruhi sebagian besar pola pemukiman
sekarang. Selain dari beberapa tempat yang dibangun
bersama dengan pendatang seperti Kota Kupang yang
terletak di teluk Kupang dan Kota Kefamenanu.1
Citra sebagai pulau kering kini seharusnya bisa ditinjau
kembali, karena secara rutin beberapa daerah di Pulau Timor
telah menjadi daerah langganan banjir sejak tahun tahun
1999. Daerah yang paling banyak mengalami banjir adalah di
bagian Selatan yang meliputi Kabupaten Malaka dan TTS
bagian Selatan. Daerah tersebut menjadi ‘muara’ dari
sejumlah sungai besar seperti Benanain dan Noelmina.
Memang cukup miris, di saat banyak daeran lain kekurangan
air namun ada juga yang mendapatkan bencana banjir karena
air yang terlalu melimpah.

1
Nama kota Kefamenanu berasal dari kata Kef es mnanu yang berarti
kampung di dasar jurang

173
Membangun Masa Depan Generasi di Pulau Kering

Gambaran lain tentang air, banjir dan kekeringan


pernah saya temui saat tergabung dalam sebuah penelitian di
TTS. Saya kebagian di Kecamatan Kualin di sebelah Selatan
Pulau Timor. Dalam perjalanan ke sana saya melintasi daerah
persawahan di Kecamatan Amanuban Selatan. Pada jalan
yang lebar dan mulus dan terdapat lintasan lurus hampir
sejauh 15 kilometer. Di wilayah tersebut kiri dan kanan sawah
terhampar sejauh mata memandang, namun tidak semua
ditanami. Waktu itu saya menemui Bapak Agus, teman lama
orang tua saya. Dia menceritakan bahwa banyak pemilik
sawah tidak lagi mau menanam karena selalu merugi akibat
kurangnya pasokan air.
Keadaan yang miris dan terbalik terlihat saat saya
melintasi desa Toineke di sebelahnya. Banjir yang secara rutin
terjadi sejak tahun 1999 membuat desa itu menjadi rawa-
rawa. Jalan keluar yang ditempuh masyarakat yang mampu
hanyalah dengan meninggikan fondasi rumah, sementara
pemerintah meninggikan badan jalan. Tentunya hal tersebut
bukanlah jalan keluar yang bijak.
Masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi akan
tetap terkena dampak banjir lebih besar. Mengapa hanya
jalan yang diutamakan pemerintah? Memang jalan tersebut
menuju ke tempat wisata Pantai Kolbano yang pernah masuk
dalam acara my trip my adventure di salah satu televisi swasta
nasional. Namun wisata Pantai Kolbano belum memberikan
dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat. Selain
mereka menonton truk besar yang hilir mudik mengangkut
batu hias. Pantai Kolbano bukan hanya terkenal karena

174
Jelajah Nusantara #4

pemandangannya yang indah namun juga batu alam yang


entah telah menghias berapa banyak rumah mewah di Jawa
dan Bali.
Belum berhenti kekaguman saya akan bentangan alam
yang berair, namun jarang dihuni. Pramugari
menginformasikan bahwa pesawat akan segera mendarat,
pendaratan di Bandara AA Bere Tallo memang terasa kurang
nyaman, bukan cuma landasan pacu yang pendek namun juga
bukit di ujung Barat landasan pacu. Pendaratan kemungkinan
hanya boleh lewat Barat karena jarak dengan negara tetangga
yang terlalu dekat di sebelah Timur. Bandara ini termasuk
menjadi prioritas pemerintah pusat untuk terus ditingkatkan
di antaranya dengan mengusur bukit untuk memperpanjang
landasan pacu dan membuat jalur pendaratan lebih nyaman
serta memperbaiki ruang terminal.

Gambar 1. Bandara AA Berre Tallo, Atambua


Sumber: Dokumentasi Penulis

175
Membangun Masa Depan Generasi di Pulau Kering

Mengingat tentang negara tetangga yang baru berdiri


tahun tahun 2000 yang lalu, ingatan saya kembali terbayang
pada tragedi berdarah pada tahun 1999 di areal persawahan
sekitar bandara.
Melalui cerita seorang sepupu serta teman-teman lain
yang tinggal di Kota Atambua, mereka mengisahkan perang
yang terjadi di antara sesama pengungsi bekas Provinsi Timor
Timur yang kini telah menjadi negara sendiri, Timor Leste.
Dendam karena pilihan politik yang berbeda antara pro
kemerdekaan dan pro integrasi tidak selesai di daerah asal
namun terus dibawa sampai ke daerah pengungsian. Waktu
itu media hanya memberitakan tentang tewasnya pimpinan
gerakan Besi Merah Putih dan tiga relawan asing asal
Australia namun tentang milisi dan warga sipil lain tidak
tertulis sama sekali.2
Masalah yang terkait dengan warga eks pengungsi
bukan lagi perang namun kemiskinan. Seperti bencana sosial
lainnya, akibat dari sebuah keputusan politik terkait masalah
Timor Timur lebih besar dialami oleh Kabupaten Belu.
Peningkatan jumlah penduduk secara mendadak
ditambah lagi dengan semakin berkurangnya sumber air
membawa dampak pada masalah pangan. Sawah di sekeliling
bandara yang mengering dan tidak bisa lagi ditanami hanya
salah satu kenyataan yang bisa saya saksikan sendiri.

2
Besi Merah Putih adalah salah satu organisasi pendukung pro integrasi
bersama Aitarak yang kini sebagian besar menolak repatriasi dan tetap
tinggal di wilayah timor barat.

176
Jelajah Nusantara #4

Selanjutnya dari bandara saya memilih tinggal di


rumah keluarga saya di Kota Atambua. Kebetulan ibu S, tante
saya juga adalah guru sekolah dasar (SD) yang melaksanakan
PROGAS. Melalui beliau saya dapatkan banyak cerita tentang
program tersebut.
Sebelum adanya PROGAS, tingkat absensi cukup tinggi,
anak-anak banyak yang datang terlambat. Selain itu di kelas
lebih banyak yang mengantuk sehingga tidak bisa menangkap
materi pelajaran dengan baik. Penyebabnya adalah mereka
tidak sempat sarapan dengan baik. Anak-anak hanya diberi
makanan ringan sebelum ke sekolah. Malah ada yang tidak
sama sekali. Makanan yang diberikan pada kegiatan PROGAS
bukan hanya menjadi motivasi bagi para murid untuk hadir ke
sekolah namun turut membantu kelancaran belajar mengajar.
Namun para guru dan orang tua di Kota Atambua
mengalami sejumlah tantangan. Tantangan pertama adalah
ketersediaan bahan pangan yang tidak memadai di pasar
serta tidak adanya dapur berukuran memadai di sekolah.
Tantangan tersebut diatasi mengganti menu yang tertulis
dalam petunjuk pelaksanaan program. Melalui konsultasi
dengan Kantor Dinas Kesehatan, mereka membuat
kesepakatan dengan sesama orang tua murid yang bertugas
memasak untuk memilih sayur dan lauk pauk secara
bergantian. Dengan demikian seluruh sekolah memiliki menu
yang berlainan dan tidak membeli bahan yang sama di pasar
setiap hari. Mereka mencari pasokan buah-buahan dari luar
Kabupaten Belu seperti jeruk dan semangka dari Kabupaten
Kupang.

177
Membangun Masa Depan Generasi di Pulau Kering

Tantangan berikut adalah tidak adanya dapur.


Tantangan inilah yang belum bisa teratasi. Ibu S bercerita
bahwa murid-murid kelas satu dan dua sering tidak
mempedulikan lagi materi pelajaran jika aroma masakan telah
masuk ke ruang kelas. Terpaksa proses belajar mengajar
dihentikan dan mereka mendapat giliran lebih dahulu untuk
makan. Beberapa sekolah memindahkan kegiatan memasak
ke rumah anggota kelompok masak terdekat, sedangkan yang
lain tetap di sekolah.
Selanjutnya setelah aktifitas di Atambua, saya menuju
ke SoE lewat jalan darat. Sengaja saya memakai bis antar
kota. Pilihan moda transportasi ini agar saya bisa melihat
situasi masyarakat kebanyakan yang juga menggunakan moda
ini. Dari Atambua ke SoE ongkosnya 80 ribu rupiah, sedang
dengan mobil travel ongkos menjadi dua kali lipatnya.
Hal menarik pertama yang saya temui adalah tidak
digunakannya lagi Terminal Lolowa sebagai terminal antar
kota di Atambua. Masyarakat pengguna transportasi seolah
sudah paham bahwa sebuah titik di kilometer 3 adalah
terminal bayangan yang ‘resmi’. Sesampai di Nenuk (sekitar
10 KM dari Kota Atambua) kami harus berhenti hampir satu
jam untuk menunggu rombongan tenaga kerja Indonesia yang
akan menggunakan bis tersebut ke Pelabuhan Tenau. Supir
harus menelpon berulang kali untuk menanyakan posisi
mereka. Karena lama menunggu sempat saya menyarankan
ke supir untuk masuk saja menjemput mereka. Namun hal
tersebut langsung ditentang oleh penumpang lain. Menurut
mereka tempat tersebut sangat rawan begal, padahal saat itu

178
Jelajah Nusantara #4

baru pukul tujuh malam. Ternyata lingkungan tersebut bukan


saja keras secara fisik namun juga secara sosial. Oleh sebab
itu banyak warganya yang memilih untuk merantau bahkan
ke luar negeri. Hal tersebut hampir selalu saya temui dalam
perjalanan saya dalam penelitian di Pulau Timor. Ada bayi dan
balita yang tidak ikut kegiatan Posyandu dan kini ada anak
sekolah yang tidak diperhatikan makanannya karena ditinggal
orang tua yang merantau.
Perjalanan berikutnya saya mendampingi peneliti
dari IPB dan Jepang. Sesampainya di Atambua kami langsung
ke pasar tradisional kemudian ke salah satu sekolah pelaksana
PROGAS, yaitu SDI Tini. Karena sudah sore, itu waktu yang
tepat untuk menyaksikan proses penyiapan bahan makanan
yang akan dimasak. Kelompok yang sedang bertugas
memindahkan proses penyiapan dan memasak ke rumah.
Seorang bapak sedang menyiangi sayur buncis,
sedangkan seorang ibu sedang mencuci buah. Saat itu buah
yang disiapkan adalah jeruk keprok yang dipesan dari wilayah
Amfoang di Kabupaten Kupang. Memang susah mendapatkan
buah-buahan dalam jumlah besar di Atambua, sedang untuk
SD Tini saja ada 600 murid. Ikan cakalang yang akan menjadi
lauk esok hari sudah dipesan untuk diantarkan besok subuh.
Sumber air yang digunakan untuk kegiatan memasak berasal
dari mobil tangki. Menurut ketua kelompok masak, air dari
PDAM setempat tidak pernah lagi mengalir.
Kami membuat janji untuk datang lagi besok subuh.
Keesokan harinya jam empat subuh kami datang lagi dan
menyaksikan mereka telah bekerja. Nasi dimasak di tungku

179
Membangun Masa Depan Generasi di Pulau Kering

tradisional menggunakan tiga batu besar dengan kayu api.


Sedangkan sayuran dan lauk dengan kompor minyak tanah.
Setiap anggota kelompok menjalankan tugasnya masing-
masing tanpa diperintah, seperti sudah tahu apa yang harus
dilakukan. Pukul enam pagi seluruh makanan sudah selesai
dimasak, lalu dikemas. Bapak yang kemarin kami temui
menyiangi sayur, ternyata adalah satu-satunya pria dalam
anggota kelompok memasak tersebut. Tugasnya cukup berat,
memasak nasi dari beras sebanyak 60 kilogram. Namun saat
saya mencoba mencicipi, hasilnya cukup pulen.

Gambar 2. Makanan yang telah selesai dimasak, siap dibawa ke sekolah


Sumber: Dokumentasi Penulis

Setelah selesai memasak, dia duduk sendiri di teras


depan rumah sambil menikmati sebatang rokok. Tidak terlihat
raut lelah di wajahnya. Ketika saya menanyakan hal tersebut
dia hanya menjawab, anak-anak yang diberi makan tersebut

180
Jelajah Nusantara #4

nanti akan melayaninya setelah dewasa. Pengorbanan yang


berat namun terasa ringan baginya dengan harapan
membangun generasi yang cerdas.
Membahas tentang generasi penerus di Kota Atambua
tidak semuanya menyenangkan dan memiliki masa depan
cerah. Remaja sekarang yang mengalami masa kecil atau lahir
di Tahun 1999 banyak terkena dampak bencana sosial pada
masa tersebut. Terutama bidang pendidikan di mana angka
studi lanjut sangat rendah. Banyak dari mereka hanya bekerja
di sektor informal seperti tukang ojek. Fenomena belakangan
ini yang cukup populer adalah mereka mencari batu mangan
dan menjadi penjual bensin. Film ‘Tanah Air Beta’ dan
‘Atambua 390 celcius’ telah menceritakan situasi tersebut ke
dunia luar.
Dalam setiap kesempatan di Kota Atambua saya selalu
melihat antrian panjang di SPBU dan jam 10 sampai jam 2.
Selanjutnya bahan bakar hampir selalu habis. Susah
dibayangkan, kota sekecil Atambua memiliki lima SPBU
bersubdisi dan satu SPBU non subsidi, namun bahan bakar
selalu habis di sore hari. Istilah orang Atambua untuk profesi
penjual bensin adalah tap bensin, yang sebenarnya berarti
menyedot bensin dari penampungannya menggunakan selang
kecil.
Di luar kegiatan kerja informal mereka, perilaku
konsumsi minuman beralkohol cukup tinggi. Saya teringat
saat makan malam pertama di Kota Atambua dalam
perjalanan pulang kami melihat beberapa pemuda sedang
duduk melingkari botol minuman, seorang teman Jepangku

181
Membangun Masa Depan Generasi di Pulau Kering

Miho Nozue memberikan pertanyaan yang cukup membuatku


tersentak, “They all is Christian, so why do they drink till hang
up?” Dalam kacamata orang asing, kita semua beragama.
Tidak ada yang atheis, namun mereka tidak mengerti ada
istilah agama KTP.
Perilaku konsumsi minum minuman keras di Atambua
mungkin seperti di NTT pada umumnya berawal dari
kebutuhan sosial. Minuman keras bertujuan untuk
mengakrabkan diri. Tujuan lain juga sebagai bentuk
‘komunikasi’ dengan leluhur saat acara adat tertentu. Kira-
kira seperti itulah hasil penelitian Irene Makasar, mahasiswa
bimbingan skripsi saya di Desa Tolama sekitar 17 kilometer
dari Kota Atambua. Jika memang untuk tujuan itu, volume
konsumsi tidak seharusnya besar sampai mabuk, tidak
mungkin setiap hari bertemu teman baru atau teman yang
lama tidak berjumpa, serta tidak tiap hari dilakukan upacara
adat. Sehingga acara minum tidak harus terjadi seperti
sekarang di mana konsumsi sering melebihi batas.
Kembali lagi pada kunjungan kami di SD Tini. Makanan
yang telah dikemas dibawa ke sekolah pada pukul 08.00. Pada
kegiatan PROGAS, murid-murid bukan hanya diberi makan
namun juga dilatih tentang kebersihan dan tata karma.
Mereka diberi tempat minum yang wajib dibawa tiap air
berisi air bersih sebagai air minum mereka. Kemudian mereka
dibiasakan mencuci tangan sebelum makan, khusus murid
kelas tiga sampai kelas enam diwajibkan mencuci alat makan
sebelum dikumpulkan, selain tangan, kuku serta rambut
mereka diperiksa setiap hari. Sebagai penerapan tata krama,

182
Jelajah Nusantara #4

mereka dibiasakan mengantri, mengucapkan terimakasih dan


berdoa sebelum makan.

Gambar 3. Para murid SD Tini antri mencuci tangan dan berdoa sebelum
makan
Sumber: Dokumentasi Penulis

Selanjutnya setelah mengobrol dengan bapak kepala


sekolah dan berkunjung ke Kantor Dinas Kesehatan, kami
mengunjungi lagi SD Tenubot. Tidak seperti di SD Tini
sebelumnya yang agak mendadak, rupanya kedatangan kami
Tenubot telah diketahui sebelumnya sehingga mereka telah
mempersiapkan selebrasi penyambutan.
Sejumlah anak-anak menarikan tarian bidu. Tarian
bidu adalah tarian yang dilakukan oleh dua laki-laki bersama
enam sampai delapan wanita. Asal mula tarian bidu adalah
tarian pergaulan yang bertujuan untuk mencari jodoh.
Tahapan mencari jodoh disebut dengan hameno bidu di mana
mereka berjanji untuk berkumpul dan menari disaksikan oleh
orang tua dan beberapa warga. Selanjutnya jika pemuda
menandai wanita idamannya dan disetujui maka berlanjut ke
proses hanimak yaitu perkenalan lebih dekat atas ijin
orangtua. Proses selanjutnya adalah binor atau tukar

183
Membangun Masa Depan Generasi di Pulau Kering

menukar barang seperti kain, tempat sirih, pakaian dan


lainnya. Selanjutnya mama lulik atau peminangan lalu diakhiri
dengan mama tebes yaitu membicarakan acara pernikahan.

Gambar 4. Murid
SD Tenubot
mementaskan
Tarian Bidu
Sumber:
Dokumentasi
Penulis

Tarian ini merupakan paduan gerakan lemah gemulai


dan kekuatan. Seorang sahabat saya dosen sosiologi Undana
pernah menjelaskan bahwa semakin gemulai dan semakin
rendah posisi tubuh dianggap semakin baik. Jika memang
seperti itu maka sebenarnya semakin sering berlatih tari bidu
akan semakin meningkatkan kekuatan dan kelentukan otot
paha yang nanti akan berpengaruh pada kekuatan jantung
dan paru-paru yang tercermin dan VO2max yang baik, dan
terakhir akan berpengaruh pada kadar gula lemak dan

184
Jelajah Nusantara #4

trigliserida darah. Gerakan tarian ini mirip tarian legok Bali


dan penelitian telah membuktikan hal di atas.
Setelah selesai acara di SD Tenubot, kami melanjutkan
dengan makan siang di Kota Atambua, kemudian berlanjut.
menuju ke SoE dengan mobil sewaaan. Sepanjang tepian jalan
masih terlihat rumah-rumah mungil yang mengundang salah
satu teman Jepang saya untuk bertanya. “Is that the house for
living?” Rupanya gambaran kemiskinan yang sudah dianggap
“biasa” karena telah menetap lama dan mungkin semua pihak
putus asa untuk membenahinya masih mengundang tanda
tanya heran dari orang-orang asing. Bahkan bagi teman-
teman saya yang pernah pergi ke Bangladesh dan Afrika.
Seperti cerita saya sebelumnya, sangat sulit mencari
bensin di Kota Atambua setelah lewat tengah hari, maka kami
mengisi bahan bakar di sebuah SPBU di Halilulik (sekitar 20
KM dari Atambua). Di SPBU tersebut beberapa anak-anak
sedang menjual keripik pisang. Karena terpikir bahwa keripik
pisang buatan lokal tentunya bisa menjadi cemilan yang
menguntungkan kedua pihak jika dibeli. Untuk pembuat, bisa
menggerakkan aktifitas ekonomi mereka. Untuk saya sebagai
pembeli, saya bisa mendapatkan karbohidrat alternatif tanpa
tambahan zat kimia berbahaya. Kebiasaan ngemil dapat
mengurangi mabuk jalan yang biasa saya alami. Bagi
lingkungan aman karena pembuatan dan transportasinya
tidak terlalu meninggalkan jejak karbon. Namun saat saya
memakannya, pandangan mata penuh heran diberikan Miho
kepadaku sambil bertanya, “Are you still hungry?” Saya malu
untuk menjelaskan tentang kebiasaan mabuk jalanku. Tetapi

185
Membangun Masa Depan Generasi di Pulau Kering

tentang alasan agar membantu anak-anak penjual keripik


tersebut coba saya bagi. Harganya pun sangat murah, per
bungkus seribu rupiah. Akan menjadi beberapa kali lipat jika
cemilan saya diganti makanan kemasan di swalayan buatan
pabrik.
Kami tiba di Kota SoE pada pukul tujuh malam. Saat
menghubungi dua kepala sekolah yang akan kami kunjungi
esok hari, tidak lupa saya menambahkan pesan dengan frase
‘jangan repot’. Dua kata itu sering harus disampaikan pada
mereka. Kebiasaan menerima tamu yang ketimuran sangat
kental pada etnis Dawan. Terlebih lagi saya datang bersama
tamu dari luar negeri.
Orang Dawan menyebut diri mereka dengan istilah
atoin meto, sedangkan orang luar dan bangsawan mereka
ditempatkan pada tempat yang tinggi dengan sebutan atoin
kase. Sebutan ini berdampak pada cara mereka
memperlakukan tamu dari luar dan bangsawan. Stratifikasi
sosial yang terbentuk tersebut telah turut berpengaruh pada
distribusi makanan dalam keluarga. Makanan terbaik milik
mereka tidak langsung diberikan pada anak-anak tetapi
dipersiapkan untuk menyambut atoin kase. Tentu saja saya
tidak mau menjadi bagian dari hal tersebut.
Keesokan harinya kami mengunjungi SD Kobelete.
Bapak Kepala Sekolah mengajak kami ke sebuah rumah tidak
jauh dari sekolah yang menjadi dapur untuk PROGAS di
sekolah tersebut. Seperti kebiasaan menerima tamu oleh
etnis Dawan, ritual oko mama dilakukan. Ritual itu berupa
pengalungan selendang dan penyajian sirih pinang. Dengan

186
Jelajah Nusantara #4

cepat saya berbisik kepada teman-teman Jepang untuk


menyimpan saja sirih, pinang dan kapur di saku mereka.
Namun mereka penasaran untuk mencicipi sehingga hampir
semua kaget dengan rasa sepat dan tajam dari campuran
ketiga ‘cemilan’ khas Timor tersebut. Kebiasaan mengunyah
sirih sebenarnya telah menjadi kebiasaan di beberapa
belahan dunia. Namun di Kabupaten TTS, kebiasaan ini
dilakukan oleh hampir semua masyarakatnya.
Menurut sejumlah orang etnis Dawan yang sempat
saya tanya, mengunyah sirih mengandung arti keseimbangan
tiga unsur. Tanpa ada rumus yang pasti; sirih, pinang dan
kapur harus dicampurkan secara seimbang sehingga memberi
efek yang baik. Sementara beberapa orang yang lain
menyatakan bahwa mereka gelisah jika tidak mengunyah
sirih. Menurut mereka mengunyah sirih dapat merawat gigi,
menghilangkan bau badan dan menambah tenaga.
Pernah saya temui seorang teman polisi di sebuah
polsek saat penelitian saya di TTS tahun 2013, dia sedang
mengeluarkan beberapa tahanan. Katanya, mereka harus
diberi sirih pinang dan sinar matahari. Kalau tidak ditakutkan
mereka bisa mati lemas. Ternyata secara kasat mata
perubahan langsung terlihat. Wajah lelah dan pucat langsung
berubah ceria. mereka pun dimasukkan kembali ke ruang
tahanan.
Kiranya kombinasi dari sirih pinang dan kapur sirih
dapat diteliti lebih jauh secara fitokimia dan fitofarmaka
sehingga dapat diketahui manfaat ilmiahnya. Perilaku ini
sering membuat orang lain resah karena perilaku membuang

187
Membangun Masa Depan Generasi di Pulau Kering

ludah berwarna merah sembarangan sering mengikutinya dan


mengotori ruangan.
Setelah melakukan wawancara terkait PROGAS, kami
mengunjungi lagi SDI SoE. Ternyata sambutan di sana lebih
meriah. Kami disambut dengan ritual natoni. Yang unik di sini,
anak-anak SD sendiri yang menjadi atoni. Natoni merupakan
sebuah ritual adat berupa pembacaan syair-syair adat. Biasa
dialog berupa dialog satu namun di acara tertentu seperti
perkawinan bisa dua arah. Ritual yang asli masih dipraktekkan
suku Boti dalam namun secara keseluruhan masih dilakukan
oleh seluruh etnis Dawan. Orang yang berdialog disebut
atoni. Natoni juga mulai sering dipraktekkan saat menyambut
tamu seperti yang dilakukan terhadap kami kini. Syair yang
diucapkan dalam bentuk pantun yang lebih mirip doa. Arti
kata-katanya kurang lebih bahwa, “…yang terjadi sekarang
adalah kehendak dari Tuhan.” Karena sulitnya syair adat,
Atoni kini sudah langka sehingga melihat murid-murid SD
tersebut saya hanya bisa terpana sehingga lupa
menghidupkan kamera untuk mengambil gambar.

Penutup
Gizi anak sekolah memiliki arti yang sangat penting.
Asupan gizi saat sarapan penting untuk anak menerima
materi pelajaran. Jika asupan tidak cukup di masa ini sudah
dapat dibayangkan masalah yang akan terjadi saat mereka
telah tiba pada usia produktif. Propinsi NTT kini marak dengan

188
Jelajah Nusantara #4

kasus human trafficking. Seandainya kemampuan mereka


memadai, tidak perlu harus mengadu nasib ke luar negeri.
PROGAS telah dilaksanakan dengan mendatangkan
kepuasan bagi murid, guru dan orang tua. Besar keinginan
program ini terus berlanjut. Saat kami selesai hendak pergi
dari SD Tenubot, ibu kepala sekolah memeluk ibu Makiko
teman Jepang saya dan menyampaikan harapan untuk
kelanjutan program ini karena dapat dibayangkan apa yang
akan terjadi nanti. Dia tidak mengatakan apa yang akan
terjadi namun kita semua dapat membayangkan motivasi
para murid yang akan turun. Di samping itu kualitas
pembelajaran mereka sudah pasti menurun. Pertanyaannya,
bagaimana program bisa berlanjut?
Pemerintah pusat telah menggagas program ini
dengan anggaran dari pusat. Namun kita tidak tahu bisa
sampai kapan? Yang pasti kita tahu bahwa majunya bangsa ini
bukan hanya tanggung jawab pemerintah pusat namun juga
Pemerintah daerah bahkan terutama orang tua. Mungkin
berat jika orang tua sendiri menyiapkan sarapan dengan
banyaknya alasan entah ekonomi waktu dan lain-lain. Namun
model program ini bisa diikuti. Biaya yang dikeluarkan
pemerintah hanya 12 ribu rupiah per anak per hari. Namun
menurut Ibu S tante saya yang juga ikut mengelola PROGAS di
Atambua, makanan yang dimasak sering berlebihan. Anak-
anak yang berminat bisa menambah menu bahkan para guru
juga bisa kebagian. Kondisi yang bisa berbeda jika harus
membeli makanan di warung atau rekanan jika memakai
sistem “proyek”. Biaya 12 ribu rupiah bisa bersumber dari

189
Membangun Masa Depan Generasi di Pulau Kering

orang tua, pemda atau gabungan dari keduanya jika tidak ada
lagi biaya dari pemerintah pusat.
Berikutnya adalah bagaimana untuk menjaga stabilitas
ketersediaan pangan sekaligus kesejahteraan masyarakat
termasuk orang tua wali murid agar asupan gizi anak bisa
terpenuhi. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, Pulau
Timor sebenarnya tidak benar-benar kering. Hanya air
melimpah pada tempat, dan waktu tertentu saja. Tinggal
bagaiman kebijaksanaan dari SEMUA pihak. Sengaja saya beri
huruf besar karena sering fasilitas umum hanya dianggap
urusan pemerintah. Sedangkan pemerintah daerah pun
mungkin belum berpikir sampai ke sana.
Pemerintah pusat telah merencanakan sejumlah
bendungan di Pulau Timor. Semua pihak baik masyarakat dan
pemerintah daerah harus mendukung dengan peran masing-
masing. Agar sawah di Desa Bena yang saya ceritakan tadi
semuanya dapat diairi, agar anak-anak Desa Toineke tidak
terganggu ke sekolah karena banjir. Begitupun dampak baik
lainnya pada daerah lain.
Lupakan dulu ego pribadi untuk mencari keuntungan
dengan alasan tanah yang menjadi lokasi bendungan adalah
tanah adat, bersejarah atau lainnya. Jika bisa lebih berguna
tentu tidak akan hilang pengakuan adat pada tanah tersebut.
Jangan menghambat bendungan jangan hanya karena kita
tidak mempunyai lahan yang dialiri air bendungan, toh kalau
produksi pangan meningkat, kita semua mendapat manfaat
pangan yang beragam dengan harga murah.

190
Jelajah Nusantara #4

Pikirkanlah generasi penerus dengan memberi mereka


asupan gizi yang cukup. Karena sejarah dan adat negeri kita
akan hilang jika mereka tidak tumbuh menjadi generasi yang
unggul. Adat akan hilang karena tidak ada lagi yang bisa
menjadi Atoni atau penerus tradisi Hameno Bidu. Sejarah juga
bisa hilang kalau kebanyakan generasi muda hanya mengadu
nasib di luar negeri, hanya menjadi penjual bensin atau
pencari batu mangan. Tidak mungkin menjadi generasi unggul
karena sejak SD mereka hadir ke sekolah dengan menahan
lapar dan mengantuk.

191
Membangun Masa Depan Generasi di Pulau Kering

192
Mengenal Negeri Marapu Sumba Timur
Catatan Pendampingan Program STBM

Diana Debi Timoria

Sebelumnya, saya ingin menyampaikan beberapa hal


terkait tulisan yang saya buat karena mungkin sedikit berbeda
dengan tulisan-tulisan lainnya. Pertama tulisan ini bukan
berisi pengalaman saat melakukan aktivitas penelitian
kesehatan seperti tulisan lainnya sebab sampai saat ini saya
belum mendapat kesempatan untuk itu selain melakukan
penetilian untuk skripsi saya beberapa tahun lalu.
Kedua, ketika teman-teman lainnya menuliskan
tentang pengalaman mereka keluar daerah yang jauh dari
tempat tinggal mereka, saya malah menuliskan tentang
kabupaten saya sendiri hehehehe… karena setelah
diwisudakan pada awal tahun 2015 lalu, saya selalu bekerja

193
Mengenal Negeri Marapu Sumba Timur

pada lembaga-lembaga yang berada di kabupaten saya


sendiri dan itu memberikan saya kesempatan menjelajah dan
mengenal daerah saya lebih jauh, dan saya bersyukur untuk
itu.
Ketiga, saya telah bekerja di dua lembaga, namun
hanya lembaga pertama yang benar-benar berkonsentrasi
pada masalah kesehatan masyarakat, karena itu saya
menuliskan pengalaman pada lembaga itu meski mungkin
tahunnya sudah agak lama berlalu karena kontrak saya
berakhir diakhir tahun 2015. Tetapi saya meyakini, bahwa
melalui pengalaman ini mungkin saya dapat sedikit
memberikan manfaat bagi pembaca.

Sekilas Tentang Sumba Timur


Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu
kabupaten yang terletak di Pulau Sumba–NTT dan Secara
astronomis terletak antara 119°45–120°52 Bujur Timur (BT)
dan 9°16–10°20 Lintang Selatan (LS). Berdasarkan posisi
geografisnya, Kabupaten Sumba Timur memiliki batas-batas
wilayah sebagai berikut; Utara berbatasan dengan Selat
Sumba; Selatan berbatasan dengan Lautan Hindia; Timur
berbatasan dengan Laut Sabu; dan Barat berbatasan dengan
Kabupaten Sumba Tengah.
Secara geografis, Kabupaten Sumba Timur memiliki
wilayah seluas 7000,5 Km², sedang wilayah laut seluas
8.373,53 Km² dengan panjang garis pantai 433,6 Km. Luasan
ini tersebar pada satu pulau utama (Pulau Sumba) dan tiga

194
Jelajah Nusantara #4

pulau kecil yaitu Pulau Prai Salura, Pulau Mengkudu dan Pulau
Nuha (belum berpenghuni). Sekitar 40% luas Sumba Timur
merupakan daerah yang berbukit- bukit terjal terutama di
daerah bagian Selatan, dimana lereng-lereng bukit tersebut
merupakan lahan yang cukup subur, sementara daerah
bagian Utara berupa dataran yang berbatu dan kurang subur.

Gambar 1. Peta kabupaten Sumba Timur


Sumber: website kabupaten Sumba Timur

Secara administratif Sumba Timur terdiri dari 22 buah


Kecamatan dan 156 buah Desa/Kelurahan. Data Sumba Timur
Dalam Angka tahun 2015 menunjukkan bahwa penduduk
Sumba Timur berjumlah 245.260 jiwa yang terdiri dari laki-
laki 126.065 jiwa dan perempuan 119.195 jiwa .

195
Mengenal Negeri Marapu Sumba Timur

Berdasarkan data Sumba Timur dalam angka tahun


2015, fasilitas kesehatan yang terdapat di Sumba Timur terdiri
dari 3 Rumah Sakit, 22 Puskesmas, 82 Puskesmas Pembantu,
72 Polindes, dan 550 Posyandu.
Selain menganut agama yang diakui negara yakni
Katolik, Kristen Protestan, Islam, Hindu dan Budha, masih
terdapat penduduk Sumba Timur yang menganut
kepercayaan lokal, kepercayaan marapu. Kepercayaan
marapu ini merupakan sebuah kepercayaan yang mengatur
keseimbangan relasi antara manusia dengan Tuhan, manusia
dengan alam, dan manusia dengan sesama manusia lainnya
melalui penerapan nilai-nilai moral dan aktivitas ritual yang
telah dilakukan sejak dahulu.
Beberapa ritual masih dilakukan hingga saat ini,
seperti ritual dalam upacara kematian penganut marapu,
ritual meminta hujan pada sang Pencipta, ritual ‘kalarat wai’
yakni sebuah ritual untuk menjaga kelestarian sumber air dan
beberapa ritual lainnya. Dalam ritual adat biasanya dilakukan
hamayang (sembayang) dengan melantunkan syair-syair adat
dan mengorbankan ayam atau babi agar dapat ‘dibaca’
jantungnya. Melalui jantung ayam atau babi itulah para
marapu menitipkan pesan dan pesan itu hanya bisa ‘dibaca’
oleh para rato atau pendoa penganut marapu.
Bagi penganut kepercayaan marapu, yang mereka
imani tidak disebutkan secara langsung melainkan melalui
bahasa kiasan seperti ‘Mambakulu Wumata, Mambalaru
Kahilu’ (Yang besar mata, Yang lebar telinga) artinya Maha

196
Jelajah Nusantara #4

Tahu. Selain itu masih terdapat beberapa sebutan lainnya


yang menunjukkan betapa tingginya kemulianNya.
Selain dikenal dengan kepercayaan marapu, Sumba
Timur juga memiliki beragam keunikan. Kecantikan tenun
ikatnya sejak dulu telah terkenal dan menjangkau pasar
internasional dan kini makin digiatkan lagi promosinya
dengan bantuan internet. Selain itu, padang sabana yang luas
juga merupakan salah satu potensi untuk ternak di Sumba
Timur dan sejak dahulu Sumba pada umumnya telah dikenal
sebagai pulau sandelwood yakni pulau yang terdapat banyak
kuda-kuda sandelwood meski kini jenis kuda sandel sudah
jarang ditemukan karena telah dilakukan kawin silang dengan
beberapa jenis kuda dari luar Sumba.
Di Sumba Timur juga dikenal sistem strata sosial.
Adapun yang saya maksud degan sistem strata sosial ini
adalah sebuah sistem sosial yang telah ada sejak dulu dalam
kehidupan masyarakat Sumba dimana dalam kehidupan
bermasyarakat dikenal empat strata atau kelas sosial yakni
kelas rato (imam Marapu, pemimpin agama), maramba
(golongan ningrat, raja), kabihu (orang kebanyakan, orang
merdeka), dan ata (golongan hamba yang biasanya mengabdi
pada golongan maramba/raja). Di pedesaan pengaruh sistem
sosial ini masih sangat terasa dalam kehidupan masyarakat
dan terkadang tanpa disadari hal ini mempengaruhi respon
masyarakat terhadap berbagai kebijakan yang ada termasuk
yang berhubungan dengan kesehatan.

197
Mengenal Negeri Marapu Sumba Timur

Sanitasi di Lewa Tidahu


Sebagai seseorang yang pernah melakoni pekerjaan
pendamping lapangan (PL) pada sebuah yayasan di Sumba
Timur, saya ingin membagikan pengalaman terkait
pendampingan untuk sebuah masalah kesehatan masyarakat
di salah satu kecamatan di Sumba Timur. Program itu
merupakan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
(STBM) kerja sama antara Yayasan Pahadang Manjoru Sumba
Timur dengan UNICEFF. Saya mengisi posisi yang kosong,
setelah sebelumnya program ini telah berjalan didampingi
oleh tenaga senior di Yayasan ini.
Ada dua belas kecamatan yang didampingi untuk
program ini, namun hingga akhir tahun 2015 hanya satu
kecamatan yang berhasil mendeklarasikan wilayahnya dalam
sebuah sumpah adat sebagai wilayah bebas buang air besar
sembarangan atau ‘bebas tai wewar’ dalam bahasa daerah.
Kecamatan tersebut adalah kecamatan Katala Hammu Lingu.
Saya mendapat tugas di Kecamatan Lewa Tidahu,
sekitar 60 km jauhnya dari Kota Waingapu. Saya belum
pernah mendatangi kecamatan tersebut, namun kenyataan
ini tidak menyurutkan semangat saya untuk bekerja karena
bagi saya belum mengetahui lokasi tempat kerja bukanlah
sebuah halangan melainkan sebuah tantangan yang harus
saya jalani.
Setelah beberapa kali bertanya pada penduduk yang
saya temui di jalan serta sempat salah jalan, akhirnya saya
sampai di Kantor Camat Lewa Tidahu. Rata-rata perjalanan

198
Jelajah Nusantara #4

biasa saya tempuh dengan waktu sejam lebih, hal ini di


sebabkan jalan yang meliuk-meliuk membuat laju motor
harus dalam keadaan terkendali. Untunglah pemandangan
sepanjang perjalanan cukup indah dinikmati walau kadang-
kadang di musim kemarau banyak padang yang terbakar
untuk tujuan mempercepat pertumbuhan rumput untuk
ternak. Sebaliknya pada musim hujan, bukit-bukit nampak
hijau.

Gambar 2. Kebakaran Padang yang biasa terjadi saat musim kemarau


Sumber: Dokumentasi Penulis

Menjelajah desa-desa di Kecamatan Lewa Tidahu


membutuhkan kesabaran untuk melewati jalanan rusak,
belum diaspal, menurun dan mendaki. Kecamatan Lewa
Tidahu memiliki enam desa yang semuanya harus didampingi,
yaitu Desa Lai Hau, Desa Kangali, Desa Bidipraing, Desa
Watumbelar, Desa Umamanu dan Desa Mondulambi. Namun
sebagai pendamping lapangan, saya tidak sendiri, masing-

199
Mengenal Negeri Marapu Sumba Timur

masing desa telah memiliki tim STBM desa dan tim STBM
kecamatan yang melibatkan tokoh pendidikan, tokoh
masyarakat, tokoh agama, Babinsa, aparatur desa dan
kecamatan, kader posyandu dan sanitarian Puskesmas.
Kegiatan yang dilakukan adalah pemicuan di tingkat
dusun yang dilakukan oleh tim STBM kecamatan dan desa
yang telah dibentuk di awal pendampingan melalui diskusi
bersama camat dan sanitarian. Sebelumnya terlebih dahalu
dilakukan pelatihan di tingkat kecamatan oleh seorang
fasilitator kabupaten didampingi sanitarian Puskesmas.
Pelatihan itu melibatkan tim STBM kecamatan dan desa dan
berlangsung selama dua hari. Hari pertma merupakan
pemberian materi terkait jamban keluarga yang meliputi
pentingnya penggunaan jamban, serta cara membuat jamban
keluarga yang sederhana dengan memanfaatkan benda-
benda yang dimiliki oleh keluarga.
Pada hari pertama juga dijelaskan cara melakukan
pemicuan karena setiap anggota tim harus menjadi kader
STBM yang bisa turut mengambil bagian dalam mengubah
pola pikir dan perilaku masyarakat terkait jamban sehat demi
kesehatan bersama. Pada hari kedua dilakukan praktek
pemicuan yang dilakukan di salah satu RT yang terletak di
Desa Bidipraing. Di desa itu salah satu tim STBM kecamatan
melakukan pemicuan sesuai dengan yang telah diajarkan
pada pelatihan hari sebelumnya. Beliau adalah seorang
pendeta yang juga bertugas di Desa Bidipraing. Pada saat
melakukan pemicuan tersebut sang pendeta sempat berujar
bahwa ia merasa senang dilibatkan dalam tim STBM karena

200
Jelajah Nusantara #4

pada akhirnya ia bisa memahami bahwa ia bukan saja dapat


melayani masyarakat untuk kesehatan spritual tapi juga turut
mengambil bagian dalam usaha menyehatkan fisik
masyarakat yakni melalui usaha meningkatkan kesadaran
masyarakat terhadap jamban sehat.

Gambar 3. Persiapan Pemicuan


Sumber: Dokumentasi penulis

Pemicuan terus dilakukan hingga tingkat dusun. Selain


menggunakan rumah warga pemicuan juga dilakukan di
Posyandu yang terdapat di Kecamatan Lewa Tidahu. Setelah

201
Mengenal Negeri Marapu Sumba Timur

pemicuan, di lakukan monitoring bersama tim STBM


kecamatan desa serta evaluasi setiap bulan pada masing-
masing desa.

Gambar 4. Praktek pemicuan


Sumber: Dokumentasi penulis

Potensi Wisata Alam di Kecamatan Lewa Tidahu


Selama melakukan tugas sebagai pendamping
lapangan di Kecamatan Lewa Tidahu saya juga
menyempatkan diri mengunjungi tempat wisata yang ada di
Lewa Tidahu. Ada dua tempat yang saya kunjungi. Yang
pertama adalah air terjun Panjilu Watu atau Batu Tempayan,
karena terjunan air ini ditampung dalam sebuah kolam
berbentuk tempayan yang kemudian dijatuhkan pada kolam-

202
Jelajah Nusantara #4

kolam kecil lainnya dan seteruskan dialirkan hingga ke dalam


hutan. Ada beberapa terjunan air di lokasi ini. Sebagian besar
pengunjung mengenal tempat ini dengan nama air terjun
Taman Jodoh, ada beberapa versi cerita yang saya dengar
tentang penamaan ‘taman jodoh’ tapi saya tidak
menuliskannya di sini, bagi saya lebih baik kalau tempat itu
dikenal dengan nama lokal atau nama asli yang memang telah
dikenal sejak dulu.

Gambar 5. Air terjun Panjilu Watu saat musim hujan


Sumber: Dokumentasi Penulis

Air terjun Panjilu Watu ini berada di desa Umamanu.


Sudah beberapa kali saya ke air terjun ini, karena kadang saya
harus membawa teman-teman yang juga ingin mengunjugi
tapi mereka tidak mengetahui rutenya karena berada di
dalam hutan. Ketika musim hujan debit air yang terdapat di

203
Mengenal Negeri Marapu Sumba Timur

air terjun ini sangat besar hingga menghasilkan suara yang


keras dari banyaknya air yang jatuh serta memberikan kesan
hijau yang pekat di bagian kolamnya. Kondisi ini berbeda
dengan saat musim kemarau karena pada musim kemarau
debit air sangat sedikit bahkan kadang tidak mencapai bibir
kolam tempat terjunan air ditampung.

Gambar 6. Air terjun Panjilu Watu saat musim hujan


Sumber: Dokumentasi Penulis

Tempat wisata kedua yang saya kunjungi adalah Pantai


Mondulambi. Pantai ini terletak di Desa Mondulambi. Ketika
ke desa ini saya dipesan oleh warga untuk memastikan rem
motor saya bekerja dengan baik dan motor saya harus
mampu mendaki. Awalnya saya tidak mengerti, namun ketika
melewati jalan menuju ke Desa Mondulambi saya jadi
mengerti kenapa saya dipesan seperti itu.

204
Jelajah Nusantara #4

Gambar 7. Terjunan air lain di lokasi air terjun Panjilu Watu


Sumber: Dokumentasi Penulis

Saat itu saya memboncengi salah satu teman saya


yang juga ikut sekedar menghabiskan waktu karena kebetulan
ia belum mendapatkan pekerjaan. Kami juga bersama dengan
salah satu tim STBM kecamatan yakni Babinsa yang bertugas
di Kecamatan Lewa Tidahu.
Kami bertiga mulai meninggalkan desa Umamanu dan
menuju ke Mondulambi. Seperti layaknya pemandangan

205
Mengenal Negeri Marapu Sumba Timur

dalam perjalanan ke desa-desa di Sumba, kami disuguhkan


pemandangan alam berupa jajaran bukit-bukit di sepanjang
jalan. Pada sebuah lintasan, kami harus menurun tajam
sambil berbelok-belok mengitari bukit hingga sampai ke dasar
bukit dan itulah yang dimaksudkan dalam pesan tentang rem
motor. Memang cukup curam, saya bisa mengerti mengapa
saya dipesan seperti itu.
Di rumah salah seorang kepala dusun, kami sempat
berbincang-bincang tentang jamban di desa Mondulambi.
Saat itu, jumlah rumah yang memiliki jamban tidak mencapai
50%.

Gambar 8. Pengambilan data di salah satu dusun di Desa Umamanu


Sumber: Dokumentasi Penulis

Setelah mengambil data pengguna jamban di Desa


Mondulambi, kami bertiga di temani salah satu tim STBM
kecamatan menuju ke Pantai Mondulambi. Ada pun pantai ini

206
Jelajah Nusantara #4

sudah beberapa kali saya dengar selama bertugas di


kecamatan ini, namun belum ada kesempatan untuk
mengunjunginya.
Untuk sampai ke tempat ini kami melintasi sisi lain
Desa Mondulambi, lalu melintasi setapak melalui hutan dan
sampailah kami di Pantai Mondulambi atau yang biasa
disebut Pantai Candi, karena di pantai itu terdapat karang
yang menjulang runcing berbentuk candi. Saya pernah
melihat foto salah seorang teman yang memamerkan foto-
fotonya ketika sore hari di tempat itu, sangat cantik, karena
memperlihatkan siluet karang berbentuk candi dengan
matahari yang muncul di sela karang.

Gambar 9. Bagian pantai Mondulambi yang menunjukkan tonjolan karang


berbentuk candi
Sumber: Dokumentasi Penulis

Namun sayang sekali, ketika kami ke sana, kami tak


bisa mencapai bagian itu karena ada genangan air laut yang

207
Mengenal Negeri Marapu Sumba Timur

memisahkan tepian tempat kami berdiri dan karang itu. Jika


hendak kesana kami harus menunggu lagi hingga air laut
surut. Kami memang kurang beruntung, tapi tetap saja pantai
itu terlihat indah.

Berbagi Pengalaman Sesama Pendamping Lapangan


Saya meyakini bahwa salah satu cara belajar yang baik
adalah melalui sharing atau cerita berbagi pengalaman
dengan sesama pendamping lapangan. Selain bisa saling
memotivasi, kita juga bisa saling mendengarkan masalah yang
dihadapi serta memberikan solusi. Bukan hanya itu, kita juga
dapat mengetahui praktek cerdas dan kreatif yang dilakukan
pendamping lain di lokasi mereka. Praktek-praktek tersebut
mungkin saja dapat diadaptasi oleh wilayah lain. Kegiatan
berbagi pengalaman ini terjadi setiap akhir bulan.
Dari hasil berbagi pengalaman sesama PL yang biasa
dilakukan dalam bentuk sharing bersama staf Yayasan dan
semua PL saya dapat menarik kesimpulan bahwa ada
beragam permasalahan yang ditemui masing-masing PL.
Selain medan yang jauh dan susah ditempuh karena belum
diaspal, menurun yang curam dan tanjakan yang tinggi,
jalanan berbatu lepas dan berdebu, masalah paling menarik
buat saya adalah persoalan strata sosial pun mempengaruhi
aktivitas kerja teman-teman pendamping lapangan di
beberapa desa. Poin terakhir yang saya tuliskan tadi
membutuhkan lebih dari sekedar ketangguhan menghadapi
medan yang sulit, hal ini membutuhkan kecerdasan berpikir

208
Jelajah Nusantara #4

dan keterampilan berkomunikasi yang baik agar dapat


memberikan pengaruh positif bagi masyarakat.
Masih dari hasil diskusi yang sama, selain giat
melakukan pemicuan di masing-masing desa bahkan hingga
tingkat dusun, melakukan monitoring yang teratur serta
melakukan pertemuan bulanan bersama masyarakat,
beberapa teman bersama sanitariannya dengan cerdas
menyiasati keadaan dengan cara-cara yang dapat diadaptasi
dengan mudah, seperti menggunakan bendera hitam dan
putih di halaman rumah masyarakat. Adapun bendera
berwarna hitam bertujuan untuk menunjukkan siapa pun
yang melihat bendera tersebut akan mengetahui bahwa
keluarga pemilik rumah belum memiliki jamban dan bendera
putih menunjukkan hal yang sebaliknya yakni keluarga yang
memasang bendera tersebut telah memiliki jamban keluarga.
Hal ini dilakukan untuk menimbulkan efek malu dan jera pada
keluarga yang belum memiliki jamban karena dengan adanya
cara seperti itu akan ketahuan mana yang belum memiliki
jamban dan mana yang sudah memiliki jamban.
Perasaan malu itu tentu akan memotivasi pemilik
rumah agar berusaha membuat jamban sehingga mengganti
perasaan malu dengan kebanggaan karena sudah memiliki
dan menggunakan jamban. Cara ini berhasil di kecamatan
yang telah melakukan deklarasi, dan mulai diadopsi
kecamatan lain. Semoga bisa melahirkan kecamatan-
kecamatan yang siap deklarasi ‘bebas buang air besar
sembarangan’ ke depannya.

209
Mengenal Negeri Marapu Sumba Timur

Ketersediaan air bersih juga merupakan sebuah


masalah yang mempengaruhi minat masyarakat untuk
membuat jamban. Namun fasilitator yang melatih tim STBM
kecamatan dan desa untuk melakukan pemicuan dan
membantu proses pendampingan berhasil menggugah
semangat dan optimis masyarakat setelah mengatakan
bahwa sekalipun tidak memiliki air bersih tetap saja kita
melakukan aktivitas membuang air besar setiap hari, yang
harus dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit adalah
memfokuskan tinja pada satu titik yakni lubang pembuangan
dan ini bisa dilakukan dengan air dalam jumlah yang sedikit
tentu saja setelah menggali lubang pembuangan, membuat
celah tempat pembuangan, mendirikan dinding sederhana
(bisa menggunakan gedek bambu, bekas spanduk, daun
kelapa yang disusun rapi dan bahan-bahan lain yang mudah
didapatkan di desa), dan bila memungkinkan membuat atap
yang juga sederhana.
Masalah lain seperti medan yang berat karena
tempat yang jauh, tidak terdapat listrik atau pun sinyal,
jalanan rusak bahkan belum sempat diaspal (berdebu saat
kemarau dan licin saat hujan), jalanan dengan turunan dan
tanjakan yang mengitari bukit dan masih banyak masalah
terkait medan yang dihadapi, tapi saya pikir tidak perlu
dibahas lebih mendalam karena bagi saya, seorang sarjana
kesehatan masyarakat sudah siap untuk itu. Seorang sarjana
kesehatan masyarakat sudah ditempa dan disiapkan untuk
mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat guna
menemukan solusi yang tepat sasaran dari berbagai masalah

210
Jelajah Nusantara #4

kesehatan di masyarakat. Untuk menemukan solusi itulah


seorang sarjana kesehatan masyarakat harus terjun dalam
kehidupan masyarakat itu sendiri, bergaul bersama
masyarakat, dan memaknai cara hidup masyarakat dengan
bijak.
Seorang sarjana kesehatan masyarakat yang tangguh
telah siap di mana pun ia ditempatkan bahkan jika tempat itu
adalah tempat yang asing baginya, bahkan ia harus tinggal di
tempat itu untuk waktu yang lama. Karena itulah kecerdasan
memahami masalah yang berkembang di masyarakat dapat
membuat seorang sarjana kesehatan masyarakat menemukan
strategi yang tepat sasaran untuk membantu memperbaiki
derajat kesehatan masyarakat menjadi lebih baik sehingga
keberadaan seorang sarjana kesehatan masyarakat di suatu
tempat dan pada jangka waktu tertentu tidak menjadi sia-sia.
Sebagai seorang sarjana kesehatan masyarakat yang usia
sarjana saya masih terlalu muda, saya selalu menantikan
kesempatan-kesempatan lain untuk menjelajah negeri ini
demi mengambil bagian dari peningkatan derajat kesehatan
masyarakat.

211
Mengenal Negeri Marapu Sumba Timur

212
Manggarai Timur Mengejar Ketertinggalan

Zulfadhli Nasution

Setelah lama asyik terbuai dengan belajar di kelas


yang nyaman atau mencari data dan fakta empiris hanya dari
lembaran-lembaran kertas atau artikel di layar laptop,
akhirnya tiba juga kesempatan bagi saya untuk kembali
mengecap ilmu dari fakultas kehidupan dengan para pengajar
di kelas-kelas informal. Riset Etnografi Kesehatan 2016 yang
dihelat Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan
Manajemen Kesehatan, Kementerian Kesehatan menjadi
ajang bagi saya untuk kembali ke masyarakat, bukan hanya
untuk meneliti fenomena di masyarakat, melainkan juga
belajar bagi diri saya pribadi.
Dalam kurun Mei-Juni 2016, termasuk sebelumnya
survei lima hari di bulan April, saya beserta dua kolega lain

213
Manggarai Timur Mengejar Ketertinggalan

ditugaskan untuk menetap di Kabupaten Manggarai Timur,


Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagai hasilnya, kami
akan memproduksi buku dengan metodologi ilmiah
berdasarkan penelitian tersebut. Sedangkan dalam tulisan ini,
perkenankan saya mengisahkan hal-hal lain yang saya pelajari
selain dari aspek akademis. Mungkin bisa dikatakan ini adalah
kisah personal saya dalam menjelajahi salah satu bagian
Nusantara itu.

Meneliti untuk Belajar


Secara personal, pengalaman mengunjungi Manggarai
Timur ini menjadi menarik. Pertama, karena ternyata riset ini
dijadualkan untuk dilaksanakan hanya dua hari setelah saya
menikah. Tapi ini terlalu personal, tidak akan dibahas.
Hehehe. Toh, pada akhirnya saya berhasil meminta izin dari
penanggung jawab riset untuk memulainya sekitar lima hari
lebih telat dibanding tim yang lain atas pertimbangan
tersebut.
Yang kedua, secara akademis, penelitian ini
menantang saya untuk mengkombinasikan antara ilmu
kesehatan sebagai latar belakang keilmuan saya di tingkat
strata satu, dan juga sebagian ilmu sosial yang saya dapatkan
(dan ternyata aspek ini lebih saya senangi) di tingkat strata
dua yang baru saya selesaikan saat itu. Faktanya, saya pun
ditempatkan sebagai peneliti sosial dalam tim, untuk
mendampingi satu peneliti utama dan satu peneliti kesehatan
masyarakat. Keuntungannya, sedikit banyak saya sudah

214
Jelajah Nusantara #4

terpapar dengan bidang keduanya, dan riset ini menjadi ajang


untuk mempraktekkannya.
Namun demikian, tetap saja tidak akan mudah untuk
melakukan suatu hal di kali yang pertama. Oleh karenanya,
untuk mempersiapkan dan memperlengkapi diri, saya
kembali belajar banyak. Sebelum dan hingga pelaksanaan
riset lapangan, berbagai sumber saya kumpulkan, baca dan
coba untuk pahami, terutama untuk pendalaman metodologi
dan sumber-sumber sejarah, termasuk mengaitkan kedua isu
yaitu kesehatan dan sosial.
Dalam aspek metodologi misalnya, saya sangat
terbantu dengan buku Ethnography yang disusun Paul
Atkinson dan Martyn Hammersley, dan berbagai artikel dari
jurnal lain yang memanfaatkan etnografi untuk kepentingan
penelitian bidang kesehatan. Sementara sumber-sumber lain
mengenai Manggarai Timur, saya juga mendalaminya dari
karya-karya Verheijen (Kamus Manggarai dan Wujud
Tertinggi-nya), Dami N. Toda, Robert Lawang, Mirsel, Deki,
dan beberapa yang lainnya. Berkaitan dengan ini, saya
berterima kasih kepada Perpustakaan Nasional Indonesia
yang menyediakan banyak rujukan tersebut yang diakses
daring maupun langsung di tempat. Kemudian Seminari Kisol
yang sempat saya kunjungi dan bertemu dengan Romo Silvi
dan beberapa Romo lain untuk beberapa sumber,
Perpustakaan Daerah Manggarai Timur di Kecamatan Borong.
Oh ya, saya juga sempat berkorespondensi melalui surel
dengan Ibu Maribeth Erb, seorang yang telah lebih banyak
meneliti tentang Flores, termasuk di antaranya Labuan Bajo
yang artikelnya bisa diakses dalam jurnal-jurnal internasional.

215
Manggarai Timur Mengejar Ketertinggalan

Juga salah seorang koresponden Kompas.com dan the Jakarta


Post, Bapak Markus Makur yang tinggal di Manggarai Timur.
Aspek menarik yang ketiga, lokasi penelitian ini
terletak di pulau yang sedang menjadi tren destinasi wisata,
yaitu Flores. Selain karena keindahan alamnya, secara sosial
saya juga merasa senang untuk belajar hidup berdampingan
dengan masyarakat yang selama ini belum saya kenali karena
terpisah jarak dan karakter sosial demografisnya.

Bentang Alam yang Lengkap Namun Tak Mudah


Terjamah
Dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2007
Pembentukan Kabupaten Manggarai Timur di Provinsi Nusa
Tenggara Timur (NTT) yang terbit pada tanggal 17 Juli 2007,
resmilah terbentuk Kabupaten Manggarai Timur, dengan
ibukota di Kecamatan Borong. Sebelum terpisah menjadi
kabupaten sendiri, Manggarai Timur merupakan bagian dari
Kabupaten Manggarai.
Berada di antara 08°.14’ - 09°.00 Lintang Selatan dan
120°.20’ - 120°.55’° Bujur Timur, kabupaten yang merupakan
bagian dari Flores, Kepulauan Sunda Kecil ini berbatasan
dengan Laut Flores di bagian utara, Laut Sawu di bagian
selatan, Kabupaten Ngada di bagian timur dan Kabupaten
Manggarai di bagian Barat. Topografinya beragam, mulai dari
titik nol dari permukaan laut alias pantai dengan suhu yang
menyengat, hingga perbukitan dan pegunungan yang sejuk
dan dimanfaatkan untuk perkebunan seperti kopi, cengkeh,
cokelat, vanili.

216
Jelajah Nusantara #4

Walaupun ibukota kabupaten dilintasi Jalan Raya


Trans-Flores, namun aksesibilitas ke daerah lain dalam satu
kabupaten belum merata. Infrastruktur jalan yang masih jauh
dari sempurna ditambah minimnya trayek transportasi publik
adalah penyebab yang paling mudah teridentifikasi. Maka
tidak heran, saat penelitian kami pindah ke daerah lain
dengan topografi perbukitan, bisa memakan waktu hingga
dua dan tiga jam, belum lagi jika terjadi longsor yang makin
menghambat perjalanan. Salah satu rekan guru yang
mengajar di Elar Selatan bahkan bisa melalui waktu setengah
hari untuk menuju ke ibukota kabupaten, atau sebaliknya.
Sisi ironi lain adalah pada fasilitas kesehatan setingkat
kabupaten yang masih bertumpu pada Pusat Kesehatan
Masyarakat (Puskesmas). Rumah sakit umum daerah (RSUD)
belum ada, dan sedang dimulai saat penelitian ini dilakukan.
Sehingga untuk kasus-kasus yang membutuhkan penanganan
lebih lanjut, merujuk ke RSUD kabupaten tetangga (Bajawa
atau Ruteng) menjadi solusi yang tidak mudah.
Jika dihitung berdasarkan jenis fasilitas yang tercatat
oleh Badan Pusat Statistik, terdapat 22 Puskesmas, 46
Puskesmas Pembantu (Pustu), 553 Pos Pelayanan Terpadu
(Posyandu), 5 BKIA/Klinik, 11 Pos Bersalin Desa (Polindes), 74
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), dan 17 Puskesmas Keliling
(Pusling). Namun demikian aksesibilitas dan fasilitas yang
tidak merata di wilayah tersebut, membuat beban
penanganan untuk kasus-kasus berat juga menjadi tidak
mudah.

217
Manggarai Timur Mengejar Ketertinggalan

Gambar 1. Peta Kabupaten Manggarai Timur


Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur

Salah satu potensi wisata yang terletak di kabupaten


ini adalah Pantai Cepi Watu, yang saat saya berada di sana
dijadikan sebagai salah satu tempat transit rombongan Tur De

218
Jelajah Nusantara #4

Flores 2016, walaupun para atlit sepeda internasionalnya


tidak singgah. Pantai ini juga menarik karena berhadapan
dengan Poco Ndeki (poco berarti ‘gunung’). Suatu
pemandangan yang saya kira combo bagi penikmat lukisan
alam. Namun demikian, pengelolaan potensi wisata ini bisa
dikatakan masih jauh dari baik. Akses jalan yang berlubang,
tidak ada fasilitas pendukung adalah di antara alasannya.

Gambar 2. Pantai Cepi Watu dan Poco Ndeki


Sumber: Dokumentasi Penulis

Daerah wisata yang lain adalah Rana Mese, sebuah


danau dengan suasana sejuk di lintas Trans-Flores. Namun
demikian, sekali lagi karena pengelolaannya yang belum
maksimal, maka saya lebih sering mendengar kisah mistis di
seputar area ini yang mengalahkan potensi wisatanya.
Berdasarkan Data dari Badan Pusat Statistik,
penduduk Kabupaten Manggarai Timur pada tahun 2014
berjumlah 283.085 jiwa terdiri dari 140.363 laki-laki dan

219
Manggarai Timur Mengejar Ketertinggalan

142.722 perempuan dengan kepadatan rata-rata 99 jiwa per


km2. Tingkat kepadatan yang masih relatif sangat sepi
dibandingkan Pulau Jawa.
Borong, ibukota kabupaten, menjadi kecamatan
terpadat dengan 187 penduduk per km2. Hal itu karena
Borong terletak di jalur Jalan Raya Trans-Flores sehingga
penduduk, terutama para pendatang juga lebih mudah
memasuki area ini. Hal ini terlihat dari konsentrasi dan sentra
perdagangan yang terletak di Kecamatan Borong, dapat
dengan mudah dilihat di tepi Jalan Raya Trans-Flores.

Gambar 3. Danau Rana Mese


Sumber: Dokumentasi Penulis

Kaya Sejarah, Kaya Kultur


Sebagian besar penduduk Kabupaten Manggarai
Timur beragama Katolik, yaitu sejumlah 92%. Terdapat 7%

220
Jelajah Nusantara #4

yang beragama Islam, yang berdasarkan pengamatan saya


terkonsentrasi di daerah tepi pantai. Sedang selebihnya
beragama Protestan. Jumlah gereja Katolik yang terdapat di
Kabupaten Manggarai Timur sekitar 215 buah, gereja
Protestan berjumlah 5buah, dan Masjid sejumlah 77 buah.
Satu kesan yang saya dapatkan dari sisi sosial
kemasyarakatan di masyarakat Manggarai, adalah kaya
sejarah dan kultur. Riset kami menemukan banyak sekali
sumber-sumber sejarah yang bahkan diteliti sejak berdekade-
dekade lalu, dan hingga kini belum selesai penelusurannya.
Katakanlah dari sisi sejarah, banyak sumber dengan
versi yang berbeda mengisahkan asal-usul orang Manggarai,
bahkan hingga jauh menyebutkan adanya jenis manusia
khusus Homo floresiensis yang masih jadi perdebatan hingga
kini di ranah sains internasional. Atau, mungkinkah orang
Bima atau Gowa yang menghidupkan daerah Manggarai
dahulu kala?
Dari sumber primer di lapangan, kisah-kisah semacam
itu juga lebih bervariasi lagi mengingat banyaknya sub-suku
(panga) di dalam satu desa saja. Dan masing-masing memiliki
versinya sendiri mengenai kehadirannya menempati
Kabupaten Manggarai Timur saat ini. Tentu saja sebagaimana
umur suatu masyarakat telah berlangsung, menemukan
sejarah ini tidak akan pula selesai dari generasi ke generasi,
terlebih dengan banyaknya sumber tersebut.
Bervariasinya asal-usul juga membawa variasi bahasa,
apakah dari sisi dialek atau aksen, hingga perbedaan kata.
Kami menemui pameo, ‘Satu desa saja bisa berlainan bahasa.’
Ada satu cara yang kami juga pelajari selama berinteraksi

221
Manggarai Timur Mengejar Ketertinggalan

dengan masyarakat untuk membedakan bahasa, terutama


saat kami berada di Desa Mbengan, sekitar dua atau tiga jam
perjalanan darat dari ibukota Kabupaten. Perbedaan itu bisa
diidentifikasi dari kata ingkar (tidak). Sebagai contoh di satu
dusun menggunakan bahasa pae’, karena pae’ berarti ‘tidak’.
Di dusun lain yang berbatasan dengan dusun itu
menggunakan bahasa mbae’ karena mbae’ berarti ‘tidak’. Di
daerah lain mereka menggunakan kata ingkar mbaen
sehingga disebut bahasa Mbaen. Sedangkan kata ingkar
dalam bahasa Manggarai pada umumnya disebut toe.

Gambar 4. Bersama Anak-Anak di Liang Bua, Tempat Asal Mula Homo


Floresiensis
Sumber: Dokumentasi Penulis

Belum lagi jika membicarakan sistem adat lain, seperti


struktur adat, tata cara pernikahan, sistem kekerabatan,

222
Jelajah Nusantara #4

pantangan-pantangan adat, yang untuk menggalinya lebih


dalam butuh lebih banyak waktu dari sekedar dua hingga tiga
bulan saja. Di dalamnya terdapat perpaduan nilai sejarah,
budaya, hingga kepercayaan mereka terhadap leluhur dan
alam ghaib versi mereka.
Jika kami yang menemukan orang yang tepat dan bisa
membangun hubungan baik dengan para tetua adat, maka
penggalian cerita tidak cukup dengan sekali pertemuan
dengan wawancara panjang, melainkan observasi langsung
dan pertemuan berkali-kali. Sebuah interaksi yang menarik.

Kehangatan dalam Secangkir Kopi


Di balik cara bicara orang Manggarai yang terdengar
agak ‘berat’ dan volume suara yang keras, terdapat
kehangatan dan keramahtamahan jika hubungan baik di awal
bisa dibangun. Selanjutnya, kita bisa berjam-jam diajak
berdiskusi dan tentu saja dengan minuman ‘wajib’ yang
disuguhkan untuk tamu: kopi khas manggarai. “Kalau di sini
perut harus kuat, Mas!” ujar salah seorang masyarakat yang
menjelaskan bahwa jikapun belum ada makanan sedari pagi,
namun kopi harus tetap diminum.
Saya sempat merasakan, setiap pindah dari satu
rumah ke rumah lain walaupun dalam hari yang sama selalu
disuguhi kopi. Jika jadwal padat, bisa tiga hingga empat gelas
kopi yang saya tenggak di hari itu.
Selain kopi, ada juga semacam tuak lokal yang
biasanya dihidangkan jika ada upacara-upacara adat atau
perayaan-perayaan tertentu. Begitupun kebiasaan merokok,

223
Manggarai Timur Mengejar Ketertinggalan

yang sangat biasa dan rutin dilakukan. Tentu saja saya


menolak dengan halus setiap ditawari keduanya.

Gambar 5. Bersama Tua Adat di Dusun Nunur, salah satu dusun di


Manggarai Timur
Sumber: Dokumentasi Penulis

Yang paling impresif dalam perjalanan ini adalah rasa


menghormati dan menghargai perbedaan. Sebagai seorang
muslim yang saat melakukan riset juga memasuki bulan
Ramadan, saya tidak merasakan kesulitan untuk menjalankan
kewajiban puasa, bahkan dibantu untuk menyiapkan berbuka
puasa. Begitupun dengan kewajiban lain, saya menunaikan
ibadah shalat di rumah-rumah penduduk ketika tiada masjid
di daerah perbukitan waktu itu. Mereka menghormati kami
dengan tidak menghidangkan menu yang masuk dalam
kategori haram dalam kepercayaan kami.
Mengambil dukun patah tulang sebagai tema besar
penelitian, kami pun harus pintar-pintar mengelola
komunikasi. Jika sudah terbangun baik, maka mereka yang

224
Jelajah Nusantara #4

bahkan selalu menyuplai informasi kepada kami. Seperti saat


saya yang ditelepon untuk mengambil dokumentasi yang
fresh ketika ada pasien patah tulang yang ingin berobat.
Bahkan ada seorang dukun yang berniat memberikan
sebagian semacam “jimat”-nya kepada kami, walaupun sekali
lagi kami tolak dengan halus.
Namun demikian, pekerjaan rumah di kabupaten ini
juga masih cukup menantang. Indeks Pembangunan Manusia
(IPM) Kabupaten Manggarai Timur termasuk yang berada di
peringkat bontot di kawasan propinsi NTT. Urutannya ada di
peringkat ke-21 dari 22 kabupaten/kota di propinsi. Angka
harapan hidup penduduk Manggarai Timur tercatat 67,27
tahun, angka harapan lama sekolah adalah 10,15 tahun
sedangkan rata-rata lama sekolah adalah 6,4 tahun saja atau
hanya setingkat sekolah dasar. Dengan demikian, kesehatan,
pendidikan, selain yang telah banyak disebutkan sebelumnya
yaitu perbaikan infrastruktur dan sarana publik harus terus
menjadi prioritas, tentu saja dengan pertimbangan yang
sesuai dengan kearifan lokal.

225
Manggarai Timur Mengejar Ketertinggalan

226
Sang Pengisi Kekosongan di Manggarai Timur

Agung Dwi Laksono

Ruteng, Manggarai, 09 Juni 2016


Pada perjalanan kali ini kami berkesempatan untuk
mendampingi ibu sekretaris Badan Penelitian dan
Pengembangan Kementerian Kesehatan RI., Ria Sukarno,
SKM., MCN., untuk melakukan supervisi kegiatan lapangan
Riset Etnografi Kesehatan Tahun 2016. Kegiatan supervisi kali
ini mengambil tempat di Kabupaten Manggarai Timur,
Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Kabupaten Manggarai Timur merupakan salah satu
dari 25 kabupaten lainnya yang menjadi sasaran Riset
Etnografi Kesehatan Tahun 2016. Riset yang digawangi oleh
Pusat Humaniora dan Manajemen Kesehatan ini ditujukan
untuk menggali potensi lokal, terutama yang berbasis budaya,

227
Sang Pengisi Kekosongan di Manggarai Timur

untuk dipergunakan bagi sebaik-baiknya status kesehatan


masyarakat setempat.

Gambar 1. Peta dan Posisi Kabupaten Manggarai Timur


Sumber: id.wikipedia.org

Kabupaten Manggarai Timur merupakan salah satu


dari dua kabupaten pemekaran Kabupaten Manggarai.
Kabupaten yang berada di antara Kabupaten Manggarai dan
Kabupaten Ngada ini terlahir secara resmi berdasarkan
Peraturan Presiden Nomor 10/ 2013 tanggal 17 Juli 2007.
Secara umum untuk menuju salah satu kabupaten di
Pulau Flores ini tidaklah sulit. Bila kita berasal dari luar
Provinsi Nusa Tenggara Timur, maka kita bisa menggunakan
pesawat udara tujuan Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo.
Yup, Bandar Udara Komodo! yang merupakan pintu gerbang
utama untuk menuju salah satu destinasi binatang purba

228
Jelajah Nusantara #4

dunia, komodo. Naik pesawat udara menuju Labuan Bajo,


serasa kita adalah turis asing yang sedang melancong, betapa
tidak? Pesawat ATR Garuda Indonesia yang kami tumpangi,
sekitar 80% penumpangnya adalah orang bule, sementara
pribumi Indonesia hanya beberapa gelintir saja.
Selanjutnya dari Labuan Bajo kita bisa menggunakan
jalur darat selama kurang lebih empat sampai lima jam
menuju Borong, Ibukota Kabupaten Manggarai Timur. Sebuah
perjalanan dengan jalan yang membikin neg, isi perut serasa
mau keluar, jalan yang naik-turun, berkelok-kelok. Meski
selama perjalanan tidak terlalu panjang ini kita akan disuguhi
lanskap alam yang menyejukkan mata. Kebun cengkeh, kebun
coklat, kebun kopi, kebun jeruk, sawah sarang laba-laba,
Danau Ranamese, sungai, gunung, dan hutan, semua tampil
bergantian memamerkan keindahan lanskap suburnya tanah
daratan Pulau Flores.

Gambar 2. Jalan Berkelok dan Naik-Turun (kiri); Sawah Sarang Laba-laba


(tengah); Danau Ranamese (kanan)
Sumber: Dokumentasi Penulis

229
Sang Pengisi Kekosongan di Manggarai Timur

Kondisi lanskap yang ditampilkan di daratan Pulau


Flores ini berbanding terbalik dengan daratan Pulau Timor,
salah satu pulau besar lain di Provinsi Nusa Tenggara Timur
yang menjadi pusat pemerintahan. Lanskap Pulau Timor
cenderung kering dan gersang.
Kali pertama kami menemui salah satu peneliti yang
berada di Puskesmas Mano. Pada kesempatan ini kami
berdiskusi cukup seru tentang tema yang diambil oleh peneliti
etnografi yang ditempatkan di Kabupaten Manggarai Timur
ini, tentang dukun patah tulang. Rupa-rupanya di wilayah ini
kecelakaan lalu lintas cukup banyak terjadi. Track jalan yang
berkelok yang naik-turun ternyata cukup banyak membawa
korban.

Gambar 3. Diskusi dengan Peneliti REK, Dokter Puskesmas dan Kepala


Puskesmas Mano
Sumber: Dokumentasi Penulis

230
Jelajah Nusantara #4

Kejadian patah tulang sebagai akibat kecelakaan lalu


lintas ternyata juga masih ditambah dengan kejadian karena
jatuh dari pohon. “Iyaa paak… itu mereka panjat pohon
cengkeh… itu tinggii… tapi dahan-dahannya lapuk too…,”
cerita Ochi, salah satu peneliti asli Maumere yang live in di
wilayah Puskesmas Mano ini.
Meski kejadian yang menyebabkan banyak terjadinya
patah tulang, tetapi tidak terlalu banyak catatan resmi di
Puskesmas tentang kejadian ini. “Mereka kalau patah tulang
memang jarang ke sini pak. Hanya beberapa saja, kebanyakan
langsung ke dukun yang bisa menangani patah tulang,” kata
Helen, dokter cantik asli Ruteng yang sudah bertugas di
Puskesmas Mano selama kurang lebih dua tahun tersebut.
Keterangan dokter Puskesmas Mano tersebut dibenarkan
oleh Bidan Yustina selaku Kepala di Puskesmas Mano, “Benar
pak kata bu dokter, meski mereka ke sini… biasanya hanya
minta obat untuk penghilang nyeri saja. Kalaupun kami rujuk
ke rumah sakit jarang yang tuntas pengobatannya.
Kebanyakan pulang paksa, karena tidak punya uang to…”.
Tidak tersedianya pelayanan kesehatan untuk
menangani kejadian patah tulang di Puskesmas membuat
dokter merujuk ke rumah sakit daerah di Ruteng (rumah sakit
daerah milik Pemda Kabupaten Manggarai, Kabupaten
Manggarai Timur sendiri belum memiliki rumah sakit daerah).
Meski menurut keterangan dokter Puskesmas Mano, di
Rumah Sakit Daerah Ruteng pun tidak memiliki dokter
spesialis orthopedi yang bisa menangani kejadian patah
tulang ini. Jadi memang ada kekosongan pelayanan publik

231
Sang Pengisi Kekosongan di Manggarai Timur

yang disediakan pemerintah untuk kejadian patah tulang di


wilayah ini.

Gambar 4. Proses Pengobatan di Dukun Patah Tulang


Sumber: Dokumentasi Peneliti (Zulfadhli Nst)

“…untuk kalau patah tulang memang orang-orang


pada berobat ke pak tua (pengobat tradisional)… itu om Fikus
ituu…,” ulang Kepala Puskesmas Mano tentang bagaimana
masyarakat di wilayah ini mendapatkan pertolongan untuk
penyakit akibat kecelakaan ini. Di wilayah ini, menurut

232
Jelajah Nusantara #4

keterangan peneliti yang live in, hampir di setiap desa ada


pengobat tradisional yang mempunyai kemampuan untuk
menyembuhkan patah tulang. Para pengobat inilah yang
mengisi kekosongan pelayanan kesehatan pengobatan patah
tulang yang belum tersedia.
Tidak ada tarif khusus untuk mendapatkan pelayanan
dari para pengobat patah tulang ini, atau bahkan gratis sama
sekali. “Saya tidak tarik sepeserpun bayaran. Saya ikhlas
seratus persen…,” terang om Fikus, panggilan akrab pengobat
tradisional di Desa Mano yang sempat kami temui. Lebih
lanjut om Fikus mengatakan, “Orang datang minta tolong
harus ditolong. Orang haus harus dikasih minum… orang lapar
harus dikasih makan… orang datang minta tolong harus kita
tolong. Itu kewajiban kita…”.
Cara pengobatan yang dilakukan oleh pengobat
tradisional patah tulang ini terlihat cukup sederhana. Ada dua
jenis tahapan yang biasa dilakukan, yang pertama adalah
kunyahan halia (jahe), kopra (kelapa kering), daun campa,
daun tadak, dan daun angos yang disemburkan pada bagian
yang patah. Selanjutnya ampas kunyahan tersebut dibalurkan
ke bagian yang sakit dibebat dengan kain kasa atau kain biasa.
Selain itu pasien juga diberi minum air putih yang sudah
didoakan. “Itu saja ramuannya untuk patah tulang. Tapi
macam bapak-ibu bisa kasih seperti bahan-bahan itu pada
patah tulang, tapi tidak akan berhasil… karena ada doa yang
tidak saya berikan…,” dalih om Fikus.
Meski pelayanan kesehatan untuk pengobatan patah
tulang dirasakan minim di wilayah ini, tetapi tidak serta merta
menutup upaya petugas kesehatan untuk tetap berusaha.

233
Sang Pengisi Kekosongan di Manggarai Timur

“Kalau ada yang patah tulang terbuka, yaa kami rawat dulu
sampai lukanya sembuh dulu… baru kalau sudah sembuh mau
ke dukun patah tulang itu ya silahkan saja. Tapi kami tetap
merujuknya ke rumah sakit…”
Konfirmasi tentang keberadaan para pengobat
tradisional patah tulang sempat kami lakukan pada Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur, dr. Philipus
Mantur, yang menyatakan, “Masyarakat di sini memang
begitu. Mereka memilih ke dukun patah tulang bila harus
membayar sendiri… misalnya kalau jatuh dari pohon. Tapi
mereka sebenarnya mau operasi bila ada yang membayar.
Misalnya kecelakaan… trus yang menabrak mau membiayai
untuk operasi… dioperasi di Bali atau Jakarta…”

Gambar 5. Berpose bersama Kadinkes dan Jajarannya sebelum Beranjak


Pulang
Sumber: Dokumentasi Penulis

234
Jelajah Nusantara #4

Sementara berbicara tentang kosongnya pelayanan


kesehatan di wilayah Manggarai Timur, Dinas Kesehatan
setempat menyatakan bahwa sudah direncanakan untuk
membangun sebuah rumah sakit daerah di wilayah
Kecamatan Borong. Rencana pembangunan rumah sakit ini
juga disertai dengan rencana pembangunan akses jalan dari
tiga penjuru menuju arah rumah sakit. Menurut Bidang
Pelayanan Kesehatan, pembangunan kemungkinan akan
memakan waktu tiga tahun, karena minimnya anggaran yang
dimiliki pemerintah daerah untuk membangun dalam satu kali
atau satu tahun anggaran.

235
Sang Pengisi Kekosongan di Manggarai Timur

236
Mengenal Kesehatan Masyarakat di
Kepulauan
Catatan Perjalanan ke Kepulauan Togen, Tojo Una-una

Lafi Munira

Menuju Kepulauan Togean


Tulisan ini adalah seri kedua tentang perjalanan saya
di Kabupaten Tojo Una-Una. Tulisan seri pertama terdapat di
buku Jelajah Nusantara 3 tentang kisah kondisi kesehatan
masyarakat di daratan Kabupaten Tojo Una-Una. Pada tulisan
kali ini adalah tentang versi wilayah kecamatan yang berada
di kepulauan yang membentang luas di Teluk Tomini.
Mari kita melihat ke sisi kepulauan yang berada di
Kabupaten Tojo Una-Una. Saya mengambil studi kasus pada
Kecamatan Togean yang termasuk dalam wilayah kerja

237
Mengenal Kesehatan Masyarakat di Kepulauan

Puskesmas Lebiti. Untuk menuju ke Kecamatan Togean dapat


ditempuh dengan Kapal Puspita yang berangkat menuju
daerah kepulauan dari Pelabuhan Ampana pada setiap hari
Senin, Rabu, dan Sabtu. Biaya dan durasi waktu tempuh
berbeda-beda, misalnya untuk mencapai Desa Katupat di
Kecamatan Togean membutuhkan biaya sebesar Rp
70.000,00 per penumpang dengan durasi waktu 10 jam.
Sedang dari daerah Kepulauan apabila hendak ke
ibukota Kabupaten Ampana dapat menaiki Kapal Puspita yang
sama dengan jadwal setiap hari Selasa, Kamis, dan Minggu.
Jika menginginkan jarak tempuh ekspress yang lebih cepat,
bisa menggunakan speedboat yang berangkat tiap hari dari
Pelabuhan Wakai dengan biaya sekitar Rp. 150.000,00 per
orang.

Aksesibilitas ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan


Kecamatan Togean secara geografis merupakan
daerah kepulauan, dimana antar pulau satu ke pulau yang lain
dipisahkan oleh Teluk Tomini. Puskesmas Lebiti merupakan
Puskesmas yang ada di Kepulauan Togean. Untuk mencapai
Puskesmas tersebut, masyarakat minimal memerlukan waktu
1 jam hingga 5 jam, tergantung kejauhan jarak tempuh
dengan menggunakan katinting1 dengan biaya yang tidak
“murah” bagi masyarakat. Sebagai contoh, untuk mencapai
Puskesmas Lebiti dari Desa Katupat membutuhkan waktu 3

1
Katinting merupakan perahu dengan mesin bermotor yang menggunakan
bahan bakar bensin.

238
Jelajah Nusantara #4

jam perjalanan, waktu tempuh untuk PP (pergi dan pulang)


memakan waktu 6 jam, dan membutuhkan bensin sebanyak
17 liter, 1 liter bensin dihargai Rp. 10.000, biaya untuk bensin
Rp. 170.000 dan biaya untuk motoris katinting Rp 150.000,
total biaya untuk mencapai Lebiti dari Katupat sejumlah Rp.
320.000. Dengan biaya sebesar itu, jelas sangat membebani
masyarakat kepulauan untuk mendapatkan akses ke fasilitas
kesehatan.
Tabel 1. Jarak Tempuh Menuju Puskesmas Lebiti
Waktu Tempuh
No Nama Pulau ke Puskesmas Jalur Transportasi
Lebiti
1 Desa Enam 20 Menit Laut, menggunakan katinting
2 Desa Bangayo 30 Menit Laut, menggunakan katinting
3 Desa Benteng 1 jam Laut, menggunakan katinting
4 Desa Bangkagi 4 jam Laut, menggunakan katinting
5 Desa Baulu 3 jam Laut, menggunakan katinting
6 Desa Katupat 3 jam Laut, menggunakan katinting
7 Desa Lembanato 4 jam Laut, menggunakan katinting
8 Desa Matobiayi 4 jam Laut, menggunakan katinting
9 Desa Titirii Popolion 5 jam Laut, menggunakan katinting
10 Desa Tobil 1 jam Laut, menggunakan katinting
11 Desa Sampobae 1 jam Laut, menggunakan katinting
12 Desa Tongkabo 5 jam Laut, menggunakan katinting
13 Desa Kololio 1 jam Laut, menggunakan katinting
14 Desa Awo 4 jam Perbukitan, menggunakan motor
15 Desa Urulepe 4 jam Perbukitan, menggunakan motor
16 Desa Panubali 2 jam Laut, menggunakan katinting
Sumber: Data Primer

Aksesibilitas menuju faskes memang menjadi masalah


utama di wilayah kerja Puskesmas Lebiti. Masyarakat menjadi

239
Mengenal Kesehatan Masyarakat di Kepulauan

enggan ketika harus dirujuk ke RSUD di Ampana pada saat


bidan atau perawat di Poskesdes tidak dapat menangani
penyakit yang diderita warga. Seperti yang diutarakan oleh
tenaga kesehatan di salah satu desa yang terdapat dalam
wilayah kerja Puskesmas Lebiti.
“...itu masyarakat kalau sudah dengar kata ‘dirujuk’ ke
Ampana, mereka pasti menolak, karena harus
mengeluarkan uang banyak untuk biaya transportasi,
belum lagi kalau ada keluarga yang mendampingi pun
membutuhkan uang yang banyak, tidak cukup 400 ribu,
belum biaya makan, dan transportasi di Ampana nanti,
jadi mereka lebih memilih pasrah untuk menunggu mati
saja dibandingkan harus pergi ke Ampana. Sebenarnya di
Wakai ada rumah sakit namun belum kerjasama dengan
BPJS Kesehatan, jadi kalau ada yang berobat ke situ pasti
bayar mahal juga...” (Nakes A)
“...kalau saya di desa ini saya bisa kasih rujukan langsung
ke Ampana untuk warga yang mempunyai
Jamkesda/Jamkesmas… jadi tak perlu urus rujukan ke
Puskesmas Lebiti lagi, malas… keluar biaya banyak…
kasihan masyarakat… itu rumah sakit di Ampana mau
terima kalau ada rujukan dari saya… gratis… mereka
semua kenal saya...” (Nakes B)

Terkait ketersediaan obat di kepulauan memang


memprihatinkan. Pengalaman saya sendiri ketika
mendapatkan tablet tambah darah (TTD) dari perawat A pada
bulan Mei 2016, pada kemasannya tertera batas kadaluarsa
bulan Juni 2016.

240
Jelajah Nusantara #4

Pada saat menghadiri lokakarya mini Puskesmas Lebiti


yang dihadiri oleh beberapa pejabat Dinkes, para bidan desa
dan perawat desa, petugas Puskesmas, serta para kepala desa
dalam lingkup wilayah kerja Puskesmas Lebiti, saya baru
mengetahui bahwa pendistribusian obat-obatan di wilayah
kerja Puskesmas Lebiti diberikan per 3 bulan, dengan alasan
bahwa distribusi obat-obatan dari Dinkes Kabupaten maupun
Dinkes Provinsi juga tidak lancar.
Salah satu contoh obat yang dianggap “langka” adalah
pil KB. Pada lokakarya mini tersebut terlihat pola pendekatan
“top down” dari pejabat Dinkes Kabupaten terhadap para
bidan maupun perawat desa yang hadir. Pada saat acara
berlangsung saya dihampiri oleh beberapa bidan maupun
perawat yang mengeluh bahwa Dinas Kabupaten terkesan
ingin semuanya sempurna dan belum dapat memahami
perjuangan tenaga kesehatan yang berada di kepulauan.
“...itu mba, orang Dinkes maunya serba sempurna,
sedangkan mereka tidak tahu bagaimana susahnya kami
disini, persediaan obat terbatas, kami beli sendiri obat
agar masyarakat bisa dapat pengobatan, masyarakat
pun mengeluh kenapa obatnya harus bayar, sedangkan
mereka tidak punya uang yang banyak, ya mba kan
sudah lihat sendiri bagaimana kondisinya kami disini, jadi
kami ikhlas saja jika dibayar cuma 10 ribu oleh
masyarakat, yang penting masyarakat bisa sehat...”
(Nakes C)

241
Mengenal Kesehatan Masyarakat di Kepulauan

“…itu mba, banyak sekali obat-obatan yang saya buang


karena kadaluarsa, saya juga heran kenapa obat yang
dikasih ke torang (kami) yang so (sudah) dekat-dekat
bulan kadaluarsanya dorang (mereka) kasihkan... kami
biasa beli obat sendiri buat persediaan kalau-kalau ada
warga yang butuh, jadi ya bekerja di kepulauan ini kami
semata-mata ingin membantu orang lain jo...” (Nakes D)

Ada cerita dari pasien yang datang berobat dengan


keluarganya dari desa seberang (Pulau Tongkabo) untuk
memeriksakan kesehatannya. Pasien mengeluhkan sakit-sakit
pada kakinya. Saya sempat bercakap sebentar dengan
keluarga ibu tersebut dan beliau mengatakan bahwa di desa
beliau tidak terdapat tenaga kesehatan, dan menggunakan
katinting untuk menyeberang dari Pulau Tongkabo ke Desa
Katupat. Hal yang sama pun terjadi terhadap seorang bapak,
yang mengeluh sakit kepala, dan pergi untuk mencari
pengobatan ke perawat yang berada di Desa Katupat, beliau
berasal dari Desa Lembanato, bapak tersebut mengaku
bahwa beliau naik katinting sekitar satu jam dari Pulau
Lembanato, walaupun untuk mencapai Desa Katupat dapat
dicapai dengan mendaki bukit ke Desa Lembanato.
Pengalaman serupa dirasakan oleh dua orang bapak tua yang
tinggal di Desa Titirii Popolion (Tirpo) yang ingin mendapatkan
obat ke Puskesmas Lebiti.
“Saya berasal dari Desa Tirpo, saya sudah berobat ke
Ampana untuk mendapatkan pengobatan, kaki saya ini
rematik sudah tidak sanggup berjalan. Kami naik
katinting untuk menuju kesini, menginap satu malam di

242
Jelajah Nusantara #4

Pulau Enam. Tak apa kami menunggu lama syukur-


syukur kami diterima dan dilayani oleh petugas
kesehatan disini, kata dokter di Ampana, obat-obatan
dapat diperoleh di Puskesmas, jadi kami patuh untuk
berobat ke Puskesmas walaupun jauh jaraknya. Kalau
ternyata Puskesmas tidak bisa menerima kami, kami rela
pulang lagi, dan berharap akan pertolongan Allah saja...”
(Informan A)

Kisah Hidup Penderita Kusta


Desa Tirpo merupakan desa baru yang merupakan
penggabungan dua desa asal, yaitu Desa Titirii dan Popolion.
Adalah sangat manusiawi jika kedua orang bapak tersebut
merasa minder melakukan pengobatan, karena Desa Popolion
dahulu merupakan desa tempat pengasingan para penderita
kusta. Hal tersebut dapat dilihat ketika saya mendapati bekas-
bekas kecacatan di jari jemari tangan dan kaki salah seorang
bapak. Cukup lama kami bercakap tentang apa yang pernah
dialami oleh dua orang bapak tersebut. Tentang penderitaan
yang dialami oleh para penderita kusta sejak jaman dahulu
hingga saat ini.
“Kami sedih sekali dari dulu sampai sekarang rasa sedih
itu masih ada jika kami bertemu dengan orang baru yang
tidak dapat menerima keadaan kami, karena kami sakit
seperti ini, kami dulu ingin sekolah di Desa Lembanato,
tapi peraturan desa berkata lain, kami anak-anak yang
menderita kusta di jaman dahulu tak diizinkan
menginjakkan kaki di sekolah mereka, kami tidak bisa

243
Mengenal Kesehatan Masyarakat di Kepulauan

sekolah dimana pun. Kami bekerja di kebun pun untuk


menghasilkan sayur-sayuran namun masyarakat dari
kampung lain pun tidak ada yang mau membeli hasil
kebun kami karena takut tertular dengan penyakit kami.
Kami hanya bisa berdoa kepada Allah atas apa yang kami
rasakan, kami juga tidak bisa menyalahkan Allah atas
takdir yang kami jalani...” (Informan A)

Refleksi Diri
Selama hidup dan tinggal di Kecamatan Togean, yang
merupakan wilayah kerja Puskesmas Lebiti saya
merefleksikan pengalaman-pengalaman, observasi terus-
menerus, bahwa memang sulit mengatakan kondisi
kesehatan yang masih butuh diperhatikan ini salah siapa?
atau apa-apa saja yang perlu di evaluasi? Tiada yang salah
atas semua problema yang terjadi, hanya butuh keyakinan
untuk masing-masing tenaga kesehatan menginisiasi diri
sendiri untuk terus meningkatkan kemampuan diri dalam
melayani masyarakat dalam hal kesehatan. Tiada yang salah,
karena memang jumlah SDM terbatas, tidak ada dokter, dan
belum ada tenaga kesehatan yang mumpuni dalam hal
manajerial Puskesmas yang komprehensif.

244
Malaria di Desa Terasa
Catatan Perjalanan Eksplorasi Kabupaten Sinjai,
Sulawesi Selatan

Mariati

Sinjai, 16 April 2016


”Mauka juga ke Terasa ka’,” begitu kalimat antusias
dari anak magang SMK yang mau berpartisipasi pada survey
kali ini. Semua antusias untuk ikut perjalanan ke Desa Terasa,
wilayah kerja Puskesmas Tenggalembang, Kabupaten Sinjai,
Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan kali ini adalah mass blood
survey (MBS), karena masih adanya kasus Malaria di desa ini.
Perasaan saya kali berbeda ketika ikut kegiatan di luar
pulau Sulawesi, lebih jelasnya sangat antusias campur rasa
bersalah karena ini adalah kunjungan perdana saya padahal

245
Malaria di Desa Terasa

ini di wilayah Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai, tempat kerja


saya selama ini. Wilayah ini termasuk daerah terpencil
dengan akses jalan yang hanya bisa dilalui dengan jalan kaki,
naik turun gunung, belum lagi lumpur jika hujan datang. “Ka’
jelekki jalanan kalu hujangki, trus ada lagi jalanan yang naik
turun,” begitu penjelasan teman saya yang pernah bertugas
selama lima tahun di Puskesmas Tenggalembang. Dia
menyuruh kami untuk membawa sandal gunung, baju kaos
dan training (celana olah raga) saja.
Perjalanan kami dari ibu kota Kabupaten Sinjai menuju
Puskesmas memakan waktu selama dua jam perjalanan
dengan mobil double gardan (mobil milik program promosi
kesehatan) ini sering kali P2PL meminjam karena masih ada
beberapa medan yang sangat jelek di wilayah kerja Dinkes
Sinjai. Sementara kami (Bidang P2PL), tidak memiliki mobil
operasional.
Kabupaten Sinjai merupakan kabupaten pesisir yang
terletak di pesisir Timur bagian Selatan daratan Sulawesi
Selatan yang berhadapan langsung dengan perairan Teluk
Bone. Kabupaten Sinjai terletak antara 502’56” sampai
5021’16” Lintang Selatan dan antara 119056’30”` sampai
120025’33” Bujur Timur. Sedang batas-batas wilayah
Kabupaten Sinjai adalah:
 Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bone;
 Sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Bone;
 Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten
Bulukumba, dan
 Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Gowa.

246
Jelajah Nusantara #4

Gambar 1. Mobil operasional promosi kesehatan (kiri);


Mobil operasional Puskesmas Tenggalembang (kanan)
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Kabupaten Sinjai yang memiliki luas 819,96 km2


(81996 Ha) terdiri dari 9 Kecamatan definitif dengan jumlah
Desa sebanyak 67 dan 13 kelurahan. Wilayah Kabupaten
Sinjai terbagi menjadi dua, pertama adalah yang berada di
daratan Sulawesi Selatan, dan ke-dua wilayah kepulauan yang
dikenal dengan Pulau-Pulau Sembilan.
Pada wilayah daratan memiliki panjang garis pantai
sekitar 23 km, dan terdapat lima sungai besar yang bermuara
di sepanjang pantai yaitu Sungai Tangka, Sungai Mangottong,
Sungai Panaikang, Sungai Bua dan Sungai Pattongko. Selain

247
Malaria di Desa Terasa

juga terdapat dua sungai kecil, yaitu Sungai Donga dan Sungai
Balampangi. Keberadaan sungai-sungai tersebut juga
merupakan batas wilayah administrasi baik desa, kecamatan,
maupun antar kabupaten. Sungai Tangka menandai batas
antara Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Bone, Sungai
Mangottong sebagai batas Kecamatan Sinjai Utara dengan
Sinjai Timur, Sungai Panaikang menandai batas antara Desa
Samataring dengan Desa Panaikang Sinjai Timur, Sungai Bua
merupakan batas antara Kecamatan Sinjai Timur dengan
Kecamatan Tellu Limpoe, dan Sungai Pattongko (Sungai
Lolisang) menandai batas Kabupaten Sinjai dengan Kabupaten
Bulukumba.
Pada wilayah kepulauan terdiri atas sembilan pulau
kecil dan beberapa gosong karang. Dari sembilan pulau hanya
satu pulau yang tidak berpenghuni, yaitu Pulau Larearea.
Pulau yang berpenghuni bila diurutkan dari Utara adalah
Kanalo 2, Kanalo 1, Batang Lampe, Kodingare, Katindoang,
Kambuno, Liangliang dan Burung Loe.
Secara Administratif Kabupaten Sinjai terletak di
Provinsi Sulawesi Selatan, dan terdiri dari sembilan
kecamatan, yaitu Kecamatan Sinjai Utara, Kecamatan Sinjai
Borong, Kecamatan Sinjai Selatan, Kecamatan Tellu Limpoe,
Kecamatan Sinjai Timur, Kecamatan Sinjai Tengah, Kecamatan
Sinjai Utara, Kecamatan Bulupoddo, dan Kecamatan Pulau
Sembilan. Tiga di antaranya sembilan kecamatan tersebut
termasuk daerah pesisir, yaitu Kecamatan Sinjai Utara, Sinjai
Timur, dan Tellu Limpoe. Sedang wilayah kepulauan dihimpun
menjadi satu kecamatan, yaitu Kecamatan Pulau Sembilan.

248
Jelajah Nusantara #4

Kecamatan Pulau Sembilan terdiri atas sembilan pulau kecil


dan beberapa gosong karang (patch reef) yang tenggelam
pada saat air pasang.
Delapan pulau yang berpenghuni bila diurut dari
Selatan adalah Burungloe, Liang-liang, Kambuno, Kodingare,
Katindoang, Batanglampe, Kanalo I, dan Kanalo II serta satu
pulau tak berpenghuni, yaitu Larea-rea yang terletak di
sebelah Selatan Pulau Katindoang. Ada sebuah gosong yang
telah ditumbuhi sebatang pohon, yaitu Gosong Lapoipoi yang
terletak antara Pulau Katindoang dan Pulau Batanglampe.

Gambar 2. Peta wilayah Kabupaten Sinjai


Sumber: Pemerintah Kabupaten Sinjai

Ibukota Pemerintahan Kabupaten Sinjai terletak di


Kecamatan Sinjai Utara. Berdasarkan letaknya terhadap
ibukota Kabupaten Sinjai, ibu kota Kecamatan Sinjai Barat

249
Malaria di Desa Terasa

yang berada di Manipi merupakan kecamatan yang terjauh


dari Ibukota kabupaten, yaitu sekitar 48 km yang berada di
sebelah Barat.
Kegiatan MBS kali ini dilakukan di Desa Terasa. ‘E’
untuk Terasa penyebutannya seperti penyebutan dalam kata
‘era’.
Penduduk Desa Terasa, terutama pemudanya, rata-
rata tidak menetap, tetapi tergantung musim. Mereka akan
menetap di desa jika musim menanam padi, saat panen tiba.
Namun saat musim kering mereka akan pergi ke daerah lain
mencari nafkah. Daerah yang sering mereka kunjungi adalah
Papua dan Malaysia (berbatasan dengan Kalimantan).
Perjalanan menuju Puskesmas Tenggalembang
langsung ke Desa Terasa, di sana kami sudah ditunggu oleh
Kepala Desa dan beberapa komponen masyarakat. Kali ini
rencana sasaran MBS adalah semua masyarakat yang ada di
Desa Terasa.
Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendeteksi sedini
mungkin, muncul dan berkembangnya penyakit serta masalah
kesehatan tertentu dalam masyarakat agar dapat dilakukan
pengendalian secara cepat. Intinya adalah pemberdayaan dan
kemandirian. Memberdayakan masyarakat sekitar dalam
mencegah muncul dan berkembangnya penyakit melalui
pengamatan secara terus menerus, fokus masalah kesehatan
dan dilaporkan.
Memandirikan dalam upaya pencegahan dan
penanggulangan terahadap ancaman penyakit atau masalah

250
Jelajah Nusantara #4

kesehatan dan bekerjasama dengan petugas kesehatan dan


pihak terkait lainnya.
Survey ini dilaksanakan selama satu minggu. Kami
menginap di rumah penduduk dan setiap hari berpindah dari
dusun ke dusun. Hari pertama kami menginap di rumah A.
Kamaruddin, tokoh mayarakat di dusun. Pengambilan sampel
berikutnya dilanjutkan dengan mikroskopis oleh petugas
terlatih dibantu seorang laboran dari Dinas Kesehatan
Provinsi Sulawesi Selatan.
Masyarakat Desa Terasa terlihat begitu antusias
dengan kedatangan kami. Agar target bisa lebih cepat
tercapai, maka pada malam haripun kami tetap melakukan
pengambilan darah.
Kegiatan pengendalian penyakit malaria di Kabupaten
Sinjai mendapat perhatian penuh dari pemerintah. Hal ini
dibuktikan dengan kegiatan MBS kali ini bukan yang pertama
kali dilakukan, pada tahun 2013 juga sudah pernah
dilaksanakan.
Survey kali ini kami masih didampingi oleh dr Isra
Wahid, Phd, Kepala Entomologi Universitas Hasanuddin
Makassar beserta empat orang peneliti lainnya, beliau adalah
Alumni Jepang, ahli nyamuk kebanggaan kami dari Sulawesi
Selatan.
Kerja sama ini kali ke 2 setelah ovitrap tahun 2013,
saat itu beliau membawa mahasiswanya dari Texas, Amerika,
kami memanggilnya Daeng Andre. Bekerja sama dengan
beliau merupakan kebanggaan tersendiri, selain ilmu dan
pengalaman yang sangat berharga, beliau juga adalah orang

251
Malaria di Desa Terasa

yang sangat jauh dari kesan seorang pejabat. Beliau tidak


peduli dengan seremonial layaknya pejabat yang datang,
benar-benar orang lapangan murni.
Hari kedua, dr Isra dan rombongan baru datang dari
Makassar langsung menuju lokasi. Meski perjalanan menuju
lokasi sedikit terhambat karena lokasinya susah ditemukan.
Beliau hanya dipandu melalui HP, dengan suara berteriak
karena sinyal yang tidak bersahabat, dan akhirnya beliau
sampai juga di rumah penduduk yang rencananya akan kami
tempati menginap selanjutnya.

Gambar 3. Dengan modal gayung, anak entomologi Unhas Makassar berburu


berbagai jenis jentik di Desa Terasa
Sumber: Dokumentasi Penulis

Kami hanya meminta untuk menunggu, karena sedang


mengambil sampel darah di lokasi. Menjelang sore, kami baru
pulang dan bertemu dr Isra, tim beliau sudah mencari
berbagai jentik di sawah dengan peralatan tempurnya seperti
gayung, cidukan, nampan, pipet, alat ukur seperti ph, salinitas

252
Jelajah Nusantara #4

suhu dan GPS. Mereka sudah sangat ahli, dengan melihat


jentik langsung sudah diketahui jenis jentiknya. Jika bukan
jentik yang mereka cari maka akan dibuang kembali dan
melanjutkan mencari jentik yang baru.
Malam kedua, saya dan rombongan pisah tempat
menginap karena harus menemani dr Isra dan timnya yang
akan berburu nyamuk di malam hari hingga pagi dengan
membawa kelambu, Aspirator, paper cap, kloroform untuk
mematikan nyamuk, serta mikroskop untuk identifikasi
nyamuk.

Gambar 4. Daeng Andre saat di Pulau 9 (kiri); Persiapan ovitrap (kanan)


Sumber: Dokumentasi Penulis

Perburuan nyamuk dengan menggunakan kelambu


Trap (metode dr Isra) yang dibuat khusus untuk menangkap
nyamuk dewasa. Kalau kelambu biasanya hanya memiliki 1

253
Malaria di Desa Terasa

pintu maka kelambu perangkap nyamuk ini memiliki 4 pintu


(saya menamakan kelambu 4 pintu).
Hasil diskusi dengan Kepala Tata Usaha Puskesmas di
sela-sela kegiatan MBS cukup membantu dalam menentukan
sumber penularan nyamuk malaria.
“Untuk saat ini masih banyak warga berangkat ke Papua
dan Malaysia, Waktu keberangkatan tidak menentu.
Biasanya bergantian kalo ada yang pulang, ada lagi pihak
keluarganya yang pergi. Rata rata yang berangkat itu
pemuda dan keluarga yang masih baru. Kalo yang sudah
berkeluarga biasanya pergi cari uang untuk bangun
rumah. Menurut informasi bulan ini dan bulan depan
banyak yang pulang karna suda kerja sawahmi orang.
Iyeee… rata rata tiap tahun mereka pulang saat panen
dan kerja sawah. Karena mereka kadang satu rumpung
keluarga jadi saling bergantian saja. Misalnya waktu
kerja sawah kakaknya yg pulang waktu panen adiknya
atau sepupuh yang pulang. Dia juga rolling, hahaha...
Waktu pertemuan di desa saya sudah minta pa desa
mendata orang orang yang pergi dan pulang. Harus
wajib lapor di desa. Nanti pa desa infokan ke Puskesmas.
Saya berpikir haruski begitu bu mar supaya ketahuan
rotasi kepulangan dan perginya. Saat ada dua orag
pulang saya sudah minta ke Puskesmas periksa katanya
hari selasa dia datang. Tiga hari yg lalu bu mar ada
pertemuan di desa semua kepala dusun juga siapji
laksanakan”.

Hasil pemeriksaan dengan Rapid Test Diagnostic


(RDT), menemukan satu orang positif. Berdasar informasi,

254
Jelajah Nusantara #4

meski orang tersebut tidak pernah ada riwayat pergi keluar


dari Sinjai, namun rumahnya ternyata menjadi tempat
persinggahan jika ada yang datang dari luar desa.
Surveilans Berbasis Masyarakat atau CBS adalah
kegiatan pengamatan dan pemantauan secara terus menerus
oleh masyarakat terhadap penyakit atau masalah kesehatan
serta faktor risiko dan dilaporkan kepada pihak
terkait/petugas. Respon tindak lanjut kegiatan surveilans
migrasi sudah mulai dilaksanakan. Untuk itu perlu komitmen
dari semua pihak, ketua RT/RW, kepala dusun, kepala desa,
tokoh masyarakat dan masyarakat itu sendiri. Jika kegiatan ini
sudah terlaksana dengan baik, tentu sangat membantu upaya
penemuan kasus.

Pengalaman, Guru Terbaik


Masyarakat dalam mengakses fasilitas pelayanan
kesehatan saat sudah sangat terbantu dengan adanya
jembatan yang dibangun oleh PNPM (Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri. Jembatan gantung
Biroro dibangun dengan PNPM Mandiri melalui anggaran
tujuh desa. Meski hanya bisa dilalui dengan jalan kaki, tetapi
keberadaan jembatan ini sangat membantu masyarakat.
Sebelumnya jembatan gantung ini kondisinya sangat
memprihatinkan, masyarakat yang hendak melalui jembatan
merasa sangat was-was akan keselamatannya.

255
Malaria di Desa Terasa

Gambar 5. Jembatan gantung Biroro, dibangun 2014.


Sumber: Dokumentasi Penulis

Gambar 6. Tujuh PNPM mandiri bergabung membangun jembatan gantung Bororo


Sumber: Dokumentasi Penulis

Kendaraan hanya bisa melalui jalan-jalan tertentu saja,


seperti ibu kota kecamatan dan sebatas Pustu wilayah kerja
Puskesmas. Kendaran yang kami gunakan hanya parkir di
rumah penduduk tempat kami menginap. Selama lima hari

256
Jelajah Nusantara #4

survey kami berpindah tempat menginap, empat malam di


tiga rumah penduduk yang berbeda, dan semalam di
Puskesmas (Kepala dusun, tokoh masyarakat dua rumah dan
terakhir menginap di Puskesmas).

Gambar 7. Ban mobil puskesmas kempes dan mobil milik promkes bocor kena
gesekan batu cadas
Sumber: Dokumentasi Penulis

Pemandangan seperti ban mobil bocor, ban kempes,


mogok, lampu mobil mati menjadi pengalaman yang biasa
setiap kegiatan lapangan seperti ini. Justru akan menjadi tidak
biasa jika perjalanan kami lancar tanpa ada kendala dengan
kendaraan.
Pengalaman seperti ini adalah hal biasa. Justru
pengalaman setiap masalah yang dihadapi di lapangan bisa
menjadi solusi saat kegiatan lain. Kami menjadi lebih kreatif
dan terasah dalam kemampuan lapangan. Pengalaman
seperti ini tidak ada dalam teori. Bagaimana dengan
pengalaman teman-teman yang lain??

257
Malaria di Desa Terasa

258
Bukan Lelaki Biasa
Catatan Perjalanan ke Kota Makassar

Aprizal Satria Hanafi

Sebelumnya saya tidak menyangka bisa ikut dalam


riset ini, karena terlambat mengetahui informasi pendaftaran.
Pada saat itu saya sedang Kursus Bahasa Inggris di Pare, Jawa
Timur. Pasti banyak yang ingin mengikuti riset ini, dengan
modal nekat saya tetap mengirimkan aplikasi. Alhamdulillah,
mungkin rezeki, ketika saya ingin pulang dari Surabaya ke
Banjarmasin, saya dihubungi oleh Tim Riset Etnografi
Kesehatan Tahun 2016 untuk bergabung.

Perjalanan Menuju Kota Makassar


Saya berangkat dari Kota Banjarmasin pukul 11.20
WITA, perjalanan di pesawat hanya berlangsung sekitar satu

259
Bukan Lelaki Biasa

jam 10 menit. Sekitar pukul 12.30 WITA saya sudah sampai di


Makassar karena tidak ada perbedaan waktu antara
Banjarmasin dan Makassar. Sesampainya di Makassar saya
langsung mengucapkan salam, sesuai dengan pesan dari
Tante saya, setiap daerah yang baru dikunjungi harus
mengucapkan salam katanya.
Saya tidak berangkat sendiri ke Makassar, melainkan
dengan seorang teman peneliti. Terbayang beberapa hal
tentang Makassar dibenak saya. Banyak berita yang saya
dapat dari kerabat maupun pemberitaan di media tentang
Kota Makassar. Makassar kaya akan budaya, tempat wisata,
kuliner dan masih banyak lagi.
Pada saat sampai di Bandar Udara Internasional Sultan
Hasanuddin. Saya menghubungi teman peneliti yang sudah
sampai lebih dahulu di Makassar. Dia menyuruh saya untuk
mendatanginya di sebuah tempat makan yang berada di area
Bandara. Tidak membutuhkan waktu lama, saya berhasil
bertemu dnegannya. Sesaat sebelum selesai makan, tiba-tiba
telepon teman saya berdering, ternyata dari orang tua teman
kami yang rumahnya akan kami tinggali selama di Makassar.
Setelah menerima telepon, kami langsung bergegas
meninggalkan Bandara menuju rumah. Kami berangkat
menggunakan taksi bandara. Waktu yang ditempuh kurang
lebih satu jam, meski sebenarnya dapat ditempuh dalam
waktu kurang dari satu jam. Namun karena kami berdua
sama-sama belum paham alamat dan jalan-jalan di Makassar,
akhirnya kami sedikit tersesat. Mungkin karena kami tak
kunjung sampai rumah, orang tua teman kami kembali

260
Jelajah Nusantara #4

menelepon, beliau menanyakan posisi kami. Karena kurang


paham jalan, akhirnya beliau menjemput kami di sebuah
persimpangan jalan.
Sesampainya di rumah, nampaknya beliau sudah siap
untuk menyambut kedatangan kami. Makanan dan minuman
sudah tersaji di atas meja. Banyak sekali kue khas Makassar
yang dihidangkan. Kebetulan pada saat itu cuacanya cukup
panas, dirasakan sangat pas menyantap kue khas Makassar
yang manis dan lezat. Setelah kenyang menyantap kue sambil
berbincang dan berkenalan dengan bapak dan ibu pemilik
rumah, kami beristirahat sejenak untuk melepas lelah.
Secara geografis Kota Makassar terletak di Pesisir
Pantai Barat bagian Selatan Sulawesi Selatan, pada titik
koordinat 119°24’17’38” Bujur Timur dan 5°8’6’19” Lintang
Selatan. Secara administratif Kota Makassar mempunyai
batas-batas wilayah yaitu Sebelah Selatan berbatasan dengan
Kabupaten Gowa, Sebelah Utara berbatasan dengan
Kabupaten Maros, Sebelah Timur berbatasan dengan
Kabupaten Maros dan Sebelah Barat berbatasan dengan Selat
Makassar. Topografi pada umumnya berupa daerah pantai.
Letak ketinggian Kota Makassar berkisar 0,5-10 meter dari
permukaan laut.
Kota Makassar memiliki luas wilayah 175,77 km2 yang
terbagi ke dalam 14 Kecamatan, 143 Kelurahan, 994 RW dan
4.966 RT. Selain memiliki wilayah daratan, Kota Makassar juga
memiliki wilayah kepulauan yang dapat dilihat sepanjang garis
pantai Kota Makassar. Melihat letak geografis dan

261
Bukan Lelaki Biasa

topografinya yang dekat dengan laut, tak heran jika kuliner


berbahan dasar ikan tidak jarang dijumpai disini.

Gambar 1. Peta Wilayah Kota Makassar


Sumber: Pemerintah Kota Makassar

Menelusuri Kota Makassar


Pada tanggal 13 Mei 2016, hari kedua kami berada di
Kota Makassar. Waktu menunjukkan pukul 09.00 WITA. Kami
berencana pergi ke Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) untuk mencari isu-isu kesehatan
reproduksi terbaru di Kota Makassar. Sesampainya disana
ternyata yang kami datangi adalah BKKBN Provinsi Sulawesi
Selatan, bukan BKKBN Kota Makassar, padahal kami ingin
mendatangi BKKBN Kota, akhirnya kami tetap kesana karena

262
Jelajah Nusantara #4

sudah terlanjur, siapa tahu ada manfaatnya.


Pada saat di BKKBN, Kami berkunjung ke Perpustakaan
untuk melihat hasil penelitian tentang Kesehatan Reproduksi.
Kami mencari isu-isu kesehatan reproduksi, mengingat
berdasarkan data Indeks Pembangunan Kesehatan
Masyarakat (IPKM) tahun 2013 permasalahan kesehatan yang
menjadi isu terbaru di Kota Makassar adalah Kesehatan
Reproduksi dan Penyakit Menular. Cukup banyak buku
maupun laporan yang kami baca, memang ada beberapa
permasalahan yang cukup menarik, namun sayang, data-data
tersebut sudah berumur di atas lima tahun, sehingga kurang
mantap untuk dijadikan acuan.
Menjelang waktu dzuhur kami keluar dari perpustakaan
BKKBN Provinsi, karena hari itu adalah Hari Jumat dan saya
harus Sholat Jumat. Selepas Sholat Jumat kami kembali
mencoba mencari hasil-hasil penelitian tentang kesehatan,
terutama kesehatan reproduksi dan penyakit menular.
Selanjutnya kami mengunjungi perpustakaan Fakultas
Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin
(UNHAS). Di perpusatakan FKM UNHAS kami menemukan
banyak hasil penelitian mahasiswa, baik berupa skripsi
maupun tesis, sayangnya kami hanya menemukan sedikit
hasil penelitian yang bertemakan kesehatan reproduksi dan
penyakit menular.
Menjelang perpustakaan ditutup sekitar jam 4 sore
kami baru meninggalkan perpustakaan, belum semua
penelitian dapat kami baca. Namun paling tidak dari
penelitian tersebut kami menemukan beberapa informasi

263
Bukan Lelaki Biasa

tentang LSM yang bergerak di ranah kesehatan reproduksi di


Kota Makassar, salah satunya adalah PKBI Sulawesi Selatan.
Pada hari berikutnya kami berangkat pagi-pagi untuk
berkeliling kota, siapa tahu ada informasi yang berguna.
Menjelang siang, dengan cuaca yang sangat terik membuat
kami kehausan. Kami berhenti sejenak untuk minum. Sembari
beristirahat kami berusaha menghubungi PKBI Sulawesi
Selatan untuk datang ke sana. Saya mencoba menghubungi
PKBI melalu Facebook, tidak menunggu lama, pesan saya
langsung dibalas, kami diperbolehkan untuk datang ke PKBI
pada hari Senin tanggal 16 Mei 2016.

‘Lelaki Seks dengan Lelaki’ dan HIV/AIDS


Alamat PKBI Sulawesi Selatan tidak terlalu jauh dari
tempat tinggal kami, hanya sekitar 15 menit dengan
mengendarai sepeda motor. Sesampainya di sana, tempatnya
tampak sepi, seperti tidak ada orang. Beberapa kali kami
mengucapkan salam, namun tidak ada yang menjawab.
Setelah beberapa saat barulah kami bertemu dengan seorang
perempuan, Mba Mira (bukan nama sebenarnya).
Pertama-pertama kami memperkenalkan diri terlebih
dahulu dan menyampaikan tujuan kedatangan kami ke
Makassar. Mendengar tujuan kami, Mba Mira langsung
menceritakan pengalaman dan informasi yang dia ketahui.
Dia terlihat sangat antusias dalam menjelaskan, sepertinya
dia sangat paham dengan kondisi kesehatan reproduksi dan
penyakit menular terutama HIV di Makassar.

264
Jelajah Nusantara #4

Mba Mira mengatakan bahwa masalah kesehatan


reproduksi di Kota Makassar sangat kompleks. Masalah
kesehatan reproduksi juga memiliki kaitan yang erat dengan
penyakit menular, seperti HIV/AIDS. Menurutnya kasus HIV
pada komunitas kunci seperti lelaki seks dengan lelaki (LSL)
saat ini sedang meningkat, sedangkan kasus HIV pada
pengguna narkoba suntik (Penasun) sudah mulai menurun
karena ada terapi Metadon.
Dinas Kesehatan Kota Makassar juga menjelaskan
bahwa permasalahan HIV/AIDS masih tinggi di Makassar, ada
sekitar 6000-an kasus HIV/AIDS di Makassar kata Kepala Dinas
Kesehatan Kota Makassar. Program HIV-AIDS merupakan
salah satu program utama di Dinas Kesehatan Kota Makassar.
Tingginya kasus HIV di Makassar membuat program HIV
menjadi perhatian banyak pihak.
Program HIV saat ini berjalan di lima Puskesmas
Layanan Komprehensif Berkelanjutan (LKB) atau Puskesmas
LKB. Lima Puskesmas tersebut adalah Puskesmas Jumpandang
Baru, Makkasau Kassi-kassi, Jongaya dan Andalas. Kelima
Puskesmas ini sudah dapat melakukan pemeriksaan HIV atau
VCT (Voluntary Counseling and Testing). Sedangkan
Puskesmas lain sebagai jejaring, untuk merujuk ke Puskesmas
LKB.

LSL di Makassar
Fenomena peningkatan jumlah LSL 4 tahun terakhir
meningkat dengan sangat tajam. Pada tahun 2009 kasus LSL

265
Bukan Lelaki Biasa

hanya sekitar <40 orang, namun sampai dengan tahun 2015


komunitas LSL sudah >100 orang atau bahkan lebih.
Guna mencari informasi tambahan tentang HIV/AIDS
dan komunitasnya, kami berkunjung ke KPA Provinsi Sulawesi
Selatan. Kami mencari alamatnya menggunakan google maps,
tapi berujung pada Kantor Gubernur Sulawesi Selatan,
rupanya Gedung KPA berada di kawasan Komplek
Gubernuran.
Di sana kami bertemu dengan Bapak Awal. Sebelumnya
kami menjelaskan terlebih dahulu tujuan kedatangan kami ke
Kota Makassar. Kami juga menjelaskan bahwa sebelumnya
kami sudah bertemu dengan Mba Mira orang dari PKBI
Sulawesi Selatan. Pak Awal paham dengan tujuan kedatangan
kami dan langsung menjelaskan tentang komunitas LSL.
Menurutnya, terakhir pada tahun 2014-2015, KPA Provinsi
Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Kementerian
Kesehatan RI mengembangkan metode dari Filipina. Metode
ini dilakukan dengan mencari informan terpercaya di
komunitas, kemudian bertanya, berapa orang teman
komunitasnya? dengan subjek yang berbeda kemudian
dilakukan perhitungan untuk mendapatkan rata-rata.

Pilihan Menjadi LSL


Selama ini pria Makassar terkenal garang dan maskulin.
Kegarangan juga dapat dilihat dari cara berbicara orang
Makassar yang bernada agak tinggi. Tapi sebenarnya
orangnya baik-baik. Konsep maskulinitas para pria Makassar

266
Jelajah Nusantara #4

ini menimbulkan tanda tanya. Sekilas seorang pria terlihat


tampak gagah dan macho. Namun ternyata diantara mereka
ada yang menjadi LSL.
Selama ini pria Makassar dikenal sebagai sosok
maskulin, namun demikian, ternyata ada yang menyukai
sesama jenis, berjiwa perempuan atau bersikap layaknya
perempuan. Hal ini rupanya bukan hal baru bagi masyarakat
Sulawesi Selatan. Sebelum munculnya agama Kristen dan
Islam di Sulawesi Selatan yang menempatkan pembagian
gender hanya ada dua, laki-laki dan perempuan secara
kodrati. Masyarakat Sulawesi Selatan mengenal lima jenis
kelamin yang masing-masing punya posisi di masyarakat.
Pertama Bura’ne artinya pria atau lelaki, biasanya jenis
kelamin ini dituntut harus maskulin dan mampu menjalin
hubungan dengan perempuan. Kedua Makkunrai artinya
wanita atau perempuan. Makkunrai kerap kali dituntut untuk
menjadi feminin, jatuh cinta dan bersedia menikah dengan
lelaki, mempunyai anak dan mengurusnya serta wajib
melayani suami. Ketiga Calalai artinya perempuan yang
berpenampilan seperti layaknya laki-laki, Calalai biasa juga
disebut perempuan maskulin atau tomboy. Keempat Calabai
artinya laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya
perempuan. Menurut sistem gender Suku Bugis, calabai
adalah wanita palsu. Oleh karena itu, orang-orang ini
umumnya laki-laki secara fisik tapi mengambil peran seorang
perempuan. Mode dan ekspresi gender seorang calabai jelas
feminin, tetapi tidak cocok dengan “khas” gender wanita.
Terakhir adalah Bissu artinya golongan yang disebut “bukan

267
Bukan Lelaki Biasa

lelaki bukan pula perempuan”. Bissu atau kelompok orang-


orang mistik.
Seseorang menjadi LSL disebabkan oleh berbagai faktor,
berdasarkan informasi dari beberapa LSL dapat disimpulkan
penyebabnya adalah pengalaman kekerasan seks saat masih
anak-anak, sehingga hal itu mengakar kuat dan selalu terpikir,
pernah dicium oleh laki-laki sehingga muncul gairah, kecewa
berat pada perempuan dan dorongan ekonomi.
Sebagian LSL kurang suka diperiksa oleh tenaga
kesehatan perempuan, mereka mengaku risih dengan
perempuan dan lebih nyaman dengan sesama laki-laki. Ada
juga yang malas datang ke fasilitas kesehatan karena ejekan
masyarakat. Ejekan yang di alami oleh LSL akan cepat
menyebar di komunitas LSL dan mempengaruhi kemauan LSL
lain untuk mengakses layanan kesehatan. Sebagian dari
mereka juga tidak mau mengakses layanan kesehatan yang
ada di Makassar dan lebih memilih periksa di luar daerah
karena takut identitasnya ketahuan.
Sebagian LSL yang mau mengakses layanan kesehatan di
Makassar, paling sering datang ke Puskesmas Jumpandang
Baru dan Puskesmas Makkasau. Hal yang sama diungkap oleh
bagian P2PL di Dinas Kesehatan Kota Makassar. Khusus untuk
komunitas LSL paling sering datang di Puskesmas Jumpandang
Baru dan Makkasau. Menurut keterangan dari beberapa
orang komunitas LSL, mereka merasa nyaman dan aman
secara pelayanan dan privasi datang ke Puskesmas tersebut
dan karena sudah melihat temannya yang datang lebih
dahulu.

268
Jelajah Nusantara #4

Walaupun sudah cukup banyak LSL yang mau


mengakses layanan kesehatan, tapi juga tidak sedikit yang
masih belum mau mengakses. Sebagian besar mengatakan
takut diperiksa. Ada juga yang mengatakan,”Ya kalo diperiksa
paling positif.”
Komunitas ini memang masih tertutup dari dunia luar.
Untuk membedakan mereka dari orang normal saja masih
cukup sulit. Karena kebanyakan dari mereka berpenampilan
sama seperti orang biasa. Bagi orang yang sudah biasa
dengan LSL dapat mengenali mereka dari beberapa ciri,
misalnya ketika berjalan seperti orang yang mau jatuh atau
kemayu, gayanya seperti perempuan dan sangat suka
berbicara.

Curahan Hati ODHA


Pada suatu hari kami berkunjung ke salah satu
Puskesmas LKB di Kota Makassar, secara tidak sengaja di sana
kami bertemu dengan seorang pemuda, gayanya agak manja,
ceplas-ceplos dan ramah. Setiap orang disapa oleh pemuda
itu. Kami penasaran, siapakah pemuda itu sebenarnya? Kami
pun bertanya kepada petugas Puskesmas, ternyata, dia
adalah salah satu LSL orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Kami menyapa pemuda itu, namanya Miro (bukan nama
sebenarnya), usianya sekitar 27 tahun. Kami dibantu oleh
petugas Puskesmas menjelaskan tujuan kedatangan kami di
Puskesmas. Miro dengan senang hati menerima kami, tanpa
ada rasa takut atau canggung. Tanpa diminta dia

269
Bukan Lelaki Biasa

menceritakan riwayat hidupnya sampai menjadi LSL.


Dia mengatakan bahwa sebenarnya dulu tidak LSL,
sampai suatu ketika, saat berumur 19-20 tahunan, dia tidur di
rumah tetangganya. Saat sedang tidur pulas tiba-tiba ada
seorang laki-laki (tetangganya) yang melakukan oral sex
padanya. Keadaan yang mengantuk berat membuatnya
membiarkan kejadian itu, walaupun sebenarnya dia tidak
mau, tapi menurutnya lama-kelamaan terasa nikmat sehingga
ia biarkan. Sejak saat itu dia mengaku ketagihan melakukan
seks dengan laki-laki. Pada saat itu Miro juga mengaku sedang
patah hati pada pacar perempuannya.
Setelah cukup lama menjadi LSL, akhirnya dia
memutuskan untuk memeriksakan status kesehatannya. Hal
itu bermula ketika dirinya mengupload foto tidak pakai baju di
media sosial. Menurut ceritanya pada saat itu ada orang yang
mengomentari fotonya, dan orang itu mengatakan bahwa di
badan Miro terdapat ciri-ciri infeksi HIV. Akhirnya ia
memutuskan untuk memeriksakan diri di Puskesmas dan
hasilnya positif HIV. Pikiran berkecamuk, rasanya mau bunuh
diri, begitu katanya. Badan terasa lemah, karena terpikir akan
segera mati.
Miro mengatakan kian hari kondisi kesehatan tubuhnya
makin menurun. Setelah mendapati statusnya sebagai ODHA,
ia pernah melaksanakan tes CD4. Hasilnya pernah menyentuh
angka 50, padahal orang normal biasanya berada di kisaran
lebih dari 500. Ia mengatakan pada saat itu sudah putus asa
dan tidak ingin hidup lagi. Sampai akhirnya dia didamping
oleh petugas Puskesmas untuk bangkit dan mau terapi Anti

270
Jelajah Nusantara #4

Retro Viral (ARV). Sehingga ia dapat bertahan hidup sampai


sekarang.
Keesokan harinya kami pergi ke Pantai Losari. Disana
saya bertemu dengan LSL yang bernama Radit (bukan nama
sebenarnya). Pertemuan terjadi secara tidak disengaja,
awalnya saya hanya ingin melihat-lihat akivitas LSL. Kami
saling berbincang, memang pada mulanya pembicaraan
terasa kaku. Pada awalnya dia tidak terlalu merespon
pertanyaan-pertanyaan dari saya karena menganggap saya
orang asing.
Menjadi LSL adalah sebuah pilihan dirinya sendiri bagi
Radit, tanpa ada paksaan dari siapa pun, dia sadar bahwa
perilakunya adalah perilaku berisiko. Dia adalah anak bungsu
dari lima bersaudara. Saudaranya terdiri dari tiga orang
perempuan dan seorang laki-laki. Radit adalah anak yang
sangat dekat ayahnya. Dia selalu dimanja oleh ayahnya. Sosok
ayah sangat penting baginya. Sosok ayah adalah orang yang
memberikan kasih sayang tulus dan selalu memperhatikan
apa saja keinginannya.
Ketika ayahnya meninggal, Radit kehilangan sosok laki-
laki yang sangat disayanginya. Setelah ayahnya meninggal, ia
mulai merasa kesepian dan merindukan kasih sayang
ayahnya. Kerinduan ini membuat ia mencari kasih sayang dari
laki-laki, demi mengobati kerinduannya pada sang ayah.
Ketika duduk di bangku SMA, Radit bertemu dengan
seorang dokter muda dari salah satu Universitas di Makassar.
Pada saat itu dokter tersebut sedang berkunjung ke
sekolahnya untuk memberikan sosialisasi masuk Universitas,

271
Bukan Lelaki Biasa

dan kebetulan ia adalah ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah


(OSIS) di sekolahnya. Hal ini membuatnya sering bertemu
dengan dokter tersebut.
Hubungan mereka lama kelamaan menjadi sangat
dekat. Setiap hari dokter itu sering mengantar dan
menjemput Radit ke sekolah. Dokter itu juga membayarkan
uang sekolah dan memberikan uang jajan serta memenuhi
kebutuhan Radit lainnya. Dokter itu merupakan sosok yang
sangat baik di matanya. Kerinduannya pada sosok ayah
membuat Radit sangat senang dapat bertemu dan menjalin
hubungan dengan sang dokter. Kedekatannya dengan dokter
tersebut membuatnya tidak menyadari bahwa mereka sama-
sama laki-laki. Tiada lagi batas diantara mereka berdua,
layaknya orang yang berpacaran.
Setelah setahun saling mengenal, dokter itu pergi ke
luar kota untuk bekerja. Radit memutuskan untuk mengikuti
Dokter tersebut ke luar kota. Radit mengakui bahwa dirinya
tidak suka menjalani hubungan jarak jauh. Namun Radit
merasa bahwa, “Aku punya keluarga, jadi aku harus pulang.”
Pikiran itu muncul dalam dirinya, sehingga dia memilih untuk
kembali ke Makassar. Namun, setelah kejadian itu tak lantas
menghilangkan perasaannya pada laki-laki. Sehingga sampai
sekarang ia masih berpacaran dengan laki-laki.

Menjangkau LSL
Pada malam itu kami hanya ingin mengambil video atau
gambar aktivitas LSL di Pantai Losari. Kami datang lebih awal

272
Jelajah Nusantara #4

sekitar pukul delapan malam waktu setempat. Tidak sengaja


kami bertemu dengan petugas Puskesmas LKB yang mau
melakukan VCT di Losari, ternyata pada malam tersebut
Puskesmas bekerjasama dengan Yayasan Gaya Celebes (YGC),
yayasan yang aktif dalam melakukan pendampingan ODHA
dan penjangkauan LSL.
Menurut petugas Puskesmas, kegiatan ini dilakukan
karena masih banyak LSL yang tidak mau VCT dengan
bermacam alasan, tidak sempat, pelayanannya tutup, bangun
kesiangan, sibuk kerja dan lain-lain. Dengan kegiatan ini LSL
diharapkan mau diperiksa, tanpa ada alasan lagi.
Pemeriksaan dimulai sekitar pukul 21.00 WITA. LSL
pertama yang diperiksa adalah seorang remaja, terlihat
remaja tersebut agak ketakutan ketika melihat jarum untuk
diambil darahnya. Petugas Puskesmas harus mengambil
berulang kali karena sulit menemukan urat nadi untuk
mengambil darah.
Sebelum diambil darahnya LSL diberikan penyuluhan
tentang seks yang aman, apa itu HIV, bagaimana
penularannya, pengobatannya dan lain-lain. Sedangkan
setelah diambil darahnya setiap orang diberikan paket yang
berisi kondom dan pelicin.
Pada malam itu Puskesmas hanya menyiapkan alat dan
bahan untuk 30 orang. Pada awalnya target pemeriksaan
hanya 25 orang. Namun pada kenyataannya didapat 28 orang
yang diperiksa, karena waktu yang sudah semakin larut
akhirnya petugas Puskesmas pulang sekitar pukul 23.30
malam.

273
Bukan Lelaki Biasa

Gambar 2. Tas dan Isi Paket untuk LSL yang melakukan VCT
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Pada malam itu kami tidak menyangka bisa bertemu


dengan begitu banyak LSL, orang-orang yang kami kira bukan
LSL ternyata juga LSL. Sebagian dari mereka masih sangat
muda berkisar usia 15-20 tahun.

Semangat yang Hilang


Sampai saat ini status HIV masih merupakan momok
yang sangat menakutkan bagi semua orang, termasuk bagi
penderitanya sendiri. Hampir semua orang yang baru
mengetahui statusnya sebagai ODHA akan mengalami depresi
dan rasa putus asa. Hal inilah yang sekarang dialami oleh
salah seorang LSL yang bernama Arkan (bukan nama
sebenarnya).
Arkan adalah seorang anak muda yang masih berusia 21
tahun. Dia adalah anak ke-tiga dari lima bersaudara, semua
saudaranya adalah perempuan, status sebagai satu-satunya
laki-laki di keluarga membuat dirinya lebih disayang oleh
orang tuanya, terutama oleh ibunya. Statusnya sebagai ODHA

274
Jelajah Nusantara #4

membuatnya merasa sangat sedih, ditambah lagi perasaan


takut akan kematian, selalu memenuhi isi pikirannya.
Arkan baru beberapa hari mengetahui statusnya
sebagai ODHA. Dia merasa tidak tahu harus berbuat apa dan
apa yang akan terjadi pada dirinya di masa mendatang.
Memang dia akui bahwa dia pernah melakukan seks dengan
laki-laki, namun tidak terbesit sama sekali dipikirannya
dampaknya akan seperti ini.
Arkan sebenarnya pernah melakukan tes HIV tiga tahun
yang lalu. Pada saat itu hasil pemeriksaannya masih negatif.
Dia melakukan pemeriksaan HIV pada saat masih kuliah. Pada
saat itu dia tidak merasakan apapun, sehingga tidak
membatasi pergaulan, termasuk perilaku seksual berisiko
(LSL).
Dia mulai bergaul di komunitas LSL ketika kuliah. Pada
saat itu Arkan sempat menjalin hubungan dengan seorang
laki-laki selama 1 tahun 8 bulan. Hubungan Arkan berakhir
karena pacarnya pindah ke luar daerah untuk bekerja. Arkan
mengaku tidak mau menjalani hubungan jarak jauh. Proses
perkenalan di dalam dunia LSL berlangsung dari teman ke
teman dan banyak juga yang dari media sosial. Peran media
sosial sangat besar dalam menghubungan antar LSL. Lewat
media ini setiap orang bisa saling melihat foto dan
mengetahui keberadaan satu sama lain. Proses perkenalan
dan pembicaraan melalui media sosial merupakan tahap awal
sebelum akhirnya pertemuan langsung terjadi.
Arkan terlihat sangat menyesal dengan apa yang
dialaminya, sesekali dia menundukkan kepala dan matanya

275
Bukan Lelaki Biasa

berkaca-kaca. Arkan sangat sedih karena takut tidak bisa


membahagian orang tuanya apabila dia meninggal dengan
cepat, terutama ibunya yang masih hidup. Dia merasa telah
mengecewakan ibunya. Selama ini dia adalah anak yang
paling diharapkan dan disayang oleh orang tuanya,
“Bagaimana nantinya mi, ingat ibuku, takut kecewa
orang tuaku, selama ini apa yang ku minta selalu ada ji.
Nggak papa ji saya pergi duluan asalkan orang tuaku
sudah bahagia ji. Banyak takut ji minum obat, takut mati
ji, kasian orang tuaku.”

Salah satu hal terberat yang membuat Arkan sulit untuk


menerima keadaannya adalah rasa bersalahnya dengan orang
tuanya. Arkan adalah anak yang aktif di keluarganya. Selama
ini dia selalu memberikan motivasi dan kepada saudara dan
ibunya sebagaimana anak yang aktif dan pintar. Ketakutan
Arkan juga bertambah saat memikirkan pandangan orang
ketika mengetahui penyebab kematiannya adalah penyakit
HIV. Dia tidak ingin membuat keluarganya malu dihadapan
orang lain.
Rasa takut setelah mengetahui statusnya membuat
Arkan tidak mau makan. Dia sempat berhenti makan selama
tiga hari. Dia tidak berselera makan, karena berpikir umurnya
tidak akan panjang. Walaupun sebenarnya dia adalah seorang
mahasiswa di bidang kesehatan yang seharusnya tahu bahwa
HIV tidak akan membuat orang mati dengan cepat dan dapat
bertahan dengan pengobatan yang tepat. Arkan selalu
teringat dengan statusnya, hanya ketika bersama dengan ibu

276
Jelajah Nusantara #4

dan keluarganya dia merasa lebih tenang dan dapat


melupakan sejenak penyakitnya, “Kalo di rumah ada ibu tidak
teringat ji, tapi kalo di kamar, aduuuh atau di rumah sendiri
teringat takut ji”.
Perasaan takut tidak dapat membalas jasa orang tuanya
membuat Arkan selalu memikirkan status penyakitnya. Rasa
tidak percaya akan statusnya selalu membuat Arkan sempat
tidak mau untuk berobat. Dia berpikiran bahwa obat akan
membuat badannya menjadi lemah, “Takut ji, aku mau ujian
mi, takut tidak bisa mikir, berat ku turun.”

“Orang Sakit”
Perkembangan komunitas LSL merupakan sebuah
fenomena sosial. Hal ini menjadi sebuah pro kontra di
masyarakat. Banyak orang yang menganggap komunitas ini
sebagai pembawa sial dan sampah di masyarakat.
Pandangan buruk yang telah tercipta membuat
komunitas LSL menjadi terabaikan dari kehidupan
kemasyarakatan. Komunitas LSL menjadi terasingkan dari
masyarakat. Hal ini justru membuat mereka tidak mau
menunjukkan diri ketika harus berhadapan dengan
masyarakat, padahal jika dikaitkan dengan kesehatan, mereka
adalah kelompok berisiko untuk mengalami masalah
kesehatan. Bayangkan saja ketika mereka mengalami masalah
kesehatan, sebagian besar dari mereka akan takut untuk
mendatangi layanan kesehatan, karena stigma dari
masyarakat.

277
Bukan Lelaki Biasa

Stigma negatif yang masih cukup kuat di masyarakat


membuat komunitas ini semakin menutup diri. Hal ini juga
didukung oleh komentar dari Walikota Makassar, “Orang
seperti ini tidak usah dijauhi. LGBT itu ‘orang sakit’. Kalau dia
orang sakit, semua harus mendukung untuk mereka sembuh.
LGBT itu dalam sejarah lagi adalah penyakit smort mental
yang harus membutuhkan dukungan-dukungan. Maka jangan
biarkan mereka. Jangan mereka dimusuhi, tapi bagaimana
mendekati mereka agar kembali ke hal yang normal. Itu ajak
bicara mereka jangan mereka ditinggalkan.”
Istilah orang sakit atau “belok” pada LSL, sudah bukan
merupakan hal yang tabu, bagi sesama LSL. Foto yang
dipasang oleh seorang LSL di media sosial biasanya akan
dikenali oleh LSL lain. LSL biasanya suka menampilkan foto
tidak menggunakan baju, baju yang ketat, selain suka
menampilkan foto saat di kolam renang, juga baju tanpa
lengan.

Peran Gender di Komunitas LSL


Pada malam itu kami bertemu dengan beberapa
pasangan LSL. Ada yang masih remaja dan ada juga yang
sudah cukup dewasa. Sama seperti pasangan pada umumnya
mereka juga memiliki peran masing-masing, ada yang
berperan sebagai laki-laki dan ada yang berperan sebagai
perempuan.
Dalam melakukan berhubungan seks, mereka juga
memiliki peran masing-masing. Pertama, ada yang berperan

278
Jelajah Nusantara #4

sebagai Bot/Bottom, istilah ini sering digunakan atau


diperuntukkan bagi LSL yang selalu berperan sebagai layaknya
perempuan ketika melakukan hubungan seks. Dalam konteks
hubungan seksual jenis ini biasanya berperan sebagai pihak
yang dimasuki atau ditusuk. Ada banyak faktor yang
menyebabkan seorang LSL hanya mau berperan menjadi bot.
Misalnya ada yang ketagihan menjadi bottom karena saat
pertama kali melakukan hubungan seks berperan menjadi
seorang bottom, karena merasakan suatu kenikmatan atau
sensasi tersendiri yang tidak dapat dilupakan, sehingga pada
saat melakukan hubungan seks selalu ingin menjadi bottom.
Kedua, ada yang berperan sebagai Top, istilah ini sering
digunakan atau diperuntukkan bagi LSL yang selalu berperan
sebagai laki-laki ketika melakukan hubungan seks. Dalam
konteks hubungan seksual jenis ini biasanya berperan sebagai
pihak yang memasuki atau menusuk. Ada banyak faktor yang
menyebabkan seorang LSL hanya mau berperan menjadi top.
Misalnya ada yang ketagihan menjadi top karena saat
pertama kali melakukan hubungan seks berperan menjadi
seorang top, karena merasakan suatu kenikmatan atau
sensasi tersendiri yang tidak dapat dilupakan, sehingga pada
saat melakukan hubungan seks selalu ingin menjadi posisi
top.
Ada pandangan lain dari LSL yang berperan sebagai top,
bahwa ketika memiliki posisi sebagai top mereka merasa
lebih superior dan tidak mudah lelah. Ketiga, selain dua peran
di atas, ada juga yang memiliki peran ganda atau Versatile,
istilah ini sering digunakan atau diperuntukkan bagi LSL yang

279
Bukan Lelaki Biasa

terkadang berperan sebagai laki-laki, namun terkadang bisa


juga berperan sebagai perempuan, ketika melakukan
hubungan seks. Dalam konteks hubungan seksual jenis ini
memiliki dua kecenderungan, bisa menjadi pihak yang
dimasuki atau memasuki.

Kumpul bersama LSL


Hampir setiap malam kami ikut kumpul-kumpul, atau
bahasa gaulnya nongkrong dengan para LSL di Pantai Losari.
Sebenarnya bisa dibilang itu bukan kebiasaan saya, hehehe,
karena gampang ngantuk. Setiap malam cukup banyak LSL
yang datang untuk sekedar duduk-duduk, bercanda satu sama
lain, menggosip, pacaran, dan lain-lain.
Semakin malam, akan semakin banyak LSL yang datang.
Biasanya, mereka mulai berdatangan diatas jam 10 malam.
Sebelum jam 10, pengunjung Losari masih dipenuhi dengan
masyarakat umum, sehingga belum bisa diketahui
keberadaan mereka, hingga jam 10 ke atas barulah
keberadaan mereka terlihat dengan jelas.
Setiap malam kami berusaha mencari informasi
mengenai LSL. Awalnya kami sangat kesulitan untuk
mendekati mereka, sampai akhirnya kami berkenalan dengan
salah seorang tetua LSL yang bernama Roza (Nama Samaran).
Dia menyambut kami dengan baik, bahkan dia cukup
membantu kami untuk bisa berkomunikasi lebih dalam
dengan LSL. Berawal dari situ kami mulai dikenal oleh
beberapa LSL.

280
Jelajah Nusantara #4

Gambar 3. Nongkrong
Bersama LSL
Sumber: Dokumentasi
Peneliti

Setelah hampir satu bulan kami selalu datang ke Pantai


Losari, sebagian besar LSL sudah mengenal kami, terutama
yang masih remaja, bahkan ada LSL remaja yang selalu
mencium tangan kami setiap kali bertemu. Mereka akan
nongkrong sampai dini hari, ada juga yang begadang sampai
subuh. Kami heran, kenapa mereka tidak mengantuk?
ternyata menurut keterangan dari salah satu LSL, sebagian
besar dari mereka tidur di siang hari dan baru bangun di sore
hari. Jadi tidak akan mengantuk di malam hari.
Setelah malam semakin larut, sekitar pukul tiga subuh
mereka akan pulang. Ada yang pulang ke rumah dan ada juga
yang pulang ke kos. Menurut keterangan dari salah satu LSL,
sebagian dari mereka tidak pulang ke rumahnya, namun ke
kos salah satu LSL. Setiap kos biasanya dihuni oleh 5-10 orang,
sesuai dengan kelompoknya masing-masing.

281
Bukan Lelaki Biasa

Kantuk yang Tertahan


Setiap malam kami sudah mengikuti aktivitas LSL di
Pantai Losari. Sekitar pukul tiga subuh mereka akan pulang,
begitu juga dengan kami, begitu setiap hari. Suatu hari kami
memutuskan untuk mengikuti aktivitas LSL di rumah atau di
kos. Kebetulan teman saya adalah seorang perempuan
sehingga hanya saya yang akan mencoba untuk mengikuti
mereka. Awalnya saya ragu-ragu untuk menginap bersama
mereka, namun rasa penasaran dan dorongan dari teman
peneliti membuat saya memberanikan diri.
Malam itu saya sudah membuat janji dengan salah satu
LSL untuk menginap di kosnya. Namun menurut informasi
darinya, malam tersebut teman-temannya tidak jadi
menginap di kosnya, namun pindah ke kos LSL yang lain.
Saya memutuskan untuk ikut menginap di kos tersebut,
dengan izin dari si pemilik kos tentunya. Malam pun semakin
larut akhirnya waktu untuk pulang telah tiba. Saya pulang
berboncengan dengan salah satu LSL, sekitar pukul setengah
empat malam kami sampai di kos, ternyata di sana sudah ada
empat orang LSL lainnya yang sudah sampai lebih dulu.
Sesampainya di kos, agak gugup rasanya, tempatnya
cukup jauh dari Pantai Losari kurang lebih 10 km. Saya tidak
habis pikir, ukuran kamar yang mereka gunakan untuk tidur
sangat kecil, kira-kira hanya 2 x 3 meter dan itu untuk lima
orang ditambah seorang lagi, saya.

282
Jelajah Nusantara #4

Gambar 4. Kamar
Kos LSL
Sumber:
Dokumentasi Peneliti

Kebetulan, pada saat itu adalah Bulan Ramadhan.


Sebelum pulang, saya sudah mengisi perut dengan roti untuk
menjalankan ibadah puasa. Setelah sampai di kos, LSL tidak
langsung tidur. Ada yang nonton video, ada yang buat
minuman dan ada yang sedang mabok karena terlalu banyak
minum obat. Kos tersebut terlihat sangat sederhana, hanya
ada satu lemari, bantal dan kasur yang sudah lusuh.
Pada malam itu saya memutuskan untuk tidak tidur
(hanya memejamkan mata sejenak), walaupun sebenarnya
mata sudah sangat mengantuk. Waktu menunjukkan pukul
04.00 WITA. Subuh, sebagian LSL sudah mulai tidur, kamar
yang cukup sempit membuat mereka tidur dengan
berhimpitan, tak jarang saya melihat mereka saling
berpelukan.
Matahari sudah mulai terbit, jam tangan saya
menunjukkan sudah pukul 07.00 pagi, semua LSL sudah
terlelap. Saya mencoba untuk membangunkan salah satu dari
mereka karena ingin keluar, namun mereka sangat sulit

283
Bukan Lelaki Biasa

dibangunkan, mungkin karena sangat mengantuk. Ternyata


benar, mereka akan tidur di siang hari dan bangun di sore hari
untuk keluar pada malam hari.

284
Ironi Sosial Ekonomi dan Kesehatan
Masyarakat
Catatan Perjalanan ke Kutai Timur

Lafi Munira

Banjarmasin, 18 Januari 2017


Menuju Kabupaten Kutai Timur
Perjalanan saya dimulai dari Kota Banjarmasin menuju
Kota Balikpapan. Bandara Sepinggan kali itu terlihat lebih
menarik karena banyak perubahan arsitektur hingga menjadi
luas dan ciamik bila dibandingkan dengan tampilan bandara
tersebut pada tahun 2011 kala pertama kali saya ke
Balikpapan.
Setibanya di Bandara Sepinggan saya mencari meeting
point tempat di mana beberapa peneliti yang terdiri dari

285
Ironi Sosial Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat

perawat dan sarjana kesehatan masyarakat berkumpul untuk


berangkat bersama menuju Kabupaten Kutai Timur.

Gambar 1. Peta Kabupaten Kutai Timur


Sumber: wikipedia.com

Perjalanan darat dari Balikpapan menuju Kabupaten


Kutai Timur membutuhkan waktu selama sepuluh jam.
Tekstur jalanan yang dilewati bisa dikatakan mulus, melewati
Kota Samarinda dan Sungai Mahakam. Ketika sudah
memasuki wilayah ‘Gunung Menangis’, yang sudah termasuk
lingkungan Kabupaten Kutai Timur, tekstur jalanan menjadi
berbatu dan berkelok sehingga mobil Elf yang kami tumpangi
pun mengurangi kecepatan.
Mengapa wilayah ini disebut ‘Gunung Menangis’?
Menurut masyarakat setempat hal itu karena daerah tersebut
dikenal rawan longsor dan tekstur jalan tidak bagus, ditambah
dengan banyaknya angka kecelakaan, serta tidak adanya

286
Jelajah Nusantara #4

penerangan lampu jalanan. Sekitar pukul 21.00 WITA,


akhirnya tibalah kami di Ibukota Kabupaten Kutai Timur,
Sangatta.

Sangatta yang Kaya dan Masyarakat Transmigran


yang Miskin

Gambar 2. Kota Sangatta


Sumber: Dokumentasi Peneliti

Ini adalah kali pertama saya menapakan kaki di tanah


Sangatta, tentu saja saya belum mengenal lebih dekat tempat
ini. Kota ini tidak begitu luas. Ketika di lapangan dan bercakap
dengan para responden penelitian saya baru mengetahui
bahwa Sangatta merupakan negeri penghasil bahan bakar
minyak. Saya sempat melewati pabrik Pertamina yang sangat

287
Ironi Sosial Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat

luas dan ketat penjagaannya. Selain itu Sangatta juga


merupakan negeri penghasil tambang batu bara.
Nampaknya orang dari luar kota banyak berlomba
untuk hidup dan tinggal di Sangatta untuk mendapatkan
pekerjaan dengan harap nominal gaji yang besar. Pada suatu
kesempatan saya melakukan sweeping ke beberapa
kecamatan, saya menemukan beberapa kejutan sekaligus
keprihatinan. Pada saat mewawancarai seorang bapak
transmigran dari Jawa yang sejak 20 tahun yang lalu bekerja
di salah satu perusahaan tambang batu bara, beliau
mengatakan bahwa pendapatan beliau sebesar 20 juta rupiah
per bulan, ditambah dengan fasilitas rumah, listrik dan PDAM
yang dibiayai penuh oleh perusahaan, termasuk asuransi
kesehatan swasta.
Ikatan sosial antar masyarakat dalam suatu komplek
perumahan yang bagus-bagus tersebut bisa dibilang kurang
dekat. Semacam pergaulan lingkungan tetangga pada
komplek elit di Jakarta yang antar satu dengan yang lain saling
tidak peduli dan mengurusi hidup masing-masing, saling tidak
tahu nama dan merasa tidak kenal, meski tinggal di dalam
satu RT yang sama. Miris.
Beda halnya ketika saya mewawancarai masyarakat
pendatang dengan lokasi rumah yang tampilannya sederhana.
Mereka adalah para pendatang dari luar Sangatta yang
datang ke kota tersebut dengan harapan bisa mendapatkan
pekerjaan yang baik di perusahaan pertambangan batu bara
ataupun migas. Mereka bekerja serabutan, ada yang menjadi
kuli bangunan, satpam, ada juga yang pengangguran. Mereka

288
Jelajah Nusantara #4

berkata, “…ternyata Sangatta tidak seindah apa yang


dibayangkan…”. Mereka mengontrak rumah, dan harus
bekerja keras untuk mendapatkan biaya kontrakan rumah
dan keperluan hidup sehari-hari.
Masyarakat di daerah perumahan yang saling
berdekatan tersebut merupakan multi etnik, ada yang dari
Jawa, NTT, Kalimantan Selatan, dan lain-lain. Pada akhirnya
mereka hanya bisa pasrah tinggal di Sangatta selamanya,
karena mereka tidak punya uang yang cukup untuk keluar
dari Sangatta menuju kampung halaman mereka. Biaya hidup
di Sangatta bisa dikatakan tinggi, biaya transportasi dari
Sangatta menuju Samarinda ataupun Balikpapan bisa
membuat isi dompet jebol.
Lain halnya bagi mereka yang bekerja di
pertambangan batu bara dan migas, bagi mereka, dalam
waktu satu bulan mereka harus refreshing ke Samarinda atau
Balikpapan dengan mobil pribadi, ah kesenjangan…
Mereka yang menganggap dirinya miskin ternyata
lebih hangat kedekatannya dengan penulis. Antara satu
tetangga dengan tetangga yang lain saling kenal dan saling
berkomunikasi dengan hangat.

Kondisi Kesehatan Masyarakat


Pada saat saya dan rekan perawat sweeping ke rumah-
rumah warga, kami menemukan sebuah fakta mengejutkan.
Banyak dari masyarakat yang mempunyai riwayat Positif
Hepatitis B. Kebanyakan dari mereka tidak faham bahwa

289
Ironi Sosial Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat

Hepatitis B bisa menular dengan kontak wadah makanan


(piring makan, gelas, sendok) saat mencuci piring. Penyakit
menular ini dianggap menjadi suatu hal yang biasa saja. Saat
menemukan kasus Hepatitis B tersebut kami mengambil
sampel darah semua anggota keluarga.
Pola pencarian pengobatan pun berbeda-beda
tergantung status ekonomi warga. Bagi yang bekerja di
pertambangan mereka lebih memilih untuk berobat ke rumah
sakit swasta tanpa menggunakan asuransi jaminan kesehatan.
Sedang bagi warga yang hidupnya lebih sederhana memilih
berobat ke Puskesmas dengan berjalan kaki sekitar empat
kilometer, karena seringkali mereka tidak mempunyai motor,
dan di Kota Sangatta memang tidak ada angkutan umum yang
tersedia.
Fenomena kesehatan masyarakat di daerah
pertambangan ini seringkali adalah efek dari blasting.
Menurut definisinya blasting merupakan efek dari upaya
peledakan dan pengeboran batu bara yang bisa dirasakan
getarannya hingga puluhan kilometer, dan suara yang
dihasilkan mampu membuat kebisingan.
Berdasar informasi dari responden, mereka mengaku
sering merasakan getaran tersebut beberapa kali dalam
seminggu, selama beberapa menit. Sensasinya menurut
mereka seperti sedang gempa bumi. Informasi dari form
kuesioner yang saya baca, blasting dapat mengakibatkan
kelumpuhan permanen pada masyarakat jika terpapar terus-
menerus, hingga mengalami ketulian.

290
Jelajah Nusantara #4

Perjalanan Menuju Kecamatan Bengalon


Kecamatan Bengalon merupakan salah satu
kecamatan yang berada di Kabupaten Kutai Timur. Sepanjang
perjalanan kami disuguhkan pemandangan galian batu bara
yang sangat dalam, dan sekaligus pemandangan kebakaran
hutan. Saat itu saya berfikir kenapa ada kebakaran hutan
dimana-mana. Asumsi pribadi saya sendiri mungkin ada
hubungannya hutan dibakar dengan lahan baru untuk
pengeboran tambang batu bara yang masih sangat luas.

Gambar 3. Kebakaran Hutan


Sumber: Dokumentasi Peneliti

Jalanan menuju Kecamatan Bengalon bisa dikatakan


mulus, teraspal dengan baik, namun tidak ada lampu
penerangan jalan, perjalanan dari Sangatta menuju Bengalon
membutuhkan waktu sekitar tiga jam dengan menggunakan

291
Ironi Sosial Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat

mobil. Di kecamatan ini tidak terdapat perumahan elit


layaknya di Sangatta, yang ada hanya rumah-rumah
sederhana yang saling berdekatan.

Gambar 4. Bekas Galian Tambang Batu Bara


Sumber: Dokumentasi Peneliti

Sepaso Timur RT 15 yang Terisolir,


“Kami Ingin Sekolah Papa..”
Saya ditugaskan kala itu untuk sweeping ke daerah
Sepaso Timur, RT 15, wilayah ini masih bagian dari Kecamatan
Bengalon. Saat perjalanan menuju ke Sepaso Timur, mobil
yang membawa kami tersesat di dalam hutan yang kanan-
kirinya terbakar dengan asap di mana-mana. Wajar kalau saya
panik, pak supir bilang berdoalah karena kalau sampai hujan
turun, kemungkinan mobil ga bisa jalan karena jalananya
bukan aspal, melainkan tanah merah yang berlumpur. Kami
berputar-putar mencari arah jalan yang benar, hingga pada

292
Jelajah Nusantara #4

akhirnya kami menemukan jajaran tanaman sawit dan


sampailah kami setelah 3 jam mencari RT 15 ini.

Gambar 5. Kebun Sawit


Sumber: Dokumentasi Peneliti

Tibalah kami di permukiman warga dengan tampilan


rumah kayu yang sangat sederhana. Anak-anak kecil
berkerumunan, ya hanya ada anak-anak saja saat kami
kesana, ketika kami tanyakan dimana orangtua mereka,
mereka menjawab bahwa orang tua mereka sedang ke ladang
sawit. Kami menunggu sampai sore hingga orang tua mereka
datang. Tak satu pun dari anak-anak tersebut yang
bersekolah, ya mereka tidak sekolah. Kami tidak menemukan
adanya sekolah dasar didaerah tersebut, pun tidak ada
faslitas kesehatan primer. Mereka bermain-main di tanah
tanpa menggunakan alas kaki. Ketika orang tua mereka

293
Ironi Sosial Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat

pulang dari ladang sawit kami mulai bercakap dengan


mereka.
Sepaso Timur, RT 15 ini merupakan pemukiman
homogen etnik NTT, mereka cenderung tertutup, butuh
sekitar setengah jam kami membaur dengan mereka hingga
mereka mau bercakap dengan kami. Anak-anak mereka yang
telah remaja pun tidak sekolah sedari kecil, mereka yang
remaja ikut berkebun sawit bersama orang tuanya, karena
dapat menambah penghasilan keluarga. Mereka digaji satu
juta rupiah per orang.
Selain aksesibilitas menuju Puskesmas dan sekolah
yang jauh, anak-anak di komunitas tersebut hampir semuanya
menderita kecacingan. Mereka sempat meminta kepada kami
apakah ada obat cacing. Mereka bercerita bahwa feses anak-
anaknya ada cacingnya, begitupun dengan orang tuanya.
Secara personal hygiene memang tidak bersih sepanjang saya
mengamati mereka.
Akhirnya yang kami khawatirkan tiba juga, hujan deras
datang dan mobil yang membawa kami hampir masuk jurang.
Disaat genting seperti itu saya masih memikirkan mereka,
adakah pemerintah menengok sejenak ke tempat ini?

294
Kapidaraan;
Antara Kepercayaan dan Kesehatan

Aprizal Satria Hanafi

Kalimantan Selatan adalah salah satu provinsi yang


terletak di Pulau Kalimantan. Ibu kotanya adalah Banjarmasin.
Provinsi Kalimantan Selatan memiliki luas 37.530,52 km²
dengan populasi hampir 3,7 juta jiwa. Provinsi ini mempunyai
11 kabupaten dan 2 kota. Secara historis wilayah Kalimantan
Selatan mula-mula dibentuk sebagai wilayah Karesidenan
Kalimantan Selatan di dalam Provinsi Kalimantan itu sendiri.
Kawasan Kalimantan Selatan pada masa lalu merupakan
bagian dari tiga kerajaan besar yang pernah secara berturut-
turut memiliki wilayah di daerah ini, yakni Kerajaan Negara
Dipa, diteruskan oleh Kerajaan Negara Daha dan diteruskan

295
Kapidaraan; Antara Kepercayaan dan Kesehatan

oleh Kesultanan Banjar. Secara geografis, Kalimantan Selatan


berada di bagian Tenggara Pulau Kalimantan, memiliki
kawasan dataran rendah di bagian Barat dan pantai Timur,
serta dataran tinggi yang dibentuk oleh Pegunungan Meratus
di tengah.
Mayoritas penduduk Kalimantan Selatan merupakan
etnis Banjar (74,34%) yang di daerah sentralnya terdiri atas
tiga kelompok, yaitu Banjar Kuala, Banjar Pahuluan dan Banjar
Batang Banyu. Etnis terbesar ke-dua yaitu etnis Jawa (14,51%)
yang memiliki kantong-kantong permukiman di kawasan
transmigrasi dan Kota Banjarbaru. Di urutan ke-tiga etnis
Bugis (2,81%) yang mendiami pesisir Kabupaten Tanah
Bumbu dan Kotabaru. Berikutnya adalah etnis Dayak (2,23%)
di urutan ke-empat yang menempati kawasan Pegunungan
Meratus dan aliran Sungai Barito menuju Kalimantan Tengah.
Diurutan lima hingga sepuluh yaitu Madura (1,47%), Mandar
(1,1%), Sunda (0,68%), Tionghoa (0,36%), Batak (0,34%), Bali
(0,33%) dan suku lainnya (1,83%).
Islam adalah agama mayoritas yang dianut sekitar 97%
masyarakat Kalimantan Selatan. Selain ada juga penganut
agama Kristen (1,32%), Katolik (0,44%), Hindu (0,44%), Budha
(0,32%), Khonghucu (0,01%),serta Kaharingan yang dianut
masyarakat di kawasan Pegunungan Meratus.
Masyarakat Banjar yang sebagian besar beragama islam
adalah masyarakat yang percaya dengan hal-hal yang ghaib,
karena di satu sisi Alquran sendiri telah mewajibkan kepada
manusia agar beriman dengan yang bersifat ghaib seperti jin,
malaikat dan lain-lain. Berawal dari kewajiban beriman

296
Jelajah Nusantara #4

dengan hal yang ghaib, masyarakat Banjar percaya bahwa


makhluk-makhluk katinting pula dapat menyebabkan
penyakit.
Banyak hal di dunia ini yang kadang tidak dapat diterima
oleh akal manusia. Salah satunya adalah dalam aspek
pengobatan. Tak semua penyakit dapat diobati dan dijelaskan
secara medis. Ada kalanya penyakit tersebut hanya dapat
disembuhkan dengan ritual dan doa-doa. Seperti teknik
pengobatan tradisional pada masyarakat Banjar, yang dikenal
dengan nama Kapidaraan. Pengobatan yang dilakukan
dengan ritual dan prosesi tertentu yang dipenuhi nuansa
magis dan ghaib.
Kapidaraan, asal katanya adalah pidara yang artinya
arwah atau roh orang yang sudah meninggal dunia. Tidak ada
yang mengetahui secara pasti kata pidara berasal dari
rumpun bahasa Dayak atau Melayu. Kapidaraan dipercaya
disebabkan oleh arwah atau roh orang yang sudah meninggal
dunia kemudian menyapa seseorang yang masih hidup. Itu
bisa terjadi ketika seseorang itu melewati kuburan, tempat
angker atau seusai melayat (takziah).
Mereka yang menjadi korban sapaan roh itu, disebut
kapidaraan. Proses pengobatannya disebut mamidarai.
Sedang mereka yang tengah diobati dari Kapidaraan, disebut
dipidarai. Kapidaraan, mamidarai dan dipidarai, adalah
rangkaian prosesi yang berumur sangat tua. Dipercaya,
fenomena kapidaraan ini sudah dikenal masyarakat Banjar
sejak jaman pra Islam. Kala itu, teknik mamidarai masih
menggunakan lafal dan mantra-mantra.

297
Kapidaraan; Antara Kepercayaan dan Kesehatan

Mitos demam kepidaraan pada tradisi Suku Banjar


Kalimantan sudah mengakar kuat sejak zaman dahulu.
Kepidaraan dalam bahasa daerah Banjar diartikan sebagai
demam tinggi yang disebabkan oleh gangguan makhluk halus.
Di daerah lain mungkin sering digunakan beberapa istilah lain
misalnya ''kesambet'', tetapi kesamaan arti disini tidak
semuanya sama, karena kepidaraan lebih menjurus kepada
shock (terkejut yang amat sangat).
Seiring masuknya Islam, fenomena ini mengalami
transformasi. Berkat kearifan ulama zaman dahulu, prosesi
pidara dikawinkan dengan budaya dan nafas Islam, tanpa
menghilangkan keseluruhan budaya lokal. Jadilah prosesi
pidara bernafaskan Islam yang dikenal kini.
Penggunaan lafal dan mantra, digantikan dengan ayat-
ayat suci Al Qur’an. Namun ciri khas budaya lokal masih
terjaga. Semua disimbolkan melalui media janar (kunyit),
baras putih, parang, parafin, dupa dan kapur. Begitu pula
dengan kalimat atau mantra penutup saat melempar sisa
perasan kunyit dan baras putih, masih menggunakan mantra
lokal, termasuk simbol Cacak Burung (lihat Gambar 1).
Anak-anak zaman sekarang mungkin tidak akan percaya
dengan yang namanya kapidaraan. Di zaman yang sudah
modern seperti ini masih saja ada kepercayaan seperti itu.
Proses ritual pengobatan Kapidaraan disebut
mamidarai. Mamidarai merupakan semacam ritual yang
sudah mendapatkan “nafas-nafas” Islami, meski mantra-
mantra lama masih ada. Prosesi ini memanfaatkan rempah
seperti janar (kunyit), beras putih, dupa/parafin, kapur dan

298
Jelajah Nusantara #4

parang (golok). Ritual ini masih dapat kita jumpai di beberapa


tempat di Kalimantan khususnya Kalimantan Selatan.

Gambar 1. Simbol Cacak Burung pada saat Memidarai


Sumber: Penelusuran Internet

Kepidaraan dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.


Biasanya yang lebih sering mengalami kapidaraan adalah bayi
dan anak kecil. Namun tak jarang, kapidaraan menimpa orang
dewasa. Orang dewasa yang terkena kapidaraan, biasanya
mereka yang lemah atau jiwanya sedang kosong. Misalnya
seseorang yang melihat pemandangan yang cukup
mengerikan dan kemudian ia jatuh sakit.
Menurut kepercayaan, di saat seseorang melihat
sesuatu yang menakutkan atau menyeramkan sehingga
membuatnya terkejut, baik itu secara nyata atau ghaib,
“semangat” atau roh yang ada di dalam jasad akan ikut
terguncang bagi mereka yang tidak kuat (atau Lamah Bulu
dalam istilah orang Banjar). Sehingga sebenarnya bukan jasad
yang atau tubuh yang sakit.

299
Kapidaraan; Antara Kepercayaan dan Kesehatan

Masyarakat biasanya akan menyebutkan “Kur


Sumangat” apabila melihat ada seorang anak kecil yang
terkejut dan membelai kepala anak kecil tersebut untuk
mengembalikan “semangat” anak kecil tadi yang dianggap
hilang. Misalnya, suatu ketika ada seorang anak yang berumur
sekitar 10 tahun melihat kejadian yang mengenaskan,
menyeramkan atau menakutkan seperti korban yang tewas
atau sekarat karena kecelakaan, melihat mayat orang
meninggal, atau ditegur makhluk halus di tempat-tempat
yang dianggap angker.
Setelah itu, tidak berapa lama anak yang melihat
kecelakaan tersebut mengalami demam yang cukup tinggi.
Hal seperti ini pada awamnya langsung dianggap sebagai
Kapidaraan oleh masyarakat Banjar. Pengobatan
menggunakan obat medis pun dianggap tidak akan mampu
untuk menyembuhkannya. Menurut masyarakat hanya ada
satu cara untuk menyembuhkannya yaitu dengan dipidara.
Contoh lain misalnya ketika melintas di kuburan, arwah
di dalam kubur menegur atau menyapa. Akibat sapaan itu,
jiwa kita tidak sanggup menanggungnya hingga membuat
sakit.
Kapidaraan dipercaya juga dapat terjadi karena
ditegur/disapa oleh padatuan (nenek moyang atau ayah, ibu
dari kakek) kita yang telah meninggal dunia. Sakit yang
diderita seseorang yang kapidaraan, biasanya berupa naiknya
panas tubuh. Telinga, telapak tangan dan telapak kaki
menjadi kanyam (sangat dingin). Orang yang terkena
kapidaraan juga susah tidur, kada karuan rasa (merasa serba

300
Jelajah Nusantara #4

salah) dan tak jarang seperti ketakutan. Bila bayi atau anak-
anak mengalami kapidaraan, maka akan menjadi sangat
rewel, tubuh panas dan tidak bisa tidur. Mereka bertingkah
seakan tengah melihat hantu.
Secara medis, kapidaraan biasa diidentikkan dengan
demam disertai panas tinggi. Obat penurun panas yang
diberikan, dijamin tidak berpengaruh. Karena kapidaraan
dianggap bukan penyakit medis.
Untuk mengetahui seberapa parah kapidaraan yang
dialami seseorang biasanya dapat diketahui dari parutan
kunyit. Kunyit tersebut diparut dan diperas, apabila air yang
keluar dari kunyit sedikit, maka kepidaraannya ringan,
begitupula sebaliknya. Keajaiban sering terjadi dari
sebongkah kunyit yang berukuran kecil dapat mengeluarkan
air yang banyak.
Betapapun beratnya kadar kapidaraan yang diderita
seseorang, maka teknik, media, prosesi dan rafalan tetap
sama. Hanya saja, tingkat kesembuhan yang berbeda. Bila
kapidaraan ringan, kesembuhan datang lebih cepat, bisa
hanya dalam hitungan jam. Namun bila berat maka
kesembuhan datang lebih lama, biasa dalam hitungan hari.
Proses pidara biasanya dilakukan oleh seorang dukun
beranak, orang yang dianggap berilmu, bisa secara turun
temurun atau melalui proses belajar. Si tukang pidara
biasanya melakukan beberapa langkah untuk menyembuhkan
pasiennya. Orang yang kepidaraan akan disembur oleh
tukang pidara dengan menggunakan air melalui mulutnya.
Selain itu akan digoreskan kunyit di beberapa bagian tubuh

301
Kapidaraan; Antara Kepercayaan dan Kesehatan

orang yang kepidaraan, seperti di bagian kening, telapak


tangan, bahu dan pada bagian lipatan-lipatan tubuh. Dalam
menggoreskan kunyit ke badan orang yang Kapidaraan
dilakukan dengan disertai doa-doa atau matra untuk
menghilangkan gangguan atau pengaruh yang dianggap tidak
baik, sehingga menyebabkan demam.

Gambar 2. Proses Menggoreskan


Kunyit pada Orang yang
Kapidaraan
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Selain menggoreskan ke badan orang yang kapidaraan.


Kunyit yang diparut juga diusapkan pada parang
(golok)/parutan kunyit yang terbuat dari besi yang diletakkan
diatas dupa/parafin dengan membentuk tiga goresan yang
disebut cacak burung. Dalam mamidarai dikenal bentuk cacak
(jejak) burung.
Sebagian parutan lain dicampur beras putih kemudian
ditaburkan ke bumbunan (ubun-ubun) kepala orang

302
Jelajah Nusantara #4

Kapidaraan, sambil dibacakan bermacam-macam mantra/


doa. Setelah itu baru sisa parutan kunyit tadi dioleskan ke
berbagai tempat tertentu di tubuh seperti alis, telapak
tangan, kaki dan lain-lain. Terakhir beras putih tadi
dihamburkan ke halaman/pekarangan sambil tetap membaca
mantra.

Gambar 3. Dupa dan Parafin


untuk Memidarai
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Penggunaan media parang (golok), diyakini sebagai


media yang ditakuti oleh jin, setan, arwah dan roh dan
mengeraskan semangat orang yang kapidaraan layaknya besi
yang keras. Sebaliknya, dupa/parafin dimaksudkan untuk
mengundang malaikat untuk datang. Setelah bara menyala,
diatasnya ditaburkan dupa. Seketika harum dupa menyeruak,
memenuhi ruangan. Simbol cacak burung, dimaknai sebagai
lambang tolak bala. Dipercaya, simbol itu ditakuti setan dan
membuat roh-roh serta arwah tak mampu mendekat. Disebut
cacak burung, karena bentuknya menyerupai cacak (jejak)
kaki burung. Sedangkan penggunaan kunyit, kapur sirih, beras

303
Kapidaraan; Antara Kepercayaan dan Kesehatan

putih, dan makna tanda silang yang dilukiskan pada tubuh


orang yang kapidaraan masih belum dapat dijelaskan.
Masyarakat mempercayai bahwa setelah melakukan
pidara, tidak akan lama demam yang terjadi akan segera
sembuh, dan benar saja, biasanya demam akan berangsur
membaik dalam waktu kurang dari 24 jam. Terasa aneh,
namun realitanya begitu menurut mereka. Walaupun pada
dasarnya memang semuanya sudah merupakan kehendak
Allah untuk menghendaki kesembuhan dengan cara seperti
itu.
Melihat dari semua kegiatan proses pidara, memang
cukup sulit diterima logika akan sehat, bagaimana bisa ritual
tersebut dapat menyembuhkan penyakit demam panas tinggi,
apalagi hanya dengan menggoreskan kunyit di kening dan
beberapa bagian tubuh. Mungkin kekuatan sugesti di sini
lebih mampu mengalahkan kekuatan obat medis manapun.
Bagi yang percaya, itu sebuah pengobatan. Bagi yang
tidak percaya, mungkin hanyalah sebuah kepercayaan masa
lalu yang tercecer hingga sekarang. Sebuah prosesi yang
mengalami transformasi agama. Terlepas dari itu, ka-
pidaraan, ma-midara-i dan tukang pidara, mulai terkikis
zaman dan terpinggirkan. Tersingkirkan seiring pergeseran
nilai dan perubahan pola pikir yang terjadi di masyarakat.

304
Eksotisme Kampung Tua Urang Banjar

Ade Aryanti Fahriani

Banjarmasin, Januari 2017


Berawal dari penugasan survei sebuah universitas dan
NGO dari Negeri Paman Sam, mengharuskan saya menyusuri
sudut lain Kota Banjarmasin. Meski terbilang tanah kelahiran
sendiri, ternyata masih banyak hal-hal yang belum saya
ketahui tentangnya. Ada terbesit perasaan bersalah, karena
selama ini saya sangat bersemangat untuk menjelajahi daerah
luar, tapi masih belum mengenal secara mendalam tentang
daerah sendiri. Sudut lain itu bernama Kampung Sungai
Jingah, sebuah perkampungan yang menurut cerita turun
temurun merupakan salah satu kampung tua di Kota
Banjarmasin.

305
Eksotisme Kampung Tua Urang Banjar

Ada perasaan kagum ketika memasuki daerah ini. Sisa-


sisa kebudayaan bubuhan urang Banjari masih lekat terasa.
Hal itu dapat saya rasakan ketika melihat pemandangan
perkampungan yang masih tradisional.
Di sini dapat saya saksikan beberapa peninggalan
cagar budaya dan rumah adat Suku Banjar yang masih
original. Selain itu, kampung ini juga terkenal dengan para
pengrajin kain sasirangan, kain tradisional Suku Banjar.
Beberapa industri rumahan dapat ditemukan disini, hingga
tak jarang rumah penduduk juga berfungsi sebagai galeri
penjualan kain yang fresh, langsung dari pengrajinnya.

Gambar 1. Salah Satu Cagar Budaya Makam Syeikh Surgi Mufti


Sumber: Dokumentasi Penulis

306
Jelajah Nusantara #4

Gambar 2. Pengrajin Rumahan Kain Sasirangan


Sumber: Dokumentasi Penulis

Kampung Tua, Sisi Lain Kota Banjarmasin


Layaknya sebuah Ibukota provinsi, Banjarmasin kini
mulai mentransformasikan diri menjadi kota yang lebih
modern. Seiring meningkatnya pertumbuhan dan pendapatan
daerah, dalam dua dekade terakhir ini dapat dilihat masifnya
pembanguan insfrastuktur dan tata kota. Daerah bantaran
sungai menjadi salah satu spot yang banyak dibenahi,
sehingga mau tak mau ikut menggerus sisa budaya lokal yang
ada.
Namun, ternyata masih ada sisa budaya lokal yang
masih bertahan, yaitu Kampung Sungai Jingah. Kampung ini
berada di Kecamatan Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin,

307
Eksotisme Kampung Tua Urang Banjar

Kalimantan Selatan. Kampung ini hanya berjarak 2-3 Km dari


pusat kota dan dapat ditempuh dengan motor maupun mobil.
Secara geografis, kawasan perkampungan tua ini berada di
tepian Sungai Martapura dan membentuk pemukiman yang
linear di tepian sungai. Menurut cerita, toponim Kampung
Sungai Jingah sendiri berasal dari sebuah sungai kecil yang
banyak ditumbuhi oleh pohon jingah (Gluta renghas). Namun
sayangnya, salah satu spesies pohon ‘angker’ khas Kalimantan
ini tak banyak lagi dijumpai disini.
Mayoritas perkampungan tua di Kota Banjarmasin
memang bermukim di pinggiran aliran sungai. Selain memang
topografi Kota Banjarmasin yang banyak memiliki sungai dan
kanal, kehidupan urang Banjar memang sejak zaman dahulu
sangat bertumpu pada aliran sungai, khususnya Sungai Barito
dan cabang anak sungainya. Hal ini membuat masyarakat
menyesuaikan kebutuhan hidup mereka dengan alam.
Beberapa bentuk penyesuaian itu bisa dilihat dari bentuk
rumah tradisonal, alat transportasi rakyat, transaksi
perniagaan, sumber penghidupan, hingga aktivitas
keseharian.
Secara umum, terdapat dua bentuk perumahan
tradisional yang sering dibangun di pinggiran sungai yaitu
rumah panggung dan rumah apung atau dalam istilahnya
disebut rumah lanting. Menariknya, rumah lanting ini bersifat
portable, dapat dipindahkan oleh pemiliknya di sepanjang
aliran sungai.
Selain berfungsi sebagai tempat hunian, biasanya juga
berfungsi sebagai tempat transaksi perniagaan seperti

308
Jelajah Nusantara #4

pancarekenanii, bengkel kelotokiii dan jukungiv, hingga


pertamina mini yang menjual bahan bakar. Namun
sayangnya, keberadaan rumah lanting ini sudah jarang
ditemukan disini. Kalau pun masih ada hanya di daerah
pedalaman Sungai Martapura yang belum terjamah
pembangunan kota.

Gambar 3. Rumah Tradisional Palimbangan, Suku Banjar


Sumber: Dokumentasi Penulis

Sebagai alat transportasi, jukung maupun kelotok


menjadi salah satu alat transportasi yang lazimnya dimiliki
setiap rumah tangga pinggiran sungai. Jika diibaratkan, lebih
mirip sepeda dan mobil bagi masyarakat yang tinggal di darat.
Namun seiringnya pembangunan jalan dan terbukanya
akses darat, jukung dan kelotok sudah mulai ditinggalkan.
Meski jumlahnya berkurang, keberadaan dua alat transportasi
tradisonal ini masih eksis untuk perniagaan, mendistribusikan

309
Eksotisme Kampung Tua Urang Banjar

hasil kebun, maupun untuk menembus daerah sungai lainnya


yang masih belum terjamah akses darat.

Gambar 4. Rumah Lanting


Sumber: http://anisafitria34.blogspot.co.id

Dalam hal sumber penghidupan, selain berdagang,


memancing dan memanfaatkan hasil kebun juga menjadi
salah satu bentuk adaptasi masyarakat terhadap kehidupan
sungai dan sekitarnya. Ada bentuk unik dari interaksi
perniagaan masyarakat pinggir sungai, yaitu pasar terapung.
Aktivitas jual beli di pasar ini dilakukan di atas sungai dengan
menggunakan jukung atau kelotok. Barang yang
diperjualbelikan biasanya hasil kebun, ikan, kebutuhan rumah
tangga, hingga makanan dan kue tradisional. Namun kini,
pasar terapung tradisional yang masih eksis hanya ada di
daerah Muara Sungai Kuin dan Lok Baintan saja.

310
Jelajah Nusantara #4

Gambar 5. Aktivitas Keseharian Masyarakat


Sumber: Dokumentasi Penulis

Aktivitas keseharian urang Banjar yang berada di


pinggir sungai sebenarnya tidak terlalu banyak berbeda
dengan mereka yang tinggal di darat. Namun hal yang paling
mencolok adalah dari segi cara pemenuhan hajat hidup.
Masyarakat pinggir sungai menjadikan sungai sebagai
tumpuan urat nadi kehidupan mereka, mulai dari mandi,
mencuci, mencari sumber penghidupan, perniagaan,
transportasi, tempat bermain anak, hingga pencarian
kesembuhan.
Aktivitas keseharian ini dapat dilihat dari masih
eksisnya jamban maupun batangv yang bertengger di rumah
warga. Meskipun akses air bersih PDAM sudah masuk kesini,
tetap saja masyarakat masih menggunakan air sungai untuk

311
Eksotisme Kampung Tua Urang Banjar

MCK rumah tangga. Ironinya, sungai juga berperan sebagai


tempat pembuangan limbah yang ‘praktis’, baik limbah
rumah tangga maupun sampah dari alam.

Kampung Tua dan Budaya Sungai Urang Banjar


Bertandang ke kawasan perkampungan tua Sungai
Jingah, menyiratkan peninggalan budaya sungai urang Banjar
yang masih tersisa dengan dinamika perubahannya. Secara
umum, budaya sungai merupakan cara hidup, perilaku, dan
adaptasi manusia yang hidup di tepi sungai, yang telah
menjadi tradisi secara turun temurun vi.
Lahirnya kebudayaan perkampungan di pinggir sungai
tidak terlepas dari interaksi masyarakat yang bertumpu pada
sungai dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial, budaya,
dan politik. Bahkan sangking melekatnya, salah satu filosofi
kehidupan sungai yaitu ‘Kayuh Baimbaivii’ menjadi motto
pembangunan daerah. Kehidupan masyarakat yang
berkembang di atas sungai ini kemudian menjadi ciri khas dan
budaya urang Banjar.
Tak dapat dipungkiri, modernisasi kini menggeser
nilai-nilai budaya urang Banjar terhadap sungai. Contoh kecil,
jika dulu pemukiman masyarakat dibangun berhadapan
dengan sungai yang menandakan bahwa sungai sebagai teras.
Namun kini, pembangunan pemukiman menjadi
membelakangi sungai. Dari konsep “teras” dan “belakang” ini
timbul pergeseran pemaknaan dari sungai itu sendiri. Jika
dulu sebagai teras yang menandakan sungai adalah

312
Jelajah Nusantara #4

“beranda” kehidupan masyarakat yang darinya berperan


sebagai urat nadi kehidupan, kini berubah menjadi
“belakang” yang terbatas pada aktivitas “belakang”, seperti
pembuangan limbah dan MCK.

Gambar 6. Pemukiman Masyarakat yang Menghadap Sungai Zaman


Dahulu
Sumber: http://bumibanjar.blogspot.co.id

Pergeseran budaya sungai ini kemudian berpengaruh


pada simbiosis kehidupan yang terjadi antara masyarakat dan
sungai. Kini perilaku masyarakat cenderung
“membelakangkan” (mengabaikan) kelestarian sungai.
Pembangunan pemukiman rumah yang sesukanya dan
diperparah dengan rendahnya perilaku PHBS, maka sudah
sewajarnya timbul masalah baru. Contoh kecilnya saja
perilaku keseharian masyarakat yang membuang limbah di

313
Eksotisme Kampung Tua Urang Banjar

sungai, membuat sungai tercemar sehingga menimbulkan


penyakit menular seperti diare, DBD, hingga penyakit kulit.
Belum lagi ditambah dengan maraknya pembuangan limbah
industri rumahan yang ikut menyumbang penurunan kualitas
air sungai yang ada.

Gambar 7. Pemukiman di Sungai Jingah


Sebagian Membelakangi dan Sebagian lagi Masih Menghadap Sungai
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2017

Kini, perkampungan pinggir sungai sering kali memiliki


stereotype yang tidak jauh dari kesan kumuh, sampah, banjir,
dan penyakit menular. Banjarmasin sebagai kota yang
memiliki julukan Kota Seribu Sungai bahkan dulu sempat
diplesetkan dengan sebutan “Kota Seribu Sungai, Kota Seribu
Masalah”. Tidak sepenuhya salah, karena memang seperti itu
adanya.
Namun syukurnya masih ada harapan untuk
memperbaiki ini. Jika budaya sungai yang dulu kini

314
Jelajah Nusantara #4

dapat berubah dengan budaya sungai yang ada


sekarang, maka artinya untuk mengubah suatu budaya
maka harus dengan budaya juga. Budaya sungai urang
Banjar yang abai terhadap kelestarian sungai dapat
diubah dengan budaya sungai urang Banjar yang
berorientasi pada PHBS dan kelestarian lingkungan.
Membentuk budaya baru memang bukan hal
yang mudah, sebab pada tabiatnya terbentuknya suatu
budaya memerlukan adanya pemahaman, kesadaran,
kemauan, kemampuan, pembiasaan, dan dukungan
pemerintah. Hal ini dikarenakan terbentuknya budaya
tak lepas dari aspek sosial, ekonomi, dan politik. Jadi,
jika ingin mengubah budaya yang ada menjadi lebih
baik, maka tak ada cara lain selain memperbaiki taraf
pemahaman masyarakat, kesadaran, pembiasaan, dan
good governance dari pemerintah.
Pada akhirnya, sudah sepantasnya
perkembangan pemukiman di tepian sungai yang
menjadi ciri khas budaya urang Banjar tetap
terlestarikan, namun dengan cara yang lebih
manusiawi dan tidak “mendzolimi” lingkungan.
Sehingga pemukiman dapat tumbuh berkembang
secara baik dan sungai tetap terpelihara dan berfungsi
sebagai penunjang kehidupan.

315
Eksotisme Kampung Tua Urang Banjar

Catatan Kaki:
i
Bubuhan Urang Banjar memiliki arti Kelompok Orang Banjar, biasanya
dalam penyebutan identitas kekerabatan atau kesukuan, Suku Banjar
lebih sering menyebut dengan sebutan Bubuhan.
ii
Pancarekenan: Warung yang menjual bahan-bahan pokok lengkap
seperti beras, gula, minyak, LPG, dsb.
iii
Kelotok: Perahu kayu kecil yang digerakan oleh mesin
iv
Jukung: Peraku kayu/sampan yang dikayuh, tanpa mesin
v
Batang: Sejenis dermaga apung tradisonal, biasanya berupa kumpulan
kayu-kayu besar yang mengapung dan digunakan sebagai tempat
menambatkan jukung atau kelotok. Selain itu juga berfungsi sebagai
tempat MCK komunal yang dilengkapi dengan jamban tertutup.
vi
Wajidi, 2012. Orang Banjar dan Budaya Sungai. (diakses di
www.bubuhanbanjar.wordpress.com)
vii
Kayuh Baimbai artinya mendayung bersama-sama

316
Paminggir Takkan Terpinggirkan
Catatan Perjalanan di Hulu Sungai Utara-Kalsel

Nor Efendi

Amuntai, Januari 2017


Suatu malam di awal Januari 2017, notifikasi pesan
WhatsApp di ponsel saya berbunyi. Seorang rekan peneliti
yang mulai saya kenal saat sama-sama berkontribusi menulis
untuk buku Jelajah Nusantara (JN) 2 dan JN 3 berkirim pesan.
“Kak, mau menulis lagi untuk JN 4?” Tanpa pikir panjang, saya
balas, “Mau lah!”
Meski saat itu saya belum terpikir akan menulis
tentang apa dan catatan perjalan saya yang mana. Ya, karena
beberapa perjalanan terakhir saya ke luar daerah bukan
dalam rangka penelitian. Belum lagi waktu awal tahun saya,

317
Paminggir Takkan Terpinggirkan

seperti biasa akan terjadwal untuk kesibukan rekapitulasi dan


finalisasi laporan-laporan tahunan. Namun semangat untuk
kembali berkarya lewat monumen hidup dalam bentuk
tulisan, mematri kuat di dada. Paminggir, tiba-tiba melintas
dalam benak saya. Setelah sebelumnya saya terharu biru
dengan kondisi kesehatan masyarakat di berbagai penjuru
Indonesia, inilah saatnya saya menulis dan mengabadikan
perjalanan pengabdian saya sebagai salah seorang abdi
kesehatan di daerah asal saya sendiri, Kalimantan Selatan.

Gambar 1. Patung Itik terbesar di Indonesia yang menjadi maskot Kota


Amuntai
Sumber: Dokumentasi Penulis

Paminggir adalah sebuah kecamatan sangat terpencil


di pelosok Kabupaten Hulu Sungai Utara. Sesuai namanya,
Paminggir berada di posisi paling pinggir dari sepuluh
kecamatan yang ada di kabupaten berjuluk Bumi Khuripan ini.

318
Jelajah Nusantara #4

Sebagai kecamatan terluar, wilayahnya berbatasan


langsung dengan kabupaten tetangga (Hulu Sungai Selatan,
Tapin dan Barito Kuala) bahkan provinsi tetangga (Kalimantan
Tengah). Tak berlebihan memang mengklasifikasi Paminggir
sebagai sebuah daerah sangat terpencil, setidaknya jarak dan
perjuangan yang dibutuhkan untuk sampai ke tempat ini
menegaskan hal tersebut.
Dari Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan
membutuhkan waktu sekitar lima jam perjalanan darat untuk
sampai di Amuntai, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Dari kota yang yang bermaskot Patung Itik (bebek) yang
(mungkin) terbesar di Indonesia ini, perjalanan darat harus
dilanjutkan menempuh jarak 27 km menuju Danau
Panggang, kota kecamatan dimana pelabuhan transportasi air
menuju Kecamatan Paminggir berada. Dari sinilah kita
selanjutnya harus berganti moda transportasi darat ke air,
menggunakan speedboat atau kapal motor yang disebut
masyarakat setempat kelotok.
Kelotok merupakan angkutan air berkapasitas hingga
40 penumpang beserta barang bawaannya yang hanya
tersedia sekali jalan per hari. Kelotok dari Paminggir ke Danau
Panggang berangkat sekitar pukul enam pagi dan kembali dari
Danau Panggang ke Paminggir biasanya sekitar pukul satu
siang. Waktu tempuh Paminggir-Danau Panggang
menggunakan kelotok 2,5 jam dengan tarif Rp. 25.000,- per
penumpang. Bila kita pergi dengan menggunakan speedboat,
yang umumnya harus dicarter, maka kita harus merogoh

319
Paminggir Takkan Terpinggirkan

kocek lebih dalam, Rp. 800.000,- sampai Rp. 850.000,- (pulang


pergi) harus tersedia demi waktu tempuh yang dapat
dipersingkat menjadi sekitar 1,5-2 jam sekali jalan.

Gambar 2. Kelotok sebagai alat transportasi air Paminggir-Danau


Panggang
Sumber: Dokumentasi Penulis

Paminggir sejatinya adalah pemekaran wilayah


Kecamatan Danau Panggang sebelum kemudian berdiri
sendiri sejak tahun 2007. Kecamatan yang terdiri atas tujuh
desa yang semuanya berada di sepanjang aliran sungai dan di
atas rawa ini dihuni sekitar 8.044 jiwa penduduk beretnis
Banjar Pahuluan.
Mata pencaharian yang menjadi sumber pendapatan
masyarakat adalah nelayan, bertani padi dan sebagian lagi
beternak hadangan (kerbau rawa). Sebagian kecil
masyarakatnya juga ada yang menekuni usaha budidaya
sarang burung walet sebagai sumber penghasilan.

320
Jelajah Nusantara #4

Sepanjang perjalanan menyusur sungai dari Danau


Panggang menuju Paminggir, kita akan disuguhi landscape
perkampungan penduduk yang berjejer mengelompok di
sebagian tepi sungai. Sementara sebagian tepi sungai lainnya
sepi tak berpenghuni berhias pepohonan rawa, persis seperti
gambaran Sungai Kalimantan dalam film Anaconda.
Rumah Lanting yang dibangun di atas gelondongan
batang kayu besar terapung sebagai pondasinya pun masih
akan kita ditemukan di sini. Penduduk yang bekerja sebagai
nelayan pencari ikan sungai baik dengan pancing, jaring,
maupun peralatan berburu ikan lainnya juga akan banyak
menyebar di sepanjang rute perjalanan.

Gambar 3. Desa-desa pinggir sungai Kecamatan Paminggir


Sumber: Dokumentasi Penulis dan Andry Rusandi
(Perawat Pustu Tampakang, Kec. Paminggir)

321
Paminggir Takkan Terpinggirkan

Hadangan yang menjadi hewan endemis daerah ini


banyak bertebaran di rawa dan tepian sungai yang menjadi
jalur perjalanan kita menuju Paminggir. Mereka dibiarkan
berkeliaran bebas di rawa atau berenang di sungai yang
menjadi habitatnya untuk mencari makan atau sekedar
bercengkrama bersama koloninya.
Hadangan dewasa yang siap dikonsumsi dagingnya
dihargai rata-rata sekitar 15 jutaan rupiah per-ekornya. Sore
menjelang malam hadangan akan pulang sendiri ke
kandangnya yang disebut kalang. Kalang umumnya dibuatkan
oleh pemilik di tengah rawa yang jauh dari rumah dan
pemukiman penduduk.

Gambar 4. Kalang Hadangan di Kecamatan Paminggir


Sumber: Dokumentasi Andry Rusandi
(Perawat Pustu Tampakang, Kec. Paminggir)

Atraksi alami populasi hadangan ini adalah pesona


tersendiri yang pernah menjadi andalan daya tarik wisata
Hulu Sungai Utara. Event tahunan balapan spesies kerbau

322
Jelajah Nusantara #4

yang mempunyai kelebihan bisa berenang di air ini konon


pernah berjaya beberapa tahun silam.
Daya tarik lainnya adalah bentangan cakrawala beralas
hamparan rawa yang begitu luas seolah tak bertepi akan
memanjakan setiap mata pengagum sapuan kanvas Tuhan
pada alam Paminggir. Tak salah bila beberapa program TV
nasional berkonsep eksplorasi keindahan alam pernah datang
dan meliput berbagai sajian pesona Paminggir.
Meski belum seterkenal daerah tujuan wisata lainnya
di Kalimantan Selatan, berkunjung ke Paminggir selalu
mampu memberikan decak kagum. Seorang sahabat putra
asli daerah Hulu Sungai Utara berdomisili di Amuntai bahkan
pernah mengungkapkan penyesalan akan hal ini di status
facebooknya, yang diupdate beberapa hari sebelum saya
menyelesaikan tulisan ini,
“Malu dan menyesal, kenapa baru kemaren main ke
sana setelah 26 tahun hidup di Banua ini. Berasa jadi
orang tak bersyukur akan potensi daerah sendiri.
Melihat keluar, bangga, tapi lupa melihat ke dalam.
Kecamatan Paminggir. Kabupaten Hulu Sungai Utara”.
(Facebook Julianda Rosyadi, 15 Januari 2017,20.35).

Mengunjungi Paminggir, adalah penugasan favorit


yang selalu saya nanti-nantikan kehadirannya. Saya lupa
menghitung, telah berapa kali merasakan atmosfer Paminggir
membelaikan kesejukannya di tubuh saya, setiap saya
ditugaskan kesana. Supervisi, berbagai sosialisasi atau
penyuluhan program kesehatan, penilaian kinerja tenaga

323
Paminggir Takkan Terpinggirkan

kesehatan atau Puskesmas, pelatihan, survey maupun


penelitian adalah beberapa misi kegiatan yang membuka
kesempatan saya datang ke sana. Boleh dikata telah cukup
banyak pengalaman perjalanan saya ke Paminggir, mulai dari
yang lancar dengan carteran speedboat melaju di arus sungai
yang tenang, hingga yang butuh perjuangan berjam-jam naik
kelotok di jalur sungai yang tiba-tiba menghilang karena
menyatu dengan rawa yang seolah berubah menjadi lautan
atau danau maha luas saat musim banjir dan hujan tiba.

Gambar 5. Pesona hutan rawa di Kecamatan Paminggir


Sumber: Dokumentasi Andry Rusandi
(Perawat Pustu Tampakang, Kec. Paminggir)

Bahkan di sepanjang tahun, juga akan ada suatu masa


dimana jalur Danau Panggang-Paminggir akan tertutup
serbuan lebatnya tanaman eceng gondok (dalam bahasa lokal
disebut Ilung). Kondisi ini mampu membuat para sopir
speedboat maupun kelotok harus berjibaku keluar dari jalur

324
Jelajah Nusantara #4

sungai untuk mencari atau membuat jalur lintasan baru


melewati rawa yang tak kalah rimbun dengan tetumbuhan air
lainnya.
Di Kecamatan Paminggir, terdapat dua buah
Puskesmas yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan
wilayah perairan terpencil ini. Puskesmas Sapala terletak di
Desa Sapala yang berada di pertengahan perjalanan bila kita
menuju Paminggir dari Danau Panggang. Sedang Puskesmas
Paminggir berada persis di ibukota Kecamatan Paminggir yang
posisinya di pertemuan muara sungai Paminggir dengan
Sungai Barito.
Sungai Barito yang merupakan sungai terpanjang di
Kalimantan inilah yang menjadi pembatas antara Paminggir
yang masuk wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dan
seberang sungainya yang masuk wilayah Kalimantan Tengah.
Sungai Barito juga merupakan jalur utama kapal tongkang
pengangkut batubara milik PT Adaro Indonesia menuju laut
Jawa.
Alasan inilah yang melatarbelakangi PT Adaro
Indonesia menjadikan Kecamatan Paminggir sebagai daerah
penerima berbagai program Corporate Social Responsibility
(CSR) perusahaan batubara terbesar di Kalimantan tersebut.
Termasuk dalam bidang kesehatan yang berupa pengobatan
dan sunatan massal gratis, pembangunan Pos Kesehatan Desa
(Poskesdes) dan Posyandu integrasi, Kesehatan Ibu Bayi Baru
Lahir dan Anak (KIBBLA) hingga beasiswa program pendidikan
bidan bagi putri daerah Paminggir.

325
Paminggir Takkan Terpinggirkan

Sebagai kecamatan terpencil dengan wilayah perairan


sungai dan rawa, pembangunan kesehatan di Paminggir
memiliki keunikan tantangan tersendiri. Selain permasalahan
akses dan rujukan layanan kesehatan perairan, keterbatasan
tenaga kesehatan yang sudah menjadi masalah klasik daerah
terpencil, juga terjadi di Paminggir. Hingga kemudian, daerah
ini menjadi prioritas pemerintah dalam hal penempatan
tenaga dokter dan bidan serta tenaga kesehatan lainnya baik
yang bersatus Pegawai Tidak Tetap (PTT) maupun Pegawai
Negeri Sipil (PNS).

Gambar 6. Poskesdes dan Posyandu terpadu Program CSR PT. Adaro


Indonesia
Sumber: Dokumentasi PT. Adaro Indonesia

Sejak tahun 2006 saya bertugas di Dinas Kesehatan


Kabupaten Hulu Sungai Utara, turn over petugas kesehatan di
Puskesmas Paminggir dan Sapala terbilang yang cukup tinggi.

326
Jelajah Nusantara #4

Contohnya pergantian petugas pengelola program


Tuberkulosis (TB) dan dokter Puskesmas yang menjadi bidang
tugas saya, beberapa tahun sebelumnya adalah permasalahan
yang sulit dicari solusinya. Masa penugasan PTT yang hanya 1-
2 tahun, atau calon PNS yang juga kemudian menganggap
penugasan di Paminggir seolah hanya sebagai batu loncatan
sebelum menjadi PNS, hingga usulan mutasi dengan berbagai
cara dan alasan pun mereka ajukan sampai berhasil setelah 2-
3 tahun merasa cukup menjalani pengabdian di sana. Hal ini
kemudian teratasi dengan dikeluarkannya kebijakan
perjanjian tidak boleh mutasi sampai masa pengabdian
minimal 10 tahun bagi CPNS yang berani mengikuti seleksi
penerimaan di Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Gambar 7. Puskesmas Paminggir


Sumber: Dokumentasi Penulis

Orientasi masyarakat Paminggir terhadap pelayanan


kesehatan masih berbentuk pelayanan kuratif (pengobatan).

327
Paminggir Takkan Terpinggirkan

Bagi mereka cukuplah bila ada warga masyarakat yang sakit,


ada petugas kesehatan yang bisa mengobati. Tak peduli
layanan pengobatan itu seharusnya diberikan apakah oleh
seorang dokter, atau perawat maupun bidan. Yang mereka
yakini, setiap tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas
tentu memiliki kemampuan memberikan layanan
pengobatan. Pengalaman dimintai tolong untuk mengobati
orang sakit selalu menjadi cerita menggelitik rekan tenaga
kesehatan seperti sanitarian, asisten apoteker, analis
laboratorium, ahli gizi, dan lain-lain yang notabene tidak
dibekali kompetensi untuk itu.
Layanan kuratif yang seringkali menjadi polemik
panjang bahwa tenaga kesehatan yang paling berhak
memberikannya hanya tenaga medis atau dokter, di
Paminggir kebutuhan masyarakat dan keterpencilan
menafikannya. Buat warga Paminggir, tenaga kesehatan yang
keberadaannya nyata, serta mau dan mampu menurut
mereka memberikan layanan pengobatan lah yang akan lebih
dibutuhkan. Hingga mau tidak mau, suka tidak suka, rekan-
rekan perawat yang ditugaskan di wilayah Pamingir harus rela
memasuki zona abu-abu tumpang tindih kewenangan profesi.
Perawat-perawat di daerah terpencil dituntut mampu
berperan sebagaimana dokter yang piawai dalam
memberikan terapi dengan berbagai paduan obat, bukan
hanya dengan asuhan keperawatan yang menjadi kompetensi
profesi mereka. Saya berharap tahun ini Paminggir terpilih
menjadi lokasi penempatan tugas Nusantara Sehat besutan
Kementerian Kesehatan. Tim paduan kolaborasi berbagai

328
Jelajah Nusantara #4

profesi kesehatan yang diprogramkan untuk memacu gerakan


pembangunan kesehatan di daerah sangat terpencil di
Indonesia itu, menurut saya sangat dibutuhkan Paminggir.

Gambar 8. Pemberian injeksi oleh perawat di Puskesmas Paminggir


Sumber: Dokumentasi Penulis

Banyak kesan dan pengalaman mendalam yang


ditinggalkan setiap kunjungan saya ke Paminggir. Kesempatan
pertama kembali ke Paminggir, setelah menyelesaikan
beasiswa tugas belajar Kementerian Kesehatan di Universitas
Indonesia adalah untuk survei kontak serumah penderita
Kusta. Tujuannya agar penyakit menular yang onset masa
inkubasinya hingga waktu bertahun-tahun ini dapat segera
dideteksi secara dini jika keluarga atau kontak terdekat
dengan penderita Kusta terindikasi telah ketularan.
Pemeriksaan fisik kami lakukan dengan mencari
bercak kulit yang mati rasa sebagai penanda awal gejala
Kusta. Dalam kesempatan itu pula lah saya berkesempatan

329
Paminggir Takkan Terpinggirkan

mampir di Puskesmas Pembantu (Pustu) salah satu desa yang


menjadi tempat bertugas seorang perawat muda. Darinya
saya kemudian mengetahui bahwa potret manis pengabdian
sebagai perawat Pustu daerah terpencil wilayah perairan
pernah diekspose salah satu stasiun TV swasta nasional. File
video yang kemudian sempat dibaginya ke saya lewat fasilitas
bluetooth telepon seluler, tak jemu-jemu saya tonton.
Eksotisnya alam Paminggir dan vitalnya peran perawat yang
bertugas di pinggiran desa terpencil, sangat berhasil
digambarkan secara artistik oleh stasiun TV tersebut.
Setidaknya menurut kacamata saya yang punya ketertarikan
tersendiri terhadap dunia broadcast.

Gambar 9. Puskesmas Pembantu Tampakang di Kecamatan Paminggir


Sumber: Dokumentasi Andry Rusandi
(Perawat Pustu Tampakang, kec. Paminggir)

Pada kesempatan lain, beberapa tahun silam saya


bersama tim Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan
Kabupaten Hulu Sungai Utara pernah secara maraton
menginap di beberapa desa untuk misi Survey Epidemiologi

330
Jelajah Nusantara #4

penyebaran penyakit Fasciolopsiasis. Penyakit ini adalah salah


satu jenis penyakit kecacingan disebabkan oleh Fasciolopsis
buski yang di Indonesia hanya endemis secara spesifik lokal di
tiga kecamatan wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara, yaitu
Babirik, Sei Pandan dan Danau Panggang.
Penyakit yang pertama kali dilaporkan pada tahun
1982 dari Desa Sei Papuyu, Kecamatan Babirik ini sempat
menggemparkan kalangan peneliti parasitologi nasional kala
itu. Dalam perjalanannya, penyakit yang menjadi khasanah
kekayaan ilmiah bidang kesehatan dari Hulu Sungai Utara ini
pun berhasil ditanggulangi hingga prevalensinya bisa
diturunkan pada titik terendah. Survey epidemiologi yang
kami lakukan kala itu hingga merambah Kecamatan Paminggir
yang sebenarnya bukan merupakan wilayah yang pernah
ditemukan penderita klinis penyakit ini, bukan tanpa alasan.
Letak geografis Paminggir merupakan wilayah terbawah
secara garis aliran sungai dan rawa dari Kecamatan Babirik
dan Danau Panggang di atasnya, diduga juga menyimpan
potensi sebagai daerah endemis Fasciolopsiasis. Hal ini terkait
dengan siput air tawar yang menjadi host pada proses
penularan penyakit ini juga banyak hidup di perairan
Paminggir.
Berhari-hari kami lakukan pemeriksaan ribuan sampel
tinja (kotoran manusia) di berbagai wilayah Paminggir untuk
mencari tahu jawabannya. Belakangan saya baru menyadari
bahwa kegiatan itu terinspirasi dari John Snow (1854) ketika
menganalisis wabah Kolera London dengan pendekatan
epidemiologi yang salah satunya mempertimbangkan

331
Paminggir Takkan Terpinggirkan

“tempat”, seperti letak geografis. The Father of Epidemiology


tersebut menemukan bahwa wabah Kolera terjadi karena
masyarakat London saat itu menggunakan air minum dari
aliran sungai yang sama, yang terkontaminasi tinja manusia.

Gambar 10. Ikan segar hasil kekayaan sungai dan rawa Paminggir
Sumber: Dokumentasi Penulis

Alhamdulillah hasil survei epidemiologi Fasciolopsiasis


di seluruh wilayah Paminggir hasilnya nihil, meski siput air
tawar genus Segmentia, Hippeutis dan Gyraulus yang menjadi
host perantara pertama penularan penyakit ini juga banyak
terdapat di alam Paminggir. Kesan yang terkenang saat
melakukan kegiatan itu adalah sensasi berbagai bau sampel
tinja yang dikumpulkan sehari sebelum kami periksa dengan
mikroskop, tercium sangat menyengat dan seolah menempel
di ujung hidung kami hingga berhari-hari kemudian. Namun
hal itu tak mampu mengalahkan nafsu makan kami yang

332
Jelajah Nusantara #4

ternyata tetap lahap menyantap manisnya daging ikan segar


hasil kekayaan sungai Paminggir yang saat itu disajikan
masyarakat tempat kami menginap.
Di lain waktu saya datang ke Paminggir mencoba jalur
darat yang mulai dibuka setahun terakhir. Jalur darat yang
dimaksud ternyata adalah rute melewati ratusan hektar
kebun sawit yang tembus ke perbatasan Paminggir.
Perjalanan darat yang saya ekspektasikan lebih
nyaman dan bersahabat dibanding lewat jalur sungai,
ternyata tak kalah menantang. Adrenalin adventure saya
terpacu ketika menggilaskan ban motor plat merah pada
lumpur jalanan perkebunan sawit.
Jalur darat yang konon menurut orang Paminggir
hanya butuh waktu tempuh sekitar 2-2,5 jam, saya telusuri
dengan waktu tempuh dua kali lipat lebih lama. Berangkat
dari Amuntai sejak pukul tujuh pagi untuk menjadi nara
sumber sosialisasi HIV bagi kalangan lintas sektor di
Kecamatan Paminggir, sekitar pukul 11.30-an saya kemudian
baru bisa berdiri di depan forum yang telah menantikan
kedatangan saya.
Penampakkan jalan perkebunan sawit yang nyaris
serupa pada setiap jalurnya hingga membentuk labirin yang
siap menyesatkan kita di dalamnya, membutuhkan
konsentrasi dan kehati-hatian bagi para pelintas. Di luar
dugaan, kebun sawit yang saya lewati ternyata juga
mencakup wilayah Tapin dan Hulu Sungai Selatan, dua
kabupaten tetangga lainnya. Jadilah perjalan saya hari itu trip
melintas tiga kabupaten. Tapi saya puas, karena dalam

333
Paminggir Takkan Terpinggirkan

perjalanan pulang kembali melewati jalur yang sama,


landscape sore jelang senja ketika matahari ingin jatuh di
pucuk-pucuk sawit, memanjakan naluri narsis saya, hehehe...!

Gambar 11. Jalur darat menuju Paminggir melewati perkebunan sawit


Sumber: Dokumentasi Penulis

Pembelajaran lainnya dari Paminggir adalah ketika


secara mengejutkan kecamatan terpencil ini menyumbangkan
kasus AIDS pertamanya di tahun 2015. Rekan saya, pengelola
program HIV Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Utara
kala itu, menemukannya saat mendapat laporan dari Rumah
Sakit Umum Pambalah Batung Amuntai. Hal ini menjadi bukti
bahwa penyakit yang sampai sekarang belum ditemukan
obatnya ini, bisa mengenai siapa saja bahkan yang berasal
dari wilayah terpencil sekalipun. Hasil penggalian faktor risiko
penularan terhadap pasien tersebut lagi-lagi berasal dari
perilaku seksual.

334
Jelajah Nusantara #4

Status sebagai putra seorang peternak hadangan yang


tentu saja tergolong mampu secara ekonomi
memungkinkannya sering bepergian ke Banjarmasin. Mungkin
saja saat itulah dia sempat mencicipi transaksi seksual dengan
seorang pekerja seks yang tubuhnya mengandung virus HIV,
hingga kemudian tertular. Penderita AIDS yang kemudian
meninggal dunia tersebut menyisakan pe-er berikutnya buat
saya, yang juga seorang konselor HIV di Kabupaten Hulu
Sungai Utara. Isteri dan anak yang ditinggalkan almarhum
harus segera dites pula untuk mengetahui status HIV-nya. Ini
berpacu dengan waktu, mengingat proses penurunan
kekebalan tubuh jika seseorang telah mengidap HIV hingga ke
tahap AIDS bisa saja berlangsung lebih cepat dari yang kita
duga.
Butuh waktu beberapa bulan kemudian sampai isteri
dan anak almarhum bisa didatangkan ke Amuntai. Jarak yang
jauh, ketiadaan biaya, merasa belum sakit dan alasan-alasan
lainnya menjadi penyebab terlambatnya mereka melakukan
tes HIV yang fasilitasnya hanya ada di Kota Amuntai. Hingga
kemudian mulai munculnya gejala infeksi oportunistik akibat
kekebalan tubuh yang terus menurun tergerus virus HIV-lah
yang memaksanya mengikuti anjuran bidan desa yang
mendampinginya untuk menemui saya di kabupaten.
Hasil tes pun menyatakan ibu muda tersebut reaktif
(positif) juga mengidap HIV yang ditularkan oleh suaminya.
Alhamdulillah hasil tes anaknya masih non reaktif (negatif).
Saya bersama bidan desa pendamping dan dokter rumah sakit

335
Paminggir Takkan Terpinggirkan

pun membujuknya agar segera mendapat pengobatan dan


perawatan lanjutan di rumah sakit di Banjarmasin.
Namun, memberi pengertian dan pemahaman untuk
dirujuk ke Banjarmasi, pun jauh tak kalah sulit seperti untuk
membujuknya tes HIV ke Amuntai. Menatalaksana pasien HIV
seringkali memang tidak semudah yang kita harapkan.
Meski tidak bisa menyembuhkan, pengobatan dengan
ARV (Anti Retro Viral) mampu menekan laju perkembangan
virus HIV dalam tubuh pengidapnya. ARV disediakan gratis
oleh pemerintah di fasilitas pelayanan kesehatan rujukan di
Banjarmasin. Namun untuk mengaksesnya bagi seorang
warga Paminggir yang berada jauh terpencil di pedalaman,
butuh bukan hanya waktu, biaya dan berbagai pertimbangan
tetek bengek lainnya. Tidak sedikit orang Paminggir yang
belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di Banjarmasin,
meski itu adalah ibukota provinsi dari wilayah tempat tumpah
darah mereka dilahirkan.
Melalui dialog panjang, saya bersama bidan desa yang
mendampingi kemudian berdamai dengan keadaan yang
belum memungkinkan untuk sedikit memaksa merujuknya ke
Banjarmasin. Alasannya yang ingin kembali dulu ke desa
untuk sekedar menenangkan diri dan bertukar pendapat
dengan keluarga besar, terpaksa kami iyakan.
Sampai minggu berganti bulan, pasien dan keluarga
belum mengabarkan “kemampuan” dan “kemauan” yang
tepat untuk segera berobat ke Banjarmasin. Begitu jawaban
bidan desa yang saya amanahi untuk terus memantau
kondisinya, setiap saya bertanya kabar melalui telepon.

336
Jelajah Nusantara #4

Hingga kemudian kabar yang sangat tidak saya harapkan itu


pun datang. Ia berpulang meninggalkan kefanaan dunia,
tanpa sempat mendapat ARV yang seyogyanya bisa
memperpanjang harapan hidupnya. Dia tinggalkan semua
penderitaan dan beban hidup seorang ibu rumah tangga tak
berdosa dari desa terpencil, yang mendapat ujian ditulari HIV
oleh suami tercinta.
Bercermin dari kasus ini, program penanggulangan HIV
di Hulu Sungai Utara yang meski masih tergolong prevalensi
rendah, harus semakin digalakkan melalui berbagai media
sosialisasi yang bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat,
di sudut manapun berada. Masyarakat perlu dicerdaskan
akan bahaya HIV/AIDS agar mampu melakukan berbagai
upaya pencegahan penularan sedini mungkin. Agar korban-
korban lainnya, seperti wanita Paminggir ini, tidak terus
bertambah. Karena bagaimanapun, mencegah tentu saja
masih lebih baik daripada mengobati. Urusan
penanggulangan HIV pun tak bisa hanya mengandalkan sektor
kesehatan semata. Karena ada banyak kendala yang menjadi
permasalahan tak terduga justeru sering muncul bukan dari
sisi sektor kesehatan itu sendiri. Sungguh, ini masalah
kompleks multi dimensional yang memerlukan keterlibatan
semua pihak.
Semoga pembelajaran dari Paminggir dapat
menyentuh hati semua kita untuk terus bergerak memajukan
daerah-daerah terpencil. Karena harapan dan cita-cita
masyarakat di daerah terpencil dan terisolir tak boleh
terdiskriminasi dari daerah lainnya. Semoga, Paminggir tak

337
Paminggir Takkan Terpinggirkan

terpinggirkan...!!! Terimakasih untuk semua pihak yang telah


menjadi teman diskusi dan berkontribusi dalam penyelesaian
tulisan ini.

338
Pengabdian di Batas Negeri Malindo
Catatan Penugasan Nusantara Sehat ke Sajingan Besar,
Sambas

Rizky Amelia Abduh Bavana

Perjalanan Pertama di Nusantara Sehat


Keputusan memilih mengabdikan diri untuk negara
kali ini bukanlah keputusan yang gampang, sebagai anak
perempuan orang tua selalu menginginkan anaknya berada di
dekat mereka termasuk mencari pekerjaan. Ketika saya
membaca tautan di sebuah media sosial saya menemukan
sebuah lowongan pekerjaan yang menurut saya ini benar-
benar jiwa saya. Pekerjaan tersebut merupakan salah satu
program yang di gadang-gadang menjadi program unggulan
dari Ibu Menteri Kesehatan era Presiden Joko Widodo.

339
Pengabdian di Batas Negeri Malindo

Program ini bernama NUSANTARA SEHAT yang mengajak


seluruh tenaga kesehatan Indonesia untuk berkarya di Daerah
Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) dengan menjadi
Tenaga Kontrak Pusat selama dua tahun masa kerja.
Alhamdulillah, dengan usaha dan do’a sekaligus restu orang
tua saya dapat melewati tiga tahap seleksi ketat dari program
ini.
Waktu itu, 143 anggota tim Nusantara Sehat angkatan
satu diwajibkan mengikuti pembekalan terlebih dahulu
sebelum diterjunkan di lapangan. Satu minggu di Ciloto,
Puncak, Kabupaten Bogor kami dilatih bela negara. Banyak
hal yang kami dapatkan, termasuk membangun kecintaan kita
terhadap ibu pertiwi.

Gambar 1. Tim Nusantara Sehat Angkatan I Mendapatkan Pembekalan


Bela Negara di BBPK Ciloto
Sumber: Dokumentasi Sehat Negeriku

Setelah pulang dari Ciloto kami langsung ke Pusdiklat


Kemenkes RI Jakarta untuk pembekalan. Pertama memasuki
asrama Pusdiklat kami langsung di arahkan untuk

340
Jelajah Nusantara #4

mendapatkan informasi penempatan. Saya mendapat


penempatan di Puskesmas Sajingan Besar, Kabupaten
Sambas, Kalimantan Barat. Selain itu saya juga mendapatkan
keluarga baru, Tim NS Sajingan Besar.
Dalam tim kami, ada enam tenaga kesehatan yang
tergabung. Mulai dari Dokter Umum (Asal Medan), Sarjana
Kesehatan Masyarakat (Saya sendiri asal Gorontalo), Perawat
(Asal Melawi, Kalbar), Bidan (Asal Bengkulu), Tenaga Gizi (Asal
Kubu Raya, Kalbar) dan Tenaga Sanitasi Lingkungan (Asal
Jakarta).
Waktu demi waktu kami lalui bersama dengan
berusaha membangun chemistry. Satu bulan berlalu, telah
tibalah kami di akhir pembekalan dan pelantikan yang
diadakan di PPSDM Kemenkes RI, yang dilantik langsung oleh
Ibu Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek,
Sp.M (K)

Gambar 2. Pelantikan Tim Nusantara Sehat oleh Menteri Kesehatan RI


Sumber: Dokumentasi Tempo.com

341
Pengabdian di Batas Negeri Malindo

Esok hari, acara berlanjut dengan menghadiri


undangan khusus dari Presiden RI, Bapak Ir. H. Jokowidodo
untuk datang ke Istana Presiden. Alhamdulillah respon beliau
terhadap kami baik sekali, karena masih banyak anak muda
yang mau mengabdikan dirinya terhadap Indonesia.

Gambar 3. Pelepasan Tim Nusantara Sehat oleh Presiden RI


Sumber: Dokumentasi NET TV

Akses Menuju Sajingan Besar


Subuh, 05 Mei 2015, menjadi hari mengharukan bagi
kami. Kami semua pamit dengan kesedihan karna akan
menuju ke penempatan masing-masing. Pagi itu tim saya
menuju bandara bersama pembimbing kami dari Pusrengun
Kemenkes menuju bandara, kemudian bertemu dengan
pembimbing lapangan dari Balitbangkes Kemenkes RI.
Satu Jam 45 Menit Jakarta-Pontianak, setelah sampai
di Pontianak kami disambut dengan teriknya Kota
Khatulistiwa. Selanjutnya rombongan bergegas untuk masuk

342
Jelajah Nusantara #4

ke dalam bis jemputan dari Dinas Kesehatan Provinsi


Kalimantan Barat. Kami menuju aula pertemuan disambut
Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat.
Setelahnya kami beristirahat sampai sehari kemudian,
tim rombongan NS Provinsi Kalbar harus berpisah, karena
pergi ke penempatan masing-masing kabupaten. Pagi-pagi
kami tim sudah bergegas check out dari kemewahan hotel
traktiran Kemenkes RI menuju Kabupaten Sambas. Perjalanan
ditempuh selama ±6 Jam dengan jalan aspal yang lumayan
berdebu. Sampailah kami di Kabupaten Sambas.

Gambar 4. Jalanan Kecamatan Kartiasa Kabupaten Sambas


Sumber: Dokumentasi Penulis

Pagi hari, 7 Mei 2015, kami bertemu dengan Kepala


Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, sekaligus berpamitan
untuk menuju Sajingan Besar. Perjalanan dimulai, saya ingat
waktu itu cuaca terik sekali, jalan menuju Perbatasan Negara
ini ± 4 jam dengan jalanan aspal rusak, tanah hitam dan tanah

343
Pengabdian di Batas Negeri Malindo

kuning. Perjalanan melewati tiga kecamatan, yaitu Kecamatan


Kartiasa, Teluk Keramat dan Galing.

Gambar 5. Akses Jalan Menuju Perbatasan Negara Kecamatan Sajingan


Besar
Sumber: Dokumentasi Penulis

Gambar 6. Pemandangan Sajingan Besar dari Atas Bukit Tower


Sumber: Dokumentasi Penulis

Saat memasuki Kecamatan Kartiasa, kami merasa jalan


seperti di-goyang dumang sepanjang 17 KM sampai di
Tanjung Ketat, Kecamatan Teluk Teramat. Selanjutnya kami
disambut dengan tanah hitam saat melewati Kecamatan

344
Jelajah Nusantara #4

Galing. Perjalanan hampir berakhir saat menuju ke


Kecamatan Sajingan Besar dengan jalan tanah kuning,
terbayang kalau hujan, karena jalanan pasti licin. Dengan total
perjalanan selama lima jam, sampailah kami di mess
Puskesmas Sajingan Besar.

Mengenal Kecamatan Sajingan Besar


Letak geografis Kecamatan Sajingan Besar berjarak
sekitar 100 km di bagian Utara ibukota Kabupaten Sambas.
Sementara Sajingan Besar berjarak sekitar 285 km dari
Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Barat.
Ketinggian tanah Sajingan Besar terletak 46 meter dari
permukaan laut. Daerahnya sebagian besar terdiri bukit dan
pegunungan, hanya sekitar 20% dari luas wilayah merupakan
dataran namun sebagian tanahnya bergelombang. Struktur
tanah pegunungan dan berbatuan, hanya sedikit daerah
rendah atau rawa. Suhu di Kecamatan Sajingan Besar sekitar
300 C sampai dengan 310 C.
Kecamatan Sajingan Besar berbatasan langsung dengan
Negara tetangga Malaysia Timur (Serawak) di sebelah Barat
dan Utara, sedang di sebelah Selatan dan Timur berbatasan
dengan Kecamatan Galing dan Paloh. Wilayah kerja
Puskesmas Sajingan Besar cukup luas, sekitar 140.494 Km2,
yang terdiri dari lima desa dan lima belas dusun. Terdiri dari
Desa Kaliau’, Sebunga, Santaban, Sanatab, dan Desa Sei
Bening .

345
Pengabdian di Batas Negeri Malindo

Gambar 7. Peta Kecamatan Sajingan Besar


Sumber: Kecamatan Sajingan Besar

Kantor Kecamatan Sajingan Besar yang terletak di


Desa Kaliau merupakan pusat wilayah pemerintahan di
wilayah. Di desa ini selain terdapat Kantor Kecamatan, juga
terdapat Puskesmas, Polsek, UPT Pendidikan, dan Kantor
Urusan Agama.
Secara umum sarana pendidikan telah tersebar
keseluruh wilayah Kecamatan Sajingan Besar, karena Sajingan
Besar berbatasan langsung dengan wilayah Negara lain
(Malaysia). Di Desa Sebunga yang paling dekat dengan

346
Jelajah Nusantara #4

perbatasan, terdapat kantor imigrasi, Pos TNI Lintas Batas


Negara (LIBAS), dan Pos Polisi.
Pada saat ini di Kecamatan Sajingan Besar belum
seluruh masyarakat dapat menikmati fasilitas listrik. Ada
empat desa yang sudah dapat menikmati fasilitas listrik, yaitu
Desa Kaliau, Desa Sebunga, Desa Sanatab, dan Desa
Santaban. Sementara beberapa lainnya masih dalam proses
pembangunan.
Kecamatan Sajingan cukup diuntungkan untuk
keberadaan fasilitas listrik ini. Dikarenakan sebagian besar
wilayah pegunungan, jadi dapat dibangun pembangkit listrik
dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada, selain
tenaga diesel yang ada sekarang. Selain itu ada inisiasi
kerjasama dengan Malaysia pembangunan pembangkit listrik
dengan memanfaatkan sumber daya alam untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat lainnya.
Dengan faktor alam yang masih natural daerah ini
sangat berpotensi bila dibangun sarana pendukung pariwisata
yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan
membuka lapangan kerja, meski hutan di daerah ini mulai
gundul dikarenakan ladang yang berpindah-pindah,
penebangan liar, serta pembangunan perkebunan sawit, yang
membuat daerah resapan air berkurang.
Untuk masalah drainase, daerah ini sangat aman dari
banjir dikarenakan wilayah dataran tinggi, selain juga banyak
terdapat sungai. Namun pada musim hujan, saat terjadi hujan
yang sangat lebat dalam beberapa hari, daerah ini juga

347
Pengabdian di Batas Negeri Malindo

terkena banjir, meski tidak dalam waktu lama, dikarenakan


hujan kiriman dari dataran yang lebih tinggi.
Sesuai dengan kondisi alam sebagian besar
masyarakat berprofesi sebagai petani. Meski yang jadi
pengerak perekonomian masyarakat lebih tergantung dari
hasil perkebunan, terutama karet. Sementara sektor lain,
seperti industri, pariwisata, perdagangan, memberi kontribusi
yang relatif kecil.

Gambar 10. Rumah Adat Betang Suku Dayak di Dusun Sasak, Desa
Santaban, Kecamatan Sajingan Besar
Sumber: Dokumentasi Penulis

Suku asli yang mendiami Kecamatan Sajingan Besar


adalah Suku Dayak Ahe dan Bekati’. Pada saat ini sudah cukup
banyak pendatang yang masuk di Kecamatan Sajingan Besar,

348
Jelajah Nusantara #4

yaitu orang Melayu, Tionghoa, dan beberapa suku lain dalam


jumlah yang relatif kecil.

Upaya Meningkatkan Promosi dan Preventif


Kesehatan Masyarakat
Sebagai Tim Nusantara Sehat kami dituntut untuk
lebih aktif mengedepankan upaya promotif dan preventif.
Sementara selama kami turun untuk survei di lapangan
Puskesmas Sajingan Besar kurang intens untuk
mengupayakan program ini dikarenakan SDM yang masih
terbatas dan akses menuju desa yang terkadang tenaga
kesehatan harus memilik waktu ekstra untuk turun lapangan.
Wilayah Kerja Puskesmas Sajingan meliputi lima desa;
1) Desa Sungai Bening, sebelah Utara berbatasan dengan
Kecamatan Paloh
2) Desa Kaliau’, sebelah Selatan berbatasan dengan
Kecamatan Jagoibabang Kabupaten Bengkayang
3) Desa Santaban, sebelah Barat berbatasan dengan
Kecamatan Galing.
4) Desa Sanatab, berbatasan dengan Desa Kaliau’, Desa
Sungai Bening dan Desa Santaban.
5) Desa Sebunga, sebelah Timur berbatasan dengan Kmp.
Biawak, Lundu, Malaysia Timur.
Tabel 1. Jumlah Tenaga Kerja Puskesmas Sajingan Besar
No Jenis Tenaga Jumlah Keterangan
1 Dokter Umum 2 1 PNS , 1 NS
2 SKM 1 1 NS

349
Pengabdian di Batas Negeri Malindo

3 Bidan 13 5 PNS, 5 PTT, 2 honor, 1 NS


4 Perawat 11 6 PNS, 3 honor, 1 NS
5 Perawat Gigi - -
6 Sanitarian 2 1 PNS, 1 NS
7 Gizi 1 1 NS
8 Analis Kesehatan 1 1 PNS
9 Tata Usaha 1 1 PNS
10 Pekarya / Admin 1 1 Honor
11 Farmasi - -
12 Loket Pendaftaran 1 1 Honor
Total 34 Orang
Keterangan: NS = Nusantara Sehat (Program Kemenkes RI., 2015)

Dari Paparan survei Tim Nusantara Sehat Puskesmas


Sajingan Besar selama tahun 2015, masih ada beberapa
masalah yang perlu dukungan dari berbagai pihak:
1) Program JKN yang masih belum menyeluruh di
masyarakat
2) Rendahnya Perilaku Hidup bersih dan sehat di wilayah
kerja Puskesmas Sajingan Besar
3) Kurang lengkapnya pendataan kelompok rawan seperti
ibu hamil, bayi, balita, remaja, PUS, WUS dan Lansia
4) Belum maksimalnya pembinaan PTM (penyakit tidak
menular) dan PM (Penyakit Menular)
5) Kunjungan K4 belum mencapai target
6) Desa Siaga masih pasif
7) Belum maksimalnya sistem 5 meja posyandu
8) Serta Manajemen Puskesmas yang tidak terorganisir
dengan baik.

350
Jelajah Nusantara #4

Dengan problematika tersebut kami berusaha


melakukan koordinasi bersama lintas sektor dan melakukan
upaya promotif dan preventif di masyarakat secara langsung
dengan membentuk “Desa Binaan Nusantara Sehat” yang
digadang-gadang lebih memfokuskan pada upaya promosi
dan preventif. Selain desa binaan, kami juga melakukan
perbaikan manajemen bersama staf Puskesmas Sajingan
Besar. Meski banyak rintangan yang didapat saat di lapangan,
tidak membuat kami menyerah, justru menjadikan motivasi
untuk kami lebih meningkatkan pelayanan pada masyarakat
Sajingan Besar.

Gambar 11. Kerja Bakti bersama Wanita Katholik, Forum Anak dan Kader
Posyandu untuk pembuatan posyandu binaan
Sumber: Dokumentasi Penulis

351
Pengabdian di Batas Negeri Malindo

Gambar 14 . Pembentukan Kelompok Pendukung ASI


Sumber: Dokumentasi Penulis

Gambar 15. Pemberdayaan Masyarakat Pembuatan Kloset


Sumber: Dokumentasi Penulis

352
Jelajah Nusantara #4

Gambar 17. Revitalisasi Pos Binaan Terpadu PTM (Posbindu)


Sumber: Dokumentasi Penulis

Gambar 18. Pelaksanaan Pos Gizi untuk Bayi Balita Gizi Kurang
Sumber: Dokumentasi Penulis

353
Pengabdian di Batas Negeri Malindo

Gambar 19. Akses Jalan di Sajingan Besar


Sumber: Dokumentasi Penulis

Potensi Alam Riam Berasap (Air Terjun Berasap)


dan Pos Lintas Batas Negara Malindo
Kecamatan Sajingan Besar mempunyai potensi wisata
yang menurut saya tiada duanya. Salah satunya air terjun
berasap yang oleh suku Dayak diberi nama “Riam Berasap”.
Akses menuju tempat ini agak sedikit sulit karena jalan utama
itu vertikal 45º jadi agak harus sedikit ekstra berjuang. Kita
bisa menempuh lokasi sekitar ±1 jam perjalanan.
Hal terpenting adalah jangan menuju lokasi saat
musim hujan, karena jalanan masih berupa bebatuan, jadi
licin dan sangat berbahaya bagi pemula. Meski sedikit
berbahaya, lokasi dengan alam yang masih benar-benar asri
ini adalah tempat melepas penat saya bersama teman-teman
jika terlalu sibuk dengan pekerjaan.

354
Jelajah Nusantara #4

Gambar 20. Riam Berasap Sajingan Besar


Sumber: Dokumentasi Penulis

Gambar 21. Lintas Batas Negara Indonesia Malaysia


Sumber: Dokumentasi Penulis

Di lokasi ini kita juga bisa melepas waktu luang dengan


jalan-jalan ke Pos Lintas Batas Malaysia Indonesia. Selain

355
Pengabdian di Batas Negeri Malindo

melihat arus lalu lintas TKI/TKW, kita juga bisa


membandingkan negara kita dengan negeri sebelah karena
terlihat jelas perbedaannya, meski tetap saja Indonesia ada di
hati. 

Gambar 22. Berpose di Lintas Batas Negara Indonesia Malaysia 


Sumber: Dokumentasi Penulis

356
Memperhatikan Kesehatan dari Akar Rumput
Catatan Penugasan Nusantara Sehat ke Kecamatan
Losari, Cirebon

Ummu Nafisah

Kabupaten Cirebon terletak di ujung Timur Provinsi


Jawa Barat. Berdasarkan letak geografisnya, Kabupaten
Cirebon berada pada posisi 108°40’-108°48’ Bujur Timur dan
6°30’-7°00’ Lintang Selatan. Sedang Kecamatan Losari
merupakan salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten
Cirebon yang berada di ujung Timur, persis berbatasan
dengan Provinsi Jawa Tengah, terletak kurang lebih 45 menit
dari ibu kota. Kecamatan ini merupakan salah satu wilayah
yang berada di sebuah jalur tersohor yang dikenal orang
sebagai jalur Pantura (Pantai Utara), karena di sebelah
Utaranya memang berbatasan dengan garis pantai, yakni Laut

357
Memperhatikan Kesehatan dari Akar Rumput

Jawa. Terbagi ke dalam 10 desa, Kecamatan Losari terdiri dari


dua kategori daratan yaitu daratan rendah dan pesisir.

Gambar 1. Peta Geografis Kabupaten Cirebon


Sumber: Pemerintah Kabupaten Cirebon

Berawal dari keinginan yang besar untuk terus


mengenal Nusantara selepas mengikuti Riset Ethnografi
tahun 2014 di Tolitoli (sepenggal kisahnya ada dalam buku
Jelajah Nusantara 2), langkah kaki kemudian tertuntun untuk
terus menjejak belahan bumi Nusantara yang lain. Hingga,
pada suatu hari, kesempatan untuk bergabung dengan

358
Jelajah Nusantara #4

sebuah program bernama Pencerah Nusantara milik CISDI


(Center of Indonesia’s Strategic Development Initiatives) pun
datang. Pencerah Nusantara inilah yang kemudian menjadi
media bagi saya untuk mewujudkan keinginan tersebut,
sekaligus keinginan terbesar lainnya, yakni untuk turut
berkontribusi dalam perbaikan derajat kesehatan masyarakat
secara nyata, dan bukan sekedar sebagai saksi mata belaka,
melainkan sebagai salah satu “pemerhati kesehatan dari akar
rumput”. Pada Kecamatan Losari inilah kemudian kami, Tim
Pencerah Nusantara Cirebon yang terdiri dari lima orang
pemuda/i dikirimkan.

Harapan dan Ekspektasi


Ekspektasi apa yang pertama kami bayangkan tentang
penempatan tersebut? bahwa kami di tempatkan di daerah
yang aksesnya mudah, baik transport, komunikasi, hingga
tekhnologi. Serta harapan masyarakat dengan kharakteristik
kota yang cenderung individual dan lebih maju secara
pengetahuan karena mudahnya mendapatkan akses
informasi. Pola pikir akan kesehatan yang cenderung sudah
terbentuk itu merupakan sebuah bekal positif, namun akan
menjadi tantangan pula bagi kami untuk menanamkan
sebuah persepsi baru. Bagai dua mata sisi uang logam, begitu
pula potensi dan tantangan yang ada, keduanya tak dapat
dipisahkan satu sama lain.
Serentetan data tentang wilayah kerja kami ini pun
datang beruntun saat pelatihan. Pada saat itu kami pun

359
Memperhatikan Kesehatan dari Akar Rumput

merasa bahwa data yang tersedia cukup lengkap. Data


tersebut sangat membantu kami dalam memperoleh
gambaran tentang penempatan kami nantinya. Hanya saja,
sedikit kebingungan pun melanda. Tantangan apa yang
sesungguhnya akan kami hadapi di penempatan tersebut
yang menyebabkan kami harus di tempatkan di sana? Padahal
berdasar pengkategorian data kesehatan, banyak indikator
kesehatan sudah berada pada garis hijau, yang artinya dalam
posisi aman-aman saja. Kecuali beberapa indikator, dan yang
cukup mencolok adalah AKI dan AKB-nya.

Saat Pertama Kali


Singkat cerita, 40 hari paska pelatihan intensif,
tepatnya pada tanggal 9-10 Mei 2016, sembilan tim bentukan
yang terdiri dari 5-6 orang pemuda/i dengan profesi berbeda
diberangkatkan ke sembilan titik, yaitu ke Aceh Selatan,
Muara Enim, Grobogan, Gunung Mas, Sumbawa Barat,
Konawe, Mamuju Utara, Sorong dan kami sendiri, ke Cirebon.
Tim Cirebon terdiri dari Adil Mahesa (perawat), Sujie Pratiwi
(dokter), Firlya Rahma R. (bidan), Sofwatun Nida (Kesehatan
Masyarakat) dan saya sendiri yang juga berasal dari
background Kesehatan Masyarakat. Kebetulan di hari
keberangkatan kami, tim kami baru dipertemukan dengan
perwakilan dari pemerintah daerah Cirebon yang pada waktu
itu diwakili oleh Kepala Dinas Kesehatan bersama rombongan,
termasuk di dalamnya Kepala Puskesmas Losari, Bapak
Hermanto, SKM., MM.

360
Jelajah Nusantara #4

Paska pertemuan, rombongan pulang ke Cirebon


terlebih dahulu, dan kami pun menyusul beberapa saat
kemudian dengan kendaraan berbeda. Jika rombongan
tersebut menggunakan kereta, kami diakomodasikan
menggunakan travel mengingat perbekalan yang kami bawa
adalah perbekalan untuk setahun ke depan.
Estimasi perjalanan kami ternyata meleset. Dari yang
semula mengira hanya sekitar tiga jam dari ibukota, ternyata
pada hari itu perjalanan kami memakan waktu hingga kurang
lebih enam jam. Setelah keluar dari Tol Palikanci, kami
kembali menghubungi Bapak Kepala Puskesmas untuk
kembali menanyakan arahan ke tempat tujuan.
Kurang lebih 30 menit kemudian, kami pun tiba di
tempat tujuan dengan selamat, serta langsung mendapatkan
traktiran makan dari Bapak Kapus. Hehehe, Alhamdulillah
kenyaaaang. Di malam hari pada hari pertama itu, kami mulai
berkenalan dengan Bapak Kapus dan saling bercerita
mengenai asal-usul hingga keluarga kami masing-masing.
Segera setelah selesai bersantap malam bersama,
kami diantar ke salah satu rumah staf Puskesmas yang
kebetulan dekat dengan lokasi Puskesmas tempat kami
nantinya akan mengabdikan diri selama satu tahun. Di
sanalah kami menginap untuk beberapa hari pertama di
Losari, sebelum kemudian memperoleh kontrakan sebagai
tempat tinggal untuk setahun ke depan.
Keesokan harinya, kamipun berangkat ke Puskesmas
bersama staf Puskesmas yang berbaik hati memperbolehkan
kami untuk tinggal di rumahnya. Hari pertama masuk kerja,

361
Memperhatikan Kesehatan dari Akar Rumput

kami pun mulai berkenalan dengan staf Puskesmas yang pada


waktu itu total berjumlah sekitar 85 orang. Sedikit kheder
(bingung dalam bahasa Losari, red.), karena jumlah pegawai
yang cukup besar ini membuat kami susah menghafal nama
dan juga wajah pegawai satu per satu dengan cepat.
Meskipun kemudian pada beberapa bulan selanjutnya, kami
berhasil juga menghafal dan mulai dekat dengan staf satu per
satu.

Gambar 2.
Tampak Depan
Bagian Rawat
Inap Puskesmas
Losari
Sumber:
Dokumentasi
Penulis

Yang Unik di Losari


Mari berhenti sejenak dari ketimpangan-ketimpangan
yang disebutkan pada paragraf sebelumnya. Kali ini, mari
berbicara tentang hal-hal yang menarik, yang biasa dikulik
oleh para ethnografer, yakni unsur budaya.
Bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat Losari
cenderung menggunakan bahasa Jawa dalam keseharian.

362
Jelajah Nusantara #4

Namun, bahasanya sedikit berbeda dengan bahasa Jawa dari


Jawa Tengah pun Jawa Timur. Tidak ada perbedaan bahasa
yang terbagi untuk penggunaan pada saat berbicara dengan
orang yang lebih tua, bernada seperti ngapak khas Tegal,
meski tidak terlalu.
Perbedaan dengan logat bahasa Jawa Timur-an adalah
penggunaan huruf vokal ‘a’ pada tiap kata, sedangkan Jawa
Timur biasa memakai huruf vocal ‘o’. Contohnya adalah
pengucapan ‘pira’ dan ‘piro’ (berapa, red.), ‘sapa’ dan ‘sopo’
(siapa, red.), ‘ora papa’ dan ‘ora popo’ (tidak apa, red.), dsb.
Ada juga beberapa kosa kata yang tidak digunakan oleh orang
Jawa Timur atau Jawa Tengah, seperti ‘ana belih’ (ada tidak,
red.), ‘kepriben’ (bagaimana, red.), ‘sak kiyek’ (sekarang, red.),
dan lain-lain.
Masyarakat Losari mayoritas beragama Islam. Boleh
dikata, kami jarang menemukan warga non muslim selama
sembilan bulan perjalanan kami di penempatan. Oleh karena
itu, budaya-budaya yang beredar di masyarakat Losari tidak
jauh-jauh dari budaya Islam, atau budaya Islam yang telah
bercampur dengan budaya Jawa. Apalagi, Kota Cirebon
dikenal sebagai Kota Wali.
Keluarga Kesultanan Cirebon merupakan keturunan
dari Sunan Gunung Jati, yaitu salah seorang tokoh penyebar
agama Islam di daratan Jawa yang tergabung dalam Wali
Songo. Kecamatan Losari sendiri, berdasarkan riwayat yang
terbaca dalam Babad Tanah Losari, cukup dekat dengan
pengaruh seorang pangeran yang berasal dari Kesultanan

363
Memperhatikan Kesehatan dari Akar Rumput

Cirebon, Pangeran Angka Wijaya, atau dikenal juga sebagai


Pangeran Losari.
Pangeran Losari diceritakan sebagai seorang pangeran
yang memiliki minat pada dunia seni. Berdasar beberapa
informasi, salah satu tarian tradisional kelas internasional
yang berasal dari Losari-Cirebon, tari topeng, salah satunya
tercipta oleh kontribusi dari Pangeran Losari. Sayang, tari ini
semakin lama semakin hilang ditelan oleh jaman.
Karya seni lain dari Pangeran Losari adalah sebuah
kereta kencana dengan nama Paksi Naga Liman, dimana
terdapat ukiran sebuah hewan gabungan dari naga, ular dan
belalai gajah. Kereta kencana tersebut pada saat ini tersimpan
di sebuah museum yang berada di wilayah Keraton
Kasepuhan. Gua Sunyaragi, salah satu destinasi lain yang
terletak di salah satu sudut Kota Cirebon pun, juga dikenal
sebagai salah satu hasil karya Pangeran Losari.
Adapun pertunjukan khas lain di Cirebon adalah
pertunjukan yang dikenal dengan sebutan Burok. Burok
merupakan sebuah pertunjukan yang diperuntukkan sebagai
hiburan anak-anak.
Biasanya, seni Burok ini ditanggap di acara khitanan
anak laki-laki. Nama Burok ini berkaitan dengan nama
kendaraan Nabi Muhammad pada saat peristiwa Isra Miraj.
Tujuan pertunjukan ini adalah sebagai hiburan bagi anak yang
dikhitan dengan tujuan ngalap berkah dengan menunggangi
Burok, seperti kendaraan Nabi.

364
Jelajah Nusantara #4

Gambar 3. Kesenian Tari Topeng (atas) dan Kereta Paksi Naga Liman
(bawah)
Sumber: Dokumentasi Penulis

365
Memperhatikan Kesehatan dari Akar Rumput

Gambar 4. Gua
Sunyaragi
Sumber:
Dokumentasi Penulis

Bentuk Burok adalah sebuah boneka yang menyerupai


hewan. Pada saat dimainkan, anak yang khitan akan menaiki
boneka Burok tersebut, kemudian akan dipanggul oleh 2
orang dan diarak diiringi music Burok. Jika dicari informasinya,
makna simbolik dari pertunjukan Burok ini sendiri ternyata
sangat banyak. Ritual khitanan anak di daerah Cirebon timur
memang biasa diadakan besar-besaran, bahkan, sudah
menyerupai hajatan pernikahan.

Gambar 5.
Kesenian Burok
Sumber:
Dokumentasi Penulis

366
Jelajah Nusantara #4

Kegiatan lain yang berhubungan dengan Islam dan


membudaya adalah pengajian. Kegiatan ini berbentuk sebuah
perkumpulan yang di dalamnya terdapat aktivitas membaca
Al Qur’an sebagai kitab suci orang muslim, dan berbagi ilmu
keagamaan dari seorang kyai (ulama/tokoh agama pada kaum
Muslim).
Pada beberapa wilayah, apalagi yang terdapat pondok
pesantren, masyarakat masih sangat memegang nilai-nilai
agama serta memegang ajaran dari Sang Kyai. Kebiasaan
pengajian 7 harian, 40 harian, 100 harian hingga haul (1000
harian) paska peristiwa kematian seorang warga pun masih
dilaksanakan di sini, seperti layaknya tradisi orang Jawa pada
umumnya.
Tradisi yang sedikit memudar di Cirebon adalah ritual
pada ibu hamil. Selama di penempatan, kami hanya beberapa
kali menyaksikan adanya upacara adat bagi ibu hamil. Namun,
saat kami mencoba menggali informasi, sebenarnya memang
ada budaya upacara adat bagi ibu hamil. Hanya saja, budaya
tersebut sudah mulai ditinggalkan karena berbagai alasan.
Salah satu ritual upacara yang masih dilakukan adalah
upacara ‘tebus weteng’, yang artinya menebus perut. Biasa
diadakan pada seorang wanita yang sedang hamil, tapi hanya
pada kehamilan anak pertama saja. Rangkaian upacara terdiri
dari tasyakuran (baca do’a), dan dilanjut siraman.
Sejumlah saudara dekat dari wanita yang hamil
maupun dari saudara suaminya akan bergiliran mengambil air
kembang dalam gentong, kemudian setiap sudah tiga kali
siram, si ibu hamil akan berdiri dan menjatuhkan kelapa

367
Memperhatikan Kesehatan dari Akar Rumput

gading yang sedang dipangkunya. Menurut kepercayaan


setempat, makna dari menjatuhkan kelapa secepatnya paska
disiram sebanyak tiga kali ialah agar bayi lahir dengan cepat
dan mudah pada waktunya nanti.
Kelapa gading ini sudah ditorehi sebuah tulisan (rajah)
dalam bahasa Arab yang isinya merupakan sebuah do’a.
Penoreh rajah do’a tersebut adalah ‘orang yang dianggap
mengerti’.

Gambar 6.
Upacara adat
tebus wetheng
pada ibu hamil
Sumber:
Dokumentasi
Penulis

Adat kebiasaan lain yang cukup kental di masyarakat


Pantura adalah dendang dan goyang. Pada banyak acara,
masyarakat Losari seringkali mengundang biduan untuk
menghibur para undangan. Sang biduan tak hanya menghibur
dengan berdendang, tapi juga bergoyang.
Bila beruntung, biduan akan mendapatkan saweran,
yaitu diberi sejumlah uang oleh penonton. Semakin seru
penampilan biduan, akan semakin banyak pula saweran.

368
Jelajah Nusantara #4

Lagu-lagu khas daerah ini biasa disebut sebagai lagu


cirebonan. Bila kita dengarkan dengan seksama, sebenarnya
lagu-lagu cirebonan beraliran musik dangdut, namun
kebanyakan berlirik Bahasa Jawa khas Cirebon.
Mari beranjak ke unsur budaya Cirebon lainnya,
tentang kuliner atau makanan. Karena merupakan daerah
yang dekat dengan laut, makanan di sini tidak jauh-jauh dari
seafood. Ikan, udang, kepiting, rajungan, kerang, cumi, dan
sebangsanya. Ragam makanan jenis ini cukup signifikan dalam
memberi pengaruh pada kesehatan. Terutama yang
berhubungan dengan hipertensi.
Sama seperti nelayan pesisir pada umumnya, meski
hasil laut melimpah, bagian terbaik yang mereka dapat selalu
mereka jual. Untuk konsumsi, hanya mengandalkan sisa hasil
laut yang kurang bernilai tinggi untuk dijual.

Gambar 7. Rajungan dan olahan bandeng gepuk, salah satu komoditas


unggulan di Losari
Sumber: Dokumentasi Penulis

369
Memperhatikan Kesehatan dari Akar Rumput

Di wilayah ini, selain mengandalkan hasil laut juga ada


petani tambak. Hasil utamanya adalah ikan bandeng. Ikan
bandeng ini bisa diolah dengan berbagai cara. Salah satu yang
unik adalah olahan bandeng gepuk. Ikan bandeng yang
banyak durinya ini dagingnya dipisah dari kulitnya dan diolah
sedemikian rupa hingga menjadi lumat dan dimasukkan lagi
ke dalam kulit ikan yang tadinya dilepas.

Tantangan di Lapangan
Kembali lagi berbicara tentang gambaran kesehatan
masyarakat. Saat turun lapangan, kami mulai mendapatkan
banyak informasi tentang kharakteristik masyarakat, dan kali
ini tidak sekedar informasi, melainkan sesuatu yang kami rasa
dan lihat dengan mata kepala sendiri.
Disebutkan oleh bererapa informan, bahwa
kharakteristik masyarakat Pantura itu keras. Benarkah?
Sesungguhnya, mau tidak mau saya sendiri harus bilang, “Ya…
itu benar, meski tidak semua.” Hal inilah yang kami nilai
menjadi salah satu faktor penghambat diterimanya program
kesehatan oleh masyarakat dengan baik.
Namun beberapa bulan berikut, saya menyadari
kembali bahwa meski keras, sesungguhnya masih ada
harapan untuk merangkul mereka, tergantung bagaimana
cara pendekatannya. Cara pendekatan yang baik dengan niat
yang baik, cenderung akan mendapat tanggapan yang baik
pula.

370
Jelajah Nusantara #4

Seperti yang telah disampaikan di atas, Puskesmas


Losari memiliki banyak program. Dimulai dari program-
program tersebut kami mulai kembali turun ke masyarakat.
Sambil berenang minum air, mencoba lebih banyak mengenal
karakteristik masyarakat, serta mengenal tentang bagaimana
sebuah program dijalankan.
Kami mulai turun ke berbagai golongan bersama
dengan para pemegang program. Ke sekolah, ke pos
kelompok kerja, ke kelompok ibu hamil, kelompok ibu balita,
kelompok lansia, dan lain-lain. Setiap kelompok biasanya
memiliki resiko kesehatan tersendiri. Oleh karena itu perlu
kajian lebih jauh tentang apa yang menjadi kebutuhan
kelompok sasaran program tersebut, agar program dapat
berjalan tepat guna.
Pada kelompok remaja misalnya, berdasar hasil
analisis assessment kesehatan remaja (sasaran assessment
adalah siswa/i SMP dan SMA atau sederajat), kami mendapati
perilaku merokok dini pada anak lelaki cukup tinggi. Selain itu
bentuk pergaulan terhadap lawan jenis cukup riskan menjadi
kebablasan (kelewatan).
Anak usia sekolah menengah pertama sudah terpapar
dengan perilaku merokok karena tuntutan pergaulan.
Pacaran, tak lagi menjadi sesuatu yang dipandang wah.
Sayang, perilaku tersebut tidak sebanding dengan tingkat
pengetahuan terhadap kesehatan reproduksi.
Kabar baiknya, angka pernikahan dini karena tuntutan
‘pandangan masyarakat’ atau ‘paksaan orang tua’ tak lagi
terlalu tinggi di sini. Justru seringkali menikah dini karena

371
Memperhatikan Kesehatan dari Akar Rumput

permintaannya sendiri. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi


tim guru, orang tua, serta orang kesehatan untuk lagi-lagi
memberikan bekal pengetahuan yang cukup pada para muda-
mudi untuk terus berusaha mengejar cita-cita, dan bukan
‘cinta-cinta’-annya. Kencangnya arus informasi, mudahnya
tekhnologi komunikasi, di sini benar-benar telah menjadi dua
sisi positif dan negatif yang tak lagi dapat dipisah seperti pada
mata uang logam.
Bergerak dari masa remaja, masa selanjutnya pada life
cycle adalah masa dewasa. Masa dewasa, tak lepas dari
tuntutan untuk bekerja. Mayoritas pekerjaan penduduk di
wilayah kecamatan Losari ada dua, yaitu nelayan dan petani.
Pulang dari laut, berbagai jenis ikan di bawa untuk dijual
kembali nantinya. Tak hanya ikan-ikanan, tapi juga berbagai
jenis udang, kerang, kepiting dan rajungan. Rajungan
merupakan sebuah komoditas unggulan di daerah pesisir
Pantura.

Gambar 8. Salah dua mata pencaharian mayoritas warga, petani tambak


dan bawang merah
Sumber: Dokumentasi Penulis

372
Jelajah Nusantara #4

Beberapa kongsi perusahaan rajungan telah


memberikan lapangan pekerjaan bagi penduduk. Para ibu
cukup banyak yang bergabung dalam perusahaan sebagai
para pengocek (pengupas) rajungan untuk pekerjaan sehari-
hari. Ngocek, merupakan sebuah kata kerja yang digunakan
sebagai bahasa daerah yang berarti mengupas.
Setiap pekerjaan selalu memiliki resiko, demikian juga
buat para pengocek rajungan. Resiko yang harus ditanggung
dan terlihat nyata adalah kondisi telapak tangan mereka yang
menjadi gatal-gatal, dan berubah menjadi berwarna pucat
serta berkerut-kerut seperti kondisi telapak tangan yang
berada dalam air berjam-jam.

Gambar 9.
Salah satu
kondisi telapak
tangan
pengocek
rajungan
Sumber:
Dokumentasi
Penulis

Jelas saja, karena mereka bisa seharian untuk


mengocek rajungan. Pekerjaan tersebut biasa mereka bawa
pulang, yang artinya telapak tangan mereka seperti direndam
seharian, karena kondisi rajungan yang mengandung air. Bisa

373
Memperhatikan Kesehatan dari Akar Rumput

dipahami bila salah satu bentuk penyakit akibat kerja yang


paling banyak ada di Losari adalah penyakit kulit.
Jenis pekerjaan penduduk mayoritas lainnya adalah
sebagai petani. Petani di Cirebon digolongkan menjadi dua,
yaitu petani tanaman yang mayoritas adalah bawang merah,
dan petani tambak yang mayoritas adalah ikan bandeng. Ya,
komoditas bawang merah dan ikan bandeng juga merupakan
salah satu komoditas unggulan di Kecamatan Losari.
Kontur pesisir di wilayah Losari memang cocok
dijadikan tambak atau disebut juga balong oleh masyarakat
setempat. Berdasar informasi dari beberapa informan, hasil
panen tambak dan bawang merah akan bisa menghasilkan
keuntungan yang luar biasa besar kalo memang sedang
untung, namun kerugian juga bisa sangat besar kalau sedang
apes.
Keunikan lainnya pada masyarakat Cirebon dalam hal
pekerjaan adalah tingginya jumlah TKI (Tenaga Kerja
Indonesia). Negara favorit yang dituju adalah ke Korea, Arab,
Hongkong, dan Taiwan.
Persyaratan untuk menjadi TKI memang dibilang
cukup mudah bila dibandingkan mencari pekerjaan di negeri
sendiri. Persyaratan pendidikan tidak perlu terlalu tinggi, dan
gaji lebih menggiurkan dari gaji pekerja di Indonesia. Siapa
yang tidak tertarik? Maka, berbondong-bondonglah mereka
mencoba untuk mengais rejeki di negeri orang. Alhasil, ada
suami yang meninggalkan anak dan istrinya, dan ada istri yang
meninggalkan anak dan suaminya, serta ada anak yang
meninggalkan orang tuanya.

374
Jelajah Nusantara #4

Pola asuh anak cenderung abai. Anak yang diasuh oleh


neneknya sudah menjadi hal biasa. Tentu saja, baik secara
langsung maupun tidak langsung, pola pengasuhan yang
demikian akan berpengaruh pada perkembangan si anak.
Segi positifnya, kondisi perekonomian keluarga para
TKI relatif aman. Pertanyaannya, apakah kondisi aman itu
akan bertahan paska kepulangan mereka, ataukah akan
terhenti? Jawabnya, belum tentu. Seperti sebuah lingkaran
setan, lagi-lagi putaran rantai yang tak pernah putus antara
tiga masalah, pendidikan-ekonomi-kesehatan, tidak bisa
dipisahkan begitu saja.
Mayoritas tingkat pendidikan penduduk di Cirebon
adalah SD dan SMP. Faktor ini, mau tidak mau harus kita akui
sebagai salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat
ekonomi dan tingkat kesehatan. Saya rasa, tidak perlu
diungkap panjang lebar tentang hubungan antara ketiganya di
tulisan sini.
Dari segi kesehatan, yang mencolok adalah jumlah
penderita kusta dan tuberkulosis yang tidak hanya satu-dua.
Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama dalam menemui
pasien kusta. Sebuah penyakit yang dulu hanya saya pelajari
di buku pelajaran, kini tak lagi menjadi penyakit yang ‘luar
biasa’ di sini. Nomor tiga terbesar se-Jawa Barat. Tidak
berbeda dengan kusta, tuberkulosis juga bukan penyakit yang
‘wah’ lagi di sini.
Ada dua sisi mata koin yang tidak bisa dipisah lagi jika
melihat kondisi tersebut. Sisi pertama cukup positif, karena
sudah mulai terbentuk persepsi masyarakat yang cenderung

375
Memperhatikan Kesehatan dari Akar Rumput

tidak mengucilkan penderita. Sisi lain, adalah turunnya tingkat


kewaspadaan terhadap penyakit tersebut. Untuk itu
pengetahuan masyarakat perlu untuk terus di kawal dalam
menghadapi jenis penyakit yang demikian, minimal tentang
bagaimana cara penularan dan bagaimana bentuk
pencegahan.

Gambar 10. Salah satu


kondisi penderita kusta
Sumber: Dokumentasi
Penulis

Lebih baik lagi jika masyarakat mengenal tanda atau


gejala penderita, dan bisa bekerja sama dengan pihak
kesehatan untuk melaporkan kecurigaan. Mengingat
kapasitas jumlah tenaga kesehatan yang terbatas, jelas
metode yang mungkin bisa kita sebut sebagai ‘kader dari
masyarakat’ itu akan sangat membantu. Tantangan untuk

376
Jelajah Nusantara #4

menanamkan persepsi kesehatan yang baru inilah


sesungguhnya tugas utama kami. Meningkatkan peran serta
aktif masyarakat, melakukan pemberdayaan, bersama-sama
berusaha mewujudkan cita-cita bersama untuk menuju
Kecamatan Losari Sehat.

Harapan itu Masih Ada


Hari-hari pun berganti, hingga sampailah kami di masa
sembilan bulan paska penempatan. Kini, sisa sekitar 100 hari
lagi perjalanan kami. Selama perjalanan ini, perjuangan kami
masih belum seberapa. Masih ada banyak pekerjaan untuk
tim pengganti kami selanjutnya. Namun demikian, selama
perjalanan ini kami tidak melulu hanya melihat tantangan,
sebab, potensi yang ada justru lebih membentang. Modal
sosial yang kami temukan terasa seperti oase di padang pasir.
Dua mata sisi pada uang koin mungkin memang tidak bisa
terpisahkan. Namun ukiran pada salah satu sisi bisa lebih
diperindah, bukan?
Lagi-lagi kita harus kembali mengingat bahwa
kewajiban membangun kesehatan bukanlah milik orang
kesehatan saja, melainkan milik kita bersama. Koordinasi
lintas sektor harus terus dibangun. Kerjasama dengan
pemerintah desa serta kecamatan adalah sesuatu yang tidak
bisa dielakkan. Sekolah-sekolah adalah sasaran empuk dalam
membangun persepsi serta pengetahuan anak-anak tentang
kesehatan. Pengetahuan yang cukup akan menjadi modal
mereka dalam menjalani hidup. Boleh bergaul dengan siapa

377
Memperhatikan Kesehatan dari Akar Rumput

saja, asal punya batasan-batasannya. Berawal dari bekal yang


benar untuk melangkah maju ke depan, kualitas sumber daya
manusia yang baik pasti akan dengan sendirinya memperbaiki
kualitas ekonomi dan kesehatan. Masa depan yang baik
sungguh sedang tergantung nyata di depan mata, untuk
segera dapat diraih oleh si empunya.
Kuncinya? Koordinasi dan data. Pada setiap
pelaksanaan kegiatan, benar-benar harus mengindahkan
proses perencanaan (plan), pelaksanaan (do), pengkoreksian
(check) dan pelaksanaan perencanaan baru paska koreksi
(action) agar tantangan yang ada dapat segera ditangani.
Bukan hal mudah, tapi Losari sudah punya modal ini. Salah
satu sarana dalam proses tersebut pun sudah ada, yakni
koordinasi lintas sektor melalui pertemuan sebulan sekali
yang disebut Sarasehan.

378
Akhir Pekan Bersama Anak Rajamandala
dan Rajadatu
Catatan Perjalanan ke Kabupaten Tasikmalaya

Deni Frayoga

Sabtu bersama anak Rajamandala


Rajamandala, 14 Januari 2017
Sabtu pagi tepat pukul 07.00 WIB tiba di Terminal
Type A Kota Tasikmalaya, perjalanan selama dua jam dari
Kota Bandung berlangsung lancar tanpa kemacetan.
Perjalanan ke Kabupaten Tasikmalaya akhir pekan ini ada dua
agenda, yaitu penyuluhan gizi untuk ibu dan anak di Desa
Rajamandala Kecamatan Rajapolah dan penyuluhan gizi untuk
santri di Desa Rajadatu Kecamatan Cineam. Perjalanan kali ini

379
Akhir Pekan Bersama Anak Rajamandala dan Rajadatu

saya ditemani oleh dua orang rekan aktivis sosial dari Tim
Reksi Cepat (TRC) Komnas Anak Wilayah Jawa Barat.
Tujuan pertama adalah Desa Rajamandala di
Kecamatan Rajapolah yang terletak di Kabupaten Tasikmalaya
bagian Utara. Untuk menempuh perjalanan ke Desa
Rajamandala dari Terminal Type A Kota Tasikmalaya harus
menggunakan angkutan pedesaan sampai Terminal
Rajapolah, dan selanjutnya disambung dengan menggunakan
ojeg. Total waktu tempuh dari terminal Kota asik sampai
Rajamandala hampir 90 menit.

Gambar 1. Suasana Desa Rajamanda


Sumber: Dokumentasi Penulis

Masyarakat Desa Rajamandala pada umumnya


bermata pencaharian sebagai petani dan pedagang. Mereka
ada yang berdagang ke rajapolah, berdagang keliling

380
Jelajah Nusantara #4

kampung maupun yang berdagang dengan membuka toko


atau warung di Rajamandala. Sedangkan mereka yang bertani
pada umumnya berladang masih di wilayah Desa
Rajamandala.
Masyarakat Desa Rajamandala menggunakan
pelayanan kesehatan di Puskesmas dan Poskesdes. Petugas
kesehatan yang jaga setiap hari kerja di Poskesdes adalah
bidan desa. Waktu tempuh dari Desa Rajamandala ke
Puskesmas Rajapolah sekitar 40 menit dengan menggunakan
kendaraan bermotor. Jika dirujuk, biasanya warga Desa
Rajamandala ke rumah sakit pemerintah. Di wilayah ini ada
dua rumah sakit pemerintah yang melayani masyarakat, yaitu
RSUD dr. soekardjo di Kota Tasikmalaya dengan waktu
tempuh sekitar 90 menit, dan RSUD Rancamaya Kabupaten
Tasikmalaya di Singaparna dengan waktu tempuh hampir 120
menit karena jalan alternatif tercepat masih belum
terhubung.
Tugas saya kali ini adalah memberikan edukasi gizi
kepada anak-anak di tiga sekolah, yaitu SDN 3, 4 dan 7
Rajapolah. Tiga sekolah ini yang berada di wilayah Desa
Rajamandala. Saya dan tim melakukan edukasi gizi di sini atas
pemintaan Kepala Desa Rajamandala, karena menurutnya
warga desa ini masih belum memperhatikan urusan gizi anak.
Sehingga edukasi pun dilakukan sekaligus kepada orang
tuanya.
Sebelum saya memberikan edukasi melalui
penyuluhan, saya bertanya kepada anak makanan apa saja
yang biasa dimakan setiap pagi. Jawaban mereka rata-rata

381
Akhir Pekan Bersama Anak Rajamandala dan Rajadatu

tidak pernah makan pagi, seringkali hanya jajan gorengan


saja. Dari jawaban anak ini saya mengetahui permasalahan
pertama adalah anak jarang sarapan sehat bahkan tidak
sarapan sama sekali. Materi edukasi yang saya sampaikan
adalah tentang gizi seimbang dengan berprinsip 4B yaitu
bergizi, berimbang, beragam dan bersih.

Gambar 2. SDN 4 Rajapolah dan SDN 7 Rajapolah tempat edukasi gizi


Sumber: Dokumentasi Penulis

Gambar 3. Suasana ketika edukasi gizi


Sumber: Dokumentasi Penulis

Pada pertengahan materi saya memberi pertanyaan-


pertanyaan kepada anak maupun orang tua terkait masalah
gizi di keluarga. Hampir semua orang tua, tidak tahu tentang

382
Jelajah Nusantara #4

gizi seimbang. Bagi mereka gizi yang bagus itu adalah 4 sehat
5 sempurna.
“…Aa pami gizi sehat mah urang didieu terangna 4 sehat
5 sempurna, teu uninga gizi seimbang sapertos 4B mah.
Tikapungkur ge kitu we 4 sehat 5 sempurna, manawi teh
eta sae, geningan awonnya kanggo kesehatan. Paingan
pun anak mah salirana teh gendut, ah da didieu mah
pami anak gendut teh sae, bingah matakna ge tapi pami
beugang aduh ngisinkeun.” (Ibu N, orang tua siswa)
“… Aa kalau gizi sehat yang kita tahu 4 sehat 5
sempurna, tidak tahu gizi seimbang dengan prinsip 4B
seperti itu. Sejak dulu juga 4 sehat 5 sempurna, kirain itu
bagus, ternyata tidak baik untuk kesehatan. Pantas saja
anak saya badannya gemuk, di sini kalau anak gemuk itu
bagus, senang kalau anak gemuk tapi kalau anak kurus
itu malu.” (Ibu N, orang tua siswa)

Orang tua masih merasa senang jika anaknya gemuk.


Mereka mengidentikan sehat itu jika gemuk. Mereka masih
belum mengetahui tentang faktor risiko yang akan terjadi
seperti obesitas, hipertensi dan penyakit degeneratif lainnya.

Masalah Kekerasan Seksual pada Anak


Desa Rajamandala meski bukan tergolong daerah
urban, tapi terdapat permasalahan serius yang dihadapi dan
masih belum tertuntaskan. Masalah tersebut adalah masalah
kekerasan seksual pada anak. Perangkat desa maupun
masyarakat sudah cemas terkait permasalahan ini, mereka

383
Akhir Pekan Bersama Anak Rajamandala dan Rajadatu

sangat menjaga anak-anaknya agar tidak menjadi korban


kekerasan seksual.
Masalah kekerasan seksual ini adalah tindakan
pedofilia yang dilakukan oleh salah satu remaja dengan
korban anak-anak yang masih SD. Memang permasalahan ini
sudah lama terjadi dan baru sampai laporannya ke Komnas
Anak akhir tahun 2016 lalu. Masyarakat maupun kepala desa
sudah mengetahuinya, namun sulit diselesaikan. Pelaku
adalah cucu dari seorang nenek yang mempunyai ilmu hitam,
sehingga masyarakat tidak berani memberikan sanksi kepada
pelaku.

Minggu Bersama Anak Rajadatu


Rajadatu, 15 Januari 2017
Minggu pagi di bumi Sukapura saya dan tim harus
segera melanjutkan perjalanan ke Rajadatu Kecamatan
Cineam. Perjalanan yang tentunya memakan waktu cukup
lama, karena Kecamatan Cineam merupakan wilayah
Tasikmalaya bagian Timur, sedang Rajapolah adalah
Tasikmalaya bagian Utara.
Berangkat dari Rajapolah pukul 05.30 WIB dan tiba di
Terminal Type A Kota Tasikmalaya pukul 06.00 WIB. Untuk
menuju Cineam harus menggunakan bis kecil, namun harus
lama menunggu karena bis baru berangkat pukul 07.00 WIB.
Perjalanan ke Kecamatan Cineam memakan waktu sekitar dua
jam. Namun ternyata lokasi untuk edukasi gizi masih jauh,
jarak dari Terminal Cineam ke Desa Rajadatu sekitar Sembilan

384
Jelajah Nusantara #4

kilometer, dan harus menggunakan jasa ojeg untuk bisa


sampai kesana.
Akses perjalanan menuju Rajadatu sudah nyaman
meski jalanannya kecil. Sebelumnya memang jalan menuju
Rajadatu menurut keterangan peng-ojeg sangat buruk,
berupa tanah dan bebatuan. Namun belum lama jalan diaspal
dan akhirnya sekarang dapat dinikmati dengan nyaman untuk
perjalanan kali ini. Sepanjang jalan kami diperlihatkan dengan
pemandangan kebun dan sawah.

Gambar 4. Akses jalan menuju Rajadatu


Sumber: Dokumentasi Penulis

Tiba di Desa Rajadatu. Ternyata wilayah ini adalah


lingkungan pesantren. Pesantren yang memiliki program
pendidikan Penghafal Alquran ini didirikan oleh Yayasan Al
Kautsar. Mendidik anak-anak tingkat SD, SMP bahkan remaja
SMA dan perguruan tinggi untuk menjadi penghafal Alquran.
Di sekitar pesantren saya melihat kasur yang dijemur,
dapat saya simpulkan bahwa santri sudah melakukan upaya
preventif dari scabies. Saya cona mencari informasi pada

385
Akhir Pekan Bersama Anak Rajamandala dan Rajadatu

salah satu ustadz terkait gangguan kesehatan pada santri,


informan tersebut menyatakan bahwa tidak pernah ada kasus
santri yang gatal-gatal akibat scabies.

Gambar 5. Kasur
Santri dijemur di
asrama
Sumber:
Dokumentasi Penulis

Memberikan edukasi gizi bagi anak-anak santri di


wilayah ini menjadi tantangan tersendiri, karena harus
menggunakan pendekatan ilmu agama Islam baik mengutip
ayat Alquran maupun hadits dan sunnah rasul. Materi yang
dibawakan masih mengenai gizi seimbang dengan berprinsip
4B. Namun hal yang sulit saat menyampaikan materi edukasi
gizi ini adalah laki-laki dan perempuan diberi sekat, sehingga
saya harus berdiri di tengah-tengah sekat itu dan tidak bisa
bergerak bebas. Akan tetapi yang namanya santri mereka
sudah terbiasa dengan gaya mengajar seperti itu, meski
beberapa games yang dilakukan terbatas karena kondisi
formasi duduk, para santri semangat mengikuti materi
edukasi gizi.
Sebelum memulai materi seperti biasa saya selalu
menanyakan kepada mereka tentang apa yang biasa mereka

386
Jelajah Nusantara #4

makan sehari-hari. Berbeda dengan anak-anak di lokasi


sebelumnya, mereka rata-rata menjawab nasi dan tahu
tempe. Kemudian saya kembali bertanya kepada mereka
tentang makanan bergizi itu apa saja, rata-rata mereka
menjawab ikan dan daging.

Gambar 6. Santri Putra


dan Putri duduk
terpisah
Sumber: Dokumentasi
Penulis

Mereka harus tahu akan zat gizi yang diperlukan tubuh


beserta sumber makanannya. Tidak hanya pada ikan dan
daging saja, tapi juga dari makanan-makanan yang ada di.
Saya sampaikan materi gizi ini juga dengan menyebutkan
manfaat dari bahan makanan yang ada, misalnya seperti daun
singkong yang ditanam di belakang pesantren memiliki fungsi
sebagai penambah darah karena mengandung Fe.
Ada hal yang menarik dari para santri cilik ketika
kegiatan berlangsung. Mereka memperhatikan dengan
seksama, kemudian mengulangi apa yang saya katakan sambil

387
Akhir Pekan Bersama Anak Rajamandala dan Rajadatu

menggerakkan kepalanya. Sempat saya bertanya kepada


salah satu dari mereka, alasan mereka mengulangi apa yang
saya katakan dengan menggerakkan kepala, ternyata hal
tersebut adalah metode mereka untuk menghafal dan dapat
menyerap materi yang disampaikan. Mereka melakukan
metode menghafal pada saat menghafal Alquran dan
diterapkan saat materi gizi berlangsung. Pada akhir materi
saya coba memberikan pertanyaan kepada mereka satu
persatu, jawabannya sama persis dengan apa yang saya
sampaikan.

Gambar 7. Suasana Saat Kegiatan Edukasi Gizi Berlangsung


Sumber: Dokumentasi Penulis

Akhir pekan di awal tahun 2017 bersama anak


Rajamandala dan Rajadatu memang sangat menyenangkan.
Baik siswa SD maupun santri mereka harus tahu, mau dan
mampu sejak dini berperilaku hidup sehat dan berpola makan
sehat dengan berpedoman pada prinsip 4B (bergizi, beragam,
berimbang dan bersih).
Para santri penghafal Alquran harus sehat, begitu juga
dengan para siswa SD mereka harus sehat dan terhindar dari

388
Jelajah Nusantara #4

risiko penyakit. Mereka adalah aset untuk bangsa Indonesia di


masa depan.
Memberikan edukasi gizi seimbang kepada anak-anak
santri dan SD adalah cara infaq saya untuk memperjuangkan
hak dasar anak akan kebutuhan gizi. Agar mereka tumbuh
sehat dan terhindar dari penyakit, sehingga mampu
berprestasi. Gizi untuk prestasi!

389
Akhir Pekan Bersama Anak Rajamandala dan Rajadatu

390
Tentang Rabies di Desa Muara Danau
Catatan Perjalanan ke Bengkulu Selatan

Sutamin Hamzah

Seginim-Bengkulu Selatan, Mei-Juni 2016


Pancaran sinar matahari menjelang petang menembus
di sela-sela pepohonan subur yang ada di sekeliling areal
mendekati letak danau yang hendak saya kunjungi. Dan
betapa saya terpukau melihat danau dari kejauhan yang
didukung suara burung pipit yang berkicau dengan irama yang
khas. Angin yang berhembus sesekali terasa sejuk menembus
tulang. Betul saja, danau seluas 33 hektar ini memiliki
kekhasannya sendiri.
Dari tempat ini saya bisa merasakan ketenangan.
Sebuah anugrah tak berperi. Negeri ini kaya, beruntunglah

391
Tentang Rabies di Desa Muara Danau

desa ini memiliki potensi alam yang kelak nanti bisa menjadi
objek wisata air yang ada di Kabupaten Bengkulu Selatan.

Gambar 1. Danau Kautan Serunting di Desa Muara Danau


Sumber: Dokumentasi Penulis

Danau Kautan Serunting di Desa Muara Danau


Kalau orang Bengkulu mengenal Danau Dendam Tak
Sudah yang berada tak jauh dari pusat Kota Bengkulu, maka
di Kabupaten Bengkulu Selatan tepatnya di Kecamatan
Seginim, Desa Muara Danau, juga memiliki danau yang indah,
Danau Kautan Serunting.
Asal muasal Danau Kautan Serunting berawal dari
sebuah dongeng orang terdahulu. Kades Muara Danau
berkenan menceritakannya pada saat saya pulang dari
memancing di danau tersebut. Beliau mengurai kata demi
kata seakan mengulas kembali dongeng orang terdahulu dan
membawa informasi itu ke dunia nyata dalam masa kekinian.

392
Jelajah Nusantara #4

Kautan yang berarti menggali, dan serunting adalah


seseorang yang memiliki kekuatan pada zaman dahulu, atau
julukan kepada seseorang yang memiliki kekuatan tersendiri.
Serunting merupakan kesatria yang berasal dari Sumatera
Selatan.
Dalam sebuah film dengan latar Provinsi Sumatera
Selatan ditayangkan kisah perkelahian Puyang Serunting Sakti
Melawan Puyang Mata Empat yang dibalut dalam cerita
legenda. Diceritakan serunting sakti mempunyai rencana
untuk membuat kolam dengan tujuan untuk merendam
Kecamatan Seginim, karena Kecamatan Seginim berada di
tengah-tengah dua pemantang yang terdiri dari tiga sungai,
yaitu Sungai Bengkenang, Air Nipis dan Lengau. Ketiga sungai
ini merupakan jalur atau akses utama jalan menuju Desa
Muara Danau, yang sering pula saya lewati ketika menuju
pusat kecamatan. Sungai Bengkenang yang terletak di sisi
Barat Desa Muara Danau merupakan sungai terbesar dari
ketiganya.
Puyang Serunting yang berencana untuk membuat
kolam dan ingin merendam Kecamatan Seginim mengambil
gundukan tanah di Pematang Terulang, yang sekarang ini
berada di areal perkebunan jagung milik warga Desa Muara
Danau. Gundukan tanah yang diambil dari Pematang Terulang
akan digunakan untuk menutupi jalan air sungai.
Pematang Sawir adalah gundukan yang berada di
tengah-tengah dari ketiga titik sungai ini, yang akhirnya akan
menutupi jalan air dan merendam Kecamatan Seginim.
Pematang di wilayah ini disebut pula sebagai bukit. Tanah

393
Tentang Rabies di Desa Muara Danau

yang diambil selanjutnya dibawa ke Pematang Sawir yang


pada akhirnya tercecer, dan hasil dari tanah yang jatuh
tersebut menjadi bukit-bukit kecil, kurang lebih ada tiga bukit
di sepanjang jalan menuju Desa ini.
Ceritapun berlanjut… bekas dari galian tersebut adalah
galian tangan oleh Puyang Serunting yang memiliki kekuatan
sakti di zaman legenda. Dari bekas galian tersebut
terbentuklah sebuah danau yang diberi nama Kautan
Serunting atau Galian Serunting, oleh karenanya ketika
melihat danau ini dari ketinggian seperti berbentuk sebuah
jejak tangan yang menggali.
***
Mengenal masyarakat Serawai yang menghuni Desa
Muara Danau tak lepas dari aktifitas pertanian warganya. Baik
bapak-bapak dan ibu-ibu, kadangkala saya pun melihat secara
kasat mata anak-anak, diajak pergi ke kebun dan pada
akhirnya membuat mereka tidak bersekolah. Kehidupan
seperti ini selalu berulang, yang akhirnya mencatat tingkat
pendidikan tertinggi di Desa Muara Danau adalah Sekolah
Dasar.

Tempat Tinggal ke-Dua


Mengais rejeki dari hasil alam yang di kelola di kebun
oleh masyarakat Serawai di Desa Muara Danau menjadikan
mereka hidup dalam buaian gelapnya malam dan aksebilitas
sanitasi yang tidak tercukupi. Hal ini diutarakan oleh D,
seorang petani wanita, yang menyatakan,

394
Jelajah Nusantara #4

“…di kebun menjadi tempat tinggal kami yang kedua,


sedari dulu kami sekeluarga tinggal di pondok sederhana
yang dibuat oleh suami saya dengan menggunakan kayu
yang langsung di peroleh dari alam. Makanan tidak
begitu sulit, hanya saja untuk penerangan di malam hari
yang masih sulit. Disaat-saat tertentu pula kami harus
melakukan kebiasaan untuk buang air di sungai karena
tidak ada jamban di kebun. Tetapi, Alhamdulillah kami
masih bisa bertahan hidup dengan segala keterbatasan
yang ada.”

Gambar 2. Rumah Tinggal Masyarakat di Kebun


Sumber: Dokumentasi Penulis

Perjalanan Dikebun dan Aktifitas Berburu


Kehidupan berlanjut, perjalanan saya kali ini mengikuti
kegiatan bertani Kepala Desa Muara Danau. Beliau mengajak
saya untuk melihat sejauh mana keganasan babi hutan
merusak tanaman jagung miliknya dan hampir rata-rata

395
Tentang Rabies di Desa Muara Danau

pertanaman milik warga di Desa ini. Bisa dikatakan hewan


yang satu ini menjadi cambuk kemarahan warga atas ulahnya
memakan dan merusak Jagung sebagai komoditi unggulan
kedua di desa ini. Wajar saja lahan pertanian yang ditanami
jagung oleh warga dikelilingi oleh pepohonan rimbun dan
pegunungan di kiri dan kanan.
Kepala Desa menyatakan,
“Di sini juga ada hutan yang menjadi tempat tinggal babi
hutan yang liar, sulit bagi kami warga di sini untuk
menangkapnya sebab larinya begitu cepat dan sensitif
terhadap bau manusia yang datang mendekati kebun.
Kami di sini hanya bisa melihat jejak kakinya, pagar yang
sudah saya buat dengan kawat keras masih saja bisa
dilewati bahkan pagarnya bisa rusak dari terjangan
kekuatan babi hutan perusak tanaman kami. Salah satu
cara yang bisa saya lakukan dengan membawa senapan
angin untuk melakukan perburuan.”
Aktifitas perburuan di desa mendapat dukungan dari
pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan dengan analisis
risiko yang sudah dipertimbangkan oleh para pemangku
kepentingan. Informan M menyatakan pernah dilakukan
perburuan secara simbolis yang dihadiri oleh pemerintah
setempat dengan menggunakan alat tombak. Bahkan
diberikan apresiasi khusus apabila ada yang menemukan babi
hutan, baik dalam bentuk penghargaan maupun materi. Hal
ini menjadi penyemangat bagi informan yang setiap pergi ke
kebun melaksanakan perburuan juga, tak hanya untuk
menyelamatkan jagung sebagai ujung tombak hasil alam yang
kami manfaatkan disini.

396
Jelajah Nusantara #4

Situasi tenang berubah menegangkan ketika informan


H terdiam dan langsung berteriak, “Cepat…Cepat… naik ke
atas pohon itu, babi hutan sudah ke sini. Lihat mereka para
pemburu yang membawa anjing dan senapan sudah ke
tempat ini juga.” Dalam keadaan sadar dan tanpa pikir
panjang sayapun bersama anak informan langsung
menyelamatkan diri ke atas pohon. Bisa dibayangkan betapa
paniknya berada dalam situasi seperti demikian.

Gambar 3. Aktifitas warga dalam perburuan (Kiri);


Tanaman jagung yang di rusak babi hutan (Kanan)
Sumber: Dokumentasi Penulis

“Ini Ada Tamu dari Sulawesi…”


Mari sejenak meninggalkan aktifitas perburuan bapak-
bapak. Mari berlanjut dalam aktifitas ibu-ibu Etnik Serawai
yang tangguh.
Suara riuh di luar terdengar mengisi seisi rumah
kepala desa yang juga dijadikan sebagai Kantor Desa
Sementara. Penasaran dengan situasi itu, saya beranjak ke
luar dan melihat sumber suara yang terdengar. Tersenyum

397
Tentang Rabies di Desa Muara Danau

manis dan sekaligus menyapa para ibu-ibu yang sedang duduk


di kursi plastik milik desa menjadi pembuka pertemuan di
pagi hari ini. Terlihat ada juga hadir seorang bapak dengan
menggunakan baju dinas lengkap dan membawa berkas
kerjanya yang terletak di atas meja.
Bisik-bisik kecil mulai terdengar di telinga akan
keberadaaan saya di rumah pak kades. Tetapi hal itu sudah
dijelaskan oleh beberapa ibu yang sebelumnya telah
mengenal saya dan rekan se-tim. Banyak kata yang terdengar,
“Ini ada tamu dari Sulawesi.” Saya tersenyum kembali dan
mulai menyesuaikan dengan keadaan pada saat itu. Seketika
saya masuk di dalam rumah untuk sesegera mungkin
bergegas mandi dan ingin ikut serta dalam pertemuan itu.
Saya meminta izin pada pak kades agar bisa terlibat dan
mengambil dokumentasi kegiatannya para ibu-ibu tersebut,
dan syukur alhamdulillah pak kades pun mengizinkan saya.
Dengan keadaan segar saya kembali dan meminta izin
pada para ibu-ibu untuk mengambil dokumentasi kegiatan,
mereka mengizinkan dan tersenyum. Terlihat mereka
antusias hingga ada beberapa diantaranya terlihat eksis
dengan gaya khasnya ketika didokumentasikan. “Nanti foto
yang diambil akan dimuat di media televisi dan bisa dikatakan
menjadi artis desa,” celetuk beberapa ibu yang terlihat ikut
berbaur dengan suasana yang mulai hidup.
Posisi saya sesekali berganti dan menyesuaikan
dengan situasi yang ada pada saat peyuluhan pertanian mulai
disampaikan oleh petugas. Beberapa ibu antusias untuk
bertanya dengan menggunakan bahasa daerah asli Serawai

398
Jelajah Nusantara #4

dan lainnya lagi terlihat diam tanpa kata, seakan mereka


mengerti dengan informasi yang disampaikan.

Kelompok Wanita Tani di Desa Muara Danau


KWT adalah singkatan dari Kelompok Wanita Tani,
sebuah model pemberdayaan masyarakat pertanian. Sasaran
dibentuk kelompok ini dikhususkan kepada kaum hawa yang
berprofesi ganda. Selain sebagai ibu rumah tangga, mereka
juga bekerja sebagai petani di sawah.
Rata-rata ibu-ibu yang hadir sudah berkeluarga. Tidak
ada batasan usia dalam kelompok ini, ada diantaranya yang
sudah tua dan ada pula yang masih muda. Mengapa dipilih
ibu-ibu? Menurut keterangan Kepala Desa dan juga penyuluh
pertanian menyatakan bahwa perempuan masih bisa diatur,
mereka lebih berhati-hati, lebih bertanggung jawab atas tugas
yang diberikan. Rata-rata perempuan di sini membantu
suaminya bekerja di sawah, sudah terbiasa dengan keadaan
tersebut, dan mereka bahagia dengan hal itu.
Tidak ada paksaan bagi kaum perempuan untuk
terlibat masuk di kelompok ini. Ketika mereka mau di
kumpulkan dan disatukan dalam sebuah wadah, maka KWT
adalah jawabannya.
KWT sudah lama dibentuk dan setiap tahunnya
mendapatkan distribusi bantuan alat dan bahan pertanian.
Jenis pertanian yang dimaksudkan disini adalah padi dan
jagung yang masing-masing terbagi atas 3 KWT Padi dan 2
KWT Jagung. Pada tahun ini KWT diberikan bantuan oleh

399
Tentang Rabies di Desa Muara Danau

pemerintah dalam hal ini KPP Dinas Pertanian berupa bibit


tanaman. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang diberikan
pupuk dan juga alat pertanian.
Menanam atau bercocok tanam di sawah menjadi
tugas inti dari para ibu-ibu yang tergabung dalam KWT.
Mencarikan orang untuk menanam hingga kebutuhan pada
saat menanam atau diistilahkan dengan ‘turun sawah’
menjadi tugas utama mereka. Terkadang ada juga yang
membersihkan ilalang pada saat menyemai padi di sawah.
Atas dasar kegiatan di atas maka wajar melibatkan
perempuan dalam sebuah KWT di setiap Desa yang mayoritas
pekerjaannya adalah petani.

Gambar 4. Aktifitas petani wanita setelah bekerja di kebun (Kiri);


Aktifitas Penyuluhan Pertanian kepada KWT (Kanan)
Sumber: Dokumentasi Penulis

Di dalam KWT ada juga persyaratan administrasi


seperti diantaranya ketua kelompok harus menandatangani
surat pernyataan tentang kebutuhan bibit dan distribusinya.
Hingga pembagian besaran bibit ke masing-masing anggota.

400
Jelajah Nusantara #4

Model penanaman terbaru yang disebut dengan lenggowo


pun baru diinformasikan kepada ibu-ibu untuk diterapkan.
Salah satu model penanaman yang mampu membawa hasil
produksi lebih besar dengan mengatur posisi jarak tanam.
Namun masih mentradisi cara bercocok tanam dahulu hingga
masih tradisional tanpa mencampuradukkan dengan sistem
yang baru seperti lenggowo.

Kecil-Kecil Hebat
Keberadaan KWT sebagai salah satu primadona yang
berorientasi pada pemberdayaan masyarakat khususnya ibu-
ibu patut diacungi jempol, meski mereka harus menguras
tenaga untuk dua urusan beriringan, sebagai ibu rumah
tangga dan petani wanita. Ibu-ibu Serawai yang hebat.

Gambar 5. Aktifitas Pengembala Cilik di Desa (Kiri);


Aktifitas Pengembala Cilik di jalan Kecamatan (Kanan)
Sumber: Dokumentasi Penulis

Anak-anak Serawai pun tak kalah hebat. Anak-anak


Serawai selain beraktifitas di sekolah dan bermain dengan
ayam peliharaan, aktifitas lainnya adalah menjadi

401
Tentang Rabies di Desa Muara Danau

pengembala cilik. Dengan cambuk di tangan, mereka


memberi komando sambil menghentak kerbau. Sebuah
tontonan natural yang semakin langka.
Anak-anak itu rata-rata berusia antara 10-15 tahun.
Menggembala kerbau mereka lakukan setelah pulang sekolah
setiap harinya. Tidak terlihat keterpaksaan menjalankan
rutinitas itu, juga tak terbersit kekhawatiran tertendang
kerbau gembalaan.

Catatan Rabies Di Puskesmas Seginim


Puskesmas Seginim dengan wilayah kerja mencapai 21
desa dan 1 kelurahan menjadikan Puskesmas ini satu-satunya
Puskesmas dengan wilayah kerja terbanyak di Kabupaten
Bengkulu Selatan. Menyandang status sebagai Puskesmas
Perawatan mengharuskan Puskesmas dengan memberi
pelayanan 24 jam.
Dua desa di wilayah kerja Puskesmas Seginim masih
berada pada kategori desa terpencil dengan akses jalan yang
sulit. Salah satu desa terpencil tersebut adalah Desa Muara
Danau.
Dalam catatan masalah kesehatan, ada catatan khusus
tentang rabies, demikian keterangan dari dokter Puskesmas,
“Angka rabies juga tinggi disini. Tapi ngak masuk 10
besar. Mungkin dalam sebulan kita rata-ratakan bisa 1-
2 orang pasien. Kalau untuk KLB dulu pernah sebelum
saya bertugas disini. Pernah sampai ada yang
meninggal 10 orang lebih. Soalnya saya waktu itu
masih SMP, iya rasanya udah lama itu. Hingga sampai

402
Jelajah Nusantara #4

ada yang di rawat di rumah sakit. Tapi kebiasaan disini


dibilang salah juga nggak, tapi dibilang nggak juga
sebenarnya salah, maksudnya kalau rabies anjingnya
kan ngak boleh dibunuh dulu, jadi kita ikat aja dulu
kasih makan seperti biasa. Jadi kalau kita udah tau
kalau benar-benar rabies biasanya anjingnya atau
kucingnya itu kan di bawah 10 hari kan biasanya mati
dengan sendirinya tanpa kita bunuh, karena dia kan
pastinya kalau di positif rabies bakal ngak makan lagi
anjingnya. Tapi kalau sudah di sini kadang-kadang baru
digigit satu orang saja sudah langsung dibunuh
anjingnya. Makanya kita ngak bisa deteksi, makanya
kalau kita seandainya kirim sampel itu sendiri kan
lama. Kirimnya kalau kemarin itu dari dinas itu
dikirimnya ke Bandung jadi kan bisa sampai dua
minggu hingga satu bulan. Karena kalau kemarin disini
belum ada alatnya jadi belum bisa dideteksi walaupun
memang disini sudah ada Puskeswan dan sudah ada
pula dokter hewan.”
Yang menjadi perhatian bagi petugas kesehatan di
Puskesmas ini ialah angka kesakitan rabies yang kian hari kian
meningkat. Berdasar laporan tahunan Puskesmas Seginim
tercatat dari tahun 2014 di temukan 5 kasus rabies dan
meningkat menjadi 14 kasus di tahun 2015.
Perlu ada kerjasama lintas sektor dalam memerangi
permasalahan kesehatan yang seperti ini. Perlu keterlibatan
Dinas Pertanian untuk melakukan identifikasi dan
penyuntikan vaksin kepada hewan yang mengidap virus
rabies.
Agak sulit juga bagi Dinas Pertanian mendeteksi
keberadaan hewan seperti anjing dan kera ketika ada pasien

403
Tentang Rabies di Desa Muara Danau

yang didiagnosa mengidap rabies, sebab yang berlaku di


masyarakat ketika satu orang sudah digigit maka wajib
hukumnya untuk mematikan anjing tersebut. Tak mengenal
hewan tersebut terinfeksi virus rabies atau tidak.

Gambar 6. Keberadaan
Anjing di selasar
Puskesmas
Sumber: Dokumentasi
Penulis

Sebenarnya kurang lebih 7-10 hari hewan yang


terinfeksi rabies akan mati dengan sendirinya karena virus
rabies yang telah menyebar ke tubuh hewan tersebut. Tapi
karena terlanjur dibunuh, kita jadi tidak bisa memastikan
apakah anjing tersebut mengidap rabies atau tidak. Tercatat
ada dua kasus rabies yang sudah di beri VAR (vaksin anti
rabies) pada bulan.
Bagi masyarakat Serawai kemanfaatan hewan
peliharaan semacam anjing sangat membantu mereka dalam

404
Jelajah Nusantara #4

mendukung aktifitas sehari-hari. Anjing dapat dijadikan


sebagai penjaga rumah atau warung, selain juga digunakan
jasanya sebagai hewan pemburu babi hutan. Tak heran saat
saya mengunjungi hampir setiap rumah warga memiliki anjing
peliharaan. Jasa yang didapat dari anjing dinilai sangat
penting, tentu saja di luar keberadaannya sebagai pembawa
virus rabies.

Gambar a

Gambar b Gambar c

Gambar 7. a) Keberadaan anjing dalam aktifitas berburu; b) Keberadaan


anjing dalam aktifitas menjaga rumah dan warung; c) Keberadaan anjing
dan pemiliknya
Sumber: Dokumentasi Penulis

Rabies atau umumnya dikenal sebagai penyakit anjing


gila adalah penyakit serius yang menyerang otak dan sistem
saraf. Penyakit ini di golongkan sebagai penyakit mematikan
yang harus ditangani dengan cepat. Menurut data yang

405
Tentang Rabies di Desa Muara Danau

dihimpun Kementerian Kesehatan Indonesia, terdapat sekitar


70 ribu kasus gigitan hewan penular rabies pada tahun 2013.
Dari keseluruhan kasus tersebut, terdapat 119 orang
diantaranya yang positif terkena rabies (alodokter.com,
2016).

Puskeswan di Bengkulu Selatan


Puskeswan atau kepanjangan dari Pusat Kesehatan
Hewan yang ada di Kabupaten Bengkulu Selatan menjadi
salah satu inovasi terkini oleh pemerintah setempat di bawah
naungan instansi Dinas Pertanian. Puskeswan merupakan
salah satu Unit Pelaksana Tugas (UPT) Dinas Pertaninan.
Kantor Puskeswan hanya berjarak sekitar 50 meter
dari Dinas Kesehatan. Pada saat penulis menyambangi tempat
ini terlihat sepi dan hanya ada satu buah sepeda motor yang
terparkir di halaman depan kantor. Saat kami mengucap
salam, sebuah sahutan terdengar dari dalam gedung. Terlihat
salah satu staf kantor menyambut kami, seorang perempuan
muda berjilbab biru. Staf kantor Puskeswan lulusan SLTA itu
menceritakan bahwa sekarang masih pagi dan para staf masih
belum berada di kantor, nanti siang baru datang ke kantor. Di
sini ada beberapa orang dokter hewan yang salah satunya
dikenal oleh Ketua Tim Peneliti saya. Namun dokter tersebut
sedang tidak berada di tempat.
Penulis sempat melihat sekeliling sambil
mendokumentasikan setiap sudut dari kantor ini. Ada
kandang dengan luas sekitar 4x15 meter yang terletak di

406
Jelajah Nusantara #4

belakang kantor. Akses air bersih dari tank penampungan air


berada tepat di samping genteng. Lahan terlihat masih cukup
luas dan kelihatan bersih. Terlihat gundukan tanah yang
menyiratkan gedung ini dibangun dari areal yang ditimbun
dengan tanah. Sebuah parabola berdiri tegak di samping
gedung menegaskan sudah tersedia akses media elektronik di
kantor Puskeswan ini. Papan tanda pengenal yang terpasang
di luar kantor sebagai identitas gedung masih terlihat baru.
Berjarak kurang lebih 10 meter dari gedung menuju pintu
keluar terdapat pintu pagar beton yang menutupi halaman
depan kantor dengan sudut bagai gapura yang bertuliskan
Puskeswan Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan.

Gambar 8.Gedung Puskeswan (Kiri); Papan Nama Dinas Pertanian UPT


Puskeswan (kanan)
Sumber: Dokumentasi Penulis

Bagaimanapun Puskeswan adalah salah satu bentuk


inovasi, tak semua daerah bisa menciptakan hal baru seperti
ini. Kasus rabies yang sebahagian besar berasal dari gigitan
anjing yang terinveksi virus rabies menjadi salah satu

407
Tentang Rabies di Desa Muara Danau

tanggung jawab besar yang diemban oleh Puskeswan saat ini.


Bisa jadi Puskeswan hadir menjadi bagian terpenting
mengatasi hal ini.
Penulis sempat melihat buku tamu yang disodorkan
oleh Kepala Desa Muara Danau, di situ pula terdapat catatan
nama dari beberapa orang staf yang sedang melakukan
vaksinasi hewan atas identifikasi awal terinfeksi rabies.
Namun instansi yang bertugas pada saat itu berasal dari PPK
Peternakan Kecamatan Seginim. Hal yang wajar ada
keterkaitan secara horizontal dari kedua kantor ini yang
menjadi leading sector untuk mengatasi wabah rabies.
Catatan Penyakit Rabies yang menjadi salah satu
masalah kesehatan di Bumi Bengkulu Selatan terurai sekilas
dalam potret kehidupan masyarakat etnik Serawai di Desa
Muara Danau yang menjadi pengalaman hidup tersendiri bagi
saya dalam menjalani tugas negeri ini. Banyak kesan yang
tersimpan dalam memori yang selalu teringat di saat melihat
Kabupaten pertama yang saya kunjungi di Pulau Sumatera ini.
Mengesankan, begitulah kata yang bisa diucapkan untuk
mengamati dari setiap warna dan goresan angka masalah
kesehatan yang ada. Sejarah tak akan terlupa, yang selalu
diingat kembali untuk mengenang masa depan yang sehat
dari pelosok negeri yang kaya ini.

408
Sejundai di Tanah Sepenggal
Catatan Perjalanan ke Kabupaten Bungo

Utri Kularia

Adalah Khadijah, ia tak sebatang kara, tinggal di


sebuah rumah panggung kayu, papan dindingnya dan
berlobang dimana-mana serta penerangan seadanya. Ia
termasuk beruntung karena Ibunyalah yang menjadi
temannya. Ibu yang sedari awal merawatnya hingga sekarang,
ibu yang selalu tak kekurangan semangat dan harapan.
Berharap suatu saat anak perempuannya itu bisa sehat
kembali dan akan kembali merawatnya seperti dahulu.
Kurang lebih sudah 20 tahun Khadijah menderita
gangguan jiwa, meraung-raung, mengamuk dan memaki,
melemparkan apa saja yang ada di sekitarnya. Ibunya
memutuskan ia ditempatkan di lantai atas rumah tuanya

409
Sejundai di Tanah Sepenggal

dengan menjauhkan segala macam benda yang dapat melukai


dirinya sendiri atau melukai orang lain.
Tak putus asa, ibunya mengusahakan kesembuhan
Khadijah, mulai dari pengobatan tradisional hingga
membawanya ke Rumah Sakit Jiwa provinsi untuk dirawat.
Akan tetapi hingga kini kesehatan Khadijah tak menunjukan
kemajuan apa-apa. “Semakin tua saya, semakin lemah pula
saya… Siapa nanti yang akan merawatnya (Khadijah) kalau
saya sudah mulai tak kuat lagi…,” desis lirih dengan raut muka
pilu ia mengatakannya kepada saya.
Baru beberapa bulan yang lalu ibu Khadijah
mengalami kecelakaan, kaki kanannya patah dan ia harus
melakukan setiap aktifitasnya dengan cara menggeser
badannya menggunakan kekuatan tangannya saja. Beruntung
mereka memiliki tetangga yang sangat baik, mulai dari saat
kecelakaan itu terjadi semua makan dan minum khadijah dan
ibunya disiapkan oleh tetangga mereka secara bergantian.
Tertolonglah mereka.
Orang-orang kampung menyebut bahwa Khadijah
terkena sejundai. Konon kisahnya, Khadijah semasa gadis
adalah seorang gadis yang cantik jelita, putih kulitnya dan
baik akhlaknya. Hanya saja nasib untuk mendapatkan
pendidikan tinggi tak dimiliki olehnya. Ia putus sekolah
setelah menginjak tahun ke-dua di Sekolah Menengah
Pertama. Ia memutuskan menggantung tas dan seragamnya
untuk selamanya karena terkendala biaya.
Setelah tidak sekolah lagi, Khadijah berbekal
pengetahuan agama yang didapatkan semenjak kecil, ia

410
Jelajah Nusantara #4

mengajar mengaji untuk anak-anak di sekeliling


lingkungannya. “Suaranya bagus sekali saat mengaji, dulu ia
guru ngaji kesukaan saya, selain pintar dan cantik, ia juga
sabar menghadapi anak kecil yang kadang-kadang nakal
seperti saya,” tutur seorang ibu dengan dua anak yang
semasa kecilnya pernah diajar mengaji oleh Khadijah.
Terhitung sudah dua belas kali ia dirawat di rumah
sakit jiwa provinsi. Jarak yang jauh, sekitar tujuh jam
perjalanan, tak membuat keluarga menyerah untuk
mengusahakan kesembuhan Khadijah. “Ketika dia dibawa
keluar dari desa ini, raut muka garang dan matanya yang
selalu merah itu mulai menghilang, ia cenderung tertidur
selama perjalanan menuju rumah sakit. Tidak mengamuk,”
tutur tetangga yang pernah ikut mengantar Khadijah ke RSJ
Provinsi.
Selama perawatan di rumah sakit pun ia
menampakkan gejala-gejala membaik. Lebih tenang, tidak
mengamuk ketika melihat orang lain mendekatinya, bisa
makan dengan layak, menyuap makanan sendiri dan tenang.
Semasa perawatan sekitar delapan bulan ia dinyatakan bisa
pulang dan melanjutkan perawatan di rumah, obat-obatan
yang selalu dikonsumsinya di rumah sakit bisa didapatkan di
Puskesmas setempat. Harapan akan kesembuhan Khadijah
membuat hati ibunya bahagia tentu saja.
Akan tetapi harapan tinggalah harapan. Sepanjang
perjalanan pulang, sebelum memasuki kampung halaman,
keadaan Khadijah baik-baik saja, tenang dan sering tertidur.
Yang mengherankan, setelah kendaraan memasuki wilayah

411
Sejundai di Tanah Sepenggal

kampung halamannya keadaan berubah terbalik dari


sebelumnya. Khadijah mengamuk dan matanya kembali
memerah seperti orang yang sedang marah. Maka kembali
petugas kesehatan yang mengantarnya harus mengikat kaki
dan tangannya agar ia tak melukai orang lain dan dirinya
sendiri.
Ibu Khadijah tak kenal lelah mencarikan kesembuhan
untuknya. Terhitung sudah belasan kali ia mengantarkan
Khadijah ke RSJ Provinsi untuk perawatan, hingga saat saya
bertemu dengan mereka, Khadijah belum juga kunjung
sembuh. Cerita di atas selalu terulang tiap kali Khadijah
dibawa keluar dan kembali ke kampung halamannya.
Saya mencoba menggali apa penyebab si gadis cantik,
ceria, berakhlak baik menurut cerita seperti Khadijah ini bisa
mengalami sakit yang sedemikian menyedihkan. Telusur
punya telusur, sakitnya Khadijah dimulai saat ia dinikahi oleh
seorang pemuda dari kampung seberang. Pemuda itu datang
ke kehidupan Khadijah setelah dua tahun ia tak bersekolah
lagi. Pemuda itu mengajak Khadijah menikah, sementara
sebelumnya ia telah melamar seorang gadis di kampungnya
sendiri. Khadijah dan keluarga bingung, apakah akan menolak
atau menerima lamaran tersebut. Akhirnya, keluarga dan
Khadijah menyatakan sikap bahwa keluarga dan Khadijah
akan menerima lamaran tersebut jika sang pemuda
melepaskan lamaran sebelumnya. Singkatnya, sang pemuda
menyanggupi permintaan Khadijah dan keluarga.

412
Jelajah Nusantara #4

Mereka menikah dengan sederhana. Khadijah


memiliki suami yang begitu menyayanginya. Bulan pertama
pernikahan dilalui dengan bahagia oleh Khadijah dan suami.
Tepat di bulan ketiga pernikahan, Khadijah
mengandung buah cinta mereka. Menurut cerita yang
dituturkan sang ibu dan tetangga dekat mereka, mulai bulan
ke tiga kehamilannya, Khadijah menunjukan sikap yang
berbeda dari biasanya. Mulai sering marah tanpa alasan,
kadang-kadang melemparkan piring atau barang lain ketika di
dapur. Ia sering mengamuk tanpa alasan. Kejadian itu
berlangsung terus, hingga menginjak bulan ke tujuh
kehamilannya, sang suami rupanya sudah tidak tahan dengan
perubahan sikap Khadijah, ia meninggalkan Khadijah dalam
keadaan hamil dengan perubahan perilaku yang drastis.
Tinggallah sang ibu yang merawat anaknya yang sering
mengamuk dan memaki tanpa alasan. Karena keadaan
Khadijah semakin memburuk, ibunya mengurung Khadijah di
lantai atas rumahnya yang telah dikosongkan terlebih dahulu
untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti
Khadijah akan melukai dirinya sendiri dan orang lain yang
akan merawatnya. Penuturan ibunya, semenjak itu, Khadijah
sudah sulit ditanyai apa keinginannya. Khadijah mulai
kehilangan kesadarannya. Di usia kehamilan yang terus
menua, Khadijah dan keluarga menanggung beban divonis
Khadijah sebagai ”orang gila”.
Khadijah melahirkan anak pertamanya dalam keadaan
kesehatan jiwa yang terus memburuk. Setelah lahir pun, bayi

413
Sejundai di Tanah Sepenggal

Khadijah hanya bertahan tujuh bulan, hingga kemudian bayi


Khadijah meninggal dunia.
Isu yang berkembang di masyarakat desa bahwa
Khadijah terkena sejundai. Masyarakat setempat memaknai
sejundai sebagai ilmu hitam yang dikirimkan oleh seseorang
kepada orang lain yang tidak disukainya sebagai upaya balas
dendam.
Berkembang kabar bahwa yang mengirimkan sejundai
pada Khadijah adalah gadis yang tidak jadi dinikahi oleh
suaminya dahulu. Diduga kuat ia mengirimkan sejundai agar
kehidupan sang mantan tunangan tidak bahagia untuk
selamanya.
Sejundai adalah jenis ilmu hitam yang sangat
mematikan menurut kepercayaan masyarakat setempat.
Ketika sejundai sudah ditujukan kepada seseorang, maka
hanya ada dua kemungkinan, yaitu mati atau gila seumur
hidup. Konon kabar berkembang, Khadijah mengalami
sejundai yang kedua, yaitu akan gila seumur hidup.
Perjalanan penelitian saya kali ini mengantarkan saya
ke sebuah wilayah di provinsi Jambi tepatnya di wilayah
Tanah Sepenggal, kabupaten Bungo. Setelah audiensi dengan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bungo, wilayah Tanah
Sepenggal merupakan wilayah yang cukup banyak terjaring
orang dengan gangguan jiwa. Salah satu ceritanya adalah
Khadijah. Beberapa lagi di antaranya orang dengan gangguan
jiwa karena keinginan yang tak kesampaian. Masalah yang
paling banyak ditemui di antaranya adalah keinginan untuk

414
Jelajah Nusantara #4

memiliki sepeda motor yang tak terpenuhi, sehingga


membuat mereka mengalami gangguan kejiwaan.
Rentang usia orang-orang dengan gangguan jiwa di
Tanah Sepenggal pada umur 9-50 tahun. Berdasarkan
penelusuran kami, orang dengan gangguan jiwa ini
didominasi oleh usia-usia produktif. Tentu saja ini menjadi
masalah tersendiri. Ini sejalan dengan data yang didapatkan
dari WHO Mental Health Survey, Kesler dkk (2009). Survey
tersebut menyebutkan bahwa gangguan jiwa adalah problem
yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari di
masyarakat umum. Gangguan ini lebih sering timbul pada usia
muda, dibandingkan dengan penyakit kronis lain. Yang lebih
memprihatinkan adalah bahwa gangguan ini menimbulkan
beban yang berat bagi masyarakat.
Tentu saja banyak faktor yang menyebabkan mengapa
begitu rentannya orang-orang di Tanah Sepenggal mengalami
gangguan jiwa. Salah satunya yang coba kami gali adalah
budaya duneh. Duneh adalah budaya semangat persaingan
yang sudah mendarah daging dan berurat akar di masyarakat
Tanah Sepenggal. Ibarat dua mata uang yang tidak bisa
dilepaskan satu sama lain, duneh memiliki sisi positif dan
negatif. Sisi positif yang ditawarkan oleh duneh adalah
memperkuat daya saing untuk menuju kesuksesan di setiap
diri orang Tanah Sepenggal. Sebagai contoh, sebagian besar
pejabat tinggi di lingkungan Kabupaten Bungo berasal dari
Tanah Sepenggal. Bahkan tak sedikit juga orang Tanah
Sepenggal sukses membangun karir di tingkat provinsi dan

415
Sejundai di Tanah Sepenggal

bahkan nasional. Spirit duneh telah mengatarkan anak-anak


Tanah Sepenggal maju dan sukses diberbagai bidang.
Di sisi lain, semangat duneh membuat persaingan yang
tidak sehat di antara masyarakat Tanah Sepenggal itu sendiri.
Masalah kepemilikan motor di kalangan anak muda misalnya.
“Motor itu, jika dalam satu keluarga punya empat anak laki-
laki, maka di rumah itu juga harus ada empat motor untuk
masing-masing anak,” tutur salah seorang warga. Begitulah
kira-kira, terbayanglah saya bagaimana jika ada satu keluarga
yang tak mampu dan memiliki empat orang putra, tentu ini
akan menjadi tekanan mental tersendiri untuk kedua orang
tua dan anak mereka.
Motor mempunyai prestise tersendiri di kalangan anak
muda. Setiap minggu ada ajang anak muda di sana yang
disebut dengan race. Ajang inilah yang mewadahi hobi anak-
anak muda tanah sepenggal untuk memamerkan kebolehan
menunggangi motor. Mulai dari soal beradu kecepatan hingga
kecanggihan modifikasi motor mereka.
Keinginan harus memiliki motor inilah yang
memberikan tekanan tersendiri untuk anak-anak remaja di
Tanah Sepenggal. Terbayanglah apa yang akan terjadi jika
keinginan yang sangat besar untuk memiliki motor itu tidak
terpenuhi. Beberapa orang dengan gangguan jiwa yang sering
berkeliaran di Pasar Tanah Sepenggal mengujarkan, “Honda...
Honda...” Mereka mengujar ‘Honda’ untuk mengekspresikan
keinginannya atas sepeda motor. Tekanan rasa malu, rasa tak
percaya diri, hingga akhirnya menyebabkan mereka merasa
rendah diri karena tak memiliki motor seperti teman-

416
Jelajah Nusantara #4

temannya yang lain. Beberapa kasus orang dengan gangguan


jiwa secara langsung maupun tak langsung disebabkan oleh
sisi negatif budaya duneh ini.
Bagi masyarakat Tanah Sepenggal, memiliki keluarga
dengan gangguan jiwa adalah aib yang mau tak mau harus
diterima. Sering sekali anggota keluarga yang menderita
gangguan jiwa dikurung atau dipasung di dalam rumah, entah
untuk alasan keselamatan si sakit atau untuk menutupi rasa
malu keluarga.
Pengobatan yang diberikan oleh keluarga pada orang
dengan gangguan jiwa di Tanah Sepenggal sebagian besar
masih mempercayakan pada pengobatan tradisional. Jarak
yang jauh dan keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama
keluarga tidak membawa anggota keluarga mereka yang
dengan ganguan jiwa ke fasilitas kesehatan. Hal ini tentu
menjadi masalah tersediri bagi perkembangan kesehatan
mental di Indonesia. Pemasungan terhadap penderita
gangguan jiwa masih banyak terjadi, mengutip hasil riset dari
Weny Lestari dkk., di mana sekitar 20.000 hingga 30.000
penderita gangguan jiwa di seluruh Indonesia mendapat
perlakuan tidak manusiawi dengan cara dipasung (Purwoko,
2010).
Sementara itu dari sekitar 9.000 Puskesmas yang ada
di Indonesia, baru sekitar 700 Puskesmas yang mampu
melayani perawatan kesehatan jiwa. Selain itu menurut Safitri
(2011), jumlah tenaga kesehatan jiwa di Indonesia masih
sangat kurang, dan dengan distribusi yang tidak merata. Di
lain pihak, pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat tidak

417
Sejundai di Tanah Sepenggal

dapat diimbangi dengan penambahan produksi tenaga


kesehatan jiwa. Dengan kurang lebih 235 juta penduduk, saat
ini Indonesia hanya memiliki 616 psikiater.
Banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk
menangani permasalahan kesehatan jiwa ini, mengingat
makin bertambah banyak orang dengan gangguan jiwa.
Deteksi dini harus lebih ditingkatkan, penanaman
pemahaman tentang gangguan jiwa di masyarakat pun
haruslah segera dilakukan. Rasanya pilu hati setiap kali
berkunjung ke sebuah kota atau daerah, sering sekali
ditemukan orang dengan gangguan jiwa berkeliaran begitu
saja tak terurus di jalanan. Tidak ada kesehatan fisik tanpa
kesehatan jiwa…

418
Berbagi Cerita dari Tanah Karo

Putra Apriadi Siregar

Kabupaten Karo Secara geografis terletak antara 02


050’ s/d 03 019’ LU dan 97 055’ s/d 98 038’ BT. Daerah
Kabupaten Karo terletak di daerah dataran tinggi Bukit
Barisan dengan total luas administrasi 2.127,25 km² atau
212.725 Ha. Kabupaten Karo terletak pada ketinggian 280–
1.420 Meter di atas permukaan laut dengan perbandingan
luas daerah ketinggian 500-1000 meter di atas permukaan
laut seluas 84.892 Ha (39,91%) dan ketinggian 1000-14000
meter di atas permukaan laut seluas 70.774 Ha (33,27%).
Bila dilihat dari sudut kemiringan/lereng tanahnya
maka tanah yang datar 2% seluas 23.900 Ha (11,24%), tanah
landai 2-15% seluas 74.919 Ha (35,22%), tanah yang memiliki
kemiringan 15-40% seluas 41.169 Ha (19,35%) dan tanah yang

419
Berbagi Cerita dari Tanah Karo

memiliki kondisi curam 40% seluas 72.737 Ha (34,19%). Untuk


perbatasan wilayah, maka Kabupaten Karo berbatasan
dengan Kabupaten Langkat dan Deli Serdang di bagian Utara;
Kabupaten Simalungun di bagian Timur; Kabupaten Dairi di
bagian Selatan; dan Propinsi Nangro Aceh Darusalam di
bagian Barat

Suku Karo dan Kepercayaan Mereka


Penduduk asli yang mendiami wilayah Kabupaten Karo
disebut Suku Bangsa Karo. Suku Bangsa Karo merasa berbeda
dengan Suku Bangsa Batak, hal ini tidak terlepas dari Bahasa
Suku Karo yang juga berbeda dengan Bahasa Suku Batak.
Suku Bangsa Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai
saat ini terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi
Suku Bangsa Karo sendiri.
Berdasarkan Data BPS Kabupaten Karo menunjukkan
masyarakat Suku Karo mayoritas memiliki kepercayaan
Agama Kristen Protestan yaitu sebanyak 226.858 orang,
Agama Islam sebanyak 82.621 orang, Agama Kristen Katholik
sebanyak 75.534 orang, Agama Hindu sebanyak 224 orang,
Agama Budha sebanyak 2823 orang dan lainnya sebanyak
1.531 orang. Kabupaten Karo memiliki persaudaraan yang
tinggi meski di dalamnya terdapat berbagai perbedaan agama
dan kepercayaan, hal ini terbukti dengan tidak pernah ada
konflik yang disebabkan perbedaan suku, agama maupun
kepercayaan dan beberapa bangunan keagamaan yang
mewah meskipun mereka memiliki jumlah yang sedikit.

420
Jelajah Nusantara #4

Masyarakat Suku Karo pada awalnya tidak percaya


terhadap satu agama tetapi mereka memiliki kepercayaan
tradisional Karo yang biasa disebut dengan perbegu. Asal kata
begu dalam bahasa Karo berarti mahluk halus, yaitu percaya
kepada kekuatan dari mahluk halus.
Untuk menghindari pemahaman yang salah akan kata
begu dalam pengertian hantu/setan atau penyembahan
kepada setan atau hantu, maka penyebutan perbegu diganti
menjadi Pemena. Pemena adalah kepercayaan asli (pertama)
dari orang Karo sebelum masuknya pengaruh agama baru
seperti Katolik, Kristen Protestan, Islam, Hindu dan Budha.
Hingga saat ini masih terdapat masyarakat di Kabupaten Karo
yang tidak percaya pada agama dan mereka cenderung
percaya pada kekuatan alam semesta meskipun jumlahnya
tinggal sedikit.

Gambar 1. Pagoda Emas di Taman Alam Lumbini Kabupaten Karo


Sumber: Dokumentasi Penulis

421
Berbagi Cerita dari Tanah Karo

Perjalanan Menuju Kabupaten Karo


Jika ingin mengunjungi Kabupaten Karo, maka
biasanya kita singgah ke Kota Medan, hal ini dikarenakan
letak Kabupaten Karo yang tidak jauh dari Kota Medan.
Kabupaten Karo memiliki ibu kota Kabanjahe terletak sekitar
76 km sebelah Selatan Kota Medan. Kabupaten Karo dapat
ditempuh dari Kota Medan selama ±2,5-3 jam dengan
menggunakan sepeda motor, mobil maupun bus angkutan
dari Kota Medan. Kondisi yang berbeda jika terjadi weekend
atau hari libur maka waktu tempuh akan meningkat 2-5 kali
lipat dikarenakan jumlah pengendara yang melakukan
perjalanan Kabupaten Karo dan Kota Medan akan meningkat
tajam.
Beberapa bus menjadikan Kabupaten Karo sebagai
tujuan trayek mereka, tetapi juga terdapat beberapa bus kecil
yang juga hanya melewati Kabupaten Karo. Bus yang memiliki
tujuan utama ke Kabupaten Karo yaitu Bus Sinabung Jaya, Bus
Sumatera Transport (Sutra), Bus Murni yang memberlakukan
tarif 10-15 ribu kepada penumpang yang ingin mendapatkan
jasa mereka baik penumpang yang duduk di dalam bus
ataupun di atap bus. Anak remaja dan para pendaki gunung
pada umumnya lebih menyukai naik di atas atap bus. Naik di
atap bus disenangi karena lebih mendapatkan udara yang
sejuk, selain juga akan memacu adrenalin.
Pada hari biasa, bukan hari libur, penumpang
kendaraan hilir mudik antara Kota Medan dan Kabupaten
Karo hanya dilakukan oleh para pelajar dan nande-nande karo

422
Jelajah Nusantara #4

(wanita karo) yang berdagang. Ketika memasuki waktu


tertentu seperti hari libur dan weekend maka jumlah
pengguna jalan akan meningkat drastic, terutama masyarakat
yang berasal dari Kota Medan karena banyak masyarakat
yang melakukan perjalanan ke Kabupaten Karo, baik itu para
pelajar yang ingin balik ke kampungnya maupun para
wisatawan yang ingin menikmati udara sejuk dan suasana
yang nyaman di pegunungan yang hanya didapatkan di
Kabupaten Karo.

Gambar 2. Transportasi Umum di Kabupaten Karo


Sumber: Dokumentasi Penulis

Gunung Sibayak, Si Gunung Raja


“Gunung Raja di Tanah Karo” itu julukannya, para
pendaki dan pencinta alam lebih mengenal dengan nama
Gunung Sibayak. Gunung ini secara administratif terdapat di
Desa Raja Berneh dan letaknya tidak jauh dari Brastagi.
Arti kata Sibayak ialah “Raja”, untuk itu pantaslah
apabila Gunung Sibayak dijuluki sebagai “Gunung Raja”.
Konon, dahulu kala Tanah Karo diperintah oleh empat Raja

423
Berbagi Cerita dari Tanah Karo

(Sibayak). Kerajaannya yaitu Sibayak Lingga, Sarinembah,


Suka, Barusjahe dan Kutabuluh
Gunung Sibayak merupakan gunung aktif yang
terakhir meletus pada tahun 1881. Gunung ini terletak di
sekitar 50 Km Barat Daya Kota Medan, dan merupakan salah
satu gunung berapi aktif yang memiliki uap panas. Tinggi
gunung yang sering menjadi salah satu objek pendakian ini
sekitar 2.094 MDPL. Hutan yang berada di sekitar
pegunungan ini termasuk dalam wilayah Taman Hutan Raya
(Tahura) Bukit Barisan, Sumatera Utara. Gunung Sibayak
memiliki puncak tertinggi yang di beri nama “Takal Kuda”,
yang berarti “Kepala Kuda”.

Gambar 3. Pesona Gunung Sibayak


Sumber: Dokumentasi Penulis

Bagi para pendaki gunung di Sumatera utara, mendaki


Gunung Sibayak menjadi salah satu pilihan yang paling
memungkinkan, hal ini disebabkan Gunung Sinabung sudah
tidak boleh didekati lagi. Gunung Sibayak juga menjadi
“gunung pilihan” dari mancanegara, karena selain jalannya
yang tidak terlalu sulit untuk didaki juga panorama

424
Jelajah Nusantara #4

pemandangannya yang tidak kalah dengan gunung di daerah


lain.
Saat hari libur atau weekend jangan heran Puncak
Sibayak sangat banyak dikunjungi dan bagai pasar malam,
akan terlihat bivak (tenda) bagi mereka yang sekedar
bermalam dan menghabiskan waktu di Puncak Sibayak.
Kondisi status Gunung Sinabung yang sampai sekarang belum
menunjukkan adanya penurunan aktivitas membuat para
pendaki dari Medan mau tidak mau beralih mendaki Sibayak,
karena tidak banyak alternatif pendakian gunung lain dengan
akses terdekat dari Kota Medan.

Gunung Sinabung dan Letusannya


Gunung Sinabung (Deleng Sinabung) merupakan
gunung berapi ke-dua yang terdapat di Kabupaten Karo.
Gunung Sinabung memiliki ketinggian 2.451 MDPL. Gunung
Sinabung juga menjadi tempat yang paling digemari oleh
pendaki gunung, hal ini dikarenakan rute perjalanan ke
Gunung Sinabung lebih menantang jika dibandingkan Gunung
Sibayak. Gunung Sinabung sebelumnya tidak pernah tercatat
meletus sejak tahun 1600, tetapi mendadak aktif kembali
dengan meletus pada tahun 2010. Letusan terakhir gunung ini
terjadi sejak September 2013 dan berlangsung hingga kini.
Pada tanggal 27 Agustus 2010 Gunung Sinabung
mengeluarkan asap dan abu vulkanis, selanjutnya pada
tanggal 29 Agustus 2010 dini hari sekitar pukul 00.15 WIB
Gunung Sinabung mengeluarkan lava. Status gunung yang

425
Berbagi Cerita dari Tanah Karo

awalnya tipe B dinaikkan menjadi tipe A (Awas), sehingga dua


belas ribu warga yang berada disekitar Gunung Sinabung
harus dievakuasi dan ditampung di delapan lokasi.
Abu Gunung Sinabung cenderung meluncur dari arah
Barat Daya menuju Timur Laut. Sebagian Kota Medan juga
diselimuti abu dari Gunung Sinabung. Bandar Udara Polonia di
Kota Medan dilaporkan tidak mengalami gangguan perjalanan
udara. Satu orang dilaporkan meninggal dunia karena
gangguan pernapasan ketika mengungsi dari rumahnya.
Pada 7 September 2013 Gunung Sinabung kembali
meletus. Ini merupakan letusan terbesar sejak gunung ini
menjadi aktif sejak tanggal 29 Agustus 2010. Suara letusan ini
terdengar sampai jarak 8 kilometer, debu vulkanis ini
tersembur hingga 5000 meter di udara.

Gambar 4. Letusan Gunung Sinabung


Sumber: Dokumentasi Penulis

Menurut informasi dari Kordinator Media Center


Penanggulangan Bencana Sinabung Posko Kabanjahe
Pemerintah merencanakan relokasi tiga desa yang dekat
dengan kawah Gunung Sinabung. Ketiga desa yang harus
direlokasi yaitu Desa Suka Meriah Kecamatan Payung, Desa

426
Jelajah Nusantara #4

Bekerah dan Desa Simacem Kecamatan Naman Teran. Ketiga


desa tersebut sering dilintasi semburan awan panas, aliran
lava, gas beracun, dan lontaran batu pijar akibat erupsi
Gunung Sinabung.

Dampak Ekonomi Meletusnya Gunung Sinabung


Meletusnya Gunung Sinabung memberi kerugian yang
sangat besar bagi masyarakat di Kabupaten Karo, selain
masyarakat diharuskan mengungsi, debu vulkanik yang keluar
akibat erupsi menyebabkan rusaknya lahan pertanian dan
perkebunan masyarakat. Lahan pertanian yang luas dan subur
akan terpengaruh akibat letusan Gunung Sinabung.
Letusan Gunung Sinabung juga menimbulkan lahar
dingin yang merusak tanaman dan sumber-sumber air, serta
memutuskan jalan desa. Hal ini menimbulkan masalah
tersendiri bagi masyarakat disekitar Gunung Sinabung.

Gambar 5. Aktifitas Berkebun Masyarakat


Sumber: Dokumentasi Penulis

Kabupaten Karo dikenal sebagai daerah penghasil


berbagai buah-buahan dan bunga-bungaan. Mata
pencaharian penduduk yang utama adalah pertanian pangan,

427
Berbagi Cerita dari Tanah Karo

hasil hortikultura dan perkebunan rakyat. Petani menanam


tanaman muda seperti kol, kentang, tomat, cabai, buncis,
jagung. Sedang tanaman tua yang mereka tanam seperti
jeruk, kopi, cengkeh dan lain sebagainya.
Meletusnya Gunung Sinabung membuat masyarakat
menjadi gagal panen karena tanaman mereka rusak akibat
tertutup debu vulkanik. Untuk buah dan sayuran yang masih
dapat dipanen juga memiliki masalah tersendiri, karena
kualitas hasil pertanian mengalami penurunan. Penurunan
harga drastis membuat para petani di Kabupaten Karo
mengalami kerugian yang sangat besar.
Sejak zaman Belanda Kabupaten Karo juga terkenal
sebagai tempat peristirahatan, yang kemudian dikembangkan
menjadi daerah tujuan wisata di Provinsi Sumatera Utara.
Objek-objek pariwisata di Kabupaten Karo adalah panorama
yang indah di daerah pegunungan, air terjun, air panas, dan
kebudayaan yang unik. Daerah di sekitar lereng Gunung
Sinabung saja terdapat tempat wisata seperti Pemandian Air
Panas Gurukynayan, Danau Lau Kawar dan Uruk Tuhan,
namun dengan adanya letusan Gunung Sinabung membuat
masyarakat takut untuk berwisata ke Kabupaten Karo yang
berdampak kepada penurunan ekonomi masyarakat di
Kabupaten Karo.

Hewan Ternak, Hewan Peliharaan dan Pengungsian


Pada umumnya masyarakat Kabupaten Karo memiliki
ladang dan rumah sendiri, selain itu masyarakat Kabupaten

428
Jelajah Nusantara #4

Karo juga memiliki usaha hewan ternak yang bertujuan untuk


dikonsumsi sendiri dan menambah pendapatan rumah
tangga. Hewan ternak yang umumnya dipelihara oleh
masyarakat yaitu babi, kambing, lembu, kerbau, ayam dan
bebek, sedangkan untuk hewan peliharaan mereka pada
umumnya adalah anjing.
Pada tahun 2014 populasi sapi potong di Kabupaten
Karo mencapai 10.749 ekor dan mengalami peningkatan
menjadi 11.058 ekor pada tahun 2015. Untuk hewan ternak
babi mengalami penurunan dari tahun 2014 yang berjumlah
44.420 ekor dan pada tahun 2015 menjadi 13.528 ekor.
Populasi ayam mengalami peningkatan, dimana tahun 2014
berjumlah 290.865 ekor menjadi 390.529 ekor pada tahun
2015. Permasalahan terjadi ketika Gunung Sinabung meletus,
masyarakat banyak yang tidak mau pergi ke pengungsian
disebabkan takut hewan ternak mereka akan mati dan tidak
terurus, meski BMKG dan Pemerintah Kabupaten Karo sudah
menetapkan kondisi awas pada Gunung Sinabung.

Gambar 6. Lembu dan Babi sebagai Hewan Ternak


Sumber: Dokumentasi Penulis

429
Berbagi Cerita dari Tanah Karo

Kondisi Kesehatan di Lereng Gunung Sinabung


Tenaga kesehatan memiliki peran yang sangat besar
untuk tetap menjaga kondisi kesehatan masyarakat di
pengungsian maupun masyarakat di sekitar lereng Gunung
Sinabung. Puskesmas menugaskan beberapa petugas
kesehatan seperti bidan untuk dapat bertanggung jawab atas
kesehatan warga di posko pengungsian.
Di Posko pengungsian Gunung Sinabung Kecamatan
Brastagi Kabupaten Karo terdapat 95 balita dengan jumlah
kepala keluarga 265. Warga yang menetap di posko ini
berasal dari Desa Kuta Gugung dan Desa Lau Kawar. Mereka
sudah berada di pengungsian ± 4 bulan. Mereka dipindahkan
ke pengungsian karena menurut BMKG diperkiran bahwa
lahar panas sudah berada di bawah desa mereka dan
sewaktu-waktu akan keluar.
Pengukuran status gizi di posko pengungsian dilakukan
pada awal tahun 2016. Berdasarkan indikator BB/U ada 10
balita gizi kurang, 3 balita gizi baik, dan 2 balita gizi buruk,
berdasarkan TB/U ada 4 balita sangat pendek, 7 balita
pendek, dan 4 balita normal, dan berdasarkan BB/TB ada 5
balita memiliki berat badan yang normal, 5 balita kurus, 2
balita sangat kurus, dan 3 balita gemuk. Status gizi balita
seperti ini dapat terjadi karena kondisi ketahanan pangan
keluarga di pengungsian kian menurun, dan masyarakat yang
masih bergantung kepada pemberian makanan dari posko
pengungsian.

430
Jelajah Nusantara #4

Gambar 7. Imunisasi Balita yang dilakukan Tenaga Kesehatan


Sumber: Dokumentasi Penulis

Meski tinggal di pengungsiang, banyak di antara


mereka tetap kembali ke desa di siang hari untuk melakukan
aktivitas seperti biasa, berladang. Mereka akan kembali ke
pengungsian pada sore hari. Akibat rusaknya lahan pertanian
dan matinya ternak membuat banyak di antara pengungsi
tidak lagi berkebun di lahan sendiri, tetapi menjadi pekerja di
kebun orang lain.
Kondisi di pengungsian cukup memprihatinkan,
sanitasi dan higiene perorangan masih jauh dari layak karena
keterbatasan fasilitas MCK di pengungsian dan perilaku
masyarakat sendiri yang masih sangat jauh dari kriteria bersih
dan sehat. Sering terjadi antrian panjang terutama di pagi hari
dikarenakan toilet yang tersedia tidak mencukupi, hanya ada
12 toilet umum sumbangan dari donatur. Kurangnya
partisipasi masyarakat untuk memelihara fasilitas air bersih,
toilet dan tempat MCK mengakibatkan hanya ada 6 toilet
yang layak dimanfaatkan. Keadaan yang demikian memicu

431
Berbagi Cerita dari Tanah Karo

keinginan pengungsi untuk buang air kecil dan buang air besar
di ruang terbuka ataupun di sungai terdekat.
Selain kekurangan jamban, ada pula jamban yang
tidak terpakai yang disebabkan tersumbat atau tidak memiliki
pintu, sehingga pengungsi enggan menggunakannya. Kondisi
jamban di pengungsian sangat kotor. Banyak kotoran manusia
di sekitar jamban, ditambah ventilasi yang tidak cukup baik,
sehingga membuat jamban menjadi bau. Selain itu juga tidak
cukup lampu untuk penerangan, ketidaktersediaan air dan
alat pembersih, yang semakin memperparah kondisi jamban
di posko pengungsian.

Gambar 8. Lokasi Pengungsian dan Sanitasi di Sekitar Pengungsian


Sumber: Dokumentasi Penulis

Kondisi pembuangan tinja yang tidak memenuhi


syarat kesehatan akan menyebabkan berbagai penyakit,
diantaranya tipus, kolera, disentri, poliomyelitis, ascariasis
yang dapat dialami pengungsi. Kotoran manusia merupakan
buangan padat yang selain menimbulkan bau, mengotori
lingkungan, juga merupakan media penularan penyakit pada
pengungsi. Oleh karena itu maka sangat penting untuk

432
Jelajah Nusantara #4

menjaga kebersihan jamban dan kamar mandi, sehingga tidak


terjadi penularan penyakit yang diakibatkan oleh tinja.
Buruknya sanitasi dan kondisi lingkungan pengungsian
berdampak kepada meningkatnya keluhan masyarakat di
pengungsian seperti diare, nyeri perut, dan penyakit kulit
(gatal-gatal, bentol, kulit kemerahan). Selain itu banyak
pengungsi yang mengalami keluhan gangguan pernapasan
(gejala batuk, pilek dan nyeri tenggorokan). Hal ini timbul
dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti konsentrasi partikel
di udara akibat letusan gunung berapi sehingga membuat
udara menjadi tidak baik, ditambah lagi pengungsi tidak mau
menggunakan masker ketika bekerja sehingga potensi
gangguan pernapasan akan semakin besar.

433
Berbagi Cerita dari Tanah Karo

434
Bulir Kopi yang Tak Terjangkau
Catatan Perjalanan ke Ogan Komering Ulu Selatan

Titan Amaliani

Kopi, kopi dan kopi. Kemana saja kita berkunjung akan


disuguhi dengan kopi oleh masyarakat Desa Padang Bindu
Kecamatan Buay Runjung, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Selatan, Provinsi SumateraSelatan. Ah… Saya jadi rindu kopi
dari daerah ini.
Sekitar pertengahan april 2015 lalu,saya dan seorang
rekan peneliti antropolog ditugaskan untuk meneliti salah satu
kabupaten baru hasil pemekaran di Sumatera Selatan yaitu
kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan atau Biasa disingkat
OKU Selatan. Secara geografis, Kabupaten ini berbatasan
langsung dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu di sebelah
Utara, Berbatasan dengan provinsi Lampung di sebelah

435
Bulir Kopi yang Tak Terjangkau

Selatan, berbatasan dengan Provinsi Bengkulu di sebelah


Barat, Serta berbatasan dengan Kabupaten Ogan Komering
Ulu Timur dan Kabupaten Way Kanan (Provinsi Lampung) di
sebelah Timur. Sebelum pemekaran, kabupaten ini bergabung
dengan Ogan Komering Ulu.
Berdasarkan rilis hasil Indeks Pembangunan Kesehatan
Masyarakat tahun 2013, Kabupaten OKU Selatan menduduki
peringkat 439 dari 497 kabupaten/kota di Indonesia. Posisi
yang dinilai cukup rendah untuk peringkat secara nasional.

Gambar 1.
Lokasi
Kabupaten Ogan
Komering Ulu
Selatan.
Sumber:
id.wikipedia.org

Perjalanan ke kabupaten ini dapat di tempuh melalui


jalur darat dengan menggunakan angkutan umum berupa
mobil L 300 yang akan kita tumpangi selama kurang lebih
sembilan jam. Tujuan angkutan ini adalah ibu kota kabupaten
OKU Selatan, di Muara Dua1.

1
Nama ini diambil dari sungai dua aliran sungai yang di pertemukan
menjadi satu di daerah ini.

436
Jelajah Nusantara #4

Gambar 2. Angkutan dari Palembang ke Kota Muara Dua


Sumber: Dokumentasi Peneliti

Ketika beradadi ibu Kota Kabupaten kita akan


menjumpai maskot kebanggaan kabupaten ini, burung walet.
Pada malam hari, selepas maghrib, burung walet akan mulai
memenuhi kabel-kabel listrik di sepanjang jalan di Kota Muara
Dua. Untuk mengabadikan maskot tersebut, di pusat kota
dibangun sebuah tugu burung walet.
Setibanya di Muara Dua, kami melanjutkan perjalanan
lebih kurang dua jam untuk dapat ke Kecamatan Buay Runjung,
Desa Padang Bindu. Desa Padang Bindu adalah target lokasi
kami sebagai wilayah penelitian.
Hanya ada dua buah bus yang akan mengangkut kita
dari kota muara dua ke/dari Desa Padang Bindu. Angkutan
umum ini merupakan milik masyarakat setempat yang akan
berangkat dari Desa Padang Bindu sekitar pukul 7 pagi dan
kembali dari Muara dua sekitar pukul satu siang. Bila kita

437
Bulir Kopi yang Tak Terjangkau

ketinggalan angkutan umum ini, alternatif lain kita dapat


menggunakan jasa ojek setempat.

Gambar 3. Tugu Walet, Kota Muaradua


Sumber: Dokumentasi peneliti

Setelah melewati perkampungan, hutan jati dan hutan


hutan kecil, kita akan disambut oleh perkebunan kopi yang
seolah menyampaikan salam selamat datang. Jika beruntung,
kita dapat melihat bulir kopi yang berwarna kemerahan masih
melekat di pohon nya.
Deretan rumah kayu yang tersusun apik pinggir
sepanjang jalan akan membuat kita terkesima, seolah sedang
berada di sebuah desa wisata. Sebenarnya rumah rumah ini
bersusun mengikuti alur Sungai Semingkap yang ada di
belakang rumah yang biasa dijadikan sebagai “kamar mandi”

438
Jelajah Nusantara #4

umum bagi masyarakat Desa Padang Bindu. Uniknya meskipun


menggunakan sungai sebagai kamar mandi umum, namun
tetap ada perbedaan tempat bagi perempuan dan laki-laki.
Perbedaan tempat ini biasanya dipisah oleh batu batuan besar
sebagai penghalangnya.

Gambar 4. Kebun Kopi yang Menyambut Kedatangan Kami (Kiri); Deretan


rumah apik di Desa Padang Bindu (Kanan)
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Deretan rumah kayu nan apik akan diramaikan dengan


banyaknya biji kopi yang dijemur ketika musim panen tiba.
Kebetulan ketika kami datang ke Desa Padang Bindu, saat itu
adalah musim panen Kopi.
Sebagian besar masyarakat desa Padang Bindu
memang memilih berkebun kopi sebagai mata pencaharian
utama mereka. Sehingga kami menemukan banyak biji kopi
yang sedang dijemur hampir di setiap rumah. Bahkan
terkadang, untuk memecah biji kopi masyarakat akan
menjemur biji kopi di tengah jalan agar terlindas oleh
kendaraan yang melintas.
Mata Pencaharian ini memengaruhi pola hidup
masyarakat dan membentuk kebiasaan di masyarakat. Minum

439
Bulir Kopi yang Tak Terjangkau

kopi hingga tiga gelas atau lebih per hari menjadi kebiasaan
yang umum dilakukan oleh masyarakat. Menurut masyarakat
setempat, bila tidak minum kopi, badan akan terasa lemas
sehingga tidak semangat untuk bekerja.
Bekerja di kebun kopi sudah dimulai sejak remaja.
Remaja di desa Padang Bindu biasanya menjadi buruh pemetik
kopi saat musim panen tiba. Perharinya setiap orang akan
dibayar sekitar empat puluh ribu rupiah.
Setelah menikah, pasangan suami istri baru akan
tinggal di Sapo2 di kebun kopi, atau membuka kebun baru
dengan mengubah hutan menjadi kebun kopi, yang artinya
hasil dari kebun kopi belum tentu dapat dinikmati dalam waktu
dekat. Letak kebun kopi masyarakat dengan pusat pemukiman
Desa Padang Bindu bervariasi, mulai dari setengah jam
perjalanan dengan berjalan kaki hingga dua jam perjalanan.

Ciri Fisik Jalma Daya


Meskipun nama wilayahnya berkaitan dengan Suku
Komering, namun mayoritas masyarakat di wilayah ini adalah
suku Daya. Perlu saya perjelas lagi suku Daya tanpa akhiran
huruf “–k”. Tidak banyak referensi yang dapat menjelaskan
asal muasal suku tersebut. Dari beberapa referensi yang kami
peroleh, suku Daya masih satu rumpun dengan Komering,

2
Istilah yang digunakan oleh masyarakat menyebut gubuk di kebun kopi
yang ditinggali baik untuk sementara waktu atau dalam waktu yang cukup
lama. Biasanya, masyarakat yang tinggal di Sapo dalam waktu yang lama
adalah keluarga kecil yang belum memiliki rumah di pusat desa.

440
Jelajah Nusantara #4

namun Masyarakat Daya yang kami temui menolak hal


tersebut.
Jalma3 Daya mengaku memiliki ciri khusus di tubuh
mereka sehingga bila bertemu dengan sesama suku Daya di
lain tempat mereka dapat mengenalinya. Ciri khusus ini adalah
jari telunjung pada tangan yang dapat membengkok. Menurut
cerita yang sudah berlaku secara turun temurun, hal ini
dikarenakan moyang mereka yang bernama Riya Rendam
menggenggam rotan dengan sangat kuat ketika digunakan
untuk membersihkan tubuhnya.

Gambar 5. Ciri
fisik Jalma Daya
Sumber:
Dokumentasi
Peneliti

Tantangan untuk Tenaga Kesehatan


Meskipun terdapat bidan bidan muda di Desa Padang
Bindu, namun para tenaga kesehatan termasuk tenaga
kesehatan Puskesmas memiliki tantangan tersendiri dalam

3
Sebutan untuk masyarakat Suku Daya ; Jalma: Orang

441
Bulir Kopi yang Tak Terjangkau

meningkatkan status kesehatan masyarakat di desa ini.


Tantangan tersebut antara lain:
1. Kondisi tempat tinggal masyarakat yang tersebar di
perkebunan kopi.
Sekilas kita akan melihat pedesaan yang apik di
sepanjang jalan Desa Padang Bindu. Desa ini terasa sepi pada
siang hari dan akan ramai oleh langkah kaki masyarakat yang
hendak ke kebun pada pagi hari, dan juga saat kembali dari
kebun pada sore hari. Beberapa hari pertama ketika kami
mendatangi Desa ini, kami tidak menyangka bahwa Desa
Padang ini bukan hanya masyarakat yang tinggal di pusat desa.
Namun sebagian besar justru tinggal tersebar di Sapo- Sapo
yang ada di kebun kopi. Letaknya pun berjauhan.

Gambar 6. Letak
salah satu Sapo
Sumber:
Dokumentasi
Peneliti

Terdapat dua jenis Sapo yang biasa dibangun


masyarakat di Kebun Kopi, yaitu Sapo Depok dan Sapo
Panggung. Sapo Panggung berbentuk seperti rumah panggung
dengan luas bangunan yang kecil, dan hanya memiliki satu

442
Jelajah Nusantara #4

kamar. Sementara Sapo Depok adalah Sapo yang lantainya


lengsung bersentuhan dengan tanah. Atap Sapo biasanya
terbuat dari gelumpai, yaitu bambu yang disusun sedemikian
rupa.

Gambar 7. Aktivitas Didalam Sapo


Sumber : Dokumentasi Peneliti

Di Sapo yang ada di tengah kebun kopi ini hampir tidak


ada yang memiliki Kamar mandi. Mereka memanfaatkan
sungai terdekat sebagai sarana MCK, meski sungai terdekat
dari Sapo yang mereka tinggali sering kali cukup jauh. Kondisi
di dalam Sapo juga tidak terlalu baik. Dengan ventilasi yang
minim, biasanya aktifitas memasak dilakukan di dalam
ruangan.
Jarak antara Sapo yang satu dengan Sapo yang lain
cukup jauh. Hal ini dikarenakan biasanya sebuah Sapo akan
dibangun di wilayah kebun kopi pemiliknya. Sehingga Sapo-
Sapo ini akan dipisahkan oleh kebun kopi yang cukup luas.
Selain itu, jalan yang harus di tempuh menuju Sapo atau
menuju pusat desa tidak lah mudah. Jalanan kecil, curam dan
licin menjadi salah satu alasan masyarakat jarang ke pusat

443
Bulir Kopi yang Tak Terjangkau

desa. Jarak yang jauh dari Sapo ke pusat desa menyebabkan


penduduk yang tinggal di Sapo jarang memanfaatkan
pelayanan kesehatan yang tersedia.

Gambar 8. Jalan menuju kebun


kopi yang sulit untuk di lalui
kendaraan roda dua terutama
ketika pada saat musim hujan
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Masyarakat yang tinggal di Sapo biasanya ke pusat Desa


hanya pada hari Kamis, yaitu pada hari kalangan/hari pasar.
Pada hari tersebut, ibu-ibu muda yang tinggal di Sapo akan
menggendong anaknya berjalan berkilo-kilo meter dari kebun
kopi milik mereka menuju kalangan (pasar). Tak jarang anak
anak kecil juga ikut berjalan di samping ibunya.
Kalangan menjadi salah satu acara penting yang
memiliki banyak fungsi, antara lain memenuhi kebutuhan
sehari-hari, sebagai tempat bertukar informasi, serta sebagai
pemenuhan akan pelayanan kesehatan. Pada hari kalangan,
dimanfaatkan oleh tenaga kesehatan sebagai hari Posyandu
agar masyarakat yang ada di Sapo tetap dapat membawa

444
Jelajah Nusantara #4

anaknya ke Posyandu. Meskipun demikian tak semua


masyarakat yang tinggal di Sapo akan hadir di Posyandu.
Tak hanya Posyandu, praktek bidan juga akan buka
pada hari kalangan tersebut. Lokasi praktek bidan tidak jauh
dari lokasi kalangan agar masyarakat dapat mengakses
pelayanan kesehatan.
Praktik bidan ini menempati gudang milik masyarakat
yang berada di bawah rumah. Praktik bidan ini banyak
dimanfaatkan oleh penduduk yang tinggal di Sapo untuk
berobat. Jika kondisi sakit tidak tertahankan lagi untuk
menunggu hari kalangan, biasanya masyarakat menempuh
pengobatan tradisioanal dengan dukun atau biasa disebut
Mbay4.

Gambar 9.
Praktik Bidan
UM pada Hari
Kalangan
Sumber:
Dokumentasi
Peneliti

4
Sebutan nenek pada masyarakat Daya

445
Bulir Kopi yang Tak Terjangkau

2. Kesehatan Batita (Bayi di bawah tiga tahun)


Mata pencaharian sebagai buruh di kebun kopi
seringkali menyebabkan anak menjadi kurang terperhatikan.
Hal ini adalah salah satu permasalahan yang perlu mendapat
perhatian. Bagi masyarakat yang tidak memiliki kebun sendiri
atau hasil kebunnya tidak memadai untuk menghidupi
keluarga, mereka mencari pekerjaan tambahan dengan
menjadi buruh di kebun kopi milik orang lain. Hal ini juga
dilakukan oleh para ibu. Dengan kondisi tersebut, Batita
mereka biasanya ikut ke kebun kopi atau di tinggal dengan
neneknya.
Ada satu jenis penyakit yang biasanya menyerang
batita, yaitu njami. Njami adalah kondisi dimana seorang batita
sering rewel, mudah menangis, mudah terserang penyakit.
Njami diobati dengan cara memberi petunggu, yaitu
ritual doa kepada para puyang (roh nenek moyang suku Daya)
yang dipimpin oleh seorang dukun. Pada ritual ini keluarga
akan menyiapkan seekor ayam utuh yang dimasak, serta
beberapa jenis makanan lain disesuaikan dengan kondisi sakit
batita tersebut. Menurut informasi, njami dapat sembuh
sendiri ketika si anak dapat menyelam sendiri di sungai. Kondisi
ini biasanya terjadi pada batita sekitar umur tiga tahun ke atas.
Istilah menyelam adalah sebutan untuk mandi sendiri di
sungai.
Menurut pengamatan kami, njami adalah kondisi batita
yang menuju fase kurang gizi. Hal ini ditandai dengan sikap
rewel dan kondisi fisik yang mudah sakit. Namun kami belum
dapat memastikan hal ini.

446
Jelajah Nusantara #4

Gambar 10. Ritual Petunggu


Sumber: Dokumentasi Peneliti

3. Pedagang Obat Bebas


Pedagang obat bebas di Kalangan menjadi dilema bagi
tenaga kesehatan. Di satu sisi, pedagang obat menyediakan
akses yang mudah untuk masalah kesehatan masyarakat. Di
sisi lain, pedagang obat tersebut juga menjual obat yang
memerlukan resep dokter. Penjualan obat secara bebas tanpa
dosis yang sesuai tentunya akan menimbulkan masalah
kesehatan baru bagi masyarakat.
Pada saat ada penduduk yang tingal di Sapo sedang
sakit, ia dapat meminta tolong kepada pemilik kebun kopi yang
akan melewati Sapo-nya untuk membelikan obat di kalangan.
Hal ini memiliki resiko tersendiri, karena penentuan jenis obat

447
Bulir Kopi yang Tak Terjangkau

dilakukan tanpa rekomendasi tenaga kesehatan terlebih


dahulu.

Gambar 11. Tukang Obat yang Berjualan Bebas di Kalangan (kiri); Obat
yang seharusnya dibeli dengan resep dokter (kanan)
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Tiga hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi


pembangunan di wilayah ini. Tersebarnya letak pemukiman
penduduk diibaratkan bulir bulir kopi yang tak terjangkau bagi
tenaga kesehatan. Bagaimanapun, tenaga kesehatan bersama
dengan stake holder perlu memikirkan pemerataan pelayanan
kesehatan bagi masyarakatnya.

448
Potret Penanganan Pasien Gangguan Mental
di Peudawa
Catatan Perjalanan ke Aceh Timur

Lafi Munira

Definisi sehat menurut WHO adalah suatu keadaan


sejahtera yang meliputi fisik, mental dan sosial yang tidak
hanya bebas dari penyakit atau kecacatan maka secara
analogi kesehatan jiwa pun bukan hanya sekedar bebas dari
gangguan tetapi lebih kepada perasaan sehat, sejahtera dan
bahagia, ada keserasian antara pikiran, perasaan, perilaku,
dapat merasakan kebahagiaan dalam sebagian besar
kehidupannya serta mampu mengatasi tantangan hidup
sehari-hari. Definisi ini disepakati dipakai sebagai definisi
dasar di seluruh dunia, meski kemudian setiap negara bebas

449
Potret Penanganan Pasien Gangguan Mental di Peudawa

untuk mendefinisikan sendiri sesuai dengan konteks lokal


masing-masing.
Pada bulan April 2015, di wilayah kerja Puskesmas
Peudawa terdapat 8 pasien dengan riwayat depresi, serta 12
pasien dengan riwayat Skizofrenia. Selain itu terdapat 2 orang
pasien baru skizofrenia yang dirujuk ke RSJ Banda Aceh
karena mengamuk di rumah dan lingkungan rumahnya.

Penanganan Gangguan Mental di Layanan Primer


Pengobatan pasien dengan gangguan mental
membutuhkan pengobatan dengan tempo waktu yang tidak
singkat, bisa bertahun-tahun karena ketidakseimbangan
hormon di dalam otak pasien. Menurut paparan Junaedi
selaku petugas yang menangani kasus gangguan mental di
Puskesmas Peudawa.
“Itu yang depresi dan skizo satu keluarga ada 2 orang,
kakak dan adik, dua-duanya perempuan Yusra dan
Mursida… kakaknya Mursida skizofrenia, dan adiknya
Yusra depresi, suka menyendiri. Kakaknya dibawa ke
Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Banda Aceh karena
mengamuk-mengamuk, melempar batu ke rumah-
rumah masyarakat, mengambil barang-barang..
depresinya karena keluarga broken home1, persoalan
ekonomi keluarga, tidak cocok dengan orang tua…”.

1
Broken home adalah istilah yang digunakan untuk keluarga yang tidak
harmonis maupun bercerai.

450
Jelajah Nusantara #4

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kejadian


Skizofrenia, salah satunya karena ketidakpedulian dan
ketidaktahuan. Dari 12 pasien yang tercatat ada pasien yang
tidak konsul kembali sebanyak 6 orang pada bulan Februari
dan terdapat 8 pasien yang konsul pada bulan Maret, lalu
terdapat 6 pasien yang konsul pada bulan April.
Peneliti kemudian menelusuri mengapa jumlah pasien
tidak sama pada setiap bulannya. Menurut Junaedi ada
pasien yang putus obat, kemudian sebagian ada juga yang
kambuh dan merepotkan warga sehingga di rujuk ke Rumah
Sakit Jiwa (RSJ) di Banda Aceh.
Terdapat hal lain yang menarik yang berkaitan dengan
BPJS. Menurut paparan Junaedi sebagai penanggungjawab
gangguan mental Puskesmas Peudawa.
“Jumlah obat dibatasi selama ada BPJS ga jelas lah
pengobatan pasien dengan gangguan jiwa ni. Dulu bisa
setiap seminggu persediaan obat diberikan kepada
pasien… sekarang hanya dapat tiga hari saja yang dapat
diberikan kepada pasien…”.

Berangkat dari indormasi ini, peneliti menggali lebih


dalam tentang pemberian obat, jenis obat, hingga dukungan
keluarga. Pendeknya jarak waktu pemberian obat ini beresiko
membuat keluarga pasien maupun pasien itu sendiri menjadi
malas berobat ke Puskesmas.
Ketersediaan obat di Puskesmas wilayah Dinkes Aceh
Timur dirasakan terbatas dalam era BPJS ini. Obat yang
diberikan untuk pasien depresi dan skizofrenia nyatanya sama

451
Potret Penanganan Pasien Gangguan Mental di Peudawa

yakni Chlorpromazine (CPZ), Haloperidol, Triheksiperidil


(THP).
“Di sini obat cuma tiga macam... CPZ, Haloperidol, dan
THP. Skizo dan depresi obatnya sama... sejak ada BPJS ni
kadang haloperidol ada eh CPZnya nda ada… atau
sebaliknya CPZnya ada haloperidolnya yang tidak ada…
jadi kek (kayak) mana (gimana)…”.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh orangtua dengan


anaknya yang menderita skizofrenia. Sutriah, 58 tahun,
bersama dengan suaminya membawa Khairunnas, 34 tahun,
minta dirujuk ke RSJ Banda Aceh, karena pasien merasa
sedang kambuh, ditandai dengan tingkat emosi yang tinggi
dan mengamuk-ngamuk.
“Anak saya… sudah sakit dua tahun, sejak tahun 2014
pernah dibawa sekali ke Banda Aceh. Lalu minum obat
setiap hari dengan tiga macam obat... setelah membaik
ga diminum lagi obat... ini anaknya sendiri yang minta
dirujuk ke Banda Aceh, karena sakit sekali kepalanya,
serasa ingin dicopot, dan dipukul-pukulnya terus
kepalanya... kalau di RSU Idi... anak saya dikasih enam
macam obat... anak saya tu pintar mengaji, bagus
suaranya ketika mengaji, hafal surat-surat, tapi entahlah
sakitnya tu… mana ada yang mau menikah sama anak
saya”.

Menurut keterangan dari Junaedi penyebab terjadinya


skizofrenia diantaranya karena ikut-ikut pengajian, belajar-
belajar kitab, hingga penggunaan ganja.

452
Jelajah Nusantara #4

“Yaa itulah, orang tu ada ikut-ikut pengajian aliran apa


entah, belajar-belajar kitab... terus pakai ganja juga di
luar sepengetahuan orang tua... ada juga yang anak
orang kaya skizo karena minta belikan motor sama
orangtuanya tapi tidak kesampaian...”.

Tentang lamanya pengobatan, petugas program


gangguan mental menyatakan bahwa:
“Ada yang sudah 10 tahun berobat, ada yang sudah
mandiri berobat sendiri ke Puskesmas, ada yang sudah
mampu bekerja sambil rawat jalan, ada yang sudah
menikah dan mempunyai 2 orang anak”.
“Kalau pasien sudah kambuh, dan lari-lari… nanti
ditangkap oleh Polsek, lalu kami suntikkan diazepam
atau CPZ, lalu malam langsung kami bawa ke Banda...”.

Dalam pandangan peneliti, penderita depresi maupun


skizofrenia selayaknya tidak dilayani di tingkat puskesmas.
Minimal pengobatan dirujuk ke RSUD (Rumah Sakit Umum
Daerah) pada poli jiwa. Hal tersebut karena pasien dengan
gangguan mental sepatutnya ditangani oleh psikiater, bukan
petugas puskesmas yang penanggungjawabnya adalah
seorang perawat.
Peneliti menemukan pola bahwa terdapat kebiasaan
merujuk pasien yang kambuh langsung dibawa ke rumah sakit
jiwa di Banda Aceh, dan hal tersebut dalam pandangan
peneliti tidak efektif maupun efisien. Setiap kali dirujuk ke
Banda Aceh membutuhkan waktu pulang pergi 18 jam, dan
mengeluarkan biaya yang tidak sedikit yakni minimal Rp.

453
Potret Penanganan Pasien Gangguan Mental di Peudawa

500.000,00. Skizofrenia tampaknya menjadi suatu hal yang


“biasa saja” di wilayah kerja Puskesmas Peudawa.
Semua penderita skizofrenia patut dirujuk ke RSUD
dan ditangani langsung oleh psikiater, karena dalam hal ini
penyakit skizofrenia tidak dapat diatasi di level pelayanan
primer, namun sekunder, yakni RSUD. Akses menuju RSUD
pun tidak jauh di Ibukota Kabupaten di Kota Idi. Hal tersebut
pun jauh lebih efektif dan efisien, selain gratis, obatnya pun
beragam dan diberikan per dua minggu. Hal tersebut dalam
pandangan peneliti dapat membuat kondisi pasien membaik.
Berdasar hasil penelusuran, terdapat poli jiwa di RSUD
Zubir Mahmud di kota Idi. Jarak antara desa menuju RSUD
pun tidak jauh, sekitar 15 menit jika menggunakan kendaraan
bermotor.

Problematika Promosi Kesehatan dan Edukasi


Terhadap Keluarga
Pola minum obat yang tidak rutin pun atau putus obat
sudah biasa terjadi sehingga dalam kurun waktu enam bulan,
selalu saja ada yang kambuh dan mengamuk. Hampir setiap
pekan, pasti ada pasien yang dirujuk ke RSJ Banda Aceh.
Menurut penelusuran peneliti, penanggungjawab gangguan
mental di puskesmas tidak memberikan edukasi mengenai
keteraturan minum obat maupun tidak memberikan edukasi
mengenai efek samping obat-obatan tersebut.
Penanggungjawab gangguan mental yang seorang perawat di
sini menurut peneliti tidak memahami sepenuhnya mengenai

454
Jelajah Nusantara #4

gangguan mental secara komprehensif. Hal tersebutlah yang


membuat peneliti berfikir bahwa, hal ini menjadi penting.
Mengapa penting? Hal ini perlu menjadi sorotan, dan diubah
pola pengobatannya untuk ke depan.
Keluarga salah seorang pasien mengakui bahwa
anaknya sudah lama tidak minum obat lagi karena merasa
“sehat-sehat” saja, dan kemudian pasien sendiri menyadari
bahwa ia sedang kambuh setelah enam bulan tidak meminum
obat. Pasien lalu menceritakan ke keluarga dan lalu dirujuk
langsung ke RSJ Banda Aceh. Keluarga pun bercerita kepada
peneliti mengapa setelah minum obat anaknya sering tremor
dan tegang-tegang pada bagian tangannya. Peneliti hanya
mampu menjelaskan bahwa obatnya baik untuk diminum
terus walaupun gejala sudah tidak terlihat. Keluarga pun tidak
diberitahu penanggungjawab gangguan mental puskesmas
mengenai efek samping obat yang diminum yakni tremor dan
lainnya. Keluarga pun tidak tahu kalau obat harus diminum
secara rutin. Pada kasus lain, setelah pasien dibawa ke RSJ
Banda Aceh, setelah beberapa bulan, tiada keluarganya yang
menjemput karena adanya perasaan malu dan takut jika
pasien kambuh lagi.
Disini perlunya edukasi kepada keluarga tentang
penyakit, pengobatan, serta pencegahan pencetus
kekambuhan kepada keluarga pasien. Dengan adanya edukasi
kepada keluarga, diharapkan keluarga dapat mendampingi
pasien untuk minum obat dan konsul ke psikiater tentang
kondisinya. Dengan adanya dukungan positif dari keluarga,
pasien dengan gangguan mental dapat terperhatikan pola

455
Potret Penanganan Pasien Gangguan Mental di Peudawa

pengobatannya, dan mengurangi jumlah pasien yang kambuh


dan dirujuk ke RSJ Banda Aceh lagi.

456

Beri Nilai