Anda di halaman 1dari 5

LEARNING OBJECTIVES

1. Penatalaksanaan fraktur pada skenario


2. Prognosis fraktur
3. Proses pembentukan tulang
4. kriteria kegawatan
Jawab :
1. Tujuan utama dalam penanganan awal fraktur adalah untuk mempertahankan kehidupan
pasien dan yang kedua adalah mempertahankan baik anatomi maupun fungsi ekstrimitas
seperti semula. Adapun beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penanganan fraktur yang
tepat adalah (1) survey primer yang meliputi Airway, Breathing, Circulation, (2)
meminimalisir rasa nyeri (3) mencegah cedera iskemia - reperfusi, (4) menghilangkan dan
mencegah sumber - sumber potensial kontaminasi. Ketika semua hal diatas telah tercapai
maka fraktur dapat direduksi dan reposisi sehingga dapat mengoptimalisasi kondisi tulang
untuk proses persambungan tulang dan meminimilisasi komplikasi lebih lanjut.
a. survey primer
Setelah pasien sampai di UGD yang pertama kali harus dilakukan adalah mengamankan dan
mengaplikasikan prinsip ABCDE ( Airway, Breathing, Circulation, Disability Limitation,
Exposure ) . survei primer yang harus selesai dilakukan dalam 2 - 5 menit.
1.Airway. Yang pertama harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas. Ini meliputi
pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas oleh adanya benda asing atau fraktus di bagian
wajah. Pasien dengan gangguan kesadaran atau GCS kurang dari 8 biasanya memerlukan
pemasangan airway definitif.
Apakah pasien dapat bicara dan bernafas dengan bebas ?
Jika ada obstruksi maka lakukan :
• Chin lift / jaw thrust (lidah itu bertaut pada rahang bawah)
• Suction / hisap (jika alat tersedia)
• Guedel airway / nasopharyngeal airway
• Intubasi trakhea dengan leher di tahan (imobilisasi) pada posisi netral
2.Breathing. Setelah mengamankan airway maka selanjutnya kita harus menjamin ventilasi
yang baik. Ventilasi yang baik meliputi fungsi dari paru paru yang baik, dinding dada dan
diafragma.
Menilai pernafasan cukup. Sementara itu nilai ulang apakah jalan nafas bebas.
Jika pernafasan tidak memadai maka lakukan :
• Dekompresi rongga pleura (pneumotoraks)
• Tutuplah jika ada luka robek pada dinding dada
• Pernafasan buatan
Berikan oksigen jika ada
3.Circulation. Ketika mengevaluasi sirkulasi maka yang harus diperhatikan disini adalah
volume darah, pendarahan, dan cardiac output. Pendarahan sering menjadi permasalahan
utama pada kasus patah tulang, terutama patah tulang terbuka. Menghentikan pendarahan
yang terbaik adalah menggunakan penekanan langsung dan meninggikan lokasi atau
ekstrimitas yang mengalami pendarahan di atas level tubuh. Pemasangan bidai yang baik
dapat menurunkan pendarahan secara nyata dengan mengurangi gerakan. Pada patah tulang
terbuka,penggunaan balut tekan steril umumnya dapat menghentikan pendarahan.
Penggantian cairan yang agresif merupakan hal penting disamping usaha menghentikan
pendarahan.
Menilai sirkulasi / peredaran darah. Sementara itu nilai ulang apakah jalan nafas bebas
dan pernafasan cukup. Jika sirkulasi tidak memadai maka lakukan :
• Hentikan perdarahan eksternal
• Segera pasang dua jalur infus dengan jarum besar (14 - 16 G)
• Berikan infus cairan
Penilaian ulang ABC harus dilakukan lagi jika kondisi pasien tidak stabil
4.Disability. dilakukan evaluasi singkat terhadap keadaan neurologis. yang dinilai adalah
tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil, tanda -tanda lateralisasi dan tingkat cedera spinal.
5.Exposure. pasien harus dibuka keseluruhan pakaiannya, sering dengan cara menggunting,
guna memeriksa dan evaluasi pasien. setelah pakaian dibuka, penting bahwa pasien
diselimuti agar pasien tidak hipotermia
b. survey sekunder
Survei Sekunder hanya dilakukan bila ABC pasien sudah stabil
Bila sewaktu survei sekunder kondisi pasien memburuk maka kita harus kembali
mengulangi PRIMARY SURVEY.
Semua prosedur yang dilakukan harus dicatat dengan baik.
Pemeriksaan dari kepala sampai ke jari kaki (head-to-toe examination) dilakukan dengan
perhatian utama.
Bagian dari survey sekunder pada pasien cedera muskuloskeletal adalah anamnesis dan
pemeriksaan fisik. tujuan dari survey sekunder adalah mencari cedera cedera lain yang
mungkin terjadi pada pasien sehingga tidak satupun terlewatkan dan tidak terobati. Apabila
pasien sadar dan dapat berbicara maka kita harus mengambil riwayat AMPLE dari pasien,
yaitu Allergies, Medication, Past Medical History, Last Ate dan Event (kejadian atau
mekanisme kecelakaan). Mekanisme kecelakaan penting untuk ditanyakan untuk mengetahui
dan memperkirakan cedera apa yang dimiliki oleh pasien, terutama jika kita masih curiga ada
cedera yang belum diketahui saat primary survey, Selain riwayat AMPLE, penting juga untuk
mencari informasi mengenai penanganan sebelum pasien sampai di rumah sakit.
Pada pemeriksaan fisik pasien, beberapa hal yang penting untuk dievaluasi adalah (1) kulit
yang melindungi pasien dari kehilangan cairan dan infeksi, (2) fungsi neuromuskular (3)
status sirkulasi, (4) integritas ligamentum dan tulang. Cara pemeriksaannya dapat dilakukan
dengan Look, Feel, Move . Pada Look , kita menilai warna dan perfusi, luka,deformitas,
pembengkakan, dan memar. Penilaian inspeksi dalam tubuh perlu dilakukan untuk
menemukan pendarahan eksternal aktif, begitu pula dengan bagian punggung.Bagian distal
tubuh yang pucat dan tanpa pulsasi menandakan adanya gangguan vaskularisasi. Ekstremitas
yang bengkak pada daerah yang berotot menunjukkan adanya crush injury dengan ancaman
sindroma kompartemen. Pada pemerikasaan Feel, kita menggunakan palpasi untuk
memeriksa daerah nyeri tekan, fungsi neurologi, dan krepitasi.Pada pemeriksaan Move kita
memeriksa Range of Motion dan gerakan abnormal.
Pemeriksaan sirkulasi dilakukan dengan cara meraba pulsasi bagian distal dari fraktur dan
juga memeriksa capillary refill pada ujung jari kemudian membandingkan sisi yang sakit
dengan sisi yang sehat. Jika hipotensi mempersulit pemeriksaan pulsasi, dapat digunakan alat
Doppler yang dapat mendeteksi aliran darah di ekstremitas. Pada pasien dengan
hemodinamik yang normal, perbedaan besarnya denyut nadi, dingin, pucat, parestesi dan
adanya gangguan motorik menunjukkan trauma arteri. Selain itu hematoma yang membesar
atau pendarahan yang memancar dari luka terbuka menunjukkan adanya trauma arterial.
Pemeriksaan neurologi juga penting untuk dilakukan mengingat cedera muskuloskeletal juga
dapat menyebabkan cedera serabut syaraf dan iskemia sel syaraf. Pemeriksaan fungsi syaraf
memerlukan kerja sama pasien. Setiap syaraf perifer yang besar fungsi motoris dan
sensorisnya perlu diperiksa secara sistematik.
Sumber : Parahita,dkk. 2013. Penatalaksanaan kegawatdaruratan pada cedera fraktur
ekstremitas. Universitas Udayana: Denpasar.

2. a. Ad vitam
Ad vitam adalah mengenai hidup matinya penderita, quo ad vitam dinyatakan baik apabila
keadaan yang ditimbulkan fraktur tidak mengancam jiwa penderita.
b. Ad sanationam
Ad sanationam adalah mengenai kesembuhan penderita, quo ad sanationam dinyatakan baik
apabila proses penyembuhan fraktur tidak terjadi komplikasi.
c. Ad fungsionam
Ad fungsionam adalah menyangkut fungsional penderita, quo ad fungsionam dinyatakan baik
apabila tidak mengganggu fungsional penderita.
Sumber : Grace,P.A. 2006. At A Glance Ilmu bedah edisi ketiga. Erlangga: Jakarta.

3. Osifikasi adalah istilah lain untuk pembentukan tulang. Osifikasi (osteogenesis)


berdasarkan asal embriologisnya terdapat dua jenis osifikasi, yaitu ossifikasi intramembran
dan osifikasi endokondral.
a. Osifikasi intramembran
Pada osifikasi intramembran, perkembangan tulang terjadi secara langsung. Selama ossifikasi
intramembran , sel mesenkim berproliferasi ke dalam area yang memiliki vaskularisasi yang
tinggi pada jaringan penghubung embrionik dalam pembentukan kondensasi sel atau pusat
osifikasi primer. Sel ini akan mensintesis matriks tulang pada bagian periperal dan sel
mesenkimal berlanjut untuk berdiferensiasi menjadi osteoblas. Setelah itu, tulang akan
dibentuk kembali dan semakin digantikan oleh tulang lamela matang/dewasa. Proses osifikasi
ini merupakan sumber pembentukan tulang pipih, salah satu diantaranya yaitu tulang pipih
kepala. Pada awal perkembangan tulang pipih atap kepala, tulang yang baru dibentuk
diendapkan pada pinggir dan permukaan tulang tersebut. Untuk tetap menjaga adanya ruang
bagi pertumbuhan otak, rongga kranium harus membesar yaitu dengan cara resorpsi tulang
pada permukaan luar dan permukaan dalam oleh osteoklas, bersamaan dengan terjadinya
pengendapan tulang yang terus menerus pada kedua permukaan tulang.
b. Osifikasi endokondral
Semua sel tulang lainnya di dalam tubuh dibentuk melalui proses osifikasi endokondral.
Proses ini terjadi secara tidak langsung yaitu melalui pembentukan model tulang rawan
terlebih dahulu dan kemudian mengalami penggantian menjadi tulang dewasa. Ossifikasi
endokondral dapat dilihat pada proses pertumbuhan tulang panjang. Pada proses
pertumbuhan tulang panjang akan terbentuk pusat osifikasi primer dimana penulangan
pertama kali terjadi yaitu proses dimana kartilago memanjang dan meluas melalui proliferasi
kondrosit dan deposisi matriks kartilago. Setelah pembentukan tersebut, kondrosit di daerah
sentral kartilago mengalami proses pemasakan menuju hypertropic kondrosit. Setelah pusat
osifikasi primer terbentuk maka rongga sumsum mulai meluas ke arah epifise. Perluasan
rongga sumsum menuju ke ujung-ujung epifisis tulang rawan dan kondrosit tersusun dalam
kolom-kolom memanjang pada tulang dan tahapan berikutnya pada osifikasi endokondral
berlangsung pada zona-zona pada tulang secara berurutan.
Sumber : Mescher,A.L. 2011. Histologi Dasar Junqueira. EGC: Jakarta.

4. Dalam pelaksanaan, tingkat kegawatan pasien dikategorikan menjadi 4 kelompok warna


yaitu merah, kuning, hijau dan hitam. Pasien dipilih dan dipilah untuk menentukan labelisasi
sesuai
dengan prioritas.
Prioritas 1 dengan warna merah diperuntukkan bagi pasien dengan diagnosa sumbatan jalan
nafas, luka tusuk dada, shock, pendarahan pembuluh darah, problema kejiwaan yang serius,
ekstremitas yang terpotong dengan pendarahan.
Prioritas 2 dengan warna kuning diperuntukkan pada pasien dengan diagnosa combustio
tingkat II atau III kurang dari 25%, patah tulang besar, trauma thorax dan bola mata, juga
laserasi usus.
Pada prioritas 3 dengan warna hijau diperuntukkan bagi pasien dengan diagnosa contusio
musculurum dan laserasi otot ringan, combustio tingkat II <20%.
Sedangkan prioritas 4 dengan warna hitam diperuntukkan pasien dengan diagnosa henti
jantung yang kritis, trauma kepala yang kritis dan radiasi yang tinggi. Pasien yang
memerlukan pertolongan jiwa dasar langsung dibawa ke ruang resusitasi.
Sumber : Hardyanti,dkk. 2015. Hubungan Status Kegawatdaruratan Dengan Penilaian
Terhadap Pelayanan IGD Di RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik. Universitas Airlangga:
Surabaya.