Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS PERATURAN DAERAH NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG

PENGELOLAAN PERTAMBANGAN DAN BATUBARA KABUPATEN LAMANDAU


Oleh:
Zulfana Rizki D E0011346

1. Pendahuluan
Indonesia merupakan negara hukum. Segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara
tentu harus sesuai dengan hukum yang artinya harus sesuai dengan dasar negara dan konstitusi
kita yakni Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 beserta
Peraturan lainnya dibawahnya.
Telah menjadi suatu adagium dikalangan akademik, bahwa hukum adalah produk politik.
Adagium ini adalah refleksi dari kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa mekanisme
pembentukan produk hukum (dalam hal ini misalnya undang-undang di Indonesia), tidak bisa
dilepaskan dari peran lembaga-lembaga politik yang ada (Presiden bersama dengan Dewan
Perwakilan Rakyat).
Konsekuensi ini semua juga akan membawa pengaruh pada substansi yang dikandung
oleh setiap undang-undang. Persoalan kemudian muncul adalah berkaitan dengan substansi dari
undang-undang yang dibentuk, sejauh mana isi dari setiap produk hukum dimaksud dapat
menampung semua kebutuhan hukum yang ada dimasyarakat. Hal ini menjadi urgen, ketika
suatu undang-undang yang telah disahkan dan diundangkan serta kemudian dinyatakan berlaku,
maka sejak itu semua orang akan terikat kedalamnya tanpa lagi melihat persoalan misi politik
yang ada dalam undang-undang itu.
Salah satu aspek pokok yang dapat menjadi barometer utama dalam melihat fenomena
pembentukan undang-undang adalah berkaitan dengan sejauhmana suatu undang-undang
dibentuk dapat mengakomodir kebutuhan dimasyarakat. Salah satunya dalam pembentukan
Peraturan Daerah, dalam pembentukannya tentu harus melihat kondisi dan realita yang ada
didaerah atau wilayah tersebut. Mengingat setiap daerah atau wilayah memiliki kondisi yang
berbeda-beda.
Peraturan Daerah (Perda) merupakan salah satu instrument penting dalam rangka
pelaksanaan otonomi daerah. Perda juga merupakan peraturan pelaksana dari ketentuan
peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, sekaligus juga merupakan bentuk nyata dari
aspirasi masyarakat di suatu daerah yang dituangkan dalam bentuk hukum tertulis.
Pembentukan Perda merupakan serangkaian tahapan mulai dari perencanaan,
penyusunan, pembahasan, pengesahan, dan pengundangan. Dalam Perancangan Peraturan
Daerah haruslah mengacu kepada sistematika yang terdapat dalam Lampiran II Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2011. Namun jika diamati setiap Rancangan Peraturan Daerah, tidak semua
yang sesuai dengan sistematika yang sudah diatur dalam undang-undang tersebut. Oleh karena
itu kami sebagai penulis tertarik untuk menganalisa Rancangan Peraturan Daerah, khusunya
Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Riau Tahun 2009 Tentang Cagar Budaya Riau, apakah
Rancangan Peraturan Daerah ini sudah sesuai dengan sistematika yang diatur dalam Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Perancangan Peraturan Perundang-Undangan atau
masih memiliki kekurangan dan kesalahan.

2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana sistematika Penulisan Perancangan Peraturan Perundang-undangan Berdasarkan
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011?
b. Apakah terdapat kekurangan dan kesalahan dalam Penulisan Perancangan Peraturan Daerah
Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Pertambangan dan Batubara di Kabupaten
Lamandau?

3. Pembahasan
A. Sistematika Penulisan Perancangan Peraturan Perundang-undangan Berdasarkan
Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan
Sistematika penulisan Perandangan Peraturan Perundang-undangan telah diatur di dalam
Lampiran II Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan. Berikut adalah sistematika penulisannya:
BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
A. JUDUL
B. PEMBUKAAN
1. Frasa Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa
2. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan
3. Konsiderans
4. Dasar Hukum
5. Diktum
C. BATANG TUBUH
1. Ketentuan Umum
2. Materi Pokok yang Diatur
3. Ketentuan Pidana (jika diperlukan)
4. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan)
5. Ketentuan Penutup
D. PENUTUP
E. PENJELASAN (jika diperlukan)
F. LAMPIRAN (jika diperlukan)
BAB II HAL–HAL KHUSUS
A. PENDELEGASIAN KEWENANGAN
B. PENYIDIKAN
C. PENCABUTAN
D. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG–UNDANGAN
E. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI
UNDANG–UNDANG MENJADI UNDANG–UNDANG
F. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL

BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG–UNDANGAN


A. BAHASA PERATURAN PERUNDANG–UNDANGAN
B. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH
C. TEKNIK PENGACUAN

BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN


A. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PADA UMUMNYA
B. BENTUK RANCANGAN UNDANG–UNDANG PENETAPAN PERATURAN
PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG
MENJADI UNDANG–UNDANG
C. BENTUK RANCANGAN UNDANG–UNDANG PENGESAHAN
PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN
BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI
D. BENTUK RANCANGAN UNDANG–UNDANG PERUBAHAN
UNDANG–UNDANG
E. BENTUK RANCANGAN UNDANG–UNDANG PENCABUTAN
UNDANG–UNDANG
F. BENTUK RANCANGAN UNDANG–UNDANG PENCABUTAN
PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG–UNDANG
G. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH
PENGGANTI UNDANG-UNDANG
H. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH
I. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN
J. BENTUK RANCANGAN PERATURAN MENTERI
K. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI
L. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH
KABUPATEN/KOTA

B. Analisa Sistematika Penulisan Rancangan Peraturan Daerah Riau berdasarkan


Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan
Analisa Peraturan Daerah Kabupaten Semarang dibutuhkan untuk mengetahui apakah
Peraturan Daerah tersebut sudah sesuai dnegan sistematika penulisan yang telah ditetapkan
dalam undang-undang.
Berikut ini adalah hasil analisa Penulis :

1. Judul dari Peraturan Daerah ini sudah sesuai memuat keterangan mengenai jenis, nomor,
tahun pengundangan atau penetapan, dan nama Peraturan Perundang–undangan. Nama
Peraturan Daerah dibuat secara singkat dengan hanya menggunakan 1 (satu) kata atau
frasa tetapi secara esensial maknanya telah dan mencerminkan isi Peraturan Daerah.
Judul Peraturan Perundang-undangan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang
diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca. Selain itu, sudah ada pembentuk
Peraturan Daerah yang diakhiri dengan tanda koma (,).

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMANDAU


NOMOR 13 TAHUN 2012
TENTANG
PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI LAMANDAU,

2. Konsiderans memuat uraian singkat mengenai pokok pikiran yang menjadi pertimbangan
dan alasan pembentukan Peraturan Daerah. Dalam konsideran diawali dengan kata
“Menimbang”. Pokok pikiran pada konsiderans Undang–Undang, Peraturan Daerah
Provinsi, atau Peraturan Daerah Kabupaten/Kota memuat unsur filosofis, sosiologis, dan
yuridis yang menjadi pertimbangan dan alasan pembentukannya yang penulisannya
ditempatkan secara berurutan dari filosofis, sosiologis, dan yuridis. Dalam Peraturan
Daerah ini dalam konsiderannya sudah memuat kata Menimbang dan memuat unsur-
unsur filosofis dan sosiologis namun, belum sepenuhnya mengandung unsur yuridis.
Dalam konsideran ini tidak dijelaskan bahwa dasar peraturan perundang-undangan
diatasnya yang melandasi terbentuknya Peraturan Daerah ini. Dalam konsideran
Peraturan Daerah ini hanya menjelaskan bahwa Pemerintah Daerah Lamandau
membutuhkan regulasi terkait pengelolaan pertambangan.

“bahwa Pemerintah Daerah dalam menjalankan fungsi pengendalian, pengawasan dan


pembinaan memerlukan suatu mekanisme regulasi sebagai landasan hukum dalam
pelaksanaan fungsi tersebut di atas sehingga diharapkan dari regulasi tersebut akan
didapatkan keluaran dan manfaat yang positif bagi tertib pengaturan dan peningkatan
pendapatan daerah;”

Konsiderans Peraturan Daerah belum memuat satu pertimbangan yang berisi uraian
ringkas mengenai perlunya melaksanakan ketentuan pasal atau beberapa pasal dari
Undang–Undang atau Peraturan Pemerintah yang memerintahkan pembentukan Peraturan
Daerah tersebut dengan menunjuk pasal atau beberapa pasal dari Undang–Undang atau
Peraturan Pemerintah yang memerintahkan pembentukannya.

3. Dasar hukum pada Peraturan Daerah ini telah memuat kata “Mengingat”. Peraturan
perundangan yang digunakan sudah sesuai dengan tata urutan perundangan serta
peraturan yang digunakan merupakan peraturan yang sejajar atau berada diatasnya.
4. Diktum pada Peraturan Daerah ini sudah sesuai yang diatur dalam UU Nomor 10 Tahun
2011.

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN LAMANDAU

dan

BUPATI LAMANDAU

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN

PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA.

5. Batang Tubuh

Batang tubuh Peraturan Perundang-undangan memuat semua materi muatan Peraturan


Perundang-undangan yang dirumuskan dalam pasal atau beberapa pasal. Pada umumnya materi
muatan dalam batang tubuh dikelompokkan ke dalam:

a. ketentuan umum;

b. materi pokok yang diatur;

c. ketentuan pidana (jika diperlukan);

d. ketentuan peralihan (jika diperlukan); dan

e. ketentuan penutup.

Dalam ketentuan umum sudah sesuai dengan yang diatur dalam UU Nomor 10 Tahun 2011.
Terkait dengan subsutansi yang berkaitan tema yang digunakan Peraturan Daerah yaitu
Pengelolaan Pertambangan Mineral dan Batu Bara.
Pada materi pokok Peraturan Daerah ini; a. Tidak termuat substansi bagian maksud dan tujuan
dari terbentukanya Peraturan Daerah ini.Dalam hal kurang menyertakan/menuliskan maksud dan
tujuan dari Peraturan Daerah ini dibentuk. Hal tersebut dapat ditunjukan sesudah penulisan bab
Ketentuan Umum langsung ke dalam bab inti yaitu Bab Pendataan Potensi Pertambangan.

b. Tidak termuat mengenai objek dan subjek yang ditujukan terkait pembentukan Peraturan
Daerah ini.

c. Tidak termuat kewajiban pada Pasal tentang Kewajiban dari penerima IUP dan IPR terkait
tanggung jawab atas dampak lingkungan yang nantinya akan ditimbulkan dari kegiatan
pertambangan yang dilakukannya.

Bagian Kedua

Kewajiban

Pasal 33

Setiap pemegang IUP atau IPR wajib :

a. Memenuhi segala sesuatu yang berkaitan dengan pembiayaan (Pajak, Retribusi, Iuran)
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

b. Menyampaikan laporan produksi setiap bulan dan laporan kegiatan setiap 3 (tiga) bulan
yang tata cara dan bentuknya diatur lebih lanjut dalam Peraturan Bupati;

c. menerapkan kaidah teknik pertambangan yang baik;

d. mengelola keuangan sesuai dengan sistem akuntansi Indonesia;

e. meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan/atau batubara;

f. melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat;

g. mematuhi batas toleransi daya dukung lingkungan;

h. melakukan pengolahan dan pemurnian hasil penambangan di dalam negeri;

i. menyusun program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat; dan


j. menyampaikan seluruh data hasil eksplorasi dan operasi produksi.

d. Pada bagian Batang Tubuh Bab VIII Pasal 36 ayat (1) dijelaskan bahwa :
“Penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan dapat diberikan kepada pemegang IUP
atau IPR apabila terjadi: a. keadaan kahar;”.Terdapat kata “Kahar” yang merupakan kata yang
kurang dimengeri sebaiknya menggunakan yang sepadan namun dapat dimengerti orang yang
membacanya. Kemudian, pada Pasal dan ayat yang sama pada penjelasan bagian c setelahnya
tidak diberikan tanda titik(.) sebagai akhir dari penjelasan Pasal 36 ayat (1).

e. Dalam Pasal bab Penyidikan tidak dijelaskan spesifikasi Pejabat penyidik siapa saja yang
berwenang melakukan penyidikan dalam pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah ini.

f. Dalam materi pokok belum ada Pasal atau bagian khusus yang menjelaskan terkait dengan
Pertanggungjawaban Lingkungan yang merupakan bagian penting dan sering dijadikan sebagai
sasaran kerusakan terutama oleh kegiatan pertambangan.

g. Dalam materi pokok juga tidak termuat badan atau lembaga khusus yang mengawasi
penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral dan pertambangan.

BAB XIV

PENYIDIKAN

Pasal 59

(1) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan dalam

Peraturan Daerah ini dilakukan oleh Pejabat Penyidik dan Penuntut sesuai

dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Ketentuan Pidana

Ketentuan pidana memuat rumusan yang menyatakan penjatuhan pidana atas pelanggaran
terhadap ketentuan yang berisi norma larangan atau norma perintah. Dalam merumuskan
ketentuan pidana perlu diperhatikan asas-asas umum ketentuan pidana yang terdapat dalam Buku
Kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, karena ketentuan dalam Buku Kesatu berlaku
juga bagi perbuatan yang dapat dipidana menurut peraturan perundang-undangan lain, kecuali
jika oleh Undang- Undang ditentukan lain (Pasal 103 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana).
Ketentuan Pidana dalam Peraturan Daerah ini belum menjelaskan secara terperinci dampak dari
pelanggaran dari ketentuan Peraturan Daerah ini bagi masyarakat serta unsur kesalahan pelaku.
Disisi lain, ketentuan pidana yang dimuat hanya tentang pelanggaran dari segi administrasi dari
kegiatan pertambangan tidak sampau mengenai pelanggaran dari kerusakan lingkungan yang
timbul dari kegiatan pertambangan ini.

BAB XIII

KETENTUAN PIDANA

Pasal 56

Setiap orang yang melakukan kegiatan penambangan tanpa dilengkapi IUP/IPR

sebagaimana Pasal 158 UU Nomor 4 Tahun 2009 dipidana dengan pidana penjara

paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh
milyar rupiah).

Pasal 57

Pemegang IUP/IPR yang menyampaikan laporan dengan tidak benar, laporan palsu

atau keterangan yang dipalsukan sebagaimana Pasal 159 UU Nomor 4 Tahun 2009

dipidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak

Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah).

Pasal 58

Setiap orang yang menghalangi atau mengganggu kegiatan usaha pertambangan

dari pemegang IUP/IPR yang telah memenuhi syarat sebagaimana Pasal 159 UU

Nomor 4 Tahun 2009 dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda

paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Ketentuan Penutup
Ketentuan Penutup ditempatkan dalam bab terakhir. Jika tidak diadakan pengelompokan bab,
Ketentuan Penutup ditempatkan dalam pasal atau beberapa pasal terakhir. Pada umumnya
Ketentuan Penutup memuat ketentuan mengenai:
a. penunjukan organ atau alat kelengkapan yang melaksanakan
Peraturan Perundang-undangan;
b. nama singkat Peraturan Perundang-undangan;
c. status Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada; dan
d. saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan.

Dalam Ketentuan Penutup belum dijelaskan Peraturan Daerah ini berlaku untuk siapa saja. Serta
tidak dijelaskan secara terperinci tanggal berapa Peraturan Daerah ini secara pasti diundangkan.

4. Penutup
A. Kesimpulan

1) Sistematika penulisan Perandangan Peraturan Perundang-undangan telah diatur di dalam


Lampiran II Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan. Berikut adalah sistematika penulisannya:
BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
A. JUDUL
B. PEMBUKAAN
1. Frasa Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa
2. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan
3. Konsiderans
4. Dasar Hukum
5. Diktum
C. BATANG TUBUH
1. Ketentuan Umum
2. Materi Pokok yang Diatur
3. Ketentuan Pidana (jika diperlukan)
4. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan)
5. Ketentuan Penutup
D. PENUTUP
E. PENJELASAN (jika diperlukan)
F. LAMPIRAN (jika diperlukan)
2) Secara keseluruhan penulisan Peraturan Daerah sudah baik namun,masih terdapat kesalahan
terutama dalam substansi, tanda baca dan kata konotasi.

B. Saran
1. Sistematika penulisan Peraturan Perundang-undangan yang terdapat di dalam Lampiran II
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 sudah baik dan detail, diharapkan kedepannya Badan
Legislative Daerah semakin memperhatikan sistematika penulisan rancangan Peraturan
Perundang-undangan yang hendak dibuat, agar tidak lagi terdapat kekurangan dan kesalahan.
2. Dalam penulisan Perda substansinya harus diperhatikan lebih terutama dampaka yang
ditimbulkan dari kegiatan tersebut