Anda di halaman 1dari 22

HUKUM PERBANKAN

OTORITAS JASA KEUANGAN


Untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Perbankan dengan dosen pengampu : Herwastuti,
S.H., M.Si

DISUSUN OLEH :

Aditya Syahrul Ikram 201510110311260

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT atas segala limpahan Rahmat,
Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini
dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan
sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam bidang ilmu Hukum
Perbankan.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat
kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-
masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Malang, 2 Juni 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

BAB I ......................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 2
BAB II........................................................................................................................................ 3
PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 3
A. Otoritas Jasa Keuangan ................................................................................................... 3
1. Pengertian Otoritas Jasa Keuangan ............................................................................. 3
2. Latar Belakang Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan ............................................... 3
3. Tujuan Dibentuknya Otoritas Jasa Keuangan ............................................................. 6
B. Fungsi, Tugas dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan ................................................. 9
C. Kedudukan Otoritas Jasa Keuangan dalam Sistem Perbankan ..................................... 12
D. Hubungan Otoritas Jasa Keuangan dengan Lembaga Lain .......................................... 14
BAB III .................................................................................................................................... 18
PENUTUP................................................................................................................................ 18
A. Kesimpulan ................................................................................................................... 18
B. Saran ............................................................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 19

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berdasarkan Pasal 34 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia(BI), pemerintah diamanatkan
membentuk lembaga pengawas sektor jasa keuangan yang independen, selambat-lambatnya
akhir tahun 2010. Lembaga ini bertugas mengawasi industri perbankan, asuransi, dana pensiun,
pasar modal, modal ventura, dan perusahaan pembiayaan, serta badan-badan lain yang
menyelenggarakan pengelolaan dana masyarakat.
Alasan pembentukan OJK ini antara lain makin kompleks dan bervariasinya produk
jasa keuangan, munculnya gejala konglomerasi perusahaan jasa keuangan, dan globalisasi
industri jasa keuangan. Disamping itu, salah satu alasan rencana pembentukan OJK adalah
karena pemerintah beranggapan bahwa BI, sebagai Bank Sentral telah gagal dalam mengawasi
sekor perbankan. Kegagalan tersebut dapat dilihat pada saat krisis ekonomi yang melanda
Indonesia mulai pertengahan tahun 1997, dimana sebanyak 16 bank dilikuidasi pada saat itu.
Tujuan OJK dibentuk antara lain agar keseluruhan kegiatan didalam sector jasa
keuangan terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel mampu mewujudkan
sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil dan mampu melindungi
kepentingan konsumen dan masyarakat.
Disamping itu tujuan pembentukan OJK ini agar BI fokus kepada pengelolaan
moneter dan tidak perlu mengurusi pengawasan bank karena bank itu merupakan sektor
perekonomian.
Jika dilihat sedikit kebelakang, sejarah pembentukan lembaga yang independen ini
terbilang sulit dan penuh dengan tantangan. Bahkan untuk melahirkan pengawasan sistem
keuangan inipun membutuhkan waktu hingga 12 tahun sampai lembaga ini lahir.
Adapun kronologis lahirnya OJK dapat dijabarkan pada tahun 1999, pasca krisis
ekonomi yang melumpuhkan industri perbankan pada tahun 1997-1998, pemerintah langsung
berbenah. Gagasan pembentukan otoritas, dimasukkan dan menjadi perintah UU Nomor 23
Tahun 1999 tentang Bank Indonesia.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud Otoritas Jasa Keuangan (pengertian, Latar belakang pembentukan,
Tujuan dibentuknya) ?
2. Bagaimana Fungsi, Tugas dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan ?
3. Bagaimana Kedudukan Otoritas Jasa Keuangan dalam Sistem Perbankan ?
4. Bagaiamana Hubungan Otoritas Jasa Keuangan dengan Lembaga Lain ?

2
BAB II

PEMBAHASAN
A. Otoritas Jasa Keuangan
1. Pengertian Otoritas Jasa Keuangan
Otoritas Jasa Keuangan adalah sebuah lembaga pengawas jasa keuangan seperti
industri perbankan, pasar modal, reksadana, perusahaan pembiayaan, dana pensiun dan
asuransi yang sudah harus terbentuk pada tahun 2010. Keberadaan Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) ini sebagai suatu lembaga pengawas sector keuangan di Indonesia perlu untuk
diperhatikan, karena harus dipersiapkan dengan baik segala hal untuk mendukung
keberadaan OJK tersebut.1
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 menyebutkan:2
“Otoritas Jasa Keuangan, yang selanjutnya disingkat dengan OJK, adalah lembaga yang
independen dan bebas dari campur tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan
wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang ini. “
Dengan kata lain, dapat diartikan bahwa Otoritas Jasa Keuangan adalah sebuah
lembaga pengawasan jasa keuangan seperti industri perbankan, pasar modal, reksadana,
perusahaan pembiayaan, dana pensiun dan asuransi. Pada dasarnya UU tentang OJK ini
hanya mengatur mengenai pengorganisasian dan tata pelaksanaan kegiatan keuangan dari
lembaga yang memiliki kekuasaan didalam pengaturan dan pengawasan terhadap sektor jasa
keuangan. Oleh karena itu, dengan dibentuknya OJK diharapkan dapat mencapai
mekanisme koordinasi yang lebih efektif didalam penanganan masalah-masalah yang
timbul didalam sistem keuangan. Dengan demikian dapat lebih menjamin tercapainya
stabilitas sistem keuangan dan adanya pengaturan dan pengawasan yang lebih terintegrasi.3
2. Latar Belakang Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan
Berdasarkan Pasal 34 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan
Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (BI), pemerintah
diamanatkan membentuk lembaga pengawas sektor jasa keuangan yang independen,
selambat-lambatnya akhir tahun 2010. Lembaga ini bertugas mengawasi industri perbankan,

1
Siti Sundari, Laporan Kompendium Hukum Bidang Perbankan, Kementrian Hukum dan HAM RI, 2011, hal.
44
2
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, Pasal 1
3
Rebekka Dosma Sinaga, Sistem Koordinasi Antara Bank Indonesia Dan Otoritas Jasakeuangan Dalam
Pengawasan Bank Setelah Lahirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan,
Jurnal Hukum Ekonomi Universitas Sumatera Utara, 2013, hlm 2

3
asuransi, dana pensiun, pasar modal, modal ventura, dan perusahaan pembiayaan, serta
badan-badan lain yang menyelenggarakan pengelolaan dana masyarakat. 4
Alasan pembentukan OJK ini antara lain makin kompleks dan bervariasinya
produk jasa keuangan, munculnya gejala konglomerasi perusahaan jasa keuangan, dan
globalisasi industri jasa keuangan. Disamping itu, salah satu alasan rencana pembentukan
OJK adalah karena pemerintah beranggapan bahwa BI, sebagai Bank Sentral telah gagal
dalam mengawasi sekor perbankan.
Kegagalan tersebut dapat dilihat pada saat krisis ekonomi yang melanda Indonesia
mulai pertengahan tahun 1997, dimana sebanyak 16 bank dilikuidasi pada saat itu.5 Tujuan
OJK dibentuk antara lain agar keseluruhan kegiatan didalam sector jasa keuangan
terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel; mampu mewujudkan sistem
keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil; dan mampu melindungi kepentingan
konsumen dan masyarakat.6 Disamping itu tujuan pembentukan OJK ini agar BI fokus
kepada pengelolaan moneter dan tidak perlu mengurusi pengawasan bank karena bank itu
merupakan sektor perekonomian.7
Jika dilihat sedikit kebelakang, sejarah pembentukan lembaga yang independen ini
terbilang sulit dan penuh dengan tantangan. Bahkan untuk melahirkan pengawasan sistem
keuangan inipun membutuhkan waktu hingga 12 tahun sampai lembaga ini lahir.8
Adapun kronologis lahirnya OJK dapat dijabarkan sebagai berikut:9
a. Tahun 1999
Pasca krisis ekonomi yang melumpuhkan industri perbankan pada tahun 1997-
1998, pemerintah langsung berbenah. Gagasan pembentukan otoritas dimasukkan dan
menjadi perintah UU Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Didalam Pasal 34
disebutkan bahwa:
(1) Tugas mengawasi Bank akan dilakukan oleh lembaga pengawasan sector jasa
keuangan yang independen, dan dibentuk dengan undang-undang
(2) Pembentukan lembaga pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akan
dilaksanakan selambat-lambatnya 31 Desember 2002

4
Afika Yumya, Pengaruh Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan Terhadap Kewenangan Bank Indonesia
Dibidang Pengawasan Perbankan, (Skripsi sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok, 2008), hal. 28
5
Ibid.
6
Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan, Pasal 4
7
Afika Yumya, Op.cit,.hal. 29
8
Afika Yumya, Op.cit,.hal. 29
9
Selamat datang wasit baru industri keuangan, http://lipsus.kontan.co.id/v2/ojk/read/86/Selamat-datang-
wasit-baru-industri-keuangan, (diakses tanggal 1 Juni 2018)

4
b. Tahun 2004
Tenggat waktu yang diberikan sampai tahun 2002 dalam pembentukan OJK tak
juga lahir di Indonesia. Pada tahun 2004, pemerintah dan DPR hanya bisa merevisi UU
BI. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 Tentang Bank Indonesia telah lahir. Didalam
Pasal 34 ayat 1 dan 2 terdapat bahasan tentang OJK, yaitu:
(1) Tugas mengawasi Bank akan dilakukan oleh lembaga pengawasan sector jasa
keuangan yang independen, dan dibentuk dengan Undang-Undang
(2) Pembentukan lembaga pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akan
dilaksanakan selambat-lambatnya 31 Desember 2010
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa, amandemen UU BI tersebut merupakan
sebuah perselisihan pandangan antara BI dengan Departemen Keuangan (Kementrian
Keuangan). Objek dari perselisihan ini berupa perebutan wewenang dalam mengontrol
industri perbankan. Hal inilah yang mati-matian dilawan BI dan akhirnya berhasil. Dalam
rumusan amandemen yang telah disepakati, pemindahan kekuasaan industri perbankan
dari BI ke OJK masih dapat diulur selambat-lambatnya sampai akhir 2010.
c. Tahun 2010
Lagi-lagi amandemen UU itu meleset dari yang diharapkan. Batas waktu kembali
terlewati. Sampai tutup buku tahun 2010, UU OJK masih belum juga selesai. RUU OJK
yang akan disahkan dalam rapat paripurna pada 17 Desember 2010 malah menemui jalan
buntu, karena pemerintah dan DPR tak menemukan kata sepakat terhadap struktur dan
tata cara pembentukan Dewan Komisioner OJK.
d. Tahun 2011
Tahun ini menjadi sejarah baru bagi Indonesia, terutama bagi sistem keuangan di
Indonesia. Pimpinan DPR, Priyo Budi Santoso, akhirnya mengetuk palu tanda
disetujuinya pengesahan Rancangan Undang-Undang Otoritas Jasa keuangan (RUU
OJK) menjadi Undang-Undang dalam Rapat Paripurna DPR, pada Kamis 27 Oktober
2011. Dalam keputusan tersebut disebutkan supaya panitia seleksi DK OJK harus
terbentuk awal 2012.
e. Tahun 2012
Pada awal tahun 2012, Presiden telah membentuk Panitia Seleksi dalam pemilihan
calon anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa keuangan yang secara keseluruhan terdiri
dari 9 orang. Menteri Keuangan Agus Martowardojo terpilih menjadi ketua seleksi
sekaligus anggota, sedangkan anggota lainnya adalah Gubernur Bank Indonesia (BI)
Darmin nasution, Direktur Jendral Pajak Fuad Rahmany, Wakil Menteri BUMN

5
Mahmuddin Yasin, dan Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah. Kemudian Komisaris
Bank Mandiri Gunarni Soeworo mewakili lembaga keuangan/perbankan, mantan
Direktur BEI Mas Achmad Daniri mewakili pasar modal, Komisaris Wana Arthalife
Ariyanti Suliyano mewakili asuransi/lembaga jasa keuangan non bank, dan akademisi
Muhammad Chatib Basri.
Pada pertengahan tahun 2012, anggota sekaligus Ketua DK OJK terpilih.
Seluruhnya berjumlah 9 orang dan dengan melewati proses seleksi yang ketat. Pada bulan
ini pula seluruhnya disahkan oleh Paripurna DPR.
f. Tahun 2013
Bapepam-LK akan melebur ke OJK dan sebagian besar pekerja dari lembaga ini
juga akan berubah status kepegawaiannya. Pada tahun ini jugalah OJK akan mulai dalam
penarikan iuran dari industri keuangan non bank.
g. Tahun 2014
Setelah masa transisi satu tahun Bapepam-LK melebur ke OJK, diharapkan tahun
ini adalah serah terimanya pengawasan perbankan dari tangan bank sentral ke OJK
3. Tujuan Dibentuknya Otoritas Jasa Keuangan
Sejak lama, pembentukan lembaga Otoritas Jasa Keuangan ini diamanatkan oleh
Undang-Undang Bank Indonesia, yaitu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999
sebagaimana dirubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 Tentang Bank
Indonesia, sudah menghadapi berbagai kontroversi mengenai sudah tepatkah pemindahan
fungsi pengawasan perbankan yang semula ditangani oleh Bank Indonesia.10
Setelah keluarnya Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa
Keuangan yang diundangkan tanggal 22 November 2011, pengaturan dan pengawasan
sektor perbankan yang semula berada pada Bank Indonesia telah dialihkan pada Otoritas
Jasa Keuangan. Dalam penjelasan Undang-undang OJK disebutkan bahwa dibutuhkan
lembaga pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan yang lebih terintegrasi dan
komprehensif agar dapat dicapai mekanisme koordinasi yang lebih efektif dalam menangani
permasalahan yang timbul dalam sistem keuangan sehingga dapat menjamin tercapainya
stabilitas sistem keuangan.11
Dalam penjelasan tersebut di identifikasi beberapa permasalahan yang
melatarbelakangi dibutuhkannya sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi

10
Ahmad Taqiyuddin, Undang-Undang OJK Dalam Kajian Hukum dan Pembangunan Ekonomi,
(Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, 2012) hal. 15
11
Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, Penjelasan Umum

6
dalam suatu lembaga. Terjadinya proses globalisasi dalam system keuangan, pesatnya
kemajuan di bidang tegnologi juga inovasi finansial telah menciptakan sistem keuangan
yang begitu kompleks, dinamis dan saling terkait antar subjektor keuangan baik dalam hal
produk maupun kelembagaan. Disamping itu adanya lembaga jasa keuangan yang memiliki
hubungan kepemilikan di berbagai subsektoral keuangan telah menambah kompleksitas
transaksi dan interaksi antar lembaga jasa keuangan didalam sistem keuangan. Selain alasan
tersebut Undang-undang OJK dibuat dengan semangat untuk mengurangi moral hazard
dalam sektor jasa keuangan, kemudian mengoptimalkan perlindungan konsumen di sektor
jasa keuangan.12
OJK merupakan lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak
lain, yang mempunyai fungsi, tugas dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan
dan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini.13
Pasal 4 UU OJK disebutkan bahwa:14
“OJK dibentuk dengan tujuan agar keseluruhan kegiatan di dalam sector jasa keuangan:
a. Terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel;
b. Mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan
stabil; dan
c. Mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.
Sesungguhnya tujuan OJK adalah untuk menyelenggarakan sektor jasa keuangan
secara teratur, adil, transparan, akuntabel, yang mana mengingatkan pemikiran pada prinsip-
prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan benar (Good Corporate Governance) yang
terdiri dari 5 prinsip yang disingkat dengan TARIF, yaitu:15
a. Transparency (keterbukaan informasi)
Secara sederhana bisa diartikan sebagai keterbukaan untuk menyediakan informasi
yang cukup, akurat, tepat waktu
b. Accuntability (akuntabilitas)
Yaitu adanya kejelasan fungsi, struktur, sistem, kejelasan akan hak dan kewajiban serta
wewenang dari elemen-elemen yang ada.
c. Responsibility ( pertanggungjawaban)

12
Ahmad Taqiyuddin. Op.cit.,hal. 15
13
Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, Pasal 1 angka 1
14
Ibid., Pasal 4
15
Bisdan Sigalingging, Analisis Hubungan Kelembagaan Antara Otoritas Jasa Keuangan Dengan Bank
Indonesia (Tesis Magister Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2013) hal.. 107

7
Yaitu kepatuhan perusahaan terhadap peraturan yang berlaku, diantaranya
termasuk masalah pembayaran pajak, hubungan industrial, kesehatan dan keselamatan
kerja, perlindungan lingkungan hidup, memelihara lingkungan bisnis yang kondusif
bersama masyarakat dan sebagainya
d. Independency (kemandirian)
Yaitu mensyaratkan agar perusahaan dikelola secara profesional tanpa adanya
benturan kepentingan dan tekanan atau intervensi dari pihak manapun maupun yang tidak
sesuai dengan peraturan yang berlaku; dan
e. Fairness (kesetaraan atau kewajaran)
Prinsip ini menuntut adanya perlakuan yang adil dalam memenuhi hak
shareholders dan stakeholders sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Tujuan lain dari pembentukan OJK ini adalah agar keseluruhan kegiatan di dalam
sektor jasa keuangan mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara
berkelanjutan dan stabil. Dalam konsep berkelanjutan dimaksud adalah untuk menciptakan
pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Sebagaimana menurut The
World Business Council of for Sustainable Development (WBSCSD) yang menggambarkan
sebagai “business commitment to contribute to sustainable economic development, working
with employees, their, the local community, and society at large to improve their quality if
life” yaitu suatu komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi pembangunan ekonomi
yang berkelanjutan, bekerja sama dengan pegawai, keluarganya, komunitas lokal dan
masyarakat luas untuk meningkatkan kualitas hidup bersama.16
Adapun maksud dari pembentukan Otoritas Jasa Keuangan menurut beberapa
ahli/pakar perbankan adalah sebagai berikut:17
a. Menkeu Agus Matroardojo:
Pembentukan OJK diperlukan guna mengatasi kompleksitas keuangan global dari
ancaman krisis. Di sisi lain, pembentukan OJK merupakan komitmen pemerintah dalam
reformasi sektor keuangan di Indonesia
b. Fuad Rahmany:
OJK akan menghilangkan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) yang
selama ini cenderung muncul. Sebab didalam OJK, fungsi pengawasan dan pengaturan
dibuat terpisah

16
Ibid.,hal. 108
17
Siti Sundari., Op.cit.,hal. 45

8
c. Darmin Nasution
OJK adalah untuk mencari efesiensi di sektor perbankan, pasar modal dan lembaga
keuangan. Sebab suatu perekonomian yang kuat, stabil dan berdaya saing membutuhkan
dukungan dari sektor keuangan.
d. Deputi Gubernur BI Miliaman D Hadad:
Terdapat empat pilar sektor keuangan global yang menjadi agenda OJK. Pertama,
kerangka kebijakan yang kuat untuk menanggulangi krisis. Kedua, persiapan resolusi
terhadap lembaga-lembaga keuangan yang ditengarai bisa berdampak sistemik. Ketiga
lembaga keuangan membuat surat wasiat jika terjadi kebangkrutan sewaktu-waktu dan
keempat transparansi yang harus dijaga.

B. Fungsi, Tugas dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan


Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Indonesia didasari dari keinginan
pemerintah dalam melakukan regulasi baru dalam hal pengawasan perbankan yang dianggap
mulai mengalami kelemahan. Kedudukan OJK yang menjadi lembaga yang independen dan
memiliki kewenangan yang cukup luas dan tegas dalam pengawasan perbankan diharapkan
dapat memperbaiki permasalahan yang saat ini timbul di bidang pengawasan perbankan.
Dengan besarnya kedudukan dan kewenangan yang dimiliki oleh lembaga yang satu
ini, tentunya harus ada suatu pengaturan yang jelas dan tertulis demi mewujudkan kepastian
hukum. Lembaga OJK yang dulunya sudah terbentuk masih belum memiliki suatu pengaturan
yang jelas. Namun dengan dilahirkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas
Jasa Keuangan memberikan kepastian hukum, dan undang-undang tersebut menjadi dasar
hukum dalam melaksanakan kewajiban dan kewenagan dari lembaga tersebut.
Mengenai fungsi OJK itu sendiri telah dijabarkan dalam UU No.21 Tahun 2011,
dalam Pasal 5 yang menyatakan bahwa:18
“OJK berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi
terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan.”
Selanjutnya di dalam Pasal 6 undang-undang teresebut juga menyebutkan mengenai
tugas pengaturan dan pengawasannya, yaitu:19
a. Kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan;
b. Kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal; dan
c. Kegiatan jasa keuangan di sektor perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga

18
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, Pasal 5
19
Ibid., Pasal 6

9
Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.
Dalam melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan di sektor Perbankan
sebagaimana yang dimaksud didalam Pasal 6 huruf a, OJK mempunyai wewenang:20
a. Pengaturan dan pengawasan mengenai kelembagaan bank yang meliputi:
1. Perizinan untuk pendirian bank, pembukaan kantor bank, anggaran dasar, rencana
kerja, kepemilikan, kepengurusan dan sumber daya manusia, merger, konsolidasi
dan akuisisi bank, serta pencabutan izin usaha bank; dan
2. Kegiatan usaha bank, antara lain sumber dana, penyediaan dana, produk hibridasi,
dan aktivitas di bidang jasa;
b. Pengaturan dan pengawasan mengenai kesehatan bank yang meliputi:
1. Likudasi, rentabilitas, solvabilitas, kualitas asset, rasio kecukupan modal
minimum, batas maksimum pemberian kredit, rasio pinjaman terhadap simpanan,
dan pencadangan bank;
2. Laporan bank yang terkait dengan kesehatan dan kinerja bank;
3. Sistem informasi debitur:
4. Pengujian kredit (credit testing); dan
5. Standar akuntansi bank;
c. Pengaturan dan pengawasan mengenai aspek kehati-hatian bank meliputi:
1. Manajemen risiko;
2. Tata kelola bank;
3. Prinsip mengenal nasabah dan anti pencucian uang; dan
4. Pencegahan pembiayaan terorisme dan kejahatan perbankan; dan
d. Pemeriksaan bank
Untuk melaksanakan tugas pengaturan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, OJK
mempunyai wewenang:21
a. Menetapkan peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini;
b. Menetapkan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;
c. Menetapkan peraturan dan keputusan OJK;
d. Menetapkan peraturan mengenai pengawasan di sektor jasa keuangan;
e. Menetapkan kebijakan mengenai pelaksanaan tugas OJK;
f. Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan perintah tertulis terhadap
Lembaga Jasa Keuangan dan pihak tertentu;

20
Ibid., Pasal 7
21
Ibid., Pasal 8

10
g. Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan pengelola statute pada
Lembaga Jasa Keuangan
h. Menetapkan struktur organisasi dan infrastruktur, serta mengelola, memelihara, dan
menatausahakan kekayaan dan kewajiban; dan
i. Menetapkan peraturan mengenai tata cara pengenaan sanksi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.
Selanjutnya, untuk melaksanakan tugas pengawasan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6, OJK mempunyai wewenang:22
a. Menetapkan kebijakan operasional pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan;
b. Mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan yang dilaksanakan oleh Kepala Eksekutif;
c. Melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan Konsumen, dan
tindakan lain terhadap Lembaga Jasa Keuangan, pelaku, dan/atau penunjang
kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-
undangan di sektor jasa keuangan;
d. Memberikan perintah tertulis kepada Lembaga Jasa Keuangan dan/atau pihak
tertentu;
e. Melakukan penunjukan pengelola statute;
f. Menetapkan penggunaan pengelola statute;
g. Menetapkan sanksi administrative terhadap pihak yang melakukan pelanggaran
terhadap peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan; dan
h. Memberikan dan/atau mencabut;
1. Izin usaha;
2. Izin orang perseorangan;
3. Efektifnya pernyataan pendaftaran;
4. Surat tanda terdaftar;
5. Persetujuan melakukan kegiatan usaha;
6. Pengesahan;
7. Persetujuan atau penetapan pembubaran; dan
8. Penetapan lain,
Sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sector jasa
keuangan.

22
Ibid., Pasal 9

11
C. Kedudukan Otoritas Jasa Keuangan dalam Sistem Perbankan
OJK merupakan lembaga yang menyelenggarakan fungsi pemerintahan dalam rangka
mengatur dan mengawasi kegiatan sektor jasa keuangan.23 Didalam melaksanakan tugas dan
wewenangnya, OJK merupakan lembaga yang independen seperti yang telah dijelaskan pada
Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang OJK diatas bahwa OJK merupakan lembaga yang independen
dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur tangan pihak lain, kecuali
untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam Undang-Undang ini.24
Setiap pihak dilarang campur tangan terhadap pelaksanaan tugas dan wewenang OJK
dengan maksud bahwa untuk menjamin terselenggaranya pengaturan dan pengawasan sektor
jasa keuangan yang optimal dan mampu meningkatkan daya saing nasional, maka OJK harus
dapat bekerja secara independen dalam peraturan perundang-undangan di bidang jasa
keuangan. Oleh karena itu, sesuai dengan Pasal 2 ayat (2) UU OJK, dalam melaksanakan tugas
dan wewenangnya, OJK bebas dari campur tangan pihak lain. Sebagai pengamat ekonomi,
Imam Sugema mengatakan bahwa OJK pada prinsipnya pengawasan regulasi untuk berbagai
lembaga keuangan mulai bank, asuransi, multi finance, kemudian pasar modal, bursa
berjangka, pengaturan dan supervisinya disatukan, OJK sebagai regulatornya.25
Dengan munculnya OJK, maka akan membantu Depkeu dengan sendirinya didalam
memfokuskan tugasnya terhadap fungsi fiscal, yaitu mengurus masalah penerimaan serta
pengeluaran negara dan mengelola kekayaan negara dan piutang negara.26
Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, OJK perlu melakukan koordinasi
dengan beberapa lembaga seperti BI, Lembaga Penjamin Simpanan, serta Mentri Keuangan
bahkan Presiden agar nanti kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan OJK dapat efektif dan efisien
dalam memecahkan permasalahan di sektor keuangan.27
1. Fungsi, Tugas dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan dalam Bidang Perbankan
Didalam Pasal 34 UU dikatakan bahwa tugas mengawasi Bank akan dilakukan oleh
lembaga pengawasan sektor jasa keuangan yang independen, dan dibentuk dengan undang-
undang. Pembentukan lembaga pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akan
dilaksanakan selambat-lambatnya 31 Desember 2002.28

23
Ibid., Pasal 5
24
Ibid., Pasal 2
25
Afika Yumya,Op.cit.,hal. 35
26
Ibid.
27
Ibid.
28
Undang-undang Nomor 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Pasal 34

12
Berdasarkan ketentuan didalam Pasal 34 Undang-undang tentang BI beserta
penjelasannya dapat disimpulkan bahwa OJK akan bertugas mengawasi bank, lembaga-
lembaga usaha pembiayaan, modal ventura, dan lembaga-lembaga lain yang mengelola dana
masyarakat. Dengan demikian OJK akan mengambil alih sebagian tugas dan wewenang BI,
Direktorat Jendral Lembaga Keuangan, Badan Pengawas Pasar Modal, dan institusi-institusi
pemerintah lain yang selama ini mengawasi lembaga pengelola dana masyarakat.29
Untuk melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan di sector Perbankan, OJK
mempunyai wewenang, yaitu:30
a. Pengaturan dan pengawasan mengenai kelembagaan bank yang meliputi:
1. pendirian bank, pembukaan kantor bank, anggaran dasar, rencana kerja,
kepemilikan, kepengurusan dan sumber daya manusia, merger, konsolidasi dan
akusisi bank, serta pencabutan izin usaha bank; dan
2. kegiatan usaha bank, antara lain sumber dana, penyediaan dana, produk hibridasi,
dan aktivitas dibidang jasa;
b. pengaturan dan pengawasan mengenai kesehatan bank yang meliputi:
1. likuidasi, rentabilitas, solvabilitas, kualitas asset, rasio kecukupan modal
minimum, batas maksimum pemberian kredit, rasio pinjaman terhadap simpanan
dan pencadangan bank;
2. laporan bank yang terkait dengan kesehatan dan kinerja bank;
3. sistem informasi debitur;
4. pengujian kredit (credit testing); dan
5. standar akuntansi bank;
c. pengaturan dan pengawasan mengenai aspek kehati-hatian bank, meliputi:
1. manajemen risiko;
2. tata kelola bank;
3. prinsip mengenal nasabah dan anti pencucian uang; dan
4. pencegahan pembiayaan terorisme dan kejahatan perbankan;
d. pemeriksaan bank

Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, Otoritas Jasa Keuangan


berlandaskan asas-asas sebagai berikut:31

29
Afika Yumya,Op.cit.,hal. 15
30
Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, Pasal 7
31
Ibid., penjelasan umum

13
1. Asas independensi, yakni independen dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan
fungsi, tugas, dan wewenang OJK, dengan tetap sesuai peraturan perundang-
undangan yang berlaku;
2. Asas kepastian hukum, yakni asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan
peraturan perundang-undangan dan keadilan dalam setiap kebijakan
penyelenggaraan Otoritas Jasa Keuangan;
3. Asas kepentingan umum, yakni asas yang membela dan melindungi kepentingan
konsumen dan masyarakat serta memajukan kesejahteraan umum;
4. Asas keterbukaan, yakni asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk
memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang
penyelenggaraan Otoritas Jasa Keuangan, dengan tetap memperhatikan
perlindungan atas hak asasi pribadi dan golongan, serta rahasia negara, termasuk
rahasia sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan;
5. Asas profesionalitas, yakni asas yang mengutamakan keahlian dalam pelaksanaan
tugas dan wewenang Otoritas Jasa Keuangan, dengan tetap berlandaskan pada kode
etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan;
6. Asas integritas, yakni asas yang berpegang teguh pada nilai-nilai moral dalam setiap
tindakan dan keputusan yang diambil dalam penyelenggaraan Otoritas Jasa
Keuangan; dan
7. Asas akuntabilitas, yakni asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir
dari setiap kegiatan penyelenggaraan Otoritas Jasa Keuangan harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada publik.

D. Hubungan Otoritas Jasa Keuangan dengan Lembaga Lain


Pengesahan UU OJK pada tanggal 27 Oktober 2011 menandai babak baru industri
jasa keuangan di Indonesia. Kehadiran lembaga baru ini diharapkan dapat mengatur dan
mengawasi jasa keuangan di sektor perbankan, pasar modal, asuransi, dana pensiun, lembaga
pembiayaan dan lembaga jasa keuangan lainnya. Semakin kompleksnya industri jasa keuangan
memang meningkatkan resiko sehingga mennuntut pengawasan lebih. Pengaturan dan
pengawasan sejumlah sektor jasa keuangan juga diharapkan menjadi sinergi kebijakan dan
produk untukmenurunkan biaya transaksi. Dengan demikian, dapat dibangun arsitektur jasa
keuangan yang lebih kuat dan terintegrasi. Oleh karena itu, peran OJK menjadi taruhan agar
kondisi jasa keuangan Indonesia lebih berdaya saing. Banyak pelajaran berharga dapat dipetik
dari krisis ekonomi 1997-1998 hingga krisis ekonomi di sejumlah negara Eropa dan Amerika

14
Serikat pada tahun 2010-2011 sampai sejumlah fraud. oleh sejumlah jasa keuangan besar di
Amerika Serikat.32
Membangun industri jasa keuangan Indonesia yang kuat memerlukan totalitas sektor
sebagai kesatuan industri misalnya pengaturan perbankan yang bisa berdampak langsung dan
tidak langsung pada sektor pasar modal ataupun lembaga pembiayaan lain. Karena OJK hadir
ditengah-tengah regulasi dan ketentuan industri yang telah tertanam, tak mengherankan jika
harmonisasi kebijakan sektor perlu mendapat perhatian serius. Fungsi harmonisasi ini tidak
bisa mengandalkan pada fungsi komisioner dari BI ataupun Kementrian Keuangan dan tim ad
hoc. tetapi jauh lebih penting adalah menentukan desain, struktur dan proses oganisasi OJK
yang efisien dan efektif.33
Adapun lembaga keuangan lain seperti yang dijelaskan diatas adalah Pasar Modal,
Usaha Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan
lainnya.34
1. Pasar Modal
Pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan
perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta
lembaga dan profesi yang berkaitand engan efek sebagaimana dimaksud dalam undang-
undang mengenai pasar modal.35
2. Perasuransian
Perasuransian adalah usaha perasuransian yang bergerak di sektor usaha asuransi,
yaitu usaha jasa keuangan yang dengan menghimpun dana masyarakat melalui
pengumpulan premi asuransi memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat
pemakai jasa asuransi terhadap timbulnya kerugian karena suatu peristiwa yang tidak pasti
atau terhadap hidup atau meninggalnya seseorang, usaha reasuransi, dan usaha penunjang
usaha asuransi yang menyelenggarakan jasa keperantaraan, penilaian kerugian. Ad hoc
adalah sesuatu yang diciptakan, atau seseorang yang ditunjuk untuk tujuan atau jangka
waktu tertentu. asuransi dan jasa aktuaria, sebagaimana dimaksud dalam undang-undang
mengenai usaha perasuransian.36
3. Dana Pensiun

32
Siti Sundari, Laporan Kompendium Hukum Bidang Perbankan, Kementrian Hukum dan HAM RI, 2011, hal.
57
33
Ad hoc adalah sesuatu yang diciptakan, atau seseorang yang ditunjuk untuk tujuan atau jangka waktu tertentu
, http://jdih.blitarkota.go.id/KamusHukum.pdf, (diakses tanggal 1 juni 2018)
34
Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, Pasal 6
35
Ibid., Pasal 1 angka 6
36
Ibid., Pasal 1 angka 7

15
Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program yang
menjanjikan manfaat pension sebagaimana dimaksud dalam undangundang mengenai dana
pensiun.37
4. Lembaga Pembiayaan
Lembaga Pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan
dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal sebagaimana dimaksud dalam peraturan
perundang-undangan mengenai lembaga pembiayaan.38
5. Lembaga Jasa Keuangan Lainnya
Lembaga Jasa Keuangan Lainnya adalah pergadaian, lembaga penjaminan, lembaga
pembiayaan ekspor Indonesia, perusahaan pembiayaan sekunder perumahan, dan lembaga
yang menyelenggarakan pengelolaan dana masyarakat yang bersifat wajib, meliputi
penyelenggara program jaminan sosial, pensiun, dan kesejahteraan, sebagaimana dimaksud
dalam peraturan perundang-undangan mengenai pergadaian, penjaminan, lembaga
pembiayaan ekspor Indonesia, perusahaan pembiayaan sekunder perumahan, dan pengelolaan
dana masyarakat yang bersifat wajib, serta lembaga jasa keuangan lain yang dinyatakan
diawasi oleh OJK berdasarkan peraturan perundang-undangan.39

Dengan keluarnya UU OJK ini, maka tugas pengaturan dan pengawasan terhadap
sektor perbankan, pasar modal, perasuransian, dana pension, lembaga pembiayaan, dan
lembaga jasa keuangan lainnya akan dilaksanakan oleh OJK.40
Didalam ketentuan peralihan UU OJK mengatakan, sejak tanggal 31 Desember 2012,
fungsi, tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di sektor
Pasar Modal, perasuransian, dana pensiun, lembaga pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan
lainnya beralih dari Mentri Keuangan dan Badan Pengawas pasar modal dan Lembaga
Keuangan ke OJK.41
Terhitung sejak beralihnya fungsi, tugas, dan wewenang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 55, pejabat dan/atau pegawai Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan dan pejabat dan/atau pegawai Bank Indonesia yang melaksanakan fungsi, tugas, dan
wewenang pengaturan dan pengawasan di sector perbankan, sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 63 ayat 4 dialihkan untuk dipekerjakan pada OJK.42

37
Ibid., Pasal 1 angka 8
38
Ibid., Pasal 1 angka 9
39
Ibid., Pasal 1 angka 10
40
Ibid., Pasal 6
41
Ibid., Pasal 55 ayat 1
42
Ibid., Pasal 64

16
Terhitung sejak beralihnya fungsi, tugas, dan wewenang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 55: 43
a. kekayaan dan dokumen yang dimiliki dan/atau digunakan Bank Indonesia dalam
rangka pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan dan pengawasan di
sektor Perbankan; dan
b. kekayaan negara dan dokumen yang dimiliki dan/atau digunakan Kementerian
Keuangan dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan dalam rangka
pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan dan pengawasan di sektor Pasar
Modal, Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa
Keuangan Lainnya, dapat digunakan oleh OJK.

Penggunaan kekayaan, kekayaan negara, dan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) ditetapkan dengan keputusan bersama atau keputusan Menteri Keuangan, Gubernur
Bank Indonesia, dan Ketua Dewan Komisioner yangditetapkan paling singkat 1 (satu)
bulan sebelum beralihnya fungsi, tugas, dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 55.44

Yang dimaksud dengan kekayaan dan kekayaan negara adalah gedung, kendaraan,
peralatan dan perlengkapan kantor dan infrastruktur lainnya yang merupakan penunjang dalam
terselenggaranya kegiatan pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan. Sedangkan yang
dimaksud dengan dokumen adalah data dan informasi baik dalam bentuk tertulis maupun
elektronik yang dimiliki dan/atau digunakan dalam kegiatan pengaturan dan pengawasan sector
jasa keuangan. Kekayaan dan dokumen Bank Indonesia, Kementrian Keuangan, dan Badan
Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan yang digunakan OJK adalah kekayaan dan
dokumen yang digunakan untuk pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan. Sedangkan
kekayaan dan dokumen yang digunakan untuk pengaturan dan pengawasan perbankan tetapi
juga diperlukan oleh Bank Indonesia dalam rangka pelaksanaan tugasnya, digunakan secara
bersama-sama. Yang dimaksud dengan digunakan adalah dapat dimanfaatkan, dikelola dan
dipelihara oleh OJK.45

43
Ibid., Pasal 65 ayat 1
44
Ibid., Pasal 65 ayat 2
45
Ibid., Penjelasan Pasal 66 ayat 1

17
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Otoritas Jasa Keuangan adalah sebuah lembaga pengawasan jasa keuangan seperti
industri perbankan, pasar modal, reksadana, perusahaan pembiayaan, dana pensiun dan
asuransi. Latar belakang dibentuknya OJK adalah makin kompleks dan bervariasinya produk
jasa keuangan, munculnya gejala konglomerasi perusahaan jasa keuangan, dan globalisasi
industri jasa keuangan. Disamping itu, salah satu alasan rencana pembentukan OJK adalah
karena pemerintah beranggapan bahwa BI, sebagai Bank Sentral telah gagal dalam mengawasi
sekor perbankan. Tujuan OJK pada dasarnya adalah untuk menyelenggarakan sektor jasa
keuangan secara teratur, adil, transparan, akuntabel, Tujuan lain dari pembentukan OJK ini
adalah agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan mampu mewujudkan sistem
keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil.
OJK berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang
terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan.
Berdasarkan ketentuan didalam Pasal 34 Undang-undang tentang BI beserta
penjelasannya dapat disimpulkan bahwa OJK bertugas mengawasi bank, lembaga-lembaga
usaha pembiayaan, modal ventura, dan lembaga-lembaga lain yang mengelola dana
masyarakat. Dengan demikian OJK akan mengambil alih sebagian tugas dan wewenang BI,
Direktorat Jendral Lembaga Keuangan, Badan Pengawas Pasar Modal, dan institusi-institusi
pemerintah lain yang selama ini mengawasi lembaga pengelola dana masyarakat.
Membangun industri jasa keuangan Indonesia yang kuat memerlukan totalitas sektor
sebagai kesatuan industri misalnya pengaturan perbankan yang bisa berdampak langsung dan
tidak langsung pada sektor pasar modal ataupun lembaga pembiayaan lain. Karena OJK hadir
ditengah-tengah regulasi dan ketentuan industri yang telah tertanam, tak mengherankan jika
harmonisasi kebijakan sektor perlu mendapat perhatian serius. Fungsi harmonisasi ini tidak
bisa mengandalkan pada fungsi komisioner dari BI ataupun Kementrian Keuangan dan tim ad
hoc. tetapi jauh lebih penting adalah menentukan desain, struktur dan proses oganisasi OJK
yang efisien dan efektif
B. Saran
Ojk dapat melaksanakan Fungsi, Tugas dan Wewenangnya secara maksimal sehingga
sector keuangan Indonesia semakin membaik dari tahun ketahun.

18
DAFTAR PUSTAKA

Buku :
Afika Yumya, Pengaruh Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan Terhadap Kewenangan Bank
Indonesia Dibidang Pengawasan Perbankan, (Skripsi sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
Depok, 2008)
Ahmad Taqiyuddin, Undang-Undang OJK Dalam Kajian Hukum dan Pembangunan Ekonomi,
(Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, 2012)
Bisdan Sigalingging, Analisis Hubungan Kelembagaan Antara Otoritas Jasa Keuangan Dengan
Bank Indonesia (Tesis Magister Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2013)
Rebekka Dosma Sinaga, Sistem Koordinasi Antara Bank Indonesia Dan Otoritas Jasakeuangan
Dalam Pengawasan Bank Setelah Lahirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas
Jasa Keuangan, Jurnal Hukum Ekonomi Universitas Sumatera Utara, 2013
Siti Sundari, Laporan Kompendium Hukum Bidang Perbankan, Kementrian Hukum dan HAM
RI, 2011

Undang-undang :
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan
Undang-undang Nomor 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia

Internet :
Ad hoc adalah sesuatu yang diciptakan, atau seseorang yang ditunjuk untuk tujuan atau jangka
waktu tertentu , http://jdih.blitarkota.go.id/KamusHukum.pdf, (diakses tanggal 1 juni 2018)
Selamat datang wasit baru industri keuangan, http://lipsus.kontan.co.id/v2/ojk/read/86/Selamat-
datang-wasit-baru-industri-keuangan, (diakses tanggal 1 Juni 2018)

19