Anda di halaman 1dari 66

i

PENGARUH ALAT PERAGA BLOCK PECAHAN TERHADAP


REPRENTASI MATEMATIS SISWA SEKOLAH DASAR
PROPOSAL PENELITIAN

Disusun;untuk memenuhi salah satu tugas


Mata Kuliah Penelitian Pendidikan

Dosen pengampu:
Dr. H. Fery Muhamad Firdaus, M Pd

Disusun oleh:

Tita Tresnawati
1686210037

Kelas 4B

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)


PENDIDIKAN SEEKOLAH DASAR (PGSD)
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat

kehidupan yang luar biasa dan melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga

penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berbentuk skripsi ini sesuai dengan

waktu yang telah direncanakan. Sholawat serta salam semoga tercurahkan

limpahkan kepada NABI MUHAMMAD SAW yang telah memperjuangkan

Islam dan memberikan suri tauladan yang baik, dan juga untuk seluruh keluarga

dan sahabatnya serta sampai kepada kita selaku umatnya hingga akhir zaman.

Aamiin ya Rabbal Alamiin.

Proposal yang berjudul “PENGARUH ALAT PERAGA BLOCK

PECAHAN TERHADAP REFRENTASI MATEMATIS” ini ditulis dan disusun

sebagai persyaratan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah penelitian

pendidikan Penulis menyadari bahwa proposal ini masih jauh dari kesempurnaan

oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun,

penulis harapkan sebagai masukan yang berguna bagi karya selanjutnya.

Subang, 31 Maret 2018

Penulis

Tita Tresnawati

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1

A. Latar Belakang Masalah ............................................................................1

B. Identifikasi Masalah ..................................................................................3

C. Rumusan Masalah .....................................................................................4

D. Tujuan Penelitian.......................................................................................4

E. Manfaat Penelitian .....................................................................................5

F. Defimisi Operasional .................................................................................6

G. Struktur Organisasi ....................................................................................6

BAB II KERANGKA TEORITIK, KERANGKA BERPIKIR DAN

HOPOTESIS PENELITIAN ......................................................................8

A. Pengertian Kemampuan Representasi Matematis .....................................8

B. Alat Peraga Block Pecahan .....................................................................10

C. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar ..........................................16

D. Materi ajar ...............................................................................................18

E. Penelitian Relevan ...................................................................................29

F. Kerangka Berpikir ....................................................................................31

G. Hipotesis penelitian .................................................................................31

BAB III METODE PENELITIAN.........................................................................33

ii
iii

A. Metode Penelitian ....................................................................................33

B. Design Penelitian .....................................................................................33

C. Lokasi, Populasi, dan Sampel Penelitian .................................................34

D. Prosedur Penelitian ..................................................................................35

E. Teknik Pengumpulan Data ......................................................................35

F. Instrument Penelitian ...............................................................................36

G. Proses Pengembangan Instrumen ............................................................37

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak terlepas dengan matematika.

Begitu pula halnya dalam pendidikan, matematika dijadikan sebagai salah satu

bidang studi yang wajib diajarkan di sekolah dan harus dipahami oleh peserta

didik mulai dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi. Selain itu, pelajaran

matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik karena hal ini berguna

agar peserta didik dapat menguasai semua kemampuan matematis.

Kemampuan matematis peserta didik dapat ditumbuhkan sejak mereka

duduk di bangku sekolah dasar. Adakalanya guru dapat mengemas pembelajaran

matematika yang menarik sehingga pembelajaran lebih bermakna dan mudah

dipahami.

Menurut Heruman (2007: 2), setiap konsep yang abstrak atau yang
baru dipahami siswa, guru perlu memberi penguatan agar
pembelajarannya mengendap dan tersimpan di memori siswa.
Maka diperlukan adanya pembelajaran melalui perbuatan dan
pengertian, tidak hanya sekedar hafalan saja atau melihat fakta
saja, hal ini akan mudah dilupakan oleh siswa.

Pembelajaran yang monoton atau hanya menghafal beberapa rumus

matematika dan latihan soal, terkesan membuat pembelajaran matematika

memusingkan, bahwa mayoritas peserta didik menganggap matematika sebagai

pelajaran yang membuat mereka pusing sehingga peserta didik tidak termotivasi

untuk belajar matematika dan mereka merasa terpaksa dalam mengikuti pelajaran

1
2

matematika. Mengingat pentingnya matematika, problematik tersebut menjadi

tugas utama guru agar dapat mencari solusi terbaik sehingga pembelajaran yang

menarik dan menyenangkan dapat dirasakan oleh peserta didik.

Pembelajaran yang menarik dapat melatih pola berpikir

matematis,adakalanya peserta didik harus dapat mengemukakan ide-ide

matematikanyadalam berbagai cara. Hal inilah yang disebut dengan representasi.

National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) menyebutkan bahwa

dalambelajar matematika siswa dituntut untuk memiliki kemampuan:

pemahaman, pemecahan masalah, komunikasi, koneksi matematika, dan

merepresentasikan ide-ide. Dengan demikian, kemampuan representasi

merupakan hal penting dalam pembelajaran matematika.

Dari observasi selama pembelajaran matematika representasi matematis

peserta didik dalam pembelajaran matematika masih sangat rendah. Hal ini

disebabkan pembelajaran matematika kurang mengali represntasi matematis,

karena peserta didik kurang berminat dengan belajar matematika. Kebanyakan

peserta didik menganggap pembelajaran matematika memusingkan, hal ini dapat

terlihat di saat proses pembelajaran berlangsung peserta didik kurang merespon

terhadap pembelajaran matematika. Peserta didik dalam pembelajaran matematika

belum bisa mencapaikriteia ketuntasan minimum ( KKM ) masih dibawah KKM.

Oleh karena itu salah satu cara yang digunakan untuk menyelesaikan

permasalahan diatas menggunakan model pengaruh alat peraga block pecahan.

Berdasarkan permasalahan yang telah ditemukan, perlu adanya suatu usaha untuk

meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa. Peneliti lebih tertarik


3

dengan memilih sebuah alat peraga sebagai salah satu solusi untuk mengatasi

masalah dalam kemampuan representasi matematis siswa khususnya pada tingkat

sekolah dasar kelas IV dalam menjawab soal operasi hitung penjumlahan dan

pengurangan pecahan. Hal tersebut dikarenakan, siswa tingkat sekolah dasar

masih berpikir konkret sesuai dengan pendapat Piaget, yakni siswa sekolah dasar

yang rata-rata berusia 7 sampai dengan 12 tahun berada pada tahap operasional

konkret. Selama tahap ini siswa mengembangkan konsep dengan menggunakan

benda-benda konkret untuk menyelidiki hubungan dan model-model ide abstrak.

Adapun alat peraga yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah block

pecahan. Block pecahan terbuat dari bahan-bahan yang mudah ditemui di

lingkungan sekitar seperti papan triplek, kertas karton, dsb. Walaupun

dalampembuatannya sedikit rumit, penulis akan berusaha untuk membuatnya

semenarik mungkin agar mendapatkan hasil yang maksimal selama proses

penelitian. Alat peraga block pecahan ini berfungsi untuk memudahkan siswa

mengoperasikan penjumlahan dan pengurangan pecahan, serta pecahan senilai.

Sebagai solusi dalam mengatasi permasalahan mengenai rendahnya kemampuan

representasi matematis siswa, maka peneliti terdorong untukmelakukan penelitian

dengan judul ”Pengaruh Penggunaan Alat Peraga block pechan.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka

dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut :


4

1. Kesulitan siswa saat dihadapkan soal pecahan yakni pada operasi hitung

penjumlahan ataupun pengurangan.

2. Siswa masih sulit merepresentasikan ide matematisnya dalam bentuk gambar

atau model matematis.

3. Kemampuan representasi matematis siswa masih dikesampingkan oleh banyak

guru dikarenakan guru menganggap representasi matematis hanya merupakan

pelengkap pembelajaran saja dan tidak menjanjikan untuk masa depan siswa.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi permasalahan di atas, maka Rumusan

Masalahnya yang di dapat adalah:

1. Apakah ada pengaruh penggunaan alat peraga block pecahan terhadap

kemampuan representasi matematis siswa kelas IV SD negeri srimukti pada

materi operasi hitung pecahan?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan, maka tujuan dari

penelitian ini yaitu :

1. untuk mengetahui pengaruh penggunaan alat peraga roda pecahan terhadap

kemampuan representasi matematis siswa kelas IV SD negeri srimukti pada

materi operasi hitung pecahan.


5

E. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian pada umumnya sejauhmana keberhasilan judul

pengaruh alat peraga block pecahan terhadap represntasi matematis dan sejauh

mana hasil belajar represntasi matematis setelah menggunakan model tersebut

Adapun manfaat penelitian secara khusus, penelitian ini diharapkan

memberi manfaat ;

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan oleh guru agar

meningkatkanketerampilan proses matematis peserta didik dalam

pembelajaran matematika .

2. Manfaat Praktis

a. Bagi guru, memberikan rekomendasi kepada guru sebagai referensi

terkait pengaruh penggunaan alat peraga roda pecahan terhadap

kemampuan representasi matematis siswa.

b. Bagi sekolah, dapat mengadakan perbaikan dalam proses belajar

mengajar khususnya pada pembelajaran matematika, sehingga dapat

meningkatkan kemampuan representasi matematis peserta didik terhadap

materi pembelajarah matematika.

c. Bagi siswa, dengan menggunakan alat perga roda pecahan siswa lebih

dapat mengerti
6

F. Definisi Oprasional

Represntasi matematis merupakan ungkapan-ungkapan dari ide

matematika yang ditampilkan siswa sebagai model atau bentuk pengganti dari

suatu situasi masalah yang digunakan untuk menemukan solusi dari masalah yang

sedang dihadapinya sebagai hasil dari interpretasi pikirannya. Adupun indikator

dari representasi matematis diantaranya:

1. Menyajikan kembali data informasi dari suatu refrentasi ke reprentasi

diagram, grafik atau diagram.

2. Membuat persamaan atau model matematis dari reprentasi lain yang

diberikan.

3. Membuat situasi sebuah masalah berdasarkan atau reprentasi yang diberikan.

4. Menyelesaikan masalah dengan melibatkan ekspresi matematis.

5. Menyelesaikan masalah dengan melibatkan ekspresi matematis.

G. Struktur Organisasi

BAB I terdapat pendahuluan yang di dalamnya berisikan latar blakang,

indetifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan masalah , manfaat penelitian,

definisi oprasional, dan struktur organisasi.

Pada BAB II terdapat kerangka teoritik, krangka berpikir dan hipotesis

penelitian yang didalamnya berisikan penjelasan mengenai pariabel dependen t,

(terkait), variable indeenden (bebas), dan penelitian yang relevan.


7

Pada BAB III berisikan penelitian dan pembahasan yang menjelaskan tentang

hasil penelitian dan pembahasan hasil analisi data. Pada BAB III di jelaskan hasil

analisis penelitian yang telah dilakukan.

Pada BAB IV berisikan tentang kesimpulan dan saran. Pada BAB IV

dijelaskan secara terperinci dengan menekankan keberhasilan eksperimen yang

dilakukan peneliti.Peneliti membuat kesimpilan dan saran setelah melakukan

analisi. Dalam BAB V peneliti menuliskan mesukan dan saran yang dapat

dilakukan oleh guru atau peneliti.


BAB II

KERANGKA TEORITIK, KERANGKA BERPIKIR,

DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Pengertian Kemampuan Representasi Matematis

Hwang (Hwang,et al.,2007:192) menyatakan bahwa representasi bermakna

deskripsi hubungan antara objek dengan simbol. Dalam hal ini representasi

merupakan sesuatu yang melambangkan objek atau proses.

Jainudin (2008:7) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa representasi

matematis merupakan penggambaran, penerjemahan, pengungkapan, penunjukkan

kembali, perlambangan, atau bahkan pemodelan ide, gagasan, konsep matematika,

dan hubungan diantarnya yang termuat dalam suatu konfigurasi, konstruksi, atau

situasi tertentu yang ditampilkan siswa dalam berbagai bentuk. Hal tersebut

dimaksudkan sebagai upaya memperoleh kejelasan makna, menunjukkan

pemahamannya atau mencari solusi yang dari masalah yang dihadapinya.

Nurhayati (2013:17) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa

representasi merupakan cara yang digunakan siswa untuk mengkomunikasikan

ide-ide, gagasan, atau jawaban dari suatu permasalahan. Berdasarkan hal tersebut

representasi matematis berkaitan dengan proses belajar matematika yang terdapat

dalam diri siswa sehingga memunculkan gagasan maupun ide-ide yang berbeda

mengenai materi yang dipelajarinya. Ide-ide yang muncul tersebut selanjutnya

digunakan dalam menyelesaikan suatu permasalahan atau menemukan solusi

pemecahan. Sejalan dengan hal tersebut, Kartini (2009:364) mengungkapkan

8
9

bahwa representasi matematis adalah ungkapan dari ide-ide matematika (masalah,

pernyataan, definisi, dan lain-lain) yang digunakan untuk memperlihatkan

(mengkomunikasikan) hasil kerjanya dengan cara tertentu (cara konvensional atau

tidak konvensional) sebagai hasil interpretasi dari pikirannya.

Berdasarkan uraian tersebut, representasi matematis merupakan ungkapan-

ungkapan dari gagasan-gagasan atau ide-ide matematika yang ditampilkan siswa

dengan obyek, gambar, kata-kata, atau simbol matematika. Hal ini dimaksudkan

sebagai upaya untuk mencari solusi dari masalah matematika yang sedang

dihadapi

Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa representasi

adalah ungkapan-ungkapan dari ide matematika yang ditampilkan siswa sebagai

model atau bentuk pengganti dari suatu situasi masalah yang digunakan untuk

menemukan solusi dari masalah yang sedang dihadapinya sebagai hasil dari

interpretasi pikirannya. Suatu masalah dapat direpresentasikan melalui gambar,

kata-kata (verbal), tabel, benda konkrit, atau simbol matematika. Jenis-jenis

representasi akan dibicarakan lebih lanjut di bagian lain dari tulisan ini.

a. Indikator representasi matematis

1. Menyajikan kembali data informasi dari suatu refrentasi ke reprentasi

diagram, grafik atau diagram.

2. Membuat persamaan atau model matematis dari reprentasi lain yang

diberikan.

3. Membuat situasi sebuah masalah berdasarkan atau reprentasi yang

diberikan.
10

4. Menyelesaikan masalah dengan melibatkan ekspresi matematis.

5. Menyelesaikan masalah dengan melibatkan ekspresi matematis.

B. Alat Peraga Block Pecahan

Pengertian alat peraga menurut pendapat para ahli, yaitu: menurut Sudjana, 2009,

Pengertian Alat Peraga Pendidikan adalah suatu alat yang dapat diserap oleh mata dan

telinga dengan tujuan membantu guru agar proses belajar mengajar siswa lebih efektif

dan efisien. Sama halnya dengan Nasution dalam Maria Ulfah (2014) alat peraga

pendidikan adalah alat pembantu dalam mengajar agar efektif’. Adapun menurut Faizal

dalam Maria Ulfah (2014) Alat Peraga Pendidikan sebagai instrument audio maupun

visual yang digunakan untuk membantu proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan

membangkitkan minat siswa dalam mendalami suatu materi. Hampir sama dengan yang

dikemukakan oleh Amir Hamzah dalam Maria Ulfah (2014) bahwa Alat Peraga

Pendidikan adalah adalah alat-alat yang dapat dilihat dan didengar untuk membuat cara

berkomunikasi menjadi efektif’. Bahkan Sumad, Maria Ulfah (2014), juga

mengemukakan bahwa alat peraga atau AVA adalah alat untuk memberikan pelajaran

atau yang dapat diamati melalui panca indera. Alat peraga merupakan salah satu dari

media pendidikan yaitu alat untuk membantu proses belajar mengajar agar proses

komunikasi dapat berhasil dengan baik dan efektif. Begitu juga dengan pendapat Suhardi

dalam Maria Ulfah (2014) mengenai pengertian alat peraga pendidikan atau Audio-Visual

Aids (AVA) adalah media yang pengajarannya berhubungan dengan indera pendengaran.

Sedangkan menurut Wijaya dan Rusyan dalam Maria Ulfah (2014) yang dimaksud Alat

Peraga Pendidikan adalah media pendidikan berperan sebagai perangsang belajar dan

dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswa tidak menjadi bosan dalam meraih

tujuan-tujuan belajar.
11

Dari uraian-uraian di atas jelaslah bahwa pengertian alat peraga pendidikan

adalah merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan

dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat

mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.

Wijaya dan Rusyan dalam Maria Ulfah (2014) mengatakan beberapa tujuan dan

manfaat alat peraga disebutkan sebagai berikut:

1. Alat peraga pendidikan bertujuan agar proses pendidikan lebih efektif dengan jalan

meningkatkan semangat belajar siswa,

2. Alat peraga pendidikan memungkinkan lebih sesuai dengan perorangan, dimana para

siswa belajar dengan banyak kemungkinan sehingga belajar berlangsung sangat

menyenangkan bagi masing-masing individu,

3. Alat peraga pendidikan memiliki manfaat agar belajar lebih cepat segera bersesuaian

antara kelas dan diluar kelas,

4. Alat peraga memungkinkan mengajar lebih sistematis dan teratur.

Alat peraga pendidikan dimaksudkan agar komunikasi antara guru dan siswa

dalam hal penyampaian pesan, siswa lebih memahami dan mengerti tentang konsep

abstrak matematika yang diinformasikan kepadanya. Siswa yang diajar lebih mudah

memahami materi pelajaran jika ditunjang dengan alat peraga pendidikan.

Belajar bukanlah kegiatan sekali tembak. Proses belajar berlangsung secara

bergelombang. Belajar memerlukan kedekatan dengan materi yang hendak dipelajari,

jauh sebelum bisa memahaminya. Belajar juga memerlukan kedekatan dengan berbagai

macam hal, bukan sekedar pengulangan atau hafalan. Sebagai contoh, pelajaran

Matematika bisa diajarkan dengan media yang konkret, melalui buku-buku latihan, dan

dengan pemraktikan dalam kegiatan sehari-hari.


12

Penggunaan alat peraga sangat penting dalam pembelajaran, karena dapat

memudahkan guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Adapun dalam pembelajaran

Matematika guru dapat menggunakan alat peraga berupa Blok Pecahan. Blok Pecahan

merupakan salah satu alat peraga yang digunakan untuk memudahkan guru dalam

mengajarkan materi pecahan, karena pecahan merupakan salah satu materi pelajaran

matematika yang dinilai siswa merupakan materi yang sulit dimengerti. Pengertian

pecahan itu sendiri adalah sebagian dari sesuatu yang utuh. Dalam ilutrasi gambar, bagian

yang dimaksud adalah bagian yang biasanya ditandai dengan arsiran. Bagian inilah yang

dinamakan pembilang. Adapun bagian yang utuh adalah bagian yang dianggap sebagai

satuan, dan dinamakan penyebut.

Adapun alat peraga yang digunakan berupa blok pecahan. Blok pecahan yang

digunakan dapat dibuat semenarik mungkin agar peserta didik dapat tertarik untuk belajar

pecahan. Adapun cara pembuatan blok pecahan ada 2 cara, yaitu:

1. Dengan menggunakan triplek berwarna

Triplek berwarna digunakan agar semua siswa dapat memperhatikannya dengan

jelas. Selain itu juga guru harus menggunakan triplek yang dicat dengan warna yang

berbeda agar balok berwarna yang dijadikan alat tersebut dapat menarik perhatian siswa.
2 3 4 6
Misalnya dalam membandingkan pecahan 4 , 6 , 8 , 12

1
- Pecahan 2menggunakan triplek yang dicat dengan warna merah.

2
- Pecahan4menggunakan triplek yang dicat dengan warna hijau.
13

3
- Pecahan 6 menggunakan triplek yang dicat dengan warna kuning.

4
- Pecahan 8 menggunakan triplek yang dicat dengan warna biru.

6
- Pecahan menggunakan triplek yang dicat dengan warna ungu.
12

2. Dengan menggunakan karton berwarna

Karton berwarna digunakan agar mudah digunting dan ditempelkan. Selain itu

guru juga harus menggunakan karton dengan warna yang berbeda agar siswa dapat

tertarik untuk belajar pecahan. Cara penerapannya sama seperti triplek berwarna akan

tetapi jika menggunakan kertas berwarna siswa dapat menggunting dan menempelkan

kertas tersebut.

Bilangan pecahan lazim disebut pecahan, maka untuk selanjutnya yang dimaksud

pecahan adalah bilangan pecahan. Alat peraga blok pecahan dapat digunakan untuk

pembelajaran pecahan di kelas III, IV, V, VI SD dalam konsep materi:6


1 1 1 1 1 1 1 1
1) Pecahan2 , 4 , 8 , 3 , 6 , 12 , 5 , 10
14

2) Membandingkan pecahan

3) Pecahan senilai

4) Penjumlahan dan pengurangan pecahan

a. Memperagakan konsep pecahan

• Lingkaran utuh digunakan untuk memperagakan bilangan 1.

• Lingkaran yang dipotong menjadi 2 bagian sama digunakan untuk ½ memperagakan

konsep ½ an. Masing-masing melambangkan 1 dan dibaca setengah/satu

perdua/seperdua. “1” disebut pembilang (merupakan 1 bagian potongan yang

diperhatikan/diambil). “2” disebut penyebut (merupakan banyaknya potongan yang

sama dari yang utuh).


1
• Lingkaran yang dipotong menjadi 4 bagian sama digunakan untuk 4 memperagakan

2
konsep pecahan an. Bila mengambil 2 potong maka 3 disebut 4
(dua per empat) dan

3
bila mengambil 3 potong maka disebut 4(tiga per empat).

1 1 1 1 1 1
• Peragaan dapat dilanjutkan untuk 8an, 3an, 6an,12 an, 5 an, 10an.

b. Memperagakan perbandingan pecahan


1 2
- Membandingkan pecahan yang berpenyebut sama misalkan 4 dengan 4
15

2 2
- Membandingkan pecahan yang pembilang sama misalkan dengan
3 5

c. Memperagakan pecahan senilai

Pecahan senilai dapat diperagakan dengan membandingkan luasnya. Contohnya


12 3 4 6 1 2 3 4 6
potongan pecahan 2,4 , 6 , 8 , 12 luasnya sama. Jadi2 = 4 = 6 = 8 = 12

d. Memperagakan penjumlahan pecahan


1 1 2
- Penjumlahan pecahan yang berpenyebut sama. Contohnya4 + 4 = 4

1 1 1 2 3
- Penjumlahan pecahan yang berpenyebut tidak sama. Contohnya4 + 2 = 4 + 4 = 4
16

e. Memperagakan pengurangan pecahan


3 1 2
- Pengurangan pecahan yang berpenyebut sama. Contohnya4 − 4 = 4

3 1 3 2 1
- Pengurangan pecahan yang berpenyebut tidak sama. Contohnya4 − 2 = 4 − 4 = 4

C. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

Matematika merupakan alat untuk memberikan cara berpikir, menyusun

pemikiran yang jelas, tepat, dan teliti. Belajar matematika bagi para siswa

merupakan alat untuk memahami atau menyampaikan suatu informasi melalui

persamaan-persamaan,atau tabel-tabel dalam pembelajaran matematika.

Menurut arifin (2012, hlm. 181)

“pembelajaran yaitu suatu proses aktivitas interaksi antara siswa


dengan lingkungan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pembelajara”. Selanjutnya menurut hamalik (2012, hlm. 57)
mengemukakan bahwa “pembelajaran adalah suatu kombinasi
yang tersusun meliputi unsure-unsur manusiawi, material, fasilitas,
perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai
tujuan pembelajaran.
17

Dari pendapat yang telah dikemukakan tersebut dapat ditarik

kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses interaksi komunikasi

antara siswa dengan lingkungan pembelajarannya, byang bersifat timbale balik,

baik antara pendidik dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, dan

prosedur yang saling mempengaruhi guna mencapai tujuan pembelajaran. Selain

itu pembelajaran menekankan pada kegiatan belajar siswa yang dirancang oleh

pendidik melelui prosedur dan metode yang telah disesuaikan yang telah minat,

bakat, potensi, dan kebutuhan siswa agar terjadi proses perubahan tingkah laku

yang lebih baik.

Ruseffendi (dalam retnasari,maulana &Julia, 2016,hlm.392) menyatakan

bahwa kegunaan matematika diajarkan di SD yaitu, manusia dapat menyelesaikan

persoalan yang ada dimasyarakat, membantu bidang studi lain. Meningkatkan

kemampuan ruang sehingga berfikir logis dan tepat, memperlihatkan fakta dan

menjelaskan persoalan, penunjang pemakaian alat-alat canggih, serta

terpeliharanya matematika itu sendiri demi peningkatan budaya.

Pada pendidikan dasar, mata pembelajaran matematika merupakan salah

satu mata pembelajaran yang harus dipelajari oleh siswa dengan berpikir. Menurut

suwangsih & tiurlina, (2006, hlm. 3) menyatakan bahwa :

“ matematika berasal dari bahasa latin yakni mathematika yang mulanya


diambil dari bahasa yunani mathenatike yang berarti mempelajari. Bahasa
itu mempunyai asal katanya mathema yang bwerarti pengetahuan atau
ilmu (knowledge, science). Kata mathematike berhubungan pula dengan
kata lainnya yang hamper sama, yaitu mathein atau mathenein yang
artinya belajar(berpikir)”.
18

Adapun menurut hudojo (dalam Hasratuddin,2016, hlm.132) menyatakan

bahwa ‘matematika merupakan ide-ide abstrak yang diberi symbol-simbol serta

tersusun.

D. Materi ajar

Kata pecahan yang berasal dari bahasa Latin fractio yang berarti

memecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau bagian dari keseluruhan.

Bilangan pecahan adalah bilangan yang menyatakan sebagai bilangan pecahan

dari suatu pecahan. Bilangan pecahan memiliki pembilang dan juga penyebut.

Pada bentuk bilangan ini, pembilang dibaca terlebih dahulu baru disusul dengan

penyebut (Sukayati, 2014).

Penulisan lambang pecahan meliputi 2 bagian yaitu pembilang dan

penyebut yang dipisahkan oleh garis lurus (–) dan bukan garis miring (/). Contoh
1 1 1
, , dan seterusnya, bukan 1/2, 1/3, 1/4. Ketika menyebutkan suatu bilangan
2 3 4

pecahan, diantara pembilang dan penyebut harus disisipkan kata "per". Misalkan
3
untuk bilangan maka dapat disebut dengan "tiga per lima" begitu juga dengan
5

1
bilangan 4 dapat disebut "satu per empat" atau "seperempat" (Sukayati, 2014).

1. Sebuah lingkaran dibagi menjadi 2 bagian yang sama luasnya, maka daerah

yang diberi bayang-bayang menyatakan 1 bagian dari 2 bagian atau


1
“setengah” yang diberi lambang “2” dan dibaca “satu per dua” atau

“seperdua” atau “setengah”.


19

2. Sebuah bujur sangkar dibagi menjadi 4 bagian yang sama luasnya, maka

daerah yang diberi bayang-bayang menyatakan 1 bagian dari 4 bagian atau


1
“seperempat” yang diberi lambang “4 ” dan dibaca “satu per empat” atau

“seperempat”.

3. Sebuah bujur sangkar dibagi menjadi 4 bagian yang sama luasnya, maka

daerah yang diberi bayang-bayang menyatakan 2 bagian dari 4 bagian atau


2
“dua per empat” yang diberi lambang “ ”. Terlihat bahwa nilai
4

2 2 1
bilangan 4 sama dengan setengah. Maka 4 dan 2 merupakan dua bilangan yang

ekuivalen atau seharga.


20

Jadi dua pecahan yang ekuivalen adalah dua pecahan yang lambangnya

berbeda tetapi mempunyai nilai pecahan yang sama. Secara umum pecahan
a
dilambangkan sebagai dengan a dan b bilangan bulat dan b ≠ 0. Bilangan
b

pecahan memiliki beberapa macam jenis, diantaranya :

1. Pecahan sederhana

Pecahan sederhana yaitu pecahan yang pembilang dan penyebutnya

merupakan bilangan-bilangan bulat.


2 4 11
Contoh: , , , dst.
3 9 15

2. Pecahan murni

Pecahan murni adalah pecahan yang pembilangnya lebih kecil dari

penyebut.
1 1 3
Contoh: 2, 3, 4, dst.

3. Pecahan tidak murni

Pecahan tidak murni adalah pecahan yang pembilangnya lebih besar

daripada penyebut.
7 12 4
Contoh: 5, 10, 3, dst.

4. Pecahan mesir

Pecahan mesir adalah pecahan yang memiliki pembilang “1”.


21

1 1 1 1
Contoh: 2, 3, 4, 5, dst.

5. Pecahan campuran

Pecahan campuran ialah suatu bilangan yang terbentuk atas bilangan acah

dan pecahan biasa.


1 1 3
Contoh: 4 2, 7 3, 9 4, dst. (Siti Kamsiyati, 2012)

Penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan memerlukan alat peraga

yang lebih canggih dari pada alat peraga yang digunakan untuk bilangan cacah,

sebab dalam hal ini berhubungan dengan pasangan bilangan, penamaan kembali

sehingga penyebutnya sama dan penjumlahan hanya pada pembilangnya.

Pengajaran perlu sama dan penjumlahan hanya pada pembilangnya. Pengajaran

perlu hati-hati untuk menghindarkan murid dari kesalahpahaman, seperti yang


1 1 1+1 2
terjadi pada penjumlahan berikut : 2 + = =
3 2+1 5

Pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan di kelas

rendah, diawali dengan pecahan-pecahan yang penyebutnya sama dan dengan alat

peraga daerah pecahan seperti yang telah diuraikan di muka.

1. Pecahan dengan Penyebut Sama


1 1
Contohnya dalam mencari 3 + , dilakukan dengan kartu bilangan pecahan
3

bentuk persegi panjang (atau juring lingkaran) sebagai berikut :

a. Mengambil kartu bilangan pecahan yang terbagi atas 3 bagian besar


1
dengan 1 daerah terbayang-bayang yang berlabel dan 2 daerah lainnya
3

kosong (putih) sebagai bilangan pecah tertambah


22

1
b. Mengambil 1 potongan daerah yang lepas sebagai penambah kemudian
3

letakkan pada kartu yang pertama tadi di daerah yang masih kosong
2
c. Terlihat bahwa kartu bilangan pecahan menunjukkan 3

1 1 1+1 2
d. Jadi 3 + = =
3 3 3

Cara diatas dapat juga dikerjakan dengan cara menggambar daerah pecahan

berupa persegi panjang.

a. Menggambar daerah persegi panjang dan membagi menjadi 3 bagian yang

sama besar
1
b. Memberikan baying-bayang pada 1 daerah pertiga dan menuliskan label 3.

Daerah baying-bayang sebagai tertambah

c. Memberi bayang-bayang lagi pada 1 daerah pertiga dengan warna yang

berbeda dari yang pertama. Daerah baying-bayang yang kedua sebagai

penambah.
2
d. Hasil terakhir menyatakan jumlah yakni 3

Cara menerangkan tersebut dilakukan beberapa kali dengan bilangan-

bilangan pecahan yang berbeda siswa memahaminya tanpa alat peraga,

dan siswa mengetahui algoritma penjumlahan bilangan pecahan yang

mempunyai algoritma sama, yakni:

𝑎 𝑐 𝑎+𝑐
+ =
𝑏 𝑑 𝑏

Penggunaan alat peraga sifatnya hanya menghantarkan siswa untuk

memahami konsep. Bila siswa telah emahami, maka guru tidak perlu lagi

menggunakan alat peraga


23

2. Pecahan dengan Penyebut Berbeda


1 1
Untuk mencari + 3 dilakukan dengan mengarahkan kepada siswa untuk
2

1 1
mencari lebih dahulu pecahan-pecahan yang ekuivalen dengan dan yang
2 3

keduanya mempunyai penyebut yang sama. Kemudian siswa disuruh

mengerjakannya seperti contoh-contoh yang telah diberikannya.


1 1 3 2 3+2 5
Jadi 2 + 3 = 6 + 6 = =6
6

Untuk lebih memahami algoritma, langkahnya dapat diperpanjang dengan

mengacu pada hukum yang menyatakan bahwa sebuah pecahan tetap

ekuivalen bila pembilang dan penyebut dikalikan denga bilangan yang sama.

Jadi langkah yang akan panjang sebagai berikut :

1 1 1𝑥3 1𝑥2 3 2 3 + 2 5
+ = + = + = =
2 3 2𝑥3 3𝑥2 6 6 6 6

Jika kedua pecahan mempunyai penyebut yang tidak sama dan kedua

penyebut tersebut tidak koprim (FPB kedua penyebut tersebut 1), maka kedua

pecahan dijadikan menjadi pecahan-pecahan yang ekuivalen dengan penyebut

KPK dan kedua penyebut

5 7
+ =⋯
18 27

18 = 2×32

24 = 2×3x4

KPK [18,24] = 2x32x4 = 74

Jadi

5 7 5𝑥4 7𝑥3 20 21 20 + 21 41
+ = + = + = =
18 24 18𝑥4 24𝑥3 74 74 74 74
24

3. Pecahan Campuran

Bila kedua pecahan merupakan pecahan-pecahan campuran maka

penyelesaiannya digunakan hukum komutatif (pertukaran) dan hukum

asosiatif (pengelompokan)

5 7 5 7
23 18 + 31 24 = (23 + 18) + (31 + 24)

5 7
= (23 + 31) + (18 + 24)

20 21
= 54 + (72 + 72)

20+21
= 54 + ( )
72

41
= 54 + 72

41
= 5472

Pada penjumlahan yang hasilnya suatu pecahan tidak murni (pembilang lebih

besar dari penyebut), seyogyanya diubah menjadi pecahan campuran, agar

siswa terbiasa menyerdehanakan bentuk pecahan.

7 7 7
+ + =⋯
8 10 12

8 = 23

10 = 2×5

12 = 22×3

KPK [8,10,12] = 120

7 7 7 7𝑥15 7𝑥12 7𝑥10


+ + = + +
8 10 12 8𝑥15 10𝑥12 12𝑥10

105 84 70
= + +
120 120 120
25

259
120
240 + 19
120

240 19
+
120 120
19
2+
120

19
2
120

4. Sifat Penjumlahan Pecahan

Sifat-sifat penjumlahan bilangan pecahan sama dengan sifat-sifat penjumlahan

pada bilangan bulat, yaitu

a. Sifat Tertutup

Sifat tertutup maksudnya bahwa pada penjumlahan dan pengurangan

pecahan akan selalu menghasilkan bilangan pecahan juga. Hal ini dapat

dituliskan bahwa “untuk setiap bilangan pecahan a dan b, berlaku a + b =

c dengan c juga bilangan pecahan”

Contoh :

3 1 5
+ =
4 2 4

b. Komutatif

Penjumlahan dan pengurangan dua bilangan pecahan selalu diperoleh

hasil yang sama walaupun kedua bilangan tersebut dipertukarkan


26

tempatnya. Hal ini dapat dituliskan bahwa “untuk setiap bilangan pecahan

a dan b, selalu berlaku a + b = b + a”.

Contoh :

3 1 1 3
+ = +
4 2 2 4

c. Asosiatif

Sifat asosiatif (pengelompokan) pada penjumlahan dan pengurangan pada

bilangan pecahan menyatakan bahwa “untuk setiap bilangan pecahan a, b,

dan c, berlaku (a + b) + c = a + (b + c).

Contoh :

3 1 3 1 3 1
2 + = (2 + ) + = 2 + ( + )
4 2 4 2 4 2

d. Unsur Identitas

Bilangan 0 (nol) merupakan unsur identitas pada penjumlahan dan

pengurangan pada bilangan bulat maupun pecahan. Artinya, untuk

sebarang bilangan pecahan apabila ditambah 0 (nol), hasilnya adalah

bilangan pecahan itu sendiri. Hal ini dapat dituliskan bahwa “Untuk

sebarang bilangan pecahan a, selalu berlaku a + 0 = 0 + a = a.

Contoh :

1 1 1
+0= 0+ =
2 2 2

e. Invers

Invers suatu bilangan pecahan artinya lawan dari bilangan pecahan

tersebut. Suatu bilangan dikatakan mempunyai invers jumlah, apabila


27

hasil penjumlahan bilangan tersebut dengan inversnya (lawannya)

merupakan unsur identitas yaitu 0 (nol). Invers dari bilangan pecahan a

adalah bilangan pecahan –a, sedangkan invers dari bilangan pecahan –a

adalah bilangan pecahan a. Dengan kata lain, untuk setiap bilangan

pecahan selain nol pasti mempunyai invers, sedemikian sehingga berlaku

a + (–a) = (–a) + a = 0.

Contoh :

1 1 1 1
+ (− ) = (− ) + = 0
2 2 2 2

1. Pecahan dengan Penyebut Sama


1 1
Contoh lainnya yaitu mencari 3 − = …. dilakukan peragaan dengan
4

kartu bilangan pecahan

a. Mengambil kartu bilangan pecahan yang terbagi atas 4 bagian yang

sama besar dengan 3 daerah terbayang-bayang yang masing-masing


1
daerah 4 sebagai bilangan pecahan terkurang (yang dikurangi)

1
b. Mengambil 1 potongan daerah yang lepas dan berwarna putih
4

sebagai pengurang, kemudian meletakkan pada kartu yang pertama

tadi di daerah yang sudah ada baying-bayangnya, tepat pada satu

daerah bayang bayang

c. Sisa derah terbayang-bayang menunjukkan selisihnya (hasil


2
pengurangnan) yakni 4.

3 1 2
d. Jadi 4 − 4 = 4

Catatan :
28

Cara menerangkan tersebut dilakukan beberapa kali dengan bilangan-

bilangan pecahan yang berbeda siswa memahaminya tanpa alat peraga,

dan siswa mengetahui algoritma penguranga bilangan pecahan yang

mempunyai algoritma sama, yakni:

𝑎 𝑐 𝑎−𝑐
− =
𝑏 𝑑 𝑏

Penggunaan alat peraga sifatnya hanya menghantarkan siswa untuk

memahami konsep. Bila siswa telah emahami, maka guru tidak perlu lagi

menggunakan alat peraga.

2. Pecahan dengan Penyebut Berbeda

Bila penyebut tidak sama, maka harus menyamakan penyebutnya

terlebih dahulu. Yaitu dengan mengacu pada hukum yang menyatakan

bahwa sebuah pecahan tetap ekuivalen bila pembilang dan penyebut

dikalikan denga bilangan yang sama. Jadi langkah yang akan panjang

sebagai berikut

7 3 7𝑥5 3𝑥8 35 24 11
− = − = − =
8 5 8𝑥5 5𝑥8 40 40 40

Jika kedua pecahan mempunyai penyebut yang tidak sama dan kedua

penyebut tersebut tidak koprim (FPB kedua penyebut tersebut 1), maka

kedua pecahan dijadikan menjadi pecahan-pecahan yang ekuivalen

dengan penyebut KPK dan kedua penyebut

7 5
− =⋯
24 18

18 = 2x32
29

24 = 2x3x4

KPK [18,24] = 2x32x4 = 74

Jadi

7 5 7𝑥3 5𝑥4 21 20 21 − 20 1
− = − = − = =
24 18 24𝑥3 18𝑥4 74 74 74 74

3. Pecahan Campuran

Bila kedua pecahan merupakan pecahan-pecahan campuran maka

penyelesaiannya digunakan hukum komutatif (pertukaran) dan hukum

asosiatif (pengelompokan)

1 3 1 3
5 − 2 = (5 + ) + (2 + )
2 4 2 4

1 3
(5 − 2) + ( − )
2 4
1 3
= 3+ 2 − 4

1 3
= 2+1 + 2 − 4

3 1
= 2+1− 4 + 2

4 3 1
= 2+ 4 − 4 + 2

1 1
= 2+4 + 2

1 2
= 2+4 + 4

3
= 24
30

D. Penelitian Relevan

Ada beberapa hasil penelitian terdahulu yang relevan atau berhubungan

dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, diantaranya :

1. Kemampuan representasi matematis siswa kelas IV SD melalui penelitian

matematika realistic pada konsep pecahan dan konsep pecahan senilai. Tesis,

jurusan pendidikan matematika sekolah dasar, program pasca sarjana

universitas negeri malang. Pembimbing: (1) prof. H. akbar sutawidjaja, M.Ed,

Ph.D, (2) dr.cholis sa’dijah, M.Pd,M.A.

2. Kemampuan representasi matematis adalah salah satu standar proses yang

perlu ditumbuhkan dan dimiliki siswa.stanar proses ini hendaknya

disampaikan selama proses belajar matematika. Karakteristik pendidikan

matematika realistic (PMR) berpotensi dapat membelajarkan siswa

menciptakan dan menggunakan representasi

3. Ismiati nur halimah, Djaelani, jenny Is Purwanti dalam penelitian untuk

meningkatkan kemampuan penjumlahan bilangan pecahan sederhana melalui

penggunaan media blok pecahan. Bentuk penelitian ini adalah penelitian

tindakan kelas yang terdiri dari tiga siklus, dalam tiap siklus terdapat

perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data

menggunakan observasi, tes, dokumentasi, dan wawancara. Teknik analisis

data menggunakan taknik analisis model interaktif, meliputi reduksi data,

sajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Kesimpulannya adalah

penggunaan media blok pecahan dapat meningkatkan kemampuan

menjumlahkan bilangan pecahan sederhana.


31

4. Yusfika Octavia dalam penelitiannya menyatakan Hasil belajar siswa

merupakan indikator keberhasilan pembelajaran di kelas. Namun hasil belajar

yang diharapkan masih kurang maksimal, hal ini disebabkan oleh proses

pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah tanpa penggunaan

media pembelajaran untuk mengkonkretkan materi yang diajarkan. Oleh

karena itu penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan media

blok pecahan untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi

pengurangan pecahan pada siswa sekolah dasar. Metode penelitian yang

digunakan adalah metode penelitian deskriptif kuantitatif. Data penelitian

diperoleh dari observasi dan tes hasil belajar yang digunakan untuk

mengetahui hasil belajar siswa dan presentase aktivitas guru dan siswa. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara

hasil belajar dengan menggunakan media blok pecahan pada materi

pengurangan pecahan dengan pembelajaran yang tidak menggunakan media

blok pecahan. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan

menggunakan media blok pecahan dapat meningkatkan hasil belajar siswa

pada materi pengurangan pecahan di sekolah dasar.

Berdasarkan beberapa penelitian diatas bahwa media pembelajaran

mempengaruhi representasi matematis siswa sekolah dasar.


32

E. Kerangka Berpikir

Berdasakan pemaparan teori diatas maka kerangka pemikiran dari

penelitian ini adalah sebagai berikut :

Representasi merupakan cara


Blok Pecahan merupakan yang digunakan seseorang
salah satu alat peraga yang untuk mengkomunikasikan
digunakan untuk jawaban atau gagasan
memudahkan guru dalam matematik yang
mengajarkan materi bersangkutan (Cai, Lane, &
pecahan, Jacabcsin dalam Fadillah).

Gambar 2.1Kerangka Berpikir

Dilihat dari kerangka berpikir diatas dapat ketahui bahwa represntasi

matematis dapat diselesaikan dengan alat peraga block pecahan guna

mengkomunikasikan jawaban gagasan matematikyang bersangkutan.

F. Hipotesis penelitian

Bedasarkan yang telah dipaparkan maka hipotensis tindakan dalam

penelitian ini yaitu sangat berpengaruh terhadap pembelanjaran keterampilan

matematik dan siswa pun menjadi lebih paham tentang pembelajaran matematika

siswa kelas V SDN Srimukti yaitu sebagai berikut:

Dengn menerapkan alat peraga blok pecahan dapat meningkatkan materi

tentang pengaruh block pecahan pada pelajaran matematika siswa kelas V SDN

Srimukti.
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pengertian Eksperimen (kuasi eksperimen)

Untuk mencapai tujuan dari penelitian ini maka penulis menggunakan

quasi eskperiment. Quasi eksperiment didefinisikan sebagai eskperimen yang

memiliki perlakuan, pengukuran dampak, unit eksperimen namun tidak

menggunakan penugasan acak untuk menciptakan perbandingan dalam rangka

menyimpulkan perubahan yang disebabkan perlakuan (Cook & Campbell, 1979).

Latipun (2002) mengemukakan bahwa penelitian eksperimen merupakan

penelitian yang dilakukan dengan melakukan manipulasi yang bertujuan untuk

mengetahui akibat manipulasi terhadap perilaku individu yang diamati.

B. Design penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah desain pretest-posttest yaitu desain

yang menggunakan paling sedikit dua kelas, satu kelas sebagai kelas eksperimen

dan satu lagi sebagai kelas kontrol yang diambil secara acak dengan melakukan

tes awal dan tes akhir.

Desain penelitiannya adalah:

O X O

O - O

Gambar 3.1 Desai Penelitain

33
34

Keterangan:

O = Tes awal dan tes akhir

X = Perlakuan khusus kelas eksperimen

= Pemilihan sampel random

C. Lokasi, populasi dan sample

1. Lokasi

Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SDN Srimukti, yang beralamat

di Jl. Pramuka, Kelurahan Sukamelang, Kab. Subang, posisi sekolah ini

sebelah utara berbatasan dengan kantor kelurahan sukamelang, sebelah

selatan berbatasan dengan sawah, sebelah timur berbatasan dengan rumah

warga, dan sebelah barat berbatasan dengan rumah warga. Secara geografis

SDN Srimukti ini sangat strategis dan mudah untuk dijangkau, karena lokasi

sekolah dekat dengan jalan raya dan pemukim warga. Tempat dipilih karena

peneliti dan sekolah memiliki hubungan baik sehingga hal tersebut

memudahkan peneliti untuk melakukan pengamatan.

2. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan (universum) dari objek peneltian

yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, gejala, nilai,

peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya (Arikunjto , 2013:40). Pendapat

Hadari Nawawi (1983) mengatakan bahwa populasi ialah keseluruhan dari

objek penelitian yang terdiri atas manusia, hewan, benda-benda, tumbuh-

tumbuhan, peristiwa, gejala-gejala, ataupun nilai tes sebagai sumber data


35

yang mempunyai karaktersitik tertentu dalam suatu penelitian yang

dilakukan. Berdasarkan pendapat diatas, populasi dari penelitian ini adalah

seluruh siswa kelas V SD negeri srimukti kecamatan subang kabupaten

subang sebanyak 48.

3. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi terjangkau yang memiliki sifat

yang sama dengan populasi.setelah melakukan penelusuran sesuai dengan

tujuan dan maksud penelitian (Nana Sudjana dan Ibrahim, 2004: 85)

menyatakan bahwa , maka peneliti menetapkan yang menjdi sample

penelitian adalah sebanyak 23siswa kelas V A SD negeri srimukti. Dengan

jumlah sample V A berjumlah 23 siswa, maka:

No. Kelas jumlah Tempat

1 V 22siswa SD negeri srimukti

D. Prosedur penelitian

Sesuai dengan model penelitian ini yang menggunakan Quesi Eksperiman

maka langkah-langkah eksperimen quesi, adalah sebagai berikut :

1 Melakukan tinjauan karya tulis, terutama yang berhubungan dengan masalah

yang akan di teliti.

2 Mengidetifikasi dan membatasi masalah penelitian.

3 Merumuskan hipotesis-hipotesis penelitian.

4 Menyusun rencana eksperimen, yang biasnya mencakup.


36

5 Melakukan pengumpulan data tahap mertama.

6 Melakukan pengumpulan data tahap pertama (pretest).

7 Melakukan eksperimen.

8 Mengumpulkan data tahap ke dua (postest).

E. Teknik pengumpulan data

a. Tes

Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu

tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau

sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau

prestasi anak tersebut, yang dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai

oleh anak-nak lain atau standar yang ditetapkan.

b. Non test

non tes adalah sebagai teknik penilaian yang dilakukan tanpa menggunakan

tes, teknik ini dilakukan lewat pengamatan secara teliti dan tanpa menguji

peserta didik.

F. Instrument penelitian

instrumen penelitian merupakan alat bantu yang dipilih & digunakan oleh

peneliti dalam melakukan kegiatannya untuk mengumpulkan data agar kegiatan

tersebut menjadi sistematis & dipermudah olehnya.


37

Tabel 3.1 Insrumen Penelitian

Jumlah
No Indikator Pemahaman Indikator Pembelajaran
Soal
1 1
Menyajikan kembali data Memodelkan masalah
informasi dari suatu refrentasi kehidupan sehari-hari yang
ke reprentasi diagram, grafik berkaitan dengan pecahan
atau diagram. kedalam bentuk gambar
pecahan
2 2
Membuat persamaan atau Siswa membuat
model matematis dari persamaan pecahan dari
reprentasi lain yang diberikan repreesentasi yang diberikan.
3 3
Membuat situasi sebuah Menganalisis masalah
masalah berdasarkan atau berdasarkan representasi
reprentasi yang diberikan. gambar diagram lingkaran
4 4
Menyelesaikan masalah Menyelesaikan soal
dengan melibatkan ekspresi perjumlahan pecahan.
matematis.
5 5
Menyelesaikan masalah Menyelesaikan soal sehari-hari
dengan melibatkan ekspresi yang berkaitan dengan
matemati. perjumlahan pecahan.

G. Proses Pembangunan Instrumen

Data yang diperoleh dari hasil uji coba kemudian diolah dengan untuk

mengetahui validitas, reliabilitas, indeks kesukaran dan daya pembeda dari

instrumen tersebut.

1. Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan

atau kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 2013). Sebuah tes dikatakan valid

apabila mampu mengukur apa yang hendak diukur. Dalam bahasa Indonesia

“valid” disebut dengan istilah “sahih”. Ada dua jenis validitas untuk
38

instrumen penelitian, yaitu validitas logis (logical validity) dan validitas

empirik (empirical validity).

a. Validitas Logis (Logical Validity)

Arikunto (2013: 80) menyatakan “validitas logis untuk sebuah

instrument evaluasi menunjuk pada kondisi bagi instrumen yang

memenuhi persyaratan valid berdasarkan penalaran”. Pengujian validitas

logis dilakukan dengan cara menilai kesesuaian butir-butir soal dengan

kriteria dan kisi-kisi soal yang telah dibuat berdasarkan silabus oleh

penilai ahli. Pengujian validitas logis dilakukan oleh penilai ahli yaitu

dosen pembimbing, yaitu Dr. H. Fery Muhamad Firdaus, M. Pd.

b. Validitas Empiris (Empirical Validity)

Sebuah instrumen dapat dikatakan memiliki validitas empirik

apabila sudah diuji dari pengalaman (Arikunto, 2013: 81). Dari pendapat

tersebut dapat disimpulkan bahwa instrumen dikatakan memiliki validitas

apabila sudah diuji dari pengalaman, yaitu melalui sebuah uji coba.

Dalam hal ini, peneliti membuat 5 soal untuk selanjutnya diujicobakan di

SD Negeri Srimukti.

Adapun untuk mencari koefisien validitas adalah dengan menggunakan

rumus kolerasi produk momen memakai angka kasar (raw score), sebagai

berikut:

𝑛 ∑ 𝑥𝑦 − (∑ 𝑥)(∑ 𝑦)
𝑟𝑥𝑦 =
√𝑛 ∑ 𝑥 2 − (∑ 𝑥)2 (𝑛 ∑ 𝑦 2 − (∑ 𝑦)2 )
39

Keterangan :

𝑟𝑥𝑦 = Koefisien korelasi variabel x dan y

𝑛 = Banyak subyek

𝑥 = Nilai tes uji coba

𝑦 = Nilai total

(Nurhasan, 2007: 73)

Dalam menentukan valid tidaknya sebuah butir soal tes dilakukan dengan

pendekatan uji sigifikasi, yaitu jika t-hitung lebih besar atau sama dengan t-

tabel maka pernyataan tersebut dapat digunakan sebagai alat ukur

pengumpulan data. Tetapi jika sebaliknya t-hitung lebih kecil daripada t-tabel

maka pernyataan tersebut tidak dapat dijadikan sebagai alat ukur pengmpulan

data.

Tabel 3.2

Kategori Tingkat Validitas

Skor Kategori Validitas


0,01-0,19 Validitas sangat rendah
0,20-0,39 Validitas rendah
0,40-0,69 Validitas sedang/cukup
0,70-0,99 Validitas tinggi
0,90-1,00 Validitas sangat tinggi

Untuk rtabel dari n=21 siswa dengan taraf signifikasi 5% adalah sebesar

0,433. Sedangkan untuk hsil uji coba pada 21 siswa keals IV B dapat dilihat

pada tabel di bawah ini:


40

Tabel 3.3

Hasil uji validitas

No Skor Keterangan
1. 0.658276 VLD
2. -0.03681 TVLD
3. 0.496853 VLD
4. 0.629192 VLD
5. -0.04134 TVLD

Dari hasil uji validitas 5 soal di atas maka didapat 3 soal yang valid (

nomor 1,3,4) dan 2 soal tidak valid (nomor 2,5). Artinya yang dapat di jadikan

alat pengumpulan data penelitian (instrument) adalah sebanyak 3 soal.

2. Uji Reliabitilas

Nur (Matondang, 2009: 93) menyatakan bahwa reliabilitas ukuran

menyangkut seberapa jauh skor deviasi individu, atau skor-z, relatif

konsisten apabila dilakukan pengulangan pengadministrasian dengan tes

yang sama atau tes yang ekivalen.

Azwar (Matondang, 2009: 93) menyatakan bahwa reliabilitas

merupakan salah-satu ciri atau karakter utama instrumen pengukuran yang

baik. Arifin (dalam Matondang, 2009: 93) menyatakan bahwa suatu tes

dikatakan reliabel jika selalu memberikan hasil yang sama bila diteskan

pada kelompok yang sama pada waktu atau kesempatan yang berbeda. Tes

realibilitas ini akan memberikan hasil yang tetap, jika tes tersebut
41

diberikan pada kesempatan lainnya maka hasilnya akan relatif sama dan

tetap.

Untuk mengetahui reliabilitas instrumen, penulis melakukan

pendakatan sebagai berikut:

a) Menggunakan korelasi product moment

𝑛 ∑ 𝑥𝑦−(∑ 𝑥)(∑ 𝑦)
rxy =
√{𝑛 ∑ 𝑥 2 −(∑ 𝑥)2 }{𝑛 ∑ 𝑦 2 −(∑ 𝑦)2 }

Keterangan:

rxy : Koefisien korelasi yang dicari

xy : Jumlah perkalian antara skor x dan y

x2 : Jumlah skor x yang dikuadratkan

y2 : Jumlah skor y yang dikuadratkan

n : Banyaknya peserta tes

(Nurhasan, 2007: 73)

b) Menggunakan rumus Spearman Brown


2𝑟𝑥𝑦
rii = 1+𝑟
𝑥𝑦

(Nurhasan, 2007: 73)

Keterangan:

rii : Koefisien korelasi yang dicari

rxy : Koefisien korelasi yang dicari

1 : Angka tetap

2 : Angka tetap
42

Jika harga rii > r tabel maka dikatakan tes tersebut reliable. (Nurhasan,

2007: 75) Besar koefisien reliabilitas diinterpretasikan untuk menyatakan

kriteria reliabilitas. Kriterianya adalah sebagai berikut:

Tabel 3.4

Uji reliabilitas

Jumlah siswa Reliabilitas Kualitas

23 1.986 Korelasi sempurna

3. Uji Daya Pembeda

Arikunto (2013) menyatakan bahwa daya beda adalah kemampuan

suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan

tinggi) dengan siswa yang kurang (berkemampuan rendah).

Menurut Anastasi dan Urbina (dalam Solichin, 2017: 198), daya

beda berhubungan dengan derajad kemampuan butir membedakan dengan

baik prilaku pengambil tes dalam tes yang dikembangkan. Soal dapat

dikatakan mempunyai daya pembeda jika soal tersebut dapat dijawab oleh

siswa berkemampuan tinggi dan tidak dapat dijawab oleh siswa

berkemampuan rendah. Jika suatu soal dapat dijawab oleh siswa pintar

maupun kurang, berarti soal tersebut tidak mempunyai daya beda,

demikian juga jika soal tersebut tidak dapat dijawab oleh siswa pintar dan

siswa kurang, berarti soal tersebut tidak baik sebab tidak mempunyai daya

pembeda.
43

Menguji daya pebeda setiap butir bentuk objektif digunakan rumus

dan klarifikasi seperti berikut ini:


𝐵𝐴 𝐵𝐵
DP = - = PA - PB
𝐽𝐴 𝐽𝐵

(Nurhasan, 2007: 217)

Keterangan:

DP : Baya Pembeda

BA : Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal benar

BB : Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal benar

JA : Banyaknya peserta kelompok atas

JB : Banyaknya peserta kelompok bawah

PA : Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar

PA : Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Tabel 3.5

Klasifikasi Daya Pembeda

Nilai D Keterangan
0,00 – 0,20 Jelek
0,20 – 0,40 Cukup
0,40 – 0,70 Baik
0,70 – 1,00 Baik Sekali
Negatif Semuanya Tidak Baik
(Nurhasan, 2009: 218)

Berdasarkan hasil uji daya pembeda didapat hasil sebagai berikut:


44

Tabel 3.6

Hasil Uji Daya Pembeda

No. Indeks Daya


Keterangan
Soal Beda
1 0.285714286 Sangat baik
2 0 Sangat jelek
3 0.714285714 Sangat baik
4 1.57142857 Sangat baik
5 -0.142857143 Sangat baik

Dari hasil uji daya pembeda 5 soal di atas, maka didapat 5 soal

semuanya mempunyai kategori “sangat baik”.

4. Uji Tingkat Kesukaran

Menurut Arikunto (2017: 168) bilangan yang menunjukkan sukar dan

mudahnya sesuatu soal d isebut indeks kesukaran (Arikunto, 2007). Adapun

rumus indeks kesukaran adalah sebagai berikut:

𝐵
P = 𝐽𝑆

Keterangan:

P = Indeks kesukaran butir soal

B = Banyaknya siswa yang menjawab soal dengan benar

JS = Jumlah siswa peserta tes

(Nurhasan, 2007: 219)

Batas-batas tingkat kesukaran ini dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
45

Tabel 3.7

Klasifikasi Indeks Kesukaran

Indeks Kesukaran (P) Kategori Soal


0,01 – 0,03 Soal Sukar
0,30 – 0,70 Soal Sedang
0,70 – 1,00 Soal Mudah
(Nurhasan, 2007: 219)

Setelah dilakukan uji kesukaran butir soal, maka didapat hasil sebagai

berikut:

Tabel 3.8

Hasil Perhitungan Indeks Kesukaran

Indeks
No. Soal Kategori
Kesukaran
1 0.029922 SKR
2 -0.00167 SKR
3 0.022584 SKR
4 0.0286 SKR
5 -0.00188 SKR

Dari 5 soal tersebut, setelah dilakukan uji kesukaran, semua soal

memiliki sukar (Nurhasan, 2007: 209) “soal yang baik adalah soal yang

tidak terlalu mudah, dan tidak terlalu sukar.


DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Arifin, Zainal. 2012. Penenlitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru.


Bandung: Remaja Rosda Karya.

Arikunto, Suharsimi. 2007. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2013. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2017. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Cook, T. D., Campbell, D. T., & Day, A. (1979). Quasi-experimentation: Design.


& analysis issues for field settings (Vol. 351). Boston:

Handri Nawawi (1983). Pengertian populasi [online]. Tersedia pada : Heruman. (


2007). Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung :
Remaja Rosdakarya.

Hasratuddin. 2013. Membangun Karakter Melalui Pembelajaran Matematika.


Jurnal Pendidikan Matematika PARADIKMA, Volume 6 No. 2

Heruman, 2007, Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung :


PT. Remaja Rosdakarya

Hwang, et al. (2007). Multiple Representation Skills and Creativity Effects on


Mathematical Problem Solving using a Multimedia Whiteboard System.
Educational Technology & Society, Vol 10 No 2, pp. 191-212.

Jainudin, Rinto. 2008. Peningkatan Pemahaman Siswa Pada Pokok Bahasan


Bangun Ruang Sisi Lengkung Melalui Metode PAIKEM Matematika.
Skripsi : UMS

John A. Van De Walle, Matematika Sekolah Dasar dan Menengah


Pengembangan Pengajaran (Jilid 2). (Jakarta : Erlangga,200\8), h.35

Jones & Knuth, 1991, , e-journal program pascasarjana universitas pendidikan


ganesha program studi matematika, kontribusi kemampuan koneksi,
kemampuan representasi, dan disposisi matematis terhadap prestasi belajar
matematika siswa sma swasta di kabupaten manggarai, volume 2 tahun
2013

Kartini. 2009. Peranan Representasi dalam Pembelajaran Matematika. Prosiding


seminar nasional.

46
47

Latipun. 2002. Psikologi Eksperimen. Malang: UMM Press.Nana Sudjana dan


Ibrahim (2004

Maria Ulfah. 2014. Penggunaan Alat Peraga ”Blok Pecahan”


Dalam Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas Iii Sdn Cakung
Barat 04 Pagi. Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Matondang dkk, 2009, Diognosis Fisik Pada Anak, Jakarta: Sagung Seto

Melvin L. Silberman, 2011, Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif,
(Bandung: Nusamedia dan Nuansa, 2011), Cet. IV, h.27

Nurhasan H & Cholil H, (2007). Modul Tes dan Pengukuran Keolahragaan.


Bandung: Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Universitas
Pendidikan Indonesia

Nurhayati, M. (2013). Profitabilitas, Likuiditas, dan Ukuran Perusahaan


Pengaruhnya Terhadap Kebijakan Dividen dan Nilai Perusahaan Sektor
Non Jasa. Jurnal Keuangan dan Bisnis, Vol. 5, No. 2.

Oemar Hamalik. 2012. Manajemen Pengembangan Kurikulum.. Bandung:


Remaja Rosdakarya

Pape & Tchoshanov (dalam Luitel, 2001), jurnal : Reprentasi Pada Pembelajaran
MAtematika, JPM IAIN Antasari Vol. 01 No. 2 Januari – Juni 2014, h. 33-
44

Sudjana, Nana dan Ibrahim.(2004).Penelitian Dan Penilaian Pendidikan, Bandung


: Sinar Baru Algensindo.

Suwangsih, Erna dan Tiurlina. 2006. Model Pembelajaran Matematika. UPI.


Press. Bandung

Wijaya, Cece & Tabrani Rusyan.1994. Kemampuan Guru Dalam Proses Belajar.
Mengajar. Bandung: Remaja rosdakarya

SUMBER LAIN

Fairuzelsaid, Pengertian dan Tujuan Alat Peraga Pendidikan, dari


http://fairuzelsaid. wordpress.com /2011/05/24/pengertian-dan-tujuan-alat-
peraga-pendidikan/, diunduh 30 Oktober 2013, 19.10 WIB

Fairuzelsaid, Pengertian dan Tujuan Alat Peraga Pendidikan, dari


http://fairuzelsaid. wordpress.com /2011/05/24/pengertian-dan-tujuan-alat-
peraga-pendidikan/, diunduh 30 Oktober 2013, 19.10 WIB
48

Rudi Ashari, dkk, Belajar Matematika, http://mediako9.blogspot.com/2012/05/


pengertian-pecahan-dan-pemahamankonsep.html, diunduh 30 Oktober
2013, 19.27 WIB.

Sukayati, dkk. Pemanfaatan Alat Peraga Matematika Dalam Pembelajaran Di Sd.


http://mgmpmatsatapmalang.files.wordpress.com/2011/10/9pemanfaatanal
atperagamatematikadala mpembelajaransd.pdf Diunduh 30 Oktober 2013,
19.48 WIB. Diakses pada tanggal 16 april 2018.
49

LAMPIRAN 1

No Indikator Pemahaman Indikator Pembelajaran Bentuk Soal Kunci Jawaban

soal

1. Menyajikan kembali data Memodelkan masalah Uraian Siswa A= 10% siswa 40 x 10 = 4 siswa

informasi dari suatu kehidupan sehari-hari mengengikuti eskul renang 40% 100

refrentasi ke reprentasi yang berkaitan dengan siswa mengikuti eskul pramuka 40 x 40 = 16 siswa

diagram, grafik atau pecahan kedalam bentuk 30% siswa mengikuti eskul 100

diagram. gambar pecahan paskibra sisanya tidak mengikuti 40 x 30 = 12 siswa

eskul apapun. 100

Berapakah banyak siswa yang = 4+16+12 = 32

tidak mengikuti eskul ? buatkan = 40 – 32 = 8 siswa

dalam bentuk diagram lingkaran


50

2. Membuat persamaan atau Siswa membuat Uraian 2/3 kg – 1/3 kg + ¼ kg = 2/3 -1/3 + ¼

model matematis dari persamaan pecahan dari Jumlahkan lah bagian yang di = 8/12 – 6/12 + 3/12

reprentasi lain yang repreesentasi yang arsir berikut ini ? =8–6+3

diberikan diberikan. 12

- = 5/12

3. Membuat situasi sebuah Menganalisis masalah Uraian Diketahui :

masalah berdasarkan atau berdasarkan representasi Total siswa : 42 siswa

reprentasi yang diberikan. gambar diagram lingkaran Eskul Basket : 10 siswa

Ket : Eskul bola : 5 siswa


51

Oranye : Basket Eskul silat : 10 siswa

kuning : Bola Dinyatakan :

Biru : Silat Siswa yang tidak mengikuti

Merah : ? eskul ?

Jika banyak siswa yang Rumus :

mengikuti kegiatan exskul yang Jumlah data yang ditanyakan =

di bentuk dalam diagram total jumlah data – total data

lingkaran seperti diatas . yang dikrtahui

Bera jumlah siswa yang tidak Siswa yang tidak mengikuti

mengikuti eskul sama sekali ? eskul = total siswa-(eskul

basket+eskul bola+eskul solat)

= 42-(10+5+10)

=42 – 25

= 17
52

Jadi siswa yang tidak ikut eskul

sama sekali adalah 17 siswa

4. Menyelesaikan masalah Menyelesaikan soal Uraian Untuk membuat celana panjang 1 celana panjang = 11/9 meter

dengan melibatkan perjumlahan pecahan. di perlukan 11/9 meter kain, kain

ekspresi matematis. sedangkan untuk membuat 2 celena panjang = 2 x 11/9= 2x

kemeja lengan pendek di 10/9 = 20/9 meter kain

perlukan kain sebanyak 1 ½ 1 kemeja lengan pendek = 1 ½

meter. meter kain

Berapa meter kain yang 2 kemeja lengan pendek = 2 x 1

diperlukan untuk membuat 2 ½ = 2 x 3/2 = 3 meter kain

celana panjang dan 2 kemeja 2 celana panjang + 2 kemeja

lengan pendek ? lengan pendek = 20/9 + 3 = 20/9

+ 3/1 = 20/9 + 27/9 = 47/9 =

52/9
53

Jadi kain yang di perlukan kan

adalah sebanyak 52/9 meter.

5. Menyelesaikan masalah Menyelesaikan soal Uraian Penghasilan Pak Galih sebesar Diket :

dengan melibatkan sehari-hari yang berkaitan Rp 1.200.000 per bulan. Pak Penghasilan = 1.200.000

ekspresi matemati. dengan perjumlahan Galih penyisikan 2,5% untuk Zakat = 2,5%

pecahan. Zakat. Sebesar 1/5 dari Ibu = 1/5

penghasilannya di gunakan Pajak = 0,1

untuk diberikan kepada ibunya,

sebesar 0,1 dari penghasilan di Zakat = 1.200.000 x 2,5/100

potong untuk pajak penghasilan. = 30.000

Berapa jumlah sisa uang Pak Ibu = 1.200.000 x 1/5

galih yang per bulan ? = 240.000

Pajak = 1.200.000 x 0,1


54

= 120.000

Maka sisa uang pak galih adalah

=1.200.000-30.000-240.000-

120.000

= 810.000
55

LAMPIRAN 2

DATA UJI VADILITAS SOAL REPRENTASI MTEMATIS

NAMMA
NO SISWA 1 2 3 4 5 skor
1 gandis 2 2 1 0 2 7
2 bagas 2 2 1 1 2 8
3 amelia 2 2 0 1 1 6
4 tia 2 2 0 1 1 6
5 habil 2 0 2 0 2 6
6 rifka 2 2 2 2 0 8
7 zalfa 2 2 2 2 0 8
8 sandi 2 0 2 2 2 8
9 nabil 2 2 2 0 1 7
10 rian 2 2 0 2 0 6
11 mutia 2 1 2 0 1 6
12 iqbar 2 2 2 2 0 8
13 haykal 2 2 2 2 0 8
14 fariza 2 2 2 0 0 6
15 nabila 2 2 2 0 0 6
16 amanda 2 2 2 0 0 6
17 afinda 2 2 0 2 0 6
18 bagas 0 2 0 0 1 3
19 wina 2 2 2 0 0 6
20 siti 2 2 2 2 0 8
21 zahra 2 2 2 2 0 8
22 sifa 2 2 2 0 0 6
JUMLAH
SKOR 42 39 32 21 13 147
- -
VALIDITAS 0.658276 0.03681 0.496853 0.629192 0.04134 1
VLD TVLD VLD VLD TVLD VLD
56

Instrumen soal yang sudah valid

NAMMA
NO SISWA 1 3 4
1 gandis 2 1 0
2 bagas 2 1 1
3 amelia 2 0 1
4 tia 2 0 1
5 habil 2 2 0
6 rifka 2 2 2
7 zalfa 2 2 2
8 sandi 2 2 2
9 nabil 2 2 0
10 rian 2 0 2
11 mutia 2 2 0
12 iqbar 2 2 2
13 haykal 2 2 2
14 fariza 2 2 0
15 nabila 2 2 0
16 amanda 2 2 0
17 afinda 2 0 2
18 bagas 0 0 0
19 wina 2 2 0
20 siti 2 2 2
21 zahra 2 2 2
22 sifa 2 2 0
JUMLAH SKOR 42 32 21
VALIDITAS 0.658276 0.496853 0.629192
VLD VLD VLD
57

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : Sekolah Dasar


Mata Pelajaran : matematika
Kelas / Semester : IV (Empat) / 2 (dua )
Pokok Bahasan : Pecahan
Alokasi Waktu : 2 X 35 menit

A. Standar Kompetensi
6.menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah.
B. Kompetensi Dasar
6.3 menjumlahkan pecahan .
C. Indikator
1. Menjelaskan konsep pecahan
2. Menjumlah pecahan berpenyebut sama
3. Menggunakan penjumlahan pecahan berpenyebut sama dalam
kehidupan sehari-hari
D. Tujuan pembelajaran
1. siswa dapat menjelaskan konsep pecahan dengan benar.
2. siswa dapat menjumlahkan 2 pecahan berpenyebut sama dengan tepat.
3. siswa dapat menarapkan konsep penjumlahan pecahan berpenyebut
sama dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.
E. Materi Ajar
(Terlampir)
F. Model, Metode, Media, dan Sumber
1. Model : Problem Based Learning (PBL)
2. Metode : Ceramah, diskusi, tanya jawab, dan penugasan
3. Media : Buku dan Gambar
4. Alat peraga : block pecahan ( roti, pisau, selai )
G. Pengorganisasian Kelas
Kelompok
58

H. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran


Kegiatan Pendahuluan ( 10 menit)
 Guru menyapa siswa.
 Guru mengkondisikan kelas dan memimpin doa.
 Guru mengabsen kehadiran siswa.
 Guru menyiapkan media pembelajaran yang diperlukan.
KegiatanInti (50 menit)
Indikator Perilaku Guru Perilaku Siswa
Memberikan  Guru menjelaskan tujuan  Siswamenyimakpenjel
orientasi pembelajaran. asan guru.
tentang  Guru memotivasi siswa untuk  Siswabernyanyibersa
permasalahan terlibat dalam aktivitas ma guru.
nya kepada pembelajaran.
siswa.  Guru menyampaikan masalah  Siswamemperhatikana
yang harus di pecahkan siswa pa yang disampaikan
bersama kelompoknya. guru.
Mengorganisa  Guru meminta siswa  Siswa bergabung
sikan siswa bergabung dengan dengan kelompoknya.
untuk kelompoknya masing-
meneliti. masing.
 Guru membagi tugas pada  Siswa dan
setiap kelompok untuk kelompoknya
menyelesaikan permasalahan. menyusun strategi
penyelesaian
permasalahannya.
Membimbing  Guru mendorong siswa untuk  Siswa mencari tau atas
penyelidikan mengumpulkan informasi permasalahan yang
individu yang dibutuhkan. dihadapi.
maupun  Guru meminta siswa untuk  Siswa
kelompok. mengidentifikasikan mengidentifikasi
59

permasalahan pada soal. permasalahan yang


harus di pecahkan.
 Guru meminta siswa untuk  Siswa mencari dan
mencari dan mencatat data- mencatat data-data
data atau informasi yang atau informasi yang
terdapat pada soal. dibutuhkan untuk
menyelesaikan
masalah.
 Guru meminta siswa untuk  Siswa menyeleaikan
mengerjakan soal dan masalah yang
menyelesaikan permasalahan diberikan guru.
yang sudah diberikan guru.
Mengembang  Guru membantu siswa dalam  Siswa menyusun dan
kan dan merencanakan dan mempresentasikan
menyajikan menyiapkan laporan. hasil.
hasil.
Menganalisis  Guru membantu siswa untuk  Siswa menyelesaikan
dan melakukan refleksi atau lembar tes dan
mengevaluasi evaluasi terhadap proses dan menyerahkan tugas-
proses dan hasil penyelidikan yang tugas sebagai bahan
hasil mereka lakukan. evaluasi proses
pemecahan belajar.
masalah.
Kegiatan Penutup (10 menit)
 Guru bertanya kepada siswa mengenai hal-hal yang belum dipahami.
 Guru menyampaikan rencana pembelajaran yang akan datang.
 Guru membagikan reward kepada kelompok dan siswa yang aktif bertanya
dan menyampaikan pendapat.
 Guru menutup pembelajaran.
60

I Sumber : Ayo Belajar Matematika Untuk SD dan MI Kelas IV. Penerbit


Pusat Perbukuan Depdiknas.

J Evaluasi
1. Prosedur tes : Tes proses dan tes hasil
2. Jenis tes : Tulisan
3. Alat tes : Lembar kerja individu
4. Instrumen penilaian tes akhir (individu)
Rumus :
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟
Hasil evaluasi = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑜𝑎𝑙

 Instrumenpenilaian proses

Tanggung
No NamaKelompok Disiplin Jujur
Jawab
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1
2
3
4
5

KeterKKeterangan :
4 = Jika empat indikator terlihat.
3 = Jika tiga indikator terlihat.
2 = Jika dua indikator terlihat.
1 = Jika satu indikator terlihat.
Indikator Penilaian :
Disiplin
a. Tertib mengikuti instruksi
b. Mengerjakan tugas tepat waktu
c. Tidak melakukan kegiatan yang diminta
61

d. Tidak membuat kondisi kelas tidak kondusif


Tanggung Jawab
a. Pelaksanaan tugas secara teratur
b. Berperan aktif dalam kegiatan diskusi kelompok
c. mengerjakan tugas sesuai yang dikerjakan
d. Merapikan kembali ruang, alat dan peralatan belajar yang telah
dipergunakan
Jujur
a. Menyampaikan sesuatu berdasarkan keadaan yang sebenarnya
b. Tidak menutupi kesalahan yang terjadi
c. Tidak mencontek atau melihat pekerjaan orang lain
d. Mencantumkan sumber belajar yang dipelajari

Mengetahui Guru Mata Pelajaran


Kepala Sekolah
62

LEMBAR KERJA SISWA (LKS)

Hari/Tanggal :

Nama Kelompok :

1. Apa yang dimaksud dengan pecahan?


2. 6
⁄15 + 8⁄15 = ...
3. 16
⁄25 + 3⁄25 + 4⁄25 = ....
4. Ahmad, Beno, dan Cepot harus menyelesaikan suatu proyek dalam jangka
waktu yang sudah ditentukan. Oleh karena itu, pekerjaan tersebut akan
dibagi menurut kemampuan masing-masing. Ahmad
menyelesaikan 3/8 bagian, Beno menyelesaikan 1/4 bagian, dan Cepot
menyelesaikan 15/40 bagian. Tentukan jumlah bagian yang dikerjakan oleh:
a) Ahmad dan Beno
b) Ahmad dan Cepot
c) Beno dan Cepot

Anda mungkin juga menyukai