Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA

Pembimbing :

dr. Radian Tunjung Baroto, Sp.B

Disusun Oleh :
KEVIN JONATHAN
(406172069)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
TARUMANAGARA
RSUD KOTA SEMARANG
PERIODE 19 Maret – 26 Mei 2018
LEMBAR PENGESAHAN

Diajukan untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik dan melengkapi salah satu
syarat menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter di bagian Ilmu Bedah Rumah Sakit
Umum Daerah K.R.M.T. Wongonegoro periode 19 Maret – 26 Mei 2018

Nama : Kevin Jonathan

NIM : 406172069

Fakultas : Kedokteran

Universitas : Universitas Tarumanagara

Bidang Pendidikan : Ilmu Bedah

Periode Kepaniteraan Klinik : 19 Maret – 26 Mei 2018

Judul : BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA

Pembimbing : dr. Radian Tunjung Baroto, Sp.B

Telah diperiksa dan disahkan tanggal : 4 Mei 2018

Pembimbing,

dr. Radian Tunjung Baroto, Sp.B

Universitas Tarumanagara 2
STATUS ILMU BEDAH
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SEMARANG
Nama Mahasiswa : Kevin Jonathan

NIM : 406172069

Dokter Pembimbing : dr. Radian Tunjung Baroto, Sp.B

Tanggal : 4 Mei 2018

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. Badri Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 70 Tahun Suku Bangsa : Jawa
Status Perkawinan : Cerai Mati Agama : Islam
Pekerjaan : Pensiunan Penjaga SD Pendidikan : SD
Alamat : Jl. Kauman II,
Tgl Masuk RS : 2 Mei 2018
Mranggen

II. ANAMNESIS
Dilakukan autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 3 Mei 2018 pukul
07:30 WIB di bangsal Nakula 1 dan di dukung dengan rekam medis pasien
di RSUD K.R.M.T.Wongsonegoro.
A. Keluhan Utama
Tidak bisa BAK
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Tn. Badri berumur 70 tahun datang ke Poli Bedah Umum RSUD
KRMT Wongsonegoro Semarang pada tanggal 7 April 2018 dengan
keluhan tidak dapat buang air kecil. pasien sudah tidak dapat
membuang air kecil sejak pagi hari sehingga ia menuju ke RSUD
KRMT Wongsonegoro untuk mendapatkan penanganan. Sebelumnya
pasien sudah mengalami buang air kecil yang tersendat sejak 3 bulan
yang lalu yang membuat pasien harus mengedan untuk membuang air
kecil, yang semakin lama keluhan menjadi semakin berat. Setelah
selesai membuang air kecil, terkadang pasien mengeluhkan bahwa

Universitas Tarumanagara 3
seakan belum selesai membuang air kecil. Pasien juga sering kali
terbangun pada malam hari dikarenakan kebelet untuk membuang air
kecil. Pasien juga mengeluhkan membuang air kecil yang sakit sudah
sejak bulan maret. Pasien juga mengeluhkan adanya benjolan pada
lipat paha kiri sejak 5 tahun yang lalu, hilang timbul. Benjolan
tersebut muncul terutama saat pasien mengedan saat BAB,
mengangkat galon, dan juga saat mengedan untuk BAK, dan benjolan
tersebut dapat masuk kembali apabila pasien tiduran ataupun pasien
sering kali memasukkan benjolan tersebut sendiri dengan tangannya.

C. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien memiliki riwayat penyakit hernia pada lipat paha kanan dan
sudah dioperasi 25 tahun yang lalu. Riwayat keluhan dalam buang air
kecil serupa disangkal. Riwayat penyakit gula atau kencing manis
disangkal. Riwayat penyakit darah tinggi disangkal. Pasien tidak
mempunyai asma dan tidak ada alergi. Riwayat penyakit batuk lama
disangkal pasien.

D. Riwayat Kebiasaan
Pasien makan 2-3 kali sehari dengan nasi dan lauk pauk seperti
tempe dan tahu. Pasien menyukai sayuran bayam. Sehabis makan,
pasien suka untuk menkonsumsi buah terutama pepaya dan pisang.
Pasien menyukai minum air putih.

E. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat keluarga dengan keluhan serupa tidak diketahui oleh
pasien. Riwayat penyakit gula atau kencing manis di keluarga
disangkal. Riwayat alergi di keluarga disangkal. Riwayat penyakit
kanker pada keluarga disangkal.

Universitas Tarumanagara 4
F. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien merupakan seorang pensiunan penjaga SD, tinggal bersama
anaknya yang ketiga. Biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS NON
PBI

III. PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan fisik dilakukan di Bangsal Nakula 1 RSUD KRMT
Wongsonegoro pada tanggal 3 Mei 2018, jam 07.45 WIB

A. Status Generalis
 Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
 Kesadaran : Compos mentis
 Tanda Vital
- Tekanan darah : 130/80 mmHg
- Nadi : 78 kali/menit
- Suhu : 36,5C
- Pernapasan : 18 kali/menit
 Antropometri
- Berat Badan : 57 kg
- Tinggi Badan : 158 cm
BB 57
- BMI = = = 22,8
TB2 1,582

Interpretasi berdasarkan BMI adalah Normal

 Kepala
Mesocephal, rambut berwarna hitam keputihan, tidak mudah dicabut,
kulit kepala tidak ada kelainan.
 Mata
Bentuk simetris, pupil ODS bulat, isokor, refleks cahaya (+/+),
konjungtiva anemis (-/-),

Universitas Tarumanagara 5
 Hidung
Bentuk normal, sekret (-/-), deviasi septum (-).
 Telinga
Normotia, discharge (-/-).
 Mulut
Lidah tidak ada kelainan, uvula di tengah, faring tidak hiperemis
 Leher
Pembesaran KGB (-)
 Thorax
a. Paru
o Inspeksi: bentuk normal, simetris saat statis dan dinamis,
o Palpasi: stem fremitus sama kuat pada seluruh lapang paru
o Perkusi: sonor pada seluruh lapang paru
o Auskultasi : suara napas vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing
(-/-)
b. Jantung
o Inspeksi : pulsasi iktus kordis tidak tampak
o Palpasi : iktus kordis teraba
o Perkusi :
Batas atas jantung di ICS II midclavicula line sinistra
Batas kanan jantung sejajar ICS IV parasternal line dextra
Batas kiri jantung di ICS V midclavicula line sinistra .
Batas Apek di ICS V Linea axillaris anterior
Auskultasi : bunyi jantung I/II regular, murmur (-), gallop (-)
 Abdomen
o Inspeksi : datar, sikatrik (-), massa (-),striae (-), hernia (-), perut distensi
(-)
o Auskultasi : bising usus (N)
o Palpasi : supel, defens muscular (-)
o Perkusi : timpani di seluruh kuadran abdomen
 Kulit : Tidak tampak kelainan
 Kelenjar Getah Bening : Tidak teraba membesar

Universitas Tarumanagara 6
 Genitalia : dalam batas normal. Tidak ada sekret, tidak
berbau, tidak ada ulkus, tidak ada vegetasi
 Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik
B. Status Lokalis
1. Regio Inguinalis Dextra
- Inspeksi : terdapat benjolan dengan ukuran 5 cm x 5 cm.
batas atas benjolan tidak jelas. Kemerahan (-). Warna sesuai warna
kulit.
- Palpasi : Nyeri tekan (-), Benjolan teraba kenyal, Silk Glove Test
(+). Dapat dimasukkan

2. Ginjal pada regio costovertebral

- Inspeksi : dalam batas normal


- Palpasi : ballottement (-); nyeri tekan (-)
- Perkusi : Nyeri Ketuk (-)

3. Vesical urinaria pada regio suprapubic

- Inspeksi : tidak terlihat distensi bladder


- Palpasi : teraba buli; nyeri tekan (-)
- Perkusi : Nyeri Ketuk (-)

4. Uretra/OUE pada regio genitalis eksterna

- Inspeksi : tidak terlihat adanya batu pada OUE. tanda radang


(-); darah (-); nanah (-)

5. Rectal Touche

- Tonus Sphincter Ani baik, teraba prostat pada lobus lateralis namun
sulcus medianus prostat tidak teraba. Prostat teraba permukaan licin,
kecil, Nyeri Tekan (-). Feses (-), Darah (-)

Universitas Tarumanagara 7
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Laboratorium (30 April 2018)

HEMATOLOGI Hasil Satuan Nilai Normal


Hemoglobin 15,2 g/dl 13,2 – 17,3
Hematokrit 44,9 % 40 - 52
Jumlah leukosit 5,8 /uL 3,8 - 10,6
Jumlah trombosit 300 /uL 150 - 400
Kimia klinik
GDS 78 mg/dL 70 - 115

B. Laboratorium (3 Mei 2018)

Kimia Klinik
Ureum 25,3 mg/dl 17.0 - 43.0
Creatinin 1,0 mg/dl 0.6 – 1,1
Natrium 138 mmol/L 135,0 – 147,0
Kalium 4,10 mmol/L 3,50 – 5,0
Calsium 1,27 mmol/L 1,12 – 1,32
Imunologi
HBsAg Negatif Negatif
Hematologi
BT 03'00''
CT 08'30''

Universitas Tarumanagara 8
C. X Foto Thorax AP

Cor : Batas jantung kiri bergeser ke lateral


Apek jantung tertanam
Elongasi Aorta (+)
Pulmo : Corakan bronchobesikuler meningkat
Tampak sedikit bercak2 disertai kalsifikasi dilap. atas paru kiri
Diafragma dan sinus costophrenikus baik.
Kesan :
- Cor : Cardiomegali (LVH)
- Elongasio aorta (hipertensi)
- Sedikit infiltrat disertai kalsifikasi dan fibrosis di paru sinistra

Universitas Tarumanagara 9
D. USG ABDOMEN
Kesan :
Prostat membesar, volume 42cm3, tak tampak kalsifikasi didalamnya
Tak tampak kelainan lainnya dan pada organ intraabdomen pada sonografi
abdoimen diatas

V. RESUME

Telah diperiksa seorang pasien yang bernama Tn. Badri berumur


70 tahun datang ke Poli Bedah Umum RSUD KRMT Wongsonegoro
Semarang pada tanggal 7 April 2018 dengan keluhan tidak dapat buang air
kecil. pasien sudah tidak dapat membuang air kecil sejak pagi hari
sehingga ia menuju ke RSUD KRMT Wongsonegoro untuk mendapatkan
penanganan. Sebelumnya pasien sudah mengalami buang air kecil yang
tersendat sejak 3 bulan yang lalu yang membuat pasien harus mengedan
untuk membuang air kecil, yang semakin lama keluhan menjadi semakin
berat. Setelah selesai membuang air kecil, terkadang pasien mengeluhkan
bahwa seakan belum selesai membuang air kecil. Pasien juga sering kali
terbangun pada malam hari dikarenakan kebelet untuk membuang air
kecil. Pasien juga mengeluhkan membuang air kecil yang sakit sudah
sejak bulan maret. Pasien juga mengeluhkan adanya benjolan pada lipat
paha kiri sejak 5 tahun yang lalu, hilang timbul. Benjolan tersebut muncul
terutama saat pasien mengedan saat BAB, mengangkat galon, dan juga
saat mengedan untuk BAK, dan benjolan tersebut dapat masuk kembali
apabila pasien tiduran ataupun pasien sering kali memasukkan benjolan
tersebut sendiri dengan tangannya. Pasien sebelumnya pernah terdiagnosis
hernia pada sisi kanan namun sudah dioperasi 25 tahun yang lalu.
Pada pemeriksaan fisik regio inguinalis sinistra terdapat benjolan
dengan ukuran 5 cm x 5 cm. batas atas benjolan tidak jelas. Benjolan
teraba kenyal, Silk Glove Test (+), Dapat dimasukkan. Pada Rectal
Touche teraba lobus lateralis prostat permukaannya licin, kenyal, nyeri
tekan (-), sulcus medianus prostat tidak teraba. Pada pemeriksaan

Universitas Tarumanagara 10
penunjang USG didapatkan pembesaran prostat dengan ukuran 42 cm3,
tidak dapat kalsifikasi didalamnya.

IPSS :
1. incomplete emptying : pasien sering kali merasa bahwa layaknya
belum selesai BAK setelah berkemih. Namun hal tersebut tidak terjadi
setiap kali : Score 4
2. Frequency : Dalam 2 jam pasien merasa sering memiliki
keinginan untuk berkemih. Bahkan pasien pernah berkemih 3x dalam
waktu 2 jam. Namun hal tersebut tidak terjadi setiap waktu : Score 4
3. Intermittency : Ketika pasien berkemih. terkadang pasien
mengatakan ia berhenti berkemih walaupun tak diinginkannya, lalu pasien
mencoba mengedan untuk memulainya kembali. hal tersebut terjadi tidak
terlalu sering : Score 3
4. Urgency : pasien sering kali merasa sangat kebelet untuk
berkemih. walapun sebelumnya sudah berkemih dalam jangvka waktu
yang tidak lama. : Score 4
5. Weak Stream : pasien mengatakan pancaran air kemihnya agak
lemah. membuat pasien harus mengedan lebih agar BAK arusnya menjadi
lebih kuat. hal tersebut hampir terjadi setiap waktu namun ada saat dimana
hal tersebut tidak terjadi : Score 4
6. Straning : Pasien mengatakan ia beberapa kali mengedan untuk
memulai berkemih. hal tersebut dapat terjadi sekitar stengah dari total
urinasi dalam sehari : Score 3
7. Nocturia : Pasien mengatakan ia pernah 3x terbangun pada
malam hari dikarenakan kebelet untuk berkemih : Score 3

IPSS SCORE : 26 (SEVERE)

Quality of life : Pasien merasa sangat tidak ingin (tidak bahagia)


apabila pasien harus menjalani hidupnya dengan keluhan yang ia hadapi :
Score 5

Universitas Tarumanagara 11
VI. DAFTAR MASALAH
 Diagnosa Kerja
Benign Prostatic Hyperplasia + Retentio Urine

 Diagnosis Tambahan
- Hernia Medialis Sinistra

1. PENGKAJIAN
a. Clinical Reasoning
Telah diperiksa seorang pasien yang bernama Tn. Badri berumur
70 tahun datang ke Poli Bedah Umum RSUD KRMT Wongsonegoro
Semarang pada tanggal 7 April 2018 dengan keluhan tidak dapat buang
air kecil. pasien sudah tidak dapat membuang air kecil sejak pagi hari
sehingga ia menuju ke RSUD KRMT Wongsonegoro untuk
mendapatkan penanganan. Sebelumnya pasien sudah mengalami buang
air kecil yang tersendat sejak 3 bulan yang lalu yang membuat pasien
harus mengedan untuk membuang air kecil, yang semakin lama keluhan
menjadi semakin berat. Setelah selesai membuang air kecil, terkadang
pasien mengeluhkan bahwa seakan belum selesai membuang air kecil.
Pasien juga sering kali terbangun pada malam hari dikarenakan kebelet
untuk membuang air kecil. Pasien juga mengeluhkan membuang air
kecil yang sakit sudah sejak bulan maret. Pasien juga mengeluhkan
adanya benjolan pada lipat paha kiri sejak 5 tahun yang lalu, hilang
timbul. Benjolan tersebut muncul terutama saat pasien mengedan saat
BAB, mengangkat galon, dan juga saat mengedan untuk BAK, dan
benjolan tersebut dapat masuk kembali apabila pasien tiduran ataupun
pasien sering kali memasukkan benjolan tersebut sendiri dengan
tangannya. Pasien sebelumnya pernah terdiagnosis hernia pada sisi
kanan namun sudah dioperasi 25 tahun yang lalu.
Pada pemeriksaan fisik regio inguinalis sinistra terdapat benjolan
dengan ukuran 5 cm x 5 cm. batas atas benjolan tidak jelas. Benjolan
teraba kenyal, Silk Glove Test (+), Dapat dimasukkan. Pada Rectal Touche

Universitas Tarumanagara 12
teraba lobus lateralis prostat permukaannya licin, kenyal, nyeri tekan (-),
sulcus medianus prostat tidak teraba. Pada pemeriksaan penunjang USG
didapatkan pembesaran prostat dengan ukuran 42 cm3, tidak dapat
kalsifikasi didalamnya.

b. Diagnosis Banding
- Urinary Tract infection
- Urolithiasis
- Prostat Cancer
c. Rencana Diagnostic :
- Urinalysis
- PSA
- Transrectal USG
d. Rencana Terapi Farmakologis
- Infus RL 30tpm
- Pemasangan Kateter
- Inj. Dexketoprofen.
- Ciprofloxacin 400 mg (1 jam pre op)
e. Rencana Terapi Non-farmakologi
- Mengubah pola hidup
- Mengurangi makan makanan protein
- Berkemih dengan posisi duduk
f. Rencana Operatif
- Prostatectomy
g. Rencana Evaluasi
- Mengevaluasi keluhan pasien
- Mengevaluasi penyembuhan luka
- Mengevaluasi infeksi pada luka
- Melakukan pemeriksaan laboratorium darah pasien
h. Edukasi

Universitas Tarumanagara 13
- menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang definisi dari
penyakit, tatalaksana dan prognosis terhadap penyakit Benign
Prostatic Hyperplasia.
- Minum air yang banyak
- Mengedukasi bahwa apabila terdapat darah di air kemih, dapat
langsung menghubungi tenaga kesehatan
VII. KOMPLIKASI
- Urinary Tract infection
- Bladder Stones secondary to bladder outlet obstruction
- Hematuria
VIII. PROGNOSIS
- Ad vitam : dubia ad bonam
- Ad functionam : dubia ad bonam
- Ad sanationam : ad bonam

IX. KESIMPULAN
Seseorang yang bernama Tn. Badri berumur 70 tahun datang ke Poli
Bedah Umum RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang pada tanggal 7 April
2018 dengan keluhan tidak dapat buang air kecil. pasien sudah tidak dapat
membuang air kecil sejak pagi hari sehingga ia menuju ke RSUD KRMT
Wongsonegoro untuk mendapatkan penanganan. Sebelumnya pasien sudah
mengalami buang air kecil yang tersendat sejak 3 bulan yang lalu yang
membuat pasien harus mengedan untuk membuang air kecil, yang semakin
lama keluhan menjadi semakin berat. Setelah selesai membuang air kecil,
terkadang pasien mengeluhkan bahwa seakan belum selesai membuang air
kecil. Pasien juga sering kali terbangun pada malam hari dikarenakan kebelet
untuk membuang air kecil. Pasien juga mengeluhkan membuang air kecil
yang sakit sudah sejak bulan maret. Pasien juga mengeluhkan adanya benjolan
pada lipat paha kiri sejak 5 tahun yang lalu, hilang timbul. Benjolan tersebut
muncul terutama saat pasien mengedan saat BAB, mengangkat galon, dan
juga saat mengedan untuk BAK, dan benjolan tersebut dapat masuk kembali
apabila pasien tiduran ataupun pasien sering kali memasukkan benjolan

Universitas Tarumanagara 14
tersebut sendiri dengan tangannya. Pasien sebelumnya pernah terdiagnosis
hernia pada sisi kanan namun sudah dioperasi 25 tahun yang lalu.
Pada pemeriksaan fisik regio inguinalis sinistra terdapat benjolan
dengan ukuran 5 cm x 5 cm. batas atas benjolan tidak jelas. Benjolan
teraba kenyal, Silk Glove Test (+), Dapat dimasukkan. Pada Rectal Touche
teraba lobus lateralis prostat permukaannya licin, kenyal, nyeri tekan (-),
sulcus medianus prostat tidak teraba. Pada pemeriksaan penunjang USG
didapatkan pembesaran prostat dengan ukuran 42 cm3, tidak dapat
kalsifikasi didalamnya.

Universitas Tarumanagara 15
1. Jelaskan pengertian Watchful waiting dalam BPH!
Watchful waiting dapat menajdi alternative sebagai kontrol dalam mild
BPH. watchful waiting diartikan sebagai memonitor gejala yag ditimbulkan
dari BPH dan juga dapat mengubah gaya hidup layaknya diet dan posisi
berkemih. Dokter atau klinisi akan memonitor gejala dari BPH secara
periodik, untuk dilihat apakah gejala BPH tersebut stabil, atau memburuk
untuk merencanakan terapi selanjutnya. (1)
Dalam mengubah gaya hidup, diet mengambil andil yang cukup penting.
beberapa penelitian mengungkapkan bahwa konsumsi butter, margarine,
tinggi lemak dan tinggi kandungan protein hewani dapat meningkatkan resiko
terjadinya BPH. Untuk diet dalam BPH dapat menkonsumsi makanan yang
rendah lemak, tidak minum kopi dan teh, jangan minum air terlalu banyak
sebelum tidur malam, makan sayur yang lebih banyak, dan makan makanan
me gandung tinggi vit C dan Zinc. Penelitian juga mengungkapkan bahwa
metabolic syndrome juga akan meningkatkan resiko daripada BPH.(2,3) Dan
penelitian lain juga mengungkapkan bahwa posisi berkemih layaknya duduk
akan lebih baik pada pasien dengan gejala lower urinary tract symptom
dibandingkan dengan berdiri. Posisi duduk dalam berkemih akan mengurangi
volume residual dalam buli setelah berkemih, Meningkatkan arus urinasi
maksimum, dan mengurangi jumlah total waktu urinasi.(4) Sehingga pasien
dengan BPH akan lebih baik untuk mengurangi makan makanan tinggi protein
hewani, banyak berolahraga, dan juga dapat mengubah posisi dalam berkemih.

2. Jelaskan Terapi  Blocker pada BPH!

 blocker dapat menajdi terapi pada BPH. pada BPH, yang mengalami
hyperplasia terutama adalah stromal dan epithelial. Sebagian dari stromal
hyperplasia terdiri dari otot polos. selama puluhan tahun, telah diasumsikan
bahbwa BPH terjadi karena makenisme statis dan dinamis. Obstruksi dinamis
disebabkan karena hyperplasi otot polos yang menyebabkan sumbatan
fungsional. Marco caine pada tahun 1975 menunjukkan bahwa prostate
manusia dapat berkontraksi sebagai respon terhadap norephinephrine.
Kontraksi yang disebabkan oleh norephinephrine dapat diinhibisi sebelumnya

Universitas Tarumanagara 16
dengan phenoxybenzamikne, non selective inhibitor dari  adrenoceptor.
Penelitian ini mengungkapkan bahwa  adfenoceptor sebagai mediator dari
kontraksi otot polos prostate. Lepor dan Shapiro merupakan investigator
pertama untuk mengkarakterisasi 1 dan 2 adrenoceptor pada prostate
manusia menggunakan pengikagtan radioligand. penelitian tersebut
mengungkapkan bahwa 1 adrenoceptor -lah yang memediasi kontraksi otot
daripada prostat. obat-obat alpha blocker kerja panjang yang biasa
digunakkan dalam terapi BPH adalah terazosin, doxasozin, tamsulosin,
alfuzosin.(5)

3. Jelaskan bagaimana terjadinya erectile dysfunction post


prostatectomy!
Ketika adanya stimulasi seksual, nitric oxide (NO) dilepaskan dari nervus
cavernous, meningkatkan darah teroksigenasi ke penis. Gaya vascular dan
sinusoidal pada endotelium menyebabkan pelepasan nitric oxide synthase (eNOS)
dari endotelial sel. Mekanisme tersebut crucial dalam terjadinya ereksi sebelum
terjadinya intercourse. Kurangnya oksigenasi jaringan menyebabkan menurunnya
produksi dari NO, dan menyebabkan inhibisi terhadap pelepasan prostaglandin.
Hal tersebut penting dalam proteksi otot halus lewat inhibisi dari akumulasi
substansi profibrotic (seperti collagen I dan III). hipoksia yang berkepanjangan
akan menyebabkan penimbukan jaringan ikat, yang pada akhirnya akan
menggantikan otot halus trabekular yang elastis. Perubahan fibrotik ini akan
mempersulit penis untuk ereksi. Prostatectomy dapat menyebabkan hal tersebut
terjadi melalui mekanisme yang disebut dengan neuropraxia. Pada prostatectomy,
disfungsi erectile disebabkan oleh cedera pada pelvic nerve plexus yang termasuk
didalamnya pelvic splanchnic nerve yang menginnervasi saraf otonom pada
corpora cavernous. Secara hipotesis, hal tersebut karena trauma langsung ketika
operasi, kerusakan thermal yang diakibatkan oleh electrocauter, iskemi nervus
cavernosus akibat vascular injury (misalkan acessory pudendal arteries), dan efek
dari inflamasi lokal akibat tindakan prosedur tersebut.(6) (7)

Universitas Tarumanagara 17
4. Jelaskan bagaimana terjadinya hematuria pada BPH!
Hematuria sekunder karena benign prostatic hyperplasia dapat terjadi
karena vascular kelenjar itu sendiri atau karena pertumbuhan baru dari
vascular prostat. Insidensi hematuria dikarenakan BPH mencapai 20%. Proses
hiperplastik meningkatkan sel asinar, proliferasi sel stromal, meningkatkan
vaskularisasi, dengan demikian dapat terjadi perdarahan. Foley dan Bailey
mendeskripsikan peningkatan neovaskularisasi di uretra pars prostatika - yang
makan terletak dekat dengan permukaan mukosa suburothelial connective
tissue - dengan mengasses pembuluh darah mikro dari spesimen yang didapat
saat prosedur Transurethral Resection of the Prostate (TURP). Peningkatan
vaskularisasi inilah yang dipercaya dapat menyebabkan perdarahan.(8,9)

5. Jelaskan bagaimana terjadinya diverticula VU pada BPH!


Bladder diverticula merupakan terjadinya kantong keluar dari dinding
bladder. Diverticula bladder dapat terjadi karena kongenital ataupun didapat.
Bladder diverticula yang didapat biasa terjadi sekunder karena adanya
sumbatan pada jalan keluar dari bladder seperti yang terjadi akibat BPH.
Akibat sumbatan pada "bladder outlet" yang terjadi pada BPH, menyebabkan
tekanan intravesikal meningkat. Mukosa daripada kandung kemih diproteksi
dari herniasi ketika terjadi tekanan intravesikal yang cukup kuat oleh 3 lapisan
otot. Lapisan otot longitudinal paling luar mempunyai tenunan besar yang
longgar, begitu pula lapisan otot longitudinal paling dalam; lapisan otot tengah
sirkuler mempunyai tenunan yang sempit dan bundel yang kecil. Namun pada
beberapa tempat pada dinding bladder, ditemukkan bahwa sering kali ada
jaringan ikat longgar, sehingga pada saat terjadi peningkatan intravesical,
mukosa dari vesical dapat protrusi melewati lokasi tersebut sehingga
menimbulkan saccule yang kemudian akan menjadi diverticulum.(10,11)
6. Jelaskan bagaimana terjadinya bladder stone pada BPH!
Bladder calculi atau batu buli pada orang tua dihubungkan dengan adanya
sumbatan pada jalan keluar buli yang biasa disebabkan oleh BPH. Tetapi,

Universitas Tarumanagara 18
terdapat juga faktor sistemik dalam terjadinya dalam patogenesis terbentuknya
batu. Batu buli diassosiasikan terutama dengan sumbatan jalan keluar pada
buli, augmentasi buli, diverticula buli, infeksi saluran kemih, neurogenic
bladder, atau adanya beda asing dalam buli. BPH dapat meningkatkan volume
residual post void akibat pengosongan buli yang buruk yang kemudian
menginduksi terjadinya infeksi saluran kemih bawah yang terjadi akibat
bakteri oportunistik. Hal tersebut dapat menjadi faktor utama dalam
pembentukkan batu (lithogenesis). Hal tersebut dapat membuat deposisi
daripada cystalline kecil di urin, yang kemudian akan menjadi pusat formasi
daripada batu buli.(12,13)

Universitas Tarumanagara 19
DAFTAR PUSTAKA
1. Publishing HH. Watchful waiting can do the job of BPH medications for some
men, from the November 2013 Harvard Men’s Health Watch [Internet].
Harvard Health. [cited 2018 May 6]. Available from:
https://www.health.harvard.edu/press_releases/watchful-waiting-can-do-the-
job-of-bph-medications-for-some-men

2. Suzuki S, Platz EA, Kawachi I, Willett WC, Giovannucci E. Intakes of energy


and macronutrients and the risk of benign prostatic hyperplasia. Am J Clin
Nutr. 2002 Apr;75(4):689–97.

3. Gacci M, Corona G, Vignozzi L, Salvi M, Serni S, De Nunzio C, et al.


Metabolic syndrome and benign prostatic enlargement: a systematic review
and meta-analysis. BJU Int. 2015 Jan;115(1):24–31.

4. de Jong Y, Pinckaers JHFM, ten Brinck RM, Lycklama à Nijeholt AAB,


Dekkers OM. Urinating Standing versus Sitting: Position Is of Influence in
Men with Prostate Enlargement. A Systematic Review and Meta-Analysis.
PLoS ONE [Internet]. 2014 Jul 22;9(7). Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4106761/

5. Lepor H. Alpha Blockers for the Treatment of Benign Prostatic Hyperplasia.


Rev Urol. 2007;9(4):181–90.

6. Saleh A, Abboudi H, Ghazal-Aswad M, Mayer EK, Vale JA. Management of


erectile dysfunction post-radical prostatectomy. Res Rep Urol. 2015 Feb
23;7:19–33.

7. Walsh PC, Donker PJ. Impotence Following Radical Prostatectomy: Insight


into Etiology and Prevention. J Urol. 2017 Feb 1;197(2):S165–70.

8. Foley SJ, Bailey DM. Microvessel density in prostatic hyperplasia. BJU Int.
2000 Jan;85(1):70–3.

9. Vasdev N, Kumar A, Veeratterapillay R, Thorpe AC. Hematuria Secondary to


Benign Prostatic Hyperplasia: Retrospective Analysis of 166 Men Identified
in a Single One Stop Hematuria Clinic. Curr Urol. 2013 Jan;6(3):146–9.

Universitas Tarumanagara 20
10. shakeri S, Rasekhi A, Yazdani M, Kheradpezhouh E. The incidence of
diverticula of urinary bladder in patients with benign prostatic hypertrophy
and the comparison between cystoscopy and cystography in detecting bladder
diverticula. Iran Red Crescent Med J. 2007;9(1):36–41.

11. Rose DK. THE PATHOGENESIS OF BLADDER DIVERTICULA. Arch


Surg. 1927 Feb 1;14(2):554–65.

12. Huang W, Cao J-J, Cao M, Wu H-S, Yang Y-Y, Xu Z-M, et al. Risk factors
for bladder calculi in patients with benign prostatic hyperplasia. Medicine
(Baltimore) [Internet]. 2017 Aug 11;96(32). Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5556223/

13. Shah HN. Benign Prostate Hyperplasia and Bladder Stones: An Update. Curr
Bladder Dysfunct Rep. 2013 Sep 1;8(3):250–60.

Universitas Tarumanagara 21