Anda di halaman 1dari 23

Tugas Makalah

PERENCANAAN BENDUNGAN SUBAIM SP 4 KEC.WASILE SELATAN

KABUPATEN HALMAHERA TIMUR

OLEH :

NAMA : LOWANDI HADI

NPM : 121052220115021

RUANG : A

FAKULTAS TEKNIK

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALUKU UTARA

(UMMU) TERNATE
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk
maupun pedoman bagi pembaca

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk
maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca
untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar belakang
1.2.Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah
1.3.Tujuan

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Waduk atau Bendungan


2.2 Pola Operasi Waduk
2.3 Daerah Aliran Sungai
2.4 Koefisien Pengaliran DAS
2.5 Evaporasi
2.6 Debit Andalan
BAB III PEMBAHASAN

3.1 Pegertian dan maksud irigasi


3.2 Sistem irigasi di indonesia
3.3 Saluran Pembuang
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Bendungan adalah sebuah bangunan air yang berfungsi sebagai penangkap
air dan menyimpannya di musim penghujan waktu air sungai mengalir
dalam jumlah besar. Waduk merupakan suatu tempat atau wadah yang
terbentuk akibat adanya pembangunan sebuah bendungan. Pembangunan
bendungan berfungsi untuk penyediaan air baku, penyediaan air irigasi,
pengendalian banjir dan/atau pembangkit tenaga air. Dalam pembangunan
bendungan ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu persiapan
pembangunan, perencanaan pembangunan, pelaksanaan konstruksi dan
pengisian awal waduk (impounding).
Pengisian awal waduk (impounding) merupakan tahapan yang
dilakukan setelah pekerjaan konstruksi selesai dan merupakan saat-saat
yang kritis yang harus dilalui dalam suatu pembangunan bendungan. Hal
ini pula yang terjadi pada Bendungan Jatigede, Sumedang, Jawa Barat.
Tahapan ini dikatakan kritis karena terjadi perubahan-perubahan
lingkungan di sekitar waduk dan juga pada DAS Cimanuk, karena pada
tahap ini terjadi perubahan kondisi waduk yang pada awalnya kering
menjadi terisi air. Pada tahapan pengisian awal waduk (impounding) ini air
yang mengalir ke bagian hilir akan terhenti sementara waktu, dan air akan
mengalir lagi ke bagian hilir jika air yang tergenang di dalam waduk telah
mencapai suatu elevasi tertentu.
Dalam tahap pengisian awal waduk (impounding) ini jumlah debit
inflow yang masuk ke daerah genangan akan sangat berpengaruh, karena
jika inflow yang masuk sedikit maka waktu pengisian awal waduk
(impounding) akan lama dan dapat mengakibatkan kekeringan di hilir
bendungan. Selain itu kondisi daerah genangan juga akan berpengaruh,
karena setiap jenis tanah memiliki karakteristik yang berbeda mengenai
penyerapan air ke dalam tanah. akan mengakibatkan tekanan yang berlebih
dan timbunan inti bendungan akan mengalami gaya angkat (uplift).
Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan penelitian untuk
mengetahui lamanya air tidak mengalir ke bagian hilir bendungan supaya
di bagian hilir bendungan tidak mengalami kekeringan dalam waktu yang
lama. Oleh karena itu, peneliti memutuskan untuk melakukan penelitan
yang berjudul Analisa Pengisian Awal Waduk (Impounding) pada
Bendungan Jatigede.
1.2. Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang yang sudah dikemukakan, maka dapat
diidentifikasi permasalahan yang muncul, yaitu sebagai berikut
1. Penggenangan atau pengisian awal waduk (impounding) merupakan
tahap yang menentukan dalam pembangunan suatu bendungan karena
akan terjadi perubahan kondisi waduk yang pada mulanya kering
menjadi penuh air.
2. Dalam pengisian awal waduk (impounding) ini jumlah inflow yang
mengalir haruslah diperhitungkan, karena jumlah inflow ini sangat
menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengisi
waduk.
3. Jika jumlah inflow yang mengalir kecil, maka akan menimbulkan
kekeringan di daerah hilir bendungan.
4. Kondisi lahan pada daerah genangan juga merupakan salah satu
penentu dalam lamanya pengisian suatu waduk, karena akan diketahui
sejauh mana rambatan air yang mengalir pada saat pengisian awal
waduk (impounding) dilakukan.
5. Perilaku tubuh bendungan setelah mendapatkan beban serta
pengaruhnya terhadap gaya angkat (uplift) pada timbunan inti
bendungan.
6. Pemantauan dilakukan agar pengisian awal waduk (impounding) ini
berjalan lancar dan sesuai dengan rencana untuk menghindari adanya
korban jiwa (dari segi sosial) dan juga dari segi struktur bendungan itu
sendiri. Pengisian waduk ini juga tidak boleh terlalu cepat untuk
menghindari tekanaSn yang berlebih dan tidak boleh terlalu lama
untuk menghindari kekeringan di bagian hilir.
Melihat banyaknya identifikasi masalah yang ada, maka dalam
penelitian ini akan dibatasi permasalahannya, yaitu sebagai berikut :
4 Menghitung jumlah inflow yang digunakan untuk pengisian awal waduk
(impounding).
5 Pengaruh kondisi lahan pada daerah genangan terhadap lamanya waktu
pengisian awal waduk (impounding).
6 Pengisian awal waduk (impounding) dilakukan pada musim basah (Bulan
Oktober) untuk menghindari terjadinya kekeringan yang lama di bagian hilir
bendungan akibat kurangnya debit air yang mengalir.

1.3.Tujuan
2. Untuk memperoleh gambaran mengenai faktor apa saja yang dapat
berpengaruh dalam tahap pengisian awal waduk (impounding),
terutama pada Bendungan Subaim
3. Untuk mengetahui perkiraan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk
melakukan tahap pengisian awal waduk (impounding) berdasarkan
jumlah inflow yang ada pada Bendungan Subaim.
4. Untuk mengetahui metode apa yang sesuai dalam menentukan
lamanya waktu pengisian awal waduk (impounding) pada Bendungan
Subaim.
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Waduk atau Bendungan


2.1.1 Pengertian Umum
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 37 Pasal 1 Tahun 2010 tentang
Bendungan, bahwa bendungan adalah bangunan yang berupa urukan tanah,
urukan batu, beton, dan atau pasangan batu yang dibangun selain untuk menahan
dan menampung air, dapat pula dibangun untuk menahan dan menampung limbah
tambang (tailing), atau menampung lumpur sehingga terbentuk waduk.
Bendungan atau waduk merupakan wadah buatan yang terbentuk sebagai akibat
dibangunnya bendungan.
Menurut Peraturan Menteri Nomor 72/PRT/1997, bendungan adalah setiap
bangunan penahan air buatan, jenis urugan atau jenis lainnya yang menampung air
atau dapat menampung air, termasuk pondasi, bukit/tebing tumpuan, serta
bangunan pelengkap dan peralatannya, termasuk juga bendungan limbah galian,
tetapi tidak termasuk bendung dan tanggul.
Sebuah bendungan berfungsi sebagai penangkap air dan menyimpannya di
musim hujan waktu air sungai mengalir dalam jumlah besar dan yang melebihi
kebutuhan baik untuk keperluan, irigasi, air minum, industri atau yang lainnya.
Dengan memiliki daya tampung tersebut sejumlah besar air sungai yang melebihi
kebutuhan dapat disimpan dalam waduk dan baru dilepas mengalir ke dalam
sungai lagi di hilirnya sesuai dengan kebutuhan pada saat diperlukan. Sebuah
bendungan dapat dibuat dari bahan bangunan urugan tanah campur batu
berukuran kecil sampai besar atau dari beton.
Bila aliran sungai yang masuk ke dalam waduk tersebut melebihi air yang
dialirkan ke luar waduk sesuai dengan kebutuhan, maka isi waduk makin lama
makin penuh dan dapat melampaui batas daya tampung rencananya, sehingga
permukaan air dalam waduk akan naik terus dan akhirnya melimpas. Untuk
mencegah terjadinya limpasan air pada sebuah bendungan, limpasan air itu
dilokalisir pada bangunan pelimpah yang lokasinya dipilih menurut kondisi
topografi yang terbaik.
Panjang bangunan pelimpah dihitung menurut debit rencana sedemikian
rupa hingga tinggi muka air waduk tidak akan naik lebih tinggi dari pusat
bendungan dan bahkan biasanya direncanakan agar muka air waduk itu lebih
rendah dari puncak bendungan minimum 5 m. Beda tinggi bervariasi dari 5 - 20
m. Tinggi bendungan bervariasi dari sekitar 15 m sampai ratusan meter. Disebut
dengan tinggi bendungan adalah perbedaan elevasi antara puncak bendungan
dengan dasar sungai lama.
Pembagian tipe bendungan dilihat dari 7 (tujuh) kondisi, yaitu:
1. Tipe bendungan berdasarkan ukurannya;

a. Bendungan besar (large dams)


Definisi menurut ICOLD, bendungan besar adalah bendungan yang tingginya
lebih dari 15 m, diukur dari bawah pondasi sampai ke puncak bendungan.
Bendungan antara 10 – 15 m dapat disebut sebagai bendungan besar bila
memenuhi kriteria, yaitu:
1. Panjang puncak bendung lebih dari 500 m;
2. Kapasitas waduk yang terbentuk tidak kurang dari 1 juta m3;
3. Debit banjir maksimum yang diperhitungkan tidak kurang dari 2000
m3/det;
4. Bendungan menghadapi kesulitan kesulitan khusus pada pondasinya atau
mempunyai spesifik;
5. Desain bendung tidak seperti biasanya.
b. Bendung kecil (small dams, weir, bendung)
Adalah semua syarat bendungan besar tidak dipenuhi.
2. Tipe bendungan berdasarkan tujuan pembangunan;

a. Bendung dengan tujuan tunggal, (single purpose dams), yaitu bendungan


dibangun dengan satu tujuan saja. Misalnya untuk pembangkit listrik, untuk
irigasi, dan pengendali banjir;

b. Bendungan serba guna (multipurpose dams), adalah bendungan yang dibangun


untuk memenuhi beberapa tujuan misalnya pembangkit tenaga listrik dan irigasi,
pengendalian banjir dan PLTA, air minum dan industri, pariwisata.
3. Tipe bendungan berdasarkan penggunaan;

a. Bendungan untuk membentuk waduk (storage dams), adalah bendungan yang


dibangun untuk membentuk waduk yang berguna untuk menyimpan air pada
waktu kelebihan dan dapat dipakai pada waktu diperlukan;

b. Bendungan penangkap atau pembelok air (diversion dams), bendungan


dibangun agar permukaan air tinggi sehingga dapat mengalir masuk ke dalam
saluran air atau terowongan. Banyak dipakai untuk irigasi, PLTA, penyediaan air
industri;

c. Bendungan untuk memperlambat jalannya air (detension dams), adalah


bendungan yang dibangun untuk memperlambat jalannya air sehingga dapat
mencegah banjir besar. Untuk menyimpan air sementara dan dialirkan dalam
saluran air bagian hilir. Untuk menyimpan air selama mungkin agar dapat
meresap di daerah sekitarnya. Apabila dipakai untuk menangkap lumpur dan pasir
maka disebut sebagai debris dam, checkdam, sabo dam.

4. Tipe bendungan berdasarkan jalannya air;

a. Bendungan untuk dilewati air (overflow dam) adalah bendungan yang dibangun
untuk dilimpasi air, misalnya bangunan pelimpah;

b. Bendungan untuk menahan air (non overflow dam) adalah bendungan yang
sama sekali tidak boleh dilimpasi air.

5. Tipe bendungan berdasarkan konstruksinya;

Tipe bendungan berdasarkan kostruksinya ada tiga tipe yaitu:

a. Bendungan urugan (fill type dam) adalah bendungan yang dibangun dari
hasil penggalian bahan tanpa bahan tambahan lain yang bersifat campuran
secara kimia, jadi betul-betul bahan pembentuk bendungan asli.
Bendungan ini dapat dibagi menjadi:
1. Bendungan urugan berlapis-lapis (zone dams, rockfill dams), yaitu
bendungan urugan yang terdiri atas beberapa lapisan, yaitu lapisan
kedap air (water tight layer), lapisan batu (rock zones, shell), lapisan
batu teratur (rip rap), dan lapisan pengering (filter zones);
2. Bendungan urugan serba sama (homogeneous dams), yaitu bendungan
yang lebih dari setengah volumenya terdiri atas bahan bangunan yang
seragam;
3. Bendungan urugan batu dengan lapisan kedap air di muka
(impermeable face rockfill dams, decked rockfill dams), yaitu
bendungan urugan batu berlapis-lapis yang lapisan kedap airnya
diletakkan di sebelah hulu bendungan. Lapisan kedap air yang sering
dipasang adalah aspal dan beton bertulang.

b. Bendungan beton (concrete dam) adalah bendungan yang dibuat dengan


konstruksi beton dengan tulang maupun tidak. Ada 4 tipe bendungan
beton:
1. Bendungan beton berdasarkan berat sendiri (concrete gravity dam)
adalah bendungan beton yang direncanakan untuk menahan beban dan
gaya yang bekerja padanya hanya berdasar atas berat sendiri;
2. Bendungan beton dengan penyangga (concrete buttress dam) adalah
bendungan beton yang mempunyai penyangga untuk menyalurkan
gaya-gaya yang bekerja padanya. Banyak dipakai apabila sungainya
sangat lebar dan geologinya baik;
3. Bendungan beton berbentuk lengkung atau busur (concrete arch dam)
adalah bendungan beton yang direncanakan untuk menyalurkan gaya
yang bekerja padanya melalui pangkal tebing (abutment) kiri dan
kanan bendungan;
4. Bendungan beton kombinasi (combination concrete dam atau mixed
type concrete dam) adalah kombinasi lebih dari satu tipe bendungan.
Apabila suatu bendungan beton berdasar berat sendiri berbentuk
lengkung disebut concretearch gravity dam dan kemudian apabila
bendungan beton merupakan gabungan beberapa lengkung, maka
disebut concrete multiple arch dam.
c. Bendungan lainnya, misalnya bendungan kayu (timber dams), bendungan
besi (steel dams), bendungan pasangan batas (bricks dams), dan
bendungan pasangan batu (masonry dams).
6.Tipe bendungan berdasarkan fungsinya;
Bendungan berdasarkan fungsinya ada 8 tipe, yaitu :
a. Bendungan pengelak pendahuluan (primary coffer dam) adalah bendungan
yang pertama-tama dibangun di sungai pada debit air rendah agar lokasi
rencana bendungan pengelak menjadi kering yang memungkinkan
pembangunan secara teknis.
b. Bendungan pengelak (coffer dam) adalah bendungan yang dibangun sesudah
selesainya bendungan pengelak pendahuluan sehingga lokasi rencana
bendungan utama menjadi kering, yang memungkinkan pembanguna secara
teknis;

c. Bendungan utama (main dam) adalah bendungan yang dibangun untuk satu
atau lebih tujuan tertentu;

d. Bendungan (high level dam) adalah bendungan yang terletak di sisi kiri atau
kanan bendungan utama, yang tinggi puncaknya juga sama;

e. Bendungan di tempat rendah (sadlle dam) adalah bendungan yang terletak


ditepi waduk yang jauh dari bendungan utama yang dibangun untuk
mencegah keluarnya air dari waduk, sehingga air waduk tidak mengalir
kedaerah sekitarnya;

f. Tanggul merupakan bendungan yang terletak di sisi kiri atau kanan


bendungan utama dan di tempat dari bendungan utama yang tinggi
maksimum 5 m dengan panjang mercu maksimum 5 kali tingginya;

g. Bendungan limbah industri (industrial waste dam) merupakan bendungan


yang terdiri atas timbunan secara bertahap untuk menahan limbah yang
berasal dari industri;
h. Bendungan pertambangan (main tailing dam) adalah bendungan yang terdiri
atas timbunan secara bertahap untuk menahan hasil galian pertambangan dan
bahan pembuatannya berasal dari hasil galian pertambangan itu.
7. Tipe bendungan menurut ICOLD (The International Commission on Large
Dams).
Tipe bendungan menurut ICOLD, yaitu :
a. Bendungan urugan tanah (earthfill dams), yaitu bendungan yang lebih dari
setengah volume terdiri atas urugan tanah atau tanah liat;
b. Bendungan beton berdasar berat sendiri adalah bendungan beton yang
direncanakan untuk menahan beban dan gaya yang bekerja padanya hanya
berdasar atas berat sendiri;
c. Bendungan urugan batu (rockfill dams), adalah bendungan yang kekuatan
konstruksinya didasarkan pada urugan batu dan sebagai lapisan kedap air
memakai tanah liat, tanah liat bercampur pasir/kerikil, lapisan aspal, beton
bertulang atau geotextile;
d. Bendungan beton dengan penyangga (concrete buttress dam) adalah
bendungan beton yang mempunyai penyangga untuk menyalurkan gaya-
gaya yang bekerja padanya;
e. Bendungan beton berbentuk lengkung atau busur (concrete arch dam)
merupakan bendungan beton yang direncanakan untuk menyalurkan gaya
yang bekerja padanya melalui pangkal tebing (abutment) kiri dan kanan
bendungan.
f. Bendungan beton kombinasi (combination concrete dam atau mixed type
concrete dam) adalah kombinasi lebih dari satu tipe bendungan.

Bendungan secara umum merupakan tempat pada permukaan tanah yang


digunakan untuk menampung air saat terjadi kelebihan air di musim penghujan
sehingga air tersebut dapat dimanfaatkan saat musim kering. Sumber air
bendungan pada umumnya berasal dari aliran air permukaan ditambah dari air
hujan langsung. Pemanfaatkan bendungan antara lain :
1. Irigasi
Hujan yang turun di daerah tangkapan air sebagian besar akan mengalir ke
sungai. Kelebihan air yang terdapat di bendungan merupakan sumber persediaan
sehingga pada saat musim kemarau tiba air tersebut dapat digunakan untuk
berbagai keperluan salah satunya yaitu sebagai irigasi lahan pertanian.
2. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
Bendungan yang berfungsi sebagai PLTA dikelola untuk mendapatkan
kapasitas listrik yang dibutuhkan. PLTA bendungan merupakan sistem
pembangkit listrik yang sistem pengoprasiannya terintegrasi dalam bendungan
dengan memanfaatkan energi mekanis dari aliran air saat memutar turbin yang
kemudian hasilnya akan diubah menjadi tenaga listrik oleh generator.
3. Penyedia air baku
Air baku atau air bersih yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air
minum dan air rumah tangga. Bendungan selain sebagai sumber pengairan
persawahan juga dimanfaatkan sebagai sumber penyediaan air baku untuk bahan
baku air minum dan air rumah tangga. Air yang dipakai harus memenuhi
persyaratan sesuai dengan kegunaannya.
2.1.2 Karakteristik dan Klasifikasi Penggunaan Bendungan
Karakteristik suatu bendungan merupakan bagian pokok dari bendungan
yaitu volume hidup (live storage), volume mati (dead storage), tinggi muka air
(TMA) maksimum, TMA minimum, tinggi mercu bangunan pelimpah
berdasarkan debit rencana.
Dari karakteristik fisik bendungan tersebut didapatkan hubungan antara
elevasi dan volume tampungan yang disebut juga liku kapasitas bendungan. Liku
kapasitas tampungan bendungan merupakan data yang menggambarkan volume
tampungan air di dalam waduk pada setiap ketinggian muka air.
Berdasarkan fungsinya penggunaannya, waduk diklasifikasikan menjadi dua jenis
yaitu :
1. Waduk eka guna (single purpose)
Waduk eka guna merupakan waduk yang dioperasikan untuk memenuhi
satu kebutuhan saja, misalnya untuk kebutuhan air irigasi, air baku atau PLTA.
Pengoperasian waduk eka guna lebih mudah dibandingkan dengan bendungan
multi guna dikarenakan tidak adanya konflik kepentingan di dalamnya. Pada
waduk eka guna pengoperasian yang dilakukan hanya mempertimbangkan
pemenuhan satu kebutuhan.
2. Waduk multi guna (multi purpose)
Waduk multi guna (multi purpose) merupakan waduk yang berfungsi
untuk memenuhi berbagai kebutuhan, misalnya waduk untuk memenuhi
kebutuhan air, irigasi, air baku dan PLTA. Kombinasi dari berbagai kebutuhan
dimaksud untuk dapat mengoptimalkan fungsi waduk dan meningkatkan
kelayakan pembangunan suatu waduk.
2.2 Pola Operasi Waduk
Suatu waduk dapat dimanfaatkan dengan mengoptimalkan semua elemen
dan potensi waduk yang ada dengan menggunakan pola operasi tertentu. Biasanya
studi optmalisasi waduk dilakukan dengan mengkaji operasi waduk melalui
metode simulasi. Dalam penyusunan simulasi operasi waduk, hal yang perlu
diketahui adalah ketersediaan air, pemanfaatan air, kehilangan air, dan
karakteristik waduk. Secara umum persamaan neracaair di waduk diberikan
sebagai:
ΔS = I – O (Harto, 1981)
Di mana:
ΔS = perubahan volume di tampungan waduk
I = volume air yamg masuk tampungan waduk
O = volume air yamg keluar tampungan waduk
Untuk simulasi waduk pada Regulating Dam, komponen-komponen inflow
adalah (Bina Buana Raya Consultant, 2013) : Debit limpasan Bendung
Adapun komponen-komponen outflownya adalah sebagai berikut:
a. Debit untuk PDAM Pringsewu sebesar 0,45 m3/detik (O1) (MDGs, 2013);
b. Debit untuk PDAM Metro dan Branti sebesar 0,50 m3/detik (O2) (MDGs,
2013);
c. Debit untuk PDAM Bandar Lampung sebesar 2,25 m3/detik (O3) (MDGs,
2013);
d. Debit evaporasi sebesar 4,00 mm/hari (O4);
e. Debit untuk irigasi sawah di sekitar waduk dengan NFR 1,2 liter/ha dan
efisiensi saluran primer, sekunder, dan tersier masing-masing 90%, 80%,
dan 80% (O5);

Berdasarkan komponen-komponen inflow dan outflow di atas maka neraca air


pada waduk Regulating Dam dapat diformulasikan sebagai:
ΔS = I1 – O1 – O2 – O3 – O4 – O5
Berikut adalah skenario-skenario yang direncanakan dalam simulasi waduk
Regulating Dam:
a. Simulasi 1 dengan neraca air:
ΔS = I1 + I2 – O1 – O2 – O3 – O4
b. Simulasi 2 dengan neraca air:
ΔS = I1 + I2 – O1 – O2 – O3 – O4 – O5

2.3 Daerah Aliran Sungai


Apabila kita berbicara hujan yang jatuh di suatu daerah, maka daerah yang
dimaksud merupakan suatu daerah aliran sungai. Daerah aliran sungai atau DAS
atau catchment area atau watershed adalah suatu daerah yang dibatasi oleh batas
topografi yang tinggi, di mana hujan yang jatuh ke dalam daerah tersebut akan
terkumpul di badan-badan airnya dan dialirkan ke arah hilir melalui jaringan
pelepasan atau outlet. Komponen-komponen dari suatu DAS adalah: batas-batas
DAS, sungai utama beserta badan air yang lainnya, outlet, dan daerah DAS itu
sendiri (Susilo, 2006). Ilustrasi sederhana dari sebuah DAS dapat dilihat pada
gambar di bawah ini.
Gambar 2.1 Gambar Daerah Aliran Sungai (DAS)

Bentuk dan luas DAS berbeda satu dengan yang lainnya. Luas DAS
biasanya dikategorikan menjadi DAS kecil, DAS sedang, dan DAS besar. Tetapi
batasan-batasan mengenai hal tersebut tidaklah begitu jelas sehingga

orang biasanya menilai besar kecilnya DAS dari jumlah sub-DAS nya.
Sebagai contoh: DAS Brantas di Jawa Timur dapat dikategorikan sebagai DAS
besar karena merupakan gabungan dari beberapa sub-DAS atau DAS yang lebih
kecil seperti DAS Lesti. DAS-DAS kecil biasanya ditemukan di daerah pantai
yang berbukit seperti DAS-DAS di daerah Panjang, Propinsi Lampung. DAS-
DAS ini biasanya hanya terdiri dari satu sungai utama dengan beberapa anak
sungai kecil. Luas dari DAS kecil biasanya berkisar belasan atau puluhan hektar
tetapi di bawah seratus hektar.
Daerah aliran sungai dapat dibedakan berdasarkan bentuk atau pola
dimana bentuk ini akan menentukan pola hidrologi yang ada. Corak atau pola
DAS dipengaruhi oleh faktor geomorfologi, topografi dan bentuk wilayah DAS.
Sosrodarsono dan Takeda (1977) mengklasifikasikan bentuk DAS sebagai berikut
:
DAS bulu burung.
Anak sungainya langsung mengalir ke sungai utama. DAS atau Sub-DAS
ini mempunyai debit banjir yang relatif kecil karena waktu tiba yang berbeda.
DAS Radial.
Anak sungainya memusat di satu titik secara radial sehingga menyerupai
bentuk kipas atau lingkaran. DAS atau sub-DAS radial memiliki banjir yang
relatif besar tetapi relatif tidak lama.

Das Paralel.
DAS ini mempunyai dua jalur sub-DAS yang bersatu

2.4 Koefisien Pengaliran DAS


Suatu DAS biasanya terdiri dari areal yang mempunyai tataguna lahan
bervariasi seperti hutan, tanah pertanian, dan pemukiman. Setiap tipe tataguna
lahan ini mempunyai nilai koefisien pengaliran yang berbeda-beda. Ini berarti
apabila terjadi hujan di suatu DAS maka respon permukaan tanah terhadap hujan
akan menghasilkan aliran permukaan yang berbeda-beda pula. Sebagai contoh
hujan yang jatuh di daerah pemukiman yang mempunyai koefisien permukaan
yang lebih besar daripada hutan akan menghasilkan aliran permukaan yang lebih
besar daripada aliran permukaan yang dihasilkan oleh hujan yang jatuh di hutan.
Variasi koefisien pengaliran yang ada di DAS akibat keragaman tataguna lahan
kadang menimbulkan kesulitan dalam perhitungan debit di DAS. Hanya model-
model hidrologi mutakhir yang mampu menghitung debit di DAS dengan
memperhitungkan variasi tataguna lahan secara detail. Untuk perhitungan debit
sederhana, koefisien pengaliran di DAS biasanya dirata-rata dengan
memperhitungkan luas daerah tataguna lahan.
Nilai-nilai koefisien pengaliran (C) tersebut, untuk penggunaan secara umum
dapat dilihat pada tabel-tabel berikut:

2.5 Evaporasi
Penguapan atau evaporasi adalah proses perubahan dari zat cair atau padat
menjadi gas. Lebih spesifik dapat diartikan penguapan adalah proses transfer air
(moisture) dari permukaan bumi ke atmosfir (Harto, 2000).
Rata-rata molekul tidak memiliki energi yang cukup untuk lepas dari
cairan. Bila tidak cairan akan berubah menjadi uap dengan cepat. Ketika molekul-
molekul saling bertumbukan mereka saling bertukar energi dalam berbagai
derajat, tergantung bagaimana mereka bertumbukan. Terkadang transfer energi ini
begitu berat sebelah, sehingga salah satu molekul mendapatkan energi yang cukup
untuk menembus titik didih cairan. Bila ini terjadi di dekat permukaan cairan
molekul tersebut dapat terbang ke dalam gas dan "menguap".
Ada cairan yang kelihatannya tidak menguap pada suhu tertentu di dalam
gas tertentu (contohnya minyak makan pada suhu kamar). Cairan seperti ini
memiliki molekul-molekul yang cenderung tidak menghantar energi satu sama
lain dalam pola yang cukup buat memberi satu molekul "kecepatan lepas" - energi
panas - yang diperlukan untuk berubah menjadi uap. Namun cairan seperti ini
sebenarnya menguap, hanya saja prosesnya jauh lebih lambat dan karena itu lebih
tak terlihat. Penguapan adalah bagian esensial dari siklus air. Uap air di udara
akan berkumpul menjadi awan. Karena pengaruh suhu, partikel uap air yang
berukuran kecil dapat bergabung (berkondensasi) menjadi butiran air dan turun
hujan. Siklus air terjadi terus menerus. Energi surya menggerakkan penguapan air
dari samudera, danau, embun dan sumber air lainnya. Dalam hidrologi penguapan
dan transpirasi (yang melibatkan penguapan di dalam stomata tumbuhan) secara
kolektif diistilahkan sebagai evapotranspirasi.
Jumlah evaporasi dapat dihitung secara langsung maupun secara teoritis.
Cara langsung dapat dilakukan dengan pan evaporation sedangkan cara teoritis
biasanya dilakukan dengan metode perhitungan Penmann atau Hargreaves.

2.6 Debit Andalan


Debit andalan adalah besarnya debit yang tersedia untuk memenuhi
kebutuhan air dengan resiko kegagalan yang telah diperhitungkan. Tujuan
penetapan debit andalan adalah untuk menentukan debit perencanaan yang
diharapkan selalu tersedia di sungai (Soemarto,1987). Misalkan debit andalan
ditetapkan sebesar 80%, maka akan dihadapi resiko adanya debit-debit yang lebih
kecil dari debit andalan sebesar 20% dari pengamatan yang ada.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1.Pegertian dan maksud irigasi

irigasi berasal dari istilah irrigatie dalam bahasa Belanda atau irrigation dalam
bahasa inggris. Irigasi dapat diartikan sabagai suatu usaha yang dilakukan untuk
mendatangkan air sumber guna keperluan pertanian,mengalirkan dan membagikan
air secara teratur dan setelah digunakan dapat pulah dibuang kembali. Istilah
pengairan yang sering pula didengar dapat dapat diartikan sebagai usaha
pemanfaatan air pada umumnya,berarti irigasi termasuk didalamnya.

Maksud irigasi yaitu untuk mencukupi kebutuhan air di musim hujan bagi
keperluan pertanian seperti membasahi tanah, merabuk, mengatur suhu tanah,
menghindarkan gangguan hama dalam tanah dan sebagainya.

3.2.Sistem irigasi di indonesia

Sisitem irigasi di indonesia yang umumnya bergantung kepada cara


pengambilan ai rsungai yang dimaksudkan untuk mengairi persawahan dapat
dibedakan menjadi irigasi pedesaan dan irigasi pemerintah. Pembedaan itu
berdasarkan pengelolaannya. Sistem irigasi desa bersifat komunal dan tidak
meneriam bantuan dari pemerintah pusat.pembangunan dan pengelolaan seluru
jaringan irigasi dilakukan sepenuhnya oleh masyarakat. Sedangkan sistem irigasi
yang tergantung pada bantuan pemerintah di bagi dalam tiga kategori yaitu :

 Irigasi teknis
 Irigasi semi teknis
 Irigasi sederhana
1. Peta jaringan irigasi
3.1.1 peta petak

jaringan irigasi biyasanya dibuat bedasarkan peta topografi yang


ditentukan ke peta ikhtusar berskala 1 : 25000. Selanjutnya dari peta iktisar
tersebut desain dilanjutkanke dalam peta ikhtisar detail bersekala 1 : 5000 atau 1 :
2000. Peta ikhtisar detail tersebut dikenal di lingkungan perencanan denagn istilah
peta petak. Pada peta petak tegambar peta tersier, peta sekunder, dan petak primer.

Peta tersier adalah suatu unut atau petak tanah / sawah terkecil berukuran antara
50 – 100 meter. Mempuyai batas – batas yang jelas seperti jalan.

Petak sekunder adalah gabungan dari peta tersier dengan luas yang bergantung
kepada keadaan lahan.juga mempuyai batas yang jelas misalanya saluran
pembuang dan sebagainya. Saluran sekunder yang terletak di punggung medan
pada Gambar.2.2.ditunjukan oleh saluran dari titik A1 – B2 dan A2 – C serta D1 –
D2 – D3.

Sedangkan saluran garis tinggi ditunjukkan oleh saluran yang mengalir


dari titik A – A1- A2. Sungai – sungai di Gambar 2.2 bila di jadikan batas petak
maka akan di dapat tiga susunan petak sekunder.petak sekunder biyasanya
menerima air dari bangunan bagi yang terletak di saluran primer atau sekunder.

Gamabar 3.1 salah satu cara pemberian air

petak primer adalah gabungan dari beberapa petak sekunder, seperti ditujukan
pada gambar 3.2. dilayani oleh saluran primer disalah satu sisi atau kedua sisi
sumber air sungai.maka akan terdapat dua petak primer. Kesuluruhan penyusunan
bidang tanah dalam bentuk petak tersier,sekunder dan primer ini disebut satu
daerah irigasi yang penyembutannya dipendek dengan istilah.D.I. pada gambar
3.2 hanya terdapat satu petak primer atau satu daerah irigasi di sebelah kiri sisi
sungai yang tergabung dari petak – petak sekunder yang mengambil air dari
bangunan bagi A1, dan A2 serta D1. Bangunan bendung di sungai, A, berfungsi
untuk mengambil dan membelokan air sungai ke saluran primer.

Gambar 3,2 Ilustrasi saluran irigasi

3.1.2 saluran irigasi

saluran irigasi di daerah irigasi teknis dibedakan menjadi saluran irigasi


pembawa dan saluran pembuang. Saluran irigasi pembawa ditinjau dari letaknya
dapat dibedakan menjadi saluran garis tinggi dan saluran garis punggung. Saluran
garis tinggi yaitu saluran yang di tempatkan dengan garis tinggi kontur. Dan
saluran garis pembuang yaitu ditempatkan di pungung medan.
3.1.3 Saluran irigasi tanpa pasangan

Saluran irigasi tanpa pasangan yang dibicarakan yaitu saluran tanah


dengan bentuk penampang trapesium. Dalam mendesain saluran ini harus
dipertimbangkan bahwa pengedapan dan penggurusan di setiap potongan
melintang harus berimbang sepanjang tahun.

Dalam mendesain saluran irigasi tersebut dapat dilakukan dengan tata cara
seperti berikut :

 Tentukan lebar dasar saluran, b, lebih besar dari pada dalam air, h atau b >
h. Bila diambil diambil dalam air, h, lebih besar dari lebar saluran ( h > b )
maka akan terjadi proses pendangkalan saluran yang lebih cepat.
 Tentukan besarnya kecepatan aliran, v , seimbang yaitu antara, v
pengedapan dari v penggurusan.
 Tetapkan kemeringan talud
 Hitung kemeringan saluran, i , dengan cara strickler ambil nilai kekasaran,
k, yang bergantung kepada besarnya debit saluran dan jenis saluran.

3.2 Saluran Pembuang

Saluran pembuang yaitu saluran yang digunakan sebagai pembuang


kelebihan air yang sudah tidak digunakan dari petak – petak sawah ke jaringan
saluran pembuang. Setelah air dipakai untuk penggarapan sawah, pertumbuhan
padi dan sisa penguapan serta sisa penggenangan maka selanjutnya air itu
dibuang. Saluran pembuang pada daerah irigasi teknis dibedakan menjadi saluran
pembuang kuarter, pembuang tersier dan saluran pembuang utama.
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat dilihat bahwa kebutuhan


air sangat penting bagi kehidupan. Agar mampu mengelolah sumber daya air yang
optimal untuk kebutuhan masyarakat . Salah satunya adalah pengelolaan
kuantitas air untuk penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air untuk menunjang
pertanian sebagai antisipasi kebutuhan air di masa mendatang.