Anda di halaman 1dari 17

Tugas Individu Ergonomi dan Faal Kerja

Dosen Pengajar Kursiah, Warti N, M. Kes

ANTROPOMETRI DAN DIMENSI TUBUH MANUSIA

Warti N, M. Kes ANTROPOMETRI DAN DIMENSI TUBUH MANUSIA Disusun Oleh : 1. Heri Junaidi :

Disusun Oleh :

1. Heri Junaidi

: 14.4.0.1.0009

2. Ismo Rusmanto

: 14.4.0.1.0010

3. Novita Sari S

: 14.4.0.1.0020

4. Yosi Yolanda

: 14.4.0.1.0037

5. Yoan Syafitri

: 14.4.0.1.0038

JURUSAN S1 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT STIKES PAYUNG NEGERI PEKANBARU RIAU

TA.2016/2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan kesehatan serta kesempatan sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah di tentukan oleh dosen pembimbing mata kuliah Ergonomi dan Faal Kerja. Penulis juga mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak/ibu Kursiah, Warti N, M. Kes selaku pengampuh mata kuliah yang telah memberikan motivasi sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan- kekurangan baik dalam penulisan maupun dalam bahasa tulisan, maka dari itu peulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi untuk kesempurnaan makalah ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis pribadi dan pembaca pada umumnya.

Pekanbaru, Februari 2017

i

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

i ii

BAB I PENDAHULAUAN

1

A. Latar Belakang

1

B. Tujuan Penulisan

Error!

Bookmark not defined.

C. Rumusan Masalah

Error!

Bookmark not defined.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4

A. Pengertian Ergonomi dan Antropometri

4

B. Konsep Ergonomi Dalam Industri

5

C. Penerapan Ergonomi Dalam Industri

10

BAB III PENUTUP

13

A.

Kesimpulan

13

DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB I PENDAHULAUAN

A. Latar Belakang Manusia dengan segala sifat dan tingkah lakunya merupakan makhluk yang sangat kompleks. Proses mempelajari manusia tidak cukup hanya ditinjau dari segi keilmuan. Berdasarkan hal tersebut, dapat dipahami bahwa untuk mengembangkan ergonomi diperlukan dukungan dari berbagai disiplin, antara lain psikologi, antropologi, faal kerja, biologi, sosiologi, perencanaan kerja, fisika, dan lain-lain (Sutalaksana, 1979). Dalam dunia kerja terdapat Undang-Undang yang mengatur tentang ketenagakerjaan yaitu Undang-Undang No. 14 tahun 1969 tentang ketentuan- ketentuan pokok tenaga kerja merupakan subyek dan obyek pembangunan. Ergonomik yang bersasaran akhir efisiensi dan keserasian kerja memiliki arti penting bagi tenaga kerja, baik sebagai subyek maupun obyek. Akan tetapi sering kali suatu tempat kerja mengesampingkan aspek ergonomi bagi para pekerjanya, hal ini tentunya sangat merugikan para pekerja itu sendiri. Bekerja dengan tubuh dan lingkungan yang sehat, aman serta nyaman merupakan hal yang diinginkan oleh semua pekerja. Di era globalisasi menuntut pelaksanaan Kesehatan dan Keselamaan Kerja (K3) di setiap tempat kerja termasuk di sektor kesehatan. Untuk itu perlu kita mengembangkan dan meningkatkan K3 di sektor kesehatan dalam rangka menekan serendah mungkin risiko kecelakaan dan penyakit yang timbul akibat hubungan kerja, serta meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Pada umumnya ergonomi belum diterapkan secara merata pada sektor kegiatan ekonomi. Gagasannya telah lama disebarluaskan sebagai unsur hygiene perusahaan dan kesehatan kerja (hiperkes), tetapi sampai saat ini kegiatan-kegiatan baru sampai pada taraf pengenalan oleh khususnya pada pihak yang bersangkutan, sedangkan penerapannya baru pada tingkat perintisan. Fungsi pembinaan ergonomi secara teknis merupakan tugas

1

2

pemerintah. Pusat Bina Hiperkes dan Keselamatan Kerja memiliki fungsi pembinaan ini melalui pembinaan keahlian dan pengembangan penerapannya. Namun begitu, sampai saat ini pengembangan kegiatan-kegiatannya baru diselenggarakan dan masih menunggu kesiapan masyarakat untuk menerima ergonomi dan penerapannya. Penyakit akibat kerja dapat mempengaruhi kemampuan kerja seorang pekerja. Penyakit yang diakibatkan pekerjaan diartikan sebagai efek negatif dari kegiatan kerja terhadap kesehatan fisik manusia antara lain keluhan nyeri pada berbagai otot ataupun terjadinya kelelahan otot(fatique). Kelelahan otot dapat timbul akibat kontraksi otot yang berlebihan atau pun kontraksi otot terus-menerus dalam jangka waktu yang cukup lama. Proporsi kasus gangguan muskuloskeletal akibat kerja berdasarkan data ILO tahun 2003 menduduki peringkat pertama yakni hampir 45% dari total kasus penyakit akibat kerja yang dilaporkan. Revolusi industri yang berlangsung lebih dari dua abad yang lalu telah membawa perubahan-perubahan dalam banyak hal. Awal perubahan yang paling menyolok adalah ditemukannya rancang bangun (rekayasa/engineering) mesin uap sebagai sumber energi untuk berproduksi, sehingga manusia tidak lagi tergantung pada energi-otot ataupun energi alam. Lebih jauh lagi manusia bisa menggunakan sumber energi secara lebih fleksibel, dipindahkan ataupun ditempatkan dimanapun lokasi aktivitas produksi akan diselenggarakan. Ditemukannya mesin uap merupakan awal dikenalnya sumber tenaga utama (prime mover) yang mampu meningkatkan mobilitas dan produktivitas kerja manusia. Hal lain yang patut dicatat adalah diterapkannya rekayasa tentang tata cara kerja (methods engineering) guna meningkatkan produktivitas kerja yang lebih efektif-efisien dengan menganalisa kerja sistem manusia-mesin sebagai sebuah sistem produksi yang terintegrasi. Dari hasil para ahli Taylor, Frank & Lillian Gilbreth, Fayol, Muntersberg, Granjean, Barnes, Mundel, Kroemer, McCormick, Sanders dan lain-lain telah dihasilkan paradigma-paradigma baru dalam berbagai

3

penelitian kerja dengan fokus pada manusia sebagai penentu tercapainya produktivitas dan kualitas kerja (quality of work life) yang lebih baik lagi.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah sebagai berikut yaitu :

1. Apa yang dimaksud dengan ergonomi dan antropometri ?

2. Bagaimanakah tentang konsep ergonomi dalam industri ?

3. Bagaimanakah tentang penerapan ergonomi dalam industry ?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan sebagai berikut yaitu :

1. Mendeskripsikan tentang ergonomi dan antropometri.

2. Mendeskripsikan tentang konsep ergonomi dalam industri .

3. Mendeskripsikan tentang penerapan ergonomi dalam industry.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Ergonomi dan Antropometri Pengertian Ergonomi dalam buku Sritomo Wigndjosoebroto(2003) adalah ergonomi atau ergonomics sebenarnya berasal dari kata Yunani yaitu Ergo yang berarti kerja dan Nomos yang bebrarti hukum. Dengan demikian ergonomi dimaksudkan sebagai disiplin keilmuwan yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan. Disiplin ergonomi secara khusus keterbasan dari kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan teknologi dan produk produk buatannya. Disiplin ini berangkat dari pernyataan bahwa manusia memiliki batas-batas kemampuan baik jangka pendek atau jangka panjang pada saat berhadapan dengan keadaan lingkungan. Sistem kerjanya yang berupa perangkat keras hard-ware (mesin peralatan kerja dll). Dan perangkat lunak soft-ware atau (metode kerja dan sistem prosedur) dengan demikian terlihat jelas bahwa ergonomi adalah suatu keilmuan yang multi disiplin, karena disini akan mempelajari penegtahuan-pengetahuan dari ilmu kehayatan (keilmuan, biologi), ilmu kejiwaan (psikologi) dan kemasyarakatan (sosiologi). Menurut Sritomo Wigndjosoebroto(2003) dalam bukunya istilah antropometri berasal dari anthro yang berarti manusia dan metri yang berarti ukuran. Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai satu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar dsb.) berat dll. Yang berbeda satu dengan yang lainnya. Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan ergonomis dalam proses perancangan (desain) produk maupun sistem kerja yang akan memerlukan interaksi manusia.

4

5

B. Konsep Ergonomi Dalam Industri Perkembang ergonomi dipopulerkan pertama kali pada tahun 1949 sebagai judul buku yang dikarang oleh Prof. K. F. H. Murrel (1949) Sedangkan kata ergonomi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu ergon (kerja) dan nomos (aturan/prinsip/kaidah). Istilah ergonomi digunakan secara luas di Eropa. Di Amerika Serikat dikenal istilah human factor atau human engineering. Kedua istilah tersebut (ergonomic dan human factor) hanya berbeda pada penekanannya. Intinya kedua kata tersebut sama-sama menekankan pada performansi dan perilaku manusia. Menurut Hawkins (1987), untuk mencapai tujuan praktisnya, keduanya dapat digunakan sebagai referensi untuk teknologi yang sama. Ergonomi telah menjadi bagian dari perkembangan budaya manusia sejak 4000 tahun yang lalu (Dan Mac Leod, 1995). Perkembangan ilmu ergonomi dimulai saat manusia merancang benda-benda sederhana, seperti batu untuk membantu tangan dalam melakukan pekerjaannya, sampai dilakukannya perbaikan atau perubahan pada alat bantu tersebut untuk memudahkan penggunanya. Pada awalnya perkembangan tersebut masih tidak teratur dan tidak terarah, bahkan kadang-kadang terjadi secara kebetulan. Perkembangan ergonomi modern dimulai kurang lebih seratus tahun yang lalu pada saat Taylor (1880-an) dan Gilberth (1890-an) secara terpisah melakukan studi tentang waktu dan gerakan. Penggunaan ergonomi secara nyata dimulai pada Perang Dunia I untuk mengoptimasikan interaksi antara produk dengan manusia. Pada tahun 1924 sampai 1930 Hawthorne Works of Wertern Electric (Amerika) melakukan suatu percobaan tentang ergonomi yang selanjutnya dikenal dengan “Hawthorne Effects” (Efek Hawthorne). Hasil percobaan ini memberikan konsep baru tentang motivasi ditempat kerja dan menunjukan hubungan fisik dan langsung antara manusia dan mesin. Kemajuan ergonomi semakin terasa setelah Perang Dunia II dengan adanya bukti nyata bahwa penggunaan peralatan yang sesuai dapat meningkatkan

6

kemauan manusia untuk bekerja lebih efektif. Hal tersebut banyak dilakukan pada perusahaan-perusahaan senjata perang. Pusat dari ergonomi adalah manusia. Konsep ergonomi adalah berdasarkan kesadaran, keterbatasan kemampuan, dan kapabilitas manusia. Sehingga dalam usaha untuk mencegah cidera, meningkatkan produktivitas, efisiensi dan kenyamanan dibutuhkan penyerasian antara lingkungan kerja, pekerjaan dan manusia yang terlibat dengan pekerjaan tersebut. Konsep ergonomi serta keselamatan kesehatan kerja merupakan konsep penting untuk diterapkan dalam suatu industri, khususnya dalam perancangan stasiun kerjanya. Kecenderungan yang ada saat ini adalah, pada industri skala kecil menengah. Konsep tersebut kurang begitu diperhatikan, sehingga dapat menimbulkan resiko kerja baik dari segi bahaya kondisi lingkungan fisik, sikap dan cara kerja (Laksmiwaty, 2009). Tujuan penerapan ergonomi adalah untuk peningkatan kualitas kehidupan yang lebih baik. Dengan penerapan ergonomi ini, maka akan tercipta lingkungan kerja aman, sehat dan nyaman sehingga kerja menjadi lebih produktif dan efisien serta adanya jaminan kualitas kerja (Tim Ergoinstitute, 2008). Contohnya, suatu perusahaan kerajinan mengubah cara kerja duduk di lantai dengan bekerja di meja kerja, mengatur tata ruangan menjadi lebih baik, mengadakan ventilasi, menambah penerangan, mengadakan ruang makan, mengorganisasi waktu istirahat, menyelenggarakan pertandingan olahraga, dan lain-lain. Dengan usaha ini,

keluhan-keluhan tenaga kerja berkurang dan produksi tidak pernah terganggu oleh masalah-masalah ketenagakerjaan. Dengan begitu, produksi dapat mengimbangi perluasan dari pemasaran. Bidang Kajian Egronomi bigai 2 bagian yaitu :

1. Faal Kerja Faal Kerja, yaitu bidang kajian ergonomi yang meneliti energi manusia yang dikeluarkan dalam suatu pekerjaan. Tujuan dan bidang kajian ini adalah untuk perancangan sistem kerja yang dapat meminimasi

7

konsumsi energi yang dikeluarkan saat bekerja (Dr. Ir. Iftikar Z. Sutalaksana, 1979). Menurut Sutalaksana, bekerja merupakan suatu kegiatan manusia merubah keadaan-keadaan tertentu dari alam lingkungan yang ditujukan untuk mempertahankan dan memelihara kelangsungan hidupnya. Studi ergonomi yang kaitannya dengan kerja manusia dalam hal ini ditunjukan untuk mengevaluasi dan merancang kembali tata cara kerja yang harus diaplikasikan, agar dapat memberikan peningkatan efektivitas dan efesiensi selain juga kenyamanan ataupun keamanan bagi manusia sebagai pekerjanya. Secara faal, bekerja adalah hasil kerjasama dalam koordinasi yang sebaik-baiknya dari (mata, telinga, peraba, perasa dan lain-lain), otak dan susunan saraf-saraf di pusat dan perifer, serta otot-otot. Selanjutnya untuk petukaran zat yang diperlukan dan harus dibuang masih diperlukan peredaran darah ked an dari otot-otot. Dalam hal ini, jantung, paru-paru. hati, usus, dan lain-lainnya menunjang kelancaran proses pekerjaan. Mula-mula koordinasi indera, susunan syaraf, otot dan alat-alat lain berjalan secara sukar dan masih harus disertai upaya-upaya yang diperlukan. Kenyataan ini terlihat pada seorang tenaga kerja baru yang sedang menjalani latihan. Lambat laun gerakan menjadi suatu ref1eks, sehingga bekerja menjadi automatis. Semakin cepat sifat refleks dan automatis tersebut yang disertai semakin baik koordinasi serta hasil kerja, semakin tinggi pulalah ketrampilan seseorang. Otot-otot adalah salah satu organ yang terpenting terutama untuk pekerjaan fisik. Otot bekerja dengan jalan kontraksi dan melemas. Kekuatan ditentukan oleh jumlah yang besar serat-seratnya, daya kontraksi dan cepatnya berkontraksi. Sebelum kontraksi (mengerut), darah diantara serat-serat otot atau di luar pembuluh-pembuluh ototnya terjepit, sehingga peredaran darah, jadi juga pertukaran zat terganggu dan hal demikian menjadi sebab kelelahan otot. Maka dari itu, kerutan yang

8

2.

selalu diselingi pelemasan, disebut kontraksi dinamis, sangat tepat bagi bekerjanya otot-otot. Pekerjaan-pekerjaan demikian misalnya mengayuh pedal, sepeda, memutar roda, memukul lonceng, mencangkul dan lain.lain. Kerja terus- menerus dari suatu otot, sekalipun bersifat dinarnik, selalu diikuti dengan kelelahan, yang perlu istirahat untuk pemulihan. Atas dasar kenyataan itu, waktu istirahat dalam kerja atau sesudah kerja sangat penting. Kelelahan otot secara fisik antara lain akibat zat-zat sisa metabolisme seperti asam laktat, C02, dan sebagainya. Namun kelelahan, sesuai dengan mekanisme kerja, tidak saja ditentukan oleh keadaan ototnya sendiri, melainkan terdapat komponen mental psikologis yang sering-sering juga besar pengaruhnya. Otot-otot yang lelah akan menunjukkan kurangnya kekuatan dari padanya, bertambah panjangnya waktu later kontraksi dan waktu melemas, berkurangnya koordinasi, serta otot gemetar (tremor). Otot dan tulang merupakan dua alat yang sangat penting dalam bekerja. Kerutan dan pelemasan otot dipindahkan kepada tulang menjadi gerakan-gerakan fleksi, abduksi, rotasi, supinasi dan lain.lain. Demikian pentingnya kedua alat ini sebagai suatu kesatuan, maka berkembanglah ilmu biomekanik, yaitu ilmu tentang gerakan otot dan tulang, yang dengan pengetrapannya diharapkan, agar dengan tenaga sekecil-kecilnya dapat dicapai hasil kerja sebesar-besarnya. Biomekanika memberikan pengetahuan-pengetahuan tentang gerakan-gerakan dan kekuatan pada penggunaan leher dan kepala, tulang belakang, lengan, tangan, kaki, jari- jari dan sebagainya. Antropometri Istilah Anthropometri berasal dari anthro yang berarti manusia dan merti yang berarti ukuran. Secara definitive Anthropometri dapat dinyatkan sebagai satu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lenar, dsb) berat dan lain-lain yang berbeda satu dengan yang lainnya. Anthropometri secara luas akan digunakan sebagai

9

pertimbangan-pertimbangan ergomonis dalam memerlukan interaksi manusia. Data Anthropometri yang berhasil di peroleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal :

a. Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dll)

b. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools) dan sebagainya.

c. Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi/meja computer, dll.

d. Perancangan lingkungan kerja fisik.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data Anthropometri akan menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoperasikan/menggunakan produk tersebut. Dalam kaitan ini maka perancang produk harus mampu mengakomondasikan dimensi tubuh dari populasi terbesar yang akan menggunkan produk hasil rancangannya tersebut. Secara umum sekurang-kurangnya 90% - 95% dari populasi yang menjadi target dalam kelompok pemakai suatu produk haruslah mampu menggunakannya selayaknya(Wignjosoebroto, 1995). Antropometri dengan karateristik fisik tubuh manusia, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain. Secara definisi artropometri dapat dinyatakan sebagai studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar dan sebagainya) berat dan lain-lain. Artropometri secara luas digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan ergonomic dalam proses perancangan (design) produk maupun system kerja yang memerlukan interaksi manusia (Wignjosoebroto, 2000). Menurut nurmianto (1991) artropometri adalah suatu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik manusia, ukuran,

10

bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk masalah design.

C. Penerapan Ergonomi Dalam Industri

Secara umum tujuan dari penerapan ergonomi adalah :

1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cedera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental,mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.

2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial,mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan meningkatkanjaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.

3. Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu aspek teknis,ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.

Penerapan ergonomi dalam industry yaitu :

1. Posisi Kerja Posisi Kerja terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki.

2. Proses Kerja Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri barat dan timur.

3. Tata letak tempat kerja Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.

11

4. Mengangkat beban Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan

kepala, bahu, tangan, punggung dsbnya. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan:

a. Menjinjing beban

Beban yang diangkat tidak melebihi aturan yang ditetapkan ILO sebagai berikut:

1)

Laki-laki dewasa 40 kg

2)

Wanita dewasa 15-20 kg

3)

Laki-laki (16-18 th) 15-20 kg

4)

Wanita (16-18 th) 12-15 kg

b. Organisasi kerja Pekerjaan harus di atur dengan berbagai cara :

1)

Alat bantu mekanik diperlukan kapanpun

2)

Frekuensi pergerakan diminimalisasi

3)

Jarak mengangkat beban dikurangi

4) Dalam membawa beban perlu diingat bidangnya tidak licin dan

5)

mengangkat tidak terlalu tinggi. Prinsip ergonomi yang relevan bisa diterapkan.

c. Metode mengangkat beban Semua pekerja harus diajarkan mengangkat beban. Metode

kinetic dari pedoman penanganan harus dipakai yang didasarkan pada dua prinsip :

1)

2) Untuk memulai gerakan horizontal maka digunakan momentum

Otot lengan lebih banyak digunakan dari pada otot punggung

berat badan. Metoda ini termasuk 5 faktor dasar :

1)

Posisi kaki yang benar

2)

Punggung kuat dan kekar

3)

Posisi lengan dekat dengan tubuh

12

4)

Mengangkat dengan benar

5)

Menggunakan berat badan

d. Supervisi medis Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis teratur. 1) Pemeriksaan sebelum bekerja untuk menyesuaikan dengan beban

kerjanya 2) Pemeriksaan berkala untuk memastikan pekerja sesuai dengan pekerjaannya dan mendeteksi bila ada kelainan 3) Nasehat harus diberikan tentang hygiene dan kesehatan, khususnya pada wanita muda dan yang sudah berumur.

A.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan Ergonomi telah menjadi bagian dari perkembangan budaya manusia sejak 4000 tahun yang lalu (Dan Mac Leod, 1995). Perkembangan ilmu ergonomi dimulai saat manusia merancang benda-benda sederhana, seperti batu untuk membantu tangan dalam melakukan pekerjaannya, sampai dilakukannya perbaikan atau perubahan pada alat bantu tersebut untuk memudahkan penggunanya. Pada awalnya perkembangan tersebut masih tidak teratur dan tidak terarah, bahkan kadang-kadang terjadi secara kebetulan. Konsep ergonomi serta keselamatan kesehatan kerja merupakan konsep penting untuk diterapkan dalam suatu industri, khususnya dalam perancangan stasiun kerjanya. Kecenderungan yang ada saat ini adalah, pada industri skala kecil menengah. Konsep tersebut kurang begitu diperhatikan, sehingga dapat menimbulkan resiko kerja baik dari segi bahaya kondisi lingkungan fisik, sikap dan cara kerja (Laksmiwaty, 2009). Secara definitive Anthropometri dapat dinyatkan sebagai satu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lenar, dsb) berat dan lain-lain yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data Anthropometri akan menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoperasikan/menggunakan produk tersebut. Dalam kaitan ini maka perancang produk harus mampu mengakomondasikan dimensi tubuh dari populasi terbesar yang akan menggunkan produk hasil rancangannya tersebut. Secara umum sekurang-kurangnya 90% - 95% dari populasi yang menjadi target dalam kelompok pemakai suatu produk haruslah mampu menggunakannya selayaknya (Wignjosoebroto, 1995).

13

DAFTAR PUSTAKA

Intan Kusumawati. 2011. Skripsi : Perancangan Ulang Meja Kursi Baca Berdasarkan Aspek Fungsi dan Kenyamanan Sesuai kebutuhan Pengguna Perpustakaan. Surakarta : Teknik Industri Fakultas teknik Universitas Sebelas Maret. (Online). Diakses pada 28 Januari 2017.

Kristanto, Saputra, Dianasa Adhi. 2011. Perancangan Meja dan Kursi Kerja Yang Ergonomi Pada Stasiun Kerja Pemotongan Sebagai Upaya Peningkatan Produktivitas Yogyakarta : Program Studi Teknik Industri Universitas Ahmad Dahlan. (Online). Diakses pada 28 Januari 2017.

Kuswana, Wowo Sunaryo. 2014. Ergonomi dan K3. Bandung : Remaja Rosakarya Liliana, Widagdo, Abtokhi. 2007. Pertimbangan Antropometri Pada Pendisainan. YogyaKarta : Sekolah Tinggi Teknologi. (Online). Diakses pada 28 Januari 2017. (http://jurnal.sttn-batan.ac.id/wp-

Susanto, Gempur. 2013. Ergonomi Terapan. Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher Tarwaka, Bakri, Sudiajeng. 2004. Ergonomi Untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas. Surabaya : UNIBA PRESS. (Online). Diakses pada 28 Januari 2017. (http://shadibakri.uniba.ac.id/wp-

Analisis Ergonomi Terhadap

Rancangan Fasilitas Kerja Stasiun Kerja Dibagian Skiving Dengan Antropometri Orang Indonesia. Fakultas Teknologi Industri Its Surabaya, Fakultas Teknologi Industri UMI Makasar. (Online). Diakses pada 28 Januari 2017. (http://personal.its.ac.id/files/pub/2850-m_sritomo-ie-

Wignjosoebroto, Gunani,

Wignjosoebroto, Sritomo. 2003. Ergonomi Studi Gerak dan Waktu. Surabaya :

Penerbit Guna Widya