Anda di halaman 1dari 42

Jenis Puasa Orang Kristen

JENIS PUASA KRISTEN


Ada 3 jenis puasa utama dalam orang Kristen yang diutarakan dalam
Alkitab, yaitu:
Puasa Biasa: Pantang segala makanan keras dan lembut namun tidak
berpantang air.
Puasa Penuh: Tidak makan dan tidak minum yang biasanya tidak harus
dilakukan lebih lama yaitu tidak lebih dari 3 hari, sebab tubuh seseorang
akan menjadi kering saat tidak mendapat air selama lebih dari 2 hari.
Puasa Sebagian: Membatasi makanan dan bukan berarti tidak makan
apapun sama sekali.
Jenis Puasa Orang Kristen Berdasarkan Alkitab
Puasa Musa: 40 hari 40 malam tidak makan dan tidak minum apapun (Kel
24:16 dan Kel 34:28).
Puasa Daud: Tidak makan dan semalaman hanya berbaring di tanah (2 Sam
12:16).
Puasa Elia: 40 hari 40 malam berjalan kaki (1 Raja 19:8).
Puasa Ester: 3 hari 3 malam tidak makan dan tidak minum (Est 4:16).
Puasa Ayub: 7 hari 7 malam tidak bersuara sama sekali (2:13).
Puasa Daniel: 10 hari hanya makan sayur dan minum air putih saja (Dan
1:12), doa dan puasa (Dan 9:3), berkabung selama 21 hari (Dan 10:2)
Puasa Yunus: 3 hari 3 malam berada dalam perut ikan (Yunus 1:17).
Puasa Niniwe: 40 hari 40 malam tidak makan tidak minum dan tidak
berbuat sesuatu yang jahat (Yunus 3:7).
Tujuan Utama Puasa Orang Kristen
Untuk merendahkan diri kita di hadapan Allah.
Untuk menyatakan rasa kasih kita yang mendalam kepada Tuhan Yesus.
Untuk membuat tubuh kita menjadi lebih disiplin dari keinginan duniawi
seperti dengan cara untuk menyangkal diri.
Untuk menambah rasa simpati kepada sesama supaya bisa merasakan
penderitaan orang lain.
Untuk meminta jawaban Tuhan atas semua masalah yang kita alami.
Untuk mengusir jenis setan tertentu yang hanya bisa diusir dengan
menjalankan doa puasa.
Persiapan Puasa Orang Kristen
Dasar doa dari menjalani puasa dalam Kristen adalah sebuah pertobatan
dan dosa yang belum diakui akan menjadi penghambat dalam doa yang
anda panjatkan.
Dibawah ini adalah beberapa hal yang harus dilakukan untuk
mempersiapkan hati pada saat berpuasa.
Mengakui semua dosa agar Roh Kudus bisa mengingat anda sekaligus
menerima pengampunan dari Allah [1 Yohanes 1:9]
Cari pengampunan dari semua orang yang pernah anda buat tersinggung,
anda campakkan dan mengampuni semua orang yang pernah menyakiti
anda. [Markus 11:25; Lukas 11: 4; 17: 3,4].
Jadikan Roh Kudus sebagai pemimpin dan pembimbing anda.
Minta pada Tuhan supaya bisa mengisi hati dan jiwa anda dengan Roh
Kudus sesuai dengan apa yang Ia perintahkan dalam Efesus 5:18 dan juga
janji-Nya pada Yohanes 5: 14-15.
Serahkan hidup anda seluruhnya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru
Selamat serta menolak segala keinginan daging [Roma 12 1:2].
Merenungkan sifat Allah, kasih Allah, kedaulatan, kebijaksanaan, kekuasaan,
kasih karunia, kesetiaan dan sebagainya [Mazmur 48: 9-10, 103: 1-8, 11-13].
Memulai waktu doa dan juga puasa dengan hati penuh harapan [Ibrani
11:16].
PUASA KATOLIK
Berikut ini mari kita lihat ketentuan tobat dengan puasa dan pantang,
menurut Kitab Hukum Gereja Katolik:
Kan. 1249 – Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-
masing melakukan tobat demi hukum ilahi; tetapi agar mereka semua
bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari
tobat, .
Kan. 1250 – Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari
Jumat sepanjang tahun, dan juga masa prapaskah.
Kan. 1251 – Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan
Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang
tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang
terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan
pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara
dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus.
Kan. 1252 – Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap
empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang
berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala
jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena
usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah
cita-rasa tobat yang sejati.
Kan. 1253 – Konferensi para Uskup dapat menentukan dengan lebih rinci
pelaksanaan puasa dan pantang; dan juga dapat mengganti-kan seluruhnya
atau sebagian wajib puasa dan pantang itu dengan bentuk-bentuk tobat
lain, terutama dengan karya amal-kasih serta latihan-latihan rohani.
Memang sesuai dari yang kita ketahui, ketentuan dari Konferensi para
Uskup di Indonesia menetapkan selanjutnya :
Hari Puasa dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari
Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa
Prapaska sampai dengan Jumat Agung.
Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun
sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang
Katolik yang berusia genap 14 tahun ke atas.
Puasa (dalam arti yuridis) berarti makan kenyang hanya sekali sehari.
Pantang (dalam arti yuridis) berarti memilih pantang daging, atau ikan
atau garam, atau jajan atau rokok. Bila dikehendaki masih bisa menambah
sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila
melanggarnya.
Maka penerapannya adalah:
Kita berpantang setiap hari Jumat sepanjang tahun (contoh: pantang
daging, pantang rokok dll) kecuali jika hari Jumat itu jatuh pada hari raya,
seperti dalam oktaf masa Natal dan oktaf masa Paskah. Penetapan
pantang setiap Jumat ini adalah karena Gereja menentukan hari Jumat
sepanjang tahun (kecuali yang jatuh di hari raya) adalah hari tobat.
Namun, jika kita mau melakukan yang lebih, silakan berpantang setiap
hari selama Masa Prapaska.
Jika kita berpantang, pilihlah makanan/ minuman yang paling kita sukai.
Pantang daging adalah contohnya, atau yang lebih sukar mungkin pantang
garam. Tapi ini bisa juga berarti pantang minum kopi bagi orang yang suka
sekali kopi, dan pantang sambal bagi mereka yang sangat suka sambal,
pantang rokok bagi mereka yang merokok, pantang jajan bagi mereka yang
suka jajan. Jadi jika kita pada dasarnya tidak suka jajan, jangan memilih
pantang jajan, sebab itu tidak ada artinya.
Pantang tidak terbatas hanya makanan, namun pantang makanan dapat
dianggap sebagai hal yang paling mendasar dan dapat dilakukan oleh
semua orang. Jika memungkinkan tentu kita dapat melakukan gabungan
antara pantang makanan/ minuman dan pantang kebiasaan ini.
Puasa minimal dalam setahun adalah Hari Rabu Abu dan Jumat Agung,
namun bagi yang dapat melakukan lebih, silakan juga berpuasa dalam
ketujuh hari Jumat dalam masa Prapaska (atau bahkan setiap hari dalam
masa Prapaska).
Waktu berpuasa, kita makan kenyang satu kali, dapat dipilih sendiri pagi,
siang atau malam. Harap dibedakan makan kenyang dengan makan
sekenyang-kenyangnya. Karena maksud berpantang juga adalah untuk
melatih pengendalian diri.
Maka pada saat kita berpuasa, kita dapat mendoakan untuk pertobatan
seseorang, atau mohon pengampunan atas dosa kita. Doa-doa seperti inilah
yang sebaiknya mendahului puasa, kita ucapkan di tengah-tengah kita
berpuasa, terutama saat kita merasa haus/ lapar, dan doa ini pula yang
menutup puasa kita/ sesaat sebelum kita makan. Di sela-sela kesibukan
sehari-hari kita dapat mengucapkan doa sederhana, “Ampunilah aku, ya
Tuhan. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Mohon selamatkanlah …..”
(sebutkan nama orang yang kita kasihi)
Karena yang ditetapkan di sini adalah syarat minimal, maka kita sendiri
boleh menambahkannya sesuai dengan kekuatan kita. Jadi boleh saja kita
berpuasa dari pagi sampai siang, atau sampai sore, atau bagi yang
memang dapat melakukannya, sampai satu hari penuh. Juga tidak menjadi
masalah, puasa sama sekali tidak makan dan minum atau minum sedikit
air. Diperlukan kebijaksanaan sendiri (prudence) untuk memutuskan hal ini.
PUASA DALAM ALKITAB NASRANI :
Apa saja puasa yang tercatat dalam Perjanjian Lama ?
1. Puasa Musa, 40 hari 40 malam tidak makan dan tidak minum (Kel 24:16
dan Kel 34:28)
2. Puasa Daud, tidak makan dan semalaman berbaring di tanah (2 Sam
12:16)
3. Puasa Elia, 40 hari 40 malam berjalan kaki (1 Raj 19:8)
4. Puasa Ester, 3 hari 3 malam tidak makan dan tidak minum (Est 4:16)
5. Puasa Ayub, 7 hari 7 malam tidak bersuara (2:13)
6. Puasa Daniel, 10 hari hanya makan sayur dan minum air putih (Dan 1:12),
doa dan puasa (Dan 9:3), berkabung selama 21 hari (Dan 10:2)
7. Puasa Yunus, 3 hari 3 malam dalam perut ikan (Yunus 1:17)
8. Puasa Niniwe, 40 hari 40 malam tidak makan, tidak minum dan tidak
berbuat jahat (Yunus 3:7)
Apa saja puasa yang tercatat dalam Perjanjian Baru ?
1. Puasa Yesus, 40 hari 40 malam tidak makan ( Mat 4:2 )
2. Puasa Yohanes pembabtis, tidak makan dan tidak minum ( Mat 11:18 )
3. Puasa Paulus, 3 hari 3 malam tidak makan, tidak minum dan tidak
melihat ( Kis 9:9 )
4. Puasa Jemaat mula-mula, untuk menguatkan Paulus dan Barnabas dalam
pelayanan ( Kis 13:2-3 )

JENIS-JENIS PUASA
Puasa Normal, dilakukan tanpa makanan selama masa tertentu dan hanya
memasukkan cairan. Lamanya bisa satu hari (Hakim-hakim 20:26).
Puasa Mutlak, dilakukan tanpa makanan atau air (Ester 4:16; Yunus 3:5-7).
Puasa Parsial, melibatkan penghilangan jam makan dalam sehari, atau
menghilangkan makanan tertentu untuk suatu masa tertentu. Puasa
Bergilir, melibatkan penghindaran makan tertentu secara berkala.
TUJUAN BERPUASA
Untuk meremukkan jiwa (Mazmur 69:11).
Untuk merendahkan diri (Ezra 8:21; Mazmur 35:13).
Untuk mencari TUHAN (2 Tawarikh 20:3-4).
Untuk bersiap dalam peperangan rohani (Matius 17:21).
Untuk mendisiplinkan tubuh kita dari keinginan duniawi, salah satu cara
untuk menyangkal diri.
Untuk menambah rasa simpati kepada sesama, agar bisa merasakan
penderitaan orang lain.
Untuk meminta jawaban Tuhan atas permasalahan kita.
Untuk mengusir jenis setan tertentu yang hanya bisa diusir dengan doa
puasa.
MANFAAT BERPUASA
- Meletakkan tubuh pada tempatnya (1 Korintus 9:27).
- Memberikan kemenangan atas pencobaan (Matius 4:1-2).
- Mempertajam pengertian rohani kita sehingga memampukan kita
mengambil keputusan yang benar (Matius 4:10).
KARAKTERISTIK PUASA YANG ALKITABIAH (Yesaya 58:3-9)
- Puasa Para Murid (Matius 17:21).
- Puasa Ezra (Ezra 8:23).
- Puasa Samuel (1 Samuel 7:6).
- Puasa Elia (1 Raja-raja 19:4-8).
- Puasa Janda (1 Raja-raja 17:16).
- Puasa Rasul Paulus (KPR. 9:9).
- Puasa Daniel (Daniel 1:8).
- Puasa Yohanes Pembaptis (Lukas 1:15).
- Puasa Ester (Ester 4:16' 5:2).
PUASA MENURUT PERJANJIAN LAMA
Imamat 16 menceritakan bagaimana Tuhan Allah berfirman kepada Musa
terkait dengan kedudukan Harun dan bagaimana harun harus mengadakan
pendamaian dengan Allah atas dirinya , keluarganya dan bangsa Israel. Ini
adalah pertama kami Allah menetapkan kepada manusia untuk berpuasa
sebagai bentuk dan tanda pentahiran dan pendamaian dengan Allah yaitu
dengan merendahkan diri kepada Allah. Allah adalah suci dan manusia
penuh dengan dosa sehingga yang suci dengan yang berdosa tidak bisa
disatukan. Melalui puasa Allah memberikan kesempatan kepada manusia
yang berdoa untuk berjumpa dengan Allah. Ayat yang kami jadikan Nats
adalah Imamat 16 : 29-31 sebagai berikut :

Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu,


yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu
harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan
sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di
tengah-tengahmu.
Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk
mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan
TUHAN. Hari itu harus menjadi sabat, hari perhentian penuh, bagimu dan
kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Itulah suatu ketetapan
untuk selama-lamanya.

Imamat 23 : 26-32
Imamat 23: 26-32 adalah penegasan kembali dari atas Firman Allah
sebelumnya ( Imamat 16: 29-31 ) yaitu Allah memerintahkan supaya umat
Israel berpuasa TUHAN berfirman kepada Musa: "Akan tetapi pada
tanggal sepuluh bulan yang ketujuh itu ada hari Pendamaian; kamu harus
mengadakan pertemuan kudus dan harus merendahkan diri dengan
berpuasa dan mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN. Pada
hari itu janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah hari
Pendamaian untuk mengadakan pendamaian bagimu di hadapan TUHAN,
Allahmu. Karena setiap orang yang pada hari itu tidak merendahkan diri
dengan berpuasa, haruslah dilenyapkan dari antara orang-orang
sebangsanya. Setiap orang yang melakukan sesuatu pekerjaan pada hari itu,
orang itu akan Kubinasakan dari tengah-tengah bangsanya. Janganlah kamu
melakukan sesuatu pekerjaan; itulah suatu ketetapan untuk selama-
lamanya bagimu turun-temurun di segala tempat kediamanmu. Itu harus
menjadi suatu sabat, hari perhentian penuh bagimu, dan kamu harus
merendahkan diri dengan berpuasa. ."Mulai pada malam tanggal sembilan
bulan itu, dari matahari terbenam sampai matahari terbenam, kamu
harus merayakan sabatmu
Hal berpuasa juga terdapat pada Bilangan 30 : 13 adalah bentuk nasar dan
Janji dengan Sumpah yang dilakukan oleh Istri
Pada Bilangan 30 : 13 merupakan ketentuan berpuasa karena bernazar
dan berjanji daklam sumpah oleh seorang istri. Firman Allah menyebutkan
bagaimana seorang istri yang bernazar dan berjanji dalam sumpah untuk
merendahkan diri dihadapan Tuhan dengan berpuasa berlaku atau tidak
sesuai dengan keputusan suaminya, sehingga bagi seorang istri puasanya
bisa berlaku atau dibatalkan oleh suaminya. Seperti yang tertulis dalam
Bilangan 30 : 13 sebagai berikut : " Setiap nazar dan setiap janji sumpah
perempuan itu untuk merendahkan diri dengan berpuasa, dapat dinyatakan
berlaku oleh suaminya atau dapat dibatalkan oleh suaminya. "
Puasa Hakim Hakim 20 ayat 26 adalah bentuk permohonan kepada Tuhan
Hakim hakim 20: 26 menceritakan bagaimana perang saudara dari suku
Israel yang melawan saudara mereka yaitu Bani Benyamin dalam waktu tiga
hari. Perang saudara dipicu karena perilaku orang orang di kota Gibea milik
Bani Benyamin terhadap perempuan dari Istri orang Lewi; sehingga perilaku
orang orang di kota Gibea tersebut telah menodai dan berbuat mesum
terhadap sesama orang Israel. Sehingga terjadilah perang saudara yang
menimbulkan kematian yang tidak sedikit di antara kedua belah pihak.
Namun akhirnya atas kehendak Tuhan pada hari yang ketiga suku Benyamin
di taklukkan setelah sehari sebelumnya orang orang Israel dari seluruh
bangsa yang tiba di Betel menangis dan berpuasa sampai senja di hadapan
Tuhan. Mereka menangis karena banyaknya orang orang Isreal yang tewas
dalam perang saudara tersebut . Sehingga puasa yang dilakukan oleh
bangsa Israel dihadapan Tuhan mengharapkan kemenangan dan keadilan
atas perbuatan orang orang di Gibea dari suku Benyamin. Sehingga dengan
melakukan hal tersebut Allah memberikan apa yang diharapkan oleh
bangsa itu seperti yang tertulis dalam Hakim hakim 20 : 26 " Kemudian
pergilah semua orang Israel, yakni seluruh bangsa itu, lalu sampai di Betel;
di sana mereka tinggal menangis di hadapan TUHAN, berpuasa sampai
senja pada hari itu dan mempersembahkan korban bakaran dan korban
keselamatan di hadapan TUHAN. "
Puasa menurut II Tawarih 20 : 3 adalah upaya meminta pertolongan kepada
Tuhan seperti tertulis sebagai berikut : Yosafat menjadi takut, lalu
mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada
seluruh Yehuda supaya berpuasa.
Ezra 8 :21. Kemudian di sana, di tepi sungai Ahawa itu, aku memaklumkan
puasa supaya kami merendahkan diri di hadapan Allah kami dan memohon
kepada-Nya jalan yang aman bagi kami, bagi anak-anak kami dan segala
harta benda kami. Ezra 8:23 Jadi berpuasalah kami dan memohonkan hal
itu kepada Allah dan Allah mengabulkan permohonan kami.
Hal berpuasa juga tertulis dalam I Samuel 7 : 6 adalah bentuk penyesalan
atas pelanggaran terhadap Allah.
Puasa yang dilakukan bangsa Israel seperti tertulis dalam I Samuel 7 : 6
adalah bentuk penyesalan dari bangsa Isreal yang telah membuat Allah
Allah lain selain Tuhan Allah di daerah Mizpa. Bentuk penyesalan yang
dilakukan adalah dengan membuang semua Baal dan Asytoret dari tengah
tengah bangsa tersebut dan seluruh orang israel melakukan puasa pada
jaman Samuel. Dan ketika bangsa Isrel berkumpul dan berpuasa di Mizpa
dimanfaatkan oleh orang Filistin untuk menyerang bangsa Israel. Dan atas
kehedak Tuhan akhirnya bangsa Israel bisa mengalahkan bangsa Filistin.
Menurut bacaan ini puasa adalah bentuk penyesalan kepada Tuhan atas
perbuatan perbuatan yang tidak berkenan dihadapan Tuhan. Seperti yang
tertulis dalam I Samuel 7 : 6 " Setelah berkumpul di Mizpa, mereka
menimba air dan mencurahkannya di hadapan TUHAN. Mereka juga
berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: "Kami telah berdosa kepada
TUHAN." Dan Samuel menghakimi orang Israel di Mizpa. "
Puasa menurut I Samuel 31 : 13 adalah bentuk perkabungan .
Seperti yang tertulis dalam I Samuel 31 : 13 " Mereka mengambil tulang-
tulangnya lalu menguburkannya di bawah pohon tamariska di Yabesh.
Sesudah itu berpuasalah mereka tujuh hari lamanya. " dan II Samuel 1:12 "
Dan mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam
karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat TUHAN dan karena
kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang. " dan juga terdapat
pada I Tawarikh 10 :12 " maka bersiaplah segenap orang gagah perkasa, lalu
pergi mengambil mayat Saul dan mayat anak-anaknya. Mereka
membawanya ke Yabesh dan menguburkan tulang-tulang mereka di bawah
pohon besar, di Yabesh. Sesudah itu berpuasalah mereka tujuh hari
lamanya. "
Nehemia 1: 4 Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan
berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah
semesta langit,
Nehemia 9:1. Pada hari yang kedua puluh empat bulan itu berkumpullah
orang Israel dan berpuasa dengan mengenakan kain kabung dan dengan
tanah di kepala.
Ester 4:3 Di tiap-tiap daerah, ke mana titah dan undang-undang raja telah
sampai, ada perkabungan yang besar di antara orang Yahudi disertai puasa
dan ratap tangis; oleh banyak orang dibentangkan kain kabung dengan abu
sebagai lapik tidurnya.
Ester 4: 16 "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di
Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum
tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-
dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk
menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau
terpaksa aku mati, biarlah aku mati."
Puasa menurut II Samuel 12 : 16 adalah bentuk permohonan Daud agar
Tuhan berbelas kasihan pada anaknya
Seperti yang terulis dalam II Samuel 12 : 1 - 25 diceritakan bagaimana Tuhan
berfirman kepada Daud melalui Natan atas perbuatan perbuatan Daud yang
tidak berkenan kepada Allah yaitu membuat Uria orang Het tewas dan Daud
mengambil istri Uria ( Betsyeba ) menjadi istrinya. Sehingga anak yang
dilahirkan oleh istri Daud dari bekas istri Uria sakit dan akhirnya mati pada
hari ke-7. Selama 7 hari itu Daud melakukan puasa dengan harapan Tuhan
mengabulkan permohonannya agar Tuhan berbelas kasihan pada anak itu.
Seperti tertulis dalam II Samel 12 : 16 " Lalu Daud memohon kepada Allah
oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke
dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah. " dan II Samuel 12 : 21-
23 " Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: " Apakah artinya hal yang
kauperbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, engkau berpuasa
dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati, engkau bangun dan makan ! "
Jawabnya: "Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena
pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup.
Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku
mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak
akan kembali kepadaku."

Puasa menurut I Raja Raja 21 : 19 adalah siasat dan kelicikan untuk


memperdaya.
Pada I Raja Raja 21 dikisahkan bagaimana raja Israel " Ahab " mengingini
sebidang tanah milik Nabot, dan Nabot tidak memberikan tanah leluhurnya
itu kepada Nabot. Atas siasat , kelicikan dan tipudaya dari istri Ahab " Izebel
" yang menulis surat kepada pemuka dan tua tua yang tinggal di kota Nabot
agar memaklumkan puasa dan memperdaya Nabot yang berakhir pada
kematian Nabot sehingga raja Ahab berhasil mengambil tanah milik Nabot
menjadi miliknya. Dan bagaimana hukuman Allah ditimpakan kepada raja
Ahab. Semua terdapat dalam I Raja Raja 21. Dibawah ini adalah firman yang
terkait dengan perihal puasa sebagai berikut : I raja raja 21 : :9 Dalam surat
itu ditulisnya demikian: "Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk
paling depan di antara rakyat. ; :12 Mereka memaklumkan puasa dan
menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat. ; : 27 Segera sesudah
Ahab mendengar perkataan itu, ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan
kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai
kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban.

Puasa menurut Ester 9 : 31 adalah bentuk syukur dan kemenangan


Pada kitab Ester 9 : 20 - 32 menyebutkan bahwa ketentuan puasa yang
diwajibkan oleh Mordekhai dan Ratu Ester adalah bentuk rasa syukur
karena Tuhan melindungi bangsa Israel. Dengan terbunuhnya Haman bin
Hamedata yang telah merancang untuk membinasakan orang Yahudi.
Sehingga dengan kematian Haman maka rencana jahat itu tidak bisa
terlaksana. Kewajiban untuk berpuasa tertulis dalam Ester 9 : 31 sebagai
berikut : " supaya hari-hari Purim itu dirayakan pada waktu yang ditentukan,
seperti yang diwajibkan kepada mereka oleh Mordekhai, orang Yahudi itu,
dan oleh Ester, sang ratu, dan seperti yang diwajibkan mereka kepada
dirinya sendiri serta keturunan mereka, mengenai hal berpuasa dan
meratap-ratap. "

Firman Tuhan yang lainnya tentang puasa seperti tertulis dalam perjanjian
lama sebagai berikut :

Mazmur 35:13 Tetapi aku, ketika mereka sakit, aku memakai pakaian
kabung; aku menyiksa diriku dengan berpuasa, dan doaku kembali timbul
dalam dadaku,

Mazmur 69:10 (69-11) Aku meremukkan diriku dengan berpuasa, tetapi


itupun menjadi cela bagiku;

Mazmur 109 : 24 Lututku melentuk oleh sebab berpuasa, dan badanku


menjadi kurus, habis lemaknya.

Yesaya 58 :3. "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak


memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau
tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau
masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua
buruhmu.

Yesaya 58 : 4 -6 " Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan


berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan
caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di
tempat tinggi. Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan
mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala
seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik
tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan
hari yang berkenan pada TUHAN? Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah
supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan
tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan
mematahkan setiap kuk,

Yeremia 14:12 Sekalipun mereka berpuasa, Aku tidak akan mendengarkan


seruan mereka; sekalipun mereka mempersembahkan korban bakaran dan
korban sajian, Aku tidak akan berkenan kepada mereka, melainkan Aku
akan menghabiskan mereka dengan perang, dengan kelaparan dan dengan
penyakit sampar."
Yeremia 36:6 Jadi pada hari puasa engkaulah yang pergi membacakan
perkataan-perkataan TUHAN kepada orang banyak di rumah TUHAN dari
gulungan yang kautuliskan langsung dari mulutku itu; kepada segenap
orang Yehuda yang datang dari kota-kotanya haruslah kaubacakannya juga.

Yeremia 36:9. Adapun dalam tahun yang kelima pemerintahan Yoyakim bin
Yosia, raja Yehuda, dalam bulan yang kesembilan, orang telah
memaklumkan puasa di hadapan TUHAN bagi segenap rakyat di Yerusalem
dan bagi segenap rakyat yang telah datang dari kota-kota Yehuda ke
Yerusalem. --

Daniel 6:18. (6-19) Lalu pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia


semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan
ia tidak dapat tidur.

Daniel 9:3 Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa
dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.

Yoel 1:14. Adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya;


kumpulkanlah para tua-tua dan seluruh penduduk negeri ke rumah TUHAN,
Allahmu, dan berteriaklah kepada TUHAN.

Yoel 2:12. "Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah


kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis
dan dengan mengaduh."

Yoel 2:15 Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus,


maklumkanlah perkumpulan raya;
Yunus 3:5. Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan
puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan
kain kabung.

Zakharia 7:5 "Katakanlah kepada seluruh rakyat negeri dan kepada para
imam, demikian: Ketika kamu berpuasa dan meratap dalam bulan yang
kelima dan yang ketujuh selama tujuh puluh tahun ini, adakah kamu
sungguh-sungguh berpuasa untuk Aku?

Zakharia 8:19 "Beginilah firman TUHAN semesta alam: Waktu puasa dalam
bulan yang keempat, dalam bulan yang kelima, dalam bulan yang ketujuh
dan dalam bulan yang kesepuluh akan menjadi kegirangan dan sukacita
dan menjadi waktu-waktu perayaan yang menggembirakan bagi kaum
Yehuda. Maka cintailah kebenaran dan damai !"
PUASA MENURUT PERJANJIAN BARU
Dalam perjanjian baru juga terdapat beberapa ayat tentang berpuasa,
bagaimana seharusnya berpuasa menurut Yesus Kristus. Alkitab tidak
memerintahkan orang-orang Kristen untuk berpuasa. Puasa bukanlah
sesuatu yang dituntut atau diminta Allah dari orang-orang Kristen. Pada saat
yang sama, Alkitab memperkenalkan puasa sebagai sesuatu yang baik,
berguna dan perlu dilakukan. Kitab Kisah Rasul mencatat tentang orang-
orang percaya yang berpuasa sebelum mereka mengambil keputusan-
keputusan penting ( Kisah Rasul 13:4; 14:23 ). Doa dan puasa sering
dihubungkan bersama ( Lukas 2:37; 5:33 ). Puasa tidak hanya fokus pada
tidak makan atau tidak minum saja, seharusnya tujuan dari puasa adalah
melepaskan mata kita dari hal-hal duniawi dan berpusat pada Tuhan. Puasa
adalah cara untuk mendemonstrasikan kepada Tuhan, dan kepada diri
sendiri, bahwa Anda serius dalam hubungan Anda dengan Tuhan.
Bagaimana berpuasa yang baik menurut Kitab Perjanjian Baru :
1. Puasa adalah menjalin hubungan pribadi dengan Allah sehingga orang
lain tidak perlu tahu seperti yang tertulis dalam Matius 6 : 16-18 sebagai
berikut :
"Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang
munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa
mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka
sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah
kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa
engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di
tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan
membalasnya kepadamu."
2. Mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa ketika Ia bersama mereka ?
( Matius 9 : 14-16 dan Lukas 5 : 33-35 - Markus 2 : 18 )
Karena puasa adalah untuk menunjukkan kepada Allah atau menjalin
hubungan dengan Allah , sedangkan Yesus adalah Imanuel (= Allah beserta
kita ). Sehingga apa artinya berpuasa jika Yesus Kristus yang adalah Allah
ada ditengah tengah para murid. Seperti yang tertulis dalam Matius 9 : 14-
16 seperti dibawah ini :
Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata:
"Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak ?"
Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki
berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan
datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka
akan berpuasa.
Yesus telah menjelaskan dalam Mat 9:15. Yesus juga menerangkan lewat
perumpamaan bahwa puasa dalam Perjanjian Lama berbeda dengan
puasa dalam Perjanjian Baru. (Mat 9:16-17).
3. Puasa untuk pengusiran Setan yang membandel ( Matius 17 : 14-21 )
Dalam Matius 17: 14 - 21 diceritakan bagaimana seorang anak muda yang
sakit ayan karena dirasuki oleh setan dan murid murid Yesus Kristus tidak
bisa menyembuhkannya atau mengusir setan tersebut, sehingga harus
Yesus yang turun tangan sendiri, sehingga sembuhlah anak itu. Setelah
semua itu murid murid Yesus bertanya mengapa mereka tidak bisa
mengusir setan itu ? jawab Yesus adalah karena murid murid Yesus kurang
percaya dan Yesus menjelaskan sekali lagi bahwa untuk jenis setan yang
seperti ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa. Seperti
yang tertulis dalam Matius 17 : 21
4. Puasa karena pengutusan Roh Kudus. ( Kisah Para Rasul 13-1-3 )
Dalam Kisah Para Rasul 13 : 1-3 diceritakan bagaimana Roh Kudus mengutus
Barnabas dan Saulus menerima tugas dari Roh Kudus untuk menjalankan
misi pelayanan yang ditentukan oleh Roh Kudus.
" Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa,
berkatalah Roh Kudus: "Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk
tugas yang telah Kutentukan bagi mereka." Maka berpuasa dan berdoalah
mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka
membiarkan keduanya pergi.
5. Berdoa dan berpuasa dilakukan sebelum menyerahkan penatua penatua
jemaat kepada Tuhan ( Kisah Para Rasul 14 : 22 dan 23 )
Berdoa dan berpuasa dilakukan oleh Paulus dan Barnabas sebelum
menyerahkan penatua penatua jemaat kepada Tuhan. Hal ini dilakukan di
kota Listra, Ikonium dan Antiokhia. Seperti yang tertulis dalam Kisah Para
Rasul 14 : 23 sebagai berikut :
Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat
itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-
penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka.

PUASA YAHUDI
Yom Kippur (‫ יום כיפור‬yom kippūr) atau Hari Pendamaian (hari grafirat)
adalah hari yang dianggap paling suci dalam agama Yahudi.[1] Perayaan ini
jatuh pada tanggal 10 Tisyri dalam kalender Yahudi.[1] Walaupun disebut
perayaan, sebenarnya dilakukan puasa selama 25 jam, dihitung dari
terbenamnya matahari.[2] Pengecualian diberikan kepada mereka yang
sakit dan anak-anak.[3] Dasar penyelenggaraan perayaan ini berasal dari
Pentateukh.[4] Hari raya ini adalah satu-satunya dalam hari raya Yahudi
yang tidak ditunda apabila berbenturan dengan hari Sabat.[4]
1.Ibadah Sembahyang
Dalam agama yahudi dikenal sembahayang, walaupun dalam Taurat tidak
ada tuntunan yang jelas, tapi mereka suka melakukan ibadah. Mereka
sembahyang setiap hari dalam tiga jam, yaitu pukul 9, pukul 11 pagi, dan
pukul 3 sore. Sembahyang pagi dimulai sejak terbit fajar sampai sekitar
pukul 10 pagi, kemudian sembahyang siang dimulai ketika matahari mulai
condong ke barat, dan sembahyang malam sejak terbenam matahari
sampai terbit fajar.
Tata cara melakukan sembahyang (terutama sembahyang malam dan
sembahyang pagi ) :
-Berdiri tegak (disebut ‘amidah’)
-Mengucapkan ‘Shema’ yaitu syahadat agama Yahudi. Ini berisi tentang
pujian kepada Tuhan yang telah memberikan terang benderang (pada
sembahyang pagi) dan pujian bagi Tuhan (sembahyang malam)
-Mengucapkan selawat 19 kali :tiga kali pertama pujian atas
keperkasaaanNya dan KesucianNya
-Tiga belas kali di tengah-tengah sembahyang, tiga kali selawat terakhir
dengan menyatakan terimakasih (alenu)
selain sembahyang wajib yang dilakukan setiap hari itu juga ada
semabahyang sunat (tambahan). Dalam melaksanakan sembahyang
dianjurkan berjemaah bersama setidaknya 10 orang terutama yang telah
berusia 13 tahun keatas.
kitab dijelaskan “inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-
lamanya bagi kamu, yakni pada bulan ke-7 pada tangga 10 bulan itu kamu
harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan
suatu pekerjaan, baik orang israel asli maupun orang asing yang tinggal
ditengah-tengahmu. Karena pada hari itu harus diadakan perdamaian
bagimu untukmentahirkan kamu, Kamu adan ditakhirkan dari segala
dosamu di hadapan Tuhan “
Puasa untuk umat Yahudi bermakna menahankan diri keseluruhannya
dari makanan dan minuman, termasuk dari meminum air. Menggosok gigi
diharamkan pada puasa hari besar Yom Kippur dan Tisha B'Av, tetapi
dibenarkan pada puasa hari kecil. Dalam teknis puasa mereka juga
disebutkan bahwa memakan obat pada umumnya tidak dibenarkan, kecuali
bila ada rekomendasi dari dokter. Umat Yahudi yang mengamalkan ritual
ini, berpuasa sampai enam hari dalam satu tahun.
Dalam kalender Ibrani, ada beberapa hari puasa yang dijalankan penganut
Yudaisme, banyak di antaranya memperingati malapetaka yang berkisar
pada hancurnya Bait Suci atau upaya penghancuran bangsa Yahudi.
Misalnya, pada 3 Tishrei, umat Yahudi melakukan puasa Gedaliah, hari
puasa memperingati pembunuhan Gedalya, seorang gubernur Judea yang
saleh. Pembunuhan itu mengakhiri otonomi Yahudi dan berlanjut
penghancuran Bait Salomo.
Pada 10 Tishrei, umat Yahudi melakukan puasa Yom Kippur, sebuah hari
paling kudus bagi umat Yahudi sepanjang tahun. Yom Kippur adalah hari
umat Yahudi mendekatkan diri pada tuhan dan menyucikan jiwa. Hari ini
disebut pula “". Ini sebagaimana ditulis dalam Imamat 16:30 TB: “Karena
pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan
kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan Tuhan”.Puasa
ini dilakukan selama hampir 25 jam, beberapa menit sebelum matahari
terbenam pada 9 Tishrei sampai matahari terbenam pada 10 Tishrei.
Tahun lalu Yom Kippur jatuh pada 12 Oktober, sementara pada tahun ini
jatuh pada 30 September.
Mirip dengan puasa Ramadan bagi umat muslim, puasa Yom Kippur
adalah hari paling khidmat sepanjang tahun bagi umat Yahudi. Yom
Kippur mengungkapkan suatu rasa percaya bahwa Tuhan menerima
pertobatan, mengampuni dosa, dan menyegel tahun dengan kehidupan,
kesehatan, dan kebahagiaan atau biasa disebut “Hari Raya Perdamaian”.
Selain puasa Yom Kippur, umat Yahudi masih memiliki hari lain untuk
menjalankan puasa, yakni Asarah B’Tevet dan puasa Esther. Puasa Asarah
B’Tevet jatuh pada 10 Tevet dalam kalender Ibrani, sedangkan puasa
Esther jatuh pada 13 Adar dalam kalender Ibrani.
Puasa Asarah B’Tevet adalah puasa menandai awal mula pengepungan
Yerusalem selama pemerintahan Nebukadnezar, yang berujung pada
penghancuran Bait Hamikdash (Bait Allah) Pertama. Saat ini, Asara B’Tevet
memiliki makna tambahan, yakni Yom Ha-Kaddish Ha-Klali, hari
peringatan orang-orang Yahudi yang tewas selama peristiwa Holokaus
yang hari kematiannya (Yahrzeit) tidak diketahui, dan bagi korban
Holokaus dibacakanlah Kaddish.
Sedangkan puasa Esther adalah hari puasa yang dianggap hari raya paling
menyenangkan sepanjang tahun. Ia menambah kegembiraan hari-hari
Purim dan membuat umat Yahudi mengingat kembali tangan Allah dalam
penghancuran Haman.
Puasa Esther dimulai sejak subuh 13 Adar dalam kalender Ibrani untuk
memperingati tiga hari ketika Ester berpuasa sebelum menghadap Raja
Ahasyweros atas nama bangsa Israel. Puasa ini merupakan hari
peringatan orang Israel berperang menghadapi musuh mereka dari
Kekaisaran Persia.
Duka Tiga Minggu dan Hancurnya Bait Suci
Dua puasa lain dilakukan umat Yahudi adalah Shivah Asar B’Tammuz dan
Tisha B’Av. Puasa ini jatuh pada 17 Tammuz dan 9 Av dalam kalender
Ibrani. Kedua puasa ini masuk dalam “Masa Tiga Minggu”, masa berduka
selama tiga pekan yang terkait hancurnya Bait Suci.
Ia memperingati saat tembok Yerusalem diruntuhkan dan diterobos oleh
tentara. Masa ini mencapai puncaknya dan berakhir pada 9 Av (Tisha B’Av)
saat Bait Suci Pertama maupun Kedua dilalap api. Ini adalah hari tersedih
sepanjang kalender Ibrani. Ada banyak tragedi yang dialami bangsa
Yahudi.
Ada tradisi yang harus dipatuhi dalam menjalankan puasa “Masa Tiga
Minggu”. Misalnya, mengurangi kegiatan yang membuat hati senang,
misal merayakan pesta pernikahan, tidak mendengarkan lagu atau musik,
tidak mengucapkan berkat Shehecheyanu (perayaan hari spesial), dan
tidak mencukur atau memotong rambut.
Sementara sembilan hari terakhir dimulai dari 1 Av dalam kalender Ibrani.
Ini masa berduka paling intensif. Umat Yahudi pantang untuk makan
makanan mewah, tidak minum anggur beralkohol, dan tidak memakai
pakaian yang bersih. Sedangkan pada 9 Av atau Tisha B’Av, yakni hari
puasa paling ketat, dijalani sejak matahari terbenam di hari sebelumnya:
umat Yahudi berkumpul di sinagoga untuk membaca Kitab Ratapan.
Selain berpuasa, pada tanggal itu, umat Yahudi menahan diri dari
kenikmatan duniawi seperti mandi, memakai pelembab, memakai sepatu
kulit, dan berhubungan seksual. Sampai siang, umat Yahudi harus duduk
di lantai atau kursi paling rendah.
Namun kedua puasa ini tidak berlaku jika jatuh di hari Sabat atau Sabtu,
yang oleh umat Yahudi diyakini sebagai hari istirahat atau berhenti
bekerja. Seperti pada 2016 lalu, kedua puasa itu jatuh di hari Sabat, maka
umat Yahudi menangguhkan sampai hari berikutnya. Mereka akan
menjalani puasa Shivah Asar B’Tammuz dan Tisha B’Av pada hari Minggu

Ada 4 hari penting yang diperingati dengan berpuasa bagi orang yahudi,
yaitu :
-Hari permulaan Yerusalem dikepung
-Hari jatuhnya kota Yerusalem di tangan Nebukadnezar
-Hari Kanishah di hancurkan
-Hari Gedaliah dibunuh orang
Cara melakukan puasa dalam agama yahudi adalah berlangsung sejak
waktu fajar menyingsing sampai senja hari dimana telah terlihat tiga buah
bintang yang pertama terbit.lama waktu puasa tidak ada yang sampai 30
hari atau terus menerus. Untuk memperingati kejadian sejarah itu ,
mereka berpuasa selama 9 hari dan selam itu dilarang makan daging atau
minum anggur. Ada pula yang pelaksanaannya mencapa 3 minggu, dan
pada hari ketika puasa itu dilaksanakan dilarang melakukan upacara
pernikahan.
3.Upacara Korban
Menurut tradisi agama Yahudi ada tiga macam upacara korban, yaitu
‘korban perdamaian’, ‘korban pemujaan’ dan ‘korban lainnya’ :
-Korban perdamaian, adalah korban yang dilakukan untuk melakukan
perdamaian dengan Tuhan, dalam arti memohon pengampunan dosa-dosa
yang dilakukan tidak sengaja
-Korban pemujaan, korban-korban yang disebut korban bakar, korban
keselamatan dan korban sesajian
-Korban lainnya, adlah seperti korban perjanjian, korban pelantikan umum,
korban semburu dan korban pembunuhan
4.Hari-Hari Suci
Dalam agama yahudi dikenal beberapa hari yang dianggap penting dan
dianggap suci, seperti :
-Hari paskah, yaitu hari raya untuk memeperingati pembebasan leluhur
bangsa israel dari perbudakan di mesir
-Hari pantekosta, yaitu hari ke 50 yang menurut orang yahudi merupakan
hari pesta pasca panen
6. Siap menderita - berdoa dan berpuasa dalam pelayanan ( 2 Korintus 6: 1-
10 )
Sebagai seorang pelayan Tuhan seperti yang ditulis Paulus dalam surat nya
yang ke-2 kepada Jemaat di Korintus bahwa sebagai pekerja dalam
pelayanan di dalam Tuhan hendaknya tetap murni, tidak menerima suap,
sabar dalam penderitaan dan kesukaran. Seperti yang tertulis dalam II
Korintus 11 : 27 sebagai berikut : Aku banyak berjerih lelah dan bekerja
berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku
berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian
-Hari perdamaian besar, yaitu hari ke 10 dari bulan ke 7menurut kalender
yahudi yang merupakan hari penghentian penuh dimana semua orang
semua orang harus berpuasa dan penyampaian korban untuk menghapus
segala dosa
-Hari raya pondok daun yang disebut hari raya pengumpulan hasil yang
dirayakan pada tanggal 15-22 bulan ke-7 kalender yahudi.
-Hari Penebusan Dosa, yaitu hari suci bernilai rohani yang tinggi dan
dikeramatkan oleh umat yahudi.
-Hari Bulan Baru, yaitu hari pertama setiap bulan baru yang dirayakan dan
disucikan umat yahudi.
-Tahun Sabbath, yaitu suatu hari selama tahun ketujuh menurut kalender
Yahudi yang menurut kepercayaan mereka dimana ketika itu tanah tidak
boleh dikerjakan atau ditanami, karena semua orang harus istirahat.khusus
hari sabbath merupakan hari ibadah kepada Yehovah, karena menurut
kepercayaan, ketika itu Tuhan berhendti mengerjakan alam semesta, maka
pada hari itu umat Yahudi tidak melakukan apapun.
-Hari-hari besar dan suci lain : Tahun Yobel, Hari Raya Pembebasan Bait
Suci, Hari Raya Purim, dan Hari Sabbath
PUASA BUDHA
Kata “puasa” sendiri berasal dari bahasa Sanskerta, “Upavasa”. Pada
awalnya, agama Buddha sendiri berasal dari India. Tentunya, istilah “puasa”
sangat dekat dengan agama Buddha.
Lantas, bagaimana hukum puasa dalam agama Buddha?
Puasa dalam agama Buddha adalah sebuah kewajiban bagi para bhikkhu
seumur hidup mereka menjadi bhikkhu. Untuk umat awam, puasa
dianjurkan 2 kali dalam sebulan (yang ditentukan berdasarkan peredaran
bulan), walaupun tidak bersifat wajib.
Puasa dalam agama Buddha dimulai dari tengah hari sampai keesokan
harinya. Artinya, bhikkhu dan umat yang melaksanakan puasa, hanya boleh
makan pada dini hari sampai pukul 12 siang. Setelah itu, mereka akan
kembali berpuasa.
Selain perbedaan pelaksanaan waktu, yang membuat puasa dalam Buddha
berbeda dengan puasa dalam Islam adalah diperbolehkannya minum air
putih selama puasa. Minum air putih diperbolehkan asalkan tujuan minum
air putih bukan karena dorongan keinginan, tapi karena kebutuhan.
Sebenarnya, puasa dalam ajaran Buddha bukan sebatas tidak makan saja,
mengingat bahwa puasa dalam agama Buddha merujuk pada uposattha,
yaitu hari khusus untuk umat awam (dihitung berdasarkan peredaran bulan)
melakukan atthasila. Lagi-lagi melaksanakan atthasila juga bukan
merupakan sebuah kewajiban.
Dalam agama Buddha, juga dikenal sebuah istilah yang dapat diartikan
sebagai “puasa”. Namun, hendaknya jangan ditafsirkan sebagai puasa tidak
makan dan minum selama sekitar 15 jam seperti dalam agama Islam.
Puasa dalam agama Buddha sedikit berbeda dan diperbolehkan minum.
Dalam agama Buddha puasa itu disebut Uposatha. Puasa ini tidak wajib
bagi umat Buddha, namun biasanya dilaksanakan dua kali dalam satu bulan
(menurut kalender buddhis dimana berdasarkan peredaran bulan), yaitu
pada saat bulan terang dan gelap(bulan purnama). Namun ada yang
melaksanakan 6 kali dalam satu bulan, tetapi puasa (uposatha) tersebut
tidak wajib.
adi puasa (uposatha) seorang umat Buddha dinyatakan sah, apabila ia
mematuhi ke-8 larangan tersebut seperti yang tertulis di atas. Jika salah
satu larangan tersebut dilanggar—baik sengaja atau tidak— berarti ia
puasanya (uposatha-nya) tidak sempurna.
Ada satu jenis kegiatan lagi dalam agama Buddha yang bisa disebut
“puasa”, yaitu vegetaris. Vegetaris berarti tidak makan makanan bernyawa
(dalam hal ini daging). Atau bisa dikatakan hanya memakan sayur-sayuran.
Dalam pelaksanaan vegetaris ini, umat Buddha yang vegetarian ini tidak
makan daging, termasuk jenis bawang-bawangan. Untuk telur atau susu,
ada vegetarian yang masih makan, ada yang tidak. Namun vegetarian
murni tidak makan telur atau pun susu. Dalam melaksanakan puasa ini
(vegetaris), seseorang boleh makan kapan pun dalam 24 jam, namun hanya
makan sayur-sayuran, tidak boleh daging dan bawang-bawangan. Puasa
ini (melaksanakan vegetaris) tidak wajib bagi umat Buddha. Biasanya umat
Buddha melaksanakannya tanggal 1 dan 15 berdasar kalender lunar
(berdasar revolusi bulan), ketika bulan purnama menurut perhitungan Cina.
Kesimpulannya dalam agama Buddha, terdapat puasa namun definisinya
berbeda. Puasa jenis I, disebut Uposatha intinya tidak makan dari setelah
siang hari sampai subuh. Puasa jenis II, disebut vegetaris intinya tidak
makan makanan yang berasal dari makhluk hidup (dalam hal ini daging).
Berpantang ala Konghucu
Pada waktu yang sama ketika bulan purnama atau tanggal 1 dalam kalender
Buddha, umat Konghucu melakukan sembahyang di Litang. Sebelum
bersembahyang, umat Konghucu dianjurkan untuk berpuasa.
Menurut agamawan Konghucu di Jakarta, Peter Lesmana, biasanya tiga hari
sebelum sembahyang, umat Konghucu harus terlebih dulu berpuasa. Puasa
dalam Konghucu ini berbeda dari konsep puasa menahan haus dan lapar.
Puasa dalam kita, umat Konghucu, itu lebih pada berpantang,” kata Peter.
Bentuk berpantangnya beragam, tergantung kebiasaan seseorang. Jika
seseorang terbiasa mengonsumsi daging, maka selama tiga hari sebelum
sembahyang hari raya, mereka berpantang memakan daging. Tidak hanya
soal konsumsi, bahkan urusan merokok hingga perilaku dan tutur kata bisa
disertakan dalam berpantang.
“Dalam satu tahun itu ada 14 hari raya, jadi minimal orang konghucu akan
berpantang 14 kali,” ujar Pater. Selain dari 14 hari raya itu, berpantang juga
bisa dilakukan menjelang sembahyang di rumah.
Menurut Peter, laku berpantang merupakan upaya untuk menyucikan diri
sebelum menghadap Tuhan. Ia mengibaratkan ketika seseorang hendak
bertemu dengan presiden harus mengenakan pakaian yang rapi dan pantas.
Begitu pula ketika menghadap Tuhan, secara rohani orang harus suci agar
pantas saat menghadap Tuhan.
PUASA HINDU
Puasa berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari kata Upa dan Wasa,
di mana Upa artinya dekat atau mendekat , dan Wasa artinya Tuhan atau
Yang Maha Kuasa. Upawasa atau puasa artinya mendekatkan diri kepada
Tuhan yang maha esa. Puasa menurut Hindu adalah tidak sekedar
menahan haus dan lapar, tidak untuk merasakan bagaimana menjadi
orang miskin dan serba kekurangan, dan tidak untuk menghapus dosa
dengan janji surga. Puasa menurut Hindu adalah untuk mengendalikan
napsu Indria, mengendalikan keinginan. Indria haruslah berada dibawah
kesempurnaan pikiran, dan pikiran berada dibawah kesadaran budhi. Jika
indria kita terkendali, pikiran kita terkendali maka kita akan dekat dengan
kesucian, dekat dengan Tuhan !
Jenis-jenis puasa dalam agama Hindu:
Puasa (Upawasa) yang wajib (diharuskan)
Siwaratri jatuh setiap panglong ping 14 Tilem kapitu atau Prawaning Tilem
Kapitu, yaitu sehari sebelum tilem. Puasa total tidak makan dan minum
apapun dimulai sejak matahari terbit sampai dengan matahari terbenam.
Nyepi jatuh pada penanggal ping pisan sasih kedasa (lihat kalender ketika
libur nasional). Puasa total tidak makan dan minum apapun dimulai ketika
fajar hari itu sampai fajar keesokan harinya (ngembak gni).
Purnama dan tilem, puasa tidak makan atau minum apapun dimulai sejak
fajar hari itu hingga fajar keesokan harinya.
Puasa untuk menebus dosa dinamakan dalam Veda Smrti untuk Kaliyuga:
Parasara Dharmasastra, sebagai “Tapta krcchra vratam” adalah puasa
selama tiga hari dengan tingkatan puasa: minum air hangat saja, susu
hangat saja, mentega murni saja tanpa makan dan minum sama sekali.
Puasa yang tidak wajib
adalah puasa yang dilaksanakan di luar ketentuan di atas, misalnya pada
hari-hari suci: odalan, anggara kasih, dan buda kliwon. Puasa ini
diserahkan pada kebijakan masing-masing, apakah mau siang hari saja
atau satu hari penuh. Ingat bahwa pergantian hari menurut Hindu adalah
sejak fajar sampai fajar besoknya; bukan jam 00 atau jam 12 tengah
malam.
Puasa berkaitan dengan upacara tertentu
misalnya setelah mawinten atau mediksa, puasa selama tiga hari hanya
dengan makan nasi kepel dan air kelungah nyuhgading.
Puasa berkaitan dengan hal-hal tertentu
sedang bersamadhi, meditasi, sedang memohon petunjuk kepada Hyang
Widhi, setiap saat (tidak berhubungan dengan hari rerainan) dan jenis
puasa tentukan sendiri apakah total (tidak makan dan minum sama sekali)
selama 1 hari 1 malam atau seberapa mampunya.
Memulai puasa dengan upacara sederhana yaitu menghaturkan
canangsari kalau bisa dengan banten pejati memohon pesaksi serta
kekuatan dari Hyang Widhi. Mengakhiri puasa dengan sembahyang juga
banten yang sama. Makanan sehat yang digunakan sebelum dan setelah
puasa terdiri dari unsur-unsur: beras (nasi) dengan sayur tanpa bumbu
keras, buah-buahan, susu, madu dan mentega.
Makanan yang dianjurkan dan dilarang bagi umat Hindu ada dalam
Manawa Dharmasastra buku ke V.
Silahkan lihat dan pelajari, usahakan menepati apa yang ditulis di sana.
Wanita yang sedang haid ada dalam keadaan cuntaka, jadi tidak boleh
berpuasa. Tidak ada perbedaan puasa antara laki dan perempuan.
AGAMA SIKH :
Hari-Hari Besar
Ada tiga jenis perayaan yang di peringati oleh agama Sikh, umumnya
perayaan ini diadopsi dari perayaan Hindu, antara lain:
1. Perayaan tahun baru atau Baisakhi

2. Perayaan cahaya atau Divali, dan

3. Perayaan Hola Mohalla


Namun demikian perayaan tersebut pada saat ini jarang dilakukan,
mungkin hal ini dikarenakan Guru Amar Das, Guru Ketiga mengatakan
bahwa “perayaan yang bukan milik orang Sikh jangan dirayakan. Bahkan
andaikata kita harus merayakannya pada hari yang sama, kita harus
melakukannya dengan cara kita sendiri”.
Sikh sebenarnya tidak memberlakukan puasa pada agamanya. Namun,
untuk beberapa hal, Sikh menyuruh umatnya untuk berpuasa terutama
untuk keperluan kesehatan dan juga peningkatan kekuatan spiritual pada
manusia. Para Guru Sikh yakin bahwa dengan melakukan puasa maka
kebaikan akan selalu menyertai setiap umat.
PUASA AGAMA TAOISME
Dalam ajaran Taoisme, dikenal juga puasa dengan istilah Bigu. Puasa yang
dilakukan oleh umat Taoisme ini masih menyantap makanan sehari-hari
namun menghindari makanan yang terbuat dari biji-bijian. Di masa lalu,
teknik ini dilakukan untuk mendapatkan sebuah keabadian. Dengan
melaksanakan puasa ini dalam jangka waktu tertentu, seseorang akan
menjadi kuat dan tak terkalahkan.
Tradisi ini akhirnya mengakar dan masih dipraktikkan hingga sekarang.
Beberapa biji-bijian yang tidak dikonsumsi terdiri dari aneka beras dan
kacang-kacangan, apa saja yang berasal dari gandum, dan makanan yang
dimakan sehari-hari seperti kentang, jagung, dan ubi.
Nah, sekarang sudah jelas kan bahwa puasa juga dilakukan di agama lain.
Meski secara konsep dan aturan berbeda. Puasa tetap dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan spiritual dan membiasakan diri untuk tidak
selalu mengikuti hawa nafsu.
AGAMA Jainisme
Jainisme adalah salah satu agama yang banyak dipeluk di kawasan India.
Orang yang memeluk agama ini mengenal dua jenis puasa. Pertama
dinamai dengan chauvihar upwas yaitu tidak makan dan minum dari pagi
hingga esok harinya. Artinya selama 24 jam seseorang dilarang makan dan
minum. Selanjutnya ada tiviar upwas di mana seorang yang puasa masih
diperbolehkan mengonsumsi air matang.
Agama Bahai
Simbol ringstone Baha’i adalah pengingat visual tujuan Allah bagi manusia
dan umat Baha’i pada khususnya. Perhiasan identitas Baha’i ini sering
dianggap sebagai pengajaran, percakapan tentang Iman.

BAHAI Temple
Hari-hari Suci Baha’i

Hari raya Sembilan belas 5. Naw-Ruz[3]


Deklarasi dari Bab 6. Hari Raya Ridwan
Lahirnya Bab 7. Hari Lahir Bahaullah
Kenaikan Bab 8. Wafatnya Bahaullah[4]
Puasa dalam Baha’i
Baha’i berlatih puasa sebagai suatu disiplin untuk jiwa, mereka berpantang
dari makanan sebagai simbol luar yang berpengaruh cepat dengan spiritual.
Dengan ini, berarti mereka melakukan praktek menahan diri untuk
menjauhkan diri dari semua selera tubuh dan sebagainya, untuk dapat
berkonsentrasi pada diri sendiri sebagai makhluk spiritual dan untuk
mendekat diri kepada Allah. Puasa dipraktekkan oleh semua nabi yang
dihormati oleh umat Baha’i.
Bahaullah ditunjuk periode 19 hari puasa pada setiap tahun sebelum Tahun
Baru Baha’i. Puasa dipandang sebagai periode persiapan spiritual dan
regenerasi untuk tahun baru di depan. Dalam kalender Barat, periode ini
terjadi antara tanggal 2 dan 21 Maret.
Orang yang diperbolehkan tidak melaksanakan puasa adalah orang sakit,
lanjut usia, dan anak kecil, seperti ibu hamil atau menyusui, wisatawan, dan
mereka yang melakukan pekerjaan fisik yang berat.

kalender Baha'i
KEJAWEN
1. Puasa Mutih Untuk Ilmu Gaib dan Keberhasilan
Salah satu puasa kejawen yang paling dikenal adalah Puasa Mutih. Seperti
namanya, dalam ritual ini seseorang yang menjalaninya dilarang untuk
mengonsumsi apa pun selain yang berwarna putih. Biasanya, para
pelakunya hanya akan makan nasi dan air putih saja.
Puasa Mutih biasanya dimasukkan dalam salah satu bagian dari sebuah
ritual panjang. Tujuannya sendiri macam-macam, namun umumnya adalah
untuk menguasai ilmu-ilmu gaib tertentu. Ada juga yang melakukannya
untuk tujuan keberhasilan. Puasa ini tak terikat waktu, bisa hanya 3 hari saja
atau bahkan 40 hari. Puasa ini juga harus didampingi oleh seorang guru.
2. Puasa Ngableng Untuk Menguatkan Sukma dan Mengabulkan Keinginan
Jika umumnya durasi puasa itu hanya dari subuh sampai magrib, tidak
demikian dengan ritual puasa yang bernama Ngableng ini. Durasi Ngableng
adalah sehari penuh alias 24 jam. Jadi, jika ada seseorang yang menjalani
puasa Ngableng 3 hari, itu artinya ia tidak makan minum selama 3 hari
penuh.
Menurut para praktisinya, puasa ini bertujuan untuk menguatkan sukma
alias jiwa. Dengan berpuasa penuh seperti itu, diharapkan nafsu terhadap
hal-hal keduniawian bisa sirna. Makanya, puasa ini sendiri sering dibarengi
dengan semedi. Tak hanya itu, puasa Ngableng konon juga sering dilakukan
dengan tujuan untuk mengabulkan keinginan.
3. Puasa Pati Geni, Demi Terkabulnya Keinginan yang Sangat Besar
Tak hanya Mutih dan Ngableng, puasa yang dipercaya bisa mengabulkan
hajat adalah Pati Geni. Bahkan dikatakan pula jika Pati Geni ini ampuh untuk
kabulnya hajat-hajat yang luar biasa besar. Secara teknis, Puasa Pati Geni
dan Ngableng ini hampir sama. Tapi, ada beberapa perbedaan yang cukup
ekstrem.
Sama seperti Ngableng, puasa Pati Geni hitungan seharinya adalah 24 jam.
Nah, yang unik dari puasa ini adalah si pelakunya tak boleh keluar dari
kamar sampai seharian itu. Bahkan untuk buang air. Di dalam kamar pun si
pelaku Pati Geni juga dilarang untuk melakukan aktivitas apa pun selain
berdoa.
4. Puasa Ngeluwang Untuk Mendapatkan Kesaktian
Puasa satu ini bisa dibilang cukup unik. Tidak hanya melakoni puasa seperti
biasa, dalam salah satu rentetan ritualnya si pelaku harus dikubur. Teknik
menguburnya bukan seperti mayit yang dikubur, tapi lebih tepatnya
dipendam sampai ke bagian tubuh tertentu.
Cukup ekstrem ya puasa satu ini. Makanya, puasa ini dipercaya akan
mendatangkan hal besar. Salah satunya adalah dimampukan untuk
menguasai berbagai jenis ilmu gaib tertentu. Puasa ini konon memiliki
ujiannya. Jadi, ketika dipendam, si pelaku biasanya akan didatangi oleh
makhluk-makhluk gaib dan kemudian menakutinya.
5. Puasa Weton Untuk Proteksi Diri Terhadap Kesialan
Dari sekian banyak puasa kejawen yang ada, Weton adalah salah satu yang
paling populer dilakukan. Puasa ini sendiri tidak dilakukan sering-sering
karena hanya perlu dilakoni saat tiba hari ulang tahun saja, makanya
kemudian dinamakan Weton.
Puasa ini menurut ahlinya bisa dilakukan dengan dua cara. Ada yang seperti
puasa biasa (subuh sampai magrib) atau pun hitungan 24 jam. Puasa ini
sendiri dipercaya membawa manfaat besar. Salah satunya adalah sebagai
anti sial si pelakunya. Ada juga yang mengatakan puasa Weton dapat
membantu mengembalikan apa yang sudah hilang, entah harta atau apa
pun.
Inilah puasa-puasa kejawen yang konon masih banyak dipraktikkan hingga
hari ini. Puasa-puasa ini sendiri katanya tidak boleh dilakukan sembarangan.
Harus ada tuntunan dan tujuannya. Melakukannya secara sembarangan
akan membawa dampak buruk bagi pelakunya.
Puasa nganyep hanya memperbolehkan orang Kejawen untuk mengonsumsi
makanan yang tidak ada rasanya. Puasa ini hampir sama dengan puasa
mutih, hanya saja makanannya lebih beragam, namun tetap dengan
ketentuan tidak mempunyai rasa.
Puasa nganyep juga memiliki kemiripan dengan puasa ngasrep, namun pada
puasa ini aturannya ditambah, yaitu seseorang hanya diperbolehkan minum
tiga kali saja sehari.
Selain itu, dikenal juga puasa ngidang yang hanya memperbolehkan
pelakunya memakan dedaunan dan air putih. Lain lagi dengan puasa ngepel
yang meng haruskan pelakunya hanya memakan satu kepal nasi saja dalam
sehari.
SUNDA WIWITAN
Rukun Sunda Wiwitan terdiri dari Ngukus, Ngawalu, Muja, Ngalaksa,
Ngalanjakan, dan Kapundayan.
Ngukus, adalah upacara ngajampe atau mendo’akan sesuatu, seperti
mendo’akan keselamatan, kesehatan
dan lain-lain yang biasa dilakukan pada bulan ketiga atau tepatnya disaat
ngalaksa dan dilakukan satu tahun sekali.
Ngawalu, adalah puasa selama tiga bulan yang wajib dilaksanakan oleh
seluruh warga Baduy kecuali anak-anak atau mereka yang tidak kuat
melaksanakan. Puasa dilakukan selama bulan kawalu ( hari raya Orang
Baduy), yang terdiri di bulan kasa (bulan pertama), karo ( bulan kedua) dan
tiga ( bula ketiga atau pamungkas). Puasa kawalu dilakukan pada tanggal 18
di bulan kasa, tanggal 19 di bulan karo dan tanggal 18 lagi di bulan katiga.
Puasa dilakukan sehari penuh dimulai dari subuh tanpa sahur dan buka
puasa pada saat matahari terbenam.
Muja, adalah kegiatan ziarah ke Sasaka Domas yang dilakukan oleh kokolot,
pu’un, tangkesan, jaro adat dan pamarentah (pemerintah) serta masyarakat
Baduy yang berumur lebih dari 25 tahun, khususnya bagi laki-laki. Kegiatan
muja dilakukan hanya satu hari, dari pagi sampai sore dan dilaksanakan
pada bulan kalima tanggal tujuh. Muja dilanjutkan di Kampung Cibeo
(Baduy Dalam ) yang disebut juga dengan Pada Ageung yang dilakukan pada
bulan yang sama tanggal 17.
Biasanya palawari (kepanitiaan) menyediakan kupat (ketupat) untuk makan
para perziarah. Bagi mereka yang hendak mengikuti acara muja diwajibkan
untuk berpuasa sehari sebelumnya. Dalam muja tersebut Pu’un
mengatasnamakan seluruh masyarakat Baduy. Kebiasaan tersebut sudah
dilaksanakan sejak berabad-abad silam, maka dapat diperkirakan bahwa
asal muasalnya kupat (ketupat) adalah dari Baduy.
Ngalaksa, adalah hari raya warga Baduy yang jatuh pada bulan ketiga
selama delapan hari, yakni pada tanggal 20-27 yang wajib dirayakan setiap
tahun. Kebiasaan yang dilakukannya adalah dengan membuat kue-kue hari
raya, khususnya kue laksa yang terbuat dari tepung beras. Ngalaksa
merupakan pesta tutup tahun dan merupakan akhir dari rangkaian kegiatan
mereka dalam bercocok tanam.
Ngalanjakan, adalah kegiatan berburu yang wajib dilaksanakan oleh setiap
warga Baduy yang dapat dilakukan secara perorangan ataupun
berkelompok. Dalam satu tahun diwajibkan berburu minimal satu kali,
binatang yang menjadi buruan berupa bajing atau kijang dan binatang lain
yang dapat dimakan dan hidup di areal tanah Baduy. Kapundayan, adalah
kegiatan menjala ikan di aliran sungai. Kegiatan menjala ikan dapat
dilakukan dengan sendiri-sendiri atau berkelompok dan minimal satu kali
dalam satu tahun.
****
Di dalam ajaran Sunda Wiwitan dikenal adanya lima hukum yang berlaku:
Sunnah, Haram, Makruh, Wajib dan Kudu. Sunnah diartikan sebagai hukum
yang apabila dilakukan mendapat pahala dan tidak dilakukan tidak
mendapat dosa dan pahala. Contoh perbuatan yang disunnahkan dalam
ajaran Sunda Wiwitan adalah mempelajari jajampean untuk
menyembuhkan penyakit atau untuk keperluan berdagang dan bercocok
tanam melalui puasa selama satu sampai dengan 40 hari lamanya.
Sedangkan Haram diartikan sebagai hukum yang apabila ditinggalkan
mendapat pahala. Contoh perbuatan yang diharamkan dalam ajaran Sunda
Wiwitan diantaranya, berbuat zinah.
Bagi siapapun warga Baduy yang melakukan zinah atau perbuatan maksiat
di luar pernikahan, maka akan dikenakan sanksi berupa pengasingan dan
dipekerjakan untuk mengelola lahan pertanian selama 40 hari di tempat
pengasingan.Tempat pengasingan ini ada empat kampung: Kampung
Kaduketug untuk warga Kampung Baduy Luar, Kampung Sorkokod untuk
warga Kampung Cikartawana, Kampung Cihulu untuk warga Kampung Cibeo
dan Kampung Cibengkung untuk warga Kampung Cikeusik. Selama dalam
pengasingan mereka tidak boleh berkunjung ke kampungnya dan tetap
menetap di tempat pengasingan serta memperkerjakan lahan pertanian
kokolot tanpa bayaran atau upah atas hasil pekerjaannya.
Larangan lain ialah menikah lebih dari satu isteri. Apabila warga Baduy
yang menikah lebih dari satu, maka mereka disidangkan dan disuruh
memilih untuk meninggalkan salah satu diantaranya, dan hukuman atau
sanksi yang diberikan kepadanya adalah berupa pengasingan seperti halnya
zinah, namun tidak diberikan sanksi pengerjaan lahan.
Perbuatan haram lainnya ialah bersekolah. Bagi warga yang bersekolah di
lembaga pendidikan formal di luar Baduy, maka hukuman atau sanksi yang
diberikan adalah dikeluarkan dari kampung untuk kemudian dipersilahkan
tinggal di luar Baduy.
Sedangkan Makruh adalah hukum yang apabila ditinggalkan mendapat
pahala dan di kerjakan tidak dapat pahala ataupun dosa dan sanksi apapun.
Contoh perbuatan yang dimakruhkan dalam ajaran Suda Wiwitan
diantaranya adalah menggunakan sabun dan shampoo, menggunakan sikat
gigi dan pasta, merokok, makan makanan pada malam hari. Hukum tersebut
berlaku untuk seluruh masyarakat Baduy.

Wajib adalah hukum yang apabila dilakukan mendapat pahala dan apabila
di tinggalkan mendapat dosa. Contoh perbuatan yang wajib dilakukan
adalah sebagai berikut : Melaksanakan Rukun Sunda Wiwitan. Sebagaimana
diuraikan, rukun Sunda Wiwitan yang terdiri dari enam unsur adalah wajib
dilaksanakan oleh setiap warga Baduy dalam menjalankan kehidupan
sehari-hari guna tercapainya pelaksanaan ajaran Sunda Wiwitan yang
dianut.
Menikah Satu Istri. Menikah dengan satu istri adalah wajib hukumnya dan
bila lebih dari satu adalah dosa dan akan dikenakan sanksi. Untuk
menempuh pernikahan harus memenuhi syarat rukun nikah yang terdiri
dari: Pengantin, adalah mempelai pria dan mempelai wanita; wali, orang
tua perempuan atau yang mewakilinya dari keluarga perempuan yang akan
menikahkan. Penghulu adalah orang yang mengawinkan kedua mempelai
atau disebut dengan naib. Saksi adalah orang-orang terdekat dari kedua
mempelai yang menyaksikan akad pernikahan. Mas Kawin adalah uang yang
dijadikan mahar dalam perkawinan. Ijab Kabul adalah pernyataan nikah
yang diikrarkan pada saat akan dilaksanakan.
Bertani dan Berdagang. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,
masyarakat Baduy diwajibkan untuk bercocok tanam atau bertani dan
berdagang sesuai dengan aturan adat dan istiadat serta kepercayaan yang
berlaku. Mereka yang tidak bercocok tanam dan berdagang akan merasakan
kelaparan dan kekurangan pangan sebagai hukuman Tuhan.
Menjaga Kelestarian Alam. Kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan dan
senantiasa dilaksanakan oleh nenek moyang hingga saat ini ialah menjaga
kelestarian alam. Wujud konkrit dari menjaga kelestarian alam sesuai
dengan tugas yang diembannya berdasarkan ajaran Sunda Wiwitan adalah
tidak merusak gunung dan hutan serta tidak menimbun lebak atau jurang.
Bagi mereka yang melanggar kewajiban ini akan menuai bencana
dikemudian hari, seperti longsor, banjir dan gempa bumi sebagai tanda
peringatan atas kedzaliman manusia yang kurang bersahabat dengan alam.

Kudu adalah hukum yang harus dan tidak dapat ditawar lagi harus
dikerjakan tanpa kecuali dan tidak adanya ancaman dosa atau sanksi adat
dan pahala. Contoh perbuatan yang Kudu di antaranya sebagai berikut :
Sundat. Dalam kepercayaan masyarakat Baduy disebutkan bahwa tidak akan
disebut sebagai manusia apabila belum disundat atau sunat. Maka sundat
adalah sesuatu yang harus dilakukan dan tidak dapat ditinggalkan, karena
pada hakekatnya seluruh masyarakat Baduy ingin disebut sebagai manusia.
Tidak ada satupun masyarakat Baduy yang sudah dewasa yang belum
disunat, karena pada umumnya mereka telah disunat pada waktu berumur
tujuh sampai dengan 10 tahun. Untuk kegiatan sunatan hanya boleh
dilakasanakan pada bulan kelima sampai dengan keenam menurut kalender
Baduy.
Seba, merupakan sebuah upacara mengunjungi penguasa daerah setempat.
Tradisi ini terus menerus dilakukan sejak dulu. Kegiatan seba dilakukan satu
tahun sekali dan dilaksanakan pada bulan Kapat pada hari ke empat setelah
bulan kawalu. Seba dilaksanakan bukan penyerahan sebuah upeti kepada
penguasa, namun dimaksudkan sebagai bentuk kepedulian mereka kepada
saudara muda yang memimpin Negara agar terjalin hubungan yang baik dan
harmonis sepanjang masa.

Dalam Seba disampaikan kepada penguasa tentang saran dan harapan


untuk lebih menjaga dan melestarikan keadaan alam di bagian-bagian
tertentu seperti di Ujung Kulon, Gunung Pulosari, Gunung Baduy, Gunung
Halimun dan sebagainya, demi ke berlangsungan hidup masyarakat di
dunia. Banyak hal yang disampaikan dalam Seba termasuk permasalahan
kehidupan sosial di Baduy dan sekitarnya yang memerlukan perlindungan
dan sebagainya. Upacara seba dilakukan satu tahun sekali pada bulan kapat
tanggal empat-delapan. Dalam acara Seba yang dikunjungi ialah Bupati
Lebak, Bupati Kabupaten Serang dan Gubernur Provinsi Banten. Seba
dipimpin oleh Jaro Adat dan diikuti oleh warga yang hendak ikut.

Larangan- Larangan dalam Sunda Wiwitan. Banyak larangan dan pantangan


dalam ajaran sunda wiwitan yang dianggap bertentangan dengan agama
dan harus dijauhi oleh orang Baduy, ialah membunuh orang, memarahi
orang lain, menikah lebih dari satu orang, makan di waktu malam, minum
dan makan yang memabukan, berduaan lain jenis, berzinah, mencuri,
berbohong, melanggar adat, meminta-minta atau mengemis, dan menyiksa
binatang, dsb.
Kewajiban-Kewajiban. Selain larangan-larangan tersebut di atas, terdapat
pula kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan umat Sunda Wiwitan. Wajib
memelihara pancer bumi secara bathin, yakni daerah-daerah yang
tergolong dalam inti jagat atau kawasan yang harus dijaga keutuhan
hutannya, Ujung Kulon, Gunug Krakatau, Gunung Kendeng dan banyak lagi.
Wajib memelihara ayam, karena ayam merupakan titipan Tuhan yang harus
dipelihara dan tidak boleh diperlakukan dengan semena-mena. Wajib
berziarah ke Sasaka Domas, minimal satu tahun sekali dan hanya dilakukan
oleh Bares Kokolot yang mewakili seluruh warga Baduy atau umat Sunda
Wiwitan. Wajib puasa pada bulan kasa selama tiga bulan, yakni pada
tanggal 18 di bulan kasa, tanggal 19 di bulan karo dan tanggal 18 di bulan
katiga. Wajib ngalaksa pada bulan katiga tanggal 20 sampai dengan 27.
ALIRAN KEPERCAYAAN
Misalnya komunitas Sedulur Sikep, penganut ajaran Samin Surosentiko
alias Raden Kohar, seorang tokoh asal Blora yang pernah melakukan
pembangkangan terhadap pemerintah kolonial Belanda pada 1890.
Komunitas ini banyak dijumpai di sepanjang Pegunungan Kendeng Utara,
belakangan populer berkat perlawanan mereka terhadap pendirian pabrik
semen Rembang, Jawa Tengah.
Bagi komunitas ini, puasa diartikan sebagai suatu cara menjalankan hidup
setiap hari dalam bentuk perbuatan yang baik.
Gunondo, seorang pemeluk Sedulur Sikep di Kudus, mengatakan bahwa
puasa bukan hanya perkara menghindari makan dan menahan lapar, tapi
harus disesuaikan dengan perasaan. Jika yang dirasakan tidak baik,
demikian katanya menurut Simbah Samin, jangan dilakukan.
“Puasa itu artinya menahan, setiap hari harus kita lakukan. Apa-apa yang
jelek jangan dilakukan, itu harus dilakukan setiap hari,” katanya.

Akan tetapi, dalam kebiasaan orang Jawa, dikenal apa yang disebut
prihatin, laku hidup sangat sederhana. Laku prihatin ini biasanya
dilakukan pada bulan Suro, yang dalam kepercayaan orang Jawa menjadi
bulan penting dalam penghayatan kepercayaan.

Bentuk prihatin itu bisa berupa mutih. Mutih berarti seseorang hanya
makan nasi putih, tidak ada sayur dan lauk apa pun. Hal ini untuk melatih
kesabaran dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Biasanya orang yang
prihatin pada bulan Suro memohon kepada Tuhan agar apa yang ia
inginkan bisa terwujud.

Dalam praktiknya, laku prihatin dengan mutih bisa dilakukan selama


seminggu. Puncaknya, orang yang melakoni mutih tidak makan dan
minum, serta tidur semalaman hingga pagi.
“Kalau kita meminta sesuatu yang baik, Tuhan pasti mengabulkan. Saya
tidak pernah minta kepada Tuhan untuk menjadi kaya, tapi meminta
Tuhan memberikan kesehatan pada keluarga. Sampai sekarang itu
terwujud,” ujar Gunondo.
Sebenarnya tidak ada bentuk baku dari laku prihatin. Selagi bagian
penting prihatin itu dilakukan, tidak ada yang salah. Bagian terpenting
dari prihatin ini adalah cara hidup sehari-hari.
Misalnya, seorang Sedulur Sikep menemukan dompet yang jatuh di jalan;
ia tidak boleh mengambilnya. Namun, jika ia menemukan dompet dan ia
mengetahui pemiliknya, ia diperbolehkan mengambilnya untuk
memberikan kepada si pemilik.
“Jangan sampai ucapan kita menyakiti orang lain, jangan mengambil yang
bukan hak kita. Itu yang harus dilakukan setiap hari, yakni menjaga
ucapan, tindakan, dan niat,” ujar Gunondo.