Anda di halaman 1dari 16

EPIDEMIOLOGI LEPTOSPIROSIS

MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Epidemiologi
Yang diampu oleh dosen Reynie Purnama, S.KM., M. Epid.

Disusun Oleh

FAHIRA NURFITRIA 043-315-16-1-011

Kelas : S1-2A

PRODI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN PPNI JAWA BARAT

BANDUNG

2018
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada ALLAH SWT yang Maha pengasih lagi Maha
penyayang, karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan baik meskipun masih banyak kekurangan didalamnya.
Adapun tujuan dari pembuatan karya tulis ini sendiri adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah Epidemiologi . Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapatkan tantangan
dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Oleh
karena itu, Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada bu Reynie Purnama selaku dosen
Epidemiologi yang telah memberikan tugas makalah ini dan juga semua pihak yang ikut
membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang
setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, baik dari segi penyusunannya ataupun dari segi materinya. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan saran – saran, kritik dan juga masukan-masukan yang bersifat
membangun demi sempurnanya makalah ini.
Walaupun demikian penulis mengharapkan semoga makalah ini berguna dan bermanfaat
untuk menambah wawasan serta pengetahuan bagi penulis khususnya dan bagi pembaca
umumnya.

BANDUNG,....... April 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………………………………………………………......................…..i
KATA PENGANTAR…………………………………………….......................…………..ii
DAFTAR ISI………………………………………………………......................………….iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang….......……………………………….......................……….….1
1.2 Rumusan Masalah.....……………………………….......................……….…..2
1.3 Tujuan…………..………………………………….......................……….…....2
1.4 Manfaat…………………....…………………….......................…………….…2
1.5 Metode Penyusunan Makalah…..............……….......................……………...2
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Leptospirosis.....................................................................................4
2.2 Frekuensi dan Distribusi Lepspirosis di Indonesia.............................................4
2.3 Riwayat Alamiah Penyakit Leptospirosis.........................................................10
2.4 Faktor Resiko asus Leptospirosis pada
manusia......................................................13
2.5 Pengendalian dan pencegahan
Leptospirosis.............................................................15

BAB 3 PENUTUP
3.1 KESIMPULAN………………………………………………..…....................17
3.2 SARAN………………………………………………………….......................17
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….....................18

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan epidemiologi menggambarkan secara spesifik peran lingkungan dalam
terjadinya penyakit dan wabah. Bahwasanya lingkungan berpengaruh pada terjadinya
penyakit sudah sejak lama diperkirakan orang.
Dewasa ini berbagai masalah kesehatan yang timbul dalam masyarakat terutama
disebabkan karena keadaan kesehatan lingkungan yang kurang atau tidak memenuhi syarat
disamping factor perilaku hidup sehat yang belum memasyarakat.
Menurut Blum, factor lingkungan mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap
kesehatan manusia dibandingkan dengan factor perilaku, pelayanan kesehatan, dan
keturunan. Lingkungan yang sehat diartikan sebagai lingkungan yang konduktif bagi
terwujudnya keadaan sehat, yaitu lingkungan bebas polusi, tersedianya air bersih, sanitasi
lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman sehat, perencanaan kawasan
berwawasan lingkungan dan kehidupan mayarakat yang saling tolong menolong.
Berbagai penyakit yang timbul di masyarakat sebenarnya merupakan suatu indicator
dari baik buruknya kondisi lingkungan, sebagai contoh yaitu: leptospirosis. Untuk itu,
makalah ini akan mebahas lebih jauh mengenai leptospirosis
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulisan mengambil rumusan masalah
sebagai berikut:
a. Apakah yang dimaksud dengan Leptospirosis?
b. Bagaimanakah frekuensi dan distribusi Leptospirosis di indonesia?
c. Bagaimanakah riwayat alamiah penyakit Leptospirosis pada manusia?
d. Bagaimanakah faktor resiko kasus Leptospirosis pada manusia di indonesia?
e. Bagaimanakah pengendalian dan pencegahan Leptospirosis pada manusia?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka penulisan mengambil tujuan sebagai
berikut:
a. Menjelaskan pengertian Leptospirosis.
b. Menjelaskan frekuensi dan distribusi Leptospirosis di indonesia.
c. Menjelaskan riwayat alamiah penyakit Leptospirosis di indonesia.
d. Menjelaskan faktor resiko kasus Leptospirosis pada manusia di indonesia.
e. Bagaimanakah pengendalian dan pencegahan Leptospirosis.

1
1.4 Manfaat
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoritis maupun
secara praktis. Secara teoretis makalah ini berguna sebagai pengembangan tentang
epidemiologi Leptospirosis. Secara praktis makalah ini diharapkan bermanfaat bagi :
a. Penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan konsep keilmuan khususnya
tentang epidemiologi Leptospirosis.
b. Pembaca, sebagai media informasi tentang epidemiologi Leptospirosis secara
teoretis maupun praktis.

1.5 METODE PENYUSUNAN MAKALAH


Metode yang dipakai dalam karya tulis ini adalah :
a. Metode pustaka
Yaitu metode yang dilakukan dengan mempelajari dan mengumpulkan data dari
pustaka yang berhubungan dengan alat, baik berupa buku maupun informasi dari
internet.
b. Diskusi
Mendapatkan data dengan cara berdiskusi dengan dosen dan juga teman-teman yang
mengetahui informasi yang diperlukan dalam pembuatan makalah ini.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh mikroorganisme
berbentuk spiral dan bergerak aktif yang dinamakan Leptospira. Penyakit ini dikenal
dengan berbagai nama seperti Mud fever, Slime fever (Shlamnfieber), Swam fever,
Autumnal fever, Infectious jaundice, Field fever, Cane cutter dan lain-lain (WHO, 2003).

Leptospirosis atau penyakit kuning adalah penyakit penting pada manusia, tikus,
anjing, babi dan sapi. Penyakit ini disebabkan oleh spirochaeta leptospira
icterohaemorrhagiae yang hidup pada ginjal dan urine tikus (Swastiko, 2009).
Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang dapat menyerang manusia dan binatang.
Penyakit menular ini adalah penyakit hewan yang dapat menjangkiti manusia. Termasuk
penyakit zoonosis yang paling sering terjadi di dunia. Leptospirosis juga dikenal dengan
nama flood fever atau demam banjir karena memang muncul dikarenakan banjir.

2.2 Frekuensi dan Distribusi Kejadian Leptospirosis di indonesia


Leptospirosis menjadi suatu masalah di dunia karena angka kejadian
yang tinggi namun dilaporkan rendah di sebagian besar negara. Hal tersebut
diakibatkan karena sulitnya dalam menentukan diagnosis klinis dan tidak
adanya alat untuk diagnosis sehingga sebagian besar negara melaporkannya
sebagai angka kejadian yang rendah. Di sisi lain, di suatu negara angka kejadian
Leptospirosis meningkat setiap tahunnya. Di negara tropis diperkirakan terdapat kasus
leptospirosis antara 10-100 kejadian tiap 100.000 penduduk per tahun (WHO, 2003).
Jumlah kasus leptospirosis di Indonesia sendiri pada tahun 2014 menurun dibandingkan
tahun 2013 yaitu dari 641 kasus menjadi 519 kasus, namun angka kematian atau mortalitas
akibat leptospirosis meningkat dari 9,38% pada tahun 2013 menjadi 11,75% pada tahun
2014 (Kemenkes RI, 2015). International Leptospirosis Society menguatkan Indonesia
sebagai negara dengan angka mortalitas leptospirosis 16,7% dan menduduki peringkat
ketiga di dunia setelah Uruguay (100%) dan India (21%) (WHO, 2006). Oleh sebab
itu leptospirosis merupakan penyakit dengan angka mortalitas cukup tinggi di
Indonesia.
Kemenkes RI (2015) melaporkan adanya kasus leptospirosis pada tahun sebelumnya
yaitu tahun 2014 di berbagai provinsi antara lain provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI
Yogyakarta, Jawa Timur. Dinkes Jateng (2014) menyatakan Jawa Tengah merupakan

3
provinsi dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia pada tahun 2014, yaitu 207 kasus
leptospirosis dengan 34 kasus diantaranya meninggal dunia. Jumlah tersebut meningkat
dibandingkan tahun 2013 dengan 156 orang terinfeksi leptospirosis dan 17
orang diantaranya meninggal dunia.

2.3 Riwayat Alamiah Penyakit Leptospirosis di indonesia

a. Tahap Prepatogenesis
Manusia tertular anthrax baik secara langsung maupun tidak langsung. Tiga
modus penularan anthrax ke manusia yang umum diketahui sejak lama yaitu melalui
kulit, melalui pencernaan, dan melalui pernafasan. Anthrax kulit biasanya
menjangkiti orang yang melakukan penjagalan, pengulitan atau pembedahan karkas
terinfeksi atau juga penanganan kulit, wol atau bulu hewan yang terkontaminasi
spora anthrax. Umumnya penyakit terjadi setelah kuman atau spora masuk ke
jaringan kulit melalui luka lecet atau luka tergores. Dimulai dengan lepuh kecil,
kemudian secara cepat membentuk bisul bernanah dan setelah itu menjadi koreng
berwarna hitam (black scab).
Anthrax pencernaan atau anthrax lambung (Leptospirosis gastrointestinal)
biasanya ditularkan akibat kuman atau spora yang tertelan lewat mulut. Biasanya
akibat makan daging terinfeksi yang tidak dimasak secara matang dari ternak lokal
atau satwa liar. Penularan dari ternak lokal umum terjadi di negara-negara
berkembang (termasuk Indonesia) dimana tidak dilakukan pemeriksaan daging atau
vaksinasi ternak sesuai dengan kaidah kesehatan masyarakat veteriner dan kesehatan
hewan yang benar.
Anthrax pernafasan terjadi akibat terhirupnya spora anthrax yang sangat kecil
sekali, dengan diameter 1-5 mikron. Biasanya kasus ini ditemukan pada para pekerja
pabrik wol, akan tetapi dari statistik anthrax di dunia pernah juga seorang pekerja
konstruksi yang menangani kain wol terkontaminasi, seorang perempuan yang
memainkan alat musik bongo terbuat dari kulit ternak terinfeksi. Namun demikian,
tingkat kejadian anthrax pernafasan di negara-negara industri tetap rendah dan tidak
dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat. Pada manusia, angka fatalitas
kasus (case fatality rate) dari anthrax kulit biasanya hanya 20% apabila tidak diobati.
Sedangkan pada anthrax pencernaan berkisar antara 25-75%, dan anthrax pernafasan
biasanya sangat fatal (100%).

4
b. Tahap patogenesis
a) Masa inkubasi
Masa inkubasi (masa antara kontak dengan anthrax dan awal gejala)
mungkin relatif singkat, dari satu sampai lima hari. Seperti penyakit menular
lainnya, periode inkubasi untuk Leptospirosis cukup bervariasi dan mungkin
seminggu sebelum seorang individu yang terinfeksi merasa sakit. Pada tipe kulit
memiliki masa inkubasi sekitar 2 sampai 7 hari, Pada tipe pencernaan
(gastrointestinal Leptospirosis memiliki masa inkubasinya 2 sampai 5 hari, pada
Tipe pernafasan (pulmonary Leptospirosis) memiliki masa inkubasi 2 - 6 hari.
Hewan dapat terinfeksi saat bernafas atau menelan spora yang terdapat
di tanah, tanaman atau air yang terkontaminasi. Spora akan terbentuk jika bakteri
Leptospirosis terekspos oksigen. Spora ini relatif tahan terhadap panas, dingin
dan pH basa (6-7,4). Masa inkubasi umumnya 3-7 hari, tetapi dapat juga pada
kisaran 1-14 hari tergantung dari rute paparan dan dosis infeksi (CDC 2015).
Ternak ruminansia yang telah didomestikasi juga dapat terinfeksi melalui pakan
konsentrat yang mungkin mengandung jaringan tubuh ternak penderita
Leptospirosis yang dijadikan pakan ternak atau dikenal sebagai meatbone-meal
(MBM) (Davies & Harvey 1972).
b) Masa klinis / tahap penyakit dini
Tahap ini dimulai dengan gejala awal yang kelihatanya ringan. Menurut
Bale Dkk dalam putra Gede (2004) Proses perjalanan penyakit relatif lebih lama
lagi, dijumpai pada herbivora maupun karnivora. Secara umum, gejala klinis
yang diperlihatkan oleh ternak yang menderita anthrax adalah; terjadinya
demam (dapat sampai 42ºC), depresi, lesu, menggigil, malas bergerak, nafsu
makan turun, mencret berdarah, adanya kebengkakan (oedema) pada daerah
tenggorokan, leher, bahu atau scrotum, dan akhirnya mati. Sedangkan pada
manusia umumnya penyakit anthrax pada tahap ini adalah sebagai berikut:
Pada pernafasan diawali dengan panas, menggigil dan mialgia dengan nyeri
dada pada 3-5 hari setelah menginhalasi spora anthrax. Setelah 1-2 hari
berikutnya pasien memburuk menjadi panas tinggi, sesak nafas hebat, sianosis
(badan biru), sakit dada yang terasa “remuk” dan schok.
Pada Kulit, lesi dimulai dengan hilangnya rasa sakit, kadang-kadang
berupa papula pruritus yang sedang (pada umumnya mengenai daerah lengan,
leher atau wajah) dan meluas menjadi lesi vesiculer yang dikelilingi oleh lesi
5
disekitarnya. “Gelatinnous halo” mengelilingi vesikel yang akan berkembang
menjadi ulkus (luka) dan eschar hitam dengan cepatnya berkembang diatas
ulkus. Sedangkan, gejala Leptospirosis tipe kulit ialah bisul merah kecil yang
nyeri. Kemudian lesi tadi membesar, menjadi borok, pecah dan menjadi
sebuah luka. Jaringan disekitarnya membengkak dan lesi gatal tetapi agak
terasa sakit.
Beberapa gejala-gejala anthrax tipe pencernaan adalah mual, pusing,
muntah, tidak nafsu makan, suhu badan meningkat, muntah berwarna coklat
atau merah, buang air besar berwarna hitam, sakit perut yang sangat hebat
(melilit). Daging yang terkena anthrax mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
berwarna hitam, berlendir dan berbau. Tipe ini umumnya terjadi karena
memakan daging yang tidak dimasak dengan sempurna
c) Masa laten atau tahap penyakit lanjut
Pada fase ini terjadi perkembangan penyakit menjadi bertambah hebat
dengan segala kelainan patologis dan gejalanya. Pada fase ini, Leptospirosis
mengalami perkembangan gejala menjadi semakin parah, untuk Tipe kulit
Rasa nyeri jarang terjadi kalaupun ada justru di daerah edema, dapat terjadi
pembesaran kelenjar getah bening regional, demam sedang dan sakit kepala,
Bila tidak segera mendapat pengobatan dapat berkembang menjadi
septicemia dan shock. Untuk Tipe pencernaan (Gastrointestinal Anthrax)
Konstipasi diikuti diare akut berdarah, Hematemesis, toxemia, shock, CFR
bervariasi 5-75% , dan untuk Tipe Pernapasan, Mendadak dispnoe, sianosis,
stridor dan gangguan respirasi berat disertai dengan shock.
d) Tahap penyakit akhir
Pada penyakit Leptospirosis, Tingkat kematian akibat anthrax pada
herbivora sekitar 80% dan pada beberapa kasus bisa menimbulkan kematian
terhadap manusia jika tidak ditangani secara dini atau juga bisa sembuh jika
dengan penanganan yang baik.

2.4 Faktor Resiko Kasus Leptospirosis pada manusia


Setiap orang yang kontak dengan spora Leptospirosis berisiko terinfeksi. Individu
yang berisiko tinggi terinfeksi Leptospirosis diantaranya adalah orang yang menangani
produk ternak, dokter hewan, peternak, wisatawan, pekerja laboratorium yang

6
menangani sampel Leptospirosis, personel militer dan pekerja tanggap darurat yang
menangani bioterorisme yang melibatkan spora Leptospirosis (CDC 2015).
Leptospirosis tidak hanya mempengaruhi kesehatan manusia, tetapi juga menyebabkan
kemiskinan dan tekanan emosional, terutama di kalangan penduduk yang mata
pencahariannya bergantung pada pertanian pastoral (Molyneux et al. 2011). Meskipun
menurut WHO (2017b) bagi sebagian besar wisatawan risiko tertular Leptospirosis
sangat rendah. . Hasil penelitian Basri (2009) di Kabupaten Bogor, menunjukkan faktor
risiko karakteristik individu yang berhubungan dengan penyakit Leptospirosis tipe kulit
adalah orang dengan pekerjaan sebagai petani dan peternak yang memiliki odd ratio
(OR) 3,011 (95% CI = 1,410-6,427). Proporsi masyarakat yang memiliki pekerjaan
sebagai petani peternak pada kelompok kasus (39,2%) lebih besar dibandingkan dengan
proporsi masyarakat yang memiliki pekerjaan sebagai petani/peternak di luar kelompok
kasus (kelompok kontrol) sebesar 17,6%. Hal ini berarti orang yang bekerja sebagai
petani/ peternak di lokasi endemis Leptospirosis memiliki risiko dua kali lebih besar
untuk terkena penyakit Leptospirosis tipe kulit dibandingkan yang bekerja bukan
sebagai petani/peternak. Menurut Swai et al. (2010) ada perbedaan persepsi yang
signifikan terhadap risiko yang timbul akibat kontak dengan hewan terinfeksi atau
produk ternak, yaitu risiko petugas kesehatan hewan untuk tertular Leptospirosis jauh
lebih tinggi dibandingkan dengan pemelihara ternak.
Basri (2009) menyatakan tidak ada hubungan bermakna antara tingkat pendidikan
dan tingkat umur masyarakat dengan kejadian penyakit Leptospirosis tipe kulit,
meskipun masyarakat yang berpendidikan rendah (pada kelompok kasus) 1,7 kali lebih
tinggi dibandingkan dengan masyarakat pada kelompok kontrol (tidak terjadi kasus).
Sementara itu, kelompok usia muda (<36 tahun) dengan kelompok yang lebih tua (≥36
tahun) memiliki risiko yang hampir sama untuk terkena penyakit Leptospirosis tipe
kulit. Hal ini kemungkinan bukan terkait pekerjaannya akan tetapi terkait dengan
riwayat lain seperti ikut menangani daging hewan yang dipotong akibat terkena
Leptospirosis.
Islam et al. (2013) melaporkan bahwa praktik memotong ternak yang hampir mati
umum dilakukan oleh masyarakat , karena ajaran Islam melarang memakan binatang
yang sudah mati secara alami (bangkai). Oleh karena itu, para petani memilih
menyembelih ternak sakit sewaktu masih hidup sehingga dagingnya bisa dimakan atau
dijual dalam usaha untuk menutup investasi finansialnya. Hal tersebut juga dinyatakan
oleh Sitali et al. (2017) bahwa kemiskinan, kurangnya akses terhadap protein dari
7
daging dan alasan ekonomi merupakan pemicu bagi masyarakat peternak untuk
mengonsumsi daging dari ternak terinfeksi. Risiko nyata akibat menangani bangkai
ternak mati mendadak atau mengonsumsi daging ternak sakit akibat Leptospirosis
seringkali diabaikan oleh peternak di pedesaan meskipun mereka sadar bahwa terdapat
larangan untuk itu (Naipospos 2011). Tradisi memotong/menyembelih ternak yang
kedapatan mati mendadak oleh peternak pedesaan di negara berkembang (termasuk di
Indonesia) sulit dihilangkan, mengingat pada umumnya ternak tidak disembelih di
tempat pemotongan resmi (rumah pemotongan hewan). Situasi ini tidak bisa dilepaskan
dari sosio-ekonomi masyarakat pedesaan yang kebanyakan hidup dalam kondisi miskin
secara ekonomi maupun sosial. Sikap pemilik ternak tersebut didorong oleh kebutuhan
mempertahankan nilai ekonomi yang bisa diperolehnya dari daging, kulit dan produk
ternak lainnya.
Di Indonesia, khususnya di Kabupaten Sumba Barat Daya, dimana pernah terjadi
wabah Leptospirosis, pengetahuan masyarakat terhadap penyakit Leptospirosis masih
rendah (Willa 2010). Kebanyakan responden (78%) hanya mengetahui Leptospirosis
sebagai penyakit pada hewan tetapi tidak mengetahui apa penyebab Leptospirosis.
Terkait penularan Leptospirosis, sebagian besar responden (53%) masih mempunyai
pemikiran yang keliru tentang penyakit Leptospirosis sebagai penyakit yang tidak
menular ke manusia. Willa (2010) melaporkan bahwa masyarakat di Kabupaten Sumba
Barat Daya pada umumnya mempunyai sikap yang cukup baik dalam penanggulangan
Leptospirosis, namun perilaku masyarakat seperti kebiasaan mengonsumsi daging
ternak yang mati secara mendadak dan kebiasaan membuang ternak yang mati ke hutan
berpotensi menyebabkan terjadinya kasus penyakit Leptospirosis. Selain itu juga ada
tradisi memasak daging ternak yang kurang matang, sehingga kuman atau bakteri tidak
seluruhnya mati. Faktor pendidikan erat kaitannya dengan pengetahuan, sikap dan
perilaku masyarakat tentang penyakit Leptospirosis. Sebagian besar tingkat pendidikan
responden di Kabupaten Sumba Barat Daya terdiri atas kelompok yang tidak pernah
bersekolah 42%, tidak tamat sekolah dasar (SD) 37% dan yang tamat SD 15% (Willa
2010). Untuk meningkatkan pengetahuan responden perlu diberikan penyuluhan
kesehatan secara rutin atau dengan membentuk kelompok pendidikan non-formal serta
pendidikan kesetaraan. Dengan demikian, tingkat pengetahuan akan meningkat dan
kasus Leptospirosis akan berkurang.

2.5 Pengendalian dan Pencegahan Leptospirosis


8
Pengendalian penyakit anthrax mendapat prioritas secara nasional. Upaya pengendalian
penyakit Antrax telah ditetapkan dan didasarkan pada azas pewilayahan/zoning
(NIPOSPOS, 2005), sebagai berikut:
a. Pencegahan primer
(1)Hewan penderita Anthrax harus diasingkan/isolasi sedemikian rupa terpisah
dengan hewan lain, pengasingan sedapat mungkin di kandang atau tempat
hewan sakit. Dekat tempat tersebut dibuat lubang sedalam minimal 2 meter
untuk menampung sisa makanan dan tinja dari kandang hewan yang
sakit/penampung limbah asal hewan sakit.
(2)Apabila hewan mati ataupun sembuh atau bilamana lubang itu telah terisi
sampai 60 cm dari permukaan tanah, maka lubang tersebut harus ditimbun
dengan tanah segar.
(3)Yang tidak berkepentingan dilarang masuk ke tempat pengasingan kecuali
petugas dan pemelihara hewan sakit atau tersangka sakit. Lakukan sanitasi
umum terhadap orang yang bersentuhan dengan hewan penderita Anthrax
untuk mencegah perluasan penyakit.
(4) Setelah hewan meninggal atau sembuh, kandang dan semua perlengkapan
yang tercemar harus didesinfeksi.
(5)Bacillus anthracis mudah dibunuh dengan pemanasan pada suhu pasteurisasi,
macam-macam desinfektansia (formalin 10%, karbol 5%, iodine dan lain-lain)
serta oleh pembusukan.
(6)Pemantauan dan monitoring dilakukan oleh unsur Dinas Peternakan/ yang
membidangi fungsi kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner
mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten/kota sampai tingkat provinsi.
(7)Situasi penyakit Leptospirosis (wabah) dan perkembangan upaya
pemberantasannya harus dilaporkan setiap minggu ke Pusat sampai dengan
penyakit dapat terkendali.
b. Pencegahan sekunder
(1) Bagi daerah endemik/enzootik, untuk pencegahan penyakit dilakukan vaksinasi
sesuai anjuran diikuti monitoring ketat.
(2) Penyemprotan desinfektan Kandang dan halamannya atau tempat-tempat
dipelihara atau tempat isolasi hewan sakit yang diduga menderita Anthrax
minimal setiap 2 minggu sekali.

9
(3) Pelaksanaan pemeriksaan ternak sebelum maupun setelah ternak dipotong
(ante/post mortum) di Rumah Potong Hewan.
(4) Ketika seseorang mengalami gejala abnormal yang kuat mengarah gejala
Leptospirosis segera memeriksakan diri di fasilitas kesehatan/rumah sakit
terdekat.
(5) Hewan/ternak yang terjangkit Leptospirosis diobati antibotik spektrum luas
(procain penisilin G, streptomycin, kombinasi procain penisilin G dan
streptomycin dan oksitetrasiklin) atau diberi antiserum, dengan dosis sesuai
yang dianjurkan.
(6) diagnosis penyakit Leptospirosis yang telah dikuasi dan dikembang kan Balai
Besar Penelitian Veteriner, antara lain teknik isolasi dan identifikasi kuman
Leptospirosis; uji ASCOLI untuk deteksi kuman Leptospirosis, dan uji Enzyme
Linked Immunosorbent Assay (ELISA) untuk deteksi antibodi ternak
c. Pencegahan tersier
(1) Bangkai hewan yang mati karena penyakit Anthrax harus segera dimusnahkan
dengan dibakar hangus dalam lubang dan atau dikubur
(2) Selama masih terdapat hewan yang sakit, diduga menderita Anthrax maka pada
daerah lokasi penyakit (wabah) tidak diperbolehkan ada kegiatan lalu lintas
hewan atau bahan-bahan asal hewan keluar masuk lokasi tersebut. Hasil
produksi hewan terkena Leptospirosis berupa susu, daging dll harus
dimusnahkan dengan jalan dibakar atau dikubur. Hewan sakit Anthrax dilarang
dipotong.
(3) Konsumsilah daging hewan yang sehat dan dimasak hingga matang sempurna

10
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penyakit anthrax adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bacillus antrachis yang
dalam kondisi tertentu dapat berbentuk spora. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh hewan
melalui rumput yang dimakan oleh hewan ternak tersebut dan mengandung spora bakteri
Bacillus antrachis yang terdapat di dalam tanah tempat tumbuh rumput. Penyakit ini dapat
menyebabkan kematian apabila tidak mendapatkan penangan yang lebih lanjut.
Leptospirosis dibagi 3 yaitu tipe kulit, tipe pencernaan dan tipe pernapasan yang masing-
masing tipe tersebut memiliki gejala dan masa inkubasinya masing-masing. Individu yang
berisiko tinggi terinfeksi Leptospirosis diantaranya adalah orang yang menangani produk
ternak, dokter hewan, peternak, wisatawan, pekerja laboratorium yang menangani sampel
Leptospirosis, personel militer dan pekerja tanggap darurat yang menangani bioterorisme
yang melibatkan spora Leptospirosis (CDC 2015).
3.2 Saran
Penyakit Leptospirosis merupakan penyakit yang menular, ditularkan oleh hewan ke
manusia. Penyakit ini bisa dibilang penyakit yang mematikan karena bisa mengakibatkan
manusia meninggal dunia. Untuk itu perlu penanganan, pengendalian, dan pencegahan
yang serius terhadap penyakit ini dari semua elemen masyarakat. Masyarakat harus lebih
bisa untuk memperhatikan sanitasi lingkungan disekitar mereka mencakup lingkungan
pada daerah peternakan yang ia kelola, agar mengurangi penyebaran dan penularan
Leptospirosis ini. Jika menemukan hewan yang mati secara mendadak harus diwaspadai
bisa saja hewan tersebut terkena Leptospirosis. Belajar dari mulai sekarang awali dari diri
sendiri dengan cara meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), tidak
mengkonsumsi daging yang sudah terkena Leptospirosis, selalu memperhatikan kondisi
ternak yang kita kelola dengan baik.

11
DAFTAR PUSTAKA
Rahayu, asih . (2013). ANTRAX di INDONESIA . [ONLINE]. Tersedia:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=490132&val=10001&title=ANT
HRAX%20in%20INDONESIA ( 2018, 31 Maret)

C, BASRI. (2013). Hubungan karakteristik individu dengan kejadian penyakit Leptospirosis


tipe kulit pada pendududuk wilayah kabupaten bogor. [ONLINE]. Tersedia:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=367353&val=201&title=Hubung
an%20Karakteristik%20Individu%20Dengan%20Kejadian%20Penyakit%20Leptospir
osis%20Tipe%20Kulit%20Pada%20Penduduk%20di%20Wilayah%20Kabupaten%20
Bogor (2018, 31 Maret)

Martindah, Eni .(2017). Faktor Risiko, Sikap dan Pengetahuan Masyarakat Peternak dalam
Pengendalian Penyakit Leptospirosis. [ONLINE]. Tersedia:
http://medpub.litbang.pertanian.go.id/index.php/wartazoa/article/download/1689/1441
(2018, 31 Maret)

Putra, Anak Agung Gede.(2013). SITUASI PENYAKIT HEWAN MENULAR STRATEGIS


PADA RUMINANSIA BESAR: SURVEILANS DAN MONITORING. [ONLINE].
Tersedia: http://peternakan.litbang.pertanian.go.id/fullteks/lokakarya/lpeny06-
4.pdf?secure=1 (2018, 31 Maret)

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). LEPTOSPIROSIS DI YOGYAKARTA


SUDAH TERATASI. [ONLINE]. Tersedia:
http://www.depkes.go.id/article/view/17012700002/Leptospirosis-di-yogyakarta-
sudah-teratasi.html (2018, 31 Maret)

Kementrian Pertanian Republik Indonesia .(2016). PEDOMAN PENGENDALIAN DAN


PEMBERANTASAN PENYAKIT HEWAN MENULAR (PHM) Seri Penyakit Anthrax.
[ONLINE]. Tersedia :
https://luk.staff.ugm.ac.id/artikel/kesehatan/KementanAnthrax.pdf ( 2018, 7 April)

Willa, Ruben Waddu.(2013). SITUASI PENYAKIT LEPTOSPIROSIS DI PROVINSI NUSA


TENGGARA TIMUR. [ONLINE]. Tersedia:

12
http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/jek/article/view/3864/3714 9 (2018, 7
April)

Clarasinta, Claudia dan Tri Umiana soliha.(2017). Penyakit Leptospirosis: Ancaman untuk
Petani dan Peternak . [ONLINE]. Tersedia:
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/view/1763 (2018, 31
Maret)

Fadhillah, Debby.(2015).Diagnosis dan pengobatan Leptospirosis. [ONLINE]. Tersedia:


http://ilmuveteriner.com/diagnosis-dan-pengobatan-anthrax/ (2018, 7 April)

Romaito, adelina.(2014). Epidemiologi penyakit menular Riwayat Alamiah Penyakit


Anthrax dan Pencegahannya. Makalah tugas online. Jakarta. Tidak diterbitkan.

Irianto, Koes.(2014). Epidemiologi penyakit menular dan tidak menular. Alfabeta CV:
Bandung.

13