Anda di halaman 1dari 17

KEBIJAKAN PENATAAN KELEMBAGAAN

DAERAH BERDASARKAN UNDANG-UNDANG


23 TAHUN 2014

Dr. Frans Dione, M.Si


197003131990031005
IPDN – KEMDAGRI / TIM FASILITASI RPP UU 23 / 2014
Hp. 0813 1990 6898 email ; fransdionesa@gmail.com

1
3 MASALAH UTAMA KELEMBAGAAN DI DAERAH

KETIDAKJELASAN DAN TUMPANG TINDIH


1 KEWENANGAN (URUSAN PEMERINTAHAN)

KETIDAKSEIMBANGAN KEMAMPUAN
2 KEUANGAN

POLA KELEMBAGAAN CENDERUNG


3 MAKSIMAL DAN SERAGAM
1
KETIDAKJELASAN DAN
TUMPANG TINDIH
KEWENANGAN

TERJADI KONFLIK KEWENANGAN, TARIK MENARIK URUSAN (KHUSUSNYA


URUSAN YANG MEMPUNYAI POTENSI SUMBER PENDAPATAN
(REVENUE).

TIDAKJELASNYA MEKANISME SUPERVISI DAN FASILITASI OLEH K/L


TERHADAP DAERAH.

KESULITAN DALAM KOORDINASI, INTEGRASI DAN SIKRONISASI


ANTAR LEMBAGA (PUSAT, PROP, KABUPATEN/KOTA)
2
KETIDAKSEIMBANGAN
KEMAMPUAN
KEUANGAN

SEMENTARA BEBAN URUSAN KABUPATEN/KOTA LEBIH BANYAK


DARIPADA BEBAN URUSAN PROPINSI

AKIBATNYA KEMAMPUAN KEUANGAN KABUPATEN/KOTA UNTUK


MENANGANI SUATU URUSAN TERSEBUT SANGAT TERBATAS.

BANYAK KEWENANGAN KABUPATEN/KOTA YANG TIDAK


TERTANGANI DENGAN BAIK BAHKAN TERLANTAR KARENA
KETERBATASAN ANGGARAN.
STRUKTUR BELANJA APBD TA 2011-2014
(triliun rupiah)

BelanjaBaran
Tahu Belanja Belanja
Total % g % %
n Pegawai Modal
&Jasa

2011 513,34 228,35 44% 103,84 20% 113,57 22%


2012 617,55 261,38 42% 122,30 20% 137,70 22%
PROVINSIKA 2013 736,56 296,08 40% 148,05 20% 175,51 24%
B
DANKOTA 2014 844,81 321,40 38% 181,18 21% 211,42 25%
2011 127,92 31,55 25% 33,8 26% 26,43 21%
2012 174,02 35,53 20% 41,99 24% 31,82 18%
2013 213,02 39,03 18% 50,94 24% 43,04 20%

PROVINSI 2014 257,88 42,90 17% 59,74 23% 61,42 24%


2011 385,42 196,8 51% 70,04 18% 87,14 23%
2012 443,53 225,85 51% 80,31 18% 105,88 24%
2013 523,54 257,05 49% 97,11 19% 132,47 25%
KABUPATEN
DANKOTA 2014 586,94 278,51 47% 121,44 21% 150,00 26%

Tahun 2014 Menggunakan Data 530 Daerah dari 539 Daerah Prov/Kab/Kota
3 POLA KELEMBAGAAN
MAKSIMAL, BESAR DAN
SERAGAM

POLA KELEMBAGAAN MAKSIMAL DAN SERAGAM TIDAK BERDASARKAN


BEBAN KERJA SUATU URUSAN.

TIDAK MENUNJUKKAN POTENSI DAN KEUNGGULAN DAERAH

TIDAK MENUNJUKKAN SKALA PRIORITAS PEMBANGUNAN


DAERAH
PENYEDERHANAAN DAN KEJELASAN POLA PENATAAN URUSAN

1. Setiap urusan dikelompokkan ke dalam sub urusan yang akan dibagi


kepada setiap susunan pemerintahan.
2. Pembagian urusan dilakukan berdasarkan objek pada urusan tersebut.
Contoh, objek urusan pendidikan adalah pendidikan dasar, pendidikan
menengah dan pendidikan tinggi.
3. Pembagian urusan kedalam sub urusan dapat bedasarkan jenis,
volume/ukuran, institusi pelaksana, jenjang/tingkatan, atau
pengelompokkan lainnya.
4. Antar tingkatan/susunan pemerintahan tidak ada obyek urusan yang
sama.
5. Pembagian urusan tidak berdasarkanproses yang berkelanjutan pada
objek yang sama, karena akan membawa kesulitan dalam pengelolaan
aset dan keuangan. Contoh : SMP urusan Kab/Kota, tapi pada saat SMP
tersebut jadi RSBI maka jadi urusan Provinsi, sehingga perlu pangalihan
aset.
MENYEIMBANGKAN BEBAN KEWENANGAN
Eksternalitas,
Akuntabilitas
dan Efisiensi
1. BERDASARKAN KRITERIA, SEBAGIAN URUSAN KAB/KOTA DIJADIKAN
KEWENANGAN DAERAH PROVINSI ATAU PUSAT, SEBALIKNYA
KEWENANGAN PROVINSI YANG BERSIFAT TRANSAKSIL PELAYANAN LOKAL
DISERAHKAN KE KAB/KOTA.
2. URUSAN PEMERINTAHAN YANG BERSIFAT EKOLOGIS (DAMPAK LINTAS
ADMINISTRASI PEMERINTAHAN) HANYA DIBAGI ANTARA PUSAT DAN
DAERAH PROPINSI.
3. PELAKSANAAN URUSAN YANG MENJADI KEWENANGAN PUSAT DI
DAERAH DAPAT DILAKUKAN DENGAN DEKONSENTRASI ATAU TUGAS
PEMBANTUAN;
4. PELAKSANAAN URUSAN YANG MENJADI KEWENANGAN DAERAH
PROVINSI DAPAT DILAKUKAN DENGAN TUGAS PEMBANTUAN.
PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN KONKUREN

Dibagi berdasarkan prinsip


Eksternalitas,
WAJIB Akuntabilitas dan Efisiensi PILIHAN
dan Kriteria tertentu

NON PELAYANAYAN DASAR


PELAYANAN DASAR
1. Kelautan &
Perikanan
1. Tenaga Kerja, 2. Pariwisata
1. Pendidikan; 2. Pemberdayaan Perempuan 3. Pertanian
2. Kesehatan; & Pelindungan Anak, 4. Kehutanan
3. PU & Tata Ruang; 3. Pangan, 5. ESDM
4. Perumahan & 4. Pertanahan, 6. Perdagangan
5. Lingkungan Hidup, 7. Perindustrian
Kwsan
6. Adminduk & Capil, 8. Transmigrasi
Permukiman 7. PMD,
5. Tramtibum & 8. Pengendalian Pddk &KB,
linmas 9. Perhubungan,
10.Kominfo, Dimungkinkan
6. Sosial
11.Koperasi, Usaha Kecil & Penggabungan
Pilihan Sesuai
Menengah , Dengan kriteria Potensi,
12.Penanaman Modal, tertentu dan
13.Kepemudaan & Olahraga,
Keunggulan
tetap Daerah
14.Statistik, memperhatikan
15.Persandian,
Note : Menunjukkan kompetensi
16.Kebudayaan,
skala prioritas 17.Perpustakaan dan urusan
18.Kearsipan
KELEMBAGAAN PERANGKAT DAERAH

1. Besaran organisasi perangkat daerah tidak harus sama pada


setiap daerah tergantung dari beban kerja setiap urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan masing-masing
daerah.
2. Untuk itu dibentuk tipologi dinas atau badan daerah sesuai
dengan besarannya agar terbentuk Perangkat Daerah yang
efektif dan efisien.
3. Untuk menciptakan sinergi dalam pengembangan potensi
unggulan nasional, diperlukan pemetaan oleh K/L dan daerah
untuk mengetahui daerah yang mempunyai potensi unggulan
sesuai dengan bidang tugas K/L.
ARAH PENGATURAN : TIPOLOGI DINAS

Untuk mewadahi Urusan Pemerintahan yang


DINAS menjadi kewenangan Daerah dengan beban
TIPE A kerja yang BESAR;

DINAS Untuk mewadahi Urusan Pemerintahan


TIPE B yang menjadi kewenangan Daerah dengan
beban kerja yang SEDANG;

DINAS Untuk mewadahi Urusan Pemerintahan


yang menjadi kewenangan Daerah dengan
TIPE C
beban kerja yang KECIL;
INDIKATOR PENENTU BEBAN KERJA

UMUM KHUSUS / TEKNIS

JUMLAH PENDUDUK BESARAN URUSAN


PEMERINTAHAN
LUAS WILAYAH

Apa yang menjadi


Penentu Beban Kerja
Bidang Kehutanan?
ORGANISASI PERANGKAT DAERAH Stop
(Dari UU 22/1999 ke UU 32/2004 sampai UU 23/2014) press

UU 22/1999 UU 32/2004 UU NO. 23/2014

Psl. 120 s.d Psl. 128: Psl. 120 s.d Psl. 128:
Psl. 60 s.d Psl. 68, Psl. 66 serta
Perangkat Daerah Perangkat Daerah
Psl 120,
Perangkat Daerah Propinsi : Provinsi: Provinsi:
• Sekretariat Daerah; • Sekretariat Daerah; • Sekretariat Daerah;
• Dinas Daerah; • Sekretariat DPRD; • Sekretariat DPRD;
• Lembaga Teknis Daerah; • Dinas Daerah; • Inspektorat
• Satuan Polisi Pamong Praja • Badan;
• Lembaga Teknis Daerah;
• Dinas;
Perangkat Daerah Kabupaten : Perangkat Daerah
• Sekretariat Daerah; Kab/Kota: Perangkat Daerah
• Dinas Daerah; • Sekretariat Daerah; Kab/Kota:
• Lembaga Teknis Daerah; • Sekretariat DPRD; • Sekretariat Daerah;
•Kecamatan; • Sekretariat DPRD;
• Satuan Polisi Pamong Praja.
• Dinas Daerah;
• Lembaga Teknis Daerah; •Inspektorat;
• Kecamatan; •Badan;
• Kelurahan. • Dinas;
• Kecamatan.
PP NO. 8/2003
PP 41/2007
UNSUR-UNSUR ORGANISASI DI DAERAH

KDH
Wa. KDH

Badan,
Inspektorat Setda

Dinas

HENRY MINTZBERG (1979)


ARAH PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM

1. Dengan meletakkan kewenangan pengelolaan SDA hanya pada daerah


provinsi, maka kontrol pemerintah pusat menjadi lebih efektif karena
rentang kontrol yang pendek.
2. Manajemen pengelolaan SDA menjadi lebih efektif karena hubungan
antara pembuat kebijakan di provinsi dengan unit pelaksana di
kabupaten/kotaberada dalam satu hirarkhi .
3. Dengan meletakkan urusan pada daerah provinsi, maka kemampuan
untuk membiayai urusan SDA menjadi lebih besar;
4. Pelayanan kepada masyarakat tidak mengalami banyak diversitas
akibat banyaknya pusat pengambilan keputusan (daerah otonom).
PENGUATAN PENGELOLAAN SDA DI DAERAH

1. Pelaksanaan urusan pengelolaan SDA yang menjadi kewenangan


daerah provinsi dapat dilakukan oleh Cabang Dinas Provinsi atau UPT
di kabupaten/kota.
2. Untuk mempermudah pelayanan, kapala UPT kabupaten/kota dapat
diberikan wewenang untuk menandatangani izin tertentu (yang skala
kecil dengan intensitas tinggi).
3. Dalam pelaksanaan anggaran, kepala UPT di kabupaten/kota dapat
ditunjuk sebagai KPA SKPD;

16
TERIMA KASIH

17