Anda di halaman 1dari 19

PENGARUH KONSENTRASI DAN INTERVAL WAKTU PEMBERIAN PUPUK

GREEN TONIK TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO


(Theobroma cacao L.)

PROPOSAL PENELITIAN

oleh
Indri Lestari
NIM A41151771

PROGRAM STUDI TEKNIK PRODUKSI BENIH


JURUSAN PRODUKSI PERTANIAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2017
PENGARUH KONSENTRASI DAN INTERVAL WAKTU PEMBERIAN PUPUK
GREEN TONIK TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO
(Theobroma cacao L.)

PROPOSAL PENELITIAN

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan (S.ST)
di Program Studi Teknik Produksi Benih
Jurusan Produksi Pertanian

oleh

Indri Lestari
NIM A41151771

PROGRAM STUDI TEKNIK PRODUKSI BENIH


JURUSAN PRODUKSI PERTANIAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2017
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) berasal dari hutan-hutan tropis di Amerika
Tengah dan bagian utara Amerika Selatan. Tanaman tersebut tergolong famili
Sterculiaceae dari ordo Malvales yang menghasilkan biji-bijian. Penduduk yang pertama
kali mengusahakan tanaman kakao serta menggunakan sebagai bahan makanan dan
minuman adalah suku Indian Maya dan suku Astek (Aztec). Ketika bangsa Spanyol
datang tahun 1519, suku Astek-lah sebagai penanam dan mengusahakan tanaman kakao
(Lukito, 2004).
Bangsa Spanyol pada saat itu tidak menyukai cokelat hasil olahan suku Astek.
Mereka mulai mencari dengan menyangrai biji kakao, kemudian menumbuknya dan
menambahkan gula tebu. Ternyata hasil pengolahan seperti ini lebih cocok dengan
selera mereka. Karena itu, pada akhirnya bangsa Spanyol memperkenalkan gula tebu ke
mesiko pada tahun 1522-1524. Orang-orang Spanyol juga tercatat sebagai penanam
pertama kakao di Trinidad pada tahun 1525 (Lukito, 2004).
Di Indonesia tanaman kakao diperkenalkan oleh Bangsa Spanyol pada tahun 1560
di minahasa. Jenis yang pertama sekali di tanam adalah criollo, yang oleh bangsa
Filipina diperoleh dari Venezuela. Produksi kakao ini relatif rendah dan peka terhadap
serangan hama dan penyakit, tetapi rasanya enak. Pada tahun 1806 usaha perluasan
kakao dimulai lagi di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Penanaman dilaksanakan di sela-
sela areal pertanaman kopi (Siregar, 2004).
Pada tahun 1984 harga kakao mengalami lonjakan cukup tinggi sehingga mampu
mendorong negara-negara produsen untuk memperluas areal perkebunan 2 kakao.
Negara-negara produsen utama kakao adalah Pantai Gading, Ghana, Malaysia dan
Indonesia. Dalam kurun waktu 7 tahun ini, laju peningkatan produksi dari Indonesia
sekitar 33%, Malaysia sekitar 18,9%, Ghana sekitar 8,16% dan Pantai Gading sekitar
4,72%. Akibat dari produksi selalu lebih dari pada permintaan maka akan terjadi stok
kakao terus bertambah sehingga mengakibatkan harga biji kakao terus melemah
(Susanto, 1995).
Dalam usaha budidaya tanaman kakao proses pemupukan adalah salah satu
pemeliharaan sangat penting pada untuk memperoleh hasil pertumbuhan yang lebih
baik, tujuan pemupukan adalah menambah kesediaan unsur hara bagi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman untuk memperoleh peningkatan hasil produksi yang optimal
(Sutejo, 1987).
Pemupukan melalui daun dilakukan mengingat adanya kenyataan bahwa
pemupukan melalui tanah kadang-kadang kurang menguntungkan dimana unsur hara
yang diberikan seringkali mengalami pencucian sehingga unsur hara tersebut relatif
kurang tersedia bagi tanaman. Sedangkan pemberian melalui daun dapat diserap oleh
tanaman lebih cepat dibandingkan pemberian melalui tanah (Sutejo, 1987).
Hal yang perlu diperhatikan dalam pengamplikasian pupuk melalui daun salah
satunya adalah konsentrasi pupuk, sebab pemberian pupuk dengan Konsentrasi yang
tidak tepat akan mengganggu tanaman. Pemberian dengan konsentrasi terlalu tinggi
akan mengakibatkan kematian bagi tanaman yang dibudidayakan, sedang pemberian
dengan konsentrasi yang terlalu rendah tidak akan memberikan hasil yang baik bagi
tanaman.
Pupuk Green Tonik adalah pupuk daun yang mempunyai kandungan unsur hara
yang lengkap baik hara makro maupun mikro. Konsentrasi penggunaan pupuk Green
Tonik tergantung pada jenis tanaman.
Selain konsentrasi, waktu pemberian juga memegang peranan penting. Pupuk
daun belum bisa disemprotkan apabila tanaman baru dipindahkan, penyemprotan baru
bisa dilakukan setelah tanaman kembali segar (Lingga, 1989)
Pada jenis tanaman keras, pupuk daun dapat disemprokan dengan volume larutan
secukupnya dengan interval 10-15 hari sekali hingga pertumbuhan tanaman menjadi
subur dan hijau. Oleh karena itu maka perlu dilakukan peneltian tentang konsentrasi dan
interval waktu penyemprotan Green Tonik untuk mendapatkan pertumbuhan bibit kakao
yang baik.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diperoleh rumusan masalah


sebagai berikut :
a. Apakah penambahan konsentrasi pupuk Green Tonik berpengaruh terhadap
pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.) ?
b. Apakah interval waktu pembetian pupuk Green Tonik berpengaruh terhadap
pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.) ?
c. Apakah terdapat interaksi antara penambahan konsentrasi dan interval pemberian
pupuk Green Tonik berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit kakao (Theobroma
cacao L.)?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi pupuk Green Tonik terhadap
pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.)
b. Mengetahui pengaruh interval waktu pembetian pupuk Green Tonik terhadap
pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.)
c. Mengetahui interaksi antara penambahan konsentrasi dan interval pemberian pupuk
Green Tonik terhadap pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.)
1.4 Manfaat

Berdasarkan tujuan diatas, maka dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat
memberikan rekomendasi kepada petani dan produsen benih kakao dalam meningkatkan
produksi dan mutu benih kakao dalam bentuk bibit dengan penambahan konsentrasi
Green Tonik dan interval waktu pemberian pupuk Green Tonik.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Botani Tanaman Kakao


2.1.1. Sistematika
Berdasarkan batang nya klasifikasi botani tanaman kakao adalah sebagai berikut
(Siregar et al., 1994).
Devisi : Spermatophyta
Sub Devisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Famili : Dialypetalae
Ordo : Sterculiaceae
Genus : Thebroma
Spesies : Theobroma Cacao L.

2.1.2. Morfologi
1. Akar.
Tanaman kakao berakar tunggang apabila tanaman sudah berumur 1-2 minggu
dari akar tunggang tumbuh akar-akar cabang, akar cabang ini bercabang lagi beberapa
kali dan pada bagian akar cabang tumbuh akar rambut yang berfungsi sebagai penyerap
unsur hara yang terdapat dalam tanah (Siregar et al., 1994).
2. Batang.
Batang adalah bagian utama dari tanaman. Dari batang inilah keluar bagian-
bagian yang lain dari tanaman seperti : cabang, daun, bunga dan buah. Kakao bersifat
dimorfisme, artinya memiliki dua macam percabangan atau tunas vegetatif, yaitu tunas
ortotrop yang tumbuh keatas dan tunas plagiotrop yang tumbuh kesamping, cabang
kipas atau fan, (Susanto, 1995).
3. Daun.
Bentuk daunnya bulat memanjang (oblongus), ujung daun meruncing
(acuminatus), dan pangkal daun runcing (acutus). Susunan tulang daun menyirip dan
tulang daun menonjol kepermukaan bawah helai daun (Lukito, 2004).
4. Bunga.
Bunga tanaman kakao berwarna putih, ungu, atau kemerahan, tangkai bunganya
kecil tetapi panjangnya 1 – 1,5 cm, daun mahkota panjangnya 6 - 8 mm, terdiri atas dua
bagian, bagian pangkal berbentuk seperti kuku binatang (claw) dan bagian ujung berupa
lembaran tipis berwarna putih (Lukito, 2004).
5. Buah.
Pada dasarnya buah kakao tertiri dari dua macam warna. Buah yang ketika muda
berwarna hijau atau hijau agak putih jika sudah masak berwarna kuning. Sementara itu
buah yang ketika muda berwarna merah setelah masak berwarna jingga (oranye).
Panjang buah beragam dari 10 hingga 30 cm (Lukito, 2004).

2.2. Syarat Tumbuh Tanaman Kakao


2.2.1.Iklim
Faktor iklim yang penting bagi pertumbuhan tanaman kakao meliputi curah hujan,
suhu, kelembaban udara, sinar matahari dan angin.
Curah hujan yang merata sepanjang tahun lebih penting dari pada jumlah hujan
tahunan sebab tanaman kakao lebih cocok bila bulan kering tidah melebihi dari 3 bulan.
Daerah produsen kakao umumnya memiliki curah hujan berkisar antara 1250-3000 mm
tiap tahun (Susanto, 1995)
Faktor suhu sangat berhubungan dengan tinggi tempat. Pada umumnya kakao
diusahakan pada ketinggian kurang dari 300 meter diatas permukaan laut. Suhu
maksimal untuk kakao sekitar 30 – 32 0C, sedangkan suhu minimum sekitar 18 – 21 0C,
berdasarkan keadaan iklim di Indonesia temperatur 25 – 26 0C merupakan temperatur
rata-rata tahunan tanpa faktor pembatas. Karena itu, daerah-daerah tersebut sangat cocok
pabila ditanami kakao (Siregar, 2004).
Daerah penghasil kakao memiliki kelembaban udara relatif maksimum 100%,
pada malam hari dan 70% - 80% pada siang hari.
Sinar matahari merupakan sumber energi bagi tanaman dalam proses fotosintesis.
Namun kebutuhan sinar matahari tergantung dari besar kecilnya tanaman. Tanaman
muda yang baru ditanam memerlukan sinar matahari sekiter 25% - 35% dari sinar
matahari penuh. Tanaman dewasa yang sudah berproduksi kebutuhan sinar matahari
semakin besar sekitar 65% - 75%. Hal ini dapat diperoleh dengan mengatur tanaman
penaung (Susanto, 1995).
2.2.2.Tanah
Faktor tanah yang sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman kakao adalah
sifat fisik tanah, sifat kimia tanah, dan kandungan bahan organik tanah. Sifat kimia
tanah meliputi kadar unsur hara makro dan mikro dalam tanah, kejenuhan basa,
kapasitas pertukaran kation. Sementara itu sifat fisik tanah yang meliputi tekstur,
struktur, konsistensi, kedalaman efektif tanah (solum), dan akumulasi endapan suatu
unsur relatif sulit diperbaiki meskipun teknologi perbaikannya telah ada (Lukito, 2004)
Tanaman kakao dapat tumbuh pada tanah yang memiliki kisaran pH 4,0-8,5.
Namun pH yang ideal adalah 6,0 - 7,5 dimana unsur hara dalam tanah cukup tersedia
bagi tanaman.
Tanaman kakao menghendaki tanah yang mudah ditembus oleh akar tanaman,
akar tunggang tanaman kakao kedalaman sekitar 1-1,5 m, sedang akar lantara terdapat
pada lapisan atas, sedalam sekitar 30 cm. dengan perakaran yang baik tanaman mampu
menghisap air dan unsur hara.
Tanaman kakao tidak tahan terhadap genangan air maka diperlukan drainase
yang baik sehingga pada musim kemarau tanah mampu menyimpan air dengan cukup
atau tanah tetap lembab. Hal ini dapat terpenuhi apabila tanah memiliki tekstur sebagai
berikut: fraksi pasir sekitar 50%, fraksi debu sekitar 10% - 20%, dan fraksi lempung
sekitar 30% - 40%. Jadi, tektur tanah yang cocok untuk tanaman kakao adalah tanah liat
berpasir dan lempung liat berpasir (Susanto, 1995).
2.3. Pengaruh Green Tonik Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman

Pupuk Green Tonik adalah pupuk daun yang mempunyai kandungan unsur hara
yang lengkap baik hara makro maupun mikro. Pupuk ini juga disebut sebagai pupuk
pelengkap cair (PPC) yang berfungsi sebagai katalisator untuk mengefektifkan atau
mengoptimalkan pemakaian unsur-unsur hara makro, sehingga tanaman mempunyai
produktifitas yang tinggi.
Dengan memberikan pupuk Green Tonik pertumbuhan tanaman akan lebih
sempurna dan juga dapat meningkatkan produksi persatuan luas dengan demikian
meningkatkan produktifitas tanah. Green Tonik juga dapat meningkatkan kualitas
produksi (buah lebih besar, biji lebih bernas, rentan terhadap hama dan penyakit). Di
samping itu juga ramah lingkungan dan tidak merusak struktur tanah. Kandungan unsur
haranya lengkap sehingga dapat mengoptimalkan pemakaian pupuk-pupuk makro yang
lazim digunakan (Urea, TSP, KCl).
Green Tonik sangat unggul karena bermamfaat untuk :
1. Mempercepat pertumbuhan dan perkembangan akar baru yang sangat diperlukan
tanaman dalam proses penyerapan unsur hara dan perakaran yang dalam dapat
mengatasi masalah cepatnya pengeringan permukaan tanah
2. Meningkatkan jumlah klorofil daun yang merupakan pabrik bagi tanaman untuk
memproduksi karbo hidrat yang selanjudnya akan ditransportasikan keseluruh
jaringan tubuh tanaman dan disimpan dalam bentuk biji , buah dan umbi
3. Mempercepat pembentukan Primordia bunga yang merupakan tahap lanjut tanaman
(Generatif) Untuk membentuk buah/ biiji.
4. Meningkatkan kemampuan tanaman menyerap unsur-unsur hara makro N,P,K dari
pupuk-pupuk utama sehingga tanaman dapat memberikan hasil panen yang
melimpah.
5. Tanaman lebih sehat, memiliki daya tahan yang kuat terhadap hama penyakit dan
gangguan perubahan cuaca.
6. Dapat digunakan pada semua jenis tanaman.
Adapun keunggulan lain Green Tonik antara lain :
1. Unsur hara yang terkandung didalamnya langsung tersedia bagi tanaman.
2. Legalitas lengkap dan terdaftar di departemen pertanian dengan nomor P629/
PSP/III/ 00.
3. Berbentuk tepung sehingga memudahkan penyimpanan dan relatif tahan lama.
4. Ramah lingkungan dan tidak merusak struktur tanah, didukung sifatnya yang
Biodegradable (Mudah Terurai)
5. Kandungan unsur haranya meliputi , N, 0,23%; K, 88%; P2O5, 12,70 %; S, 0,02 %;
B, 0,25%; Ca, < 0,4ppm; Co, 9,59 ppm; dan Cu, < 0,03 ppm.

2.4. Pengaruh Konsentrasi Unsur hara terhadap pertumbuhan dan Hasil


Tanaman.
Selama masa pertumbuhan dan perkembangannya tanaman banyak memerlukan
unsur hara baik makro maupun mikro. Unsur hara makro relatif banyak diperlukan oleh
tanaman dari pada unsur hara mikro. Seperti kita ketahui betapa banyaknya unsur hara
atau zat mineral yang terangkut dari dalam tanah ketika pemanenan berlangsung dan
akan mengakibatkan rendahnya produktivitas tanaman jika kesuburan tanah kurang
diperhatikan.
Untuk perbaikan kembali unsur-unsur hara yang terdapat dalam tanah,
pemupukan merupakan suatu perlakuan yang penting selain persediaan humus, reaksi
tanah, struktur tanah dan lain sebagainya.
Pupuk ialah bahan yang diberikan kedalam tanah baik yang organik maupun
yang anorganik yang bermaksud untuk mengganti kehilangan unsur-unsur hara yang
didalam tanah dan bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman. Sebelum pupuk
diberikan kita harus menyelidiki tentang zat-zat apakah yang perlu diberikan kepada
tanah sehubungan dengan kekurangannya, berapa besar kekurangannya, bagaimana
perbandingannya dan kapan waktu pemberiannya.
Pemberian atau penambahan zat-zat kedalam tanah harus ditinjau dari beberapa
segi yaitu segi teknis, keuangan, sesial ekonomi dan lain-lain, apabila pemberian zat
yang berlebihan atau serba kurang dan pemberian zat tidak tepat pada waktunya tentu
akan menimbulkan akibat yang fatal atau sangat merugikan seperti :
1. Kematian pada tanaman yang dibudidayakan.
2. Timbulnya gejala-gejala penyakit yang baru.
3. Kerusakan fisik tanah, tidak ekonomis dan lain-lain.
Menurut Dwijoseputro (1983), menyatakan bahwa pada pemberian pupuk yang
perlu diperhatikan adalah Konsentrasi yang tepat, apabila diberikan pada Konsentrasi
yang rendah maka amplikasinya kurang efektif. Pemberian pupuk pada tanaman akan
relatif efektif pada Konsentrasi tertentu, sedangkan Konsentrasi dibawah optimum tidak
efektif bagi tanaman (Kusumo, 1984).

2.5. Pengaruh Interval Waktu Pemupukan terhadap Pertumbuhan Tanaman


Interval waktu pemupukan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.
Tanaman memerlukan bermacam-macam pupuk selama pertumbuhan dan
perkembangannya (sejak kecambah hingga matinya tanaman). Terdapat berbagai proses
pertumbuhan yang intensitasnya berbeda-beda. Ini berarti bahwa sepanjang
pertumbuhannya ada saat-saat dimana tanaman itu memerlukan pertukaran zat secara
intensif agar pertumbuhannya berlangsung dengan baik, ada saat-saat pembungaan,
pembuahan dan dengan sendirinya ada saat-saat diperlukan unsur hara yang cukup bagi
pertumbuhan bagian-bagian tanaman.
Kebutuhan unsur hara sangat tergantung pada fase pertumbuhan tanaman. Begitu
pula dengan konsentrasi unsur hara yang diberikan. Untuk menghasilkan pertumbuhan
yang lebih baik, pemupukan harus di lakukan tepat pada waktu dan konsentrasinya.
2.6 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan teori yang telah dikemukakan, adapun hipotesis ini adalah :
H0 : Penambahan konsentrasi pupuk Green Tonik tidak berpengaruh terhadap
pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.)
H1 : Penambahan konsentrasi pupuk Green Tonik berpengaruh terhadap
pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.)
H0 : Pemberian interval waktu pembetian pupuk Green Tonik tidak berpengaruh
terhadap pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.)
H1 : Pemberian interval waktu pembetian pupuk Green Tonik berpengaruh terhadap
pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.)
H0 : Terdapat interaksi antara penambahan konsentrasi dan interval pemberian
pupuk Green Tonik tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit kakao
(Theobroma cacao L.)
H1 : Terdapat interaksi antara penambahan konsentrasi dan interval pemberian
pupuk Green Tonik berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit kakao
(Theobroma cacao L.)
BAB 3. METODOLOGI

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di
Jember.. Penelitian ini dimulai dari tanggal 01 Agustus sampai dengan 30 November
2018.

3.2. Bahan dan Alat Penelitian


1. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Benih kakao yang digunakan adalah varietas lokal yang di peroleh dari Pusat
Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember
b. Tanah yang digunakan untuk media tanam adalah campuran tanah Pupuk kandang
Pupuk yang digunakan adalah pupuk daun Green Tonik yang diperoleh Pusat
Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember
c. Polybag yang digunakan dalam penelitian ini berwarna hitam diperoleh dari Pusat
Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember berukuran 18 cm x 25 cm dengan
jumlah polybag sebanyak 135 .
d. Naungan dari plastik transparan, sehingga air hujan tidak dapat masuk dan
mengenai bibit kakao. Diatas plastik tersebut di beri atap dari daun kelapa sehingga
terlindungi dari sinar matahari sekitar 75%.
2. Alat – alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, parang, jangka
sorong (Caliper), ayakan, timbangan, ember, meteran, spayer, gelas ukur dan alat
tulis.
3.3. Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah
rancangan acak kelompok (RAK) Faktorial. Ada 2 faktor yang diteliti masing- masing
terdiri dari 5 dan 3 taraf perlakuan dengan 3 ulangan.

Konsentrasi Green Tonik Interval Waktu Pemberian Pupuk Green tonik


(K) (W)
K0 : Tanpa Green tonik ( Kontrol)
K1 : 1,5 cc l air -1 W1 : 7 hari sekali ( mulai umur 14 s/d 70 hst)
K2 : 2,5 cc l air-1 W2 : 14 hari sekali (mulai umur 14 s/d 70 hst)
K3 : 3,5 cc l air-1 W3 : 21 hari sekali (mulai umur 14 s/d 77 hst)
K4 : 4,5 cc l air

Tabel 1 : Susunan Kombinasi Perlakuan Antara Konsentrasi dan Interval Waktu


Pemberian Pupuk Green Tonik

No Susunan Konsentrasi Interval Waktu Pemberian


Kombinasi Green Tonik Pupuk Green Tonik (Hari
Perlakuan (cc l air -1) Sekali)
1 K0W1 Kontrol 7 Hari Sekali
2 K0W2 Kontrol 14 Hari Sekali
3 K0W3 Kontrol 21 Hari Sekali
4 K1W1 1.5 7 Hari Sekali
5 K1W2 1.5 14 Hari Sekali
6 K1W3 1.5 21 Hari Sekali
7 K2W1 2.5 7 Hari Sekali
8 K2W2 2.5 14 Hari Sekali
9 K2W3 2.5 21 Hari Sekali
10 K3W1 3.5 7 Hari Sekali
11 K3W2 3.5 14 Hari Sekali
12 K3W3 3.5 21 Hari Sekali
13 K4W1 4.5 7 Hari Sekali
14 K4W2 4.5 14 Hari Sekali
15 K4W3 4.5 21 Hari Sekali

Model matematika yang digunakan adalah :


𝒀𝒊𝒋𝒌 = 𝝁 + 𝜷𝒊 + 𝑲𝒋 + 𝑾𝒌 + (𝑲𝑾)𝒋𝒌+∈ 𝒊𝒋𝒌
Keterangan:
Yij Nilai pengamatan untuk faktor konsentrasi taraf ke-j, aktor interfal waktu pemberian
taraf ke-k dan ulangan ke-i
 Nilai tengah umum
i Pengaruh ulangan ke-i ( i = 1, 2, 3 dan 4)
Kj Pengaruh faktor Konsentrasi ke-i ( i = 1, 2, 3 dan 4)
Wk Pengaruh faktor interval waktu pemberian ke-j ( j = 1, 2 dan 3)
(KW)jk Interaksi terhadap faktor konsentrasi dan interval waktu pemberianpada taraf media
ke-i, dan taraf konsentrasi hara ke-j
ij Galat percobaan untuk ulangan ke-i, faktor konsentrasi taraf ke-j, faktor interval
waktu pemberian taraf ke-k.

Apabila hasil uji F menunjukkan pengaruh yang nyata maka akan dilanjutkan
dengan uji lanjutan yaitu uji Beda Nyata Terkecil pada taraf 5%. Dengan persamaan
sebagai berikut :
𝑩𝑵𝑻 𝟎. 𝟎𝟓 = 𝒕𝟎. 𝟎𝟓 (𝒅𝒃𝒈)√𝟐𝑲𝑻𝒈/𝒓
Dimana :
BNT 0.05 Beda Nyata Terkecil pada taraf 5 %
t 0,05 (dbg ) Nilai baku t pada taraf 5 %; ( derajat bebas galat )
KT g Kuadrat tengah galat
R Jumlah ulangan.
3.4. Pelaksanaan Penelitian
1. Pemilihan Benih
Buah untuk keperluan benih diambil dari buah yang telah masak, bentuknya
normal dan sehat. Untuk pengambilan biji dari buah dilakukan dengan pemotongan buah
secara horizontal dimana biji yang diambil hanya bangian tengah. Pemotongan
dilakukan dengan Hati-hati sehinga bijinya tidak rusak. Sebelum dikecambahkan
terlebih dahulu selaput buah (pulp) yang menutupi biji dihilangkan dengan
menggunakan abu sekam, kemudian dicuci dengan air bersih dan ditiriskan. Biji yang
telah bersih dikecambahkan dalam kotak pengecambahan, penyiraman kecambah
dilakukan dua kali sehari pada pagi dan sore.
2. Persiapan Media
Media tumbuh bagi pembibitan ini adalah campuran tanah lapisan atas (Top
Soil) dan Pupuk Kandang dengan perbandingan berat 3: 1 (Tiga bagian tanah dan Satu
bagian pupuk kandang). Media tanam yang digunakan terlebih dahulu dibersihkan dan
diayak lalu diaduk sampai merata serta dimasukkan kedalam polybag.
3. Persemaian
Sebelum bibit ditanam dalam polybag terlebih dahulu disemai pada media pasir,
kemudian ditutup dengan goni basah.
4. Penanaman Kecambah
Sebelum penanaman, kecambah diseleksi terlebih dahulu dengan memilih
kecambah yang pertumbuhannya normal. Biji yang berkecambah dengan panjang
radikula mencapai 0,5-1 cm kemudian dipindahkan dalam polybag/media tanam.
Kecambah ditanam dengan radikula kebawah dan seluruh biji tertutup oleh lapisan tanah
dan waktu pemindahan kecambah dilakukan 12 hari setelah benih tersebut
berkecambah.
5. Pemberian pupuk Green Tonik
Aplikasi pupuk Green Tonik diberikan sesuai dengan perlakuan yang dicobakan
yaitu : K0 : Tanpa Green Tonik, K1:1,5 cc l air-1 , K2 : 2,5 cc l air-1 , K3 : 3,5 cc l air-1
, dan K4 : 4,5 cc l air-1dengan interfal waktu pemberian yaitu: W1 : 7 hari sekali, W2 :
14 hari sekali, W3 : 21 hari sekali, Aplikasi pupuk ini diberikan pada pagi hari atau
sesuaikan dengan cuaca setempat.
6. Penyiraman
Penyiraman dilakukan dua kali sehari pagi dan sore hari.
7. Penyiangan
Penyiangan dilakukan secara teratur dengan mencabut rumput yang tumbuh
didalam dan disekitar polybag.
3.5. Pengamatan
Parameter pertumbuhan bibit yang diamati adalah sebagai berikut :
a. Tinggi Bibit (cm) Pengamatan tinggi bibit dilakukan pada umur 30, 60 dan 90 hari
setelah tanam, diukur dari permukaan tanah yang telah diberi tanda sampai bagian
tanaman yang tertinggi.
b. Jumlah Daun (helai) Pengamatan jumlah daun dilakukan pada umur 30, 60 dan 90
hari setelah tanam, dihitung mulai dari daun pertama keluar sampai dengan daun
terakhir.
c. Diameter Pangkal Batang (mm) Pengamatan diameter pangkal batang dilakukan
pada umur 30, 60 dan 90 hari setelah tanam, diukur pada pangkal batang yang telah
diberi tanda.
DAFTAR PUSTAKA

Bustanil. 2012. “Pengaruh Green Tonik Terhadap pertumbuhan Bibit Kakao”. Dalam.
J.Pertanian. Indonesia. http://repository.utu.ac.id/289/1/BAB%20I_V.pdf. [5
Juni2018]
Timor, B.A.P., S.Y Tyasmoro, S.Y., Sabayang, H.T. “Respon Pertumbuhan Bibit Kakao
Pada Berbagai Jenis Media Tanam. https://media.neliti.com/media/publications/
131628-ID-none.pdf. [5 Juni2018]