Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN STASE JIWA

LAPORAN PENDAHULUAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN STASE JIWA Oleh: ILHAM RIDWAN YASSIN 20174030046 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS

Oleh:

ILHAM RIDWAN YASSIN

20174030046

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2018

  • A. Pengertian perilaku kekerasan Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yangdapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marahyang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995). Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz dalam Harnawati,1993). Sementara, menurut (Towsend, 1998) perilaku kekerasan adalah suatukeadaan dimana seseorang individu mengalamai perilaku yang dapat melukaisecara fisik baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Perilaku kekerasan dapatdibagi dua menjadi perilaku kekerasan scara verbal dan fisik (Keltner et al, 1995).

  • B. Tanda dan Gejala :

Yosep (2009) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku

kekerasan adalah sebagai berikut:

  • 1. Fisik

    • a. Muka merah dan tegang

    • b. Mata melotot/ pandangan tajam

    • c. Tangan mengepal

    • d. Rahang mengatup

    • e. Postur tubuh kaku

    • f. Jalan mondar-mandir

  • 2. Verbal

    • a. Bicara kasar

    • b. Suara tinggi, membentak atau berteriak

    • c. Mengancam secara verbal atau fisik

    • d. Mengumpat dengan kata-kata kotor

    • e. Suara keras

    • f. Ketus

  • 3. Perilaku

    • a. Melempar atau memukul benda/orang lain

    • b. Menyerang orang lain

    • c. Melukai diri sendiri/orang lain

    • d. Merusak lingkungan

    • e. Amuk/agresif

  • 4. Emosi Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, rasa terganggu, dendam dan jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut.

    • 5. Intelektual Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme.

    • 6. Spiritual Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang lain, menyinggung perasaan orang lain, tidak perduli dan kasar.

    • 7. Sosial Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran.

    • 8. Perhatian Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual.

    • C. Penyebab perilaku kekerasan Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri: harga diri rendah.Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisaseberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapatdigambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri,merasa gagal mencapai keinginan.

      • 1. Faktor Predisposisi Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku kekerasan menurut teori biologik, teori psikologi, dan teori sosiokultural yang dijelaskan oleh Towsend (1996 dalam Purba dkk, 2008) adalah:

        • a. Teori Biologik Teori biologik terdiri dari beberapa pandangan yang berpengaruh terhadap perilaku:

    1)

    Neurobiologik Ada 3 area pada otak yang berpengaruh terhadap proses impuls

    agresif: sistem limbik, lobus frontal dan hypothalamus. Neurotransmitter juga mempunyai peranan dalam memfasilitasi atau menghambat proses impuls agresif. Sistem limbik merupakan sistem informasi, ekspresi, perilaku, dan memori. Apabila ada gangguan pada sistem ini maka akan meningkatkan atau menurunkan potensial perilaku kekerasan. Adanya gangguan pada lobus frontal maka individu tidak mampu membuat keputusan, kerusakan pada penilaian, perilaku tidak sesuai, dan agresif. Beragam komponen dari sistem neurologis mempunyai implikasi memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. Sistem limbik terlambat dalam menstimulasi timbulnya perilaku agresif. Pusat otak atas secara konstan berinteraksi dengan pusat agresif.

    2) Biokimia Berbagai neurotransmitter (epinephrine, norepinefrine, dopamine, asetikolin, dan serotonin) sangat berperan dalam memfasilitasi atau menghambat impuls agresif. Teori ini sangat konsisten dengan fight atau flight yang dikenalkan oleh Selye dalam teorinya tentang respons terhadap stress.

    3) Genetik

    Penelitian

    membuktikan

    adanya

    hubungan

    langsung

    antara

    perilaku agresif dengan genetik karyotype XYY.

    4) Gangguan Otak Sindroma otak organik terbukti sebagai faktor predisposisi perilaku agresif dan tindak kekerasan. Tumor otak, khususnya yang menyerang sistem limbik dan lobus temporal; trauma otak, yang menimbulkan perubahan serebral; dan penyakit seperti ensefalitis, dan epilepsy, khususnya lobus temporal, terbukti berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak kekerasan.

    • b. Teori Psikologik 1) Teori Psikoanalitik Teori ini menjelaskan tidak terpenuhinya kebutuhan untuk mendapatkan kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan membuat konsep diri rendah. Agresi dan tindak kekerasan memberikan kekuatan dan prestise yang dapat meningkatkan citra diri dan memberikan arti dalam kehidupannya. Perilaku agresif dan perilaku kekerasan merupakan pengungkapan secara terbuka terhadap rasa ketidakberdayaan dan rendahnya harga diri. 2) Teori Pembelajaran Anak belajar melalui perilaku meniru dari contoh peran mereka, biasanya orang tua mereka sendiri. Contoh peran tersebut ditiru karena dipersepsikan sebagai prestise atau berpengaruh, atau jika perilaku tersebut diikuti dengan pujian yang positif. Anak memiliki persepsi ideal tentang orang tua mereka selama tahap perkembangan awal. Namun, dengan perkembangan yang dialaminya, mereka mulai meniru pola perilaku guru, teman, dan orang lain. Individu yang dianiaya ketika masih kanak-kanak atau mempunyai orang tua yang mendisiplinkan anak mereka dengan hukuman fisik akan cenderung untuk berperilaku kekerasan setelah dewasa.

    c. Teori Sosiokultural Pakar sosiolog lebih menekankan pengaruh faktor budaya dan struktur sosial terhadap perilaku agresif. Ada kelompok sosial yang secara umum menerima perilaku kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan masalahnya. Masyarakat juga berpengaruh pada perilaku tindak kekerasan, apabila individu menyadari bahwa kebutuhan dan keinginan mereka tidak dapat terpenuhi secara konstruktif. Penduduk yang ramai /padat dan lingkungan yang ribut dapat berisiko untuk perilaku kekerasan. Adanya keterbatasan sosial dapat menimbulkan kekerasan dalam hidup individu.

    • 2. Faktor Presipitasi Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering

    kali berkaitan dengan (Yosep, 2009):

    • a. Ekspresi diri, ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol solidaritas seperti dalam sebuah konser, penonton sepak bola, geng sekolah, perkelahian masal dan sebagainya.

    • b. Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial ekonomi.

    • c. Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melalukan kekerasan dalam menyelesaikan konflik.

    • d. Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuan dirinya sebagai seorang yang dewasa.

    • e. Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat

    dan alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa frustasi.

    • f. Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan, perubahan tahap

    • D. Rentang respon marah Respons kemarahan dapat berfluktuasi dalam rentang adaptif mal adaptif. Rentang respon kemarahan dapat digambarkan sebagai berikut : (

      • 1. Assertif adalah mengungkapkan marah tanpa menyakiti, melukai perasaan orang lain, atau tanpa merendahkan harga diri orang lain.

      • 2. Frustasi adalah respons yang timbul akibat gagal mencapai tujuan atau keinginan. Frustasi dapat dialami sebagai suatu ancaman dan kecemasan. Akibat dari ancaman tersebut dapat menimbulkan kemarahan.

      • 3. Pasif adalah respons dimana individu tidak mampu mengungkapkan perasaan yang dialami.

    orang lain. Dia berpendapat bahwa setiap orang harus bertarung untuk mendapatkan kepentingan sendiri dan mengharapkan perlakuan yang sama dari orang lain

    • 5. Mengamuk adalah rasa marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan kontrol diri. Pada keadaan ini individu dapat merusak dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.

      • E. Patofisiologi

    orang lain. Dia berpendapat bahwa setiap orang harus bertarung untuk mendapatkan kepentingan sendiri dan mengharapkan perlakuan
    • F. Perilaku Perilaku yang berkaitan dengan perilaku kekerasan antara lain :

      • 1. Menyerang atau menghindar (fight of flight) Pada keadaan ini respon fisiologis timbul karena kegiatan sistem saraf otonom beraksi terhadap sekresi epinephrin yang menyebabkan tekanan darah meningkat, takikardi, wajah merah, pupil melebar, sekresi HCl meningkat, peristaltik gaster menurun, pengeluaran urine dan saliva meningkat, konstipasi, kewaspadaan juga meningkat diserta ketegangan otot, seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh menjadi kaku dan disertai reflek yang cepat.

    Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam mengekspresikan kemarahannya yaitu dengan perilaku pasif, agresif dan asertif. Perilaku asertif adalah cara yang terbaik untuk mengekspresikan marah karena

    individu dapat mengekspresikan rasa marahnya tanpa menyakiti orang lain secara fisik maupun psikolgis. Di samping itu perilaku ini dapat juga untuk pengembangan diri klien.

    • 3. Memberontak (acting out) Perilaku yang muncul biasanya disertai akibat konflik perilaku “acting out” untuk menarik perhatian orang lain.

    • 4. Perilaku kekerasan Tindakan kekerasan atau amuk yang ditujukan kepada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.

    G. Mekanisme Koping

    Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. (Stuart dan Sundeen, 1998). Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang timbul karena adanya ancaman. Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien marah untuk melindungi diri antara lain :

    • 1. Sublimasi : Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara normal. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan kue, meninju tembok dan sebagainya, tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa marah.

    • 2. Proyeksi : Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik. Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayu, mencumbunya.

    • 3. Represi : Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam sadar. Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan, sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya.

    • 4. Reaksi formasi : Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan, dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan. Misalnya seorang yang tertarik pada teman suaminya, akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar.

    • 5. Displacement : Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan, pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang membangkitkan emosi itu. Misalnya Timmy berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya. Dia mulai bermain perang-perangan dengan temannya.

    H. Penatalaksanaan

    Yang diberikan pada klien yang mengalami gangguan jiwa amuk ada 2

    yaitu:

    • 1. Medis

      • a. Nozinan, yaitu sebagai pengontrol prilaku psikososia.

      • b. Halloperidol, yaitu mengontrol psikosis dan prilaku merusak diri.

      • c. Thrihexiphenidil, yaitu mengontrol perilaku merusak diri dan menenangkan hiperaktivitas.

      • d. ECT (Elektro Convulsive Therapy), yaitu menenangkan klien bila mengarah pada keadaan amuk.

  • 2. Penatalaksanaan keperawatan

    • a. Psikoterapeutik

    • b. Lingkungan terapieutik

    • c. Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)

    • d. Pendidikan kesehatan

  • STRATEGI PELAKSANAAN PERILAKU KEKERASAN

    • A. Kondisi klien :

    • B. Diagnosa Keperawatan Risiko Perilaku Kekerasan

    • C. Tujuan

      • 1. Pasien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan

      • 2. Pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan

      • 3. Pasien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukannya

      • 4. Pasien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukannya

      • 5. Pasien dapat menyebutkan cara mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya

      • 6. Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya secara fisik, spiritual, sosial, dan dengan terapi psikofarmaka.

  • D. Tindakan 1.Bina hubungan saling percaya Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar pasien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan

  • saudara. Tindakan yang harus saudara lakukan dalam rangka membina hubungan saling percaya adalah:

    • 1. Mengucapkan salam terapeutik

    • 2. Berjabat tangan

    • 3. Menjelaskan tujuan interaksi

    • 4. Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu pasien

    • 2. Diskusikan bersama pasien penyebab perilaku kekerasan saat ini dan yang lalu

    • 3. Diskusikan perasaan pasien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan

      • 1. Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara fisik

      • 2. Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara psikologis

      • 3. Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara sosial

      • 4. Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara spiritual

      • 5. Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara intelektual

  • 4. Diskusikan bersama pasien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan pada saat marah secara :

    • 1. Verbal

    • 2. terhadap orang lain

    • 3. terhadap diri sendiri

    • 4. terhadap lingkungan

  • 5. Diskusikan bersama pasien akibat perilakunya

  • 6. Diskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku kekerasan secara:

    • 1. Fisik: pukul kasur dan batal, tarik nafas dalam

    • 2. Obat

    • 3. Social/verbal: menyatakan secara asertif rasa marahnya

    • 4. Spiritual: sholat/berdoa sesuai keyakinan pasien

  • 7. Lati\

  • 8. pasien mengontrol perilaku kekerasan secara fisik :

    • 1. Latihan nafas dalam dan pukul kasur bantal

    • 2. Susun jadwal latihan dalam dan pukul kasur bantal

  • 9. Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal :

    • 1. Latih mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan baik, meminta dengan baik, mengungkapkan perasaan dengan baik

    • 2. Susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal.

    • 10. Latih mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual :

      • 1. Latih mengontrol marah secara spiritual: sholat, berdoa

      • 2. Buat jadwal latihan sholat, berdoa

  • 11. Latih mengontrol perilaku kekerasan dengan patuh minum obat :

    • 1. Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar (benar nama pasien, benar nama obat, benar cara minum obat, benar waktu minum obat, dan benar dosis obat) disertai penjelasan guna obat dan akibat berhenti minum obat

    • 2. Susun jadwal minum obat secara teratur

  • 12. Ikut sertakan pasien dalam Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi mengontrol Perilaku Kekerasan

    • E. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya, identifikasi penyebab perasaan marah, tanda dan gejala yang dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan, akibatnya serta cara mengontrol secara fisik I

    Orientasi:

    Selamat Pagi pak, perkenalkan nama saya Ilham ridwan yassin, panggil saya ilham saya mahasiswa Keperawatan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hari ini

    saya dinas pagi dari pkl. 07.00-14.00. Saya yang akan merawat bapak selama Bapak di

    rumah sakit ini. Nama bapak siapa, senangnya dipanggil apa?” “Bagaimana perasaan bapak saat ini?, Masih ada perasaan kesal atau marah?” “Baiklah kita akan berbincang-bincang sekarang tentang perasaan marah bapak” “Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang?” Bagaimana kalau 10 menit?

    “Dimana enaknya kita duduk untuk berbincang-bincang, pak? Bagaimana kalau di ruang tamu?”

    Kerja :

    “Apa yang menyebabkan Bapak marah?, Apakah sebelumnya bapak pernah marah? Terus, penyebabnya apa? Samakah dengan yang sekarang?. “Pada saat penyebab marah itu ada, seperti bapak pulang ke rumah dan istri belum menyediakan makanan(misalnya ini penyebab marah pasien), apa yang bapak

    rasakan?” “Apakah Bapak merasakan kesal kemudian dada bapak berdebar-debar, mata melotot, rahang terkatuprapat, dan tangan mengepal?”

    “Setelah itu apa yang bapak lakukan?. Apa kerugian cara yang bapak lakukan?

    Maukah bapak belajar cara mengungkapkan kemarahan dengan baik tanpa

    menimbulkan kerugian?”

    Ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan, pak. Salah satunya adalah dengan cara fisik. Jadi melalui kegiatan fisik disalurkanrasa marah.” Ada beberapa cara, bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu?” ”Begini pak, kalau tanda-tanda marah tadi sudah bapak rasakan maka bapak berdiri, lalu tarik napas dari hidung, tahan sebentar, lalu keluarkan/tiupu perlahan lahan melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahan. Ayo coba lagi, tarik dari hidung,

    bagus

    ,

    tahan, dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan 5 kali. Bagus sekali, bapak sudah

    .. bisa melakukannya. Bagaimana perasaannya?” “Nah, sebaiknya latihan ini bapak lakukan secara rutin, sehingga bila sewaktu-waktu rasa marah itu muncul bapak sudah terbiasa melakukannya”

    Terminasi :

    “Oya Pak, karena sudah 10 menit, apakah perbincangan ini mau diakhiri atau

    dilanjutkan?”

    “Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang-bincang tentang kemarahan bapak?”

    ”Iya jadi ada 2 penyebab bapak marah

    ........

    (sebutkan) dan yang bapak rasakan ........

    (sebutkan) dan yang bapak lakukan

    .......

    (sebutkan) serta akibatnya

    .........

    (sebutkan)

    ”Coba selama saya tidak ada, ingat-ingat lagi penyebab marah bapak yang lalu, apa yang bapak lakukan kalau marah yang belum kita bahas dan jangan lupa latihan napas dalamnya ya pak. ‘Sekarang kita buat jadual latihannya ya pak, berapa kali sehari bapak mau latihan napas dalam?, jam berapa saja pak?” ”Baik, bagaimana kalau 2 jam lagi saya datang dan kita latihan cara yang lain untuk mencegah/mengontrol marah. Tempatnya disini saja ya pak

    SP 1 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik ke-1

    • a. Evaluasi latihan nafas dalam

    • b. Latih cara fisik ke-2: pukul kasur dan bantal

    • c. Susun jadwal kegiatan harian cara kedua

    Orientasi :

    Selamat Pagipak, sesuai dengan janji saya dua jam yang lalu sekarang saya datang lagi” “Bagaimana perasaan bapak saat ini, adakah hal yang menyebabkan bapak marah?” “Baik, sekarang kita akan belajar cara mengontrol perasaan marah dengan kegiatan fisik untuk cara yang kedua” “Mau berapa lama? Bagaimana kalau 20 menit?” Dimana kita bicara?Bagaimana kalau di ruang tamu?”

    Kerja :

    “Kalau ada yang menyebabkan bapak marah dan muncul perasaan kesal,

    berdebar-debar, mata melotot, selain napas dalam bapak dapat melakukan pukul

    kasur dan bantal”.

    “Sekarang mari kita latihan memukul kasur dan bantal. Mana kamar bapak? Jadi kalau

    nanti bapak kesal dan ingin marah, langsung ke kamar dan lampiaskan kemarahan

    tersebut dengan memukul kasur dan bantal. Nah, coba bapak lakukan, pukul kasur dan

    bantal. Ya, bagus sekali bapak melakukannya”. “Kekesalan lampiaskan ke kasur atau bantal.” “Nah cara inipun dapat dilakukan secara rutinjika ada perasaan marah. Kemudian jangan lupa merapikan tempat tidurnya

    Terminasi :

    “Bagaimana perasaan bapak setelah latihan cara menyalurkan marah tadi?” “Ada berapa cara yang sudah kita latih, coba bapak sebutkan lagi?Bagus!”

    “Mari kita masukkan kedalam jadual kegiatan sehari-hari bapak. Pukul kasur bantal mau jam berapa? Bagaimana kalau setiap bangun tidur? Baik, jadi jam 05.00 pagi. dan

    jam jam 15.00 sore. Lalu kalau ada keinginan marah sewaktu-waktu gunakan kedua cara tadi ya pak. Sekarang kita buat jadwalnya ya pak, mau berapa kali sehari bapak

    latihan memukul kasur dan bantal serta tarik nafas dalam ini?” “Besok pagi kita ketemu lagi kita akan latihan cara mengontrol marah dengan belajar bicara yang baik. Mau jam berapa pak? Baik, jam 10 pagi ya. Sampai jumpa”

    SP 2 Pasien :

    Latihan mengontrol perilaku kekerasan dengan obat

    • a. Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien untuk cara mencegah marah yang sudah dilatih.

    • b. Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar (benar nama pasien, benar nama obat, benar cara minum obat, benar waktu minum obat, dan benar dosis obat) disertai penjelasan guna obat dan akibat berhenti minum obat.

    • c. Susun jadual minum obat secara teratur

    ORIENTASI Selamat Pagi pak, sesuai dengan janji saya kemarin hari ini kita ketemu lagi” “Bagaimana pak, sudah dilakukan latihan tarik napas dalam, pukul kasur bantal, bicara yang baik serta sholat?, apa yang dirasakan setelah melakukan latihan

    secara teratur?. Coba kita lihat cek kegiatannya”. “Bagaimana kalau sekarang kita bicara dan latihan tentang cara minumobat yang benar untuk mengontrol rasa marah?” “Dimana enaknya kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau di tempat kemarin?” “Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit”

    Kerja :

    “Bapak sudah dapat obat dari dokter?” Berapa macam obat yang Bapak minum? Warnanya apa saja? Bagus! Jam berapa bapak minum? Bagus! “Obatnya ada tiga macam pak, yang warnanya oranye namanya CPZ gunanya agar pikiran tenang, yang putih ini namanya THP agar rileks dan tegang, dan yang merah jambu ini namanya HLP agar pikiran teratur dan rasa marah berkurang. Semuanya ini harus bapak minum 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1 sian g, dan jam 7 malam”. “Bila nanti setelah minum obat mulut bapak terasa kering, untuk membantu mengatasinya bapak bisa mengisap-isap es batu”. “Bila terasa mata berkunang-kunang, bapak sebaiknya Istirahat dan jangan beraktivitas dulu” “Nanti di rumah sebelum minum obat ini bapak lihat dulu label di kotak obat apakah benar nama bapak tertulis disitu, berapadosis yang harus diminum, jam berapa saja harus diminum. Baca juga apakah nama obatnya sudah benar? Di sini minta obatnya pada suster kemudian cek lagi apakah benar obat nya!” “Jangan pernah menghentikan minum obat sebelum berkonsultasi dengan dokter ya pak, karena dapat terjadi kekambuhan.” “Sekarang kita masukkan waktu minum obatnya kedalam jadual ya pak.”

    Terminasi :

    “Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang caraminum obat yang benar?”

    “Coba bapak sebutkan lagi jenis obat yang Bapak minum! Bagaimana cara minum obat yang benar?” “Nah, sudah berapa cara mengontrol perasaan marah yang kita pelajari?.Sekarang kita tambahkan jadual kegiatannya dengan minum obat.

    Janganlupalaksanakansemuadenganteraturya”.

    “Baik, Besok kita ketemu kembali untuk melihat sejauh maana bapak melaksanakan kegiatan dan sejauhmana dapat mencegah rasa marah. Sampai

    jumpa”

    SP 3 Pasien :

    Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal :

    • a. Evaluasi jadwal harian untuk dua cara fisik

    • b. Latihan mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan baik, meminta dengan baik, mengungkapkan perasaan dengan baik.

    • c. Susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal

    Orientasi :

    Selamat Pagi pak, sesuai dengan janji saya kemarin sekarang kita ketemu lagi” “Bagaimana pak, sudah dilakuka latihan tarik napas dalam dan pukul kasur bantal?,apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara teratur?” “Coba saya lihat jadwal kegiatan hariannya.” “Bagus. Nah kalau tarik nafas dalamnya dilakukan sendiri tulis M, artinya mandiri; kalau diingat kan suster baru dilakukan tulis B, artinya dibantu atau diingatkan. Nah kalau tidak dilakukan tulis T, artinya belum bisa melakukan “Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara bicara untuk mencegah marah?” “Dimana enaknya kita berbincang-bincang?Bagaimana kalau di tempat yang sama?” “Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?”

    Kerja :

    “Sekarang kita latihan cara bicara yang baik untuk mencegah marah. Kalau marah

    sudah dusalurkan melalui tariknafas dalam atau pukul kasur dan bantal, dan sudah lega, maka kita perlu belajar bicara dengan orang yang membuat kita marah. Ada tiga caranya pak: Meminta dengan baik tanpa marah dengan nada suara yang rendah serta tidak menggunakan kata-kata kasar. Kemarin Bapak bilang penyebab marahnya karena minta uang sama isteri tidak diberi. Coba Bapa tminta uang dengan baik:”Bu, saya perlu uang untuk membeli rokok.” Nanti bisa dicoba di sini untuk meminta baju, minta obat dan lain-lain. Coba bapak praktekkan. Baguspak.” Menolak dengan baik, jika ada yang menyuruh dan bapak tidak ingin melakukannya, katakan: ‘Maaf saya tidak bisamelakukannya karena sedang ada kerjaan’. Coba bapak praktekkan. Bagus pak” Mengungkapkan perasaan kesal, jika ada perlakuan orang lain yang membuat kesal bapak dapat mengatakan:’ Saya jadi ingin marah karena perkataanmu itu’. Coba praktekkan. Bagus”

    Terminasi :

    “Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara mengontrol marah dengan bicara yang baik?” “Coba bapak sebutkan lagi cara bicara yang baik yang telah kita pelajari” “Bagussekal, sekarang mari kita masukkan dalam jadual. Berapa kali sehari bapak mau latihan bicara yang baik?,bisa kita buat jadwalnya?” Coba masuk kan dalam jadual latihan sehari-hari, misalnya meminta obat, uang, dll. Bagus nanti dicobaya Pak!” “Bagaimana kalau dua jam lagi kita ketemulagi?” “Nanti kita akan membicarakan cara lain untuk mengatasi rasa marah bapak yaitu dengan cara ibadah, bapak setuju? Mau di mana Pak? Di sini lagi? Baik sampai nanti

    SP 4 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual

    • a. Diskusikan hasil latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisikdan sosial/verbal

    • b. Latihan sholat/berdoa

    • c. Buat jadual latihan sholat/berdoa

    Orientasi :

    Selamat Pagi pak, sesuai dengan janji saya dua jam yang lalu sekarang saya datang lagi” Baik, yang mana yang mau dicoba?” “Bagaimana pak, latihan apa yang sudah dilakukan?Apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara teratur? Bagus sekali, bagaimana rasa marahnya” “Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara lain untuk mencegah rasa marah yaitu dengan ibadah?” “Dimana enaknya kita berbincang-bincang?Bagaimana kalau di tempat tadi?” “Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?

    Kerja :

    “Coba ceritakan kegiatan ibadah yang biasa Bapak lakukan! Bagus. Baik,

    yang mana mau dicoba?

    “Nah, kalau bapak sedang marah coba bapak langsung duduk dan tarik napas

    dalam. Jika tidak reda juga marahnya rebahkan badan agar rileks. Jika tidak reda

    juga, ambil air wudhu kemudian sholat”. “Bapak bisa melakukan sholat secara teratur untuk meredakan kemarahan.” “Coba Bpk sebutkan sholat 5 waktu? Bagus. Mau coba yang mana?Coba sebutkan caranya”

    Terminasi :

    Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara yang ketiga

    ini?” “Jadi sudah berapa cara mengontrol marah yang kita pelajari? Bagus”. “Mari kita masukkan kegiatan ibadah pada jadual kegiatan bapak. Mau berapa

    kali bapak sholat. Baik kita masukkan sholat pasien)

    .......

    dan

    ........

    (sesuai kesepakatan

    “Coba bapak sebutkan lagi cara ibadah yang dapat bapak lakukan bila bapak merasa marah” “Setelah ini coba bapak lakukan jadual sholat sesuai jadual yang telah kita buat tadi” “Besok kita ketemu lagi ya pak, nanti kita bicarakan cara keempat mengontrol

    rasa marah, yaitu dengan patuh minum obat

    ..

    Mau jam berapa pak? Seperti

    sekarang saja, jam 10 ya?” “Nanti kita akan membicarakan cara penggunaan obat yang benar untuk mengontrol rasa marah bapak, setuju pak?”

    DAFTAR PUSTAKA

    Bulechek, GM., Butcher, HK., & Dochterman, JM. 2008. Nursing interventions classification, edisi 5. USA: Mosby elsever Herdman, T.H & Kamitsuru, S. NANDA international nursing diagnoses:

    definitions and classification edisi 2015-2017. Oxford: Wiley Blackwel Nasir, A & Muhith, A. Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba medika Stuart, Gail W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: EGC