Anda di halaman 1dari 10

Sakera

Petani :”Ampun den, tolong jangan sita tanah garapan saya den, ampunilah
den ini milik saya satu satunya.”
Carik :”Boleh pilih, mau masuk penjara karena belum bayar pajak
atau serahkan tanah ini!”
Petani :” tolonglah den nanti beberapa hari lagi saya akan setor den.”
Carik :”Doglo! Bantu seret orang ini ke kantor polisi!
Doglo :”Ayo ikut ayo!(Sambil menyeret si petani).”
Petani :”Ampun den jangan den!”
Sakera :”Hey, Lepaskan dia! Dan tinggalkan tempat ini! Atau kau akan
berhadapan dengan saya.”
Carik:”Jangan campuri urusan saya dia belum bayar pajak!”
Sakera :”(melempar uang ke tanah) ambil itu !”
Doglo :”(mengambil uang yang ada di tanah)”
Carik:”ayo kita pergi dari sini.”(lalu pergi)
Petani:”Den suhun den.(sambil pergi)”
(Brodin tiba tiba datang)
Sakera:”Dari mana saja kau?”
Brodin:”(diam saja).”
Sakera:”Dari mana?”
Brodin:”(tetap diam termenung)”
Sakera:”Kau ini selalu mengikuti kehendakmu sendiri, berjudi saja!”
Brodin:”saya…saya tidak judi mas.”
Sakera:”hmph, bohong! Berjudi itu tidak baik. Ingat din, kau dititipkan ibumu
kepadaku agar jadi anak yang baik, yang sholeh.”
Brodin:”iya mas.”
Sakera:”Ini uang(memberikan uang). Tapi ingat, jangan pakai judi.”
Brodin:”Suhun, suhun mas.”(sambil pergi)

*Di rumah
istri pertama : “Mar.. Mar.. Marlena”
Marlena : “iya, iya bu”
istri pertama : “sedang apa kau ndok?”
Marlena : “itu loh bu”
Istri pertama : “gausah kerja ya, bantu bantu kan boleh”
Marlena : “mau kemana bu?”
Istri pertama : “ke pasar, mau beli baju untuk pesta panen. nanti kau ku belikan ya. Brodin
kemana?”
Marlena : “Biasa, ketempat judi. ga kapok kapok bu.”
Istri pertama : “orang ga ngerti kerja, juudi terus. oh iya kau masak yang enak ya. biar
Sakera senang, punya istri cantik, pinter masak.”

*di perkebunan*

bapak : “tebu tebu ini sudah tua Sakera, bentar lagi panen”
Sakera : “ya. tapi bukan panen untuk kita. Belanda Belanda itu yang menikmati hasil panen”
bapak : “ya. sebentar lagi di pabrik ini, itu berarti Belanda memerlukan tanah”
Sakera : “mereka pasti akan merampas tanah penduduk”
bapak : “ohya, sebentar lagi ada pesta di pabrik, tayuban. sanda samirah”
Sakera : “hah? sanda samirah? hahaha”

*dirumah*

ibu : “apa yang dipikirkan toh pak?”


akang : “itu, tuan besar sudah meminta tanah lagi”
ibu : “sudah, sabar. itu loh kopinya diminum dulu”
akang : “itu Carik datang. bagaimana, berhasil? loh, kok kiyem, bagaimana?”
Carik : “wah, susah kang. wong Sakera ngalangin terus”
akang : “kita harus cari akal untuk menyingkirkan dia!”
Carik : “iya”
akang : “itu berarti, orang belanda memerlukan tanah garapan.”
Carik : iya kang”
akang : “singkirkan Sakera, secepatnya!”

*di pabrik*

Markus : “siang pak”


Menir : “siang. bagaimana musim giling tahun ini markus?”
Markus : “lebih bagus dari tahun lalu Menir”
Menir : “hmm”
pak : “itu loh Carik” (menunjuk kearah Menir dan Markus)
Carik : “iya”
pak dan Carik : “selamat pagi, Menir”
Menir : “pagi. hei apakah kau sudah dapat tanah untuk konter”
Carik : “belum Menir. orang-orang itu pada bandel. mereka tidak mau sewakan tanahnya.
iya toh bos?”
pak : “njih ndoro”
Menir : “apa? kau mesti paksa mereka. ngerti?”
pak : “Sakera yang menghasut ndoro”
Menir : “what? Sakera? singkirkan mereka Markus”
Markus : “baik”

*dirumah/halaman*

Marlena : “eh? Brodin?”


Brodin : “mang Sakera sudah ke pabrik bi?”
Marlena : “hm. beberapa hari kau tidak pulang, kemana kau din? judi?”
Brodin : “hmm. bibi hapal hari harinya, aku sendiri sudah lupa. berapa hari aku tidak
pulang?”
Marlena : “hm. kalah? tak usah judi din. mending cari kerja.”
Brodin : “bi, minta uang. mau nebus kekalahan.”
istri pertama : “Mar.. Marlena. Marr, Marr”
Marlena : “iya bu?”
istri pertama : “piye toh ndok. sampe serak suaraku. ndok ini ku belikan baju untukmu.yuk
dicoba, wah cantik” (Sakera datang)
Sakera : “cantik. aku senang kalian rukun.”
istri pertama : “dah, buatkan minum untuk Sakera” (marlena pergi)

*dirumah sakera*

istri pertama : “din, mondar mandir, seperti orang linglung. ada apa?”
Brodin : “anu mbok. minta uang”
istri pertama : “buat apa? gak”
marlena : “daripada judi, mendingan cari kerja din”
brodin : “buat apa kerja? mang sakera kaya. malu diliat orang”
istri pertama : “enak aja saja. gak. gak. walau sekeping pun” (brodin pergi)

(esok hari setelah lomba karapan sapi)

sakera : “brodin”
brodin : “iya mang”
sakera : “kau pergi ke tempat batas. sampaikan pesanku, tapi jangan bermain judi.”
marlena : “kang sakera” (memasangkan kain di leher sakera)
sakera : “aku pergi dulu”
tetangga (cowok) : “pak! pak sakera!”
sakera : “ada apa?”
tetangga (cowok) : “kemenir, kemenir itu kurang ajar pak. kemarin upah saya di potong”
sakera : “hm. kau tak bohong? besok akan ku buktikan omonganmu”
tetangga (cowok) : “terimakasih, pak.”

*diperkebunan*
Markus : “kau dengar sendiri? tuan besar marah-marah. kau harus paksa rakyat sewakan
itu tanah pada ….”
Carik : “tapi mereka bangkang.”
Markus : “tidak perduli. habis musim giling tanah udah ada, dengan harga murah.”
Carik : “ngeh ndoro”

(disaat pekerja sedang beristirahat)

Markus : “hei. kau tidak kerja?”


pekerja 1 : “ini waktu ngaso tuan”
Markus : “ngaso. kau enak enak ngaso ya. kurang ajar kau.”
pekerja 1 : “ampun tuan”
Markus : “kamu. minggir kamu” (menendang pekerja yang lainnya)
pekerja 1 : “am.. ampun tuan”
Markus : “hah. kau juga. siapa mandor kamu? hah? jawab! siapa? siapa?”
pekerja 2 : “sa.. sakera tuan”
Markus : “hah.sakera. bilang itu sama sakera. aku pimpinannya. bukan dia.” (menendang
pekerja)

Salah satu pekerja melarikan diri dan mencari Pak Sakera. Pak Sakera sedang
beristirahat bersama kedua istrinya di belakang perkebunan miliknya.

pekerja 1 : “Tolong! Pak Sakera! Pak! Tolong saya pak!”


marlena : “ada apa?”
sakera : “ada apa?”
pekerja 1 : “anu.. saya dipukuli pak oleh tuan Markus waktu sedang ngaso. dan bukan itu
saja, dia menghina bapak. bapak dikatakannya in london”

(musik)

istri pertama : “sakera, dia menghina”


sakera : “minten, kau bawa pulang marlena. orang itu belum tau siapa sakera.” (sakera
pergi mencari markus)

(musik)

Markus : “Hei Sakera! kau menghasut para pekerja ya?!”


Sakera : “Saya tidak menghasut. Tapi mereka bukan hewan, bekerja tanpa ada waktu
istirahat.”
Markus : “Beraninya kau! ayo!”

(Markus dan pengawalnya menyerang Sakera. Sakera menggunakan clurit dan akhirnya
Markus dan Pengawalnya meninggal ditempat)
*diladang*

Pekerja ladang Markus : “Hei. Mau pergi kemana kau pembunuh?”


Sakera : “Aku tidak membunuh”
Pekerja ladang Markus : “Kau telah membunuh Tuan Markus”

(disisi ladang yang lainnya)

Pekerja ladang Markus : “Menir. Tuan Markus telah dibunuh oleh Sakera.”
Menir : “Markus?!”

*dikantor*

(Menir menelfon Komandan Polisi Bangil memberitahukan bahwa Markus telah dibunuh
oleh Sakera)

Menir : “Halo. Sambungkan saya dengan Komandan polisi Bangil. Saya ingin memberitahu
bahwa Markus dibunuh oleh Sakera. Saya ingin Sakera dipenjara.”
Komandan : “Baik. Saya akan menyuruh anak buah saya untuk menangkapnya.”

Tut.. Tut.. Tut..

Komandan : “Yaniko”
Yaniko : “Ya, Menir.”
Komandan : “Bawa anak buah dan tangkap Mandor Sakera secepat mungkin, karena
Mandor itu telah membunuh Kapten Markus. Tangkap dia!”
Yaniko : “Siap Tuan. Saya akan bawa Sakera kemari.”
Komandan : “Cepat laksanakan!!”

Pada waktu yang sama dengan lokasi yang berbeda, Menir menelfon Carik Rembang untuk
ikut dalam penangkapan Sakera. Akhirnya Yaniko dan pasukan bersama Carik Rembang
pergi ke rumah Sakera, dengan tujuan ingin menangkap Sakera.

*rumah Sakera*

Marlena : “Mbok, Mbok ada polisi” (Berlari kearah Minten)

(polisi memasuki rumah Sakera)

Yaniko : “Mana suamimu, Sakera?”

Minten : “Saya tidak tahu.”


Polisi 1 : “Bohong. Sakera pasti ada disini. Ayo gerak cepat!”
Polisi 2 : “Siap!”
Minten : “Eh. Jangan geledah rumahh saya. Saya tidak pernah berbohong.”
Yaniko : “Ingat. Sakera adalah pembunuh. Jika dia sudah datang cepat beritahu polisi. Ayo.”

(Yaniko bersama pasukannya beserta Carik meninggalkan rumah Sakera)

Pada waktu yang sama, Sakera tengah berkunjung kerumah Ibu nya dan menceritakan
tentang apa yang sedang terjadi kepadanya saat ini.

Sakera : “Ibu”
Ibu : “Ada apa kau datang kemari?”
Sakera : “Orang belanda itu.”
Ibu : “Sebaiknya kau lapor saja keapda polisi.”
Sakera : “Saya tidak bersalah loh bu. Saya terpaksa membunuh, karena membela
kehormatan dan kebenaran, karena itu saya tidak mau menyerah.”
Ibu : “Aku mengerti perasaanmu. Tapi ingat Sakera, kebenaran itu sangat pahit rasanya.”

(suara bising dari luar)

Sakera : “Tunggu. Ibu diam disini.” (melihat ke jendela dan mengambil clurit yang ada di
belakangnya, lalu membuka pintu)

Ternyata terdapat dua orang yang sedang menunggu Sakera keluar, dan satu orang
menyelinap masuk kedalam rumah untuk menjadikan Ibu Sakera sebagai sandera

Carik : “Sakera!” (menembak Sakera dengan pistol)


Sakera : “hahaha. itu tidak mempan.”
orang 1 : “Sakera! lihat! Menyerah, atau kubunuh ibumu!” (menyandera Ibu Sakera dengan
pedang)
Sakera : “kurang ajar!”
Orang 1 : “sekarang kau baru tahu rasa kan!”
Ibu : “Jangan Sakera. Aku rela berkorban. Jangan! Jangan Menyerah! Jangan Kera!”

Keesokan harinya Sakera sudah berada di penjara Bangil. Ditempat dan waktu yang
berbeda, Menir dan Noni menjumpai Carik yang tengah berada di ladang.

Carik : “Ndoro Tuan, Ndoro Nyonya” (menundukkan badan)


Menir : “Jadi kau sudah mendapatkan itu tanah?”
Carik : “sudah Ndoro, bahkan tanah di timur juga. Sekarang sudah tidak ada pengganggu
lagi. Sakera sudah di penjara.”
Menir : “Bagus. Ini uang untuk kau.”
Carik : “Matur nuhun, Ndoro.”
Malam hari pun tiba. Ketika salah seorang tetangga Sakera sedang melewati rumah Sakera,
dia mendengar percakapan Marlena dengan ponakkan nya, Brodin tengah berbincang-
bincang.

Brodin : “Marlena, mengapa kau menangis?”


Marlena : “Diam kau, Brodin. Aku menangis karna aku terus dibayangi oleh rasa bersalahku
kepada suamiku. Seharusnya aku tidak bersama denganmu sekarang. Pergilah. Aku tak
ingin ada orang yang mendengar lalu berburuk sangka kepada ku dan melaporkan hal ini
kepada suamiku, Sakera.”
Brodin : “Haha. Kau tenang saja, aku yakin tidak akan ada yang mendengar. Lagipula ini
sudah larut malam, Marlena. Tidak mungkin ada orang yang berkeliaran semalam ini.
Sudah, buatkan saja aku kopi agar kita bisa mengobrol sampai pagi dan menikmati bintang
yang bertebaran.”
Marlena : “Tidak. Tidak mau. Lebih baik kau pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi.”

Akhirnya Marlena meninggalkan Brodin sendirian di teras rumah. Dan tetangga Sakera pun
melaporkan hal ini kepada Sakera, keesokan harinya.

*dipenjara*

Polisi : “Ada apa kau kemari?”


Tetangga : “Aku ingin bertemu dengan Sakera dan memberikan makanan ini kepadanya.”
Polisi : “Baik. Ikut aku.”

(Berjalan menuju sel yang ditempati oleh Sakera)

Polisi : “Sakera!”
Sakera : “Hmm”
Tetangga : “Sakera. Aku ingin berbicara denganmu, penting.”
Sakera : “Ya. Silahkan.”
Tetangga : “Aku kemarin mendengar istrimu Marlena, sedang berduaan dengan
keponakanmu, Brodin. Mereka berbincang malam-malam di teras rumahmu. Ku lihat
istrimu menangis, dan bila aku tidak salah dengar dia mengatakan ‘Aku menangis karena
dibayangi rasa bersalahku kepada suamiku, Sakera. Seharusnya aku tidak bersama
denganmu sekarang’.”
Sakera : “Sialan. Berani nya kau Brodin.”
Tetangga : “Yasudah. Aku hanya ingin memberitahumu saja, bahwa istri kau selingkuh
dengan keponakanmu. Nih, ambil lah makanan ini.”

Akhirnya si Tetangga pun meninggalkan Sakera dan pulang menuju rumahnya. Sementara
itu, Sakera merenungi apa yang harus dilakukannya agar dapat keluar dari penjara dan
balas dendam terhadap Brodin dan orang-orang yang menurutnya membuat kerugian bagi
warga pribumi. Setelah bertapa beberapa jam dan mendapatkan kekuatannya kembali,
Sakera memutuskan untuk membuka jeruji besi menggunakan tangannya dan keluar dari
penjara untuk pulang ke rumahnya. Ketika tiba dirumah, dia melihat istrinya, Marlena
sedang berduaan dengan ponakannya, Brodin.

Sakera : “Sialan kau, Brodin! Berani-beraninya kau!!” (ingin meleparkan clurit ke arah
Brodin, namun ditahan oleh Marlena)
Marlena : “Jangan! Ampun Sakera, ampun!”
Sakera : “Beraninya kau Marlena, melindungi dia!!” (Berlari mengejar Brodin)

(Ketika Brodin lari keluar dari rumah Sakera)

Minten : “Sudah Marlena! Sudah ku bilang, jangan dekati Brodin! Masih saja berdekatan
dengannya!”
Marlena : “Ampun Mbok! Ampun! Maafkan saya Mbok.”
Minten : “sudahlah.” (pergi kembali ke kamar)

Akhirnya aksi kejar-kejaran antara Sakera dan Brodin pun terjadi. Tetapi ketika Brodin
ingin menghindari Sakera, ternyata Brodin terjatuh dan terkena batu tajam yang
menhantam dadanya.

Brodin : “Ahhh! Pa.. Paman..”


Sakera : “Brodin! Brodin!”

Sakera pun menepuk-nepuk pipi Brodin agar sadar kembali, akan tetapi ternyata Brodin
sudah meninggal dunia, karena ternyata batu yang mengenai dada Brodin masuk kedalam
rongga dada Brodin.
Keesokan harinya, Paman Sakera membawa Sakera menuju ke sebuah goa untuk
beristirahat, karena tidak mungkin dia beristirahat dirumah, karna orang-orang Belanda
sedang mencarinya. Malam harinya, Sakera bertemu dengan Carik Rembang.

Sakera : “Hei Carik!”


Carik : “Siapa kau?”
Sakera : “Apakah kau tidak ingat dengan suara ini?”
Carik : “Ka..Kau..Sakera?! Bagaimana bisa kau disini?”
Sakera : “Jahat sekali dirimu. Memeras harta pribumi dan menjadikannya budak, demi
kepetinganmu sendiri.”
Carik : “Ap..Apa mau mu?”
Sakera : “Aku ingin memusnahkan orang-orang seperti dirimu.” (Sakera dan Carik
berantem, lalu Carik tewas ditempat)

Keesokan harinya,
Menir : “Yaniko, kau harus cari cara untuk menangkap Sakera. Semakin hari dai semakin
berani dan menghawatirkan.”
Yaniko : “Baik Menir. Akan saya carikan cara untuk menangkapnya.”

Akhirnya Yaniko mendatangi teman seperguruan Sakera, untuk meminta bantuan dan
menanyakan apa kelemahan Sakera.

Bakri : “Sebenarnya menangkap Sakera itu gampang. Asal kau tahu kelemahannya.”
Yaniko : “Apakah kau tahu kelemahan Sakera?”
Bakri : “Tentu tahu. Kami seperguruan. Tenang saja. Itu biar kuurus bersama temanku.”
Yaniko : “Ku serahkan urusan ini padamu.”

Bakri pun mengunjungi temannya, yaitu Aki untuk meminta bantuan untuk menangkap
Sakera.

Aki : “Apa?! Tidak. Aku tidak mau.”


Bakri : “Temanku, aku tau kau hidup dalam keadaan susah. Maka dari itu aku mengajakmu
untuk menangkap Sakera. Karena Menir akan memberikan kita kekayaan dan jabatan.”
Aki : “Tidak. Aku tidak ingin menjadi kaya diatas mayat sahabatku, Sakera.”
Bakri : “Ayolah. Jika kita tidak berhasil, Menir akan menghukum kita.”
Aki : “Yasudah, baiklah aku mau.”

Keesokannya Bakri dan Aki mengunjungi Menir, untuk memberi tahu tentang rencana yang
sudah mereka buat untuk menangkap Sakera.

Bakri : “Menir. Kami sudah mempunyai cara untuk menangkap Sakera.”


Menir : “Bagaimana caranya?”
Aki : “Gampang Menir. Sakera itu paling suka acara tayuban. Jadi kita pancingg saja dia
untuk datang keacara tayuban, lalu kita mengepungnya.”
Menir : “Tapi dia memiliki ilmu yang sakti”
Aki : “haha. Kau lupa bahwa kami adalah teman seperguruannya? Tentu saja kami tau cara
menghilangkan ilmu itu.”
Menir : “Baiklah. Aku ingin Sakera ditangkap secepatnya. Besok kita adakan acara tayuban.”
Yaniko : “Baik Menir.”

Keesokannya ketika acara tayuban berlangsung, Sakera tidak hadir. Setelah berkali-kali
mengadakan acara tayuban, Menir kesal mengapa Sakera tidak hadir-hadir.

Yaniko : “Kalian yakin dengan cara ini Sakera akan hadir?”


Bakri : “Yakin. Tunggulah. Kurasa dia akan datang hari ini.”
(musik)
Aki : “Hei, lihat! Itu Sakera datang!”
Yaniko : “Urus dia. Akan kupanggilkan polisi yang lain dulu.”

Bakri : “Hei Sakera! Lama tidak jumpa.”


Sakera : “hm”
Aki : “Sebelum memulai acara puncak, serahkan semua senjata yang kallian bawa
kepadaku. Kau juga Bakri.”
Sakera : “Untuk apa?”
Aki : “Untuk pemanasan.” (Bakri berduel dengan Sakera)

Akhirnya Sakera terkepung oleh polisi bangil. Pertempuran pun terjadi. Dan Sakera
berhasil dipukul menggunakan Bambu Arus oleh Bakri. Sesaat sebelum Sakera dibawa oleh
polisi bangil, Marlena datang dan terkena tembakan pada lengan kanannya oleh Yaniko.

Marlena : “Sakera, Sakera maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu.Maukah kau
memaafkanku?”
Sakera : “Ya. Aku sudah memaafkanmu.”

Akhirnya Sakera dibawa oleh polisi bangil ke penjara bangil, dan keesokan harinya Sakera
diadili oleh hakim dan dia tervonis hukuman gantung sampai meninggal. Tetapi sebelum
hukuman dilaksanakan, terdengar suara adzan maghrib.

Hakim : “Saudara Sakera, apa keinginan Anda yang terakhir?”


Sakaera : “Shalat”
Hakim : “Baiklah.”

Setelah melaksanakan Shalat serta do’a akhirnya Sakera pun melaksanakan hukumannya,
yaitu hukum gantung sampe meninggal.