Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH PENGANTAR HUKUM INDONESIA

ASAS ASAS
HUKUM ACARA PERADILAN TATA USAHA NEGARA

Di Susun Oleh:

1. Dewi Kurnia Sari 1705010001


2. Dandung Nirwan S. 1705010012
3. Deny Ivan Firmansyah 1705010015
4. Yongki Gumelar 1705010027
5. Achmad Hafidz 1705010048
6. Nadia Ulfa 1705010049
7. Erin Agustin S. 1705010060
8. Sigit Mardianto 1705010086
9. Moch. Taufik Hidayat 1705010089

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS WISNUWARDHANA MALANG
TAHUN 2017

BAB I
PENDAHULUAN
A. Ketentuan Umum

1. Tata Usaha Negara : Adminstrasi Negara yang melaksanakan fungsi untuk


menyelenggarakan urusan pemerintahan, baik pusat maupun daerah.

2. Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara: Badan atau Pejabat yang melaksanakan urusan
pemerintahan berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku.

3. Keputusan Tata Usaha Negara: Penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara yang berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku
yang bersifat konkret, Individual, dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi
seseorang atau badan hukum perdata.

4. Sengketa Tata Usaha Negara: Sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara
antara orang atau Badan Hukum Perdata dengan Badan atau pejabat Tata Usaha Negara,
baik di pusat maupun daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara,
termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan perarturan perundang – undangan yang
berlaku.

5. Gugatan : Permohonan yang berisi tuntutan terhadap Badan atau Pejabat Tata Usaha
Negara dan diajukan ke pengadilan untuk mendapatkan keputusan.

6. Tergugat: Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan keputusan
berdasarkan wewenang yang ada padanya atau yang dilimpahkan kepadanya, yang digugat
oleh orang atau hukum perdata

7. Pengadilan : Pengadilan Tata Usaha Negara dan/atau Pengadilan Tinggi di lingkungan


Pengadilan Tata Usaha Negara.

8. Hakim : Hakim Pada Pengadilan Tata Usaha Negara dan/atau hakim pada Pengadilan
Tinggi Tata Usaha Negara.

9. Pengugat adalah orang atau badan hukum yang merasa kepentingannya di rugikan oleh
suatu keputusan TUN

B. Latar Belakang
Dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia terdapat tiga pilar kekuasaan, yaitu
Kekuasaan Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif (Kehakiman). Berkaitan dengan Kekuasaan
Kehakiman, Pasal 24 Undang-Undang Dasar 1945 (Perubahan) dalam Undang-Undang Nomor
4 Tahun 2004, Kekuasaan Kehakiman dilaksanakan oleh Mahkamah Agung dan badan-badan
peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan
agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara dan
Mahkamah Konstitusi.
Tujuan pembentukan peradilan tata usaha dalam suatu negara, selalu terkait dengan
falsafah negara yang dianutnya. Dalam masyarakat individualistis yang dibangun dasar falsafah
liberailistis dan demokratis, tujuan pembentukan peradilan administrasi negara adalah untuk
memberikan perlindungan hukum terhadap kepentingan yang bersifat individualistis. Adapun
bagi Negara RI yang merupakan negara hukum berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,
Peradilan Tata Usaha Negara (PERATUN) merupakan lingkungan peradilan yang terakhir
dibentuk, yang ditandai dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 pada
tanggal 29 Desember 1986, adapun tujuan dibentuknya Peradilan Tata Usaha Negara
(PERATUN) adalah untuk mewujudkan tata kehidupan negara dan bangsa yang sejahtera,
aman, tenteram serta tertib yang dapat menjamin kedudukan warga masyarakat dalam
hukum dan menjamin terpeliharanya hubungan yang serasi, seimbang, serta selaras antara
aparatur di bidang tata usaha negara dengan para warga masyarakat. Dengan terbentuknya
Peradilan Tata Usaha Negara (PERATUN) menjadi bukti bahwa Indonesia adalah negara
hukum yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kepastian hukum dan hak asasi manusia
(HAM).
Sebagai negara yang demokratis, Indonesia memiliki sistem ketatanegaraan dengan
memiliki lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Dari ketiga lembaga tersebut eksekutif
memiliki porsi peran dan wewenang yang paling besar apabila dibandingkan dengan lembaga
lainnya, oleh karenanya perlu ada kontrol terhadap pemerintah untuk adanya check and
balances. Salah satu bentuk kontrol yudisial atas tindakan administrasi pemerintah adalah
melalui lembaga peradilan. Dalam konteks inilah maka Peradilan Tata Usaha Negara
(PERATUN) dibentuk dengan UU No. 5 tahun 1986, yang kemudian dengan adanya tuntutan
reformasi di bidang hukum, telah disahkan UU No. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU
No. 5 Tahun 1986. Perubahan yang sangat mendasar dari UU No. 5 Tahun 1986 adalah dengan
dihilangkannya wewenang pemerintah . Departemen Kehakiman sebagai pembina organisasi,
administrasi, dan keuangan serta dihilangkannya wewenang untuk melakukan pembinaan dan
pengawasan umum bagi hakim PERATUN, yang kemudian semuanya beralih ke Mahkamah
Agung. Hal tersebut di harapkan untuk meingkatkan indenpendasi lembaga PERATUN

Keberadaan PTUN di Indonesia telah dikehendaki semenjak jaman Hindia Belanda hal
ini terbukti adanya ketentuan Pasal 134 ayat 1 IS dan Pasal 2 RO :
1. Peradilan terhadap perselisihan-perselisihan hanya dilakukan oleh badan yang diserahi
kekuasaan kehakiman.
2. Peradilan oleh badan-badan lain selain badan yang diserahi kekuasaan kehakiman
hanya mungkin jika hal ini diatur oleh Undang-Undang.
3. Persoalan yang menurut sifatnya atau berdasarkan ketentuan Undang-Undang termasuk
dalam wewenang pertimbangan kekuasaan administrasi tetap diadili oleh kekuasaan itu.
4. Perselisihan wewenang antara kekuasaan pengadilan dan kekuasaan administrasi
diputuskan oleh Gubernur Jenderal.
Setelah kemerdekaan masalah PTUN diatur dalam UU No.5 Tahun 1986 tentang PTUN
disahkan di Jakarta pada tanggal 29 Desember 1986. Undang-undang ini juga disebut
Undang-Undang Peradilan Administrasi Negara. Ketentuan Pasal 134 IS dan Pasal 2 RO
tetap diakomodir oleh UU No.5/1986, hal ini dapat dilihat dari ketentuan pasal 48 UU
No.5/1986.
Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) dibentuk dengan Keputusan Presiden (Keppres),
dan sampai dengan sekarang ada 26 PTUN. Berdasarkan Keppres No. 52 Tahun 1990
tentang Pembentukan PTUN di Jakarta, Medan, Palembang, Surabaya, Ujung Pandang.
Keppres No. 16 Tahun 1992 tentang Pembentukan PTUN di Bandung, Semarang dan
Padang. Keppres No. 41 Tahun 1992 tentang Pembentukan PTUN Pontianak, Banjarmasin
dan Manado. Keppres No. 16 Tahun 1993 tentang Pembentukan PTUN Kupang, Ambon,
dan Jayapura. Keppres No. 22 Tahun 1994 tentang Pembentukan PTUN Bandar Lampung,
Samarinda dan Denpasar. Keppres No. 2 Tahun 1997 tentang Pembentukan PTUN Banda
Aceh, Pakanbaru, Jambi, Bengkulu, Palangkaraya, Palu, Kendari, Yogyakarta, Mataram dan
Dili. Untuk wilayah hukum PTUN Dili, setelah Timor Timur merdeka bukan lagi termasuk
wilayah Republik Indonesia.PTUN mempunyai wewenang untuk memeriksa, memutus dan
menyelesaikan sengketa tata usaha negara pada tingkat pertama.

C. Rumusan Masalah
Secara ringkas rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian, asas-asas PTUN ?
2. Apa tujuan didirikannya Pengadilan Tata Usaha Negara?
3. Bagaimana PTUN menyelesaikan sengketa yang terjadi di lingkungan TUN?
4. Bagaimana cara mengajukan gugatan ke PTUN ?
5. Bagaimana pelaksanaan putusan PTUN ?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian, Asas-asas, dan Kompetensi PTUN


1. Pengertian Hukum Acara PTUN
Hukum Acara PTUN adalah seperangkat peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana
orang harus bertindak terhadap dan dimuka pengadilan, serta cara pengadilan bertindak satu
sama lain untuk menegakkan peraturan HAN (materiil). Hukum Acara PTUN dapat pula
disebut dengan Hukum Acara Peradilan Administrasi Negara.
2. Pengertian Hukum Acara PTUN menurut para Ahli
a. Prof. Ir. S. Prajudi Atmosudirdjo, SH memberikan pengertian Peradilan Tata Usaha
Negara dalam arti luas dan dalam arti sempit.
o Dalam arti luas
Peradilan yang menyangkut Pejabat-pejabat dan Instansi-instansi Administrasi
Negara, baik yang bersifat perkara pidana, perkara perdata, perkara agama, perkara
adat, dan perkara administrasi Negara.
o Dalam arti sempit
Peradilan yang menyelesaikan perkara-perkara administrasi negara murni semata-
mata.
b. Menurut Rozali Abdullah, Hukum Acara PTUN adalah rangkaian peraturan-peraturan
yang memuat cara bagaimana orrang harus bertindak, satu sama lain untuk
melaksanakan berjalanya peraturan Hukum Tata Usaha Negara (Hukum Administrasi
Negara). Dengan kata lain hukum yang mengatur tentang cara-cara bersengketa di
peradilan Tata Usaha Negara serta mengatur hak dan kewajiban pihak-pihak yang
terikat dalam proses penyelesaian sengketa tersebut.
Pada umumnya secara teoritis cara pengaturan terhadap hukum formal dapat
digolongkan menjadi dua bagian, yaitu :
a. Ketentuan prosedur berperkara diatur bersama-sama dengan hukum materilnya
atau dengan susunan, kompetensi dari badan-badan yang melakukan peradilan
dalam potensi dari badan yang melakukan peradilan dalam bentuk undang-undang
atau peraturan lainya.
b. Ketentuan prosedur berperkara diatur tersendiri masing-masing dalam bentuk
undang-undang atau bentuk peraturan lainya.

3. Asas –Asas Hukum Di PTUN


Ciri khas hukum acara Peradilan tata usaha negara terletak pada asas-asas hukum yang
melandasinya. Satjipto Rahardjo berpendapat bahwa barangkali tidak berlebihan apabila
dikatakan, bahwa asas hukum ini merupakan jantungnya peraturan hukum. Kita menyebutnya
demikian oleh karena; pertama, ia merupakan landasan yang paling luas bagi lahirnya suatu
peraturan hukum, bahwa peraturan-peraturan hukum itu pada akhirnya bisa dikembalikan kepada
asas-asas tersebut. Kecuali disebut landasan, asas hukum ini layak disebut sebagai alasan
lahirnya peraturan hukum, atau merupakan ratio legis dari peraturan hukum. Selanjutnya Satjipto
Rahardjo menambahkan bahwa dengan adanya asas hukum, hukum itu bukan sekedar kumpulan
peraturan-peraturan, maka hal itu disebabkan oleh karena asas itu mengandung nilai-nilai dan
tuntutan-tuntutan etis.

Menurut Scholten memberikan definisi asas hukum adalah pikiran-pikiran dasar yang
terdapat didalam dan di belakang sistem hukum masing-masing dirumuskan dalam aturan-aturan
perundang-undangan dan putusan-putusan hakim,yang berkenaan dengannya ketentuan-
ketentuan dan keputusan-keputusan individual dapat dipandang sebagai penjabarannya.

Asas Hukum di PTUN antara lain:


a. Asas praduga Rechtmating ( Vermoeden van rechtmatigheid, prasumptio iustae
causa). Ini terdapat pada pasal 67ayat (1) UU PTUN.
b. Asas gugatan pada dasarnya tidak dapat menunda pelaksanaan KTUN yang
dipersengketakan, kecuali ada kepentingan yang mendesak dari penggugat. Terdapat
pada pasal 67ayat 1 dan ayat 4 huruf a.
c. Asas para pihak harus didengar (audi et alteram partem). Maksudnya para pihak
mempunyai kedudukan yang sama dan harus diperlakukan dan di perhatikan secara
adil. Hakim tidak dibenarkan hanya memperhatikan alat bukti, keterangan atau
penjelasan salah satu pihak saja.
d. Asas kesatuan beracara dalam perkara sejenis baik dalam pemeriksaan di peradilan
judex facti, maupun kasasi dengan MA sebagai Puncaknya.
e. Asas penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan bebas dari segala
macam campur tangan kekuasaan yang lain baik secara langsung dan tidak langsung
bermaksud untuk mempengaruhi keobyektifan putusan peradilan. Pasal b 24 UUD
1945 jo pasal 44 UU 14/1970.
f. Asas Erga Omnes, hasil putusan diperuntukkan untuk semua pihak bukan hanya
untuk pihak yang bersengketa.
g. Asas hakim aktif. Sebelum dilakukan pemeriksaan terhadap pokok sengketa hakim
mengadakan rapat permusyawaratan untuk menetapkan apakah gugatan dinyatakan
tidak diterima atau tidak berdasar atau dilengkapi dengan pertimbangan (pasal 62 UU
PTUN), dan pemeriksaan persiapan untuk mengetahui apakah gugatan penggugat
kurang jelas, sehingga penggugat perlu untuk melengkapinya (pasal 63 UU PTUN).
h. Asas sidang terbuka untuk umum. Asas ini membawa konsekuensi bahwa semua
putusan pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan
dalam sidang terbuka untuk umum (pasal 17 dan pasal 18 UU 14/1970 jo pasal 70
UU PTUN).
i. Asas peradilan berjenjang. Jenjang peradilan di mulai dari tingkat yang paling bawah
yaitu Pengadilan Tata Usaha Negara, kemudian Pengadilan Tinggi Tata Usaha
Negara, dan puncaknya adalah Mahkamah Agung.
j. Asas pengadilan sebagai upaya terakhir untuk mendapatkan keadilan. Asas ini
menempatkan pengadilan sebagai ultimatum remedium. ( pasal 48 UU PTUN).
k. Asas Obyektivitas. Untuk tercapainya putusan yang adil, maka hakim atau panitera
wajib mengundurkan diri, apabila terikat hubungan keluarga sedarah atau semenda
sampai derajat ketiga atau hubungan suami atau istri meskipun telah bercerai dengan
tergugat, penggugat atau penasihat hukum atau antara hakim dengan salah seorang
hakim atau panitera juga terdapat hubungan sebagaimana yang di sebutkan di atas,
atau hakim atau panitera tersebut mempunyai kepentingan langsung dan tidak
langsung dengan sengketanya. (pasal 78 dan pasal 79 UU PTUN).

4. Kompetensi PTUN
Kompetensi dari suatu pengadilan untuk memeriksa, mengadili, dan memutuskan suatu
perkara sengketa berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kompetensi ini
dibedakan menjadi 2, yaitu :
I. Kompetensi Absolut
Yaitu kewenangan pengadilan untuk memeriksa dan memutus sengketa berdasarkan
objek sengketa. Berkaitan dengan kompetensi absolut maka akan terlintas adanya
Pengadilan Umum, Pengadilan Agama, Pengadilan Militer, dan Pengadilan Tata Usaha
Negara. Objek sengketa Peradilan Tata Usaha Negara adalah dikekuarkanya Surat
Keputusan Tata Usaha Negara terhadap seseorang atau badan hukum perdata.
II. Kompetensi Relatif
Yaitu kewenangan pengadilan untuk memeriksa dan memutus sengketa Tata Usaha
Negara berdasarkan wilayah hukum suatu pengadilan. Berdasarkan ketentuan Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara disetiap
kotamadya atau kabupaten akan dibentuk suatu Pengadilan Tata Usaha Negara.

Cara untuk dapat mengetahui Kompetensi suatu pengadilan:


a. Dapat dilihat dari pokok sengketanya (geschilpunt, fundamentum petendi)
b. Dengan melakukan pembedaan atas atribusi (absolute competentie atau attributie
van rechtmacht) dan delegasi (relatieve competentie atau distributie van
rechtsmacht).
c. Dengan melakukan pembedaan atas kompetensi absolut dan kompetensi relatif.

B. Tujuan Peradilan Tata Usaha Negara


Fungsi hukum ialah menegakkan kebenaran untuk mencapai keadilan. Keadilan adalah
merupakan hal yang pokok bagi manusia dalam hidup bermasyarakat, maka dibutuhkan
adanya lembaga-lembaga yang bertugas menyelenggarakan keadilan ini. Keadilan ini
dituntutkan untuk semua hubungan masyarakat, hubungan-hubungan yang diadakan oleh
manusia dengan manusia lainnya, oleh karena itu berbicara tentang keadilan meliputi segala
kehidupan manusia dalam hubungannya dengan manusia lain. Keadilan ini erat
hubungannya dengan kebenaran, karena sesuatu yang tidak benar tidaklah mungkin adil.
Sesuatu itu benar menurut norma-norma yang berlaku akan tercapailah keadilan itu.
Juniarto, SH mengemukakan ada 4 macam kebenaran untuk mencapai keadilan, antara
lain :
1. Kebenaran di dalam menentukan norma-norma hukum yang berlaku agar sesuai dengan
rasa kebenaran yang hidup dalam masyarakat.
2. Kebenaran berupa tindakan-tindakan dari setiap anggota masyarakat dalam melakukan
hubungan agar sesuai dengan norma-norma hukumya berlaku.
3. Kebenaran dalam mengetahui fakta-fakta tentang hubungan-hubungan yang
sesungguhnya terjadi sehingga tidak ada penambahan atau pengurangan maupun
penggelapan daripadanya.
4. Kebenaran di dalam memberikan penilaian terhadap fakta-faktanya terhdap norma-
norma hukum yang berlaku.
Demikian empat kebenaran yang harus diperhatikan dalam rangka mencapai keadilan.
Kepada lembaga-lembaga yang bertugas untuk menetapkan keadilannya atau dengan
perkataan lain bertugas memberi kontrol, meminta pertanggungjawaban dan memberikan
sanksi-sanksinya, maka tindakan pertama yang harus diperhatikan ialah mencari kebenaran
tentang fakta-fakta.
Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu lembaga yang bertugas
menyelenggarakan keadilan ini juga harus memperhatikan kebenaran-kebenaran
tersebut untuk mencapai keadilan. Demikian pula para anggota yang duduk dalam lembaga
ini harus mempunyai keadilan khusus untuk itu dan terutama sekali mempunyai
pengetahuan hukum yang cukup luas.
Prof. Ir. S. Prajudi Atmosudirdjo, SH, mengatakan bahwa tujuan dari pada Peradilan
Tata Usaha Negara adalah untuk mengenbangkan dan memelihara Administrasi Negara
yang tepat menurut hukum (rechtmatig) atau tepat menurut undang-undang (wetmatig).
***** Kelompok kami berpendapat bahwa Peradilan Tata Usaha Negara dibentuk
untuk menyelesaikan sengketa yang timbul antara Badan/Pejabat Tata Usaha Negara
dengan warga masyarakat oleh akibat pelaksanaan atau penggunaan wewenang
pemerintah yang dilakukan oleh Badan/Pejabat Tata Usaha Negara yang menimbulkan
benturan kepentingan, perselisihan, atau sengketa dengan warga masyarakat.

C. Pangkal Sengketa TUN


Perbuatan Tata Usaha Negara (TUN) dapat dikelompokkan kepada 3 macam perbuatan
yakni: mengeluarkan keputusan, mengeluarkan peraturan perundang-undangan, dan
melakukan perbuatan materiil. Dalam melakukan perbuatan tersebut, badan atau pejabat tata
usaha Negara tidak jarang terjadi tindakan-tindakan yang menyimpang, dan melawan
hukum, sehingga dapat menimbulkan berbagai kerugian, bagi yang terkena tindakan
tersebut.
Pertanyaan sekarang adalah apa yang dimaksud sengketa dalam Tata Usaha Negara?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut dapat ditelusuri dari ketentuan pasal 1 angka 4 UU
PTUN, yang menyebutkan sebagai berikut:
“Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha
Negara antara orang atau badan hukum perdata, dengan badan atau pejabat tata usaha
Negara, baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dari dikeluarkannya keputusan tata
usaha Negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.”
Adapun yang menjadi pangkal sengketa TUN adalah akibat dari dikeluarkannya
Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN). Berdasarkan Pasal 1 angka 3 UU PTUN yang
dimaksud dengan KTUN adalah “Suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau
Pejabat tata usaha negara yang berisi tindakan hukum tata usaha negara yang berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku yang bersifat konkret, individual, final, yang
menimbulkan akibat hukum bagi Seseorang atau Badan Hukum Perdata.
2. Kedudukan Para Pihak dalam Sengketa TUN
Dalam pasal 1 angka 4 UU PTUN diketahui bahwa kedudukan para pihak dalam
sengketa tata usaha negara adalah orang (individu) atau badan hukum perdata sebagai pihak
penggugat dan badan atau pejabat tata usaha negara sebagai pihak tergugat. Orang (individu)
atau badan hukum perdata yang di rugikan akibat dikeluarkannya KTUN. Digolongkan
menjadi 3:
1. Orang (individu) atau badan hukum perdata sebagai alamat yang dituju oleh KTUN.
2. orang (individu) atau badan hukum perdata yang dapat disebut pihak ketiga yang
mempunyai kepentingan dan organisasi kemasyarakatan.
3. Badan atau pejabat TUN yang tidak boleh menggugat oleh UU PTUN.
Kepentingan ini dalam kaitannya yang berhak menggugat apabila bersifat langsung, pribadi,
obyek dapat ditentukan dan atau kepentingan berhubungan dengan KTUN.
3. Para Pihak dalam Sengketa TUN
Para pihak dalam sengketa TUN adalah orang (individu) atau badan hukum perdata sebagai
pihak penggugat dan badan atau pejabat tata usaha negara sebagai pihak tergugat.
4. Jalur Penyelesaian Sengketa TUN
Dalam pasal 48 UU P TUN nomor 5 tahun 1986 UU PTUNmenjelaskan upaya
administrative, itu merupakan prosedur yang ditentukan dalam suatu peraturan perundang-
undangan untuk menyelesaikan sengketa dalam TUN yang dilaksanakan di lingkungan
pemerintah sendiri yang terdiri dari prosedur keberatan dan prosedur banding administratif.
Perbedaan penting antara upaya administratif dan PTUN adalah bahwa PTUN hanyalah
memeriksadan menilai dari segi hukumnya saja. Sedangkan penilaian dari segi kebijasanaan
bukan wewenang PTUN. Pemeriksaan melalui upaya administrative, badan TUN selaian
berwenang menilai segi hukumnya, juga berwenang menilai segi kebijaksanaannya. Dengan
demikian penyelesain sengketa melalui upaya administratif menjadi lebih lengkap, tetapi,
penilaian secara lengkap tersebut tidak termasuk pasda prosedur banding. Pada prosedur
banding, badan hukum TUN hanya melakukan penilaian dari segi hukumnya saja.
D. Gugatan ke PTUN
Gugatan adalah permohonan secara tertulis yang diajukan oleh seseorang atau badan hukum
perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu kpts TUN Ke pengadilan yang
berisi tuntutan agar kpts TUN yang disengketakan dinyatakan batal atau tidak sah dengan
atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi dan atau rehabilitasi.

I. Tuntutan Dalam Gugatan


a. Tuntutan agar kpts TUN yang disengketakan dinyatakan batal.
b. Tuntutan agar Badan atau Pejabat TUN mengeluarkan kpts TUN ( Pasal 3 UU
No.5/ 1986 ).
c. Tuntutan ganti kerugian.
d. Tuntutan rehabilitasi dengan atau tanpa kompensasi
II. Alasan yang dapat digunakan dalam Gugatan
a. Kpts TUN yang digugat bertentangan dengan peraturan perundangan yang
berlaku.(Onrechtmatige /Onwetmatige)
 Bersifat prosedural / formal.
 Bersifat materiil / substansial
 Dikeluarkan pejabat yg tidak berwenang.
b. Kpts TUN yang digugat itu bertentangan dengan asas-asas umum pemerintahan
yang baik. Yang meliputi Asas:
 Kepastian Hukum .
 Tertib penyelenggaraan negara.
 Keterbukaan.
 Proporsionalits.
 Profesionalitas.
 Akuntabilitas.( sebagaimana dimaksud dalam UU No.28/1999 tentang
penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme)
III. Syarat atau isi gugatan harus memuat
a. Nama, kewarganegaraan, tempat tinggal, pekerjaan penggugat atau kuasanya.
b. Nama, jabatan, dan tempat kedudukkan tergugat.
c. Dasar gugatan dan hal yang diminta untuk diputus oleh Pengadilan
d. Ditandatangani penggugat / kuasanya dan disertai surat kuasa yang sah.
e. Sedapat mungkin disertai Kpts TUN yang disengketakan oleh Penggugat.

1. Tenggang Waktu Pengajuan Gugatan


Dalam Pasal 55 UU No. 5 Tahun 1986 jo UU No. 9 Tahun 2004 disebutkan bahwa
gugatan dapat diajukan hanya dalam tenggang waktu sembilan puluh hari terhitung sejak
saat diterimanya atau diumumkannya Keputusan Badan atau Pejabat tata usaha negara yang
digugat.
Tenggang waktu untuk mengajukan gugatan 90 hari tersebut dihitung secara bervarisasi,
antara lain :
1. Sejak hari diterimanya KTUN yang digugat itu memuat nama penggugat.
2. Setelah lewatnya tenggang waktu yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan
yang memberikan kesempatan kepada administrasi Negara ntuk memberikan keputusan,
namun ia tidak berbuat apa-apa.
3. Setelah lewat empat bulan, apabila peraturan perundang-undangan tidak memberikan
kesempatan kepada administrasi Negara untuk memberikan keputusan dan ternyata ia
tidak berbuat apa-apa.
4. Sejak hari pengumuman apabila KTUN itu harus diumumkan.

2. Beracara dengan cuma-cuma.


Pada dasarnya setiap mengajukan gugatan di pengadilan penggugat harus terlebih
dahulu membayar uang muka biaya perkara, namun dalam hal tertentu penggugat dapat
mengajukan permohonan beracara dengan cuma-cuma. Dalam hukum Acara PTUN,
ketentuan ini diatur dalam Pasal 60 UU PTUN. Pasal 60 UU No.5/1986 :
1. Penggugat dapat mengajukan permohonan kepada ketua pengadilan untuk bersengketa
dengan cuma-cuma.
2. Permohonan diajukan pada waktu penggugat mengajukan gugatannya disertai surat
keterangan tidak mampu diri kepala desa ditempat kediaman penggugat.
3. Dalam keterangan tsb harus dinyatakan betul-betul tidak mampu membayar biaya
perkara.

3. Isi Putusan
Putusan pengadilan dapat berupa :
a. gugatan ditolak
b. gugatan dikabulkan
c. gugatan tidak diterima
d. gugatan gugur.
Dalam hal gugatan dikabulkan, maka dalam putusan pengadilan tersebut dapat
ditetapkan kewajiban yang harus dilakukan oleh badan atau pejabat TUN berupa :
a. Pencabutan KTUN yang bersangkutan, atau
b. Pencabutan KTUN yang bersangkutan dan menerbitkan KTUN yg baru, atau
c. Penerbitan KTUN dalam hal gugatan didasarkan pada Pasal 3 UU PTUN.
Kewajiban sebagaimana dimaksud di atas dapat disertai pembebanan ganti rugi.

E. Pelaksanaan Putusan /Eksekusi


Dalam Pasal 115 UU PTUN disebutkan bahwa hanya putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap yang dapat dilaksanakan. Mengenai pelaksanaan putusan
pengadilan TUN dalam Pasal 116 disebutkan:
1. Salinan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dikirimkan
kepada para pihak dengan surat tercatat oleh Panitera Pengadilan setempat atas perintah
Ketua Pengadilan yang mengadilinya dalam tingkat pertama selambat-lambatnya daiam
waktu 14 (empat belas) hari.

2. Dalam hal 4 (empat) bulan setelah putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap sebagaimana dimaksud path ayat (1) dikrimkan, tergugat tidak
melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf a,
Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu tidak mempunyai kekuatan hukum
lagi.
3. Dalam hal tergugat ditetapkan harus melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 97 ayat (9) huruf b dan huruf c, dan kemudian setelah 3 (tiga) bulan ternyata
kewajiban tersebut tidak dilaksanakannya, penggugat mengajukan permohonan kepada
Ketua pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) agar Pengadilan memerintahkan
tergugat melaksanakan putusan Pengadilan terebut.
4. Dalam hal tergugat tidak bersedia melaksanakan putusan Pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap, terhadap pejabat yang bersangkutan dikenakan upaya
paksa berupa pembayaran sejumlah uang paksa dan atau sanksi administratif
5. Pejabat yang tidak melaksanakan putusan pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) diumumkan pada media massa cetak setempat oleh Panitera sejak tidak terpenuhinya
ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3).
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Indonesia sebagai Negara Hukum, menjamin hak Asasi Manusia tiap-tiap penduduknya.
termasuk dalam hal administrasi Negara. Pemerintah sebagai aparat yang melaksanakan
kegiatan administrasi di Negara ini, tidak menutup kemungkinan untuk melakukan
penyelewengan-penyelewengan kekuasaan, sehingga merugikan masyarakat Indonsia.
Untuk itu, Pemerintah berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 jo UU No. 9
Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang berdasarkan Pasal 144 diberikan
perlindungan hukum terhadap warga masyarakat atas perbuatan yang dilakukan oleh
penguasa.
2. Sengketa tata usaha Negara yang terjadi di lingkungan administrasi, baik itu sengketa
intern, yang menyangkut persoalan kewenangan pejabat TUN yang disengketakan dalam
satu departemen atau suatu departemen dengan departemen yang lain dan sengketa
ekstern yakni perkara administrasi yang menimbulkan sengketa antara administrasi
Negara dengan rakyat. Maka, sengketa ini diselesaikan melalui upaya administrative,
yang mana upaya administratif in berdasarkan penjelasan Pasal 48 disebutkan bahwa itu
merupakan suatu prosedur yang ditempuh oleh seseorang atau badan hokum yang merasa
tidak puas terhadap suatu Keputusan Tata Usaha Negara.