Anda di halaman 1dari 29

TUGAS MK PEMBANGUNAN DAN KEBIJAKAN PERTANIAN

“PENGEMBANGAN AGRIBISNIS”

Oleh
NAJEMI HENDRIAWAN
1720524310010

MAGISTER EKONOMI PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2018
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang sangat berpotensi dalam bidang
pertaniaannya. Akan tetapi dalam kenyataannya para petani di Indonesia belum bisa
mengoptimalkan pertaniannya menjadi lebih berkembang lagi karena keterbatasan
pengetahuan dalam bidang pertanian.Untuk mengoptimalkannya maka agribisnislah
yang sangat tepat sebagai pilihan agar menjadikan pertanian di Indonesia menjadi
lebih baik lagi dan memperbaiki nasib para petani yang selama ini masih sangat
memprihatinkan.Agribisnis memiliki kontribusi yang sangat baik.
Indonesia merupakan negara agraris yang saat ini sedang dilanda oleh krisis
ekonomi yang mengakibatkan perekonomian di Indonesia menjadi terpuruk. Hal ini
juga mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan, tingkat pengangguaran yang
makin tinggi, serta ketimpangan ekonomi yang menimbulkan sederet masalah
ekonomi yang cukup serius yang saat ini melanda Indonesia.
Walaupun negara Indonesia merupakan negara agraris, akan tetapi sebagian
besar kekayaan tersebut belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh masyarakat
karena masih kurangnya pemahaman dan masih banyak masyarakat yang tidak
tertarik dengan agribisnis. Padahal agribisnis dapat menjadi bisnis yang mampu
menjadikan perekonomian negara Indonesia lebih baik lagi.
Agribisnis merupakan suatu strategi yang aling tepat untuk membangun
ekonomi negara yang mengintegrasikan pembangunan pertanian (perkebunan,
peternakan, perikanan, kehutanan) dengan pembangunan industri pertanian serta
sektor-sektor jasa yang terkait didalamnya sehingga dapat membantu memecahkan
masalah perekonomian yang melanda Indonesia karena dengan strategi agribisnis
dapat menciptakan lapangan kerja baru yang dapat membantu mengurangi angka
pengangguran di Indonesia.
Strategi pembangunan sistem agribisnis yang bercirikan yaitu berbasis pada
pemberdayagunaan keanekaragaman sumber daya yang ada disetiap daerah serta
dapat memberikan kontribusi terhadap keragaman kualitas sumber daya manusia
yang dimiliki.Selain itu agribisnis juga mengandalkan sumberdaya alam dan teknologi
serta sumber daya manusia yang terampil yang diyakini mampu menjadikan
perekonomian di Indonesia memiliki daya saing dan menjadikan perekonomian negara
menjadi lebih bersinergis dalam perekonomian dunia.Agribisnis merupakan salah satu
cara yang paling tepat untuk membuka lahan pekerjaan baru bagi masyarakat di
Indonesia yang mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani,serta
agribisnis juga dapat mengurangi angka pengangguran di negara Indonesia.
Agribisnis merupakan cara yang sangat tepat untuk memperbaiki
perekonomian di Indonesia yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian
sebagai petani. Selain itu bisnis ini juga sangat pas dengan keadaan negara Indonesia
karena negara Indonesia merupakan negara agraris. Untuk lebih meningkatkan
kualitas sumber daya yang ada baik itu sumber daya alam maupun sumber daya
manusia bisnis ini diharapkan akan lebih meningkatkan kualitas pertanian dan sumber
daya yang ada agar menjadi lebih baik lagi dibandingkan sebelumnya. Selain itu
agribisnis juga diharapkan menjadikan masyarakat untuk lebih terampil dalam
memanfaatkan lahan kosong menjadi lebih produktif dan mengembangkan
ketrampilan masyarakat dalam bidang pertanian.

Rumusan Masalah
Bagaimana prospek pengembangan agribisnis di Indonesia ?

Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk lebih mengembangkan agribisnis
sebagai bisnis dalam masyarakat karena agribisnis sangat sesuai dengan kondisi
Indonesia yang merupakan negara agraris yang memiliki lahan pertanian yang sangat
luas. Agribisnis merupakan bisnis yang sangat tepat bagi negara Indonesia yang
sebagian besar masyarakatnya bermatapencaharian sebagai petani. Selain itu,
negara Indonesia yang merupakan negara agraris juga mendukung untuk
dikembangkannya agribisnis guna memperbaiki perekonomian di Indonesia yang
selama ini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Dengan agribisnis masyarakat diharapkan akan dapat lebih berkembang
dengan kemampuannya dibidang pertanian sehingga menjadikan masyarakat menjadi
sumber daya manusia yang lebih berkarya. Sehingga masyarakat dapat mensulap
lahan yang tadinya tidak memiliki nilai guna menjadi lahan yang lebih produktif dan
memberikan keuntungan bagi masyarakat yang akhirnya dapat membantu
meningkatkan kesejahteraan dan menjadikan perekonomian mereka menjadi lebih
baik lagi dibandingkan dengan sebelumnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Landasan Pengembangan Agribisnis di Indoensia


Membagun sistem agribisnis merupakan suatu strategi pembangunan ekonomi
yang mengintegrasikan pembangunan pertanian, industri, dan jasa. Sosialisasi
paradigma seperti ini sangat penting karena peradigma pembangunan yang
berkembang selama ini adalah pembangunan ekonomi harus secepat mungkin beralih
dari pertanian ke industri dan kemudian ke sektor jasa, sehingga semakin menurun
kontribusi pertanian dalam pendapatan nasional (tanpa memperdulikan jumlah
penduduk yang terlibat di dalamnya) dianggap sebagai kemajuan ekonomi.
Dalam UU No. 25 tahun 1999 dan PP 25 tahun 2000 tentang pelaksanaan
Otonomi Daaerah. Dari segi ekonomi, esensi Otonomi Daerah adalah mempercepat
pembangunan ekonomi daerah dengan mendayagunakan sumberdaya yang tersedia
di setiap daerah, yang tidak lain adalah sumberdaya di bidang agribinsis.

Pengertian Agribisnis
Kata Agribisnis berangkat dari kata Agribusiness, dimana
Agri=Agriculture artinya pertanian dan Business berarti usaha atau kegiatan yang
berorientasi profit. Jadi secara sederhana Agribisnis (agribusiness) adalah usaha
atau kegiatan pertanian serta apapun yang terkait dengan pertanian berorientasi profit.
Istilah “agribusiness” untuk pertama kali dikenal oleh masyarakat Amerika Serikat
pada tahun 1955, ketika John H. Davis menggunakan istilah tersebut dalam
makalahnya yang disampakan pada "Boston Conference on Disiribution". Kemudian
John H. Davis dan Ray Goldberg kembali lebih memasyarakatkan agribisnis melalui
buku mereka yang berjudul "A Conception of Agribusiness" yang terbit tahun 1957 di
Harvard University. Ketika itu kedua penulis bekerja sebagai guru besar pada
Universitas tersebut. Tahun 1957, itulah dianggap oleh para pakar sebagai tahun
kelahiran dari konsep agribisnis. Dalam buku tersebut, Davis dan Golberg
mendefinisikan agribisnis sebagai berikut: "The sum total of all operation involved in
the manufacture and distribution of farm supplies: Production operation on farm: and
the storage, processing and distribution of farm commodities and items made from
them". Berikut pengertian agribisnis sebagai suatu sistem menurut beberapa ahli :
► E. Paul Roy memandang agribisnis sebagai suatu proses koordinasi berbagai sub-
sistem. Koordinasi merupakan fungsi manajemen untuk mengintegrasikan
berbagai sub-sistem menjadi sebuah sistem.
► Wibowo mengartikan agribisnis mengacu kepada semua aktivitas mulai dari
pengadaan, prosesing, penyaluran sampai pada pemasaran produk yang
dihasilkan oleh suatu usaha tani atau agroindustri yang saling terkait satu sama
lain.
► Agribisnis adalah kegiatan yang berhubungan dengan penanganan komoditi
pertanian dalam arti luas, yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata
rantai produksi, pengolahan masukan dan keluaran produksi
(agroindustri), pemasaran masukan-keluaran pertanian dan kelembagaan
penunjang kegiatan. Yang dimaksud dengan berhubungan adalah kegiatan usaha
yang menunjang kegiatan pertanian dan kegiatan usaha yang ditunjang oleh
kegiatan pertanian. (Downey and Erickson. 1987).
► Pengertian Agribisnis menurut Cramer and Jensen Agribisnis adalah suatu
kegiatan yang sangat kompleks, meliputi industri pertanian, industri
pemasaran hasi pertanian dan hasil olahan produk pertanian, industri manufaktur
dan distribusi bagi bahan pangan dan serat-seratan kepada pengguna/konsumen.
► Pengertian Agribisnis menurut Austin: Agribisnis adalah kesatuan kegiatan usaha
yang meliputi kegiatan usahatani, pengolahan bahan makanan, usaha sarana dan
prasarana produksi pertanian, transportasi, perdagangan, kestabilan pangan dan
kegiatan-kegiatan lainnya termasuk distribusi bahan pangan dan serat-seratan
kepada konsumen.
Agribisnis dari cara pandang ekonomi ialah usaha penyediaan pangan.
Pendekatan analisis makro memandang agribisnis sebagai unit sistem industri dan
suatu komoditas tertentu, yang membentuk sektor ekonomi secara regional atau
nasional. Sedangkan pendekatan analisis mikro memandang agribisnis sebagai suatu
unit perusahaan yang bergerak, baik dalam salah satu subsistem agribisnis, baik
hanya satu atau lebih subsistem dalam satu lini komodias atau lebih dari satu lini
komoditas.
Sebagai subjek akademik, agribisnis mempelajari strategi memperoleh
keuntungan dengan mengelola aspek budidaya, penyediaan bahan baku,
pascapanen, proses pengolahan, hingga tahap pemasaran. Dengan definisi ini dapat
diturunkan ruang lingkup agribisnis yang mencakup semua kegiatan pertanian yang
dimulai dengan pengadaan penyaluran sarana produksi (the manufacture and
distribution of farm supplies), produksi usaha tani (Production on the farm) dan
pemasaran (marketing) produk usaha tani ataupun olahannya. Ketiga kegiatan ini
mempunyai hubungan yang erat, sehingga gangguan pada salah satu kegiatan akan
berpengaruh terhadap kelancaran seluruh kegiatan dalam bisnis. Karenanya
agribisnis digambarkan sebagai satu sistem yang terdiri dari tiga subsistem, serta
tambahan satu subsistem lembaga penunjang.

Evolusi Pertanian Menuju Agribisnis


Pada awal pemenuhan kebutuhannya, manusia hanya mengambil dari alam
sekitar tanpa kegiatan budidaya (farming), dengan demikian belum memerlukan
sarana produksi pertanian. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia, alam
tidak dapat menyediakan semua kebutuhan itu sehingga manusia mulai
membudidayakan (farming) secara ekstensif berbagai tanaman, hewan dan ikan untuk
memenuhi kebutuhannya. Pada tahap ini kegiatan budidaya mulai menggunakan
sarana produksi, dilakukan dalarn pertanian itu sendiri (on farm) dan hanya untuk
memenuhi kebutuhan keluarga sendiri (home consumption).
Tahap selanjutnya, ditandai dengan adanya spesialisasi dalam kegiatan
budidaya sebagai akibat pengaruh perkembangan diluar sektor pertanian dan adanya
perbedaan potensi sumberdaya alam (natural endowment) antar daerah, perbedaan
ketrampilan (skill) dalam masyarakat serta terbukanya hubungan lalulintas antar
daerah. Pada tahap ini, selain dikonsumsi sendiri, hasil-hasil pertanian mulai
dipasarkan dan diolah secara sederhana sebelum dijual.
Perkembangan sektor pertanian selanjutnya dipacu oleh kemajuan teknologi
yang sangat pesat di sektor industri (kimia dan mekanik) dan transportasi. Pertanian
menjadi semakin maju dan kompleks dengan ciri produktivitas per hektar yang
semakin tinggi berkat penggunaan sarana produksi pertanian yang dihasilkan oleh
industri (pupuk dan pestisida). Kegiatan pertanian semakin terspesialisasi menurut
komoditi dan kegiatannya. Namun, petani hanya melakukan kegiatan budidaya saja,
sementara pengadaan sarana produksi pertanian didominasi oleh sektor industri.
Dipihak lain karena proses pengolahan hasil-hasil pertanian untuk berbagai
keperluan membutuhkan teknologi yang semakin canggih dan skala yang besar agar
ekonomis, maka kegiatan ini pun didominasi oleh sektor industri pengolahan. Melalui
proses pengolahan, produk-produk pertanian menjadi lebih beragam penggunaan dan
pemasarannyapun menjadi lebih mudah (storable and transportable) sehingga dapat
diekspor. Pada tahap ini pembagian kerja di dalam kegiatan pertanian menjadi
semakin jelas, yaitu: kegiatan budidaya (farming) sebagai kegiatan pertanian dalam
arti sempit, kegiatan produksi sarana pertanian (farm supplies) sebagai industri hulu
dan kegiatan pengolahan komoditi pertanian sebagai industri hilir. Spesialisasi
fungsional dalam kegiatan pertanian seperti yang telah dikemukakan diatas meliputi
seluruh kegiatan usaha yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan
pertanian dan keseluruhannya disebut sistem "Agribisnis'.

Agribisnis Sebagai Suatu Sistem


Agribisnis sebagai suatu sistem adalah agribisnis merupakan seperangkat
unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Disini
dapat diartikan bahwa agribisnis terdiri dari dari berbagai sub sistem yang tergabung
dalam rangkaian interaksi dan interpedensi secara reguler, serta terorganisir sebagai
suatu totalitas (Hendayana, 2014).

Gambar 1. Sistem Agribisnis


Secara konsepsional sistem agribisnis dapat diartikan sebagai semua aktifitas,
mulai dari pengadaan dan penyaluran sarana produksi (input) sampai dengan
pemasaran produk-produk yang dihasilkan oleh usaha tani serta agroindustri, yang
saling terkait satu sama lain. Dengan demikian sistem agribisnis merupakan suatu
sistem yang terdiri dari berbagai subsistem yaitu:
► Agroindustri Hulu
Meliputi pengadaan sarana produksi pertanian antara lain terdiri dari benih, bibit,
makanan ternak, pupuk , obat pemberantas hama dan penyakit, lembaga kredit, bahan
bakar, alat-alat, mesin, dan peralatan produksi pertanian. Pelaku-pelaku kegiatan
pengadaan dan penyaluran sarana produksi adalah perorangan, perusahaan swasta,
pemerintah, koperasi. Betapa pentingnya subsistem ini mengingat perlunya
keterpaduan dari berbagai unsur itu guna mewujudkan sukses agribisnis. Industri yang
meyediakan sarana produksi pertanian disebut juga sebagai agroindustri hulu
(upstream). Kemudian ada beberapa pendapat mengenai subsitem agribisnis hulu :
1. Menurut Departemen Pertanian (2001), subsistem hulu merupakan industri yang
menghasilkan barang-barang sebagai modal bagi kegiatan pertanian yang
mencakup industri pembibitan tumbuhan dan hewan, industri agrokimia
(pupuk,pestisida,obat-obatan), dan industri agro otomotif (mesin dan peralatan
pertanian) seta industri pendukungnya.
2. Subsistem agribisnis hulu adalah subsistem yang mencakup semua kegiatan untuk
memproduksi dan menyalurkan input-input pertanian dalam arti luas (Purnomo,
2009).
3. Subsistem agribisnis hulu disebut juga subsistem faktor input (input factor
subsystem), yaitu subsistem pengadaan sarana produksi pertanian. Kegiatan
subsistem ini berhubungan dengan pengadaan sarana produksi pertanian, yaitu
memproduksi dan mendistribusikan bahan, alat, dan mesin yang dibutuhkan
usahatani atau budidaya pertanian (on-farm agribusiness). (Saragih: 1998)
4. Kegiatan ekonomi yang menyediakan sarana produksi bagi pertanian, seperti
industri dan perdagangan agrokimia (pupuk, pestisida, dll), industri agrootomotif
(mesin dan peralatan), dan industri benih/bibit (Hanafi, 2012).
 Fungsi dan Contoh Subsistem Agribisnis Hulu
Subsistem agribisnis hulu memiliki beberapa fungsi penting yaitu :
1. Menghasilkan dan menyediakan sarana produksi pertanian terbaik agar
mampu menghasilkan produk usahatani yang berkualitas.
2. Memberikan pelayanan yang bermutu kepada usahatani.
3. Memberikan bimbingan teknis produksi.
4. Memberikan bimbingan manajemen dan hubungan sistem agribisnis.
5. Memfasilitasi proses pembelajaran atau pelatihan bagi petani.
6. Menyaring dan mensintesis informasi agribisnis praktis untuk petani.
7. Mengembangkan kerjasama bisnis (kemitraan) untuk dapat memberikan
keuntungan bagi para pihak.
 Permasalahan yang dihadapi dalam Subsistem Agribisnis Hulu
Dalam menjalankan sebuah sistem, tentunya terdapat hambatan maupun
masalah-masalah yang terjadi. Contohnya saja pada penyediaan sarana produksi
berupa benih. Di Indonesia, perusahaan-perusahaan bibit dan benih masih
menghadapi kendala pada penyediaan dana, dimana dalam melakukan proses
produksi perusahaan lokal masih sering kali bergantung pada dana yang diberikan
investor asing. Keterbatasan modal yang dimiliki, berdampak pada keterbatasan
peralatan produksi canggih. Hal ini tentu saja akan memberikan pengaruh pada benih
atau bibit yang diproduksi. Tidak hanya itu, perusahaan benih lokal dan pemerintah
belum mengadakan penelitian atau riset lebih lanjut mengenai benih-benih yang
diproduksi. Pengembangan terhadap produk bibit dan benih juga belum dilakukan
secara maksimal. Keadaan ini menyebabkan untuk memperoleh bibit dan benih
unggul, petani harus mengeluarkan modal yang lebih besar untuk membeli bibit
maupun benih dari perusahaan benih asing atau impor.
Belum berhenti sampai disitu, benih dan bibit yang dihasilkan oleh perusahaan
lokal juga masih memiliki kualitas yang berada dibawah bibit dan benih dari luar
negeri. Hal tersebut salah satunya dikarenakan kurangnya perhatian pemerintah
terhadap perlindungan hukum bagi perusahaan benih lokal. Selain itu, dibutuhkan juga
dukungan dalam melakukan penelitian untuk menemukan kultivar-kultivar baru yang
berkualitas.
► Usaha tani
Usaha tani menghasilkan produk pertanian berupa bahan pangan, hasil
perkebunan, buah-buahan, bunga dan tanaman hias, hasil ternak, hewan dan ikan.
Pelaku kegiatan dalam subsistem ini adalah produsen yang terdiri dari petani, peternak,
pengusaha tambak, pengusaha tanaman hias dan lain-lain.
► Agroindustri Hilir meliputi Pengolahan dan Pemasaran (Tata niaga) produk
pertanian dan olahannya
Dalam subsistem ini terdapat rangkaian kegiatan mulai dari pengumpulan
produk usaha tani, pengolahan, penyimpanan dan distribusi. Sebagian dari produk
yang dihasilkan dari usaha tani didistribusikan langsung ke konsumen didalam atau di
luar negeri. Sebagian lainnya mengalami proses pengolahan lebih dahulu kemudian
didistribusikan ke konsumen. Pelaku kegiatan dalam subsistem ini ialah pengumpul
produk, pengolah, pedagang, penyalur ke konsumen, pengalengan dan lain-lain.
Industri yang mengolah produk usahatani disebut agroindustri hilir (downstream).
Peranannya amat penting bila ditempatkan di pedesaan karena dapat menjadi motor
penggerak roda perekonomian di pedesaan, dengan cara menyerap/mencipakan
lapangan kerja sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
masyarakat pedesaan.
► Subsistem jasa layanan pendukung agribisnis (kelembagaan)
Subsistem jasa layanan pendukung agribisnis (kelembagaan) atau supporting
institution adalah semua jenis kegiatan yang berfungsi untuk mendukung dan melayani
serta mengembangkan kegiatan sub-sistem hulu, sub-sistem usaha tani, dan sub-
sistem hilir. Lembaga-lembaga yang terkait dalam kegiatan ini adalah penyuluh,
konsultan, keuangan, dan penelitian. Lembaga penyuluhan dan konsultan
memberikan layanan informasi yang dibutuhkan oleh petani dan pembinaan teknik
produksi, budidaya pertanian, dan manajemen pertanian. Untuk lembaga keuangan
seperti perbankan, model ventura, dan asuransi yang memberikan layanan keuangan
berupa pinjaman dan penanggungan risiko usaha (khusus asuransi). Sedangkan
lembaga penelitian baik yang dilakukan oleh balai-balai penelitian atau perguruan
tinggi memberikan layanan informasi teknologi produksi, budidaya, atau teknik
manajemen mutakhir hasil penelitian dan pengembangan.

Kaitan-Kaitan Dan Ruang Lingkup Agribisnis


Kaitan-kaitan ini mengundang para pelaku agribisnis untuk melakukan
kegiatannya dengan berpedoman pada “4-Tepat” (yaitu: tepat waktu, tempat, kualitas,
dan kuantitas), atau dengan istilah lain yaitu “3 Tas” (yaitu: kualitas, kuantitas, dan
kontinuitas). Kehadiran dan peranan lembaga-lembaga penunjang sangat dibutuhkan
dalam hal ini, misalnya kelancaran transportasi, ketersediaan permodalan dan
peraturan-peraturan pemerintah. Dengan pendekatan sistem tersebut di atas,
orientasi pembangunan mencakup seluruh aspek di dalam sistem agribisnis yang
dilaksanakan secara terpadu, dengan memperhatikan kelestarian sumberdaya alam
dan lingkungan hidup. Ada lima bidang yang merupakan Ruang lingkup Agribisnis
meliputi :
1. Pertanian
Pertanian dalam arti luas adalah proses menghasilkan bahan pangan, ternak,
serta produk-produk agroindustri dengan cara memanfaatkan sumber daya tumbuhan
dan hewan. Pemanfaatan sumber daya ini terutama berarti budi daya (cultivation, atau
untuk ternak: raising). Sedangkan pertanian dalam arti sempit adalah proses
menghasilkan bahan makanan.
2. Perkebunan
Dalam Undang-undang No. 8 Tahun 2004 tentang perkebunan, yang dimaksud
dengan Perkebunan adalah segala kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu
pada tanah dan atau media tumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai, mengolah
dan memasarkan barang dan jasa hasil tanaman tersebut, dengan bantuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, permodalan serta manajemen untuk mewujudkan
kesejahteraan bagi pelaku usaha perkebunan dan masyarakat. Perkebunan
mempunyai fungsi ekonomi, yaitu peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat
serta penguatan struktur ekonomi wilayah dan nasional; fungsi ekologi, yaitu
peningkatan konservasi tanah dan air, penyerap karbon, penyedia oksigen, dan
penyangga kawasan lindung; dan sosial budaya, yaitu sebagai perekat dan pemersatu
bangsa. Perkebunan merupakan usaha tani di lahan kering yang ditanami dengan
tanaman industri yang laku di pasar, seperti : karet, kelapa sawit, tebu, cengkeh , dan
lain-lain.
3. Peternakan
Ternak adalah hewan yang dengan sengaja dipelihara sebagai sumber pangan,
sumber bahan baku industri, atau sebagai pembantu pekerjaan manusia. Sedangkan
Peternakan merupakan usaha tani yang dilakukan dengan membudidayakan ternak.
4. Perikanan
Perikanan adalah kegiatan manusia yang berhubungan dengan pengelolaan
dan pemanfaatan sumberdaya hayati perairan. Sumberdaya hayati perairan tidak
dibatasi secara tegas dan pada umumnya mencakup ikan. Amfibi dan berbagai
avertebrata penghuni perairan dan wilayah yang berdekatan, serta lingkungannya. Di
Indonesia, menurut UU RI no. 9/1985 dan UU RI no. 31/2004, kegiatan yang termasuk
dalam perikanan dimulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan
pemasaran, yang dilaksanakan dalam sistem bisnis perikanan.
5. Kehutanan
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No 41 tahun 1999 tentang
kehutanan, definisi kehutanan adalah sistem pengurusan yang bersangkut paut
dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan yang diselenggarakan secara terpadu.
Prisipnya ialah segala kegiatan pertanian yang dilakukan untuk mempoduksi atau
memanfaatkan hasil hutan, baik yang tumbuh atau hidup secara alami maupun yang
telah dibudidayakan (Maulidah, 2012).

Peran Agribisnis Dalam Pembangunan Nasional


Undang-Undang (UU) No. 17 tahun 2007 tentang RPJPN tahun 2005-2025,
menyatakan bahwa visi pembangunan nasional tahun 2005-2025 adalah: Indonesia
yang Mandiri, Maju, Adil dan Makmur. Untuk mewujudkan visi pembangunan nasional
tersebut ditempuh melalui delapan misi yang mencakup: (1) mewujudkan masyarakat
berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya dan beradab berdasarkan falsafah
Pancasila, (2) mewujudkan bangsa yang berdaya saing, (3) mewujudkan masyarakat
demokratis berlandaskan hukum, (4) mewujudkan Indonesia aman, damai dan bersatu,
(5) mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan, (6) mewujudkan
Indonesia asri dan lestari, (7) mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang
mandiri, maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional, dan (8) mewujudkan
Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia internasional.
Untuk pelaksanaan pembangunan sistem agribisnis dirancang dengan
melibatkan lembaga ekonomi dan lembaga penunjang lain seperti lembaga ekonomi
masyarakat. Lembaga ekonomi masyarakat ini kemudian akan menunjang subsistem
agribisnis, kegiatan usaha tani, penyedia informasi, layanan jasa, serta penerapan
teknologi pertanian. Lebih jelas lagi agribisnis disini diarahkan pada agroindustri,
sehingga nantinya akan menghasilkan nilai tambah yang lebih bagi komoditi pertanian.
Dampak lebih lanjut adalah efek multiplier yang menciptakan peluang-peluang usaha
baru. Untuk itu dalam upaya pemberdayaan masyarakat sektor ini harus jadi sasaran
utama. Sedangkan dalam penguatan ekonomi rakyat agribisnis merupakan syarat
keharusan (necessary condition), yang menjamin iklim makro yang kondusif bagi
pengembangan ekonomi rakyat yang sebagian besar berada pada kegiatan ekonomi
berbasis pertanian.
Untuk penguatan ekonomi rakyat secara nyata, diperlukan syarat kecukupan
berupa pengembangan organisasi bisnis yang dapat merebut nilai tambah yang
tercipta pada setiap mata rantai ekonomi dalam kegiatan agribisnis. Maka dapat
disimpulkan bahwa dalam perekonomian Indonesia, agribisnis berperan penting
sehingga mempunyai nilai strategis. Peran strategis agribisnis itu adalah sebagai
berikut :
 Sektor agribisnis merupakan penghasil makanan pokok penduduk. Peran ini tidak
dapat disubstitusi secara sempurna oleh sektor ekonomi lainnya, kecuali apabila
impor pangan menjadi pilihan.
 Peranan agribisnis dalam pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto). Sampai
saat ini non-migas menyumbang sekitar 90 persen PDB, dan agribisnis merupakan
penyumbang terbesar dalam PDB non-migas. Peranan agribisnis dalam
penyerapan tenaga kerja. Karakteristik teknologi yang digunakan dalam agribisnis
bersifat akomodatif terhadap keragaman kualitas tenaga kerja sehingga tidak
mengherankan agribisnis menjadi penyerap tenaga kerja nasional yang terbesar.
 Peranan agribisnis dalam perolehan devisa. selama ini selain ekspor migas, hanya
agribisnis yang mampu memberikan net-ekspor secara konsisten. Peranan
agribisnis dalam penyediaan bahan pangan. Ketersediaan berbagai ragam dan
kualitas pangan dalam jumlah pada waktu dan tempat yang terjangkau masyarakat
merupakan prasyarat penting bagi keberhasilan pembangunan di Indonesia.
Peranan agribisnis dalam mewujudkan pemerataan hasil pembangunan (equity).
Pemerataan pembangunan sangat ditentukan oleh ‘teknologi’ yang digunakan
dalam menghasilkan output nasional, yaitu apakah bias atau pro terhadap faktor-
faktor produksi yang dimiliki oleh rakyat banyak. Saat ini faktor produksi yang
banyak dimiliki oleh sebagian besar rakyat adalah sumber daya lahan, flora dan
fauna, serta sumber daya manusia. Untuk mewujudkan pemerataan di Indonesia
perlu digunakan ‘teknologi’ produksi output nasional yang banyak menggunakan
sumber daya tersebut, yaitu agribisnis.
 Peranan agribisnis dalam pelestarian lingkungan. Kegiatan agribisnis yang
berlandaskan pada pendayagunaan keanekaragaman ekosistem di seluruh tanah
air memiliki potensi melestarikan lingkungan hidup. Agribisnis memiliki keterkaitan
sektoral yang tinggi. Keterkaitan antara sektor agribisnis dengan sektor lain dapat
dilihat dari aspek keterkaitan produksi, keterkaitan konsumsi, keterkaitan investasi,
dan keterkaitan fiskal. Berdasarkan sifat keterkaitan maka dikenal keterkaitan ke
belakang (backward linkage) dan keterkaitan ke depan (forward linkage) (Maulidah,
2012).

Pengembangan Agribisnis
Pengembangan agribisnis di Indonesia merupakan bagian yang sangat penting
dalam membantu proses pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Secara umum, pengembangan agribisnis merupakan serangkaian
pembangunan industri dan pertanian serta jasa yang sekaligus juga dilakukan secara
simultan dan harmonis. Secara keseluruhan dapat diartikan bahwa perkembangan
pertanian, industri dan jasa harus saling berkesinambungan dan tidak berjalan sendiri
- sendiri. Sebagai implikasi dari pengembangan ini diharapkan pembangunan
subsistem agrbisnis ini dapat berjalan sekaligus untuk memenuhi program
pengembangan agribisnis sebagaimana mestinya (Ramadhan dkk, 2017).
Pengembangan agribisnis adalah kegiatan yang berhubungan dengan
penanganan komoditi pertanian dalam arti luas, yang meliputi salah satu atau
keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan masukan dan keluaran produksi
(agroindustri), pemasaran masukan-keluaran pertanian dan kelembagaan penunjang
kegiatan pertanian, yang dimaksud dengan berhubungan adalah kegiatan usaha yang
menunjang kegiatan pertanian dan kegiatan usaha yang ditunjang oleh kegiatan
pertanian.
Pengembangan agribisnis juga memiliki perencanaan yang harus dijalankan
degan lebih baik, sebagaimana manajemen organisasi yang lain, dalam manajemen
agribisnis juga diterapkan fungsi-fungsi manajemen yang telah diterapkan di berbagai
kalangan umum, yang dimulai dari fungsi perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, evaluasi dan pengendalian dengan penuh kehati-hatian dan keteletian
dalam perencanaan memegang peranan yang sangat penting dalam agribisnis agar
usaha agribisnis tidak mengalami kegagalan (Sa’id, 2004).
Dalam usaha mempercepat laju pertumbuhan sektor agribisnis terutama
dihadapkan dengan kondisi petani kita yang serba lemah (modal, skill, pengetahuan
dan penguasaan lahan) dapat ditempuh melalui penerapan sistem pengembangan
(system of development) agribisnis. Dalam konteks bahasan ini, yang dimaksud
“sistem pengembangan agribisnis” adalah suatu bentuk atau model atau sistem atau
pola pengembangan agribisnis yang mampu memberikan keuntungan layak bagi
pelaku-pelaku agribisnis (petani/peternak/pekebun/ nelayan/pengusaha kecil dan
menengah/koperasi), berupa peningkatan pendapatan, peningkatan nilai tambah dan
perluasan kesempatan kerja.
Di Indonesia sejak dilaksanakan pembangunan pertanian, telah diterapkan
beberapa sistem pengembangan pertanian berskala usaha baik untuk komoditi
pangan maupun non pangan. Jika dikaji lebih jauh tujuan dan sasaran “sistem
pengembangan” yang pernah diterapkan di sektor pertanian, pada hakekatnya adalah
pengembangan sektor pertanian (dalam arti luas) secara menyeluruh dan terpadu,
yakni tidak hanya peningkatan produksi, tetapi juga pengadaan sarana produksi,
pengolahan produk, pengadaan modal usaha dan pemasaran produk secara bersama
atau bekerjasama dengan pengusaha. Sistem pengembangan sektor pertanian
semacam ini, jika menggunakan istilah sekarang, tidak lain adalah pengembangan
pertanian berdasarkan agribisnis, atau dengan kata lain pengembangan agribisnis. Di
antara sistem-sistem tersebut ada yang diterapkan oleh pemerintah berupa kebijakan
nasional dan ada pula yang telah berhasil diterapkan oleh kelompok masyarakat atau
kelompok peneliti, akan tetapi masih bersifat per kasus. Adapun sistem-sistem
tersebut antara lain: Unit Pelaksana Proyek (UPP), Insus dan Supra Insus, Sistem
Inkubator, Sistem Modal Ventura, Sistem Kemitraan (Contract Farming) dalam
berbagai bentuknya seperti Pola PIR, Pola Pengelola, Sistem ‘Farm Cooperative’, dll
(Antara, 2000).
Pengembangan agribisnis membutuhkan dukungan kegiatan yang mencakup
penetapan komoditas unggulan, latihan teknis dan manajerial, sistem informasi
manajemen, penguatan kelembagaan usaha, penyediaan modal investasi dan
regulasi yang kondusif. Pengembangan sentra produksi diawali dengan inisiasi model
pengembangan inovasi agribisnis skala pilot dalam bentuk kegiatan MODEL FARM.
Skala pilot model inovasi selanjutnya dikembangkan menjadi skala aktual agribisnis.
Pada tahap ketiga dari kerangka roadmap pengembangan agribisnis adalah
tersedianya produk dengan kualitas dan kuantitas sesuai preferensi pasar. Di sisi lain
jenis dan kualitas yang dihasilkan selayaknya ditentukan oleh informasi market
inteligent dan preferensi konsumen (Andri dkk, 2015)
BAB III
PEMBAHASAN

Pembangunan pertanian tidak terlepas dari pengembangan kawasan pedesaan


yang menempatkan pertanian sebagai penggerak utama perekonomian. Lahan,
potensi tenaga kerja, dan basis ekonomi lokal pedesaan menjadi faktor utama
pengembangan pertanian. Saat ini, pembangunan pertanian tidak saja bertumpu di
desa tetapi juga diperlukan integrasi dengan kawasan dan dukungan sarana serta
prasarana. Struktur perekonomian wilayah merupakan faktor dasar yang
membedakan suatu wilayah dengan wilayah lainnya. Perbedaan tersebut sangat erat
kaitannya dengan kondisi dan potensi suatu wilayah. keberhasilan pembangunan
ekonomi melalui pengembangan sektor agribisnis, perlu diidentifikasi terlebih dahulu
kondisi dan tantangan yang dihadapi sektor agribisnis.
Pengembangan agribisnis sangat memerlukan suatu strategi kebijakan dan
langkah konkrit berupa pemberian insentif pajak, akses permodalan dan informasi bagi
pelaku agribisnis yang akan melakukan investasi pada sektor pengolahan dan
pemasaran di hilir. Peningkatan nilai tambah (added value) komoditas pertanian,
perkebunan, peternakan, dan perikanan akan sejalan dengan upaya peningkatan
keunggulan kompetitif. Investasi di sektor hilir tersebut pasti akan menciptakan
lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja terampil dan berpendidikan tinggi.
Operasionalisasi pembangunan sistem dan usaha-usaha agribisnis
dilaksanakan melalui pengembangan kawasan dan pusat-pusat pertumbuhan
berbasis komoditas sesuai dengan keunggulan masing-masing daerah. Di samping itu
juga mempertimbangkan kondisi agro-ekologi dan permintaan masyarakat daerah,
serta kondisi sosial ekonomi dan pasar. Setiap daerah perlu mencermati jenis
komoditas yang mempunyai keunggulan komparatif (comparative advantage) untuk
dikembangkan secara berkesinambungan. Ini berarti mulai meletakkan dasar
kebijakan peningkatan produksi yang didasarkan pada potensi alam, penguasaan
teknologi, kemampuan manajerial dan konservasi sumber daya alam.
Efisiensi dapat terjadi apabila dalam penentuan wilayah untuk industri
pengolahan dan pemasaran harus sinkron dengan wilayah produksi. Sinkronisasi ini
akan mendorong terciptanya efektivitas dalam perdagangan suatu komoditas. Karena
suatu komoditas yang hanya unggul secara komparatif dapat didorong keunggulan
kompetitifnya melalui pewilayahan industri pengolahan dan pemasaran yang tepat.
Pengembangan agribisnis tidak dapat hanya mengandalkan kegiatan pada on-
farm saja. Tetapi diperlukan adanya terobosan pengintegrasian sistem agribisnis yang
memungkinkan terciptanya nilai tambah (value added) yang berarti bagi setiap
komoditas sektor pertanian. Pengembangan sistem agribisnis regional secara umum
harus menghasilkan produk yang lebih beragam bukan hanya didominasi oleh produk-
produk primer sehingga struktur perekonomian regional tidak hanya berbasis
pertanian.
Pengembangan sistem agribisnis dapat dilakukan dengan pendalaman struktur
agro-industri sebagai suatu subsistem dalam agribisnis. Pendalaman agro-industri
lebih ditekankan pada industri hilir pengolahan hasil pertanian dengan
mempertimbangkan pengembangan industri hulu. Setelah itu dilakukan daya dorong
inovasi (creative innovationdriven). Inovasi kreatif menekankan pada peningkatan
kemajuan teknologi pada setiap subsistem agribisnis. Tuntutan sumber daya manusia
yang semakin berkualitas sangat diperlukan guna mengimbangi kemajuan teknologi
yang ada. Tahapan pengembangan sistem agribisnis di setiap wilayah tidak sama,
karena sangat ditentukan oleh karakteristik dan keragaman antar daerah, baik secara
fisik maupun sosial ekonomi dan budaya masyarakat
Pada umumnya, pengembangan agribisnis dilakukan berdasarkan pada
persebaran sumber daya fisik, sosial dan ekonomi yang mencakup beberapa wilayah
administrasi pemerintahan maupun beberapa wilayah pelayanan Departemen/Dinas.
Oleh karena itu, diperlukan adanya koordinasi harmonis antar-Departemen / Lembaga,
antar-Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten demi membangun suatu sistem
(agribisnis) yang efektif dan efisien.
Pembangunan ekonomi lokal yang berbasis pada pertanian merupakan sebuah
proses orientasi. Proses tersebut berkaitan dengan banyak faktor, antara lain adalah :
 Terbentuknya institusi/ lembaga baru
 Pengembangan industri alternatif
 Peningkatan kemampuan manajerial pelaku usaha
 Identifikasi pasar
 Transfer ilmu pengetahuan dan teknologi
 Mendorong terbentuknya perusahaan baru
 Peningkatan entrepreneurship
Dengan pembangunan ekonomi lokal, diharapkan kegiatan pertanian akan
berorientasi pada pasar (konsumen). Orientasi pasar menunjukkan bahwa setiap
lokasi dapat menghasilkan komoditas pertanian yang spesifik. Dengan demikian akan
terjadi spesialisasi produksi.
Saat ini dan masa yang akan datang, orientasi sektor agribisnis telah berubah
kepada orientasi pasar. Dengan berlangsungnya perubahan preferensi konsumen
yang semakin menuntut atribut produk yang lebih rinci dan lengkap, maka motor
penggerak sektor agribisnis harus berubah dari usahatani kepada industri pengolahan
(agroindustri). Untuk mengembangkan sektor agribisnis yang modern dan berdaya
saing, agroindustri menjadi penentu kegiatan pada subsistem usahatani dan
selanjutnya akan menentukan subsistem agribisnis hulu.

Kendala Pengembangan Agribisnis


Dalam pengembangan sektor pertanian ke depan masih ditemui beberapa
kendala, terutama dalam pengembangan sistem pertanian yang berbasiskan
agribisnis dan agroindustri. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan pertanian
khususnya petani skala kecil, antara lain:
 Pertama, lemahnya struktur permodalan dan akses terhadap sumber
permodalan. Salah satu faktor produksi penting dalam usaha tani adalah modal.
Besar-kecilnya kala usaha tani yang dilakukan tergantung dari pemilikan modal.
Secara umum pemilikan modal petani masih relatif kecil, karena modal ini
biasanya bersumber dari penyisihan pendapatan usaha tani sebelumnya.
Untuk memodali usaha tani selanjutnya petani terpaksa memilih alternatif lain,
yaitu meminjam uang pada orang lain yang lebih mampu (pedagang) atau
segala kebutuhan usaha tani diambil dulu dari toko dengan perjanjian
pembayarannya setelah panen. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan
petani sering terjerat pada sistem pinjaman yang secara ekonomi merugikan
pihak petani.
 Kedua, ketersediaan lahan dan masalah kesuburan tanah. Kesuburan tanah
sebagai faktor produksi utama dalam pertanian makin bermasalah.
Permasalahannya bukan saja menyangkut makin terbatasnya lahan yang dapat
dimanfaatkan petani, tetapi juga berkaitan dengan perubahan perilaku petani
dalam berusaha tani. Dari sisi lain mengakibatkan terjadinya pembagian
penggunaan tanah untuk berbagai subsektor pertanian yang dikembangkan
oleh petani.
 Ketiga, pengadaan dan penyaluran sarana produksi. Sarana produksi sangat
diperlukan dalam proses produksi untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
Pengadaan sarana produksi itu bukan hanya menyangkut ketersediaannya
dalam jumlah yang cukup, tetapi yang lebih penting adalah jenis dan
kualitasnya. Oleh karena itu pengadaan sarana produksi ini perlu direncanakan
sedemikian rupa agar dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan dan
dipergunakan pada waktu yang tepat.
 Keempat, terbatasnya kemampuan dalam penguasaan teknologi. Usaha
pertanian merupakan suatu proses yang memerlukan jangka waktu tertentu.
Dalam proses tersebut akan terakumulasi berbagai faktor produksi dan sarana
produksi yang merupakan faktor masukan produksi yang diperlukan dalam
proses tersebut untuk mendapatkan keluaran yang diinginkan. Petani yang
bertindak sebagai manajer dan pekerja pada usaha taninya haruslah memiliki
pengetahuan dan keterampilan dalam penggunaan berbagai faktor masukan
usaha tani, sehingga mampu memberikan pengaruh terhadap peningkatan
produktivitas dan efisiensi usaha yang dilakukan.
 Kelima, lemahnya organisasi dan manajemen usaha tani. Organisasi
merupakan wadah yang sangat penting dalam masyarakat, terutama kaitannya
dengan penyampaian informasi (top down) dan panyaluran inspirasi (bottom up)
para anggotanya. Dalam pertanian organisasi yang tidak kalah pentingnya
adalah kelompok tani. Selama ini kelompok tani sudah terbukti menjadi wadah
penggerak pengembangan pertanian di pedesaan. Hal ini dapat dilihat dari
manfaat kelompok tani dalam hal memudahkan koordinasi, penyuluhan dan
pemberian paket teknologi.
 Keenam, kurangnya kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia untuk sektor
agribisnis. Petani merupakan sumberdaya manusia yang memegang peranan
penting dalam menentukan keberhasilan suatu kegiatan usaha tani, karena
petani merupakan pekerja dan sekaligus manajer dalam usaha tani itu sendiri.
Ada dua hal yang dapat dilihat berkaitan dengan sumberdaya manusia ini, yaitu
jumlah yang tersedia dan kualitas sumberdaya manusia itu sendiri. Kedua hal
ini sering dijadikan sebagai indikator dalam menilai permasalahan yang ada
pada kegiatan pertanian.

Strategi Pengembangan Agribisnis


Ada beberapa aspek yang dapat ditempuh dalam upaya mengembangkan
kegiatan agribisnis diantaranya :
1. Pembangunan Agribisnis merupakan pembangunan industri dan pertanian serta
jasa yang dilakukan sekaligus, dilakukan secara simultan dan harmonis.
Yang sering kita dapatkan selama ini adalah industri pengolahan
(Agroindustri) berkembang di Indonesia, tapi bahan bakunya dari impor. Dipihak
lain, peningkatan produksi pertanian tidak diikuti oleh perkembangan industri
pengolahan ( Membangun industri berbasis sumberdaya domestik/lokal). Sehingga
perlu pengembangan Agribisnis Vertikal.
2. Membangun Agribisnis adalah membangun keunggulan bersaing diatas
keunggulan komparatif
Dalam arti bahwa membangun daya saing produk agribisnis melalui
transformasi keunggulan komparatif menjadi keunggulan bersaing, yaitu dengan
cara:
 Mengembangkan subsistem hulu (pembibitan, agro-otomotif, agro-kimia) dan
pengembangan subsistem hilir yaitu pendalaman industri pengolahan ke lebih
hilir dan membangun jaringan pemasaran secara internasional, sehingga pada
tahap ini produk akhir yang dihasilkan sistem agribisnis didominasi oleh produk-
produk lanjutan atau bersifat capital and skill labor intensive.
 Pembangunan sistem agribisnis yang digerakkan oleh kekuatan inovasi.
Dengan demikian produk utama dari sistem agribisnis pada tahap ini
merupakan produk bersifat Technology intensive and knowledge based.
 Perlu orientasi baru dalam pengelolaan sistem agribisnis yang selama ini hanya
pada peningkatan produksi harus diubah pada peningkatan nilai tambah sesuai
dengan permintaan pasar serta harus selalu mampu merespon perubahan
selera konsumen secara efisien..
3. Menggerakkan kelima subsistem agribisnis secara simultan, serentak dan
harmonis.
Untuk menggerakkan Sistem agribisnis perlu dukungan semua pihak yang
berkaitan dengan agribisnis/ pelaku-pelaku agribisnis mulai dari Petani, Koperasi,
BUMN dan swasta serta perlu seorang Dirigent yang mengkoordinasi
keharmonisan Sistem Agribisnis.
4. Menjadikan Agroindustri sebagai Leading Sector.
Agroindustri adalah industri yang memiliki keterkaitan ekonomi (baik
langsung maupun tidak langsung) yang kuat dengan komoditas pertanian.
Keterkaitan langsung mencakup hubungan komoditas pertanian sebagai
bahan baku (input) bagi kegiatan agroindustri maupun kegiatan pemasaran dan
perdagangan yang memasarkan produk akhir agroindustri. Sedangkan keterkaitan
tidak langsung berupa kegiatan ekonomi lain yang menyediakan bahan baku(input)
lain diluar komoditas pertanian, seperti bahan kimia, bahan kemasan, dll. Dalam
mengembangkan agroindustri, tidak akan berhasil tanpa didukung oleh
agroindustri penunjang lain seperti industri pupuk, industri pestisida, industri
bibit/benih, industri pengadaan alat-alat produksi pertanian dan pengolahan
agroindustri seperti industri mesin perontok dan industri mesin pengolah lain.
5. Membangun Sistem agribisnis melalui pengembangan Industri Perbenihan
Industri Perbenihan merupakan mata rantai terpenting dalam pembentukan
atribut produk agribisnis secara keseluruhan. Atribut dasar dari produk agribisnis
seperti atribut nutrisi (kandungan zat-zat nutrisi) dan atribut nilai (ukuran,
penampakan, rasa, aroma dan sebagainya) serta atribut keamanan dari produk
bahan pangan seperti kandungan logam berat, residu pestisida, kandungan racun
juga ditentukan pada industri perbenihan. Oleh karena itu Pemda perlu
mengembangkan usaha perbenihan (benih komersial) berdasar komoditas
unggulan masing-masing daerah, yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi
industri perbenihan modern.
6. Dukungan Industri Agro-otomotif dalam pengembangan sistem agribisnis.
Perlu adanya rental Agro-otomotif yang dilakukan oleh Koperasi Petani atau
perusahaan agro-otomotif itu sendiri.
7. Dukungan Industri Pupuk dalam pengembangan sistem agribisnis.
Pada waktu yang akan datang industri pupuk perlu mengembangkan sistem
Networking baik vertikal (dari hulu ke hilir) maupun Horisontal (sesama perusahaan
pupuk), yaitu dengan cara penghapusan penggabungan perusahaan pupuk
menjadi satu dimana yang sekarang terjadi adalah perusahaan terpusat pada satu
perusahaan pupuk pemerintah. Oleh karena perusahaan-perusahaan pupuk harus
dibiarkan secara mandiri sesuai dengan bisnis intinya dan bersaing satu sama lain
dalam mengembangkan usahanya. Sehingga terjadi harmonisasi integrasi dalam
sistem agribisnis. Serta perlu dikembangkan pupuk majemuk, bukan pupuk tunggal
yang selama ini dikembangkan.
8. Pengembangan Sistem Agribisnis melalui Reposisi Koperasi Agribisnis.
Koperasi perlu mereformasi diri agar lebih fokus pada kegiatan usahanya
terutama menjadi koperasi pertanian dan mengembangkan kegiatan usahanya
sebagai koperasi agribisnis. Untuk memperoleh citra positif layaknya sebuah
koperasi usaha misalnya: Koperasi Agribisnis atau Koperasi Agroindustri atau
Koperasi Agroniaga yang menangani kegiatan usaha mulai dari hulu sampai ke
hilir.
9. Pengembangan Sistem Agribisnis melalui pengembangan sistem informasi
agribisnis.
Dalam membangun sistem informasi agribisnis, ada beberapa aspek yang
perlu diperhatikan adalah informasi produksi, informasi proses, distribusi,
dan informasi pengolahan serta informasi pasar.
10. Membumikan pembangunan sistem Agribisnis dalam otonomi daerah
Pembangunan Ekonomi Desentralistis-Bottom-up, yang mengandalkan
industri berbasis Sumberdaya lokal. Pembangunan ekonomi nasional akan terjadi
di setiap daerah.
11. Dukungan perbankan dalam pengembangan sistem agribisnis di daerah.
Untuk membangun agribisnis di daerah, peranan perbankan sebagai
lembaga pembiayaan memegang peranan penting. Ketersediaan skim
pembiayaan dari perbankan akan sangat menentukan maju mundurnya agribisnis
daerah. Selama ini yang terjadi adalah sangat kecilnya alokasi kredit perbankan
pada agribisnis daerah, khususnya pada on farm agribisnis.
12. Pengembangan strategi pemasaran
Pengembangan strategi pemasaran menjadi sangat penting peranannya
terutama menghadapi masa depan, dimana preferensi konsumen terus mengalami
perubahan, keadaan pasar heterogen. Dari hal tersebut, sekarang sudah mulai
mengubah paradigma pemasaran menjadi menjual apa yang diinginkan oleh pasar
(konsumen).
13. Pengembangan sumberdaya agribisnis.
Dalam pengembangan sektor agribisnis agar dapat menyesuaikan diri
terhadap perubahan pasar, diperlukan pengembangan sumberdaya agribisnis,
khususnya pemanfaatan dan pengembangan teknologi serta pembangunan
kemampuan Sumberdaya Manusia (SDM) Agribisnis sebagai aktor
pengembangan agribisnis.
14. Pengembangan Pusat Pertumbuhan Sektor Agribisnis.
Perlu pengembangan pusat-pusat pertumbuhan sektor agribisnis
komoditas unggulan yang didasarkan pada peta perkembangan komoditas
agribisnis, potensi perkembangan dan kawasan kerjasama ekonomi.
15. Pengembangan Infrastruktur Agribisnis.
Dalam pengembangan pusat pertumbuhan Agribisnis, perlu dukungan
pengembangan Infrastruktur seperti jaringan jalan dan transportasi (laut, darat,
sungai dan udara), jaringan listrik, air, pelabuhan domestik dan pelabuhan ekspor
dan lain-lain.
16. Kebijaksanaan terpadu pengembangan agribisnis.
Ada beberapa bentuk kebijaksanaan terpadu dalam pengembangan agribisnis.
 Kebijaksanaan pengembangan produksi dan produktivitas ditingkat
perusahaan.
 Kebijaksanaan tingkat sektoral untuk mengembangkan seluruh kegiatan usaha
sejenis.
 Kebijaksanaan pada tingkat sistem agribisnis yang mengatur keterkaitan antara
beberapa sektor.
 Kebijaksanaan ekonomi makro yang mengatur seluruh kegiatan perekonomian
yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap agribisnis.
17. Pengembangan agribisnis berskala kecil.
Ada 3 kebijaksanaan yang harus dilakukan adalah:
 Farming Reorganization
Reorganisasi jenis kegiatan usaha yang produktif dan diversifikasi usaha
yang menyertakan komoditas yang bernilai tinggi serta reorganisasi
manajemen usahatani. Dalam hal ini disebabkan karena keterbatasan lahan
yang rata-rata kepemilikan hanya 0,1 Ha.
 Small-scale Industrial Modernization
Modernisasi teknologi, modernisasi sistem, organisasi dan manajemen,
serta modernisasi dalam pola hubungan dan orientasi pasar.
 Services Rasionalization
Pengembangan layanan agribisnis dengan rasionalisasi lembaga
penunjang kegiatan agribisnis untuk menuju pada efisiensi dan daya saing
lembaga tersebut. Terutama adalah lembaga keuangan pedesaan, lembaga
litbang khususnya penyuluhan.
18. Pembinaan Sumberdaya Manusia untuk mendukung pengembangan agribisnis
dan ekonomi pedesaan.
Dalam era Agribisnis, aktor utama pembangunan agribisnis dan aktor
pendukung pembangunan agribisnis perlu ada pembinaan kemampuan aspek
bisnis, manajerial dan berorganisasi bisnis petani serta peningkatan wawasan
agribisnis. Dalam hal ini perlu reorientasi peran penyuluhan pertanian yang
merupakan lembaga pembinaan SDM petani. Oleh karena itu perlu peningkatan
pendidikan penyuluh baik melalui pendidikan formal, kursus singkat, studi banding.
Serta perlu perubahan fungsi BPP yang selama ini sebagai lembaga penyuluhan
agro-teknis, menjadi klinik konsultasi agribisnis.

Contoh Keberhasilan Pengembangan Agribisnis Hortikultura di Thailand


Thailand dikenal dunia sebagai negeri Gajah Putih. Namun di sejumlah negara
termasuk di Indonesia, Thailand dikenal pula sebagai negara penghasil Hortikultura
dan diakui bahwa Thailand telah berhasil pengembangkan agribisnis buah-buahan
dan sayurs-ayuran. Terobosan Thailand dalam dunia agribisnis bukan hanya berhasil
meningkatkan kemapanan sektor agribisnis dalam ekonomi nasional Thailand, tetapi
juga berhasil meningkatkan citra positif Thailand sebagai pelopor pengembangan
agribisnis di kawasan ASEAN.
Sistem agribisnis Thailand, khususnya dalam pengembangan komoditas
hortikultura (buah-buahan, sayur-sayuran, dan tanaman hias) mendapat pengakuan
internasional dalam satu dasa warsa terakhir. Komoditas buah-buahan dan sayur-
sayuran telah menjadi komoditas potensial ekspor Thailand, di samping produk-produk
agribisnis lainnya seperti daging dan ternak unggas.
Perkembangan sektor agribisnis tersebut merupakan hasil kerja keras dengan
perencanaan yang matang dan terpadu, serta melibatkan semua unsur yang terkait
dengan memanfaatkan potensi sumberdaya yang ada. Perkembangan tersebut
didukung oleh komitmen tinggi dari semua pihak yang berkompeten untuk
mewujudkan sisten agribisnis Thailand yang tangguh dan kompetitif, baik di pasar
domestik, regional maupun internasional. Misal, dukungan dari Menteri Pertanian dan
Koperasi dan Universitas Kasetsart sebagai institusi pendidikan tinggi pertanian yang
terkenal, terutama dalam melakukan terobosan riset rekayasa pertanian dan
bioteknologi. Demikian pula dukungan dari lembaga keuangan dan pembiayaan
seperti Bank of Agriculture and Agricultural Cooperation (BAAC), melalui pembiayaan
dengan kredit berbunga rendah. Hal ini dimaksudkan untuk menurunkan biaya
produksi, akhirnya harga produksi menjadi lebih rendah (low cost) sehingga lebih
kompetitif di pasar domestik dan di pasar internasional.
► Keunggulan Pengembangan Agribisnis Thailand
Berikut ini dipaparkan beberapa keunggulan sistem pengembangan agribisnis
Thailand, mungkin berguna sebagai informasi bagi pengembangan agribisnis di
Indonesia pada umumnya dan KTI pada khususnya, sebagai berikut:
1. Thailand memiliki keunggulan di bidang penelitian dan pengembangan untuk
menghasilkan bibit unggul melalui rekayasa bioteknologi, bioproses dan kultur
jaringan.
2. Keunggulan dalam memfungsikan Badan Penyuluhan Pertanian Daerah
(BPPD), selain berfungsi sebagai sarana bimbingan pertanian, juga sebagai
sarana penyedia informasi pasar bagi petani dalam kaitannya dengan
perencanaan jenis dan kuantitas produksi.
3. Keunggulan dalam mengidentifikasi komoditas yang memiliki prospek bisnis
dan pertumbuhan pasar yang tinggi, sehingga pengembangannya diarahkan
untuk komoditaskomoditas potensial tersebut. Dengan kata lain, Thailand lebih
memfokuskan pengembangan pada beberapa komoditas yang memiliki prospek
bisnis tinggi, terutama untuk menembus pasar luar negeri.
4. Keunggulan dalam memainkan strategi pemasaran yang andal dan efektif
untuk penetrasi pasar, terutama pasar ekspor. Untuk tujuan penetrasi tersebut,
maka semua perwakilan Thailand di luar negeri ditugaskan melakukan market
intelejent untuk mengumpulkan informasi pemasaran, dan selanjutnya informasi
tersebut disebarkan melalui media massa dan lembaga-lembaga terkait seperti
BPPD.
5. Kemampuan yang tinggi untuk mempendek rantai pemasaran komoditas,
sehingga marjin pemasaran relatif rendah. Dengan kata lain perbedaan antara
harga yang dibayar konsumen dan harga yang diterima petani (harga produsen)
relatif kecil, sehingga integrasi vertikal sistem komoditas beroperasi dengan efisien.
Di samping itu, intervensi pemerintah dalam pengaturan pasar relatif kecil, yang
memungkinkan mekanisme pasar dapat berjalan dan efisiensi sistem pemasaran
dapat tercipta. Pemerintah Thailand lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan
controller dari pada sebagai regulator sistem pemasaran.
6. Kredit pertanian yang berbunga rendah dan tanpa agunan, terutama yang
disediakan oleh BAAC. Dalam hal penyaluran kredit perbankan, intervensi
pemerintah Thailand relatif kecil, kecuali dalam hal penyaluran kredit pertanian
yang tetap diintervensi dengan berbagai kebijakan, walaupun pihak perbankan
memiliki komitmen yang tinggi untuk menjalankan kebijakan tersebut.
7. Sistem pengembangan agribisnis diarahkan ke integrasi dengan agroindustri
hilir, dengan tujuan untuk menciptakan kegunaan (utility), terutama kegunaan
waktu (timeutility) dan kegunaan bentuk (form utility) melalui upaya pengolahan,
pengalengan dan pengemasan. Dengan penciptaan kegunaan waktu dan bentuk,
memungkinkan produk-produk pertanian dan hasil olahannya dapat bertahan lebih
lama dan menjangkau pasar lebih jauh.
Keunggulan-keunggulan tersebut secara terpadu menciptakan kekuatan
sinergik untuk mencapai integritas sistem komoditas agribisnis yang tinggi. Dengan
demikian, tidaklah berlebihan jika pengembangan sisten agribisnis di Thailand patut
dicontoh oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia dan Kawasan Timur Indonesia.
► Kiat-Kiat Pemasaran Produk Agribisnis Thailand
Sukses ekspor hortikultura Thailand menggambarkan bahwa banyak elemen
yang dibutuhkan untuk pertumbuhan agribisnis. Dalam usaha merambah pasar luar
negeri, Thailand memiliki kiat-kiat khusus di bidang pemasaran produk-produk
agribisnis, antara lain:
1. Perwakilan Thailand di luar negeri ditugaskan untuk melakukan market intelejent
untuk mengumpulkan informasi pemasaran, dan menelaah peluang-peluang pasar
yang potensial di negeri masing-masing tempat mereka bertugas.
2. Frekuensi keikutsertaan pengusaha agribisnis dalam trade fair di luar negeri
semakin ditingkatkan dengan tujuan promosi dan perkenalan produk, perkenalan
personal bisnis, serta mempelajari peluang-peluang kerjasama.
3. Upaya memperkenalkan produk agribisnis dan makanan khas Thailand dilakukan
dengan cara: (1) masyarakat Thailand di luar negeri mengundang rekan-rekannya
untuk acara seremonial sambil menikmati makanan khas Thailand; (2) mendirikan
restoran-restoran khas Thailand di luar negeri yang dilengkapi dengan acara
kesenian Thailand, di mana promosinya dibantu oleh masyarakat Thailand di
sekitar restoran tersebut; (3) menghidangkan berbagai produk makanan, buah-
buahan serta penampilan hiasan bunga pada semua acara kenegaraan; (4) pasar
swalayan di luar negeri dipasok dengan air cargo delivery dan sistem konsinyasi,
baik dengan atau tanpa membukan L/C.
4. Promosi di dalam negeri Thailand dilakukan melalui: (1) agrowisata, terutama
orchid farm yang menampilkan teknik budidaya, demonstrasi bunga hias dan
penawaran pasar; (2) kerjasama antara restoran dengan perusahaan biro perjalan
untuk memasukkan acara makan malam dalam rangkaian acara yang dijadwalkan;
(3) kerjasama antara media masa dengan pengusaha agribisnis untuk
mempromosikan produk-produk agribisnis Thailand dengan biaya yang rendah,
melalui penampilan gambar-gambar dan profil komoditasnya yang indah; (4) brosur
dan leaflet yang indah dan lengkap menggambarkan profil komoditas yang mudah
diperoleh di mana-mana; (5) upaya untuk mempromosikan daerah produsen baru
bagi masyarakat dari daerah lain terus digalakkan melalui pameran produk, dengan
harapan memperkenalkan potensi pengembangan daerah produsen baru tersebut
kepada masyarakat di daerah lain; (6) kerjasama terpadu antara pengusaha,
masyarakat dan pemerintah sangat langgeng dan berkesimbangungan, di mana
ide-ide dan motivasi pengusaha berkembang dengan mendapat dukungan dari
pemerintah untuk merealisasikannya.
5. Penampilan dan mutu produk mendapat perhatian serius dalam upaya menembus
persaingan di pasar global. Dengan demikian pengawasan mutu produk menjadi
suatu strategi penting untuk meraih pangsa pasar yang besar, di samping upaya-
upaya yang mengefisienkan operasi sistem komoditas. Penampilan produk
meliputi penyempurnaan tingkat keseragaman bentuk dan warna, keberhasilan,
dan teknik pengemasan, selain menjaga mutu yang tinggi.
6. Koordinasi antara instansi pemerintah dengan asoiasi-asosiasi sangat baik,
terutama dengan board of trade (BOT), Federation of Thai-industry Assoiation
(FTA), dan Thailand Banking Assosiation (TBA). Berbagai masukan yang berharga
dari asosiasiasosiasi tersebut menjadi pertimbangan dalam pengambilan kebijakan
yang berkaitan dengan upaya meningkatkan pangsa pasar produk agribisnis dan
agroindustri serta dukungan pendanaan yang cukup, di samping kebijakan-
kebijakan yang langsung berpengaruh terhadap perdagangan dan ekspor
komoditas.
7. Kebijakan kargo udara. Salah satu elemen penting dari keseluruhan strategi adalah
keterlibatan Thai Airways secara aktif untuk meningkatkan usaha-usaha itu.
Perusahaan penerbangan itu menyediakan ruang istimewa yang dialokasikan
untuk barang-barang yang tak tahan lama, ongkos ditetapkan pada tingkat yang
kompetitif, dan fasilitas cold storage diatur untuk pengiriman.
Hal ini menunjukkan bahwa sukses ekspor produk agribisnis Thailand
merupakan hasil kerja keras bertahun-tahun yang melibatkan banyak pihak (dari
raja/ratu sampai pekerja agribisnis, dari dosen/peneliti sampai masyarakat umum, dan
dari pemerintah/lembaga keuangan sampai pengusaha). Segala upaya yang terus-
menerus itu selalu berorientasi pada pasar. Kebijakan pemerintah secara realistik
dikaitkan dengan kemampuan dan kebutuhan industri. Yang sangat penting adalah
kegiatan agen-agen yang secara langsung melayani industri.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Pengembangan agribisnis tidak dapat dilakukan tanpa dukungan dari
perusahaan agribisnis, karena perusahaan agribisnislah yang memiliki rencana,
desain dan implementasi aktivitas agribisnis dalam sistem ekonomi kerakyatan. Untuk
keperluan tersebut maka pemerintah perlu mendorong pengembangan sistem dan
usaha agribisnis di bidang usaha industri rumah tangga, koperasi, kelompok usaha
berskala kecil, menengah dan besar. Dengan demikian pengembangan agribisnis
komoditas unggulan akan berdampak pada pembangunan daerah yang terarah dan
berkelanjutan.

Saran
Untuk menyukseskan progaram pengembangan sistem dan usaha agribisnis,
maka perlu disarankan beberapa hal sebagai berikut (1) Perlu advokasi secara intensif
mengenai strategi, kebijakan dan program pengembangan sistem dan usaha
agribisnis kepada departemen lain dan pemerintah daerah unruk mendapatkan
dukungan kebijakan dan program riil mereka untuk sinkronasi pelaksanaan program
sistem dan usaha agribisnis, dan (2) Perlu ditingkatkan kuantitas dan mutu
infrastruktur pertanian.
Berbagai kiat positif dari keberhasilan negara lain diharapkan dapat menjadi
pelajaran dan pertimbangan dalam perencanaan dan pelaksanaan pengembangan
agribisnis yang berorientasi pada pasar global, sehingga kinerja agribisnis dalam hal
pemasaran produk agribisnis/agroindustri dapat ditingkatkan. Peningkatan kinerja
pemasaran tersebut diharapkan akan mendorong peningkatan produktivitas agribisnis
di Indonesia, yang selanjutnya akan berdampak positif terhadap peningkatan
kesejahteraan masyarakat, khususnya petani.
DAFTAR PUSTAKA

Andri, Kuntoro B, dkk. 2015. Potensi Pengembangan Agribisnis Bunga Anggrek Di


Kota Batu Jawa Timur. Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum. Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian (BPTP) Malang, Jawa Timur.

Antara, M. 2000. Sistem Pengembangan Agribisnis Hortikultura Berkelanjutan Dan


Berdaya Saing Tinggi Di Kawasan Timur Indonesia. Jurusan Sosial Ekonomi
Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, Denpasar, Bali.

Departemen Pertanian. 2001. Pembangunan Sistem agribisnis Sebagai Penggerak


Ekonomi Nasional. Edisi Pertama. Jakarta.

Downey, W.D., dan S.P. Erickson. 1992. Manajemen Agribisnis. Ed. Ke-2, Cet. Ke-3.
R. Ganda.S. dan A. Sirait, Penerjemah. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari:
Agribusiness Management.

Hendayana, D. 2014. Model dan Strategi Pengembangan Pertanian Agribisnis.


BPBTPH Kecamatan Leles, Cianjur.

Hanafi, R. 2012. Ruang Lingkup dan Sistem Agribisnis (Online).


http://riezwanhanafi.blogspot.com/2012/02/ruang-lingkup-dan-sistem-
agribisnis.html. Diakses pada 07 Juni 2018.

Maulidah, S. 2012. Sistem Agribisnis. Lab of Agribusiness Analysis and Management,


Faculty of Agriculture, Universitas Brawijaya.

Purnomo, D. 2009. Subsistem Agribisnis (Online).


https://agroindustry.wordpress.com/2009/11/17/subsistem-agribisnis/. Diakses
pada 07 Juni 2018.

Ramadhan, S dkk. 2017. Rice Agribusi ness Development In Indrapuri Subdistrict,


Aceh Besar. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Universitas Syiah, Vol. 2, No.
1, Februari 2017: 220-231. Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian,
Universitas Syiah Kuala.

Sa’id, G. dan A. Harizt, I. 2004. Manajemen Agribisnis. Jakarta : Ghalia Indonesia

Saragih, B. 1998. Agribisnis Berbasis Peternakan: Kumpulan Pemikiran.


Institut Pertanian Bogor, Bogor.