Anda di halaman 1dari 4

1.

Senyawa polar
Senyawa polar adalah senyawa yang memperlihatkan adanya kutub positif
dan kutub negatif yang disebut dipol (dua polar) dalam molekulnya. Dipol
terjadi karena perbedaan sifat keelektronegatifan antara dua atom yang
berikatan sehingga penyebaran elektron dalam molekul tidak merata,
misalnya molekul HF, HCl, HI, NH3, dan H2O. Semakin besar perbedaan
keelektronegatifan, maka semakin polar molekul tersebut.
Kepolaran suatu molekul dapat diketahui dari harga momen dipolnya.
Momen dipol adalah hasil kali muatan dan jarak antara kedua atom yang
berikatan, yang dirumuskan sebagai:
µ=qxd
Di mana, µ = momen dipol (Debye)
q = muatan (ses)
d = jarak (Ao)
Semakin besar harga momen dipol, maka semakin polar molekul tersebut.
Molekul non polar memiliki momen dipol nol.

2. Momen dipole dan antaraksi dipole


A.Gaya Van Der Walls
Gaya Van Der Waals dalam ilmu kimia merujuk pada jenis tertentu gaya
antar molekul. Istilah ini pada awalnya merujuk pada semua jenis gaya
antar molekul, dan hingga saat ini masih kadang digunakan dalam
pengertian tersebut, tetapi saat ini lebih umum merujuk pada gaya-gaya
yang timbul dari polarisasi molekul menjadi dipol.

Hal ini mencakup gaya yang timbul dari dipol tetap (gaya Keesom), dipol
rotasi atau bebas (gaya Debye) serta pergeseran distribusi awan elektron
(gaya London). Nama gaya ini diambil dari nama kimiawan Belanda
Johannes van der Waals, yang pertama kali mencatat jenis gaya ini.
Gas mempunyai sifat bentuk dan volumenya dapat berubah sesuai
tempatnya. Jarak antara molekul-molekul gas relatif jauh dan gaya tarik
menariknya sangat lemah. Pada penurunan suhu, fasa gas dapat berubah
menjadi fasa cair atau padat. Pada keadaan ini jarak antara molekul-
molekulnya menjadi lebih dekat dan gaya tarik menariknya relatif lebih
kuat. Gaya tarik menarik antara molekul-molekul yang berdekatan ini
disebut gaya Van der walls.

Van der walls (1873) mengenali adanya gaya tarik dan gaya tolak yang
lemah di antara molekul-molekul gas dan menjadikannya alasan adanya
penyimpangan dari rumus:
PV = n RT.
Gaya Van der walls sangat lemah jika dibandingkan gaya ikatan antar
atom (ikatan ion dan ikatan kovalen). Untuk memutuskan gaya tersebut
diperlukan energi sekitar 0,4 – 40 kJ mol-1, sedangkan untuk ikatan
kovalen diperlukan sekitar 400 kJ mol-1. Gaya van der walls ini
bekerja bila jarak antarmolekul sudah sangat dekat, tetapi tidak melibatkan
terjadinya pembentukan ikatan antar atom. Misalnya, pada suhu -160°C
molekul Cl2 akan mengkristal dalam lapisan-lapisan tipis, dan gaya yang
bekerja untuk menahan lapisan-lapisan tersebut adalah gaya van der walls.
Gaya antarmolekul yang berperan dalam terjadinya gaya van der walls,
yaitu gaya dipol-dipol, gaya imbas, dan gaya dispersi (gaya London).

1.Gaya Dipol-Dipol
Gaya dipol-dipol terjadi pada molekul-molekul yang mempunyai dipol
permanen atau molekul polar.
Antaraksi antara kutub positif dari satu molekul dengan kutub negatif dari
molekul yang lain akan menimbulkan gaya tarik-menarik yang relatif
lemah. Kekuatan gaya dipol-dipol ini akan semakin besar bila molekul-
molekul tersebut mengalami penataan dengan ujung negatif dari molekul
yang lain. Misalnya, pada molekul-molekul HCl.

Gaya antar dipol terjadi antara molekul-molekul dipol atau polar, seperti
H2O, HCl, dan C2H5OH. Gaya antar dipol ini tidak sekuat gaya antar
molekul ionik tetapi cukup berarti untuk menaikkan titik didih dipol-dipol
ini dibandingkan dengan molekul lain yang massa molekulnya hampir
sama. Contohnya adalah dipol H2O dibandingkan dengan CH4 yang non
polar.

Arah vektor menuju ke atom yang lebih elektronegatif ujung plus


menunjukkan ke atom yang kurang elektronegatif. Gaya tarik antar dua
molekul polar disebut Gaya tarik dipol-dipol. Tarikan ini lebih kuat dari
pada tarikan antara molekul-molekul non polar.

2.Gaya Imbas
Suatu molekul polar mempunyai dipol permanen. Dipol permanen ini
menginduksi (mengimbas) awan elektron molekul non polar sehingga
terbentuk dipol terinduksi (terimbas).

Gaya imbas terjadi bila terdapat molekul dengan dipol permanen berantar
aksi dengan molekul dipol sesaat. Adanya molekul-molekul polar dengan
dipol permanen akan menyebabkan imbasan dari kutub molekul polar
kepada molekul non polar, sehingga elektron-elektron dari molekul non
polar tersebut mengumpul pada salah satu sisi molekul (terdorong atau
tertarik), yang menimbulkan terjadinya dipol sesaat pada molekul non
polar tersebut.

Terjadinya dipol sesaat akan berakibat adanya gaya tarik-menarik


antardipol tersebut yang menghasilkan gaya imbas.

3.Gaya Dispersi (gaya London)


Seorang ahli fisika dari Jerman Fritz London, tahun 1930 menguraikan
terjadinya tarikan yang lemah disebabkan oleh dipol imbasan sekejap atau
sesaat yang kemudian dikenal Gaya London. Terjadinya tarikan antar
elektron satu molekul dan inti molekul yang lain dapat dibayangkan
sebagai akibat menggesernya posisi atau getaran (Vibrasi) elektron dan
inti-inti itu. Suatu getaran dalam sebuah molekul mengimbas
(menginduksi) suatu geseran elektron-elektron suatu molekul yang
disebelahnya.

Gaya London atau gaya dispersi ini terjadi pada setiap molekul maupun
zat ionik, hanya pada senyawa ionik tidak begitu besar pengaruhnya. Akan
tetapi, pada molekul-molekul kovalen non polar gaya dispersi sangat besar
pengaruhnya.

Menurut London terjadinya gaya dispersi pada molekul non polar akibat
adanya pergerakan elektron mengelilingi inti secara acak, sehingga pada
suatu saat elektron-elektron tersebut akan mengumpul pada salah satu sisi
atom molekul. Pengumpulan elektron pada salah satu sisi atom molekul ini
mengakibatkan terjadinya dipol. Pada sisi yang banyak elektron tersebut
menjadi bermuatan negatif, sedangkan pada sisi yang lain terjadi kutub
positif. Dipol yang terjadi ini akan menghilang atau berganti tempat (sisi)
seiring dengan terus berputarnya elektron. Oleh karena sifatnya yang
hanya sesaat maka disebut derngan dipol sesaat.

Semakin banyaknya elektron dalam atom atau molekul akan memperbesar


gaya tarik dispersi, sehingga kekuatan gaya intermolekuler inilah yang
menentukan titik leleh dan titik didih suatui senyawa. Semakin kuat gaya
intermolekuler semakin tinggi titik leleh maupun titik didihnya.
Bentuk molekul juga yang menentukan kekuatan gaya dispersi. Molekul
yang kompak atau mampat hanya akan mengalami sedikit pergeseran
muatan, sedangkan molekul memanjang akan mengalami pergeseran yang
lebih besar sehingga mempunyai titik didih yang lebih tinggi.
Sebagai contoh, molekul hidrokarbon butana dan 2-metilpropan keduanya
memiliki rumus molekul C4H10, tetapi atom-atom disusun berbeda. Pada
butana atom karbon disusun pada rantai tunggal, tetapi 2-metilpropan
memiliki rantai yang lebih pendek dengan sebuah cabang.

Butana memiliki titik didih yang lebih tinggi karena gaya dispersinya lebih
besar. Molekul yang lebih panjang (dan juga menghasilkan dipol
sementara yang lebih besar) dapat lebih berdekatan dibandingkan molekul
yang lebih pendek 2-metilpropan.
Berikut ini contoh yang lain yang menunjukkan dominannya gaya dispersi.
Triklorometan, CHCl3, merupakan molekul dengan gaya dispersi yang
tinggi karena elektronegatifitas tiga klor. Hal itu menyebabkan daya tarik
dipol-dipol lebih kuat antara satu molekul dengan tetangganya.
Dilain pihak, tetraklorometan, CCl4, adalah non polar. Bagian luar
molekul tidak seragam - ini pada semua arah. CCl4 hanya bergantung pada
gaya dispersi. Karena itu yang memiliki titik didih yang lebih tinggi adalah
CCl4 tentunya, karena CCl4 molekulnya lebih besar dengan lebih banyak
elektron. Kenaikan gaya dispersi lebih dari sekedar menggantikan untuk
kehilangan interaksi dipol-dipol.

Mudah tidaknya suatu molekul membentuk dipol sesaat disebut


polarisabilitas. Hal ini berkaitan dengan massa molekul relatif (Mr) dan
bentuk molekul. Massa molekul relatif berkaitan dengan jumlah elektron
dalam molekul maka makin mudah mengalami polarisasi sehingga makin
kuat gaya Londonnya.
Dari tabel dapat dilihat bahwa HI memiliki titik didih yang lebih tinggi
daripada HCl sehingga lebih polar dari HI. Massa molekul relatif HI lebih
besar daripada HCl sehingga titik didih HI lebih tinggi dari HCl. Hal ini
menunjukkan bahwa Gaya London lebih dapat digunakan dalam
membandingkan sifat zat dengan massa molekul relatif yang jauh
berbeda.
3. Momen dipole dan antaraksi dipole pada senyawa polar