Anda di halaman 1dari 4

A.

Proses Ekstruksi
Ekstruksi banyak di gunakan dalam membuat produk plastik, biasannya secara
sederhana menyangkut pelelehan bahan baku granul atau bubuk dalam alat screw dan
produk keluar secara kontinyu.
Fungsi-fungsi yang dijalankan pada ektruksi meliputi:
a. Mengumpankan bana baku secara kontinyu ke screw ektruksi
b. Melelehkan plastik dengan pemanasan
c. Mengalirkan bahan ke die, dengan suhu, komponen yang seragam. Jika ada gas
maka harus dikeluarkan
d. Melakukan tekan-kempa lelehan tersebut
e. Mengalirkan bahan lelehan ke die dengan laju tetap
f. Mengubah lelehan menajdi bentuk yang diinginkan (sesuai die)
g. Mendinginkan produk di bawah titik pemadatannya agar bentk fisiknya tetap

Pada proses ekstruksi tedapat pegaruh yang dapat mengubah bentuk fisik
a. Pelelehan
b. Perentangan molekul
c. Pengarahan molekul sesuai arah ekstruksi
d. Pengeluaran gas-gas yang tejebak
e. Dispersi adiktif, zat warna, dan lain-lain
f. Pencampuran komponen menjadi blend stabil

Reaksi yang terjadi pada proses degradasi (termal dan oksidatif)


a. Pemutusan rantai
b. Pengikat-silangan rantai
c. Pelukaran (unzip)
d. Pengurai struktur (misal : HCl dari PVC)
e. Oksidasi (penghilangan karbonil, keton, ketakjenuhan, dan lain-lain) karena
biasanya reaksi tersebut tidak diingkinkan

B. Pengikat-silangan polietilena
Granul PE yang mengandung peroksida sebagai selimut kawat pada suhu di bawah suhu
dekomposisi peroksidanya. Perokisa bertindak sebagai inisiator, produk ektruksi di
proses pada suhu tinggi dengan waktu paruh peroksidannya yang singkat. Penguraian
peoksida radikal yang memicu reaksi pengikat-silang.

Disosiasi temal : I -> R.+R. (atau R1+R2)

Penarikan hidrogen : R+PH -> RH+P


Rekombinasi/gabung-ulang : R.+P. -> R-P
Rekombinasi : R.+R. -> R-P
Ikat-silang : P.+P. -> P-P
Dengan I = peroksida, R./R1/R2 = radikal peoksida
PH = polimer, P. = radikal polimer (-CH2-CH-CH2)

Tedapat 2 kelemahan pada pengikat silang ini, yakni resiko penguraian peroksida
(sehingga tejadi ikat-silang terlalu cepat/prematur scorching) dan juga lambatnya
proses. Suhu dan geseran pada ektrudwe harus terkontrol, tekadang memakai ant-
scroching agar ikat-silang tertunda.
Proses sioplas-E. Karena pada pengikat-silang memakai dikumil peroksida sukar
dilakukan secara praktis. Peusahaan Dow Corning pada awal 1970-an mengembangkan
proses sioplas E pada proses reaktif dan berhasil menghasilkan PE graf-silana pada
ekstudernya. Ikat-silang dibentuk lewat ikatan kondensasi Si-O-Si antar dua rantai PE
graft dengan adanya air, dengan metode ini suhu tidak selalu rendah dan tidak perlu
ada tabung vulkanisasi kontinyu yang banyak mengonsumsi tempat.

Untuk membuat PE graft-silana maka granul PE (misal vinil trimetoksi silena) serta
pengahasil radikal bebas peroksida dicampur dan di reaksikan dalam ekstuder sehingga
tejadi graffing silana di rantai molekul polimer. Peoksida menarik hidrogen dari rantai
utama sehingga monomer vinil dapat melakukan graffing tesebut.

TAMBAH GRAMBAR REAKSI

PE yang di grafft itu kemudian diproses ektruksi biasa atau dicetak menjadi produk
yang diharapkan. Tahap ikat silang mencakup pemaparan produk dalm air panas, uap
air atau lembaban tinggi dengan adanya katalis kondensasi silanol (misal dibutil timah
dilaurat). Silana tehidrolisis oleh air membentuk silanol lalu membentuk silanol
membentuk iakt-silang Si-O-Si.
Dikenal dua variasi proses : sioplas dan monosil. pada sioplas prosesnya dua tahap dan
pada monosil komponen-komponen diukur terpisah lalu masuk ekstruder. Tejadi
grafting pada bagian awaal screw dengan penambahan katalis ikat-silang. Teknologi ini
banyak diaplikasikan untuk pembuatan produk polimer seperti EVA,PP,PS, serta PVC.

GAMBAR REAKSI

C. Proses reaktif lain


Ada berbagai yang dapat dilakukan secara ekstruksi yang dikelompokkan sebagai
berikut: degradasi terkontrol, graffting monomer polimer, grafffting dua polimer ke
kopolimer, pengubahan gugus samping (funsgisonalisasi), sampai polimerisasi in-situ.
a. Degradasi terkontrol
Proses ini untuk mendapatkan produk dengan BM kecil dan polimer yang tahan
pemutusan rantai (vis), misalnya PP, rheologi terkontrol. Dengan pemerosesan pada
suhu tinggi dan pembentukan radikal bebas (misal peroksida organik), BM dapat
diperkecil dan distribusinya dipersempit. Alatnya dapat screw tunggal atau rangkap.
b. Reaksi graffting
Berlangsung reaksi ini dalam ektruder ialah:
- Garanul polimer dilelehkan pada daerah awal ekstrudernya
- Katalis peroksida diinjeksikan ke dalam ektruder, membentuk aktif pada rantai
utama polimer
- Monomer diinjeksikan ke lelehan tadi dan terkadang monomenya tercampur
- Komponen-komponen dicampur dengan laju geser tinggi
- Monomer dan produk samping dikeluarkan dari campuran lelehan pda daerah
pengatsiran vakum
- Lelehan reaksi diekstrusi dan dipeletkan sebagai bahan baku granul dan
dibentuk menjadi produk akhir

Selain reaksi graffting silana pada polietilena dikenal juga reaksi graffting seperti :
polietilena+vinil asetat/stirena, poliolefin+asam akrilat, EPR/EPMD+asam
akrilat/dibutil maleat/anhidra maleat dan sebagainya.

Kopolimer polietilena, yakni etilena dengan asam akrilat, etil akrilat, dan
sebagainya yang dapat dipolimerisasi secara lansung. Penerapan komersial
pemrosesan reaktif lain ialah pada halogenasi karet butil. Gas khlor/brom
diinjeksikan ke ekstruder dan bereaksi denga karet vutil. Elastomer halogenasi lebih
tahan kimia denga kuat sifat mekanismenya lebih baik.
Polistirena reakif diperkenalkan oleh Dow Chemicals, PS reaktif ini berkandungan
1 % oksazolin dalam rantai utamannya sehinnga dapat dilakukan grafft dengan
polimer yang berbeda. Inilah dasar terknologi baru koektrusi reaktif. PS reaktif
diblend dengan polimer lain yang bergugus fungsi koreaktif seperti karbosil,
anhidra, hidroksil fenolik, amina, merkaptan dan epoksi. Gugus koreaktif membuka
cincin aksazolin dan membentuk ikatan kovalen antarpolimernya. Reaksi antara
kedua polimer berlangsung beberapa detik saja dalam ekstruder screw rangkap
konvensional. Reaksinya mudah terkontrol, bebas hasil samping seperti air dan gas.

c. Graffting blend
Ada beberapa sistem yang terkenal.
Pertama. Transamidasi blend Nilon-6/Nilon-6,6. Kopolimerisasi imbas pemrosesan
dirintis oleh Allied Chmicals, ekstruksi nilon tersebut dengan adanya 1% trifinil
folsit menyebabkan pertukaran amida menjadi kopolime acak-semu yang ditandai
dengan satu puncak lelehan DC.
Kedua. Blend PET/poliomida 6,6. Biasanya blend inikurang kompetibel sehingga
produk yang dihasilkan getas. Dengan reaksi pertukaran ester-amida antara
keduanya, kompatibilitas didapatkan. Reaksinya dengan ektruksi kedua komponen
melalui screw rangkap pada suhu 200-3700C, katalis asam p-toluena sulfanat dalam
3-4 menit.
Ketiga. Nilon supra-liat (misal Zitel/Du pont). Dulu karet EPDM dipakai debagai
penghubah dampak pada nilon, sekarang graffting kimia EPDM pada nilon terbukti
lebihbaik. Prosesnya dua tahap : pertama graffting EPDM dan anhidra maleat,
disusul EPDM rekatif (termeleasi) di graft ke amina nilonnya.

TAMABHAKAN GAMBAR
Keempat. Blen Nilon-6/PP, ilmuan jepang melakukan blend pp dengan Nilon-6 bila
dibuat intepolmer PP graft anhidra maleat dulu.

TAMBAHKAN GAMBAR

D. Fungsionalisasi/modifikasi gugus samping/ujung


Dapat dilakukan dengan pemerosesan reaktif. Perubahan struktur kimia tesebut
memperbaiiki stabilitas kimia dan termal, serta sifat mekasnis dan optiknya. Misalnya
gugus samping kopolimer etilenavinil asetat (EVA). Kopolimer alkohol EVA dicampur
alkohol (1-oktanol) dan katalis natrium metoksida atau dibutil tmah dilaurat, maka
gugus esternya berubah menjadi alkohol. Produk dari pemerosesan ini memiliki sifat
mekanis yang lebih baik.
Lembaran lonomer diperliat merupakan contoh lain. Ionome etilena asam akrilat
diubah menjadi amina dengan memplastikkan resin basis dalam ekstruder screw ganda,
menginjekasikan amina dan mencmpurnya. Bila reaksi sempurna, lelehan dibuang zat
atzirnya, produk ektruksi merupakan lembaran bening.
Polimerisasi in-situ dari monome menjadi produk polimer dalam ektuder, baik
bermekanisme adisi maupun kondensasi. Pembuatan elastomer poliuretan (PU)
menggunakan reaksi kondensasi amida polieter serta polimerisasi anionik nilon-6 dari
kaproklaktam.

TAMBAHKAN GAMBAR
DAN GAMBAR ALUR PABRIK

E. Keunggulan pemerosesan rekatif


Teknik pemerosesan rekatif mempunyai keunggulan dibandingkan dengan cara reaktor
batch yaitu :
a. Volumlebih besar
b. Pembaruan permukaan lelehan berlangusng cepat
c. Kontrol suhu lebih baik, tidak terjad reaksi tak terkontrol
d. Perpindahan panas lebih baik
e. Kalor disetiap titik seragam
f. Polimerisasi tidak memerlukan pelarutg
g. Pamasukan monomer dapat kontinyu
h. Produk polimerisasi langsung jadi
i. Lebih ekonomis
j. Kecepatan reaksi dapat ditangani jauh lebih mudah
k. Waktu tinggal dapat diuatur dan dikendalikan