Anda di halaman 1dari 42

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

MAKALAH

Disusun dan diajukan guna memenuhi tugas terstruktur:

Mata Kuliah : Psikologi Pendidikan

Dosen Pengampuh : Dra. Nur Khikmatul A’in

Oleh :

Afit Rizki NIM. 40316001

Sherly Nabilla NIM. 40316014

Wahyu Setia Lailya NIM. 40316016

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

BUMIAYU

2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Adapun judul
makalah ini adalah “Psikologi Pendidikan”.
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah Psikologi Pendidikan. Meskipun penyusun telah berusaha untuk
menyelesaikan makalah ini semaksimal mungkin, tetapi seperti pada ungkapan "
Tak ada gading yang tak retak " kami menyadari bahwa makalah ini masih sangat
minim dan masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Kami berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Bumiayu, 31 Maret 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................... i

KATA PENGANTAR .................................................................................... ii

DAFTAR ISI ................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1

A. Latar Belakang ………………………………………………. 1

B. Rumusan Masalah……………………………………………….. 2

C. Tujuan ……………………………………………….. 2

BAB 11 PEMBAHASAN............................................................................... 3

A. Psikologi Pendidikan……………………………………………. 3

B. Pertumbuhan dan Perkembangan………………………………... 7

C. Belajar ………………………………………………. 10

D. Prinsip-prinsip Mengajar……………………………………….. 25

E. Potensi Peserta Didik…………………………………………....28

F. Evaluasi Pendidikan……………………………………………..34

BAB III PENUTUP....................................................................................... 40

A. Kesimpulan ………………………………………………………. 40

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 43

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses
dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan
pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui
tindakan-tindakan belajar.
Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara
psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak
mengherankan jika beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan
bahwa lapangan utama psikologi pendidikan studi psikologi pendidikan
adalah proses belajar. Dengan kata lain psikologi pendidikan memusatkan
perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan
faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.
Pada zaman modern saat ini di mana perilaku para pelajar sangat
memprihatinkan, banyak kasus para pelajar yang tidak menggambarkan
sebagai makhluk yang terpelajar seperti contoh kasus murid yang
menganiaya guru hingga tewas, serta pencurian uang yang nilainya
belasan juta rupiah dan masih banyak lagi kasus yang terjadi.
Gambaran di atas, jelas bahwa tenaga pendidik harus memahami
perkembangan psikologis, kognitif, afektif, dan psikomotorik para pelajar
jika menginginkan para pelajar tersebut tidak gagal di bangku sekolah,
lingkungan masyarakat serta tidak kehilangan masa depan mereka.
Disinilah pentingnya penguasaan psikologi pendidikan oleh tenaga
pendidik dan calon pendidik.
Untuk melaksanakan profesinya, tenaga pendidik sangat
memerlukan aneka ragam pengetahuan dan keterampilan keguruan yang
memadai dalam artian sesuai dengan tuntutan zaman dan kemajuan sains
serta teknologi. Diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai
guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi pendidikan. Dengan

1
menguasai psikologi pendidikan diharapkan calon guru dan guru
profesional dapat menghadapi masalah-masalah yang timbul di lingkungan
sekolah
B. Rumusan Masalah
1. Apa dan bagaimana psikologi pendidikan?
2. Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan peserta didik?
3. Apa itu belajar?
4. Bagaimana prinsip-prinsip mengajar?
5. Apa saja potensi-potensi peserta didik?
6. Bagaimana evaluasi pendidikan?

C. Tujuan
1. Mengetahui tentang psikologi pendidikan.
2. Mengetahui pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.
3. Mengetahui tentang belajar.
4. Mengetahui prinsip-prinsip mengajar.
5. Mengetahui potensi-potensi peserta didik.
6. Mengetahui evaluasi pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Psikologi Pendidikan

2
1. Pengertian Psikologi Pendidikan
Pengertian Psikologi Pendidikan yang diutarakan oleh
beberapa ahli tidak senantiasa selalu sama, ini disebabkan karena cara
pandang mereka yang berbeda tentang Psikologi pendidikan.
Berikut pernyataan beberapa ahli tentang Psikologi Pendidikan :
a. H.C. Whiterington
Psikologi Pendidikan ialah suatu studi yang sistematis tentang
proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan
pendidikan manusia.
b. Lester. D. Crow, Ph.D. dan Alice Crow, Ph. D.
Psikologi Pendidikan dapat dipandang sebagai ilmu
pengetahuan praktis, yang berguna untuk menerangkan belajar
sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan secara ilmiah dan
fakta-fakta sekitar tingkah laku manusia.
c. Carter V. Good
Psikologi Pendidikan adalah suatu studi tentang hakikat
belajar.
d. WS. Winkel SJ, M.SC.
Psikologi pendidikan ialah ilmu yang mempelajari pra
syarat = pra syarat (faktor-faktor) bagi pelajar di sekolah, berbagai
jenis belajar dan fase-fase dalam semua proses belajar.
Dari beberapa pernyataan di atas kita dapat menarik kesimpulan
bahwa Psikologi Pendidikan adalah ilmu yang menerangkan tentang
aktivitas individu dan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses
pendidikan.
2. Ruang Lingkup Pembahasan Psikologi Pendidikan
Gambaran ruang lingkup Psikologi Pendidikan adalah sebagai
berikut :
a. Pertumbuhan dan perkembangan pada umumnya.
b. Psikologi anak.
c. Hygine rohani.
d. Kecerdasan dan penilaiannya.
e. Perbedaan-perbedaan individu.
f. Hakikat perbuatan belajar.
g. Faktor-faktor yang mempengaruhi perbuatan belajar.
h. Soal transfer dalam belajar.
i. Test dan soal penilaian atau pengukuran.
j. Teori dasar tentang motivasi.
k. Arti motivation bagi pengajaran.

3
l. Perkembangan sosial dan emosional.
Gambaran di atas diambil setelah dilakukan penelitian selama 5
tahun terhadap 13 buku yang ditulis para ahli.
Perbandingan pembahasan antara penulis satu dengan yang lain
sangat bergantung pada cara pandang dan penekanan mereka, namun
pada umumnya mereka memberi daerah yang lebih luas terhadap soal
belajar, hal ini diungkapkan antara lain oleh:
a) Penelitian Earle E. Emme
Sembilan belas buku yang terbit sejak tahun 1933 sampai
dengan 1941, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa soal
belajar menempati urutan teratas, baru kemudian disusul soal-soal
yang berhubungan dengan perkembangan selama masa anak-anak
dan remaja.
b) Pernyataan Lester D. Crow,Ph.D. dan Alice Crow, Ph.D.
Psikologi pendidikan memberikan gambaran dan
penerangan tentang pengalaman-pengalaman belajar seorang
individu sejak dilahirkan sampai usia tua. Pokok persoalannya
adalah mengenai keadaan-keadaan yang dapat mempengaruhi
belajar.
3. Manfaat Mempelajari Psikologi Pendidikan
Secara kodrati manusia ingin mendidik keturunannya. Hal ini bisa
dilampaui secara efektif dan efisien bila pendidik memahami keadaan
anak didiknya. Untuk sampai kepada tujuan ini, perlu mengetahui
pertumbuhan dan perkembangan peserta anak sejak lahir bahkan sejak
masa konsepsi, dan seterusnya. Selanjutnya juga perlu mengetahui
cara-cara yang tepat dan jitu untuk melayani mereka, maka sudah
seharusnya memahami hal-hal yang berhubungan dengan masalah
belajar dan mengajar dan segala variasi serta metodenya.
4. Metode Psikologi Pendidikan
Menurut L. D. Crow Ph. D. dan Allice Crow Ph. D. metode yang
biasa digunakan para psikolog termasuk psikologi pendidikan adalah
sebagai berikut :
a. Metode Introspeksi

4
Pada masa permulaan para sarjana psikologi memakai
pendekatan melalui pengamatan terhadap diri sendiri, pengalaman,
penilaian terhadap apa yang dirasakannya serta proses berpikir.
b. Metode Observasi
Metode ini mendasarkan pada pengamatan terhadap obyek
penyelidikan, disertai aktivitas penulisan secara sistematis. Syarat
untuk melakukan observasi adalah sebagai berikut:
1) Mengabdi kepada tujuan-tujuan penyelidikan.
2) Direncanakan secara sistematis.
3) Dicatat dan dihubungkan secara sistematik dan proporsi yang
lebih umum
4) Dapat dicek dan dikontrol validitas, realibilitas dan
ketelitiannya sebagaimana data ilmiah lainnya.
c. Pendekatan Genetis
Ada dua cara yang bisa digunakan oleh para peneliti untuk
mempelajari pertumbuhan dan perkembangan individu, yaitu:
a. The cross-sectional (horizontal)
b. The longitudinal (vertikal)
d. Teknik-teknik Evaluasi
Di dalam teknik ini ada beberapa cara yang bisa dilakukan
antara lain :
1) Quisionair
2) Alat-alat pengukuran yang distandarisasi
3) Interview
4) Case history atau pendekatan klinis
e. Metode Eksperimen
Penelitian sengaja mengatur situasi dan kondisi untuk
mengamati secara teliti tentang peristiwa-peristiwa jiwa yang
dengan sengaja ditimbulkan. Dalam hal ini peneliti bisa menyusun
dua kelompok, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, dari
kedua kelompok ini diusahakan mempunyai sifat atau ciri-ciri yang
sama kecuali hanya faktor eksperimental saja. Kelompok kontrol
dipakai sebagai perbandingan, seberapa jauh kelompok eksperimen
dipengaruhi oleh faktor/pengaruh/independen variabel. Sumbangan
dari hasil percobaan terdahulu seperti Ebbinghaus mengenai fungsi

5
ingatan, Paclov tentang reflek bersyarat dan lain-lain mempunyai
arti penting dalam ilmu jiwa pendidikan.
f. Analisis Statistik
Bila peneliti telah mengumpulkan data dengan lengkap sesuai
dengan aturan penelitian, maka pada gilirannya yang sangat
penting adalah menganalisa data dan generalisasi. Sehubungan
dengan hal ini peneliti dituntut ketelitian dan kejeliannya, agar hasil
penelitian dapat dipertanggungjawabkan.

B. Pertumbuhan dan Perkembangan


1. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Ada beberapa ahli yang tidak membedakan istilah pertumbuhan dan
perkembangan dan ada pula yang membedakan istilah tersebut dengan
hati-hati, bahkan ada yang lebih setuju dengan istilah pertumbuhan saja.
Berikut ungkapan para ahli:
a) Prof DR. F.J. Monk, dkk
Perkembangan ialah suatu proses yang kekal dan tetap yang
menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih
tinggi, berdasarkan proses pertumbuhan, kemasakan dan belajar.
Pertumbuhan khusus dimaksudkan dalam ukuran badan dan fungsi
fisik yang murni sedang “perkembangan” lebih dapat
mencerminkan sifat yang khas mengenai gejala psikologis yang
menampak.
b) Lester D. Crow, Ph.D. dan Alice Crow, Ph.D.
Istilah pertumbuhan menunjuk kepada perubahan struktur dan
fisik individu dalam resam tubuh sejak masa konsepsi sampai masa
dewasa, istilah perkembangan lebih tepat digunakan untuk
menunjuk potensi-potensi tingkah laku dari dalam yang
terpengaruh oleh rangsangan lingkungan.
c) Prof. Dr. Soegarda Poerbakawatja.
Pertumbuhan suatu proses terhadap anak yang menunjukkan
perubahan padanya secara otomatis, sedangkan perkembangan
adalah suatu proses pertumbuhan yang menunjukkan adanya

6
pengaruh dalam yang menyebabkan bertambahnya tempo, kualitas
dalam pertumbuhan.
Dari pernyataan di atas menunjukkan bahwa istilah pertumbuhan
tidak bisa dipisahkan secara tajam, namun jika ingin dibedakan maka
pertumbuhan lebih menunjuk kepada perubahan fisik sedangkan
perkembangan lebih merujuk kepada perubahan psikis. Perubahan
tersebut terjadi akibat faktor internal dan eksternal.
2. Tanda-Tanda Pertumbuhan dan Perkembangan
Bila perubahan berkenaan dengan aspek-aspek fisik lahir yang
nampak maka kesulitan yang dihadapi oleh pihak yang berkepentingan
tidak terlalu menghambat, namun yang berhubungan dengan aspek psikis
kita harus mencari tanda-tanda atau manifestasi yang bisa diamati
Tanda-tanda tersebut telah diterangkan oleh Drs. A. Noerhadi Djamal
sebagai berikut
a) Perubahan dalam arti pertambahan ukuran atau berat serta perbedaan
antara ukuran/berat/kesanggupan.
b) Perubahan dalam arti kelengkapan ciri-ciri yang lama dan munculnya
ciri-ciri baru.
Dalam keadaan normal dengan tambahnya usia individu mengalami
perubahan panjang, berat dan kesanggupan baik jasmani maupun
kesanggupan psikis yang antar lain :
a) Perubahan penguasaan syaraf dan otot.
b) Perubahan kecakapan memahami sesuatu.
c) Perubahan pemilikan nilai-nilai dan inhibisi.
3. Periode Pertumbuhan dan Perkembangan
Individu senantiasa mengalami perubahan yang dinamis, pendidikan
harus menyesuaikan dengan keadaan kejiwaan anak-anak pada masa
tertentu, ini berarti pengetahuan dan pemahaman tentang fase-fase
perkembangan besar
Atas dasar pertimbangan praktis maka pembicaraan tentang
periodisasi ini mengutip pendapat prof. Dr. Kohnstam, sebagai berikut:
a. Masa vital kira-kira 0-2 tahun
b. Masa estetis kira-kira 2-7 tahun
c. Masa intelektual kira-kira 7-13 tahun
d. Mas sosial kira-kira 13/14-20/21 tahun
4. Prinsip-prinsip Pertumbuhan dan Perkembangan

7
Menurut H.C. Whetherington ada sembilan prinsip umum
pertumbuhan dan perkembangan. Namun tidak semua diuraikan di sini,
bukan karena tidak penting melainkan lebih menekankan yang paling
menonjol dan paling dirasakan dalam praktek nyata. Prinsip-prinsip
tersebut ialah :
a. Efek usaha-usaha belajar bergantung kepada tingkatan kedewasaan
yang telah tercapai.
b. Pertumbuhan lebih cepat jalannya dalam tahun-tahun pertama.
c. Setiap individu mempunyai tempo perkembangan sendiri.
d. Setiap golongan individu mengikuti pola perkembangan umum yang
sama.
e. Hereditet dan lingkungan sama pentingnya bagi pertumbuhan.
f. Sifat-sifat psikis timbul bersama-sama dan tidak secara berturut-turut.
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan
Bila kita menengok aliran Naturalisme dan Empirisme nampak
keduanya memiliki anggapan yang ekstrim hingga sulit dipertahankan di
samping memang tidak nampak dalam kehidupan riil, oleh karenanya
penulis lebih berkiblat kepada paham konvergensi yang prinsipnya faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan :
a. Hereditet
b. Lingkungan
Dari berbagai studi tentang penting dan besarnya pengaruh kedua
faktor terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu telah banyak
dilakukan orang antara lain :
a. Penelitian H. Thomas pada tahun 1957 yang dilaksanakan di Jerman
Timur hasilnya sebagai berikut :
1) Anak dari keluarga harmonis yang tidak naik kelas 2,9%
memperoleh nilai rata-rata 6,5 ke atas, 42,7% yang konsentrasinya
bertahan 43,6%.
2) Sedang anak dari keluarga tidak harmonis 12,3%, 25,2% dan
27,5%.
Semua perbedaan presentase antara dua golongan tersebut adalah
signifikan menurut statistik, ini berarti pengaruh lingkungan
cukup mantap.

8
b. Penelitian H.H. Goddard pada tahun 1914 pada Vineland Training
School, New York menunjukkan bahwa 300 orang penderita lemah
pikiran sebagian besar 77% adalah warisan dari keluarga mereka.
Kedua hasil penelitian di atas bisa di ambil suatu kesimpulan
bahwa dua faktor Hereditet dan Lingkungan memang sangat penting.

C. Belajar
1. Pengertian Belajar

a. Menurut Lyle E. Bourne, JR., Bruce R. Ekstrand :

“Learning as a relatively Permanent Change in behaviour


traceable to experince and practice”.

(Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang


diakibatkan oleh pengalaman dan latihan).

b. Clifford T. Morgan :

“Learning is any relatively permanent change in behaviour that is


a result of past experince”.

(Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang


merupakan hasil pengalaman yang lalu).

c. Dr. Musthofa Fahmi :

Sesungguhnya belajar adalah (ungkapan yang menunjuk) aktivitas


(yang menghasilkan) perubahan-perubahan tingkah laku atau
pengalaman.

d. Guilford

“Learning is any change in behaviour resulting from stimulation”.

(Belajar adalah perubahan tingkah laku yang dihasilkan dari


rangsangan)

9
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah
perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang terjadi karena latihan dan
pengalaman.

2. Jenis-jenis Belajar

Menurut lima ahli yang berasal dari Timur Tengah, Barat/Amerika


Serikat dan Indonesia mempunya cara pandang yang berbeda. Dari
beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa jenis belajar ada dua, yaitu :

a. Jenis belajar yang berkenaan dengan fisik/jasmani berupa


keterampilan.

b. Jenis belajar yang berkenaan dengan psikis, meliputi :

1) Pengetahuan dan Pemahaman

2) Sikap/Nilai/Norma

3) Jenis belajar sikap

3. Teori-teori belajar

Beberapa pendapat mengenai teori-teori belajar antara lain :

a. Aliran Skolastik

Kelompok ini beranggapan bahwa belajar adalah tidak lain


mengulang-ulang bahan yang dipelajari makin sering diulang makin
dikuasai.

b. Herbart

Jiwa manusia terdiri dari unsur-unsur kecil berupa tanggapan,


tanggapan-tanggapan tersebut masing-masing memiliki kekuatan.
Makin kuat suatu tanggapan maka makin besar peranannya dalam
tingkah laku individu. Kuat lemahnya suatu tanggapan dipengaruhi
oleh jelas dan tidaknya tanggapan tersebut serta tingkat frekuensinya.

c. Aliran Ilmu Jiwa Daya

10
Mereka beranggapan bahwa diri manusia memiliki berbagai daya,
misalnya daya mengenal, daya mengingat, daya berkhayal, daya
berpikir dan sejenisnya. Daya-daya tersebut dapat diperkuat dan
diperbaiki fungsinya dengan dilatih.

d. Teori Koneksionisme

Menurut teori ini belajar adalah pembentukan atau penguatan


hubungan antara stimulus dan respons.

e. Pavlosionisme

Peletak dasar aliran ini adalah Ivan Petrovitch Pavlov, seorang


spesialis dalam bidang fisiologi. Ia sangat Mashur karena
penelitiannya yang kemudian terkenal dengan istilah refleks bersyarat
(conditioned refleks)

f. Operant Conditioning

Teori ini dirintis oleh seorang tokoh terkenal, skinner namanya, ia


membuat perincian lebih dalam dan lebih jauh daripada Pavlov.

1) Respondent response/refleksive respons

Ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu, perangsang-


perangsang tersebut pada umumnya mendahului respons.

2) Operant responsive/instrumental respons

Respons jenis ini timbul dan berkembang diikuti oleh perangsang-


perangsang tertentu, perangsang-perangsang umumnya lebih
kemudian/setelah timbulnya respons, ia bersifat memperkuat.

g. Teori Gestalt

Inti pelajaran menurut teorema ini adalah mendapatkan “insight”


artinya : dimengertinya persoalan, dimengertinya hubungan tertentu,
antara berbagai unsur dalam situasi tertentu, hingga hubungan tersebut

11
jelas dan akhirnya didapatkan kemampuan memecahkan problem,
bukan mengulang-ulang bahan yang dipelajari.

Insight ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :

1) Sikap dan taraf kompleksitas situasi.

2) Pengalaman.

3) Intelegensi dan kematangan individu.

h. Teori Guthrie

Guthrie berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu secara


keseluruhan dapat dipandang sebagai serangkaian tingkah laku yang
terdiri dari unit-unit. Unit-unit ini merupakan respons dari stimulus
sebelumnya, respons ini kemudian menjadi stimulus dan menimbulkan
respons baru, demikian seterusnya.

i. Teori Medan

Tokoh teori ini semula adalah penganut aliran psikologi Gestalt


Mazhab Berlin, kemudian menempuh jalur lain terutama penelitiannya
tentang motivasi tokoh yang nama aslinya Kurt Lewin ini lahir di
Jerman dan menghabiskan hidupnya di Amerika.

Beberapa hasil penelitian adalah meliputi hasil belajar, hukuman dan


hadiah, berhasil dan gagal,energi cadangan

1) Hasil belajar ditandai dengan terjadinya perubahan dalam struktur


kognitif.

Setelah individu melaksanakan kegiatan belajar, isakan


tambah pengetahuannya, artinya tahu lebih banyak, berarti ruang
hidupnya lebih terdefferensiasikan, lebih banyak Sub Region yang
dimilikinya yang dihubungkan oleh jalur-jalur tertentu.

2) Hadiah dan Hukuman

12
Situasi yang mengandung hukuman dapat diilustrasikan,
individu dimasukkan ke dalam lingkaran kanan ditutup dengan
tugas,kiri ditutup dengan ancaman hukuman atas bawah ditutup
dengan barier(pengawasan). Dalam keadaan seperti ini individu
harus memilih alternatif yang sama-sama tidak disenangi.

3) Berhasil dan gagal

Pengalaman sukses dan gagal bersifat individual. Sesuatu


yang sama mungkin dianggap mungkin dianggap sebagai suatu
keberhasilan oleh seseorang, tetapi mungkin juga dianggap
kegagalan oleh orang lain.

4) Energi Cadangan

Manusia memiliki energi dalam dirinya yang disebut energi


psikis. Energi ini dapat digunakan bermacam-macam aktivitas
seperti mengamati, mengingat, berpikir dan seterusnya. Dalam
keadaan sehari-hari keadaan tersebut hanya dipergunakan sebagian
saja, sisanya tersimpan sebagai cadangan.

j. Teori Bandura

Bandura berpendapat bahwa proses belajar terjadi dengan


mengalami dan meniru apa yang ada di sekitarnya. Ia menamakan
teorinya dengan “Social Learning” dengan menggunakan prinsip
“modeling” dan “imitation”. Menurutnya, tingkat imitasi/peniruan
dari anak tergantung dari karakteristik penonton dan karakteristik
model.

k. Humanistik

Psikologi Humanistik berusaha memahami tingkah laku


individu dari sudut pandang pelaku, bukan dari pengamat. Menurut
aliran ini tingkah laku individu ditentukan oleh individu itu sendiri.

13
l. Carl Rogers

Rogers mengajukan beberapa prinsip belajar, dalam bukunya


“Freedom to Learn” yaitu :

1) Manusia dapat belajar secara alami.

2) Belajar yang signifikan bila materinya sesuai dengan kebutuhan


siswa.

3) Belajar yang mengandung perubahan dianggap mengancam dan


cenderung ditolak.

4) Tugas belajar mudah diasimilasikan bila ancaman dari luar


diperkecil.

5) Proses belajar akan terjadi apabila ancaman terhadap siswa rendah.

6) Belajar akan bermakna apabila disertai dengan praktek.

7) Belajar dapat lebih lancar apabila siswa dilibatkan langsung.

8) Belajar atas inisiatif sendiri akan memberikan hasil yang


mendalam.

9) Kepercayaan terhadap diri sendiri akan mudah dicapai apabila


siswa dibiasakan mawas diri.

10) Belajar yang paling berguna bagi kepentingan sosial adalah belajar
mengenai proses belajar.

m. Combs

Combs berpendapat bila kita ingin mengubah perilaku seseorang,


kita harus mengubah keyakinan/pandangannya. Menurutnya perilaku
buruk sebenarnya merupakan ketidakmampuan seseorang untuk
melakukan sesuatu yang tidak memberikan kepuasan baginya. Dalam
belajar diperlukan dua hak : “pemerolehan informasi baru dan
personalisasi.” Informasi tersebut pada individu.

14
n. Abraham Maslow

Menurut Maslow dalam diri manusia terdapat dua hal :

1) Suatu usaha yang positif untuk berkembang.

2) Kekuatan untuk menolak atau melawan perkembangan.

o. Sintesis

Setelah mengikuti jalan pikiran teori-teori belajar dari awal sampai


akhir, ternyata masalah belajar memang kompleks. Karena
kompleksnya tidak ada suatu teori yang mampu memberi jalan yang
lain dan lengkap tentang belajar.

4. Transfer Belajar

a. Pengertian

Menurut L.D. Crow, And A.Crow :

Transfer latihan/belajar adalah pemindahan-pemindahan kebiasaan


berpikir, perasaan atau pekerjaan, ilmu pengetahuan atau keterampilan,
dari suatu keadaan belajar ke keadaan belajar yang lain.

b. Macam-macam transfer

1) Transfer positif

Dikatakan positif jika hasil belajar dalam satu mata pelajaran


tertentu membantu terhadap mata pelajaran/ situasi yang lain.

2) Transfer Negatif

Apabila hasil belajar dalam suatu bidang studi mengganggu,


memperlambat atau mempersulit bidang studi lain dikatakan
negatif.

c. Teori-teori Transfer Belajar.

1) Teori disiplin formal/Ilmu Jiwa Daya

15
Bertitik tolak pada anggapan bahwa jiwa manusia terdiri dari
berbagai daya, daya mengingat, daya pikir dan lain-lain, maka
mereka beranggapan bahwa transfer hanya bisa terjadi bila daya-
daya tersebut dapat diperkuat dan “didisiplinkan” dengan latihan-
latihan yang keras dan terus menerus. Setelah daya-daya itu terlatih
maka akan mudah terjadi transfer secara otomatis ke bidang-bidang
lain.

2) Teori elemen indektik/ilmu jiwa asosiasi

Kelompok asosiasi ini berpendapat bahwa transfer hanya akan


terjadi bila dalam situasi yang baru terdapat unsur-unsur yang sama
(identical elements) dengan situasi terdahulu yang telah dipelajari.

3) Teori Generalisasi

Peletak pandangan ini adalah Charles Judd, ia beranggapan bahwa


transfer bisa terjadi bila situasi baru dan situasi lama yang telah
dipelajari mempunyai kesamaan prinsip, pola atau struktur, tidak
kesamaan unsur-unsur.

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya transfer

1) Intelegensi

Individu yang lancar dan pandai biasanya segera mampu


menganalisa dan melihat hubungan-hubungan logis, ia segera
melihat unsur-unsur yang sama serta pola dasar atau kaidah
hukum, hingga sangat mudah terjadi transfer.

2) Sikap

Meskipun orang mengerti dan memahami sesuatu serta


hubungannya dengan yang lain, tetapi pendirian atau
kecenderungannya menolak/sifat negatif maka transfer tidak akan
terjadi, demikian sebaliknya.

16
3) Materi Pelajaran

Biasanya mata pelajaran yang mempunyai daerah berdekatan


misalnya matematika dengan statistik, Ilmu Jiwa Sosial dengan
Sosiologi, lebih mudah terjadi transfer.

4) Sistem Penyampaian Guru

Pendidik yang senantiasa menunjukkan hubungan antara pelajaran


yang sedang dipelajari dengan mata pelajaran lain atau dengan
menunjuk ke kehidupan nyata yang dialami anak, biasanya lebih
membantu terjadinya transfer.

5. Prinsip-prinsip Belajar

Dari beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli bisa dirangkum
prinsip-prinsip belajar antara lain sebagai berikut :

a. Belajar akan berhasil jika disertai kemauan dan tujuan tertentu.

b. Belajar akan lebih berhasil jika disertai berbuat, latihan dan ulangan.

c. Belajar lebih berhasil jika memberi sukses yang menyenangkan.

d. Belajar lebih berhasil jika tujuan belajar berhubungan dengan aktivitas


belajar itu sendiri atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya.

e. Belajar lebih berhasil jika bahan yang sedang dipelajari dipahami,


bukan hanya sekedar menghafal fakta.

f. Dalam proses belajar memerlukan bantuan dan bimbingan orang lain.

g. Hasil belajar dibuktikan dengan adanya perubahan dalam diri si


pelajar.

h. Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh


pemahaman.

6. Faktor-faktor yang mempengaruhi Belajar

17
a. Situasi Belajar

1) Kesehatan Jasmani

Kadar makanan dan pengaturan waktu istirahat yang tidak baik dan
kurang, biasanya tidak menguntungkan. Akibatnya daya tahan
tubuh anak akan menurun, anak mudah terkena penyakit dan akan
mengganggu aktivitas belajar. Oleh Karenanya, orang tua, guru
harus senantiasa berusaha menjaga kesehatannya, dengan jalan
antara lain pemeriksaan secara teratur dan berjangka, penyediaan
alat-alat yang memenuhi syarat kesehatan, ruangan,cat, lampu dan
penempatan siswa secara baik dalam kelas.

2) Keadaan Psikis

Bila menengok kembali kepada perubahan jenis-jenis belajar,


nampak dengan jelas belajar lebih banyak berhubungan dengan
aktivitas jiwa, dengan kata lain faktor-faktor psikis memang
memiliki peran yang sangat menentukan di dalam belajar.

a) Perhatian

Pemusatan tenaga psikis tertuju pada suatu obyek atau banyak


sedikitnya kesadaran yang menyertai aktivitas yang dilakukan
dinamakan perhatian. Perhatian dapat dibedakan menjadi
perhatian intensif dan perhatian tidak intensif. Dilihat dari cara
timbulnya perhatian dibedakan menjadi perhatian spontan dan
perhatian reflektif. Berdasarkan luas obyeknya, perhatian dapat
dibedakan menjadi perhatian konsentrasi dan perhatian
distributif. Satu hal lagi yang sangat penting dan mempunyai
hubungan yang sangat erat dengan aktivitas belajar, adalah hal-
hal yang menarik perhatian. Secara global dapat dibedakan
menjadi :

1. Hal-hal yang keluar dari konteksnya.

18
2. Hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan individu,
kegemaran, pekerjaan, keahlian dan sejarah hidup serta
kelompoknya.

b) Kognitif

1) Pengamatan

Secara umum manusia mengenal dunia nyata melalui


pengamatan yaitu dengan melihat, mendengar,membau,
mengecap dan meraba. Kelompok aliran jiwa Gestalt
menyatakan bahwa pancar indra adalah pintu gerbang ilmu
pengetahuan yang penting dan mutlak mempunyai
pengaruh terhadap belajar.

2) Tanggapan dan Fantasi

Bayangan yang tinggal dalam ingatan setelah melakukan


pengamatan dapat disebut tanggapan, sedangkan daya
untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru berdasarkan
tanggapan-tanggapan yang sudah ada dinamakan fantasi.
Pentingnya tanggapan dalam belajar bisa kita lihat kembali
pandangan Herbert, ia menganggap jiwa manusia terdiri
elemen-elemen kecil berupa tanggapan, belajar tidak lain
adalah mengumpulkan tanggapan-tanggapan sebanyak-
banyaknya. Sedang fantasi kita pun bisa membuktikan
pentingnya, dengan fantasi memungkinkan orang
menempatkan diri dalam hidup kepribadian orang lain,
memungkinkan manusia melepaskan diri dari waktu dan
tempat serta memungkinkan manusia untuk menciptakan
sesuatu yang dituju.

3) Ingatan

19
Batasan ingatan yang terbanyak diutarakan ahli jiwa adalah
mencamkan kesan-kesan, menyimpan dan
memproduksikan. Perencanaan tersebut akan sangat
dibantu antara lain oleh pembagian waktu yang tepat,
metode yang cocok, pemakaian titian, bagan, ikhtisar dan
tabel-tabel. Secara keseluruhan ingatan sangat membantu
belajar, manusia hampir tidak pernah belajar tanpa bantuan
ingatan bahan yang mendahuluinya.

4) Berpikir

Berpikir adalah aktivitas jiwa dengan arah yang ditentukan


oleh masalah yang dihadapi. Prosesnya adalah diawali
dengan pembentukan pengertian, diteruskan pembentukan
pendapat dan diakhiri dengan penarikan kesimpulan atau
pembentukan keputusan.

c) Faktor Afektif

Afektif meliputi perasaan, emosi dan suasana hati. Dalam


keadaan stabil dan normal perasaan sangat menolong individu
melakukan perbuatan belajar, tetapi perasaan dengan intensitas
sedemikian tinggi, sehingga pribadi kehilangan kontrol yang
normal terhadap dirinya, sangat menghambat proses belajar.
Sedangkan keadaan afektif individu yang lebih bersifat tetap
bisa disebut suasana hati.

d) Faktor Motivasi

Keadaan jiwa individu yang mendorong untuk melakukan


suatu perbuatan guna mencapai suatu tujuan bisa disebut
motivasi. Motivasi bisa dikatakan murni bila diri individu ada
keinginan yang kuat untuk mencapai hasil belajar itu sendiri.

3) Pengalaman Dasar/Pendidikan Dasar

20
Perlu disadari bahwa pendidikan dasar yang mendahului
pendidikan tahap tertentu saling terkait. SD menjadi dasar SLTP,
SD+SLTP menjadi dasar SLTA, SD+SLTP dan SLTA menjadi dasar
Perguruan Tinggi. Boleh dikatakan meskipun individu secara
umum kesehatan jasmani baik, panca indra mendukung, keadaan
psikis mulai dari perhatian, ingatan, pikiran dengan dilengkapi
motivasi yang kuat dan murni, namun pengalaman yang
mendahuluinya kurang memadai atau tidak mempunyai hubungan
yang sejalan maka aktivitas belajar akan membawa hasil yang
kurang baik.

b. Penguasaan alat-alat intelektual

Pola dasar kecakapan-kecakapan intelektual sebenarnya berfungsi


sejak awal kehidupan, tetapi mengenai kapan alat-alat intelektual mulai
dipergunakan oleh individu nampaknya ada peraturan tertentu.
Peraturan ini sebenarnya sangat tergantung kepada tuntutan-tuntutan
lingkungan individu.

c. Latihan-latihan yang Terpencar

Belajar akan lebih efektif apabila periode latihan disusun terpencar,


belajar 6 jam sehari akan lebih baik dipendekkan menjadi 3 hari, tiap
hari 2 jam. Hal ini sesuai dengan hasil eksperimen Ebbinghaus di
sekitar tahun 1980-an dan periode berikutnya dipraktekkan oleh
banyak sekolah dengan hasil yang mendukung kebenaran prinsip ini.

d. Penggunaan Unit-unit yang Berarti.

Dalam belajar dikehendaki adanya pola sambutan, pola ini harus


mengandung arti dan dapat pula berarti di kehidupan sehari-hari.
Individu yang mempunya kapasitas psikis yang tinggi dan mempunyai
daerah intelektual yang luas, mereka sanggup menangkap keseluruhan
pola-pola, orang seperti ini akan lebih cocok memakai metode
keseluruhan.

21
e. Latihan yang Aktif

Individu hanya bisa belajar sesuatu dengan mengerjakannya sendiri,


maksudnya individu belajar berpikir sendiri. Eksperimen-eksperimen
efisiensi yang progresif sebanding dengan jumlah resistansi yang
dilakukan. Faktor pembantu mempertinggi efisiensi belajar aktif
adalah pada gambar, globe, alat-alat visual lainnya yang sejenis.

f. Kebaikan bentuk dan sistem

Setiap individu sangat merasakan enaknya mempelajari suatu buku


yang disusun secara sistematis , bab 1 disusul bab 2 dengan isi yang
tidak terbalik. Ketepatan cara dan posisi akan sangat mempengaruhi
aktivitas belajar.

g. Efek Penghargaan (Reward) dan Hukuman

Ada kalanya hadiah, penghargaan atau hukuman perlu dipilih oleh


pendidik meskipun hanya merupakan motif yang kurang murni.

h. Tindakan-tindakan Pedagogis

Ada beberapa siswa yang dapat berhasil baik dalam belajar walaupun
mereka menerima pelajaran yang jelek dari gurunya. Tetapi semua
orang tidak menghendaki salah langkah, atau salah mendidik yang bisa
menghalangi perbuatan belajar anak didiknya. Hal tersebut di
antaranya merusak motif belajar peserta didik, kegagalan memahami
peserta didik, pengertian guru yang kurang jelas mengenai tujuan mata
pelajaran yang diberikan dan penguasaan bahan yang kurang.

i. Kapasitas Dasar

Dengan kapasitas dasar yang berbeda, peserta didik berjalan dengan


kecepatannya masing-masing dan mereka menangkap fakta-fakta
dengan luas dan sempitnya daerah yang mereka miliki. Secara global
perbedaan individu dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

22
1) Perbedaan Vertikal atau kuantitatif yang berdimensi satu, artinya
manusia dapat digolongkan menurut taraf tertentu, misalnya
memiliki IQ 80, IQ 100, dan IQ 30.

2) Perbedaan kuantitatif, artinya manusia berbeda dalam bakat dan


minatnya ada yang mempunyai kecenderungan inteligen, estetis,
motoris, dan lain sebagainya.

7. Implementasi Teori Belajar dalam Proses Belajar Mengajar

a. B.F. Skinner

Skinner merancang sistem pengajaran yang disebut “Programed


conditioning” atau “Instrumental Conditioning” Ciri-ciri
pengajarannya yaitu :

1) Bahan pengajaran dibagi menjadi dua unit-unit kecil dan disajikan


secara berturut-turut.

2) Diharapkan siswa mampu memberi jawaban mendekati 100%


benar.

3) Siswa harus memusatkan perhatiannya.

4) Setiap siswa akan melangkah maju sesuai kemampuannya.

5) Jawaban-jawaban siswa segera diikuti oleh balikan.

6) Hukuman tidak digunakan.

b. John B. Carroll

Carroll mengemukakan konsep belajar tuntas yaitu filsafat tentang


pengajaran yang menyatakan bahwa semua siswa dapat dan akan
menguasai dengan baik hampir semua yang diajarkan apabila
disediakan kondisi pengajaran yang sesuai. Kunci keberhasilan belajar
tuntas :

1) Tujuan pengajaran harus jelas.

23
2) Bahan pengajaran dibagi menjadi unit-unit kecil.

3) Pengajaran memperhatikan kemampuan individual

4) Perlu diadakan tes formatif

5) Pemberian balikan

6) Penguasaan bahan kurang dari 75%, siswa harus mengulang.

7) Kesempatan diberikan untuk belajar bersama dalam kelompok


kecil.

8) Bagi siswa yang kesulitan belajar diberi waktu bimbingan


tambahan.

c. Jerome Bruner

Bruner menulis buku “The Process of Education” yang berisi :

1) Pentingnya peranan struktur dalam belajar.

2) Pentingnya pemahaman intuitif dalam belajar.

3) Pentingnya belajar dengan menemukan diri.

4) Pentingnya relevansi belajar mengajar.

5) Pentingnya keaktifan siswa dalam belajar.

6) Kesiapan untuk belajar.

D. Prinsip-prinsip Mengajar
1. Pengertian Mengajar

Secara global mengajar bisa dibedakan menjadi :

a. Mengajar menurut faham lama :

Guru senantiasa aktif menyampaikan dan memompakan


informasi/fakta-fakta agar dikuasai siswa, siswa sendiri hanya
menerima/pasif.

24
b. Mengajar menurut faham baru :

Guru sebagai pengelola, pengatur, peracik lingkungan berupa


tujuan, materi, metode dan alat dengan siswa, siswa harus aktif.

2. Kompetensi Guru

a. Kompetensi Kepribadian

Faktor penting bagi guru adalah kepribadiannya, kepribadiannya


itu yang menentukan apakah ia akan menjadi pembimbing dan
pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan jadi
perusak atau penghancur bagi anak didiknya di esok hari.

b. Kompetensi Penguasaan atas Bahan

Seorang guru harus mengerti dengan baik materi yang akan


diajarkan, baik pemahaman detailnya maupun aplikasinya.
Kekurangmampuan memahami bahan yang diajarkan akan
berakibat tidak mampu membimbing anak dan memberi fakta-
fakta dan informasi-informasi serta kecakapan-kecakapan yang
salah.

c. Kompetensi dalam cara-cara mengajar

Guru juga sangat dituntut tampil dalam mengajar, yang secara


global meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Ia harus
mampu menyusun setia program, mulai dari memilih alat
perlengkapan yang cocok, pembagian waktu yang tepat, metode
mengajar yang sesuai, hingga keseluruhan kegiatan tersusun
dengan baik.

3. Aspek-aspek Psikologi dalam Mengajar

a. Mengarahkan dan membimbing belajar

Pendidik senantiasa harus menunjukkan kepada anak manusia


yang masih muda ini, tentang kepentingan masyarakat

25
lingkungannya dengan segala variasi dan perubahan-perubahan
yang progresif, tujuan mereka belajar harus digaris bawahi dengan
tebal dan jelas, mereka diperlihatkan jalan dan arah serta
perlengkapan menuju tujuan yang sedang dikejar.

b. Motivasi

Perubahan belajar adalah perbuatan yang menuntut semangat dan


kesungguhan, maka pembimbing harus senantiasa menjelaskan
manfaat dan kegunaan belajar yang sedang mereka lakukan. Tanpa
pengertian dan pemahaman yang lengkap, maka motivasi yang
murni tidak akan ada dalam diri si pelajar. Bila jalan ke arah
perwujudan murni ini mengalami rintangan, maka penghargaan
dapat dipilih sebagai alternatif sementara sampai dengan motif
yang asli bisa diusahakan dalam diri mereka.

c. Sikap

Pengalaman-pengalaman siswa sejak dari lingkungan keluarga,


sekolah, dan dimana saja mereka pernah bergaul menghasilkan
sesuatu pemahaman yang unik, berbeda atau satu sama lain.

d. Teknik

Penyajian bahan yang diajarkan, harus mempertimbangkan aspek


psikis, latar belakang pelajar, kesiapan, kesanggupan jasmani dan
kesanggupan mentalnya, pendek kata, perbedaan individual harus
juga menjadi pertimbangan.

e. Mengenal dan mengusahakan terbentuknya pribadi yang baik

Guru yang tajam pengamatannya akan segera mengetahui tingkat


intelegensi anak didiknya, ketajaman pikirnya, sikapnya, minatnya
dan segala aspek-aspek kepribadiannya.

E. Potensi-potensi Peserta Didik

26
1. Intelegensi
a. Pengertian Intelegensi
Secara global hakikat intelegensi ada tiga yaitu :
1) Kemampuan memahami sesuatu, makin tinggi intelegensi
seseorang maka akan makin cepat ia memahami sesuatu yang
dihadapi, problema dirinya sendiri, dan lingkungannya.
2) Kemampuan berpendapat, makin cerdas seseorang maka
makin cerdas pula mengambil ide, langkah penyelesaian
masalah, memilih cara yang tepat dalam penyelesaian, mampu
menganalisa risiko yang akan dihadapi.
3) Kemampuan kontrol dan kritik, makin cerdas seseorang makin
tinggi pula daya kontrol dan kritik apa yang diperbuat
b. Teori-teori Intelegensi
1) Teori Dwi-Faktor (Spearman)
Menurut teori dwi-faktor intelegensi terdiri dari ebilitas
umum (G) dan ebilitas-ebilitas khusus (S). Setiap jenis dan
tingkah laku individu terdapat faktor-faktor yang mendasarinya
(Faktor (G)). Sedangkan special faktor (Faktor S), hanya
berfungsi pada tingkah laku tertentu saja.
Ilustrasi :
Mengingat sesuatu /S1/tingkah laku 1 = G + S1
Berpikir sesuatu /S2/tingkah laku 2 = G + S2
Mengkhayal sesuatu/S3/tingkah laku 3 = G + S3
/S4/…………….4 = G + S4
Jadi, bila individu melakukan 2 macam tingkah laku maka
faktor (G) sama tetapi faktor (S) berbeda. Faktor (G) sangat
tergantung pada dasar, sedangkan faktor (S) dipengaruhi
lingkungan.
2) Teori Multi Faktor (Thurstone)
Menurut teori ini, faktor G itu tidak ada yang ada adalah
“Group Factor” atau faktor C yang berfungsi pada tingkah laku
dan faktor S dan jumlahnya sebanyak tingkah laku khusus
yang dilakukan oleh individu yang bersangkutan. Adapun
faktor C adalah sebagai berikut :
a) Mudah (mempergunakan) bilangan (Number facility)
b) Ingatan (Memory)

27
c) Kemampuan menangkap hubungan percakapan/bahasa
(Abilityin verbal relation)
d) Tajam penglihatan
e) Kemampuan menarik kesimpulan dari data-data yang ada
(Ability to deduce from presented data)
f) Cepat mengamati (Speed of perception)
g) Pemecahan masalah (Problem solving)
3) Teori Kuantitas Intelegensi (Thorndike)
Thorndike berpendapat bahwa kualitas intelek tergantung
kepada kuantitas hubungan dari syarat-syarat penghubung.
Yang artinya tingkah laku merupakan hasil dari pengaruh
stimuli-stimuli organisme untuk mempelajari sesuatu bahan
baru akan menjadi mudah apabila telah memiliki pengalaman-
pengalaman yang yang dibutuhkan pada situasi baru, yang
telah dibentuk dalam praktek sebelumnya.
Namun pandangan ini nampaknya banyak yang merasa
keberatan karena Thorndike terlalu menekan kepada fakta,
bahwa tingkah laku seseorang tergantung pada jumlah
hubungan-hubungan peristiwa yang terjadi dan mutlak harus
ada bagi aktivitas intelektualnya. Dan seakan kurang
menghargai atas fleksibilitas pola aktivitas intelektual secara
menyeluruh.
Maka Thorndike mengemukakan bahwa individu
mungkin tidak mampu menyelesaikan test akademis sebagai
gambaran intelegensinya, namun mungkin mempunyai tingkat
abilitas yang relatif tinggi dalam hal-hal praktis (mechanical
intellegence) atau dalam hal yang berhubungan dengan
masyarakat (social intellegence).
c. Pengukuran Integensi
1. Perkembangan Test Intelegensi
Pada tahun 1890 manusia digolongkan menjadi dua golongan
yaitu golongan normal dan golongan tidak normal/lemah jiwa.
Anggapan ini menimbulkan masalah pada saat itu, sehingga Alferd
Binet yakni psikolog Prancis melakukan sebuah eksperimen
mengenai perhatian, ingatan dan diskriminasi yang inti dari

28
usahanya ialah pembuatan alat yang dapat dipergunakan untuk
membedakan antara orang normal dan yang tidak normal.
Kemudian Departemen Pendidikan Prancis memberikan tugas
untuk merancang penggolongan anak-anak Prancis kedalam dua
golongan normal dan lemah jiwa. Tugas ini dilaksanakan dan
berhasil disusun test intelegensi susunan Binet pertama tahun 1905.
Sifatnya masih sederhana, terdiri dari 30 item test kasar.
Tahun 1908 terjadi perubahan dalam test ini dimana test
akan dibagi menurut beberapa golongan umur, mulai umur 3-15
tahun. Untuk membedakan anatar anak normal dengan anak tidak
normal Binet menggunakan pedoman selisih tetap.
Tahun 1911, pedoman selisih tetap diganti dengan
pedoman perbandingan tetap dengan rumus :

Tahun 1937, test model Binet telah disempurnakan oleh


Terman dan M.D. Merril dan test tersebut digunakan selama 23
tahun
Tahun 1960, diadakan revisi untuk test Binnet yang lebih
baru dan sesuai dengan perkembangan sosial yang ada.
2. Distribusi Intelegensi
Distribusi intelegensi normal adalah deviasi dari tendensi
sentral makin jauh, makin kecil frekuensinya. Secara teknis anak
yang ber IQ 90 dengan 109 adalah sama-sama normal,
perbedaannya hanya dalam hal kesanggupannya. Oleh karena itu,
dalam menafsirkan ebilitas individu harus hati-hati.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran intelegensi
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil test intelegensi
dapat berubah, yaitu :
- Faktor keterlatihan
- Faktor kesehatan
- Faktor usia
- Faktor kesungguhan
4. Pelaksanaan test
Pelaksanaan test intelegensi tergantung kepada jenis test
dan itemnya. Secara umum, test intelegensi ada yang bersifat

29
umum dengan memakai bahan yang berupa kalimat, gambar dan
angka yang digabungkan menjadi satu bentuk utuh. Ada juga
yang bersifat khusus, misalnya khusus test kalimat, khusus test
gambar, dan khusus test angka.
2. Bakat
a. Pengertian Bakat
Anak berbakat adalah mereka yang mempunyai penonjolan-
penonjolan dalam satu atau lebih bidang tertentu bila dibandingkan
dengan anak sebayanya.
b. Test Bakat
Berikut merupakan beberapa jenis test-test bakat, yaitu :
a. Test bakat akademik (academic aptitude)
b. Test kesenian dan musik (art and music)
c. Test bakat mekanis (mechanical aptitude)
d. Test bakat administrasi (clerical aptitude)
e. Test bakat untuk pekerjaan keahlian (aptitude for profesional
work)
f. Daftar minat (interest inbentories)
g. Melihat kedepan (looking a head)
c. Menanggani Anak-anak Berbakat dan Terbelakang
1) Menangani anak-anak berbakat
Sebaiknya orang tua tidak terlambat mengenali, mengarahkan,
dan menyediakan sarana demi perkembangan mereka yaitu sejak
masa balita, terutama yang berbakat sangat memerlukan
rangsangan untuk melakukan sesuatu seperti hasrat untuk meneliti,
memeriksa, mencoba, mengubah sesuatu yang mereka temukan
sama pentingnya dengan kebutuhan psikis. Diharapkan orang tua
akan menjadi mentor yang memberikan arah dan stimuli yang
mereka butuhkan.
2) Menangani anak-anak yang terbelakang
Jenis-jenis kasus keterbelakangan yang dapat diukur
dengan test IQ, yaitu :
- Below average/dibawah rata-rata (IQ 80-89)
- Dull or borderiine/bodoh atau dungu (IQ 70-79)
- Feeble-minded:maron/lemah fikiran: moron (IQ 50-69)
- Imbecile, idiot/embisil, idiot (IQ )

30
Jenis-jenis kasus keterbelakangan yang tidak dapat diukur
dengan test IQ, yaitu :
- Austik, yaitu ketidakmampuan berkomunikasi
- Disleksia atau Aleksia, yaitu kerusakan sebagian/salah satu
fungsi otak yang menyebabkan sulit memahami bahasa tertulis,
dan terkadang memahami bacaan dengan beberapa kesalahan
interpretasi
- Kerusakan otak, yaitu kondisi dengan gejala ketidakteraturan
gerakan dan posisi tubuh, canggung, dan terkadang tidak
mampu memanfaatkan salah satu indera misal mata
Beberapa alternatif penanganan untuk anak-anak yang
terbelakang, yakni :
a) Kasih sayang orang tua
Kasih sayang yang lebih dari orang tua akan membantu
perkembangan pada anaknya.
b) Sikap yang benar
Menerima dengan sadar keadaan anaknya dan melakukan
tindakan konstruktif bagi perkembangan anaknya merupakan
salah satu sikap yang benar dari orang tua.
c) Kesabaran
Dibutuhkan waktu yang cenderung lebih lama karena mereka
cenderung meniru tanpa mempertimbangkan pendapat
mereka sendiri.
d) Operant Learning
Yaitu teknik memberi penguatan positif dan negatif, memberi
hadiah, menghukum dengan pujian, anggukan kepala, hadiah
uang, dll.
e) Konsultasi dengan lembaga, para ahli atau psikolog
Konsultasi sangat dibutuhkan karena dapat membantu untuk
menghindari kesalahan penafsiran dan kesalahan perawatan.
3. Kecerdasan Emosi
a. Urgensi Kecerdasan Emosi
Kecerdasan emosi berpengaruh besar dalam mencapai
keberhasilan hidup. Emosi tidak dipandang sebagai sesuatu yang
bersifat positif atau negatif, tetapi berlaku sebagai sumber energi

31
auentisitas dan semangat manusia yang paling kuat dan dapat
memberikan sumber kebijakan intuitif.
b. Pengertian dan Ciri-ciri Kecerdasan Emosi
Kecerdasan emosi adalah kemampuan memahami perasaan diri
masing–masing dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi, dan
menata dengan baik emosi yang ada dalam dirinya dan dalam
berhubungan dengan orang lain.
Unsur-unsur kecerdasan emosi :
1) Kesadaran diri/self-awareness
Yaitu kemampuan yang meliputi kesadaran emosi, penilaian diri
secara teliti, dan percaya diri.
2) Pengaturan diri/self regulation
Yaitu kemampuan yang meliputi pengendalian diri, sifat dapat
dipercaya, kehati-hatian, adaptabilitas, dan inovasi
3) Motivasi
Motivasi membatu kita dalam menggerakan dan menuntun menuju
sasaran, mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif, dan
bertahan menghadapi kegagalan serta frustasi.
4) Empati
Yaitu kemampuan yang meliputi kemampuan memahami orang
lain, mengembangkan orang lain, orientasi pelayanan,
memanfaatkan keragaman, dan kesadaran politis.
5) Keterampilan sosial
Keterampilan ini dapat digunakan untuk mempengaruhi dan
memimpin, bermusyawarah, menyelesaikan perselisihan, dan
bekerja sama/bekerja dalam tim

F. Evaluasi dalam Pendidikan


1. Pengertian dan Dasar Evaluasi
a. Pengertian Evaluasi
Evaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai sesuatu dan
bersifat kuantitatif.
b. Dasar Evaluasi
1) Dasar Psikologis
a) Ditinjau dari anak didik
Pada masa anak-anak biasanya mereka belum mandiri
dalam menentukan sikap dan tingkah laku, belum bisa

32
berpegangan pada prinsipnya dan masih berpedoman pada
norma-norma yang berada di luar dirinya.
b) Ditinjau dari Pendidik
Secara psikologis bagi pendidik maupun orang tua mereka
sama-sama ingin mengetahui hasil belajar para siswa. Hal
itu akan menjadi motivasi untuk langkah kedepan.
2) Dasar Didaktis
a) Ditinjau dari anak didik
Keberhasilan anak didik dalam mencapai status di
kelompoknya akan menimbulkan motivasi untuk setiap
anak agar bisa memperoleh status dalam kelompoknya.
b) Ditinjau dari segi Pendidikan
Dari hasil evaluasi maka guru akan mengetahui status anak
dalam kelompoknya, kesulitan yang dihadapi oleh sebagian
besar anak didiknya, kelemahan metode yang dipilih dan
kesiapan siswa.
3) Dasar Administrasi
Evaluasi mutlak harus dilakukan untuk menentukan langkah
kedepannya.
2. Syarat-syarat Test yang Baik
- Reliable
- Valid
- Obyektif
- Diskriminatif
- Comprehensive
- Mudah digunakan
3. Langkah-langkah Pokok dalam Evaluasi
a. Langkah Perencanaan
Perencanaan dibagi menjadi beberapa persiapan, yaitu :
1) Persiapan umum : frekuensi ujian dalam 1 tahun, evaluasi
yang digunakan , dll
2) Persiapan khusus : bila ujian perlu dipersiapkan daftar hadir,
tata tertib, dll
b. Langkah pengumpulan data
Dalam hal ini harus dipertimbangkan jenis data yang akan
dikumpulkan, cara yang akan dipakai untuk memperolehnya.
c. Langkah verifikasi data
Yaitu proses penyaringan data untuk memisahkan data yang baik
atau yang buruk
d. Langkah pengolahan data

33
Yaitu tahap memberikan makna terhadap data
e. Langkah penafsiran data
Yaitu tahap mengubah data ke dalam bentuk kalimat yang tepat dan
mudah dipahami, agar dapat ditarik kesimpulan yang relevan
4. Alat evaluasi
a. Non tes
Macam-macam alat evaluasi non tes :
1) Skala bertingkat (rating scale)
Skala yang menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka
terhadap suatu hasil pertimbangan biasanya angka yang
digunakan adalah angka yang bertingkat rendah ke tinggi.
2) Kuisioner (angket)
Macam-macam angket :
a) Ditinjau dari segi siapa yang menjawab
- Kuisioner langsung
- Kuisioner tidak langsung
b) Ditinjau dari segi cara menjawab
- Kuisioner tertutup (berstruktur)
- Kuisioner terbuka
3) Daftar cocok (cek list)
Yaitu deretan pertanyaan singkat dan responden hanya
membubuhkan tanda cek list ditempat yang sudah disediakan
4) Wawancara (interview)
Cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban responden
dengan tanya jawab sepihak
Macam-macam wawancara, yaitu :
a) Wawancara bebas (tak struktur)
b) Wawancara terpimpin (berstruktur)
5) Observasi
Yaitu alat yang digunakan untuk mengukur tigkah laku
individu, atau proses terjadinya kegiatan yang diamati baik
dalam situasi sebenarnya maupun buatan.
Macam-macam observasi, yaitu :
a) Observasi langsung
b) Observasi tidak langsung
c) Observasi partisipasi
6) Riwayat hidup
Yaitu gambaran tentang keadaan seseorang selama masa
kehidupannya
7) Studi kasus
Yaitu mempelajari secara intensif seorang individu yang
dipandang mengalami suatu kasus tertentu

34
8) Sosiometri
Cara yang digunakan untuk mengetahui kemampuan peserta
didik dalam menyesuaikan dirinya.
b. Tes
Ciri-ciri tes yang baik :
- Validasi
- Realisas (dapat dipercaya)
- Obyektivitas
- Praktibilitas
- Ekonomis
Macam-macam bentuk tes, yaitu :
1) Tes subyektif/uraian
a) Kelebihan : mudah pembuatan, mendorong siswa
berpendapat, tidak spekulasi
b) Kelemahan : validitas dan reliabilitasnya rendah, kurang
mewakili bahan, pemeriksaan sulit dan butuh waktu lama
2) Tes obyektif
a) Kelebihan : Representatif mewakili bahan, mudah dan
cepat memeriksanya, dapat diserahkan ke orang lain
b) Kelemahan : Sulit dalam menyusunnya, memungkinkan
spekulasi, dan kerja sama antar siswa cenderung mengungkap
ingatan saja
5. Penilaian Acuan Patokan (PAP) dan Penilaian Acuan Norma (PAN)
Acuan-acuan yang dijadikan standar untuk dibandingkan dengan hasil
pengukuran acuan, yaitu :
a) Penilaian Acuan Patokan (PAP)
PAP dapat digunakan apabila :
- Dasar pemikiran yang digunakan untuk menyelenggarakan
pendidikan adalah pedagogik
- Kurikulum yang diajarkan bersifat statis, materi yang relatif
tetap dan tidak mengalami perubahan sesuai tuntutan
lingkungan
b) Penilaian Acuan Norma (PAN)
PAN dapat digunakan apabila :
- Adanya asumsi psikologik,yakni pandangan yang menyadari
bahwa tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama
dan tiap-tiap individu pasti memiliki kemampuan yang
beragam

35
- Jenis kurikulum yang diajarkan bersifat dinamis materi selalu
berubah sesuai tuntutan lingkungan dan zaman
Langkah-langkah dalam mengolah nilai dalam PAN, yaitu :
a. Memberi skor pada semua peserta didik
b. Mencari nilai rata-rata kelompok
c. Mencari besar kecilnya simpangan baku
d. Membuat pedoman konversi berdasar skala yang dikehendaki
e. Menentukan nilai masing-masing peserta didik berdasar
konversi tersebut

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Psikologi Pendidikan adalah ilmu yang menerangkan tentang aktivitas
individu dan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses
pendidikan. Terdapat 12 gambaran ruang lingkup dalam psikologi
pendidikan dan salah satu ruang lingkupnya adalah belajar. Manfaat
dari psikologi pendidikan adalah agar dapat mendidik anak secara

36
efektif dan efisien. Dalam psikologi pendidikan metode yang digunakan
antara lain metode instropeksi, metode observasi, pendekatan genetis,
teknik-teknik evaluasi, metode eksperimen, dan analisis statistik.
2. Pertumbuhan adalah perubahan yang lebih menunjuk kepada fisik
sedangkan perkembangan lebih merujuk kepada perubahan psikis.
Periode perkembangan dan pertumbuhan pada individu senantiasa
mengalami perubahan yang dinamis, maka pendidikan harus
menyesuaikan dengan keadaan kejiwaan anak-anak pada masa tertentu.
Ada sembilan prinsip umum pertumbuhan dan perkembangan yang
dirasa paling menonjol dari yang lain, salah satunya adalah tingkat
kedewasaan, kecepatan dalam pertumbuhan dan perkembangan,
hereditet dan lingkungan sangat mempengaruhi pertumbuhan, dll.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
adalah hereditet dan lingkungan.
3. Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang terjadi
karena latihan dan pengalaman. Jenis-jenis belajar ada dua, yaitu jenis
belajar yang berkenaan dengan fisik/jasmani berupa keterampilan dan
jenis belajar yang berkenaan dengan psikis. Teori-teori belajar yaitu
aliran skolastik, Herbart, aliran Ilmu Jiwa Daya, Teori Koneksionisme,
Pavlosionisme, Operant Conditioning , Teori Gestalt , Teori Guthrie,
Teori Medan, Teori Bandura, Humanistik, Carl Rogers, Combs,
Abraham Maslow, dan Sintesis. Transfer latihan/belajar adalah
pemindahan-pemindahan kebiasaan berpikir, perasaan atau pekerjaan,
ilmu pengetahuan atau keterampilan, dari suatu keadaan belajar ke
keadaan belajar yang lain. Terdapat 9 prinsip-prinsip dalam belajar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar yaitu situasi belajar,
penguasaan alat-alat intelektual,latihan yang terpencar, penggunaan unit
yang berarti, latihan yang aktif, kebaikan bentuk dan sistem, efek
penghargaan (Reward) dan hukuman, tindakan pedagogis, dan kapasitas
dasar.

37
4. Prinsip- prinsip mengajar yaitu kompetensi guru yang terdiri dari
kompetensi kepribadian, kompetensi penguasaan atas bahan, dan
lkompetensi dalam cara-cara mengajar. Selain kompetensi guru terdapat
pula aspek-aspek psikologi dalam mengajar, yaitu mengarahkan dan
membimbing belajar, motivasi , sikap, teknik, mengenal dan
mengusahakan terbentuknya pribadi yang baik.
5. Ada beberapa potensi yang dimiliki peserta didik, yaitu intelegensi.
Intelegensi adalah kemampuan seseorang dalam memahami sesuatu,
berpendapat, kontrol dan kritik sehingga dapat menyelesaikan suatu
masalah secara mandiri dan efektif. Teori-teori intelegensi yaitu Teori
Dwi-Faktor (Spearman), Teori Multi Faktor (Thurstone), dan Teori
Kuantitas Intelegensi (Thorndike). Intelegensi dapat diukur dengan
salah satu tes yang dibuat oleh Alferd Binet dan biasa disebut tes binet.
Distribusi Intelegensi yaitu IQ antara 90 dengan 109 adalah sama-sama
normal, perbedaannya hanya dalam hal kesanggupannya.Faktor-faktor
yang mempengaruhi hasil pengukuran intelegensi yaitu faktor
keterlatihan, kesehatan, usia, dan kesungguhan.Pelaksanaan test
intelegensi ada yang bersifat umum dan ada juga yang bersifat khusus.
Selain intelegensi, ada juga bakat. Bakat adalah kemampuan lebih yang
dimiliki oleh seseorang dalam satu bidang tertentu. Jenis test-test bakat,
yaitu test bakat akademik, test kesenian dan musik, test bakat mekanis,
test bakat administrasi, test bakat untuk pekerjaan keahlian, daftar
minat, melihat kedepan. Cara untuk menangani anak-anak berbakat
adalah diharapkan orang tua akan menjadi mentor yang memberikan
arah dan stimuli yang mereka butuhkan, sedangkan untuk menangani
anak-anak yang terbelakang penanganannya, yakni kasih sayang orang
tua, sikap yang benar, kesabaran, Operant Learning, serta konsultasi
dengan lembaga, para ahli atau psikolog.
6. Evaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai sesuatu dan bersifat
kuantitatif. Dasar-dasar evaluasi yaitu dasar psikologis, dasar didaktis,
dan dasar administrasi. Syarat-syarat test yang baik terdiri dari reliable,

38
valid, obyektif, diskriminatif, komprehensiv, dan mudah digunakan.
Langkah pokok dalam evaluasi yaitu perencanaan, pengumpulan data,
verifikasi data, pengolahan data, dan penafsiran data. Alat-alat evaluasi
ada 2 yaitu non tes (skala bertingkat , kuisioner, daftar cocok ,
wawancara, observasi, riwayat hidup,studi kasus, dan sosiometri) dan
tes (tes subyektif/uraian, dan tes obyektif). Acuan yang dapat digunakan
dalam evaluasi adalah PAN dan PAP.

DAFTAR PUSTAKA
Mustaqim, Drs. H.2001.Psikologi Pendidikan.Semarang:Pustaka Pelajar

39