Anda di halaman 1dari 8

Di Mana Waktu Bertemu?

Seorang cowok tiba-tiba saja muncul di depan Mei. Menatapnya dalam, tersenyum lalu menghampirinya. Meinar mengawasi cowok itu tajam sambil berpikir-pikir. Ia serasa pernah melihat cowok itu, entah di mana. Tapi Mei yakin bahwa ia pernah melihatnya. Diamatinya sekali lagi, dan Mei kembali berpikir keras. Benar, kata Mei dalam hati. Seragam pelautnya yang kuno dengan model aneh itu yang mengingatkannya. Ya, Mei pernah melihat seseorang memakai seragam itu. Model seragam pelahut tahun enam puluhan. Tapi siapa ya? Aduh, jengkel betul Meinar ketika tak juga ditemukannya jawaban itu.

“Selamat pagi!” sapa cowok itu mengejutkannya. “Oh … eh, selamat pagi!” Mei tergagap sebentar. Tapi dibalasnya juga salam itu walau dengan ragu-ragu. “Kau menatapku seperti keheranan, ada apa?” kata cowok itu sambil menatapnya

lembut.

“O, tidak, tidak apa-apa!” Mei tersenyum. Tentu saja tidak akan dikatakannya bahwa seragam kuno itu yang membuatnya keheranan. Itu bisa menyinggung perasaan. Kemudian cowok itu duduk di sampingnya dan bertanya pelan. “siapa namamu? Aku Bern, Bernard.” Mei senang mendengar suara itu. Bagus, empuk dan dalam, mengingatkannya pada suara Ayah. “Aku Meinar, tapi biasa dipanggil Mei saja!” jawabnya kemudian. “Nama yang sederhana!” “Kau pelaut?” tanya Mei, tak kuasa membendung rasa ingin tahunya. Cowok itu mengangguk. “Ke mana saja kau berlayar?” tanya Mei antusias. Matanya membundar penuh rasa ingin tahu. Ia memang selalu menyukai petualangan, berkelana ke berbagai Negara di segala belahan bumi. Dan Negara matahari terbit itu, yang punya sakura dan Fujiyama, betapa ingin dia berkunjung ke sana. “Banyak Negara yang kami kunjungi.” “Jepang juga?” seru Mei. Bern mengangguk. “Pasti menyenangkan sekali!” gumam Mei penuh khayalan. “Ah, bagaimana rasanya memetik sakura, ya?” “Kau ingin ke Jepang?” Mei mengangguk. “Ingin sekali!” Bern tersenyum dengan matanya. “Suatu hari kubawa kau kesana.” Mei tercengang, lalu tersenyum tanpa suara. “Mengapa kau jadi pelaut?” kembali ia bertanya. Bern terdiam sejenak, menghela nafas, lalu: “Setiap orang selalu heran mengapa aku jadi pelaut!” gumamnya muram. “Mereka tak bisa mengerti, mereka pikir pelaut itu pekerjaan rendah.” “Aku tidak!” bantah Mei.

Bern menoleh, mata hitamnya menatap tajam. “Tidak?” desisnya. Mei mengangguk. “Aku suka pelaut!” “Kenapa?” “Hm, karena mereka gagah dan … tidak takut mati!” “Oya?” Bern manggut-manggut. “Kau tidak mengagumi dokter atau sarjana misalnya?” “Tidak. Mereka terlalu banyak menelan teori,” sahut Mein mantap. “Jadinya, lihat saja betapa menjengkelkannya mereka.” Bern tertawa tanpa suara. “Jangan main-main, Mei,” katanya kemudian. “Mereka orang bertitel, banyak yang cari.” “Biar saja, aku toh tidak!” tukas Mei seenaknya. “He, kau belum jawab pertanyaanku!” “Oya?” Bern berpikir sejenak. “Hmm, aku menjadi pelaut karena aku ingin menikmati kebebasan.” “Dan kau menikmatinya?” “Setidaknya daripada di rumah!” “Kau tertekan di rumah?” tanya Mei hati-hati. Bern menghela nafas. “Ayah seorang yang ambisius. Beliau ingin kami, anak- anaknya menjadi orang yang terpandang bertitel!” “Dan kau justru memilih laut!” “Ya, aku memilih laut,” gumam Bern seperti melamun. “Hei, kau tampaknya tertarik sekali pada pelaut!” “Memang!” “Kenapa?” “Sudah kukatakan tadi, mereka gagah!” Mei mengerjapkan mata. “Lalu kau sendiri apa yang membuatmu menyukai laut?” “Karena aku suka warna biru, biru laut, biru langit!” Kening Mei berkerut mendengar itu. “Kau heran?” tebak Bern. “Tidak!” gadis itu menggelang. “Tapi aku yakin bukan karena itu kau menjadi pelaut!” “Lalu karena apa?” Mei tersenyum nakal, “Kata orang, pelaut suka koleksi cewek-cewek!” “Jadi itu yang kau maksudkan?” Bern tertawa lunak. Mei mengiyakan dengan matanya. “Tentu menyenangkan sekali, bermacam- macam bangsa!” godanya. “Ada yang pirang, ada yang kuning mungil, ada yang hitam manis, ada ….” “Apanya?” potong Bern. “Apanya?” Meinar melebarkan matanya. Cewek-cewekmu tentu!” Bern terbahak. “Meinar, Meinar. Jadi kau kira aku Don yuan?” “Itu toh kebiasaan pelaut?” Bern menggeleng. “Jangan asal menyamaratakan. Tidak semua pelaut bermental demikian!” “Dan kau tidak?” ejek Mei.

“Kau boleh tak percaya!” sahut Bern pelan tapi pasti. “Tapi aku mengatakan yang sebenarnya!” Mei mengamati Bern. Ditatapnya mata cowok itu tepat di manik mata. Mata hitam yang dinaungi alis hitam itu tampak begitu bening, bagai air laut. Bening yang membiaskan ketulusan. Dan Meinar mempercayainya.

***

Matahari pagi yang lembut menembuskan sinarnya lewat tirai jendela, dan perlahan menyentuh Meinar yang pulas di pembaringan. Sesaat kemudian mata gadis itu bergerak terbuka, tapi sedetik kemudian tertutup lagi. Agaknya sinar yang datang tiba- tiba itu membuat matanya silau dan perih. Tapi, belum selesai Meinar menyesuaikan matanya dengan cahay itu, mendadak saja seseorang menarik selimutnya dengan kasar. “Bangun, pemalas!” bentak Sekar, kakaknya. Meinar menggeliat malas. “Mimpi apa saja kau? Ketemu pangeranmu ya?” Mei tersentak. Gerakannya terhenti tiba-tiba. Mimpi? Jadi semalam aku bermimpi, pikirnya kaget. Ya Allah, jadi Bern, Bernard …. “Bagaimana kau tahu?” desis Mei heran. Sekar terbahak. “Jadi kau benar-benar ketemu pangeranmu?” serunya. “Enak betul, pantas saja kau tersenyum-senyum sendiri tadi malam!” “Bukan pangeranku!” desis Mei tanpa sadar. “Tapi Bern!” Tawa sekar terhenti. “Bern? Siapa itu?” “Bernard pelaut!” “Ha?” Sekar membelalak. “Siapa dia?” Mei angkat bahu. “Aku tidak tahu!” diturunkannya kakinya. “Tapi aku pernah melihatnya!” Lalu ditinggalkannya kakaknya yang termangu keheranan.

***

Malam kedua. “Apakah kita pernah bertemu, maksudku sebelum kemarin?” tanya Mei langsung ketika Bern menghampirinnya. Bern tersenyum. Senyum yang menyimpan rahasia. “Kenapa?” “Aku seperti pernah melihatmu!” Bern tersenyum lagi. tapi tidak mengatakan apa-apa. “Aku senang berteman denganmu!” katanya kemudian.

“Oya?” alis Mei terangkat. “Kau mengingatkan aku pada seseorang!” “Siapa?” Meinar terheran. “Kau sama seperti dia, bisa memahamiku!” “Gadismu?” tebak Mei. Mata hitam yang dinaungi alis tebal itu tiba-tiba muram. “Aku menyayanginya,” gumam Bernard tak sadar. “Lalu?” “Karena dia aku ingi mati di laut!” “Mengapa?” tanya Mei hati-hati. “Tapi aku tak pernah bisa menemukannya kembali. Tak pernah,” desah Bern terus dengan kecewa. Mei terheran. Bern, ada apa?” Tapi Bern tak menjawab. Detik itu juga ia berbalik dan melangkah pergi tanpa mengatakan apa-apa. Detik itu pula Mei membuka mata, tersentak dari tidurnya. Sesaat kemudian, cahaya temaram lampu tidur perlahan mulai menyadarkannya. Bahwa ia baru saja bermimpi, bertemu dengan Bern. Dan bahwa sekarang ia berada di dalam kamarnya, di dalam rumahnya yang nyaman. Gadis itu turun dari ranjang, lalu dibukanya jendela. Dibiarkannya angin malam yang lembut menerpa masuk. Angin dingin itu cukup membawa kesegaran. Di manakah aku pernah bertemu dengannya? Mei berpikir keras. Aku yakin sekali pernah melihatnya. Tapi kapan, dan di mana? Mei menggeleng jengkel, kheki betul dia dengan rasa penasaran yang menggodanya itu. Ah, semoga saja besok ia datang lagi, kata hati gadis itu penuh harap. Ia pasti tahu tentang hal itu, karena itu ia harus mau menjawabnya. Dan juga, tentang gadisnya. Tampaknya ada sesuatu yang misterius. Nah, besok ia harus mau menjelaskannya. Aku sungguh tidak suka dibuat penasaran macam ini. Mei tersenyum sendiri, lalu ditutupnya jendela.

***

Mei baru saja menghabiskan gado-gadonya di kantin ketika mendadak saja seseorang menarik rambutnya. Jengkel bukan main. Mei menoleh. Di belakangnya Tasia terpingkal-pingkal dengan ketawanya. “Setan!” umpat Mei, “Kumat kau, ya?” “TIdak!” sahut Tasia seenaknya. “Cuma rasanya sudah lama aku tidak melihatmu marah-marah!” “Dasar!” “Nanti malam ada acara?” “Kenapa?” “Ada pesta di rumah!” Mei meletakkan gelasnya. “Pesta apaan?” serunya kaget.

“Nadia ulang tahun!” sahut Tasia tenang. Mata Mei membulat. “Ya, ampun, kenapa kau baru bilang sekarang?” “Memangnya aku harus mengundangmu setahun sebelumnya?” Tungkai Mei mengayun, menyepak Tasia. Tasia meringis. “Terlalu betul kau!” “Lho, diundang pesta kok malah ….” “Tapi bagaimana aku bisa memilih kado kalau waktunya sempit begini?” Tasia terbahak. “Ya, ampun Meinar, lupakan itu. Kau pikir sejak kapan Nadia gila

kado?”

“Tapi…” Tasia memotong dengan kibasan tangannya. “Nadia cuma ingin kau datang, itu

saja.”

“Kalau saja kau bukan sahabatku …,” desis Mei jengkel. “He … he ….,” Tasia tersenyum nakal. “Nanti ya, pukul tujuh. Yuk, dadah!” lalu dilambaikannya tangannya. Meinar berdiri bingung di depan lemari pakaian. Sederetan koleksi bajunya telah dibolak-baliknya berulang kali, tapi belum juga ditemukannya yang berkenan di hatinya. Yang putih itu sebenarnya bagus, tapi rasanya ia telah terlalu sering memakainya. Yang hijau , menarik juga tapi modelnya yang ala militer, membuatnya tidak pantas dikenakan untuk menghadiri pesta. Lalu yang kuning, membuatnya tampak gemuk. Yang merah … “Enaknya pakai yang mana ya?” keluhnya kemudian. “Mau kemana seeh?” Sekar balik bertanya. “Nadia ulang tahun!” Sekar terdiamsebentar, meneliti koleksi baju adiknya, lalu: “Yang biru langit itu saja!” katanya kemudian. “Kau cantik kalau pakai itu!” Sesaat Mei mengamati baju biru itu. Sebuah gaun yang sederhana, berwarna biru langit dengan krah putih bersulam. Gadis itu tersenyum, lalu ditariknya gaun biru itu perlahan.

***

Bergaun merah muda, Nadia tampak cantik bukan main malam itu. Bola matanya yang bagus berkilat-kilat memancarkan kebahagiaan. Senyumnya yang cantik terkembang untuk setiap tamunya. Dan setiap orang tentu saja dengan senang menikmati senyum yang merekah indah itu. Senyum seorang gadis tujuh belas tahun. Meinar mencium pipi Nadia. “Aku tak membawa apa-apa, Nad!” bisiknya. “Kakakmu memang terlalu!” Nadia tersenyum manis. “Memang Nadia yang menyuruh kok!” “Apa?” “Surprais!” “Sombong!” sambung Tasia yang mendadak muncul. “Dia pikir dia sudah cukup kaya untuk membawa kado segala, Nad!” Mei memberengut jengkel. “Kalian memang sama saja, setali tiga uang!”

Dan kakak beradik itu tertawa bersama. Mereka senang bisa menggoda Meinar. “Masuk saja, yuk?” ajak Tasia kemudian menggandeng Mei. “Teman cowok Nadia kecil-kecil sih, masih bau kencur!” “Alah, bilang saja kau sudah terlalu tua untuk mereka!” bantah Nadia. Dan sebelum Tasia sempat membalas, Nadia sudah pergi ke depan, bergabung dengan teman- temannya. “Kupikir kau tak datang!” kata Tasia kemudian. “Hampir saja kusuruh Pak Dahlan menjemputmu, tahunya …,” belum selesai kalimat Tasia, dering telepon berbunyi nyaring. “Kau duduk di sini dulu, mungkin itu …,” Tasia tak menyelesaikan kalimatnya, karena keburu terbang ke dalam. Meinar tersenyum dan mencari tempat duduk di ruang tengah. Dia sudah tahu siapa yang menelepon Tasia. Ah, siapa lagi kalau bukan Tinus, pacar Tasia yang jauh di mata?

Memasuki ruang tengah, langkah Meinar terhenti. Mendadk saja merasa aneh. Seperti ada sesuatu. Sesuatu yang tak dimengertinya, tapi bisa dirasakan. Tapi belum sempat Meinar berpikir lebih jauh, nalurinya yang peka mengatakan bahwa ia sedang diawasi. Dan itu …. Mei menoleh cepat, dan terpana. Tercengang betul dia. Di sana, di jendela seseorang menatapnya dengan tersenyum Bern. Tanpa sadar Mei melangkah mendekat. Ditatapnya pemuda itu dengan heran. “Bern, kau di sini juga?” “Seperti yang kau lihat!” sahut Bern tenang. “Ayo ke taman, kita bisa berbincang di sana!” “Tapi ….” Bern meraih lengan gadis itu. “Ayolah, di dalam bising!” “Nanti Tasia mencariku!” sergah Mei. Tapi Bern bagai tak peduli. Matanya mengamati Mei dengan sesuatu yang tak tersembunyikan. “Aku suka kau pakai gaun biru ini!” gumamnya kemudian. Mata Mei mengerjap mendengar pujian itu. “Kau seperti Ruth!” “Tapi aku bukan Ruth!” bantah Mei. “Memang bukan!” kata Bern pahit. “Dia sudah pergi, hilang.” Seketika itu, Mei segera teringat tentang gadis Bern yang belum selesai di ceritakannya. “Hilang?” Mei tercengang. “Hilang bagaimana?” “Jangan bertanya lagi tentang dia!” tolak Bern kering. “Aku tak ingin membicarakannya lagi, aku ingin melupakannya!” Meinar menghela nafas. Dia menyesal telah membangkitkan kenangan sedih Bern hanya untuk memenuhi rasa ingin tahunya yang dangkal. Egois betul. “Bantu aku melupakannya Mei …,” suara itu, betapa keringnya. Ada kesedihan yang dalam di sana. “Tentu aku mau membantumu!” kata Mei lunak. “Katakana pa yang harus kulakukan!” “Sungguh?” Bern menatapnya.

Mei mengangguk pasti. “Asal aku mampu!” “Tidak sulit sama sekali!” Bern meraih jemari Meinar. “Jadilah pengganti Ruth!” Mei tersentak. Ditatapnya Bern tak percaya. “Kau …?” Bern mengangguk. “Jadilah gadisku!” “Tapi ….” “Akan kubawa kau ke Jepang, memetik seribu sakura, menikmati salju lembut Fujiyama ….” Meinar tercenung. Tampaknya amat menyenangkan, mengunjungi negeri matahari terbit yang lama dirindukannya, berlayar pula. Wah, pasti seperti mimpi rasanya. Tapi? Gadis itu menghela nafas. Bayangan seseorang tiba-tiba saja melintas di matanya. Ah, ya, aku sudah punya Theo, katanya dalam hati. “Bern, aku …,” suaranya terputus. “Kau menolakku?” mata sebening laut itu menyambarnya tajam. “Bukan begitu, tapi cobalah untuk mengerti!” Mei menatap lunak, mencoba meredakan emosi pemuda itu. “Aku tidak mudah jatuh cinta Bern, dan kita baru saja tiga kali bertemu. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta secepat itu?” “Jadi kau tidak mencintaiku,” keluh Bern lebih pada diri sendiri. “Aku sudah punya seseorang Bern, maaf …” “Kalau begitu, aku harus pergi!” pemuda itu bangkit. “Kau tersinggung?” Mei was-was. “Sama sekali tidak!” Bern tersenyum menatap Mei penuh rasa sayang. “Kau gadis yang baik, setia dan bijaksana. Tentu dia amat mencintaimu. Siapa namanya?” “Theo!” “Alangkah bahagianya Theo!” Perlahan ditepuknya pipi Meinar. “Aku harus pergi sekarang!” katanya pendek. “Selamat tinggal!” Dan tanpa menunggu salam balasan, cowok itu segera berbalik dan menghilang dalam gelap. Di tempatnya, gadis itu berdiri bingung dengan kekagetannya.

***

Sebuah bon-bon menyentuh kepala Meinar, dan gadis itu terlonjak kaget. Di jendela, Tasia tertawa melihatnya. “Apa yang kau lakukan di situ, ha?” teriaknya. “Aku sudah kepayahan mencarimu, tahu!” Mei tak menjawab. Akankah dikatakannya bahwa ia baru saja bertemu dengan Bern yang biasanya datang dalam mimpi? Wah, Tasia pasti kaget sekali nanti mendengar ceritanya. “Ayolah masuk, kau mau makan atau tidak?” teriak Tasia lagi tak sabar. “Aku sudah lapar!” Tanpa suara Meinar menaiki tangga kebun. “tinus titip salam untukmu dan Theo!” Tasia menggamit lengannya.

Mei tersenyum. “Apa katanya?” “Dia bilang ….” Tapi Meinar tak mendengar suara Tasia lagi. langkahnya mati di ruang tengah. Aliran darahnya serasa membeku. Sekujur tubuhnya dingin. Segenap syarafnya serasa berhenti bekerja. Dengan membelalak ditatapnya sebuah lukisan besar di dinding. Lukisan potret tahun enam puluhan. Meinar mengerjapkan mata. Dengan rasa tak percaya diamatinya sekali lagi lukisan itu. Tapi lukisan itu tetap juga tidak berubah. Ia tetap saja tergantung di situ dengan tenang. Dab sosok itu, yang tampan dan gagah dengan seragam pelautnya yang khas, tetap saja menatapnya dengan sepasang matanya yang hitam bagus dan sebening laut. “Mei, kenapa kau?” teruran Tasia mengejutkannya. “Oh, aku ….” Mei tergagap sebentar. Dan kemudian dengan susah-payah dikuasainya emosinya. Lalu:

“Siapa dia Tas?” tanyanya. Tasia mengikuti tatapan Meinar. “O, itu, adik bungsu kakek. Gagah ya?” Jantung Mei bergejolak. “Namanya?” tanyanya tertahan. “Bernard, pelaut ulung!” jawab Tasia bangga. Ya, Tuhan! Tubuh Meinar bergetar hebat. Jadi benar itu Bern, Bernard? Jadi itu pula sebabnya ia merasa pernah melihat pemuda itu sebelumnya? Aduh, bodoh betul, kenapa baru teringat sekarang bahwa ia pernah melihat lukisan itu sebelumnya? “Sudah meninggal?” Mei makin gemetar. Tasia mengangguk. “Ia masih sangat muda ketika itu, dua puluh lima tahun. Kapalnya terkena badai dan tenggelam!” “Oh!” Mei terkesima. “Tapi memang itu yang diinginkannya, dia ingin mati di laut, apalagi ketika …,” Tasia terhenti sesaat. “Kenapa?” Meinar tak sabar. “Kekasihnya hilang di laut!” lanjut Tasia perlahan. “Kecelakaan pesawat terbang!” “Dan kau tahu Mei?” Tasia menatapnya lama. “Wajahmu mirip sekali dengan kekasihnya itu, apalagi kalau kau pakai gaun biru ini!” Sudah diduganya! Meinar menyimpan kekagetannya diam-diam. Ya, ia memang sudah menduga akan hal itu. Kalau tidak, tak mungkin Bern menjumpainya dalam mimpi.

“Nama gadis itu ….” “Ruth?” sambung Meinar pasti. Alis Tasia terangkat. “Bagaimana kau tahu?” serunya heran. Meinar tersenyum penuh rahasia. Tentu saja aku tahu, kata hatinya tanpa suara. Tapi tentu saja aku tidak akan mengatakannya padamu, Tasia. Atau pada siapa pun juga. Sebab kalian pasti tak percaya. Ah, siapa sih yang mau percaya bahwa Bern tidak Cuma datang dalam mimpiku tapi bahkan menemuiku pula? Kalian tidak percaya bukan? Bahkan aku sendiri pun rasanya tak percaya, walau aku sendiri pernah mengalaminya.