Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

“Pentingnya Pendidikan Agama Islam Multikultural Bagi Masyarakat


Indonesia”

Diajukan sebagai pemenuhan tugas

Mata Kuliah

Oleh:

1. MUSLIK

2. ABD. MUKTI

3. SIFAUL JANNAH

4. SULISTIYANI

Dosen Pengampu:

Dr. H. MUNIF ARMUZA, M.PdI

PROGRAM PASCA SARJANA PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS YUDHARTA PASURUAN

2016
KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdulillah puji syukur penyusun panjatkan kepada Illahi Robbi yang telah

memberikan rahmat, hidayah dan barokah nya kepada kita semua khususnya kepada

penyusun yang alhamdulillah telah diberikan suatu anugerah yang sangat luar biasa,

yaitu penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pentingnya Pendidikan

Agama Islam Multikultural Bagi Masyarakat Indonesia” ini dapat terselesaikan

tepat waktu.

Dalam penyusunan makalah ini penyusun menyadari sekali akan kekurangan-

kekurangan yang masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, segala saran

dan petunjuk yang menuju kearah penyusun yang lebih baik selalu penyusun harapkan

dan akan penyusun terima dengan hati terbuka.

Alhamdulillahirobbil’alamin makalah ini dapat terselesaikan, tentunya tidak lepas dari

peran aktivitas semua pihak baik dari segi material maupun spiritual. Oleh karena itu,

penyusun mengucapkan banyak terima kasih dan semoga dengan apa yang penyusun

buat dapat bermanfaat bagi penyusun dan pembaca. Semoga senantiasa semua ini

mendapatkan rahmat dan ridho dari Allah SWT, amin ya robbal’alamin.

Walhamdulillahirobbil’alam

penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kesatuan pada dasarnya dapat mengandung potensi
kerawanan akibat keanekaragaman suku bangsa, bahasa, agama, ras dan etnis golongan,
hal tersebut merupakan faktor yang berpengaruh terhadap potensi timbulnya konflik
sosial. Dengan semakin marak dan meluasnya konflik akhir-akhir ini, merupakan suatu
pertanda menurunnya rasa nasionalisme di dalam masyarakat.
Kondisi seperti ini dapat terlihat dengan meningkatnya konflik yang bernuasa
SARA, serta munculya gerakan-gerakan yang ingin memisahkan diri dari NKRI akibat
dari ketidak puasan dan perbedaan kepentingan, apabila kondisi ini tidak dimanage
dengan baik akhirnya akan berdampak pada disintegrasi bangsa.
Permasalahan ini sangat kompleks sebagai akibat akumulasi permasalahan
Ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan yang saling tumpang tindih,
apabila tidak cepat dilakukan tindakan-tindakan bijaksana untuk menanggulangi sampai
pada akar permasalahannya maka akan menjadi problem yang berkepanjangan. Bentuk-
bentuk pengumpulan massa yang dapat menciptakan konflik horizontal maupun konflik
vertikal harus dapat diantisipasi guna mendapatkan solusi tepat dan dapat meredam
segala bentuk konflik yang terjadi. Kepemimpinan dari tingkat elit politik nasional
hingga kepemimpinan daerah sangat menentukan untuk menanggulangi konflik pada
skala dini.
Upaya mengatasi disintegrasi bangsa perlu diketahui terlebih dahulu karakteristik
proses terjadinya disintegrasi secara komprehensif serta dapat menentukan faktor-faktor
yang mempengaruhi pada tahap selanjutnya. Keutuhan NKRI merupakan suatu
perwujudan dari kehendak seluruh komponen bangsa diwujudkan secara optimal
dengan mempertimbangkan seluruh faktor-faktor yang berpengaruh secara terpadu,
meliputi upaya-upaya yang dipandang dari aspek asta gatra.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah mulitikulturalisme itu?
2. Bagaimana cara melaksanakan pendidikan multikultural di Indonesia?
3. Bagaimanakah multikulturalisme yang terjadi di Indonesia?
4. Apa nilai utama pendidikan Islam Multikltural di Indonesia ?
5. Bagaimanakah pengaruh pendidikan multikulturalisme terhadap kehidupan
di Indonesia?
6. Bagaimana implementasi pendidikan multikultural di dunia pendidikan?
C. Tujuan
Penulis menyusun makalah “Pentingnya Pendidikan Multikultural Dalam
Masyarakat Majemuk” antara lain bertujuan untuk :
1. Mengetahui pengertian mulitikulturalisme dan pendidikan
multikulturalisme.
2. Mengetahui cara melaksanakan pendidikan multikultural di Indonesia.
3. Mengetahui tentang multikulturalisme yang terjadi di Indonesia.
4. Mengetahui pengaruh pendidikan multikulturalisme terhadap kehidupan
di Indonesia.
5. Mengetahui cara pengimplementasian pendidikan multikultural di dunia
pendidikan.

D. Manfaat
Secara keseluruhan, makalah ini memiliki manfaat untuk mengetahui tentang
kemultikulturalismean yang terjadi di indonesia saat ini. Selain itu, agar masyarakat
pada umumnya paham mengenai pendidikan mulikultural yang seharusnya diterapkan,
agar pendidikan itu turut mendorong perkembangan Indonesia menju ke arah yang lebih
baik dengan adanya keberagaman yang ada di dalamnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MULTIKULTURAL
a. Pengertian Multikulturalisme
Multikultural berarti beraneka ragam kebudayaan. Menurut Parsudi Suparlan
(2002) akar kata dari multikulturalisme adalah kebudayaan, yaitu kebudayaan yang
dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia. Dalam konteks
pembangunan bangsa, istilah multikultural ini telah membentuk suatu ideologi yang
disebut multikulturalisme. Konsep multikulturalisme tidaklah dapat disamakan dengan
konsep keanekaragaman secara sukubangsa atau kebudayaan sukubangsa yang menjadi
ciri masyarakat majemuk, karena multikulturalisme menekankan keanekaragaman
kebudayaan dalam kesederajatan. Ulasan mengenai multikulturalisme mau tidak mau
akan mengulas berbagai permasalahan yang mendukung ideologi ini, yaitu politik dan
demokrasi, keadilan dan penegakan hukum, kesempatan kerja dan berusaha, HAM, hak
budaya komuniti dan golongan minoritas, prinsip-prinsip etika dan moral, dan tingkat
serta mutu produktivitas.
Multikulturalisme adalah sebuah ideologi dan sebuah alat untuk meningkatkan
derajat manusia dan kemanusiaannya. Untuk dapat memahami multikulturalisme
diperlukan landasan pengetahuan yang berupa bangunan konsep-konsep yang relevan
dan mendukung keberadaan serta berfungsinya multikulturalisme dalam kehidupan
manusia. Bangunan konsep-konsep ini harus dikomunikasikan di antara para ahli yang
mempunyai perhatian ilmiah yang sama tentang multikulturalisme sehingga terdapat
kesamaan pemahaman dan saling mendukung dalam memperjuangkan ideologi ini.
Berbagai konsep yang relevan dengan multikulturalisme antara lain adalah, demokrasi,
keadilan dan hukum, nilai-nilai budaya dan etos, kebersamaan dalam perbedaan yang
sederajat, sukubangsa, kesukubangsaan, kebudayaan sukubangsa, keyakinan
keagamaan, ungkapan-ungkapan budaya, domain privat dan publik, HAM, hak budaya
komuniti, dan konsep-konsep lainnya yang relevan.
Selanjutnya Suparlan mengutip Fay (1996), Jary dan Jary (1991), Watson
(2000) dan Reed (ed. 1997) menyebutkan bahwa multikulturalisme ini akan menjadi
acuan utama bagi terwujudnya masyarakat multikultural, karena multikulturalisme
sebagai sebuah ideologi akan mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam
kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan. Dalam model
multikulturalisme ini, sebuah masyarakat (termasuk juga masyarakat bangsa seperti
Indonesia) mempunyai sebuah kebudayaan yang berlaku umum dalam masyarakat
tersebut yang coraknya seperti sebuah mosaik. Di dalam mosaik tercakup semua
kebudayaan dari masyarakat-masyarakat yang lebih kecil yang membentuk terwujudnya
masyarakat yang lebih besar, yang mempunyai kebudayaan seperti sebuah mosaik.
Dengan demikian, multikulturalisme diperlukan dalam bentuk tata kehidupan
masyarakat yang damai dan harmonis meskipun terdiri dari beraneka ragam latar
belakang kebudayan.
Mengingat pentingnya pemahaman mengenai multikulturalisme dalam
membangun kehidupan berbangsa dan bernegara terutama bagi negara-negara yang
mempunyai aneka ragam budaya masyarakat seperti Indonesia, maka pendidikan
multikulturalisme ini perlu dikembangkan. Melalui pendidikan multikulturalisme ini
diharapkan akan dicapai suatu kehidupan masyarakat yang damai, harmonis, dan
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana yang telah diamanatkan dalam
undang-undang dasar.
b. Pengertian Pendidikan Multikultural
Pendidikan Multikultural merupakan suatu rangkaian kepercayaan (set of beliefs)
dan penjelasan yang mengakui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis di
dalam membentuk gaya hidup, pengalaman sosial, identitas pribadi, kesempatan
pendidikan dari individu, kelompok maupun negara (Banks, 2001). Di dalam pengertian
ini terdapat adanya pengakuan yang menilai penting aspek keragaman budaya dalam
membentuk perilaku manusia.
James A. Banks dalam bukunya ”Multicultural Education,” mendefinisikan
Pendidikan Multikultural sebagai ide, gerakan pembaharuan pendidikan dan proses
pendidikan yang tujuan utamanya adalah untuk mengubah struktur lembaga pendidikan
supaya siswa baik pria maupun wanita, siswa berkebutuhan khusus, dan siswa yang
merupakan anggota dari kelompok ras, etnis, dan kultur yang bermacam-macam itu
akan memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai prestasi akademis di sekolah.
Jadi Pendidikan Multikultural akan mencakup: a. Ide dan kesadaran akan nilai penting
keragaman budaya. b. Gerakan pembaharuan pendidikan. c. Proses pendidikan.

B. MULTIKULTURALISME DI INDONESIA
Perkembangan pembangunan nasional dalam era industrialisasi di Indonesia telah
memunculkan side effect yang tidak dapat terhindarkan dalam masyarakat.
Konglomerasi dan kapitalisasi dalam kenyataannya telah menumbuhkan bibit-bibit
masalah yang ada dalam masyarakat seperti ketimpangan antara yang kaya dan yang
miskin, masalah pemilik modal dan pekerja, kemiskinan, perebutan sumber daya alam
dan sebagainya. Di tambah lagi kondisi masyarakat Indonesia yang plural baik dari
suku, agama, ras dan geografis memberikan kontribusi terhadap masalah-masalah sosial
seperti ketimpangan sosial, konflik antar golongan, antar suku dan sebagainya.
Kondisi masyarakat Indonesia yang sangat plural baik dari aspek suku, ras, agama
serta status sosial memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap perkembangan dan
dinamika dalam masyarakat. Kondisi yang demikian memungkinkan terjadinya
benturan antar budaya, antar ras, etnik, agama dan nilai-nilai yang berlaku dalam
masyarakat. Kasus Ambon, Sampit, konflik antara FPI dan kelompok Achmadiyah, dan
sebagainya telah menyadarkan kepada kita bahwa kalau hal ini terus dibiarkan maka
sangat memungkinkan untuk terciptanya disintegrasi bangsa.
Jika kita cermati kronologi kejadian tersebut, sebetulnya adalah masalah –
masalah yang kerap terjadi disekitar kita. Hal yang membedakan hanyalah paradigma
berfikir masyarakat disetiap daerah. Di bebrapa daerah, sengketa lahan dapat
diselesaikan melalui meja hijau secara “dewasa”. Namun, dibeberapa daerah lain,
diakibatkan tingkat kesenjangan sosial yang tinggi (sebagai contoh Papua) serta tingkat
pendidikan masyarakatnya yang rendah, sengketa lahan diselesaikan dengan aksi – aksi
yang ekstrem bahkan berujung pada konflik berdarah. Perbedaan yang penyelesaian
masalah yang berbeda di setiap daerah yang sangat menonjol ini, sangat dipengaruhi
faktor – faktor tertentu, diantaranya adalah geografis, sikap toleransi (kesadaran sosial
atau social sense), dan pendidikan.
Faktor geografis berpengaruh karena menentukan juga pola hidup masyarakat,
kelengkapan sarana dan prasarana serta kemampuan pemerintah untuk menjangkaunya
(daerah terisolir). Daerah dengan akses yang lebih mudah, tentu memiliki tingkat
kesejahteraan yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah terisolir yang hanya bisa
dilewati kendaraan tertentu. Hal ini berpengaruh terhadap pembangunan daerah.
ketiadaan jalan, jembatan, sekolah dan pelayanan kesehatan menyebabkan
keterbelakangan masyarakat terisolir. Hal ini lah yang menyebabkan pemerintah
kesulitan menjangkau daerah tertentu ketika terjadi masalah sosial dalam masyarakat.
Hingga menyebabkan pengendalian keamanan menjadi minim. Tidak mustahil jadinya
jika pemerintah terlambat mengantisipasi terjadinya konflik.
Faktor kedua adalah sikap toleransi atau kesadaran sosial. Kehidupan
bermasyarakat tidak lepas dari interaksi sosial. Masyarakat saling memenuhi
kebutuhannya dengan cara berinteraksi antar sesama. Interaksi sosial menjadi suatu
kebutuhan utama. Namun, sering kali interaksi sosial ini tidak hanya bertujuan saling
memnuhi kebutuhan, tapi juga dapat menyebabkan disintegrasi sosial. Pola interaksi
yang kurang mapan antar individu dengan individu, individu dengan kelompok atau
kelompok dengan kelompok dapat menyebabkan mispresepsi. Hal ini pula sering kali
didasari pada latar belakang sosial suatu kelompok. Entah melalu ras, etnis atau agama
yang berujung pada konflik SARA. Perlunya tingkat kesadaran sosial/toleransi yang
tinggi dalam kehidupan bermasyarakta, dapat menekan disintegrasi dan konflik
berkepanjangan.
Dan faktor ketiga yang paling menentukan kesemua faktor lainnya adalah
pendidikan. Pendidikan berkontribusi menjadi faktor penentu pertumbuhan suatu
peradaban. Suatu bangsa dikatakan beradab apabila mampu menciptakan kehidupan
yang damai dan sejahtera bagi setiap masyarakat. Rendahnya tingkat pendidikan
seseorang mengakibatkan rendahnya kualitas SDM yang ada. Akibatnya, banyak orang
– orang yang hidup “tak layak” akibat banyak orang – orang yang menganggur akibat
kalah dalam persaingan kerja. Ketidak mampuan berkompetisi didunia yang dituntut
serba kreatif dan inovatif ini, mendorong terjadinya penyimpangan sosial. Apalagi
pertumbuhan jumlah penduduk yang setiap tahun tidak pernah mengalami penurunan
menjadi faktor pendukung tingkat pengangguran. Solusi rendahnya tingkat pendidikan
ini harus didasari pada realita sosial yang ada, konsep manusiawi guna meringankan
beban masyarakat, serta realisasi.
C. Pentingnya Pendidikan Mutikulturalisme
Pendidikan multikultural yang marak didengungkan sebagai langkah alternatif
dalam rangka mengelola masyarakat multikultur sebagaimana Indonesia tampaknya
masih menjadi wacana belaka. Gagasan genuine ini belum mampu diejawantahkan,
baik oleh masyarakat maupun pemerintah, dalam tindakan praksis.
Sampai di sini, layak kita meneguhkan kembali paradigma multikultural tersebut.
Peneguhan ini harus lebih ditekankan kepada persoalan kompetensi kebudayaan
sehingga tidak hanya berkutat pada aspek kognitif melainkan beranjak kepada aspek
psikomotorik. Peneguhan ini bermaksud mendedahkan kesadaran bahwa
multikulturalisme, sebagaimana diungkap oleh Goodenough (1976) adalah pengalaman
normal manusia. Ia ada dan hadir dalam realitas empirik. Untuk itu, pengelolaan
masyarakat multikultural Indonesia tidak bisa dilakukan secara taken for granted atau
trial and error. Sebaliknya harus diupayakan secara sistematis, programatis, integrated,
dan berkesinambungan. Di sinilah fungsi strategis pendidikan multikultural sebagai
sebuah proses di mana seseorang mengembangkan kompetensi dalam beberapa sistem
standar untuk mempersepsi, mengevaluasi, meyakini, dan melakukan tindakan.
Beberapa hal yang dibidik dalam pendidikan multikultural ini adalah: pertama,
pendidikan multikultural menolak pandangan yang menyamakan pendidikan
(education) dengan persekolahan (schooling) atau pendidikan multikultural dengan
program-program sekolah formal. Pandangan yang lebih luas mengenai pendidikan
sebagai transmisi kebudayaan juga bermaksud membebaskan pendidik dari asumsi
bahwa tanggung jawab primer dalam mengembangkan kompetensi kebudayaan semata-
mata berada di tangan mereka melainkan tanggung jawab semua pihak.
Kedua, pendidikan ini juga menolak pandangan yang menyamakan kebudayaan
dengan kelompok etnik. Hal ini dikarenakan seringnya para pendidik, secara
tradisional, mengasosiasikan kebudayaan hanya dengan kelompok-kelompok sosial
yang relatif self sufficient. Oleh karena individu-individu memiliki berbagai tingkat
kompetensi dalam berbagai dialek atau bahasa, dan berbagai pemahaman mengenai
situasi-situasi di mana setiap pemahaman tersebut sesuai, maka individu-individu
memiliki berbagai tingkat kompetensi dalam sejumlah kebudayaan. Dalam konteks ini,
pendidikan multikultural akan melenyapkan kecenderungan memandang individu
secara stereotip menurut identitas etnik mereka. Malah akan meningkatkan eksplorasi
pemahaman yang lebih besar mengenai kesamaan dan perbedaan di kalangan anak-
didik dari berbagai kelompok etnik.
Ketiga, pendidikan multikultural meningkatkan kompetensi dalam beberapa
kebudayaan. Kebudayaan mana yang akan diadopsi seseorang pada suatu waktu
ditentukan oleh situasinya. Meski jelas berkaitan, harus dibedakan secara konseptual
antara identitas-identitas yang disandang individu dan identitas sosial primer dalam
kelompok etnik tertentu.
Keempat, kemungkinan bahwa pendidikan meningkatkan kesadaran mengenai
kompetensi dalam beberapa kebudayaan akan menjauhkan kita dari konsep dwi-budaya
(bicultural) atau dikotomi antara pribumi dan non-pribumi. Karena dikotomi semacam
ini bersifat membatasi kebebasan individu untuk sepenuhnya mengekspresikan
diversitas kebudayaan.
Dalam melaksanakan pendidikan multikultural ini mesti dikembangkan prinsip
solidaritas. Yakni kesiapan untuk berjuang dan bergabung dalam perlawanan demi
pengakuan perbedaan yang lain dan bukan demi dirinya sendiri. Solidaritas menuntut
untuk melupakan upaya-upaya penguatan identitas melainkan berjuang demi dan
bersama yang lain. Dengan berlaku demikian, kehidupan multikultural yang dilandasi
kesadaran akan eksistensi diri tanpa merendahkan yang lain diharapkan segera
terwujud.
Dari berbagai keterangan di atas pendidikan multikultural sangat penting
diterapkan guna meminimalisasi dan mencegah terjadinya konflik di Kalimantan Barat.
Melalui pendidikan berbasis multikultural, sikap dan mindset (pemikiran) siswa akan
lebih terbuka untuk memahami dan menghargai keberagaman. Pendidikan multikultural
sangat penting diterapkan guna meminimalisasi dan mencegah terjadinya konflik,
contonya seperti di Kalimantan Barat. Melalui pendidikan berbasis multikultural, sikap
dan mindset (pemikiran) siswa akan lebih terbuka untuk memahami dan menghargai
keberagaman dan manghargai berbagai perbedaan yang ada.

D. Nilai-nilai utama, Penerapan dan Tujuan Pendidikan Islam multikultural di

Indonesia

1. Nilai-nilai utama dalam pendidikan islam multikultural meliputi :

A. Tauhid yaitu mengesakan tuhan. Pandangan hidup manusia bertujuan untuk


merealisasi konsep keesaan tuhan dalam hubungan antar sesama manusia. Tuhan
merupakan sumber utama bagi umat manusia, karenanya sesama manusia adalah
bersaudara (ukhuwah basyariyah).
B. Ummah : Hidup bersama. Semua orang memiliki akses yang sama untuk tinggal
di jagad raya ini, saling berdampingan, dan mengikat hubungan sosial dalam
sebuah kelompok, komunitas, masyarakat, atau bangsa.
C. Rahmah : Kasih sayang, yakni perwujudan sifat-sifat tuhan yang maha pengasih
lagi maha penyayang kepada manusia yang di ciptakan oleh tuhan untuk
berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain atas dasar semangat saling
mengasihi dan peduli.
D. Al-musawah, taqwa (egalitarianism) : bahwa semua manusia adalah bersaudara
dan mendapat perlakuan yang sama dihadapan Allah SWT. Meskipun berbeda
jenis kelamin, gender, ras, warna kulit dan agama.
2. Penerapan nilai multikultural dalam Islam :
A. Ta’ruf (saling mengenal dan berbuat baik) yaitu kesadaran dan keinginan untuk
tinggal bersama, berdampingan dengan yang lain yang berbeda budaya, etnis dan
agama, agar dicapai wawasan etnis yang luas, saling bekerja sama, saling
memberi dan menerima, serta siap berkurban.
B. Tafahum (saling memahami) yaitu kesadaran bahwa nilai-nilai mereka adalah
berbeda.bahwa kita saling melengkapi satu sama lain dan memberi kontribusi dan
hubungan yang dinamis terhadap pihak lain.
C. Fastabiqul khairot (berlomba-lomba dalam kebaikan) yaitu persamaan dan perbedaan
dapat mendukung terjalinnya komunikasi dan kompetisi antar individu dan
kelompok untuk memperoleh harga diri dan mutu pada semua aspek kehidupan
sosial.
D. Amanah, saling mempercayai: untuk menjaga sikap mempercayai dalam hubungan
antarsesama manusia.
E. Husnuzhan. Agar memiliki pikiran positif berarti haruslah awas dalam menghakimi
seseorang dalam suatu permasaalahan.
F. Tasamuh, toleransi Artinya menerima kebebasan beragam dan berekspresi serta
menghormati keragaman dalam agama, budaya, dan etnis.
G. ‘afw, maghfiroh yaitu memberikan maaf yang berarti melupakan semua bentuk
penyiksaan, kejahatan, dan perbuatan salah. Pemberi ampunan berarti dua hal,
yakni memaafkan pada saat kita punya kekuatan untuk membalas dendam, dan
meminta maaf disaat kita tak punya untuk membalas.
H. Takrim, saling menghormati artinya saling menghormati merupakan nilai-nilai
universal yang ada di dalam semua agama dan budaya dimana kita dapat
mempersiapkan diri kita untuk mendengarkan pendapat dan perspektif yang
berbeda, juga untuk menghormati nama baik (kemuliaan) dari berbagai individu
maupun kelompok.
I. Sulh, perdamaian atau rekonsiliasi yakni jalan yang terpilih untuk mengumpulkan
konsep kebenaran, ampunan dan keadilan setelah kekerasan terjadi.
J. Islah atau resolusi konflik yaitu penekanan pada kekuatan hubungan antara dimensi
psikologis dan kehidupan politik masyarakat melalui kesaksian bahwa
penderitaan individu atau kelompok tentulah akan tumbuh dengan cepat bilamana
kita tidak memahami, mengampuni, dan menyelesaikan konflik.
3. Tujuan mempelajari nilai-nilai utama dalam pendidikan islam multukultural :
A. Silah, yakni membangun perdamaian, menjaga perdamaian dan membuat
perdamaian.
B. Layyin, yakni lemah lembut atau budaya anti kekerasan. Yakni perilaku , perkataan,
sikap, serta berbagai struktur dan sistemyang memelihar dan menjag fisik, mental
sosial, dan menjadi aman dan damai.
C. ‘adl atu keadilan, yaitu membuat keseimbangan yang membuat ras peduli, saling
berbagi, serta sikap moderat dalam merespon perbedaan, jujur dan terbuka dalam
segala sudut pandang atau perbuatan.[6]

4. Revitalitas Pendidikan Agama Islam dalam Pendidikan Multikultural


Pada umumnya, pendidikan agama diberikan disekolah-sekolah tidak
menghidupkan pendidikan Multikultural yang baik, bahkan cenderung
berlawanan. Akibatnya konflik sosial sering kali diperkeras oleh adanya
legitiminasi keagamaan yang diajarkan dalam pendidikan agama disekolah-
sekolah daerah yang rawan konflik. Ini membuat konflik yang mempunyai akar
dalam keyakinan keagamaan yang fundamental sehinga konflik sosial dan
kekerasan semakin sulit diatasi, karena dipahami sebagai panggilan agamanya. [7]
Sebenarnya akar timbulnya berbagai koflik sosial yang membuahkan anarki yang
berkepanjangan sering kali tidak ada hubungannya dengan agama, tetapi dalam
kenyataannya agama selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari berbagai
konflik sosial tersebut.
Potensi konflik dan desintegrasi tersebut disebabkan karena agama dalam
manifestasinya bersifat ambivalen terhadap persatuan dan kesatuan. Artinya,
meskipun agama memiliki kekuatan mempersatu, agama juga mempunyai
kekuatan pemecah belah. Ada beberapa alasan menurut Din Syamsudin mengapa
agama memiliki ambivalensi seperti itu salah satu nya adalah agama memiliki
kecenderungan absolutistik yaitu kecendrungan untuk memutlakkan keyakinan
keagamaanya sebagai kebeneran tunggal. Akibatnya muncul rejeksionis yaitu
penolakan terhadap kebenaran agama lain.[8] Yang dianggap berbeda dari dan
berlawanan dengan yang lain. Akar konflik keagamaan seperti ini kata Athur
D’Adamo karena para pemeluk agama mengambil sikap untuk memandang
agama dari sudut pandang agamanya sendiri. Sehingga yang lebih mencuat
kepermukaan bukanya esensi kebenaran yang hendak ditawarkan oleh agama,
melainkan semangat untuk menegasikan yang lain.
Kenyataan menunjukkan bahwa pendidikan agama masih diajarkan dengan
cara menafikan hak hidup agama yang lainnya, seakan-akan hanya agamanya
sendirilah yang benar dan mempunyai hak hidup, sementara agama yang lain
salah, tersesat dan terancam hak hidupnya, baik di kalangan mayoritas maupun
yang minoritas. Semangat pendidikan keagamaan yang sempit ini sudah barang
tentu berlawanan secara fundamental dengan semangat pendidikan multikultural,
dan akan memperlemah persatuan bangsa. Karena itu, pendidikan agama Islam
harus direvitalisasi dan direaktualisasi secara kreatif dan berwawasan
multikultural sehingga tidak kehilangan jiwa dan semangatnya.
Karena pada dasarnya masyarakat kultural tidak hanya ciri khas masyarakat
indonesia. Dalam pandangan paling dini historitas keberagaman islam era
kenabian Muhammad, masyarakat yang pluralistik secara religius telah terbebtuk
bahkan telah menjadi kesadaran umum pada saat itu. Kondisi demikian
merupakan kewajaran lantaran secara kronologis agama islam memang muncul
setelah beberapa agama ang telah ada sebelumnya. Bukti empiris sejarah
peradaban islam dimasa lalu, menunjukkan islam tampil secara inklusif dan
sangat menghargai non muslim. Sikap inklusif ini ada karena al-quran
mengajarkan paham religius plurality. Bagi orang islam, dianut suatu keyakina
sampai hari ini didunia pun akan terdapat keragaman agama. Meskipun ada klaim
bahwa kebenaran agama ada pada islam. Namun dalam alquran juga disebutkan
adanya hak orang lain untuk beragama. Dan agama tidak bisa dipaksakan oleh
orang lain. Sikap inilah yang menjadi prinsip kejayaan islam sekaligus mendasari
kebijakan politik kebebasan beragama.
Ajaran tauhid dalam islam mengandung pengertian adanya suatu orde yang satu
sekaligus menyeluruh. Dengan kata lain terdapat hukum abadi yang universal.
Menurut Marcel A.Boisard, hukum yang abadi dan berlaku universal adalah
berawal dari suatu keyakinan bahwa manusia adalah satu dan tercipta karena
kehendak yang satu, yaitu Tuhan pencipta alam.kesadaran yang demikian hanya
tumbuh pada manusia yang menyadari prinsip-prinsip moral yang dapat
mempersatukan perasaan dan merupakan dasar kebajikan.
Seorang agamawan memang dituntut untuk mempunyai sikap yang lebih realistis
ketika berhadapan dengan realitas empiris kehidupan yang beragam teutama
dalam memposisikan agama. Seperti yang dikemukakan oleh Hans kung bahwa
kedudukan harus dilihat dari dua arah. Pertama, dari luar yakni diakui oleh
bermacam-macam agama yang benar. Inilah dimensi relatif suatu agama. Agama-
agama mempunyai satu tujuan yaitu keselamatan (dengan konsep yang berbeda-
beda) dengan jalan yang berbeda-beda. Sehingga lewat perbedaan ini, agama-
agama bisa memperkaya satu sama lain. Kedua, dari dalam, diakui adanya suatu
agama yang benar, inilah dimensi mutlak suatu agama. Pendidikan ini tidak harus
menolak kebenaran agama-agama lain walaupun pada tingkat- tingkat tertentu,
sejauh tidak bertentangan dengan pesan agama yang dianut.

Melalui pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai etik yang fundamental yang


dimilki oleh peserta didik dapat menjadi penghubung pengikut agama satu dngan
agama lainya. Konflik sosial yang mewarnai pasang surutnya persatuan Indonesia
harus menjadi perhatian dan perlu diawasi oleh kemampuan manajemen politik
bangsa agar tidak berkembang menjadi kekuatan yang memecah belah persatuan
indonesia. Salah satu cara strategis adalah pendidika multikultural yang dilakukan
secara aktual,cerdas, dan jujur.

Pendidikan apapun bentuknya, tidak boleh kehilangan dimensi multikulturalnya,


termasuk didalamnya pendidikan keagamaan dan dan keilmuan, karena realitas
dalam kehidupan pada hakikatnya multidimensional. Karena itu untuk mengatasi
problem kemanusiaan yang ada, tidak bisa lain kecuali dengan menggunakan
pendekatan yang multidimensional yang didalamnya adalah pendidikan
multikultural.

E. Pengertian Masyarakat Multikultural


Pada hakikatnya masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri atas
berbagai macam suku yang masing-masing mempunyai struktur budaya (culture) yang
berbeda-beda. Dalam hal ini masyarakat multikultural tidak bersifat homogen, namun
memiliki karakteristik heterogen di mana pola hubungan sosial antarindividu di
masyarakat bersifat toleran dan harus menerima kenyataan untuk hidup berdampingan
secara damai (peace co-exixtence) satu sama lain dengan perbedaan yang melekat pada
tiap etnisitas sosial dan politiknya. Oleh karena itu, dalam sebuah masyarakat
multikultural sangat mungkin terjadi konflik vertikal dan horizontal yang dapat
menghancurkan masyarakat tersebut.
Menurut C.W. Watson (1998) dalam bukunya Multiculturalism, membicarakan
masyarakat multikultural adalah membicarakan tentang masyarakat negara, bangsa,
daerah, bahkan lokasi geografis terbatas seperti kota atau sekolah, yang terdiri atas
orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda-beda dalam kesederajatan.
A. Ciri-Ciri Masyarakat Multikultural
1. Terjadi segmentasi, yaitu masyarakat yang terbentuk oleh bermacam-macam
suku, ras, dll tapi masih memiliki pemisah. Yang biasanya pemisah itu adalah
suatu konsep yang disebut primordial. Contohnya, di Jakarta terdiri dari
berbagai suku dan ras, baik itu suku dan ras dari daerah dalam negeri maupun
luar negeri, dalam kenyataannya mereka memiliki segmen berupa ikatan
primordial kedaerahaannya.
2. Memilki struktur dalam lembaga yang non komplementer, maksudnya adalah
dalam masyarakat majemuk suatu lembaga akam mengalami kesulitan dalam
menjalankan atau mengatur masyarakatnya alias karena kurang lengkapnya
persatuan yang terpisah oleh segmen-segmen tertentu.
3. Konsensus rendah, maksudnya adalah dalam kelembagaan pastinya perlu adanya
suatu kebijakan dan keputusan. Keputusan berdasarkan kesepakatan bersama
itulah yang dimaksud konsensus, berarti dalam suatu masyarakat majemuk sulit
sekali dalam pengambilan keputusan.
4. Relatif potensi ada konflik, dalam suatu masyarakat majemuk pastinya terdiri
dari berbagai macam suku adat dan kebiasaan masing-masing. Dalam teorinya
semakin banyak perbedaan dalam suatu masyarakat, kemungkinan akan
terjadinya konflik itu sangatlah tinggi dan proses peng-integrasianya juga susah.
5. Integrasi dapat tumbuh dengan paksaan, seperti yang sudah saya jelaskan di atas,
bahwa dalam masyarakat multikultural itu susah sekali terjadi pengintegrasian,
maka jalan alternatifnya adalah dengan cara paksaan, walaupun dengan cara
seperti ini integrasi itu tidak bertahan lama.
6. Adanya dominasi politik terhadap kelompok lain, karena dalam masyarakat
multikultural terdapat segmen-segmen yang berakibat pada ingroup fiiling tinggi
maka bila suaru ras atau suku memiliki suatu kekuasaan atas masyarakat itu
maka dia akan mengedapankan kepentingan suku atau rasnya.

B. Penyebab Terciptanya Masyarakat Multikultural


Pada dasarnya semua bangsa di dunia bersifat multikultural. Adanya masyarakat
multikultural memberikan nilai tambah bagi bangsa tersebut. Keragaman ras, etnis,
suku, ataupun agama menjadi karakteristik tersendiri, sebagaimana bangsa Indonesia
yang unik dan rumit karena kemajemukan suku bangsa, agama, bangsa, maupun ras.
Masyarakat multikultural Indonesia adalah sebuah masyarakat yang berdasarkan pada
ideologi multikulturalisme atau Bhinneka Tunggal Ika yang multikultural, yang
melandasi corak struktur masyarakat Indonesia pada tingkat nasional dan lokal.
Berkaca dari masyarakat multikultural bangsa Indonesia, kita akan mempelajari
penyebab terbentuknya masyarakat multikultural. Keanekaragaman budaya dan
masyarakat dianggap pendorong utama munculnya persoalan-persoalan baru bagi
bangsa Indonesia. Faktor penyebab terciptanya masyarakat multikultural adalah sbb :
1. Faktor geografis, faktor ini sangat mempengaruhi apa dan bagaimana kebiasaan
suatu masyarakat. Maka dalam suatu daerah yang memiliki kondisi geografis yang
berbeda maka akan terdapat perbedaan dalam masyarakat (multikultural).
2. Pengaruh budaya asing, mengapa budaya asing menjadi penyebab terjadinya
multikultural, karena masyarakat yang sudah mengetahui budaya-budaya asing
kemungkinan akan terpengaruh mind set mereka.
3. Kondisi iklim yang berbeda, maksudnya hampir sama denga perbedaan letak
geografis suatu daerah.
4. Keanekaragaman Suku Bangsa
Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki kekayaan budaya yang
luar biasa banyaknya. Yang menjadi sebab adalah keberadaan ratusan suku bangsa
yang hidup dan berkembang di berbagai tempat di wilayah Indonesia. Kita bisa
membayangkan apa jadinya apabila masing-masing suku bangsa itu mempunyai
karakter, adat istiadat, bahasa, kebiasaan, dan lain-lain.
5. Keanekaragaman Agama
Letak kepulauan Nusantara pada posisi silang di antara dua samudra dan dua
benua, jelas mempunyai pengaruh yang penting bagi munculnya keanekaragaman
masyarakat dan budaya. Dengan didukung oleh potensi sumber alam yang
melimpah, maka Indonesia menjadi sasaran pelayaran dan perdagangan dunia.
Apalagi di dalamnya telah terbentuk jaringan perdagangan dan pelayaran
antarpulau. Dampak interaksi dengan bangsa-bangsa lain itu adalah masuknya
beragam bentuk pengaruh agama dan kebudayaan. Selain melakukan aktivitas
perdagangan, para saudagar Islam, Hindu, Buddha, juga membawa dan
menyebarkan ajaran agamanya. Apalagi setelah bangsa Barat juga masuk dan
terlibat di dalamnya. Agama-agama besar pun muncul dan berkembang di
Indonesia, dengan jumlah penganut yang berbeda-beda. Kerukunan antarumat
beragama menjadi idam-idaman hampir semua orang, karena tidak satu agama pun
yang mengajarkan permusuhan.
6. Keanekaragaman Ras
Salah satu dampak terbukanya letak geografis Indonesia, banyak bangsa luar yang
bisa masuk dan berinteraksi dengan bangsa Indonesia. Misalnya, keturunan Arab,
India, Persia, Cina, Hadramaut, dan lain-lain. Dengan sejarah, kita bisa merunut
bagaimana asal usulnya.
Dari keterangan-keterangan tersebut terlihat bahwa bangsa Indonesia terdiri atas
berbagai kelompok etnis, agama, budaya yang berpotensi menimbulkan konflik
sosial. Berkaitan dengan perbedaan identitas dan konflik sosial muncul tiga
kelompok sudut pandang yang berkembang, yaitu:
a. Pandangan Primordialisme
Kelompok ini menganggap perbedaan-perbedaan yang berasal dari genetika seperti
suku, ras, agama merupakan sumber utama lahirnya benturan-benturan kepentingan
etnis maupun budaya.
b. Pandangan Kaum Instrumentalisme
Menurut mereka, suku, agama, dan identitas yang lain dianggap sebagai alat yang
digunakan individu atau kelompok untuk mengejar tujuan yang lebih besar baik
dalam bentuk materiil maupun nonmateriil.
c. Pandangan Kaum Konstruktivisme
Kelompok ini beranggapan bahwa identitas kelompok tidak bersifat kaku,
sebagaimana yang dibayangkan kaum primordialis. Etnisitas bagi kelompok ini
dapat diolah hingga membentuk jaringan relasi pergaulan sosial. Oleh karena itu,
etnisitas merupakan sumber kekayaan hakiki yang dimiliki manusia untuk saling
mengenal dan memperkaya budaya. Bagi mereka persamaan adalah anugerah dan
perbedaan adalah berkah.

C. Konflik yang Muncul Akibat Keanekaragaman


Sebagaimana telah dijelaskan di depan bahwa keragaman suku bangsa yang
dimiliki Indonesia adalah letak kekuatan bangsa Indonesia itu sendiri. Selain itu,
keadaan ini menjadikan Indonesia memiliki nilai tambah di mata dunia. Namun, di sisi
lain realitas keanekaragaman Indonesia berpotensi besar menimbulkan konflik sosial
berbau sara (suku, agama, ras, dan adat). Oleh karena itu, kemampuan untuk mengelola
keragaman suku bangsa diperlukan guna mencegah terjadinya perpecahan yang
mengganggu kesatuan bangsa. Konflik-konflik yang terjadi di Indonesia umumnya
muncul sebagai akibat keanekaragaman etnis, agama, ras, dan adat, seperti konflik
antaretnis yang terjadi di Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Papua, dan lain-lain.
Di Kalimantan Barat adanya kesenjangan perlakuan aparat birokrasi dan hukum
terhadap suku asli Dayak dan suku Madura menimbulkan kekecewaan yang mendalam.
Akhirnya, perasaan ini meledak dalam bentuk konflik horizontal. Masyarakat Dayak
yang termarginalisasi semakin terpinggirkan oleh kebijakan-kebijakan yang
diskriminatif. Sementara penegakan hukum terhadap salah satu kelompok tidak berjalan
sebagaimana mestinya. Sedangkan di Poso, Sulawesi Tengah konflik bernuansa sara
mula-mula terjadi pada tanggal 24 Desember 1998 yang dipicu oleh seorang pemuda
Kristen yang mabuk melukai seorang pemuda Islam di dalam Masjid Sayo. Kemudian
pada pertengahan April 2000, terjadi lagi konflik yang dipicu oleh perkelahian antara
pemuda Kristen yang mabuk dengan pemuda Islam di terminal bus Kota Poso.
Perkelahian ini menyebabkanterbakarnya permukiman orang Pamona di Kelurahan
Lambogia. Selanjutnya, permukiman Kristen melakukan tindakan balasan.
Dari dua kasus tersebut terlihat betapa perbedaan mampu memicu munculnya
konflik sosial. Perbedaan-perbedaan yang disikapi dengan antisipasi justru akan
menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan banyak orang. Oleh karena itu, bagaimana
kita bersikap dalam keanekaragaman benar-benar perlu diperhatikan.

F. Implementasi Dalam Dunia Pendidikan


Indonesia adalah Negara yang terdiri dari beragam masyarakat yang berbeda
seperti agama, suku, ras, kebudayaan, adat istiadat, bahasa, dan lain sebagainya
menjadikan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang majemuk. Dalam
kehidupan yang beragam seperti ini menjadi tantangan untuk mempersatukan bangsa
Indonesia menjadi satu kekuatan yang dapat menjunjung tinggi perbedaan dan
keragaman masyarakatnya.
Hal ini dapat dilakukan dengan pendidikan multikultural yang ditanamkan kepada
anak-anak lewat pembelajaran di sekolah maupun di rumah. Seorang guru bertanggung
jawab dalam memberikan pendidikan terhadap anak didiknya dan dibantu oleh orang
tua dalam melihat perbedaan yang terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun
pendidkan multikultural bukan hanya sebatas kepada anak-anak usia sekolah tetapi juga
kepada masyarakat Indonesia pada umumnya lewat acara atau seminar yang
menggalakkan pentingnya toleransi dalam keberagaman menjadikan masyarakat
Indonesia dapat menerima bahwa mereka hidup dalam perbedaan dan keragaman.
Upaya ini juga dapat dilakukan oleh media, mengingat fungsinya sebagai alat
informasi kepada masyarakat. Media berfungsi memberikan pendidikan multikultural
lewat tulisan dan tayangan yang mengajarkan toleransi masyarakat dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Mengingat media massa dapat berdampak pada pengetahuan,
nilai-nilai, sikap dan perilaku, sehingga masyarakat dapat mengetahui secara langsung
bagaimana hakikat toleransi yaitu kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai
dan saling menghargai pihak lain. Apa yang disajikan media kepada masyarakat dapat
mempengaruhi kehidupan mereka sehari-hari sehingga fungsi media sangat berperan
dalam memberikan pendidikan multikultural untuk mencapai masyarakat yang saling
menyatu dalam bingkai negara indonesia seperti slogan “Bhineka Tunggal Ika” yang
bermakna berbeda-beda namun tetap satu. Ini menyatakan bahwa keragaman dan
perbedaan yang ada di Indonesia menjadi kekuatan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Secara generik, pendidikan multikultural memang sebuah konsep yang dibuat
dengan tujuan untuk menciptakan persamaan peluang pendidikan bagi semua siswa
yang berbeda-beda ras, etnis, kelas sosial dan kelompok budaya. Salah satu tujuan
penting dari konsep pendidikan multikultural adalah untuk membantu semua siswa agar
memperoleh pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperlukan dalam menjalankan
peran-peran seefektif mungkin pada masyarakat demokrasi-pluralistik serta diperlukan
untuk berinteraksi, negosiasi, dan komunikasi dengan warga dari kelompok beragam
agar tercipta sebuah tatanan masyarakat bermoral yang berjalan untuk kebaikan
bersama.
Dalam implementasinya, paradigma pendidikan multikultural dituntut untuk
berpegang pada prinsip-prinsip berikut ini:
1. Pendidikan multikultural harus menawarkan beragam kurikulum yang
merepresentasikan pandangan dan perspektif banyak orang.
2. Pendidikan multikultural harus didasarkan pada asumsi bahwa tidak ada penafsiran
tunggal terhadap kebenaran sejarah.
3. Kurikulum dicapai sesuai dengan penekanan analisis komparatif dengan sudut
pandang kebudayaan yang berbeda-beda.
4. Pendidikan multikultural harus mendukung prinsip-prinisip pokok dalam
memberantas pandangan klise tentang ras, budaya dan agama.
Pendidikan multikultural mencerminkan keseimbangan antara pemahaman
persamaan dan perbedaan budaya mendorong individu untuk mempertahankan dan
memperluas wawasan budaya dan kebudayaan mereka sendiri.
Beberapa aspek yang menjadi kunci dalam melaksanakan pendidikan
multikultural dalam struktur sekolah adalah tidak adanya kebijakan yang menghambat
toleransi, termasuk tidak adanya penghinaan terhadap ras, etnis dan jenis kelamin. Juga,
harus menumbuhkan kepekaan terhadap perbedaan budaya, di antaranya mencakup
pakaian, musik dan makanan kesukaan. Selain itu, juga memberikan kebebasan bagi
anak dalam merayakan hari-hari besar umat beragama serta memperkokoh sikap anak
agar merasa butuh terlibat dalam pengambilan keputusan secara demokratis.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Multikulturalisme adalah sebuah ideologi dan sebuah alat untuk meningkatkan
derajat manusia dan kemanusiaannya. Untuk dapat memahami multikulturalisme
diperlukan landasan pengetahuan yang berupa bangunan konsep-konsep yang relevan
dan mendukung keberadaan serta berfungsinya multikulturalisme dalam kehidupan
manusia. Dari pengertian tersebut jelas bahwa mutikultural sangat penting dalam
membangun bangsa. Salah satunya adalah melalui pendidikan.
Pendidikan multikultural sangat penting diterapkan guna meminimalisasi dan
mencegah terjadinya konflik di Indonesia, yang nota benenya mempunyai beragam
perbedaan di dalamnya. Entah itu dilihat dari agama, suku dan juga ras. Melalui
pendidikan berbasis multikultural, sikap dan mindset masyarakat, khususnya siswa,
akan lebih terbuka untuk memahami dan menghargai keberagaman. Pendidikan
multikultural sangat penting diterapkan guna meminimalisasi dan mencegah terjadinya
konflik.
Dalam implementasinya, paradigma pendidikan multikultural dituntut untuk
berpegang pada prinsip-prinsip berikut ini: Pendidikan multikultural harus menawarkan
beragam kurikulum yang merepresentasikan pandangan dan perspektif banyak orang,
harus didasarkan pada asumsi bahwa tidak ada penafsiran tunggal terhadap kebenaran
sejarah, kurikulum dicapai sesuai dengan penekanan analisis komparatif dengan sudut
pandang kebudayaan yang berbeda-beda, harus mendukung prinsip-prinisip pokok
dalam memberantas pandangan klise tentang ras, budaya dan agama.
Untuk itu dipandang sangat penting memberikan porsi pendidikan multikultural
sebagai wacana baru dalam sistem pendidikan di Indonesia terutama agar peserta didik
memiliki kepekaan dalam menghadapi gejala-gejala dan masalah-masalah sosial yang
berakar pada perbedaan kerena suku, ras, agama dan tata nilai yang terjadi pada
lingkungan masyarakatnya. Hal ini dapat diimplementasi
baik pada substansi maupun model pembelajaran yang mengakui dan menghormati
keanekaragaman budaya.

Daftar Pustaka
http://israyuda.wordpress.com/2012/01/04/isu-sara-dan-kesenjangan-sosial/
http://argamakmur.wordpress.com/cara-mengatasi-agar-tidak-terjadi-integrasi-suatu-
bangsa/

Posted by FAISAL AMRI at 20:42


Reactions:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)