Anda di halaman 1dari 22

50

BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Objek Penelitian

Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Badan Kredit Kecamatan

Tengaran (PD BPR BKK Tengaran) adalah sebuah perusahaan daerah milik

pemerintah daerah tingkat II Kabupaten Semarang yang berkedudukan dan

melaksanakan operasionalnya di kecamatan Tengaran. Secara resmi berdiri pada

tanggal 21 Juni 1976 dengan nama Badan Kredit Pedesaan (BKPD), atas dasar Surat

Keputusan Bupati Daerah Tingkat II Semarang Nomor 1/BKPD/ 1971. Pada tanggal

1 Januari 1973 BKPD diubah menjadi Badan Kredit Kecamatan (BKK) atas dasar

Surat Keputusan Bupati Daerah Tingkat II Semarang Nomor G322/1970 yang

didukung Peraturan Daerah Nomor II Tahun 1981. Pada Tanggal 8 Oktober 1991

BKK Tengaran dikukuhkan sebagai Bank Perkreditan Rakyat (BPR) atas dasar Surat

Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 330/km.B/1991. Pada tanggal 18 April

1995 PD BPR BKK dalam pelaksanaan operasionalnya diatur Peraturan Daerah

Provinsi Dati II Jawa Tengah Nomor 4 Tahun 1995.

PD BPR BKK Tengaran merupakan suatu usaha pemerintah dibidang

perbankan yang bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat pedesaan. Tugas

pokok PD BPR BKK Tengaran hampir sama dengan tugas-tugas bank-bank lain pada

umumnya, yaitu menghimpun dan menyalurkan dana kepada masyarakat khususnya

masyarakat pedesaan. Latar belakang dibentuknya PD BPR BKK Tengaran adalah


51

untuk “Pembangunan Desa” (Rural Development). Khususnya diwilayah kecamatan

Tengaran. Tujuan PD BPR BKK Tengaran antara lain: 36

a. Memberikan modal pada golongan masyarakat ekonomi lemah di wilayah

pedesaan melalui kredit;

b. Melindungi pengusaha kecil dari jeratan lintah darat;

c. Menggerakkan prinsip gemar menabung pada masyarakat pedesaan.

Untuk melaksanakan kegiatan operasionalnya PD BPR BKK Tengaran

membutuhkan sarana yang dapat menunjang tujuan pokoknya yaitu pembangunan

BKK secara merata dan seragam yang ditinjau dari aspek filosofis, fungsi, dan fisik di

seluruh wilayah jawa tengah. 37

Struktur organisasi dapat diperlukan sebagai gambaran secara sistematis

tentang hubungan-hubungan kerjasama dari orang-orang dalam rangka mencapai

suatu tujuan. Setiap badan usaha harus mempunyai struktur organisasi yang tepat dan

memuat pembagian tugas serta wewenang .

Struktur organisasi dapat menggambarkan kedudukan masing-masimg

jabatan dalam suatu badan usaha sehubungan dengan wewenang dan tanggung jawab

yang ada pada masing-masing bidang kerja. Sementara itu, struktur organisasi yang

tepat dan jelas akan memudahkan pimpinan dalam mengadakan pengawasan maupun

meminta pertanggung jawaban pada bawahannya.

36
Hasil wawancara dengan bapak Edy Suprobo, selaku Kasie Kredit, Tanggal 4 Pebruari 2008.
37
Hasil wawancara dengan bapak Edy Suprobo, selaku Kasie Kredit, tanggal 4 Pebruari 2008.
52

Adapun bentuk struktur organisasi PD BPR BKK Tengaran adalah sebagai

berikut: 38

BUPATI
SEMARANG

DEWAN
KOMISARIS

DIREKSI

BAGIAN BAGIAN
PEMASARAN PELAYANAN

PEMBUKUAN

KASIE KASIE
KREDIT DANA
PIT SEKSI
UMUM
PIT KASIE PIT SEKSI
KREDIT DANA
KASIR

PIT KASIE
KREDIT

Keterangan:

a. Bupati Semarang

Bupati Semarang merupakan pemilik sekaligus pemegang saham PD

BPR BKK. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa PD BPR BKK adalah
38
Arsip PD BPR BKK Tengaran.
53

suatu perusahaan daerah yang dimiliki oleh pemerintah daerah tingkat II

Kabupaten Semarang.

b. Dewan Komisaris

Dewan Komisaris merupakan pengawas yang mempunyai tugas

menetapkan kebijaksanaan umum yang digariskan oleh pemegang saham,

melaksanakan pengawasan, pemeriksaan, dan pembinaan terhadap PD BPR

BKK. Dewan komisaris mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut:

1) Menyusun tata cara pengawasan dan pengelolaan PD BPR BKK;

2) Melakukan pengawasan terhadap pengurusan PD BPR BKK;

3) Menetapkan kebijaksanaan anggaran dan keuangan PD BPR BKK;

4) Melakukan pembinaan dan pengembangan PD BPR BKK.

c. Direksi

Direksi mempunyai tugas menyusun perencanaan, melaksanakan

koordinasi dalam pelaksanaan tugas antar anggota Direksi dan melakukan

pembinaan serta pengendalian terhadap bidang, sekretariat, sub bagian, seksi,

cabang atau unit pelayanan berdasarkan azas keseimbangan dan keserasian.

Fungsi Direksi adalah sebagai berikut:

1) Pelaksanaan manajemen PD BPR BKK berdasarkan kebijaksanaan umum

pemegang saham yang ditetapkan oleh dewan pengawas;

2) Penetapan kebijaksanaan untuk melaksanakan pengurusan dan

pengelolaan PD BPR BKK berdasarkan kebijaksanaan umum pemegang

saham yang ditetapkan oleh dewan pengawas;


54

3) Penyusunan dan penyampaian RKAP dan perubahannya kepada

Bupati/Walikota melalui dewan pengawas untuk mendapatkan pengesahan

setelah melalui pembahasan dalam rapat pemegang saham;

4) Penyusunan dan penyampaian laporan bulanan, laporan keuangan

tahunan, dan laporan-laporan lainnya yang diperlukan kepada kantor Bank

Indonesia setempat dan tindasannya disampaikan kepada Badan Pembina

Propinsi dan Badan Pembina Kabupaten/Kota;

5) Penyusunan dan pengumuman laporan keuangan publikasi dan

melaporkannya kepada kantor Bank Indonesia setempat dan tindasannya

disampaikan kepada Badan Pembina Propinsi dan Badan Pembina

Kabupaten/Kota;

6) Penyusunan dan penyampaian laporan pertanggungjawaban tahunan

kepada pemegang saham;

7) Penyusunan dan penyampaian laporan akhir masa jabatan kepada

pemegang saham.

d. Bagian Pemasaran

Bagian pemasaran mempunyai tugas menghimpun dana dan

menyalurkannya dalam bentuk kredit sesuai dengan peraturan perundang-

undangan yang berlaku. Bagian pemasaran membawahi bagian-bagian

sebagai berikut:

1) Seksi Kredit
55

Seksi kredit mempunyai tugas melaksanakan segala kegiatan yang

berhubungan dengan usaha perkreditan diantaranya pemasaran, pemberian

kredit, penagihan, pengadministrasian, dan pemantauan kolektibilitas.

Untuk melaksanakan tugasnya seksi kredit mempunyai fungsi sebagai

berikut:

a) Pelaksanaan perencanaan kredit;

b) Penyelenggaraan usaha dengan kolektibilitas yang tinggi;

c) Pemberian penjelasan tentang syarat-syarat dan prosedur kepada calon

nasabah;

d) Penelitian syarat-syarat calon nasabah kredit;

e) Penganalisaan calon nasabah yang mengajukan kredit;

f) Pemberian rekomendasi permohonan kredit yang diajukan oleh

nasabah;

g) Pelaksanaan administrasi kredit, mempersiapkan, dan meneliti

perjanjian kredit;

h) Pelaksanaan penyimpanan dan pemeliharaan dokumen;

i) Pembinaan kredit usaha kecil, kredit investasi, kredit konsumsi,

program hubungan PD BPR BKK dengan kelompok peminjam, dan

penanganan kredit bermasalah;

j) Pembinaan nasabah yang kreditnya dihapusbukukan;

k) Penagihan secara intensif dan semaksimal mungkin atas kredit yang

telah dihapusbukukan;
56

l) Pemberian saran dan pertimbangan mengenai langkah-langkah dan

atau tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya.

2) Seksi Dana

Seksi dana mempunyai tugas melakukan usaha dan koordinasi

pengembangan dana dan pembinaan hubungan nasabah PD BPR BKK.

Dalam melakukan tugasnya seksi dana mempunyai fungsi sebagai berikut:

a) Penyelenggaraan usaha pengembangan dana;

b) Pelaksanaan administrasi keluar masuk dana;

c) Pengelolaan rekening nasabah;

d) Pemberian saran dan pertimbangan mengenai langkah-langkah dan

atau tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya.

e. Bagian Pelayanan

Bagian pelayanan mempunyai tugas melakukan pengkoordinasian

kegiatan-kegiatan pemasukan dan pengeluaran dana serta melakukan

pembukuan dan penerimaan laporan dari bagian-bagian lain. Bagian

pelayanan membawahi bagian-bagian sebagai berikut:


57

1) Pembukuan

Seksi pembukuan mempunyai tugas melakukan pembukuan dan menerima

laporan dari bagian-bagian lain. Dalam melaksanakan tugasnya seksi

pembukuan mempunyai fungsi sebagai berikut:

a) Pencatatan atas seluruh transaksi;

b) Penyusunan laporan keuangan;

c) Pemberian saran dan pertimbangan-pertimbangan mengenai langkah-

langkah dan atau tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang

tugasnya.

2) Kasir

Seksi kas mempunyai tugas melaksanakan koordinasi kegiatan-kegiatan

pemasukan dan pengeluaran uang. Dalam melaksanakan tugasnya seksi

kas mempunyai fungsi sebagai berikut:

a) Pengkoordinasian pengawasan, pengarahan terhadap kegiatan dan

pelaksanaan tugas:

b) Penelitian kebenaran laporan kas harian;

c) Penyetoran dan penarikan uang antar bank;

d) Pemegang kunci brankas;

e) Pemberian saran dan pertimbangan-pertimbangan mengenai langkah-

langkah dan atau tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang

tugasnya.
58

B. Tata Cara Pemberian Kredit dengan Jaminan Hak Tanggungan

1. Pemberian Kredit oleh PD BPR BKK Tengaran

PD BPR BKK dalam memberikan kredit harus mendasarkan pada prinsip

kehati-hatian. Sebagai lembaga keuangan yang melepaskan uangnya kepada

masyarakat, PD BPR BKK Tengaran harus bertindak hati-hati dalam menentukan

siapa yang patut untuk diberikan kredit dan berapa besarnya jumlah kredit yang

diberikan setelah mengetahui apa jaminan yang diberikan oleh calon debitur dan

juga penerapan prinsip 5 C (Collateral, Capital, Capacity, Character, Condition

of Economy)39 dengan baik. Selain hal tersebut, PD BPR BKK Tengaran juga

harus menjaga bahwa perjanjian yang dibuat dengan calon debitur tidak cacat dan

memenuhi syarat-syarat sah perjanjian. Apabila sejak dini bank sudah bertindak

hati-hati, dapatlah diharapkan bahwa kredit yang diberikan kepada debitur

terjamin dalam pengembaliannya, yaitu dikembalikan sebelum atau tepat pada

waktu yang telah diperjanjikan.

Di dalam praktik permohonan yang diajukan oleh calon debitur terlalu

berlebihan. Oleh karena itu dalam mengajukan permohonan kredit perlu

diperhitungkan tentang adanya penyimpangan atau hal-hal yang tidak

diinginkan.40 Dalam menyikapi hal ini PD BPR BKK Tengaran mengadakan

“Survey on The Spot” atau peninjauan tempat dimana barang jaminan berada.

Dari hasil “Survey on The Spot” petugas dapat membuat laporan penilaian

39
Hasil wawancara dengan bapak Sudanar, selaku Direktur, Tanggal 6 Pebruari 2008
40
Hasil wawancara dengan bapak Edy Suprobo, selaku Kasie Kredit, Tanggal 13 Pebruari 2008
59

jaminan kredit yang kemudian diserahkan kepada direksi. Syarat calon debitur

yang mengajukan kredit antara lain:41

a. Syarat Permohonan Kredit

1) Calon debitur merupakan penduduk yang berdomisili

di kecamatan Tengaran dan sekitarnya yang berpenghasilan rendah;

2) Calon debitur memiliki usaha yang produktif.

b. Syarat Pengajuan Kredit

1) Calon debitur mengisi formulir pengambilan kredit yang telah disediakan;

2) Formulir diketahui dan diperkuat oleh Kepala Desa atau Kepala Kelurahan

setempat.

Selain syarat tersebut calon debitur juga harus melengkapi syarat sebagai

berikut:

a. Formulir tanda penerimaan jaminan yang berisi tentang barang yang dijadikan

jaminan, apabila barang jaminan berupa hak atas tanah maka terlebih dahulu

harus dibuatkan SKMHT (Surat Kuasa Membebankan Hak tanggungan) atau

APHT (Akta Pemberian Hak Tanggungan) pada Notaris yang ditunjuk;

b. Formulir penyerahan hak milik jaminan. Formulir ini berisi daftar barang-

barang jaminan. Selanjutnya yang menerangkan sebagai kuasa adalah PD

BPR BKK Tengaran dan surat ini dikuatkan oleh pihak yang berwenang;

41
Hasil wawancara dengan bapak Edy Suprobo, selaku Kasie kredit, Tanggal 13 Pebruari 2008
60

c. Surat kuasa menjual. Yaitu surat yang menerangkan kesanggupan calon

debitur apabila ia tidak dapat melunasi hutangnya setelah jatuh tempo maka

barang yang dijadikan jaminan tersebut menjadi milik PD BPR BKK, yang

kemudian jaminan tersebut dapat dilelang secara umum. Dari hasil pelelangan

tersebut, digunakan untuk melunasi biaya pokok kredit dan kelebihannya

dikembalikan kepada debitur.

Pada saat pengambilan kredit oleh debitur tidak dapat dikuasakan kepada

orang lain namun harus secara langsung oleh yang bersangkutan dan harus

menunjukkan identitas diri. Jika ingin mengajukan tambahan kredit maka debitur

harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Pinjaman kredit yang terdahulu telah lunas;

b. Angsuran kredit yang terdahulu baik, lancar, dan pengembaliannya sesuai

jangka waktu yang telah ditentukan;

c. Usaha yang dilakukan debitur mengalami perkembangan dengan pemberian

kredit yang terdahulu.

Apabila syarat-syarat tersebut telah dipenuhi maka untuk selanjutnya surat

perjanjian pinjaman penandatanganannya dilakukan oleh petugas dan surat kuasa

tidak berlaku lagi. Pemberian kredit oleh PD BPR BKK Tengaran kepada

masyarakat dilaksanakan dengan mudah, murah, dan cepat hal ini bertujuan untuk

meningkatkan taraf hidup masyarakat menengah ke bawah.42

42
Hasil wawancara dengan bapak Edy Suprobo, selaku Kasie Kredit, Tanggal 13 Pebruari
2008.
61

Di dalam pelaksanaan perjanjian kredit tersebut menimbulkan hak dan

kewajiban masing-masing pihak yaitu kreditur (PD BPR BKK Tengaran) dan

debitur memiliki beberapa hak dan terikat pada beberapa kewajiban yang wajib

dipenuhi guna menjamin rasa saling percaya oleh para pihak serta kegiatan

perkreditan dapat dilaksanakan dengan lancar. Beberapa hak dan kewajiban

tersebut antara lain sebagai berikut: 43

a. Hak Kreditur

1) Menerima bunga sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati bersama;

2) Menegur atau memperingatkan apabila dalam pembayaran angsuran kredit

dinyatakan kurang lancar atau diragukan;

3) Menerima administrasi dan provisi.

b. Kewajiban Kreditur

1) Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada debitur;

2) Memberikan informasi mengenai kredit;

3) Mematuhi segala ketentuan yang termuat di dalam perjanjian kredit;

c. Hak Debitur

1) Menerima Kredit yang diberikan oleh kreditur;

2) Menerima tabungan di akhir pelunasan;

3) Debitur diasuransikan. Artinya, kredit yang ditanggung oleh pihak

asuransi. Yang dijaminkan adalah jumlah plafon kreditnya. Apabila debitur

43
Hasil wawancara dengan bapak Edy Suprobo, selaku Kasie Kredit, Tanggal 22 Pebruari 2008.
62

meninggal dunia sebelum jatuh tempo pembayaran kredit maka kredit

dapat diklaim oleh pihak asuransi.

d. Kewajiban Debitur

1) Membayar kredit dengan tertib;

2) Membayar kredit tepat waktu sesuai dengan ketentuan yang telah

diperjanjikan;

3) Mematuhi segala ketentuan yang termuat di dalam perjanjian kredit.

2. Pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT)

Bagi debitur yang melakukan kredit di PD BPR BKK Tengaran, jaminan

Hak Tanggungan yang berupa hak atas tanah harus dibuatkan APHT pada Notaris.

Dalam hal ini subjek dari Hak Tanggungan yaitu orang perseorangan atau badan

hukum yang wajib membuat APHT kepada pejabat yang berwenang yaitu PPAT.

Subjek Hak Tanggungan yaitu pemilik hak atas tanah mendaftarkan Objek Hak

Tanggungan yang berupa tanah. Di dalam mendaftarkan tanah wajib dilakukan

sendiri oleh pemilik hak atas tanah kecuali yang bersangkutan tidak dapat hadir

pada penandatanganan APHT, maka oleh pemilik hak atas tanah dibuat Surat

Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) secara otentik.44

3. Pendaftaran Akta Pemberian Hak Tanggungan

Setelah kredit debitur disetujui oleh pihak PD BPR BKK Tengaran dengan

syarat yang telah ditentukan, maka pihak PD BPR BKK Tengaran bersama-sama

44
Hasil wawancara dengan bapak Edy Suprobo,selaku Kasie Kredit, Tanggal 13 Pebruari 2008
63

dengan debitur mengadakan penandatanganan perjanjian kredit yang

mencantumkan mengenai: 45

a. Jumlah kredit yang diberikan;

b. Addendum kredit yang berisi tentang perubahan kredit, penambahan kredit,

dan nomor perjanjian;

c. Jangka waktu kredit;

d. Agunan yang diserahkan yang meliputi tempat dan siapa pemiliknya guna

pengikatan barang jaminan.

Setelah semua berkas-berkas telah lengkap, maka dikeluarkanlah APHT. APHT

ini dibuat di hadapan PPAT dimana tanah tersebut berada.46

UUHT merupakan Undang-undang yang diamanatkan oleh Pasal 51

UUPA dan diharapkan dapat memenuhi tuntutan pembangunan bagi mereka yang

membutuhkan dana yang sebagian pembiayaannya diperoleh dari kegiatan

pemberian fasilitas kredit.

Dalam kegiatan tersebut diperlukan adanya jaminan yang mempunyai

kepastian hukum bagi pemegang hak atas tanah sebagai pemberian Hak

Tanggungan yang nantinya akan memperoleh kedudukan yang diutamakan (droit

de preference). Di dalam membebankan Hak Tanggungan tersebut melibatkan

pejabat-pejabat yaitu Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan Notaris dalam hal

pembuatan akta serta kepala kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) dalam hal

45
Hasil wawancara dengan bapak Edy Suprobo,selaku Kasie Kredit, Tanggal 13 Pebruari 2008
46
Hasil wawancara dengan bapak Edy Suprobo, selaku Kasie Kredit, Tanggal 13 Pebruari 2008
64

pencatatan keterangan dalam buku tanah. Ketua Pengadilan Negeri apabila terjadi

sengketa, yang pada setiap tahap pemberian Hak Tanggungan dapat memenuhi

ciri-ciri yang tercantum dalam penjelasan UUHT dalam butir 3 sub c dan d, yaitu

memenuhi asas spesialitas dan publisitas sehingga dapat mengikat pihak ketiga

serta memberikan kepastian hukum kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan

juga mudah dan pasti pelaksanaan eksekusinya.

Kegiatan pembebanan Hak Tanggungan yang dimaksudkan untuk

menjamin hutang debitur dan kreditur dimulai dengan janji akan memberikan Hak

Tanggungan untuk menjamin pelunasan hutang tertentu dari debitur kepada

kreditur. Janji tersebut wajib dituangkan dalam perjanjian hutang piutang atau

perjanjian lainnya yang tidak dapat dipisahkan, kemudian disusul dengan

pemberian Hak Tanggungan oleh pemegang hak atas tanah, setelah itu dibuat

APHT dihadapan PPAT yang wilayah kerjanya meliputi letak bidang tanah yang

dijaminkan, selanjutnya diikuti dengan pendaftaran Hak Tanggungan di kantor

pertanahan. Dengan dibuatnya buku tanah Hak tanggungan dan pencatatan dalam

buku tanah hak atas tanah menjadi objek Hak Tanggungan maka lahirlah Hak

Tanggungan

Pada umumnya pemberian Hak Tanggungan oleh debitur atau orang yang

memberikan jaminan Hak Tanggungan kepada kreditur atau bank karena adanya

transaksi kredit, dimana bank menilai atau merasa yakin bahwa nasabah layak

diberi kredit dan dilain pihak untuk menjamin pelunasan kredit tersebut nasabah

menyerahkan agunan berupa tanah beserta benda yang melekat diatasnya.


65

Benda jaminan diberikan oleh debitur kepada bank sebagai jaminan atas

kredit yang diambil oleh debitur. Pengikatan jaminan kredit yang berupa harta

milik debitur yang dilakukan oleh pihak bank, tentunya debitur yang

bersangkutan takut akan kehilangan hartanya tersebut. Hal ini akan mendorong

debitur berupaya untuk melunasi kreditnya kepada bank agar harta yang dijadikan

jaminan kredit tersebut tidak hilang karena harus dicairkan oleh bank.

Nilai jaminan kredit yang diserahkan debitur kepada bank lebih besar bila

dibandingkan dengan nilai kredit yang diberikan bank kepada debitur yang

bersangkutan. Hal ini memberikan motivasi kepada debitur untuk menggunakan

kredit sebaik-baiknya, melakukan kegiatan usahanya secara baik, mengelola

kondisi keuangan secara hati-hati sehingga dapat melunasi kreditnya agar dapat

menguasai kembali hartanya. Tidak dapat dipungkiri siapapun juga pasti tidak

ingin kehilangan harta/asset karena merupakan sesuatu yang dibutuhkan dan

mempunyai nilai-nilai tertentu.

Pemberian kredit oleh PD BPR BKK Tengaran didasarkan pada prinsip

kehati-hatian yaitu bank harus bertindak hati-hati dalam menentukan siapa yang

patut untuk diberikan kredit dan berapa besarnya jumlah kredit yang diberikan

setelah mengetahui jaminan yang diberikan oleh calon debitur. Bank juga harus

menjaga bahwa perjanjian yang dibuat dengan calon debitur tidak cacat dan

memenuhi syarat-syarat sah perjanjian. Hal ini dilakukan oleh PD BPR BKK

Tengaran tidak semata-mata untuk mencapai keuntungan, akan tetapi tujuan yang
66

lebih penting adalah untuk mempertahankan kelangsungan usahanya dan menjaga

kepercayaan masyarakat pada PD BPR BKK Tengaran sendiri.

Pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan bertujuan untuk

mendaftarkan hak atas tanah yang dibebani Hak Tanggungan agar kepastian

hukumnya terjamin, baik itu meliputi kepastian tentang subjek haknya maupun

objek haknya.

Pendaftaran Akta Pemberian Hak Tanggungan dimaksudkan untuk

mendapatkan kepastian hukum antara pihak kreditur sebagai pemegang Hak

Tanggungan dan pihak debitur sebagai pemberi Hak Tanggungan serta mudah dan

pasti pelaksanaan eksekusinya.

C. Hambatan-Hambatan yang Dihadapi Dalam Pelaksanaan Pemberian Kredit

dengan Jaminan Hak Tanggungan pada PD BPR BKK Tengaran dan Cara

Mengatasi pada PD BPR BKK Tengaran

PD BPR BKK Tengaran menghendaki bahwa setiap kredit yang diberikan

akan mengalami kelancaran. Di dalam operasionalnya tidak selamanya PD BPR

BKK Tengaran kelancaran, namun juga terdapat kendala-kendala atau

permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh PD BPR BKK Tengaran dalam

pemberian kredit khususnya dalam pelaksanaan pemberian kredit dengan jaminan

Hak Tanggungan. Guna menjamin kelancaran kreditnya, PD BPR BKK Tengaran

melakukan upaya-upaya untuk mengatasi setiap permasalahan-permasalahan yang

timbul. Permasalahan-permasalahan tersebut adalah sebagai berikut:


67

a. Tanah yang Belum Bersertifikat Dijadikan Jaminan Hak Tanggungan dalam

Perjanjian Kredit

Dalam pemberian kredit dengan jaminan Hak Tanggungan, objek Hak

Tanggungan yaitu tanah harus mempunyai sertifikat. Namun di dalam

kenyataannya banyak tanah-tanah di daerah pedesaan yang belum didaftarkan,

sehingga masyarakat pedesaan tidak mempunyai sertifikat sebagai bukti

kepemilikan tanah. Ketika masyarakat membutuhkan dana untuk kelancaran

kegiatan usahanya, mereka melakukan pinjaman kredit kepada bank. Namun

di dalam pemberian kredit, bank meminta jaminan berupa benda bergerak

maupun tidak bergerak sebagai jaminan untuk jaminan kreditnya. Sementara

itu, sebagian besar harta yang dimiliki masyarakat adalah tanah sehingga

mereka memberikan tanahnya sebagai jaminan kredit pada bank. Dalam hal

ini, PD BPR BKK Tengaran tidak menerima kredit dengan jaminan tanah

yang belum memiliki sertifikat kecuali dengan pemberian kredit kepercayaan.

Kredit kepercayaan yaitu kredit yang diberikan oleh PD BPR BKK Tengaran

kepada masyarakat tanpa adanya barang jaminan tetapi jangka waktu

pengembalian kreditnya hanya 3 (tiga) bulan saja.47

b. Upaya yang Dilakukan PD BPR BKK Tengaran dalam Mengatasi Kredit

Macet

47
Hasil wawancara dengan bapak Edy Suprobo, selaku Kasie Kredit, Tanggal 29 Pebruari 2008.
Pernah terjadi kemacetan kredit pada akhir Desember Tahun 1997 yang disebabkan pemberian kredit
kepercayaan melampaui batas pemberian dan banyak debitur ingkar janji. Untuk mengatasi hal ini PD
BPR BKK Tengaran menghapuskan pemberian kredit kepercayaan pada akhir tahun 1998.
68

Di dalam praktik tidak semua kredit yang diberikan oleh bank berjalan

lancar. Sebagian ada yang kurang lancar dan sebagian macet. Dalam

mengatasi hal ini, PD BPR BKK Tengaran telah mempersiapkan kebijakan

yang ditempuh untuk mengatasi hal tersebut. Untuk mengatasi debitur yang

mulai tersendat-sendat dalam melakukan kewajibannya membayar kredit,

maka PD BPR BKK Tengaran mengupayakan pendekatan kepada debitur

dengan cara memperingatkan secara lisan sebagai peringatan pertama. Apabila

hal ini tidak ditanggapi oleh debitur, maka PD BPR BKK Tengaran

melayangkan surat tertulis sebagai peringatan kedua dan apabila hal ini tidak

ditanggapi juga oleh debitur, maka barang jaminan yang digunakan sebagai

jaminan kredit akan dilelang secara umum oleh PD BPR BKK Tengaran

sebagai pengganti pelunasan kredit dan sisa dari hasil pelelangan tersebut

dikembalikan kepada debitur. Sebelum pelelangan dilakukan, terlebih dahulu

dilakukan pemberitahuan mengenai pelelangan terhadap barang jaminan

debitur, seperti yang telah diperjanjikan pada perjanjian kredit. Dalam

pelelangan tersebut debitur ikut serta dalam pelaksanaan lelang.48

Dalam hal kredit dengan jaminan tanah, belum pernah dilakukan

pelelangan maupun penjualan terhadap tanah jaminan yang dikarenakan kredit

macet. Pada umumnya kredit dengan jaminan tanah sebagian besar

mengalami kelancaran meskipun dalam pembayarannya sebagian melewati


48
Hasil wawancara dengan bapak Edy Suprobo, selaku Kasie Kredit, Tanggal 11 Maret 2008.
Pernah terjadi pelelangan terhadap jaminan benda bergerak berupa motor milik nasabah yang bernama
X pada Tanggal 15 Juli 2006.
69

batas jangka waktu yang telah diperjanjikan. Hal ini dikarenakan PD BPR

BKK Tengaran masih mengacu pada Batas Maksimal Pemberian Kredit

(BMPK), jadi pemberian kredit ditentukan oleh besar kecilnya nilai dari

jaminan kredit yang diberikan oleh debitur.

Akan tetapi sebelum melakukan upaya tersebut diatas, terlebih dahulu

PD BPR BKK Tengaran mengadakan penyelidikan terhadap sebab-sebab

terjadinya kemacetan kredit tersebut. Jika penyebabnya adalah faktor

eksternal seperti debitur tertimpa musibah bencana alam, maka PD BPR BKK

Tengaran tidak perlu lagi mengadakan analisis. Yang perlu dilakukan adalah

membantu debitur agar segera memperoleh penggantian dari pihak asuransi

dan menawarkan apakah debitur masih menghendaki berjalannya usaha atau

debitur akan menutup kredit yang masih tersisa.

Apabila sebab terjadinya kemacetan kredit dikarenakan faktor internal,

misalnya debitur pailit maka, PD BPR BKK Tengaran masih dapat

mencarikan jalan keluar untuk menormalisasi keadaan sehingga usaha yang

dijalankan oleh debitur dapat stabil dan PD BPR BKK Tengaran melakukan

restrukturisasi kredit terhadap kredit debitur yang bersangkutan dengan

catatan usaha yang dijalankan oleh debitur produktif dan berkembang dengan

baik. Dengan dilakukannya upaya-upaya tersebut diharapkan debitur dapat

memenuhi kewajibannya dalam membayar kreditnya.49

49
Hasil wawancara dengan bapak Edy Suprobo, selaku Kasie Kredit, Tanggal 22 Pebruari 2008.
70

Guna kelancaran kreditnya, PD BPR BKK Tengaran melakukan upaya-

upaya untuk mengatasi setiap hambatan-hambatan yang timbul dalam

pelaksanaan pemberian kredit dengan jaminan Hak Tanggungan. PD BPR BKK

Tengaran memberikan kredit kepercayaan yaitu kredit tanpa jaminan yang jangka

waktunya hanya tiga (3) bulan saja dalam hal debitur memberikan jaminan tanah

yang belum bersertifikat. Akan tetapi pada akhir tahun 1998, pemberian kredit

kepeercayaan dihapuskan hal ini dilakukan karena banyaknya kredit macet yang

terjadi pada waktu itu.

Pelelangan umum terhadap barang jaminan debitur yang berupa benda

bergerak maupun benda tidak bergerak dilakukan apabila debitur tidak dapat

melunasi kreditnya pada jangka waktu yang telah ditentukan, yang sebelumnya

dilakukan pemberitahuan kepada debitur terhadap pelelangan benda jaminan

kredit. Dalam hal ini debitur ikut serta dalam pelaksanaan lelang. Akan tetapi

pelaksanaan lelang tidak dilakukan oleh badan lelang yang sah tetapi

dilaksanakan sendiri oleh PD BPR BKK Tengaran dengan keikutsertaan debitur

jadi kemungkinan dapat terjadi pelelangan secara illegal.

Dalam mengatasi kredit macet, PD BPR BKK Tengaran melakukan

penyelidikan terhadap sebab-sebab terjadinya kemacetan kredit. Kemacetan kredit

terjadi dikarenakan faktor eksternal misalnya debitur terkena bencana alam dan

faktor internal misalnya debitur pailit. Dalam hal ini PD BPR BKK Tengaran

berupaya untuk membantu debitur dengan cara menormalisasi keadaan sehingga

usaha debitur kembali stabil dan melakukan restrukturisasi kredit yang


71

bersangkutan dengan catatan usaha yang dijalankan oleh debitur berkembang

dengan baik.