Anda di halaman 1dari 160

PT.

SARANA MULTI INFRASTRUKTUR

INDONESIA GEOTHERMAL RESOURCE R ISK MITIGATION PROJECT (GREM)


(P166071) ATAU PROYEK MITIGASI RISIKO SUMBER DAYA
PANAS BUMI INDONESIA

RANCANGAN KERANGKA KERJA PENGELOLAAN


LINGKUNGAN DAN SOSIAL
MENYERTAKAN :

KERANGKA KERJA KEBIJAKAN PEMINDAHAN PENDUDUK


KERANGKA PERENCANAAN MASYARAKAT ADAT

Rancangan untuk Konsultasi


Februari 2018

1
DAFTAR ISI
1 PENDAHULUAN........................................................................................................................... 6
1.1 Latar Belakang 6
1.2 Uraian Proyek 8
1.2.1 Komponen 1: Mitigasi Risiko Sumber Daya Panas Bumi 10
1.2.2 Komponen 2: Bantuan Teknis dan Peningkatan kapasitas 14
1.3 Uraian Subproyek Eskplorasi Panas Bumi untuk Pendanaan Berdasarkan GREM 15
1.3.1 Pengembangan Panas Bumi-Ikhtisar 15
1.3.2 Subproyek Eksplorasi Panas Bumi 15
1.3.3 Eksploitasi Panas Bumi di Masa Depan sebagai ‘Fasilitas Terkait’ 18
1.3.4 Bantuan Teknis 19
2 KERANGKA KERJA UPAYA PERLINDUNGAN GERM ..................................................................... 22
3 UNDANG-UNDANG, PERATURAN, DAN KEBIJAKAN UPAYA PERLINDUNGAN .............................. 23
3.1 Undang-Undang dan Peraturan Indonesia 23
3.2 Standar Lingkungan dan Sosial (ESS) PT SMI 26
3.3 Kebijakan Upaya Perlindungan Bank Dunia 27
3.4 Analisis Kesenjangan 29
4 DAMPAK LINGKUNGAN DAN SOSIAL YANG DIANTISIPASI DAN TINDAKAN MITIGASI.................. 48
4.1 Eksplorasi Panas Bumi - Kegiatan Pengeboran dan Kegiatan Infrastruktur Terkait 48
4.2 Kegiatan Pascaproyek: Eksploitasi Panas Bumi – Pembangkit Energi serta Infrastruktur
dan Kegiatan Terkait 55
5 PROSEDUR OPERASIONAL UPAYA PERLINDUNGAN SUBPROYEK ................................................ 64
5.1 Ikhtisar 64
5.2 Langkah 1: Persiapan Instrumen Perlindungan Eksplorasi Panas Bumi (Subpeminjam) 65
5.2.1 Instrumen Perlindungan Wajib 65
5.2.2 Instrumen Perlindungan Kebijaksanaan 68
5.2.3 Menyiapkan Instrumen Perlindungan atau Pengisian Kesenjangan 69
5.3 Langkah 2 – Kajian dan Persejutuan Instrumen Perlindungan Subproyek (PT SMI) 70
5.3.1 Kajian dan Upaya Perlindungan Bank Dunia dan Elemen Perlindungan Lingkungan dan Sosial (ESS)
PT SMI 70
5.3.2 Kajian OP4.01 Bank Dunia: Kategori Risiko 71
5.3.3 Laporan Kajian 71
5.4 Langkah 3: Persetujuan dan Pemberian Izin 72
5.5 Langkah 4: Implementasi dan Pemantauan 73
5.6 Penasihat Teknis 74
6 KERANGKA KEBIJAKAN PEMUKIMAN KEMBALI .......................................................................... 75
6.1 Prinsip-prinsip Utama 75
6.2 Undang-undang dan Kebijakan Indonesia terkait Pembebasan Lahan 77
6.3 OP4.12 Kebijakan Upaya Perlindungan Bank Dunia: Pemukiman Kembali Paksa 80
6.4 Tanggung Jawab Pembebasan Lahan dan Pemukiman Kembali 80
6.5 Analisis Kesenjangan 81
6.6 Proses untuk Penyusuan dan Penyetujuan Rencana Aksi Pembebasan Lahan dan
Pemukiman Kembali 81
6.6.1 Informasi yang Diperlukan untuk Akuisisi Paksa 81
6.6.2 Informasi yang Diperlukan untuk Akuisisi Tanah Publik 82
6.6.3 Tanggal Batas Akhir dan Kriteria Kelayakan untuk Orang-orang yang Terkena Dampak 84
6.6.4 Bukti Kelayakan 84
6.6.5 Kebijakan Hak Guna 85
6.7 Lahan Pemukiman yang Dirembukkan/Transaksi Sukarela 88

2
6.8 Pembatasan Paksa untuk Akses ke Taman dan Kawasan yang Dilindungi Secara Hukum90
6.9 Verifikasi Independen 90
7 KERANGKA PERENCANAAN MASYARAKAT ADAT (IPPF) ............................................................. 91
7.1 Tujuan dan Prinsip 91
7.2 Undang-undang dan Peraturan Indonesia Terkait Perlindungan Masyarakat Adat 92
7.3 OP4.10 Kebijakan Bank Dunia: Masyarakat Adat 94
7.4 Persyaratan Umum 94
7.4.1 Penghindaran Dampak Buruk 94
7.4.2 Pengungkapan Informasi, Konsultasi dan Partisipasi yang Diinformasikan 95
7.4.3 Manfaat Pengembangan 95
7.4.4 Rencana Pengembangan Masyarakat Adat 96
7.5 Penilaian Sosial 96
7.6 Persyaratan Khusus 97
7.6.1 Dampak terhadap Tanah Adat atau Tradisional yang Sedang Digunakan 97
7.6.2 Relokasi Masyarakat Adat dari Tanah Adat atau Tradisional 98
7.6.3 Sumber Daya Budaya 98
8 KONSULTASI DAN PUBLIKASI ..................................................................................................... 99
8.1 Konsultasi Kerangka Upaya Perlindungan 99
8.2 Pedoman Praktik Konsultasi Penasihat Teknis 99
8.3 Keterlibatan dan Konsultasi Pemangku Kepentingan dalam Subproyek Panas Bumi 99
8.3.1 Identifikasi Pemangku Kepentingan 100
8.3.2 Prinsip-prinsip Konsultasi 100
8.4 Sarana Konsultasi Publik 102
8.5 Publikasi 105
9 PENGATURAN KELEMBANGAAN DAN PENINGKATAN KAPASITAS ............................................ 106
9.1 Peran dan Tanggung Jawab Kelembagaan 106
9.2 Peran dan Tanggung Jawab Upaya Perlindungan 106
9.3 Sistem Manajemen Lingkungan dan Sosial PT SMI 109
9.4 Peningkatan kapasitas 110
10 ANGGARAN............................................................................................................................. 112
11 PEMANTAUAN DAN PELAPORAN ............................................................................................ 113
12 MEKANISME PENANGANAN KELUHAN .................................................................................... 115
12.1 Pendahuluan 115
12.2 Pendekatan untuk Penanganan Keluhan 115
12.3 Mekanisme Penanganan Keluhan GREM 116
12.4 Penilaian GRM untuk Subproyek 119

DAFTAR SINGKATAN
AOI Area Pengaruh (Area of Influence)
AMDAL Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
BG BG
BPN Badan Pertanahan National
BPS Badan Pusat Statistik

3
Bupati Kepala kabupaten
CTF Climate Technology Fund
DED Desain Teknik Terperinci (Detailed Engineering Design)
DG Direktorat Jenderal / ”Dirjen” (Directorate General)
DG EBTKE Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi
EA Penilaian Lingkungan (Environmental Assessment)
EHS Lingkungan, Kesehatan dan Keselamatan (Environmental, Health and Safety)
EIA Penilaian Dampak Lingkungan (Environmental Impact Assessment)
EMP Rencana Pengelolaan Lingkungan (Environmental Management Plan)
Penilaian Dampak Lingkungan dan Dampak Lingkungan (Environmental and Social Impact
ESIA
Assessment)
Kerangka Pengelolaan Lingkungan dan Sosial (Environment and Social Management
ESMF
Framework)
ESMP Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial (Environment and Social Management Plan)
GCF Green Climate Fund
GEF Global Environment Facility
GFF Global Fund Facility
Proyek Pengembangan Hulu Energi Panas Bumi (Geothermal Energy Upstream Development
GEUDP
Project)
GIS Sistem Informasi Geografis (Geographical Information System)
GNZ Pemerintah Selandia Baru (Government of New Zealand)
Proyek Mitigasi Risiko Sumber Daya Panas Bumi (Geothermal Resource Risk Mitigation
GREM
Project)
GRM Mekanisme Penanganan Keluhan (Grievance Redress Mechanism)
Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (International Bank for
IBRD
Reconstruction and Development)
IGF Dana Jaminan Investasi (Investment Guarantee Fund)
IIFF Fasilitas Keuangan Infrastruktur Indonesia (Indonesia Infrastructure FinanceFacility)
IPs Masyarakat Adat (Indigenous Peoples)
IPDP Rencana Pengembangan Masyarakat Adat (Indigenous Peoples’Development Plan)
IPPF Kerangka Perencanaan Masyarakat Adat (Indigenous Peoples Planning Framework)

4
ISA Indonesian Society of Appraisers
KAT Kelompok Adat Terasing (Isolated Indigenous Community)
Kecamatan Kecamatan (Sub-District)
Keppres Keputusan Presiden
Rencana Aksi Pembebasan Lahan dan Pemukiman Kembali
LARAP
(Land Acquisition and Resettlement Action Plan)
LMAN Lembaga Manajemen Aset Negara
MHA Masyarakat Hukum Adat (Customary Law Community)
MoF Kementerian Keuangan (Ministry of Finance)
MW Megawatt
NGO LSM/Organisasi Non-pemerintah (Non-government Organization)
PCR Sumber Daya Budaya Fisik (Physical Cultural Resources)
Rencana Pengelolaan Sumber Daya Budaya Fisik (Physical Cultural Resources Management
PCRMP
Plan)
PMK Peraturan Pemerintah (Government Regulation)
PMU Unit Manajemen Proyek (Project Management Unit)
PPP Kerjasama Pemerintah - Swasta (Public Private Partnership)
PT SMI PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero)
RUPTL Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (Electricity Supply Business Plan)
BUMN Badan Usaha Milik Negara (State Owned Enterprise)
SMT Tim Pengelolaan Situs (Site Management Team)
SPPL Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
(Letter of Environmental Management and Monitoring)
TA Bantuan Teknis (Technical Assistance)
tCO2 Ton CO2/Karbon Dioksida (Tons of Carbon Dioxide)
TOR Kerangka Acuan (Terms of Reference)
UKL-UPL Upaya Pengelolaan Lingkungan - Upaya Pemantauan Lingkungan (Environmental
Management and Monitoring Plan)
UUD Undang-undang Dasar (Constitution)

5
1 PENDAHULUAN
1. Dokumen ini merinci kebijakan, prinsip, prosedur lingkungan dan sosial serta pengaturan
kelembagaan dan alur kerja PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (peminjam) untuk
menuntun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Sektor Swasta (subpeminjam) agar
menghindari, meminimalkan, atau mengurangi dampak buruk lingkungan atau sosial dari
proyek infrastruktur yang didukung oleh Proyek Mitigasi Risiko Sumber Daya Panas Bumi atau
Geothermal Resource Risk Mitigation Project (GREM).

2. Versi ini merupakan rancangan untuk konsultasi. Versi final akan disiapkan dengan
memasukkan umpan balik.

1.1 Latar Belakang


3. Indonesia, negara kepulauan yang beragam dengan lebih dari 300 suku bangsa, telah
memetakan pertumbuhan ekonomi yang mengesankan sejak teratasinya krisis keuangan Asia
pada akhir tahun 1990-an. Dewasa ini, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk
terpadat keempat di dunia dengan lebih dari 260 juta jiwa, negara kedelapan dengan ekonomi
terbesar di dunia dan negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan produk
domestik bruto (PDB) per kapita USD11.612 dalam hal kesetaraan daya beli, dan negara
anggota G20. Dengan populasi yang besar namun tersebar, mempertahankan infrastruktur
modern dan efisien sangat penting bagi Indonesia agar terhubung dengan pasar dalam dan luar
negeri guna mempertahankan pertumbuhan yang kuat. Demi tujuan ini, memperbaiki
infrastruktur merupakan prioritas kebijakan utama Pemerintah Indonesia. Dalam anggaran
2016, Pemerintah Indonesia mengalokasikan nilai tertinggi yang dijatahkan untuk
pembangunan infrastruktur - sekitar USD22,9 miliar - yang akan diprioritaskan setidaknya untuk
empat tahun ke depan sesuai dengan rencana pembangunan jangka menengah 2015-2020.
Dengan adanya perusahaan milik negara (BUMN) sejumlah lebih dari 24 yang bergerak di
berbagai sektor, banyak proyek dan program infrastruktur utama telah diimplementasikan oleh
BUMN. Tantangannya terletak pada pengembangan model pembagian risiko sehingga BUMN
mendapatkan keuntungan dari biaya pinjaman dukungan pemerintah yang lebih rendah dan
tanpa harus membongkar anggaran nasional untuk beban fiskal yang tidak perlu. Sementara
itu, Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya yang signifikan dalam memperkenalkan
banyak reformasi peraturan untuk menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi partisipasi
sektor swasta guna menutup kesenjangan infrastruktur.

4. Kombinasi energi utama di Indonesia saat ini terdiri dari 34,6 persen batubara, 33,8 persen
minyak bumi, 23,9 persen gas alam, dan 7,7 persen sumber energi terbarukan. Total kapasitas
pembangkit tenaga listrik terpasang diperkirakan mencapai 54,60 giga watt (GW) pada akhir
2017, tidak termasuk Swasembada Penyediaan Listrik. Indonesia diperkirakan akan semakin
bergantung pada impor energi hingga sekitar 25 persen dari total permintaan pada 2019. PT
Perusahaan Listrik Negara (Persero) (“PLN”) sebagai BUMN yang bergerak di bidang

6
pembangkit listrik dan offtaker tunggal, berencana untuk mencapai tingkat listrik nasional 99,7
persen pada tahun 2025 dari tingkat 93 persen saat ini. Sementara itu, terdapat tekanan untuk
menjaga agar biaya tetap rendah sehingga membutuhkan lebih banyak batu bara dalam
kombinasi pembangkit listrik, dimana pabrik batubara baru diharapkan membatasi beberapa
juta ton emisi gas rumah kaca (GRK) selama masa manfaatnya. Sementara itu, Indonesia telah
berkomitmen untuk menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen
secara nasional. Juga memiliki target energi terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025,
yang mana angka tujuh persen diharapkan berasal dari energi panas bumi.

5. Tenaga panas bumi adalah teknologi pembangkit listrik bermuatan dasar yang tidak tunduk
pada intermiten dan variabilitas yang terkait dengan sebagian besar sumber energi terbarukan.
Dengan kondisi yang tepat, biaya dapat bersaing dengan batu bara atau gas alam, yang berarti
bahwa negara-negara dengan sumber daya asli semacam itu dapat bergantung lebih sedikit
pada bahan bakar impor dan meningkatkan jaminan energi mereka. Sebagai sumber listrik yang
lebih bersih, energi panas bumi dapat memainkan peran utama dalam mendekarbonisasi sektor
tenaga listrik dan melanjutkan agenda perubahan iklim di negara ini. Hal ini juga dapat
berkontribusi untuk memperluas akses terhadap listrik, pertumbuhan ekonomi, penciptaan
lapangan kerja, dan meningkatkan kemakmuran, terutama di pulau-pulau Indonesia bagian
timur yang mana tingkat elektrifikasinya (kelistrikan) jauh lebih rendah dan tingkat kemiskinan
yang lebih tinggi secara rata-rata nasional.

6. Energi panas bumi dikembangkan melalui beberapa tahap pendekatan yang dimulai dengan
penelitian permukaan, diikuti oleh pengeboran eksplorasi untuk memastikan tersedianya
sumber panas bumi dan oleh pengeboran delineasi untuk memastikan besarnya sumber daya.
Parameter kunci dari pengembangan panas bumi ―suhu, permeabilitas, dan skala sumber
daya― dapat diestimasi dari survei ilmiah geosains, namun hanya dapat
dipastikan/dikonfirmasi melalui pengeboran eksplorasi, yang mana di Indonesia diperkirakan
memerlukan biaya sekitar USD 30 juta1 untuk setidaknya tiga sumur bor pada subproyek green
field (yang benar-benar baru). Pengeboran eksplorasi membutuhkan ekuitas pemilik atau
neraca keuangan, yang berisiko tanpa perolehan kembali apabila sumber daya tidak memadai.
Oleh karena itu, walaupun biaya awal untuk pengeboran eksplorasi sangat kecil dibandingkan
dengan total biaya pengembangan seluruh tahap operasi panas bumi, untuk memperoleh
modal awal ini dapat menjadi tantangan bagi pengembang.

7. Pemerintah Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk menambahkan kapasitas panas
bumi sebesar 6,3 GW pada tahun 2026, yang akan menghasilkan total kebutuhan investasi
sekitar USD27 miliar selama tujuh tahun ke depan. Ada tiga sumber dana utama: pendanaan
publik, pendanaan sektor swasta, dan dukungan internasional. Pendanaan publik dan
keterlibatan BUMN akan tetap penting secara strategis, terutama sebagai bagian dari upaya
untuk meningkatkan ketenagalistrikan di Kawasan Indonesia Timur, dan memerlukan dukungan
dari lembaga keuangan internasional dan donor bilateral. Namun, sebagian besar investasi

7
perlu didatangkan dari sektor swasta. Secara lebih luas, pencapaian target ambisius Pemerintah
Indonesia untuk peningkatan pembangkit tenaga panas bumi akan memerlukan: (i) penggunaan
dana masyarakat secara bijaksana saat memobilisasi modal sektor swasta dalam skala besar; (ii)
implementasi mekanisme mitigasi risiko di hulu yang efektif; dan (iii) memastikan lingkungan
usaha yang kondusif dengan prosedur pemberian izin dan perjanjian pembelian tenaga listrik
(Power Purchase Agreement/PPA) yang transparan dan kompetitif serta persaingan biaya yang
efektif untuk jasa pengeboran, serta pengelolaan kendala terkait pengeboran di kawasan
hutan. Fasilitasi yang efektif dari investasi sektor yang diperlukan juga akan memerlukan
koordinasi yang erat antar pemangku kepentingan utama, yaitu Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Keuangan, BG, Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan (KLHK), dan Pemerintah Daerah (Pemda).

8. Perkembangan panas bumi lebih lambat dari yang diharapkan tersirat dari rendahnya tingkat
partisipasi sektor swasta, yang pada gilirannya sebagian besar disebabkan oleh risiko sumber
daya sebagai penghalang utama pengembangan panas bumi yang terus tidak diperhatikan di
Indonesia. Menyadari hal ini, penekanan baru Pemerintah RI terhadap pengembangan panas
bumi mencakup sejumlah intervensi kebijakan yang dirancang khusus untuk menangani risiko
sumber daya dan memobilisasi modal swasta.

9. PT SMI, bekerja sama dengan Bank Dunia dan Climate Funds, mempersiapkan GREM dengan
tujuan memfasilitasi pemberian pinjaman kepada subpeminjam dalam bidang kelistrikan
berbasis tenaga panas bumi melalui blended soft loan dan dengan memberikan bantuan teknis
dan peningkatan kapasitas. Fokus dari tujuan pengembangan Proyek ini adalah untuk
meningkatkan investasi dalam pengembangan energi panas bumi dan mengurangi emisi gas
rumah kaca di Indonesia. Proyek yang diusulkan juga akan membawa lapangan kerja bagi
pekerja terampil dan tidak terampil yang terlibat dalam pengeboran, pekerjaan sipil,
pembangunan infrastruktur, dan layanan pelengkap/tambahan pendukungnya di 20 lokasi di
seluruh Indonesia, terutama di Kepulauan Timur. Melalui bantuan teknis bagi berbagai
pemangku kepentingan, operasi yang diusulkan akan meningkatkan kapasitas para pelaku
utama di pemerintahan (termasuk BUMN) dalam sektor ini sehingga memudahkan
pembangunannya dalam jangka panjang.

10. PT SMI akan menjadi pihak pelaksana GREM dalam fungsi sebagai perantara keuangan, dan
bertanggung jawab memeriksa dokumen perlindungan lingkungan dan sosial yang disiapkan
oleh subpeminjam dan memantau pelaksanaannya selama Proyek berlangsung.

1.2 Uraian Proyek


11. Proyek yang diusulkan adalah pengoperasian Perantara Keuangan (Financial Intermediary/FI)
yang dilaksanakan oleh PT SMI. Sebagai pengelola pembiayaan (fund manager) dari PISP
(Pembiayaan Infrastruktur Sektor Panas Bumi) yang ditunjuk oleh Pemerintah Indonesia, PT SMI
akan mengelola fasilitas pembiayaan yang dibentuk dengan dukungan dari Proyek ini.

8
Kementerian Keuangan dan Kementerian ESDM, di bawah Komite Bersama, akan memberikan
panduan kepada PT SMI mengenai tata kelola fasilitas pembiayaan pada level kebijakan
strategis.1

12. Bernaung dalam Proyek GREM, Fasilitas Mitigasi Risiko Sumber Daya Panas Bumi yang baru
akan dibangun. Program pengeboran eksplorasi yang disponsori pemerintah yang didukung
oleh GEUDP (Proyek Pengembangan Hulu Energi Panas Bumi) akan menjadi window pertama
dalam Fasilitas tersebut, dan dua window tambahan akan dibuat: (i) Public Sector (PUB)
Window dan (ii) Private Sector (PRIV) Window Gambar 1 mengilustrasikan potensi struktur
Fasilitas.

Gambar 1: Usulan Struktur Fasilitas Mitigasi Risiko Sumber Daya Panas Bumi
Pengembalian Imbalan
pinjaman keberhasilan

Fasilitas Mitigasi Risiko Sumber Daya Panas Bumi Berhasil


Pengembangan
Pengeboran yang disponsori oleh lapangan uap dan
Pemerintah Indonesia (dioperasikan Pembiayaan difinalisasi konstruksi
dengan modal kapital US$100 juta) pembangkit listrik

Pengeboran dilakukan oleh


Tidak Berhasil
pengembang BUMN
Pembiayaan Memungkinkan
tidak difinalisasi pengampunan
Pengeboran dilakukan oleh
dan izin parsial, sesuai
pengembang swasta
dikembalikan ketentuan

Pembayaran
fasilitas

13. Dua window baru Fasilitas tersebut diharapkan dapat dibiayai dengan modal awal sebesar
USD650 juta:
i. Pinjaman lunak sebesar USD175 juta dari Climate Funds (CF), yang sebagian dari nilai ini
dianggap berisiko. Sumber dana mungkin berasal dari Green Climate Fund (GCF), Clean
Technology Fund (CTF), dan/atau dana bilateral;
ii. US Pinjaman USD325 juta dari IBRD ke PT SMI 2; dan
iii. USD 150 juta dari Pemerintah Indonesia ke PT SMI. Diperkirakan sebagian dana ini dapat
dimasukkan sebagai risiko sesuai kebijaksanaan Menteri Keuangan.

1
Kementerian ESDM bertanggung jawab atas keseluruhan koordinasi pengembangan panas bumi di Indonesia, termasuk
menetapkan dan menerapkan kebijakan yang berkaitan dengan pengalokasian konsesi panas bumi, menetapkan tarif dan
mengawasi peraturan pendukung seperti pembagian bonus produksi dengan masyarakat lokal dari manfaat panas bumi.
Kementerian Keuangan bertanggung jawab untuk mengalokasikan dana untuk mendukung pembangunan sektor melalui program
khusus (seperti PISP), alokasi anggaran menteri, atau insentif fiskal.
2
Pinjaman langsung atau tidak langsung melalui Kementerian Keuangan.

9
14. Bagi pengembang sektor publik dan swasta, Fasilitas tersebut akan menyediakan blended soft
loan, yang akan bersumber dari IBRD dan CF serta dari PISP Pemerintah Indonesia (saat ini
diharapkan dana PISP hanya tersedia untuk pengembang publik (BUMN). Untuk subproyek
tunggal, diperkirakan jumlah pinjaman lunak campuran dibatasi sampai dengan USD 25 juta
atau tiga perempat dari biaya pengeboran, mana yang lebih kecil.

i. Untuk public sector window, dukungan akan diberikan kepada entitas publik, seperti
BUMN atau anak perusahaan BUMN. Diharapkan dana dari IBRD dan CF akan dicocokkan
(50/50) dengan dana dari PT SMI (PISP). Atas pertimbangan Kementerian Keuangan,
bagian pinjaman PT SMI dapat mencakup komponen hibah kontinjensi dengan
pengampunan hingga 50 persen jika eksplorasi dianggap tidak berhasil dan BUMN
tersebut melepaskan lisensi WKP tersebut.
ii. Untuk private sector window, pinjaman campuran dari IBRD dan CF mencakup komponen
hibah kontinjensi (diperkirakan akan menjadi sepertiga dari pinjaman dan tidak lebih dari
25 persen dari total investasi), yang akan diampuni jika eksplorasi tidak berhasil dan
pengembang mengembalikan lisensi untuk WKP yang bersangkutan. Di sisi lain, jika
eksplorasi berhasil dan pengembang melanjutkan mengamankan pembiayaan proyek
untuk pengeboran produksi dan konstruksi pembangkit yang tersisa, pinjaman harus
dibayar kembali di samping imbalan keberhasilan. Dari sudut pandang operasional,
Fasilitas yang diusulkan akan menguntungkan pengembang sektor swasta dari tahap
kedua dan seterusnya, sehingga pembangunan infrastruktur lokasi dan pembiayaan awal
juga dimanfaatkan dengan baik.

15. Tujuan Pengembangan Proyek adalah untuk "meningkatkan investasi dalam pengembangan
energi panas bumi dan mengurangi emisi GRK di Indonesia." Hal ini akan dapat dicapai dengan
mendukung mekanisme mitigasi risiko pengeboran eksplorasi panas bumi dan peningkatan
kapasitas klien untuk melakukan eksplorasi dan program tender yang efisien. Proyek ini
memiliki dua komponen: Komponen 1: Mitigasi Risiko Sumber Daya Panas Bumi; dan
Komponen 2: Bantuan Teknis dan Peningkatan Kapasitas.

1.2.1 Komponen 1: Mitigasi Risiko Sumber Daya Panas Bumi


16. Latar Belakang Desain: Komponen 1 akan menyediakan pembiayaan untuk dua window baru
dari Fasilitas tersebut. Pengembang sektor publik (BUMN) dan swasta akan mengajukan
permohonan pembiayaan dari PT SMI, sebagai pihak yang akan menyaring proposal, dan di
bawah bimbingan Komite Gabungan akan ditentukan besaran paket pembiayaan yang disetujui.
Berdasarkan skala proyek dan dukungan yang diajukan kepada pengembang, alokasi dana
diharapkan menjadi sebagai berikut:

10
Juta USD PT SMI/PISP Bank Dunia/ Climate Funds Total
IBRD
PUB Window 150 100 50 300
PRIV Window 0 225 125 350
Fasilitas 150 325 175 650

17. Pembiayaan dan Pembagian Risiko: Proyek yang diusulkan adalah Perantara Keuangan
(Financial Intermediary/FI) yang dilaksanakan oleh PT SMI. Sebagai Pengelola Pendanaan (Fund
Manager) yang ditunjuk oleh Pemerintah Indonesia untuk PISP, PT SMI akan mengelola Fasilitas
yang dibentuk dengan dukungan dari Proyek ini. Kementerian Keuangan dan Kementerian
ESDM, melalui Komite Bersama, akan memberikan panduan kepada PT SMI mengenai tata
kelola tingkat strategis Fasilitas.8 Proyek ini akan memiliki dua komponen: Komponen 1, USD
650 juta, untuk mitigasi risiko sumber daya panas bumi; dan Komponen 2, USD 10 juta, untuk
bantuan teknis dan peningkatan kapasitas.

18. Model Bisnis dan Pengelolaan Dana: Setiap pengeboran eksplorasi oleh subpeminjam akan
turut dibiayai dari PT SMI, tergantung dari window subpeminjam. Subproyek GREM akan
mengikuti panduan fidusia Bank Dunia dan Pemerintah Indonesia. Tabel di bawah merangkum
dukungan antara dua window utama, dengan persyaratan yang harus didiskusikan lebih lanjut
dengan pemangku kepentingan utama dan pengembang (perhatikan bahwa persyaratan khusus
akan berlaku untuk sub-window JV/Usaha Bersama).

19. Window Sektor Publik (BUMN) Window Sektor Swasta

20. Cakupan Konfirmasi Sumber Daya

21. Skala pendanaan Dibatasi senilai USD 25 juta, atau tiga perempat dari biaya pengeboran,
mana yang lebih kecil.
22. Persyaratan Awal Akses jalan dan infrastruktur lokasi
23. Akses jalan, infrastruktur lokasi,
sumur pertama

24. Paket Keuangan • 50% blended soft loan • 75% blended soft loan
• 50% pinjaman PT SMI • 25% ekuitas pengembang
25. Syarat blended Terkait dengan persyaratan IBRD Terkait dengan persyaratan IBRD
soft loan dan PISP dan CF

26. Pelunasan bila • Pelunasan pinjaman yang • Pelunasan blended soft loan
pengeboran berasal dari IBRD setelah 25 ditambah imbalan keberhasilan
berhasil tahun pada saat penutupan keuangan
• Pelunasan pinjaman PT SMI

11
sesuai perjanjian dengan PT SMI
Kewajiban bila • Pelunasan pinjaman yang • Pelunasan blended soft loan,
pengeboran tidak berasal dari IBRD setelah 25 dengan kemungkinan
berhasil tahun pengampunan 1/3 (bagian dari
• Kemungkinan pengampunan pembiayaan iklim) pada saat
sampai 50% dari pinjaman PT pengembalian izin
SMI pada saat pengembalian izin pengembangan
pembangunan • Menghasilkan pengampunan
• Menghasilkan pengampunan pinjaman maksimal: 25% dari
pinjaman maksimal: 25% dari total investasi
total investasi

i. PT SMI dan Bank Dunia akan melakukan uji tuntas pada subproyek yang diusulkan
oleh subpeminjam.
ii. Jika eksplorasi dinilai berhasil, subpeminjam akan membayar seluruh pinjaman
termasuk biaya bunga dan imbalan keberhasilan. Imbalan keberhasilan ini dirancang
untuk menutupi biaya pengelolaan dan pengoperasian dana oleh PT SMI.
iii. Bila eksplorasi dinilai tidak berhasil, subpeminjam harus mengembalikan izin kerja
panas bumi (IPB) kepada Pemerintah Indonesia. Dalam hal ini, subpeminjam akan
menerima pengampunan pinjaman dalam porsi yang disepakati sebelumnya.
iv. Seluruh prosedur pengoperasian standar dari subproyek yang termasuk dalam
Manual Operasional Proyek.

19. Skema desain komponen disajikan di bawah ini:

Fasilitas Eksplorasi
Panas Bumi
Sumber daya
Dana PISP terbukti Pengembangan
Pengeboran Proyek*
Bank Dunia/ Eksplorasi
Dana IBRD
Tidak ada
Sumber daya
tidak terbukti Pengembangan
Climate
Funds Proyek**

Pelunasan
* Subpeminjam melakukan pembayaran penuh atas pinjaman tersebut
** Subpeminjam menerima persentase pengampunan pinjaman dari Climate Funds dengan syarat
subpeminjam mengembalikan Izin Kerja Panas Bumi (IPB) kepada Pemerintah Indonesia

12
20. Fokus Geografis dan Lingkup Kegiatan Pengeboran: Proyek akan diprioritaskan sesuai dengan
kelengkapan data awal (first come first serve) dan tujuan pengembangan panas bumi yang
ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE)
berdasarkan RUPTL Kementerian ESDMs dan PLN. Fasilitas ini hanya akan menyediakan
pembiayaan untuk pengeboran dan kegiatan terkait, dan tidak termasuk pembangunan
infrastruktur seperti akses jalan, persiapan sumur, dermaga, dan lain-lain.

21. Diharapkan skrining (screening) lokasi dilakukan sebagai penilaian atas proposal yang diajukan.
Diharapkan 20 subproyek akan dikembangkan sebagai hasil intervensi proyek. Untuk setiap
lokasi, PT SMI akan menyiapkan laporan berdasarkan informasi berikut: (i) rincian umum,
termasuk lokasi dan peta; (ii) skrining dan pelingkupan dasar lingkungan dan sosial serta
potensi risiko dan permasalahan; dan (iii) kategorisasi tanah (misalnya hutan konservasi, hutan
lindung, lahan pribadi, tanah desa dan lain-lain.); sedangkan laporan penilaian teknis akan
disiapkan oleh Divisi Pusat Pengelolaan Kompetensi PT SMI, yang meliputi: (i) konsep lapangan
dan ringkasan estimasi sumber daya; (ii) ringkasan geologi, geofisika, survei geokimia; (iii)
ringkasan sumur gradien suhu; (iv) infrastruktur ketenagalistrikan yang ada di daerah tersebut,
termasuk proyeksi permintaan dan pasokan tenaga listik, jalur transmisi dan distribusi; dan (v)
jenis pengembangan yang dimungkinkan (misalnya flash, binary). Laporan kelayakan akan
diperbaharui dengan hasil eksplorasi pengeboran dan disediakan oleh subpeminjam kepada PT
SMI. Jika area kerja yang didefinisikan dianggap layak, subproyek akan dinyatakan berhasil.

22. Dampak yang Diperkirakan: Komponen 1 akan mengungkap sumur bor, yang menyediakan data
yang menjadi masukan bagi keputusan investasi. Dengan mengasumsikan portofolio beberapa
subproyek yang dimiliki oleh BUMN dan Sektor Swasta di Indonesia, Proyek ini diharapkan
dapat secara langsung mengaktifkan pengeboran hingga 20 subproyek atau sekitar 1000 MW
kapasitas daya panas bumi baru, yang berdasarkan biaya pengembangan sekitar USD3.5 juta
per MW, akan menyiratkan investasi komersial sekitar USD3.5 miliar. Dalam hal dampak jangka
panjang, Proyek yang diusulkan akan mendukung akses kelistrikan yang dapat diandalkan dari
sumber energi dalam negeri yang bersih dan terbarukan. Diharapkan dari investasi sebesar USD
660 juta, Proyek akan memanfaatkan sekitar USD 4 miliar dari pembiayaan proyek komersial
pada 2026 – dengan menambahkan sekitar satu GW kapasitas panas bumi sebelum 2030.
Sebagai manfaat tambahan iklim, Proyek diharapkan dapat menghindari lima MtCO2e setiap
tahunnya, atau 150 MtCO2e selama masa hidup 30 tahun.

23. Proyek yang diusulkan juga akan membuka lapangan kerja bagi pekerja terampil dan tidak
terampil yang terlibat dalam pengeboran, pekerjaan sipil, pembangunan infrastruktur, dan
layanan pelengkap di 20 lokasi di seluruh Indonesia, kebanyakan di Kepulauan Timur. Melalui
bantuan teknis ke para pemangku kepentingan, pengoperasian yang diusulkan akan
meningkatkan kapasitas pelakon utama negeri di sektor ini, sehingga memudahkan
pengembangan sektor dalam jangka panjang.

13
24. Proyek akan berupaya menggabungkan desain yang responsif gender melalui peningkatan
standar sumber daya manusia perusahaan lewat partisipasi perempuan dalam pengambilan
keputusan serta perekrutan insinyur dan pekerja perempuan. Hal ini memerlukan analisis yang
cermat terhadap berbagai aspek kesenjangan gender dan pertimbangan intervensi yang
ditargetkan, serta tindakan yang direkomendasikan dalam Manual Operasi Proyek untuk diteliti
oleh pengembang dan pengawasan oleh PT SMI.

25. Pencapaian Tujuan Pembangunan Proyek akan diukur melalui beberapa indikator, yaitu:
i. Kapasitas pembangkit tenaga listrik tambahan yang dimungkinkan (megawatt)
ii. Modal swasta yang dimobilisasi untuk investasi pembangkit tenaga panas bumi
(dalam juta USD)
iii. Estimasi pengurangan emisi gas rumah kaca dibandingkan dengan dasar seperti
biasanya (business-as-usual baseline) (ton metrik)

1.2.2 Komponen 2: Bantuan Teknis dan Peningkatan kapasitas


26. Komponen tersebut akan membiayai program peningkatan kapasitas untuk meningkatkan
kapasitas PT SMI dalam mengelola Fasilitas, serta bantuan teknis kepada pemangku
kepentingan utama dalam meningkatkan tata kelola sektor dan iklim investasi secara
keseluruhan untuk panas bumi di Indonesia. Peningkatan kapasitas dari sisi PT SMI akan
mencakup dukungan secara luas dalam tata kelola Fasilitas dan pengelolaan portofolio panas
bumi, termasuk pengembangan kriteria kelayakan, skrining proposal pengembang, validasi data
ilmiah geosains yang kompleks, evaluasi kualitas uji tuntas perlindungan lingkungan dan sosial
serta kemampuan keuangan pengembang. Bantuan teknis akan diberikan melalui dukungan on-
site yang kuat serta pelatihan langsung dari konsultan teknik yang merupakan ahli kelas dunia
di bidang panas bumi. Selanjutnya, Komponen ini akan mendukung pembentukan Geothermal
Center of Excellence (CoE) di dalam PLN untuk meningkatkan kapasitasnya dalam penilaian
ilmiah geosains, pengelolaan operasi pengeboran dan pengembangan portofolio panas bumi
secara keseluruhan.

27. Selain itu, Komponen ini akan memberikan dukungan peraturan dan dukungan operasional
kepada pemangku kepentingan utama, khususnya Kementerian ESDM, dalam memperbaiki
iklim investasi dan menerapkan lingkungan bisnis di sektor ini serta menangani hambatan
utama seperti yang diidentifikasi di atas. Bantuan teknis juga akan diberikan dalam beberapa
bidang sebagaimana diminta secara tegas oleh Kementerian ESDM. Ini mencakup, antara lain,
dukungan kepada Kementerian ESDM dan BG dalam meningkatkan proses tender untuk WKP
yang belum ditetapkan, termasuk melakukan studi ilmiah geosains dan eksplorasi permukaan
serta melakukan sounding pasar yang merata untuk menarik lebih banyak penawar
internasional, dan juga meningkatkan sumber daya manusia, termasuk penyediaan pelatihan
bagi staf kunci, dan database sumber daya panas bumi. Komponen ini harus dibiayai oleh hibah
pembiayaan iklim, dan/atau potensi pendanaan bersama Pemerintah Selandia Baru dan KfW.

14
28. Dukungan teknis dan peningkatan kapasitas akan mendukung biaya operasional PT SMI dalam
mengelola proyek GREM. Dukungan juga akan tersedia untuk penyusunan laporan penilaian
proposal untuk layanan pengeboran eksplorasi. Rencana peningkatan kapasitas juga akan
menguntungkan Direktorat Panas Bumi di bawah Kementerian ESDM dan BG).

1.3 Uraian Subproyek Eskplorasi Panas Bumi untuk Pendanaan Berdasarkan


GREM

1.3.1 Pengembangan Panas Bumi-Ikhtisar


29. Pembangunan panas bumi terjadi dalam serangkaian tahap. Tahapan ini didefinisikan dalam
beberapa cara di seluruh industri; ESMAP3 Bank Dunia menggunakan yang berikut ini:

▪ Tahap 1: Survei Awal


▪ Tahap 2: Eksplorasi
▪ Tahap 3: Uji Pengeboran
▪ Tahap 4: Kajian dan Perencanaan Proyek
▪ Tahap 5: Pengembangan Lapangan
▪ Tahap 6: Konstruksi
▪ Tahap 7: Start Up dan Commissioning
▪ Tahap 8: Pengoperasian dan Pemeliharaan

Dengan beberapa tumpang tindih dalam rincian tersebut, secara umum definisi peraturan
Pemerintah Indonesia tentang 'Eksplorasi Panas Bumi' adalah Tahap 1 sampai Tahap 4 dan
'Eksploitasi Panas Bumi' adalah Tahap 5 sampai Tahap 8.

1.3.2 Subproyek Eksplorasi Panas Bumi


30. Subproyek eksplorasi panas bumi yang dikembangkan oleh subpeminjam akan didanai oleh
Komponen 1 GREM. Dana akan tersedia untuk mendukung kegiatan yang berkaitan langsung
dengan pengeboran sumur dan pengujian sumur, namun semua biaya lain yang terkait dengan
fasilitas terkait12 untuk mempersiapkan lokasi akan didanai melalui sumber lain.

31. Lokasi investasi eksplorasi tidak diketahui pada saat persiapan proyek GREM. Ada potensi
sumber daya budaya fisik (PCR), habitat alami, hutan, kawasan lindung, lanskap yang luar biasa
atau unik dan fitur geologi panas bumi, Masyarakat Adat, masyarakat yang rentan atau tidak
tahan banting, mata pencaharian (bergantung pada sumber daya pribadi, hutan atau komunal),
serta kegiatan ekonomi sensitif seperti pariwisata untuk berada dalam Area of Influence (AOI)
Proyek.

32. AOI subproyek, untuk tujuan penilaian lingkungan dan sosial, akan mencakup dampak langsung,
tidak langsung dan kumulatif dari pengoperasian pengeboran subproyek. AOI juga mencakup

15
fasilitas terkait, termasuk infrastruktur subproyek dan termasuk jalur akses, bantalan sumur,
tempat penggalian, kamp pekerja, area pembuangan, sumber air bersih, lokasi pembuangan air
limbah, daerah pemukiman kembali, dan perkembangan yang tidak direncanakan seperti
pemukiman spontan, penebangan dan pembebasan lahan di sepanjang jalan dan jalur pipa,
terlepas dari sumber pendanaan yang secara langsung atau signifikan terkait dengan eksplorasi
panas bumi. Oleh karena itu, seluruh proposal aplikasi untuk proyek GREM diwajibkan untuk
mematuhi dokumen kerangka kerja perlindungan GREM.

Subproyek yang diajukan untuk persetujuan dana GREM akan mencakup kegiatan berikut:

- Mobilisasi/demobilisasi: Memindahkan alat pengeboran yang besar dan lalu lintas yang
padat dapat menyebabkan gangguan akses dan masalah keselamatan bagi pengguna jalan
lain.

- Pengeboran: Kedalaman bisa bervariasi tergantung pada sumbernya, tapi biasanya cukup
dalam (1000m sampai lebih dari 2500m). Setiap sumur akan memakan waktu sekitar 45
sampai 50 hari pengeboran tanpa henti (24 jam sehari) untuk menyelesaikannya.
Pengeboran itu berisik, serta alat pengeboran dan bantalan sumur akan menyala untuk
pengoperasian pada malam hari. Air tawar diperlukan untuk memberikan pendinginan dan
pelumasan selama pengeboran, dan membawa batu yang menebal ke permukaan. Polimer
sintetis (xanthan gum dan pati atau turunan selulosa) serta barium sulfat padat
ditambahkan dalam proses ini.

- Pengelolaan lumpur/cairan dan batuan pengeboran: Lumpur pengeboran (bentonite clay/


tanah liat bentonit), bahan aditif dan cairan akan disimpan di kolam pemukiman yang
bersebelahan dengan bantalan sumur. Padatan akan terakumulasi di bagian bawah dan
cairan yang diolah akan dibuang ke sumur reinjeksi atau air permukaan. Decommissioning
(penonaktifan) mungkin melibatkan pengubahan kolam untuk penggunaan masyarakat
atau pribadi, atau mengembalikan lokasi ke kondisi prapembangunan. Jaringan akan
dibutuhkan untuk mengangkut cairan ke sumur reinjeksi. Batu akan digunakan sebagai
tempat mengisi lokasi yang sesuai di dekatnya, kecuali jika dianggap berbahaya dan
cenderung menjadi kontaminan, dalam hal ini batu akan dibuang ke tempat pembuangan
sampah yang berjajar. TPA yang ditunjuk mungkin diperlukan sebagai bagian dari
infrastruktur proyek, karena tidak mungkin akan ada tempat pembuangan sampah yang
memadai yang beroperasi di wilayah tersebut.

- Pengujian sumur dan pengelolaan cairan panas bumi (air garam): Sejumlah besar air garam
akan diekstraksi selama pengujian. Cairan ini biasanya mengandung logam berat dan
mengandung konsentrasi tinggi boron, arsen dan fluorida. Kolam air garam akan
menyimpan air garam sampai disuntikkan kembali atau diolah dan dibuang ke air
permukaan. Kolam akan ditempatkan di atas atau dekat sumur. Decommissioning mungkin

16
melibatkan pengubahan kolam untuk penggunaan masyarakat atau pribadi, atau
mengembalikan lokasi ke kondisi prapembangunan. Jaringan pipa akan dibutuhkan untuk
mengangkut cairan ke sumur reinjeksi. Steam plume akan dipancarkan saat pengujian, dan
aktivitas ini bisa sangat berisik dan menimbulkan debit aerosol atau tetesan ke lahan
tetangga. Gas (karbon dioksida dan hidrogen sulfida) akan dipancarkan selama pengujian,
yang dapat menghasilkan hujan 'asam' lokal dengan konsentrasi tinggi.

- Fasilitas pendukung: Karena keterpencilan beberapa daerah prospek, sangat mungkin


subproyek memerlukan kamp di tempat dan fasilitas perawatan bagi pekerja. Maka
diperlukan pengelolaan limbah, pengolahan dan pembuangan air limbah, persediaan air
bersih, kesehatan dan keselamatan pekerja dan masyarakat, serta penyediaan berbagai
layanan.

- Restorasi lokasi: Melepaskan semua peralatan, sumur dekomisioning, mengembalikan


tanah ke standar yang disepakati (vegetasi ulang), mengisi kolam, menghilangkan
kontaminasi dan limbah, memindahkan bendungan dan struktur air (atau menyerahkannya
ke masyarakat) dan lain-lain.

33. Kegiatan, yang mungkin merupakan bagian dari keseluruhan proyek Eksplorasi dan dianggap
sebagai 'fasilitas terkait', namun tidak didanai oleh GREM, dapat mencakup satu atau beberapa
hal berikut:

- Infrastruktur transportasi yang baru dan dioptimalkan untuk akses lokasi: Karena
keterpencilan beberapa daerah prospek panas bumi, dan sifat infrastruktur transportasi di
luar pusat utama, kemungkinan subproyek tersebut akan mencakup peningkatan
infrastruktur transportasi ke pelabuhan, dermaga, jembatan dan jalan. Infrastruktur baru
dan jalan akses baru mungkin diperlukan, tergantung pada jarak bantalan pengeboran dan
infrastruktur proyek lainnya dari serviced area. Infrastruktur dan jalan baru cenderung
memerlukan pembebasan lahan yang mungkin secara paksa atau sukarela tergantung
lokasinya. Kegiatan meliputi penggalian untuk bahan pengisi, aktivitas 'potong dan isi' dan
pembersihan vegetasi.

- Persiapan bantalan sumur: Tanah untuk bantalan sumur uji hanya diperlukan dalam jangka
pendek, kecuali sumur diidentifikasi sebagai sumur produksi masa depan. Lokasi biasanya
fleksibel untuk menghindari reseptor yang sensitif dan lahan biasanya dapat dinegosiasikan
dengan penjual berdasarkan pengaturan willing buyer-willing seller atau sewa.
Pembebasan lahan dan persiapan bantalan sumur akan diperlukan untuk sampai dengan 4
atau 5 lokasi sumur per aktivitas eksplorasi. Persyaratan lahan adalah sekitar 1,5 -2 hektar
per bantalan, yang mencakup kolam penyimpanan dan pengolahan. Kegiatan meliputi
penggalian untuk bahan pengisi, aktivitas 'potong dan isi' dan pembersihan vegetasi.

17
1.3.3 Eksploitasi Panas Bumi di Masa Depan sebagai ‘Fasilitas Terkait’
34. Selama proses ESIA untuk subproyek GREM, risiko dan dampak Tahap eksploitasi akan
diskrining. Keluaran skrining akan dilaporkan dalam lampiran ESIA.

35. Tahap Eksploitasi Panas Bumi (pascaeksplorasi) serta dampak dan kegiatan perlindungan yang
relevan adalah:

▪ Tahap 4: Kajian dan Perencanaan Proyek


▪ Studi kelayakan, ESIA dan izin, rencana pengeboran
▪ Tahap 5: Pengembangan Lapangan
▪ Pembebasan lahan dan izin
▪ Pengeboran sumur (produksi, reinjeksi, air pendingin), pengujian sumur, simulasi
reservoir
▪ Tahap 6: Konstruksi
▪ Pipa, pembangkit listrik, gardu dan transmisi
▪ Tahap 7: Start Up dan Commissioning
▪ Tahap 8: Pengoperasian dan Pemeliharaan.
▪ Mengelola pengoperasian sumur dan reinjeksi air garam.
▪ Mengelola sumber daya panas bumi, pemantauan dan simulasi waduk
▪ Membangkitkan listrik
▪ Mengelola emisi, kebisingan dan limbah
▪ Melakukan dekomisioning sumur
▪ Melengkapi pengeboran sumur, pengujian sumur, simulasi reservoir

36. Kegiatan eksploitasi juga mencakup semua hal tersebut di atas dalam tahap eksplorasi. Skala
pengembangan lapangan/pengeboran sumur akan lebih besar daripada tahap eksplorasi,
dengan 10 - 20 lokasi sumur yang dibutuhkan untuk produksi dan sumur reinjeksi (tergantung
pada ukuran dan lokasi sumber daya) serta jaringan pipa yang menghubungkan sumur dan
pembangkit listrik. Pembebasan lahan permanen diperlukan untuk bantalan, jalan, jaringan
pipa, kolam, infrastruktur distribusi, dan sebagainya. Selain itu, eksploitasi akan melibatkan
kegiatan berikut:

- Pembangunan pembangkit listrik, switch yard, gardu induk dan infrastruktur distribusi
tenaga panas bumi: pembebasan lahan (secara paksa atau sukarela), bahaya terkait 3

3 Tiga jenis pembangkit listrik yang beroperasi sekarang ini:


• Pembangkit daya uap kering, yang langsung menggunakan uap panas bumi untuk memutar turbin;
• Pembangkit daya flash steam, yang menarik air panas bertekanan tinggi ke dalam tangki bertekanan rendah dan
menggunakan uap yang dihasilkan untuk menggerakkan turbin; dan

18
konstruksi, limbah, kebisingan dan tenaga kerja. Penggunaan lahan sementara seperti
kamp pekerja dan workshop.

- Emisi ke udara dari menara pendingin: konsentrasi kontaminan seperti merkuri, karbon
dioksida, metana dan hidrogen sulfida, tergantung pada geohidrologi lokasi. Pelepasan
bersifat lebih hangat dari pada suhu udara sekitar.

- Kebisingan: dari pengoperasian pembangkit panas bumi, terutama kipas menara


pendingin, ejektor uap dan ‘dengungan’ turbin.

- Limbah padat dan limbah berbahaya dan beracun: limbah rumah tangga, limbah
berbahaya dari bengkel/maintenance dan lumpur endapan mineral dari menara
pendingin, scrubber, pemisah uap dan lain-lain.

- Pelepasan air limbah: penginjeksian kembali ke cairan panas bumi ke deep geothermal
aquifer. Pengolahan dan pembuangan air pendingin dan air limbah lainnya ke sumur
reinjeksi atau air permukaan.

- Pengoperasian sumur: pengoperasian sumur berkurang dari waktu ke waktu dan sumur
akhirnya ditinggalkan dan digantikan oleh sumur ''make up”.

- Pasokan energi terbarukan ke jaringan listrik lokal: konstruksi dan pengoperasian


infrastruktur distribusi. Pengurangan komparatif emisi gas rumah kaca dibandingkan
dengan pembangkit diesel. Pengiriman listrik ke pelanggan baru dan pengiriman listrik
rendah karbon ke dalam jaringan listrik yang ada.

1.3.4 Bantuan Teknis


1.3.4.1 Pedoman Praktik yang Baik

37. Pedoman tersebut akan menginformasikan kegiatan pengembangan panas bumi di masa depan
dan karenanya akan menimbulkan dampak terhadap industri panas bumi. Untuk alasan ini,
pendekatan, output dan peningkatan kapasitas yang diberikan melalui bantuan teknis akan
konsisten dengan sistem di dalam negeri, kebijakan upaya perlindungan Bank, Pedoman
Lingkungan, Kesehatan dan Keselamatan Grup Bank Dunia dan ESMF ini. Konsultasi dengan
pemangku kepentingan dan publikasi akan menjadi bagian penting dari pendekatan ini.

• Pembangkit siklus biner, yang mengalirkan air panas bumi moderat dengan cairan sekunder dengan titik didih jauh
lebih rendah daripada air. Hal ini menyebabkan cairan sekunder langsung berubah menjadi uap, yang kemudian
menggerakkan turbin

19
1.3.4.2 Pusat Kompetensi (CoC) dan Divisi Evaluasi dan Penasihat Lingkungan dan Sosial

38. Tim CoC PT SMI akan menyewa konsultan dari TA, jika perlu, untuk mendukung PT SMI dalam
meninjau kelayakan proposal subproyek dan terlibat dengan Divisi Evaluasi dan Penasihat
Lingkungan dan Sosial (Tim Upaya Perlindungan PT SMI), konsultan upaya perlindungan, dan
anggota tim lainnya untuk mengintegrasikan upaya perlindungan ke dalam program kerja,
pengambilan keputusan untuk pemilihan subproyek, desain teknis, dokumen tender, dan
laporan akhir kelayakan masing-masing subproyek untuk eksplorasi dan eksploitas.i
Persyaratannya termasuk memastikan sumber daya yang memuaskan, termasuk praktisi dan
insinyur safeguard yang kompeten dan berpengalaman. Biaya operasional tim PMU untuk
proyek GREM akan tercakup dalam Komponen 2 GREM.

39. Selanjutnya, Kerangka Acuan untuk tim CoC PT SMI akan memasukkan persyaratan untuk
meninjau kepatuhan terhadap OP/BP 4.37 Keamanan Bendungan dalam komponen desain dan
pengawasan lingkup pekerjaan. Persyaratan khusus dari kebijakan dan prosedur bank terkait
adalah sebagai berikut:

- Semua kolam harus dirancang dan konstruksi diawasi oleh profesional yang
berpengalaman dan kompeten.

- Langkah-langkah keselamatan harus dirancang oleh teknisi yang berkualitas. Sifat dan
jenis tindakan pengamanan harus sepadan dengan risiko.

- Langkah keselamatan yang tepat akan disepakati antara Bank dan PT SMI sebelum disain
rampung.

- ESIA akan memastikan bahwa tidak akan ada risiko atau risiko yang dapat diabaikan akibat
dampak negatif yang signifikan karena potensi kegagalan struktur terhadap masyarakat
lokal serta aset dan tindakan mitigasi akan disertakan dalam ESMP.

40. Tim CoC PT SMI akan melakukan tugas untuk meninjau dokumen penawaran dan kontrak
Kontraktor yang diajukan oleh subpeminjam di bawah Public/SOE window dan harus
memastikan bahwa dokumen tersebut sesuai dengan persyaratan OP/BP 4.37 Keamanan
Bendungan. Kontraktor harus merancang, membangun, mengoperasikan, dan memisahkan
kolam pemukiman dan cadangan sesuai dengan kebijakan dan petunjuk desain CoC. Mereka
harus memiliki profesional yang kompeten dan berpengalaman untuk melakukan penilaian
risiko, perancangan, konstruksi dan pemantauan keselamatan selama operasi. Tugas ini tidak
akan berlaku untuk subproyek yang diserahkan oleh Sektor Swasta.

41. Divisi Penasihat Sosial Lingkungan PT SMI akan menyewa konsultan dari TA jika diperlukan
untuk mendukung PT SMI dalam meninjau usulan pengajuan subproyek dan melibatkan Tim
Upaya Perlindungan Subpeminjam, konsultan safeguard, dan anggota tim lainnya untuk

20
mengintegrasikan upaya perlindungan ke dalam program kerja, pengambilan keputusan untuk
pemilihan subproyek, desain teknis, dokumen penawaran, dan laporan akhir kelayakan masing-
masing subproyek untuk eksplorasi dan eksploitasi. Persyaratannya termasuk memastikan
sumber daya yang memuaskan, termasuk praktisi dan insinyur safeguard yang kompeten dan
berpengalaman.

21
2 KERANGKA KERJA UPAYA PERLINDUNGAN GERM
42. Tujuan Kerangka Pengelolaan Lingkungan dan Sosial (ESMF) adalah memandu pengelolaan
permasalahan lingkungan dan sosial yang timbul dari pelaksanaan proyek Mitigasi Risiko
Sumber Daya Panas Bumi. Kerangka ini menyatakan undang-undang dan kebijakan yang
relevan dari Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia, serta menetapkan prinsip, peraturan,
prosedur dan pengaturan kelembagaan untuk menyaring, menilai, merencanakan dan
menerapkan tindakan yang diperlukan untuk mengurangi dampak lingkungan dan sosial dari
investasi berdasarkan GREM. Secara khusus, kerangka ini memaparkan persyaratan
perencanaan lingkungan dan sosial untuk pengembangan proposal investasi oleh subpeminjam
serta tanggung jawab manajemen lingkungan dan sosial PT SMI dalam pemantauan kajian,
persetujuan dan pelaksanaan rencana lingkungan dan sosial .

43. Tujuan penerbitan Kerangka Pengelolaan Lingkungan dan Sosial adalah untuk memastikan
bahwa seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam proyek mematuhi persyaratan,
prosedur dan peraturan yang terkait dengan pengelolaan lingkungan sesuai dengan peraturan
pemerintah yang berlaku dan ketentuan tambahan yang sesuai dengan Kebijakan Upaya
Perlindungan Bank Dunia yang relevan. Kebijakan ini berfokus pada dampak lingkungan dan
sosial dari pengeboran dan pengujian, sebagai dampak dari fasilitas terkait. Kebijakan ini
menyediakan pengaturan implementasi dan anggaran untuk perantara keuangan (PT SMI) dan
subpeminjam (sektor swasta dan publik).

44. Kerangka Kebijakan Pemukiman Kembali (RPF) terdapat dalam Bagian 6. Kerangka ini
dipersiapkan sesuai dengan undang-undang Pemerintah Indonesia yang berlaku terkait dengan
pembebasan lahan dan pemukiman kembali secara serta OP 4.12 Bank Dunia tentang
Pemukiman Kembali Paksa.

45. Kerangka Perencanaan Masyarakat Adat (IPPF) disiapkan sesuai dengan undang-undang
Pemerintah Indonesia yang berlaku terkait dengan pengelolaan dampak dan manfaat proyek
terhadap Masyarakat Adat dan OP 4.10 Bank Dunia tentang Masyarakat Adat.

22
3 UNDANG-UNDANG, PERATURAN, DAN KEBIJAKAN UPAYA
PERLINDUNGAN
46. Berikut adalah ringkasan peraturan, undang-undang dan kebijakan yang terkait dengan upaya
perlindungan lingkungan dan sosial yang relevan bagi ESMF. Ringkasan undang-undang,
kebijakan dan peraturan yang terkait dengan pembebasan lahan dan pemukiman kembali
secara paksa tersaji dalam RPF (Bagian 6) dan yang terkait dengan Masyarakat Adat termuat
dalam IPPF (Bagian 7).

3.1 Undang-Undang dan Peraturan Indonesia


47. Dalam hal pengelolaan lingkungan dan sosial, subproyek eksplorasi panas bumi yang didanai
oleh GREM harus mengacu pada UU No. 32/2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan
Lingkungan, dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 27/2012 tentang Izin Lingkungan, Peraturan
Menteri Lingkungan Hidup No. 16/2012 tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan
(AMDAL dan UKL-UPL), UU No. 26/2007 tentang Rencana Tata Ruang, dan Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup No. 5/2012 tentang Jenis Kegiatan yang mewajibkan AMDAL, Undang-
Undang Nomor 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi, Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun
1717 tentang Panas Bumi untuk Penggunaan Tidak Langsung, Peraturan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral Nomor 21/2017 tentang Pengelolaan Lumpur Pengeboran dan Limbah
Pengeboran dari Pengeboran panas bumi. Dari proses skrining terhadap jenis kegiatan yang
memerlukan AMDAL (Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 5/2012), eksplorasi Panas Bumi
dianggap tidak memerlukan AMDAL, hanya UKL-UPL yang wajib.

48. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 5059) dengan prinsip utama menjamin kelangsungan hidup semua makhluk
hidup dan konservasi ekosistem, menjaga kelestarian fungsi lingkungan, serta mencapai
kesesuaian, harmoni dan keseimbangan lingkungan. Sehubungan dengan kegiatan panas bumi,
undang-undang tersebut mengatur instrumen untuk mencegah pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan, seperti UKL-UPL dan/atau AMDAL.

49. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi telah mengubah kegiatan panas
bumi dari pertambangan menjadi penggunaan tidak langsung, yang memungkinkan kegiatan
tersebut berada dalam kawasan hutan lindung, dan jika memang demikian, undang-undang
tentang perlindungan lingkungan mengatur bahwa kegiatan tersebut harus mempersiapkan
UKL-UPL untuk tahap eksplorasi dan AMDAL lengkap untuk tahap eksploitasi.

50. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan berdasarkan keberlanjutan


ekosistem hutan dan fungsinya untuk tujuan ekonomi dan ekologi. Kegiatan pembangunan
selain kehutanan diperbolehkan secara selektif untuk menghindari kerusakan yang signifikan
yang dapat mengurangi fungsi hutan. Kegiatan pengembangan strategis yang bisa dihindari

23
diperbolehkan dengan pendekatan kehati-hatian, seperti untuk instalasi pertambangan, listrik,
komunikasi, dan air. Makanya, ini juga berlaku untuk pengembangan panas bumi yang bisa
diimplementasikan dalam kawasan hutan, bahkan dalam hutan lindung.

51. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3419) yang mengatur tentang ekosistem dan habitat untuk mendukung penghidupan,
dan juga keanekaragaman hayati untuk dipelajari, dilestarikan, dan dimanfaatkan secara
berkesinambungan. Pemegang izin panas bumi harus menerapkan peraturan ini, khususnya
bila lokasi berada di dalam dan dekat dengan kawasan lindung dan konservasi. Pengembangan
panas bumi dalam kawasan hutan, serta kawasan hutan lindung dan konservasi, diperbolehkan
dan dianggap sebagai pemanfaatan layanan lingkungannya. Hal ini harus dilakukan secara
bijaksana dengan penerapan prinsip keberlanjutan hutan dan keanekaragaman hayati. Kegiatan
tersebut harus mendapatkan izin yang relevan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan.

52. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang mengatur perencanaan
pemanfaatan tanah, kelautan, dan udara, termasuk apa yang ada di bumi, sebagai satu
kedaulatan bagi manusia dan satwa liar dan penghidupan mereka. Prinsip dasar rencana tata
ruang adalah pemanfaatan sumber daya untuk kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Panas bumi dalam undang-undang ini dianggap sebagai kegiatan strategis nasional bersamaan
dengan minyak, gas, mineral, dan air tanah. Peraturan daerah tentang rencana tata ruang harus
mengacu pada undang-undang ini, terutama mengenai sumber daya panas bumi bila didapati
potensi; sehingga perkembangannya tidak akan terhambat.

53. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Panas Bumi untuk
Penggunaan Tidak Langsung mengatur kewenangan pengembangan panas bumi untuk
pemanfaatan tidak langsung, mekanisme survei pendahuluan, eksplorasi dan eksploitasi,
persiapan wilayah kerja panas bumi dan proses pemberian penghargaan.

54. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5285)
mewajibkan bahwa pengembangan pembangkit tenaga panas bumi dianggap sebagai salah satu
kegiatan strategis nasional yang perlu mendapatkan izin lingkungan, dan kegiatan terkait yang
wajib memiliki UKL-UPL dan/atau AMDAL. Dalam hal eksplorasi, UKL-UPL diwajibkan (sesuai
Undang-undang Nomor 21/2014 yang diuraikan di atas).

55. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2010 tentang Pemanfaatan Kawasan Hutan, telah
memungkinkan pengembangan energi panas bumi di dalam wilayah hutan lindung sebagai
kegiatan strategis nasional. Pembangunan tersebut harus mendapatkan izin dari Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta membayar retribusi yang memadai sebagai kontribusi

24
terhadap penerimaan negara. Pemrakarsa proyek diharuskan menyerahkan proposal tersebut
ke Kementerian beserta dokumen pendukung yang digariskan dalam peraturan tersebut.

56. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
juga menyediakan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan untuk memberi manfaat
bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia dan mengakui panas bumi sebagai kegiatan strategis
nasional bersamaan dengan minyak, gas, mineral, dan air tanah. Rencana Tata Ruang Nasional
memberikan panduan untuk mempersiapkan rencana jangka panjang, rencana jangka
menengah, rencana penggunaan tanah, keseimbangan antar daerah, lokasi investasi, kawasan
strategis nasional, serta rencana tata ruang provinsi dan kabupaten.

57. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Cagar Alam dan
Konservasi Alam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 56, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 5217) mengizinkan kegiatan pengembangan panas bumi dalam
kawasan konservasi asalkan tidak diklasifikasikan sebagai proses penambangan (Pasal 35, ayat
1c). Kegiatan panas bumi diatur sebagai jenis pemanfaatan layanan ekosistem hutan.

58. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 5 tahun 2012 tentang Kegiatan yang wajib memiliki
AMDAL menetapkan kegiatan pembangunan ke dalam beberapa kelompok berdasarkan
potensi dampak lingkungan dan besarnya pengaruh dampak terhadap manusia dan lingkungan.
Peraturan tersebut menyatakan bahwa setiap kegiatan pembangunan dalam kawasan alami
yang berada terdekat atau di dalam kawasan lindung adalah 'wajib AMDAL'; Namun, kegiatan
eksplorasi panas bumi dikecualikan, sehingga cukup memiliki UKL-UPL.

59. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 13 tahun 2010 tentang UKL-UPL dan SPPL
menetapkan bahwa proyek atau kegiatan pembangunan yang tidak 'wajib AMDAL-' adalah
wajib UKL-UPL , dimana dampak lingkungan kurang signifikan. Proyek-proyek tersebut
ditetapkan sebagai wajib UKL-UPL oleh gubernur dan/atau kepala Kabupaten berdasarkan
skrining sebelumnya. Peraturan tersebut juga memberikan panduan dan format penyusunan
UKL-UPL, serta mengamanatkan agar pemrosesannya diselesaikan oleh badan lingkungan hidup
setempat dalam waktu 14 hari kerja. Setelah pemrakarsa mengajukan proposal UKL-UPL
kepada otoritas lingkungan setempat, lembaga menerbitkan rekomendasi UKL-UPL paling
sedikit 7 hari setelah pengajuan proposal akhir yang akan digunakan oleh pemrakarsa sebagai
dasar untuk memperoleh izin lingkungan serta menjalankan pengelolaan dan pemantauan
dampak lingkungan.

60. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 16 tahun 2012 tentang Pedoman Penyiapan Dokumen
Lingkungan mengatur bagaimana menyiapkan dokumen lingkungan, termasuk AMDAL, UKL-
UPL dan SPPL, dimana dua yang pertama merupakan persyaratan utama untuk mendapatkan
izin lingkungan hidup. Peraturan tersebut memberikan penjelasan rinci tentang dokumen

25
lingkungan yang harus disiapkan oleh para pendukung proyek, termasuk untuk proyek
eksplorasi panas bumi yang tunduk pada persyaratan UKL-UPL.

61. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 17 tahun 2012 tentang Pedoman Pelibatan Publik
dalam Pengkajian Lingkungan dan Proses Perizinan Lingkungan. Peraturan tersebut
berdasarkan prinsip bahwa: a) penyediaan informasi yang lengkap dan transparan; 2) posisi
yang setara dari seluruh pemangku kepentingan; 3) penyelesaian secara adil dan bijaksana;
dan, 4) koordinasi, komunikasi dan kerjasama antar pihak terkait. Peraturan ini mengatur
keterlibatan publik dalam penerbitan izin usaha dan AMDAL melalui pengumuman, masukan,
umpan balik dan konsultasi publik, dan juga dalam komisi kajian AMDAL. Publik mendefinisikan
sebagai: 1) orang-orang yang terkena dampak proyek; 2) pengawas lingkungan; dan, 3) proses
AMDAL dan orang-orang yang terkena dampak keputusan. Peraturan tersebut mengatur prinsip
dan persyaratan FPIC untuk publikasi.

62. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.46/Menlhk/Setjen/Kum.1/5/2016


tentang Pemanfaatan Jasa Lingkungan Panas Bumi dalam Taman Nasional, Taman Hutan Raya,
dan Taman Rekreasi Alam. Peraturan tersebut menjadi dasar untuk mengizinkan
pengembangan panas bumi dalam wilayah konservasi tertentu, termasuk pembangunan
infrastruktur, pengeboran eksplorasi dan/atau eksploitasi, serta konstruksi pembangkit tenaga
listrik.

63. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 21/2017 tentang Pengelolaan
Lumpur Pengeboran dan Limbah Pengeboran dari Pengeboran Panas Bumi. Peraturan ini
mengatur pengelolaan lumpur pengeboran dan limbah pengeboran dari eksplorasi panas bumi
dan persyaratan pelaporannya sampai pada kewenangannya.

64. Bila eksplorasi panas bumi berdampak pada kekayaan budaya, Undang-undang No. 5/1992,
"Mengenai Benda Cagar Budaya” akan diterapkan. UU tersebut mendefinisikan benda cagar
budaya sebagai “nilai penting bagi sejarah, sains, dan budaya", sebagai "objek atau kelompok
benda buatan manusia "; bergerak atau tidak bergerak; berusia setidaknya lima puluh tahun
atau benda alami dengan nilai sejarah tinggi4.

65. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 (Undang-Undang Cagar Budaya No. 11/2010) tentang
Warisan Nasional, khususnya menetapkan pedoman pengamatan dan pengumpulan data
tentang warisan budaya yang mungkin terpengaruh oleh kegiatan proyek.

3.2 Standar Lingkungan dan Sosial (ESS) PT SMI


66. ESS PT SMI terdiri dari sepuluh elemen yaitu:

4UNESCO. Kompilasi Hukum dan Peraturan Republik Indonesia Mengenai Benda-benda Cagar Budaya ", hal. 3f. Diperoleh 6 Mei
2012".

26
(a) ESS-1: Penilaian dan pengelolaan risiko dan dampak lingkungan dan sosial

(b) ESS-2: Ketenagakerjaan dan lingkungan kerja

(c) ESS-3: Pencegahan dan pengurangan polusi

(d) ESS-4: Keselamatan, kesehatan, dan keamanan

(e) ESS-5: Pembebasan lahan dan pemindahan penduduk

(f) ESS-6: Konservasi keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumber daya alam

(g) ESS-7: Masyarakat adat dan masyarakat tempatan

(h) ESS-8: Warisan budaya

(i) ESS-9: Konservasi energi dan energi ramah lingkungan

(j) ESS-10: Konsultasi dan penanganan keluhan

3.3 Kebijakan Upaya Perlindungan Bank Dunia


67. Kebijakan Perlindungan Bank Dunia Berdasarkan pengkajian ulang proyek serupa dan skrining
awal lingkungan dan sosial, diantisipasi bahwa Kebijakan Perlindungan Bank Dunia berikut
relevan dan/atau dapat dicetuskan oleh subproyek GREM 5:

Tabel 1: Kebijakan Upaya Perlindungan yang Dicetuskan oleh Proyek


Kebijakan Upaya Perlindungan yang Dicetuskan oleh Proyek Ya Tidak
Penilaian Lingkungan OP/BP 4.01 X
Habitat Alami OP/BP 4.04 X
Hutan OP/BP 4.36 X
Pengelolaan Hama OP 4.09 X
Sumber Daya Budaya Fisik OP/BP 4.11 X
Masyarakat Adat OP/BP 4.10 X
Pemukiman Kembali Paksa OP/BP 4.12 X
Keamanan Bendungan OP/BP 4.37 X
Proyek di Perairan Internasional OP/BP 7.50 X
Proyek di Wilayah Sengketa OP/BP 7.60 X

5OP4.10 Kebijakan Masyarakat Adat dikaji dalam Bagian 6. OP 4.12 Kebijakan Pemukiman Kembali Paksa dinilai dalam Bagian 7.

27
68. OP 4.01 Penilaian Lingkungan. Pada Komponen 1 subproyek, proyek ini akan mendanai
eksplorasi sumber panas bumi di beberapa lokasi dengan wilayah kerja panas bumi (WKP) yang
ditetapkan. Subproyek akan termasuk dalam Klasifikasi Kategori B atau Kategori A. Subproyek
Kategori B bila dampaknya bersifat lokal, dapat dibatalkan dan mudah dikelola dengan langkah-
langkah mitigasi yang telah terbukti atau terstandarisasi. Subproyek Kategori A adalah proyek
dengan potensi dampak lingkungan dan sosial yang sensitif, kompleks, tidak dapat diubah, dan
bertolak belakang yang belum diperkirakan sebelumnya yang dapat mempengaruhi area yang
lebih luas daripada lokasi fasilitas yang digunakan untuk pekerjaan fisik. Seluruh subproyek
kemungkinan akan memerlukan Environmental Impact Assessment (ESIA) dan Environmental
and Social Management Plan (ESMP) lengkap untuk mengelola dan mengurangi dampak
tersebut sesuai dengan OP 4.01. Penilaian potensi dampak juga harus mempertimbangkan
masyarakat sosial atau kehidupan sosial penduduk di sekitar lokasi panas bumi.

69. OP 4.04 Habitat Alami menguraikan kebijakan Bank Dunia tentang konservasi keanekaragaman
hayati dengan mempertimbangkan layanan ekosistem dan pengelolaan sumber daya alam dan
yang digunakan oleh orang-orang yang terkena dampak proyek (PAP). Proyek harus menilai
potensi dampak terhadap keanekaragaman hayati. Kebijakan tersebut secara ketat membatasi
keadaan dimana kerusakan pada habitat alami dapat terjadi, dan melarang proyek yang
kemungkinan mengakibatkan hilangnya habitat alam yang penting secara signifikan. Bila lokasi
potensi panas bumi berada di daerah yang ditunjuk sebagai hutan lindung (HL) atau 'kawasan
hutan lindung, untuk tetap berada dalam forest cover untuk perlindungan daerah aliran sungai'
atau kawasan konservasi, atau yang serupa, kebijakan ini akan berlaku. Dampak akan dinilai
dalam proses ESIA.

70. OP 4.11 Sumber Daya Budaya Fisik (PCR) menetapkan persyaratan Bank Dunia untuk
menghindari atau mengurangi dampak buruk akibat pengembangan proyek sumber daya
budaya. Kemungkinan PCR akan ditemukan di dekat proyek eksplorasi panas bumi. Dalam
beberapa kasus di Indonesia, masyarakat setempat menganggap manifestasi energi panas bumi
sebagai hal yang sakral. ESMF mencakup persyaratan untuk menyiapkan PCR Management
Plans (PCRMP), yang akan dikembangkan sebagai bagian dari proses ESIA dan ESMP, serta
persyaratan untuk Prosedur Penemuan Tak Terduga (chance find procedure) yang harus
dilampirkan ke setiap ESMP.

71. OP 4.36 Hutan. Kebijakan ini mengakui kebutuhan untuk mengurangi deforestasi serta
mendorong pengelolaan dan konservasi hutan secara berkesinambungan. Prospek daerah
panas bumi dapat berada dalam kawasan hutan sebagaimana didefinisikan oleh status
perlindungannya berdasarkan peraturan Pemerintah Indonesia dan juga definisi hutan
berdasarkan Kebijakan. Dampak terhadap kesehatan dan fungsi hutan, dan dampaknya pada
orang-orang yang terkena dampak yang bergantung pada sumber daya hutan, akan dinilai
sebagai bagian dari proses ESIA serta Rencana Aksi dan Pemukiman Kembali dan langkah-
langkah mitigasi akan dimasukkan ke dalam ESMP dan LARAP.

28
72. OP 4.37 Keamanan Bendungan. Bila Bank membiayai sebuah proyek yang mencakup
pembangunan bendungan baru, Kebijakan ini mengharuskan bendungan dirancang dan
pembangunannya diawasi oleh para profesional yang berpengalaman dan kompeten. Hal ini
juga mensyaratkan bahwa Peminjam mengadopsi dan menerapkan langkah-langkah
keselamatan bendungan tertentu untuk disain, penawaran tender, konstruksi, pengoperasian,
dan pemeliharaan bendungan serta pekerjaan terkait. Kebijakan ini lahir karena proses
pengeboran membutuhkan kolam penyimpanan dan pemukiman untuk air garam dan cairan
pengeboran lainnya. Persyaratan Kebijakan akan disertakan dalam kontrak EMT dan kontrak
pengeboran, serta kegiatan dan output akan dipantau berdasarkan ESMF.

73. OP 4.10 Masyarakat Adat. Kebijakan ini mewajibkan Pemerintah untuk melakukan proses
konsultasi bebas, di muka dan diinformasikan dengan masyarakat adat, seperti yang dijelaskan
oleh kebijakan tersebut dalam situasi dimana masyarakat adat berada, atau memiliki
keterikatan bersama dengan area proyek dan untuk persiapan Indigenous Peoples Plan (IPP)
dan/atau Indigenous Peoples Planning Framework (IPPF). Tujuan dari kebijakan ini adalah
bahwa dukungan masyarakat luas dari Masyarakat Adat di wilayah proyek harus diperoleh dan
bahwa kebijakan tersebut bertujuan untuk meminimalkan dampak serta memberikan manfaat
dan langkah mitigasi yang sesuai secara budaya.

74. OP 4.12 Pemukiman Kembali Paksa. Kebijakan ini membahas dampak ekonomi dan sosial
langsung dari kegiatan proyek yang akan menyebabkan (a) pengambilan lahan secara paksa
yang mengakibatkan (i) relokasi atau kehilangan tempat tinggal, (ii) kehilangan aset atau akses
terhadap aset atau (iii) kehilangan sumber pendapatan atau mata pencaharian dan (b)
pembatasan akses paksa ke taman dan kawasan lindung yang ditetapkan secara hukum
mengakibatkan dampak buruk pada penghidupan orang-orang yang kehilangan tempat tinggal.
Kebijakan tersebut mengharuskan penetapan lokasi infrastruktur proyek sehingga menghindari
dampak ini sama sekali atau meminimalkannya sejauh mungkin. Bila hal ini tidak dapat
dihindari, kebijakan tersebut mensyaratkan persiapan salah satu atau kedua instrumen ini (i)
Kerangka Kebijakan Pemukiman Kembali, (ii) Rencana Aksi Pemukiman Kembali, serta
konsultasi yang signifikan dengan orang-orang yang berpotensi terkena dampak. Kebijakan
tersebut melarang sumbangan lahan dari masyarakat untuk infrastruktur di lokasi tertentu.

75. Pedoman EHS Grup Bank Dunia, termasuk Pedoman Sektor Industri untuk Panas Bumi, akan
diintegrasikan ke dalam proses dan dokumentasi ESIA dan ESMP.

3.4 Analisis Kesenjangan


76. Tabel 2 di bawah ini menyajikan perbandingan fitur-fitur utama antara Peraturan Perundangan
Pemerintah Indonesia dan kebijakan perlindungan Bank Dunia serta bagaimana kesenjangan
tersebut ditangani dalam kerangka kerja.

29
77. Perbedaan yang signifikan antara peraturan perundangan ESIA/AMDAL Indonesia yang
berkaitan dengan eksplorasi panas bumi dan Kebijakan Bank berkaitan dengan instrumen
perlindungan yang berlaku. Pemerintah Indonesia menetapkan bahwa hanya Rencana
Pengelolaan dan Rencana Pemantauan Lingkungan (UPL/UKL) yang diperlukan untuk eksplorasi
panas bumi tanpa mempedulikan potensi dampak, sedangkan OP4.01 memerlukan penilaian
terhadap instrumen upaya perlindungan tergantung klasifikasi kegiatan berdasarkan risiko
(Kategori A, B, atau C). Sistem Bank dan negara sendiri akan diikuti, dan isi dokumen akan
diselaraskan jika memungkinkan; Namun, perangkat instrumen yang terpisah akan disiapkan
untuk proses persetujuan terpisah.

78. OP4.01 Penilaian Lingkungan memerlukan pengkajian terhadap fasilitas terkait dimana proyek
tersebut dianggap sebagai bagian dari Proyek (baik secara geografis maupun dari waktu ke
waktu), sedangkan peraturan perundangan Pemerintah Indonesia mempertimbangkan kegiatan
proyek secara terpisah. Sementara itu, peraturan perundangan Pemerintah Indonesia
mempertimbangkan setiap tahapan sebagai proses perizinan lingkungan yang terpisah, dan
dengan demikian memerlukan permohonan dan persetujuan izin yang terpisah.

79. Peraturan perundangan pemerintah Indonesia baru-baru ini telah diubah untuk menghilangkan
hambatan melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi panas bumi dalam hutan dan
kawasan lindung, serta membebaskan persyaratan untuk ESIA/AMDAL lengkap dalam banyak
kasus. Revisi peraturan ini mempertimbangkan penggunaan layanan ekosistem yang
berdampak rendah dan bahwa panas bumi diterima dan semakin dianggap sebagai kegiatan
strategis nasional. Sebaliknya, OP4.01 Penilaian Lingkungan, OP4.04 Habitat Alam dan OP4.36
Hutan telah mempertahankan persyaratan dan standarnya terlepas dari aktivitasnya. Bank
memerlukan penilaian dampak lengkap sebelum penilaian subproyek; dan akan mengharuskan
mitigasi yang signifikan, atau tidak mendanai kegiatan eksplorasi tertentu-yang dapat
menyebabkan degradasi atau penghilangan habitat kritis-dalam hutan dan kawasan lindung.

80. ESMF ini tunduk pada peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia. Pembaruan terhadap
peraturan perundangan masih akan dipatuhi secara ketat oleh ESMF ini.

81. Bila terjadi konflik antara sistem negara sendiri dan Kebijakan Bank, standar tertinggi yang
berlaku, yang berarti tindakan pencegahan, atau yang paling ketat dalam hal menghindari atau
meminimalkan dampak sosial dan lingkungan, akan diikuti untuk mematuhi kedua sistem.

30
Tabel 2 Analisis Kesenjangan untuk Kebijakan Perlindungan Lingkungan dan Sosial serta Undang-undang dan Peraturan Indonesia

Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

OP 4.01 Analisis Lingkungan

Referensi kerangka OP 4.01 Ayat 3 Peraturan Menteri Lingkungan Kurangnya referensi kerangka ESMF mematuhi OP4.01. ESIA,
hukum dan Hidup No. 16/2012 bagian G.5 dan hukum dan administratif seperti ESMP dan UKL-UPL subproyek juga
OP 4.01 (Lampiran B)
administratif seperti B.4.a, menetapkan bahwa data perjanjian dan kesepakatan akan menutupi kesenjangan ini
perjanjian EA memperhitungkan kewajiban dan informasi lain yang diperlukan lingkungan internasional, dan mengikuti OP4.01.
lingkungan negara, berkaitan dengan kegiatan dalam pelaporan UKL-UPL harus kebijakan standar internasional,
internasional, proyek berdasarkan perjanjian atau dimasukkan termasuk referensi dan lain-lain. Regulasi saat ini
kesepakatan, kesepakatan internasional yang persyaratan lainnya. hanya mengacu pada "data dan
kebijakan standar relevan. informasi lain".
internasional dan
lain-lain.

Area of Influence OP 4.01 Ayat 2 Peraturan Menteri Lingkungan Kurangnya analisis mengenai ESIA, ESMP dan UKL-UPL
Proyek. Hidup No. 16/2012 bagian B.4.c, area of influence proyek, subproyek akan mencakup area of
OP 4.01 (Lampiran B)
meminta pemrakarsa proyek fasilitas tambahan, dampak influence proyek sesuai OP4.01.
EA mengevaluasi potensi risiko dan untuk memberikan informasi yang ditimbulkan dan analisis
dampak lingkungan proyek dalam secara rinci mengenai aspek ini pemilihan lokasi untuk kegiatan
area of influence-nya , dengan " peta, skala komponen yang mewajibkan UKL-UPL.
mengidentifikasi cara-cara untuk operasi dan kegiatan" yang dapat
memperbaiki pemilihan proyek dan digunakan untuk menentukan
penetapan lokasi dan lain-lain. area of influence proyek,
ketersediaan fasilitas tambahan
dan fasilitas terkait selama
persiapan UPL/UKL sebagai good
practice. Namun, Peraturan
tersebut tidak menyatakan
tentang area of influence proyek di

31
Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

luar jejak kaki (footprint) proyek.

Skrining Dampak OP 4.01 Ayat 8 Peraturan Menteri Lingkungan Skrining lingkungan berdasarkan ESIA, ESMP dan UKL-UPL
Lingkungan Hidup No. 16/2012 bagian 4.C ambang teknis hanya akan subproyek akan mencakup skrining
OP 4.01 (Lampiran C)
mengatur persyaratan untuk menghasilkan tingkat dan jenis dan pelingkupan dampak
Penyaringan lingkungan masing- mengevaluasi seluruh dampak EA yang tidak tepat. lingkungan sebagaimana diatur
masing proyek yang diusulkan yang mungkin timbul dari proyek pada Bagian 5 ESMF.
untuk menentukan tingkat dan dan menyiapkan langkah-langkah
jenis EA yang tepat. mitigasi untuk mengatasi
permasalahan tersebut.
Namun, skrining lebih lanjut
berdasarkan evaluasi dampak
lingkungan yang signifikan tidak
disebutkan secara jelas.

Data Pemantauan OP 4.01 (Lampiran C) Peraturan Menteri Lingkungan Tindak lanjut, analisis, ESMP dan UKL-UPL akan
Lingkungan Hidup No. 16/2012 bagian C.3 penggunaan data pemantauan membahas kesenjangan dan
Data pemantauan lingkungan
secara jelas mengatur persyaratan lingkungan yang tidak memadai mencakup program pemantauan
untuk mengevaluasi keberhasilan
untuk pemantauan data UKL-UPL. untuk evaluasi dan perbaikan lingkungan yang sesuai dengan
mitigasi dan untuk menumbuhkan
berkelanjutan. skala dampak proyek. Lihat
tindakan korektif.
Lampiran D.
Program pemantauan
lingkungan tidak memadai atau
tidak sesuai dengan skala
dampak proyek.

Pelatihan dan OP 4.01 Ayat 13 Tidak tercakup. Tidak memadainya peningkatan Dibahas dalam Bagian 9 ESMF.
Peningkatan kapasitas dan pelatihan untuk
(Bila peminjam memiliki kapasitas
kapasitas. implementasi EMP
teknis yang tidak memadai untuk
melaksanakan fungsi pengelolaan

32
Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

perlindungan lingkungan, proyek


menyertakan komponen-komponen
untuk memperkuat kapasitas
tersebut).
OP 4.01 (Lampiran C).
Ayat 4
(Program Bantuan Teknis untuk
implementasi EMP)

Pengaturan OP 4.01 (Lampiran C) Peraturan Menteri Lingkungan Tidak ada kesenjangan yang Dibahas dalam Bagian 9 ESMF.
Kelembagaan. Hidup No. 16/2012 bagian C.4 diidentifikasi.
Ayat 4 dan 5.
secara jelas menata pengaturan
(EMP harus memberikan uraian kelembagaan untuk implementasi,
Lembaga yang spesifik tentang pengaturan pemantauan dan pelaporan UKL
bertanggung jawab kelembagaan dan jadwal UPL. Juga frekuensi dan detail
atas pengelolaan pelaksanaan untuk langkah- lokasi upaya pemantauan dan
lingkungan dan langkah mitigasi dan pemantauan) implementasi (bagian C.3).
pelaksanaan ESMP

Perkiraan biaya OP 4.01 (Lampiran C) Keputusan Menteri Lingkungan Sumber dana untuk Dibahas dalam Bagian 10 ESMF.
ESMP untuk Hidup No. 45/2005 tentang implementasi ESMP tidak
Ayat 5.
memastikan Pedoman Penyusunan Laporan dibahas dalam peraturan
"kecukupan (EMP menyediakan perkiraan biaya Pelaksanaan EMP. Pemerintah ini.
pengaturan modal dan berulang dan sumber
pembiayaan untuk dana untuk implementasi EMP).
EMP".

33
Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

Konsultasi Publik. OP 4.01 - Ayat 14 Peraturan Menteri Lingkungan Tidak ada kesenjangan yang Dibahas dalam Bagian 8 ESMF.
Hidup No. 17/2012 tentang diidentifikasi.
Dikonsultasikan dengan kelompok
Pedoman Keterlibatan Publik
yang terkena proyek dan CSO
dalam Pengkajian Lingkungan dan
selama persiapan dan
Proses Perizinan Lingkungan,
pelaksanaannya
termasuk dokumen UKPL UPL.

OP 4.01 (Lampiran B)
Peraturan Menteri Lingkungan
(Untuk AMDAL, tapi analisis Hidup No. 16/2012 bagian C.4
kesenjangan untuk UKL UPL juga secara jelas mengatur persyaratan
berguna sebagai praktik yang baik) pelaporan berkala untuk
pelaksanaan UPL UKL (setiap 6
bulan)
Persyaratan konsultasi kurang jelas
ditentukan dalam persiapan UPL
UK, terutama selama pelaksanaan
proyek.

Keterbukaan OP 4.01 – Ayat 15. Tidak tercakup dalam Peraturan Tidak ada kesenjangan yang Hal ini dibahas dalam Bagian 8
Informasi Publik. Menteri Lingkungan Hidup, namun diidentifikasi. ESMF ini.
(Publikasi secara tepat waktu dan
diatur dalam Peraturan Menteri
dokumen yang dapat dimengerti
Komunikasi dan Informatika.
dalam bahasa lokal.)

OP 4.04 Habitat Alam

Konsistensi proyek OP 4.04 - Ayat 5. Peraturan Menteri Lingkungan Tidak ada kesenjangan yang
dengan Hidup No. 16/2012 Lampiran IV diidentifikasi.
(Sedapat mungkin, proyek yang
perencanaan tata tentang persiapan UPL UKL bagian
didanai Bank ditempatkan di atas
ruang nasional dan B.4.a menetapkan bahwa setiap

34
Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

daerah untuk tujuan lahan yang telah dikonversi). usulan proyek akan ditolak jika
konservasi proyek tersebut tidak sesuai
dengan perencanaan tata ruang
BP 4.04 - Ayat 5. wilayah/kabupaten dan dengan
(Konsistensi proyek dengan Inpres No. 10 / 2011 tentang
perencanaan tata ruang nasional penangguhan Izin Kehutanan/ Izin
dan regional untuk tujuan Lingkungan di wilayah tertentu
konservasi). (dalam hutan primer, lahan basah
dan daerah sensitif lainnya, dan
sebagainya).

Klasifikasi, kriteria OP 4.04- Ayat 4. Peraturan Menteri Lingkungan Peraturan tersebut tidak secara Melalui Proses Skrining (Bagian 5
untuk konversi Hidup No. 16/2012 Lampiran IV khusus menyebutkan habitat dan Lampiran) dan proses ESIA
(Bank tidak mendukung proyek
(kerugian) yang tentang persiapan UPL UKL bagian alami dan habitat alami kritis (Bagian 5), habitat alami dan
yang menurut pendapat Bank
signifikan dan B.4.a menetapkan bahwa setiap sesuai 4.04 kawasan lindung kritis akan
melibatkan konversi atau degradasi
degradasi Habitat usulan proyek akan ditolak jika diidentifikasi, serta potensi
habitat alam kritis yang signifikan).
Kritis dan Alami baik proyek tersebut tidak sesuai konversi atau degradasi yang
secara langsung dengan perencanaan tata ruang signifikan dari area ini dan opsi
(melalui konstruksi) wilayah/kabupaten dan dengan mitigasinya akan dinilai. Kedua
maupun tidak Inpres No. 10 / 2011 tentang bagian tersebut mengidentifikasi
langsung (melalui penangguhan Izin Kehutanan/ Izin bahwa jika proyek tersebut tidak
tindakan manusia) Lingkungan di wilayah tertentu sesuai dengan Kebijakan Upaya
yang disebabkan (dalam hutan primer, lahan basah Perlindungan atau peraturan
oleh ekosistem dan daerah sensitif lainnya, dan perundang-undangan Pemerintah
proyek. sebagainya). Indonesia, subproyek tidak akan
didanai.

Peningkatan OP 4.04-- Ayat 6. Peraturan Menteri Lingkungan Tidak diatur secara khusus. Hal ini dibahas dalam Bagian
kapasitas untuk Hidup No. 16/2010 bagian C.4 6.3.4.3 ESMF ini. Subrencana
(Kemampuan peminjam untuk
institusi tingkat lokal secara jelas menata pengaturan khusus untuk ESMP, Rencana

35
Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

dan nasional dalam menerapkan langkah-langkah kelembagaan untuk implementasi, Pengelolaan Keanekaragaman
Pengelolaan konservasi dan mitigasi yang tepat pemantauan dan pelaporan UKL Hayati, akan mencakup
Keanekaragaman yang diperkuat oleh komponen UPL. Juga frekuensi dan detail peningkatan kapasitas yang
Hayati atau proyek atau tindakan lainnya). lokasi upaya pemantauan dan spesifik.
Konservasi Alam. implementasi (bagian C.3).

Upaya konsultasi OP 4.04-- Ayat 9 – 10. Peraturan Menteri Lingkungan Tidak ada kesenjangan yang Dibahas dalam Bagian …. ESMF.
publik, keterlibatan Hidup No. 17/2012 tentang diidentifikasi.
(Bank mengharapkan peminjam
pemangku Pedoman Keterlibatan Lingkungan
mempertimbangkan pandangan,
kepentingan dan Proses Perizinan Lingkungan,
peran, hak atau kelompok
termasuk LSM termasuk dokumen UKPL UPL.
termasuk LSM lokal dan
masyarakat lokal selama Peraturan Menteri Lingkungan
perencanaan, perancangan, Hidup No. 16/2012 bagian C.4
implementasi, pemantauan dan secara jelas mengatur persyaratan
evaluasi). pelaporan berkalauntuk
pelaksanaan UPL UKL (setiap 6
bulan) .

OP 4.11 Sumber Daya Budaya Fisik

Rencana OP 4.11 – Ayat 17. UU No. 5/1992 tentang Benda Tidak ada kesenjangan yang Skrining PCR dan penilaian dampak
Pengelolaan Sumber Cagar Budaya akan diterapkan. UU diidentifikasi. dibahas pada Bagian 5 ESMF
(Untuk proyek dimana rencana
Daya Budaya Fisik ini menetapkan Benda Cagar
pengelolaan sumber daya budaya
Budaya sebagai "nilai penting
fisik memasukkan ketentuan untuk
untuk sejarah, sains, dan budaya",
melindungi sumber daya budaya
sebagai "objek atau kelompok
fisik, misi pengawasan mencakup
benda buatan manusia "; bergerak
keahlian yang relevan untuk
atau tidak bergerak; berusia
meninjau pelaksanaan ketentuan
setidaknya lima puluh tahun atau
tersebut)
benda alami dengan nilai sejarah

36
Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

tinggi.
Undang-Undang Cagar Budaya No.
11/2010 tentang Warisan
Nasional, khususnya menetapkan
pedoman pengamatan dan
pengumpulan data tentang
warisan budaya yang mungkin
dipengaruhi oleh kegiatan proyek.

OP 4.36 Hutan

Potensi dampak OP 4.36 – Ayat 13 Undang-Undang No. 41/1999 Sementara Undang-Undang Kegiatan skrining dan ESIA akan
proyek terhadap tentang Kehutanan berdasarkan Pemerintah Indonesia mengidentifikasi nilai ekologi dan
( Sesuai dengan OP/BP 4.01EA,
hutan dan keberlanjutan ekosistem hutan memungkinkan pengembangan sosial hutan dan melakukan
dalam proyek yang mendorong
perlindungan dan fungsinya untuk tujuan panas bumi dalam kawasan penilaian dampak sesuai dengan
Kebijakan Hutan, penilaian
kawasan hutan ekonomi dan ekologi. Kegiatan hutan dan kawasan lindung, OP4.01, OP4.04 dan OP4.36.
lingkungan (EA) harus menyertakan
kritis. pembangunan selain kehutanan OP4.36 mengharuskan penilaian Bahkan jika peraturan Pemerintah
potensi dampak proyek terhadap
diperbolehkan secara selektif dampak terhadap ekosistem Indonesia memungkinkan
hutan dan/atau hak dan
untuk menghindari kerusakan hutan serta hak dan pengembangan panas bumi,
kesejahteraan masyarakat lokal.)
yang signifikan yang dapat kesejahteraan masyarakat lokal, Bagian 2 dari ESMF menyatakan
OP 4.36 – Ayat 14 mengurangi fungsi hutan. Kegiatan terutama yang menggunakan bahwa sebuah subproyek harus
Untuk proyek yang melibatkan pengembangan strategis yang kawasan untuk tujuan mata sesuai dengan peraturan upaya
pengelolaan hutan yang diusulkan dapat dihindari dapat diizinkan pencaharian atau penghidupan perlindungan Bank Dunia dan
untuk pembiayaan Bank, peminjam dengan pendekatan kehati-hatian, peraturan Pemerintah Indonesia
.
melengkapi Bank dengan informasi seperti untuk pertambangan,
yang relevan mengenai sektor listrik, komunikasi, dan
kehutanan tentang kerangka kerja pemasangan air. Makanya, ini juga
keseluruhan peminjam, legislasi berlaku untuk pengembangan
nasional, kemampuan panas bumi yang bisa

37
Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

kelembagaan, serta masalah diimplementasikan dalam


kemiskinan, sosial, ekonomi, atau kawasan hutan, bahkan di hutan
lingkungan yang terkait dengan lindung.
hutan. Informasi ini harus
Peraturan Pemerintah No. 24
mencakup informasi mengenai
Tahun 2010 tentang Pemanfaatan
program hutan nasional negara
Kawasan Hutan, telah
atau proses yang terkait dengan
memungkinkan pengembangan
negara lainnya.
energi panas bumi di dalam
BP 4.36 – Ayat 4 kawasan hutan lindung sebagai
kegiatan strategis nasional.
Selama persiapan proyek, TT
Pembangunan tersebut harus
memastikan bahwa peminjam
mendapatkan izin dari
memberikan penilaian kecukupan
Kementerian Lingkungan Hidup
alokasi penggunaan lahan untuk
dan Kehutanan serta membayar
pengelolaan, konservasi, dan
retribusi yang memadai sebagai
pembangunan hutan lestari,
kontribusi terhadap penerimaan
termasuk alokasi tambahan yang
negara. Pemrakarsa proyek
diperlukan untuk melindungi
diharuskan menyerahkan proposal
kawasan hutan kritis.
tersebut ke Kementerian beserta
dokumen pendukung yang
digariskan dalam peraturan
tersebut.
Peraturan Pemerintah Nomor 28
Tahun 2011 tentang Pengelolaan
Kawasan Cagar Alam dan
Konservasi Alam memungkinkan
kegiatan pengembangan panas
bumi di kawasan konservasi,

38
Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

asalkan tidak diklasifikasikan


sebagai proses penambangan
(Pasal 35, Ayat 1c). Kegiatan panas
bumi diatur sebagai jenis
pemanfaatan layanan ekosistem
hutan.

Peraturan Menteri Lingkungan


Hidup dan Kehutanan
P.46/Menlhk/Setjen/Kum.1/5/201
6 tentang Pemanfaatan Jasa
Lingkungan Panas Bumi dalam
Taman Nasional, Taman Hutan
Raya dan Taman Rekreasi Alam
yang mengharuskan pemrakarsa
proyek untuk memperoleh izin
(IPJLPB/Izin Pemanfaatan Jasa
Lingkungan Panas Bumi ) untuk
pengembangan panas bumi.

OP 4.37 Keamanan Bendungan

Desain dan Kebijakan mengharuskan Peraturan Pemerintah Republik Tidak ada kesenjangan yang ESMF mencakup hal ini dalam
Pengawasan bendungan dirancang dan Indonesia Nomor 37 Tahun 2010 diidentifikasi. bagian 1.4.4.2. Persyaratan
Keamanan pembangunannya diawasi oleh tentang Keamanan Bendungan. Kebijakan akan disertakan dalam
Bendungan profesional yang berpengalaman kontrak EMT dan kontrak
dan kompeten. Hal ini juga pengeboran, serta kegiatan dan
mensyaratkan bahwa Peminjam output akan dipantau berdasarkan
harus mengadopsi dan menerapkan ESMF
langkah-langkah keamanan

39
Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

bendungan tertentu untuk disain,


penawaran tender, konstruksi,
pengoperasian, serta pemeliharaan
bendungan dan pekerjaan terkait.

OP 4.12 Pemukiman Kembali Paksa

Dampak langsung Meliputi penyediaan manfaat Berkaitan dengan kompensasi atas Tercakup dalam metode penilaian
untuk mengatasi dampak sosial dan hilangnya tanah dan aset serta sebagaimana ditentukan dalam
ekonomi langsung yang disebabkan kerugian lainnya yang dapat Standar MAPPI
oleh hilangnya tanah, aset dan dipertanggungjawabkan yang
pendapatan disebabkan oleh pengambilalihan
lahan untuk sebuah proyek.
Setelah kompensasi yang adil
diberikan, pertimbangan lebih
lanjut dan mitigasi dampak tidak
diuraikan.

Dampak tidak Menyatakan bahwa dampak sosial Tidak tercakup, namun dampak Dampak tidak langsung tidak Akan dibahas dalam ESIA, ESMP
langsung. dan ekonomi tidak langsung yang tidak langsung diatur dalam tercakup dalam undang-undang dan UKL-UPL
disebabkan oleh proyek harus Peraturan Menteri Lingkungan pembebasan lahan.
ditangani berdasarkan OP 4.01 Hidup No. 16 Tahun 2012 tentang
Penyusunan Dokumen Lingkungan
(AMDAL)

Aktivitas terkait. Meliputi dampak yang diakibatkan Tidak tercakup Aktivitas terkait tidak tercakup. Dibahas dalam RPF dan akan
oleh kegiatan lainnya adalah jika (i) dipertimbangkan dalam proses
secara langsung dan signifikan LARAP untuk setiap subproyek
terkait dengan proyek yang
diusulkan; (ii) diperlukan untuk
mencapai tujuannya; dan (iii)

40
Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

dilaksanakan atau direncanakan


untuk diterapkan secara
bersamaan dengan proyek tersebut

Komunitas tuan Dampak terhadap masyarakat Tidak tercakup karena pilihan Komunitas tuan rumah tidak Akan dibahas dalam LARAP untuk
rumah. sekitar perlu dipertimbangkan, dan pemukiman kembali/relokasi tidak secara eksplisit tercakup dalam setiap subproyek
masyarakat sekitar perlu diberi diuraikan secara memadai. peraturan Pemerintah Indonesia
konsultasi

Pemukiman Kembali Kegiatan pemukiman kembali harus Pemukiman kembali (relokasi) RPF menyediakan opsi kompensasi
sebagai Program dipahami sebagai program adalah pilihan kompensasi, tapi yang sesuai dengan OP4.12
Pembangunan pembangunan berkelanjutan, tidak diuraikan secara memadai;
Berkelanjutan. menyediakan sumber daya yang lebih berfokus pada kompensasi
memadai untuk memungkinkan uang tunai
orang-orang yang dipindahkan
berbagi manfaat proyek

Kelompok yang Perhatian khusus terhadap Orang yang Terkena Dampak Tidak ada pemisahan spesifik LARAP akan mencakup informasi
Rentan. kebutuhan kelompok rentan di Proyek tidak dibedakan oleh berdasarkan kerentanan atau tentang kelompok yang rentan
antara orang-orang yang kerentanan atau jenis kelamin. jenis kelamin. (wanita, mmereka yang sangat
kehilangan tempat tinggal, miskin, penyandang cacat, dan
terutama yang berada di bawah lain-lain.), terutama selama survei
garis kemiskinan, orang-orang tak sensus
bertanah, orang tua, perempuan
dan anak-anak, penduduk asli, etnis
minoritas, atau orang-orang
terlantar lainnya yang mungkin
tidak dilindungi melalui undang-
undang kompensasi lahan nasional.

41
Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

Instrumen Instrumen perencanaan yang Rencana pembebasan lahan6 Persyaratan untuk menyiapkan
Perencanaan berbeda harus disiapkan untuk berdasarkan studi kelayakan, LARAP saat subproyek melibatkan
Pemukiman mencapai tujuan kebijakan kesesuaian proyek11 dengan pembebasan lahan dan
Kembali. (rencana pemukiman kembali, rencana tata ruang pemukiman kembali secara paksa
kerangka kerja kebijakan
pemukiman kembali atau kerangka
kerja proses) dan harus mencakup
seluruh aspek pemukiman kembali
yang diusulkan.

Kelayakan Tidak Bagi mereka yang tidak memiliki Tidak membahas penghuni liar RPF menetapkan kriteria
Terbatasnya Hak hak legal formal atas tanah atau (kecuali dengan itikad baik atas kompensasi penilai berlisensi yang
Legal. klaim atas tanah tersebut yang tanah publik), perambah dan meliputi antara lain bantuan dan
dapat diakui berdasarkan undang- penyewa di lahan pribadi. penghidupan
undang negara, diberikan bantuan
• Mereka yang tidak memiliki
pemukiman kembali sebagai tanah dan buruh diperkirakan
kompensasi atas tanah untuk tidak diberi kompensasi dan
membantu memperbaiki atau diberi rehabilitasi; adalah
setidaknya memulihkan tanggung jawab pemilik lahan
penghidupan mereka. Akan untuk memberi ganti rugi
mencakup penghuni liar dan pada mereka.
perambah

Kelayakan untuk Masyarakat Adat disertakan saat Masyarakat Adat dicakup oleh Berbagai cara untuk IPPF menentukan bahwa jika
Masyarakat Adat. skrining mengidentifikasi undang-undang pembebasan mengidentifikasi Masyarakat sebuah subproyek perlu

6
Tidak sama dengan LARAP/RP Bank Dunia, di sini lebih merupakan prosedur implementasi daripada rencana pembangunan .

42
Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

keberadaan Masyarakat Adat lahan dan pemukiman kembali Adat. memperoleh lahan, RPF akan
sesuai karakteristik dalam setelah mereka diakui secara sah 7 berlaku
kebijakan OP4.10 (yang tidak
memerlukan pengakuan hukum).

Lahan untuk Lahan Preferensi diberikan pada strategi Tidak ada prosedur rincian dan RPF menyediakan opsi kompensasi
(Pemukiman pemukiman kembali berbasis lahan alokasi waktu untuk menerapkan
Kembali). untuk orang-orang yang kehilangan skema pemukiman kembali ini
tempat tinggal yang berbasis lahan.

Paket Manfaat. Menyediakan alternatif pemukiman Terutama dalam bentuk tunai; RPF memberikan persyaratan
kembali yang layak secara teknis dalam pedoman MAPPI, untuk opsi kompensasi, dan penilai
dan ekonomis dan bantuan yang kompensasi adalah harga pasar berlisensi menilai aset fisik, biaya
diperlukan, termasuk (a) ditambah biaya transaksi dan dan kerugian aset nonfisik dan
kompensasi secepatnya dengan lainnya, ditambah premi (untuk premi
biaya penggantian penuh atas menutupi di luar biaya penilaian
hilangnya aset yang diakibatkan seperti kehilangan emosional)
oleh proyek; (b) jika ada relokasi,
• Properti Riil (Aset Fisik)
bantuan selama relokasi, dan ✓ Tanah
perumahan, atau lokasi ✓ Bangunan & Fasilitas
perumahan, atau lokasi pertanian ✓ Tanaman
dengan potensi produksi setara, ✓ Hal-hal lain yang
sesuai kebutuhan; (c) dukungan berkaitan dengan
transisi dan bantuan lahan yang dibutuhkan
untuk mengembalikan
pembangunan, seperti persiapan
kepada pemilik
lahan, fasilitas pinjaman, pelatihan

7
Di BPN dan Peraturan Kehutanan, lembaga Masyarakat Adat harus diakui oleh pemerintah daerah, sedangkan institusi yang mendukung Masyarakat Adat lebih memilih pengakuan dari
Komite Masyarakat Adat independen.

43
Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

atau kesempatan kerja sesuai properti dengan


kebutuhan, selain tindakan kualitas yang
kompensasi; (d) kompensasi tunai setidaknya sama
dengan yang dimiliki
untuk tanah saat dampak
sebelum pembebasan
pembebasan lahan terhadap mata lahan.
pencaharian masih kecil; dan (e) • Biaya & Kerugian (Kerugian
penyediaan infrastruktur sipil dan Nonfisik)
layanan masyarakat sesuai ✓ Biaya transaksi
kebutuhan. ✓ Biaya pindahan
✓ Kehilangan bisnis yang
sedang berlangsung
(gangguan bisnis)
✓ Kerugian lain yang
bersifat khusus,
subjektif dan sulit
dihitung
• Premi
Biaya Penggantian Kebutuhan ganti rugi atas tanah “Adil dan masuk akal ", Kriteria yang digunakan oleh
Penuh. dan aset dengan biaya penggantian berdasarkan pengkajian nilai yang penilai berlisensi sebagaimana
penuh dilakukan oleh penilai berlisensi. ditentukan dalam RPF termasuk
kompensasi fisik, nonfisik dan
premi

Pemulihan Mata Rencana pemukiman kembali atau Setelah kompensasi yang adil Mitigasi dampak tidak diuraikan. RPF termasuk bantuan pemukiman
Pencaharian. kerangka kerja pemukiman kembali diberikan, pertimbangan lebih kembali dan penghidupan
juga mencakup langkah-langkah lanjut dan mitigasi dampak tidak
untuk memastikan bahwa orang- diuraikan.
orang yang kehilangan tempat
tinggal:

(i) Ditawarkan dukungan setelah

44
Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

perpindahan, untuk masa transisi,


berdasarkan perkiraan waktu yang
mungkin diperlukan untuk
memulihkan penghidupan dan
standar kehidupan mereka,
dukungan semacam itu dapat
berupa pekerjaan jangka pendek,
dukungan nafkah hidup, gaji atau
pengaturan serupa; dan
(ii) Disediakan bantuan
pembangunan disamping tindakan
kompensasi yang dijelaskan pada
Ayat 6 (a) (iii), seperti persiapan
lahan, fasilitas pinjaman, pelatihan,
atau kesempatan kerja.

Masyarakat Adat. Tanah Masyarat Adat termuat Tanah masyarakat adat Kebijakan WB mengharuskan RPF yang berlaku untuk subproyek
dalam OP 4.12 dan OP 4.10. Jika diperlakukan dengan cara yang keterlibatan khusus dan melibatkan pembebasan lahan
tanah Masyarat Adat harus diambil, sama seperti yang lain, jika hak dukungan masyarakat luas oleh dan/atau pemukiman kembali,
diperlukan dukungan masyarakat atas tanah diakui oleh pemerintah Masyarakat Adat terlepas dari siapa pemilik
luas serta konsultasi bebas, di muka daerah yang bersangkutan lahannya. Konsultasi sebagaimana
dan diinformasikan ditentukan dalam RPF dan LARAP
harus sesuai dengan IPPF
(konsultasi bebas, di muka dan
diinformasikan, dukungan
masyarakat luas), yang secara
khusus disesuaikan dengan
konteks lokal dan karakteristik

45
Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

orang-orang yang terkena dampa.8

Biaya Pemukiman Biaya penuh untuk kegiatan Rencana anggaran merupakan RPF dan LARAP mengharuskan
Kembali. pemukiman kembali yang bagian dari rencana pembebasan biaya untuk pembebasan lahan
diperlukan untuk mencapai tujuan lahan, namun cenderung tidak dan pemukiman kembali
proyek termasuk dalam total biaya mempertimbangkan biaya dianggarkan
proyek. [20] pemukiman kembali.

Prosedur Konsultasi Orang-orang yang dipindahkan Konsultasi dengan Orang-orang RPF and LARAP require
dan Keluhan harus diajak berkonsultasi dengan yang Terkena Dampak Proyek consultation and implementation
baik dan harus memiliki perlu mendapatkan izin untuk of GRM. Overall, the project has
kesempatan untuk berpartisipasi lokasi proyek yang diusulkan. GRM in place as a continuation of
dalam perencanaan dan Tidak ada konsultasi di muka the well-functioning GRM system
pelaksanaan program pemukiman sebelum negosiasi perihal opsi of the PNPM-Urban/ND.
kembali (2.b) kompensasi. Mekanisme
penanganan keluhan dengan jelas
Mekanisme penanganan keluhan
dijabarkan dan di dalam RPF dan LARAP mengharuskan
harus mempertimbangkan
pengadilan, akan mengikuti konsultasi dan implementasi GRM.
ketersediaan sumber daya
prosedur pengadilan. Memahami Secara keseluruhan, proyek ini
peradilan dan mekanisme
keterbatasan dan kelebihan beban memiliki GRM sebagai kelanjutan
penyelesaian sengketa masyarakat
sistem pengadilan, efektivitas dari sistem GRM yang berfungsi
dan tradisional (17)
pelaksanaannya tetap dengan baik dari Program Nasional
dipertanyakan Pemberdayaan Masyarakat
Mandiri Perkotaan/ Pembangunan
Lingkungan (PNPM-Urban/ND)

Pemantauan Hasil. Persyaratan untuk melakukan Pemantauan dan evaluasi LARAP menentukan persyaratan

8 Lihat definisi Masyarakat Adat, kerangka hukum dan metode konsultasi dalam IPPF, Bagian 7Section.

46
Cakupan/Topik Kebijakan Bank Peraturan Pemerintah Indonesia Kesenjangan yang Diidentifikasi Pembahasan dalam ESMF
(ESMF ini mencakup ESS PT SMI)

pemantauan dan evaluasi yang mencakup pendudukan, pemantauan kegiatan


memadai terhadap seluruh kepemilikan, penggunaan dan pembebasan lahan dan
kegiatan yang ditetapkan dalam manfaat hasil pembebasan lahan pemukiman kembali. Secara
rencana pemukiman kembali [24] tanpa mengetahui kapan, keseluruhan, proyek ini diperlukan
bagaimana dan apa tindakan untuk memantau dan melaporkan
Menilai apakah tujuan instrumen
koreksi yang dapat diberlakukan. persiapan dan pelaksanaan LARAP
pemukiman kembali telah tercapai,
(dan juga EMP dan IPP)
setelah selesainya proyek, dengan
mempertimbangkan kondisi dasar
dan hasil pemantauan pemukiman
kembali [24]

47
4 DAMPAK LINGKUNGAN DAN SOSIAL YANG DIANTISIPASI DAN TINDAKAN MITIGASI
4.1 Eksplorasi Panas Bumi - Kegiatan Pengeboran dan Kegiatan Infrastruktur Terkait
82. Dampak yang diantisipasi dan tindakan mitigasi berikut relevan untuk subproyek eksplorasi di bawah Komponen 1 GREM.

Tabel 2 Aspek Lingkungan dan Sosial, Potensi Dampak dan Langkah Mitigasi untuk Kegiatan Eksplorasi Panas Bumi
Aspek dan Permasalahan Potensi Dampak Langkah Mitigasi
Lingkungan dan Sosial

Habitat alam, termasuk habitat Pembebasan lahan untuk sumur, jalan, Hindari, atau minimalkan, pengembangan dalam area sensitif (habitat hutan, lanskap, area
yang penting jaringan pipa dan infrastruktur pendukung berpemandangan indah dan lain-lain.)
akan menyebabkan kerusakan atau
Habitat perairan dan daratan Hapus dan nonaktifkan infrastruktur setelah melakukan eksplorasi dan rehabilitasi daerah
kehancuran langsung pada habitat alami.
serta spesies endemik dengan cepat, mengkontur kembali , bila perlu, ke kondisi tanah alami dan penanaman
Jalan, jaringan pipa dan bantalan kembali dengan spesies asli atau spesies komersial (tergantung penggunaan lahan).
Pengguna sumber daya hutan
pengeboran dapat menciptakan gangguan
Siapkan rencana mitigasi untuk penggunaan lahan setelah kegiatan eksplorasi, bersama
Pengguna air bagi pemandangan yang alami dan indah.
masyarakat dan pemerintah daerah untuk menghindari pengembangan dan potensi konflik
Estetika dan lanskap Dampak tidak langsung dari tanpa pandang bulu.
pengembangan yang dilakukan (pertanian,
Secara khusus, untuk proyek yang berlokasi dalam hutan konservasi:
perburuan liar, pembebasan lahan, • Berikan pembenaran bahwa tidak ada alternatif yang layak untuk proyek dan penentuan
perselisihan tanah) ke dalam kawasan tapaknya, dan analisis komprehensif yang menunjukkan bahwa keseluruhan manfaat dari
hutan dan kawasan lindung. Wilayah kerja
proyek tersebut jauh lebih besar daripada biaya lingkungan.
panas bumi subpeminjam dapat mencakup
• Minimalkan hilangnya habitat (misalnya retensi habitat strategis dan restorasi
kawasan hutan konservasi
pascapembangunan) serta bangun dan pelihara kawasan lindung yang serupa secara
ekologis.

Abstraksi air dan pembuangan ke air dari Pisahkan aliran limbah yang berbeda dan olah melalui kolam, pemberian obat, pendinginan
limbah air/cairan pengeboran yang diolah dan metode lainnya sebelum dibuang ke badan air atau tanah.
dan limbah lainnya menyebabkan dampak
Hindari eksploitasi berlebihan terhadap sumber air tawar: temukan banyak sumber, ambil
langsung atau tidak langsung pada habitat
dari arus dengan laju alir tinggi, time drilling untuk musim hujan, gunakan bendungan atau
dan spesies.
kolam penyimpanan, ambil tidak lebih dari 1/3 aliran rendah musiman dari fitur air
Pencemaran air atau abstraksi air permukaan. Identifikasi penggunaan air lainnya seperti irigasi pertanian dan pastikan tingkat
mempengaruhi pengguna air lainnya abstraksi yang berkelanjutan yang tidak mengganggu penggunaan air, kegiatan memancing,
dan lain-lain.
Kemungkinan meluap atau kegagalan

48
Aspek dan Permasalahan Potensi Dampak Langkah Mitigasi
Lingkungan dan Sosial

kolam. Buang ke sumur reinjeksi sedapat mungkin.

Gunakan kembali cairan pengeboran.

Gunakan tangki septik (septic tank ) untuk mengolah air limbah rumah tangga sebelum
dibuang ke darat. Kosongkan tangki septik secara berkala dan buang lumpur ke tempat
pembuangan sampah.

Perencanaan dan pengelolaan sumber daya, bersama dengan pihak berwenang &
masyarakat untuk mencari lokasi kolam penyimpanan dari daerah-daerah yang sensitif.

Perancangan kolam secara cermat sesuai dengan OP4.36 Keselamatan Bendungan dan
pemantauan tanda-tanda kegagalan pada struktur kolam.

Pembuangan limbah berbahaya dan padat Jaga keamanan sistem dari bahan berbahaya dan pengelolaan limbah padat sebagai bagian
secara sembarangan ke zona sempadan dari prosedur operasi standar Konstruksi dan Pengeboran dan EMP.
sungai (riparian zone) dan jalur air
Pisahkan aliran limbah dan lakukan daur ulang, buat kompos dan gunakan kembali limbah
jika memungkinkan.

Jaga agar sampah tetap rapi/tertutup/aman.

Buang limbah yang tidak dapat didaur ulang ke tempat pembuangan sampah yang ditunjuk
yang memiliki izin dari pemerintah daerah.

Bersihkan dan buang tumpahan serta perbaiki lahan dengan cepat.

Latih staf untuk menggunakan spill equipment dan merespon insiden.

Larang pembuangan limbah.

Perburuan liar dan perburuan hewan oleh Larang perburuan liar dan perburuan, dan penggunaan sumber daya hutan, sebagai bagian
pekerja. dari manajemen tenaga kerja

Persaingan dengan penduduk setempat


untuk sumber daya hutan.

Penggunaan lahan, dan tanah Pelepasan lumpur dan cairan yang Hindari pembuangan cairan ke tanah.
(dan diikuti kontaminasi terkontaminasi ke tanah.
Uji kadar kontaminan lumpur sebelum dibuang.
permukaan dan air tanah)
Lumpur yang terkontaminasi akan diolah sesuai peraturan Pemerintah Indonesia, untuk

49
Aspek dan Permasalahan Potensi Dampak Langkah Mitigasi
Lingkungan dan Sosial

pemanfaatan dan atau dibuang ke tempat pembuangan sampah.

Tumpahan bahan berbahaya. Jaga keamanan sistem dari bahan berbahaya dan pengelolaan limbah padat sebagai bagian
dari prosedur operasi standar Konstruksi dan Pengeboran dan EMP.
Pembuangan sampah padat dan
berbahaya secara sembarangan. Pisahkan aliran limbah dan lakukan daur ulang, buat kompos dan gunakan kembali limbah
jika memungkinkan.

Jaga agar sampah tetap rapi/tertutup/aman.

Buang limbah yang tidak dapat didaur ulang ke tempat pembuangan sampah yang ditunjuk
yang memiliki izin dari pemerintah daerah.

Bersihkan dan buang tumpahan dan perbaiki lahan dengan cepat.

Latih staf untuk menggunakan spill equipment dan merespon insiden.

Larang pembuangan limbah.

Hilangnya tanah lapisan atas, tanah Hindari daerah berisiko tinggi seperti medan yang terjal.
longsor dan erosi berat lainnya akibat
Minimalkan pembebasan lahan, terutama di lereng.
pembangunan jalan, jaringan pipa,
konstruksi bantalan, borrow pit, tempat Rancang stabilitas bank, proteksi lereng dan sistem drainase ke dalam desain jalan, desain
penggalian, lokasi pengisian borrow pit dan lain-lain.

Pulihkan daerah yang terusik dan rusak dengan segera.

Jalankan tindakan pengendalian sedimen dan erosi selama konstruksi (pagar, perangkap,
kolam pengelolaan dan lain-lain).

Bawa/buang bahan ke lokasi yang disetujui.

Perubahan penggunaan lahan setelah Reklamasi/rehabilitasi lahan.


pengoperasian pengeboran dan sumur
bekas yang tidak produktif

Fitur panas bumi Gangguan dari pemompaan atau reinjeksi Identifikasi dan hindari fitur-fitur penting (nilai-nilai seperti budaya, sejarah, spiritual, ilmiah,
air panas bumi, atau dari abstraksi air biologis, lanskap, ekowisata dan lain-lain)
tawar.
Hindari merusak atau mengganggu fitur panas bumi jika memungkinkan.
Kerusakan akibat konstruksi jalan, jaringan
Pantau aktivitas untuk mengidentifikasi gangguan dari pemompaan atau reinjeksi. Sesuaikan

50
Aspek dan Permasalahan Potensi Dampak Langkah Mitigasi
Lingkungan dan Sosial

pipa atau kegiatan tambahan lainnya pengujian dan reinjeksi sumur bila diperlukan untuk mengurangi dampak yang signifikan.

Sediakan pembatas dan hindari gangguan terhadap fitur-fitur tersebut dari pengoperasian
konstruksi jika perlu.

Air tanah Kontaminasi air tanah dari interferensi air Siapkan sumur dengan casing dan pelindung kepala sumur yang memadai untuk mencegah
panas bumi dari sumur abstraksi atau kontaminasi.
sumur reinjeksi.
Pantau tingkat dan tekanan sumur untuk mengidentifikasi kebocoran sejak dini dan perbaiki
casing atau hilangkan fungsi sumur untuk menghindari kontaminasi lebih lanjut.

Dampak pada tingkat akuifer dari abstraksi Contohkan hasil untuk memastikan penggunaan air tanah yang berkelanjutan.
yang berlebih untuk persediaan air bersih.
Gunakan beberapa sumber. Gunakan tangki penyimpanan, kolam dan bendungan untuk
menyimpan air

Kebisingan lingkungan Pengoperasian alat pengeboran, Rencanakan pekerjaan untuk menghindari gangguan pada saat-saat sensitif (malam hari, hari
peningkatan lalu lintas, pengujian debit libur)
sumur, mesin berat, dan peledakan untuk
Cari lokasi yang jauh dari reseptor yang sensitif terhadap kebisingan seperti sekolah dan
jalan atau penggalian - semua
desa.
menimbulkan suara yang tidak bisa
dihindari di daerah proyek. Batasi lalu lintas yang melewati desa dan reseptor yang sensitif.

Gangguan pada hewan, kehidupan rumah Gunakan penghalang kebisingan seperti bund, atau topografi alami.
tangga, masa kerja, sekolah
Peringatkan orang-orang sebelum pekerjaan yang bising dimulai dan berikan pilihan mitigasi
spesifik kepada orang-orang yang rentan (seperti relokasi sementara).

Gunakan metode dan peralatan konstruksi yang sesuai (dan tetap terpelihara).

Susun kajian (gunakan jasa konsultan) untuk mengevaluasi tingkat kebisingan yang dapat
diterima oleh hewan di lokasi lapangan eksplorasi panas bumi jika diperlukan.

Gunakan Pedoman untuk tingkat kebisingan sekitar (oleh reseptor):

Reseptor Leq maksimum yang diizinkan (per jam), dalam dB (A)

Siang Malam

07.00-22.00 22.00-07.00

51
Aspek dan Permasalahan Potensi Dampak Langkah Mitigasi
Lingkungan dan Sosial

Perumahan; kelembagaan; 55 45
pendidikan

Industri; komersial 70 0

Kualitas udara lingkungan Pembuangan kontamin ke udara yang Cari lokasi yang jauh dari reseptor yang sensitif seperti sekolah dan desa.
berasal dari pengeboran dan sumur
Peringatkan orang-orang sebelum pekerjaan dimulai dan berikan pilihan mitigasi spesifik
pengujian (hidrogen sulfida, merkuri,
kepada orang-orang yang rentan (seperti relokasi sementara).
arsenik dan lain-lain), tergantung sifat
sumber daya Perencanaan dan tindakan keselamatan untuk rilis gas yang tidak terkendali.

Remediasi/penggantian vegetasi, tanaman yang rusak dan lain-lain.

Emisi debu dari konstruksi jalan, Cari lokasi yang jauh dari reseptor yang sensitif seperti sekolah dan desa.
pembukaan lahan, aktivitas lapangan
Kendalikan debu dengan air selama kondisi berangin dan kering.

Selenggarakan kegiatan pembersihan lahan dan rehabilitasi daerah terbuka dalam waktu
singkat

Infrastruktur yang penting Kerusakan atau kehancuran pada Perbaiki infrastruktur sebelum digunakan.
infrastruktur yang penting (jalan,
Sediakan infrastruktur baru yang dirancang khusus.
pelabuhan, jembatan)
Perbaiki infrastruktur yang rusak setidaknya ke kondisi praproyek.

Kesehatan dan keselamatan Risiko yang berkaitan dengan pekerjaan Sistem pemantauan gas.
Kerja dengan mesin, kecelakaan lalu lintas, jatuh
Alat pelindung diri (APD)yang tepat.
ke kolam, melepuh karena cairan dan uap
panas, emisi gas beracun. Pelatihan yang tepat.

Risiko yang tidak biasa seperti ledakan Laksanakan sistem dan prosedur keselamatan.
sumur
Lindungi permukaan saat bekerja dengan cairan panas dan uap.

Pagari kolam dan lubang lumpur

Kendaraan dan mesin yang terawat baik.

Perencanaan dan manajemen darurat dan kecelakaan.

52
Aspek dan Permasalahan Potensi Dampak Langkah Mitigasi
Lingkungan dan Sosial

Pelatihan pertolongan pertama, dan rencana evakuasi ke rumah sakit.

Kepemilikan tanah, mata Pemukiman kembali paksa untuk tempat Prioritaskan negosiasi willing buyer-willing seller untuk sewa tanah atau pembelian tanah.
pencaharian dan pemukiman penggalian, jalan, sumur, jaringan pipa dan
Konsultasikan secara luas dan identifikasi semua orang yang terkena dampak, termasuk
kembali tempat lain di mana tanah dibutuhkan,
penghuni liar.
yang menyebabkan hilangnya mata
pencaharian dan pemutusan hubungan Kompensasi berupa nilai pengganti.
sosial.
Gunakan panduan RPF untuk pembebasan lahan dan pemukiman kembali secara paksa.
Hilangnya tanaman, struktur, dan aset
lainnya

Pembatasan akses ke hutan atau sumber Berkonsultasi secara ekstensif dan libatkan masyarakat dalam setiap perubahan terhadap
daya lainnya. akses dan pengelolaan hutan.

Integrasikan isu pemukiman kembali dan mata pencaharian ke dalam rencana manajemen
terpadu

Kesejahteraan Sosial Kekhawatiran dan keluhan masyarakat Konsultasi mengenai risiko dan dampak buruk proyek dan buka peluang untuk menerima
yang terkena dampak pandangan tentang proyek dari masyarakat yang terkena dampak.

Pembentukan mekanisme penanganan keluhan untuk mengumpulkan dan memfasilitasi


penyelesaian keprihatinan dan keluhan masyarakat yang terkena dampak mengenai kinerja
lingkungan dan sosial sponsor.

Pengungkapan publik yang transparan untuk menginformasikan setiap tahap proyek melalui
situs web, papan pengumuman, alat telekomunikasi dan rapat publik.

Tetapkan kuesioner publik yang dirancang dengan baik dan terstruktur untuk menerima
umpan balik dari masyarakat yang terkena dampak

Lakukan penilaian skrining untuk menghindari dampak potensial terhadap integritas budaya
Potensi risiko terhadap integritas budaya
dan organisasi sosial. Ketika mempengaruhi integritas dan organisasi sosial, penilaian sosial
dan organisasi sosial masyarakat adat dan
budaya akan diterapkan untuk mengembangkan opsi lebih lanjut untuk melindungi /
komunitas terpencil dan rentan lainnya
mengurang

Kesehatan dan keselamatan Risiko bagi orang-orang yang Lokasi situs jauh dari reseptor yang sensitif.
masyarakat berkepentingan dan masyarakat yang
Sistem pemantauan gas.
terkait dengan kecelakaan lalu lintas, emisi

53
Aspek dan Permasalahan Potensi Dampak Langkah Mitigasi
Lingkungan dan Sosial

gas beracun Sistem peringatan lalu lintas (kendaraan percontohan, tanda-tanda di pinggir jalan)

Pelatihan pengemudi yang tepat.

Konsultasi masyarakat secara teratur

Tanda peringatan.

Perencanaan darurat yang melibatkan masyarakat.

Akses tidak sah ke peralatan pengeboran Pemagaran di sekitar lokasi sumur, kolam dan lubang.
dan kolam penyimpanan/pengolahan
Tanda-tanda peringatan.

Konsultasi dengan masyarakat secara berkala

Kartu Identitas wajib digunakan untuk mengakses jalan dan/atau pekerjaan di lokasi.

Sumber daya budaya fisik Gangguan, degradasi, Cari lokasi yang jauh dari PCR.
penodaan/pengotoran situs atau artefak
Bersejarah, spiritual, arkeologi, Gunakan Rencana Pengelolaan PCR untuk memperbaiki dampak (mitigasi, minimisasi,
sebagai akibat dari gangguan lahan,
keagamaan, kuburan, dan lain- relokasi dan lain-lain).
pembebasan lahan, dampak pada fitur
lain
panas bumi atau lanskap Gunakan Prosedur Penemuan Tak Terduga (chance find procedure) untuk segera
menghentikan pekerjaan begitu menemukan PCR.
Masyarakat Adat Potensi dampak terhadap akses ke sumber Konsultasikan secara dini dan ekstensif (Konsultasi Bebas, Di muka dan Diinformasikan)
daya dan koneksi ke darat. sesuai dengan IPPF, dalam bahasa dan gunakan metode yang sesuai dengan kelompok
Masyarakat Adat.
Kurangnya akses terhadap manfaat proyek
Sertakan Masyarakat Adat dalam desain proyek, dan pastikan bahwa manfaatnya diperoleh
oleh Masyarakat Adat.

Hindari dan minimalkan kerugian terhadap Masyarakat Adat, serta terlibat dengan mereka
untuk mengidentifikasi mitigasi yang tepat.

Kapasitas lingkungan dan sosial Transfer/akuisisi aset subproyek ke sub Audit lingkungan dan sosial untuk mengidentifikasi kapasitas subpeminjam baru guna
subpeminjam peminjam yang berbeda. melaksanakan EA yang ada.

Kapasitas upaya perlindungan yang Berikan pelatihan/workshop dan surat komitmen jika diperlukan.
rendah.

54
4.2 Kegiatan Pascaproyek: Eksploitasi Panas Bumi – Pembangkit Energi serta Infrastruktur dan Kegiatan
Terkait
83. Selain kegiatan-kegiatan yang tercantum dalam Bagian 1, kegiatan-kegiatan tahap eksploitasi di dalam area of influence proyek juga
akan diskrining, karena informasi ini relevan dengan penilaian risiko untuk eksplorasi, dan akan menginformasikan rekomendasi
tersebut sebagai bagian dari Paket Data Panas Bumi pascaeksplorasi. Laporan skrining dengan jelas akan menyatakan risiko mana yang
terkait dengan proyek eksplorasi yang didanai dan yang terkait dengan proyek/kegiatan eksploitasi pascaproyek di masa depan.
Penilaian (screening) parsial ini adalah bagian dari proses ESIA. Risiko tidak akan sepenuhnya dinilai karena sifat dan skala kegiatan tidak
akan dikonfirmasi kali ini9.

Tabel 3 Aspek Lingkungan dan Sosial, Potensi Dampak dan Langkah Mitigasi untuk Kegiatan Eksploitasi Panas Bumi
Aspek dan Permasalahan Potensi Dampak Langkah Mitigasi
Lingkungan dan Sosial

Habitat alam, termasuk habitat Pembebasan lahan untuk pembangkit Hindari, atau minimalkan, pengembangan di area sensitif (habitat, lanskap, area
yang penting listrik, gardu induk, dan jalur transmisi berpemandangan indah dan lain-lain.)
akan menyebabkan kerusakan atau
Habitat perairan dan daratan Kembangkan rencana pengelolaan sumber daya terpadu, termasuk peluang pengembangan
kehancuran langsung pada habitat alami
serta spesies endemik berbasis masyarakat, untuk mengelola dampak jangka panjang dari pengembangan yang
Pembangkit listrik, gardu induk, jalur dilakukan. Kembangkan rencana ini lewat koordinasi dengan pemilik lahan, masyarakat,
Pengguna sumber daya hutan
transmisi dapat menciptakan gangguan kementerian dan pemerintah daerah yang relevan untuk menghindari pengembangan yang
Pengguna air dalam pemandangan alam yang indah tanpa pandang bulu dan potensi konflik.
Estetika dan lanskap Dampak tidak langsung dari Rehabilitasi daerah dengan cepat, mengkontur kembali jika diperlukan ke kondisi tanah alami
pengembangan yang dilakukan (pertanian, dan penanaman kembali dengan spesies asli atau spesies komersial (tergantung penggunaan
perburuan liar, pembebasan lahan, lahan).
perselisihan tanah) ke dalam kawasan
Secara khusus, untuk proyek yang berlokasi dalam hutan konservasi:
hutan dan kawasan lindung. Wilayah kerja • Berikan pembenaran bahwa tidak ada alternatif yang layak untuk proyek dan penentuan
panas bumi subpeminjam dapat mencakup tapaknya, serta analisis komprehensif yang menunjukkan bahwa keseluruhan manfaat
kawasan hutan konservasi
dari proyek tersebut jauh lebih besar daripada biaya lingkungan.
• Minimalkan hilangnya habitat (misalnya rRetensi habitat strategis dan restorasi
pascapembangunan) serta bangun dan pelihara kawasan lindung yang serupa secara

9
Penilaian dampak rinci dan penyusunan ESIA/AMDAL akan dilakukan di masa depan, jika eksploitasi harus dilakukan. Tidak termasuk umur proyek.

55
ekologis.

Abstraksi air untuk menara pendingin atau Pisahkan aliran limbah yang berbeda dan olah melalui kolam, pemberian obat, pendinginan
keperluan rumah tangga/kantor dan dan metode lainnya sebelum dibuang ke badan air atau tanah. Prioritaskan pembuangan ke
pembuangan air ke air pendingin dan sumur reinjeksi ketimbang ke permukaan darat dan badan air.
limbah lainnya menyebabkan dampak
Hindari eksploitasi berlebihan terhadap sumber air tawar - temukan banyak sumber, ambil
langsung atau tidak langsung pada habitat
dari arus dengan laju alir tinggi, time drilling untuk musim hujan, gunakan bendungan atau
dan spesies.
kolam penyimpanan, ambil tidak lebih dari 1/3 aliran rendah musiman dari fitur air
Pencemaran air atau abstraksi air permukaan. Identifikasi penggunaan air lainnya seperti irigasi pertanian dan pastikan tingkat
mempengaruhi pengguna air lainnya abstraksi yang berkelanjutan yang tidak mengganggu penggunaan air, kegiatan memancing,
dan lain-lain.
Kemungkinan meluap atau kegagalan
kolam Gunakan kembali air dingin untuk penggunaan pabrik lainnya, atau gunakan sistem kontrol
lingkar tertutup (closed loop)

Gunakan tangki septik (septic tank ) untuk mengolah air limbah rumah tangga sebelum
dibuang ke darat. Kosongkan tangki septik secara berkala dan membuang lumpur ke tempat
pembuangan sampah.

Perencanaan dan pengelolaan sumber daya, bersama dengan pihak berwenang &
masyarakat untuk mencari lokasi kolam penyimpanan dari daerah-daerah yang sensitif.

Perancangan kolam secara cermat sesuai dengan OP4.36 Keselamatan Bendungan dan
pemantauan tanda-tanda kegagalan pada struktur kolam.

Ledakan sumur melepaskan kontaminan. Desain tanggap darurat untuk ledakan sumur dan pecahnya pipa termasuk tindakan untuk
menahan tumpahan cairan panas bumi.
Kemungkinan pembuangan lumpur atau
cairan dari dalam sumur akibat tekanan Penggunaan kontraktor eksplorasi energi panas bumi yang memiliki kompetensi tinggi dan
yang terlalu tinggi dari formasi di dalam bersertifikat dengan sertifikasi pengendalian mutu berstandar internasional, dan dilatih
anulus sumur untuk mendeteksi potensi fluid kick dari dalam lubang bor dan mampu memberikan respon
cepat.

Penggunaan perangkat eksplorasi keselamatan dengan standar internasional, seperti juga


head and blow out preventer yang bisa meminimalisasi risiko fluid kick dari dalam lubang bor.

Penggunaan lubang lumpur untuk meredam potensi keluarnya cairan dari dalam lubang bor.

Pemeliharaan rutin wellheads dan jaringan pipa fluida panas bumi:

- kontrol dan inspeksi korosi

56
- pemantauan tekanan

- penggunaan peralatan pencegahan ledakan (misalnya katup penutup)

Pembuangan endapan sulfur, silika, dan Jaga keamanan sistem dari bahan berbahaya dan pengelolaan limbah padat sebagai bagian
karbonat secara sembarangan yang dari prosedur operasi standar Pembangkit Listrik dan EMP
dikumpulkan dari menara pendingin, air
scrubber system, turbin, dan pemisah uap, Pisahkan aliran limbah dan lakukan daur ulang, buat kompos dan gunakan kembali limbah
serta limbah berbahaya lainnya ke zona jika memungkinkan.
sempadan sungai (riparian zone) dan jalur
air Jaga agar sampah tetap rapi/tertutup/aman.

Buang limbah yang tidak dapat didaur ulang ke tempat pembuangan sampah yang ditunjuk
yang memiliki izin dari pemerintah daerah.

Bersihkan dan buang tumpahan dan perbaiki lahan dengan cepat.

Latih staf untuk menggunakan spill equipment dan merespon insiden.

Larang pembuangan limbah.

Perburuan liar dan perburuan hewan oleh Larang perburuan liar dan perburuan, dan penggunaan sumber daya hutan, sebagai bagian
pekerja. dari manajemen tenaga kerja

Persaingan dengan penduduk setempat


untuk sumber daya hutan.

Penggunaan lahan, dan tanah Pembuangan endapan sulfur, silika, dan Lumpur/lapisan endapan harus disimpan di bunded area.
(dan diikuti kontaminasi karbonat secara sembarangan yang
dikumpulkan dari menara pendingin, air Uji lumpur untuk leachability kontaminan sebelum dibuang.
permukaan dan air tanah)
scrubber system, turbin, dan pemisah uap Lumpur yang terkontaminasi akan diairi, diperlakukan sebagai limbah berbahaya dan
ke tanah
dibuang ke tempat pembuangan sampah.

Limbah yang tidak berbahaya akan dikuburkan jauh dari sumber air.

Tumpahan bahan berbahaya. Jaga keamanan sistem dari bahan berbahaya dan pengelolaan limbah padat sebagai bagian
dari prosedur operasi standar Pembangkit Listrik dan EMP
Pembuangan limbah padat dan berbahaya
lainnya secara sembarangan Pisahkan aliran limbah dan lakukan daur ulang, buat kompos dan gunakan kembali limbah
jika memungkinkan.

Jaga agar sampah tetap rapi/tertutup/aman.

Buang limbah yang tidak dapat didaur ulang ke tempat pembuangan sampah yang ditunjuk

57
yang memiliki izin dari pemerintah daerah.

Bersihkan dan buang tumpahan dan perbaiki lahan dengan cepat.

Latih staf untuk menggunakan spill equipment dan merespon insiden.

Larang pembuangan limbah

Hilangnya tanah lapisan atas, tanah Hindari daerah berisiko tinggi seperti medan yang terjal.
longsor dan erosi berat lainnya akibat
Minimalkan pembebasan lahan, terutama di lereng.
pembangunan infrastruktur distribusi dan
lokasi konstruksi lainnya Gunakan jalan pengangkutan sementara dan segera pulihkan.

Rancang stabilitas bank, proteksi lereng dan sistem drainase ke dalam desain lokasi

Pulihkan daerah yang terusik dan rusak dengan segera.

Jalankan tindakan pengendalian sedimen dan erosi selama konstruksi (pagar, perangkap,
kolam pengelolaan dan lain-lain).

Bawa/buang bahan ke lokasi yang disetujui.

Meninggalkan area bantalan sumur bila Reklamasi/rehabilitasi lahan.


pengeboran gagal atau sumur tidak
produktif

Fitur panas bumi Gangguan dari pemompaan atau reinjeksi Identifikasi dan hindari fitur-fitur penting (nilai-nilai seperti budaya, sejarah, spiritual, ilmiah,
air panas bumi, atau dari abstraksi air biologis, lanskap, ekowisata dan lain-lain)
permukaan.
Hindari merusak atau mengganggu fitur panas bumi jika memungkinkan.

Contoh fitur-fitur panas bumi dan reservoir panas bumi. Pantau aktivitas untuk
mengidentifikasi gangguan dari pemompaan atau reinjeksi. Sesuaikan pengujian dan reinjeksi
bila diperlukan untuk mengurangi dampak yang signifikan.

Sediakan pembatas dan hindari gangguan terhadap fitur-fitur tersebut dari pengoperasian
konstruksi jika perlu.

Air tanah dan kolam panas bumi Kontaminasi air tanah dari interferensi air Siapkan sumur dengan casing dan pelindung kepala sumur yang memadai untuk mencegah
panas bumi dari sumur abstraksi atau kontaminasi.
sumur reinjeksi.
Pantau tingkat dan tekanan sumur untuk mengidentifikasi kebocoran sejak dini dan perbaiki
casing atau hilangkan fungsi sumur untuk menghindari kontaminasi lebih lanjut.

Analisis lengkap struktur akuifer dan penggunaan air tanah yang ada di daerah

58
pengembangan

Penentuan pengguna air tanah yang ada di sekitar sumur operasional (misalnya 1 km) harus
diidentifikasi. Selain itu, beberapa informasi teknis tentang sumur air tanah yang ada
(misalnya kedalaman, arus, dan lain-lain) harus dikumpulkan

Dampak pada tingkat akuifer dari abstraksi Contohkan hasil untuk memastikan penggunaan air tanah yang berkelanjutan.
yang berlebih untuk persediaan air bersih.
Gunakan beberapa sumber. Gunakan tangki penyimpanan, kolam dan bendungan untuk
menyimpan air

Abstraksi sumber panas bumi yang Pemodelan abstraksi panas bumi dan reinjeksi.
berlebih, yang menyebabkan penurunan,
Cari sumur make up dan reinjeksi untuk memaksimalkan penggunaan sumber daya panas
intrusi garam, dampak pada tingkat
bumi secara efisien dan menghindari penurunan tanah.
akuifer, serta penurunan hasil panas bumi
Pantau penurunan tanah, kadar air tanah dan kualitas air.

Bangun dan rawat sumur agar terhindar dari gangguan air tanah.

Kebisingan lingkungan Pekerjaan konstruksi, kipas menara Rencanakan pekerjaan untuk menghindari gangguan pada saat-saat sensitif (malam hari, hari
pendingin, ejektor uap, dan dengungan libur)
turbin
Cari lokasi yang jauh dari reseptor yang sensitif terhadap kebisingan seperti sekolah dan
Gangguan pada hewan, kehidupan rumah desa.
tangga, masa kerja, sekolah
Gunakan penghalang kebisingan seperti bund, atau topografi alami

Gunakan Pedoman untuk tingkat kebisingan sekitar (oleh reseptor):

Reseptor Leq maksimum yang diijinkan (per jam), dalam dB (A)

Siang Malam

07.00-22.00 22.00-07.00

Perumahan; kelembagaan; 55 45
pendidikan

Industri; komersial 70 0

Kualitas udara lingkungan Emisi gas beracun dari menara pendingin, Cari pabrik yang jauh dari reseptor sensitif (contoh emisi udara untuk membantu
sistem pendingin menara kondensor mengidentifikasi lokasi pabrik yang sesuai).
kontak terbuka
Pertimbangan tentang total atau sebagian reinjeksi gas dengan cairan panas bumi.

59
Gunakan alternatif pendinginan nonkontak tertutup.

Bergantung pada karakteristik sumber, pelepasan bahan kimia beracun (yaitu hidrogen
sulfida dan merkuri volatil yang tidak dapat dikondensasi) sesuai dengan peraturan yang
berlaku.

Bergantung pada karakteristik sumber, hilangkan kemungkinan bahan kimia beracun dari gas
yang tidak dapat dikondensasi.

Infrastruktur yang penting Kerusakan atau kehancuran pada Perbaikan infrastruktur sebelum digunakan.
infrastruktur yang penting (jalan,
Sediakan infrastruktur baru yang dirancang khusus.
pelabuhan, jembatan) selama konstruksi
Perbaiki infrastruktur yang rusak setidaknya sampai pada kondisi praproyek.

Kesehatan dan keselamatan Risiko yang berkaitan dengan pekerjaan Pemasangan sistem pemantauan dan peringatan hidrogen sulfida.
Kerja dengan mesin, kecelakaan lalu lintas, jatuh
Pengembangan rencana kontinjensi untuk pelepasan hidrogen sulfida, termasuk semua
ke kolam, melepuh karena cairan dan uap
aspek yang diperlukan dari evakuasi hingga dimulainya kembali operasi normal.
panas, bekerja di ketinggian, bekerja di
lingkungan yang bising, risiko terkait lokasi Penyediaan tim tanggap darurat, dengan monitor hidrogen sulfida pribadi, alat bantu
konstruksi. pernapasan mandiri dan persediaan oksigen darurat, serta pelatihan penggunaan yang aman
dan efektif.
Emisi gas beracun selama pengoperasian
pembangkit listrik Penyediaan ventilasi yang memadai dari bangunan yang ditempati untuk menghindari
akumulasi gas hidrogen sulfida
Paparan nonrutin termasuk potensi
kecelakaan ledakan selama pengoperasian APD yang tepat.

Pelatihan yang tepat.

Laksanakan sistem dan prosedur keselamatan spesifik lokasi (konstruksi dan operasi).

Lindungi permukaan saat bekerja dengan cairan panas dan uap.

Pagari kolam dan lubang.

Kendaraan dan mesin yang terawat baik.

Perencanaan dan manajemen darurat dan kecelakaan.

Pelatihan pertolongan pertama, dan rencana evakuasi ke rumah sakit.

Desain tanggap darurat untuk ledakan sumur dan pecahnya pipa termasuk tindakan untuk
menahan tumpahan cairan panas bumi. Pemeliharaan rutin wellheads dan jaringan pipa

60
fluida panas bumi:

- kontrol dan inspeksi korosi

- pemantauan tekanan

- penggunaan peralatan pencegahan ledakan (misalnya katup penutup)

Dampak pengeboran sumur Aktivitas seismisitas atau gempa yang Pastikan pemantauan aktivitas secara ketat
terjadi saat sejumlah besar cairan panas
bumi ditarik dan disuntikkan ke bawah
permukaan bumi

Penurunan tanah

Penurunan tanah dapat terjadi setelah Pastikan menyuntikkan cairan panas bumi bekas kembali ke waduk untuk mempertahankan
penarikan sejumlah besar cairan, minyak, sumber daya agar tidak terjadi penurunan.
dan bahkan cairan panas bumi, dari
bawah permukaan bumi

Kepemilikan tanah, mata Pemukiman kembali paksa untuk Prioritaskan negosiasi willing buyer-willing seller untuk sewa tanah atau pembelian tanah.
pencaharian dan pemukiman pembangkit listrik, infrastruktur distribusi,
Konsultasikan secara luas dan identifikasi semua orang yang terkena dampak, termasuk
kembali fasilitas terkait, yang menyebabkan
penghuni liar.
hilangnya mata pencaharian dan
pemutusan hubungan sosial. Kompensasi pada nilai pengganti.

Hilangnya tanaman, struktur, dan aset Gunakan panduan RPF untuk pembebasan kembali dan pemukiman kembali secara paksa
lainnya

Pembatasan akses ke hutan atau sumber Konsultasikan secara luas dan libatkan masyarakat dalam setiap perubahan terhadap akses
daya lainnya. dan pengelolaan hutan.

Integrasikan permasalahanpemukiman kembali dan mata pencaharian ke dalam rencana


manajemen terpadu.

Dampak terhadap kegiatan ekonomi Konsultasikan dengan perwakilan industri yang bisa terkena dampak pembangunan panas
lainnya seperti pariwisata, perikanan, bumi. Garap peluang untuk meningkatkan manfaat bagi sektor ini (seperti perbaikan jalan
pertanian atau listrik yang lebih dapat diandalkan) atau minimalkan dampak pada sektor ini, sebagai
bagian dari rencana pengelolaan terpadu dan EMP.

Kesejahteraan Sosial Kekhawatiran dan keluhan masyarakat Konsultasi mengenai risiko dan dampak buruk proyek dan penciptaan kesempatan untuk

61
yang terkena dampak menerima pandangan masyarakat yang terkena dampak terhadap proyek.

Pembentukan mekanisme penanganan pengaduan untuk mengumpulkan dan memfasilitasi


penyelesaian keprihatinan dan keluhan masyarakat yang terkena dampak mengenai kinerja
lingkungan dan sosial sponsor.

Pengungkapan publik yang transparan untuk menginformasikan setiap tahap proyek melalui
situs web, papan pengumuman, alat telekomunikasi dan rapat publik

Tetapkan kuesioner publik yang dirancang dengan baik dan terstruktur untuk menerima
umpan balik dari masyarakat yang terkena dampak
Potensi risiko terhadap integritas budaya
dan organisasi sosial masyarakat adat dan Lakukan penilaian skrining untuk menghindari potensi dampak terhadap integritas budaya
komunitas terpencil dan rentan lainnya dan organisasi sosial. Tatkala mempengaruhi integritas dan organisasi sosial, penilaian sosial
budaya akan diterapkan untuk mengembangkan opsi lebih lanjut untuk
perlindungan/mitigasi.

Kesehatan dan keselamatan Risiko bagi orang-orang yang Lokasi situs jauh dari reseptor yang sensitif.
masyarakat berkepentingan dan masyarakat yang
Operasi berkelanjutan dari sistem pemantauan gas hidrogen sulfida untuk memudahkan
terkait dengan kecelakaan lalu lintas, emisi
deteksi dan peringatan dini.
gas beracun
Konstruksi sistem peringatan lalu lintas (kendaraan percontohan, tanda-tanda di pinggir
jalan)

Pelatihan pengemudi yang tepat.

Konsultasi masyarakat secara teratur

Tanda peringatan.

Perencanaan darurat yang melibatkan masyarakat.

Akses tidak sah ke lokasi konstruksi atau Buat pagar di sekitar seluruh lokasi konstruksi, pembangkit listrik dan lain-lain.
pembangkit listrik, gardu induk dan switch
Tanda peringatan dan gerbang keamanan.
yard.
Konsultasi dengan masyarakat secara berkala

Kartu Identitas wajib untuk menggunakan akses jalan dan/atau pekerjaan di lokasi.

Sumber daya budaya fisik Gangguan, degradasi, Cari lokasi yang jauh dari PCR.
penodaan/pengotoran situs atau artefak
Bersejarah, spiritual, arkeologi, Gunakan Rencana Pengelolaan PCR untuk memperbaiki dampak (mitigasi, minimisasi,
sebagai akibat dari pembangunan
keagamaan, kuburan, dan lain- relokasi dan lain-lain.).
infrastruktur pembangkit tenaga listrik

62
lain atau penyelarasan jalur transmisi. Gunakan Prosedur Penemuan Tak Terduga (chance find procedure) untuk segera
menghentikan bekerja begitu PCR ditemukan.

Masyarakat Adat Potensi dampak terhadap akses ke sumber Konsultasikan secara dini dan ekstensif (Konsultasi Bebas, di Muka dan Diinformasikan)
daya dan koneksi ke darat. sesuai dengan IPPF, dalam bahasa dan gunakan metode yang sesuai dengan kelompok
Masyarakat Adat.
Kurangnya akses terhadap manfaat proyek
Sertakan Masyarakat Adat dalam desain proyek, dan pastikan bahwa manfaatnya diperoleh
oleh Masyarakat Adat.

Hindari dan minimalkan kerugian terhadap Masyarakat Adat dan libatkan mereka untuk
mengidentifikasi mitigasi yang tepat.

Kapasitas lingkungan dan sosial Transfer/akuisisi aset subproyek ke Audit lingkungan dan sosial untuk mengidentifikasi kapasitas subpeminjam baru guna
subpeminjam subpeminjam yang berbeda. melaksanakan EA yang ada.

Kapasitas upaya perlindungan yang rendah Adakan pelatihan/workshop dan surat komitmen jika diperlukan.

63
5 PROSEDUR OPERASIONAL UPAYA PERLINDUNGAN SUBPROYEK
5.1 Ikhtisar
84. Seluruh dampak lingkungan dan sosial harus diidentifikasi dan intervensi mitigasinya diajukan
sebagai bagian dari proposal pendanaan subproyek. Subpeminjam akan menyiapkan instrumen
perlindungan dan PT SMI akan meninjau, memberikan komentar dan menyetujui instrument-
instrumen sebagai bagian dari kesepakatan untuk mendanai subproyek tersebut. Subpeminjam
bertanggung jawab atas pelaksanaan langkah-langkah mitigasi dan pengelolaan dan PT SMI
bertanggung jawab atas pengawasan dan penegakan hukum.

Gambar 1 Proses Upaya Perlindungan Subproyek

Langkah 1 Persiapan Instrumen Perlindungan dan Permohonan Pendanaan (SubPeminjam)

Permohonan pendanaan harus mencakup seluruh instrumen perlindungan yang relevan

Langkah 2 Kajian dan Kelonggaran Instrumen Perlindungan dan Persetujuan Pendanaan (PT SMI)

Instrumen perlindungan diperjelas sebagai bagian dari proses Persetujuan Pendanaan (atau ditolak)

Langkah 3 Permohonan dan Persetujuan Izin (Subpeminjam)

Seluruh Izin Indonesia diajukan dan disetujui

Langkah 4 Implementasi dan Pemantauan Subproyek

64
5.2 Langkah 1: Persiapan Instrumen Perlindungan Eksplorasi Panas Bumi
(Subpeminjam)
85. Subpeminjam akan menyiapkan seluruh instrumen perlindungan yang relevan seperti yang
dipersyaratkan oleh ESMF, RPF dan IPPF dan menyerahkannya sebagai bagian dari permohonan
pendanaan dari PT SMI berdasarkan proyek GREM.

86. Ada tiga skenario untuk pengembangan berdasarkan GREM:

i. Subpeminjam belum melakukan kegiatan eksplorasi (yaitu benar-benar baru) dan


dengan demikian tidak ada instrumen perlindungan yang telah disiapkan. Subpeminjam
diharuskan menyiapkan instrumen perlindungan sesuai dengan ESMF, RPF dan IPPF
beserta permohonan pendanaan. Dalam hal ini, PT SMI akan meninjau kembali
instrumen perlindungan dan mendapatkan komitmen dari subpeminjam untuk mengisi
setiap kesenjangan sesuai kebutuhan.
ii. Subpeminjam sudah menyiapkan instrumen perlindungan, namun konstruksinya belum
dimulai. Dalam hal ini, PT SMI akan melakukan uji kelayakan lingkungan dan sosial
(termasuk untuk semua izin yang relevan) dan mendapatkan komitmen dari
subpeminjam untuk menutup kesenjangan serta melakukan studi tambahan sesuai
kebutuhan.
iii. Subpeminjam sudah memulai konstruksi dan menerapkan instrumen perlindungan
(yaitu bersifat improvement). Kasus ini dapat ditemukan pada subpeminjam sektor
swasta dimana subpeminjam telah mengembangkan infrastruktur untuk mengakses
lokasi tersebut, atau bahkan telah mengebor sumur pertama dan akan terus melakukan
pengeboran sumur berikutnya dengan pembiayaan GREM. Dalam hal ini, PT SMI akan
melakukan uji kelayakan lingkungan dan sosial (termasuk untuk semua izin yang
relevan) dan memantau pelaksanaan perlindungan. Subpeminjam akan berkomitmen
menindaklanjuti hasil uji kelayakan lingkungan dan sosial dan melakukan studi
tambahan serta mengisi kesenjangan seperti dipersyaratkan oleh PT SMI.

5.2.1 Instrumen Perlindungan Wajib


87. Berikut ini adalah persyaratan perencanaan lingkungan dan sosial wajib yang harus dilakukan
subpeminjam dan diselesaikan sebagai bagian dari proposal subproyek mereka serta penilaian
dan rencana perlindungan ini akan ditinjau dan dinilai oleh PT SMI sebagai bagian dari proposal
pendanaan mereka.

5.2.1.1 UKL-UPL Subproyek

88. Sesuai dengan peraturan di Indonesia, setiap proyek eksplorasi panas bumi diharuskan memiliki
UKL-UPL dan Izin Lingkungan. Format dan isi dokumen yang diwajibkan disediakan pada
Lampiran E. Subpeminjam harus mengacu pada ESMF saat menyiapkan UKL-UPL untuk
permohonan GREM. Untuk GREM, konten rencana mitigasi dan pemantauan UKL-UPL UKL-UPL
65
akan sama dengan ESMP. Untuk memenuhi OP4.01, ESMP akan berisi informasi tambahan
tentang rencana penilaian kapasitas dan peningkatan kapasitas, pengaturan pelaksanaan dan
anggaran pelaksanaan.

5.2.1.2 Penilaian Dampak Lingkungan dan Sosial Subproyek

89. Setiap subproyek eksplorasi panas bumi berdasarkan GREM akan memerlukan ESIA. Format,
kedalaman dan jenis analisis akan bergantung pada sifat, skala, dan potensi dampak dari
subproyek yang diusulkan. Subpeminjam harus mengacu pada bagian ini dan lampiran yang
relevan dari ESMF saat mempersiapkan ESIA untuk permohonan GREM. Proses kajian PT SMI
akan mengidentifikasi/mengkonfirmasi lingkup/konten ESIA.

90. Penilaian Lingkungan (EA) mengevaluasi potensi risiko dan dampak lingkungan subproyek area
of influence-nya; serta mengidentifikasi cara-cara untuk memperbaiki perencanaan,
perancangan dan pelaksanaan proyek dengan mencegah, meminimalkan, mengurangi, atau
mengkompensasi dampak lingkungan yang merugikan dan meningkatkan dampak positif,
termasuk selama pelaksanaan proyek. Tindakan pencegahan akan disukai selama tindakan
mitigasi atau kompensasi memungkinkan.

91. EA memperhitungkan lingkungan alam (udara, air dan tanah), kesehatan dan keselamatan
manusia, dan aspek sosial yang terkait dengan proyek (pemukiman kembali paksa, Masyarakat
Adat, dan Benda Cagar Budaya), transbatas, dan aspek lingkungan global. EA
mempertimbangkan aspek alam dan sosial secara terpadu. EA mempertimbangkan aspek
berikut:

- variasi dalam kondisi subproyek dan negara;


- temuan studi lingkungan negara;
- kerangka kebijakan nasional secara keseluruhan, rencana tindakan lingkungan, undang-
undang dan perizinan dan persyaratan perizinan;
- Pedoman EHS Grup Bank Dunia;
- Kapabilitas PT SMI dan subpeminjam terkait dengan aspek lingkungan dan sosial, dan
sejarah pemenuhan hukum nasional dan lokal, termasuk konsultasi dan notifikasi
lingkungan dan publik;
- Analisis kemungkinan alternatif; dan
- Kewajiban nasional berdasarkan perjanjian dan persetujuan lingkungan internasional
yang relevan dengan subproyek.

92. Subproyek yang akan bertentangan dengan kewajiban negara seperti yang diidentifikasi selama
EA, tidak akan didukung berdasarkan GREM.

93. Strategi penilaian dan mitigasi dampak sosial akan mencakup kegiatan berikut:

66
(a) Survei penilaian sosial terhadap kelompok masyarakat yang terkena dampak eksplorasi
panas bumi: mengumpulkan data yang relevan mengenai Masyarakat Adat, pendapatan,
mata pencaharian, akses terhadap layanan, kebiasaan dan norma, serta mengidentifikasi
anggota masyarakat yang rentan dan isu gender;

(b) Identifikasi persyaratan pembebasan lahan untuk jejak kaki (footprint) proyek: penilaian
status kepemilikan tanah, pemahaman tentang kemauan masyarakat yang terkena dampak
untuk berpartisipasi dalam pembebasan lahan secara paksa atau sukarela, serta pilihan dan
preferensi yang sesuai (disarankan oleh orang-orang yang terkena dampak) untuk kedua
skenario pembebasan lahan secara paksa dan sukarela;

(c) Pengembangan pendekatan dan mekanisme sewa lahan untuk kepemilikan lahan bersama
atau aset milik bersama;

(d) Melakukan survei terhadap sumber daya budaya fisik (PCR) di wilayah tersebut, melalui
konsultasi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan yang terkena dampak, serta
identifikasi dan pemetaan aset warisan budaya seperti situs budaya, agama, sejarah dan
arkeologi, termasuk situs suci, kuburan dan tempat pemakaman; dan

(e) Skrining untuk kehadiran Masyarakat Adat dalam area of influence proyek akan disertakan
dalam Penilaian Sosial yang meninjau aspek-aspek utama sebagaimana tercantum dalam
Lampiran J.

(f) Menilai potensi, dampak dan risiko spesifik terhadap Masyarakat Adat (jika ada) dan
dimulainya konsultasi bebas, di muka dan diinformasikan dengan Masyarakat Adat yang
terkena dampak.

94. Metodologi ESIA akan mencakup proses skrining yang rinci untuk mengidentifikasi potensi
risiko dan masalah dengan tahap eksploitasi terkait dan pendekatan bagaimana tahap
eksplorasi dan eksploitasi panas bumi akan dipresentasikan dan dibahas selama konsultasi.

95. ESIA akan mencakup pemeriksaan potensi lingkungan negatif dan positif subproyek, dan akan
membandingkannya dengan alternatif yang layak (termasuk situasi 'tanpa subproyek').
Rekomendasi akan dibuat untuk tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencegah,
meminimalkan, mengurangi atau mengkompensasi dampak buruk serta memperbaiki kinerja
lingkungan.

5.2.1.3 Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Subproyek

96. Setiap subproyek eksplorasi panas bumi berdasarkan GREM akan membutuhkan ESMP. Ruang
lingkup akan tergantung pada sifat, skala, dan potensi dampak dari subproyek yang diusulkan.
Isi ESMP tersaji pada Lampiran D sesuai dengan OP4.01 Kebijakan Bank Dunia: Penilaian

67
Lingkungan dan Pedoman EHS Sektor Industri Grup Bank Dunia untuk Panas Bumi.
Subpeminjam harus mengacu pada ESMF saat menyiapkan ESMP untuk permohonan GREM.
Untuk GREM, konten rencana mitigasi dan pemantauan ESMP akan sama dengan UKL-UPL.
Untuk memenuhi OP 4.01, ESMP akan berisi informasi tambahan mengenai penilaian kapasitas
dan rencana peningkatan kapasitas, pengaturan pelaksanaan dan anggaran pelaksanaan.

97. ESMP dapat mencakup subrencana khusus seperti Rencana Pengelolaan Sumber Daya Budaya
Fisik, atau Rencana Pengelolaan Keanekaragaman Hayati, Rencana Pengelolaan Arus Tenaga
Kerja, yang diperlukan untuk mengelola dampak yang spesifik dan signifikan.

5.2.2 Instrumen Perlindungan Kebijaksanaan


98. Instrumen berikut mungkin diperlukan tergantung pada sifat pembebasan lahan dan
pemukiman kembali serta kehadiran Masyarakat Adat di wilayah proyek.

5.2.2.1 Instrumen Pembebasan Lahan dan Pemukiman Kembali Subproyek

99. Subpeminjam harus mengacu pada RPF untuk persyaratan terperinci dalam hal ini. Matriks
guna mengidentifikasi instrumen yang berlaku untuk pembebasan lahan dan pemukiman
kembali adalah sebagai berikut:

Tabel 4 Matriks Instrumen Pembebasan Lahan dan Pemukiman Kembali


Pencetus Instrumen
Akuisisi lahan secara sukarela melalui willing buyer-willing seller, Tidak ada instrumen yang
atau pengaturan sewa. dibutuhkan
Daftar pemilik lahan, luas
tanah, notulen konsultasi,
perjanjian penjualan dan faktur
didokumentasikan
Aset dipengaruhi oleh subproyek, namun tidak terkait dengan ESMP
pembebasan lahan atau pemukiman kembali. (Lampiran D)

Jika pembebasan lahan paksa untuk subproyek mempengaruhi LARAP sederhana


kurang dari 200 orang, kurang dari 10% aset produktif rumah (Appendix L)
tangga akan terkena dampak dan/atau tidak melibatkan relokasi
fisik.

Jika pembebasan lahan paksa untuk subproyek mempengaruhi LARAP komprehensif


lebih dari 200 orang, mempengaruhi lebih dari 10% aset produktif (Lampiran K)
rumah tangga dan/atau melibatkan relokasi fisik.

Jika sebuah subproyek mengarah pada pembatasan akses paksa ke LARAP sederhana atau

68
taman dan kawasan lindung yang ditunjuk secara hukum sehingga komprehensif, tergantung
menimbulkan dampak buruk pada penghidupan orang-orang yang skala.
kehilangan tempat tinggal.

5.2.2.2 Instrumen Masyarakat Adat Subproyek

100. Bila Masyarakat Adat berada di wilayah proyek, atau memiliki keterikatan kolektif dengan
wilayah proyek, Rencana Masyarakat Adat, atau Rencana Pembangunan Masyarakat yang lebih
luas, berdasarkan Penilaian Sosial dalam ESIA (Lampiran J), akan dipersiapkan. Lihat IPPF untuk
persyaratan perencanaan dan pelaksanaan yang rinci.

Tabel 5 Tabel Ringkasan Instrumen Subproyek


Untuk Seluruh Proyek Eksplorasi Proyek Eksplorasi di mana Proyek Eksplorasi di mana
terdapat pembebasan lahan terdapat Masyarakat Adat di
atau pemukiman kembali secara Wilayah Proyek
paksa
ESIA, ESIA akan mencakup Penilaian
Sosial
Termasuk skrining dampak tahap
eksploitasi.

ESMP
Dapat mencakup subrencana
khusus seperti Rencana
Pengelolaan Sumber Daya
Budaya Fisik, Rencana
Pengelolaan Keanekaragaman
Hayati, Rencana Pengelolaan
Arus Tenaga Kerja
UKL-UPL

Catatan transaksi tanah sukarela LARAP sederhana atau


(willing buyer-willing seller) komprehensif, tergantung skala

Rencana Masyarakat Adat

5.2.3 Menyiapkan Instrumen Perlindungan atau Pengisian Kesenjangan


17. Kerangka Acuan untuk instrumen perlindungan (untuk skenario i) dan tugas pengisi
kesenjangan untuk skenario ii dan iii akan disiapkan oleh subpeminjam dan ditinjau oleh PT SMI
sebelum pekerjaan tersebut diajukan ke konsultan lingkungan dan sosial yang kompeten dan
berkualitas. Konsultan dengan pengalaman dalam proses peraturan Indonesia dan kebijakan
upaya perlindungan Bank Dunia akan dilibatkan.
69
18. Ruang lingkup ESIA, ESMP, UKL-UPL, LARAP dan/atau IPP akan berbanding lurus dengan sifat
dan skala potensi dampak.

19. Konsultasi dan publikasi akan dilakukan sesuai dengan Bagian 8. Subpeminjam akan memimpin
konsultasi dengan dukungan dari para konsultan.

5.3 Langkah 2 – Kajian dan Persejutuan Instrumen Perlindungan Subproyek


(PT SMI)
20. Kajian dan kelonggaran akan dilakukan oleh PT SMI sebagai bagian dari proses kajian
permohonan subproyek. Proses pada Lampiran A dan B akan digunakan untuk memandu
proses kajian.

21. PT SMI akan meninjau kembali instrumen perlindungan sebagai desk top exercise dan akan
mengunjungi lokasi yang diusulkan sebagai bagian dari penilaian uji kelayakan terhadap setiap
permohonan pendanaan. Juga termasuk area kunjungan yang memiliki kepentingan lingkungan
atau sosial, konsultasi, pertemuan dengan pemangku kepentingan utama dan informan, dan
untuk subproyek dalam skenario iii dimana pekerjaan telah dimulai, untuk melaksanakan audit
lingkungan dan sosial dari pekerjaan yang ada dan pengaturan pelaksanaan.

22. Hasil kajian upaya perlindungan dan uji kelayakan harus memberikan kontribusi pada kajian
permohonan subproyek. Dengan berkonsultasi dengan Bank Dunia, PT SMI akan:

(a) Memberikan kelonggaran instrumen tanpa ada perubahan.

(b) Memberikan umpan balik yang menyoroti kesenjangan dan studi tambahan yang harus
diselesaikan sebelum instrumen dipertimbangkan kembali untuk kelonggaran.

(c) Memberikan rekomendasi bahwa subproyek tidak akan melanjutkan pembangunan


berdasarkan GREM jika 'show stopper' diidentifikasi yang akan menyebabkan
ketidakpatuhan yang signifikan terhadap undang-undang, kebijakan atau masalah penting
lainnya yang tidak dapat dimitigasi. Contohnya adalah bila subproyek berpotensi
menimbulkan dampak yang tidak dapat diubah terhadap habitat yang signifikan. Potensi
dampak yang signifikan untuk eksploitasi sumber panas bumi juga dapat dianggap sebagai
'show stopper'.

5.3.1 Kajian dan Upaya Perlindungan Bank Dunia dan Elemen Perlindungan Lingkungan dan
Sosial (ESS) PT SMI
23. Berdasarkan reseptor sensitif dan dampak yang berpotensi signifikan, kajian tersebut akan
mengidentifikasi Kebijakan Upaya Perlindungan Bank Dunia yang relevan dan Elemen-elemen
ESS PT SMI untuk subproyek.

70
5.3.2 Kajian OP4.01 Bank Dunia: Kategori Risiko
24. Bank Dunia mengklasifikasikan proyek menjadi satu dari tiga kategori (A, B dan C), tergantung
jenis, lokasi, kepekaan, dan skala proyek dan sifat serta besarnya potensi dampak
lingkungannya.

25. Kategori A: Bila subproyek cenderung memiliki dampak lingkungan merugikan yang signifikan,
sensitif, beragam atau belum pernah terjadi sebelumnya. Dampak ini dapat mempengaruhi
area yang lebih luas daripada lokasi atau fasilitas yang terkena pekerjaan fisik. Contohnya
adalah: kegiatan eksplorasi dalam kawasan konservasi yang dapat mengakibatkan dampak
signifikan pada populasi spesies yang terancam punah atau dalam habitat kritis; kegiatan
eksplorasi yang dapat meningkatkan akses ke pengembangan yang dipaksakan yang akan
merugikan Masyarakat Adat. Seluruh Kategori Proyek harus memiliki ESIA dan EMP.

26. Kategori B: Bila dampak buruk lingkungan subproyek pada populasi manusia atau kawasan
penting lingkungan (termasuk lahan basah, hutan, padang rumput, dan habitat alam lainnya)
kurang merugikan dibandingkan subproyek Kategori A. Dampak akan bersifat spesifik lokasi;
Misalnya, jika sedikit dampaknya, jika ada, akan dapat diubah dan tindakan mitigasi dapat
dirancang lebih mudah daripada subproyek Kategori A. Ruang lingkup kajian lingkungan untuk
subproyek Kategori B akan bervariasi berdasarkan hasil proses skrining. Seluruh subproyek
Kategori B juga akan memerlukan ESIA dan EMP. Ruang lingkup ESIA akan didasarkan pada
potensi risiko, mengatasi potensi dampak negatif dan positif subproyek, serta
merekomendasikan tindakan untuk mencegah, meminimalkan, mengurangi, atau memberi
kompensasi atas dampak buruk dan memperbaiki kinerja lingkungan.

27. Kategori C: Jika subproyek cenderung memiliki dampak lingkungan minimal atau tidak
menguntungkan. Di luar skrining, tidak diperlukan tindakan kajian lingkungan lebih lanjut untuk
subproyek Kategori C. Diharapkan tidak akan ada subproyek Kategori C berdasarkan GREM.

5.3.3 Laporan Kajian


28. Laporan kajian akan disiapkan oleh PT SMI dan meliputi:

(a) Formulir Skrining yang Dilengkapi (Lampiran A).

(b) Kebijakan upaya perlindungan Bank Dunia dan elemen ESS PT SMI yang dicetuskan.

(c) Kategorisasi Risiko Bank Dunia.

(d) Ringkasan risiko lingkungan dan sosial yang signifikan, sifat dan skala penilaian dampak dan/
atau tindakan mitigasi yang diidentifikasi oleh subpeminjam.

(e) Daftar perubahan, pembaruan, studi tambahan yang diperlukan, kesenjangan yang harus
diisi dalam instrumen yang ada dan rincian instrumen perlindungan tambahan lainnya.

71
(f) Persyaratan untuk konsultasi dan/atau pengungkapan informasi dan instrumen tambahan.

(g) Catat setiap masalah seperti jangka waktu atau anggaran yang dapat mempengaruhi
kelayakan proyek panas bumi atau rencana pengembangan.

(h) Kajian kapasitas subpeminjam untuk menerapkan instrumen perlindungan dan tanggung
jawab perlindungannya selama proyek GREM, dan persyaratan untuk pengisian kesenjangan
(staf, peralatan, pelatihan, sumber daya, dan lain-lain).

(i) Rekomendasi akan diformalkan antara subpeminjam dan PT SMI dalam perjanjian
pendanaan atau dokumentasi kontraktual lainnya.

29. PT SMI akan menyetujui instrumen setelah seluruh kondisi dan persyaratan dipenuhi oleh
subpeminjam. Jika risiko signifikan tetap ada yang tidak dapat dikurangi secara memuaskan
untuk memenuhi kebijakan upaya perlindungan Bank Dunia dan/atau UU, peraturan
Pemerintah Indonesia dan komitmen internasional, subproyek tidak akan didanai. PT SMI dan
subpeminjam dapat memilih mendesain ulang subproyek dan/atau memperbaiki penghindaran,
mitigasi dan pengelolaan potensi dampak yang signifikan dan memasukkan kembali
seperangkat dokumen upaya pelindungan yang telah direvisi untuk dikaji.

5.4 Langkah 3: Persetujuan dan Pemberian Izin


30. UKL-UPL akan diajukan untuk disetujui oleh Badan Lingkungan Hidup Propinsi atau Kabupaten
terkait; persetujuan UKL-UPL akan digunakan sebagai dasar untuk mengajukan Izin Lingkungan.
ESIA, ESMP, LARAP dan IPDP final akan diperiksa dan diratifikasi oleh PT SMI. Di Indonesia,
"Dokumen Persiapan dan Pengadaan Tanah" (berdasarkan UU No. 2/2012) akan disetujui oleh
Gubernur dan atau Kepala Kabupaten/Kota tempat proyek tersebut berada. Atas persetujuan
ini, izin lokasi akan dikeluarkan. LARAP dapat disiapkan berdasarkan dokumentasi ini.

31. Izin lain juga akan diterapkan selama Tahap ini oleh subpeminjam, seperti Izin Pemanfaatan
(Tahap Eksplorasi) untuk Layanan Lingkungan Panas Bumi (IPJLPB Tahap Eksplorasi) jika
kawasan proyek berada di dalam Taman Nasional, Taman Hutan Raya atau Taman Rekreasi
Alam atau Izin Pinjam Pakai untuk wilayah proyek yang berada di area yang ditangguhkan (Peta
Indikatif Penundaan Pemberian Izin Baru/PIPPIB).

32. Tidak ada pekerjaan yang dimulai di lokasi sampai:

(a) seluruh instrumen perlindungan subproyek telah dikonsultasikan dan diungkapkan oleh
subpeminjam dan diperjelas oleh Bank Dunia dan PT SMI.

(b) dokumen UKL / UPL telah diperjelas dan persetujuan peraturan terkait telah diberikan.

72
(c) keseluruhan pemukiman kembali rampung dan kompensasi telah dibayarkan. Permasalahan
baru terkait pembebasan lahan dan pemukiman kembali selama pelaksanaannya harus
ditangani melalui mekanisme pengaduan.

(d) Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Kontraktor telah diperjelas oleh PT SMI dan
Bank Dunia.

5.5 Langkah 4: Implementasi dan Pemantauan


33. Subpeminjam akan menyiapkan proses implementasi terperinci dalam Manual Operasi Proyek.
Secara singkat, implementasi akan terjadi sebagai berikut:

(a) Tim eksplorasi subpeminjam akan mengintegrasikan aspek perlindungan ke dalam rencana
eksplorasi panas bumi (lokasi infrastruktur, metode konstruksi, tindakan mitigasi yang
berkaitan dengan desain dan lain-lain).

(b) Tim eksplorasi subpeminjam akan memasukkan ESMP dalam dokumen penawaran
Kontraktor dan kontrak Kontraktor. Proses seleksi kontraktor akan mencakup kapasitas
untuk mengimplementasikan ESMP, dan UKL-UPL.

(c) Kontraktor akan diminta untuk menyiapkan ESMP Kontraktor sebelum pekerjaan dimulai.
ESMP Kontraktor akan mendokumentasikan secara rinci bagaimana Kontraktor akan
memenuhi peran dan tanggung jawabnya sebagaimana didokumentasikan dalam Proyek
ESMP.

(d) Tidak ada pekerjaan yang akan dimulai di lokasi (termasuk pekerjaan tambahan seperti jalan
akses) sampai pembebasan lahan dan pemukiman kembali rampung dan ESMP Kontraktor
telah diperjelas oleh Tim Upaya Perlindungan SMI (sesuai permintaan Bank Dunia).

(e) Tim upaya perlindungan subpeminjam akan memantau dan mengawasi pelaksanaan ESMP
Kontraktor dan bertanggung jawab untuk menerapkan aspek lain dari proyek ESMP yang
tidak berada di bawah kendali Kontraktor.

(f) Subpeminjam akan bertanggung jawab untuk membeli atau menyewakan tanah melalui
‘willing buyer/willing seller’ atau LARAP, dan memberikan hak dan dukungan lainnya kepada
orang-orang yang terkena dampak dan orang-orang terlantar.

(g) Pelatihan akan dilakukan oleh subpeminjam dan/atau konsultan pihak ketiga, jika
diperlukan, sesuai dengan rencana peningkatan kapasitas dalam ESMP.

(h) Pengawasan, pemantauan dan pelaporan akan dilakukan oleh Subpeminjam Kontraktor
sesuai dengan Bagian 10 dan persyaratan terinci dari ESMP.

73
(i) PT SMI akan bertanggung jawab untuk mengawasi subpeminjam secara berkala atas
kepatuhannya terhadap instrumen perlindungan.

5.6 Penasihat Teknis


34. PT SMI akan memastikan bahwa Kerangka Acuan untuk Penasihat Teknis berdasarkan
Komponen 2 dari GREM mensyaratkan:

(a) Spesialis upaya perlindungan untuk menjadi bagian dari tim, jika perlu;

(b) Saran dan output harus mematuhi ESMF, RPF dan IPPF;

(c) Saran dan output harus konsisten dengan Kebijakan Upaya Perlindungan Bank Dunia, ESMS
PT SMI dan kebijakan mengenai Gender dan Keterbukaan;

(d) Konsultasi yang intensif dengan pemangku kepentingan terkait, dan masyarakat bila
diperlukan; dan

(e) Pengungkapan dokumen teknis/output

35. Tim Upaya Perlindungan PT SMI akan meninjau output penasehat teknis yang relevan dan
memberi komentar dan masukan untuk memastikan konsistensi dengan dokumen kerangka
kerja GREM.

74
6 KERANGKA KEBIJAKAN PEMUKIMAN KEMBALI
6.1 Prinsip-prinsip Utama
36. Berdasarkan GREM, Kerangka Kebijakan Pemukiman Kembali (RPF) ini memberikan panduan
untuk skrining pemukiman kembali, penilaian, pengaturan kelembagaan, dan proses mengenai
pembebasan lahan dan pemukiman kembali secara paksa yang harus dipatuhi oleh staf
manajemen proyek, konsultan, dan pihak terkait.

37. Bank Dunia mengakui bahwa pembebasan lahan dan pembatasan penggunaan lahan yang
disebabkan oleh proyek dapat berdampak buruk pada pengguna lahan dan masyarakat. OP
4.12 Bank Dunia tentang Pemukiman Kembali secara paksa menetapkan standar dalam
menangani dan mengurangi risiko akibat pemukiman kembali paksa, termasuk kasus
pengambilan lahan secara paksa. Di sini "pemukiman kembali paksa " mengacu pada
pemindahan fisik (relokasi atau kehilangan tempat tinggal) dan pemindahan ekonomi
(kehilangan aset atau akses terhadap aset yang menyebabkan hilangnya sumber pendapatan
atau sarana penghidupan lainnya) sebagai hasil dari kegiatan proyek. Ini termasuk pembatasan
paksa untuk mengakses taman dan kawasan lindung yang ditunjuk secara hukum. Pemukiman
kembali dianggap secara paksa di kala orang atau masyarakat yang terkena dampak tidak
memiliki hak untuk menolak pembebasan lahan atau pembatasan penggunaan lahan yang
mengakibatkan pemindahan fisik atau ekonomi. Hal ini terjadi dalam kasus: (i) pengambilalihan
yang sah, atau pembatasan sementara atau permanen atas penggunaan lahan, dan (ii)
penyelesaian yang dinegosiasikan dimana pembeli dapat menggunakan pengambilalihan atau
menerapkan pembatasan legal atas penggunaan lahan jika negosiasi dengan penjual gagal.

38. Willing seller-willing buyer. Mayoritas (jika tidak semua) akuisisi lahan untuk kegiatan
pengeboran akan dilakukan melalui willing seller-willing buyer. RPF memberikan panduan untuk
akuisisi tanah melalui willing seller-willing buyer atau kesepakatan bersama sebagai cara
akuisisi yang lebih baik.

39. Pembebasan Lahan dan Pemukiman Kembali Secara Paksa. Pembebasan lahan paksa tidak
dimungkinkkan karena jejak kaki (footprint) infrastrukturnya fleksibel. Mungkin ada kejadian,
seperti jalan akses untuk peralatan pengeboran besar, bila fleksibilitas penyelarasan tidak
memungkinkan, dan lahan tertentu diperlukan. Seandainya diidentifikasi bahwa lahan tertentu
diperlukan untuk proyek ini (misalnya untuk sumber bahan agregat) atau pilihan lahan terbatas
karena topografi atau kendala lainnya, dan penyelesaian yang dinegosiasikan tidak berhasil,
persyaratan pembebasan lahan paksa berdasarkan Resettlement Policy Framework (RPF) ini
akan diterapkan.

40. Pemukiman kembali paksa juga harus dihindari sebagai prioritas, namun mungkin ada beberapa
kasus, seperti dalam kawasan dan hutan lindung, di mana akses masyarakat dibatasi atau
penghidupan mereka terpengaruh. Dalam kasus-kasus ini, persyaratan RPF juga akan berlaku.

75
RPF menentukan persiapan Rencana Aksi Pembebasan Lahan dan Pemukiman Kembali (LARAP)
untuk pembebasan lahan atau pemukiman kembali secara paksa. Dalam situasi ini, pemukiman
kembali paksa termasuk pembebasan lahan yang dilaksanakan berdasarkan eminent domain
principle yang dapat melibatkan pemindahan fisik dan ekonomi. Dalam semua kasus lain dari
dampak ekonomi, sosial, atau lingkungan yang merugikan dari kegiatan proyek selain untuk
pembebasan lahan (misalnya, hilangnya akses ke aset atau sumber daya atau pembatasan
penggunaan lahan), dampak tersebut dapat dihindari, diminimalkan, dikurangi atau
dikompensasikan melalui proses penilaian sosial sebagai bagian dari penilaian dampak
lingkungan dan sosial. Subpeminjam akan mengacu pada persyaratan OP 4.12 Bank Dunia
tentang Pemukiman Kembali Paksa untuk menghindari, memperbaiki, atau mengurangi
dampak sebagai bagian dari proses ini.

41. Pembebasan Lahan untuk Eksploitasi, pascaproyek. Kebutuhan akan bidang tanah yang lebih
luas pada tahap eksploitasi ini dapat meningkat karena kegiatan tersebut mencakup
pengembangan gardu listrik, kamp pekerja, kantor kontraktor, dan halaman untuk alat berat
serta jalan yang lebih luas dan panjang. Pendekatan willing seller-willing buyer atau
kesepakatan bersama dapat diterapkan terhadap lahan milik swasta sampai lima hektar sesuai
dengan sistem negara. Di atas ambang batas tersebut dan/atau bila status tanahnya tidak
dimiliki secara pribadi, pembebasan tanah diimplementasikan dengan eminent domain
principle. Pendekatan ini bisa melibatkan pemindahan fisik dan ekonomi. Prosedur standar yang
sama seperti yang dibahas dalam RPF akan diintegrasikan ke dalam Kerangka Acuan, pedoman
dan output GREM lainnya setelah tahap eksplorasi, yang akan dilaksanakan dalam tahap
pascaproyek.

42. Keseluruhan tujuan kebijakan Bank tentang pemukiman kembali paksa adalah sebagai berikut:

(a) Pemukiman kembali paksa harus dihindari bila memungkinkan, atau diminimalkan, dengan
mengeksplorasi seluruh alternatif desain proyek yang layak;

(b) Bila tidak memungkinkan untuk menghindari pemukiman kembali, kegiatan pemukiman
kembali harus dirancang dan dilaksanakan sebagai bagian dari program pembangunan
berkelanjutan, misalnya, menyediakan sumber daya yang memadai untuk memungkinkan
orang-orang yang dipindahkan oleh proyek tersebut untuk merasakan manfaat proyek.
Orang –orang yang dipindahkan karena proyek harus diajak berkonsultasi secara serius dan
diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan program
pemukiman kembali; dan

(c) Orang-orang yang terkena dampak harus menerima bantuan dalam upaya mereka untuk
memperbaiki mata pencaharian dan taraf hidup mereka, atau setidaknya
mengembalikannya, secara riil, ke tingkat praperpindahan, atau tingkat yang berlaku
sebelum dimulainya proyek, mana yang lebih tinggi.

76
43. Sebelum pelaksanaan kegiatan pembebasan lahan dan pemukiman kembali, Subpeminjam akan
memastikan pendekatan dan metodologi penilaian sosial berikut yang diminta oleh persyaratan
OP4.12:

(a) Menghindari pemukiman kembali paksa dan, jika tidak dapat dihindari, meminimalkan
potensi dampaknya;

(b) Menilai potensi dampak ekonomi dan sosial dari pembebasan lahan dan pemukiman kembali
secara paksa terhadap Orang-orang yang Terkena Dampak Proyek dan mata pencaharian
mereka;

(c) Mengidentifikasi kategori orang yang terkena dampak dan hak guna mereka masing-masing;

(d) Menetapkan proses konsultasi yang jelas dengan dan partisipasi Orang-orang yang Terkena
Dampak Proyek dalam persiapan dan perencanaan pembebasan lahan dan pemukiman
kembali secara paksa, jika ada, serta penyebarluasan informasi kepada Orang-orang yang
Terkena Dampak Proyek;

(e) Mengompensasi untuk aset yang hilang dengan biaya penggantian penuh;

(f) Mengompensasi pengguna lahan informal/ilegal untuk kehilangan aset dan memberikan
bantuan dalam relokasi, jika diperlukan;

(g) Mengompensasikan dan mendapatkan akses hukum ke lahan yang diambil alih sebelum
memulai konstruksi;

(h) Memberikan informasi dan menyiapkan program bantuan khusus untuk kelompok rentan
termasuk orang-orang tanpa harta yang tidak bergerak; dan

(i) Menyediakan dan menyiapkan rencana penanganan keluhan dan pemantauan sesuai
dengan RPF.

6.2 Undang-undang dan Kebijakan Indonesia terkait Pembebasan Lahan


44. Eksplorasi panas bumi penting untuk pengembangan infrastruktur energi, dan dalam sistem
negara dikategorikan sebagai pengembangan kepentingan umum. Dalam hal pembebasan
lahan untuk pembangunan infrastruktur guna kepentingan umum, setiap subproyek harus
mengacu pada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pembebasan Lahan untuk
Kegiatan Proyek demi Kepentingan Umum. Berikut ini adalah peraturan pelaksanaannya:
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2012, Peraturan Kepala Biro
Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 2012, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/PMK.02
Tahun 2013, dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 tahun 2012.

77
45. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2012 telah diubah empat kali.
Perubahan utamanya adalah: Nomor 40 tahun 2014 (... Pembebasan lahan tidak lebih dari 5
hektar dapat dilakukan langsung oleh instansi yang membutuhkan lahan dengan pemegang hak
atas tanah melalui transaksi bisnis atau cara lain yang disepakati oleh kedua belah pihak ...);
Nomor 99 tahun 2014 (... Kepala Pelaksanaan Akuisisi Tanah menerbitkan nilai kompensasi
yang dihasilkan dari penilai atau penilai publik); Nomor 30 tahun 2015 (... Keuangan untuk
pembebasan tanah dapat bersumber dari perusahaan (Badan Usaha) karena Badan yang
memperoleh tanah tersebut diberi hak untuk bertindak atas nama negara, menteri, lembaga
pemerintah nonkementerian, atau provinsi atau pemerintah kabupaten, dan yang paling
terkini, Nomor 148 tahun 2015 (... Pembebasan lahan untuk pengembangan kepentingan
umum sampai 5 hektar tidak memerlukan surat penetapan lokasi. Badan yang membutuhkan
lahan harus menggunakan jasa penilai untuk penilaian tanah …).

46. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/PMK.02 tahun 2013 telah diubah terakhir dengan
Nomor 10/PMK02 tahun 2016, yang menyatakan ambang alokasi anggaran untuk pembebasan
lahan untuk proyek pengembangan kepentingan publik. Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 72 tahun 2012 mengutarakan pelaksanaan pembebasan lahan secara operasional dan
dukungan untuk pengembangan kepentingan masyarakat bersumber dari APBD.

47. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nomor 5 tahun 2012 telah diubah dengan
Nomor 6 tahun 2015, yang menyoroti skema dana talangan untuk mempercepat pembangunan
infrastruktur. Pemerintah merevisi Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Nomor 6
tahun 2015 untuk Perubahan Peraturan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nomor 5 tahun 2012
tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengadaan Tanah. Revisi ini membuka kesempatan bagi
pengusaha swasta untuk menalangi (dana talangan) pembebasan lahan untuk proyek
infrastruktur masyarakat. Kemudian dana talangan diganti dengan menggunakan dana APBN
melalui kementerian atau instansi terkait.

48. Pembebasan lahan untuk pengembangan kepentingan umum dilakukan sesuai dengan Rencana
Tata Ruang Wilayah; Rencana Pembangunan Nasional/Daerah; Rencana Strategis; dan Rencana
Kerja Lembaga yang membutuhkan lahan. Namun, sebagaimana dicantumkan dalam Penjelasan
Pasal 7 (2) UU Nomor 2 tahun 2012, kegiatan energi panas bumi mencapai tingkat yang
fleksibel, tidak pasti dan dapat berubah-ubah. Karena itu, diperlukan perencanaan yang
fleksibel guna memastikan efektivitas dan efisiensi pengembangan sumber energi panas bumi.

49. Undang-undang 2 tahun 2012 telah memperbaiki sistem negara secara signifikan untuk
pembebasan lahan dengan perlindungan yang lebih besar demi hak-hak pemilik properti
melalui konsultasi dan kompensasi yang adil. Ini juga berkaitan dengan kompensasi untuk
properti tanpa pemilik jika pembebasan lahan diperlukan. Jika tanah tersebut dimiliki secara
publik, undang-undang tersebut tidak berlaku dan lahan yang dibutuhkan akan disetujui sesuai
dengan Undang-undang Nomor 5 tahun 1960, dimana Pasal 18 menyatakan bahwa hak atas
78
tanah dapat diambil alih oleh pemerintah untuk kegiatan kepentingan umum dengan
memberikan kompensasi yang layak sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dalam Undang-
undang. Undang-undang tersebut juga menetapkan bahwa badan publik, termasuk badan
usaha milik negara, berhak memperoleh tanah berdasarkan mekanisme ini. Demikian pula,
perusahaan swasta juga dapat memperoleh tanah dengan membangun kemitraan publik
swasta dengan badan usaha milik negara dan lembaga pemerintah yang memenuhi syarat.

50. Undang-undang Nomor 2 tahun 2012 dan peraturan pendukungnya menetapkan bahwa
penilaian kompensasi harus dilakukan oleh "... Penilai Independen dan Profesional, yang
memiliki izin dari Menteri Keuangan sebagai Penilai Publik dan terdaftar di Biro Pertanahan
Nasional (BPN)". Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI) mengeluarkan Standar
Penilaian 306, Penilaian dalam Rangka Pembebasan Lahan untuk Kepentingan Umum, untuk
membimbing dan mendukung pelaksanaan Undang-Undang Nomor 2 tahun 2012. Standar
tersebut mengikuti prinsip yang sama dengan Undang-undang, dimana penentuan jumlah
kompensasi didasarkan pada "prinsip kemanusiaan, keadilan, kegunaan, kepastian,
transparansi, kesepakatan, partisipasi, kesejahteraan, keselarasan dan keberlanjutan." Nilai
Penggantian Wajar adalah berdasarkan pada nilai pasar properti, dengan memperhatikan unsur
nonfisik yang terkait dengan hilangnya kepemilikan properti, yang diakibatkan oleh
pembebasan lahan. Definisi Nilai Penggantian Wajar mengikuti prinsip yang sama seperti
kompensasi seperti yang dikutip sebelumnya.

51. Penilaian terdiri dari komponen fisik dan nonfisik. Komponen fisik yang akan dikompensasi
antara lain: a) tanah; b) ruang di atas dan di bawah tanah; dan c) bangunan; dan d) fasilitas dan
fasilitas pendukung bangunan. Komponen nonfisik yang harus dikompensasikan meliputi:

- Pelepasan hak pemilik tanah, untuk diberikan sebagai premi dalam bentuk uang berdasarkan
undang-undang yang ada. Substitusi dapat mencakup hal-hal yang berkaitan dengan: a) kehilangan
pekerjaan atau kehilangan bisnis, termasuk perubahan profesi (sehubungan dengan UU Nomor 2
tahun 2012 Pasal 33 huruf f Penjelasan); b) Kerugian emosional yang terkait dengan hilangnya
tempat tinggal akibat pembebasan lahan (dengan memperhatikan Undang-undang Nomor 2 tahun
2012 Pasal 1 Ayat 10, Penjelasan Pasal 2 dan Pasal 9 Ayat 2).

- Biaya transaksi, seperti biaya pindah dan pajak yang sesuai.

- Kompensasi untuk masa tunggu, yaitu pembayaran untuk menghitung selisih waktu antara tanggal
penilaian dan tanggal taksiran pembayaran.

- Hilangnya nilai sisa lahan, yang bisa dihitung atas seluruh nilai tanah jika tidak dapat digunakan
sebagaimana mestinya.

- Biaya perbaikan dan kerusakan fisik untuk bangunan dan struktur di atas tanah, jika ada, sebagai
akibat pembebasan lahan.
79
17. Jika subpeminjam adalah sektor swasta, proses pembebasan lahan harus mengikuti peraturan
nasional yang relevan serta prinsip OP 4.12 Bank Dunia dan IFC Performance Standard 5 yang
mengatur dalam ESMF ini untuk mengurangi dampak sosial dan ekonomi yang merugikan
karena untuk pembebasan lahan dan transaksi harus dilakukan dengan negosiasi yang beritikad
baik jika proses pembebasan lahan atau sewa melalui akuisisi sukarela.

6.3 OP4.12 Kebijakan Upaya Perlindungan Bank Dunia: Pemukiman Kembali


Paksa
18. Kebijakan ini bertujuan untuk menghindari pemukiman kembali paksa jika memungkinkan.
Namun, kebijakan ini menetapkan- jika perlu - persyaratan untuk berpartisipasi dalam
perencanaan pemukiman kembali, serta ketentuan kompensasi yang memperbaiki, atau
setidaknya memulihkan, pendapatan dan standar hidup. Pengalaman Bank Dunia dengan
proyek panas bumi di Indonesia sehubungan dengan pemukiman kembali paksa
mengindikasikan bahwa tanah diperoleh melalui transaksi komersial ketimbang
pengambilalihan, dan pemukiman kembali paksa tidak terjadi. Namun, RPF ini menetapkan
prinsip dan prosedur untuk pembebasan lahan dan pemukiman kembali jika ada kasus di saat
PT SMI harus meminta pengambilalihan atau pemindahan paksa.

19. OP 4.12 Bank Dunia tidak berlaku untuk pemukiman kembali yang diakibatkan oleh transaksi
tanah sukarela (yaitu, transaksi pasar dimana penjual tidak berkewajiban untuk menjual dan
pembeli tidak dapat menggunakan perampasan atau prosedur wajib lainnya yang disetujui oleh
sistem hukum negara tuan rumah jika negosiasi gagal). OP ini juga tidak berlaku untuk dampak
terhadap penghidupan dimana proyek tidak mengubah penggunaan lahan dari kelompok atau
masyarakat yang terkena dampak.

6.4 Tanggung Jawab Pembebasan Lahan dan Pemukiman Kembali


20. Jika subproyek dilakukan oleh BUMN, tanggung jawab pembebasan lahan harus berasal dari
subpeminjam (BUMN) dengan mengikuti Undang-Undang Nomor 2 tahun 2012. Jika lahan
tersebut akan diperoleh kurang dari 5 hektar, proses pembebasan lahan akan mengikuti skema
" willing seller-willing buyer " dimana subpeminjam (BUMN) bertanggung jawab atas
pembebasan lahan dan pemukiman kembali.

21. Jika subpeminjam adalah implementasi pembebasan lahan swasta, akan mengikuti peraturan
dan kebijakan nasional yang relevan dan akan mengikuti prinsip-prinsip standar internasional
yang tercantum dalam ESMF ini. Subproyek bisa berupa Kemitraan Publik Swasta (sedang
dalam pembahasan untuk penyusunannya). Dengan pengaturan ini, pemangku kepentingan
Kemitraan Publik Swasta akan melakukan diskusi lebih lanjut untuk menentukan pihak-pihak
yang akan bertanggung jawab atas pembebasan lahan dan pemukiman kembali.

80
6.5 Analisis Kesenjangan
22. Bagian 3.4 dari ESMF menyajikan perbandingan fitur-fitur utama antara Undang-undang dan
Peraturan Pemerintah Indonesia mengenai Pembebasan Lahan dan Pemukiman Kembali
termasuk persyaratan khusus untuk Masyarakat Adat, dan bagaimana hal tersebut ditangani
dalam RPF.

6.6 Proses untuk Penyusuan dan Penyetujuan Rencana Aksi Pembebasan


Lahan dan Pemukiman Kembali
23. Bergantung pada hasil ESIA, LARAP akan dipersiapkan bila akan ada pengambilalihan lahan
dan/atau pemukiman kembali dan/atau pembatasan akses terhadap sumber daya secara paksa.
Subpeminjam akan menyiapkan LARAP sesuai dengan ketentuan OP 4.12 Bank dan sistem
negara. Implementasi LARAP memerlukan persetujuan terlebih dahulu dari Bank. Subbab
berikut menguraikan unsur-unsur yang dibutuhkan untuk menyiapkan LARAP. Format untuk
LARAP Sederhana berada pada Lampiran L; LARAP lengkap tersedia pada Lampiran K.

6.6.1 Informasi yang Diperlukan untuk Akuisisi Paksa


24. Subpeminjam akan terlebih dahulu memberikan dokumentasi mengenai kebutuhan
pembebasan lahan (termasuk lahan yang akan dibutuhkan untuk proyek di masa depan).
Informasi akan mencakup lahan apa yang dibutuhkan, di mana, dan apa kepemilikan lahan dan
penggunaan lahan yang ada. Spesialis sosial PT SMI akan meninjau ulang dokumen dan
menentukan solusi jika ada keadaan yang akan membahayakan kepatuhan terhadap OP 4.12.
Jika demikian, informasi tambahan dan tindakan yang sesuai mungkin diperlukan oleh Tim
Upaya Perlindungan.

25. Subpeminjam kemudian akan menggunakan format pelaporan terlampir (LARAP Sederhana
pada Lampiran L atau LARAP lengkap padai Lampiran K) untuk mencakup hal-hal berikut:

(a) Penilaian dampak sementara dan permanen dari pembebasan lahan atau pengambilalihan,
dan kategori orang/rumah tangga yang terkena dampak, jumlah bidang tanah yang terkena
dampak, persentase lahan/ bidang tanah yang terkena dampak dalam pemilikan tanah,
penggunaan lahan sebelum dan sesudah akuisisi, tanah penggunaan sebelumnya dan jumlah
pemilik.

(b) Dokumentasi situasi sosioekonomi rumah tangga yang terkena dampak, seperti aliran
pendapatan dan persentase pendapatan yang diperoleh dari lahan yang diakuisisi sesuai
dengan persyaratan kebijakan upaya perlindungan WB. Tujuannya adalah untuk memahami
dampak buruk pada penghidupan orang-orang terlantar dan memberikan langkah-langkah
restorasi untuk mengkompensasi kerugian pendapatan mereka.

81
(c) Standar kompensasi yang diterapkan untuk kerugian sementara dan permanen atas tanah,
kehilangan tanaman pangan, hilangnya pohon produktif, kehilangan tempat tinggal dan
bisnis (mendokumentasikan nilai yang setara dengan biaya penggantian penuh),

(d) Hasil keputusan pengadilan, jika ada,

(e) Penyisihan untuk penggantian tanah, jika relevan, dan,

(f) Penyediaan dokumentasi untuk kelompok rentan, penanganan keluhan dan pemantauan.

26. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2/12, Rencana Pembebasan Lahan
dalam Dokumen Kepentingan Umum (Public Interest Document) yang disiapkan dalam bentuk
dokumen perencanaan pembebasan lahan harus mencakup: (a) tujuan rencana pembangunan;
(b) konsistensi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Rencana Pembangunan
Nasional/Daerah; (c) lokasi tanah; (d) ukuran lahan yang dibutuhkan; (e) uraian status tanah
(legal dan fisik); (f) perkiraan masa pembebasan lahan; (g) perkiraan masa pelaksanaan
konstruksi; (h) perkiraan nilai tanah; (i) rencana anggaran; dan (j) bahwa Rencana tersebut
dibuat berdasarkan studi kelayakan yang disiapkan sesuai dengan peraturan perundangan.

6.6.2 Informasi yang Diperlukan untuk Akuisisi Tanah Publik


27. OP4.12 juga berlaku dimana tanah publik (tanah milik pemerintah Indonesia atau pemerintah
daerah) dibeli, dipindahkan, disewa atau digunakan secara tidak resmi/sementara oleh
Subpeminjam. Ini juga termasuk berbagai kemudahan. Sementara transaksi tanah mungkin
bersifat 'sukarela' oleh instansi Pemerintah, mungkin ada pihak ketiga yang menggunakan lahan
(penyewa, pengguna lahan informal, penghuni liar, dan lain-lain) yang akan terkena pemukiman
kembali paksa.

28. Dalam hal ini, subpeminjam akan menyerahkan Ringkasan Pemeriksaan Dampak Sosial (Social
Impact Screening Summary) ke PT SMI. Subpeminjam akan mendokumentasikan mekanisme
transfer, jumlah lahan, apakah lahan tengah digunakan dan untuk tujuan apa, jumlah, nama,
jenis kelamin dan status pengguna lahan (misalnya Penyewa dan pengguna informal).

29. Untuk setiap subproyek yang memerlukan pemukiman kembali paksa pihak ketiga dari lahan
publik, subpeminjam akan menyiapkan LARAP, dan menyerahkan kepada PT SMI untuk
mendapatkan persetujuan sebelum pelaksanaan pembebasan lahan dan pemukiman kembali.
LARAP akan mencakup deskripsi rinci tentang perencanaan pemukiman kembali dan
implementasi sesuai dengan OP 4.12 Bank Dunia. Lingkup dan tingkat rincian LARAP akan
bervariasi sesuai dengan besarnya dan kompleksitas masalah pembebasan lahan dan
kompensasi. Rencana tersebut akan menunjukkan jumlah dan kepemilikan paket yang akan
diperoleh atau bergantung pada sewa atau kemudahan, jumlah paket yang terkena dampak,
taksiran biaya tanah dan aset lain yang diakuisisi atau bergantung pada akuisisi, tanggung jawab

82
eksekusi dan jadwal akuisisi Bank Dunia dan PT SMI akan meninjau dan memastikan kesesuaian
proses pembebasan lahan dan pemukiman kembali dengan OP4.12.

30. Setelah LARAP disetujui oleh PT SMI dan Bank Dunia, akan dipublikasikan secara lokal di lokasi
subproyek dan di situs web PT SMI dan subpeminjam.

31. Subpeminjam akan bertanggung jawab atas pelaksanaan LARAP, termasuk seluruh dukungan
dan hak yang harus dibayar.

32. PT SMI dan Bank Dunia akan mengawasi pelaksanaan dan memastikan bahwa seluruh aktivitas
sepenuhnya sesuai dengan LARAP dan memberikan pemantauan dan pelaporan yang memadai.
Sebagai bagian dari pelaksanaan LARAP, subpeminjam akan memberikan laporan kegiatan
pembebasan lahan triwulan ke Bank Dunia dan PT SMI, sebagai bagian dari keseluruhan laporan
kemajuan proyek. Laporan tersebut akan menunjukkan jumlah dan kepemilikan paket-paket
yang terkena dampak dan status paket-paket tersebut saat ini, kemajuan negosiasi dan
permintaan banding, dan harga yang ditawarkan dan yang akhirnya dibayar (dilaporkan sebagai
jumlah meter persegi dari keseluruhan bidang tanah asli dan luas area tertentu yang diperoleh,
dan jumlah per meter persegi). Di akhir proyek dan sebagai bagian dari laporan penyelesaian
proyek, subpeminjam akan memberikan audit tuntas kepada PT SMI dan Bank Dunia.

33. PT SMI dan Bank Dunia mengawasi pelaksanaan LARAP untuk memastikan kepatuhan terhadap
OP 4.12. Jika perlu, dapat menghubungi pihak yang terkena dampak untuk memastikan
keabsahan dan menentukan apakah proses dan hasilnya (outcome) telah sesuai dengan OP/BP
4.12.

34. Subpeminjam di bawah window Publik/BUMN harus melanjutkan pembentukan tim


pembebasan tanah berdasarkan instruksi Gubernur di bawah ini:

(a) Pemberitahuan rencana pembangunan;

(b) Identifikasi rencana pembangunan;

(c) Melakukan konsultasi publik mengenai rencana pembangunan;

(d) Pengumuman Penetapan Lokasi Pembangunan);

(e) Publikasi Penentuan Pembangunan (untuk dicetak dan ditempatkan di Kantor Kelurahan),
dan mengumumkannya di media cetak/elektronik setempat.

35. Untuk pembebasan lahan dengan menggunakan pendekatan willing-seller dan willing-buyer,
subpeminjam akan mendokumentasikan persiapan dan pelaksanaan pembebasan lahan yang
akan mencakup, paling tidak: daftar pemilik lahan yang terkena dampak dan luas tanah yang

83
diperoleh, prosedur untuk menentukan nilai aset, notulen konsultasi dan negosiasi dan
nilai/tingkat kompensasi yang ditawarkan kepada pemilik lahan yang terkena dampak.

6.6.3 Tanggal Batas Akhir dan Kriteria Kelayakan untuk Orang-orang yang Terkena Dampak
36. Untuk tujuan kerangka kerja ini, kelayakan untuk Orang-orang yang Terkena Dampak Proyek
akan mencakup:

(a) orang atau rumah tangga yang terpengaruh oleh perolehan aset atau perubahan
penggunaan lahan karena kegiatan eksplorasi;

(b) orang yang rentan dan terkena dampak termasuk wanita, orang kurang berada, pengrajin,
komunitas kesukuan, penghuni liar,

(c) mereka yang memiliki hak menikmati hasil (usufruct), kelompok kurang mampu yang
tergantung pada penghidupan di atas tanah yang akan diakuisisi oleh proyek; dan

(d) orang lain yang dapat membuktikan dan menetapkan haknya sebagai orang yang terkena
dampak kepada subpeminjam.

37. Tanggal batas akhir kelayakan untuk kompensasi dan/atau bantuan pemukiman kembali adalah
hari terakhir selama sensus/inventarisasi aset. Orang-orang/masyarakat yang terkena dampak
akan diberi tahu tentang tanggal batas akhir melalui agen yang bertanggung jawab, tetua
masyarakat dan pemimpin masyarakat. Individu atau kelompok yang tidak hadir pada saat
pendaftaran, tetapi yang memiliki klaim sah atas keanggotaan dalam masyarakat yang terkena
dampak dapat diakomodasi.

38. Berdasarkan sistem negara, tanggal batas akhir ditentukan pada tahap pelaksanaan setelah
verifikasi kelayakan dilakukan (lihat Bagian 6.7). Badan Pertanahan tingkat provinsi (BPN) akan
bertanggung jawab atas kegiatan tahap implementasi, yang memiliki kewenangan untuk
mendelegasikan ke tingkat kabupaten. Sebelum tanggal batas akhir, Kantor Pertanahan akan
melakukan langkah-langkah berikut:

(a) Membentuk tim pelaksana, termasuk di tingkat lokal;;

(b) Inventarisasi, identifikasi dan pengungkapan hasil;

(c) Mengarsipkan keberatan dan verifikasi.

6.6.4 Bukti Kelayakan


39. Subpeminjam yang bertanggung jawab atas pembebasan tanah akan mempertimbangkan
berbagai bentuk bukti sebagai bukti kelayakan bagi orang-orang yang terkena dampak
sebagaimana tercantum dalam RPF, misalnya hak hukum formal, seperti sertifikat pendaftaran
hak atas tanah, surat perjanjian sewa, tanda terima sewa, izin bangunan dan perencanaan, izin
84
usaha, dan bukti tagihan rekening; atau pengganti dokumentasi formal, sebuah pernyataan
tertulis yang ditandatangani oleh pemilik tanah dan penyewa yang disaksikan oleh otoritas
administratif. Kriteria untuk menetapkan klaim kelayakan tanpa dokumentasi akan ditentukan
berdasarkan kasus per kasus.

40. Orang-orang yang terkena dampak proyek yang dicantumkan selama sensus inventaris aset
harus memenuhi syarat untuk mendapatkan kompensasi atau bantuan tambahan. Setiap
struktur baru atau penambahan struktur yang telah ada yang dilakukan setelah tanggal batas
akhir tidak akan dianggap terkena dampak, dan pemilik atau penghuninya tidak dapat
mengklaim kompensasi atau bantuan tambahan untuk ini, kecuali jika mereka dapat
menunjukkan bahwa sensus inventarisasi aset telah gagal untuk mengidentifikasi mereka
sebagai yang terkena dampak.

6.6.5 Kebijakan Hak Guna


41. Kebijakan upaya perlindungan Bank Dunia mensyaratkan bahwa kompensasi dibayarkan
dengan nilai pengganti disamping bantuan transisi. Tanah diganti dengan nilai dan fasilitas yang
sama. Aset mata pencaharian diganti dengan nilai setara. Berbagi manfaat terjamin melalui
mekanisme dukungan tambahan jika memungkinkan.

42. Orang-orang yang Terkena Dampak Proyek berhak atas kompensasi nilai, rehabilitasi, dan
dukungan pemukiman kembali sebagai berikut:

Tabel 6 Matriks Hak Guna RPF


Jenis Kerugian Kategori Orang yang Terkena Dampak Pemberian Hak Kompensasi
Proyek

Kerugian lahan Pemilik: Orang/ kelompok yang memiliki Biaya penggantian dan tunjangan relokasi
pertanian permanen pendaftaran/hak legal kepemilikan tanah penuh.
(termasuk hak adat dan hak tradisional
menurut hukum Indonesia)
Penyewa Kompensasi tunai untuk aset di atas tanah
dan tunjangan relokasi.
Perjanjian pemilik/penyewa berlaku.

Perambah/pengguna lahan resmi atau liar Kompensasi tunai untuk aset di atas tanah
dan tunjangan relokasi

Kerugian lahan Pemilik: Orang/ kelompok yang memiliki Biaya penggantian dan tunjangan relokasi
residensial permanen pendaftaran/hak legal kepemilikan tanah penuh.
(termasuk hak adat dan hak tradisional
menurut hukum Indonesia)
Penyewa Tunjangan relokasi

Perambah/pengguna lahan resmi atau liar Tunjangan relokasi

Kerugian lahan Pemilik: Orang/ kelompok yang memiliki Biaya penggantian dan tunjangan relokasi
komersial permanen pendaftaran/hak legal kepemilikan tanah penuh serta ganti rugi untuk kehilangan
(termasuk hak adat dan hak tradisional pendapatan sementara

85
Jenis Kerugian Kategori Orang yang Terkena Dampak Pemberian Hak Kompensasi
Proyek

menurut hukum Indonesia)

Penyewa Tunjangan relokasi, kompensasi untuk


Perambah/pengguna lahan resmi atau liar kehilangan pendapatan sementara

Kerugian lahan Pemilik: Orang/ kelompok yang memiliki Kompensasi tunai untuk sewa, atau,
sementara pendaftaran/hak legal kepemilikan tanah rehabilitasi bidang tanah yang setara dengan
(termasuk hak adat dan hak tradisional 1/10 dari nilai pasar tanah.
menurut hukum Indonesia)

Penyewa Kompensasi tunai lump sum yang setara


Perambah/pengguna lahan resmi atau liar dengan 1/10 dari nilai pasar tanah, dibagi
antar pengguna lahan sesuai proporsi.

Kerugian lahan Pemilik: Orang/ kelompok yang memiliki Kompensasi tunai untuk bangunan
residensial pendaftaran/hak legal kepemilikan residensial dengan nilai pengganti
berdasarkan harga pasar bebas dari
biaya penyusutan/transaksi dan bahan yang
tersisa ditambah tunjangan relokasi
Dampak parsial akan memerlukan
kompensasi bagian bangunan yang
terpengaruh dan perbaikan untuk
mengembalikan ke setidaknya standar
praproyek.
Penyewa/penghuni liar di bangunan tempat Relokasi dan tunjangan atas dampak parah
tinggal yang diidentifikasi dalam sensus seperti di bawah ini.

Kerugian Pemilik aset/bangunan komersial atau Kompensasi tunai untuk bangunan


aset/bangunan nonresidensial dengan pendaftaran atau nonhunian dan
komersial dan yang diidentifikasi dalam aktiva tetap lainnya dengan nilai pengganti
berdasarkan
nonresidensial sensus
harga pasar bebas dari biaya
penyusutan/transaksi dan bahan yang tersisa
ditambah tunjangan relokasi.
Dampak parsial akan memerlukan
kompensasi dari bagian bangunan yang
terpengaruh ditambah perbaikan.
Penyewa/penghuni liar dalam Relokasi dan tunjangan atas dampak parah
aset/bangunan komersial atau seperti di bawah ini.
nonresidensial yang diidentifikasi dalam
sensus
Kehilangan hasil panen Pemilik hasil panen Pemberitahuan di muka untuk memanen
panen terakhir
Kompensasi tunai setara dengan nilai pasar
tanaman yang hilang ditambah biaya
penggantian benih berdasarkan perkiraan
Departemen Pertanian.
Kehilangan pohon Pemilik pohon Pemberitahuan lanjutan untuk memanen
produk pohon. Bahan yang tersisa bebas
biaya.
Kompensasi tunai setara dengan nilai pasar
pohon yang hilang ditambah biaya
penggantian benih berdasarkan perkiraan
Departemen Pertanian dengan
86
Jenis Kerugian Kategori Orang yang Terkena Dampak Pemberian Hak Kompensasi
Proyek

mempertimbangkan jenis, usia dan nilai


produktif.
Kehilangan Semua orang dan pendapatan (pekerjaan, Untuk dampak permanen, kompensasi tunai
pendapatan bisnis) yang terkena dampak proyek berupa pendapatan bisnis bersih atau gaji
satu tahun.
Untuk dampak sementara, kompensasi tunai
berupa penghasilan bersih atau gaji untuk
jumlah bulan usaha atau penghentian
pekerjaan untuk jangka waktu sampai 1
tahun.
Penilaian berdasarkan bukti di atas kertas
atau kesaksian lisan dan konfirmasi Kepala
Desa. Paling tidak pemerintah menetapkan
gaji minimum yang akan diberikan.
Kerugian struktur Publik melalui kepemimpinan otoritas yang Rekonstruksi struktur yang hilang
masyarakat atau relevan dikonsultasikan dengan masyarakat. Akan
infrastruktur publik sepenuhnya diganti atau direhabilitasi
sehingga memenuhi fungsi praproyek,
(termasuk struktur
dengan mempertimbangkan setiap
pelayanan keagamaan kebutuhan baru yang didapati yang dapat
dan pelayanan publik) meningkatkan tingkat penggunaan atau
layanan.
Tunjangan untuk Semua orang yang terkena dampak proyek Untuk dampak lahan yang parah, tunjangan
dampak yang berat yang parah termasuk pemukim informal dan tambahan sama dengan nilai pasar tanah
penyewa yang direlokasi selama satu tahun.
Bagi mereka yang direlokasi, tunjangan
Bantuan rehabilitasi
rehabilitasi setara dengan gaji tahunan rata-
untuk orang-orang rata selama enam bulan.
yang terkena dampak
proyek, dengan lebih
dari 10 persen
kepemilikan lahan
terpengaruh atau
dipindahkan

Tunjangan untuk Semua Orang yang Terkena Dampak Proyek Penyediaan dana untuk menutupi biaya
relokasi transportasi dan biaya mata pencaharian
(biaya transportasi dan dengan gaji tahunan rata-rata selama satu
bulan.
transisi)

Allowance Terutama mereka yang rentan, termasuk Tunjangan setara dengan gaji tahunan rata-
forespeciallyvulnerable rumah tangga yang dikepalai oleh orang tua rata selama enam bulan 6 dan prioritas
People tunggal, wanita atau janda; termasuk wanita pekerjaan untuk anggota keluarga rumah
hamil atau wanita dengan anak yang baru tangga dalam pekerjaan yang berkaitan
Tunjangan terutama lahir; memiliki lebih dari enam anak sebagai dengan proyek.
tanggungan; serta memiliki anggota
untuk orang-orang
keluarga yang cacat, yang menderita
yang rentan
penyakit jangka panjang (termasuk penyakit
jiwa), atau yang memiliki tantangan
mobilitas.
Dampak yang tidak Akan didokumentasikan dan dimitigasi atau
terduga dikompensasi dalam LARAP, berdasarkan
prinsip-prinsip dalam RPF ini.
87
Jenis Kerugian Kategori Orang yang Terkena Dampak Pemberian Hak Kompensasi
Proyek

6.7 Lahan Pemukiman yang Dirembukkan/Transaksi Sukarela


43. Negosiasi pembebasan lahan, atau transaksi sukarela, akan menjadi metode yang lebih disukai
untuk memperoleh tanah. Lokasi pengeboran, dan infrastruktur pendukung seperti jalan akses,
fleksibel sampai titik tertentu, oleh karena itu, dapat ada beberapa negosiasi mengenai lokasi
mana yang dipilih berdasarkan kesediaan pemilik lahan untuk menjual atau menyewakan
tanah.

44. Subpeminjam akan menerapkan prinsip-prinsip berikut untuk negosiasi pembebasan


lahan/transaksi sukarela bagi tahap pengeboran eksplorasi:

- Konsultasi yang baik dengan Orang-orang yang Terkena Dampak Proyek, termasuk
mereka yang tidak memiliki hak legal atas tanah dan aset;

- Penawaran harga yang sewajarnya untuk tanah dan aset lainnya sebagai biaya
penggantian. Pengurangan pajak penghasilan untuk transaksi tanah akan
dikomunikasikan secara terbuka dengan dan disetujui oleh Orang-orang yang Terkena
Dampak Proyek;

- Transparansi dalam negosiasi bebas dari tekanan dan pemaksaan dengan Orang-orang
yang Terkena Dampak Proyek untuk mengurangi risiko asimetri informasi dan daya
tawar para pihak. Pihak eksternal yang independen akan dilibatkan untuk
mendokumentasikan dan memvalidasi proses negosiasi dan penyelesaian. Verifikasi
(misalnya, pernyataan yang diaktakan atau disaksikan) tentang sifat sukarela dari
sumbangan tanah harus diperoleh dari setiap orang yang menjual atau menyewakan
tanah.

45. Berdasarkan sistem negara, akuisisi atas nama entitas Pemerintah Indonesia untuk lahan seluas
sampai 5 ha dapat dilakukan melalui mekanisme willing seller-willing buyer. Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata Bab 1458 tentang Jual-Beli menjelaskan prinsip-prinsip dan
menguraikan kewajiban dan tanggung jawab pembeli dan penjual. Berdasarkan Undang-
undang ini, mekanisme tersebut memiliki karakter wajib, dimana hak yang melekat pada tanah
atau aset yang dijual tidak secara otomatis dialihkan ke pembeli. Tidak seperti transaksi tanah
yang dilakukan berdasarkan hukum adat, transaksi semacam itu masih memerlukan pengalihan
hak kepemilikan tanah. Pendaftaran tanah adalah prasyarat untuk transfer tanah dalam
pembebasan tanah yang dinegosiasikan atau mekanisme willing buyer-willing seller.

88
46. Peraturan Kepala Nasional Biro Pertanahan Nasional Nomor 5/2012 menetapkan prosedur
pendaftaran tanah. Peraturan ini menguraikan persyaratan untuk proses pendaftaran dan
akuisisi lahan, dan menetapkan: (i) langkah-langkah untuk penskalaan dan pemetaan koordinat
lahan dan prosedur survei yang diterima, (ii) peraturan yang berkaitan dengan penilaian dalam
pasar tanah, (iii) dokumentasi yang diperlukan, (iv ) publikasi resmi klaim dan hak atas tanah, (v)
mekanisme keberatan, (vi) prosedur verifikasi hak atas tanah, dan (vii) penerbitan sertifikat
tanah.

47. Namun, penilaian aset yang terkena dampak di bawah lingkup GREM akan mengikuti prosedur
sebagaimana ditentukan oleh Undang-undang Nomor 2 tahun 2012 dan peraturan pendukung,
dimana penilaian kompensasi harus dilakukan oleh "... Penilai Independen dan Profesional yang
memiliki lisensi dari Kementerian Keuangan sebagai Penilai Publik dan terdaftar di Biro
Pertanahan Nasional (BPN) ". Indonesian Society of Appraisers (MAPPI) mengeluarkan Standar
Penilaian (SPI) 306, Penilaian dalam Konteks Pembebasan Lahan untuk Pembangunan bagi
Kepentingan Umum, untuk mendukung pelaksanaan Undang-Undang Nomor 2 tahun 2012.
Standar Penilaian 306 memiliki prinsip yang sama dengan Undang-Undang , yang mendasarkan
penentuan jumlah kompensasi atas asas "kemanusiaan, keadilan, kegunaan, kepastian,
transparansi, kesepakatan, partisipasi, kesejahteraan, keselarasan dan keberlanjutan.”

48. Nilai Penggantian Wajar adalah nilai kepemilikan, yang sama dengan nilai pasar suatu properti,
dengan memperhatikan unsur-unsur seperti kehilangan kepemilikan no fisik akibat
pembebasan lahan. Definisi Nilai Penggantian Adil sama dengan definisi kompensasi dalam UU
Nomor 2 tahun 2012.

49. Lingkup Penilaian terdiri dari komponen fisik dan nonfisik. Komponen fisik yang akan
dikompensasikan meliputi: a) tanah; b) ruang di atas dan di bawah tanah; c) bangunan; dan d)
kelengkapan dan fasilitas pendukung bangunan. Komponen nonfisik yang harus
dikompensasikan meliputi:

- Pelepasan hak pemilik lahan, untuk diberikan sebagai premi dalam bentuk uang
berdasarkan undang-undang yang ada. Substitusi dapat mencakup hal-hal yang
berkaitan dengan: a) kehilangan pekerjaan atau kehilangan bisnis, termasuk perubahan
profesi (sehubungan dengan UU Nomor 2 tahun 2012 Pasal 33 huruf f Penjelasan); b)
Kerugian emosional yang terkait dengan hilangnya tempat tinggal akibat pembebasan
lahan (dengan memperhatikan Undang-undang Nomor 2 tahun 2012 Pasal 1 Ayat 10,
Penjelasan Pasal 2 dan Pasal 9 Ayat 2).

- Biaya transaksi, seperti biaya pindah dan pajak yang sesuai.

- Kompensasi untuk masa tunggu, yaitu pembayaran untuk menghitung selisih waktu
antara tanggal penilaian dan taksiran tanggal pembayaran.

89
- Hilangnya nilai sisa lahan, yang bisa dihitung atas seluruh nilai tanah jika tidak dapat
digunakan sebagaimana mestinya.

- Kerusakan fisik dan biaya perbaikan untuk bangunan dan struktur di atas tanah, jika ada,
sebagai akibat pembebasan lahan.

6.8 Pembatasan Paksa untuk Akses ke Taman dan Kawasan yang Dilindungi
Secara Hukum
50. Kegiatan eksplorasi dapat membatasi akses ke taman dan kawasan lindung yang ditunjuk secara
legal, dengan cara yang dapat berdampak negatif pada pendapatan dan penghidupan. Hal ini
harus dihindari bila dimungkinkan oleh disain dan pengoperasian kegiatan pengeboran (lokasi
sumur dan jalan akses) atau meminimalkan dampaknya (seperti meminimalkan waktu
pembatasan yang tengah berlaku).

51. Proses penyaringan akan mengidentifikasi potensi dampak. Bila pembatasan paksa tidak dapat
dihindari, dampaknya akan dikelola dengan cara yang sama seperti 'pengambilalihan lahan
secara paksa’, dan ketentuan RPF akan berlaku. LARAP akan disusun untuk mengidentifikasi
Orang-orang yang Terkena Dampak Proyek dan hak mereka, sesuai dengan Bagian 6.6.

6.9 Verifikasi Independen


52. PT SMI akan melibatkan lembaga pemantau independen untuk memantau seluruh pembebasan
lahan agar sesuai dengan ESMF dan RPF. Lembaga tersebut akan mengaudit dokumentasi dan
mewawancarai pemilik lahan dan pengguna lahan/sumber daya yang terkena dampak untuk
memverifikasi proses dan hasilnya. Setiap ketidaksesuaian atau ketidakpatuhan akan menjadi
perhatian PT SMI dan akan dicatat sebagai keluhan dalam mekanisme penanganan keluhan
untuk penyelesaian melalui proses tersebut. PT SMI akan menyertakan prosedur pemantauan
dan verifikasi independen, serta proses penyelesaiannya,

53. Bila sebuah subproyek mengarah ke pembatasan akses secara paksa ke taman dan kawasan
lindung yang ditetapkan secara hukum sehingga menimbulkan dampak buruk dari penghidupan
orang-orang yang kehilangan tempat tinggal, sebuah rencana tindakan sebagai hasil dari
kerangka kerja proses (berdasarkan LARAP Sederhana) akan disiapkan oleh subpeminjam.

90
7 KERANGKA PERENCANAAN MASYARAKAT ADAT (IPPF)
7.1 Tujuan dan Prinsip
54. IPPF ini akan diterapkan bila Masyarakat Adat (IP) berada di area of influence subproyek
sebagaimana diidentifikasi selama proses skrining sosial dan lingkungan atau sesudahnya
selama ESIA. Subpeminjam bertanggung jawab untuk menerapkan tindakan-tindakan yang
diperlukan untuk memenuhi persyaratan yang diuraikan oleh kerangka kerja ini.

55. Tidak ada definisi Masyarakat Adat yang diterima secara universal. Masyarakat Adat dapat
disebut oleh beberapa negara dengan istilah-istilah seperti: minoritas etnis adat, aborigin, suku
pegunungan, kebangsaan minoritas, suku terjadwal (scheduled tribes), negara pertama, atau
kelompok kesukuan (dikenal di Indonesia sebagai Masyarakat Adat (Komunitas Adat Terisolasi)
atau Masyarakat Hukum Adat).

56. Pemerintah Indonesia mendefinisikan masyarakat adat sebagai Masyarakat Hukum Adat .
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52/2014 tentang Pedoman Pengakuan dan
Perlindungan Masyarakat Adat Mendefinisikan MHA sebagai Komunitas Masyarakat Adat yang
adalah warga negara Indonesia yang memiliki karakteristik khas, hidup harmonis sesuai dengan
hukum adat mereka, memiliki ikatan dengan asal-usul leluhur dan atau kesamaan tempat
tinggal. Terdapat hubungan yang kuat dengan tanah dan lingkungan, serta sistem nilai yang
menentukan ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum dan pemanfaatan satu bidang tertentu
dari generasi ke generasi.

57. Istilah "masyarakat adat dan suku", "etnis minoritas" dan "kelompok kesukuan",
menggambarkan kelompok sosial dengan identitas sosial dan budaya yang berbeda dari
masyarakat dominan yang membuat mereka rentan terhadap kerugian dalam proses
pembangunan. Untuk tujuan ini, "masyarakat adat dan suku" adalah istilah yang digunakan
untuk merujuk kelompok-kelompok ini.

Masyarakat adat dan suku biasanya merupakan segmen penduduk termiskin. Menurut kebijakan Bank
Dunia, istilah " Masyarakat Adat" digunakan dalam pengertian umum untuk merujuk pada berbagai
kelompok yang berbeda serta karakteristik sosial dan budaya yang rentan dalam berbagai tingkat
sebagai berikut:
(a) Identifikasi diri sebagai anggota kelompok budaya adat yang berbeda dan pengakuan
identitas ini oleh pihak lain;
(b) Keterikatan kolektif dengan habitat atau wilayah leluhur yang secara geografis berbeda di
wilayah proyek dan/atau sumber daya alam dalam habitat dan wilayah ini;
(c) Institusi budaya, ekonomi, sosial, atau politik adat yang terpisah dari masyarakat atau
budaya dominan;
(d) Bahasa asli, seringkali berbeda dengan bahasa resmi negara atau wilayah.

91
Untuk tujuan Kerangka ini, definisi masyarakat adat dan suku akan mengikuti kriteria Bank Dunia
dan peraturan nasional.

7.2 Undang-undang dan Peraturan Indonesia Terkait Perlindungan


Masyarakat Adat
58. Saat Masyarakat Adat hadir dan terkena dampak proyek, proyek harus memberi manfaat dan
kebutuhan untuk mengelola dampak buruk pada Masyarakat Adat. Kebijakan nasional
Indonesia tentang Masyarakat Adat meliputi: (1) Keputusan Presiden (Keppres) No. 111/1999
tentang Pengembangan Komunitas Adat Terisolasi (KAT), yang member definisi luas bagi
Masyarakat Adat dan kebutuhan akan bantuan pemerintah; dan (2) Undang-Undang Nomor 41
Tahun 1999 tentang Hukum kehutanan yang mendefinisikan hutan adat10.

59. Undang-undang dan peraturan lain yang terkait dengan Masyarakat Adat adalah: UUD 1945
(Amandemen) Bab 18 Pasal # 2 dan Bab 281 Klausul # 3. Keberadaan masyarakat adat diakui
dalam Konstitusi Pasal 18 dan Nota Penjelasannya. Dinyatakan bahwa dalam mengatur wilayah
pemerintahan sendiri dan masyarakat adat, pemerintah perlu menghormati hak leluhur dari
wilayah-wilayah tersebut. Setelah amandemen, pengakuan atas keberadaan masyarakat adat
diberikan dalam Pasal 18 B Ayat. 2 (tentang "masyarakat hukum adat" dan pemerintah daerah)
dan Pasal 28 I Ayat. 3 ("masyarakat adat" dan hak asasi manusia).

60. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Agraria (atau UU
Pokok Agraria/UUPA). Pasal 2 Ayat. 4, Pasal 3, dan Pasal 5 memberikan asas umum yang
mengakomodasi pengakuan masyarakat adat, hak ulayat, dan hukum adat. Dalam
perkembangan selanjutnya, pengakuan UUPA terhadap hukum adat terkait dengan
"kepentingan nasional”.

61. Undang-undang Kehutanan (Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967 dan Undang-Undang Nomor
41 Tahun 1999). Undang-undang tersebut membagi kawasan hutan menjadi dua kategori:
hutan negara dan hutan hak milik. Hutan negara adalah hutan yang tumbuh di atas tanah yang
tidak dilindungi hak kepemilikan. Kategori hutan negara juga mencakup ulayat, atau hutan adat.
Hutan hak milik adalah hutan yang tumbuh di lahan yang dilindungi hak kepemilikan. Dengan
memasukkan hutan ulayat sebagai hutan negara, UU tersebut mengabaikan hak ulayat
masyarakat adat atas wilayah hutan mereka.

10Salah satu perubahan mendasar yang terkait dengan Masyarakat Adat adalah dikeluarkannya Putusan MK No. 35/PUU-
X/2012yang mengubah Pasal 1 ayat 6 UU No. 41/1999 tentang Kehutanan, yang kini telah menjadi "hutan adat adalah hutan
yang terletak di dalam wilayah masyarakat adat ". Sebelumnya, ada sepatah kata "negara" dalam pasal tersebut. Dengan
penghapusan kata "negara" dari definisi, sekarang dipahami bahwa hutan adat kini bukan lagi hutan Negara.

92
62. Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/ 2012 menetapkan ambiguitas utama dalam Pasal
1 Undang-Undang Kehutanan No. 41 tahun 1999 dan secara formal mengakui bahwa hutan
adat adalah hutan negara yang berada di wilayah masyarakat adat. Pasal 5 UU yang sama
direvisi untuk mengamanatkan bahwa kategori hutan negara tidak mencakup hutan adat.
Keputusan tersebut dibuat untuk mengajukan petisi yang diajukan oleh Aliansi Masyarakat Adat
Nusantara (AMAN) Indonesia pada bulan Maret 2012.11

63. Peraturan Menteri Dalam Negeri (MOHA) Nomor 52 tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan
dan Perlindungan Masyarakat Adat dapat digunakan sebagai referensi bagi pemerintah daerah
mengenai masyarakat adat. Bupati/Walikota dapat membentuk komite Masyarakat Adat di
kabupaten/kota, yang berperan mengidentifikasi, memverifikasi dan memvalidasi Masyarakat
Adat. Hasil verifikasi dan validasi, kemudian diserahkan ke daerah kepala. Bupati/Walikota
dapat menerbitkan keputusan tentang pengakuan dan perlindungan Masyarakat Adat
berdasarkan rekomendasi komite.

64. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor .62/Menhut-II/2013 (penyesuaian Peraturan Menteri


Kehutanan Nomor P.44/2012) tentang Pembentukan Kawasan Hutan. Peraturan Kemenhut ini
dikritik oleh AMAN karena menyamakan kawasan hutan dengan hutan negara, yang menurut
mereka bertentangan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi 35/PUU-X/2012.

65. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri (Depdagri), Menteri Kehutanan, Menteri Pekerjaan
Umum dan Biro Pertanahan Nasional Nomor 79/2014; No: PB.3/Menhut-11/2014; No:
17/PRT/m/2014: No: 8/SKB/X/2014 tentang Tata Cara Penyelesaian Konflik Kepemilikan Tanah
di Kawasan Hutan. Peraturan ini mengakui bahwa ada hak lain seperti hak adat atas lahan
hutan.

66. Peraturan Menteri Badan Pertanahan dan Tata Ruang Nomor 9/2015 tentang Tata Cara untuk
Membentuk Hak Komunal Tanah di Tanah MHA dan Komunitas yang Tinggal di Kawasan
Istimewa. Peraturan ini mengatur hak komunal tidak hanya Komunitas Hukum Adat, tapi juga
kelompok orang lain yang tinggal dan tergantung di wilayah lahan yang sama. Komunitas
Hukum Adat adalah sebuah komunitas yang terikat oleh hukum adat, baik secara genealogis
(nenek moyang) dan secara teritorial (tempat tinggal serupa). Komunitas ini memiliki ikatan
sosiokultural dengan tanah dan sumber dayanya untuk waktu yang lama. Sedangkan "orang-
orang di daerah tertentu" adalah orang-orang yang menguasai tanah selama paling sedikit 10
tahun, yang bergantung pada produk kehutanan dan sumber daya alam, dan kegiatan sosial

11Pada tahun 1999, kongres nasional masyarakat adat Indonesia digelar, dihadiri oleh lebih dari 200 perwakilan masyarakat
adat dari 121 masyarakat adat. Kongres sepakat untuk membentuk aliansi nasional masyarakat adat, AMAN. Pada tahun 2001,
AMAN memiliki 24 organisasi yang terafiliasi di kepulauan dan provinsi. Aliansi ini memiliki sejumlah tujuan, termasuk
pemulihan kedaulatan kepada masyarakat adat terkait hukum sosial budaya dan kehidupan budaya mereka, serta kendali atas
tanah dan sumber daya alam serta mata pencaharian lainnya.

93
ekonomi yang ada terkait erat dengan daerah tersebut. Hak komunal yang diatur dalam
Peraturan Nomor 9/2015 sifatnya kontroversial, karena tidak membedakan sumber legitimasi
hak tanah komunal antara yang berdasarkan keanggotaan Masyarakat Hukum Adat versus
penggunaan lahan dan kepemilikan wilayah oleh orang lain yang bukan termasuk Komunitas
untuk jangka waktu yang panjang. Akibatnya, peraturan tersebut menimbulkan masalah
hukum, yakni tuntutan persaingan antara kedua kelompok ini.

67. UU Nomor 6/2014 mengakui keberadaan Desa Adat. Pemerintah daerah diberdayakan untuk
mengevaluasi batas wilayah Komunitas Hukum Adat dan menunjuk sebuah Desa Adat melalui
peraturan daerah. Tiga kriteria yang harus dipenuhi: 1) adat istiadat dan hak Komunitas Hukum
Adat dipraktikkan dan dipelihara oleh anggota kelompok, 2) pelestarian Desa Adat dengan
seluruh adat istiadat dan hak tradisionalnya sesuai dengan perkembangan masyarakatnya , dan
3) tujuannya sesuai dengan prinsip-prinsip Kesatuan Republik Indonesia.

7.3 OP4.10 Kebijakan Bank Dunia: Masyarakat Adat


17. OP4.10 Bank Dunia tentang Masyarakat Adat mengakui bahwa Masyarakat Adat dapat dikenai
berbagai jenis risiko dan dampak dari proyek pembangunan. Kebijakan tersebut mensyaratkan
bahwa proyek mengidentifikasi apakah Masyarakat Adat terpengaruh oleh proyek tersebut,
dan karenanya, harus melakukan kegiatan konsultasi khusus, serta menghindari atau
mengurangi dampak terhadap kelompok rentan ini. Kunjungan lokasi untuk mengkonfirmasi
kehadiran Masyarakat Adat akan dilakukan sesuai dengan persyaratan yang ditentukan dalam
IPPF ini.

7.4 Persyaratan Umum


7.4.1 Penghindaran Dampak Buruk
18. Subpeminjam akan mengidentifikasi, melalui skrining sosial dan lingkungan dan ESIA,
Masyarakat Adat yang mungkin berada di area of influence subproyek, serta sifat dan tingkat
dampak sosial yang diperkirakan, dampak pada sumber daya budaya fisik , dampak lingkungan
serta potensi manfaat bagi Masyarakat Adat. Subpeminjam harus menghindari dampak buruk
bila mungkin.

19. Bila penghindaran tidak memungkinkan, subpeminjam akan meminimalkan, mengurangi atau
mengkompensasi dampak ini yang sesuai secara budaya. Tindakan yang diusulkan akan
disiapkan dengan partisipasi Masyarakat Adat yang terkena dampak dan termasuk dalam
Rencana Pembangunan Masyarakat Adat ( IPDP) yang berjangka waktu, atau rencana
pengembangan masyarakat yang lebih luas, tergantung pada sifat dan skala dampaknya.

20. Bila subproyek dianggap memiliki dampak yang tinggi karena potensi risiko lainnya seperti
konflik di sekitar sumber daya alam, subpeminjam harus memperoleh dukungan masyarakat
luas sebelum memulai subproyek.

94
7.4.2 Pengungkapan Informasi, Konsultasi dan Partisipasi yang Diinformasikan
21. Subpeminjam harus menjalin hubungan yang berkelanjutan dengan komunitas Masyarakat
Adat yang terkena dampak sedini mungkin dalam perencanaan subproyek dan sepanjang masa
subproyek. Mereka akan merekrut konsultan spesialis untuk membantu mereka, terutama
untuk merancang dan menerapkan pendekatan konsultasi yang tepat. Dalam subproyek
dengan komunitas Masyarakat Adat di wilayah proyek, proses konsultasi akan memastikan
konsultasi yang bebas, di muka dan diinformasikan serta memfasilitasi partisipasi mereka
terkait hal-hal yang mempengaruhi mereka, seperti usulan tindakan mitigasi dampak,
pembagian manfaat pembangunan dan peluang, serta isu implementasi. Proses keterlibatan
masyarakat harus sesuai secara budaya dan sesuai dengan potensi risiko dan dampaknya
terhadap Masyarakat Adat. Secara khusus, prosesnya akan mencakup langkah-langkah berikut:

(a) Melibatkan badan perwakilan Masyarakat Adat (misalnya, antara lain dewan tetua atau
dewan desa));

(b) Menyertakan perempuan dan laki-laki serta berbagai kelompok usia dengan yang sesuai
secara budaya;

(c) Menyediakan waktu yang cukup untuk proses pengambilan keputusan kolektif Masyarakat
Adat;

(d) Memfasilitasi Masyarakat Adat untuk mengungkapkan pandangan, keprihatinan, dan


proposal mereka dalam bahasa pilihan mereka, tanpa manipulasi, gangguan, atau
pemaksaan eksternal, serta bebas intimidasi;

(e) Memastikan bahwa mekanisme penanganan keluhan yang ditetapkan untuk proyek sesuai
secara budaya dan dapat diakses oleh Masyarakat Adat; dan

(f) Pastikan IPDP tersedia bagi komunitas Masyarakat Adat yang terkena dampak dalam bentuk,
cara dan bahasa yang sesuai.

22. Tujuannya adalah untuk mendapatkan dukungan masyarakat luas untuk subproyek tersebut.
Penentuan ini umumnya didasarkan pada pandangan pendukung yang kolektif dan seringkali
informal mengenai pengaturan pelaksanaan, tujuan, dan rencana subproyek. Penentuan ini
tidak menuntut kebulatan suara; dukungan masyarakat luas mungkin ada bahkan saat ada
perselisihan internal di dalam masyarakat atau bila ada penolakan terbatas terhadap tujuan
subproyek atau pengaturan yang diusulkan. IPDP akan menjelaskan dasar penentuan mana
yang telah dibuat.

7.4.3 Manfaat Pengembangan


23. Melalui proses FPIC dan partisipasi yang diinformasikan dari Masyarakat Adat yang terkena
dampak, Subpeminjam harus mengidentifikasi peluang untuk manfaat pembangunan yang
95
sesuai secara budaya. Kesempatan semacam itu harus sepadan dengan tingkat dampak proyek,
yang ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan mata pencaharian mereka dengan cara
yang sesuai secara budaya, dan untuk mendorong keberlanjutan jangka panjang sumber daya
alam yang mereka andalkan. Subpeminjam akan mendokumentasikan manfaat pembangunan
dan memberikannya secara tepat waktu dan merata dalam Rencana Pembangunan Masyarakat
Adat.

7.4.4 Rencana Pengembangan Masyarakat Adat


24. Jika Masyarakat Adat diidentifikasi berada dalam wilayah proyek melalui proses skrining,
Rencana Pembangunan Masyarakat Adat (IPDP) akan disiapkan oleh subpeminjam. Rencana
tersebut akan diinformasikan oleh Penilaian Sosial, disiapkan selama ESIA, dan proses
konsultasi yang dibahas di atas. Rencana tersebut akan menetapkan langkah-langkah yang
melalui mana subpeminjam akan memastikan bahwa (a) Masyarakat Adat yang terkena
dampak proyek mendapat keuntungan sosial dan ekonomi yang sesuai secara budaya; dan (b)
jika potensi dampak yang merugikan bagi Masyarakat Adat diidentifikasi, dampak tersebut akan
dihindari, diminimalkan, dikurangi atau dikompensasikan. IPDP akan diintegrasikan ke dalam
desain proyek. Konten IPDP termasuk dalam Lampiran J.

25. Rencana ini akan fokus pada tahap eksplorasi. Kegiatan pascaproyek akan dibahas dan
disepakati oleh seluruh pihak sebelum proyek usai dan IPP akan diperbarui saat ini untuk
mencakup potensi dampak jangka panjang dari tahap eksploitasi.

7.5 Penilaian Sosial


26. Penilaian sosial akan mencakup unsur-unsur berikut (yang relevan):

(a) uraian subproyek serta potensi permasalahan dan dampak yang terkait dengan masyarakat
(dan mengidentifikasi bila beberapa komunitas atau subkelompok dapat terpengaruh secara
berbeda);

(b) identifikasi masyarakat yang relevan dan pemangku kepentingan utama lainnya untuk
dikonsultasikan;

(c) informasi dasar tentang karakteristik demografi, sosial, budaya, ekonomi dan politik
masyarakat yang relevan;

(d) penilaian potensi dampak dan manfaat yang mungkin terjadi terkait dengan proyek
berdasarkan konsultasi; dan

(e) ringkasan preferensi dan keprihatinan masyarakat yang berkaitan dengan tujuan proyek,
akses dan kesesuaian budaya dari manfaat proyek, mitigasi dampak buruk, dan pengaturan
pelaksanaan proyek.

96
7.6 Persyaratan Khusus
27. Karena Masyarakat Adat mungkin sangat rentan terhadap situasi subproyek, persyaratan yang
tepat akan diperlukan seperti yang dijelaskan di bawah ini. Bila salah satu dari kasus-kasus
khusus ini berlaku, subpeminjam akan melibatkan ahli eksternal yang berkualifikasi untuk
membantu pelaksanaan Penilaian Sosial dan memastikan penyertaan mereka secara memadai
dalam IPDP atau Rencana Pembangunan Masyarakat.

7.6.1 Dampak terhadap Tanah Adat atau Tradisional yang Sedang Digunakan
28. Masyarakat Adat sering dikaitkan dengan tanah adat mereka, juga sumber alam dan budaya di
atas tanah. Sementara tanah mungkin tidak berada di bawah kepemilikan 'legal' sesuai dengan
undang-undang nasional, penggunaan lahan, termasuk penggunaan musiman atau siklis oleh
Masyarakat Adat untuk tujuan penghidupan, atau budaya, upacara, atau spiritual mereka yang
menentukan identitas dan komunitas mereka, dapat dibuktikan dan perlu didokumentasikan
dengan baik.

29. Jika lokasi subproyek diputuskan berada di lahan tradisional atau adat, dan dampak buruk
diperkirakan terjadi pada mata pencaharian, atau penggunaan budaya, seremonial, atau
spiritual yang menentukan identitas dan komunitas Masyarakat Adat, subpeminjam akan
bekerja sama dengan pemangku kepentingan yang terkait yang akan menyewa atau memiliki
tanah untuk memastikan bahwa proses pembebasan lahan menghormati penggunaan tanah
mereka. Mereka akan melakukan hal ini lewat langkah-langkah berikut:

(a) Subpeminjam mendokumentasikan upaya untuk menghindari atau setidaknya


meminimalkan usulan subproyek yang diajukan;

(b) Para ahli akan dilibatkan untuk mendokumentasikan penggunaan lahan, bekerja sama
dengan Masyarakat Adat yang terkena dampak tanpa mengurangi klaim tanah mereka;

(c) Komunitas Masyarakat Adat yang terkena dampak diinformasikan mengenai hak-hak mereka
sehubungan dengan tanah mereka berdasarkan undang-undang nasional, terutama yang
mengakui penggunaan atau hak adat;

(d) Subpeminjam akan menawarkan kompensasi wajar dan proses hukum yang adil kepada
Masyarakat Adat setara dengan penawaran untuk hak atas tanah yang sepenuhnya legal,
serta peluang pengembangan budaya yang sesuai (seperti mekanisme pembagian
keuntungan); dan/atau kompensasi berbasis lahan dan/atau sejenis sebagai pengganti
kompensasi tunai jika memungkinkan;

(e) Subpeminjam melakukan negosiasi dengan itikad baik dengan Masyarakat Adat yang terkena
dampak, serta mendokumentasikan partisipasi dan hasil informasi mereka melalui negosiasi.

97
7.6.2 Relokasi Masyarakat Adat dari Tanah Adat atau Tradisional
30. Subpeminjam harus mempertimbangkan desain subproyek alternatif untuk menghindari
relokasi Masyarakat Adat dari tanah tradisional atau adat yang telah diadakan secara komunal.
Jika relokasi semacam itu tidak dapat dihindari, subpeminjam tidak akan melanjutkan proyek
ini, kecuali jika ada negosiasi dengan itikad baik dengan masyarakat adat yang terkena dampak,
dan subpeminjam mendokumentasikan partisipasi mereka yang diinformasikan dan hasil
negosiasi yang sukses. Setiap relokasi Masyarakat Adat harus konsisten dengan OP. 4.12
kebijakan upaya perlindungan Bank Dunia tentang Pemukiman Kembali Sukarela Paksa dan
akan dilaksanakan oleh subpeminjam sebagai agen yang akan memiliki atau menyewakan tanah
tersebut. Bila memungkinkan, Masyarakat Adat yang dipindahkan harus dapat kembali ke tanah
adat atau tradisional mereka, jika alasan relokasi mereka tidak ada lagi.

7.6.3 Sumber Daya Budaya


31. Jika sebuah subproyek mengusulkan untuk menggunakan sumber daya budaya, pengetahuan,
atau praktik Masyarakat Adat untuk tujuan komersial, subpeminjam harus menginformasikan
mereka tentang: (i) hak mereka berdasarkan hukum nasional; (ii) ruang lingkup dan sifat
pengembangan komersial yang diusulkan; dan (iii) potensi konsekuensi dari pengembangan
tersebut. Subpeminjam tidak melanjutkan komersialisasi tersebut kecuali subpeminjam: (i)
melakukan negosiasi dengan itikad baik dengan Masyarakat Adat yang terkena dampak; (ii)
mendokumentasikan partisipasi mereka yang diinformasikan dan hasil negosiasi yang sukses;
dan (iii) menyediakan pembagian manfaat yang adil dan merata dari komersialisasi
pengetahuan atau praktik semacam itu yang sesuai dengan kebiasaan dan tradisi mereka.
Namun, ini merupakan hasil GREM yang tidak mungkin.

98
8 KONSULTASI DAN PUBLIKASI
8.1 Konsultasi Kerangka Upaya Perlindungan
32. Konsultasi pemangku kepentingan yang pertama dijadwalkan oleh PT SMI pada pertengahan
Maret 2018 di Jakarta. Tujuan utama dari konsultasi ini adalah untuk mencari masukan
mengenai proyek GREM, dan rancangan ESMF, RPF dan IPPF dari para pemangku kepentingan.
Lembaga pemangku kepentingan utama, seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral, pemerintah daerah, LSM, sektor swasta, akademisi, media/pers, dan
sebagainya akan diundang untuk berpartisipasi dalam workshop konsultasi.

33. Rancangan kerangka kerja harus diungkapkan secara garis besar dan dibagikan terlebih dahulu
dengan perwakilan dari institusi untuk memungkinkan masukan konstruktif tersaji dalam
workshop. Diskusi akan difokuskan pada kemudahan penggunaan dan implementasi ESMF,
kecukupan mekanisme mitigasi upaya perlindungan, dan kebutuhan pelatihan bagi pemangku
kepentingan. Setelah konsultasi, masukan para pemangku kepentingan akan dicatat dan
dipertimbangkan untuk finalisasi ESMF, RPF dan IPPF.

34. Konsultasi GREM dan dokumen kerangka kerja tidak akan dilakukan dengan masyarakat tuan
rumah, pemerintah daerah, atau pemangku kepentingan lokal lainnya karena lokasi subproyek
dimana pengeboran eksplorasi akan terjadi belum diidentifikasi. Pada tahap awal identifikasi
lokasi pengeboran, konsultasi akan dimulai.

8.2 Pedoman Praktik Konsultasi Penasihat Teknis


35. Konsultan akan dilibatkan untuk menyiapkan panduan praktik industri yang baik, yang
memerlukan proses keterlibatan pemangku kepentingan. Konsultan akan terlibat dengan para
pemangku kepentingan utama selama proses mengumpulkan dan berbagi informasi. Lembaga
pemangku kepentingan utama termasuk Kementerian Keuangan, Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral (EBTKE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, BG, LSM, sektor
swasta, BUMN, mitra pembangunan dan universitas. Rancangan dokumentasi panduan akan
dibagi dengan perwakilan institusi, dan diungkapkan di situs web PT SMI untuk memperoleh
komentar masyarakat luas. Workshop akan diadakan untuk membahas isu-isu kunci dan
membantu finalisasi dokumen.

8.3 Keterlibatan dan Konsultasi Pemangku Kepentingan dalam Subproyek


Panas Bumi
36. Tim upaya perlindungan subpeminjam akan memimpin persiapan ESIA, ESMP, LARAP dan IPP.
Dalam penyusunan Kerangka Acuan untuk karya-karya ini, tim akan memberikan konsultasi
rinci mengenai kegiatan konsultasi yang akan dilakukan oleh konsultan. Tim upaya
perlindungan subpeminjam akan memimpin konsultasi publik dengan dukungan dari konsultan
dan pemerintah daerah. Ini guna memastikan subpeminjam memiliki informasi teknis dan

99
dukungan teknis yang diperlukan untuk melakukan konsultasi, serta pembelian lokal dan
dukungan untuk rencana tersebut, yang disiapkan untuk mengurangi dampak proyek.

8.3.1 Identifikasi Pemangku Kepentingan


37. Subpeminjam harus menyiapkan Rencana Keterlibatan Pemangku Kepentingan sebagai bagian
dari ESIA, dan terus menerapkan Rencana tersebut di keseluruhan subproyek. Konsultan upaya
perlindungan akan diminta untuk melakukan analisis pemangku kepentingan sebelum proses
konsultasi. Pemangku kepentingan akan bervariasi tergantung pada lokasi subproyek, namun
diharapkan mencakup: masyarakat tuan rumah, pemilik lahan dan pengguna, LSM lingkungan
dan sosial, badan pemerintah daerah, pemegang/pemilik konsesi kehutanan, departemen
kehutanan, departemen konservasi, universitas dan organisasi penelitian dan pemilik bisnis
lainnya. Analisis pemangku kepentingan harus: a) mengidentifikasi individu dan kelompok yang
berkepentingan dengan subproyek dan yang diperkirakan terkena dampak subproyek, b)
mengidentifikasi ahli dan informan kunci, c) menentukan sifat dan ruang lingkup konsultasi
dengan masing-masing jenis pemangku kepentingan, dan d) menentukan alat komunikasi,
kerangka waktu, dan metode komunikasi yang sesuai.

8.3.2 Prinsip-prinsip Konsultasi


38. Prinsip konsultasi adalah:

(a) Memberikan informasi yang jelas, faktual dan akurat secara transparan dan terus-menerus
kepada pemangku kepentingan masyarakat melalui konsultasi bebas, di muka dan
diinformasikan;

(b) Memberikan informasi secara tepat waktu, dengan cara yang mudah dipahami oleh peserta
konsultasi. Beberapa terjemahan bahasa teknis ke dalam bahasa sehari-hari mungkin
diperlukan. Materi harus dalam Bahasa Indonesia dan dialek/bahasa lokal yang sesuai;

(c) Mendengarkan dan belajar tentang budaya dan kebijaksanaan lokal dan sosial;

(d) Menyediakan kesempatan bagi pemangku kepentingan masyarakat untuk mengangkat isu,
memberikan saran dan menyuarakan keprihatinan dan harapan mereka terkait Proyek;

(e) Melibatkan wanita, pria, lansia, pemuda dan anggota masyarakat yang rentan, serta mereka
yang memiliki otoritas dan kekuasaan;

(f) Memberikan masukan kepada para pemangku kepentingan tentang bagaimana kontribusi
mereka dipertimbangkan dalam pengembangan penilaian dan rencana yang relevan;

(g) Mengembangkan kapasitas antar pemangku kepentingan masyarakat untuk menafsirkan


informasi yang diberikan kepada mereka;

100
(h) Memperlakukan seluruh pemangku kepentingan masyarakat dengan hormat, dan
memastikan bahwa seluruh personil proyek dan kontraktor yang terkait dengan pemangku
kepentingan masyarakat melakukan hal yang sama;

(i) Menanggapi masalah dan permintaan izin; dan

(j) Membangun hubungan yang konstruktif dengan pemangku kepentingan masyarakat yang
teridentifikasi melalui tingkat kontak yang tepat.

39. Harus ada setidaknya dua putaran konsultasi12: satu kali selama persiapan ESIA dan
pengumpulan data dasar, dan satu lagi selama presentasi rancangan ESIA dan EMP. Konsultasi
pertama harus dilakukan seputar penyusunan dan sebagai masukan bagi Kerangka Acuan ESIA
untuk menyaring dan membahas isu-isu. Ini merupakan persyaratan minimum, dan Rencana
Keterlibatan Pemangku Kepentingan harus menyesuaikan aktivitas konsultasi dengan
kebutuhan para pemangku kepentingan. Konsultasi lebih lanjut mungkin diperlukan jika
terdapat Masyarakat Adat di wilayah proyek, orang-orang yang rentan di antara masyarakat
tuan rumah, reseptor lingkungan yang sensitif dan dampak signifikan yang memerlukan
komunikasi awal dan berkelanjutan dengan para pemangku kepentingan. Konsultasi khusus
dengan orang-orang yang terkena dampak pembebasan lahan dan pemukiman kembali secara
paksa, dan dengan masyarakat adat, harus direncanakan di samping konsultasi proyek umum.
Di sela-sela putaran konsultasi, terdapat pengkinian informasi dan komunikasi proyek lainnya
untuk menjaga agar para pemangku kepentingan tetap memperoleh informasi.

40. Subpeminjam akan menyiapkan Rencana Keterlibatan Pemangku Kepentingan yang terinci,
termasuk perencanaan konsultasi, yang spesifik untuk masing-masing subproyek. Ini akan
mencakup metode dan prosedur untuk hal berikut:

- Analisis pemangku kepentingan - siapa yang akan dikonsultasikan, bagaimana, kapan,


oleh siapa, seberapa sering, bahasa apa yang akan digunakan;
- Bagaimana perempuan dan anggota masyarakat yang rentan akan dikonsultasikan;
- Peran dan tanggung jawab untuk mengkoordinasikan, melakukan dan menindaklanjuti
umpan balik konsultasi, konsultan upaya perlindungan, dan pemerintah daerah);
- Pesan-pesan penting;
- Jangka waktu/program;
- Komunikasi publik (lihat di bawah) termasuk bagaimana masyarakat bisa berhubungan
dengan tim eksplorasi dan bagaimana cara menggunakan proses GRM;
- Rencana pengungkapan - apa yang akan diungkapkan, kapan, dan bagaimana;
- Bagaimana umpan balik akan dikelola;
- Daftar bahan dan sarana yang akan digunakan.

101
8.4 Sarana Konsultasi Publik
41. Komunikasi selama pengembangan subproyek akan melibatkan pencarian dan penyampaian
informasi, serta mencapai kesepakatan melalui dialog. Tabel berikut merangkum beberapa
teknik yang paling umum digunakan untuk menyampaikan informasi kepada publik serta
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Subpeminjam dapat menggunakan salah satu teknik
ini dalam mengembangkan Rencana Konsultasi.

Tabel 7 Teknik penyampaian informasi kepada publik


Technique Key points Advantages Disadvantages Time Frame

Buletin informasi, brosur, Selama tahap


laporan: Teks harus persiapan ESIA
sederhana dan tidak teknis Langsung Menuntut
serta relevan bagi keterampilan dan
Dapat menyampaikan
pembaca sumber daya khusus
Materi informasi rinci
cetak Memberikan instruksi yang Tidak efektif bagi
Hemat biaya
jelas tentang bagaimana pemangku
Menghasilkan catatan kepentingan yang
mendapatkan lebih banyak
komunikasi permanen buta huruf
informasi

Dapat sekaligus Selama tahap


menginformasikan dan Dapat menjangkau persiapan ESIA
mengumpulkan komentar pihak yang sebelumnya Biaya persiapan dan
tidak dikenal staf
Display dan Harus ditempatkan di
exhibit mana target audiens Tuntutan minimal bagi Tidak memadai tanpa
berkumpul atau sering masyarakat teknik pendukung
lewat

Surat kabar, siaran pers, Selama tahap


dan konferensi pers persiapan ESIA
semuanya dapat Menawarkan cakupan Hilangnya kendali
menyebarluaskan nasional dan lokal presentasi
sejumlah besar dan Bisa menjangkau Hubungan media
Media beragam informasi kebanyakan orang bersifat menuntut
cetak
Mengidentifikasi surat dewasa yang terpelajar
Mengecualikan orang
kabar yang cenderung Dapat memberikan buta huruf dan orang
tertarik dengan proyek dan informasi rinci miskin
menjangkau khalayak
sasaran

Media Radio, internet, media Bisa dianggap Tidak berguna bagi Selama tahap
Elektronik sosial, dan video: berwibawa mereka yang tidak persiapan ESIA
menentukan cakupan memiliki ponsel/akses
102
Technique Key points Advantages Disadvantages Time Frame

(media sosial, internet, Banyak orang memiliki internet


atau radio), jenis akses ke radio dan
penonton; objektivitas telepon seluler
yang dirasakan, dan jenis
Media sosial itu murah
siaran yang ditawarkan.
Tentukan bagaimana cara
menyebarkan media sosial
hashtag/alamat situs dan
lain-lain kepada khalayak.

Berguna untuk Selama tahap


mengumumkan rapat persiapan ESIA
Mungkin
umum atau kegiatan Memegang kendali
menimbulkan
Periklanan lainnya presentasi
kecurigaan
Efektivitas tergantung
pada persiapan dan
penargetan yang baik

Selambat-
lambatnya 2
minggu
Sasaran briefing: Dapat
sebelum tahap
diatur oleh sponsor proyek Berguna untuk
persiapan ESIA
atau berdasarkan kelompok dengan
Sesi Membangkitkan untuk
permintaan, untuk perhatian khusus
Informasi harapan yang tidak penyebaran
kelompok masyarakat
Formal Memungkinkan diskusi realistis rencana
tertentu, LSM, dan lain-
rinci tentang isu-isu proyek;
lain.
spesifik
Selama tahap
persiapan ESIA
untuk diskusi
potensi dampak

Memberikan informasi Kehadiran sulit Selambat-


Open House, Kunjungan
rinci diprediksi, sehingga lambatnya 2
Lapangan, dan Field Office:
menghasilkan nilai minggu
Penonton yang dipilih Berguna untuk pembentukan sebelum tahap
dapat memperoleh membandingkan konsensus yang persiapan ESIA
Sesi informasi langsung atau berbagai alternatif terbatas untuk
Informasi berinteraksi dengan staf
Segera dan langsung penyebaran
Informal proyek. Kunjungan harus Mungkin menuntut
rencana
didukung dengan materi Berguna bila proyeknya banyak perencanaan
proyek;
tertulis yang lebih rinci rumit Kantor lapangan bisa
atau briefing atau Selama tahap
Keprihatinan lokal mahal untuk
konsultasi tambahan. persiapan ESIA
dikomunikasikan ke dioperasikan
untuk diskusi

103
Technique Key points Advantages Disadvantages Time Frame

staf Hanya menjangkau potensi dampak


sekelompok kecil
Dapat membantu
orang
menjangkau pemangku
kepentingan
nonpenduduk

Sumber: Buku Panduan Penilaian Lingkungan Bank Dunia, Nomor 26


Tabel 8 Teknik mendengarkan masyarakat
Technique Key points Advantages Disadvantages Time Frame

Menunjukkan During ESIA


bagaimana kelompok preparation
Wawancara, survei ingin terlibat phase
formal, jajak
Memungkinkan
pendapat dan
komunikasi langsung
kuesioner dapat
dengan publik
dengan cepat Wawancara yang
menunjukkan siapa Membantu tidak berhasil
yang tertarik dan mengakses menjadi
mengapa pandangan mayoritas kontraproduktif
Mungkin terstruktur Kurang rentan Biaya tinggi
(menggunakan terhadap pengaruh
Teknik Survei kuesioner tetap) atau kelompok vokal Membutuhkan
spesialis untuk
tidak terstruktur
Mengidentifikasi menyampaikan
Pewawancara masalah yang terkait dan menganalisa
berpengalaman atau dengan
pengelompokan Kompromi antara
surveyor yang akrab
dengan proyek harus sosial keterbukaan dan
dipakai validitas statistik
Hasil statistik yang
Prates pertanyaan representatif

Pertanyaan terbuka Bisa menjangkau


adalah yang terbaik orang yang tidak
berada dalam
kelompok terorganisir

Seminar umum, atau Memungkinkan Kompleks untuk At the latest 2


kelompok fokus diskusi terinci dan disiapkan dan weeks before
membuat pertukaran terfokus dijalankan ESIA
Rapat Kecil informasi formal preparation
Bisa bertukar Bisa dialihkan
antara sponsor dan phase for
informasi dan debat oleh kelompok
publik; dapat terdiri project plan
dengan niat
dari individu yang Pemantauan suasana dissemination;
tertentu
dipilih secara acak hati publik secara
104
Technique Key points Advantages Disadvantages Time Frame

atau anggota cepat dan murah Tidak obyektif During ESIA


kelompok sasaran; atau valid secara preparation
Cara untuk mencapai
Pakar bisa diajak statistik phase for
kelompok marjinal
untuk dijadikan potential
Mungkin terlalu
sebagai nara sumber. impact
dipengaruhi oleh
discussion
moderator

Rapat umum Tidak cocok untuk At the latest 2


memungkinkan diskusi yang weeks before
masyarakat untuk Berguna bagi pemirsa ESIA
mendetail
menanggapi secara dalam jumlah sedang preparation
langsung presentasi Tidak bagus untuk phase for
Memberikan membentuk
formal oleh sponsor project plan
tanggapan dan konsensus
proyek. Pertemuan dissemination;
Rapat Besar umpan balik secara
yang efektif Bisa dialihkan
langsung During ESIA
membutuhkan ketua oleh kelompok preparation
yang kuat, agenda Mengenali berbagai dengan niat phase for
yang jelas, dan kelompok tertentu potential
presenter atau kepentingan
Kehadiran sulit impact
narasumber yang
diperkirakan discussion
baik.

At the latest 2
weeks before
ESIA
Bekerja sama dengan Potensi konflik preparation
kelompok yang antara pengusaha phase for
Organisator/penyokong dipilih untuk Memobilisasi dan klien project plan
masyarakat memfasilitasi kontak kelompok yang sulit dissemination;
Waktu
informal, dijangkau dibutuhkan untuk During ESIA
mengunjungi rumah
memperoleh preparation
atau tempat kerja,
umpan balik phase for
atau hanya tersedia
potential
untuk umum
impact
discussion

Sumber: Buku Panduan Penilaian Lingkungan Bank Dunia, Nomor 26

8.5 Publikasi
42. Rancangan ESMF GREM, yang memasukkan RPF dan IPPF, akan dipublikasikan di situs web PT
SMI, www.ptsmi.co.id, dan di situs Bank Dunia, www.worldbank.org, pada akhir Februari 2018.
Versi dokumentasi final ini akan dimuat di kedua situs tersebut.

43. Seluruh instrumen perlindungan subproyek harus dipublikasikan oleh subpeminjam.

105
9 PENGATURAN KELEMBANGAAN DAN PENINGKATAN KAPASITAS
44. Keberhasilan implementasi ESMF, RPF dan IPPF bergantung pada pemangku kepentingan
proyek. Bab ini memberikan gambaran umum tentang pengaturan kelembagaan GREM, dan
tanggung jawab masing-masing pemangku kepentingan untuk mengoperasionalkan instrumen
perlindungan. Bab ini juga menyajikan analisis kapasitas PT SMI sebagai Financial Intermediary
dengan tanggung jawab upaya perlindungan utama dan rencana peningkatan kapasitas.

9.1 Peran dan Tanggung Jawab Kelembagaan


45. Karena keseluruhan pelaksanaan proyek adalah proses business-to-business antara
subpeminjam dan PT SMI, subpeminjam akan bertanggung jawab untuk mendapatkan dan
mengelola perizinan dan seluruh komponen teknis dan melaksanakan kegiatan pengeboran dan
pengujian sumur. PT SMI akan mengelola dana GREM, dan melakukan uji kelayakan dan/atau
memantau pelaksanaan subproyek. PT SMI bisa menyewa konsultan untuk mendukung uji
kelayakan dan/atau audit lingkungan dan sosial jika diperlukan.

9.2 Peran dan Tanggung Jawab Upaya Perlindungan


46. PT SMI bertanggung jawab untuk melakukan skrining dan mengkaji pelaksanaan upaya
perlindungan oleh subproyek dalam setiap subproyek. Tim yang bertanggung jawab adalah Tim
Pelaksana PT SMI. Kapasitas dan tanggung jawab tim terjabar dalam Bagian 9.3.

47. Pelaksanaan upaya perlindungan yang berkaitan dengan kegiatan subproyek akan dilakukan
oleh Tim Upaya Perlindungan subpeminjam. Tim Upaya Perlindungan subpeminjam akan
bertanggung jawab untuk menerapkan ESMP, IPP dan LARAP, dan serta mengawasi
pelaksanaan ESMP Kontraktor. Tim Upaya Perlindungan subpeminjam akan bertanggung jawab
untuk mengelola pembebasan lahan, berperan sebagai penghubung masyarakat, menangani
keluhan masyarakat dan serta melakukan pemantauan lingkungan dan sosial.

48. PT SMI tidak akan memiliki atau menyewakan tanah atau bertanggung jawab atas transaksi
tanah, membayar hak guna, dukungan dan kompensasi lainnya berdasarkan LARAP.
Subpeminjam akan melakukan tanggung jawab ini, sementara PT SMI akan meninjau dan
memberikan perhatian yang diperlukan.

106
Tabel 9 Peran dan Tanggung Jawab Upaya Perlindungan
Lembaga/Tim Peran dan Tanggung Jawab
Manajemen PT Menyediakan sumber daya yang memadai (staf dan anggaran) untuk Staf Divisi
SMI Evaluasi dan Penasihat Lingkungan dan Sosial agar menjalankan peran dan
tanggung jawab mereka.
Subpeminjam Menyiapkan instrumen pengaman dan mengisi kesenjangan sesuai arahan PT SMI
untuk memenuhi persyaratan ESMF, RPF dan IPPF.
Keterlibatan staf dengan pakar pengawasan pengamanan untuk memastikan
pengawasan yang memadai dan kepatuhan penuh terhadap seluruh dokumen
pengaman. Ini mencakup spesialis pengaman berbasis lapangan yang mengawasi
kontraktor pengeboran dan pekerjaan sipil.
Melaksanakan seluruh aspek ESMP, UKL-UPL IPP dan LARAP. Khususnya
keterlibatan pemangku kepentingan, penanganan keluhan, pengawasan
Kontraktor, kegiatan pembebasan lahan dan pemukiman kembali, pemantauan
lingkungan dan sosial, pelaporan insiden dan pelaporan upaya perlindungan.
Memastikan bahwa teknisi yang memenuhi syarat merancang dan memberikan
spesifikasi untuk kolam penyimpanan, dan konstruksi pondasi serta mengawasi
dan memantau pengelolaan dan pencabutan fungsi.
Integrasi ESMP, UKL-UPL, LARAP dan IPP ke dalam rancangan, spesifikasi,
dokumen tender, serta dokumen kontrak kontraktor untuk subproyek.
Menyediakan anggaran dan kerangka waktu yang memadai untuk pengawasan
dan pelaksanaan upaya perlindungan selama kegiatan eksplorasi.
Menyelidiki kecelakaan dan keluhan serta menyelesaikan masalah.
Memastikan Rencana Keterlibatan Pemangku Kepentingan dilakukan dan
menggunakan sarana konsultasi publik dengan pemerintah daerah dan penduduk
yang tinggal di sekitar lokasi lapangan panas bumi, sehingga seluruh informasi
akan disampaikan serta meminimalkan potensi penolakan penduduk terhadap
subproyek GREM. Memastikan bahwa masalah pemangku kepentingan dibahas
dalam tata letak infrastruktur dan operasi pengeboran.

Divisi Evaluasi Mengelola upaya perlindungan melalui rencana pengelolaan, mencatat sumber
dan Penasihat daya, tugas, kerangka waktu, dan lain-lain untuk setiap subproyek.
Lingkungan dan
Menyiapkan kerangka acuan, memperkirakan anggaran dan mengelola pengadaan
Sosial PT SMI
konsultan upaya perlindungan untuk mendukung Tim Upaya Perlindungan PT SMI.
Meninjau instrumen perlindungan subpeminjam serta memberikan komentar dan
rekomendasi untuk pengisian kesenjangan. Melakukan kunjungan lapangan dan uji
tuntas. Memastikan instrumen perlindungan untuk proses pengungkapan dan

107
Lembaga/Tim Peran dan Tanggung Jawab

persetujuan.
Meninjau proses konsultasi subproyek dan/atau hasil dari subpeminjam.
Mengawasi pelaksanaan ESMP, LARAP, IPP dan UPL-UKL subproyek.
Meninjau Kerangka Acuan TA di bawah Komponen 2 untuk memasukkan aspek
perlindungan. Tinjau hasil TA sesuai kebutuhan.
Meninjau laporan pelaksanaan dan pemantauan proyek terkait penerapan
dokumen ESMP, IPP dan LARAP.
Melaksanakan mekanisme penanganan keluhan GREM. Tanggung jawab ini
mencakup pengawasan pelaksanaan mekanisme penanganan keluhan subproyek
dan pelaporan ke dalam sistem GRM Korporasi PT SMI.
Memantau investigasi insiden, keluhan dan ketidaksesuaian.
Memberikan masukan dan rekomendasi upaya perlindungan kepada
subpeminjam. Tim harus bersedia menyajikan informasi kepada tim yang lebih
luas yang mungkin bertentangan dengan penilaian teknis dan ekonomi kelayakan,
untuk mencegah dampak yang berpotensi signifikan dari pembangunan panas
bumi.
Menggelar atau mengatur pelatihan bagi subpeminjam dan pemangku
kepentingan, jika perlu, mengenai penerapan instrumen perlindungan dan sistem
pengelolaan upaya perlindungan PT SMI.
Pelaporan upaya perlindungan triwulanan kepada Bank Dunia dan pemangku
kepentingan lainnya.
Menyimpan dan memperbarui dokumen kerangka GREM sesuai kebutuhan
Divisi Pusat Meninjau draf laporan studi prakelayakan dan kelayakan dan Laporan Kapasitas
Kompetensi PT Sumber Daya Tereka dan memberikan komentar.
SMI
Meninjau draf spesifikasi teknis, dokumen penawaran, kontrak Kontraktor
subpeminjam di bawah window kategori publik/BUMN dan menyampaikan
komentar. Dokumen subpeminjam dari sektor swasta tidak akan ditinjau.

Tim Upaya Pengawasan ESMP, HSMP, manajemen kepatuhan, manajemen ketidaksesuaian


Perlindungan Kontraktor, serta penerbitan denda setiap hari, dengan laporan kepada Tim Upaya
Lapangan Perlindungan PT SMI.
Subpeminjam
Memberikan pelatihan kepada Kontraktor sebagaimana diperlukan mengenai
Peminjam
masalah teknis mitigasi dampak lingkungan dan sosial (misalnya pengendalian
sedimen dan erosi).
Memberikan pelatihan teknis kepada Kontraktor mengenai GRM, manajemen

108
Lembaga/Tim Peran dan Tanggung Jawab

pengaduan, keterlibatan masyarakat dan aspek lain dari mitigasi dampak


lingkungan dan sosial bila diperlukan, atau merekrut konsultan untuk melakukan
pelatihan.
Mengelola keterlibatan pemangku kepentingan lokal dan penghubung masyarakat
serta menanggapi keluhan dan pengaduan.
Pemantauan lingkungan dan sosial.

Kontraktor Kepatuhan penuh terhadap ESMP dan UPL/UKL selama kontrak.


subproyek (sipil
Penyediaan Manajer dan Pejabat Upaya Perlindungan di lokasi selama Kontrak.
dan
pengeboran) Menyiapkan ESMP dan HSMP Kontraktor yang komprehensif sebelum pekerjaan
dimulai.
Melaksanakan ESMP dan HSMP Kontraktor sepanjang Kontrak, termasuk
keterlibatan masyarakat, penghindaran dan pengelolaan dampak, pemantauan,
GRM, manajemen insiden, pelatihan dan tugas lainnya.
Membangun, memelihara dan melakukan dekomposisi kolam sesuai dengan
desain dan spesifikasi yang diberikan oleh teknisi yang berkualitas dan
berpengalaman.
Mematuhi hukum Indonesia dan mendapatkan izin yang diperlukan (limbah
berbahaya, peledakan dan bahan peledak, dan lain-lain.).
Memberikan laporan kepada Tim Upaya Perlindungan Subpeminjam.
Menjalani pelatihan sesuai kebutuhan. Memastikan semua staf terlatih dan
memiliki peralatan pelindung yang memadai setiap saat.

9.3 Sistem Manajemen Lingkungan dan Sosial PT SMI


Sistem Manajemen Lingkungan dan Sosial PT SMI
17. 100. PT SMI berpengalaman luas dalam mengelola kebijakan upaya perlindungan Bank Dunia
dan kebijakan upaya perlindungan donor lainnya berdasarkan Dana Jaminan Investasi
(Investment Guarantee Fund/IGF), Dana Fasilitas Infrastruktur Indonesia (Indonesia
Infrastructure Facility Fund/IIFF), Dana Pembangunan Infrastruktur Daerah (Regional
Infrastructure Development Fund /RIDF), dan Proyek Pengembangan Energi Panas Bumi
(Geothermal Energy Upstream Development Project /GEUDP). PT SMI adalah perusahaan
pembiayaan infrastruktur yang didirikan pada tahun 2009 sebagai badan usaha milik negara
(BUMN) yang seluruhnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan
(Depkeu). PT SMI berperan aktif dalam memfasilitasi pembiayaan infrastruktur, sekaligus
menyiapkan proyek dan berperan sebagai penasihat proyek infrastruktur di Indonesia. PT SMI

109
mendukung agenda pembangunan infrastruktur pemerintah melalui kemitraan publik-swasta
dengan lembaga keuangan swasta dan multilateral. Dengan demikian, PT SMI berfungsi sebagai
katalisator dalam mempercepat pembangunan infrastruktur di Indonesia.

18. PT SMI telah mengembangkan Manual Operasi dan Sistem Manajemen Lingkungan dan Sosial
(ESMS) yang spesifik untuk digunakan dalam program-programnya yang mendukung investasi
pemerintah daerah melalui berbagai dana infrastruktur. Sistem Manajemen Lingkungan dan
Sosial SMI (ESMS) PT SMI didasarkan pada sistem negara (yaitu peraturan Indonesia), dan
sangat tertimbang dalam pengelolaan lingkungan (dengan kesenjangan dalam hal pengelolaan
dampak sosial, pembebasan lahan, serta kesehatan dan keselamatan). Namun, saat ini sedang
diperbarui untuk mematuhi Standar Kinerja IFC, Kebijakan Upaya Perlindungan Bank Dunia dan
kebijakan upaya perlindungan mitra pembangunan lainnya.

19. ESMS memiliki proses untuk menyaring subproyek yang diusulkan, menentukan tingkat risiko
lingkungan dan sosial, serta melakukan penilaian uji kelayakan, yang semuanya akan
menentukan kesenjangan pemenuhan persyaratan yang ditentukan dalam ESMS. Subpeminjam
yang mencari pembiayaan melalui dana yang dikelola oleh PT SMI wajib menyiapkan rencana
tindakan perbaikan (CAP) untuk mengatasi kesenjangan yang diidentifikasi dalam uji tuntas dan
memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam ESMS.

20. ESMS diawasi oleh Tim Upaya Perlindungan PT SMI. Tim ini dipimpin oleh seorang pemimpin
tim yang berpengalaman. Saat ini, PT SMI memiliki empat spesialis lingkungan (termasuk 1
pemimpin tim dan tiga staf) dan dua spesialis upaya perlindungan sosial.

21. PT SMI juga memiliki akses terhadap konsultan lingkungan dan sosial melalui Divisi Penasihat
Proyek jika dukungan ad hoc diperlukan.

22. Divisi Evaluasi dan Penasihat Lingkungan dan Sosial akan mengawasi dan mendukung Tim
Upaya Perlindungan GREM dalam pelaksanaan ESMF, RPF dan IPPF.

9.4 Peningkatan kapasitas


23. Peningkatan kesadaran akan dilakukan untuk Tim Upaya Perlindungan PT SMI. Tim ini akan
menerima pelatihan dasar mengenai dampak lingkungan dan sosial serta pengelolaan dampak
bagi proyek eksplorasi panas bumi. Hal ini agar mereka dapat melakukan peran pengawasan
yang lebih efektif untuk GREM. Pelatihan akan disediakan oleh pihak ketiga, atau oleh Spesialis
Lingkungan atau Sosial Bank Dunia.

24. Tim Upaya Perlindungan PT SMI, dengan dukungan Bank Dunia, akan memberikan penyadaran
mengenai ESMF, RPF, IPPF dan ESMS PT SMI untuk tim CoC dan spesialis teknis lainnya yang
terlibat dalam proyek ini. Ini akan terjadi dalam workshop peluncuran dan secara ad hoc sesuai
kebutuhan melalui proyek.

110
25. Pelatihan upaya perlindungan lainnya juga direncanakan sebagai berikut:

Peningkatan kapasitas Audiens/Partisipan Trainer Program

Bagaimana meninjau Tim Upaya Spesialis Upaya Selama GREM


ESIA, ESMP UK /UPL, Perlindungan PT SMI Perlindungan Bank
IPP dan LARAP Dunia
eksplorasi panas bumi
Pada pelatihan kerja
dan pendampingan,
workshop ad hoc

26. Divisi Evaluasi dan Penasihat Lingkungan dan Sosial PT SMI akan menyimpan catatan program
pelatihan, termasuk rincian seperti agenda, durasi, pelatih dan kualifikasi pelatih untuk
melakukan pelatihan, serta lembar kehadiran peserta. Divisi Evaluasi dan Penasihat Lingkungan
dan Sosial PT SMI akan menyelenggarakan rencana pelatihan tahunan.

111
10 ANGGARAN
Tabel 10 Estimate Estimasi Anggaran Upaya Perlindungan GREM
Tugas Estimasi Biaya Catatan
dalam USD
Rekrutmen firma konsultan dalam Tim
150.000 per tahun
Upaya Perlindungan PT SMI
Pemantauan transaksi tanah independen Diasumsikan untuk 20
350.000
subproyek

Kajian lingkungan dan sosial independen


40.000
(kajian semesteran)
Workshop ESMF, RPF dan IPPF Internal untuk
50.000
staf Pusat Kompetensi GREM (x4)

112
11 PEMANTAUAN DAN PELAPORAN
27. Divisi Evaluasi dan Penasihat Lingkungan dan Sosial PT SMI bertanggung jawab atas
pemantauan dan pelaporan efektivitas pelaksanaan upaya perlindungan lingkungan dan sosial.
Ini akan menjadi bagian dari keseluruhan sistem pemantauan dan pelaporan proyek yang
digariskan dalam Manual Pelaksanaan Proyek GREM.

28. Bagi PT SMI, pemantauan upaya perlindungan akan mencakup:

(a) Divisi Evaluasi dan Penasihat Lingkungan dan Sosial PT SMI akan melakukan pemantauan
berkala terhadap pelaksanaan dokumen kerangka kerja sebagai bagian dari pengumpulan
dan analisis data dan informasi untuk pelaporan proyek triwulanan. Ini termasuk
menganalisis efektivitas skrining dan sarana lain dalam kerangka kerja, jenis dan jumlah
acara pelatihan dan orang-orang yang dilatih, pengelolaan keluhan dan penanganan
keluhan, pengelolaan kualitas dan ketepatan waktu pengiriman dari konsultan, ketersediaan
sumber daya (staf, anggaran) untuk melakukan tanggung jawab kerangka kerja,
kepatuhan/ketidakpatuhan terhadap kerangka kerja, kebijakan upaya perlindungan Bank
Dunia serta peraturan perundangan di Indonesia.

(b) Divisi Evaluasi dan Penasihat Lingkungan dan Sosial PT SMI akan melibatkan lembaga
pemantau independen untuk meninjau dan mengaudit pelaksanaan LARAP - proses
pembebasan tanah paksa, pemukiman kembali dan pemulihan mata pencaharian
subpeminjam.

(c) Divisi Evaluasi dan Penasihat Lingkungan dan Sosial PT SMI dapat melibatkan perusahaan
konsultan independen untuk melakukan pemantauan lingkungan dan sosial terhadap
subproyek. Ini akan dilakukan sekali sebelum kajian jangka menengah GREM. Ruang lingkup
pemantauan akan mencakup kajian disain dan efektivitas pelaksanaan kerangka kerja GREM.
Mereka akan meninjau struktur kerangka kerja, isi dan cakupan kegiatan, dampak dan
tindakan mitigasi, interpretasi kerangka kerja dalam Manual Operasi Proyek serta sarana
pengelolaan proyek lainnya. Wawancara dan pengamatan tentang keberhasilan struktur
organisasi, pelatihan, serta kapasitas dan kemampuan anggota tim untuk menjalankan
tanggung jawabnya. Kunjungan lapangan ke subproyek juga akan dilakukan untuk meninjau
keefektifan langkah-langkah mitigasi lingkungan dan sosial yang digariskan dalam dokumen
upaya perlindungan.

29. Bagi subpeminjam, pemantauan upaya perlindungan akan mencakup:

(a) Subpeminjam harus merancang program pemantauan khusus subproyek yang akan
mendokumentasikan pemantauan dampak sosial dan lingkungan dan pemantauan
keefektifan ESMP, ESMP Kontraktor dan tugas pengawasan. Informasi ini akan berkontribusi
pada kerangka pemantauan dan pelaporan. LARAP dan IPP juga akan berisi program
113
pemantauan khusus untuk pemantauan dan audit prosedur kompensasi, pemulihan mata
pencaharian dan program pengembangan masyarakat lainnya.

30. Matriks pelaporan disajikan di bawah ini:

Tabel 11 Matriks Pelaporan Upaya Perlindungan


Jenis dan Konten Laporan Program Tanggung Melapor
Jawab: kepada:
Laporan kajian ESMF, RPF dan IPPF (sebagai bagian Setengah PT SMI Bank Dunia
dari kajian permohonan pendanaan) tahunan
Aktivitas dan progres subprojek (persiapan, Setengah
Subpeminjam SMI
pelaksanaan, penutupan instrumen perlindungan) tahunan
Memantau output
Ringkasan Pengaduan/GRM
Laporan kejadian
Aktivitas latihan dan peningkatan kapasitas
Drilling Safeguards Supervision Reporting Bulanan Tim Tim Upaya
Pengelolaan Perlindungan
Progres projek
Situs ( SMT) GREM PT
Memantau output dan Tim Upaya SMI
Latihan Perlindungan
Subpeminjam
Ringkasan Pengaduan/GRM
Insiden23
Pengkinian kerangka kerja
Laporan Pemantauan Lingkungan dan Sosial UKL-UPL Triwulanan Tim Tim Upaya
ESMP subproyek Pengelolaan Perlindungan
Situs ( SMT) PT SMI
dan Tim Upaya
Perlindungan
Subpeminjam

Laporan Pemantauan Independen LARAP subproyek Triwulanan Konsultan Tim Upaya


Subpeminjam Perlindungan
PT SMI

114
12 MEKANISME PENANGANAN KELUHAN
12.1 Pendahuluan
31. Sebagai bagian dari mandatnya untuk menjadi bank pembangunan infrastruktur nasional masa
depan, PT SMI mendorong transparansi dan akuntabilitas pembangunan infrastruktur yang
berkelanjutan di negara ini, tidak hanya dari perspektif upaya perlindungan lingkungan dan
sosial tetapi juga dari sisi teknis, keuangan, ekonomi dan politik. Dalam hal ini, PT SMI terbuka
terhadap masukan dan aspirasi konstruktif dari masyarakat dan pemangku kepentingan proyek
GREM. Sebagai bagian dari upaya untuk mencapai tujuan ini, PT SMI memiliki mekanisme
penanganan keluhan (Grievance Redress Mechanism/GRM) sebagai sarana yang efektif untuk
identifikasi dini, penilaian, dan penyelesaian pengaduan dalam subproyek GREM.

12.2 Pendekatan untuk Penanganan Keluhan


32. PT SMI akan menggunakan sistem GRM Korporasi mereka " Pedoman dan Prosedur
Pengelolaan Keluhan Masyarakat Terdampak dan Kelompok Pemerhati’ untuk menampung dan
mengelola keluhan proyek dan subproyek GREM. Divisi Sekretaris Perusahaan PT SMI
bertanggung jawab atas GRM. Divisi ini berada di bawah dan melapor langsung kepada Direktur
Utama PT SMI. Divisi ini juga akan menerima semua masukan, keluhan, aspirasi, dan gagasan
yang ditujukan kepada PT SMI dan akan menyimpannya di database. Divisi Sekretaris
Perusahaan akan menyerahkannya ke tim upaya perlindungan Lingkungan dan Sosial untuk
diserahkan kepada tim yang bertanggung jawab untuk menanggapi. Selain itu, ada juga
panduan untuk Whistle Blowing System (WBS) PT SMI, yaitu " Pedoman Sistem Pelaporan
Pelanggaran " jika substansi keluhan mengandung etika bisnis.

33. Anggota masyarakat, pemangku kepentingan, Masyarakat Adat atau Orang-orang yang Terkena
Dampak Proyek akan dapat mengajukan keluhan dan menerima tanggapan yang memuaskan
pada waktu yang tepat. Sistem akan mencatat dan mengkonsolidasikan keluhan dan tindak
lanjutnya. Sistem ini akan dirancang tidak hanya untuk keluhan tentang persiapan dan
pelaksanaan LARAP dan IPDP, namun juga untuk menangani keluhan dari jenis masalah apa pun
(termasuk masalah perlindungan lingkungan dan sosial lainnya) yang terkait dengan proyek
yang dibiayai oleh PT SMI dan Word Bank dalam Proyek ini.

34. Tujuan GRM adalah untuk:

- Bersikap tanggap terhadap kebutuhan orang-orang yang terkena dampak subproyek


serta untuk mengatasi dan menyelesaikan keluhan mereka;
- Berfungsi sebagai saluran untuk mengajukan pertanyaan, mengundang saran, dan
meningkatkan partisipasi masyarakat;
- Mengumpulkan informasi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja
operasional;
- Meningkatkan legitimasi proyek antar para pemangku kepentingan;
- Mendorong transparansi dan akuntabilitas; dan
115
- Mendeteksi penipuan dan korupsi serta mengurangi risiko proyek.

12.3 Mekanisme Penanganan Keluhan GREM


35. Sebagai tambahan bagi GRM dalam PT SMI, subpeminjam juga diharuskan untuk
mengembangkan GRM mereka sendiri di tingkat subproyek. GRM tingkat subproyek ini dapat
terdiri dari hal berikut yang sepadan dengan sifat dan risiko subproyek:

Langkah 1: Jalur akses/penampungan keluhan:


(a) Focal point yang mudah diakses dan dipublikasikan dengan baik atau 'help desk' yang
berhadapan dengan pengguna akan disiapkan di dalam subpeminjam dan dengan masing-
masing subpeminjam.

(b) Saluran penampungan keluhan akan mencakup email, SMS, situs web, dan tatap muka.
Saluran penampungan akan dipublikasikan dan diiklankan melalui media lokal dan melalui
Kontraktor yang berada di bawah subpeminjam.

(c) Anggota staf yang menerima pengaduan secara lisan akan memasukkannya secara tertulis
untuk dipertimbangkan. Banyak keluhan dapat dipecahkan 'di tempat' dan secara tidak
resmi oleh staf Upaya Perlindungan Kontraktor atau subpeminjam. Resolusi harus masuk
untuk(i) mendorong sikap responsif; dan (ii) memastikan bahwa keluhan level rendah atau
berulang dicatat dalam sistem.

(d) Sistem GRM Kontraktor dan subpeminjam akan dikoordinasikan dengan GRM proyek
sehingga seluruh keluhan ditampung dalam sistem GRM PT SMI.

(e) GRM akan memiliki kemampuan untuk menangani keluhan anonim.

(f) Pelapor akan diberi tanda terima dan ‘rencana kerja inti (roadmap)' yang memberitahukan
bagaimana proses pengaduan tersebut bekerja dan kapan menantikan informasi lebih lanjut.

Langkah 2: Buku Catatan Pengaduan


(g) Seluruh keluhan akan dicatat secara tertulis dan disimpan dalam database sederhana.

(h) Keluhan yang diterima akan diberi nomor yang akan membantu pelapor melacak kemajuan
melalui database.

(i) Pelapor akan diberi tanda terima dan selebaran yang menggambarkan prosedur dan rencana
jangka waktu GRM (staf harus dilatih untuk membacakan secara lisan ini bagi pelapor yang
buta huruf).

(j) Bila memungkinkan, catatan pengaduan akan menampung pengaduan yang dilakukan
melalui sistem informal atau tradisional, seperti dewan desa atau tetua.
116
(k) Sering kali perlu untuk berbagi informasi dengan masyarakat setempat dan menempatkan
hubungan formal antara sistem tradisional dan GRM GREM (bisa berbentuk kesepakatan
lisan atau MoU/Nota Kesepahaman tertulis).

(l) Setidaknya, database akan melacak dan melaporkan kepada publik keluhan yang diterima,
keluhan yang terselesaikan dan keluhan yang telah dilakukan mediasi. Database juga akan
menunjukkan permasalahan yang diangkat dan lokasi pengaduan yang diterima seputar
permasalahan tersebut.

Langkah 3: Penilaian, pengakuan, dan tanggapan


(m) Kelayakan akan menjadi langkah prosedural untuk memastikan bahwa masalah yang
diangkat sesuai dengan proyek.

(n) Keluhan yang tidak dapat diselesaikan di tempat akan diarahkan ke focal point pengaduan
dalam tim upaya perlindungan peminjam yang akan memiliki waktu respons yang wajar
untuk menilai masalah ini dan memberikan tanggapan terhadap pelapor yang sepadan
dengan sifat pengaduan tersebut.

(o) Pengaduan akan dikategorikan sesuai dengan jenis permasalahan yang diangkat dan
dampaknya terhadap lingkungan/pelapor jika dampak yang timbul dalam pengaduan terjadi.
Berdasarkan kategorisasi ini, pengaduan akan diprioritaskan berdasarkan risiko dan
diarahkan untuk tindak lanjut yang tepat.

(p) Penilaian masalah akan mempertimbangkan hal berikut:

i. Siapa yang bertanggung jawab untuk menanggapi keluhan ini? Apakah itu Kontraktor,
subpeminjam, tim upaya perlindungan subpeminjam, atau orang lain? Diperkirakan
bahwa sebagian besar masalah yang diangkat selama persiapan subproyek akan bersifat
informasi atau umpan balik yang memerlukan koreksi kecil; ini umumnya harus
ditangani oleh SMT. Selama pengoperasian infrastruktur dan pengeboran, sebagian
besar keluhan akan menjadi tanggung jawab Kontraktor.

ii. Berapa tingkat risiko dari keluhan ini? Apakah beresiko rendah, berisiko sedang, atau
berisiko tinggi? Keluhan yang merupakan isu berisiko tinggi untuk proyek harus diawasi
oleh EPM.

iii. Apakah keluhan sudah ditangani di tempat lain? Jika sebuah masalah sudah ditangani,
misalnya oleh pengadilan setempat atau badan mediasi, atau di dalam Bank Dunia,
maka masalahnya akan dikecualikan dari proses penanganan untuk menghindari
duplikasi dan kebingungan dari pihak pelapor.

117
(q) Resolusi: Setelah masalah di atas dipertimbangkan, pelapor akan mengajukan opsi untuk
penyelesaian masalah mereka. Pilihan yang ditawarkan kemungkinan akan termasuk dalam
salah satu dari tiga kategori berikut:

i. Keluhan tersebut berada di bawah mandat tim upaya perlindungan subpeminjam atau
Kontraktor dan resolusi dapat segera ditawarkan sesuai permintaan yang diajukan oleh
pelapor. Tanggapan akan menjelaskan bagaimana dan kapan resolusi akan diberikan
oleh subpeminjam serta nama dan informasi kontak dari anggota staf yang bertanggung
jawab untuk itu.

ii. Keluhan tersebut berada di bawah mandat subpeminjam atau Kontraktor , namun
berbagai opsi untuk resolusi dapat dipertimbangkan dan/atau sumber daya yang luar
biasa diperlukan. Focal point akan mengundang pelapor ke pertemuan untuk membahas
pilihan ini.

iii. Keluhan tersebut tidak jatuh atau hanya sebagian berada di bawah mandat PT. SMI.
Focal point akan menunjukkan bahwa pengaduan tersebut telah dirujuk ke badan yang
sesuai, yang akan terus berkomunikasi dengan pelapor.

Langkah 4: Banding
(r) Bila kesepakatan belum tercapai, pelapor akan ditawarkan mengajukan permohonan
banding. Ini akan melalui pengadilan nasional, kecuali jika pelapor meminta fasilitasi atau
mediasi melalui pihak ketiga.

i. Jika pelapor menerima opsi tersebut, dan kesepakatan tercapai, pelaksanaan akan
dipantau oleh lembaga pemantau independen dan sebuah memo akan ditandatangani
untuk mengindikasikan bahwa pengaduan tersebut telah diselesaikan.

ii. Jika pelapor tidak menerima pilihan ini atau jika dia melakukannya namun kesepakatan
tidak tercapai, kasus tersebut akan ditutup. Pelapor dapat meminta ganti rugi melalui
pengadilan atau mekanisme lain yang tersedia di tingkat negara.

Langkah 5: Cari Solusi dan Tindaklanjuti


(s) Bila ada kesepakatan antara pelapor dan tim upaya perlindungan subpeminjam atau
Kontraktor tentang bagaimana pengaduan akan diselesaikan, sebuah memo akan dibuat dan
ditandatangani oleh kedua belah pihak. Setelah diimplementasikan, sebuah memo baru akan
ditandatangani yang menyatakan bahwa pengaduan telah diselesaikan.

(t) Seluruh dokumen pendukung rapat yang diperlukan untuk mencapai resolusi akan menjadi
bagian dari arsip yang terkait dengan pengaduan tersebut. Ini termasuk pertemuan yang
telah meningkat ke tingkat banding atau ditangani oleh pihak ketiga.

118
(u) Tim Upaya Perlindungan Subpeminjam akan memberikan laporan berkala kepada publik
yang melacak keluhan yang diterima, diputuskan, tidak diselesaikan, dan dirujuk ke pihak
ketiga. PT SMI akan menerima data keluhan mentah atau laporan berkala, untuk mendukung
tim upaya perlindungan subpeminjam dalam identifikasi dini pengembangan risiko.

(v) Data GRM akan tersedia untuk dimasukkan ke dalam laporan PT SMI guna menunjukkan
responsif dan penyelesaian awal masalah.

12.4 Penilaian GRM untuk Subproyek


36. Pendekatan untuk menangani keluhan di tingkat subproyek akan mencakup hal-hal berikut:

(a) Penilaian risiko dan potensi keluhan dan perselisihan untuk masing-masing subproyek: Tim
Upaya Perlindungan Subpeminjam harus memahami masalah yang terjadi atau mungkin
terjadi sebagai inti perselisihan yang berkaitan dengan setiap subproyek, seperti kejelasan
hak atas tanah atau masalah perburuhan. Untuk ini, subpeminjam harus melakukan kajian
cepat terhadap isu-isu kontroversial, pemangku kepentingan, dan kapasitas kelembagaan
untuk setiap subproyek selama penyusunan ESIA, dan sangat bergantung pada informasi
yang ada dari masyarakat sipil dan institusi nonnegara lainnya. Kajian tersebut harus
memetakan siapa pemangku kepentingan utama terhadap isu-isu ini dan apa sifat
perdebatannya (diinformasikan, dipolarisasi, dan lain-lain). Perhatian harus diberikan pada
budaya resolusi perselisihan lokal dan terutama terhadap kapasitas dan rekam jejak
pemangku kepentingan untuk menyelesaikan perselisihan melalui mediasi atau negosiasi
yang konstruktif.

(b) Penilaian Kapasitas: Kajian juga harus mencakup ketersediaan, kredibilitas dan kemampuan
institusi lokal untuk menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan kegiatan
pengeboran dan eksplorasi panas bumi. Untuk masing-masing institusi yang diharapkan
menangani masalah ini, penilaian kredibilitas harus dilakukan, berdasarkan kriteria berikut:

i. Legitimasi: apakah struktur pemerintahannya secara luas dianggap cukup independen


dari para pihak dengan keluhan tertentu?

ii. Aksesibilitas: apakah institusi memberikan bantuan yang memadai kepada mereka yang
menghadapi hambatan seperti bahasa, melek huruf, kesadaran, biaya, atau ketakutan
akan tindakan balas dendam?

iii. Prediktabilitas: apakah institusi menawarkan prosedur yang jelas dengan kerangka
waktu untuk setiap tahap dan kejelasan pada jenis hasil yang dapat (dan tidak dapat)
diberikan?

iv. Keadilan: apakah prosedurnya dianggap adil, terutama dalam hal akses terhadap
informasi dan kesempatan untuk partisipasi yang signifikan dalam keputusan akhir?
119
v. Kompatibilitas hak: apakah hasilnya konsisten dengan standar nasional dan
internasional yang berlaku? Apakah institusi membatasi akses terhadap mekanisme
ganti rugi lainnya?

vi. Transparansi: apakah prosedur dan hasilnya cukup transparan untuk memenuhi
kepentingan publik yang dipertaruhkan?

vii. Kemampuan: apakah ada sumber daya teknis, manusia dan keuangan yang diperlukan
untuk menangani masalah yang dipertaruhkan?

37. Rencana Aksi: Rencana aksi harus bersifat subproyek, namun harus berfokus pada langkah-
langkah nyata yang dapat diambil selama persiapan dan pelaksanaan untuk memperkuat
kapasitas penanganan keluhan.

120
Lampiran A. DAFTAR PERIKSA KAJIAN DESKTOP
Instruksi:
Formulir ini untuk membantu PT SMI meninjau instrumen upaya perlindungan dan risiko lingkungan dan
sosial serta dampak aplikasi subproyek dari subpeminjam. Gunakan daftar periksa untuk meninjau
dokumen. Tambahkan proses uji tuntas dengan menggunakan google earth, maps, technical reports dan
data publikasi lainnya.

Berikan laporan singkat untuk menyertai daftar periksa yang tercantum, merinci temuan signifikan dan
memberikan rekomendasi untuk kunjungan lapangan dan proses uji tuntas. Lampirkan peta dan data
pendukung yang relevan. Berikan analisis terpisah mengenai potensi risiko dari fase eksploitasi,
perhatikan risiko atau risiko baru yang mungkin memiliki dampak lebih signifikan.
Nama Subproyek:_____________________________________________________________
Lokasi:____________________________________________________________________
Provinsi:_____________________________________________________________________
Uraian Usulan Kegiatan (uji pengeboran sumur, jalan akses, kamp pekerja dan lain-lain.):___________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________

Uraian kegiatan proyek eksploitasi hilir yang


relevan:______________________________________________________________________________
______
____________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________

Data dikumpulkan (tandai semua yang dipakai, dan jelaskan jika perlu):
Peta topografi
Geothermal prospect and resource data (from technical team)
Data sumber dan prospek panas bumi (dari tim teknis)
Gambar Google earth

121
Data dikumpulkan (tandai semua yang dipakai, dan jelaskan jika perlu):

Peta/data penguasaan tanah


(peta hutan, peta pemilikan tanah, peta penggunaan tanah dan lain-lain)
Rencana Tata Ruang Provinsi dan Kabupaten

Kebijakan, peraturan perundangan Provinsi dan Kabupaten dan lain-lain:

Data demografi/data sensus

Data meteorologi
Dokumen atau data yang dipublikasikan (daftar):

122
Daftar Periksa Skrining Dasar
Pertanyaan Skrining Untuk AOI Jawaban Kebijakan yang Relevan
Panas Bumi*
Ya? Tidak?
* Buat catatan pada daftar periksa
Tidak diketahui tapi mungkin? Tidak diketahui tapi tidak mungkin?
atau dalam laporan bila
permasalahan hanya terkait Ya, terkait dengan eksploitasi? Risiko rendah. Lanjutkan ke
dengan eksploitasi hilir. pertanyaan skrining berikutnya.
Beri peringkat risiko Signifikan,
Sedang atau Kecil bagi potensi Buat rekomendasi untuk tahap
dampak skrining rinci untuk setiap risiko yang
tidak diketahui
Berikan rincian pada peta atau
daftar periksa dan buat
rekomendasi untuk 1) tahap
skrining rinci dan 2) laporan
kelayakan
Adakah lanskap unik atau luar OP 4.01 Penilaian
biasa atau fitur geotermal atau Lingkungan
geologi di daerah tersebut?

Adakah mata pencaharian OP 4.01 Penilaian


ekonomi atau nafkah yang sangat Lingkungan
bergantung pada sumber daya
OP4.36 Hutan
alam di daerah tersebut
(ekowisata, pertanian atau
perikanan, penebangan, irigasi)?

123
Pertanyaan Skrining Untuk AOI Jawaban Kebijakan yang Relevan
Panas Bumi*
Ya? Tidak?
* Buat catatan pada daftar periksa
Tidak diketahui tapi mungkin? Tidak diketahui tapi tidak mungkin?
atau dalam laporan bila
permasalahan hanya terkait Ya, terkait dengan eksploitasi? Risiko rendah. Lanjutkan ke
dengan eksploitasi hilir. pertanyaan skrining berikutnya.
Beri peringkat risiko Signifikan,
Sedang atau Kecil bagi potensi Buat rekomendasi untuk tahap
dampak skrining rinci untuk setiap risiko yang
tidak diketahui
Berikan rincian pada peta atau
daftar periksa dan buat
rekomendasi untuk 1) tahap
skrining rinci dan 2) laporan
kelayakan
Adakah hutan, danau, lahan basah, OP4.04 Habitat Alami
lahan gambut, daerah pesisir,
OP4.36 Hutan
sungai di daerah tersebut?
Adakah spesies yang terancam OP4.04 Habitat Alami
punah atau sangat terancam
punah di daerah tersebut?

Apakah ada kawasan lindung OP4.04 Habitat Alami


(seperti taman nasional, kawasan
OP4.36 Hutan
konservasi dan lain-lain) di daerah
tersebut?
Adakah situs budaya, situs OP4.09 Sumber Daya
arkeologi, situs spiritual, atau PCR Budaya FIsik
lain di tingkat nasional atau
internasional?

124
Pertanyaan Skrining Untuk AOI Jawaban Kebijakan yang Relevan
Panas Bumi*
Ya? Tidak?
* Buat catatan pada daftar periksa
Tidak diketahui tapi mungkin? Tidak diketahui tapi tidak mungkin?
atau dalam laporan bila
permasalahan hanya terkait Ya, terkait dengan eksploitasi? Risiko rendah. Lanjutkan ke
dengan eksploitasi hilir. pertanyaan skrining berikutnya.
Beri peringkat risiko Signifikan,
Sedang atau Kecil bagi potensi Buat rekomendasi untuk tahap
dampak skrining rinci untuk setiap risiko yang
tidak diketahui
Berikan rincian pada peta atau
daftar periksa dan buat
rekomendasi untuk 1) tahap
skrining rinci dan 2) laporan
kelayakan
Adakah kemungkinan bahwa OP4.10 Masyarakat Adat
Masyarakat Adat12 akan berada di
wilayah tersebut sehingga
diperlukan konsultasi khusus dan
Penilaian Sosial?
Adakah tanah atau sumber daya OP4.12 Pemukiman Kembali
yang dimiliki secara komunal di Paksa
daerah tersebut sehingga
pembebasan lahan bisa menjadi
rumit?

125
Pertanyaan Skrining Untuk AOI Jawaban Kebijakan yang Relevan
Panas Bumi*
Ya? Tidak?
* Buat catatan pada daftar periksa
Tidak diketahui tapi mungkin? Tidak diketahui tapi tidak mungkin?
atau dalam laporan bila
permasalahan hanya terkait Ya, terkait dengan eksploitasi? Risiko rendah. Lanjutkan ke
dengan eksploitasi hilir. pertanyaan skrining berikutnya.
Beri peringkat risiko Signifikan,
Sedang atau Kecil bagi potensi Buat rekomendasi untuk tahap
dampak skrining rinci untuk setiap risiko yang
tidak diketahui
Berikan rincian pada peta atau
daftar periksa dan buat
rekomendasi untuk 1) tahap
skrining rinci dan 2) laporan
kelayakan
Adakah lahan pribadi atau lahan OP4.12 Pemukiman Kembali
kehutanan d imana pembebasan Paksa
lahan bisa dinegosiasikan?
(Perhatikan bahwa 'ya' adalah
aspek positif dari proyek.
Mungkinkah orang-orang akan OP4.12 Pemukiman Kembali
dibatasi untuk mengakses kawasan Paksa
lindung demi tujuan penghidupan?
Risiko atau manfaat lain yang
diidentifikasi tidak terdapat dalam
daftar

126
Pertanyaan Skrining Untuk AOI Jawaban Kebijakan yang Relevan
Panas Bumi*
Ya? Tidak?
* Buat catatan pada daftar periksa
Tidak diketahui tapi mungkin? Tidak diketahui tapi tidak mungkin?
atau dalam laporan bila
permasalahan hanya terkait Ya, terkait dengan eksploitasi? Risiko rendah. Lanjutkan ke
dengan eksploitasi hilir. pertanyaan skrining berikutnya.
Beri peringkat risiko Signifikan,
Sedang atau Kecil bagi potensi Buat rekomendasi untuk tahap
dampak skrining rinci untuk setiap risiko yang
tidak diketahui
Berikan rincian pada peta atau
daftar periksa dan buat
rekomendasi untuk 1) tahap
skrining rinci dan 2) laporan
kelayakan

127
Lampiran B DAFTAR PERIKSA SKRINING TERINCI

Instruksi:
Spesialis lingkungan dan sosial yang kompeten akan dilibatkan untuk menyelesaikan skrining yang rinci.

Sebagai bagian dari instrumen upaya perlindungan dan proses aplikasi subproyek, lakukan kunjungan
lapangan dan gunakan daftar periksa ini untuk memberi tahu penilaian uji tuntas guna mengidentifikasi
risiko lingkungan dan sosial, yang dipicu oleh kebijakan Bank Dunia, dan instrumen upaya perlindungan
yang dibutuhkan. Gunakan daftar periksa sebagai catatan dan untuk mendokumentasikan hasil.

Kegiatan Skrining:

a. Tinjau data yang dipublikasikan, lakukan kunjungan lapangan, kumpulkan data primer, dan
diskusikan dengan dinas lingkungan dan perencanaan setempat tentang rencana tata ruang dan
peraturan daerah mereka, nilai kapasitas kelembagaan dan konsultasikan dengan
informan/pemangku kepentingan utama.
b. Identifikasi reseptor sensitif di area of influence proyek seperti: hutan, habitat alami (daratan dan
perairan), kawasan lindung (taman nasional, kawasan konservasi), lokasi ekologi yang sangat
penting, masyarakat, aset masyarakat, pemilik lahan, masyarakat adat dan atau tanah/wilayah
mereka, lahan/sumber daya komunal, sumber daya budaya fisik, fitur panas bumi, lanskap dan
bentuk geologi.
c. Identifikasi penguasaan tanah dan penggunaan lahan. Identifikasi pengguna dan penggunaan air.
Identifikasi hukum dan kerangka kerja perencanaan setempat yang berlaku.
d. Identifikasi pemangku kepentingan dan sentimen mereka tentang pengembangan panas bumi.
e. Dengan menggunakan pendapat dan pengalaman profesional, tinjau kecukupan penilaian potensi
dampak yang signifikan terhadap reseptor sensitif dari subproyek dan langkah-langkah mitigasi
yang diajukan.
f. Pemicu kebijakan: Dari daftar periksa, identifikasi kebijakan yang dipicu oleh subproyek (termasuk
aktivitas terkait).
g. Skrining Kategori: Klasifikasikan subproyek sebagai Kategori A jika ada salah satu jawaban di daftar
periksa yang memicu A, jika tidak, golongkan subproyek sebagai Kategori B. Jika ada aspek aktivitas
terkait yang memicu subproyek A, diklasifikasikan sebagai Kategori A.
h. Instrumen perlindungan: Cantumkan seluruh instrumen yang relevan sesuai daftar periksa skrining.
Perhatikan dimana tugas khusus untuk ESIA diperlukan, seperti Penilaian Sosial bagi Masyarakat
Adat. Identifikasi kesenjangan dalam aplikasi subproyek.

Pelaporan:
i. Berikan laporan lengkap untuk proses evaluasi aplikasi. Sertakan temuan dan rekomendasi kunci
untuk pengisian kesenjangan. .

Rincian Subproyek

128
Nama Subproyek:_____________________________________________________________
Lokasi:____________________________________________________________________
Provinsi:_____________________________________________________________________
Uraian Usulan Kegiatan:____________________________________________________
________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
Reseptor Sensitif yang Signifikan
___________________________________________________________
_________________________________________________________________________________
_________________________________________________________________________________
_________________________________________________________________________________
Uraian Aktivitas yang Terkait:____________________________________________________
________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
Reseptor Sensitif yang Signifikan dari Aktivitas Terkait _______________________________________
_________________________________________________________________________________
_________________________________________________________________________________
_________________________________________________________________________________

129
Daftar Periksa Skrining Upaya Perlindungan, Instrumen Perlindungan dan Pencetus Kebijakan
Pertanyaan Jawaban Bila Ya, Kategori dan Instrumen
Kebijakan Perlindungan
* Buat catatan pada daftar periksa Ya Tidak
yang
atau dalam laporan bila
Siginfikan, Sedang, Dicetuskan
permasalahan hanya terkait dengan
Kecil
eksploitasi hilir
Apakah dampak subproyek OP 4.01 Bila “Tidak”: Kat. B
cenderung memiliki dampak Penilaian
Bila “Ya”: Kat. A
lingkungan yang merugikan yang Lingkungan
signifikan, sensitif,12 beragam atau ESIA, ESMP, UKL-UPL
belum pernah terjadi sebelumnya?
13
. Berikan penjelasan singkat:
Apakah dampak subproyek OP 4.01 Bila “Tidak”: Kat. B
cenderung memiliki dampak sosial Penilaian
Bila “Ya”: Kat. A
yang merugikan yang signifikan, Lingkungan
sensitif, beragam atau belum ESIA, ESMP, UKL-UPL
pernah terjadi sebelumnya?12
Berikan penjelasan singkat.
Apakah dampaknya mempengaruhi : OP 4.01 Bila “Tidak”: Kat. B.
wilayah yang lebih luas daripada Penilaian
Bila “Ya”: Kat. A
lokasi atau fasilitas yang terkena Lingkungan
pekerjaan fisik dan apakah dampak ESIA, ESMP, UKL-UPL
lingkungan yang merugikan tersebut
tidak dapat dipulihkan? Berikan
penjelasan singkat:

130
Pertanyaan Jawaban Bila Ya, Kategori dan Instrumen
Kebijakan Perlindungan
* Buat catatan pada daftar periksa Ya Tidak
yang
atau dalam laporan bila
Siginfikan, Sedang, Dicetuskan
permasalahan hanya terkait dengan
Kecil
eksploitasi hilir

Akankah subproyek memiliki OP 4.01 Bila “Tidak”: Kat. B.


manfaat lingkungan atau sosial yang Penilaian
Bila “Ya”: Kat. B
positif? Berikan penjelasan singkat: Lingkungan
ESIA, ESMP, UKL-UPL

Akankah subproyek berdampak OP 4.11 Bila “Ya / Signfikan”: Kat. A.


negatif terhadap sumber daya Sumber Daya Siapkan Rencana Pengelolaan PCR
budaya fisik?12 Berikan pembenaran Budaya Fisik sebagai bagian dari ESMP.
singkat
Bila Ya / Sedang or Ya / Kecil: Kat.
B.
Bila “Tidak”: Gunakan Prosedur
Penemuan Tak Terduga.

Akankah subproyek melibatkan OP 4.04 Bila “Tidak”: Lihat pertanyaan


konversi atau degradasi habitat Habitat Alam skrining berikutnya.
alam yang tidak penting? Berikan
Bila “Ya / Signifikan”: Kat. A.
pembenaran singkat
Bila “Ya / Sedang or Ya / Kecil’:
Kat. B

131
Pertanyaan Jawaban Bila Ya, Kategori dan Instrumen
Kebijakan Perlindungan
* Buat catatan pada daftar periksa Ya Tidak
yang
atau dalam laporan bila
Siginfikan, Sedang, Dicetuskan
permasalahan hanya terkait dengan
Kecil
eksploitasi hilir

Akankah subproyek melibatkan OP 4.04 Bila “Tidak”: Lihat pertanyaan


konversi atau degradasi habitat Habitat Alami skrining berikutnya.
alam yang penting?12
Bila “Ya / Signifikan”: tidak layak
untuk pembiayaan proyek karena
tidak sesuai dengan Kebijakan.
Bila “Ya / Sedang atau Ya / Kecil”:
Kat. A
Apakah subproyek melibatkan OP 4.12 Bila “Tidak”: Lihat pertanyaan
pembebasan lahan paksa? Pemukiman skrining berikutnya.
Signifikan> 200 orang dipindahkan Kembali Paksa
Bila “Ya / Signifikan”: Kat.A, LARAP
atau 10% aset rumah tangga
terpengaruh. Bila “Ya / Sedang”: Kat. B, LARAP
SEDERHANA
Sedang <200 orang atau 10% aset
rumah tangga terpengaruh

Apakah subproyek melibatkan OP 4.12 Bila “Tidak”: Lihat pertanyaan


hilangnya aset atau akses terhadap Pemukiman skrining berikutnya.
aset, atau hilangnya sumber Kembali Paksa
Bila “Ya /Signifikan”: Kat. A, LARAP
pendapatan atau cara penghidupan
sebagai akibat dari pembebasan Bila “Ya / Sedang or Kecil”: Kat. B,
lahan paksa? Harap berikan LARAP Sederhana
pembenaran singkat

132
Pertanyaan Jawaban Bila Ya, Kategori dan Instrumen
Kebijakan Perlindungan
* Buat catatan pada daftar periksa Ya Tidak
yang
atau dalam laporan bila
Siginfikan, Sedang, Dicetuskan
permasalahan hanya terkait dengan
Kecil
eksploitasi hilir

Apakah subproyek melibatkan OP4.01 Bila “Tidak”: Lihat pertanyaan


hilangnya aset tapi bukan sebagai Penilaian skrining berikutnya.
akibat dari pembebasan lahan Lingkungan
Bila “Ya”: Kat. B.
paksa?
Kelola kompensasi dengan nilai
pengganti berdasarkan ESMP.
Adakah Masyarakat Adat yang hadir OP4.10 Bila “Tidak”: Lihat pertanyaan
di wilayah subproyek?: Masyarakat skrining berikutnya.
Adat
Identifikasi diri sebagai bagian dari Bila “Ya”: Kat. A
kelompok sosial dan budaya yang
Lihat IPF untuk persyaratan
berbeda, dan
Penilaian Sosial dalam ESIA dan
Menjaga intuisi budaya, ekonomi, IPDP.
sosial dan politik berbeda dari
masyarakat dan budaya yang
dominan?, dan
Secara historis, secara sosial
dan/atau ekonomi terpinggirkan,
tidak berdaya, dikecualikan
dan/atau didiskriminasikan?

133
Pertanyaan Jawaban Bila Ya, Kategori dan Instrumen
Kebijakan Perlindungan
* Buat catatan pada daftar periksa Ya Tidak
yang
atau dalam laporan bila
Siginfikan, Sedang, Dicetuskan
permasalahan hanya terkait dengan
Kecil
eksploitasi hilir

Akankah subproyek secara langsung OP4.10 Jika tidak ada Masyarakat Adat di
atau tidak langsung menguntungkan Masyarakat wilayah proyek, atau pertanyaan
atau menargetkan Masyarakat Adat ini tidak relevan, taruh NA di
Adat? setiap kolom.
Bila “Tidak ada Manfaat atau
Target” atau “Ya ada Manfaat
atau Target”: Kat. A. Tempatkan
dalam Penilaian Sosial dan
penyusunan IPDP.
Akankah subproyek secara langsung OP4.10 Bila “Tidak”: Lihat pertanyaan
atau tidak langsung mempengaruhi Masyarakat skrining berikutnya.
praktik sosiobudaya dan Adat
Bila “Ya”: Kat. A
kepercayaan tradisional Masyarakat
Adat? (Misalnya membesarkan Lihat IPF untuk persyaratan
anak, kesehatan, pendidikan, seni, Penilaian Sosial dalam ESIA dan
dan pemerintahan)? IPDP.

Akankah subproyek mempengaruhi OP4.10 Bila “Tidak”: Lihat pertanyaan


sistem mata pencaharian Masyarakat skrining berikutnya.
Masyarakat Adat? (misalnya, sistem Adat
Bila “Ya”: Kat. A
produksi pangan, pengelolaan
sumber daya alam, kerajinan dan Lihat IPF untuk persyaratan
perdagangan, status pekerjaan)? Penilaian Sosial dalam ESIA dan
IPDP.

134
Pertanyaan Jawaban Bila Ya, Kategori dan Instrumen
Kebijakan Perlindungan
* Buat catatan pada daftar periksa Ya Tidak
yang
atau dalam laporan bila
Siginfikan, Sedang, Dicetuskan
permasalahan hanya terkait dengan
Kecil
eksploitasi hilir

Akankah subproyek berada di suatu OP4.10 Bila “Tidak”: Lihat pertanyaan


wilayah (tanah atau wilayah) yang Masyarakat skrining berikutnya.
diduduki, dimiliki, atau digunakan Adat
Bila “Ya”: Kat. A
oleh Masyarakat Adat, dan/atau
diklaim sebagai wilayah leluhur? Lihat IPF untuk persyaratan
Penilaian Sosial dalam ESIA dan
IPDP.

135
Lampiran C. GARIS BESAR LAPORAN ESIA UNTUK SUBPROYEK KATEGORI A

Dengan mengacu pada Lampiran B pada OP 4.01 – Konten Laporan Penilaian Lingkungan untuk Proyek
Kategori A.
Laporan ESIA untuk subproyek Kategori A berfokus pada masalah lingkungan yang signifikan dari suatu
proyek. Lingkup dan tingkat detail laporan harus sepadan dengan potensi dampak proyek. Laporan yang
disampaikan ke Bank disusun dalam bahasa Inggris dan ringkasan eksekutif dalam bahasa Inggris.
Laporan ESIA harus mencakup hal-hal berikut (tidak harus dalam urutan yang ditunjukkan):
(a) Ringkasan eksekutif. Secara ringkas membahas temuan penting dan tindakan yang
direkomendasikan.

(b) Kerangka kerja kebijakan, hukum, dan administratif. Membahas kerangka kebijakan,
hukum, dan administratif bila EA dijalankan. Menjelaskan persyaratan lingkungan dari
setiap mitra pemodal. Mengidentifikasi kesepakatan lingkungan internasional yang
relevan di mana negara ini menjadi bagian di dalamnya.

(c) Uraian subproyek. Secara ringkas, menjelaskan proyek yang diusulkan dan konteks
geografis, ekologis, sosial, dan temporalnya, termasuk investasi di luar lokasi yang
mungkin diperlukan (misalnya, jaringan pipa khusus, akses jalan, pembangkit listrik,
persediaan air, perumahan, dan bahan baku serta fasilitas penyimpanan produk) .
Menunjukkan kebutuhan akan rencana pembangunan kembali atau rencana
pembangunan Masyarakat Adat (lihat juga subayat (H) (v) di bawah). Biasanya
mencakup peta yang menunjukkan lokasi proyek dan area of influence proyek.

(d) Data dasar. Menilai dimensi area studi dan menjelaskan kondisi fisik, biologi, dan
sosioekonomi yang relevan, termasuk setiap perubahan yang diantisipasi sebelum
proyek dimulai. Juga mempertimbangkan kegiatan pengembangan saat ini dan yang
diusulkan dalam area proyek, namun tidak terkait langsung dengan proyek. Data harus
relevan dengan keputusan tentang lokasi proyek, desain, pengoperasian, atau tindakan
mitigasi. Bagian ini menunjukkan keakuratan, keandalan, dan sumber data.

(e) Penilaian Sosial. Penilaian konteks sosial, termasuk kehadiran Masyarakat Adat, sesuai
dengan OP4.10. Penilaian ini akan mencakup uraian subproyek serta potensi
permasalahan dan dampak yang terkait dengan masyarakat (dan mengidentifikasi bila
beberapa komunitas atau subkelompok dapat terpengaruh secara berbeda); identifikasi
masyarakat yang relevan dan pemangku kepentingan utama lainnya untuk
dikonsultasikan; informasi dasar tentang karakteristik demografi, sosial, budaya,
ekonomi dan politik masyarakat yang relevan; penilaian potensi dampak dan manfaat
yang mungkin terjadi terkait dengan proyek berdasarkan konsultasi; dan ringkasan
136
preferensi dan keprihatinan masyarakat yang berkaitan dengan tujuan proyek, akses
dan kesesuaian budaya dari manfaat proyek, mitigasi dampak buruk, dan pengaturan
pelaksanaan proyek.

(f) Dampak lingkungan dan sosial. Memprediksi dan menilai kemungkinan dampak positif
dan negatif dari proyek, secara kuantitatif seluas mungkin. Mengidentifikasi tindakan
mitigasi dan dampak negatif residual yang tidak dapat dikurangi. Mengeksplorasi
peluang untuk perbaikan lingkungan serta peningkatan kesejahteraan dan mata
pencaharian orang-orang yang terkena dampak. Mengidentifikasi dan memperkirakan
tingkat dan kualitas data yang tersedia, kesenjangan data utama, dan ketidakpastian
yang terkait dengan prediksi, dan menentukan topik yang tidak memerlukan perhatian
lebih lanjut.

(g) Analisis alternatif. Secara sistematis membandingkan alternatif yang layak dengan
lokasi, teknologi, desain, dan pengoperasian subproyek yang diusulkan, termasuk situasi
"tanpa subproyek", dalam hal potensi dampak lingkungannya; kelayakan untuk
mengurangi dampak ini; modal dan biaya berulang; kesesuaian mereka dalam kondisi
lokal; dan persyaratan institusional, pelatihan, dan pemantauan mereka. Untuk masing-
masing alternatif, evaluasi dampak lingkungan sebisa mungkin, dan taruh nilai ekonomi
jika memungkinkan. Menyatakan dasar untuk memilih rancangan proyek tertentu yang
diusulkan serta membenarkan tingkat dan pendekatan emisi yang direkomendasikan
untuk pencegahan dan pengurangan polusi.

(h) Rencana pengelolaan lingkungan dan sosial (ESMP). Meliputi langkah-langkah mitigasi,
pemantauan, dan penguatan kelembagaan; lihat garis besar pada Lampiran D.

(i) Lampiran

• Daftar pembuat laporan EA - individu dan organisasi.

• Referensi - bahan tertulis yang diterbitkan dan tidak diterbitkan,


digunakan dalam persiapan studi.

• Catatan rapat antar lembaga dan konsultasi, termasuk konsultasi


untuk mendapatkan informasi tentang orang-orang yang terkena
dampak dan organisasi nonpemerintah (LSM) setempat. Catatan
menentukan cara apa pun selain konsultasi (misalnya Survei) yang
digunakan untuk mendapatkan pandangan kelompok yang terkena
dampak dan LSM lokal.

• Tabel yang menyajikan data relevan yang disebut atau dirangkum


dalam teks utama.
137
• Daftar laporan terkait (misalnya rencana pemindahan lahan atau
rencana pengembangan masyarakat adat).

138
Lampiran D. KERANGKA RENCANA PENGELOLAAN LINGKUGAN DAN SOSIA
Dengan mengacu pada Lampiran C pada OP 4.01 Kebijakan Upaya Perlindungan Bank Dunia - Rencana
Pengelolaan Lingkungan

Rencana pengelolaan lingkungan dan sosial (ESMP) subproyek terdiri dari serangkaian langkah mitigasi,
pemantauan, dan kelembagaan yang harus dilakukan selama pelaksanaan dan pengoperasian untuk
menghilangkan dampak lingkungan dan sosial yang merugikan, mengimbangi, atau menguranginya ke
tingkat yang dapat diterima. Rencana tersebut juga mencakup tindakan yang diperlukan untuk
menerapkan langkah-langkah ini. Untuk mempersiapkan ESMP, PT SMI akan (a) mengidentifikasi
serangkaian tanggapan terhadap dampak yang berpotensi merugikan; (b) menentukan persyaratan
untuk memastikan bahwa tanggapan tersebut dibuat secara efektif dan tepat waktu; dan (c)
menjelaskan sarana untuk memenuhi persyaratan tersebut. Lebih khusus lagi, ESMP akan mencakup
komponen berikut.
Mitigasi
ESMP mengidentifikasi langkah-langkah yang layak dan hemat biaya yang dapat mengurangi dampak
lingkungan negatif yang berpotensi signifikan terhadap tingkat yang dapat diterima. Rencana tersebut
mencakup tindakan kompensasi jika tindakan mitigasi tidak mungkin dilakukan, yang hemat biaya, atau
memadai. Secara khusus, ESMP:
a. mengidentifikasi dan meringkas seluruh dampak lingkungan yang merugikan yang
diantisipasi secara signifikan (termasuk yang melibatkan masyarakat adat atau pemukiman
kembali paksa);
b. menjelaskan - dengan rincian teknis - setiap skala mitigasi, termasuk jenis dampak yang
terkait dengannya dan kondisi bila diperlukan (misalnya, terus-menerus atau dalam hal
kontinjensi), beserta desain, uraian peralatan, dan prosedur pengoperasian yang sesuai;
c. memperkirakan potensi dampak lingkungan dari tindakan ini; dan
d. memberikan keterkaitan dengan rencana mitigasi lainnya (misalnya untuk pemukiman
kembali paksa, Masyarakat Adat, atau Benda Cagar Budaya) yang dibutuhkan untuk proyek
tersebut.

Pemantauan
Pemantauan lingkungan selama pelaksanaan proyek memberikan informasi tentang aspek lingkungan
utama proyek, terutama dampak lingkungan dari proyek dan efektivitas langkah-langkah mitigasi.
Informasi tersebut memungkinkan peminjam dan Bank untuk mengevaluasi keberhasilan mitigasi
sebagai bagian dari pengawasan subproyek, dan memungkinkan tindakan perbaikan dilakukan bila
perlu. Oleh karena itu, ESMP mengidentifikasi tujuan pemantauan dan menentukan jenis pemantauan,
yang terkait dengan dampak yang diukur dalam laporan ESIA dan langkah-langkah mitigasi yang
dijelaskan dalam ESMP. Secara khusus, bagian pemantauan ESMP menyajikan:
a. uraian spesifik, dan rincian teknis, tentang tindakan pemantauan, termasuk parameter yang
akan diukur, metode yang akan digunakan, lokasi pengambilan sampel, frekuensi

139
pengukuran, batas deteksi (jika sesuai), dan definisi ambang batas yang akan
mengindikasikan perlunya tindakan perbaikan; dan
b. prosedur pemantauan dan pelaporan untuk (i) memastikan deteksi dini kondisi yang
memerlukan tindakan mitigasi tertentu, dan (ii) memberikan informasi mengenai kemajuan
dan hasil mitigasi.

Pelatihan dan Peningkatan kapasitas


Untuk mendukung penerapan komponen-komponen subproyek dan langkah-langkah mitigasi
lingkungan yang tepat waktu dan efektif, ESMP mengacu pada penilaian ESIA terhadap keberadaan,
peran, dan kemampuan unit lingkungan di lokasi atau di tingkat instansi dan kementerian. Jika perlu,
ESMP merekomendasikan pembentukan atau perluasan unit tersebut, dan pelatihan staf, untuk
memungkinkan penerapan rekomendasi ESIA. Secara khusus, ESMP memberikan uraian spesifik tentang
pengaturan kelembagaan-siapa yang bertanggung jawab untuk melaksanakan langkah-langkah mitigasi
dan pemantauan (misalnya, untuk pengoperasian, pengawasan, pelaksanaan, pemantauan pelaksanaan,
tindakan perbaikan, pembiayaan, pelaporan, dan pelatihan staf). Untuk memperkuat kemampuan
pengelolaan lingkungan di instansi yang bertanggung jawab atas pelaksanaannya, kebanyakan ESMP
mencakup satu atau lebih topik tambahan berikut: (a) program bantuan teknis, (b) pengadaan peralatan
dan perlengkapan, dan (c) perubahan organisasi.
Jadwal Pelaksanaan dan Perkiraan Biaya
Untuk ketiga aspek (mitigasi, pemantauan, dan peningkatan kapasitas), ESMP menyediakan (a) jadwal
pelaksanaan untuk tindakan yang harus dilakukan sebagai bagian dari proyek, yang menunjukkan
pentahapan dan koordinasi dengan keseluruhan rencana pelaksanaan proyek; dan (b) perkiraan biaya
modal dan perkiraan biaya berulang sertasumber dana untuk pelaksanaan ESMP. Angka-angka ini juga
diintegrasikan ke dalam tabel total biaya proyek.
Integrasi ESMP dengan Proyek
Keputusan peminjam untuk melanjutkan sebuah proyek, dan keputusan Bank Dunia untuk
mendukungnya, sebagian didasarkan pada harapan bahwa EMP akan dilaksanakan secara efektif. Oleh
karena itu, Bank mengharapkan agar rencana tersebut lebih spesifik dalam uraian tindakan mitigasi dan
pemantauan individual serta penugasan tanggung jawab institusionalnya, dan harus diintegrasikan ke
dalam perencanaan, perancangan, anggaran, dan implementasi keseluruhan proyek. Integrasi tersebut
dicapai dengan menyusun ESMP dalam proyek sehingga rencana tersebut akan menerima dana dan
pengawasan bersama dengan komponen lainnya.
Tabel berikut adalah kerangka yang disarankan untuk ringkasan rencana mitigasi dan pemantauan bagi
tahap eksplorasi dan pengembangan kegiatan panas bumi.

A. KERANGKA RENCANA MITIGASI UNTUK EKSPLORASI


Biaya untuk: Tanggung jawab Komentar
kelembagaan

140
untuk: (misalnya
dampak
Tahap Dampa Tindakan Pasan Operasi Pasang Operasi
sekunder atau
k Mitigasi g kan kan
kumulatif)

Tahap Eksplorasi
Tahap
Dekomisioning
(Penarikan)

B. RENCANA PEMANTAUAN UNTUK EKSPLORASI

Biaya untuk: Tanggung jawab


kelembagaan
untuk:
Tahap Apa Di Bagai Kapan Why Pasan Operas Pasan Operas
mana mana g ikan g ikan
(param (frekue
eter) (pera nsi)
latan
)
Tahap Eksplorasi
Tahap
Dekomisioning
(Penarikan)

141
Lampiran E. FORMAT UKL-UPL
Formulir berikut adalah Format untuk Rencana Pengelolaan Lingkungan (Environmental Management
Plan/UKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (Environmental Monitoring Plan/UPL). Fomulir ini
menggambarkan dampak dari rencana kegiatan terhadap lingkungan dan bagaimana pengelolaannya.
Sebagai bagian integral dari UKL-UPL, Pernyataan Jaminan Penerapan UKL-UPL juga disertakan. Format
ini sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 16/2012 yang dapat dijadikan panduan
lebih lanjut.

Judul Bab/Subbab Konten/Komen

Surat Pernyataan dari Manajemen Proyek

a. Surat pernyataan dari manajemen proyek akan menyatakan


pertanggungjawaban mereka untuk memastikan bahwa Rencana
Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan
(UPL) akan dilakukan. Surat pernyataan ini harus ditandatangani dengan
materai yang diakui oleh Kepala BLHD (badan lingkungan setempat) dan
Kepala Pemerintahan Daerah (Gubernur/Bupati/Walikota).

b. Manajemen proyek terdiri dari pihak-pihak yang mempersiapkan dan


melaksanakan Kegiatan Subproyek, pihak-pihak yang bertanggung jawab
atas pengoperasian dan pemeliharaan Kegiatan Proyek, dan pihak-pihak
lain yang bertanggung jawab atas pengelolaan dan pemantauan
lingkungan.

I. Uraian manajemen subproyek

1.1 Nama perusahaan ……………………………….

1.2 Nama Badan Nama badan manajemen subproyek dan deskripsi pekerjaan mereka
Pengelola Subproyek dalamsetiap tahap Kegiatan Subproyek, yang harus mencakup:
a. Badan atau kantor yang bertanggung jawab atas persiapan dan
pelaksanaan Kegiatan Proyek.

b. Badan atau kantor yang bertanggung jawab atas pengoperasian dan


pemeliharaan Kegiatan Proyek setelah pekerjaan rampung.

c. Badan atau kantor yang bertanggung jawab atas pengelolaan dan

142
Judul Bab/Subbab Konten/Komen

pemantauan lingkungan.

1.3 Alamat, Nomor


Alamat yang jelas dari agensi atau kantor yang terkait dengan Kegiatan
Telepon dan Faks,
Proyek sesuai dengan butir 1.1 di atas.
Website dan Email

II. Uraian Kegiatan Subproyek dan dampaknya

2.1 Nama Kegiatan Nama Kegiatan Subproyek secara jelas dan lengkap.
Subproyek

2.2 Lokasi Kegiatan a. Lokasi Kegiatan Subproyek secara jelas dan lengkap: Kelurahan/Desa,
Subproyek Kabupaten/Kota, dan Provinsi dimana Kegiatan Proyek beserta
komponennya berlangsung.

b. Lokasi Kegiatan Subproyek harus digambar di atas peta dengan


menggunakan skala yang memadai (misalnya, 1: 50.000, disertai dengan
garis lintang dan bujur lokasi).

2.3 Skala Kegiatan Perkiraan skala dan jenis Kegiatan Subproyek (menggunakan unit
Subproyek pengukuran yang diterima). Misalnya: pembangunan pasar dengan kapasitas
tertentu mungkin perlu disertai fasilitas pendukung sesuai dengan Rencana
Pengelolaan Lingkungan yang harus menyebutkan jenis komponen serta
skalanya.

2.4 Komponen Kegiatan Penjelasan singkat dan jelas mengenai komponen Kegiatan Subproyek yang
Subproyek secara memiliki potensi dampak lingkungan. Komponen kerja harus dibagi
singkat berdasarkan tahapan berikut:
a. Prakonstruksi, misalnya: mobilisasi tenaga kerja dan material,
transportasi, dan lain-lain.

b. Construction, for example the use of ground water, laying out of utility
pipes, etc Konstruksi, misalnya penggunaan air tanah, peletakan pipa
utilitas, dan lain-lain.

c. Pengoperasian dan Pemeliharaan: Pascakonstruksi, misalnya:


pembersihan limbah yang digali, dan lain-lain.

Selain itu, pasang flowchart/diagram untuk menjelaskan alur kerja yang

143
Judul Bab/Subbab Konten/Komen

harus dilakukan, jika ada.

III POTENSI DAMPAK Jelaskan secara singkat dan jelas tentang Kegiatan Subproyek dengan potensi
LINGKUNGAN dampak lingkungan, jenis dampak yang mungkin terjadi, besarnya dampak,
dan hal-hal lain yang diperlukan untuk menggambarkan potensi dampak
lingkungan terhadap lingkungan alam dan sosial. Deskripsi seperti itu dapat
disajikan dalam tabulasi, dengan masing-masing kolom mewakili masing-
masing aspek. Deskripsi ukuran atau besarnya dampak harus disertai dengan
unit pengukuran berdasarkan undang-undang dan peraturan yang berlaku
atau analisis ilmiah tertentu.

IV. Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan

4.1 Rencana i. Rencana Pengelolaan Lingkungan (UKL) terdiri dari rencana itu sendiri,
Pengelolaan Lingkungan juga pihak yang bertanggung jawab, frekuensi intervensi, jadwal
pelaksanaan, dan jenis mekanisme (misalnya: prosedur untuk
manajemen, metode, dan lain-lain.) untuk mengurangi dampak
lingkungan yang diidentifikasi dalam Bagian III di atas.

ii. Rencana tersebut dapat disajikan dalam format tabel, yang minimal
berisi kolom berikut: jenis dampak, sumber, besaran, ambang batas,
rencana pengelolaan, dan frekuensi intervensi, pihak yang bertanggung
jawab, dan pernyataan lainnya.

4.2 Rencana a. Rencana Pemantauan Lingkungan (UPL) terdiri dari rencana itu sendiri,
Pemantauan pihak yang bertanggung jawab, frekuensi intervensi, jadwal pelaksanaan,
Lingkungan dan jenis mekanisme (misalnya: prosedur pemantauan, metode, dan lain-
lain.) untuk memantau rencana pengelolaan lingkungan yang dijelaskan
pada bagian 4.1 di atas.

b. Rencana tersebut dapat disajikan dalam format tabel, yang minimal


berisi kolom berikut: jenis dampak, sumber, besaran, ambang batas,
rencana pengelolaan, dan frekuensi intervensi, pihak yang bertanggung
jawab, dan pernyataan lainnya. Dalam rencana pemantauan ini, ambang
batas harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
sesuai dengan dampak lingkungan sebagaimana telah diidentifikasi pada
Bagian III di atas.

V. TANDA TANGAN Setelah dokumen UKL-UPL disusun dan lengkap, Manajer Proyek harus

144
Judul Bab/Subbab Konten/Komen

DAN STEMPEL menandatangani dan memasang materai pada dokumen tersebut.


PERUSAHAAN

VI. REFERENSI Masukkan berbagai referensi yang digunakan dalam penyusunan UKL-UPL.

VII. LAMPIRAN Lampirkan dokumen atau informasi yang relevan ke dalam UKL-UPL, misalnya
tabel yang menampilkan hasil pemantauan, dan lain-lain.

145
Lampiran F. PERNYATAAN JAMINAN UNTUK UKL-UPL

No:…………………….
Dalam upaya mencegah, meminimalkan dan/atau mengatasi potensi dampak lingkungan dari Pekerjaan
Konstruksi .............................. , di Kabupaten/Propinsi .............. dan juga sesuai dengan tugas dan
wewenang Dinas ................ , dari Kabupaten/Propinsi, Rencana Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan
Rencana Pemantauan Lingkungan (UPL) harus dilaksanakan dan rekomendasi dari UKL-UPL harus
tercakup ke dalam Rincian Desain.

Untuk tahap selanjutnya, yaitu pekerjaan fisik, pelaksanaan rekomendasi dari UKL-UPL dilakukan oleh
pihak yang bertanggung jawab atas pekerjaan fisik, yaitu "Satker .............. ....... dari Kabupaten / Provinsi
.................. "

Pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya, sebagai konfirmasi untuk mendukung Rencana Pengelolaan
Lingkungan (UKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (UPL) tentang Pekerjaan Konstruksi untuk
Pembangunan .................. ....., di Kabupaten/Propinsi ..............

Lokasi,.........................., Tanggal…..………..
DINAS…………….………………............
KABUPATEN/PROVINSI .......................
Satker

NAME .................................

146
Appendix A. Lampiran G. PROSEDUR PENEMUAN TAK TERDUGA SUMBER
DAYA BUDAYA FISIK

Definisi. Penemuan tak terduga adalah benda-benda arkeologi, sejarah, budaya, dan sisa yang ditemukan
secara tidak terduga selama konstruksi atau operasi proyek. Prosedur penemuan tak terduga adalah
prosedur khusus proyek yang akan diikuti jika warisan budaya yang sebelumnya tidak diketahui
ditemukan selama kegiatan proyek. Prosedur tersebut pada umumnya mencakup persyaratan untuk
memberi tahu otoritas terkait benda atau situs yang ditemukan oleh ahli warisan budaya; untuk memagari
area penemuan atau lokasi untuk menghindari gangguan lebih lanjut; melakukan penilaian terhadap objek
atau lokasi yang ditemukan oleh ahli warisan budaya; mengidentifikasi dan menerapkan tindakan yang
sesuai dengan persyaratan Bank Dunia dan Undang-undang Indonesia; serta untuk melatih personil
subproyek dan pekerja subproyek mengenai prosedur penemuan tak terduga tak terduga.
Tujuan.
▪ Untuk melindungi sumber daya budaya fisik dari dampak buruk kegiatan subproyek dan
mendukung pelestariannya.
▪ Untuk mendorong pembagian manfaat yang adil dari penggunaan sumber daya budaya fisik.

Prosedur.
a. Jika PT SMI, konsultan atau Kontraktor subpeminjam menemukan situs arkeologi, situs
bersejarah, dan benda-benda peninggalan, termasuk lokasi pemakaman dan/atau kuburan
perorangan selama penggalian atau konstruksi, mereka harus:
b. Menghentikan kegiatan konstruksi di area penemuan tak terduga;
c. Membuat batas dan memagari tempat atau area yang ditemukan;
d. Mengamankan situs untuk mencegah kerusakan atau kehilangan benda yang dapat dilepas.
Dalam hal benda antik yang dapat dilepas atau benda peninggalan yang sensitif, penjaga
malam harus diatur sampai otoritas lokal yang bertanggung jawab atau Departemen
Kebudayaan Propinsi Kota, atau Institut Arkeologi setempat, jika ada, mengambil alih;
e. Melarang pengambilan objek oleh pekerja atau pihak lain;
f. Memberitahu semua personil subproyek tentang temuan tersebut dan melakukan tindakan
pencegahan awal;
g. Mencatat benda-benda temuan tak terduga dan tindakan awal;
h. Memberitahu otoritas lokal yang bertanggung jawab dan Institut Arkeologi yang relevan
secepatnya (dalam waktu 24 jam atau kurang);
i. Otoritas lokal yang berwenang akan bertanggung jawab melindungi dan melestarikan situs
sebelum memutuskan prosedur yang sesuai. Ini memerlukan evaluasi pendahuluan atas
temuan yang akan dilakukan oleh Institut Arkeologi setempat. Pentingnya temuan tersebut
harus dinilai sesuai dengan berbagai kriteria yang relevan dengan warisan budaya; termasuk
nilai estetika, sejarah, ilmiah atau penelitian, sosial dan ekonomi;
j. Keputusan tentang bagaimana menangani temuan harus diambil oleh pihak yang
bertanggung jawab. Ini bisa mencakup perubahan dalam tata letak subproyek (seperti saat
147
menemukan benda peninggalan yang tak dapat dipindahkan untuk kepentingan budaya
atau arkeologi) konservasi, pelestarian, pemulihan dan penyelamatan;
k. Pelaksanaan keputusan otoritas terkait pengelolaan temuan harus dikomunikasikan secara
tertulis oleh pejabat daerah terkait;
l. Langkah-langkah mitigasi dapat mencakup perubahan rancangan/tata letak subproyek,
perlindungan, konservasi, restorasi, dan/atau pelestarian situs dan/atau objek;
m. Pekerjaan konstruksi di lokasi dapat dilanjutkan hanya setelah izin diberikan dari pihak
berwenang setempat terkait upaya perlindungan warisan budaya; dan
n. PT SMI, konsultan subpeminjam dan kontraktornya, harus bekerja sama dengan pihak
berwenang setempat untuk memantau semua seluruh kegiatan konstruksi dan memastikan
bahwa tindakan pelestarian yang memadai dilakukan dan karenanya situs warisan
dilindungi.

148
Lampiran H. CONTOH FORMULIR PENGADUAN
Referensi No

Nama Lengkap
Harap tandai bagaimana Anda ingin Harap tandai bagaimana Anda ingin dihubungi
dihubungi (surat, telepon, e-mail).

Provinsi/Kabupaten
Tanggal

Kategori Pengaduan
1. Tentang keadaan terlantar (rumah sakit, perumahan umum)
2. Tentang aset/properti yang terkena dampak proyek

3. Tentang infrastruktur
4. Tentang pengurangan atau sama sekali hilangnya sumber
pendapatan
5. Tentang masalah lingkungan (misalnya pencemaran)
6.Tentang pekerjaan
7. Tentang lalu lintas, transportasi dan risiko lainnya
8- Lainnya (sebutkan):

Uraian Pengaduan Apa yang terjadi? Kapan itu terjadi? Dimana itu terjadi? Apa akibat dari masalah
itu?

Apa yang Anda harapkan untuk menyelesaikan masalah?

Tanda tangan: Tanggal:

149
Lampiran I CONTOH FORMULIR CLOSEOUT PENGADUAN
Nomor closeout pengaduan:

Tentukan tindakan segera yang diperlukan:


Tentukan tindakan jangka panjang yang
diperlukan (jika perlu):

Kompensasi yang Dibutuhkan? [ ] YA [ ] TIDAK


KENDALI KEPUTUSAN DAN TINDAKAN PERBAIKAN

Tahap Tindakan Perbaikan Batas Waktu dan Lembaga yang


Bertanggung Jawab
1.

2.
3.
4.
5.

COMPENSATION AND FINAL STAGES


This part will be filled and signed by the complainant after s/he receives the compensation fees and
his/her complaint has been remediated.
Notes:
Name-Surname and Signature
Date…./…../…..
Of the Complainant:

Representative of the Responsible Institution/Company

Title-Name-Surname and Signature

150
Lampiran J. DAFTAR ISI UMUM RENCANA MASYARAKAT ADAT

Latar Belakang dan Konten


i. Komponen subproyek
ii. Penjelasan singkat tentang Masyarakat Adat di wilayah proyek yang relevan
iii. Kerangka hukum yang relevan
iv. Ringkasan temuan Penilaian Sosial (bagian dari ESIA), antara lain:
a. Data dasar Masyarakat Adat
b. Peta area of influence subproyek dan daerah yang dihuni oleh Masyarakat Adat
c. Analisis struktur sosial dan sumber pendapatan Masyarakat Adat
d. Persediaan sumber daya yang digunakan oleh IP Masyarakat Adat, dan data teknis pada
sistem produksinya
e. Informasi tentang praktik dan pola budaya
v. Hubungan Masyarakat Adat dengan kelompok lokal/nasional lainnya
vi. Dampak subproyek positif utama terhadap Masyarakat Adat
vii. Dampak subproyek negatif utama pada Masyarakat Adat

Tujuan IPP
i. Menjelaskan tujuan IPP

Kegiatan Pengembangan dan/atau Mitigasi


i. Menjelaskan detail kegiatan pembangunan
ii. Menjelaskan detail kegiatan mitigasi

Strategi untuk Partisipasi Masyarakat Adat


i. Menjelaskan mekanisme partisipasi Masyarakat Adat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi
ii. Menjelaskan prosedur untuk menangani keluhan oleh Masyarakat Adat

151
Pengaturan Kelembagaan
i. Mengidentifikasi tugas dan tanggung jawab utama dalam perencanaan, pengelolaan, dan
pemantauan kegiatan pengembangan, dan/atau mitigasi

ii. Mengidentifikasi peran LSM atau organisasi Masyarakat Adat dalam melaksanakan kegiatan
pengembangan dan/atau mitigasi

Anggaran dan Pembiayaan


i. Mengidentifikasi biaya kegiatan pengembangan dan/atau mitigasi serta sumber pendanaan

Pengawasan, Pemantauan, dan Evaluasi


i. Menentukan pengaturan untuk pengawasan, pemantauan, dan evaluasi

ii. Strategi dan jadwal implementasi

iii. Menyiapkan rencana pemantauan internal terhadap target kegiatan pengembangan dan/atau
mitigasi utama

152
Lampiran K. KONTEN RENCANA ASKI PEMBEBASAN LAHAN DAN PEMUKIMAN
KEMBALI (LARAP)

Ruang lingkup dan tingkat rincian rencana pemukiman kembali berbeda dengan besarnya dan
kompleksitas pemukiman kembali secara paksa. Rencana tersebut didasarkan pada informasi terbaru
dan andal mengenai (a) pemukiman kembali yang diusulkan dan dampaknya terhadap orang-orang yang
kehilangan tempat tinggal dan kelompok-kelompok yang terkena dampaknya, dan (b) masalah hukum
yang terlibat dalam pemukiman kembali. Rencana pemukiman kembali mencakup unsur-unsur di
bawah, yang relevan.
1. Uraian subproyek. Gambaran umum subproyek dan identifikasi area subproyek.

2. Potensi dampak. Identifikasi komponen atau kegiatan subproyek yang menimbulkan


pemukiman kembali; zona dampak dari komponen atau kegiatan tersebut; alternatif yang
dipertimbangkan untuk menghindari atau meminimalkan pemukiman kembali; dan mekanisme
yang dibentuk untuk meminimalkan pemukiman kembali, sejauh mungkin, selama pelaksanaan
subproyek. 


3. Tujuan utama program pemukiman kembali. 


4. Studi sosial ekonomi. Temuan studi sosiokonomi dilakukan pada tahap awal persiapan
subproyek dan dengan keterlibatan orang-orang yang berpotensi mengungsi, termasuk hasil
survei sensus yang meliputi:

a. penghuni saat ini dari daerah yang terkena dampak untuk menetapkan dasar bagi
rancangan program pemukiman kembali dan untuk menghentikan arus masuk orang-orang
lain yang layak menerima kompensasi serta bantuan pemukiman kembali; 


b. karakteristik standar rumah tangga, sistem produksi, tenaga kerja, dan pola rumah tangga
yang dipindahkan; dan informasi dasar mengenai mata pencaharian (termasuk, sejauh
relevan, tingkat produksi dan pendapatan yang berasal dari kegiatan ekonomi formal dan
informal) dan standar kehidupan (termasuk status kesehatan) dari populasi yang
dipindahkan;

c. besarnya kerugian yang diperkirakan - seluruh atau sebagian aset, dan luasnya perpindahan,
secara fisik atau ekonomi; 


d. Informasi tentang kelompok atau orang yang rentan sebagaimana diatur dalam OP 4.12,
ayat 8, untuk siapa ketentuan khusus harus dibuat; dan


153
e. Ketentuan untuk memperbarui informasi tentang penghidupan orang-orang yang
kehilangan tempat tinggal dan standar hidup secara berkala sehingga informasi terbaru
tersedia pada saat perpindahan mereka.

5. Penelitian lain yang menjelaskan hal berikut:

a. sistem transfer dan penguasaan lahan, termasuk inventarisasi sumber daya alam yang
merupakan properti bersama, dari mana orang mendapatkan mata pencaharian dan nafkah
mereka, sistem hak menikmati hasil (usufruct) berbasis tanpa hak (termasuk memancing,
menggembala, atau menggunakan kawasan hutan) yang diatur oleh mekanisme alokasi
lahan yang diakui masyarakat lokal; 


b. pola interaksi sosial dalam masyarakat yang terkena dampak, termasuk jaringan sosial dan
sistem pendukung sosial, serta bagaimana dampaknya terhadap proyek tersebut;

c. infrastruktur publik dan layanan sosial yang akan terpengaruh; dan 


d. Karakteristik sosial dan budaya masyarakat yang dipindahkan, termasuk uraian lembaga
formal dan informal (misalnya organisasi masyarakat, kelompok ritual, organisasi
nonpemerintah (LSM) yang mungkin relevan dengan strategi konsultasi dan untuk
merancang dan melaksanakan kegiatan pemukiman kembali. 


Kerangka Hukum. Temuan analisis kerangka hukum, yang meliputi


a. lingkup kekuasaan dari eminent domain dan sifat kompensasi yang terkait dengannya, baik
dari segi metodologi valuasi maupun waktu pembayaran; 


b. prosedur hukum dan administratif yang berlaku, termasuk uraian langkah-langkah


pemulihan yang tersedia bagi orang-orang yang dipindahkan dalam proses peradilan dan
kerangka waktu normal untuk prosedur semacam itu, serta mekanisme penyelesaian
sengketa alternatif yang mungkin relevan dengan pemukiman kembali dalam proyek; 


c. hukum yang relevan (termasuk hukum adat dan tradisional) yang mengatur kepemilikan
lahan, penilaian aset dan kerugian, kompensasi, dan hak penggunaan sumber daya alam;
hukum adat yang terkait dengan pemindahan; undang-undang lingkungan dan undang-
undang kesejahteraan sosial; 


d. undang-undang dan peraturan yang berkaitan dengan instansi yang bertanggung jawab
untuk melaksanakan kegiatan pemukiman kembali; 


e. kesenjangan, jika ada, antara undang-undang setempat yang mencakup eminent domain
dan pemukiman kembali serta kebijakan pemukiman kembali Bank, serta mekanisme untuk
menjembatani kesenjangan tersebut; dan
154
f. Setiap langkah hukum yang diperlukan untuk memastikan pelaksanaan yang efektif dari
kegiatan pemukiman kembali dalam proyek, termasuk, jika sesuai, proses untuk mengakui
klaim terhadap hak legal atas tanah-termasuk klaim yang berasal dari hukum adat dan
penggunaan tradisional (lihat OP 4.12, Ayat 15 b).

g. kesenjangan, jika ada, antara undang-undang setempat yang mencakup eminent domain
dan pemukiman kembali serta kebijakan pemukiman kembali Bank, dan mekanisme untuk
menjembatani kesenjangan tersebut; dan

h. Setiap langkah hukum yang diperlukan untuk memastikan pelaksanaan yang efektif dari
kegiatan pemukiman kembali dalam proyek, termasuk, jika sesuai, sebuah proses untuk
mengakui klaim terhadap hak legal atas tanah - termasuk klaim yang berasal dari hukum
adat dan penggunaan tradisional (lihat OP 4.12, Ayat 15 b).

Kerangka kelembagaan. Temuan analisis kerangka kerja kelembagaan yang meliputi:


a. identifikasi instansi yang bertanggung jawab atas kegiatan pemukiman kembali dan LSM
yang mungkin berperan dalam pelaksanaan proyek; 


b. penilaian kapasitas kelembagaan lembaga dan LSM tersebut; dan

c. Setiap langkah yang diusulkan untuk meningkatkan kapasitas institusional para lembaga dan
LSM yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pemukiman kembali. 


Kelayakan. Definisi orang-orang yang dipindahkan dan kriteria untuk menentukan kelayakan mereka
atas kompensasi dan bantuan pemukiman kembali lainnya, termasuk tanggal batas akhir yang relevan.
Penilaian dan kompensasi kerugian. Metodologi yang digunakan dalam menilai kerugian untuk
menentukan biaya penggantiannya; serta uraian jenis dan tingkat kompensasi yang diusulkan
berdasarkan undang-undang setempat dan langkah-langkah tambahan sebagaimana diperlukan untuk
memperoleh biaya pengganti bagi aset yang hilang
Langkah pemukiman kembali. Uraian tentang paket kompensasi dan tindakan pemukiman kembali
lainnya yang akan membantu setiap kategori orang-orang yang dipindahkan yang memenuhi syarat
untuk mencapai tujuan kebijakan tersebut (lihat OP 4.12, Ayat 6). Selain layak secara teknis dan
ekonomis, paket pemukiman kembali harus sesuai dengan preferensi budaya orang-orang yang
kehilangan tempat tinggal, dan dipersiapkan dalam konsultasi dengan mereka.
Pemilihan lokasi, persiapan lokasi, dan relokasi. Lokasi relokasi alternatif dipertimbangkan dan
penjelasan yang diseleksi, meliputi:
a. pengaturan kelembagaan dan teknis untuk mengidentifikasi dan mempersiapkan lokasi relokasi,
baik pedesaan maupun perkotaan, yang mana kombinasi potensi produktif, keuntungan lokasi,
dan faktor lainnya setidaknya sebanding dengan keuntungan dari lokasi lama, dengan estimasi
waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh dan mengalihkan lahan dan sumber daya tambahan;

155
b. setiap tindakan yang diperlukan untuk mencegah spekulasi tanah atau masuknya orang yang
tidak memenuhi syarat di lokasi yang dipilih;

c. prosedur relokasi fisik di dalam proyek, termasuk daftar waktu persiapan dan transfer lokasi;
dan

d. Pengaturan hukum untuk mengatur penguasaan dan mentransfer hak ke para pendatang.

Perumahan, infrastruktur, dan pelayanan sosial. Rencana untuk menyediakan (atau untuk membiayai
penyediaan pemukiman kembali) perumahan, infrastruktur (misalnya pasokan air, feeder road), dan
layanan sosial (misalnya, sekolah, layanan kesehatan); rencana untuk memastikan layanan serupa guna
menampung populasi; setiap pengembangan, teknik, dan desain bangunan yang diperlukan untuk
fasilitas ini.
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan. Penjelasan tentang batas-batas wilayah relokasi; dan
penilaian dampak lingkungan dari pemukiman kembali yang diusulkan serta langkah-langkah untuk
mengurangi dan mengelola dampak ini (dikoordinasikan sesuai dengan penilaian lingkungan dari
investasi utama yang memerlukan pemukiman kembali).
Partisipasi komunitas. Keterlibatan mereka yang dipindahkan dan komunitas tuan rumah,
a. uraian strategi untuk konsultasi dan partisipasi pendatang dan penghuni tuan rumah
rancangan dan pelaksanaan kegiatan pemukiman kembali; 


b. ringkasan dari pandangan yang diungkapkan dan bagaimana pandangan-pandangan ini


diperhitungkan dalam mempersiapkan rencana pemukiman kembali; 


c. kajian mengenai alternatif pemukiman kembali yang dipresentasikan dan pilihan yang
dibuat oleh orang-orang yang dipindahkan mengenai pilihan yang tersedia bagi mereka,
termasuk pilihan terkait bentuk kompensasi dan bantuan pemukiman kembali, relokasi
individu sebagai keluarga atau sebagai bagian dari kelompok masyarakat atau kekerabatan
yang sudah ada sebelumnya, mempertahankan pola organisasi kelompok yang ada, serta
mempertahankan akses terhadap kekayaan budaya (misalnya tempat ibadah, pusat ziarah,
kuburan); 5 dan

d. Pengaturan yang dilembagakan dimana orang-orang yang dipindahkan dapat


mengkomunikasikan keprihatinan mereka kepada pihak-pihak yang berwenang selama
perencanaan dan pelaksanaan, serta langkah-langkah untuk memastikan bahwa kelompok
rentan seperti masyarakat adat, etnis minoritas, mereka yang tidak memiliki tanah, dan
perempuan diwakili secara memadai.

Integrasi dengan penghuni tuan rumah. Langkah-langkah untuk mengurangi dampak pemukiman
kembali terhadap penghuni tuan rumah manapun.
1. konsultasi dengan masyarakat tuan rumah dan pemerintah daerah; 

156
2. pengaturan untuk menawarkan pembayaran yang cepat kepada tuan rumah untuk tanah atau
aset lain yang diberikan kepada pendatang; 


3. pengaturan untuk menangani setiap konflik yang mungkin timbul antara pendatang dan
masyarakat tuan rumah; dan


4. Langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan layanan (misalnya, layanan pendidikan,


air, kesehatan, dan produksi) dalam komunitas tuan rumah untuk membuatnya paling tidak
sebanding dengan layanan yang tersedia bagi para pendatang. 


Prosedur pengaduan. Prosedur yang terjangkau dan mudah diakses untuk penyelesaian sengketa pihak
ketiga yang timbul dari pemukiman kembali; Mekanisme keluhan semacam itu harus
mempertimbangkan ketersediaan mekanisme pengadilan dan mekanisme penyelesaian perselisihan
masyarakat dan tradisional.
Tanggung jawab organisasi. Kerangka kerja organisasi untuk menerapkan pemukiman kembali,
termasuk identifikasi instansi yang bertanggung jawab atas penyampaian tindakan pemukiman kembali
dan penyediaan layanan; pengaturan untuk memastikan koordinasi yang tepat antara instansi dan
yurisdiksi yang terlibat dalam pelaksanaan; dan tindakan (termasuk bantuan teknis) yang diperlukan
untuk memperkuat kapasitas lembaga pelaksana dalam merancang dan melaksanakan kegiatan
pemukiman kembali; ketentuan untuk transfer tanggung jawab ke pemerintah daerah atau pendatang
sendiri untuk mengelola fasilitas dan layanan yang disediakan dalam proyek dan untuk mentransfer
tanggung jawab lainnya dari lembaga pelaksana pemukiman kembali, jika sesuai.
Jadwal pelaksanaan. Jadwal pelaksanaan mencakup seluruh kegiatan pemukiman kembali dari
persiapan hingga pelaksanaan, termasuk tanggal target untuk pencapaian manfaat yang diharapkan bagi
pendatang dan penghuni tuan rumah serta mengakhiri berbagai bentuk bantuan. Jadwal harus
menunjukkan bagaimana kegiatan pemukiman kembali terkait dengan pelaksanaan keseluruhan proyek.
Biaya dan anggaran. Tabel yang menunjukkan perkiraan biaya rinci untuk semua kegiatan pemukiman
kembali, termasuk tunjangan inflasi, pertumbuhan penduduk, dan kontinjensi lainnya; daftar waktu
untuk biaya pengeluaran; sumber dana; dan pengaturan arus dana yang tepat waktu, serta pendanaan
untuk pemukiman kembali, jika ada, di wilayah di luar yurisdiksi lembaga pelaksana.
Pemantauan dan evaluasi. Pengaturan pemantauan kegiatan pemukiman kembali oleh badan
pelaksana, dilengkapi dengan pemantau independen yang dianggap tepat oleh Bank, untuk memastikan
informasi yang lengkap dan obyektif; indikator pemantauan kinerja untuk mengukur masukan, keluaran,
dan hasil untuk kegiatan pemukiman kembali; keterlibatan orang-orang yang dipindahkan dalam proses
pemantauan; evaluasi dampak pemukiman kembali untuk jangka waktu yang wajar setelah seluruh
kegiatan pemukiman kembali dan pembangunan terkait rampung; serta menggunakan hasil
pemantauan pemukiman kembali untuk memandu pelaksanaan selanjutnya.

157
Lampiran B. DAFTAR ISI RENCANA TINDAKAN PEMBEBASAN LAHAN DAN
PEMUKIMAN KEMBALI SEDERHANA

1. Uraian proyek: Gambaran umum proyek dan identifikasi area proyek.

2. Potensi dampak: Identifikasi (i) komponen atau kegiatan subproyek yang memerlukan
pembebasan lahan, (ii) zona dampak dari komponen/kegiatan tersebut.

3. Sensus Orang-orang yang Terkena Dampak Proyek: Hasil sensus dan inventarisasi aset, termasuk
(i) daftar Orang-orang yang Terkena Dampak Proyek, membedakan antara mereka yang memiliki
hak atas tanah dan yang tidak, dan (ii) inventarisasi bidang tanah dan struktur yang terpengaruh.

4. Analisis Hukum: Uraian langkah-langkah hukum untuk memastikan pelaksanaan pembebasan


lahan secara efektif dalam subproyek, termasuk, jika sesuai, proses untuk mengakui klaim
terhadap hak legal atas tanah - termasuk klaim yang berasal dari hukum adat dan penggunaan
tradisional.

5. Kelayakan: Identifikasi Orang-orang yang Terkena Dampak Proyek yang akan memenuhi syarat
untuk mendapatkan kompensasi dan penjelasan mengenai kriteria yang digunakan untuk
menentukan kelayakan.

6. Penilaian aset dan perhitungan kompensasi kerugian: Uraian tentang prosedur yang akan diikuti
untuk menentukan bentuk dan nilai kompensasi yang akan ditawarkan kepada Orang-orang
yang Terkena Dampak Proyek.

7. Konsultasi dengan orang-orang yang kehilangan tanah dan aset lainnya: Uraian tentang
kegiatan yang dilakukan untuk (1) menginformasikan kepada Orang-orang yang Terkena
Dampak Proyek tentang dampak proyek serta prosedur dan pilihan kompensasi, dan (2)
memberikan Orang-orang yang Terkena Dampak Proyek kesempatan untuk mengekspresikan
pendapat mereka.

8. Tanggung jawab organisasi: Gambaran singkat kerangka kerja organisasi untuk pelaksanaan
pembebasan lahan.

9. Jadwal pelaksanaan: Jadwal pelaksanaan meliputi pembebasan lahan, termasuk tanggal target
penyampaian kompensasi. Jadwal harus menunjukkan bagaimana kegiatan pembebasan lahan
terkait dengan pelaksanaan keseluruhan proyek.

10. Biaya dan anggaran: Perkiraan biaya pembebasan lahan untuk subproyek.

158
11. Prosedur pengaduan: Prosedur yang terjangkau dan mudah diakses untuk penyelesaian
sengketa pihak ketiga yang timbul dari pembebasan lahan; Mekanisme penanganan keluhan
semacam itu harus mempertimbangkan ketersediaan mekanisme pengadilan serta mekanisme
penyelesaian perselisihan masyarakat dan tradisional.

12. Pemantauan: Pengaturan pemantauan kegiatan pembebasan lahan dan penyerahan


kompensasi kepada Orang-orang yang Terkena Dampak Proyek.

159
Lampiran M. UMPAN BALIK DARI KONSULTASI DENGAN PEMANGKU
KEPENTINGAN

160