Anda di halaman 1dari 14

[tutup]

Waktu kompetisi Proyek EUforia Uni Eropa diperpanjang hingga 17 Juni 2018! Segera

buat artikel dan menangkan MacBook Air serta iPad! Daftarkan diri Anda di sini.

Monumen Nasional
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Jump to navigationJump to search


Artikel ini membutuhkan lebih banyak catatan
kaki untuk pemastian. Bantulah memperbaiki artikel ini dengan
menambahkan catatan kaki dari sumber yang terpercaya.
(Desember 2016)

Monumen Nasional

Monumen Nasional

Informasi umum

Lokasi Jakarta, Indonesia

Alamat Lapangan Merdeka


Mulai dibangun 17 Agustus 1961

Selesai 12 Juli 1975

Diresmikan 12 Juli 1975

Tinggi 132 meter

Desain dan konstruksi

Arsitek Frederich Silaban,

R.M. Soedarsono

Kontraktor utama P.N. Adhi Karya

(tiang fondasi)

Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah
monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan
dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia
Belanda. Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah
presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api
yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala.
Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Monumen
dan museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 - 15.00 WIB. Pada hari Senin pekan terakhir
setiap bulannya ditutup untuk umum.

Daftar isi
[sembunyikan]

 1Sejarah
 2Pembangunan
 3Rancang Bangun Monumen
 4Relief Sejarah Indonesia
 5Museum Sejarah Nasional
 6Ruang Kemerdekaan
 7Pelataran Puncak dan Api Kemerdekaan
 8Angkutan Umum
 9Galeri
 10Referensi
 11Catatan kaki
 12Pranala luar
Sejarah[sunting | sunting sumber]
Setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta setelah sebelumnya
berkedudukan di Yogyakarta pada tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia
oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden Sukarno mulai merencanakan pembangunan
sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana
Merdeka. Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa
Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan
semangat patriotisme generasi penerus bangsa.
Pada tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara perancangan
monumen nasional digelar pada tahun 1955. Terdapat 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya satu
karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara
lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad.
Sayembara kedua digelar pada tahun 1960 tetapi sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang
memenuhi kriteria. Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada
Sukarno. Akan tetapi Sukarno kurang menyukai rancangan itu dan ia menginginkan monumen itu
berbentuk lingga dan yoni. Silaban kemudian diminta merancang monumen dengan tema seperti itu,
akan tetapi rancangan yang diajukan Silaban terlalu luar biasa sehingga biayanya sangat besar dan
tidak mampu ditanggung oleh anggaran negara, terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk.
Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil, dan menyarankan pembangunan ditunda
hingga ekonomi Indonesia membaik. Sukarno kemudian meminta arsitek R.M. Soedarsono untuk
melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17
Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen
itu.[1][2][3] Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun di areal seluas 80 hektare. Tugu ini
diarsiteki oleh Frederich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961.

Pembangunan[sunting | sunting sumber]

Soekarno menginspeksi pembangunan Monas. Foto ini dibuat sekitar tahun 1963-1964.

Pembangunan terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama, kurun 1961/1962 - 1964/1965 dimulai dengan
dimulainya secara resmi pembangunan pada tanggal 17 Agustus 1961 dengan Sukarno secara
seremonial menancapkan pasak beton pertama. Total 284 pasak beton digunakan sebagai fondasi
bangunan. Sebanyak 360 pasak bumi ditanamkan untuk fondasi museum sejarah nasional.
Keseluruhan pemancangan fondasi rampung pada bulan Maret 1962. Dinding museum di dasar
bangunan selesai pada bulan Oktober. Pembangunan obelisk kemudian dimulai dan akhirnya
rampung pada bulan Agustus 1963. Pembangunan tahap kedua berlangsung pada
kurun 1966 hingga 1968 akibat terjadinya Gerakan 30 September sehingga tahap ini sempat
tertunda. Tahap akhir berlangsung pada tahun 1969-1976 dengan menambahkan diorama pada
museum sejarah. Meskipun pembangunan telah rampung, masalah masih saja terjadi, antara lain
kebocoran air yang menggenangi museum. Monumen secara resmi dibuka untuk umum dan
diresmikan pada tanggal 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto.[4][5] Lokasi
pembangunan monumen ini dikenal dengan nama Medan Merdeka. Lapangan Monas mengalami
lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan
Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam
dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur Medan Merdeka dipenuhi
pengunjung yang berekreasi menikmati pemandangan Tugu Monas dan melakukan berbagai
aktivitas dalam taman.

Rancang Bangun Monumen[sunting | sunting sumber]

Monumen Nasional dalam tahap pembangunan.

Rancang bangun Tugu Monas berdasarkan pada konsep pasangan universal yang
abadi; Linggadan Yoni. Tugu obelisk yang menjulang tinggi adalah lingga yang melambangkan laki-
laki, elemen maskulin yang bersifat aktif dan positif, serta melambangkan siang hari. Sementara
pelataran cawan landasan obelisk adalah Yoni yang melambangkan perempuan, elemen feminin
yang pasif dan negatif, serta melambangkan malam hari.[6] Lingga dan yoni merupakan lambang
kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi sedari masa prasejarah Indonesia.
Selain itu bentuk Tugu Monas juga dapat ditafsirkan sebagai sepasang "alu" dan "Lesung", alat
penumbuk padi yang didapati dalam setiap rumah tangga petani tradisional Indonesia. Dengan
demikian rancang bangun Monas penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Monumen terdiri
atas 117,7 meter obelisk di atas landasan persegi setinggi 17 meter, pelataran cawan. Monumen ini
dilapisi dengan marmer Italia.
Kolam di Taman Medan Merdeka Utara berukuran 25 x 25 meter dirancang sebagai bagian dari
sistem pendingin udara sekaligus mempercantik penampilan Taman Monas. Di dekatnya terdapat
kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kudanya, terbuat
dari perunggu seberat 8 ton. Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato[7] sebagai
sumbangan oleh Konsul Jenderal Kehormatan, Dr. Mario, di Indonesia. Pintu masuk Monas terdapat
di taman Medan Merdeka Utara dekat patung Pangeran Diponegoro. Pintu masuk melalui
terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk
pengunjung menuju tugu Monas. Loket tiket berada di ujung terowongan. Ketika pengunjung naik
kembali ke permukaan tanah di sisi utara Monas, pengunjung dapat melanjutkan berkeliling melihat
relief sejarah perjuangan Indonesia; masuk ke dalam museum sejarah nasional melalui pintu di
sudut timur laut, atau langsung naik ke tengah menuju ruang kemerdekaan atau lift menuju
pelataran puncak monumen.

Relief Sejarah Indonesia[sunting | sunting sumber]

Relief timbul sejarah Indonesia menampilkan Gajah Mada dan sejarah Majapahit

Pada tiap sudut halaman luar yang mengelilingi monumen terdapat relief yang
menggambarkan sejarah Indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut dengan mengabadikan
kejayaan Nusantara pada masa lampau; menampilkan sejarah Singhasari dan Majapahit. Relief ini
berlanjut secara kronologis searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya, dan barat laut.
Secara kronologis menggambarkan masa penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan
pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terbentuknya organisasi modern yang memperjuangkan
Indonesia Merdeka pada awal abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan Jepang dan Perang
Dunia II, proklamasi kemerdekaan Indonesia disusul Revolusi dan Perang kemerdekaan Republik
Indonesia, hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern. Relief dan patung-patung ini
dibuat dari semen dengan kerangka pipa atau logam, namun beberapa patung dan arca tampak tak
terawat dan rusak akibat hujan serta cuaca tropis.

Museum Sejarah Nasional[sunting | sunting sumber]

Pelajar memperhatikan diorama sejarah Indonesia


Di bagian dasar monumen pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah, terdapat Museum
Sejarah Nasional Indonesia. Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas
80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang. Ruangan besar berlapis marmer
ini terdapat 48 diorama pada keempat sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga menjadi total 51
diorama. Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde
Baru. Diorama ini dimula dari sudut timur laut bergerak searah jarum jam menelusuri perjalanan
sejarah Indonesia; mulai masa pra sejarah, masa kemaharajaan kuno
seperti Sriwijaya dan Majapahit, disusul masa penjajahan bangsa Eropa yang disusul perlawanan
para pahlawan nasional pra kemerdekaan melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda. Diorama
berlangsung terus hingga masa pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20, pendudukan
Jepang, perang kemerdekaan dan masa revolusi, hingga masa Orde Baru pada masa pemerintahan
Suharto.

Ruang Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Ruang kemerdekaan

Di bagian dalam cawan monumen terdapat Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater. Ruangan
ini dapat dicapai melalui tangga berputar di dari pintu sisi utara dan selatan. Ruangan ini menyimpan
simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Diantaranya naskah asli Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas, lambang
negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, dan
bendera merah putih, dan dinding yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik
Indonesia.[1][8]. Di dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional ini digunakan sebagai ruang
tenang untuk mengheningkan cipta dan bermeditasi mengenang hakikat kemerdekaan dan
perjuangan bangsa Indonesia. Naskah asli proklamasi kemerdekaan Indonesia disimpan dalam
kotak kaca dalam pintu gerbang berlapis emas. Pintu mekanis ini terbuat dari perunggu seberat 4
ton berlapis emas dihiasi ukiran bunga Wijaya Kusuma yang melambangkan keabadian, serta
bunga Teratai yang melambangkan kesucian. Pintu ini terletak pada dinding sisi barat tepat di
tengah ruangan dan berlapis marmer hitam. Pintu ini dikenal dengan nama Gerbang
Kemerdekaan yang secara mekanis akan membuka seraya memperdengarkan lagu "Padamu
Negeri" diikuti kemudian oleh rekaman suara Sukarno tengah membacakan naskah proklamasi
pada 17 Agustus 1945. Pada sisi selatan terdapat patung Garuda Pancasila, lambang negara
Indonesia terbuat dari perunggu seberat 3,5 ton dan berlapis emas. Pada sisi timur terdapat tulisan
naskah proklamasi berhuruf perunggu, seharusnya sisi ini menampilkan bendera yang paling suci
dan dimuliakan Sang Saka Merah Putih, yang aslinya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Akan tetapi karena kondisinya sudah semakin tua dan rapuh, bendera suci ini tidak dipamerkan. Sisi
utara dinding marmer hitam ini menampilkan kepulauan Nusantara berlapis emas, melambangkan
lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pelataran Puncak dan Api Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]


Pelataran setinggi 115 meter tempat pengunjung dapat menikmati panorama Jakarta dari ketinggian

Sebuah elevator (lift) pada pintu sisi selatan akan membawa pengunjung menuju pelataran puncak
berukuran 11 x 11 meter di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Lift ini berkapasitas 11
orang sekali angkut. Pelataran puncak ini dapat menampung sekitar 50 orang, serta terdapat
teropong untuk melihat panorama Jakarta lebih dekat. Pada sekeliling badan elevator terdapat
tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat
menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Bila kondisi cuaca cerah tanpa asap kabut,
di arah ke selatan terlihat dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat,
arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil.
Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang nyala lampu perunggu yang
beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 Kilogram. Lidah api atau obor ini berukuran tinggi
14 meter dan berdiameter 6 meter terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Lidah api ini sebagai simbol
semangat perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan. Awalnya nyala api
perunggu ini dilapisi lembaran emas seberat 35 kilogram[1], akan tetapi untuk menyambut perayaan
setengah abad (50 tahun) kemerdekaan Indonesia pada tahun 1995, lembaran emas ini dilapis
ulang sehingga mencapai berat 50 kilogram lembaran emas.[9] Puncak tugu berupa "Api Nan Tak
Kunjung Padam" yang bermakna agar Bangsa Indonesia senantiasa memiliki semangat yang
menyala-nyala dalam berjuang dan tidak pernah surut atau padam sepanjang masa. Pelataran
cawan memberikan pemandangan bagi pengunjung dari ketinggian 17 meter dari permukaan tanah.
Pelataran cawan dapat dicapai melalui elevator ketika turun dari pelataran puncak, atau melalui
tangga mencapai dasar cawan. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 meter, sedangkan rentang
tinggi antara ruang museum sejarah ke dasar cawan adalah 8 m (3 meter di bawah tanah ditambah
5 meter tangga menuju dasar cawan). Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45 x
45 meter, semuanya merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-
1945).
Sebanyak 28 kg dari 38 kg emas pada obor monas tersebut merupakan sumbangan dari Teuku
Markam, seorang pengusaha Aceh yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.[10]

Pandangan Jakarta Pusat dari puncak Monumen Nasional


Angkutan Umum[sunting | sunting sumber]
 Halte Monumen Nasional
Transjakarta koridor 1 jurusan Blok M - Kota
Transjakarta koridor 1A jurusan Pantai Indah Kapuk - Balai Kota
Transjakarta koridor 2A jurusan Kalideres - Pulogadung
Transjakarta koridor 2D jurusan Rawa Buaya - ASMI
Transjakarta koridor 5A jurusan Kampung Melayu - Grogol
Transjakarta koridor 6A jurusan Ragunan - Monas (via Kuningan)
Transjakarta koridor 6B jurusan Ragunan - Monas (via Semanggi)
Transjakarta koridor 9B jurusan Pinang Ranti - Kota
Bis Malam Transjakarta koridor M1 jurusan Blok M - Kota
Bis Malam Transjakarta koridor M2 jurusan Harmoni - Pulogadung
Bis Malam Transjakarta koridor M6 jurusan Harmoni - Ragunan
Bis Malam Transjakarta koridor M7 jurusan Harmoni - Kampung Rambutan

 Halte Monas 1
Transjakarta koridor GR1 jurusan Bundaran Senayan - Harmoni
Bus Wisata Transjakarta koridor 2
Bus Wisata Transjakarta koridor 4
Bus Wisata Transjakarta koridor 6

 Halte Monas 2
Transjakarta koridor GR1 jurusan Bundaran Senayan - Harmoni
Bus Wisata Transjakarta koridor 1
Bus Wisata Transjakarta koridor 6

 Halte Monas 3
Transjakarta koridor GR1 jurusan Bundaran Senayan - Harmoni
Bus Wisata Transjakarta koridor 1
Bus Wisata Transjakarta koridor 2
Bus Wisata Transjakarta koridor 4
Bus Wisata Transjakarta koridor 6

 Halte IRTI
Transjakarta koridor GR1 jurusan Bundaran Senayan - Harmoni
Bus Wisata Transjakarta koridor 1
Bus Wisata Transjakarta koridor 2
Bus Wisata Transjakarta koridor 3
Bus Wisata Transjakarta koridor 4
Bus Wisata Transjakarta koridor 5
Bus Wisata Transjakarta koridor 6

 Halte Balaikota
Transjakarta koridor 2 jurusan Harmoni - Pulogadung
Transjakarta koridor 2A jurusan Kalideres - Pulogadung
Transjakarta koridor 2D jurusan Rawa Buaya - ASMI
Bus Malam Transjakarta koridor M2 jurusan Harmoni - Pulogadung

 Bus Daya Sentosa Utama 157 jurusan Pasar Senen - Cimone (via
Grogol)

 Bus AJA P 106 jurusan Pasar Senen - Cimone

Galeri[sunting | sunting sumber]


Museum Sejarah Nasional Indonesia di kaki monumen.

Diorama sejarah Indonesia di dalam museum.

Kolam pantul Monas di Taman Medan Merdeka Monas.


Monas di kala malam.

Dewi Pertiwi

Garuda Pancasila di dalam Ruang Kemerdekaan Monas.

Naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesiadisimpan di Ruang Kemerdekaan Monas.

Peta Nusantara berlapis emas di dalam Ruang Kemerdekaan.

Referensi[sunting | sunting sumber]


 Heuken, A, (2008) Medan Merdeka - Jantung Ibukota RI, Yayasan
Cipta Loka Caraka, Jakarta, No ISBN
 Jakarta Local Government website: Museums in Jakarta
 National Monument Office, Jakarta Capital City Administration
(1996), National Monument: The Monument of the Indonesian
National Struggle ISBN 979-95172-0-6

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]


1. ^ a b c Heuken (2008) p25
2. ^ National monument Office, Jakarta (1996) pp. 3-9
3. ^ Tinggi cawan dari halaman adalah 17 meter, lebar dasar monumen
adalah 8 meter, serta lebar halaman cawan adalah 45 meter
4. ^ National monument Office, Jakarta (1996) pp. 12-23
5. ^ Jakarta Administration website
6. ^ Monument Nasional brochure; Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Provinsi DKI Jakarta, Unit Pengelola Monumen Nasional
7. ^ National monument Office, Jakarta (1996) pp. 28-29
8. ^ National monument Office, Jakarta (1996) pp. 24-28
9. ^ National monument Office, Jakarta (1996) p28
10. ^ Teuku Markam

Pranala luar[sunting | sunting sumber]


Wikimedia Commons
memiliki media
mengenai Monas.

 (Indonesia) Informasi tentang Monas di situs web resmi Pemerintah


Provinsi Jakarta
 (Indonesia) Situs web resmi Pariwisata Indonesia

[tampilkan]

 l

 b

 s
Museum di Jakarta

[tampilkan]

 l

 b
 s
Topik mengenai Jakarta

Koordinat: 6°10′31,45″LU 106°49′37,61″BT


Kategori:
 Markah tanah di Indonesia
 Tempat wisata di Jakarta
 Monumen di Indonesia
 Museum di Jakarta
Menu navigasi
 Belum masuk log

 Pembicaraan

 Kontribusi

 Buat akun baru

 Masuk log
 Halaman
 Pembicaraan
 Baca
 Perubahan tertunda
 Sunting
 Sunting sumber
 Versi terdahulu
Pencarian
Lanjut

 Halaman Utama
 Perubahan terbaru
 Peristiwa terkini
 Halaman baru
 Halaman sembarang
Komunitas
 Warung Kopi
 Portal komunitas
 Bantuan
Wikipedia
 Tentang Wikipedia
 Pancapilar
 Kebijakan
 Menyumbang
 Hubungi kami
 Bak pasir
Bagikan
 Facebook
 Twitter
 Google+
Cetak/ekspor
 Buat buku
 Unduh versi PDF
 Versi cetak
Dalam proyek lain
 Wikimedia Commons
Perkakas
 Pranala balik
 Perubahan terkait
 Halaman istimewa
 Pranala permanen
 Informasi halaman
 Item di Wikidata
 Kutip halaman ini
 Pranala menurut ID
Bahasa lain
 Deutsch
 English
 Español
 Français
 日本語
 Basa Jawa
 Bahasa Melayu
 Русский
 中文
11 lagi
Sunting interwiki
 Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons; ketentuan
tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

 Kebijakan privasi

 Tentang Wikipedia

 Penyangkalan

 Pengembang

 Cookie statement

 Tampilan seluler