Anda di halaman 1dari 3

Sarcopenia, sindrom geriatrik baru, adalah kondisi penuaan yang didefinisikan sebagai

kehilangan massa otot dan fungsinya secara progresif dan umum . Sarcopenia telah muncul
sebagai salah satu masalah yang paling umum terjadi pada populasi lanjut usia Dan menjadi
wakil dari salah satu masalah kesehatan masyarakat yang paling signifikan karena
dikhawatirkan dapat mempercepat sindrom kelemahan yang mengakibatkan hasil klinis dan
status kesehatan yang buruk, yaitu, gangguan fisik dan cacat, kualitas hidup yang buruk,
peningkatan risiko terjatuh, rawat inap, morbiditas, mortalitas dan biaya perawatan kesehatan

Sarcopenia, a new geriatric syndrome, is an aging-related


condition defined by a progressive and generalized loss of
muscle mass and function defined as muscle strength and/or
physical performance [1,2]. Sarcopenia has emerged as one of
the most common problems in the elderly population and is
representative of one of the most significant public health
concerns since it can accelerate to the frailty syndrome [3]
resulting in adverse clinical outcomes and health status, i.e.,
physical impairment and disability, poorer quality of life,
increased risk of falls, hospitalization, morbidity, mortality
and health care costs

Dampak sarcopenia adalah hasil dari penyebab intrinsik; perubahan fisiologis penuaan dan
penyebab ekstrinsik itu menyebabkan meningkatnya kebutuhan metabolik seperti penyakit
kronis, perilaku gaya hidup dan penggunaan obat. Akibatnya, terjadi fisik tidak aktif dan
mempercepat kelemahan. Beberapa batasan kesehatan masyarakat yang terbukti termasuk
kecacatan fisik , terjatuh, masuk perawatan rumah jompo, rawat inap, depresi, kualitas hidup
yang buruk, peningkatan pengeluaran layanan kesehatan, kinerja fisik yang buruk, efek
metabolik yang merugikan dan bahkan kematian

The impacts of sarcopenia are the results of intrinsic causes;


physiologic change of ageing and extrinsic causes that
lead to increased metabolic demands such as chronic illness,
lifestyle behavior and medication use. Consequently, physical
inactivity occurs and accelerates frailty. Several public health
burdens are evidenced accordingly including physical
disability, falling, nursing home admission, hospitalization,
depression, poor quality of life, increased health care expenditures,
poor physical performance, adverse metabolic effects
and even mortality
Ada beberapa mekanisme yang diusulkan mengenai sarcopenia yang dapat diklasifikasikan
menjadi sarcopenia primer atau sarkopenia terkait usia. Ini terkait dengan hormon seks,
apoptosis dan disfungsi mitokondria ,anoreksia dari penuaan, dan sarcopenia sekunder
termasuk 1) proses neurodegeneratif seperti penyakit motor neuron, 2) endokrinopati yang
berhubungan dengan pengurangan kadar hormon anabolik, mis. hormon pertumbuhan,
insulin seperti growth factor-1 (IGF-1), testosteron, vitamin D, Kortisol meningkat, fungsi
tiroid yang tidak normal dan resistensi insulin ,3) sitokin pro-inflamasi yang meliputi
interleukin- 1, interleukin-6 dan tumor necrosis factor-alpha, 4)nutrisi tidak adekuat atau
malabsorpsi dan 5) kondisi tidak adanya penggunaan seperti sindrom imobilisasi, ketidak-
aktifan fisik dan orang dengan gravitasi nol

There are several proposed mechanisms of sarcopenia that


can be classified as primary or age-related sarcopenia. It is
associated with sex hormones, apoptosis and mitochondrial
dysfunction, anorexia of ageing, and secondary sarcopenia
including 1) neurodegenerative processes such as motor
neuron diseases, 2) endocrinopathy which is associated with a
reduction of anabolic hormone levels, eg. growth hormone,
insulin like growth factor-1 (IGF-1), testosterone, vitamin D,
increased cortisol, abnormal thyroid function and insulin
resistance, 3) pro-inflammatory cytokines that are interleukin-
1, interleukin-6 and tumor necrosis factor-alpha, 4) inadequate
nutrition or malabsorption and 5) disuse situations such as the
immobilization syndrome, physical inactivity and persons with
zero gravity

Hipertensi pulmonal adalah sindrom akibat hambatan sirkulasi arteri pulmonalis yang
menyebabkan peningkatan resistensi vaskular paru dan berakhir pada gagal jantung kanan.
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan penyakit parenkim paru difus termasuk fibrosis
paru idiopatik dan sarkoidosis berhubungan dengan insiden tinggi hipertensi pulmonal.
Definisi hipertensi pulmonal yang berhubungan dengan penyakit paru adalah tekanan arteri
pulmonalis rerata (mean pulmonary artery pressure-MPAP) > 25 mmHg. Mekanisme
patogenesis hipertensi pulmonal pada PPOK dan penyakit paru lain mencakup efek
vasokonstriktif langsung karena hipoksia, destruksi anyaman vaskular paru dan parenkim
paru, inflamasi dan sinyal proliferatif yang berakibat remodeling vaskular, efek toksik dari
rokok, dan suseptibilitas genetik.

Hipertensi pulmonal ringan akibat penyakit paru dapat menyebabkan perubahan minimal
pada elektrokardiografi (EKG) dan radiologis sementara hipertensi pulmonal sedang sampai
berat memberikan gejala sama seperti penyakit dasar seperti sesak saat aktivitas, batuk kronik
produktif, mengi, dan sianosis. Jari tabuh dapat muncul pada kasus sedang dan berat. Pusing
dan pingsan saat aktivitas merupakan tanda ketidakmampuan jantung meningkatkan cardiac
output selama latihan sebagai tanda peningkatan resistensi vaskular paru. Pencitraan toraks
memainkan peran utama untuk penyaringan dan monitoring penyakit vaskular paru serta
berpotensi sebagai pelengkap pemeriksaan lain seperti kateterisasi jantung kanan. Diagnosis
pasti hipertensi pulmonal dilakukan dengan pengukuran kateterisasi jantung kanan. Terapi
spesifik hipertensi pulmonal yang berhubungan dengan PPOK atau penyakit paru lain saat ini
belum ada. Terapi utama pada pasien hipertensi pulmonal yang berhubungan dengan PPOK
dan penyakit paru lain dengan kondisi hipoksemia adalah terapi oksigen.
Prevalensi hipertensi pulmonal (PH) pada pasien dengan OS bervariasi antara 17-70%.
Perbedaan range yang besar ini bisa diakibatkan perbedaan populasi pasien studi, asal studi
retrospektif yang dilakukan , definisi PH sebagai rerata tekanan arteri pulmoner sebesar 20
mmHg (dimana definisis terdahulu adalah 25mmHg) dan kegagalan untuk mengontrol
adanya penyakit jantung dan paru. Pada percobaan prospektif yang lebih besar dari Chaouat
et.al, 220 pasien secara konsekutif didiagnosa dengan OSA menjalani kateterisasi jantung
kanan. PH didiagnosis sebesar 17%, tapi mPAP menjadi 26 mmHg. PH dikorelasikan dengan
PaCO2 lebih tinggi saat siang hari, PaO2 yang lebih rendah di siang hari, disfungsi obstruktif
pada spirometri, dan rerata saturasi oksigen (SaO2) yang lebih rendah. Indeks massa tubuh
(IMT) secara signifikan lebih tinggi pada pasien dengan grup hipertensi pulmonal
dibandingkan pasien non hipertensi pulmonal.

Th e reported prevalence of PH among patients with


OSA has varied between 17% and 70% . Th is
remarkably broad range can be attributed to the diff erent
patient populations studied, the retrospective nature of
some studies, the defi nition of PH as a mean pulmonary
artery pressure (mPAP) . 20 mm Hg (as opposed to the
current defi nition of mPAP _ 25 mm Hg) and the failure
to control for the presence of concurrent heart and lung
disease.

In one of the larger prospective trials by Chaouat et al, 14


220 consecutive patients diagnosed with OSA underwent
right-sided heart catheterization (RHC). PH was diagnosed
in 17%, but the mPAP in the PH group was only
mildly elevated at 26 _ 6 mm Hg. PH strongly correlated
with a higher daytime Pa co 2 , lower daytime Pa o 2 ,
obstructive dysfunction on spirometry, and lower mean
nocturnal oxygen saturation (Sa o 2 ). BMI was signifi -
cantly higher in the PH group compared with the
non-PH group.