Anda di halaman 1dari 9

HUKUM PENGANGKUTAN

PEMBAHASAN

“Pengangkutan Darat”

Hukum pengangkutan adalah sekumpulan kaidah-kaidah atau peraturan-


peraturan yang bersifat memaksa yang mengatur tentang pengangkutan. perjanjian
pengangkutan adalah perjanjian timbal balik antara pengangkut dengan pengirim
dimana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan
barang dan atau orang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat,
sedangkan pengirim mengikatkan diri untuk membayar biaya pengangkutan.

Pengangkutan darat diatur dalam:

1. KUHD Buku I BAB V bagian 2 dan 3 pasal 90-98 Dalam bagian ini diatur
sekaligus pengangkutan darat dan perairan darat tetapi khusus pengangkutan
barang.

2. UU No. 23 Tahun 2007 tentang perkeratapian;

3. UU No. 14 Tahun 1992 tentang lalu lintas dan angkutan jalan.

4. UU No. 6 Tahun 1984 tentang Pos

5. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan

6. Undang-undang No.36 Tahun 1999 dan PP No.52 Tahun 2000 tentang


Telekomunikasi

Pengangkutan darat terdiri dari pengangkutan orang dan pengangkutan


barang dengan melalui jalan umum atau dengan kereta api maupun dengan Pos
atau TELKOM.

1
A. PENGANGKUTAN BARANG

1) Perjanjian Pengangkutan Barang

Terletak dalam bagian II buku 1 KUHD tentang Ekspeditur yang


menentukan bahwa perjanjian pengangkutan tidak bersifat konsensual
tetapi tertulis. Namun apabila surat muatan tidak ada perjanjian tidak
batal dan tidak ada sanksi sehingga surat muatan disini hanya sebagai
tanda bukti telah ada perjanjian pengangkutan. Surat muatan hanya
ditandatangani oleh pengirim/ ekspeditur.

2) Pengangkut

Pengangkut adalah pihak yang langsung mengadakan perjanjian


pengangkutan. Jadi dialah yang bertanggungjawab secara langsung
terhadap pengirim.

3) Kewajiban Pengangkut

(1) Menyelenggarakan pengangkutan dengan sebaik-baiknya dari tempat


pemberangkatan sampai ke tempat tujuan;

(2) Mengusahakan agar barang-barang yang diangkut tetap dalam


keadaan lengkap tidak rusak untuk diserahkan pada pihak yang
dialamati.

4) Hak Pengangkut

(1) Menerima pembayaran dari biaya pengangkutan yang sudah


diselenggarakan;

(2) Apabila terjadi sengketa tentang biaya pengangkutan maka dapat


diajukan ke Pengadilan Negeri setempat.

5) Tanggung Jawab Pengangkut

2
(1) Menyelenggarakan pengangkutan barang dari tempat asal sampai ke
tempat tujuan dengan selamat.

(2) Berdasarkan Pasal 91 KUHD pengangkut harus mengganti kerugian


yang diderita oleh para pihak yang dirugikan. Namun pengangkut
dapat mengelak dari sanksi tersebut dengan membuktikan bahwa
ketidaksempurnaan prestasi tersebut disebabkan oleh:

a. Cacat yang melekat pada barang itu sendiri

b. Kesalahan dan atau kelalaian sendiri pada pengirim/ ekspeditur.

c. Keadaan memaksa (overmacht)

(3) Luas batas tanggung jawab pengangkut

a. Kerugian yang nyata-nyata sudah diderita

b. Keuntungan yang diperkirakan akan diperoleh apabila prestasi


pengangkut sempurna.

c. Kerugian terbatas pada kerugian yang layak dapat diperkirakan


pada saat perjanjian diadakan dan merupakan akibat langsung dan
seketika dan tidak terlaksananya perjanjian pengangkutan.

B. PENGANGKUTAN ORANG

Dalam KUHD maupun KUHPerdata tidak diatur tentang pengangkutan


orang melalui darat dan perairan darat sehingga ketentuan tentang perjanjian
pengangkutan di darat dapat didasarkan pada ketentuan umum tentang
perjanjian pada umumnya yaitu Pasal 1338 dan 1339 KUHPerdata.

C. PENGANGKUTAN MELALUI JALAN UMUM

1) Dasar Hukum

3
UU No. 14 Tahun 1992 tentang lalu lintas dan angkutan jalan

PP No. 41 tahun 1993 tentang angkutan jalan

PP No. 42 Tahun 1993 tentang pemeriksaan kendaraan bermotor dijalan

2) Pengertian

Pengangkutan melalui jalan umum adalah pengangkutan yang


dilakukan dengan mengunakan kendaraan sebagai suatu alat angkut di
jalan yang terdiri dari kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor.

Kendaraan bermotor dikelompokkan menjadi:

a. Sepeda motor, Adalah kendaraan bermotor beroda dua atau tiga tanpa
rumah-rumah baik dengan atau tanpa kereta samping.

b. Mobil penumpang, Adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi


sebanyak-banyaknya delapan tempat duduk tidak termasuk tempat
duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan
pengangkutan bagasi.

c. Mobil Bus, Adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi lebih


dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi,
baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi.

d. Mobil barang, Adalah setiap kendaraan bermotor selain dari yang


termasuk dalam sepeda motor, mobil penumpang dan Bus.

e. Kendaraan khusus, Adalah kendaraan yang selain disebutkan diatas


misalnya caravan, Ambulance, dan Narapidana.

4
3) Tujuan pengangkutan darat melalui jalan umum

Terwujudnya pelayanan lalu lintas dan angkutan jalan yang aman, selamat,
tertib, lancar dan terpadu dengan moda angkutan lain yang mendorong
perekonomian nasional, memajukan kesejahteraan umum, memperkokoh
persatuan dan kesatuan bangsa, serta mampu menjunjung tinggi martabat
bangsa.

4) Asas Angkutan Jalan Umum

Pasal 2 UU No. 22 Tahun 2009 menyebutkan:

a. Asas transparan

Transparan artinya ada keterbukaan dalam penyelenggaraan lalu lintas


dan angkutan jalan kepada masyarakat luas dalam memperoleh
informasi yang benar, jelas, dan jujur sehingga masyarakat punya
kesempatan berpartisipasi bagi perkembangan lalu lintas dan angkutan
jalan.

b. Asas akuntabel

Dalam penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan dapat


dipertanggungjawabkan

c. Asas berkelanjutan

Penjaminan kualitas fungsi lingkungan melalui peraturan persyaratan


teknis, laik kendaraan dan rencana umum pembangunan serta
pengembangan lalu lintas dan angkutan jalan.

d. Asas partisipasi

Peran serta masyarakat dalam proses penyusunan kebijakan,


penanganan kecelakaan dan pelaporan atas peristiwa yang terkait
dengan lalu lintas dan angkutan jalan.
5
e. Asas manfaat

Semua kegiatan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan yang


dapat memberikan nilai tambah sebesar-besarnya dalam rangka
mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

f. Asas efisien dan efektif

Pelayanan dalam penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan yang


dilakukan oleh setiap Pembina pada jenjang pemerintahan secara
berdaya guna dan berhasil guna.

g. Asas seimbang

Penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan yang harus dilaksanakan


atas dasar keseimbangan antara sarana dan prasarana serta pemenuhan
hak dan kewajiban pengguna jasa dan penyelenggara.

h. Asas terpadu

Penyelenggaraan pelayanan lalu lintas dan angkutan jalan yang


dilakukan dengan mengutamakan keserasian dan kesalingtergantungan,
kewenangan dan tanggungjawab antar instansi Pembina.

i. Asas mandiri

D. DANA LALU LINTAS KECELAKAAN JALAN

1. Pengusaha/ pemilik alat pengangkutan lalu lintas jalan setiap tahun wajib
membayar iuran

2. Apabila melalaikan kewajiban ini maka dapat dipidana dengan hukuman


denda.

3. Selain itu pengusaha dapat dicabut:

6
a. Surat nomer kendaraan bermotor

b. Surat uji kendaraan bermotor

c. Ijin trayek selama-lamanya satu tahun

4. Pembebasan iuran wajib adalah pengusaha atau pemilik:

a. Sepeda motor kembang dengan isi silinder kurang dari 50 cc

b. Kendaraan ambulance

c. Kendaraan pemadam kebakaran

d. Kendaraan jenazah

e. Kereta api

5. Pembayaran dana tidak mengurangi tanggung jawab pengangkut atau


pihak lain yang dapat dipersalahkan menurut hukum pidana maupun
perdata. Jadi penumpang sesudah menerima penggantian dari PT. Jasa
Raharja masih berhak untuk menuntut ganti kerugian pada pengangkut
bila ada alasan untuk itu.

6. Jasa Raharja atau asuransi yang diberikan kepada seseorang yang


mengalami kerugian, apabila:

a. Meninggal dunia mendapat uang Jasa Raharja sebesar 25 juta rupiah.

b. Cacat tetap mendapat uang maksimal 25 juta rupiah tergantung


dengan cacat yang melekat.

c. Biaya perawatan mendapat uang sebesar 10 juta rupiah.

7
KESIMPULAN

Hukum pengangkutan adalah sekumpulan kaidah-kaidah atau peraturan-


peraturan yang bersifat memaksa yang mengatur tentang pengangkutan. perjanjian
pengangkutan adalah perjanjian timbal balik antara pengangkut dengan pengirim
dimana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan
barang dan atau orang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat,
sedangkan pengirim mengikatkan diri untuk membayar biaya pengangkutan.

Pengangkutan terdiri dari pengangkutan darat, udara, dan pengangkutan


laut. Pengangkutan darat terdiri dari pengangkutan orang dan pengangkutan
barang dengan melalui jalan umum atau dengan kereta api maupun dengan Pos
atau TELKOM yang diatur dalam KUHD DAN KUHPerdata. Perjanjian
pengangkutan tidak bersifat konsensual tetapi tertulis. Namun apabila surat
muatan tidak ada perjanjian tidak batal dan tidak ada sanksi sehingga surat muatan
disini hanya sebagai tanda bukti telah ada perjanjian pengangkutan. Surat muatan
hanya ditandatangani oleh pengirim/ ekspeditur.

Dalam KUHD maupun KUHPerdata tidak diatur tentang pengangkutan


orang melalui darat dan perairan darat sehingga ketentuan tentang perjanjian
pengangkutan di darat dapat didasarkan pada ketentuan umum tentang perjanjian
pada umumnya yaitu Pasal 1338 dan 1339 KUHPerdata

8
DAFTAR PUSTAKA

A. REFERENSI BUKU

Krisnoe, Kartika W. 2014. Hand Out Hukum Pengangkutan

B. INTERNET

https://prezi.com/ougjrng2t_55/hukum-pengangkutan-darat/

http://iinsetya14.blogspot.com/2015/12/bab-i-pendahuluan-i.html