Anda di halaman 1dari 17

Wayang Dalam Dakwah Islam Di Nusantara

1.1. SEJARAH WAYANG


Budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia. Keberadaan wayang sudah berabad-
abad sebelum agama Hindu masuk ke pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang
populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, dalam
perjalannya wayang banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikan
dengan falsafah asli Indonesia”

Wayang merupakan warisan kebudayaan leluhur yang telah mampu bertahan dan
berkembang selama berabad-abad. Dengan mengalami berbagai perubahan dan
perkembangan sampai pada bentuknya sekarang ini.

Wayang telah dikenal sejak zaman purba yang merupakan perwujudan dari bayang-
bayang nenek moyang. Dalam kepercayaan animisme dan dinamisme, roh nenek moyang yang
telah lama mati dianggap sebagai pelindung bagi manusia yang masih hidup. Roh tersebut
tinggal di bukit-bukit, gunung-gunung, pohon besar dan benda-benda lainnya.

Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya
asli Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum
agama Hindu masuk ke pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa
kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabrata. Kedua induk
cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk
menyesuaikan dengan falsafah asli Indonesia.1

Menurut Dr. Hazeu, wayang telah ada sejak zaman Airlangga (950 Caka atau 1028
Masehi permulaan abad XI sesudah Masehi) di dalam kerajaan Kediri yang makmur.
Pertunjukan bayang-bayang (wayang) mempergunakan boneka dari kulit (wilulang inukir) dan
bayang-bayangnya diproyeksikan pada tabir (kelir).2

WAYANG YANG DI TAM PI L KAN DALAM BENTUK BAY ANG- BAYANG . SUM BER G AM BAR:
KO NFRO NTASI . CO M

Di dalam bukunya, Sri Mulyono memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman
neolitikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi. Pendapatnya itu didasarkan pada
tulisan Robert von Heine Geldern Ph. D, “Prehistoric Research in the Netherland Indie” (1945)
dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding. Sejarah wayang dalam bentuk asli timbul sebelum kebudayaan
Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada zaman Hindu Jawa.3

Berdasarkan berbagai sumber baik lisan maupun tulisan, di masa lampau di nusantara
ini telah tumbuh dan berkembang berbagai macam jenis wayang. Sedemikian banyak jumlah
wayang yang ada di Nusantara. Sebelum Islam masuk ke tanah Nusantara, khususnya di Jawa,

1
Lihat, Bendung Layung Kuning, Atlas Tokoh-tokoh Wayang dari Riwayat Sampai Silsilahnya, Narasi, Yogyakarta,
2001, hal 3
2
Lihat, Sri Mulyono, Wayang Asal Usul FIlsasaf dan Masa Depannya, Gunung Agung, Jakarta, 1982, hal 21
3
Lihat, Mertosedono, Sejarah Wayang, Dahara Prize, Semarang, 1993, hal 28
wayang telah menemukan bentuknya. Bentuk wayang pada awalnya menyerupai relief yang
kita jumpai di candi-candi seperti di Prambanan dan Borobudur. 4

Ada dua pendapat yang mengatakan tentang asal-usul wayang. Pendapat pertama
mengatakan bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di pulau Jawa, tepatnya di Jawa
Timur. Pendapat ini dianut dan dikemukakan bukan hanya oleh para ahli dan peneliti bangsa
Indonesia, akan tetapi juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat, diantaranya
Hazeau, Brandes, Kats, Rentse dan Kruyt. Pendapat ini memiliki dasar yang cukup kuat karena
seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa
Indonesia, khususnya orang Jawa. Hazeu mengatakan bahwa struktur wayang digubah menurut
model yang amat tua (cara bercerita dalang, tinggi rendah suara dan ekspresi-ekspresinya).
Termasuk desain teknis, gaya, dan susunan lakon khas Jawa. Wayang tumbuh dari upacara
penyembahan nenek moyang. Beberapa tokoh dalam pewayangan terutama Punakawan
seperti Semar, Gareng, Petruk dan Bagong merupakan tokoh wayang yang hanya ada dalam
pewayangan di Indonesia dan tidak ada di negara lain. Selain itu nama dan istilah teknis
pewayangan semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna).5

Pendapat kedua mengatakan bahwa diduga wayang berasal dari India, yang dibawa
bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di
Indonesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, Raja Kahirupan (976-1012),
yakni ketika kerajaan Jawa Timur itu sedang makmur. Karya sastra yang menjadi bahan cerita
wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain naskah sastra
Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah
Balitung (959-910) yang merupakan gubahan dari kitab Ramayana karangan pujangga India,
Walmiki. Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan
Mahabrata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi mengubahnya dan menceritakan kembali dengan
memasukkan falsafah Jawa Kuna kedalamnya. Beberapa peneliti yang mengatakan bahwa
wayang berasal dari India antara lain Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan J.J Ras.

Pischel berpendapat bahwa wayang berasal dari India, kata wayang terdapat pada
kutipan Sansakerta, Rupopajivane dalam Mahabharata dan Rupparupakam yang terdapat
dalam Therighata, yang keduanya berarti teater bayangan. Poensen berpendapat bahwa teater
wayang merupakan unsur kebudayaan asing yang datang dari Hindu. Goslings berpendapat
bahwa teater wayang bukan sebuah unsur kebudayaan yang dibentuk dengan kearifan Jawa
Indonesia, tetapi dari unsur asing, sangat mungkin dari kebudayaan Hindu. Sementara J.J Ras
berpendapat bahwa wayang berasal dari India. Panggung wayang kulit Jawa berkaitan dengan

4
Lihat, Bambang Murtiyoso dkk, Perkembangan dan Pertumbuhan Seni Pertunjukan Wayang, Etmika Surakarta,
Surakarta, 2004, hal 1
5
Lihat, Op.cit Sri Mulyono, hal 21
panggung wayang kulit Bali (wayang Parwa) dan ceritanya mengambil dari Ramayana dan
Mahabrata.6

“W
ayang memiliki beberapa pengertian dan periode sejarah yang panjang,
menunjukan bahwa ia memiliki kekayaan makna falsafah serta telah
melewati perjalanan sejarah bangsa Indonesia”

Terdapat beberapa versi mengenai pengertian wayang. Menurut Amir Mertosedono


dalam bahasa Jawa perkataan wayang berarti Wayangan (layangan). Dalam bahasa Indonesia
berarti bayang-bayang, samar-samar, dan tidak jelas. Dalam bahasa Aceh berarti bayang artinya
wayangan. Sedangkan dalam bahasa Bugis berarti wayang atau bayang-bayang.7

Sedangkan menurut A. Kardiyat Wiharyanto, istilah wayang berasal dari bahasa jawa
yang berasal dari kata wayangan atau wayang-wayang (dalam bahasa Indonesia disebut
bayangan atau bayang-bayang). Bila dirunut dari akar katanya, wayang berarti bayang berasal
dari kata Yang. Arti kata Yang itu sendiri adalah selalu bergerak dari satu tempat ke tempat
yang lain. Kata Yang selanjutnya mendapat awalan Wa sehinga kata keseluruhannya menjadi
wayang. Wayang yang arti harfiahnya sama dengan bayangan, secara lebih luar mengandung
pengertian bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain atau bergerak kesana-kemari, tidak
tetap atau sayup-sayup dari substansi yang sebenarnya.8

Menurut Bambang Sugito, lebih khusus menjelaskan tentang wayang kulit yaitu suatu
bentuk pertunjukan tradisional yang disajikan oleh seorang dalang dengan menggunakan
gambar boneka atau semacamnya dari kulit sebagai alat pertunjukan dengan diiringi musik
yang telah ditentukan.9

Pengertian wayang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah boneka tiruan dan
sebagainya yang terbuat dari patahan atau kayu dan sebagainya yang dapat dimanfaatkan
untuk memerankan tokoh dipertunjukan drama tradisional biasanya dimainkan oleh seorang
dalang.10

Secara harfiah dari wayang adalah bayangan, tetapi dalam perjalanan waktu pengertian
itu berubah, dan kini wayang dapat berarti pertunjukan panggung atau teater atau dapat pula
berarti aktor dan aktris. Wayang sebagai seni teater berarti pertunjukan panggung di mana
sutradara ikut bermain. Jadi berbeda dengan sandiwara atau film dimana sutradara tidak
6
Lihat, http://staff.ui.ac.id/system/files/users/darmoko/material/beberapapendapatasal-
usulwayangdiindonesia.pdf
7
Lihat, Mertosedono, Sejarah Wayang, Dahara Prize, Semarang, 1993, hal 28
8
Lihat, A. Kardiyat Wihayatno, Mengapa Wayang Diciptakan, Harian umum Kompas edisi sabtu 10 Januari 2009,
hal B
9
Lihat, Bambang Sugito, Dakwah Islam Melalui Media Wayang Kulit, Aneka, Solo, 1992, hal 31
10
Lihat, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/wayang
muncul sebagai pemain. Adapun sutradara dalam pertunjukan wayang dikenal dengan dalang,
yang peranannya dapat mendominasi pertunjukan seperti dalam wayang Purwa di Jawa,
wayang Purwa atau wayang Ramayana di Bali dan wayang Banjar di Kalimantan Selatan dan
Kalimantan Timur.11

WAYANG PURWA.

SUMBER GAMBAR HTTP://PAGUYUBAN-LINGGAMAS.BLOGSPOT.CO.ID/2015/11/ASAL-USUL-WAYANG-


PURWA.HTML

Pengertian lain tentang wayang adalah Wahulang Inukir (kulit yang diukiur) dan dilihat
bayangannya pada kelir. Dengan demikian, wayang yang dimaksud adalah wayang kulit seperti
yang kita kenal sekarang. Pengertian ini pun akhirnya meluas menjadi segala bentuk
pertunjukan yang menggunakan dalang sebagai penuturnya. Oleh karena itu terdapat wayang
golek, wayang beber, dan lain-lain. Pengecualian terhadap wayang orang yang tiap boneka
wayang tersebut diperankan oleh aktor dan aktris sehingga menyerupai pertunjukan drama.12

11
Lihat, Pandam Guritno, Wayang, Kebudayaan Indonesia dan Pancasila, UI Press, Jakarta, 1988, hal 11
12
Lihat, Sri Mulyono, Wayang Asal-Usul Filsafat dan Masa Depannya, Gunung Agung, Jakarta, 1982, hal 154
WAYANG BEBER.

SUMBER GAMBAR HTTPS://WAYANG.WORDPRESS.COM/2010/07/23/WAYANG-BEBER-2/


WAYANG GOLEK. SUMBER GAMBAR HTTP://BISNISWISATA.CO.ID/FESTIVAL-WAYANG-
MESIR-INDONESIA-TAMPILKAN-WAYANG-AJEN/

Wayang mengalami perkembangannya melalui beberapa zaman. Di zaman prasejarah


sebelum orang-orang Hindu datang, alam fikiran nenek moyang kita yang masih sangat
sederhana mempercayai bahwa roh yang sudah mati masih tinggal di sekelilingnya. Roh itu
dianggap sebagai pelindung dan dapat didatangkan. Kedatangannya diharapkan dapat
memberikan berkah kepada yang masih hidup. Harapan-harapan inilah yang mendorong orang
menghasilkan pembuatan bayangan arwah nenek moyang mereka yang telah mati. Kemudian
mereka mengadakan pertunjukan bayangan untuk melihat roh nenek moyang. Pada zaman ini
wayang berfungsi sebagai hal yang bersifat magis, mitos dan religius. Isi ceritanya tentang
nenek moyang, kepahlawanan dan petualangannya. Diceritakan oleh orang sakti dengan
menggunakan bahasa Jawa Kuno Murni. 13

Zaman kedua pada zaman Mataram I (400 M – 929 M), dimana wayang tidak hanya
berfungsi magis, mitos dan religius, akan tetapi sudah berkembang sebagai alat pendidikan dan
komunikasi. Isi cerita diambil dari epos Ramayana dan Mahabrata versi Indonesia yang
bercampur mitos kuni tradisional. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Kawi. Zaman

13
Lihat, Ibid, hal 296-299
selanjutnya adalah zaman Jawa Timur (929 M – 1478 M), pada zaman ini pertunjukan wayang
kulit sudah mencapai bentuk yang menarik. Bahasa yang digunakan adalah percampuran
bahasa Sangsakerta dan Jawa Kuno. 14

Setelah zaman Jawa Timur barulah wayang memasuki zaman Islam (1478 M – 1945 M),
wayang pada masa ini telah berfungsi sebagai alat dakwah, penerangan, pendidikan, hiburan,
sumber sastra dan budaya. Isi ceritanya diambil dari Babad, yaitu percampuran Ramayana dan
Mahabrata versi Indonesia secara Islami. Bentuk wayang pun mengalami perubahan.
Pertunjukan wayang dipimpin oleh kyai sebagai dalang. Masa terakhir dari wayang adalah
zaman Indonesia merdeka (1945 M – sekarang), dimana wayang berfungsi sebagai hiburan,
unsur budaya dan kesenian, pendidikan, simbolis, dan filosofi. Wayang juga dimainkan oleh
pemuka adat, mahasiswa, pegawai dan lain sebagainya.15

1.2. Periode Islam dan Walisongo


Di masa lalu para ulama dan para wali melakukan pendekatan akulturasi melalui media
dakwah yang telah menjadi warisan budaya leluhur Indonesia, dan wayang pun
dijadikan media dakwah oleh Walisongo di Jawa pada zaman kedatangan Islam”

Dakwah yang dilakukan para pembawa ajaran Islam yaitu dengan memadukan budaya
yang sudah ada dengan memasukkan ajaran-ajaran Islam. Sehingga Islam tidak menghilangkan
susunan budaya asli yang sudah melekat pada tatanan masyarakat Jawa, melainkan Islam
datang untuk membenahi ajaran-ajaran yang sudah ada. Adapun beberapa budaya masyarakat
Jawa yang berhasil dipadukan dengan ajaran Islam diantaranya adalah upacara Selametan yang
berkaitan dengan orang mati pada hati ketiga, ketujuh dan hari keempat puluh yang di
dalamnya sudah terdapat lafal-lafal Allah dan wirid-wirid Islam lainnya. Dengan adanya
perpaduan ini tradisi lama otomatis sudah mendapatkan label Islam. Demikian pula upacara
Selametan Akbar yang dilaksanakan oleh sultan, dengan nama gunungan dalam upacara Grebeg
Maulud, Grebeg Syawal dan Grebeg Besar, disamping mendapat cap Islam, upacara tersebut
juga ditujukan untuk merayakan hari besar Islam.

14
Lihat, Ibid, hal 300-302
15
Lihat, Ibid,hal 304
UPACARA GEREBEG SYAWAL. SUMBER GAMBAR : LIFE.108JAKARTA.COM

Dengan kedatangan agama Islam di tanah Jawa telah menimbulkan perubahan


kebudayaan yang melekat pada masyarakat Jawa. Perubahan yang terjadi bukan semata-mata
karena perombakan oleh dunia Islam, akan tetapi karena adanya toleransi dan akulturasi.
Wayang sejak zaman dahulu dimaknai sebagai sumber ilham dan penggambaran wujud tokoh
serta cerita, sehingga menggambarkan dengan jelas batin si penggambar (dalang). 16

Di masa lalu para ulama dan para wali melakukan pendekatan akulturasi melalui media
dakwah yang telah menjadi warisan budaya leluhur Indonesia, sehingga proses tersebut
berjalan begitu harmonis.17 Wayang pun dijadikan media dakwah oleh Walisongo di Jawa pada
zaman kedatangan Islam.18

Wayang mengalami perkembangan pesat, mengalami berbagai transformasi dalam


aspek visual, dan aspek pendukung lainnya seperti karawitan, sastra dan sebagainya.
Perkembangan ini melibatkan peranan dan pengaruh para ulama sufi dan pihak penguasa lokal
yang telah memeluk Islam. Bahkan Walisongo terlibat intensif dalam perkembangan ini.
Terutama Sunan Kalijaga dan putranya Sunan Panggung.19

16
Lihat, Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2000, hal 22
17
Lihat, Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal 203
18
Lihat, Hazim Amir, Nilai-Nilai Etis Dalam Wayang, CV. Mulia Sari, Jakarta, 1991, hal 16
19
Lihat, A. Djajasoebrata, Shadow Theatre in Java: Puppets, Performance & Repertoire, The Pepin Press,
Amsterdam, 1999, hal 79
Mereka berupaya untuk mendiplomasikan antara seni wayang yang berbau non-Islam
dengan ajaran Islam. Berkat peranan mereka, seni wayang terutama wayang kulit oleh sebagian
pihak dimaknai mengandung ajaran Islam (tarekat) dalam setiap aspeknya, meskipun masih
berkisah tentang epik-epik India Hindu-Budha. 20Para ulama sufi seakan siap untuk menjaga
kesinambungan dengan masa lalu, dan menggunakan pemahaman dan unsur-unsur budaya
pra-Islam ke dalam konteks Islam. Tampaknya diplomasi ini memang merupakan suatu bagian
dari strategi kebudayaan untuk jangka panjang ke depan.

Para wali melihat wayang bisa menjadi media penyebaran Islam yang sangat bagus.
Namun timbul perdebatan diantara para wali mengenai bentuk wayang yang menyerupai
manusia. Setelah berembuk, akhirnya mereka menemukan kesepakatan untuk menggunakan
wayang sebagai media dakwah tetapi bentuknya harus dirubah.

Bentuk baru yang diciptakan dibuat dari kulit kerbau dengan wajah yang digambarkan
miring, leher yang panjang, serta tangan yang dibuat memanjang sampai ke kaki. Bentuk
bagian-bagian wajah pun dibuat berbeda dengan wajah manusia. Tak hanya bentuknya saja,
ajaran-ajaran dan pesan moral Islam banyak disisipkan dalam cerita dan pemaknaan wayang.
Seperti contoh dalam lakon Bima Suci, dimana Bima sebagai tokoh sentralnya diceritakan
meyakini adanya Tuhan yang Maha Esa. Tuhan yang Maha Esa itulah yang menciptakan dunia
dan segala isinya. Dengan keyakinannya itu, Bima mengajarkan kepada saudaranya, Janaka.
Lakon ini juga berisi ajaran-ajaran tentang wajibnya menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil
dan bertatakrama dengan sesama manusia. 21

SOSOK BIMA DALAM PEWAYANGAN. SUMBER GAMBAR: LUK.STAFF.UGM.AC.ID

20
Lihat, R. Hardjowirogo, Sedjarah Wajang Purwa, Balai Pustaka, Jakarta, 1953, hal 20-25
21
Lihat, Sujawi Bastomi, Nilai-Nilai Seni Pewayangan, Dahara Prize, Semarang, 1993, hal 26
SOSOK JANAKA DALAM PEWAYANGAN. SUMBER GAMBAR:.PITOYO.COM

Walisongo mengadopsi kisah-kisah dari kitab Mahabarata dan Ramayana yang


merupakan bagian dari kitab suci Hindu dan memasukkan unsur nilai-nilai Islam dalam plot
cerita tersebut. Bahkan, wayang pun dikonstruksi ulang dengan memasukkan teologi Islam
sebagai pengganti teologi Hindu. Pada prinsipnya, Walisongo mengadopsi instrument budaya
wayang dan memasukkan nilai-nilai Islam untuk menggantikan filsafat dan teologi Hindu serta
Budha yang terdapat di dalamnya.

Sebagai contoh, Walisongo memodifikasi makna konsep “Jimat Kalimah Shada” yang
asalnya berarti “Jimat Kali Maha Usada” yang bernuansa teologi Hindu menjadi bermakna
”azimah kalimat syahadah”. Frase yang terakhir merupakan pernyataan seseorang tentang
keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Keyakinan tersebut merupakan spirit hidup dan penyelamat bagi kehidupan setiap orang.
Dalam cerita pewayangan, Walisongo tetap menggunakan terma tersebut untuk
mempersonifikasi senjata terampuh bagi manusia. Hanya saja, jika perspektif Hindu, jimat
tersebut diwujudkan dalam bentuk benda simbolik yang dianggap sebagai pemberian Dewa,
maka Walisongo mendesakralisasi formula tersebut sehingga sekedar sebagai pernyataan
tentang keyakinan terhadap Allah dan Rasulnya.

Dalam perspektif Islam, kalimah syahadah tersebut sebagai “kunci surga” yang berarti
sebagai formula yang akan mengantarkan manusia menuju keselamatan di dunia dan akhirat.
Maksudnya, “syahadat” tersebut dalam perspektif Muslim mempunyai kekuatan spiritual bagi
yang mengucapkannya. Hal ini merupakan pernyataan seorang Muslim untuk hidup teguh
memegangi prinsip-prinsip Islam sehingga meraih kesukesan hidup di dunia dan akhirat.
Pemaknaan tersebut tidak akan mengubah pakem cerita, tetapi justru membangun nilai-nilai
Islam dalam cerita pewayangan.22

1.3. Peran dan Sejarah Sunan Kalijaga

"S
alah satu wali dalam Walisongo yang aktif berdakwah menggunakan media
wayang adalah Sunan Kalijaga, ia mengenalkan Islam kepada penduduk lewat
pertunjukan wayang yang sangat digemari oleh masyarakat yang masih menganut
kepercayaan lain”

22
Lihat, Sudarto, ”Interelasi Nilai Jawa dalam Pewayangan” dalam Darori Amin, Interelasi Nilai Jawa dalam
Pewayangan, Gama Media, Yogyakarta, 2002, hal 179-183
Walisongo menggunakan kesenian wayang untuk membangun kontruksi sosial, yakni
membangun masyarakat yang beradab dan berbudaya. Untuk membangun arah yang berbeda
dari pakem asli pewayangan, Walisongo menambahkan dalam cerita pakem pewayangan
dengan plot yang berisi visi sosial masyarakat Islam, baik dari sistem pemerintahan, hubungan
bertetangga, hingga pola kehidupan keluarga dan kehidupan pribadi. Untuk tujuan tersebut,
Walisongo bahkan memunculkan figur-figur baru yang sebenarnya tidak ada dalam kisah asli
Mahabrata maupun Ramayana. Figur yang paling dikenal luas adalah Punakawan yang berarti
mentor yang bijak bagi para Pandawa. Walisongo banyak memperkenalkan ajaran-ajaran Islam
melalui plot cerita yang dibangun berdasarkan perilaku Punakawan tersebut.

Nama-nama Punakawan sendiri (Semar, Nala Gareng, Petruk dan Bagong) sebagai satu
kesatuan sebenarnya merepresentasikan karakteristik kepribadian Muslim yang ideal. Semar,
sebagaimana dijelaskan Sudarto, berasal dari kata ismar yang berarti seorang yang mempunyai
kekuatan fisik dan psikis. Ia sebagai representasi seorang mentor yang baik bagi kehidupan, baik
bagi raja maupun masyarakat secara umum. Nala Gareng berasa dari kata nala qarin yang
berarti seorang yang mempunyai banyak teman. Ia merupakan representasi dari orang yang
supel, tidak egois, dan berkepribadian menyenangkan sehingga ia mempunyai banyak teman.
Petruk merupakan kependekan dari frase fatruk ma siwa Allah yang berarti seorang yang
berorientasi dalam segala tindakannya kepada Tuhan. Ia merepresentasikan orang yang
mempunyai konsen sosial yang tinggi dengan dasar kecintaan kepada Tuhan. Bagong berasal
dari kata bagha yang berarti menolak segala hal yang bersifat buruk atau jaha, baik yang
berada di dalam diri sendiri maupun di dalam masyarakat.23

Karakter-karakter Punakawan tersebut cukup merepresentasikan aspirasi Walisongo


tentang kepribadian seorang muslim dengan segala macam kedudukannya. Seorang muslim
harus bersifat kuat kepribadiannya, berperilaku bijaksana, bersandar pada Tuhan, bersosialisasi
dengan baik, mempunyai kepedulian sosial yang tinggi, memberantas kemungkaran, dan lain
sebagainya, yang pada prinsipnya seorang muslim harus mampu membangun hubungan yang
baik dengan sesama manusia, Tuhan dan Alam semesta.

Salah satu wali dalam Walisongo yang aktif berdakwah menggunakan media wayang
adalah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga sering mengenalkan Islam kepada penduduk lewat
pertunjukan wayang yang sangat digemari oleh masyarakat yang masih menganut kepercayaan
lain. Dengan kemampuannya yang menakjubkan sebagai dalang yang ahli memainkan wayang,
Sunan Kalijaga dikenal ketika dakwah sebagai dalang yang menggunakan nama samaran.24

23
Lihat, Abdurahman Mas’ud, “The Religion of Pesantren” dalam International Conference on Religious Harmony:
Problem, Practice, and Education in Yogyakarta-Semarang pada 27 September- 3 Oktober 2004 yang
diselenggarakan oleh International Association for History of Religion (IAHR).
24
Lihat, Th. G. Th. Pigeaud, Jawaansche Volkvertoningen. Bijdrage tot de Beschrijving van land en Volk, 1938
Sunan Kalijaga adalah salah satu wali yang terkenal di kalangan masyarakat Jawa.
Mengenai asal-usulnya, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Sunan Kalijaga masih
keturunan Arab. Tapi banyak pula yang menyatakan ia orang Jawa asli. Van Den Berg
menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab yang silsilahnya sampai kepada
Rasulullah. Sedangkan menurut Babad Tuban menyatakan bahwa Aria Teja alias Abdul Rahman
berhasil mengislamkan Aria Dikara, dan mengawaini putrinya. Versi Cina menyebut bahwa
waktu kecil Raden Sahid juga bernama Syekh Melaya karena ia putra Tumenggung
Melayukusuma berasal dari Negeri Atas Angin di seberang, anak seorang ulama. Setelah tiba di
Jawa, Melayukusuma diangkat menjadi Adipati Tuban oleh Prabu Brawijaya dengan nama
Temanggung Wilatikta.25 Diduga bahwa Melayukusuma bukan anak Arya Teja II, melainkan
menantunya. Jadi Retno Dumilahlah yang merupakan putra Adipati Tuban keturunan Arya
Adikara atau Ranggalawe.

Dari perkawinan ini ia memiliki putra Aria Wilatika. Menurut catatan Tome Pires,
penguasa Tuban pada tahun 1500 M adalah cucu dari penguasa Islam di Tuban. Sunan Kalijaga
atau Raden Mas Said adalah putra Aria Walatikta. Sejarawan lain seperti De Graaf
membenarkan bahwa Aria Teja I (AbdulRahman) memiliki Silsilah dengan Ibnu Abbas, Paman
Muhammad.26

Ia merupakan ulama yang sakti dan cerdas, nama kecilnya Raden Sahid, merupakan
putra dari Tumenggung Wilatikta, Adipati Tuban yang sudah menganut agama Islam, namanya
berubah menjadi Raden Sahur atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Wilatikta. Ia
menikah dengan Dewi Nawangrum, dari pernikahannya tersebut lahirlah Sunan Kalijaga. Sunan
Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1430-an. Sunan Kalijaga menikah dengan Dewi Sarah,
yang merupakan adik dari Sunan Gunung Jati. Dari perkawinan tersebut Sunan Kalijaga dan
Dewi Sarah dikaruniai tiga orang anak yaitu Raden Said (Sunan Muria), Dewi Ruqiiyah dan Dewi
Shofiyah. 27

Terdapat beberapa versi mengenai masa muda Sunan Kalijaga. Versi pertama
mengatakan bahwa Sunan Kalijaga merupakan pencuri dan perampok harta milik kerajaan dan
orang-orang kaya yang pelit. Hasil dari rampokannya itu ia bagikan kepada rakyat jelata yang
miskin dan terlantar. Versi lainnya mengatakan bahwa Sunan Kalijaga merupakan seorang
perampok dan pembunuh yang jahat. Jalan hidupnya terangkum dalam naskah-naskah kuno
Jawa. Menurut sejarah, Sunan Kalijaga diusir oleh keluarganya dari kerajaan karena diketahui

25
Lihat, Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa, Jakarta, 2003, hal 30
26
Lihat, Rian Saadila, Biografi Sunan Kalijaga,STIE Ahmad Dahlan, Jakarta, hal 3
27
Lihat, Agus Wahyudi, Makfirat Jawa, Jakarta, 2003, hal 18
telah merampok. Setelah itu, ia berkeliaran dan berkelana tanpa tujuan yang jelas hingga
kemudian menetap di hutan Jatiwangi sebagai seorang berandal dan suka merampok.28

"S
unan Kalijaga mengarang lakon-lakon wayang dan menyelenggarakan
pergelaran-pergelaran wayang dengan upah baginya berupa jimat
Kalimasada atau ucapan kalimat syahadat”

Suatu hari, saat Sunan Kalijaga berada di hutan, ia melihat seorang kakek tua yang
bertongkat. Orang itu adalah Sunan Bonang. Karena tongkat itu dilihat seperti tongkat emas, ia
merampas tongkat itu. Katanya, hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang yang miskin.
Tetapi Sunan Bonang tidak membenarkan cara itu. Ia menasihati Sunan Kalijaga bahwa Allah
tidak akan menerima amal yang buruk. Lalu Sunan Bonang menunjukan pohon aren emas dan
mengatakan bila Sunan Kalijaga ingin mendapatkan harta tanpa berusaha, maka ambillah buah
aren emas yang ditunjukan oleh Sunan Bonang. Karena itu Sunan Kalijaga ingin menjadi murid
Sunan Bonang.29

Sunan Kalijaga memperdalam Islam dari Sunan Bonang dan ulama lainnya. Setelah
menjadi penyiar agama Islam, ia diangkat oleh Dewan Wali Sanga sebagai salah satu
anggotanya yang menjadikan namanya akrab di telinga masyarakat Islam di Jawa. Ia menjadi
satu-satunya Wali yang bisa diterima berbagai pihak, baik oleh mutihan atau abangan30, santri
dan kaum awam. Menurut Babad Tanah Jawi, nama Sunan Kalijaga berawal ketika Raden Sahid
bertapa di tepi sungai sesuai perintah Sunan Bonang. Raden Sahid bersemedi di tepi sungai
sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tepi sungai. Raden Sahid tidak boleh beranjak
dari tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang, lalu ia tertidur untuk waktu yang lama.
Karena lamanya ia tidur, tanpa disadari akar dan rerumputan telah menutupi dirinya. Tiga
tahun kemudian, Sunan Bonang datang dan membangunkan Raden Sahid dan ia mulai dikenal
dengan sebutan Sunan Kalijaga.31

Sunan Kalijaga sangat toleran terhadap budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat
akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka Sunan mempunyai strategi untuk mendekati
secara perlahan. Sunan Kalijaga yakin jika Islam sudah dipahami, maka dengan sendirinya
kebiasaan lama akan hilang. Tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga sangat mudah
difahami dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan dan seni suara
suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang popular adalah Ilir-ilir dan

28
Lihat, https://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Kalijaga
29
Lihat, https://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Kalijaga
30
Abangan adalah sebutan untuk golongan penduduk Jawa Muslim yang mempraktekan Islam dalam versi yang
lebih sinkretis bila dibandingkan dengan golongan santri yang ortodoks. Abangan cenderung mengikuti sistem
kepercayaan lokal yang disebut adat daripada hukum Islam murni (syariah). Lihat,
https://id.wikipedia.org/wiki/Abangan#cite_ref-Zaini_1-0
31
Lihat, Slamet Riyadi, Babad Demak, Depdikbud Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia, Jakarta, 1981.
Gundul-gundul Pacul. Dialah penggagas Sekatenan, Grebeg Maulud serta lakon carangan
Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu. 32

Salah satu jalan dakwah yang ditempuh Sunan Kalijaga ialah dengan menggunakan
wayang. Seperti cerita pewayangan yang disampaikan oleh Sunan Kalijaga melalui tokoh
Yudistira, terdapat pusaka yang ampuh yaitu jimat Kalimasada. Kalimasada dalam dunia Islam
yaitu kalimat Syahadat yang menuntun pada tingkat kesucian. Oleh karena itu Yudistira sering
dilambangkan memiliki darah putih yang berarti suci dan sabar. Dalam perjalanannya Yudistira
mempunyai empat saudara yaitu Werkudara, Janaka, Nakula dan Sadewa. Yang merupakan
gambaran dari shalat, zakat, puasa dan haji yang selanjutnya Pandawa tersebut merupakan
rukun Islam. Oleh karena kelihaian Sunan Kalijaga dalam mengolah tokoh-tokoh Pandawa
hingga tokoh-tokoh tersebut tidak dapat dipisahkan dan menjadi simbol rukun Islam, sehingga
Islam mudah diterima dalam masyarakat Jawa. 33

TOKOH PEWAYANGAN PANDAWA. SUMBER GAMBAR: YOKIMIRANTIYO.BLOGSPOT.CO.ID

Sunan Kalijaga mengarang lakon-lakon wayang dan menyelenggarakan pergelaran-


pergelaran wayang dengan upah baginya berupa jimat Kalimasada atau ucapan kalimat
syahadat. Ia ingin memainkan lakon yang biasanya untuk meramaikan suatu pesta peringatan-
peringatan, asalkan yang memanggil itu mau bersyahadat sebagai kesaksian bahwa ia rela
masuk Islam. Ia mengatakan bahwa setelah berislam dengan mengucapkan dua kalimat
syahadat selanjutnya Sunan Kalijaga mulai mengajak melaksanakanibadah-ibadah dan

32
Lihat, https://www.walisembilan.com/sunan-kalijaga/
33
Lihat, Jurnal Ilmiah Styvegi Arvio Dhandel, Penyebaran Agama Islam Di Pulau Jawa Oleh Sunan Kalijaga Melalui
Media Wayang Kulit, Universitas Indonesia, Jakarta, 2013, hal 9
memberikan pengetahuan Islam melalui wayang. Menurutnya bila Islam sudah mulai dipahami,
dengan sendirinya kebiasaan lama yang buruk akan hilang.34

Wayang kulit sebagai media dakwah yang senantiasa dipergunakan oleh Sunan Kalijaga
dalam kesempatan dakwahnya di berbagai daerah, dan ternyata wayang ini merupakan media
yang efektif serta dapat mendekatkan dan menarik simpati rakyat terhadap agama.
Kemampuan Sunan Kalijaga dalam mendalang (memainkan wayang) begitu memikat, sehingga
Sunan Kalijaga terkenal dengan nama samaran di berbagai daerah. Jika ia mendalang di daerah
Pajajaran ia dikenal dengan nama Ki Dalang Sidabrangri, di Tegal ia dikenal dengan nama Ki
Dalang Bengkok, dan daerah Purbalingga terkenal dengan nama Ki Dalang Kumendung.35

TOKOH PEWAYANGAN PUNAKAWAN. SUMBER GAMBAR: MAP-BMS.WIKIPEDIA.ORG

Sunan Kalijaga lah yang yang membuat tokoh Semar, Petruk, Gareng dan Bagong
sebagai tokoh Punakawan yang jenaka. Kadangkala ia menggunakan tokoh Bancak dan Doyok.
Salah satu lakon wayang yang diciptakan Sunan Kalijaga adalah Jimat Kalimasada yang diambil
dari perkataan kalimat syahadat. Dengan lakon ini Sunan Kalijaga mengajak orang-orang Jawa di
–pedesaan maupun kota untuk mengucapkan kalimat syahadat sebagai cara memeluk agama
Islam. Selain itu ada juga lakon wayang Dewaruci yang berasal dari kalimat Dewa Ruh Suci atau
Ruh Qudus. Lalu ia pun menambahkan tembang lagu Jawa pada pertunjukan wayang kulitnya,
seperti lir-ilir yang akrab di telinga orang Jawa sampai saat ini. Dengan kata lain, Sunan Kalijaga
merupakan pencipta wayang kulit sebagai media hiburan, dakwah, pendidikan dan falsafah
hidup.36

SUMBER ARTIKEL : https://ganaislamika.com

34
Lihat, Ibid
35
Lihat, Ibid
36
Lihat, Ibid hal 10