Anda di halaman 1dari 51

HALAMAN PERSETUJUAN

Proposal penelitian dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada klien dengan gangguan Sistem Pencernaan : Tifus abdominalis Di Ruang Anggrek RSUD Kota Bau-Bau” telah disetujui untuk melakukan penelitian.

Dosen Riset Keperawatan

A B D U L, S. Kep, Ns

NIP. 19671231 198802 1 009

1

  • 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Dalam Undang-undang RI No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, telah ditetapkan bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup bagi setiap orang agar berwujud derajat kesehatan yang optimal melalui terciptanya masyarakat bangsa dan negara Indonesia yang ditandai dengan penduduk yang hidup dalam perilaku dan lingkungan yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang optimal seluruh wilayah Indonesia. Tingkat kesejahteraan suatu bangsa dapat di lihat salah satunya dari tingkat kesehatan anak, karena anak merupakan aset bangsa dan generasi penerus yang harus kita pelihara. Oleh karena itu kesehatan dan kesejahteraan anak adalah tanggung jawab bersama. Di dalam tujuan pembangunan nasional di bidang kesehatan, di sebutkan bahwa prioritas pelayanan kesehatan yaitu penurunan angka kematian bayi dan perinatal, penurunan angka kematian anak balita, penurunan angka kesakitan anak usia sekolah dan remaja, peningkatan kesehatan anak secara optimal menuju generasi muda yang sehat sebagai sumber daya pembangunan (Kementerian Kesehatan, 1993). Untuk mewujudkan tujuan tersebut diperlukan keterampilan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas,

2

sehingga angka kematian dan kesakitan dapat di cegah, terutama angka kematian dan kesakitan anak. Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanaan profesioanal yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-spritual yang komprehensif ditujukan pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik sehat atau sakit mencakup proses kehidupan manusia (Lokakarya keperawatan,1983 dikutip dari Zaidin Ali, 2001). Perawatan adalah upaya membantu individu baik yang sehat maupun yang sakit untuk menggunakan kekuatan, keinginan dan pengetahuan yang dimlikinya sehingga individu tersebut mampu melaksanakan aktivitas sehari- hari, sembuh dari penyakit atau meninggal dengan tenang. Tenaga perawat berperan menolong individu agar tidak menggantungkan diri dari bantuan orang lain dalam waktu secepat mungkin (Henderson,1978 dikutip dari Zaidin Ali, 2001). Tahun 1973, ANA (American Nurse association) dikutip dari harmoko (2010) standar umum praktek keperawatan mengemukakan lima tahap proses keperawatan, yaitu Pengkajian adalah pengumpulan data, membuktikan data tentang status kesehatan seorang klien. Data tentang fisik, emosi, pertumbuhan, sosial, kebudayaan, intelektual, dan aspek spiritual. Keahlian dalam melakukan observasi, komunikasi, wawancara, dan pemeriksaan fisik sangat penting untuk mewujudkan fase proses keperawatan. Diagnosa merupakan sebuah proses yang menghasilkan suatu pernyataan atau diagnosa keperawatan. Perencanaan Mencakup sekelompok langkah-langkah dimana perawat dan klien menyusun prioritas, tujuan , hasil yang diharapkan

3

dan menetapkan suatu rencana untuk memecahkan atau mengurangi masalah klien. Pelaksanaan Menerapkan rencana pelayanan keperawatan dalam tindakan. Selama fase ini perawat meneruskan pengumpulan data, melakukan perawatan untuk pendekatan perseorangan dan mengarahkan rencana tindakan. Untuk mengarahkan rencana keperawatan perawat menentukan prioritas klien dipertimbangkan, Rencana kegiatan keperawatan terlaksana dan menolong klien mencapai hasil yang diinginkan, Rencana tersendiri untuk memenuhi kebutuhan klien. Evaluasi adalah pengkajian respon klien terhadap penerapan keperawatan dan membandingkan respon standar yang ditentukan. Standar ini sering disebut dengan kriteria hasil. Perawat bertujuan memperluas hasil atau tujuan perawatan yang telah ditentukan telah tercapai, tercapai sebaian, atau tak tercapai. Kalau tidak tercapai, dibutuhkan pengkajian kembali, perencanaan, dan bisa mencakup perubahan dalam beberapa fase proses keperawatan, karena setiap langkah mempengaruhi langkah lainnya karena setiap langkah mempengaruhi langkah lainnya karena saling berkaitan. Angka kesakitan dan kematian di negara ini masih terhitung tinggi, penyebab utamanya adalah penyakit infeksi. Bila penyakit tersebut tidak di tangani dengan baik dapat menimbulkan dampak negatif pada anak di kemudian hari, penyakit pada anak yang sering terjadi diantaranya diare, Tifus Abdominalis, Asfiksia, ISPA, tuberculosis, pnemonia, anemia, thalasemia neprotik sindrom dan kejang. Tifus abdominalis (demam thypoid, entric fever) ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada

4

pencernaan dan gangguan kesadaran, penyebab penyakit ini adalah Salmonela Thyphosa (Ngatsiyah : 2005). Typhus Abdominalis terdapat di seluruh dunia dan penyebarannya tidak tergantung pada iklim, tetapi lebih banyak di jumpai pada negara-negara berkembang di daerah tropis (Rachmat Juwono, 1999). Insiden demam tifoid di seluruh dunia menurut data pada tahun 2002 sekitar 16 juta per tahun, 600.000 di antaranya menyebabkan kematian. Sedangkan berdasarkan data Organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2008 memperkirakan jumlah kasus demam tifoid di seluruh dunia mencapai 16 sampai 33 juta dengan 500 sampai 600 ribu tahun tiap kematiannya. Di Indonesia sendiri, demam tifoid masih merupakan penyakit endemik dan menjadi masalah kesehatan yang serius. Di Indonesia prevalensi 91% kasus demam tifoid terjadi pada umur 3- 19 tahun, kejadian meningkat setelah umur 5 tahun. Tifus abdominalis erat kaitannya dengan hygiene perorangan dan sanitasi lingkungan. Diperkirakan angka kejadian penyakit ini adalah 300 – 810 kasus per 100.000 penduduk/tahun. Insiden tertinggi didapatkan pada anak-anak. Orang dewasa sering mengalami infeksi ringan dan sembuh sendiri lalu menjadi kebal. Insiden penderita berumur 12 tahun keatas adalah 70 – 80%, penderita umur antara 12 dan 30 tahun adalah 10 – 20%, penderita antara 30 – 40 tahun adalah 5 – 10%, dan hanya 5 – 10% diatas 40 tahun. Berdasarkan gambaran tersebut di atas, terlihat bahwa tifus abdominalis telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian secara serius. Menurut data dari dinas kesehatan provinsi sulawesi tenggara pada tahun 2009, prevalensi penyakit tifus abdominalis menurut diagnosa dan gejala

5

dengan presentase untuk kota bau-bau sebanyak 10 % dan diikuti oleh

daerah-daerah di sulawesi tenggara.

Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau angka kejadian tifus

abdominalis tahun 2009 mencapai 20 % dan angka kejadian tahun 2010 dari

bulan januari sampai dengan novemeber mencapai 25 % . Sedangkan pada

tahun 2009 jumlah penderita Tifus Abdominalis di RSUD Kota Bau-Bau

sebanyak 15 orang penderita dan pada periode januari sampai november

2010 berjumlah 20 orang yang dirawat diruang anggrek.

Penyakit tifus abdominalis merupakan salah satu masalah kesehatan

yang masih sering terjadi dalam masyarakat. Oleh karena itu, perlu

penanganan ekstrim dalam memberikan perawatan kepada penderita

penyakit tifus abdominalis dan diharapkan partisipasi keluarga atau

masyarakat untuk mendapatkan pengobatan sedini mungkin serta menjaga

hygiene perorangan serta lingkungan untuk mengurangi angka kesakitan

khususnya penyakit Tifus abdominalis.

Dengan uraian latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada klien dengan

gangguan Sistem Pencernaan : Tifus abdominalis Di Ruang Anggrek RSUD

Kota Bau-Bau” .

1.2 Rumusan masalah

  • 1.2.1 Pernyataan masalah

Penyakit tifus abdominalis merupakan salah satu masalah kesehatan

yang masih sering terjadi dalam masyarakat. Penyakit ini dapat

menyerang siapa saja terutama keadaan dimana daya tahan tubuh

seseorang yang rendah. Tifus abdominalis erat kaitannya dengan hygiene

perorangan dan sanitasi lingkungan. Tifus abdominalis merupakan

6

penyakit infeksi menular yang terjadi pada anak maupun dewasa. Anak

merupakan yang paling rentan terkena demam tifoid, walaupun gejala

yang dialami anak lebih ringan dari dewasa. Perbedaan antara tifus

abdominalis pada anak dan dewasa adalah mortalitas (kematian). tifus

abdominalis pada anak lebih rendah bila dibandingkan dengan dewasa.

Resiko terjadinya komplikasi fatal terutama dijumpai pada anak besar

dengan gejala klinis berat, yang menyerupai kasus dewasa. tifus

abdominalis pada anak terbanyak terjadi pada umur 5 tahun atau lebih

dan mempunyai gejala klinis ringan. Oleh karena itu, perlu penanganan

ekstrim dalam memberikan perawatan kepada penderita penyakit tifus

abdominalis dan diharapkan partisipasi keluarga atau masyarakat untuk

mendapatkan pengobatan sedini mungkin serta menjaga hygiene

perorangan serta lingkungan untuk mengurangi angka kesakitan

khususnya penyakit Tifus abdominalis.

1.2.2 Pertanyaan masalah

Bagaimanakah

gambaran

Asuhan

Keperawatan

Pada

Klien

Dengan Tifus Abdominalis Di Ruang Anggrek RSUD Kota Bau-Bau?

1.3 Tujuan Penulisan

  • 1.3.1 Tujuan umum : Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam penerapan asuhan

keperawatan pada klien dengan gangguan sistem pencernaan yang

berhubungan dengan penyakit Tifus Abdominalis.

  • 1.3.2 Tujuan khusus :

a.

Memperoleh pengalaman nyata dalam penerapan keperawatan yang

terjadi pada klien Tifus abdominalis.

7

b. Memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan pengkajian,

merumuskan diagnosa keperawatan, menyusun intervensi, melaksanakan

implementasi dan evaluasi.

1.4 Manfaat Penulisan

  • 1.4.1 Manfaat teoritis

Hasil penulisan ini diharapkan mampu memperoleh pengetahuan

tambahan mengenai asuhan keperawatan pada klien Tifus Abdominalis di

Ruang anggrek di RSUD Kota Bau-Bau.

  • 1.4.2 Manfaat praktis

 

a.

Bagi klien

Dapat

meningkatkan

pengetahuan kesehatan dan mempercepat

penyembuhan tanpa menimbulkan komplikasi.

b.

Bagi pembaca Sebagai tambahan pengetahuan tentang pemberian asuhan

keperawatan yang diberikan pada klien dengan Tifus abdominalis di

Rumah Sakit.

 

c.

Bagi Rumah Sakit Umum daerah Kota Bau-Bau Sebagai tolak ukur tentang pemberian asuhan keperawatan pada

klien Tifus Abdominalis diruang Anggrek di RSUD Kota Bau-Bau.

d.

Bagi institusi pendidik Sebagai sasaran pembelajaran bagi mahasiswa tentang asuhan

keperawatan pada klien dengan tifus abdominalis di Rumah Sakit.

e.

Bagi penulis Menjadi pengalaman yang berharga untuk memperluas wawasan

dalam melakukan penelitian tentang asuhan keperawatan dan

sebagai wahana dalam pengembangan diri dalam bidang kognitif,

afektif dan psikomotor pada klien tifus abdominalis.

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  • 2.1 Konsep Dasar Medis 2.1.1 Pengertian

Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasa mengenai

saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 1 minggu, gangguan

pada saluran pencernaan, dan gangguan kesadaran (Arif Mansjoer,

hal 432).

Tifus abdominalis adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri

Salmonella typhii yang ditularkan melalui makanan yang tercemar

oleh tinja dan urine penderita (Soeparman, 1991 hal 32)

9

Tifus abdominalis adalah infeksi yang mengenai usus halus,

disebarkan dari kotoran ke mulut melalui makanan dan air minum

yang tercemar dan sering timbul dalam wabah.

Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi bakteri hebat yang dirawat

dari selaput lendir usus dan jika tidak diobati, secara progresif

menyerbu jaringan di seluruh tubuh (Tambayong jan,2000 hal 149).

2.1.2

Etiologi

Penyabab penyakit ini adalah Salmonella typhosa. Basil gram negatif,

bergerak dengan rambut getar, tidak berspora, mempunyai 3 macam

antigen yaitu :

  • 1. antigen O (other houch atau somatic antigen/tidak menyebar terdiri dari zat komplek lipopolisakarida).

  • 2. antigen H (houch/menyebar terdapat pada flagella dan bersifat thermolabil).

  • 3. antigen Vi (kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi antigen terhadap fagositosis).

Tifus abdominalis adalah infeksi yang mengenai usus halus, disebarkan dari kotoran ke mulut melalui makanan dan

Ketiga antigen tersebut di dalam tubuh manusia akan menimbulkan

tiga macam antibodi yang disebut aglutinin. Ada tiga species utama yaitu :

salmonella typhi (satu serotip)

salmonella choleraesus (satu serotype)

salmonella entereditis (lebih dari 1500 serotip)

Kuman tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob pada suhu

15 – 41°C (optimum 37°C) dan pH pertumbuhan 6 – 8.

10

Adapun faktor predisposisi yang mendukung timbulnya penyakit

tifus abdominalis antara lain :

  • 1. penyediaan air bersih yang tidak memadai/kurang.

  • 2. Tanda hygiene industri pengolahan makanan yang tidak memadai.

  • 3. Sanitasi lingkungan yang buruk.

  • 4. Kebersihan individu kurang baik.

  • 2.1.3 Penyebaran Kuman

Demam tifoid adalah penyakit yang penyebarannya melalui saluran

cerna (mulut, esofagus, lambung, usus 12 jari, usus halus, usus

besar, dstnya). Salmonella typhi masuk ke tubuh manusia bersama

bahan makanan atau minuman yang tercemar. Cara

penyebarannya melalui muntahan, urine, dan kotoran dari penderita

yang kemudian secara pasif terbawa oleh lalat. Lalat itu

mengkontaminasi makanan, minuman, sayuran, maupun buah-

buahan segar. Saat kuman masuk ke saluran pencernaan manusia,

sebagian kuman mati oleh asam lambung dan sebagian kuman

masuk ke usus halus. Dari usus halus itulah kuman beraksi

sehingga bisa “menjebol” usus halus. Setelah berhasil melampaui

usus halus, kuman masuk ke kelenjar getah bening, ke pembuluh

darah, dan ke seluruh tubuh (terutama pada organ hati, empedu,

dan lain-lain). Jika demikian keadaannya, kotoran dan air seni

penderita bisa mengandung kuman Salmonella typhi yang siap

menginfeksi manusia lain melalui makanan atau pun minuman yang

dicemari. Pada penderita yang tergolong carrier (pengidap kuman

ini namun tidak menampakkan gejala sakit), kuman Salmonella bisa

11

ada terus menerus di kotoran dan air seni sampai bertahun-tahun.

Salmonella thypi hanya berumah di dalam tubuh manusia. Oleh

kerana itu, demam tifoid sering ditemui di tempat-tempat di mana

penduduknya kurang mengamalkan membasuh tangan manakala

airnya mungkin tercemar dengan sisa kumbahan.

Sekali bakteria Salmonella thypi dimakan atau diminum, ia akan

membagi dan merebak ke dalam saluran darah dan badan akan

bertindak balas dengan menunjukkan beberapa gejala seperti

demam. Pembuangan najis di tempat dan hinggapan lalat yang

akan menyebabkan demam tifoid.

2.1.4 Patofisiologi

Kuman salmonella typhosa masuk kedalam saluran cerna, bersama

makanan dan minuman, sebagian besar akan mati oleh asam

lambung HCl dan sebagian

ada

yang lolos

(hidup), kemudian

kuman

masuk

kedalam

usus

(plag

payer)

dan

mengeluarkan

endotoksin

sehingga

menyebabkan

bakterimia

primer

dan

mengakibatkan peradangan setempat, kemudian kuman melalui

pembuluh darah limfe akan menuju ke organ RES terutama pada

organ

hati

dan

limfe.

Di organ RES ini sebagian kuman akan difagosif dan sebagian yang

tidak difagosif akan berkembang biak dan akan masuk pembuluh

darah sehingga menyebar ke organ lain,

terutama usus halus

sehingga

menyebabkan

peradangan

yang

mengakibatkan

malabsorbsi nutrien dan hiperperistaltik usus sehingga terjadi diare.

12

Pada hipotalamus akan menekan termoregulasi yang

mengakibatkan demam remiten dan terjadi hipermetabolisme tubuh

akibatnya tubuh menjadi mudah lelah.

Selain itu endotoksin yang masuk ke pembuluh darah kapiler

menyebabkan roseola pada kulit dan lidah hipermi. Pada hati dan

limpa akan terjadi hepatosplenomegali. Konstipasi bisa terjadi

menyebabkan komplikasi intestinal (perdarahan usus, perforasi,

peritonitis) dan ekstra intestinal (pneumonia, meningitis, kolesistitis,

neuropsikratrik).

  • 2.1.5 Patogenesis

 

Infeksi

Salmonella

typhi terjadi pada saluran pencernaan. Basil

diserap di usus halus kemudian melalui pembuluh limfe masuk ke

peredaran darah sampai di organ-organ terutama hati dan limpa.

Basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam hati dan limpa

sehingga organ -organ tersebut akan membesar disertai nyeri pada

perabaan. Kemudian basil masuk kembali ke dalam darah

(bakteremia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke dalam

kelenjar limfoid usus halus, menimbulkan tukak pada mukosa diatas

plaque peyeri. Tukak tersebut dapat mengakibatkan perdarahan dan

perforasi usus. Gejala demam disebabkan oleh endotoksin yang

dieksresikan oleh basil Salmonella typhi sedangkan gejala pada

saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus.

  • 2.1.6 Manifestasi Klinik Gejala klinis demam tifoid

sagat bervariasi, mulai dari gejala yang

ringan sekali sehingga tidak terdiagnosis, dengan gejala yang khas

13

(sindrom demam tifoid), sampai dengan gejala klinis berat yang

disertai komplikasi. Gejala klinis demam tifoid pada anak cenderung

tidak khas. Makin muda umur anak, gejala klinis demam tifoid makin

tidak khas. Umumnya perjalanan penyakit berlangsung dalam jangka

waktu pendek dan jarang menetap lebih dari 2 minggu.

Pada orang dewasa, gejala klinis demam tifoid cenderung berat.

Tetapi pada anak kecil makin tidak berat. Anak sekolah diatas usia 10

tahun mirip seperti gejala klinis orang dewasa, yaitu panas tinggi

sampai kekurangan cairan dan pendarahan umum yang bisa sampai

pecah (perforsi).

Masa inkubasi dapat berlangsung 7-21 hari, walaupun pada

umumnya adalah 10-12 hari. Pada awal penyakit keluhan dan gejala

penyakit tidaklah khas, berupa :

anoreksia

rasa malas

sakit kepala bagian depan

nyeri otot

lidah kotor

gangguan perut (perut meragam dan sakit)

Yang termasuk gejala khas tifus abdominalis adalah sebagai berikut.

  • a. Minggu Pertama (awal terinfeksi) Setelah melewati masa inkubasi 10-14 hari, gejala penyakit itu pada awalnya sama dengan penyakit infeksi akut yang lain, seperti demam tinggi yang berpanjangan yaitu setinggi 39ºc hingga 40ºc, sakit kepala, pusing, pegal-pegal, anoreksia, mual, muntah, batuk, denyut lemah, pernapasan semakin cepat dengan

14

gambaran bronkitis kataral, perut kembung dan merasa tak

enak,sedangkan diare dan sembelit silih berganti. Pada akhir

minggu pertama, diare lebih sering terjadi. Khas lidah pada

penderita adalah kotor di tengah, tepi dan ujung merah serta

bergetar atau tremor. Episteksis dapat dialami oleh penderita

sedangkan tenggorokan terasa kering dan beradang. Jika

penderita ke dokter pada periode tersebut, akan menemukan

demam dengan gejala-gejala di atas yang bisa saja terjadi pada

penyakit-penyakit lain juga. Ruam kulit (rash) umumnya terjadi

pada hari ketujuh dan terbatas pada abdomen disalah satu sisi

dan tidak merata, bercak-bercak ros (roseola) berlangsung 3-5

hari, kemudian hilang dengan sempurna. Roseola terjadi terutama

pada penderita golongan kulit putih yaitu berupa makula merah

tua ukuran 2-4 mm, berkelompok, timbul paling sering pada kulit

perut, lengan atas atau dada bagian bawah, kelihatan memucat

bila ditekan. Pada infeksi yang berat, purpura kulit yang difus

dapat dijumpai. Limpa menjadi teraba dan abdomen mengalami

 

distensi.

 

b.

Minggu kedua

Jika

pada

minggu

pertama, suhu tubuh berangsur-angsur

meningkat setiap hari, yang biasanya menurun pada pagi hari

kemudian meningkat pada sore atau malam hari. Karena itu, pada

minggu kedua suhu tubuh penderita terus menerus dalam

keadaan tinggi (demam). Suhu badan yang tinggi, dengan

penurunan sedikit pada pagi hari berlangsung. Terjadi

perlambatan relatif nadi penderita. Yang semestinya nadi

15

meningkat bersama dengan peningkatan suhu, saat ini relatif nadi

lebih lambat dibandingkan peningkatan suhu tubuh. Gejala

toksemia semakin berat yang ditandai dengan keadaan penderita

yang mengalami delirium. Gangguan pendengaran umumnya

terjadi. Lidah tampak kering,merah mengkilat. Nadi semakin cepat

sedangkan tekanan darah menurun, sedangkan diare menjadi

lebih sering yang kadang-kadang berwarna gelap akibat terjadi

perdarahan. Pembesaran hati dan limpa. Perut kembung dan

sering berbunyi. Gangguan kesadaran. Mengantuk terus menerus,

mulai kacau jika berkomunikasi dan lain-lain.

  • c. Minggu Ketiga Suhu tubuh berangsung-angsur turun dan normal kembali di akhir minggu. Hal itu jika terjadi tanpa komplikasi atau berhasil diobati. Bila keadaan membaik, gejala-gejala akan berkurang dan temperatur mulai turun. Meskipun demikian justru pada saat ini komplikasi perdarahan dan perforasi cenderung untuk terjadi, akibat lepasnya kerak dari ulkus. Sebaliknya jika keadaan makin memburuk, dimana toksemia memberat dengan terjadinya tanda- tanda khas berupa delirium atau stupor,otot-otot bergerak terus, inkontinensia alvi dan inkontinensia urin. Meteorisme dan timpani masih terjadi, juga tekanan abdomen sangat meningkat diikuti dengan nyeri perut. Penderita kemudian mengalami kolaps. Jika denyut nadi sangat meningkat disertai oleh peritonitis lokal maupun umum, maka hal ini menunjukkan telah terjadinya perforasi usus sedangkan keringat dingin,gelisah,sukar bernapas dan kolaps dari nadi yang teraba denyutnya memberi gambaran

16

adanya perdarahan. Degenerasi miokardial toksik merupakan

penyebab umum dari terjadinya kematian penderita demam tifoid

pada minggu ketiga.

  • d. Minggu keempat Merupakan stadium penyembuhan meskipun pada awal minggu ini dapat dijumpai adanya pneumonia lobar atau tromboflebitis vena femoralis.

Relaps

Relaps ialah berulangnya gejala penyakit tifus abdominalis, akan

tetapi berlangsung ringan dan lebih singkat. Terjadi pada minggu

kedua setelah suhu badan normal kembali. Menurut teori relaps

terjadi karena terdapatnya basil dalam organ-organ yang tidak dapat

dimusnahkan baik oleh obat maupun oleh zat anti. Mungkin terjadi

pada waktu penyembuhan tukak, terjadi invasi basil bersamaan

dengan pembentukan jaringan fibrosis.

2.1.7

Komplikasi

  • 1. Komplikasi Intestinal Perdarahan usus Perforasi usus Ileus paralitik

  • 2. Komplikasi Ekstra Intestinal Komplikasi Kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (renjatan

septik), miokarditis, trombosis dan tromboflebitis.

Komplikasi

darah

:

anemia

hemolitik

,

trombositopenia,

Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) dan Sindrom

uremia hemolitik. Komplikasi paru : Pneumonia, empiema dan pleuritis.

Komplikasi hepar dan kandung empedu : hepatitis dan kolesistitis.

Komplikasi ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis dan perinefritis.

Komplikasi tulang : osteomielitis, periostitis, spondilitis dan Artritis.

17

Komplikasi Neuropsikiatrik : Delirium, meningismus, meningitis,

polineuritis perifer, sindrom guillain-barre, psikosis dan sindrom

katatonia.

2.1.8

Pencegahan

Pencegahan tifus abdominalis terdiri dari :

  • 1. Usaha terhadap lingkungan hidup. Penyediaan air minum yang memenuhi syarat. Pembuangan kotoran manusia yang hygienis. Pemberantasan lalat Pilih makanan yang telah diolah dan disajikan dengan baik

(memenuhi syarat kesehatan)

  • 2. Usaha terhadap manusia.

Vaksinasi

dengan

menggunakan

vaksin T.A.B

(mengandung basil tifoid dan paratifoid A dan B yang

dimatikan) yang diberikan subkutan 2 atau 3 kali pemberian

dengan interval 10 hari merupakan tindakan yang praktis

untuk mencegah penularan demam tifoid. Suntikan

imunisasi tifoid boleh dilakukan setiap dua tahun manakala

vaksin oral diambil setiap lima tahun. Deteksi karier dilakukan dengan tes darah dan diikuti

dengan pemeriksaan tinja dan urin yang dilakukan

berulang-ulang. Klien yang karier positif dilakukan

pengawasan yang lebih ketat yaitu dengan memberikan

informasi tentang kebersihan personal. Tingkatkan kebersihan diri dan lingkungan

Jamban keluarga harus cukup jauh dari sumur (harus

sesuai standar pembuatan jamban yang baik). Menerapkan dasar-dasar hygiene dan kesehatan

masyarakat, yaitu melakukan deteksi dan isolasi terhadap

18

sumber infeksi. Perlu diperhatikan faktor kebersihan

lingkungan.

  • 2.1.9 Pemeriksaan Diagnostik

    • 2.1.9.1 Pemeriksaan Darah Perifer Lengkap

Dapat ditemukan leukopeni, dapat pula leukositosis atau kadar leukosit

normal. Leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi

sekunder.

  • 2.1.9.2 Pemeriksaan SGOT dan SGPT

SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal

setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan

penanganan khusus

  • 2.1.9.3 Pemeriksaan Uji Widal

Uji Widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri

Salmonella typhi. Uji Widal dimaksudkan untuk menentukan adanya

aglutinin dalam serum penderita Demam Tifoid. Akibat adanya infeksi oleh

Salmonella typhi maka penderita membuat antibodi (aglutinin) yaitu :

Aglutinin

O: karena rangsangan antigen O yang berasal dari

tubuh bakteri

19

Aglutinin H: karena rangsangan antigen H yang berasal dari

flagela bakteri Aglutinin Vi: karena rangsangan antigen Vi yang berasal dari

simpai bakter.

Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglitinin O dan H yang digunakan

untuk diagnosis Demam Tifoid. Semakin tinggi titernya semakin besar

kemungkinan menderita Demam Tifoid.

2.1.10 Pengobatan

Pengobatan tifus abdominalis yaitu :

1. Pemberian antibiotik untuk menghentikan dan memusnahkan

penyebaran kuman. Antibiotik yang dapat digunakan :

  • a. Kloramfenikol. Dosis hari pertama 4 x 250 mg, hari kedua 4 x 500 mg diberikan selama demam dilanjutkan sampai 2 hari bebas demam, kemudian dosis diturunkan menjadi 4 x 25 mg selama 5 hari kemudian. Penggunaan kloramfenikol masih memperlihatkan hasil penurunan suhu 4 hari, sama seperti obat-obat terbaru dari golongfan kuinolon.

  • b. Ampisilin/Amoksisilin. Dosis 50 – 150 mg/kg BB diberikan

selama 2 minggu.

  • c. Kotrimoksazol, 2 x 2 tablet (1 tablet mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim) diberikan selama 2

minggu.

Sefalosporin

  • d. generasi

II

dan

III.

Pemberian

sefalosporin

berhasil mengatasi demam tifoid dengan baik. Demam pada

20

umumnya mereda pada hari ke-3 atau menjelang hari ke-4.

Regimen yang dipakai adalah :

Ceftriaxone 4 gr / hari selama 3 hari

Norfloxacin 2 x 400 mg/hari selama 14 hari.

Ciprofloxacin 2 x 500 mg/hari selama 6 hari

Ofloxacin 600 mg/hari selama 7 hari

Pefloxacin 400 mg/hari selama 7 hari

Fleroxacin 400 mg/hari selama 7 hari.

  • 2. Istirahat dan perawatan profesional, bertujuan mencegah komplikasi

dan mempercepat penyembuhan. Pasien harus tirah baring absolut

sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari.

Mobilisasi dilakukan bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan

pasien. Dalam perawatan perlu sekali dijaga higiene perseorangan,

kebersihan tempat tidur, pakaian dan peralatan yang dipakai oleh

pasien. Paien dengan kesadaran menurun, posisinya perlu diubah

-ubah untuk mencegah dekubitus dan pneumonia hipostatik. Defekasi

dan buang air kecil perlu diperhatikan, karena kadang-kadang terjadi

obstipasi dan retensi urin.

  • 3. Diet dan terapi penunjang (simtomatis dan suportif) Pertama pasien diberi diet bubur saring, kemudian bubur kasar, dan

akhirnya nasi sesuai tingkat kesembuhan pasien. Namun beberapa

penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat dini, yaitu

nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dan serat

kasar) dapat diberikan dengan aman. Juga diperlukan pemberian

vitamin dan mineral yang cukup untuk mendukung keadaan umum

pasien. Diharapkan dengan menjaga keseimbangan dan homeostasis,

sistem imun akan tetap berfungsi dengan optimal.

Pada kasus perforasi dan renjatan septik diperlukan perawatan intensif

dan nutrisi parenteral total. Spektrum antibiotik maupun kombinasi

beberapa obat yang bekerja secara sinergis dapat dipertimbangkan.

21

Kortikosteroid selalu perlu diberikan pada renjatan septik. Prognosis

tidak begitu baiuk pada kedua keadaan di atas.

  • 2.2 Konsep Asuhan Keperawatan 2.2.1 Pengkajian Keperawatan

Pengkajian meliputi :

a. Identitas

pasien

:

nama,

umur,

jenis

kelamin,

agama,

suku,

pendidikan, tanggal rawat, nomor catatan medis.

  • b. Riwayat kesehatan

    • 1. Riwayat penyakit saat ini meliputi keluhan utama.

2. Riwayat kesehatan masa lalu : Apakah pasien pernah

menderita penyakit yang sama dan kapan terjadi.

  • c. Riwayat kesehatan keluarga

Apakah

di

dalam

keluarga

ada

yang

pernah

atau

sedang

menderita penyakit yang sama.

  • d. Riwayat Psikososial Hubungan dan pola interaksi dalam keluarga dan masyarakat.

  • e. Reaksi hospitalisasi Pemahaman keluarga dan anak tentang sakit dan rawat inap.

  • f. Riwayat psikologis

:

Status emosional, bisa ditemukan gejala dan tanda – tanda dari

kecemasan, depresi, marah, misalnya : hubungan dengan kawan,

gangguan dalam berkomunikasi dan perhatian atau konsentrasi

yang kurang.

  • g. Riwayat keperawatan :

    • 1. Aktivitas/istirahat

      • - Kesadaran menurun

      • - Letargi/kelesuan

  • 2. Peredaran darah

22

  • - Tanda-tanda gangguan sirkulasi akibat perdarahan yaitu : Perubahan tanda-tanda vital, khususnya nadi (bradikardi) dan tekanan darah.

  • - Kulit pucat.

  • 3. Eliminasi Konstipasi atau diare : Konstipasi terjadi pada minggu I dan selanjutnya dapat terjadi diare.

  • 4. Makanan/cairan :

    • - Mual

    • - Muntah

    • - Lidah kotor berselaput putih dan tepi hiperemis disertai stomatitis. Tanda ini jelas mulai nampak pada minggu ke dua berhubungan dengan infeksi sistemik dan endotoxin kuman.

  • 5. Kenyamanan/nyeri :

    • - Hepatomegali dan splenomegali : Pembesaran hepar mengindikasikan infeksi RES yang mulai terjadi pada minggu ke II.

    • - Peristaltik : Dijumpai penurunan peristaltik atau bahkan hilang.distensi abdomen.

    • - Hematemesis dan melena : Dapat terjadi perdarahan ulkus illeum yang akan menyebabkan hematemesis dan melena, distensi abdomen, hipoperistaltik / aperistaltik.

  •  
    • 6. Pernapasan :

     

    -

    Perubahan pola napas (periode apnoe dengan perubahan

     

    hyperventilasi).

    • 7. Konsep diri :

    Adanya perubahan tingkah laku

    Kecemasan

    Bingung

    h. Kebiasaan sehari-hari :

    23

    • 1. Nutrisi

    :

    Kebiasaan

    makan

    setiap

    hari,

    frekuensi makan per hari, jenis makanan berpantangan dan

    makan kesukaan.

    • 2. Cairan : jenis minuman yang di konsumsi

    dan kebutuhan caiaran yang di butuhkan.

    • 3. Eliminasi : Kebiasaan BAB/BAK setiap hari,

    warna, jumlah dan konsistensi.

    • 4. Personal hygiene : mandi berapa kali

    sehari, gosok gigi dengan pasta gigi atau tidak, mencuci rambut

    dengan sampo berapa kali seminggu, gunting kuku.

    • 5. Pola aktivitas dan istirahat : pasien mudah

    mudah merasa lelah, sesak napas bila melakukan aktifitas, jenis

    kegiatan yang dilakukan sehari – hari.

    • 6. Pola olahraga : program olahraga yang

    dilakukan dan lama melakukan olahraga.

    • i. Pemeriksaan fisik :

      • 1. Keadaan umum meliputi : tanda-tanda distres, penampilan dihubungkan dengan usia, ekspresi wajah, bicara.

      • 2. Tanda-tanda vital meliputi

    :

    suhu,

    nadi,

    respirasi dan tekanan

    darah.

    • 3. sistem indera yang meliputi : Mata : konjungtiva anemis

    24

    Mulut

    :

    lidah

    khas

    (selaput

    putih

    kotor,

    ujung

    dan tepi

    kemerahan), nafas bau tidak sedap, bibir kering dan pecah-

    pecah.

    Hidung : kadang terjadi epistaksis

     

    Abdomen

     

    :

    perut

    kembung

    (meteorismus),

    hepatomegali,

    splenomegali, nyeri tekan.

     

    Sirkulasi : bradikardi, gangguan kesadaran

     

    Kulit

    :

    bintik-bintik

    kemerahan

    pada

    punggung

    dan

    ekstremitas.

     
    • 4. Status mental meliputi : orientasi, daya ingat, perhatian dan perhitungan, perbendaharaan kata/bahasa.

    • 5. Fungsi saraf otak yang meliputi : Fungsi penerimaan, pergerakan pupil, pergerakan rahang otot muka, pendengaran.

    • 6. Bicara mengenai kelainan pada articulasi, pengulangan kata – kata yang sukar, pergerakan pada objek.

    • 7. Ketegangan otot dan refleks, kaku kuduk.

    • j. Pemeriksaan diagnostik

      • 1. Pemeriksaan Darah : Kadar Hb, Ht,

    Leukosit dan Diff.

    Khas penurunan leukosit oleh karena endotoxin kuman menekan

    RES dalam memproduksi leukosit.

    25

    2.

    Pemeriksaan Darah Perifer Lengkap : Dapat ditemukan leukopeni,

    dapat pula leukositosis atau kadar leukosit normal. Leukositosis

    dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder.

    • 3. Pemeriksaan SGOT dan SGPT : SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan penanganan khusus

    • 4. Pemeriksaan Uji Widal

    a.

    Klasifikasi data

    Data subjektif :

    -

    Demam

    -

    Anoreksia

    -

    Susah BAB

    -

    Mual

    -

    Muntah

    -

    Bingung

    Data objektif :

    -

    Suhu tubuh meningkat

    -

    Takikardi

    -

    Berat badan menurun

    -

    Lidah kotor

    -

    Lemah

    -

    Distensi abdomen

    -

    Kelemehan otot voulunter

    26

    • - Sering bertanya

    • - Gelisah

    • b. Analisa data

    No

    Sign/symptom

    Etiologi

    Problem

    1

    Ds :

    Proses infeksi

    Hipertermi

    -

    Demam

    -

    Do :

    -

    Suhu tubuh

    27

       

    meningkat

       

    -

    Takikardi

    -

    Lemah

    • 2 Ds :

    Intake

    yang

    Nutrisi kurang dari kebutuhan

    -

    Anoreksia

    tidak adekuat

    -

    Mual

    -

    Muntah

    Do :

    -

    Berat badan

    menurun

    -

    Lidah kotor

    -

    Lemah

    • 3 Ds :

    Konstipasi

    Gangguan pola eliminasi

    -

    Susah BAB

    Do :

    -

    Kelemahan

    otot-otot

    voulunter

    -

    Distensi

    abdomen

    • 4 Ds : -

     

    Kehilangan

    Resiko

    tinggi

    kekurangan

    Do : -

    cairan/mual

    volume cairan

       

    muntah

     
    • 5 Ds :

    Kurang

    Kurang pengetahuan

    -

    Bingung

    terpajannya

    Do :

    informasi

    -

    Sering

    bertanya

    -

    Gelisah

    • 2.2.2 Diagnosa keperawatan

      • 1. Hipertermi berhubungan dengan

    proses infeksi

    • 2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

    berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.

    28

    • 3. Gangguan

    behubungan dengan konstipasi.

    pola

    eliminasi

    • 4. Resiko tinggi kurang volume cairan

    berhubungan dengan kehilangan cairan sekunder terhadap diare.

    • 5. Kurang

    pengetahuan

    berhubungan

    dengan kurang terpajannya informasi.

    29

    • 2.2.3 Intervensi Keperawatan

    No

     

    Diagnosa keperawatan

    Rencana keperawatan

     

    Rasionalisasi

     

    Tujuan

    Intervensi kperawatan

    1.

    Hipertermi

    berhubungan

    Klien akan

    • 1. Observasi tanda-tanda

    • - Membantu dalam

    dengan proses inflamasi, di

    menunjukkan suhu

    vital

    mempertahankan dan

    tandai dengan :

     

    tubuh dalam batas normal, dengan

    menstabilkan suhu tubuh.

    Ds :

    kriteria:

    • 2. Pantau suhu pasien

    • - Suhu 38

    Ds : kriteria: 2. Pantau suhu pasien - Suhu 38 C sampai 41 C
    C sampai 41 C

    C sampai 41 C

    -

    Demam

    • - Mendemonstrasikan

    menunjukkan proses

    Do :

    suhu dalam batas normal.

    peningkatan infeksius akut.

    -

    Suhu tubuh meningkat

    Takikardi

    • - Dapat melakukan

    • 3. Berikan kompres hangat

    -

    aktivitas sesuai

    • - Menimbulkan efek vasodilatasi

    -

    Lemah

    dengan kemampuan.

    vaskuler sehingga

     
    • - Frekuensi pernapasan kembali normal.

    mempercepat proses pengeluaran panas melalui evaporasi.

    • 4. anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat

    • - Pemakaian baju tipis yang menyerap keringat akan memberikan rasa nyaman pada klien.

    • 5. kolaborasi dalam pemberian antiperitik

    • - Antipiretik mempunyai efek membantu mengurangi panas dengan aksi sentralnya

    hipotalamus .

     

    30

    31

    31

    . 2.

    Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

    Klien akan menunujukkan perbaikan

    • 1. Kaji pola makan klien

    • - data dasar untuk menentukan intervensi selanjutnya.

    berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, di

    nutrisi yang adekuat, dengan kriteria :

    • 2. Timbang berat badan tiap

    • - Penimbangan BB dapat

    tandai dengan :

    hari.

    mendeteksi perkembangan

    Ds :

    • - berat badan normal.

    status nutrisi klien.

    -

    noreksia

    A

    • - selera makan meningkat.

    • 3. Auskultasi bising usus,

    • - Menentukan kembalinya

    -

    ual

    M

    • - tidak mual dan muntah.

    palpasi abdomen.

    peristaltik (biasanya dalam 2-4 hari).

    -

    untah

    M

    • 4. Berikan perawatan oral

    • - mulut yang bersih dapat

    Do :

    secara teratur.

    meningkatkan nafsu makan.

    -

    B erat badan menurun

    -

    Li

    • 5. Berikan lingkungan yang

    • - lingkungan yang nyaman dapat

    dah kotor

    nyaman untuk makan.

    meningkatkan nafsu makan

    -

    L

    emah

     

    dan memperbaiki pemasukan makanan.

     
    • 6. Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat.

    • - Nutrisi yang adekuat akan membantu proses penyembuhan.

    • 7. Anjurkan kepada keluarga untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tapi sering.

    • - porsi makanan yang kecil dan sering memungkinkan intake yang adekuat.

    • 8. Kolaborasi untuk

    pemberian makanan

    • - program

    32

         

    melalui parenteral total, terapi IV sesuai indikasi.

    ini mengistirahatkan saluran GI sementara memberikan nutrisi penting.

    9.Lakukan kolaborasi dengan ahli gizi dalam pengaturan makanan

    • - Membantu mengidentifikasi dan menentukan kebutuhan nutrisi klien.

    3

    Gangguan

    pola

    eliminasi

    Klien akan menunjukkan

    • 1. Kaji adanya distensi

    • - Distensi, dan hilangnya

    behubungan

    dengan

    terpenuhinya kebutuhan

    abdomen dan auskultasi

    peristaltik usus merupakan

    konstipasi,

    ditandai

    eliminasi BAB, dengan

    hilang kontrol saraf parasim-

    dengan :

    kriteria :

    patis

    Ds :

    • - mengeluarkan feses lunak.

    • 2. Anjurkan untuk melakukan

    • - Menstimulasi peristaltik yang memfasilitasi kemungkinan

    -

    s

    • - Mencipatakan

    pergerakan/ambulasi

    terbentuknya flatus

     

    Susah BAB

    kembali kepuasan

     

    dalam pola eliminasi.

    sesuai kemampuan.

    • - Makanan padat akan

    do :

    • 3. Beri makanan yang

    menimbulkan peristaltik

    -

    distensi abdomen

    mengandung serat tinggi.

    -

    kelemahan

    otot-otot

    voulunter

    • 4. Anjurkan klien untuk banyak minum ± 2000- 2500 ml/hari.

    • - Membantuk melunakan feses

     
    • 5. Beri obat laksatif sesuai perintah pengobatan

    • - Melembekkan feses, meningkatkan fungsi defekasi sesuai kebiasaan yang normal

    33

             

    Resiko

    terhadap

    Mencegah kurangnya

    • 1. Kaji tanda vital, catat

    • - Indikator dehidrasi/hipovolemia,

    kekurangan volume cairan

    volume cairan.

    perubahan TD, takikardia,

    keadekuatan penggantian

    berhubungan

    dengan

    demam, kaji turgor kulit,

    cairan.

    kurangnya intake cairan dan peningkatan suhu tubuh, ditandai dengan :

    pengisian kapiler dan kelembaban membran mukosa.

    Ds : -

    • 2. Awasi masukan dan

    • - Memberikan informasi tentang

    Do : -

    keluaran perkiraan kehilangan cairan yang tidak terlihat.

    keseimbangan cairan dan elektrolit penyakit usus yang merupakan pedoman untuk penggantian cairan.

    • 3. Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa turgor kulit dan pengisian kapiler.

    • - Menunjukkan kehilangan cairan berlebih atau dehidrasi.

    • 4. Berikan cairan atau darah sesuai indikasi.

    • - Penggantian cairan tergantung dari derajat hipovolemia dari perdarahan.

    • 5. Pertahankan pembatasan peroral, tirah baring.

    34

         
    • 6. Anjurkan kepada keluarga untuk melakukan perawatan mulut sering dengan perhatian khusus pada perlindungan bibir.

    • - Kalau diistirahkan utnuk penyembuhan dan untuk penurunan kehilangan cairan usus.

    • - Dehidrasi mengakibatkan bibir

    • 7. Kolaborasi dalam pemberian cairan tambahan IV sesuai indikasi.

    pecahpecah dan mulut kering.

    • - Mengganti kehilangan cairan dan memperbaiki keseimbangan cairan dalam fase segera paska operasi dan atau pasien mampu untuk

    memenuhi cairan per oral.

    5.

    kurang pengetahuan

    Orang tua klien

    • 1. Tentukan persepsi pasien

    • - Membua

    5

    berhubungan dengan kurang terpajannya informasi, ditandai dengan :

    mebunjukan pemahamannya, dengan kriteria :

    tentang proses penyakit.

    t pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar individu.

    Ds :

    • 2. Kaji tingkat pendidikan

    -

    dapat berpartisipasi

    orangtua klien.

    • - Tingkat pendidikan menentukan

    -

    BBingung

    Do :

    dalam proses

    cara atau metode penjelasan

     

    pengobatan.

     

    yang mudah di pahami.

    -

     

    Sering bertanya

    3.Beri informasi kepada

     

    -

    -

    orang tua klien yang

    • - Dengan informasi yang singkat

    mengingat informasi yang di

     

    Gelisah

    singkat dan sederhana.

    dan sederhana dapat

     

    meningkatkan perhatian orang tua klien sehingga dapat

    35

         

    4.Anjurkan orang tua klien

     

    berikan.

    untuk bertanya hal-hal yang belum di pahami tentang penyakit anaknya.

    -

    Dengan bertanyanya orang tua klien, prawat mengetahui hal- hal yang belum di mengerti orang tua klien.

    36

    BAB III KERANGKA KONSEP

     

    Pengkajian :

    • - Pengumpulan data

     
    • - Klasifikasi data

    • - Analisa data

     
    Pengkajian : - Pengumpulan data - Klasifikasi data - Analisa data Diagnosa keperawatan Intervensi keperawatan Implementasi

    Diagnosa keperawatan

    Pengkajian : - Pengumpulan data - Klasifikasi data - Analisa data Diagnosa keperawatan Intervensi keperawatan Implementasi

    Intervensi keperawatan

    Pengkajian : - Pengumpulan data - Klasifikasi data - Analisa data Diagnosa keperawatan Intervensi keperawatan Implementasi

    Implementasi

    keperawatan

    Pengkajian : - Pengumpulan data - Klasifikasi data - Analisa data Diagnosa keperawatan Intervensi keperawatan Implementasi

    Evaluasi keperawatan

    37

    BAB IV

    METODE STUDI KASUS

    • 4.1 Desain Studi Kasus

    Metode studi kasus ini yang digunakan adalah pendekatan asuhan

    keperawatan, yang dimulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan,

    intervensi, implementasi dan evaluasi khususnya pada klien dengan

    gangguan sistem percernaan (Tifus Abdominalis).

    • 4.2 Kerangka Kerja

     

    Pengkajian :

     

    -

    Wawancara

    - Wawancara . Diagnosa Keperawatan

    .Diagnosa Keperawatan

     
     
    Klien
    Klien

    38

    4.3

    Instrumen Penelitian

    Instrumen penelitian studi kasus ini adalah :

    • a. Wawancara

    • b. Observasi

    • c. Pengkajian fisik :

      • - Inspeksi

      • - Palpasi

      • - Perkusi

      • - Auskultasi Dalam hasil pengkajian maka perawat juga mencantumkan status klien dan hasil lab tertentu.

    • 4.4 Tempat dan Waktu Penelitian

      • 1. Tempat

    Penelitian ini dilakukan di Ruang Anggrek RSUD Kota Bau-Bau.

    • 2. Waktu

    Waktu pelaksanaan penelitian direncanakan akan dilakukan pada tanggal

    ……… ..

    sampai dengan ……………

    • 4.5 Prosedur Pengumpulan Data Pada studi kasus ini data yang dikumpulkan terdiri dari dua data yaitu data

    primer dan data sekunder. Dimana sebelum dilakukan pengumpulan data ,

    klien diberikan fromulir pernyataan Data primer diperoleh dari hasil wawancara kepada klien menjadi subyek

    dalam studi kasus. Sedangkan data sekunder diperoleh dari observasi dari

    pengkajian fisik

    • 4.6 Etika Penelitian

    39

    Dalam melakukan studi kasus penulis akan meminta rekomendasi dari

    Direktur Akademik Keperawatan Kabupaten Buton dan selanjutnya meminta Izin

    Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat serta Kepala Rumah Sakit dan

    setelah mendapatkan persetujuan kemudian akan dilakukan studi kasus pada

    gangguan system Persarafan (stroke) dengan melakukan masalah etika yang

    meliputi :

    • 1. Informed Consend

    Lembar persetujuan diberikan kepada subyek yang akan diteliti. Penulis

    akan menjelaskan maksud dan tujuan penelitian yang dilakukan. Jika subyek

    bersedia diteliti maka harus menandatangani lembar persetujuan. Jika subyek

    menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati

    haknya.

    • 2. Anomity (tanpa nama)

    Untuk menjaga kerahasiaan identitas, penulis tidak akan mencatumkan

    nama subyek pada lembar format pengkajian asuhan keperawatan yang diisi

    oleh subyek untuk menjaga kerahasian subyek ..

    3. Confidentiality (kerahasiaan)

    Kerahasiaan informasi subyek dijamin penulis.

    40

    DAFTAR PUSTAKA

    Ali Zaidin, 2001. Dasar-Dasar Keperawatan Profesional, Widya Medika,

    jakarta

    Harmoko, 2010. Pengantar Proses Keperawatan.

    Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit jilid 1 & 2. Buku Kedokteran EGC,

    Jakarta. 1997

    Arif Mansjoer, Suprohaitan, Wahyu Ika W, Wiwiek S. Kapita Selekta

    Kedokteran. Penerbit Media Aesculapius. FKUI Jakarta. 2000.

    Doenges Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Buku

    kedokteran EGC. Jakarta. 1999.

    Data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara Riskesdes 2007, Tifus

    Abdominalis

    Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit jilid 1 & 2. Buku Kedokteran EGC,

    Jakarta. 1997.

    Tambayong, jun, 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan, jakarta, EGC. Soeparman.1991. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1 edisi 2, Jakarta, FKUI. http://creasoft.wordpress.com/2008/04/15/tifus abdominalispada_anak.html

    http://bp3.blogger.com

    41

    DAFTAR LAMPIRAN

    T FORMAT DOKUMENTASI

    ASUHAN KEPERAWATAN ANAK

    Diagnosa medik

    : ..............................................................................

    No. MR

    :

    ...........................................................................

    Tgl. Masuk RS

    : ..............................................................................

    Tgl. Pengkajian

    : ..............................................................................

    • A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN

      • 1. Pengumpulan Data

        • a. Identitas Klien

    Nama

    :

    Tanggal Lahir/Umur

    :

    Jenis Kelamin

    :

    Agama

    :

    Pendidikan

    :

    Alamat

    :

    • b. Identitas Penanggung

    Nama

    :

    Usia

    :

    Jenis Kelamin

    :

    Pekerjaan

    :

    Pendidikan

    :

    Suku/Bangsa

    :

    Penghasilan Keluarga

    :

    Hubungan dengan Klien

    :

    Alamat

    :

    • c. Riwayat Kesehatan

    42

    1)

    Riwayat Kesehatan Sekarang

    • a) Keluhana utama saat masuk rumah sakit :

    • b) Keluhan saat dikaji

    :

    2)

    Riwayat Kesehatan Dahulu

    • a) Penyakit pada masa kanak-kanak dan penyakit infeksi yang

     

    pernah dialami

     
    • b) Imunisasi

    • c) Kecelakaan yang pernah dialami termasuk keracunan

    • d) Proses operasi dan perawatan rumah sakit

    • e) Alergi (makanan, obat-obatan, zat/substansi, textil)

    • f) Pengobatan dini (konsumsi obat-obatan bebas)

    • g) Perkembangan anak dibanding dengan saudara-saudaranya

    3)

    Riwayat kehamilan dan persalinan

    • a) Pre natal care

     
     

    -

    Kapan mulai melakukan perawatan selama hamil

    -

    Keluhan ibu selama hamil (perdarahan, PHS, infeksi, ngidam, muntah-muntah, demam).

    -

    Pernah dirawat selama hamil

    -

    Apakah pernah

     

    Terkena sinar X?

    Menerima terapi perlindungan penyakit

    Melakukan meditasi selama kehamilan

     

    -

    Bagaimana pola makan ? Kenaikan berat badan ?

    -

    Imunisasi ( berapa kali) ? usia kehamilan berapa ?

    • b) Natal care

     
     

    -

    Tempat melahirkan ?

    -

    Lama dan jenis ? adakah kesulitan ?

    -

    Penolong persalinan ?

    -

    Cara untuk memudahkan persalinan ? (obat penghilang rasa nyeri)

    -

    Pembiusan selama proses melahirkan ?

    -

    Komplikasi waktu lahir

    • c) Post natal care

     
     

    -

    Kondisi bayi (BB, PB, APGAR Score)

    -

    Keadaan anak setelah 28 hari

    -

    Apakah ada penyakit (kuning, kebiruan, problem menyusui, BB tidak stabil)

    -

    Apakah bayi meninggalkan rumah sakit dan ibunya ?

    4)

    Riwayat Kesehatan Keluarga

    • a) Genogram.................................................................................

    • b) Riwayat imunisasi ....................................................................

    No

    JENIS IMUNISASI

    WAKTU

    REAKSI

    43

     

    PEMBERIAN

    SETELAH

     

    PEMBERIAN

    • 1. BCG

     
    • 2. DPT (I,II,III)

     
    • 3. Polio (I,II,III,IV)

     
    • 4. Campak

     
    • 5. Hepatitis

     

    5) Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan

    • a) Pertumbuhan Fisik

    1.

    Berat Badan (Saat lahir, BB saat ini) :

    ............................

    kg

    2.

    Panjang badan lahir/tinggi badan

    :

    ...............................

    cm

    3.

    Lingkaran kepala

    :

    .............................

    cm

    4.

    Lingkaran dada

    :

    .............................

    cm

    5.

    Lingkaran lengan

    :

    ............................

    cm

    6.

    Pertumbuhan gigi

    :

    .........................

    bulan

    7.

    Usia mulai tumbuh gigi :

    ...................

    jumlah gigi :

    buah

    8.

    Usia tanggalnya gigi pertama

     

    :

    ......................

    tahun

    • b) Tahap

    Perkembangan

    Tiap

    dengan

    menggunakan

    format

    DDST Usia pada saat anak

    :

    1.

    Berguling :

    ............

    bulan

    2.

    Duduk :

    .................

    bulan

    3.

    Merangkak :

    ..........

    bulan

    4.

    Berdiri :

    ................

    bulan

    5.

    Berjalan :

    ..........

    bulan

    6.

    Senyum kepada orang lain :

    ......

    bulan

     

    7.

    Berbicara pertama kali

    :

    .............

    bulan

     

    Dengan menggunakan DDST

     
    • Motorik kasar

    • Motorik halus

    • Bahasa

    • Personal sosial

    Usia 6 tahun ke atas :

    • Perkembangan kognitif

    • Perkembangan psikoseksual

     
    • Perkembangan psikososial

    6) Riwayat Pemberian Nutrisi

    • a) Pemberian ASI atau susu formula

     

    Pemberian ASI

    • 1. Pertama kali disusui : usia :

    bulan

     
    • 2. Waktu dan cara pemberian : ...........

     
    • 3. Lamanya pemberian :

    jam

     
    • 4. ASI deberikan sampai usia, berapa ? :

    ......

    bulan

    Pemberian susu formula

    44

    1.

    Alasan pemberian :

     

    2.

    Jumlah pemberian :

    ..............

    cc

     

    3.

    Cara pemberian : dengan dot ( ), dengan sendok ( ),

     

    dengan sedotan ( ).

     

    b)

    Pemberian makanan tambahan

     

    1.

    Pertama kali di berikan makanan :

     

    bulan

     

    2.

    Jenis makanan tambahan

     

    7) Riwayat psikososial

     

    (Berisi

    hubungan

    dan

    pola

    interaksi

    dalam

    keluarga

    dan

    masyarakat)

     

    8) Riwayat spirirual

     

    a)

    Ketaatan anak beribadah dan menjalankan kepercayaannya

    b)

    Support system dalam keluarga

     

    c)

    Ritual yang biasa dijalankan oleh klien (anak) dan keluarga

    9) Reaksi hospitalisasi, fokus pada pengkajian

     

    (Berisi tentang pemahaman kelurga dan anak tentang sakit dan

    rawat inap)

     

    10) Pola Aktivitas Sehari-Hari

     

    a)

    Nutrisi

    :

    1.

    Selera makan

    :

    bertambah ( ), berkurang ( )

     

    2.

    Menu makanan dalam 24 jam

    :

    3.

    Frekuensi makan dalam 24 jam :

    4.

    Makanan yang disukai dan makanan pantangan :

     

    5.

    Pembatasan pola makan :

     

    6.

    Cara makan (Makanan sendiri atau disuapi, bersama

     

    kelurga, alat makan yang digunakan)

    :

     

    7.

    Ritual sebelum makan

     

    :

    b)

    Pola Cairan :

     

    1.

    Jenis minuman yang dikomsumsi dalam 24 jam :

     

    2.

    Frekuensi minum :

    ..............

    kali per hari

     

    3.

    Kebutuhan cairan dalam 24 jam, jumlah

    :

    ...................

     

    cc

    c)

    Pola eliminasi Eliminasi (BAB & BAK) :

     

    1.

    Tempat pembuangan

    :

    2.

    Frekuensi :

     

    ………

    Kapan

    ?

    (saat

     

    makan/bermain/tidur), apakah teratur : Ya/Tidak

     
     

    3.

    Konsistensi :

     

    4.

    Kesulitan dan cara menanganinya

     

    d)

    Pola Istirahat tidur :

     

    1.

    Cepat tidur ? : ya/tidak

     

    2.

    Jam tidur : Siang :

    jam. Malam :

    ......

    jam

    3.

    Bila tidak dapt tidur apa yang dilakukan

    45

    4.

    Tidur secara rutin ? : ya/tidak

     

    5.

    Kebiasaan lain yang dilakukan sebelum tidur

     
    • e) Pola olahraga

     
     

    1.

    Program olahraga tertentu

     

    2.

    Lama melakukan :

     

    jam, jenis olahraga yang

     

    dilakukan

     

    3.

    Perasaan anak setelah melakukan olahraga

     
    • f) Personal Hygiene :

     
     

    1.

    Mandi : Frekuensi : …………….… perhari,dan cara

     

    mandi

     

    2.

    Alat mandi :

    .........

    , kesulitan : mandi/dibantu

     

    3.

    Cuci rambut : Frekuensi : …… Ya / Tidak

    ..

    perhari,

    di Shampoo :

    4.

    Gunting kuku : Frekuensi : … kali per minggu

    5.

    Gosok gigi : frekuensi :

    kali perhari

     
    • g) Pola Aktivitas / Mobilitas fisik :

     
     

    1.

    Kegiatan sehari-hari

     

    2.

    Pengaturan jadwal harian

     

    3.

    Penggunaan alat bantu aktivitas

     

    4.

    Kesulitan pergerakan tubuh

     
    • h) Rekreasi:

     
     

    1.

    Rekreasi apa yang pernah dilakukan :

     

    2.

    Bagaimana perasaan anak saat disekolah :

    3.

    Barapa banyak waktu luang anak diluar sekolah dan les

    4.

    Apakah anak puas setelah rekreasi

     

    5.

    Apakah keluarga menghabiskan waktu setengah dengan anak

    6.

    Bagaimana perbedaan hari libur dan hari sekolah ?

    7.

    11)

    Pemeriksaan Fisik :

     
    • a. Keadaan umum

     
     

    1.

    Tanda-tanda distres

     

    2.

    Penampilan dihubungkan dengan usia

     

    3.

    Ekspresi wajah, bicara, mood

     

    4.

    Berpakaian dan kebersihan umum

     
    • b. Tanda-tanda vital

     
     

    1.

    Suhu

    :

    C

    2.

    Nadi

    :

    Kali/Menit

     

    3.

    Respirasi

    :

    Kali/Menit

    4.

    Tekanan Darah

     
    • c. Antropometri

     
     

    1.

    Tinggi Badan

    :

    CM

    2.

    Berat Badan

    :

    Kg

    3.

    Lingkaran Lengan Atas

    :

    CM

    46

    • 4. Lingkaran Kepala

    :

    CM

    • 5. Lingkaran Perut

    :

    CM

    • 6. Skin fold (lemak sub kutan) :

    CM

    • d. Sistem Pernapasan

    • 1. :

    Hidung

    Kesimetrisan, pernapasan cuping hidung,

    adanta sekret/polip, passase udara

     
    • 2. :

    Leher

    pembesaran kelenjar, tumor

    • 3. Dada

    • 4. Bentuk dada (normal, barrel chest, rigeon chest)

    • 5. Perbandingan ukuran anteriorposterior transversal

    • 6. Gerakan dada (kiri dan kanan, apakah ada retraksi)

    • 7. Keadaan processus xipoideus

    • 8. Apakah ada napas tambahan

    • 9. Apakah ada clubbing finger

    • e. Sistem Kardiovaskuler

      • 1. Conjungtivac(anemia/tidak), Bibir (pucat, cyanosis)

      • 2. Arteri carotis

      • 3. Tekanan Vena Jugularis

      • 4. Ukuran jantung

      • 5. Ictus cordis / apex jantung

      • 6. Suara jantung (mitrl, tricuspid, murmur, gallop)

      • 7. Capillary Refiling Time

  • f. Sistem Pencernaan

  • ,
    ,

    , Bising aorta,

    • 1. Sklera (ikterus/tidak)

    • 2. Bibir (lembab, kering, pecah pecah, labio skizis)

    • 3. Mulut (stomatitis, apakah ada palato skizis, jumlah gigi, kemampuan menelan, gerakan lidah)

    • 4. Gaster (kembung, gerakan peristaltik)

    • 5. Abdomen (periksa sesuai dengan organ dalam tiap kuadran)

    • 6. Anus (kondisi, spinter ani, koordinasi)

    • g. Sistem Indra

      • 1. Mata

    -

    Kelopak mata, buu mata, alis, lipatan epikantus

    dengan ujung atas telinga

    -

    Visus

    -

    Lapang pandang

    • 2. Hidung

     

    -

    Penciuman, perih di hidung, truma, mimisan

    -

    Sekret yang menghalangi penciuman

    • 3. Telinga

     

    -

    Keadaan daun telinga, operasi telinga

    -

    Kanal auditoris

    -

    Mebran tympani

    -

    Fungsi pendengaran

    • h. Sistem Reproduksi

      • 1. Wanita

    47

    • - Payudara (putting, areola mamae, besar, perbandingan kiri dan kanan)

    • - Labio mayora dan minora

    • - Haid pertama (bila anak sudah haid)

    • - Siklus haid

    • 2. Laki laki

      • - Keadaan gland penis (urethra)

      • - Testis (sudah turun/belum)

      • - Pertumbuhan rambut (kumis, janggut, ketiak)

      • - Pertumbuhan jakun

      • - Perubahan suara

      • - Wet dream

    • i. Sistem Persyarafan

      • 1. Fungsi Cerebral

      • 2. Status mental (orientasi, daya ingat, perhatian dan perhitungan, bahasa)

      • 3. Kesadaran (eyes, motorik, verbal)/GCS = ....................

      • 4. Bicara (ekspresive dan resiptive)

      • 5. Fungsi cranial (syaraf cranial I s/d XII)

      • 6. Fungsi motorik (massa, tonus dan kekutan otot)

      • 7. Fungsi sensorik (suhu, nyeri, getaran posisi, dan diskriminasi)

      • 8. Fungsi cerebellum (koordinasi dan keseimbangan)

      • 9. Refleks (ekstremitas atas, bawah dan superficil)

    10. Iritasi maningen (kaku dudk, lasague sign, kerning sign, brudzinki sign)

    • j. Sistem Endokrin

      • 1. Kelenjar thyroid

      • 2. Percepatan pertumbuhan

      • 3. Gejala creatinisme atau gigantisme

      • 4. Eksresi urin berlebihan, polydipsi, polyhagi

      • 5. Suhu tubuh yang tidak seimbang, keringat berlebihan, leher kaku

      • 6. Riwayat bekas air seni dikelilingi semut

    • k. Sistem Perkemihan

      • 1. Odema palpebra

      • 2. Moon face

      • 3. Odema anasarka

      • 4. Keadaan kandung kemih

      • 5. Nocturia, dysuria, kencing batu

  • l. Sistem Muskuloskletal

    • 1. Kepala (bentuk kepala)

    • 2. Vertebrae (bentuk, gerakan, ROM)

    • 3. Pelvis ( thomas test, terndelenburg test, ortolani/barlow, ROM)

  • 48

    • 4. Lutu ( Mc.Murray test, ballottement, ROM)

    • 5. Kaki (keutuhan ligamen, ROM)

    • 6. Bahu

    • 7. Tangan

    • m. Sistem Integumen

      • 1. Rambut (distribusi ditiap bagian tubuh, warna, kebersihan)

      • 2. Kulit (perubahan warna, temperatur, kelembaban,bulu kulit, erupsi, tahi lalat, ruan, testure)

      • 3. Kuku (wrana, permukaan kuku, mudah patah , kebersihan)

     
    • n. Sitem Imun

    -

    Alergi (cuaca, debu, bulu binatang, zat kimia)

    -

    Imunisasi

    -

    Penyakit yang berhubungan dengan perubahan cuaca

    -

    Riwayat tranfusi dan reaksinya

    1.2. Pemeriksaan Penunjang

    :

    Diagnostik dan Laboratorium

    1.3. Program Pengobatan yang sedang dan akan dijalankan

    • 2. Analisa Data

    Data Senjang

    Interpretasi Data

    Masalah

         
    • B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

    No

    Diagnosa

    Ditemukan Masalah

    Dipecahkan

    Keperawatan

    Tanggal

    Paraf

    Tanggal

    Paraf

     

    49

    • C. RENCANA KEPERAWATAN

     

    Diagnosa

     

    Intervensi

    No

     

    Keperawatan

    Tujuan

    Tindakan

    Keperawatan

    Rasional

     
    • D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

    No

    Diagnosa Keperawatan

    Tindakan Keperawatan

    Tanda Tanda

     
    • E. EVALUASI KEPERAWATAN

    Tgl

    Diagnosa Keperawatan

    Evaluasi Keperawatan

    Paraf

    • 1. …………………….

    S :

     

    O :

    A :

    P :

    • 2. ……………………..

    S :

     

    O :

    A :

    P :

    50

    hypus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasa mengenai saluran pencernaan. Gejala yang biasa ditimbulkan adalah demam yang tinggi lebih dari 1 minggu, gangguan pada saluran pencernaan, dan gangguan kesadaran (FKUI, 1985). Thypus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasa mengenai saluran pencernaan. Gejala yang biasa ditimbulkan adalah demam yang tinggi lebih dari 1 minggu, gangguan pada saluran pencernaan, dan gangguan kesadaran (FKUI, 1985). Thypus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasa mengenai saluran pencernaan. Gejala yang biasa ditimbulkan adalah demam yang tinggi lebih dari 1 minggu, gangguan pada saluran pencernaan, dan gangguan kesadaran (FKUI, 1985). Thypus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasa mengenai saluran pencernaan. Gejala yang biasa ditimbulkan adalah demam yang tinggi lebih dari 1 minggu, gangguan pada saluran pencernaan, dan gangguan kesadaran (FKUI, 1985). hypus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasa mengenai saluran pencernaan. Gejaang tingg

    51