Anda di halaman 1dari 12

www.mediafunia.

com

Model Pembelajaran Siklus Belajar 5E (Learning Cycle 5E)

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai

pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan

untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film,

komputer, kurikulum, dan lain-lain (Trianto, 2012). Ramadhani (2012) menyatakan bahwa

setiap model pembelajaran mengarahkan kita ke dalam mendesain pembelajaran untuk

membantu siswa sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

Salah satu model pembelajaran inovatif yang mampu memfasilitasi siswa dalam

mengkonstruksi pengetahuannya sendiri adalah pembelajaran dengan menggunakan model

pembelajaran siklus belajar 5E (learning cycle 5E). Siklus belajar sebagai strategi

pembelajaran pertama kali diperkenalkan pada akhir Tahun 1960-an ketika Robert Karplus dan

rekan-rekannya mengimplemen-tasikannya dalam kurikulum sains (Qarareh, 2012). Model ini

didesain khusus untuk Science Curriculum Improvement Study (SCIS) dan memberikan hasil

yang baik dalam pengajaran sains/IPA. Pada awalnya model ini terdiri atas tiga fase

pembelajaran, yaitu eksploration, invention, dan discovery. Pada Tahun 1980-an, Lawson

kemudian memodifikasi istilah-istilah tersebut menjadi exploration, concept introduction, dan

concept application. Pada Tahun 1993, the Biological Science Curriculum Study (BSCS) yang

dipimpin oleh Rodger Bybee mengembangkan learning cycle yang disebutnya sebagai metode

kontruktivisme menjadi model pembelajaran siklus belajar 5E (learning cycle 5E) (Bybee et

al., 2006; Liu et al., 2009; Ramadhani, 2012; Tuna & Kacar, 2013).

Siklus belajar 5E (learning cycle 5E) adalah salah satu model konstruktivis lengkap

dalam kasus pembelajaran berbasis riset atau brainstorming yang digunakan di dalam kelas

(Campbell dalam Tuna & Kacar, 2013). Learning cycle 5E berpusat pada siswa (student

centered) dengan kegiatan yang memberikan dasar untuk observasi, pengumpulan data,

analisis tentang kegiatan, peristiwa, dan fenomena (Haribhai & Dhirenkumar, 2012). Learning
www.mediafunia.com

cycle 5E merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa

sehingga siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam

pembelajaran dengan jalan berperanan aktif (Fajaroh & Dasna, 2008; Wibowo et al., 2010).

Model pembelajaran siklus belajar 5E (learning cycle 5E) memotivasi siswa untuk masuk

dalam topik melalui beberapa tahap pembelajaran dengan tujuan untuk mengeksplorasi subjek,

memberikan definisi pada pengalaman mereka, mendapatkan informasi lebih rinci tentang

pembelajaran mereka, dan untuk mengevaluasinya (Wilder & Shuttleworth dalam Hagerman,

2012; Tuna & Kacar, 2013).

Fajaroh dan Dasna (2007) menyatakan bahwa model pembelajaran learning cycle 5E

patut dikedepankan karena model belajar ini sesuai dengan teori belajar Piaget yang berbasis

kontruktivisme. Piaget menyatakan bahwa belajar merupakan pengembangan aspek kognitif

yaitu struktur, isi, dan fungsi. Struktur intelektual merupakan organisasi mental tingkat tinggi

yang dimiliki individu untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya dan fungsi

merupakan proses perkembangan intelektual yang mencakup adaptasi dan organisasi.

Siklus belajar 5E (learning cycle 5E) adalah model pembelajaran konstruktivis yang

menggabungkan antara hands-on, minds-on, dan penyelidikan ilmiah berbasis pedagogi (Balci

et al., 2006; Hagerman, 2012; Liu et al., 2009). Berbeda dengan metode pengajaran tradisional

yang mendominasikan instruksi langsung dalam menyampaikan informasi, siklus belajar 5E

dengan pendekatan hands-on di mana siswa dapat mengeksplorasi konsep baru, mengevaluasi

kembali pengalaman masa lalu mereka, dan mengasimilasi atau mengakomodasi pengalaman

baru dan konsep ke dalam skema yang sudah ada (Hagerman, 2012).

Bagi Piaget, adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi.

Apabila proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi pada lingkungannya,

maka terjadilah ketidakseimbangan (disequilibrium). Akibat ketidakseimbangan ini maka

terjadilah akomodasi, dan struktur yang ada mengalami perubahan atau struktur baru timbul
www.mediafunia.com

(Dahar, 1996). Berdasarkan proses asimilasi ke akomodasi diharapkan dapat mengembangkan

struktur mental, sehingga dapat diorganisasikan dengan konsep lain yang telah dimiliki.

Organisasi yang baik dari intelektual seseorang akan tercermin dari respon yang diberikan

dalam menghadapi masalah.

Sudojo (dalam Fajaroh & Dasna, 2007) menyatakan bahwa implementasi learning

cycle 5E dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan kontruktivisme, yakni sebagai berikut:

1) Siswa belajar secara aktif, siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan

berpikir, pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa.

2) Informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa, informasi baru yang

dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu.

3) Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan

masalah.

Model pembelajaran learning cycle 5E yang berorientasi pada pembelajaran

kontruktivisme (constructivist approach) ini sangat memperhatikan pengalaman dan

pengetahuan awal siswa serta bertujuan meningkatkan pemahaman konsep siswa. Oleh karena

itu, pada setiap fase-fase pembelajaran guru dituntut untuk menciptakan kondisi pembelajaran

yang beranjak dari isu-isu sains yang relevan dengan lingkungan siswa, memicu proses

disequilibrium-equilibrium (ketidakseim-bangan-seimbang) pada diri siswa serta memberi

kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan orang lain agar siswa dapat membangun

pengetahuannya secara utuh (Mabsuthoh, 2010).

Sesuai dengan namanya, model ini memiliki lima fase/tahap yang setiap fasenya

dimulai dengan huruf E sebagai berikut (Bybee et al., 2006; Temel et al., 2013; Tuna & kacar,

2013; Utari et al., 2013):

1) Engagement (engage/keterlibatan) merupakan fase saat guru mencoba

memusatkan perhatian siswa dan mengikutsertakan siswa ke dalam sebuah konsep


www.mediafunia.com

baru dengan cara memberikan pertanyaan motivasi, memberikan gambaran tentang

materi yang akan dipelajari, demonstrasi, atau aktivitas lain yang digunakan untuk

membuka pengetahuan siswa dan mengembangkan rasa keingintahuan siswa. Pada

fase ini guru menggali pengetahuan awal siswa untuk mengetahui tingkat

pengetahuan dan pikiran siswa mengenai konsep yang akan dipelajari. Hal

terpenting dalam fase ini adalah guru menghindari mendefinisikan dan membuat

penjelasan tentang konsep yang akan dibahas.

2) Exploration (eksplore/penjelajahan) merupakan fase kedua yang sering

diwujudkan dalam kegiatan laboratorium (praktikum) dan diskusi yang dilakukan

secara berkelompok. Fase ini memberikan pengalaman yang nyata bagi siswa.

Siswa diajak terlibat secara langsung pada fenomena atau situasi yang mereka

selidiki. Siswa saat berada di dalam fase ini merancang dan melakukan eksperimen

atau praktikum, melakukan pengujian hipotesis, serta melakukan pengumpulan

data/informasi untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh guru. Siswa

dilibatkan secara fisik dan mental. Sebagai hasil keterlibatan mental dan fisik

mereka dalam kegiatan tersebut, para siswa akan mampu membentuk hubungan,

mengamati pola, mengidentifikasi variabel, dan bertanya. Guru berperan sebagai

fasilitator atau pemandu yang mengarahkan siswa agar mampu mengeksplorasi dan

menemukan jawaban atas pertanyaan yang diberikan. Guru hanya harus

membimbing siswa, tidak berpartisipasi sepenuhnya kepada karya siswa. Hal

terpenting ketika guru membimbing adalah jika melihat kesalahan siswa maka

tidak boleh langsung memperbaikinya, tetapi harus memberikan beberapa petunjuk

atau menunjukkan beberapa cara agar siswa mengoreksi sendiri. Sementara siswa

berinteraksi satu sama lain dan tidak pasif dalam proses ini.
www.mediafunia.com

3) Explanation (explain/menjelaskan) merupakan fase saat perhatian siswa

difokuskan pada aspek tertentu dari pengalaman mereka pada fase-fase

sebelumnya. Siswa diberikan kesempatan untuk menunjukkan pemahaman konsep

mereka, keterampilan proses, atau perilaku. Kata explanation berarti tindakan atau

proses di mana konsep, proses, atau keterampilan menjadi jelas dan dapat

dipahami. Siswa melakukan diskusi kelompok untuk menganalisis data/infor-masi

yang dikumpulkan dari kegiatan pada fase sebelumnya. Guru membimbing siswa

untuk menyampaikan hasil kegiatan yang telah mereka lakukan dengan

menggunakan ide dan kata-kata mereka sendiri, sehingga diharapkan pemahaman

konsep muncul dari pengalaman mereka setelah melakukan kegiatan. Guru

memberikan definisi formal dan penjelasan ilmiah. Selanjutnya, dengan memberi-

kan penjelasan tingkat pengetahuan dasar kepada siswa, guru bila memungkinkan

agar membantu siswa untuk menyatukan bersama-sama pengalaman mereka, untuk

menjelaskan hasil mereka, dan untuk membentuk konsep-konsep baru. Tujuan

tahap ini adalah untuk memperbaiki kesalahan dalam temuan siswa sebelum tahap

berikut-nya.

4) Elaboration (elaborate/elaborasi) merupakan fase yang dapat diang-gap sebagai

perpanjangan langkah penelitian karena adanya masalah suplemen (penguat). Fase

ini memfasilitasi siswa untuk dapat menerapkan konsep yang telah mereka peroleh

berdasarkan kegiatan yang telah mereka lakukan ke dalam situasi atau masalah

yang baru. Masalah baru tersebut memiliki penyelesaian yang identik atau mirip

dengan apa yang dibahas sebelumnya. Siswa menggunakan konsep yang baru

dipelajari dalam situasi berbeda atau mengulangi beberapa kali aplikasi yang

berhubungan dengan konsep yang dipelajari agar menjadi masukan ke dalam

memori jangka panjangnya dan menjadi permanen. Selama fase elaborasi, siswa
www.mediafunia.com

dapat dilibatkan kembali dalam kegiatan diskusi dan pencarian informasi. Siswa

mengiden-tifikasi masalah dan mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk

menyelesaikan permasalahan yang diberikan melalui diskusi.

5) Evaluation (evaluate/menilai) merupakan fase saat guru mencari tahu kualitas dan

kuantitas ketercapaian pemahaman siswa terhadap topik yang telah mereka

pelajari. Fase ini dapat diwujudkan dalam metode formal atau informal. Guru

mengajukan pertanyaan dan membuat siswa merespon secara lisan atau tulisan.

Selain itu, siswa diminta untuk mengaitkan apa yang telah mereka pelajari dengan

situasi di kehidupan nyata. Fase ini adalah fase di mana siswa dapat menunjukkan

sikap mereka tentang pembelajaran dan dapat merubah gaya pemikiran mereka

atau perilaku. Evaluasi informal dapat terjadi pada awal dan seluruh urutan model

siklus belajar 5E. Guru juga dapat menyelesaikan evaluasi formal setelah fase

elaborasi. Evaluasi bisa dilakukan secara formatif maupun sumatif dan berfokus

pada kemampuan siswa menggunakan informasi yang telah mereka peroleh selama

kegiatan pembelajaran.

Evaluasi engagement berkisar pada pra-penilaian. Artinya, mencari tahu apa yang

sudah diketahui siswa tentang topik yang akan dibahas dengan mengajukan pertanyaan dan

membuat siswa merespon secara lisan atau tulisan. Dalam exploration, evaluasi berfokus pada

proses. Artinya, pada proses pengumpulan data oleh siswa, bukan produk dari pengumpulan

data. Evaluasi explain berfokus pada seberapa baik siswa dapat menggunakan informasi yang

mereka kumpulkan dan apa yang sudah mereka tahu tentang ide-ide baru. Evaluasi elaboration

dapat disamakan dengan tes di akhir pelajaran untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman

siswa terkait konsep yang telah dipelajari.

Fase engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluation tersebut saling

berhubungan dan saling mendukung satu sama lain. Setiap tahap (fase) memiliki fungsi spesifik
www.mediafunia.com

dan memberikan kontribusi bagi guru dan siswa untuk meningkatkan pemahaman terhadap

pengetahuan ilmiah dan teknologi, sikap, serta keterampilan yang lebih baik (Bybee et al.,

2006).

Secara garis besar peran siswa pada setiap tahapan learning cycle 5E model dapat

disajikan pada Gambar 2.1.

Evaluasi
Menggunakan fakta/bukti yang ditemukan untuk
menjelaskan.

Mengaplikasikan apa yang dipelajari.


Melaporkan hasil dan menjelaskannya.

Menganalisis hasil pengamatannya.


Mendengarkan hasil pekerjaan
siswa lain.

Mencoba dengan eksperimen. Evalua


Mendiskusikan dengan siswa te
lain.

Elabora
Mengapa hal itu terjadi? te
Apa yang saya tahu tentang
hal itu?

Explain

Explo
re

Engage
www.mediafunia.com

Gambar 1 Peran Siswa pada Setiap Tahapan LC5E

(diadaptasi dari Kazu & Bozu, 2012)

Kelima tahapan model siklus belajar 5E dapat digambarkan seperti pada Gambar 2.2.

Gambar 2 Tahapan Learning Cycle 5E Model


(diadaptasi dari Ergin, 2012; Tuna & Kacar, 2013; Wibowo et al., 2010)

Adapun sintaks model pembelajaran siklus belajar 5E yang diadaptasi dari Bybee et al

(2006), Lorsbash (dalam Soomro et al., 2010), Uzunoz (2011), dan Suastra (2009) disajikan

pada Tabel 1.

Tabel 1 Sintaks Learning Cycle 5E Model

Fase Kegiatan Pembelajaran


1. Guru memusatkan perhatian siswa.
2. Guru membangkitkan minat, motivasi, dan keingintahuan
siswa mengenai materi yang akan dipelajari.
Engagement
3. Guru memfasilitasi siswa dalam menggali pengetahuan
awal melalui pemberian pertanyaan atau masalah yang
terkait dengan materi yang akan dipelajari.
1. Guru membagikan LKS, memberikan suatu permasalahan
untuk dicari solusinya oleh siswa.
2. Siswa membentuk kelompok untuk melakukan diskusi
mengenai permasalahan yang diajukan oleh guru, mencari
Eksploration
solusi/jawaban untuk permasalahan tersebut, melakukan
praktikum, melakukan pengujian hipotesis, serta melaku-
kan pengumpulan data/informasi.
3. Guru berperan sebagai fasilitator, memberikan bimbingan
seperlunya kepada siswa.
www.mediafunia.com

Tabel 1 Sintaks Learning Cycle 5E Model


(Lanjutan)

Fase Kegiatan Pembelajaran


1. Siswa melakukan diskusi kelompok untuk menganalisis
data/informasi yang dikumpulkan dari kegiatan pada fase
sebelumnya
2. Siswa menjelaskan konsep, informasi, pengetahuan yang
mereka peroleh dari kegiatan pada fase sebelumnya dengan
Explanation
menggunakan kata-kata mereka sendiri.
3. Guru memberikan klarifikasi terhadap hasil diskusi siswa.
4. Guru membantu siswa untuk menemukan kembali
informasi yang hilang atau mengganti informasi yang salah
dengan yang baru.
1. Siswa mengaplikasikan konsep, informasi, pengetahuan,
dan keterampilan yang mereka peroleh pada fase
sebelumnya ke dalam situasi atau masalah yang baru yang
Elaboration penyelesaiannya memerlukan penjelasan yang identik atau
mirip.
2. Siswa menerapkan pemahaman konsep mereka dengan
melakukan kegiatan tambahan
1. Guru melakukan umpan balik dengan memanggil kembali
ide-ide, pengetahuan atau keterampilan siswa yang telah
dipelajari. Umpan balik dilakukan untuk mengetahui sejauh
Evaluation
mana pemahaman siswa terhadap topik yang telah mereka
pelajari
2. Guru melakukan evaluasi/penilaian hasil belajar.

Berdasarkan pada sintaks model learning cycle 5E, proses pembelajaran yang

dilakukan bukan lagi sekadar transfer ilmu pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan proses

perolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan siswa secara aktif dalam proses

pembelajaran. Model learning cycle 5E menekankan kepada peran siswa sebagai pusat

pembelajaran dan sebagai knowledge self-making (Budprom et al., 2010). Qarareh (2012)

menyatakan model learning cycle 5E mampu menciptakan sebuah pembelajaran bermakna

yang dapat meningkat-kan prestasi belajar siswa, motivasi belajar siswa, serta membantu

mereka untuk belajar secara aktif. Soomro et al (2010) juga menyatakan model learning cycle

5E efektif digunakan untuk meningkatkan pemahaman dan prestasi belajar siswa, membantu

siswa menikmati sains, mengerti materi, dan mengaplikasikannya dalam situasi ilmiah.
www.mediafunia.com

Menurut Cohen dan Clough (dalam Wibowo et al., 2010) penerapan model learning

cycle memberi keuntungan sebagai berikut:

1) Meningkatkan motivasi belajar karena pebelajar (siswa) dilibatkan secara aktif dalam

proses pembelajaran.

2) Membantu mengembangkan sikap ilmiah pebelajar .

3) Pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Adapun kekurangan penerapan model learning cycle yang harus selalu diantisipasi

adalah sebagai berikut:

1) Efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah

pembelajaran.

2) Menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses

pembelajaran.

3) Memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi.

4) Memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak dalam menyusun rencana dan

melaksanakan pembelajaran.

Ergin (2012) menyatakan bahwa kaitannya dengan pelajaran fisika, model learning

cycle 5E dapat mengakibatkan:

1) Prestasi yang lebih besar dalam fisika.

2) Retensi yang lebih baik dari konsep.

3) Peningkatan sikap terhadap fisika.

4) Peningkatan sikap terhadap belajar fisika.

5) Peningkatan kemampuan penalaran.


www.mediafunia.com

DAFTAR PUSTAKA

Balci, S., Cakiroglus, J., & Tekkayas, C. 2006. Engagement, exploration, explanation,
extension, and evaluation (5E) learning cycle and conceptual change text as learning
tools. Biochemistry and Molecular Biology Education. 34(3). 199-203. Tersedia di
www.sciencedirect.com.
Budprom, W., Suksringam, P., & Singsriwo, A. 2010. Effects of learning environmental
education using 5E-learning cycle with multiple intelligences and teacher’s handbook
approaches on learning achievement, basic science process skills and critical thinking
of grade 9 students. Pakistan Journal of Social Sciences. 7(3). 200-204. Tersedia di
http://docsdrive.com/pdfs.
Bybee, R. W., Taylor, J. A., Gardner, A., Scotter, P. V., Powell, J. C., Westbrook, A., & Landes,
N. 2006. The BSCS 5E instructional model: Origins and effectiveness. Laporan.
Disiapkan untuk Office of Science Education National Institutes of Health. Tersedia
di http://www.bscs.org/sites/ default/files/BSCS_5E_Instructional_Model-
Full_Report.pdf.
Dahar. R. W. 1996. Teori-teori belajar. Jakarta: Erlangga.
Ergin, I. 2012. Constructivist approach based 5E model and usability instructional physics.
Journal Physics Education. 6(1). 14-20. Tersedia di http://www. lajpe.org.
Ergin, I., Kanli, U., & Ünsal, Y. 2008. An example for the effect of 5E model on the academic
success and attitude levels of students’: “Inclined projectile motion”. Journal of
Turkish Science Education. 5(3). 47-59. Tersedia di http://www.tused.org.
Fajaroh, F. & Dasna, I W. 2007. Pembelajaran dengan model siklus belajar (learning cycle).
Artikel. Jurusan Kimia FMIPA UM. Tersedia di
http://lubisgrafura.wordpress.com/2007/09/20/pembelajaran-dengan- model-siklus-
belajar-learning-cycle/.
Hagerman, C. L. 2012. Effects of the 5E learning cycle on student content comprehension and
scientific literacy. A Professional Paper (tidak diterbitkan). Montana State University.
Haribhai, T. S. & Dhirenkumar, G. P. 2012. Effectiveness of constructivist 5 ‘E’ model.
Research Expo International Multidisciplinary Research Journal. 2(2). 76-82.
Tersedia di www. researchjournals.in.
Kazu, I. Y. & Bosu, E. 2012. Turkish vocational school students’ perception of 5E teaching
model. International Journal of Learning and Development. 2(6). 221-237. Tersedia
di www.macrothink.org/ijld.
Liu, T., Peng, H., Wu, W., & Lin, M. 2009. The effects of mobile natural-science learning
based on the 5E learning cycle: A case study. Educational Technology and Society.
12(4). 344-358. Tersedia di https://www.iste.org.
Mabsuthoh, N. 2010. Pengaruh model pembelajaran learning cycle terhadap hasil belajar fisika
pada konsep masa jenis. Skripsi (tidak diterbitkan). Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah.
Qarareh, A. Q. 2012. The effect of using the learning cycle method in teaching science on the
educational achievement of the sixth graders. Journal Education Sciences. 4(2). 123-
132. Tersedia di http://www.krepu blishers.com.
www.mediafunia.com

Ramadhani, N. 2012. Pengaruh model pembelajaran kontruktivis 5E terhadap hasil belajar di


SMA Laksamana Martadinata. Jurnal Pendidikan Fisika. 1(1). 45-50.
Soomro, A. Q., Qaisrani, M. N., & Uqaili, M. A. 2011. Measuring students’ attitudes towards
learning physics: Experimental research. Australian Journal of Basic and Applied
Sciences. 5(11). 2282-2288. Tersedia di http://www.ajbasweb.com/ajbas.
Suastra, I W. 2002. Strategi belajar mengajar sains. Buku ajar (Tidak diterbitkan). Jurusan
Pendidikan Fisika, IKIP Negeri Singaraja.
Suastra, I W. 2009. Pembelajaran sains terkini: Mendekatkan siswa dengan lingkungan
alamiah dan sosial budayanya. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.
Temel, S., Yilmaz, H., & Ozgur, S. D. 2013. Use of the learning cycle model in the teaching
of chemical bonding and an investigation of diverse variables in prediction of
achievement. International Journal of Education and Research. 1(5). 1-14. Tersedia
di www.ijern.com.
Trianto. 2012. Model pembelajaran terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.
Tuna, A. & Kacar, A. 2013. The effect of 5E learning cycle model in teaching trigonometry on
students’ academic achievement and the permanence of their knowledge.
International Journal on New Trends in Education and Their Implications. 4(1). 73-
87. Tersedia di www.ijonte.org.
Utari, S., Alfiani, Feranie, S., Aviyanti, L., Sari, I. M., & Hasanah, L. 2013. Application of
learning cycle 5E model aided cmaptools-based media prototype to improve student
cognitive learning outcomes. Canadian Center of Science and Education. 5(4). 69-76.
Tersedia di www. ccsenet.org/apr.
Wibowo, A., Munir, H., & Waslaludin. 2010. Penerapan model pembelajaran siklus belajar
(learning cycle) 5E dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada matapelajaran
teknologi informasi dan komunikasi. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan).
Universitas Pendidikan Indonesia.