Anda di halaman 1dari 37

Perancangan Teknik Prasarana 2018

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan nikmat
kesehatan yang diberikan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah
mengenai limbah cair sehubungan dengan Mata Kuliah Perancangan Teknik
Prasarana yang diberikan oleh Bapak Ir.Ilham syafey,M.T selaku Dosen
Perancangan Teknik Prasarana Fakultas Teknik Sipil.

Kami sadar bahwa makalah ini masih belum sempurna dan masih banyak
kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kami mohon saran
dan kritik yang membangun dari para pembaca agar makalah ini dapat lebih baik
dari sebelumnya.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat membawa manfaat bagi kita semua.

Makassar, Januari 2018

Penyusun

1
Perancangan Teknik Prasarana 2018

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................ 1

Daftar Isi ........................................................................ 2

BAB I. Pendahuluan ……………………………………………… 3

BAB II. Pembahasan ........................................................................ 4

A. Ekskreta Manusia……........................................................... 4
B. Air Limbah ………………………………………………. 18
C. Limbah Industri……………………………………………... 25

BAB III. Penutup ………………………………………………….. 36

A. Kesimpulan ………………………………………………….. 36
B. Saran ………………………………………………….. 36

Daftar Pustaka ………………………………………………….. 37

2
Perancangan Teknik Prasarana 2018

BAB I

PENDAHULUAN

Limbah cair merupakan salah satu jenis sampah. Adapun sampah (waste) adalah
zat-zat atau benda-benda yang sudah tidak terpakai lagi, baik yang berasal dari
rumah maupun sisa-sisa proses industri.

Secara umum limbah dapat dibagi menjadi :

A. Human excreta (feses dan urine)


B. Sewage (air limbah)
C. Industrial waste (bahan buangan dari sisa proses industri).

3
Perancangan Teknik Prasarana 2018

BAB II
PEMBAHASAN

Limbah cair merupakan salah satu jenis sampah. Adapun sampah (waste) adalah
zat-zat atau benda-benda yang sudah tidak terpakai lagi, baik yang berasal dari
rumah maupun sisa-sisa proses industri.

Secara umum limbah dapat dibagi menjadi :

1) Human excreta (feses dan urine)


2) Sewage (air limbah)
3) Industrial waste (bahan buangan dari sisa proses industri).

A. EKSKRETA MANUSIA

Ekskreta manusia (human excreta yang terdiri atas feses dan urine)
merupakan hasil akhir dari proses yang berlangsung dalam tubuh manusia
yang menyebabkan pemisahan dan pembuangan zat-zat yang tidak
dibutuhkan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dibutuhkan tersebut berbentuk tinja
dan air seni (urine).

Ditinjau dari sudut kesehatan lingkungan, kedua jenis kotoran manusia


tersebut dapat menjadi masalah yang sangat penting. Pembuangan tinja secara
layak merupakan kebutuhan kesehatan yang paling diutamakan. Pembuangan
tinja secara layak merupakan kebutuhan kesehatan yang paling diutamakan.
Pembuangan tinja secara tidak baik dan sembarangan dapat mengakibatkan
kontaminasi pada air, tanah, atau menjadi sumber infeksi, dan akan
mendatangkan bahaya bagi kesehatan, karena penyakit yang tergolong
waterborne disease akan mudah berjangkit.

Ekskreta manusia merupakan sumber infeksi dan juga merupakan salah satu
penyebab terjadinya pencemaran lingkungan. Berbagai cara telah dilakukan

4
Perancangan Teknik Prasarana 2018

untuk mengatasi masalah tersebut agar tidak menjadi ancaman bagi kesehatan
lingkungan.

Di negara berkembang, masih banyak terjadi pembuangan tinja secara


sembarangan akibat tingkat sosial ekonomi yang rendah, pengetahuan di
bidang kesehatan lingkungan yang kurang, dan kebiasaan buruk dalam
pembuangan tinja yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kondisi tersebut
terutama ditemukan pada masyarakat di pedesaan dan di daerah kumuh
perkotaan.

Bahaya terhadap kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat pembuangan


kotoran secara tidak baik adalah pencemaran tanah, pencemaran air,
kontaminasi makanan dan perkembangbiakan lalat. Sementara itu, penyakit-
penyakit yang dapat terjadi akibat keadaan diatas, antara lain tifoid,
paratifoid, disentri, diare, kolera, penyakit cacing, hepatitis viral dan beberapa
penyakit infeksi gastrointestinal lain, serta infeksi parasit lain. Penyakit
tersebut bukan saja menjadi beban pada komunitas (dilihat dari angka
kesakitan, kematian dan harapan hidup), tetapi juga menjadi penghalang bagi
tercapainya kemajuan di bidang sosial dan ekonomi. Pembuangan kotoran
manusia yang baik merupakan hal yang mendasar bagi keserasian
lingkungan.

Kotoran dari manusia yang sakit atau sebagai carrier dari suatu penyakit
dapat menjadi sumber infeksi. Kotoran tersebut mengandung agens penyakit
yang dapat ditularkan pada pejamu baru dengan perantara lalat.

Komposisi tinja manusia terdiri dari atas :

 Zat padat;
 Zat organik;
 Zat anorganik.

Kuantitas tinja ditinjau dari beberapa faktor yaitu :

5
Perancangan Teknik Prasarana 2018

 Keadaan setempat;
 Faktor fisiologi;
 Kebudayaan;
 Kepercayaan.

Dalam sehari, orang Asia rata-rata mengeluarkan 200-400 gram tinja,


sedangkan orang Eropa mengeluarkan 100-150 gram tinja. Menurut
McDonald, di daerah tropis pengeluaran tinja berkisar antara 280-350
gram/orang/hari dan urine berkisar antara 600-1.130 gram/orang/hari.
Perkiraan pengeluaran tinja gram/orang/hari menurut M.B. Gotan dapat dilihat
dalam Tabel.

gram/orang/hari
Tinja 135-270 35-70
Urine 1.000-1.200 50-70
Total 1.135-1.470 85-140

Untuk mengurangi pencemaran karena tinja diperlukan suatu cara pembuangan


tinja yang memenuhi persyaratan sanitasi dan akan memberikan manfaat secara
langsung maupun tidak langsung. Manfaat secara langsung adalah penurunan
insidensi penyakit tifoid abdominalis, kolera, disentri basiler, dan sebagainya.
Adapun manfaat tidak langsungnya adalah peningkatan kondisi kebersihan
lingkungan yang akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga terjadi
penurunan insidensi penyakit yang ditularkan melalui air tercemar atau penyakit
yang penyebabnya memiliki hubungan tidak langsung dengan air tercemar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi transmisi penyakit dari tinja antara lain :

1. Agens penyebab penyakit


2. Reservoir
3. Cara menghindar dari reservoir

6
Perancangan Teknik Prasarana 2018

4. Cara transmisi dari reservoir ke pejamu potensial


5. Cara penularan ke pejamu baru
6. Pejamu yang rentan (sensitif).

Apabila salah satu faktor diatas tidak ada, penyebaran tidak akan terjadi.
Pemutusan rantai penularan juga dapat dilakukan dengan sanitation barrier.

Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi ukuran jarak yang aman antara
lubang kakus dengan sumber air minum :

1. Faktor hidrobiologi
a. Kedalaman air tanah.
b. Arah dan kecepatan aliran tanah.
c. Lapisan tanah yang berbatu dan berpasir memerlukan jarak yang lebih
jauh dibandingkan dengan jarak yang diperlukan untuk daerah yang
lapisan tanahnya terbentuk dari tanah liat.

2. Topografi tanah
Topografi tanah dipengaruhi oleh kondisi permukaan tanah dan sudut
kemiringan tanah.
3. Metereologi
Di daerah yang curah hujannya tinggi, jarak sumur harus lebih jauh dari
kakus.
4. Jenis mikroorganisme
Bakteri patogen lebih tahan pada tanah basa dan lembab. Cacing dapat
bertahan pada tanah yang lembab dan basah selama 5 bulan, sedangkan
pada tanah yang kering hanya dapat bertahan selama 1 bulan.
5. Kebudayaan
Terdapat kebiasaan masyarakat yang membuat sumur tanpa dilengkapi
dengan dinding sumur.
6. Frekuensi pemompaan

7
Perancangan Teknik Prasarana 2018

Akibat makin banyaknya air sumur yang diambil untuk keperluan orang
banyak, laju aliran air tanah menjadi lebih cepat untuk mengisi
kekosongan.
METODE PEMBUANGAN KOTORAN MANUSIA

Metode pembuangan kotoran manusia secara umum dapat dibagi menjadi dua,
unsewered area dan sewered area.

a. Unsewered Areas
Metode unsewered area merupakan suatu cara pembuangan tinja yang
tidak menggunakan saluran air dan tempat pengolahan air kotor. Di dalam
metode ini, terdapat beberapa pilihan cara, antara lain :
1. Service type (conservacy system)
2. Non-service type (sanitary latrines)
a. Bore hole latrine
b. Dug well or pit latrine
c. Water seal type of latrines
1. PRAI type
2. RCA type
d. Septic tank
e. Aqua privy
f. Chemical closet

3. latrines suitable for camps and temporary use

a. Shallow trench latrine


b. Deep trench latrine
c. Pit latrine
d. Bore hole latrine

1. Service Type (Conservancy System)


Metode pengumpulan tinja dari ember-ember khusus oleh manusia disebut
service type dan kakusnya disebut service latrines. Kotoran diangkut ke

8
Perancangan Teknik Prasarana 2018

pembuangan akhir dan dimusnahkan dengan metode composting dan


ditanam dalam lubang yang dangkal. service latrines selain selain tidak
sehat juga dapat menyebabkan pencemaran yang tentunya memfasilitasi
siklus penyakit yang ditularkan melalui feses (faecalborne). Kotoran di
dalam lubang dangkal itu mudah diakses oleh lalat dan kemungkinan
menyebabkan pencemaran pada tanah dan air. Ember dan wadahnya
mudah mengalami korosi dan perlu sering diganti. Operasi pengosomgan
ember tidak selalu memuaskan, disamping adanya kesulitan untuk
mengumpulkan pekerja yang cocok yang diperlukan dalam pengumplan
tinja. Karena kesulitan tersebut, sebaiknya di pergunakan sistem sanitary
latrines di dalam pembuangan kotoran manusia.
2. Non-Service Type of Latrines (Sanitary Latrines)
Di dalam sistem sanitary latrines ini, ada beberapa teknik yang dapat kita
gunakan, antara lain :
1. Bore hole latrine
Bore hole latrine terdiri dari lubang dengan diameter 30-40 cm
yang digali secara vertikal ke dalam tanah dengan kedalaman 4-8
k, paling sering 6 m. Alat khusus yang disebut auger dibutuhkan
untuk menggali lubangnya. Pada tanah yang lunak dan berpasir,
lubang dilapisi dengan bambu untuk mencegah agar tanahnya tidak
runtuh. Plat dengan lubang di tengah dan lubang untuk berpijak
diletakkan di atas lubang hasil pengeboran tersebut. Sistem ini
ditujukan bagi keluarga yang beranggotakan 5-6 jiwa dan dapat
dipakai selama 1 tahun. Cara ini juga sesuai untuk keluarga tetapi
tidak sesuai untuk umum karena kapasitasnya kecil. Jika isinya
sudah mencapai 50 cm dari permukaan tanah, plat dapat diangkat
dan lubang ditutup dengan tanah. Lubang baru dapat dibuat
kembali dengan cara yang sama. Kotoran dalam lubang akan
dipurifikasi oleh bakteri anaerobik yang akan mengubahnya
menjadi massa yang tidak berbahaya.
Keuntungan dari kakus bore hole ini antara lain :

9
Perancangan Teknik Prasarana 2018

 Tidak memerlukan pembersihan setiap hari untuk


memindahkan tinja.
 Lubangnya gelap dan tidak cocok bagi lalat untuk
berkembang biak.
 Bila lokasinya 15 m dari sumber air, tidak akan
menimbulkan pencemaran pada air.

Sistem ini sekarang tidak cocok lagi karena beberapa alasan


berikut :

 Lubang tersebut cepat penuh karena kapasitasnya kecil.


 Alat khusus (auger) yang dibutuhkan untuk membuatnya
tidak selalu tersedia.
 Banyak tempat yang lapisan tanahnya lunak sehingga sulit
menggali lubang lebih dalam dari 3 meter. Selain itu,
banyak juga daerah yang berair dan memiliki lapisan
permukaan yang lebih tinggi sehingga pembangunan sistem
semacam ini justru dapat mencemari permukaan tanah.
2. Dug well latrine
Dug well latrine merupakan pengembangan dari bore hole latrine.
Metode ini dilakukan dengan cara membuat lubang berdiameter
sekitar 75 cm dengan kedalaman 3-3,5 m. Di daerah dengan tanah
berpasir, kedalamannya 1,5-2 m. Lubang dapat dilapisi dengan
bambu untuk mencegah runtuhnya tanah. Setelah plat dipasang di
atas lubang, lubang ditutup dengan super structure (rumah-
rumahan).
Manfaat tipe ini, antara lain :
1) Mudah dibuat dan tidak membutuhkan alat khusus seperti
auger.
2) Bisa digunakan lebih lama karena kapasitasnya lebih besar
yaitu selama 5 tahun untuk 4-5 orang.

10
Perancangan Teknik Prasarana 2018

Bila lubang telah penuh, lubang baru dapat dibuat. Kerja dug well
latrine ini sama dengan bore hole latrine, yaitu secara anaerob
digestion.

3. Water Seal Type of Latrine


Water seal ini dibuat untuk dua fungsi penting, yaitu mencegah
kontak dengan lalat dan mencegah bau busuk. Sistem ini lebih bisa
diterima oleh masyarakat desa daripada sistem bore hole latrine.
Keuntungan kakus jenis ini, antara lain :
 Memenuhi syarat estetika.
 Dapat ditempatkan di dalam rumah karena tidak bau
sehingga pemakaiannya lebih praktis.
 Aman untuk anak-anak.

Adapun persyaratan di dalam penerapan sistem water seal latrine,


antara lain :

i. Lokasinya sekitar 15 m dari sumber air dan sebaiknya


berada pada daerah yang lebih rendah dari sumber air untuk
mencegah kontaminasi bakteri pada sumber air.
ii. Memiliki plat untuk jongkok dibuat dari bahan yang mudah
dicuci, cepat bersih, dan kering. Plat ini terbuat dari
beton/semendengan ukuran 90 x 90 x 5 cm. Ada
kemiringan 0,5 inci pada wadahnya untuk memudahkan
aliran ke dalam kakus.
iii. Memiliki wadah (pan) yang ditujukan untuk menampung
tinja, urine dan air. Panjangnya 42,5 cm, lebar bagian depan
12,5 cm dan bagian yang terlebar adalah 20 cm.
iv. Memilik perangkap (trap) yang terbuat dari pipa dengan
diameter 7,5 cm yang dihubungkan dengan pas di atas dan
menyimpan air yang penting untuk water seal. Water seal
adalah jarak antara titik tertinggi air didalam perangkap dan

11
Perancangan Teknik Prasarana 2018

titik terbawah air ada pada permukaan atas perangkap.


Kedalaman water seal pada RCA latrine adalah 2 cm.
Water seal dapat mencegah bau dan masuknya lalat.
v. Jika lubang yang digali terletak jauh dari plat tempat
jongkok, dapat disiapkan sebuah pipa penghubung antara
keduanya dengan diameter sekitar 7,5 cm dan panjangnya
sekurang-kurangnya1 m serta berujung bengkok. Tipe ini
disebut tipe indirect (tidak langsung). Pada tipe direct
(langsung), pipa penghubung tidak digunakan. Tipe
langsung paling baik pada daerah yang tanahnya keras dan
tidak mudah runtuh. Tipe langsung lebih murah dan mudah
dibuat serta memerlukan ruangan yang kecil. Kelebihan
dari tipe indirect adalah bahwa jika lubang telah penuh,
lubang kedua dapat dibuat hanya dengan mengubah arah
pipa penghubung. Oleh karena itu, tipe indirect lebih
disukai.
vi. Memiliki dug well latrine yang biasanya berdiameter
sekitar 75 cm dengan kedalaman 3-3,5 cm. Pada tanah yang
lembut dan memiliki kandunga air yang tinggi, bamabu
dapat digunakan untuk mencegah runtuhnya tanah.
vii. Memiliki super structure (rumah-rumahan) yang sengaja
dibangun untuk menyediakan kebebasan pribadi dan tempat
berlindung.
viii. Di dalam pemeliharaannya, kakus ini hanya digunakan
untuk kepentingan yang dimaksudkan dan tidak untuk
pembuangan bahan-bahan lain. Platnya harus sering
dibersihkan dan dijaga agar selalu kering dan bersih.
4. Septic Tank
Septic tank merupakan cara yang memuaskan dalam pembuangan
ekskreta untuk sekelompok kecil rumah tangga dan lembaga yang

12
Perancangan Teknik Prasarana 2018

memiliki persediaan air yang mencukupi, tetapi tidak memiliki


hubungan dengan sistem penyaluran limbah masyarakat.
Desain utama dari septic tank antara lain :
1) Kapasitas septic tank bergantung pada jumlah pemakai.
Kapasitas 20-30 galon/orang dinjurkan untuk penggunaan
rumah tangga. Kapasitas untuk rumah tangga itu tidak
berlaku untuk septic tank yang ditujukan untuk kepentingan
umum (kapasitas minimal 50 galon/orang).
2) Ukuran panjang biasanya 2 kali lebar.
3) Kedalaman lubang antara 1,5-2 m.
4) Kedalaman cairan dianjurkan hanya 1,2 m.
5) Ruangan udara minimal 30 cm di antara titik tertinggi
cairan di dalam tank dengan permukaan bawah penutup.
6) Dasar dibuat miring ke arah lubang pengeluaran.
7) Memliki lubang air masuk dan keluar, terdapat pipa masuk
dan keluar.
8) Pelapis septic tank terbuat dari papan yang kuat dengan
tebal yang sama.
9) Periode retensi septic tank dirancang selama 24 jam.
Mekanisme Kerja Septic Tank. Pertama, benda padat yang ada
diuraikan oleh bakteri anaerob dan jamur menjadi senyawa kimia
yang sederhana. Tahap pertama dalam proses purifikasi tersebut
dinamakan anaerobic digestion. Cairan yang keluar melalui pipa
pengeluaran disebut affluent. Cairan tersebut mengandung bakteri,
kista, telur cacing dan bahan-bahan organik dalam bentuk cair
maupun suspensi. Bahan-bahan organik kemudian dioksidasi
menjadi hasil akhir yang stabil seperti nitrat dan air. Tahap tersebut
dinamakan tahap oksidasi anaerobik. Kedua tahapan tersebut
berlansung dalam septic tank. Berikut beberapa hal yang perlu
diperhatikan :

13
Perancangan Teknik Prasarana 2018

 Penggunaan air sabun dan desinfektan seperti fenol


sebaiknya dihindari karena dapat membunuh flora bakteri
di dalam septic tank.
 Penumpukan endapan lumpur mengurangi kapasitas septic
tank sehingga isi septic tank harus dibersihkan minimal
sekali setahun.
 Septic tank baru sebaiknya diisi dahulu dengan air sampai
saluran pengeluaran, kemudian dilapisi dengan lumpur dari
septic tank lain untuk memudahkan proses dekomposisi
oleh bakteri.
5. Aqua Privy (Cubluk Berair)
Fungsi aqua privy sama dengan septic tank dan telah banyak
digunakan di berbagai negara. Kakus ini memiliki bak yang kedap
air. Bentuk tangkinya sirkuler atau rektanguler. Pembuatan kakus
ini dilakukan dengan cara membuat lubang pada tanah dengan
diameter 80-120 cm dan dalam 2,5-8 m. Dindingnya diperkuat
dengan batu atau bata dan dapat ditembok agar tidak mudah
runtuh. Lama pemakaian dapat mencapai 5-15 tahun. Jika tinja
sudah mencapai 50 cm dari permukaan tanah, cubluk dipandang
sudah penuh. Cubluk yang sudah pernuh ditimbun dengan tanah
dan dibiarkan selama 9-12 bulan. Setelah itu, isi cubluk dapat
diambil untuk digunakan sebagai pupuk, sedangkan lubangnya
dapat dipergunakan kembali. Jika cubluk yang satu sudah penuh
dan ditimbun, cubluk yang baru dapat dibuat.

Tinja mengalami proses perifikasi berupa anaerobik digestion yang


akan menghasillkan gas kotor. Dengan demikian perlu dibuat
ventilasi untuk mengeluarkannya. Air yang keluar dari saluran
pengeluaran berbahaya karena mengandung bahan-bahan tinja
berbentuk suspensi yang dapat berisi agens parasit atau infeksi.

14
Perancangan Teknik Prasarana 2018

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan kakus


semacam ini :
 Jangan pernah memasukkan desinfektan ke dalam kakus
karena dapat mengganggu proses pembusukan yang
emngakibatkan cubluk cepat penuh.
 Setiap minggu, kakus sebaiknya diberi minyak tanah untuk
mencegah nyamuk bertelur di dalamnya.
 Agar tidak terlalu bau, kakus dapat diberi kapur barus.
Kakus ini hanya baik dibangun di tempat yang banyak
mengandung air.
6. Chemical Closet
Kloset ini terdiri dari tanki metal yang berisi cairan desinfektan
(kaustik soda) yang juga ditambah dengan bahan penghilang bau.
Tempat duduk diletakkan langsung diatas tanki. Tidak ada yang
boleh dimasukkan ke dalam kloset kecuali kertas toilet. Jika air
dimasukkan ke dalam kloset, cairan kimia yang ada di dalamnya
akan mengalami pengenceran sehingga kloset tidak berfungsi
sebagaimana mestinya. Tinja dapat dicairkan dan disterilisasi
dengan bahan kimia. Setelah beberapa bulan penggunaan kloset
kimia, isi kloset harus dibuang. Chemical closet ini banyak
digunakan dalam sarana transportasi, misalnya kereta api dan
pesawat terbang.
3. Latrines Suitable for Camps and Temporary Use
Kakus ini dipakai untuk kebutuhan sementara (perkemahan dan tempat
pengungsian). Ada beberapa jenis kakus semacam ini, di antaranya :
1) Shallow trench latrine
Kakus ini memiliki lebar 30 cm dan dalam 90-150 cm. Panjangnya
bergantung pada jumlah penggunanya (sekitar 3-3,5 m untuk 100
orang). Saluran yang terpisah harus dibuat untuk laki-laki dan
perempuan. Timbunan tanah harus tersedia di sisi setiap kakus
karena setiap kali menggunakan kakus ini, penggunanya harus

15
Perancangan Teknik Prasarana 2018

menutup sendiri kotorannya dengan tanah. Kakus ini ditujukan


untuk penggunaan dalam waktu singkat. Jika isi saluran sudah
mencapai 30 cm di bawah permukaan tanah, kakus ini harus
ditutup. Jika perlu, dibuat saluran baru lagi.
2) Deep trench latrine
Kakus ini digunakan dalam jangka waktu lebih lama yaitu beberapa
minggu sampai beberapa bulan. Ukuran kedalamannya mencapai
1,8-2,5 m, sedangkan lebarnya 75-90 cm. Penyediaan tempat
berjongkok akan bergantung pada kebiasaan setempat. Kakus ini
dilengkapi dengan rumah kakus untuk privasi dan perlindungan.

b. Sewered Areas
Pada sistem pembuangan limbah cair yang menerapkan water carriage
system atau sewerage system, pengumpulan dan pengangkutan ekskreta
dan air limbah dari rumah, kawasan industri dan perdagangan dilakukan
melalui jaringan pipa dibawah tanah yang disebut sewers ke tempat
pembuangan akhir yang biasanya dibangun di ujung kota. Sistem tersebut
merupakan metode di dalam pengumpulan dan pengangkutan kotoran
manusia dari kota-kota yang berpenduduk padat.
Terdapat 2 tipe sistem sewered areas antara lain :
a) Sistem kombinasi (combined sewer)
Pada sistem kombinasi, sewer membawa air permukaan dan air
limbah dari rumah tangga dan lainnya dalam satu saluran.
b) Sistem terpisah (separated sewer)
Pada sistem sewer terpisah, air permukaan tidak masuk ke dalam
sewer. Sistem terpisah dianjurkan dan dewasa ini menjadi pilihan.
Hambatan di dalam penerapannya adalah mahalnya biaya
pembuatan sistem ini.
Cara pembuangan tinja mempergunakan sistem saluran air (water carriage
system) dan pengolahan limbah (sewage treatment) merupakan

16
Perancangan Teknik Prasarana 2018

perwujudan persyaratan sanitasi yang harus dipenuhi dalam pembuangan


tinja. Persyaratan sanitasi tersebut antara lain :
a) Tinja tidak mengotori permukaan tanah.
b) Tinja tidak mencemari air tanah.
c) Tinja tidak mengotori air permukaan.
d) Kotoran tidak boleh terbuka agar tidak dapat dicapai lalat atau
binatang.
e) Tinja tidak menyebarkan bau busuk dan mengganggu estetika.
f) Penerapan teknologi tepat guna :
 Penggunaan mudah
 Konstruksi murah
 Pemeliharaan mudah

Water Carriage System


Water carriage system memiliki elemen-elemen sebagai berikut :
1. Sistem pipa bangunan (household sanitary fittings)
Sistem ini terdiri atas :
a. water closet
b. urinal
c. wash basin
2. Saluran pipa pembuangan dari rumah (house sewers)
Pembilasan toilet, saluran pembuangan dan air kotor memasuki
saluran rumah melalui intermediate connection yang dikenal
sebagai pipa tanah (soil pipe). Pipa tanah ini menghubungkan
saluran pembuangan dari house fitting ke house drain (saluran
rumah). Pipa itu juga berfungsi sebagai ventilasi luar (outlet
ventilator) untuk gas-gas kotor. House drain biasanya berdiameter
10 cm dan terletak kira-kira 15 cm di bawah tanah. House drain
akan menyebabkan kotoran mengendap sebelum masuk ke dalam
pipa utama.
3. Pipa pembuangan di jalan (street sewer)

17
Perancangan Teknik Prasarana 2018

Pipa utama ini berdiameter tidak kurang dari 22,5 cm sementara


pipa yang lebih besar berdiameter 2-3 meter. Pipa ini diletakkan di
atas semen kira-kira 3 m di bawah tanah. Pipa utama ini menerima
kotoran dari beberapa rumah dan mengangkutnya ke pembuangan
akhir.
4. Peralatan saluran (sewers appurtenance)
Peralatan saluran ini terdiri atas manholes (lubang selokan) dan
trap (perangkap) yang dipasang pada sistem pembuangan air kotor.
Manholes merupakan bangunan yang bermuara ke dalam sewer
system yang diletakkan pada titik pertemuan 2 sewer atau lebih dan
pada jarak 100 m lurus. Lubang ini memungkinkan manusia masuk
ke dalam saluran untuk memriksa, memperbaiki dan
membersihkannya. Pekerja yang memasuki manholes dapat
mengalami keracunan dan sesak nafas.
Trap merupakan alat yang dirancang untuk mencegah masuknya
gas-gas kotor ke dalam rumah dan untuk memisahkan pasir dan
bahan-bahan lain dari saluran. Trap diletakkan dalam 3 situasi
berikut :
a. Di bawah basin (baskom) WC.
b. Di titik masuknya permukaan air limbah ke dalam saluran.
c. Di titik persambungan antara saluran rumah dan saluran umum.
Instalasi pembuangan air kotor ini sangat kompleks dan
membutuhkan pernecanaan, rancangan, konstruksi, operasi dan
administrasi yang membutuhkan keahlian khusus. Namun, sistem
ini dapat melayani satu generasi (30 tahun).

B. AIR LIMBAH
Menurut Ehless dan Steel, air limbah adalah cairan buangan yang berasal
dari rumah tangga, industri dan tempat-tempat umum lainnya dan biasanya
mengandung bahan-bahan atau zat yang dapat membahayakan kehidupan
manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan.

18
Perancangan Teknik Prasarana 2018

1. Sumber Air Limbah


Air limbah dapat berasal dari berbagai sumber, antara lain :
a. Rumah tangga
Contoh : air bekas cucian, air bekas memasak, air bekas mandi, dan
sebagainya.
b. Perkotaan
Contoh : air limbah dari perkantoran, perdagangan, selokan, dan dari
tempat-tempat ibadah.
c. Industri
Contoh : air limbah dari pabrik baja, pabrik tinta, pabrik cat dan pabrik
karet.
Air limbah rumah tangga sebagian besar mengandung bahan organik
sehingga memudahkan di dalam pengolahannya. Sebaliknya, limbah
industri lebih sulit pengolahannya karena mengandung pelarut mineral,
logam berat, dan zat-zat organik yang bersifat toksik.
Volume air limbah yang dihasilkan pada suatu masyarakat dipengaruhi
oleh beberapa faktor, antara lain :
a. Kebiasaan manusia
Makin banyak orang menggunakan air, makin banyak air limbah yang
dihasilkan.
b. Penggunaan sistem pembuangan kombinasi atau terpisah
Pada sistem kombinasi, volume air limbah bervariasi dari 80-100 galon
atau lebih per kapita, sedangkan pada sistem terpisah volume limbah
mencapai rata-rata 25-50 galon per kapita.
c. Waktu
Air limbah tidak mengalir merata sepanjang hari, tetapi bervariasi
bergantung pada waktu dalam sehari dan musim. Di pagi hari, manusia
cenderung menggunakan air yang menyebabkan air limbah semakin
banyak, sedangkan di tengah hari volumenya lebih sedikit, dan di
malam hari agak meningkat lagi.

19
Perancangan Teknik Prasarana 2018

2. Karakteristik Air Limbah


Ada beberapa karakteristik khas yang dimiliki air limbah seperti
berikut ini :
a) Karakter fisik
Air limbah terdiri dari 99,9% air, sedangkan kandungan bahan
padatnya mencapai 0,1 % dalam bentuk suspensi padat (suspended
solid) yang volumenya bervariasi antara 100-500 mg/L. Apabila
volume suspensi padat kurang dari 100 mg/L, air limbah disebut
lemah. Sedangkan bila lebih dari 500 mg/L disebut kuat.
b) Karakter kimia
Air limbah biasanya bercampur dengan zat kimia anorganik yang
berasal dari air bersih dan zat organik dari limbah itu sendiri. Saat
keluar dari sumber, air limbah bersifat basa. Namun, air limbah
yang sudah lama atau membusuk akan bersifat asam karena sudah
mengalami kandungan bahan organiknya telah mengalami proses
dekomposisi yang dapat menimbulkan bau yang tidak sedap.
Komposisi campuran dari zat-zat itu berupa :
 Gabungan dengan nitrogen misalnya urea, protein atau
asam amino.
 Gabungan dengan non-nitrogen misalnya lemak, sabun,
atau karbohidrat.
3. Parameter Air Limbah
Berikut beberapa parameter yang dapat digunakan berkaitan dengan air
limbah :
1) Kandungan zat padat (total solid, suspending solid, disolved solid)
2) Kandungan zat organik
3) Kandungan zat anorganik (mis. P, Pb, Cd, Mg)
4) Kandungan gas (mis. O2, N, CO2)
5) Kandungan bakteri (mis. E. Coli)
6) Kandungan pH
7) Suhu

20
Perancangan Teknik Prasarana 2018

Pengukuran Kadar Oksigen dalam Air Limbah


Berikut beberapa parameter yang digunakan untuk mengukur
kandungan oksigen dalam air limbah.
a. Chemical Oxygen Demand
Chemical Oxygen Demand adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan
untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat di dalam
air secara sempurna.
b. Biochemical Oxygen Demand
Boichemical Oxygen Demand adalah jumlah oksigen yang
dibutuhkan oleh bakteri untuk melakukan proses dekomposisi
aerobik terhadap bahan organik dari larutan, di bawah kondisi suhu
tertentu (umumnya 200 C) dan waktu tertentu (umumnya 5 hari).
Hasil pengukuran BOD dinyatakan dalam mg/L. Kebutuhan BOD
bervariasi antara 100-300 mg/L. Apabila hasil pengukuran
menunjukkan angka lebih dari 300 mg/L, BOD dikatakan kuat,
sedangkan bila kurang dari 100 mg/L disebut lemah.
4. Dampak Pembuangan Air Limbah

Air limbah yang tidak menjalani pengolahan yang benar tentunya


dapat menimbulkan dampak yang tidak di inginkan. Dampak tersebut,
antara lain :

1) Kontaminasi dan pencemaran pada air permukaan dan badan-


badan air yang digunakan oleh manusia.
2) Mengganggu kehidupan dalam air, mematikan hewan dan
tumbuhan air.
3) Menimbulkan bau (sebagai hasil dekomposisi zat anaerogi dan zat
anorganik)
4) Menghasilkan lumpur yang dapat mengakibatkan pendangkalan air
sehingga terjadi penyumbatan yang dapat menimbulkan banjir.
5. Pengelolaan Air Limbah

21
Perancangan Teknik Prasarana 2018

Air limbah sebelum dilepas ke pembuangan akhir harus menjalani


pengolahan dahulu. Untuk dapat melaksanakan pengolahan air limbah
yang efektif diperlukan rencana pengelolaan yang baik. Adapun tujuan
pengelolaan dari air limbah itu sendiri, antara lain :
1) Mencegah pencemaran pada sumber air rumah tangga.
2) Melindungi hewan dan tanaman yang hidup didalam air.
3) Menghindari pencemaran tanah permukaan.
4) Menghilangkan tempat berkembangbiaknya bibit dan vector
penyakit.
Sementara itu, sistem pengelolaan air limbah yang diterapkan harus
memenuhi persyaratan berikut :
1. Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber-sumber air
minum.
2. Tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan.
3. Tidak menimbulkan pencemaran pada flora dan fauna yang hidup
di air didalam penggunaannya sehari-hari.
4. Tidak dihinggapi oleh vector atau serangga yang menyebabkan
penyakit.
5. Tidak terbuka dan harus ditutup.
6. Tidak menimbulkan bau atau aroma tidak sedap.
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengelola air
limbah, di antaranya :
a. Pengenceran ( disposal by dilution)
Air limbah di buang ke sungai, danau atau laut agar mengalami
pengenceran. Dengan cara ini air limbah akan mengalami
purifikasi alami. Namun, cara semacam ini dapat mencemari air
permukaan dengan bakteri pathogen, larva dan telur cacing., serta
bibit penyakit lain yang ada di dalam air limbah itu.
Apabila hanya cara ini yang dapat diterapkan, maka persyaratan
berikut harus dipenuhi :

22
Perancangan Teknik Prasarana 2018

1. Air sungai atau danau tidak boleh digunakan untuk


keperluan lain.
2. Volume air mencukupi sehingga pengenceran berlangsung
kurang dari 30-40 kali.
3. Air harus cukup mengandung oksigen. Dengan kata lain air
harus mengalir ( tidak boleh stagman) agar tidak
menimbulkan bau.
b. Cesspool
Bentuk cesspool ini menyerupai sumur tetapi digunakan untuk
pembuangan air limbah. Dibuat pada tanah yang porous (berpasir)
agar air buangan mudah meresap ke dalam tanah. Bagian atas
ditembok agar tidak tenbus air. Apabila cesspool sudah penuh
(kurang lebih 6 bulan), lumpur didalamnya dapat diisap keluaratau
dari semula dibuat cesspool secara berangkai, sehingga bila yang
satu penuh, air akan mengalir ke cesspool berikutnya. Jarak
cesspool dengan sumur air bersih adalah 45 meter dan minimal 6
meter dari pondasi rumah.
c. Sumur resapan (seepage pit)
Sumur resapan merupakan sumur tempat menampung air limbah
yang telah mengalami pengolahan dalam sistem lain, misalnya dari
aqua privy atau septic tank. Dengan cara ini, air hanya tinggal
mengalami peresapan kedalam tanah. Sumur resapan ini dibuat
pada tanah yang porous, dengan diameter 1-2,5 m dan kedalaman
2.5 m. lama pemakaian dapat mencapai sekitar 6-10 tahun.
d. Septic tank
Septic tank menurut WHO, merupakan metode terbaik untuk
mengelolaq air limbah walu biayanya mahal, rumit dan
memerlukan tanah yang luas.
Septic tank memiliki 4 bagian antara lain :
1) Ruang pembusukan

23
Perancangan Teknik Prasarana 2018

Dalam ruangan ini, air kotor akan tertahan 1-3 hari dan akan
mengalami penguraian oleh bakterti pembusuk yang akan
menghasilkan gas, cairan dan lumpur. Gas dan cairan akan
kedalam dosing camber melalui pipa. Lumpu akan masuk ke
ruang lumpur.
2) Ruang lumpur
Ruang lumpur merupakan tempat penampung lumpur apabila
ruang sudah penuh, lumpur dapat dipmpa keluar.
3) Dosing chamber
Dalam dosing chamber terdapat siphon Mc Donald’s yang
berfungsi untuk mengatur kecepatan air yang akan dialirkan ke
bidang resapan agar merata.
4) Bidang resapan
Bidang ini akan mnyerap cairan keluar dari dosing chamber
dan menyaring bakteri pathogen maupun bibit penyakit lain.
Panjang minimal bidang resapan ini 10 m dan dibuat pada tanah
porous.
e. Sistem Riool (sewage)
Sistem riool menampung semua air kotor dari rumah maupun dari
perusahaan, dan terkadang menampungn kotoran dari lingkungan.
Apabila dipakai untuk menampung air hujan, sisteo riool ini
disebut combined system, sedangkan jika bak penampung air
hujannya dipisahkan maka disebut separated system. Agar tidak
merugikan kepentingan lain, air kotor dialirkan ke ujung kotak,
misalnya ke daerah peternakan, pertanian, atau perikanan darat. Air
kotor itu masih memerlukan pengolahan.
Proses pengolahan yang dilakukan antara lain :
1) Penyaringan (screening)
Penyaringan ditujukan untuk menangkap benda-benda yang
terapung di atas permukaan air.
2) Pengendapan (sedimentation)

24
Perancangan Teknik Prasarana 2018

Pada proses ini air limbah, dialirkan ke dalam bak besar (sand
trap) sehingga aliran menjadi lambat dan lumpur serta pasir
mengendap.
3) Proses biologis
Proses ini menggunakan mikroba untuk memusnahkan zat
organic di dalam limbah baik secara aerob maupun anaerob.
4) Disaring dengan saringan pasir (sand filter)
5) Desinfeksi
Desinfeksi dengan kaporit (10 kg/1 juta liter air limbah) untuk
membunuh mikroba pathogen.
6) Pengenceran
Terakhir, air limbah dibuang ke sungai, danau atau laut
sehingga mengalami pengenceran.
Semua proses pengolahan air limbah ini dilakukan dalam suatu
instalasi khusus yang dibangun di ujung kota.
Cara Lain Pengelolaan Air Limbah

Pengolahan air limbah juga dapat dilakukan dengan cara berikut ini :

1. Dilution (pengenceran)
2. Irrigation
3. Self purification (kolam oksidasi), yang terdiri dari pengendapan,
dekomposisi, recovery, dan clean water.
4. Pengolahan air limbah secara primer dan sekunder.
Pengolahan secara primer terdiri atas :
a. Screen (saringan). Kotoran yang besar disaring.
b. Grit Chamber. Detritus berupa lapisan air, kerikil dan pasir, aliran air
diperlambat dengan grit channel.
c. Primary sedimentation tank. Endapan crudge sludge dialirkan ke
sludge digestion tank dan menghasilkan gas metana.
d. Cairan yang tertinggal dialirkan sebagai primary effluent ke
pengolahan sekunder.

25
Perancangan Teknik Prasarana 2018

Pengolahan sekunder terdiri dari:

a. Cairan yang berasal dari primary treatment dialirkan ke bak biological


treatment kemudian dialirkan ke tangki pengendapan terakhir (final
sedimentation tank). Dari total volume endapan lumpur aktif
(activated sludge) yang dihasilkan, 25%-nya akan digunakan kembali
sehingga dimasukkan lagi ke dalam tangki aerasi, sedangkan yang
75%-nya akan dibuang ke laut, ditimbun rawa-rawa, atau dijadikan
pupuk.
b. Air yang tertinggal cukup jernih sehingga dapat langsung disalurkan
ke badan-badan air setelah mengalami proses klorinasi.
c. Crudge sludge dialrkan ke sludge digestion tank untuk diubah
menjadi gas metana yang akan digunakan untuk menghasilkan tenaga
listrik.
d. Endapan lumpur dalam sludge digestion tank dikeringkan dengan alat
pengering lumpur.

Purifikasi Air Limbah

Tujuan purifikasi air limbah, antara lain :

1. Untuk menstabilkan bahan-bahan organic melalui proses stabilisasi.


Materi akan diurai oleh bakteri menjadi bahan-bahan sederhana yang
tidak akan didekomposisi.
2. Untuk menghasilkan effluent yang bebas dari keadaan patogen.
3. Air dapat digunakan tanpa menimbulkan resiko gangguan kesehatan.

Dekomposisi materi organik di dalam air limbah terjadi melalui proses


aerob dan anaerob, seperti berikut :

a. Proses aerob
Proses aerob merupakan proses yang paling efisien untuk menurunkan
kandungan materi organic di dalam air limbah. Proses ini memerlukan
pasokan oksigen terlarut dalam kontinu. Bahan-bahan organic dipecah

26
Perancangan Teknik Prasarana 2018

menjadi bahan-bahan yang lebih sederhana, seperti karbondioksida,


air, amoniak, nitrit, nitrat, dan sulfat melalui kerja bakteri, jamur dan
protozoa.
b. Proses anaerob
Proses ini sangat efektif untuk air limbah yang mengandung banyak
benda padat. Reaksi dekomposisi anaerob berlangsung lebih lambat
dan sangant kompleks. Produk akhir dari dekomposisi tersebut adalah
metana, ammonia, CO2, dan H2.

Dalam melakukan purifikasi air limbah, terdapat 3 cara berikut yang dapat
dipilih :

1. Modern sewage treatment, terdiri dari :


a. Pengolahan primer, yang meliputi screening, grift chamber, dan
primary sedimentation.
b. Pengolahan sekunder, yang meliputi biological treatment,
secondary sedimentation, dan klorinasi.
2. Traditional sewage treatment (oxidation pond)
3. Land treatment atau sewage farming. Metode ini memanfaatkan
sebidang tanah yang dikelinlingi parit berisi air limbah yang
mengalir secara intermiten. Tanah tersebut ditanami tumbuhan
semacam kentang dan pohon buah-buahan.

Air Limbah Rumah Tangga

Air limbah rumah tangga (sullage) adalah air limbah yang tidak
mengandung ekskreta manusia yang dapat berasal dari buangan kamar
mandi, dapur, air cuci pakaian, dan lain-lain yang mungkin mengandung
mikroorganisme patogen. Volume air limbah rumah tangga bergantung
pada pemakaian air penduduk setempat. Penggunaan air untuk keperluan
sehari-hari mungkin kurang dari 10 liter per orang didaerah yang sumber
airnya berasal dari keran umum, sedangkan di daerah yang sumber airnya
berasal dari sumur pompa atau sambungan rumah sendiri, penggunaan air

27
Perancangan Teknik Prasarana 2018

dapat mencapai 200 liter per orang. Implikasi dan dampak kesehatan
akibat pembuangan air limbah rumah tangga bergantung pada :

1. Teknologi yang dimanfaatkan


2. Volume air limbah
3. Iklim setempat
4. Jenis tanah
5. Kondisi air

Ada 5 cara pembuangan air limbah rumah tangga, yaitu :

1) Pembuangan umum, yaitu melalui tempat penampungan air limbah yang


terletak di halaman.
2) Digunakan untuk menyiram tanaman kebun.
3) Dibuang ke lapangan peresapan.
4) Dialirkan ke saluran terbuka
5) Dialirkan ke saluran tertutup atau selokan.

Setiap cara tersebut memiliki implikasi kesehatan yang berbeda-beda.


Pembuangan melalui tempat-tempat penampungan air limbah di halaman
akan memberikan tempat bagi perkembangbiakkan serangga seperti Culex
pipiens selain menghasilkan lumpur dan kondisi yang tidak saniter karena
dekat dengan sumur air bersih. Halaman juga sering dijadikan arena
bermain anak-anak, bahkan tidak jarang digunakan untuk tempat buang air
besar yang memungkinkan telur cacing untuk tidak cepat matang sehingga
potensi untuk menularkan penyakit tetap besar.

Air limbah yang mengandung mikroorganisme patogen dan berasal dari


pembersihan kamar mandi mungkin dapat menginfeksi anak-anak yang
sedang bermain di halaman. Di daerah yang volume air limbah dan angka
kepadatan rumahnya masih rendah, pembunagan air limbah di luar rumah
dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia.jika kondisi tanah
kurang dapat ditembus air, sementara penggunaan air atau kepadatan

28
Perancangan Teknik Prasarana 2018

rumah tinggi, metode pembuangan air limbah yang memenuhi syarat


mutlak diperlukan.

Penggunaan air limbah dengan cara dimanfaatkan untuk penyiraman


sayur-sayuran di kebun dekat rumah memberikan dampak negatif yang
lebih kecil terhadap kesehatan. Namun, pemanfaatan tersebut jangan
sampai membentuk genangan air karena dapat menjadi tempat
perkembangbiakkan nyamuk.

C. Limbah Industri

Limbah industry (industrial waste) yang berbentuk cair dapat berasal dari
pabrik yang biasanya banyak menggunakan air pada proses produksinya.
Selain itu limbah cair juga dapat berasal dari bahan baku yang
mengandung air sehingga didalam proses pengolahannya, air harus di
buang. Jenis-jenis industri yang menghasilkan limbah cair antara lain,
industri pulp dan rayon, pengolahan crumb rubber, minyak kelapa sawit,
baju dan besi, minyak goreng, kertas, tekstil, kaustik soda, elektor plating,
plywood, tepung tapioka, pengalengan, pencelupan dan pewarna, daging,
dll.

Limbah cair industri mengandung bahan pencemar yang bersifat racun dan
berbahaya yang dikenal dengan sebutan B3 (bahan beracun dan
berbahaya). Bahan ini dirumuskan sebagai bahan yang dalam jumlah
relative sedikit tetapi mempunyai potensi untuk mencemarkan dan
merusak kehidupan dan sumber daya. Apabila ditinjau secara kimia,
bahan-bahan tersebut mengandung 60.000 jenis bahan kimia dari 5 juta
jenis bahan kimia yang sudah dikenal.

Tingkat bahaya keracunan yang disebabkan limbah ini bergantung pada


jenis dan karakteristiknya, baik dalam jangka pendek maupun jangka
panjang. Mengingat sifat, karakteristik dan akibat yang ditimbulkan
limbah di masa sekarang maupun di masa yang akan datang, diperlukan

29
Perancangan Teknik Prasarana 2018

langkah-langkah pencegahan, penanggulangan, dan pengelolaannya secara


efektif.

Air dan pabrik membawa sejumlah padatan dan partikel baik yang larut
maupun mengendap. Bahan ini ada yang kasar dan halus. Kerapkali air
dari pabrik berwarna keruh dan temperaturrnya tinggi.

Air yang mengandung senyawa kimia beracun dan berbahaya mempunyai


sifat tersendiri. Air limbah yang telah tercemar memberikan ciri yang
dapat diidentifikasi secara visual maupun melalui pemeriksaan
laboratorium. Identifikasi secara visual dapat diketahui melalui kekeruhan,
warna air, rasa, bau yang ditimbulkan, dan indikasi lain. Sementara itu,
identifikasi secara laboratorium diatandai dengan terjadinya perubahan
sifat kimia air karena air telah mengandung bahan kimia yang beracun dan
berbahaya dalam konsentrasi yang melebihi batas yang dianjurkan.

Jumlah limbah yang dikeluarkan masing-masing industri bergantung pada


hasil produksi yang dihasilkan beserta jenis produknya. Sebagai gambaran,
industri pulp dan rayon menghasilkan limbah air sebanyak 30 meter kubik
setiap ton pupl yang diproduksi. Contoh lainnya, industri ikan dan
makanan laut menghasilkan limbah air berkisar antara 79-500 meter kubik
per hari, sedankan industri pengolahan crumb rubber menghasilkan antara
100-1000 meter kubik limbah per hari.

Sifat-Sifat Limbah Cair Industri

Berdasarkan persenyawaan yang ditemukan dalam air buangan industri,


sifat limbah cair tersebut dapat dikategorikan berdasarkan karakteristik
fisika, kimia dan karakteristik biologinya. Pengamatan mengenai
karakteristik ini penting untuk menetapkan jenis parameter pencemar yang
terdapat di dalamnya. Sifat kimia dan masing-masing parameter dapat
menunjukkan akibat yang akan ditimbulkan terhadap lingkungan.

Berikut karakteristik yang dimilki limbah cair industri :

30
Perancangan Teknik Prasarana 2018

Karakteristik Fisik

Perubahan yang ditimbulkan parameter fisika dalam limbah cair


industri, antara lain :

a. Padatan

Berasal dari bahan organik maupun anorganik, baik yang larut,


mengendap maupun yang berbentuk suspensi. Pengendapan di
bagian dasar air akan mengakibatkan terjadinya pendangkalan pada
badan dasar penerima, selain menyebabkan tumbuhnya tanaman air
tertentu, seperti enceng gondok, juga berbahaya bagi makhluk
hidup lain dalam air. Banyaknya padatan menunjukkan banyaknya
lumpur yang terkandung dalam air limbah.

b. Kekeruhan

Kekeruhan menunjukkan sifat optis air yang menyebabkan


pembiasan cahaya ke dalam air. Kekeruhan akan membatasi
pencahayaan ke dalam air. Sifat ini terjadi karena adanya bahan
yang terapung maupun yang teruarai seperti bahan organik, jasad
renik, lumpur, tanah liat, dan benda lain yang melayang maupun
terapung. Nilai kekeruhan air dikonversikan ke dalam ukuran SiO2
dalam satuan mg/l. Semakin keruh air, semakin tinggi daya hantar
listrik dan makin tinggi pula kepadatannya.

c. Bau

Bau timbul karena adanya kegiatan mikroorganisme yang


menguraikan zat organik untuk menghasilkan gas tertentu. Bau
juga timbul karena reaksi kimia yang menimbulkan gas. Kuat
lemahnya bau yang ditimbulkan bergantung pada jenis dan
banyaknya gas yang dihasilkan.

d. Temperatur

31
Perancangan Teknik Prasarana 2018

Temperatur air limbah akan memengaruhi badan penerima apabila


terdapat perbedaan suhu yang cukup besar. Temperatur juga dapat
memengaruhi badan penerima apabila terdapat perbedaan suhu
yang cukup besar. Temperatur juga dapat memengaruhi kecepatan
reaksi kimia serta tata kehidupan dalam air. Perubahan suhu
memperlihatkan aktivitas kimia dan biologi pada benda padat dan
gas dalam air. Pada suhu yang tinggi terjadi pembusukan dan
penambahan tingkatan oksidasi zat organik.

e. Daya hantar listrik

Daya hantar listrik merupakan kemampuan air untuk mengalirkan


arus listrik, yang tercermin dari kadar padatan total dalam air dan
suhu pada saat pengukuran. Konduktivitas limbah cair dalam
mengalirkan arus listrik bergantung pada mobilitas ion dan kadar
yang terlarut di dalam limbah tersebut (senyawa organik >
konduktor senyawa organik).

f. Warna

Warna timbul akibat terdapatnya suatu bahan terlarut atau suatu


suspensi dalam air, sehingga bahan pewarna tertentu yang
mengandung logam berat.

1) Karakteristik Kimia
Bahan kimia yang terdapat dalam air akan menentukan sifat baik air
baik dalam tingkat keracunan maupun bahaya yang ditimbulkannya.
Secara umum sifat air dipengaruhi oleh bahan kimia organik dan
anorganik.
a. Bahan kimia organik
 Karbohidrat dan protein
 Minyak dan lemak
 Pestisida

32
Perancangan Teknik Prasarana 2018

 Fenol
 Zat warna dan surfaktan
b. Bahan kimia anorganik
 Klorida
 Fosfor
 Logam berat dan beracun
 Nitrogen
 Sulfur
2) Karakteristik Biologi
 Virus
Pengolahan Limbah Cair Industri
Pengolahan limbah cair industri dapat dibagi menjadi dua, pengolahan menurut
tingkat perlakuan dan pengolahan menurut karakteristiknya.
1. Pengolahan Berdasarkan Tingkat Perlakuan
Menurut tingkatan prosesnya, pengolahan limbah dapat digolongkan
menjadi 5 tingkatan. Namun, tidak berarti bahwa semua tingkatan harus
dilalui karena pilihan tingkatan proses tetap bergantung pada kondisi
limbah yang diketahui dari hasil pemeriksaan laboratorium. Dengan
mengetahui jenis-jenis parameter dalam limbah, dapat ditetapkan jenis
peralatan yang dibutuhkan. Beriktu beberapa tahap pengolahan air limbah.
a) Prapengolahan (pretreatment)
Pada tahap ini, saringan kasar yang tidak mudah berkarat dan
berukuran kurang lebih 30 x 30 cm untuk debit air 100 m2/jam sudah
cukup baik. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, saringan dapat
dipasang secara seri sebanyak dua atau tiga saringan. Ukuran messnya
(besar lubang kawat tikus) dapat dibandingkan dengan kawat kasa
penghalang nyamuk. Saringan tersebut diperiksa setiap hari untuk
mengambil bahan yang terjaring. Contoh bahan-bahan yang terjaring
dapat berupa padatan terapung atau melayang yang ikut bersama air.
Bahan lainnya adalah lapisan minyak dan lemak di atas permukaan air.
b) Pengolahan primer (primary treatment)

33
Perancangan Teknik Prasarana 2018

Pada tahapan ini dilakukan penyaringan terhadap padatan halus atau


zat warna terlarut maupun tersuspensivyang tidak terjaring pada
penyaringan terdahulu. Ada dua metode utama yang dapat dilakukan
yaitu pengolahan secara kimia dan fisika.
Pengolahan secara kimia dilakukan dengan cara mengendapkan bahan
padatan melalui penambahan zat kimia. Reaksi yang terjadi akan
menyebabkan berat jenis bahan padatan menjadi lebih besar daripada
air. Tidak semua reaksi dapat berlaku untuk semua senyawa kimia
(terutama senyawa organik).
Pengolahan secara fisika dilakukan melalui pengendapan maupun
pengapungan yang ditujukan untuk bahan kasar yang terkandung
dalam air limbah. Pengapungan dilakukan dengan memasukkan udara
ke dalam air dan menciptakan gelembung gas sehingga partikel halus
terbawa bersama gelembung ke permukaan air. Sementara itu,
pengendapan (tanpa penambahan bahan kimia) dilakukan dengan
memanfaatkan kolam berukuran tertentu untuk mengendapkan
partikel-partikel dari air yang mengalir di atasnya.
c) Pengolahan sekunder (secondary treatment)
Tahap ini melibatkan proses biologis yang bertujuan untuk
menghilangkan bahan organik melalui proses oksidasi biokimia. Di
dalam proses biologis ini, banyak dipergunakan reaktor lumpur aktif
dan trickling filter.
d) Pengolahan tersier (tertiary treatment)
Pengolahan tersier merupakan tahap pengolahan tingkat lanjut yang
ditujukan terutama untuk menghilangkan senyawa organik maupun
anorganik. Proses pada tingkat lanjut ini dilakukan melalui proses fisik
(filtrasi, destilasi, pengapungan, pembekuan, dan lain-lain), proses
kimia (absorbsi karbon aktif, pengendapan kimia, pertukaran ion,
elektrokimia, oksidasi dan reduksi), dan proses biologi (pembusukan
oleh bakteri dan nitrifikasi alga).
2. Pengolahan Berdasarkan Karakteristik

34
Perancangan Teknik Prasarana 2018

Proses pengolahan berdasarkan karakteristik air limbah dapat dilakukan secara :

Proses fisik, dapat dilakukan melalui :

 Penghancuran
 Perataan air (mis. Mengubah sistem saluran dan membuat kolam)
 Penggumpalan (mis. Menggunakan aluminium sulfat dan terrosulfat)
 Sedimentasi
 Pengapungan
 Filtrasi

Proses kimia, dapat dilakukan melalui :

 Pengendapan dengan bahan kimia


 Pengolahan dengan lagoon atau kolam
 Netralisasi
 Penggumpalan atau koagulasi
 Sedimentasi (misalnya dengan discrete setting, floculant setting, dan zone
setting)
 Oksidasi dan reduksi
 Klorinasi
 Penghilangan klor (biasanya menggunakan karbon aktif atau natrium
sulfat)
 Pembuangan fenol
 Pembuangan sulfur

Proses biologi, dapat dilakukan dengan :

 Kolam oksidasi
 Lumpur aktif (mixed liquid suspended solid, MLSS)

35
Perancangan Teknik Prasarana 2018

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Limbah cair merupakan salah satu jenis sampah. Adapun sampah (waste) adalah
zat-zat atau benda-benda yang sudah tidak terpakai lagi, baik yang berasal dari
rumah maupun sisa-sisa proses industri. Secara umum limbah dapat dibagi
menjadi :

1. Human excreta (feses dan urine)


2. Sewage (air limbah)

3. Industrial waste (bahan buangan dari sisa proses industri).

Dimana di setiap jenis limbah memiliki cara pengolahan yang berbeda-beda.

36
Perancangan Teknik Prasarana 2018

DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/12272974/Makalah-limbah-cair

37