Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN DAN

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


PASIEN DENGAN SECTIO CAESARIA (SC)

I. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. Pengertian
Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan bayi lewat sayatan
pada dinding uterus melalui dinding depan perut (Amin & Ardy 2013).
Sectio caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak
lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus (oxorn & wiliam 2010).
Sectio Caesarea ialah tindakan untuk melahirkan janin dengan
berat badan diatas 500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang
utuh (Gulardi &Wiknjosastro, 2006).
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan
membuka dinding perut dan dinding uterus (Sarwono , 2005).

B. Etiologi
1. Indikasi Ibu
a. Panggul sempit absolute
b. Placenta previa
c. Ruptura uteri mengancam
d. Partus lama
e. Partus tak maju
f. Pre-eklampsia dan Hipertensi.
2. Indikasi Janin
a. Kelainan Letak
1) Letak lintang
Bila terjadi kesempitan panggul, maka sectio caesarea
adalah jalan/cara yang terbaik dalam melahirkan janin dengan
segala letak lintang yang janinnya hidup dan besarnya biasa.
Semua primigravida dengan letak lintang harus ditolong
dengan sectio caesarea walaupun tidak ada perkiraan panggul
sempit. Multipara dengan letak lintang dapat lebih dulu
ditolong dengan cara lain.
2) Letak sunsang
Sectio caesarea disarankan atau dianjurkan pada letak
belakang bila panggul sempit, primigravida, janin besar dan
berharga.

3. Gawat Janin
4. Janin Besar
5. Kontra Indikasi
a. Janin mati
b. Syok, anemia berat
c. Kelainan congenital berat.

C. Patofisiologi
Adanya beberapa kelainan/ hambatan pada proses persalinan yang
menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal/ spontan, misalnya
plasenta previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo
pelvic, rupture uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-
eklamsia, distosia serviks, dan malpresentasi janin. Kondisi tersebut
menyebabkan perlu adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio
Caesarea (SC).
Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan
menyebabkan pasien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan
masalah intoleransi aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan
kelemahan fisik akan menyebabkan pasien tidak mampu melakukan
aktivitas perawatan diri pasien secara mandiri sehingga timbul masalah
defisit perawatan diri.
Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan,
penyembuhan, dan perawatan post operasi akan menimbulkan masalah
ansietas pada pasien. Selain itu, dalam proses pembedahan juga akan
dilakukan tindakan insisi pada dinding abdomen sehingga menyebabkan
terputusnya inkontinuitas jaringan, pembuluh darah, dan saraf - saraf di
sekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang pengeluaran histamin dan
prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri (nyeri akut). Setelah
proses pembedahan berakhir, daerah insisi akan ditutup dan menimbulkan
luka post op, yang bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan
masalah resiko infeksi.

D. Manifestasi Klinis
Persalinan dengan sectio Caesaria, memerlukan perawatan yang
lebih komprehensif yaitu perawatan post operatif dan perawatan
post partum. Manifestasi klinis sectio caesarea menurut Doenges (2001)
antara lain :
1. Nyeri akibat ada luka pembedahan
2. Adanya luka insisi pada bagian abdomen
3. Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus
4. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan yang berlebihan (lokhea
tidak banyak)
5. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800ml
6. Emosi labil/ perubahan emosional dengan mengekspresikan
ketidakmampuan menghadapi situasi baru
7. Biasanya terpasang kateter urinarius
8. Auskultasi bising usus tidak terdengar atau samar
9. Pengaruh anestesi dapat menimbulkan mual dan muntah
10. Status pulmonary bunyi paru jelas dan vesikuler
11. Pada kelahiran secara SC tidak direncanakan maka biasanya kurang
paham prosedur
12. Bonding dan Attachment pada anak yang baru dilahirkan.

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan
dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada
pembedahan.
2. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
3. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
4. Urinalisis / kultur urine
5. Pemeriksaan USG
6. Pemeriksaan elektrolit.

F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Keperawatan
1. Pemberian cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka
pemberian cairan perintavena harus cukup banyak dan mengandung
elektrolit agar tidak terjadi hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada
organ tubuh lainnya. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS 10%,
garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan
tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah
sesuai kebutuhan.
2. Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita
flatus lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan
peroral.Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh
dilakukan pada 6 - 10 jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh.
3. Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
a. Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah
operasi
b. Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur
telentang sedini mungkin setelah sadar
c. Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5
menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu
menghembuskannya.
d. Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi
setengah duduk (semifowler)
e. Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien
dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan
kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca
operasi.
4. Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak
enak pada penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan
perdarahan.Kateter biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi
tergantung jenis operasi dan keadaan penderita.
5. Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah
dan berdarah harus dibuka dan diganti.
6. Perawatan rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah
suhu, tekanan darah, nadi,dan pernafasan.
7. Perawatan payudara
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu
memutuskan tidak menyusui, pemasangan pembalut payudara yang
mengencangkan payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi,
biasanya mengurangi rasa nyeri.

Penatalaksanaan Medis
1. Pemberian obat-obatan
a. Antibiotik
b. Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
 Supositoria : ketopropen sup 2x/24 jam
 Oral : tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
 Injeksi : penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila
perlu.
2. Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat
diberikan caboransia seperti neurobian I vit. C.

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1. Identitas Pasien dan Penanggung Jawab
Meliputi nama, umur, pendidikan, suku bangsa, pekerjaan,
agam, alamat, status perkawinan, ruang rawat, nomor medical record,
diagnosa medik, yang mengirim, cara masuk, alasan masuk, keadaan
umum tanda vital.
2. Keluhan Utama
3. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya bagi klien
multipara
4. Data Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang.
Meliputi keluhan atau yang berhubungan dengan gangguan atau
penyakit dirasakan saat ini dan keluhan yang dirasakan setelah
pasien operasi.
b. Riwayat Kesehatan Dahulu
Meliputi penyakit yang lain yang dapat mempengaruhi penyakit
sekarang, Maksudnya apakah pasien pernah mengalami penyakit
yang sama (Plasenta previa).
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi penyakit yang diderita pasien dan apakah keluarga
pasien ada juga mempunyai riwayat persalinan plasenta previa.
5. Data Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
a. Bernapas
Kaji frekuensi napas, bunyi napas, otot bantu napas, pemberian O2
melalui nasal kanul atau lain sebagainya.
b. Makan & Minum
Abdomen lunak dengan tidak ada distensi (diet ditentukan).
c. Eliminasi
BAK : Kaji kebiasaan BAK sebelum dan sesudah melahirkan
BAB : Pasien biasanya mengalami konstipasi dikarenakan
pengaruh obat bius, ditambah lagi asupan cairan yang kurang
karena puasa.
d. Gerak Aktivitas
Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anestesi spinal
epidural.
e. Istirahat Tidur
Kaji lama dan frekuensi tidur karena adanya perubahan keadaan
dimana rasa nyeri yang masih timbul akibat SC dan adanya bayi.
f. Kebersihan diri
Bantu ibu untuk mandi serta perhatikan luka bekas operasi yang
belum boleh terkena air.
g. Rasa Nyaman
Mengeluh nyeri dari berbagai sumber karena trauma bedah,
distensi kandung kemih , efek - efek anesthesia, nyeri tekan uterus
mungkin ada.
Pemeriksaan fisik
1) Kepala
Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, kadang-kadang
terdapat adanya cloasma gravidarum, dan apakah ada benjolan
2) Leher
Kadang-kadang ditemukan adanya penbesaran kelenjar tioroid,
karena adanya proses menerang yang salah
3) Mata
Terkadang adanya pembengkakan paka kelopak mata, konjungtiva,
dan kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena
proses persalinan yang mengalami perdarahan, sklera kunuing
4) Telinga
Biasanya bentuk telingga simetris atau tidak, bagaimana
kebersihanya, adakah cairan yang keluar dari telinga.
5) Hidung
Adanya polip atau tidak dan kadang-kadang ditemukan pernapasan
cuping hidung
6) Dada
Terdapat adanya pembesaran payudara, adanya hiperpigmentasi
areola mamae dan papila mamae
7) Pada klien nifas abdomen kendor kadang-kadang striae masih terasa
nyeri. Fundus uteri 3 jari dibawa pusat.
8) Genitalia
Pengeluaran darah campur lendir, pengeluaran air ketuban, bila
terdapat pengeluaran mekomium yaitu feses yang dibentuk anak
dalam kandungan menandakan adanya kelainan letak anak.
9) Anus
Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena ruptur
10) Ekstermitas
Pemeriksaan odema untuk mrlihat kelainan-kelainan karena
membesarnya uterus, karenan preeklamsia atau karena penyakit
jantung atau ginjal.
11) Tanda-tanda vital
Apabila terjadi perdarahan pada pos partum tekanan darah turun,
nadi cepat, pernafasan meningkat, suhu tubuh turun.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (pembedahan SC)
2. Risiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / kulit rusak
3. Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot
4. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
tentang penanganan setelah melahirkan
5. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan trauma atau diversi
mekanisme efek-efek hormonal/anastesi
6. Defisit perawatan diri berhubungan dengan efek anestesi, penurunan
kekuatan dan ketahanan, ketidaknyamana fisik.
7. Resiko syok (Hipovolemik)

C. Intervensi
Diagnosa
No Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)
Keperawatan
1. Nyeri akut NOC 1. Lakukan pengkajian nyeri
berhubungan  Pain Level secara komprehensif termasuk
dengan agen  Pain Control lokasi, karakteristik, durasi,
 Comfort Level
injuri fisik frekuensi, kualitas dan faktor
Kriteria Hasil
(pembedahan presipitasi
 Mampu mengontrol nyeri
SC) 2. Observasi raksi nonverbal dari
(tahu penyebab nyeri, mampu
ketidaknyamanan
menggunakan teknik
3. Gunakan teknik komunikasi
nonfarmakologi untuk
terapeutik untuk mengetahui
mengurangi nyeri, mencari
pengalaman nyeri pasien
bantuan)
 Melaporkan bahwa nyeri 4. Evaluasi pengalaman nyeri
berkurang dengan masa lampau

menggunakan manajemen 5. Kontrol lingkungan yang dapat


nyeri mempengaruhi nyeri seperti
 Mampu mengenali nyeri suhu ruangan, pencahayaan
(skala intensitas, frekuen dan dan kebisingan
tanda nyeri) 6. Ajarkan tentang teknik
 Menyatakan rasa nyaman
setelah nyeri berkurang nonfarmakologi
7. Kolaborasi dengan dokter jika
ada keluhan dan tindakan nyeri
tidak berhasil
8. Monitor penerimaan pasien
tentang manajemen nyeri

2. Risiko infeksi NOC 1. Bersihkan lingkungan setelah


berhubungan  Immune Status dipakai pasien lain
2. Pertahankan teknik isolasi
dengan trauma  Knowledge : infection control
 Risk control 3. Batasi pengunjung bila perlu
jaringan / kulit 4. Gunakan sabun antimikrobia
rusak. Kriteria Hasil untuk cuci tangan
5. Cuci tangan setiap sebelum
 Klien bebas dar tanda dan
dan sesudah tindakan
gejala infeksi
 Mendeskripsikan proses keperawatan
6. Gunakan baju, sarung tangan
penularan penyakit, faktor
sebagai pelindung
yang mempengaruhi 7. Monitor tanda dan gejala
penularan serta infeksi sistemik dan local
penatalaksanaannya 8. Intruksikan pasien untuk
 Menunjukkan kemampuan minum antibiotic sesuai resep
untuk mencegah timbulnya
infeksi
 Jumlah leukosit dalam batas
normal
 Menunjukkan prilaku hidup
sehat

3. Konstipasi NOC 1. Monitor tanda dan gejala


berhubungan  Bowel Elimination konstipasi
 Hydration 2. Monitor bising usus
dengan
3. Monitor feses : frekuensi,
penurunan tonus Kriteria Hasil
konsistensi dan volume
otot  Mempertahankan bentuk 4. Konsultasi dengan dokter
feses lunak setiap 1-3 hari tentang penurunan dan
 Bebas dari ketidaknyamanan
peningkatan bising usus
dan konstipasi 5. Identifikasi faktor penyebab
 Mengidentifikasi indicator dan kontribusi konstipasi
6. Dukung intake cairan
untuk mencegah konstipasi 7. Kolaborasi pemberian
 Feses lunak dan berbentuk
laksatif
8. Mendorong meningkatkan
asupan cairan kecuali
dikontraindikasikan

4. Defisiensi NOC 1. Berikan penilaian tentang


pengetahuan:  Knowledge : disease process tingkat pengetahuan pasien
perawatan post  Knowledge : Health Behavior tentang proses penyakit yang
partum Kriteria Hasil spesifik
berhubungan  Pasien dan keluarga 2. Jelaskan patofisiologi dari
dengan menyatakan pemahaman penyakit dan bagaimana hal
kurangnya tentang penyakit, prognosis ini berhubungan dengan
informasi dan program pengobatan anatomi dan fisiologi, dengan
 Pasien dan keluarga mampu
tentang cara yang tepat
melaksanakan prosedur yang
penanganan 3. Gambarkan tanda dan gejala
dijelaskan secara benar
setelah  Pasien dan keluarga mampu yang biasa muncul pada
melahirkan menjelaskan kembali apa penyakit, dengan cara yang

yang dijelaskan perawat/tim tepat

kesehatan lainnya 4. Identifikasi kemungkinan


penyebab, dengan cara yang
tepat
5. Sediakan informasi pada
pasien tentang kondisi,
dengan cara yang tepat
6. Intruksikan pasien mengenai
tanda dan gejala untuk
melaporkan pda pemberi
perawatan kesehatan, dengan
cara yang tepat

5. Gangguan NOC 1. Lakukan penilaian kemih


eliminasi urin  Urinary Elimination yang komprehensif berfokus
berhubungan  Urinary Continuence pada inkontinensia
dengan trauma (misalnya, output urin, pola
Kriteria Hasil
atau diversi berkemih, fungsi kognitif,
 Kandung kemih kosong
mekanisme dan masalah kencing
secara penuh
efek-  Tidak ada residu urine >100- praeksisten)
efekhormonal/a 200 cc 2. Merangsang reflek kandung
nastesi.  Intake cairan dalam rentang kemih dengan menerapkan
normal dingin untuk perut atau air
 Bebas dari ISK
3. Sediakan waktu yan cukup
 Tidak ada spasme bladder
 Balance cairan seimbang untuk mengosongkan
kandung kemih (± 10 menit)
4. Memantau asupan dan
keluaran
5. Memantau tingkat distensi
kandung kemih dengan
palpasi dan perkusi
6. Membantu dengan toilet
secara berkala
7. Menerapkan katerisasi
intermiten, sesuai indikasi

6. Defisit NOC 1. Menentukan jumlah dan jenis


perawatan diri  Activity Intolerance bantuan yang di butuhkan
 Mobility : Physical Impaired 2. Memantau integritas kulit
berhubungan
 Self Care Deficit Hygiene pasien
dengan efek-  Sensori Perception, Auditory 3. Menyediakan lingkungan
efek anastesi, disturbed yang terapeutik
penurunan Kriteria Hasil 4. Memfasilitasi kebutuhan
kekuatan dan  Perawatan diri : aktivitas perawatan diri
5. Memantau pembersihan
ketahanan, kehidupan sehari-hari (ADL)
kuku, menurut kemampuan
ketidaknyamana mampu untuk melakukan
perawatan diri pasien
fisik. aktivitas perawatan fisik dan 6. Memberikan bantuan sampai
pribadi secara mandiri atau pasien sepenuhnya dapat
dengan alat bantu mengasumsikan perawatan
 Mampu mempertahankan
diri
mobilitas yang diperlukan 7. Mendorong orang
untuk kekamar mandi dan tua/keluarga berpartisipasi
menyediakan perlengkapan dalam kebiasaan perawatan
mandi diri pasien
 Membersihkan dan
mengeringkan tubuh
 Mengungkapkan secara
verbal kepuasan tentang
keersihan tubuh
7. Resiko syok NOC 1. Monitor status sirkulasi BP,
(hipovolemik)  Syok prevention warna kulit, suhu kulit,
 Syok management denyut jantung, HR, dan
Kriteria Hasil ritme, nadi perifer, dan kapile
 Nadi dalam batas yang refill
diharapkan 2. Monitor tanda inadekuat
 Irama jantung dalam batas oksigenasi jaringan
yang diharapkan 3. Monitor suhu dan pernapasan
 Frekuensi nafas dalam batas 4. Monitor tanda dan gejala
yang diharapkan asites
 Irama pernapasan dalam batas 5. Monitor tanda awal syok
6. Lihat dan pelihara kepatenan
yang di harapkan
jalan nafas
7. Berika cairan iv dan oral
yang tepat
8. Ajarkan keluarga dan pasien
tanda dan gejala syok
9. Ajarkan keluarga dan pasien
tentang langkah untuk
mengatasi gejala syok

D. Implementasi
Implementasi merupakan pelaksanaan dari rencana tindakan
keperawatan yang telah disusun / ditemukan, yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan pasien secara optimal dapat terlaksana dengan baik dilakukan oleh
pasien itu sendiri ataupun perawat secara mandiri dan juga dapat bekerjasama
dengan anggota tim kesehatan lainnya seperti ahli gizi dan fisioterapis. Perawat
memilih intervensi keperawatan yang akan diberikan kepada pasien. (Patricia
A. Potter 2005)

E. Evaluasi
Evaluasi adalah perbandingan yang sistematik dan terencana berdasar
tujuan yang telah ditetapkan. Dalam evaluasi tujuan tersebut terdapat 3
alternatif yaitu :
a. Tujuan tercapai
Pasien menunjukkan perubahan dengan standart yang telah ditetapkan.
b. Tujuan tercapai sebagian
Pasien menunjukkan perubahan sebagai sebagian sesuai dengan standart
yang telah ditetapkan.
c. Tujuan tidak tercapai
Pasien tidak menunjukkan perubahan dan kemajuan sama sekali.