Anda di halaman 1dari 12

PRANATA

H
U
K
U
M
JURNAL ILMU HUKUM

SYUKRI Kewenangan Negara Dan Kewajiban Subyek Hukum 1-8


HIDAYATULLAH Perdata Dalam Hubungannya Dengan Hukum Pajak

ZAINAB OMPU Analisis Pertimbangan Hukum Pengadilan Militer 9-18


JAINAH Terhadap Anggota Militer Yang Menyalahgunakan
Narkotika Dan Psikotropika (Studi Putusan Pm
Nomor: Put/17-k/pm 1-04/ad/i/2014)

RECCA AYU P e r t a n g g u n g j a w a b a n N e g a r a Te r h a d a p 19-27


HAPSARI Pengingkaran Keadilan Dalam Arbritase
Internasional

NOVIASIH Kewenangan Badan Pengelola Keuangan Daerah 28-43


MUHARAM Dalam Pengendalian Pelaksanaan Anggaran
Pendapatan Dan Belanja Daerah
(Studi Pada Pemerintah Daerah Tulang Bawang)

TAMI RUSLI Analisis Gugatan Wanprestasi Dalam Jual Beli Tanah 44-53
(studi Putusan Nomor: 127/pdt.g/2014/ Pn.tk)

S. ENDANG Fungsi Notaris Pejabat Pembuat Akta Tanah Dalam 54-60


PRASETYAWATI Pelaksanaan Perjanjian Kredit Perbankan

MEITA DJOHAN Hak Asuh Anak Akibat Perceraian 61-68


OE (Studi Perkara Nomor 0679/Pdt.G/2014/PA TnK)

AGUS ISKANDAR Upaya Hukum Dalam Meningkatkan Pendapatan Asli 69-78


Daerah (Studi di Kecamatan Tanjungkarang Pusat).

Jurnal Ilmu Hukum PRANATA HUKUM


Program Studi Magister Ilmu Hukum
Program Pascasarjana, Universitas Bandar Lampung
Volume 11 Nomor 1 Januari 2016
ISSN 1907-560X
Benny Karya Simantar, S.H., M.H.
Rifandi Ritonga, S,H., M.H.
Recca Ayu Hapsari, SH., M.H.
Melisa Safitri, SH., M.H.
HAK ASUH ANAK AKIBAT PERCERAIAN
(Studi Perkara Nomor 0679/Pdt.G/2014/PA TnK)

Meita Djohan OE
Dose n Fakultas Hukum Universitas Bandar Lampung Jl. ZA Pagar Alam No 26 Labuhan Ratu Bandar Lampung

ABSTRACT

Marriage is an attempt to unite different persons from each other. In fact, no one who wants
marriage ended in a divorce. With the breakdown of a marriage will be legal consequences
that follow, one of which is the Custody over children born of the marriage. The problems of
this study, how the custody of children after divorce ?. Juridical approach Normative and
Empirical, type of data is secondary data and primary data. The data collection and Library
Studies Field Studies were then analyzed qualitatively. Results of the study can be argued
that, Custody child is when seen in terms of normative, children who are under 12 years old is
the custody of his mother, but based on the jurisprudence of the Supreme Court of the
Republic of Indonesia Number 110 K / AG / 007 dated 7 December 2007 that in principle
stated that the maintenance of the child, not merely of those most entitled, but to see and put
forward is the best interests of the child. Suggestions deliberation should be done if there is a
dispute on the division of custody of the child but if there is no way out is better to use the
courts.
Keywords: Custody, Children, Divorce

I.PENDAHULUAN dicapai, bahkan sebaliknya kandas ataupun


Perkawinan sangat penting dalam gagal sama sekali di tengah jalan, karena
kehidupan manusia, baik bagi perseorangan tidak tercapainya kata sepakat atau karena
maupun kelompok. Dengan jalan perkawinan olehnya salah satu pihak ataupun perilaku
yang sah, pergaulan antara laki-laki dan kedua belah pihak yang bertentangan dengan
perempuan terjadi secara terhormat sesuai ajaran Agama. (Abdulkadir Muhammad,
kedudukan manusia sebagai makhluk yang 1993:74)
bermartabat. Pergaulan hidup berumah Tujuan perkawinan menurut Pasal 1
tangga dibina dalam suasana tenteram, damai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
dan rasa, kasih sayang antara suami isteri dan tentang Perkawinan adalah untuk membentuk
anak-anak mereka. (Abdulkadir Muhammad, keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan
1993:64) Ketuhanan Yang Maha Esa. Walaupun
Undang-Undang No. 1 tahun 1974 demikian adakalanya terjadi masalah-
tentang Perkawinan (untuk masalah yang dapat menyebabkan
selanjutnya disebut dengan Undang-Undang perkawinan tidak dapat diteruskan sehingga
Perkawinan) bertujuan mengatur pergaulan perkawinan tersebut terpaksa diputuskan
hidup yang sempurna, bahagia dan kekal di dengan perceraian. Percerain dalam istilah
dalam suatu rumah tangga guna terciptanya ilmu fiqh disebut talak atau firqah. Talak
rasa kasih sayang dan saling mencintai. berarti membuka ikatan atau membatalkan
Namun kenyataan sejarah umat manusia perjanjian. Perceraian membawa akibat
yang telah berusia ribuan tahun telah hukum terputusnya perkawinan, apabila
membuktikan bahwa tidak selalu itu dapat dalam perkawinan telah di lahirkan anak

Hak Asuh Anak Akibat Perceraian ...........(Meita Djohan OE) 61


maka perceraian juga membawa akibat Dalam hal ini yang paling penting
hukum terhadap si anak, yaitu orang tua tidak diperhatikan dalam menentukan pemberian
dapat memelihara anak secara bersama-sama anak adalah kepentingan anak itu sendiri.
untuk itu pemeliharaan anak diserahkan Dalam arti akan dilihat siapakah yang lebih
kepada salah satu orang tuanya. mampu menjamin kehidupan anak, baik dari
Peristiwa perceraian adalah hal yang segi materi, pendidikan formal, pendidikan
paling ditakuti oleh anak. Karena mereka akhlak dan kepentingan-kepentingan lainnya.
merasa akan berpisah dengan salah satu Untuk menentukan orang yang paling dapat
orang yang paling disayanginya. Selain itu di percaya untuk memelihara anak, di dalam
juga, tidak sedikit dari perkara perceraian pengadilan biasanya Hakim akan
kemudian timbul masalah baru yaitu mengumpulkan informasi sebanyak-
perebutan hak asuh anak atau hadlanah. banyaknya, informasi ini dapat berasal dari
Kedua orang tua itu merasa yang paling saksi-saksi yang biasanya dihadirkan dalam
berhak untuk mengasuh dan mendidik persidangan.
anaknya sendiri hingga dewasa, tanpa Adapun dalam pembahasan ini
memikirkan kepentingan anak itu sendiri. difokuskan kepada hak asuh pemeliharaan
Dan tanpa disadari hal ini sangat anak akibat keadaan suami istri dalam suatu
berpengaruh besar bagi perkembangan keluarga yang pecah, terjadi perselisihan dan
psikologis anak bahkan sampai pertengkaran yang sangat memuncak, dan
berkepanjangan seperti trauma bahkan tidak dapat didamaikan lagi, yang berakhir
sampai penyimpang perilaku yang buruk. dengan perceraian.3 Akibat yang ditimbulkan
Tidak jarang juga akibat perceraian ini anak apabila terjadi perceraian adalah perselisihan
menjadi terlantar, kurang kasih sayang diantara suami istri mengenai pemeliharaan
karena buruknya pengasuhan salah satu anak. Istri menghendaki agar hak asuh
orang tua yang menjadi pemegang hak untuk diberikan kepadanya karena istri yang
mengasuh anak. Oleh karena perlu kiranya melahirkan, begitupun dengan suami, yang
perhatian yang sangat serius untuk menghendaki hak asuh anak tersebut karena
memutuskan ataupun menetapkan siapa suami yang membiayainya.
pemegang hak asuh anak yang baik bagi si Pasal 41 Undang-Undang Nomor 1
anak tersebut walaupun pada dasarnya Tahun 1974 tentang Perkawinan dengan
menurut Kompilasi Hukum Islam anak yang tegas menyatakan bahwa “akibat putusnya
belum berumur 12 tahun ada pada ibunya. perkawinan karena perceraian baik bapak
Dalam hal terjadi perceraian, telah ada atau ibu tetap berkewajiban memelihara dan
sedikitnya ketentuan yang mengatur tentang mendidik anak-anaknya, semata-mata
hak asuh anak serta tanggung jawab orang berdasarkan kepentingan si anak,” dan
tua terhadap anak-anaknya, yang menjadi selanjutnya terdapat pada Pasal 45
dasar dan acuan bagi hakim dalam menghendaki agar “kedua orang tua wajib
menetapkan putusannya. Ketentuan itu antara memelihara dan mendidik anak-anak mereka
lain terdapat dalam Undang-Undang No. 1 sebaik-baiknya.” Jadi, anak-anak berhak atas
Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Undang kesejahteraan, perawatan, asuhan dan
Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang bimbingan, pendidikan, pelayananan dari
Perlindungan Anak serta Kompilasi Hukum orang tuanya bahkan sampai pada saat anak
Islam. tersebut kawin ataupun sudah mampu berdiri
sendiri.

62 PRANATA HUKUM Volume 11 Nomor 1 Januari 2016


Hak anak yaitu mendapat pengasuhan, asuh-anak). Adapun Pasal 156 mengatur
perlindungan serta pendidikan yang layak, tentang pengasuhan anak ketika ibu
sedangkan kewajiban anak yaitu kandungnya meninggal dunia dengan
menghormati orang tua, serta memberi memberikan urutan yang berhak mengasuh
tunjangan nafkah apabika orang tua tidak anak. Sedangkan dalam Undang-Undang
mampu lagi bekerja di hari tuanya untuk Nomor 3 Tahun 2006 sebagai perubahan atas
menghidupi dirinya. (Abdulkadir Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tidak
Muhammad, 1993:105) memberikan perubahan yang berarti
Kompilasi Hukum Islam menjelaskan mengenai penyelesaian permasalahan
bahwa apabila terjadi perceraian, maka pengasuhan anak. Nampaknya permasalahan
pemeliharaan anak yang belum mumayyis pengasuhan anak seperti sangat sederhana
atau masih dibawah umur 12 tahun adalah dan akan cukup diselesaikan dengan Pasal
hak penuh ibunya. Namun, kenyataanya hal 105 dan 156 KHI. Bahkan dengan adanya
tersebut bertolak belakang dengan data awal putusan Mahkamah Agung RI Nomor
yang diperoleh dari Pengadilan Agama Kota 349K/AG/2006 tanggal 3 Januari 2007
Gorontalo. Dimana berdasarkan Putusan mengenai kasus perceraian antara Tamara
No.139/Pdt.G /2010/PA.Gtlo Tentang Hak Bleszyinski denganTeuku Rafly Pasya di
Asuh Anak Pasca Perceraian yang diperoleh mana salah satu amar putusannya
dari Pengadilan tersebut menyatakan bahwa, menetapkan pengasuhan anak bernama
menetapkan hak asuh anak yang masih Rassya Isslamy Pasya berada dalam
dibawah umur 12 tahun atau belum pengasuhan ayahnya, telah memberikan
mumayyis tersebut kepada ayahnya (suami). corak hukum tersendiri dalam memberikan
Kompilasi Hukum Islam sebagai pertimbangan hukum pengasuhan anak di
hukum materiil bagi lingkungan Peradilan luar dari yang telah ditetapkan pada
Agama maupun Undang-Undang Nomor 3 Kompilasi Hukum Islam. Dan ternyata
Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang- terdapat beberapa permasalahan yang muncul
Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang di luar jangkauan kedua Pasal tersebut. Di
Peradilan Agama belum memberikan antara permasalahan hukum itu peneliti
jawaban secara limitatif terhadap beberapa tertarik untuk meneliti masalah Pengasuhan
permasalahan hukum dalam menetapkan anak ketika orang tuanya bercerai yang
pengasuhan anak ketika kedua orang tuanya disebabkan pihak isteri kembali ke agamanya
bercerai. semula (murtad).
Dalam Kompilasi Hukum Islam
setidaknya ada dua Pasal yang menentukan
pengasuhan anak yaitu Pasal 105 dan 156. II. PEMBAHASAN
Pasal 105 menentukan tentang pengasuhan Pengertian Perceraian
anak pada dua keadaan. Pertama ketika anak Perkawinan tidak selamanya berjalan
masih dalam keadaan belum mumayyiz dengan bahagia dan sesuai dengan keinginan.
(kurang dari 12 tahun) pengasuhan anak Dalam perkawinan, terkadang mengalami
ditetapkan kepada ibunya. Kedua ketika anak hambatan dengan beragam masalah yang tak
tersebut mumayyiz (usia 12 tahun ke atas) jarang berakhir dalam perceraian. Masalah
dapat diberikan hak kepada anak untuk perceraian merupakan masalah yang banyak
memilih diasuh oleh ayah atau ibunya. dipermasalahkan masyarakat jauh sebelum
(https;//ml. scribd. com/doc/48895169/hak- berlakunya Undang-Undang Perkawinan. Hal

Hak Asuh Anak Akibat Perceraian ...........(Meita Djohan OE) 63


tersebut disebabkan karena adanya fenomena anak-anak yang lahir dari perkawinan yang
di dalam masyarakat, suatu perkawinan putus akibat perceraian tersebut.
berakhir akibat perceraian. Menurut ketentuan Pasal 41 Undang-
Perceraian adalah penghapusan atau Undang Nomor 1 Tahun 1974, akibat
putusnya ikatan perkawinan dengan putusan putusnya perkawinan karena percaraian
hakim, dengan didahului oleh adanya ialah;
tuntutan dari salah satu pihak dalam 1. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban
perkawinan. Dalam hukum Islam perceraian untuk memelihara dan mendidik anak-
menurut ahli fiqih disebut sengan talaq anaknya, semata-mata berdasarkan
furqoh, adapun arti talak adalah membuka kepentingan anak.
ikatan membatalkan perjanjian, sedangkan 2. Bapak bertanggung jawab atas semua
furqoh artinya bercerai yaitu lawan dari biaya pemeliharaan dan pendidikan yang
berkumpul. (R. Subekti, 2005: 50). diperlukan anak, bilamana bapak tidak
Putusnya perkawinan karena perceraian mampu untuk memikul tagging jawab
diatur dalam Pasal 39 Undang-Undang tersebut, maka Pengadilan dapat
Perkawinan, Pasal 39 ayat (1) menyebutkan; menentukan bahwa ibu ikut memikul
“ Perceraian hanya dapat dilakukan biaya tersebut.
didepan sidang pengadilan setelah Hak Asuh Anak
pengadilan yang bersangkutan berusaha dan Kuasa asuh adalah kekuasaan orang tua
tidak berhasil mendamaikan kedua belah untuk mengasuh, mendidik, memelihara,
pihak.” membina, melindungi dan menumbuh
Akibat Hukum Perceraian kembangkan anak sesuai dengan agama yang
Mengenai akibat dari perceraian terbagi dianutnya dan kemampuan bakat dan
menjadi dua hal, yaitu: minatnya berdasarkan ketentuan Pasal 1
a. Akibat perceraian pada istri dan harta angka (11) Undang-Undang Nomor 23
kekayaan saat dibukukan dalam surat Tahun 2002 Tentang Perlindungan anak.
putusan perceraian dalam register catatan Menurut ketentuan Pasal 49 Undang-
sipil, maka bubarlah perkawinan. Dengan Undang Nomor 1 Tahun 1974, salah seorang
demikian hak dan kewajiban yang atau kedua orang tua dapat dicabut
bersumber pada perkawinan tidak ada kekuasaannya terhadap seseorang anak atau
lagi. lebih untuk waktu tertentu atas permintaan
b. Bagi anak-anak yang belum dewasa, orang tua lain, keluarga anak dalam garis
perwalian bagi anak-anak yang orang lurus ke atas dan dari saudara kandung yang
tuanya bercerai, maka anak tersebut tidak telah dewasa atau pejabat yang berwenang,
diurus oleh salah satu orang tuanya, oleh dalam keputusan pengadilan dalam hal-hal:
karena itu akan ditunjuk wali bagi anak- 1. Ia sangat melalaikan kewajiban terhadap
anak mereka dan harus sesuai dengan anaknya.
ketentuan yang ditetapkan oleh Undang- 2. Ia berkelakuan buruk sekali
Undang. Hakim akan memetapkan salah 3. Meskipun orang tua dicabut
satu dari orang tua anak tersebut untuk kekuasaannya, mereka masih tetap
menjadi wali anak. berkewajiban untuk memberi biaya
Peristiwa perceraian yanag terjadi pemeliharaan kepada anak tersebut.
memiliki akibat hukum, khususnya terhadap

64 PRANATA HUKUM Volume 11 Nomor 1 Januari 2016


Ketentuan Pasal tersebut ternyata Kompilasi Hukum Islam menjelaskan
masih memberikan kewajiban kepada orang bahwa apabila terjadi perceraian, maka
tua yang telah diputus kuasa hak asuhnya. pemeliharaan anak yang belum mumayyis
Adapun yang dapat dinyatakan tidak atau masih dibawah umur 12 tahun adalah
berhak untuk dapat mengasuh anaknya hak penuh ibu. Pemeliharaan anak yang
sebagai berikut: sudah mumayyiz diserahkan kepada anak
a. Orang tua pemabuk dan tidak bertanggung untuk memilih diantara ayah atau ibunya
jawab sebagai pemegang hak pemeliharaannya.
b. Orang tua yang hilang ingatan Namun, kenyataannya data diperoleh
c. Menelantarkan anak-anaknya dari Pengadilan Agama Kelas 1A Tanjung
d. Akibat putusan pengadilan yang telah Karang. Dimana berdasarkan Putusan
mempunyai kekuatan hukum mengikat Nomor 0679/Pdt.G/2014/PA TnK. Tentang
Untuk dapat menyelesaikan sengketa Hak Asuh Anak Pasca Perceraian yang
siapa yang berhak mengasuh anak akibat diperoleh dari pengadilan tersebut
perceraian dapat dilakukan dengan cara menyatakan bahwa, menetapkan hak asuh
musyawarah atau kekeluargaan namun anak yang masih dibawah umur 12 tahun
apabila tidak tercapai maka akan diselesaikan atau mumayyis tersebut kepada ayahnya
melalui jalur pengadilan untuk menentukan (suami).
siapa yang berhak mendapatkan hak asuh. Hak asuh anak dibawah umur jatuh di
(Djunaidi Hasan, 1990: 49) pihak suami pada saat terjadi perceraian
Hak Asuh Anak Setelah Perceraian Dalam merupakan tafsiran dan analisis majelis
Perkara Nomor 0679/Pdt.G /2014/PA Tnk. hakim terhadap makna Pasal 156 huruf (c)
Pada dasarnya tanggung jawab orang Kompilasi Hukum Islam :
tua terhadap hak asuh anak tidak terputus Apabila pemegang hadhanah ternyata
akibat perceraian, maka yang terpenting tidak dapat menjamin keselamatan jasmani
adalah hubungan antara anak dengan orang dah rohani anak, meskipun biaya nafkah dan
tua untuk dapat memberikan perlindungan hadhanah telah dicukupi, maka atas
masih terus berjalan dan dijamin oleh permintaan kerabat atau yang bersangkutan
Undang-Undang. Tanggung jawab Pengadilan Agama dapat memindahkan hak
pemeliharaan anak menjadi beban orang hadhanah kepada kerabat lain yang
tuanya, baik orang tuanya masih hidup rukun mempunyai hak hadhanah pula.
atau ketika perkawinan mereka gagal karena Jika Pasal 156 huruf (c) diartikan
perceraian. secara sempit, maka Pasal tersebut berlaku
Tidak sedikit dari perkara perceraian setelah ditetapkannya hak asuh anak
kemudian timbul masalah baru yaitu (hadhanah) sebagai akibat perceraian.Namun
perebutan hak asuh anak atau hadhanah. jika diartikan secara luas, maka hakim
Tanpa disadari hal ini sangat berpengaruh Pengadilan agama dapat melakukan
besar bagi perkembangan psikologis anak terobosan hukum berdasarkan fakta-fakta
bahkan sampai berkepanjangan seperti (keterangan saksi dan bukti surat) dalam
trauma. Tidak jarang juga akibat perceraian proses sidang perceraian.
ini anak menjadi terlantar, kurang kasih Pihak suami yang ingin mendapatkan
sayang karena buruknya pengasuhan salah hadhanah anak dibawah umur harus dapat
satu orang tua yang menjadi pemegang hak membuktikan di persidangan perceraian
untuk mengasuh. bahwa pihak istri tidak dapat menjamin

Hak Asuh Anak Akibat Perceraian ...........(Meita Djohan OE) 65


keselamatan jasmani dan rohani anak, misal Hakim mempertimbangkan putusannya
istri/ibu menderita penyakit jiwa atau berdasarkan fakta-fakta dan bukti-bukti yang
mempunyai sifat dan tingkah laku yang terungkap dipersidangan mengenai baik
buruk (pemarah, suka memukul anak, buruknya pola pengasuhan orang tua kepada
pemabuk, penjudi, dan lain-lain). anak termasuk dalam hal ini perilaku dari
Berdasarkan bukti-bukti yang diajukan orang tua tersebut serta hal-hal terkait
pihak suami dan keyakinan dalam diri hakim, kepentingan anak baik secara psikologis,
maka hakim Pengadilan Agama memutuskan materi maupun non materi.
hadhanah anak di bawah umur jatuh kepada Hakim juga mempertimbangkan
pihak suami. tentang konsepsi perlindungan anak,
Berdasarkan hasil wawancara yang mengingat pengertian dari hak asuh anak itu
dilakukan oleh penulis dengan Bapak sendiri adalah hak anak mendapatkan
Muhammad Nuh selaku hakim Pengadilan perlindungan dan pemeliharaan dari orang
Agama Kelas IA Tanjung Karang, dalam tuanya.
kasus yang terdapat pada Putusan Nomor Syarat-syarat hadhonah ada 7(tujuh)
0679/Pdt. G/2014/PA TnK. Pertimbang an yaitu:
hakim dalam penyelesaian sengketa hak asuh 1. Berakal sehat (waras)
anak adalah jika dilihat dari segi normatif, 2. Merdeka
anak yang masih dibawah umur 12 tahun 3. Beragama Islam
adalah hak asuh pada ibunya, namun 4. ‘Iffah
berdasarkan Yurisprudensi Mahkamah 5. Dapat dipercaya
Agung Republik Indonesia Nomor 110 6. Bertempat tinggal tetap/satu tempat
K/AG/007 tanggal 7 Desember 2007 yang kediaman dengan anak yang diasuh.
pada pokoknya menyatakan bahwa mengenai 7. Tidak bersuami.
pemeliharaan anak, bukan semata-mata dari Apabila salah satu syarat tidak
siapa yang paling berhak, akan tetapi yang terpenuhi, maka gugurlah hak hadhonah itu.
harus dilihat dan dikedepankan adalah Seperti dalam kasus diatas tersebut, si ibu
kepentingan yang terbaik bagi anak. Pada telah menikah lagi dan melanggar salahsatu
saat anak dalam asuhan ibunya, anak kurang syarat hadhonahnya.
mendapat perhatian kemudian prestasi pada Pasal 5 Undang-Undang Nomor 48
anak menurun karena si ibu telah menikah Tahun 2009 yang mewajibkan hakim untuk
lagi dengan orang lain, jadi dia lebih menggali, mengikuti dan memahami nilai-
mementingkan suaminya yang baru. Hal ini nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup
berdampak negatif pada anak yang dalam masyarakat. Oleh karena sistem
diasuhnya, maka dari itu Majelis berpendapat hukum di Indonesia berada pada dua kutub
karena kepentingan anak harus didahulukan yang berbeda, maka perlu dipertanyakan
dan harus member kan yang terbaik untuk bagaimana bila hakim dihadapkan pada
anaknya, dan si ibu telah menikah lagi dan situasi terjadi daya tarik yang berbeda antara
melanggar salahsatu syarat hadhonah, kami peraturan undang-undang dengan nilai-nilai
berikan hak asuh kepada ayahnya yang lebih yang hidup di masyarakat ataupun dengan
mempunyai banyak waktu, perhatian dan yurisprudensi? Dalam hal ini perlu dicermati
dapat menjamin keselamatan jasmani kaidah dalam sistem common law,
maupun rohani. ketika terjadi perbedaan antara yurisprudensi
dengan peraturan perundang-undangan maka

66 PRANATA HUKUM Volume 11 Nomor 1 Januari 2016


undang-undang akan menyingkirkan BW akan menjadi sama nilainya seperti
yurisprudensi. Akan tetapi dimungkinkan undang-undangan (pacta suntservanda).
pula seorang hakim dapat menyimpangi Tampaknya akan lebih dekat kepada keadilan
ketentuan peraturan perundang-undangan tindakan hakim yang menyelesaikan
atau dikenal dengan contra legem dengan sengketa pengasuhan anak (yang mempunyai
catatan harus mencukupkan pertimbangan 2 anak atau lebih) dengan memberikan hak
hukumnya secara jelas dan tajam dengan langsung (tanpa harus ada kesepakatan para
mempertimbangkan berbagai aspek pihak) kepada si ayah untuk mengasuh salah
kehidupan hukum. seorang anaknya, meskipun menyimpangi
Pandangan di atas akan sedikit ketentuan Pasal 105 KHI. Pada gilirannya
membantu terhadap permasalahan yang sikap hakim ini akan dirasakan sebagai suatu
kedua mengenai adanya kemungkinan keadilan bagi si ayah yang sama-sama
beberapa penyimpangan terhadap ketentuan mempunyai andil untuk menghasilkan
normatif tentang sengketa pengasuhan anak. keturunan (sesuai pendapat Soedjono
Yang pertama adalah pengasuhan anak yang keadilan merupakan suatu penghargaan
didasarkan atas pembagian yang sama. individu). Sebaliknya amatlah tidak adil
Kemungkinan ini terjadi ketika pasangan ketika pasangan suami isteri yang bercerai
suami isteri yang bercerai mempunyai dua dan mempunyai dua orang anak atau lebih
orang anak atau lebih. Bila hal ini terjadi, (masih dibawah umur), kemudian
maka pendekatan yang dilakukan bukan pengasuhan kedua anak tersebut ditetapkan
hanya sekedar pendekatan normatif yang kepada ibunya.
menentukan pengasuhan anak berdasarkan Permasalahan hukum yang kedua
faktor usia (Pasal 105 KHI), tetapi harus pula adalah peninjauan ulang terhadap ketentuan
dipertimbangkan tentang kewenangan dan usia yang dapat memilih dalam pengasuhan
keinginan kedua belah pihak (pasangan antara ibu atau ayahnya. Penentuan usia 12
suami isteri yang bercerai) untuk mengasuh tahun pada Pasal 105 Kompilasi hukum
anaknya. Pandangan legisme yang Islam merupakan penentuan secara ijma yang
memberikan corak silogisme hukum dilakukan oleh para ulama di Indonesia
(juridische sylogisme), suatu deduksi logis (communis oppinium doctoral). Sebagai
dari suatu perumusan yang luas akan perbandingan dalam fiqh klasik membagi
memberlakukan ketentuan pasal 105 KHI antara pengasuhan anak perempuan dan anak
dengan menetapkan langsung kedua anak laki-laki. Dalam pengasuhan anak laki-laki
tersebut berada dalam pengasuhan ibunya. menurut Imam Abu Hanifah seorang anak
Dalam keadaan ini, seorang ayah jangan dapat memilih untuk diasuh oleh ibu atau
sekali-kali mengharapkan akan dapat bapaknya manakala ia berusia 7 tahun,
mengasuh anaknya karena hukum telah sedangkan menurut Imam Malik ibunya lebih
menentukan demikian. berhak mengasuhnya sampai anak itu
Selama ini penyimpangan terhadap ompong (tanggal gigi). Sedangkan dalam
ketentuan Pasal 105 KHI hanya pengasuhan anak perempuan. Menurut Imam
dimungkinkan manakala pihak suami dan Syafi‟i agar dilakukan pilihan oleh anak
isteri bersepakat untuk membagi kewenangan tersebut yang menurut Imam Abu Hanifah, si
dalam mengasuh anak. Kesepakatan ini ibu lebih berhak mengurus hingga anak
merupakan bagian dari kebebasan berkontrak baligh. Imam Ahmad bin Hanbal seorang ibu
(contractvrijheid) sesuai dengan Pasal 1338 lebih berhak mengasuh anaknya hingga anak

Hak Asuh Anak Akibat Perceraian ...........(Meita Djohan OE) 67


tersebut berusia 9 tahun. Penentuan umur C. Sumber Lain
menurut Imam Malik tidak secara limitatif https;//ml.scribd.com/doc/48895169/hak-
tapi ditentukan dengan keadaan ketika si asuh-anak, di akses tanggal 20/2/2015
anak tanggal giginya, atau sekitar usia 6
hingga 8 tahun.
III.PENUTUP
Hak asuh anak adalah jika dilihat dari
segi normatif, anak yang masih dibawah
umur 12 tahun adalah hak asuh pada ibunya,
namun berdasarkan Yurisprudensi
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Nomor 110 K/AG/007 tanggal 7 Desember
2007 yang pada pokoknya menyatakan
bahwa mengenai pemeliharaan anak, bukan
semata-mata dari siapa yang paling berhak,
akan tetapi yang harus dilihat dan
dikedepankan adalah kepentingan yang
terbaik bagi anak.
Saran yang dapat dikemukakan,
sebaiknya dilakukan musyarawah bila terjadi
perselisihan terhadap pembagian hak asuh
anak sebaiknya antara mantan suami dan
mantan istri sehingga tidak berdampak buruk
terhadap anak untuk masa depannya, tetapi
jika tidak ada jalan keluar lebih baik
menggunakan jalur pengadilan agar
semuanya mendapatkan keputusan yang adil
dan tetap.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata
Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandar Lampung, 1993.
R. Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata,
Intersama, Jakarta, 2005.
Djunaidi Hasan, Hukum Keluarga Setelah
Berlakunya Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974, Sinar Grafika, Jakarta,
1990.
B. Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
Tentang Perkawinan
Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002
Tentang Perlindungan Anak.
Kompilasi Hukum Islam.

68 PRANATA HUKUM Volume 11 Nomor 1 Januari 2016


Jurnal PRANATA HUHUM dimaksudkan sebagai
media komunikasi, edukasi dan informasi ilmiah bidang ilmu
hukum. Sajian dan kemasan diupayakan komunikatif melalui
bahasa ilmiah.

Redaksi mengundang semua elemen masyarakat, baik


civitas akademika, praktis lembaga masyarakat,
maupun perorangan yang berminat terhadap bidang
hukum untuk berpartisipasi mengembangkan gagasan,
wawasan dan pengetahuan melalui tulisan untuk dimuat
dalam jurnal ini.

Melalui PRANATA HUKUM diharapkan tejadi proses


pembangunan dan pengembangan bidang hukum
sebagai bagian penting dari rangkaian panjang
proses memajukan masyarakat bangsa.

Alamat Redaksi
PRANATA HUKUM
Kampus B Universitas Bandar Lampung
Jl.zainal Abidin Pagar Alam No.86 Gedongmeneng
Bandar Lampung
Telp: 0721-789825 Fax : 0721-770261
Email: pranatahukum@yahoo.com dan
tami_rusli@yahoo.co.id

ISSN 1907-560X