Anda di halaman 1dari 61

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Obat-obat analgesik antipiretik serta obat anti-inflamasi nonsteroid (AINS)
merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat
berbeda secara kimia. Walaupun demikian obat-obat ini ternyata memiliki banyak
persamaan dalam efek terapi maupun efek samping. Protip obat gologan ini adalah
aspirin, karena itu obat golongan ini sering disebut juga sebagai obat mirip aspirin
Sifat dasar obat antiinflamasi non-steroid. Golongan obat ini menghambat enzim
siklooksigenase sehingga konversi asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu. Setiap
obat menghambat siklooksigenase dengan cara yang berbeda. Khusus parasetamol,
hambatan biosintesis PG hanya terjadi bila lingkungannya rendah kadar peroksid
seperti di hipotalamus. Lokasi inflamasi biasanya mengandung banyak peroksid
yang dihasilkan oleh leukosit. Ini menjelaskan mengapa efek antiinflamasi
parasetamol praktis tidak ada.
Obat merupakan bahan kimia yang memungkinkan terjadinya interaksi bila
tercampur dengan bahan kimia lain baik yang berupa makanan, minuman ataupun
obat-obatan. Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat
dengan bahan-bahan lain tersebut termasuk obat tradisional dan senyawa kimia lain.
Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat sekaligus dalam
satu periode (polifarmasi ) digunakan bersama-sama. Interaksi obat berarti saling
pengaruh antarobat sehingga terjadi perubahan efek. Di dalam tubuh obat mengalami
berbagai macam proses hingga akhirnya obat di keluarkan lagi dari tubuh. Proses-
proses tersebut meliputi, absorpsi, distribusi, metabolisme (biotransformasi), dan
eliminasi. Dalam proses tersebut, bila berbagai macam obat diberikan secara
bersamaan dapat menimbulkan suatu interaksi. Selain itu, obat juga dapat
berinteraksi dengan zat makanan yang dikonsumsi bersamaan dengan obat.
Analgesik ialah istilah yang digunakan untuk mewakili sekelompok obat yang
digunakan sebagai penahan sakit. Obat analgesik termasuk obat antiradang non-
steroid (NSAID). NSAID seperti aspirin, naproksen, dan ibuprofen bukan saja
melegakan sakit, malah obat ini juga bisa mengurangi demam dan kepanasan.
Analgesik bersifat narkotik seperti opoid dan opidium bisa menekan sistem saraf
utama dan mengubah persepsi terhadap kesakitan (noisepsi). Obat jenis ini lebih
berkesan mengurangi rasa sakit dibandingkan NSAID.
Analgesik seringkali digunakan secara gabungan serentak, misalnya bersama
parasetamol dan kodeinpseudoefedrin untuk obat sinus, atau obat antihistamin untuk
alergi. dijumpai di dalam obat penahan sakit (tanpa resep). Gabungan obat ini juga
turut dijumpai bersama obat pemvasocerut.
Analgesik adalah obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran. Antipiretik adalah obat yang menurunkan suhu tubuh
yang tinggi. Jadi analgesik-antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan
serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi.
Nyeri adalah perasaan sensoris dan lemah emosional yang tidak enak dan berkaitan
dengan ancaman (kerusakan) jaringan. Keadaan psikis sangat mempengaruhi nyeri,
misalnya emosi dapat menimbulkan sakit kepala atau memperhebatnya, tetapi dapat
pula menghindarkan sensasi rangsangan nyeri. Nyeri merupakan suatu perasaan
pribadi dan ambang toleransi nyeri berbeda-beda bagi setiap orang. Batas nyeri
untuk suhu adalah konstan, yakni 44-45°C.
Mediator nyeri antara lain mengakibatkan reaksi radang dan kejang-kejang yang
mengaktivasi reseptor nyeri di ujung-ujung saraf bebas di kulit, mukosa, dan jarigan
lainnya. Nociceptor ini terdapat diseluruh jaringan dan organ tubuh, kecuali di
system saraf pusat. Dari sini rangsangan disalurkan ke otak melalui jaringan yang
hebat dari tajuk-tajuk neuron dengan sinaps yang amat banyak melalui sum-sum
tulang belakang, sum-sum tulang lanjutan dan otak tengah. Dari thalamus impuls
diteruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls dirasakan sebagai nyeri.

Rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala, fungsinya memberi tanda tentang adanya
gangguan-gangguan di tubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau kejang otot.
Rasa nyeri disebabkan rangsang mekanis atau kimiawi, kalor atau listrik, yang dapat
menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat yang disebut mediator nyeri
(pengantara). Zat ini merangsang reseptor nyeri yang letaknya pada ujung syaraf
bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Dari tempat ini rangang dialaihkan
melalui syaraf sensoris ke susunan syaraf pusat (SSP), melalui sumsum tulang
belakang ke talamus (optikus) kemudian ke pusat nyeri dalam otak besar, dimana
rangsang terasa sebagai nyeri.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apakah definisi dari analgesik, antipiretik ?
2. Bagaimana cara kerja dari analgesik, antipiretik ?
3. Apa sajakah macam-macam dari analgesik, antipiretik ?
4. Apakah kegunaan dari obat analgesik, antipiretik ?
5. Apa sajakah contoh dari masing-masing obat analgesik, antipiretik ?
1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi dari analgesik, antipiretik.
2. Untuk mengetahui cara kerja dari analgesik, antipiretik
3. Untuk mengetahui macam-macam dari analgesik.
4. Untuk mengetahui kegunaan dari obat analgesik, antipiretik. Untuk
mengetahui gangguan atau kelainan pada tulang.
5. Untuk mengetahui contoh obat dari masing-masing obat analgesik,
antipiretik, maupun antiinflamasi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. DEFINISI ANALGESIK, ANTIPIRETIK, DAN ANTIINFLAMASI
2.1.1 Analgesik
Analgesik adalah obat yang mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran.
2.1.2 Antipiretik
Antipiretik adalah obat yang menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Jadi analgetik-
antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu
tubuh yang tinggi.
2.1.3 Antiinflamasi
Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap luka jaringan yang
disebabkan oleh trauma fisik, zat kimia yang merusak, atau zat-zat mikrobiologik.
Inflamasi adalah usaha tubuh untuk mengaktifasi atau merusak organisme yang
menyerang, menghilangkan zat iritan, dan mengatur derajat perbaikan jaringan. Jika
penyembuhan lengkap, proses peradangan biasanya reda. Namun kadang-kadang
inflamasi tidak bisa dicetuskan oleh suatu zat yang tidak berbahaya seperti tepung
sari, atau oleh suatu respon imun, seperti asma atau artritisrematid.
Antiinflamasi adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan peradangan

2.2 CARA KERJA DARI ANALGESIK, ANTIPIRETIK, DAN


ANTIINFLAMASI
Umumnya cara kerja analgetik-antipiretik adalah dengan menghambat sintesa
neurotransmitter tertentu yang dapat menimbulkan rasa nyeri & demam. Dengan
blokade sintesa neurotransmitter tersebut, maka otak tidak lagi mendapatkan "sinyal"
nyeri, sehingga rasa nyerinya berangsur-angsur menghilang.
Rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala, fungsinya memberi tanda tentang adanya
gangguan-gangguan di tubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau kejang otot.
Rasa nyeri disebabkan rangsang mekanis atau kimiawi, kalor atau listrik, yang dapat
menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat yan disebut mediator nyeri
(pengantara). Zat ini merangsang reseptor nyeri yang letaknya pada ujung syaraf
bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Dari tempat ini rangang dialaihkan
melalui syaraf sensoris ke susunan syaraf pusat (SSP), melalui sumsum tulang
belakang ke talamus (optikus) kemudian ke pusat nyeri dalam otak besar, dimana
rangsang terasa sebagai nyeri.
2.3 MACAM-MACAM ANALGESIK
2.3.1 Macam-Macam Analgesik
a. Analgesik opioid / analgesik narkotika
Merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin.
Golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa
nyeri. Tetap semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ketergantungan, maka
usaha untuk mendapatkan suatu analgesik yang ideal masih tetap diteruskan dengan
tujuan mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi.
Khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti fraktur dan kanker.
Nyeri pada kanker umumnya diobati menurut suatu skema bertingkat empat, yaitu :
obat perifer (non Opioid) peroral atau rectal; parasetamol, asetosal, obat perifer
bersama kodein atau tramadol, obat sentral (Opioid) peroral atau rectal, obat Opioid
parenteral. Guna memperkuat analgetik dapat dikombinasikan dengan co-
analgetikum, seperti psikofarmaka (amitriptilin, levopromazin atau prednisone).
Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan tingkat kerja
yang terletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya mengurangi kesadaran (sifat
meredakan dan menidurkan) dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia). Dapat
mengakibatkan toleransi dan kebiasaan (habituasi) serta ketergantungan psikis dan
fisik (ketagihan adiksi) dengan gejala-gejala abstinensia bila pengobatan dihentikan.
Karena bahaya adiksi ini, maka kebanyakan analgetika sentral seperti narkotika
dimasukkan dalam Undang-Undang Narkotika dan penggunaannya diawasi dengan
ketat oleh Dirjen POM.

Semua analgetik narkotik dapat mengurangi nyeri yang hebat, teteapi potensi. Onzer,
dan efek samping yang paling sering adalah mual, muntah, konstipasi, dan
mengantuk. Dosis yang besar dapat menyebabkan hipotansi serta depresi pernafasan.
Morfin dan petidin merupakan analgetik narkotik yang paling banyak dipakai untuk
nyeri walaupun menimbulkan mual dan muntah. Obat ini di Indonesia tersedia dalam
bentuk injeksi dan masih merupakan standar yang digunakan sebagai pembanding
bagi analgetik narkotika lainnya. Selain menghilangkan nyeri, morfin dapat
menimbulkan euphoria dan ganguan mental.

Ada 3 golongan obat ini yaitu :


1. Obat yang berasal dari opium-morfin.
2. Senyawa semisintetik morfin, dan
3. Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.
Berikut adalah contoh analgetik narkotik yang samapi sekarang masih
digunakan di Indonesia :
- Morfin HCL,
- Kodein (tunggal atau kombinasi dengan parasetamol),
- Fentanil HCL

Antagonis-antagonis morfin adalah zat-zat yang dapat melawan efek-efek samping


dari analgetik narkotik tanpa mengurangi kerja analgesiknya dan terutama digunakan
pada overdosis atau intoksiaksi dengan obat-obat ini. Zat-zat ini sendiri juga
berkhasiat sebagai analgetik, tetapi tidak dapat digunakan dalam terapi, karena dia
sendiri menimbulkan efek-efek samping yang mirip dengan mrfin, antara lain
depresi pernafasan dan reaksi-reaksi psikotis. Yang sering digunakan adalah nalorfin
dan nalokson.

Efek-efek samping dari morfin dan analgetika sentral lainnya pada dosis biasa adalah
gangguan-gangguan lambung, usus (mual, muntah, obstipasi), juga efek-efek pusat
lainnya seperti kegelisahan, sedasi, rasa kantuk, dan perubahan suasana jiwa dengan
euforia. Pada dosis yang lebih tinggi terjadi efek-efek yang lebih berbahaya yaitu
depresi pernafasan, tekanan darah turun, dan sirkulasi darah terganggu. Akhirnya
dapat terjadi koma dan pernafasan terhenti.

Efek morfin terhadap Sistem Saraf Pusat berupa analgesia dan narkosis. Analgesia
oleh morfin dan opioid lain sudah timbul sebelum penderita tidur dan seringkali
analgesia terjadi tanpa disertai tidur. Morfin dosis kecil (15-20 mg) menimbulkan
euforia pada penderita yang sedang menderita nyeri, sedih dan gelisah. Sebaliknya,
dosis yang sama pada orang normal seringkali menimbulkan disforia berupa
perasaan kuatir atau takut disertai dengan mual, dan muntah. Morfin juga
menimbulkan rasa kantuk, tidak dapat berkonsentrasi, sukar berfikir, apatis, aktivitas
motorik berkurang, ketajaman penglihatan berkurang, ektremitas tersa berat, badan
terasa panas, muka gatal dan mulut terasa kering, depresi nafas dan miosis. Rasa
lapar hilang dan dapat muntah yang tidak selalu disertai rasa mual. Dalam
lingkungan yang tenang orang yang diberikan dosis terapi (15-20 mg) morfin akan
tertidur cepat dan nyenyak disertai mimpi, nafas lambat dan miosis.

Antara nyeri dan efek analgetik (juga efek depresi nafas) morfin dan opioid lain
terdapat antagonisme, artinya nyeri merupakan antagonis faalan bagi efek analgetik
dan efek depresi nafas morfin. Bila nyeri sudah dialami beberapa waktu sebelum
pemberian morfin, efek analgetik obat ini tidak begitu besar. Sebaliknya bila
stimulus nyeri ditimbulkan setelah efek analgetik mencapai maksimum, dosis morfin
yang diperlukan untuk meniadakan nyeri itu jauh lebih kecil. Penderita yang sedang
mengalami nyeri hebat dan memerlukan mofin dengan dosis besar untuk
menghilangkan rasa nyerinya, dapat tahan terhadap depresi nafas morfin. Tetapi bila
nyeri itu tiba-tiba hilang, maka kemungkinan besar timbul gejala depresi nafas oleh
morfin.

b. Analgesik Non Narkotik


Terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Obat-
obat inidinamakan juga analgetika perifer, karena tidak mempengaruhi Sistem Saraf
Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau mengakibatkan ketagihan. Semua
analgetika perifer juga memiliki kerja antipiretik, yaitu menurunkan suhu badan
pada keadaan demam, maka disebut juga analgetik antipiretik. Khasiatnya
berdasarkan rangsangannya terhadap pusat pengatur kalor di hipotalamus, yang
mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran
kalor dan disertai keluarnya banyak keringat.
Efek analgetik timbul karena mempengaruhi baik hipotalamus atau di tempat cedera.
Respon terhadap cedera umumnya berupa inflamasi, udem, serta pelepasan zat aktif
seperti brandikinin, PG, dan histamine. PG dan brankinin menstimulasi ujung staraf
perifer dengan membawa implus nyeri ke SSP. AINS dapat menghambat sintesis PG
dan brankinin sehingga menghambat terjadinya perangsangan reseptor nyeri. Obat-
obat yang banyak digunakan sebagai analgetik dan antipiretik adalah golongan
salisilat dan asetaminofen (parasetamol). Aspirin adalah penghambat sintesis PG
paling efektif dari golongan salisilat.

c. Analgesik Antipiretik Non-Narkotika


 Analgesik: anti nyeri
 Antipiretik: anti demam
 Obat non narcotik analgetik antipiretik: obat yang dapat
menghilangkan/ mengurangi rasa nyeri dan dapat menurunkan suhu tubuh dalam
keadaan demam, tanpa mengganggu kesadaran

Guna memperkuat analgetik dapat dikombinasikan dengan co-analgetikum, seperti


psikofarmaka (amitriptilin, levopromazin atau prednisone). Obat-obat golongan
analgetik dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu: parasetamol, salisilat, (asetasol,
salisilamida, dan benorilat), penghambat Prostaglandin (NSAID); ibuprofen,
derivate-derivat antranilat ( mefenamilat, asam niflumat glafenin, floktafenin,
derivate-derivat pirazolinon (aminofenazon, isoprofilpenazon,
isoprofilaminofenazon), lainnya benzidamin.Obat golongan analgesic narkotik
berupa, asetaminofen dan fenasetin.Obat golongan anti-inflamasi nonsteroid berupa
aspirin dan salisilat lain, derivate asam propionate, asam indolasetat, derivate
oksikam, fenamat, fenilbutazon.

Nyeri merupakan gejala yang berfungsi melindungi atau merupakan tanda bahwa
adanya gangguan-gangguan ditubuh seperti peradangan (rheumatic/encok), infeksi,
maupun kejang otot.

Mekanisme rasa nyeri yaitu perangsangan nyeri baik mekanik, kimiawi, panas
maupun listrik akan menimbulkan kerusakan pada jaringan sel sehingga sel-sel
tersebut melepaskan suatu zat yang disebut mediator nyeri yang akan merangsang
reseptor nyeri. Mediator nyeri ini juga disebut zat autanoid yaitu, histamine,
serotonin, plasmakinin, bradikinin (asam lemak) prostaglandin dan ion kalium.

Mekanisme kerja penghambatan rasa nyeri ada tiga yaitu:


1. Merintangi pembentukkan rangsangan dalam reseptor rasa nyeri, seperti pada
anastesi local.
2. Merintangi penyaluran rangsangan nyeri dalam saraf sensoris, seperti pada
anastesi local.
3. Blokade rasa nyeri pada system saraf pusat seperti pada analgetik sentral
(narkotika) dan anastesi umum.

Cara Kerja
Analgesik:
 Central (Thalamus) → dengan jalan meningkatkan nilai ambang rasa nyeri
 Perifer: merubah interpretasi rasa nyeri
 Antipiretik: melalui termostat di hipotalamus → mempengaruhi pengeluaran
panas dengan cara: vasodilatasi perifer dan meningkatkan pengeluaran keringat
 Anti inflamasi: menghambat sintesa prostaglandin
 Prostaglandin menimbulkan eritema, vasodilatasi dan peningkatan aliran darah
lokal

Farmakodinamik
 Efek analgesik: efektif terhadap nyeri intensitas rendah sampai sedang
(sakit kepala, mialgia, artralgia, nyeri yang berasal dari integumen, nyeri inflamasi)
 Efek antipiretik: menurunkan suhu saat demam, (fenil butason dan
antirematik tidak dibenarkan sbg antipiretik)
 Efek anti inflamasi: untuk kelainan muskuloskeletal (artritis rematoid,
osteoartritis, spondilitis ankilosa), hanya simptomatis

Efek samping
 Induksi tukak lambung, kadang disertai anemia skunder akibat perdarahan
saluran cerna
 Gangguan fungsi trombosit → gangguan biosintesis tromboksan A2
(TXA2) → perpanjangan waktu perdarahan (efek ini dimanfaatkan untuk profilaksin
trombo-emboli)
 Gagal ginjal pada penderita gangguan ginjal → gangguan homeostasis
ginjal
 Reaksi alergi: rinitis vasomotor, edem angioneurotik, urtikaria luas, asma
bronkial, hipotensi sampai syok

Klasifikasi non narkotik Analgesik Antipiretik


1. Salisilat
2. Asam organik
3. Para aminofenol
4. Firazolon
5. Quinolon
6. Non Addicting Opioid

Golongan Salisilat
 Merupakan derivat asam salisilat, berasal dari tumbuhan Willow Bark = Salix
alba

 Efek farmakologi:

 Anti inflamasi → menghambat sintesa prostaglandin

 Analgesik → sentral dan perifer

 Antipiretik → termostat hipotalamus

 SSP →respirasi (dosis tinggi → depresi pernafasan → respirasi alkalosis →


metabolik asidosis, behavior, nausea dan vomiting

Efek farmakologi:
 Endokrin → ACTH ↑, sintesa protrombin ↓, menghambat agregasi trombosit
(blooding time ↑)

 Farmakokinetik:
 Reabsorbsi di lambung dan usus,

 Distribusi ke semua jaringan, dapat menembus plasenta

 Ekskresi melalui urine

Penggunaan Klinis:
 Sistemik: analgetik, antipiretik, anti inflamasi, anti gout

 Lokal: keratolitik, counter iritant

 Reaksi merugikan:

 Efek samping: iritasi lambung, alergi

 Toksisitas: salicylisme, hipertermis, gangguan behavior, respirasi alkalosis

Sediaan:
 Acetyl Salicylic Acid (aspirin, acetosal)

 Sodium salisilat

 Salicylamid

 Salicylic acid → sebagai topikal

 Metil salicylat → sebagai topikal

Golongan Asam Organik


 Dibanding aspirin, kurang efektif (sebagai antiinflamasi, analgesik),
toksisitasnya lebih kecil

 Efek: analgesik, antipiretik, anti inflamasi, iritasi pada lambung, menghambat


sintesa protrombin dan agregasi trombosit

Sediaan:
 Mefenamic acid (mefinal), Indometacin (Indocin), Ibuprofen (Bufect),
Meclofenamat (Meclomen), Fenbufen (Cybufen), Carprofen (Imadil), Diclofenac
(Voltaren), Ketoprofen (Profenid)
Golongan Para Amino Fenol

Indikasi:
 Sebagai analgesik dan antipiretik

 Jangan digunakan dalam jangka waktu lama → nefropati analgesik

Sediaan;
 Tablet 500mg

 Sirup 120mg/5ml

Dosis:
 Dewasa: 300 – 1g per kali maksimum 4x

 Anak: 10 mg/kgBB/kali maksimum 4x

Perbedaan dengan salisilat:


 Kurang atau tidak iritasi terhadap gaster

 Tidak mempunyai sifat anti inflamasi

 Tidak mempunyai efek uricosuric

Reaksi merugikan:
 Alergi: eritem, urtikaria, demam, lesi mukosa

 Intoksikasi akut: dizzines, excitement, diorientasi, central lobuler necrosis


hepar, renal tubuler necrosis, methaemogloninemia, anemia hemolitik
Reaksi merugikan:
 Intoksikasi kronis: hemolitic anemia, methaemoglobinemia, kelainan ginjal
(interatitiel necrosis, papillary necrosis)

Sediaan:
 Fenasetin

 Asetaminofen (Parasetamol)

Golongan Pirazolon

Efek farmakologi:
 Analgesik →meningkatkan nilai ambang rasa nyeri

 Antipiretik → mempengaruhi termostat

 Anti inflamasi → efeknya lemah

 Kurang iritasi lambung → kecuali fenilbutazon

Reaksi merugikan:
 Agranulositosis, anemia aplastik, trombositopenia, hemolisis, udem, tremor,
mual, muntah, perdarhan lambubg, anuria.
Efek merugikan;
 Fenil butazon, Oksifenbutazon: edema (retensio urina), mulut kering, nausea,
vomiting, perdarahan lambung, renal tubuler necrosis, liver necrosis, alergi
(dermatitis exfoliative), agranulositosis

 Kontra indikasi: ulcus pepticum, hipertensi, (karena sifat retensi air dan
natrium) dan alergi
Fenilbutazon: digunakan untuk mengobati artritis rematoid
 Efek anti inflamasinya sama kuat dengan salisilat, serta punya efek uricosuric
ringan

 payah jantungEfek retensi natrium dan klorida menyebabkan edema dan


bertambahnya volume plasma

 Diabsorbsi cepat po → kadar maksimum 2 jam

 Indikasi: pirai akut, artritia rematoid, gangguan sendi (spondilitis ankilosa,


osteoartritis)
Sediaan:
 Aminopirin (piramidon) dan Antipirin (fenazon) → tidak digunakan lagi
(1977) karena toksik → nitrosamin (karsinogenik)

 Fenilbutazon (butazolidin) dan Oksifenbutazon → karena toksisitasnya


(koma, trismus, kejang, syok, asidosis metabolik, depresi sumsum tulang,
proteinuria, hematuria, oliguria, gagal ginjal, ikterus) digunakan jika obat lain yang
lebih aman tidak ada

 Dipiron (antalgin/novalgin): Tablet 500 mg dan larutan suntik 500 mg/ml

 Dipiron: hanya digunakan sebagai analgesik antipiretik, antiinflamasinya


lemah

 Keamanan diragunakan, sebaiknya digunakan secara suntikan

Efek samping dan intoksikasi:


 Agranulositosis, anemia aplastik dan trombositopenia (perhatikan
penggunaan jangka panjang)

 Hemolisis, udem, tremor, mual, muntah, perdarahan lambung dan anuria

AINS lainnya
 Asam mefenamat dan Meklofenamat → digunakan sebagai analgesik,
sebagai anti inflamasi kurang efektif dibanding aspirin, tidak dianjurkan untuk anak,
wanita hamil dan pemakaian >7 hari

 Terikat sangat kuat pada protein plasma → perhatikan interaksi dengan


antikoagulan

 Efek samping: dispepsia, iritasi lambung, diare, alergi(eritem kulit,


bronkospasme), anemia hemolitik

 Dosis: 2-3kali 250-500mg

 Diklofenak: absorbsi cepat dan lengkap

 Efek samping: mual, gastritis, eritema kulit, sakit kepala

 Tidak disarankan pada waktu wanita hamil


 Dosis dewasa; 100 – 150 mg sehari terbagi 2-3 dosis

 Ibuprofen → bersifat analgesik, antiinflamasinya tidak kuat, tidak dianjurkan


pada wanita hamil dan menyusui

 Absorbsi melalui lambung, kadar maksimum 1-2 jam

 Efek samping: saluran cerna (lebih ringan dibanding aspirin), eritema kulit,
sakit kepala, trombositopenia

 Dosis: 4 x 400mg

Piroksikam: indikasi untuk antiinflamasi sendi (artritis reumatoid, osteoartritis,


spondilitis ankilosa),
 Efek samping: iritasi lambung, pusing, tinitus, nyeri kepala, eritema kulit,

 Tidak dianjurkan pada wanita hamil, ulcus peptikum dan terapi antikoagulan

 Dosis: 10 – 20 mg per hari

Obat Pirai

Ada 2 macam:
1. Obat yang menghentikan proses inflamasi akut: kolkisin, fenilbutason,
oksifenbutason, indometasin
2. Obat yang mempengaruhi kadar asam urat: probenesid, alopurinol dan
sulfinpirazon

Kolkisin
 Merupakan alkaloid dari bunga leli (Colchicum autumnale)

 Sifat anti inflamasi-nya spesifik untuk pirai tidak secara umum

 Tidak meningkatkan: ekskresi, sintesis atau kadar asam urat dalam darah

 Indikasi: pirai
 Dosis: 0,5 – 0,6 mg tiap jam sampai gejala akut reda atau gangguan saluran
cerna timbul

Alopurinol
 Menurunkan kadar asam urat

 Obat ini bekerja menghambat xantin oksidase, enzim yang mengubah


hipoxantin → xantin → asam urat

 Efek samping: reaksi kulit (kemerahan), alergi (demam, menggigil,


leukopenia, leukositosis, eosinofilia, artralgia, pruritus)

 Dosis: 200 – 400 mg sehari


2.3.2 Cara Pemberantasan Rasa Nyeri
 Menghalangi pembentukan rangsang dalam reseptor nyeri perifer oleh analgetik
perifer atau oleh anestetik lokal.
 Menghalangi penyaluran rangsang nyeri dalam syaraf sensoris, misalnya dengan
anestetik local.
 Menghalangi pusat nyeri dalam SSP dengan analgesik sentral (narkotik) atau
dengan anestetik umum.
2.4. KEGUNAAN DARI ANALGESIK, ANTIPIRETIK,
ANTIINFLAMASI
Penggunaan obat Analgetik-Antipiretik pada saat mengandung bagi ibu hamil harus
diperhatikan. Ibu hamil yang mengkonsumsi obat secara sembarangan dapat
menyebabkan cacat pada janin. Sebagian obat yang diminum oleh ibu hamil dapat
menembus plasenta sampai masuk ke dalam sirkulasi janin, sehingga kadarnya
dalam sirkulasi bayi hampir sama dengan kadar dalam darah ibu yang dalam
beberapa situasi akan membahayakan bayi.
Pengaruh buruk obat terhadap janin, secara umum dapat bersifat toksik, teratogenik,
maupun letal tergantung pada sifat obat dan umur kehamilan pada saat minum obat.
Pengaruh toksik adalah jika obat yang diminum selama masa kehamilan
menyebabkan terjadinya gangguan fisiologik atau bio-kimiawi dari janin yang
dikandung, dan biasanya gejalanya baru muncul beberapa saat setelah kelahiran.
Pengaruh obat bersifat teratogenik, jika menyebabkan terjadinya malformasi
anatomic (kelainan/kekurangan organ tubuh) pada pertumbuhan organ janin.
Pengaruh teratogenik ini biasanya terjadi pada dosis subletal. Sedangkan pengaruh
obat yang bersifat letal adalah yang mengakibatkan kematian janin dalam
kandungan.

 Secara umum pengaruh obat pada janin dapat beragam sesuai dengan fase-
fase berikut:
a. Fase Implantasi yaitu pada umur kehamilan kurang dari 3 minggu.Pada fase ini
obat dapat memberi pengaruh buruk atau mungkin tidak sama sekali. Jika terjadi
pengaruh buruk biasanya menyebabkan kematian embrio atau berakhirnya
kehamilan (abortus).
b. Fase Embrional atau Organogenesis,yaitu pada umur kehamilan antara 4-8
minggu.Pada fase ini terjadi diferensiasi pertumbuhan untuk pembentukan organ-
organ tubuh, sehingga merupakan fase yang paling peka untuk terjadinya malformasi
anatomik (pengaruh teratogenik). Selama embriogenesis kerusakan bergantung pada
saat kerusakan terjadi, karena selama waktu itu organ-organ dibentuk dan blastula
mengalami deferensiasi pada waktu yang berbeda-beda. Jika blastula yang
dipengaruhi masih belum berdeferensiasi dan kerusakan tidak letal maka terdapat
kemungkinan untuk restitutio ad integrum. Sebaliknya jika bahan yang merugikan
mencapai blastula yang sedang dalam fase deferensiasi maka terjadi cacat
(pembentukan salah).
 Berbagai pengaruh buruk yang terjadi pada fase tersebut antara lain:
 Gangguan fungsional atau metabolic yang permanen yang biasanya baru muncul
kemudian jadi tidak timbul secara langsung pada saat kehamilan.
 Pengaruh letal berupa kematian janin atau terjadinya abortus.
 Pengaruh sub-letal,tidak terjadi kematian janin tetapi terjadi malformasi
anatomik (struktur) pertumbuhan organ atau pengaruh teratogenik. Kata teratogenik
sendiri berasal dari bahasa yunani yang berarti monster.
c. Fase Fetal yaitu pada trimester kedua dan ketiga kehamilan.Dalam fase ini terjadi
maturasi dan pertumbuhan lebih lanjut dari janin.Pengaruh buruk senyawa asing
bagi janin dalam fase ini dapat berupa gangguan pertumbuhan baik terhadap fungsi-
fungsi fisiologik atau biokimiawi organ-organ.

Keluhan nyeri selama masa kehamilan umum di jumpai. Hal ini berkaitan dengan
masalah fisiologis dari si ibu karena adanya karena adanya tarikan otot-otot dan
sendi karena kehamilan maupun sebab-sebab yang lain.Untuk nyeri yang tidak
berkaitan dengan proses radang, pemberian obat pengurang nyeri biasanya dilakukan
dalam jangka waktu relatife pendek. Untuk nyeri yang berkaitan dengan proses
radang, umumnya diperlukan pengobatan dalam waktu tertentu. Penilaian yang
seksama terhadap pereda nyeri perlu dilakukan agar dapat ditentukan pilihan jenis
obat yang paling tepat.
Pemakaian NSAID(Non steroid anti infamantory Drug ) sebaiknya dihindari pada
TM III. Obat-obat tersebut menghambat sintesis prostaglandin dan ketika diberikan
pada wanita hamil dapat menyebabkan penutupan ductus arteriousus, gangguan
pembentukan ginjal janin, menghambat agregasi trombosit dan tertundanya
persalinan dan kelahiran. Pengobatan NSAID selama trimester akhir kehamilan
diberikan sesuai dengan indikasi. Selama beberapa hari sebelum hari perkiraan lahir,
obat-obat ini sebaiknya dihindari. Yang termasuk golongan ini adalah diklofenac,
diffunisal, ibuprofen, indomethasin, ketoprofen, ketorolac, asam mefenamat,
nabumeton, naproxen, phenylbutazon, piroksikam, sodium salisilat, sulindac,
tenoksikam, asam tioprofenic mempunyai mekanisme lazim untuk menghambat
sintesa prostaglandin yang terlibat dalam induksi proses melahirkan, NSAID dapat
memperpanjang masa kehamilan.

2.5 CONTOH DARI MASING-MASING OBAT ANALGESIK ANTIPIRETIK,


DAN ANTIINFLAMASI
2.5.1 Contoh obat-obat analgesik antipiretik yang beredar di Indonesia:
1. Aspirin menghambat sintesis prostaglandin. Ketika diberikan kepada wanita
hamil dapat menyebabkan penutupan prematur ductus arteriousus janin, persalinan
dan kelahiran tertunda, meningkatkan waktu perdarahan pada janin maupun ibu
karena efek anti plateletnya. Penggunaan aspirin yang kronik di awal kehamilan
berhubungan dengan anemia pada wanita hamil. Aspirin terbukti menimbulkan
gangguan proses tumbuh kembang janin. Selain itu, aspirin memicu komplikasi
selama kehamilan. Bahkan, kandungan aspirin masih ditemukan dalam ASI. Tubuh
bayi akan menerima 4-8% dosis aspirin yang dikonsumsi oleh ibu. Penelitina
mengatakan bahwa bayi memilim ASI dari ibu yang mengkonsumsi aspirin berisiko
untuk menderita Reye’s Syndrome yang merupakan suatu penyakit gangguan fungsi
otak dan hati. Karenanya, hindari pemakaian aspirin, terutama selama trimester tiga.
a) Farmakodinamik
Efek Analgesik :
-menghambat sintesis PGE&PGI
Aspirin paling efektif untuk mengurangi nyeri dengan intensitas ringan sampai
sedang. Ia bekerja secara perifer melalui efeknya terhadap inflamasi, tetapi mungkin
juga menghambat rangsangan nyeri pada daerah subkortikal.

Efek Antipiretik :
-memperbaiki fungsi termostat di hypothalamus, hambatan sintesis PGE2
-me ↑ pengeluaran keringat, vasodilatasi perifer
Efek Antiinflamasi :
-hambatan sintesis PGE2 & PGI2
-tidak menghambat migrasi sel
Efek pada darah :
-waktu perdarahan
-hipoprotrombinemia
-platelet disfungsi  menghambat agregasi
Efek pada metabolisme :
-dosis >  hiperglikemia  glukosuria
Efek pada kelenjar endokrin :
-dosis >  hiperglikemia
-rangs hypothalamus  steroid bebas darah >

Efek pada SSP :


-dosis >  intoksikasi
-salisilismus  pusing, bingung, tinitus, vertigo

Efek anti Gout :


-dosis > (5 gr)  hambt reabs  urikosurik
-dosis < (1-2gr)  hambt sekresi  eks <

Efek pada G.I. tract :


-iritasi lokal: difusi kembali asam lambung ke mukosa  kerusakan jaringan
-sistemik: hambatan sints PGE 2 & PGI 2 (hambatan sekresi asm lambung &
merangsang sekresi mukus bersifat sitoprotektif)
Efek pada pernapasan :
-dosis tx  respirasi alkalosis terkompensasi
dosis > → depresi pernafasan
Efek pd hepar & ginjal :
-hambatan PGE2  gangguan hemostasis ginjal
-SGOT & SGPT ↑  hepatomegali, ikterus

b) Farmakokinetik
Topikal : Asam salisilat; Metil salisilat
Distribusi :
a. Seluruh jaringan tubuh & cairan transelular
b. Cairan sinovial, spinal, peritoneal, liur, ASI
c. Menembus sawar otak & uri
Metabolisme : di hepar
Ekskresi :
- Urine >>>> - Keringat > - Empedu >
Efek samping :
-Iritasi lambung
-Allergi
-Kemungkinan peningkatan perdarahan
Penggunaan klinis :
-Analgesik - Antipiretik
-Demam reumatik akut
-Reumatoid artritis
-Mencegah trombus
Kontra Indikasi :
-Ulkus peptikum
-Haemophylia
-Allergi

Dosis

Dosisi analgesik atau antipiretik yang optimal dari aspirin yang secara umum
dipergunakan adalah kurang dari 0,6 gram dosisi oral. Dosis yang lebih besar
mungkin memprpanjang efek. Dosisi biasa tersebut bisa di ulang setiap 4 jam dan
dosisi yang lebih kecil (0,3 g) setiap 3 jam sekali. Dosisi untuk anak-anak adalah 50-
75 mg/kg/hari dalam dosisi yang terbagi.

Dosis antiinflamasi rata-rata dapat sampai 4 gram per hari. Untuk anak-anak 50-75
mg/kg/hari. Kadar dalam darah 15-30 mg/dl. Waktu paro 12 jam. Biasanya dosi
terbagi 3 kali/hari, sesudah makan.

2. Paracetamol merupakan analgesik-antipiretik dan anti-inflamasi non-steroid


(AINS) yang memiliki efek analgetik (menghilangkan rasa nyeri), antipiretik
(menurunkan demam), dan anti-inflamasi (mengurangi proses peradangan).
Paracetamol paling aman jika diberikan selama kehamilan. Parasetamol dalam dosis
tinggi dan jangka waktu pemberian yang lama bisa menyebabkan toksisitas atau
keracunan pada ginjal. sehingga dikategorikan sebagai analgetik-antipiretik.
Golongan analgetik-antipiretik adalah golongan analgetik ringan.Parasetamol
merupakan contoh obat dalam golongan ini.Beberapa macam merk dagang,
contohnya Parasetamol (obat penurun panas atau penghilang nyeri) bisa
diperdagangkan dengan merk Sanmol, Bodrex, Panadol, Paramex.
3. Antalgin
Antalgin adalah salah satu obat penghilang rasa sakit (analgetik) turunan NSAID,
atau Non-Steroidal Anti Inflammatory Drugs. Antalgin lebih banyak bersifat
analgetik. Pemakaiannya dihindari saat hamil TM I dan 6 minggu terakhir.
4. Analgesik Opiate
Pemakaian obat-obatan analgetika narkotik pada kelahiran kemungkinan dapat
menyebabkan terjadinya depresi respirasi pada janin yang manifest sebagai asfiksia
pada waktu lahir. Namun demikian ternyata berdasar penelitian, morfin sendiri tanpa
disertai dengan faktor-faktor pendorong lain, baik yang berasal dari ibu atau janin,
tidak secara langsung menyebabkan asfiksia. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa
obat-obat opiate dapat dipakai begitu saja.dalam proses kelahiran. Risiko terjadinya
depresi kardiorespirasi harus selalu diperhitungkan pada pemakaian obat-obat
analgetika narkotik paada kelahiran.

Kemungkinan lain juga dapat terjadi bradikardi pada neonatus. Petidin merupakan
analgetika narkotika yang dianggap paling aman untuk pemakaian selama proses
persalinan (obstetric-analgesics). Tetapi kenyataannya bayi-bayi yang lahir dari ibu
yang mendapatkan petidin selama proses kelahiran menunjukkan skala
neuropsikologik lebih rendah dibanding bayi-bayi yang ibunya tidak mendapatkan
obat apapun atau yang mendapatkan anestesi lokal. Sehingga karena alasan ini maka
pemakaian petidin pada persalinan hanya dibenarkan apabila anestesi epidural
memang tidak memungkinkan.

Pemakaian analgetika narkotik selama kehamilan atau persalinan dapat mengurangi


kontraktilitas uterus sehingga memperlambat proses kelahiran. Terhadap ibu, karena
depresi fungsi otot polos dapat terjadi penurunan motilitas usus dan stasis lambung
dengan segala konsekuensinya.
Penyalahgunaan obat-obat analgetika narkotik oleh ibu hamil dapat menyebabkan
ketergantungan pada janin dalam kandungan. Hal ini akan manifest dengan
munculnya gejala –gejala withdrawl pada bayi yang baru lahir. Gejala-gejala tersebut
meliputi muntah, diare, tremor, mudah terangsang sampai kejang.

5. Ibuprofen

Merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan banyak negara. Obat ini
bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek
analgesiknya sama dengan aspirin. Ibuprofen tidak dianjurkan diminum oleh wanita
hamil dan menyusui. Contoh obat yang biasa diperdagangkan yaitu, bufect, proris dll

2.5.2 Contoh Obat – Obat Antiinflamasi Yang Lebih baru


Obat antiinflamasi dapat dikelompokkan dalam 7 kelompok besar :
1. Derivat asam propionate
2. Derivat inidol
3. Fenamat
4. Asam pirolalkanoat
5. Derivate Pirazolon
6. Aksikam
7. Asam salisilat

Aktifitas anti inflamasi dari obat NSAID mempunyai mekanisme yang sama dengan
aspirin, terutama karena kemampuannya menghambat biosintesis prostaglandin.
Proses inflamasinya dikurangi dengan penurunan pelepasan mediator dari
granulosit, basofil, dan sel must. Obat-obat NSAID juga menurunkan sensitivitas
pebuluh darah terhadap bradikinin dan histamine, mempengaruhi produksi limfokin
dari limfosit T dan meniadakan vasodilatasi. Semuanya ialah penghambat sintesis
protrombin, walau derajatnya berbeda-beda. Mereka semua juga :
1. Analgesik
2. Antiinflamasi
3. Antipiretik
4. Menghambat agregasi platelet
5. Menyebabkan iritasi lambung
6. Bersifat nofrotoksik

1. Ibuprofen
Ibuprofen merupakan derivate dari asam fenilpropionat. Pada dosis 2400 mg, efek
anti inflamasinya setara dengan 4gr aspirin. Pada dosis lebih rendah, hanya efek
analgesiknya yang jelas, sedangkan efek anti inflamasinya sedikit. Waktu paro 2
jam , metabolism di hati, 10% diekskresi tanpa di ubah.

2. Fenoprofen
Merupakan derivate asam propionate. Waktu paronya 2 jam . Dosis anti atritis
(inflamasi) ialah 600-800 mg, 4 kali sehari. Efek smpingnya menyerupai ibuprofen
yaitu nefrotoksis, interik, nausea, dispepsi, udema perifer, rash pruritas, efek sistem
saraf pusatdan kardiovaskuler.
3. Indomethacin
Indometasin merupakan derifat indol. Walaupun lebih toksik dari aspirin, tetapi
efektivitasnya juga lebih tinggi. Ia juga penghambat sintesis prostaglandin.
Metabolisme di hati. Waktu paro serum 2 jam.
4. Sulindac
Suatu obat sulfosid, yang baru aktif setelah di ubah oleh enzim hati menjadi sulfide,
duraksi aksi 16 jam. Indikasi dan reaksi buruknya menyerupai obat NSAID yang
lain. Dapat juga terjadi sindrom Stevens-Jhonson, trombositipenia, agranulositosi
dan sindrom nefrotik. Dosis rata-rata untuk arthritis inflamasi ialah 200mg, 2 kali
sehari.

5. Maclofenamate
Derifat fenamat, mencapai kadar puncak dalam plasma darah 30-60 menit, waktu
paro 2 jam. Ekskresi lewat urin sebagai besar dalam bentuk konjungasi glukuronid.
Efek sampingnya menyerupai obat NSAID lain, nampaknya tidak mempunyai
keistimewaan disbanding yang lain.
Kontraindikasi : hamil, belum terbukti keamanan dan efekasinya pada anak. Dosis
untuk atritis inflamasi ialah 200-400 mg/hari, terbagi dalam 4 dosis.
6. Asam Mefenamat
Juga drifat fenamat, mempunyai efek analgesik, tapi sebagai antiinflamasi kurang
kuat disbanding aspirin serta lebih toksik. Obat ini tidak boleh di berikan berturut-
turut lebih dari 1 minggu dan tidak diindikasikan untuk anak-anak. Dosis awal
500mg (dewasa), selanjutnya 250 mg.
7. Tolmetin
Suatu derivate dari asam pirololkanoat, menyerupai aspirin dalam efektivitasnya
terhadap arthritis rematoid dan osteortritis pada penderita dewasa dan remaja. Waktu
paronya pendek 1 jam. Rata-rata dosis dewasanya ialah 400mg, 4 kali sehari
8. Fenilbutazon
Merupakan derifat pirazolon, mempunyai efek antiinflamasi yang kuat. Akan tetapi
di temukan berbagai pengaruh buruknya seperti : agranulositosis, anemia aplastika,
anemia hemolitik, sindrom nefrotik, neuritis optic, tuli, reaksi alergi serius,
dermatitis eksfoliotif serta nekrosis hepar dan tubuler ren.

9. Piroxicam
Waktu paronya 45 jam, oleh karena itu pemakaiannya cukup sekali sehari. Obat ini
cepat diabsorbsidari lambung, dan dalam 1 jam konsentrasi dalam plasma mencapai
80% dari kadar puncaknya. Keluhan gastrointestinal di alami oleh sekitar 20 %
penderita, efek buruk lainnya ialah dizziness, tinnitus, nyeri kepala dan ruam kulit
10. Diflunisal
Diflunsial ialah derivate difluorofenil asam salisilat. Waktu paronya dalam plasma
ialah 8-12 jam dan mencapai steady state setelah beberapa hari. Seperti halnya
aspirin, ia mempnyai efek analgesik dan antiinflamasi akan tetapi efek
antipiretiknnya kecil. Indikasinya ialah nyeri dan osteoarthritis. Efek buruknya
menyerupai NSAID yang lain
11. Meloxicam
Merupakan generasi baru NSAID. Suatu penghambat sikloogsigenase-2 selektif
(COX-2). Banyak study menunjukkan bahwa meloxicam mempunyai efek samping
pada saluran gastrointestinal lebih renfdah di banding dengan NSAID yang lain,
dengan kekuatan antiinflamasi, analgetik dan antipiretik. Pemakaian meloxicam 15
mg tidak memperlihatkan perbedaan dalam hal efek sampingnya terhadap saluran
gastrointestinal yang dinilai sebelum dan sesudah pengobatan.

2.5.2 Contoh Obat-Obat AntiInflamasi


NSAID dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu:
1. golongan salisilat (diantaranya aspirin/asam asetilsalisilat, metil salisilat,
magnesium salisilat, salisil salisilat, dan salisilamid)
2. golongan asam arilalkanoat (diantaranya diklofenak, indometasin,
proglumetasin, dan oksametasin)
3. golongan profen/asam 2-arilpropionat (diantaranya ibuprofen, alminoprofen,
fenbufen, indoprofen, naproxen, dan ketorolac),
4. golongan asam fenamat/asam N-arilantranilat (diantaranya asam
mefenamat, asam flufenamat, dan asam tolfenamat)
5. golongan turunan pirazolidin (diantaranya fenilbutazon, ampiron, metamizol,
dan fenazon)
6. golongan oksikam (diantaranya piroksikam, dan meloksikam),
7. golongan penghambat COX-2 (celecoxib, lumiracoxib),
8. golongan sulfonanilida (nimesulide)
9. golongan lain (licofelone dan asam lemak omega 3).
Secara umum, NSAID diindikasikan untuk merawat gejala penyakit
berikut:rheumatoid arthritis, osteoarthritis, encok akut, nyeri haid, migrain dan sakit
kepala, nyeri setelah operasi, nyeri ringan hingga sedang pada luka jaringan,
demam, ileus, dan renal colic.
NSAID merupakan golongan obat yang relatif aman, namun ada 2 macam efek
samping utama yang ditimbulkannya, yaitu efek samping pada saluran pencernaan
(mual, muntah, diare, pendarahan lambung, dan dispepsia) serta efek samping pada
ginjal (penahanan garam dan cairan, dan hipertensi). Efek samping ini tergantung
pada dosis yang digunakan.

Obat anti inflamasi dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok utama, yaitu:


1. Glukokortikoid (Golongan Steroidal) yaitu anti inflamasi steroid. Anti Inflamsi
steroid memiliki efek pada konsentrasi, distribusi dan fungsi leukosit perifer serta
penghambatan aktivitas fosfolipase. contohnya gologan Prednisolon.
2. NSAIDs (Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs) juga dikenal dengan AINS
(Anti Inflamasi Non Steroid) NSAIDs bekerja dengan menghambat enzim
siklooksigenase tetapi tidak enzim lipoksigenase. Contoh Obat AntiInflasmasi
golongan NSAIDs adalah Turunan Asam Propionat (Ibuprofen, Naproxen), Turunan
Asam Asetat (Indomethacin), Turunan Asam Enolat (Piroxicam).
Obat AntiInflamasi pada umumnya bekerja pada enzim yang membantu terjadinya
inflamasi, Namun Pada umumnya Obat Antiinflamasi bekerja pada enzim
Siklooksigenase (COX) baik COX1 maupun COX2

Mekanisme Kerja
Golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam
arakhidonat menjadi PGG2 terganggu. Setiap obat menghambat siklooksigenase
dengan kekuatan dan selektivitas yang berbeda. Enzim siklooksigenase terdapat
dalam 2 isoform disebut COX-1 dan COX-2. Kedua isoform tersebut dikode oleh
gen yang berbeda dan ekspresinya bersifat unik. Secara garis besar COX-1 esensial
dalam pemeliharaan berbagai fungsi dalam kondisi normal di berbagai jaringan
khususnya ginjal, salurancerna dan trombosit. Di mukosa lambung, aktivasi COX-1
menghasilkan prostasiklin yang bersifat sitoprotektif. Siklooksigenase-2 semula
diduga diinduksi berbagai stimulusinflamatoar, termasuk sitokin, endotoksin dan
faktor pertumbuhan (growth factors).

Ternyata COX-2 juga mempunyai fungsi fisiologis yaitu di ginjal, jaringan


vaskulardan pada proses perbaikan jaringan. Aspirin 166 kali lebih kuat menghambat
COX-1 dari pada COX-2. Penghambat COX-2 dikembangkan dalam mencari
penghambat COX untuk pengobatan inflamasi dan nyeri yang kurang menyebabkan
toksisitas saluran cerna dan pendarahan. Khusus parasetamol, hambatan biosintesis
PG hanya terjadi pada lingkungan yang rendah kadar peroksid yaitu di hipotalamus.
Parasetamol diduga menghambat isoenzim COX-3,suatu variant dari COX-1. COX-
3 ini hanya terdapat di otak. Aspirin sendiri menghambat dengan mengasetilasi
gugus aktiv serin dari COX-1, trombosit sangat rentan terhadap enzim karena
trombosit tidak mampu mensintesis enzim baru. Dosis tunggal aspirin 40 mg sehari
cukup untuk menghambat siklooksigenase trombosit manusia selama masa hidup
trombosit, yaitu 8-11 hari. Ini berarti bahwa pembentukan trombosit kira-kira 10%
sehari. Untuk fungsi pembekuan darah aktivitas siklooksigenase mencukupi
sehingga pembekuan darah tetap dapat berlangsung. Semua obat mirip-aspirin
bersifat antipiretik, analgesik, dan antiinflamasi. Ada perbedaan aktivitas di antara
obat-obat tersebut, misalnya parasetamol (asetaminofen) bersifat antipiretik dan
analgesik tetapi sifat antiinflamasinya lemah sekali. Sebagai antipiretik, obat mirip-
aspirin akan menurunkan suhu badan dalam keadaan demam.
Walaupun kebanyakan obat ini memperlihatkan efek antipiretik ,tidak semuanya
berguna sebagai antipiretik karena sifat toksik bila digunakan secara rutin atau
terlalu lama. Ini berkaitan dengan hipotesis bahwa COX yang ada di sentral otak
terutamaCOX-3 dimana hanya parasetamol dan beberapa obat AINS lainnya dapat
menghambat. Fenilbutazon dan antireumatik lainnya tidak dibenarkan digunakan
sebagai antipiretik atas alasan tersebut menghambat enzim siklooksigenase (COX 2),
dapat memproduksi leukotrien, sehingga produksi prostaglandin turun, jumlah
prostaglandin turun sehingga set point mengatur suhu tubuh. Obat: paracetamol,
peroksikam, fenilbutazon, diklofenak, ibuprofen(neoremasil), metamizol (antalgin),
asetosal (aspirin), indometasin, dan naproxen.
Radang sendiri dibagi menjadi 2, yaitu:

 Inflamasi non imunologis : tidak melibatkan system imun (tidak ada reaksi
alergi) misalnya karena luka, cederafisik, dsb.
 Inflamasi imunologis : Melibatkan system imun, terjadi reaksi antigen-
antibodi. Misalnya pada asma.
Prostaglandin merupakan mediator padainflamasi yang menyebabkan kita merasa
perih, nyeri, dan panas. Prostaglandin dapat menjadi salah satu donator penyebab
nyeri kepala primer.

Di membrane sel terdapat phosphatidylcholine dan phosphatidylinositol. Saat terjadi


luka, membrane tersebut akan terkena dampaknya juga. Phosphatidylcholine dan
phosphatidylinositol diubah menjadi asam arakidonat. Asam arakidonat nantinya
bercabang menjadi dua: jalur siklooksigenasi (COX) dan jalur lipooksigenase.

Pada jalur COX ini terbentuk prostaglandin dan thromboxanes. Sedangkan pada
jalur lipooksigenase terbentuk leukotriene.

 Prostaglandin: mediator inflamasi dan nyeri. Juga menyebabkan vasodilatasi


dan edema (pembengkakan)
 Thromboxane: menyebabkan vasokonstriksi dan agregasi (penggumpalan)
platelet
 Leukotriene: menyebabkan vasokontriksi, bronkokonstriksi

Radang mempunyai tiga peran penting dalam perlawanan terhadap infeksi :

 Memungkinkan penambahan molekul dan sel efektor ke lokasi infeksi untuk


meningkatkan performa makrofaga
 Menyediakan rintangan untuk mencegah penyebaran infeksi
 mencetuskan proses perbaikan untuk jaringan yang rusak
Respon peradangan dapat dikenali dari rasa sakit, kulit lebam,
demam, dll.yang disebabkan karena terjadi perubahan pada pembuluh darah di area
infeksi :
 pembesaran diameter pembuluh darah, disertai peningkatan aliran darah di
daerah infeksi. Hal ini dapat menyebabkan kulit tampak lebam kemerahan dan
penurunan tekanan darah terutama pada pembuluh kecil.
 aktivasi molekul adhesi untuk merekatkan endothelia dengan pembuluh
darah.
 Kombinasi dari turunnya tekanan darah dan aktivasi molekul adhesi, akan
memungkinkan sel darah putih bermigrasi ke endothelium dan masuk ke
dalam jaringan. Proses ini dikenal sebagai ekstravasasi.

Anti inflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang disebabkan
bukan karena mikroorganisme (non infeksi). Gejala inflamasi dapat
disertai dengan gejala panas, kemerahan, bengkak, nyeri/sakit, fungsinya terganggu.
Proses inflamasi meliputi kerusakan mikrovaskuler, meningkatnya permeabilitas
vaskuler dan migrasi leukosit ke jaringan radang, dengan gejala panas, kemerahan,
bengkak, nyeri/sakit, fungsinya terganggu. Mediator yang dilepaskan antara lain
histamin, bradikinin, leukotrin, prostaglandin dan PAF.

III. PEMBAGIAN OBAT – OBATAN

Obat Antiinflamasi terbagi atas 2, yaitu :

1.Golongan Steroid

Contoh : Hidrokortison, Deksametason, Prednisone

2.Golongan AINS (non steroid)

Contoh : Parasetamol, Aspirin, Antalgin/Metampiron, AsamMefenamat, Ibuprofen

IV. MEKANISME KERJA

No. Golongan Obat Mekanisme Kerja


1. Steroid Menghambat enzim fosfolipase A2
sehingga tidak terbentuk asam arakhidonat.
Tidak adanya asam arakhidonat berarti
tidak terbentuknya prostaglandin.

2. AINS (Non Steroid) Menghambat enzim siklooksigenase (cox-1


dan cox-2) ataupun menhambat secara
selektif cox-2 saja sehingga tidak terbentuk
mediator-mediator nyeri yaitu prostaglandin
dan tromboksan

V.TABEL INTERAKSI OBAT

N Nama Nama Mekanism Mekani Interaksi obat A+B


o Obat A Obat B e obat A sme
obat B

1 Aspirin Antasida Mengaseti Menetral Antasida


. lasi enzim isir asam meningkatkan pH
siklooksig lambung urine sehingga
enase dan dengan klirens salisilat
mengham meningk meningkat àdosis
bat atkan pH salisilat dalam darah
pembentu menurun
kan enzim
cyclic
endoperox
ides

2 Aspirin Acetazola Mengaseti Memblo Aspirin menggeser


. mide lasi enzim k enzim ikatan acetazolamid
siklooksig karbonik dengan protein
enase dan anhidras plasma à akumulasi
mengham e acetazolamid dalam
bat darah à toksisitas
pembentu acetazolamid
kan enzim
cyclic
endoperox
ides

3 Aspirin Kortikoste Mengaseti Menyeb Betamethasone


. roid(Beta lasi enzim abkan menstimulasi
methasone siklooksig vasokon metabolisme aspirin
) enase dan striksi, di hati dan
mengham juga meningkatkan
bat berkhasi klirens renal à kadar
pembentu at aspirin menurun à
kan enzim merintan turunnya efektivitas
cyclic gi atau aspirin
endoperox mengura
ides ngi
terbentu
knya
cairan
peradang
an dan
udema
setempat

4 Aspirin Methotrex Mengaseti Mengga Aspirin


. ate lasi enzim nggu menurunkan klirens
siklooksig aktivsi ginjal dan
enase dan folat menggeser ikatan
mengham dengan protein
bat menginh methotrexate à
pembentu ibisi kadar methotrexate
kan enzim dihidrof meningkat à
cyclic olatered toksisitas
endoperox uktase methotrexate
ides sehingga
menggan
ggu
replikasi
DNA
pada sel

5 Aspirin Antikoagu Mengaseti Mengga Meningkatkan


. lan(warfar lasi enzim nggu aktivitas
in) siklooksig aktivasi antikoagulan à masa
enase dan factor perdarahan
mengham pembeku meningkat
bat an darah
pembentu yang
kan enzim bergantu
cyclic ng pada
endoperox vitamin
ides K, yaitu
factor,
II, VII,
IX, X

6 Aspirin Kafein Mengaseti - Kafein


.. lasi enzim meningk meningkatkan
siklooksig atkan bioavaliabilitas dan
enase dan mobilisa laju absorpsi dari
mengham si aspirin
bat kalsium
pembentu intraselu
kan enzim lar-
cyclic peningka
endoperox tan
ides akumula
si
nukleoti
da
siklikkar
ena
hambata
n
phospho
diesteras
e

7 Asam Antasida mengham Menetral Antasida akan


. mefena bat sintesa isir asam mempercepat
mat prostaglan lambung absorpsi asam
din dengan mefenamat
dengan meningk
mengham atkan pH
bat kerja
enzim
cyclooxyg
enase
(COX-1 &
COX-2)
8 Diklofe Sukralfat Mengham Melindu Terjadi penurunan
. nak bat kerja ngi absorpsi diklofenak
enzim permuka à efektivitas
siklooksig an sel diklofenak menurun
enase dari
asam
lambung
, pepsin
dan
empedu.

9 Diklofe Methotrex Mengham Mengga Na-diklofenak


. nak ate bat kerja nggu menurunkan klirens
enzim aktivsi renal methotrexate à
siklooksig folat peningkatan kadar
enase dengan methotrexate
menginh àtoksisitas
ibisi methotrexate
dihidrof
olatered
uktase
sehingga
menggan
ggu
replikasi
DNA
pada sel

1 Diklofe Kolestira Mengham Menurun Peningkatan klirens


0 nak min bat kerja kan plasma diklofenak à
. enzim kadar absorpsi diklofenak
siklooksig kolestero menurun à
enase l plasma efektivitas
dengan diklofenak menurun
mengika
t asam
empedu
dalam
saluran
cerna

1 Ibuprof Lithium Mengham Menstab Ibuprofen


1 en bat kerja ilkan menghambat
. enzim suasana produksi
siklooksig hati prostaglandin à
enase (mood eliminasi lithium
stabilize menurun à toksisitas
r) lithium

1 Ibuprof Gentamisi Mengham Antibioti Ibuprofen


2 en n bat kerja k menurunkan laju
. enzim golonga filtrasi glomerulus à
siklooksig n akumulasi
enase aminogli gentamisin à
kosida toksisitas
yang gentamisin
bersifat
bakterios
tatik
dengan
berikata
n secara
irreversi
bel pada
sub unit
30S dari
ribosom
dan kare
na itu
menyeba
bkan ga
ngguan
yang
komplek
s pada
sintesis
protein

1 Ibuprof Fluconazo Mengham mengha Fluconazole


3 en le bat kerja mbat menginhibisi
. enzim enzim metabolisme
siklooksig cytochro ibuprofen melalui
enase me CYP2C9 à kadar
P450, ibuprofen
sehingga meningkat.
merintan
qi
sintesa
ergoster
ol

1 Indomet Probenesi Mengham Mengha Probenesid


4 asin d bat kerja mbat menurunkan klirens
. enzim reabsorp indometasin à kadar
siklooksig si asam plasma indometasin
enase urat di meningkat
tubulus
ginjal
sehingga
sekresi
asam
urat
meningk
at

VI. CONTOH OBAT DI PASARAN

No. Nama Obat Nama di Pasaran Nama Indikasi


Produsen

1. Hidrokortison Hidrokortison Kalbe Farma Dermatitis (alergi,


atopik),
neurodermatitis

2. Deksametason Dexamethasone Sampharindo Mengatasi gejala


inflamasi akut,
penyakit alergi,
edema serebral,
arthritis rematoid.

3. Prednisone Prednison Berlico Berlico Mulia Demam rematik


Farma akut, asma
bronkial, obat
anti-inflamasi.

4. Parasetamol Paracetamol Errita Mengurangi rasa


sakit kepala, sakit
gigi dan
menurunkan
panas.

5. Asam salisit Aspirin Bayer Demam, sakit


kepala, sakit gigi,
pusing, nyeri otot

6. Antalgin Antalgin Generik Untuk


INF menghilangkan
rasa sakit,
terutama kolik dan
sakit setelah
operasi.

7. Asam Allogon Konimex Nyeri ringan,


Mefenamat sedang sampai
berat seperti sakit
kepala, nyeri otot,
artralgia (nyeri
sendi), sakit gigi,
osteoartitis
rematoid, gout,
nyeri saat haid,
nyeri setelah
operasi.

8. Ibuprofen Profenal Yarindo Meredakan nyeri


Farmatama misalnya pada
sakit gigi, sakit
kepala, nyeri otot
dan dismenore
primer

VII. Interaksi Dengan Makanan

Analgesik Asetosal dan NSAID kuat lain, jika diminum bersama makanan untuk
mengurangi resiko iritasi saluran cerna. Tapi jika diminum bersama dapat
mengurangi absorpsi.

jika diinginkan efek cepat, Jangan dikonsumsi bersama alcohol karena dapat
meningkatkan resiko perdarahan.

Pemakaian sering obat-obat ini, menurunkan absorpsi asam folat dan vit. C

Obat Makanan Efek

Parasetamol Kopi, teh, minuman cola Potensiasi


(kandungan : kafein)
Meningkatkan resiko
toksik dari parasetamol

AINS Kunyit (kandungan : Sinergistik


kurkumin)
Meningkatkan aktivitas
analgetik-antiinflamasi
dalam tubuh

Anti Inflamasi Steroid Jus buah anggur Potensiasi

Meningkatkan kadar obat


dan resiko toksik dari obat
AIS

Aspirin Gingseng, bawang putih, Sinergistik


ginkgo biloba
Meningkatkan aktivitas
antikoagulan aspirin dan
resiko pendarahan

A.
Pembahasan Jurnal Penelitian
1. Judul
Pengaruh pemberian analgesic kombinasi parasetamol dan tramadol terhadap kadar
ureum serum tikus wistar

2. Latar Belakang : Parasetamol dan tramadol merupakan kombinasi obat analgesik


yang umum digunakan. Penggunaan bersamaan terbukti dapat memberikan efek
analgesik dengan risiko efek samping lebih rendah. Namun, penggunaan
parasetamol dan tramadol jangka waktu panjang dapat menyebabkan peningkatan
risiko terjadinya disfungsi ginjal.
3.
Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian kombinasi parasetamol dan tramadol
terhadap kadar ureum serum tikus wistar.
4.
Teori umum : Nyeri merupakan salah satu penyakit yang prevalensinya meningkat
seiring dengan bertambahnya usia. Diperkirakan satu dari lima orang dewasa
mengalami nyeri dan setiap tahunnya satu dari sepuluh orang mengalami nyeri
kronik. Studi tentang prevalensi nyeri kronik di Inggris menyatakan bahwa 61% pria
dan 54% wanita mengalami nyeri kronik berat. Sedangkan penelitian di Australia
melaporkan sekitar 20% masyarakat beranggapan bahwa nyeri yang dialami
mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Agar intensitas nyeri berkurang, maka dapat
diberikan obat analgesik. Obat analgesik adalah obat yang dapat mengurangi nyeri
tanpa menyebabkan hilangnya kesadaran.3 Kombinasi obat yang berasal dari
golongan yang berbeda dapat memberikan efek analgesik dengan dosis yang lebih
rendah, sehingga dapat mengurangi efek samping penggunaan obat.4 Parasetamol
dan tramadol merupakan contoh kombinasi obat yang sering digunakan dan terbukti
efektif untuk mengobati nyeri sedang hingga berat.
Parasetamol tergolong obat analgesik antipiretik dengan efek anti inflamasi minimal,
yang umumnya digunakan untuk meredakan sakit kepala, demam dan nyeri ringan
hingga sedang.Apabila dikombinasikan dengan analgesik opioid, parasetamol dapat
digunakan untuk pengobatan nyeri yang lebih berat, seperti nyeri paska operasi dan
terapi paliatif untuk pasien kanker. Berbagai macam opioid yang sering
dikombinasikan dengan parasetamol, misalnya seperti kodein/parasetamol,
oxycodone/parasetamol, tramadol/ parasetamol, dan lain-lain.
Tramadol merupakan golongan opioid lemah yang digunakan untuk meringankan
nyeri sedang hingga berat. Efek samping dari tramadol meliputi mual, muntah,
sensasi berputar, sedasi, dan retensi urin. Dibandingkan dengan opioid agonis lain,
seperti morfin dan pethidin, tramadol jarang menyebabkan depresi pada pernapasan
maupun ketergantungan. Kombinasi parasetamol dan tramadol menunjukkan efek
samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan penggunaan tramadol sebagai
monoterapi maupun dengan kombinasi obat lain. Namun, penggunaan parasetamol
dengan dosis berlebihan dapat menimbulkan keracunan dan berpotensi merusak
hepar yang dapat diikuti kerusakan pada beberapa organ lain, salah satunya adalah
ginjal.
Dosis tetap analgesik kombinasi dengan dua obat atau lebih dapat memberikan
manfaat sinergistik untuk mengobati beberapa mekanisme nyeri.9 Studi in vivo pada
tikus menunjukkan bahwa kombinasi parasetamol dan tramadol menghasilkan efek
sinergis pada berbagai dosis.17 Beberapa percobaan lain juga membuktikan bahwa
kombinasi kedua obat tersebut dapat meredakan nyeri dengan lebih cepat,
dibandingkan dengan penggunaan obat sebagai monoterapi.4

5.
Metode penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan Post-Test
Only Control Group Design.
Sampel penelitian adalah tikus wistar jantan sebagai objek penelitian yang memnuhi
kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi penelitian ini, yaitu tikus wistar jantan,
umur 2-3 bulan, sehat dan aktif, berat 200-250 gram, serta tidak terdapat kelainan
anatomi. Sampel dieksklusi jika mati saat adaptasi dan perlakuan. Pemilihan subjek
penelitian dilakukan secara simple random sampling. Sampel kemudian dibagi
menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol, kelompok pemberian parasetamol 9
mg, kelompok pemberian tramadol 0,9 mg, dan kelompok pemberian kombinasi
parasetamol 9 mg dan tramadol 0,9 mg. Pemberian dilakukan secara oral dengan
sonde lambung sebanyak 3 kali sehari selama 14 hari. Hari ke-15, dilakukan
pengambilan darah melalui pembuluh darah retroorbita untuk diukur kadar ureum
serum.
6.
Hasil
hasil yang didapatkan dari penelitian ini menunjukan bahwa tidak terdapat
perubahan kadar ureum serum yang berarti pada ketiga kelompok perlakuan. Pada
kelompok perlakuan 1, pemberian parasetamol pada dosis terapi tidak menyebabkan
perubahan pada kadar ureum serum secara signifikan. Hal ini sesuai dengan
penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa overdosis parasetamol dapat
mengarah kepada disfungsi ginjal, tetapi penggunaan dengan dosis terapi yang
dianjurkan relatif aman dengan efek samping yang rendah.
Parasetamol bekerja dengan menghambat pusat COX, dan diyakini memiliki potensi
lemah untuk menghambat sintesis prostaglandin perifer bila diberikan pada dosis
terapi. Sehubungan dengan metabolisme parasetamol, hanya ada sedikit bukti untuk
pengaruh parasetamol pada fungsi ginjal. Obat dengan aktivitas anti-prostaglandin
dapat mempengaruhi kemampuan ginjal untuk meregulasi tekanan glomerular dan
menurunkan GFR. Tetapi dari salah satu studi sebelumnya didapatkan hasil bahwa
parasetamol telah terbukti tidak berpengaruh pada GFR pada subjek normal.
Serupa dengan kedua kelompok lainnya, kelompok perlakuan 3 juga tidak
menunjukkan perbedaan hasil yang bermakna baik terhadap kelompok perlakuan 1,
2, dan kontrol. Namun pada kelompok perlakuan ini didapatkan peningkatan pada
nilai rata-rata kadar ureum terhadap kontrol yang lebih rendah dibandingkan dengan
kelompok perlakuan lain. Sesuai dengan pernyataan bahwa pemberian analgesik
yang dikombinasikan antara parasetamol dan tramadol dapat mengurangi efek
samping yang timbul, dalam hal ini adalah risiko terjadinya kerusakan pada ginjal
yang ditandai oleh peningkatan kadar ureum pada serum.
7.
Simpulan
Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian obat analgesik kombinasi
parasetamol dosis 9 mg dan tramadol dosis 0,9 mg 3 kali sehari selama 14 hari
secara per oral tidak menyebabkan perbedaan kadar ureum serum yang signifikan.

b.
Studi kasus penggunaan obat analgetika
1.
Rumusan masalah/ diagnosis
Migraine dengan riwayat ulkus pepticum (tukak lambung)
2. Tujuan diskusi
a. Tujuan utama
Menentukan P-drug untuk pengobatan penderita migraine.

b.
Tujuan khusus
Mengetahui alasan-alasan farmakologis pemilihan P-drug tersebut secara rasional,
termasuk efek samping dan konsekuensinya, terutama karena pasien memiliki
riwayat ulkus pepticum (tukak lambung).

3. Kasus
Pak Dodik, 37 tahun, datang ke dokter dengan keluhan nyeri kepala sebelah kanan
selama 2 hari dan kadang-kadang merasa mual. Satu (1) bulan sebelumnya opname
3 hari dan didiagnosis ulkus pepticum. Tensi = 120/70 mmHg, nadi = 80x/menit,
temp.= 37,20 C. Obat apa yang dapat diberikan kepada pak dodik untuk mengatasi
keluhannya?

3.1 Keluhan utama


Nyeri kepala sebelah kanan selama 2 hari dan mual

3.2 Kata kunci

 Nyeri kepala 2 hari

 Mual

 Ulkus Pepticum

 37 tahun

 Tensi = 120/70 mmHg

 Nadi = 80x/ menit

 Temp = 37,20 C

3.3 Diagnosis
Migraine (mild).

3.4 Tujuan pengobatan spesifik


Menurunkan PG pada penderita Migraine.

3.5 Inventarisir kelompok obat yang efektif (perbandingan antar kelompok obat)

Efficacy Safety S
u
i
t
a
b
i
l
i
t
y
Non Selective COX Inhibitor
Salicylic Acid derivatives
Salisilat
Farmakodinamik: Indikasi: S
- Berfungsi sebagai analgesik, anti piretik, anti - Antipiretik e
inflamasi. - Analgesik d
- Efek thd - Demam rheumatik akut i
- Arthritis rheumatoid a
 Pernapasan - Profilaksis thrombus koroner dan thrombus a
vena profundus n
o o Pada dosis terapi: mempertinggi
:
konsumsi O2 dan produksi CO2 sehingga
Intoksikasi: -
meningkatkan pengeluaran CO2 melalui alveoli dan
- Salisilismus (nyeri kepala, pusing, tinnitus,
PCO2 dalam plasma turun (pernapasan lebih dalam
gangguan pendengaran, mata kabur, haus, bingung,
dan frekuensi sedikit bertambah).
mual, dan muntah).
o o Pada dosis lebih besar: merangsang - Lebih berat dapat menyebabkan gejala SSP

pusat napas sehingga terjadi hiperventilasi. (gelisah, cemas, iritatif, vertigo, tremor, delirium,
koma).
o o Keadaan intoxikasi: alkalosis - Gangguan keseimbangan asam basa
respiratorik. - Exsantem pustula akneiform A
- Alkalosis respiratorik s
 Keseimbangan asam basa:
- Acidosis metabolik p
- Hipoglikemi i
o o Sebagai kompensasi alkalosis
- Demam (pada anak) r
respiratorik, maka ekskresi bikarbonat, Na dan K
- Dehidrasi i
melalui ginjal meningkat, sehingga pH darah kembali
n
normal.

(
 Urikosurik (tergantung dosis):
a
o o Dosis 1-2 gr/ hari menghambat s

ekskresi asam urat sehingga kadar dalam darah a

meningkat. m

o o Dosis 2-3 gr/ hari tidak mengubah a


ekskresi asam urat. s
e
o o Dosis 5 gr/ hari peningkatan ekskresi
t
asam urat sehingga kadar asam urat dalam darah
i
menurun.
l

 Darah
s
o o Pada orang sehat memperpanjang, a
masa pendarahan karena asetlasi pada trombosit l
sehingga pembentukan TXA2 terhambat. i
s
o o Dosis kecil: untuk profilaksis i
thrombosis koroner dan cerebral l
a
o o Dosis besar: hati-hati perdarahan
t
mukosa lambung.

d
 Hati dan ginjal
a
o o Hepatotoksis (berkaitan dengan n
dosis).
n
a
o o Bila tjd ikterus harus dihentikan krn
t
dapat terjadi nekrosis hati yang fatal. r
i
o o Dapat menyebabkan Reye Sindrome
u
(terjadi kerusakan hati dan encelopati, berhubungan
m
dengan infeksi Varicella dan virus-virus lainnya).

o o Dapat menurunkan fungsi ginjal s

pada pasien hipovolemia dan gagal jantung. a


l
i
Farmakokinetik: s
- Oral: cepat diabsorbsi. )
- Kadar puncak 2 jam setelah pemberian.
- Secara rectal absorbsi lebih lambat dan tidak
sempurna sehingga tidak dianjurkan.
- Cepat diabsorbsi oleh kulit yang sehat.
- Setelah diabsorbsi segera menyebar ke seluruh
jaringan tubuh dan cairan transeluler sehingga dapat
ditemukan dalam cairan synovial, spinal, peritoneal,
liur, dan air susu.
- Mudah menembus BBB dan sawar uri.
- 80-90% terikat albumin.
- Diserap dalam bentuk utuh, dihidrolisis menjadi
asam salisilat terutama di hati, beredar di plasma
hanya 30 menit.
- Ekskresinya terutama melalui ginjal (bentuk
metabolit), sebagian kecil melalui keringat dan
empedu.

Diflunisal
- Derivat difluorofenil dari asam salisilat, tapi in
vivo tidak diubah jadi asam salisilat.
Indikasi: S
Farmakodinamik: - Analgesik ringan sampai sedang dengan dosis e
- Analgesik dan anti inflamasi, hampir tidak pernah awal 500 mg disusul 250-500 mg tiap 8-12 jam. d
sebagai anti piretik. - Osteoarthritis dosis awal 250-500mg/ hari, di i
mana dosis pemeliharaan tidak melampaui 1,5 gr/ a
Farmakokinetik: hari. a
- Pemberian secara oral. n
- Kadar puncak 2-3 jam. Intoksikasi: :
- T ½ 8-12 jam. - Efek samping lbh ringan daripada asetosa. -
- 99% terikat albumin. - Tak menimbulkan gangguan pendengaran.

t
a
b
l
e
t
Acetaminophen / paracetamol
Farmakodinamik: Indikasi: S
- Efek analgesiknya mengurangi nyeri ringan - Untuk analgesik dan antipiretik dan tidak e
sampai sedang. mempengaruhi GIT bleeding. d
- Menurunkan suhu tubuh. i
- Efek anti inflamasinya sangat lemah (atau tidak Efek Samping: a
ada). - Eritema a
- Paracetamol merupakan penghambat biosintesis - Urtikaria n
PG yang lemah. - Demam :
-
Farmakokinetik: Akibat dosis toksik:
- Diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran - Nekrosis hati
cerna. - Nekrosis tubulus renalis
- Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam - Hipoglikemi
waktu ½ jam. - Kerusakan hati dapat mengakibatkan
- T ½ antara 1-3 jam. ensefalopati dan kematian.
- 25% paracetamol terikat protein plasma. - Radikal bebas dari paracetamol berikatan
- Dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati. secara kovalen dengan makromolekul vital sel hati. T
- Dikonjugasi dengan asam glukoronat. - Hepatotoksik paracetamol meningkat pada a
- Mengalami hidroksilasi. penderita yang juga mendapat barbiturat, anti b
- Metabolit hsl hidroksilasi menimbulkan konvulsi lain, dan alkoholik yang kronis. l
methemoglobinemia & hemolisis eritrosit. e
- Diekskresi melaui ginjal. m
L
Indole & Indene Acetic Acids
Indometacin
- Derivat indole-asam asetat

Farmakodinamik: Efek Samping: D


- Walaupun efektif tapi toksik maka - Pada saluran cerna berupa nyeri abdomen, o
penggunaaannya dibatasi. diare, perdarahan lambung, & pankreatitis. s
- Efek: analgesik (perifer dan sentral), anti - Sakit kepala hebat, depresi, bingung, i
inflamasi, dan anti piretik yang kira-kira sebanding agranulositosis, thrombositopenia, & anemia s
dengan aspirin. aplastik. :
- Invivo menghambat enzim cyclooksigenase. - Vasikonstriksi pembuluh koroner. -
- Hiperkalemi
Farmakokinetik: - Mengurangi natriuretik dari thaizide dan
- Absorbsi per oral cukup baik. furosemide.
- 92-99% terikat protein plasma. - Memperlemah efek hipotensif dari beta
- Metabolisme di hati. blocker.
- Ekskresi dalam bentuk asal maupun metabolik
lewat urine dan empedu. Kontra Indikasi:
- T ½ 24 jam. - Ibu hamil 2
- Anak -
- Gangguan psikiatri 4
- Pasien dengan penyakit lambung
k
Indikasi: a
- Hanya dianjurkan bila NSAID yang lain l
kurang berhasil, misalnya pada spondilitis ankilosa, i
arthritis pirai akut, arthritis tungkai.
2

i
Heteroaryl Acetic Acids
Diclofenac
Farmakokinetik: Efek Samping:
- Absorbsi melalui saluran cerna berlangsung cepat - Mual
dan lengkap. - Gastritis
- 99% terikat protein plasma. - Eritema kulit
- 40-50% mengalami FPE. - Sakit kepala
- T ½ 1-3 jam.
- Terakumulasi di cairan synovial. Kontra Indikasi:
- Tukak lambung
- Pemakaian selama kehamilan

Aryl Propionic Acid


Ibuprofen
- Derivat asam propionate

Farmakodinamik: Efek Samping: D


- Analgesik (efeknya sama seperti aspirin) dengan - Thd saluran cerna lebih ringan dibandingkan o
anti infalamsi yg tidak terlalu kuat. dengan aspirin, indometacin, dan naproksen. s
- Interaksi obat, dengan: - Efek samping yang lain jarang. i
s
 Warfarin: waspada gangguan fungsi trombosit Kontra indikasi: :
yg memperpanjang masa perdrhn. Wanita hamil dan menyusui. -

 Furosemide dan thiazide: mengurangi efek


Indikasi:
diuresis dan natriuresis.
Paling aman untuk anak-anak.
 Beta blocker: prazosin dan captopril
mengurangi efek anti hipertensi.

- Mungkin akibat hambatan biosintesis PG di ginjal.


E
Farmakokinetik: f
- Absorbsi cepat melalui lambung. e
- Kadar puncak 1-2 jam. h
- T ½ 2 jam. a
- 90% terikat protein plasma. .
- Ekskresi cepat, lengkap melalui urine sebagai
metabolit atau konjugatnya.
- Metabolit utama merupakan hasil hidroksilasi dan
karboksilasi.

Ketoprofen
- Derivat asam propionat.

Farmakodinamik: Efek Samping: D


- Efektivitas seperti ibuprofen dengan sifat anti - Gangguan saluran cerna o
inflamasi sedang. - Reaksi hipersensitivitas s
l
Farmakokinetik: )
- Absorbsi baik di lambung.
- T ½ 2 jam.
Fenbufen
Farmakodinamik: Efek Samping: D
- Prodrug sehingga dia sendiri bersifat inaktif. - Sama seperti NSAID lain. o
- Metabolit aktifnya adalah asam-4-bifenil-asetat. s
Kontra Indikasi: i
Farmakokinetik: - Tukak lambung. s
- T ½ 10 jam. - Gangguan ginjal dosis harus dikurangi. :
- Absorbsi melalui lambung baik. -
- Kadar puncak 7,5 jam. Indikasi:
- Rheumatik sendi. .
Naproksen
- Derivat asam propionate
- Naproksen bersama dngan ibuprofen dianggap
paling tidak toksik diantara derivat asam propionat.

Farmakokinetik: Efek Samping: x


- Absorbsi baik melaui lambung. - Dyspepsia ringan sampai perdarahan lambung
- Kadar puncak 2-4 jam. - Efek SSP saikt kepala, pusing, lelah 5
- T ½ 14 jam. - Ototoksisitas 0
- Tidak terdapat korelasi antara efektivitas dan - Gangguan hepar dan ginjal 0
kadar plasma. m
- 98-99% terikat protein plasma. Indikasi: g
- Ekskresi terutama dalam urine, bentuiknya utuh - Rheumatik sendi /
maupun konjugat.
- Interaksi sama dengan ibuprofen. h
a
r
i
.
Antrhanilic Acid (Fenamates)
Asam mefenamat
- Sebagai analgesik. Efek Samping:
- Sebagai anti inflamasi kurang efektif - Dyspepsia.
dibandingkan aspirin. - Iritasi terhadap mukosa lambung.
- Terikat dengan kuat pada protein plasma. - Eritema kulit.
- Brionkokonstriksi.
- Anemia hemolitik.

Kontra Indikasi:
- Anak di bawah 14 tahun.
- Ibu hamil.

Indikasi:
- Pemberian tidak melebihi 7 hari.

Enolic Acids
Piroksikam
- Struktur baru yaitu oksikam, derivat asam enolat. d
a
Farmakokinetik: Efek Samping: k
- T ½ > 45 jam. - Tukak lambung
- Absorbsi cepat di lambung. - Tinnitus m
- 99% terikat protein plasma. - Pusing e
- Siklus enterohepatik (+). - Nyeri kepala m
- Kadar puncak 7-10 hari. - Eritema kulit b
- Kadar plasma kira-kira sama dengan kadar di e
cairan synovial.. Kontra Indikasi: r
- Ibu hamil. i
- Tukak lambung.
- Sedang minum anti koagulan. r
e
Indikasi: h
- Penyakit inflamasi sendi misalnya arthritis
rheumatoid, osteoarthritis, spondilitis ankilosa. a
m
a
n
.
Meloksikam
- Cenderung menghambat COX-2 lebih daripada
COX-1 tetapi penghambatan COX-1 pada dosis terapi
tetap nyata.

Alkalones
Nabumeton
Farmakodinamik: Indikasi:
- Tidak bersifat asam - Osteoarthritis dan arthritis rheumatoid.
- Sifatnya selektif menghambat isoenzim PG untuk
peradangan, tapi kurang menghambat protasiklin Efek Samping:
yang bersifat sitoprotektif. - Lebih sedikit terutama efek samping terhadap
saluran cerna.
Farmakokinetik:
- Merupakan prodrug yang baru aktif setelah
absorbsi dan mengalami konversi.
- Diserap cepat dari saluran cerna dsan di hati akan
dikonversi.
- Merupakan penghambat kuat dari enzim
cyclooksigenase.
- Diinaktivasi di hati secara O-demetilasi dan
dikonjugasi untuk diekskresi.
- Dengan dosis 1 gr/ hari diudapatkan T ½ 24 jam.
- Pada usia lanjut T ½ bertambah panjang dengan 3-
7 jam.

Selective COX-2 Inhibitor


Diaryl-Subtituted Furarones
Rofecoxib
Farmakodinamik: Efek Samping:
- Anti inflamasi, analgesik, anti piuretik. - Efek samping thd GIT menurun
Indikasi
Farmakokinetik: - Osteoarthritis
- T ½ panjang sehingga cukup diberikan 1 hari - Nyeri akut
sekali 60 mg. - Dysmens
- Dosis terapinya tidak menghambat COX-1 dan - Nyeri post OP
tidak menghambat platelet.
Efek Toksik:
- Menghambat sintesis PG di ginjal

Kontra Indikasi:
- Pasien hipertensi
- Gagal ginjal
- Odem
- Stroke
- PJK

Diaryl-Subtituted Pyrazoles
Celecoxib
Indikasi:
- Rheumatoid arthritis, osteoarthritis.

Efek Samping:
- Rash.
- Kurang menimbulkan ulcer dan edema
dibandingkan NSAID lain.

Indole Acetic Acids


Etodolac
Farmakokinetik: Indikasi:
- Masa kerjanya pendek sehingga harus diberikan 3- - Analgesik pasca bedah misalnya bedah
4 kali/ hari koroner
3.6 P-drug (pilihan obat yang rasional)
Berdasar tabel tersebut, maka obat yang terpilih adalah Acetaminophen.

3.7 Alasan farmakologis pilihan P-drug


Pemilihan obat Acetaminophen adalah dilihat dari segi efikasi: obat tsb cocok untuk
menurunkan nyeri kepala dengan jalan menghambat prostaglandine (relevan); dari
segi safety: efek sampingnya tidak mempengaruhi lambung yang mempunyai
riwayat ulkus pepticum; dari segi suitability: banyak sekali bentuk sediaan obat ini;
terakhir dari segi cost: harganya sangat terjangkau.

3.8 Penanganan causa


Pemilihan P-drug yang telah dilakukan hanya berfungsi simptomatik sebagai
analgesik, namun untuk jangka panjang sebaiknya Bapak dodik harus menjauhkan
diri dari faktor2 pencetus migraine atau diperiksaan lebih lanjut jika gejala-gejala
terus dirasakan untuk mengetahui causa pasti dari migraine.

Perlu dipertimbangkan penggunaan 5-HT 1 agonis (Triptan) atau anti-Dopamin


(prochlorperazine) sebagai pengganti atau terapi kombinasi dari Migraine serta
mengurangi mual (aura). Tindakan Propilaxis layak juga untuk dipertimbangkan
untuk mengurangi serangan (Antiepilepsi, antidepresan, dan antihipertensi)

3.9 P-Treatment non drug


Tindakan-tindakan yang menurut penelitian dapat meredakan Migraine yaitu:

1. Body work
2. Massage

3. Creative arts (Menari , musik)

4. Nutrisi / suplemen (vitamins),

5. Eastern medicine (yoga),

6. Acupressure and acupuncture.

P-drug untuk pasien adalah Acetaminophen.

 Bentuk sediaan : Tablet 500 mg

 Cara pemberian : oral

 Interval : 4-6 jam

 Max dosis : 4 gram per hari (tidak boeh lebih)

 Lama pemberian : simptomatik.

 Efek samping : Eritema, Urtikaria, Demam, jaundice, kehilangan


nafsu makan
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
1. a. Analgesik adalah obat yang mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran.
b. Antipiretik adalah obat yang menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Jadi
analgetik-antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak
menurunkan suhu tubuh yang tinggi.
c. Antiinflamasi adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan
peradangan
2. Umumnya cara kerja analgetik-antipiretik adalah dengan menghambat sintesa
neurotransmitter tertentu yang dapat menimbulkan rasa nyeri & demam. Dengan
blokade sintesa neurotransmitter tersebut, maka otak tidak lagi mendapatkan "sinyal"
nyeri,sehingga rasa nyerinya berangsur-angsur menghilang.
3. Macam-macam analgesik ada 2 macam, yaitu: Analgesik Narkotik dan
Analgesik Non-Narkotik. Analgesik Narkotik merupakan turunan poium yang
berasal dari tumbuhan Papaver somniferum atau dari senyawa sintetik. Sedangkan
Analgesik Non-Narkotik tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Obat- obat
ini dinamakan juga analgetika perifer, karena tidak mempengaruhi Sistem Saraf
Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau mengakibatkan ketagihan
4. Penggunaan obat Analgetik-Antipiretik pada saat mengandung bagi ibu hamil
harus diperhatikan. Ibu hamil yang mengkonsumsi obat secara sembarangan dapat
menyebabkan cacat pada janin. Jadi penggunaan Analgesik-Antipiretik harus benar-
benar konsul terlebih dahulu dan menggunakan resep dokter.

5. a. Contoh Obat Analgesik Narkotik sekarang masih digunakan di Indonesia :


- Morfin HCL,
- Kodein (tunggal atau kombinasi dengan parasetamol),
- Fentanil HCL,
- Petinidin, dan
- Tramadol.
b.Obat-obat Analgesik Non-Narkotik disebut juga sebagai obat Analgesik-
Antipiretik (Obat- obat ini dinamakan juga analgetika perifer, karena tidak
mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau mengakibatkan
ketagihan, Semua analgetika perifer juga memiliki kerja antipiretik, yaitu
menurunkan suhu badan pada keadaan demam, maka disebut juga analgetik
antipiretik. Khasiatnya berdasarkan rangsangannya terhadap pusat pengatur kalor di
hipotalamus, yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit) dengan
bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluarnya banyak keringat. Obat-obat
yang banyak digunakan sebagai analgetik dan antipiretik adalah golongan salisilat
dan asetaminofen (parasetamol).
3.1 SARAN
 Untuk obat analgesik-antipiretik , dianjurkan jangan terlalu mengkonsumsi
obat ini secara berlebihan dikarenakan dapat menyebabkan ketergantungan bagi
pemakainya.
 Dan untuk obat anti inflamasi pengguna juga di harapkan tidak terlalu
berlebihan atau ketergantungan karena mekanisme kerja obat ini dapat menyebabkan
terjadinya perubahan kerja enzim.

3. Obat-Obat NSID, selain Obat parasetamol tidak disarankan untuk digunakan


oleh wanita hamil, terutama pada trimester ketiga. Namun parasetamol dianggap
aman digunakan oleh wanita hamil namun harus diminum sesuai aturan karena dosis
tinggi dapat menyebabkan keracunan hati.

DAFTAR PUSTAKA
Latief. S. A, Suryadi K. A, dan Dachlan M. R, Petunjuk Praktis Anestesiologi, Edisi
II, Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-UI, Jakarta, Juni, 2001, hal ; 77-83,
161.
Sardjono, Santoso dan Hadi rosmiati D, Farmakologi dan Terapi, bagian farmakologi
FK-UI, Jakarta, 1995 ; hal ; 189-206.
Samekto wibowo dan Abdul gopur, Farmakoterapi dalam Neuorologi, penerbit
salemba medika, 1995; hal : 138-14
Katzung, B.G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik buku 2. Jakarta : Salemba
Medika.
Widodo, Samekto dan Abdul Gofir . 2001. Farmakoterapi dalam Neurologi . Jakarta
: Salemba Medika
Deglin, Judith Hopfer . 2005. Pedoman Obat Untuk Perawat. Jakarta : EGC