Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dengan semakin luasnya pelaksanaan upaya kesehatan dan keberhasilan
pembangunan nasional pada semua sector, sehingga hal tersebut mendorong peningkatan
kesejahteraan sosioekonomi serta kesehatan. Pendekatan yang harus dilakukan dalam
melaksanakan program kesehatan adalah pendekatan kepada keluarga dan masyarakat.
Pendekatan ini lebih memprioritaskan upaya memelihara dan menjaga yang sehat semakin
sehat serta merawat yang sakit agar menjadi sehat. Keberadaan usia lanjut ditandai dengan
umur harapan hidup yang semakin meningkat dari tahun ke tahun , hal tersebut membutuhkan
upaya pemeliharaan serta peningkatan kesehatan dalam rangka mencapai masa tua yang
sehat, bahagia, berdaya guna, dan produktif (pasal 19 UU No. 23 tahun 1992 tentang
kesehatan).
Penuaan adalah suatu prose salami yang tidak dapat dihindari, berjalan secara terus
menerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan mengakibatkan perubahan anatomis,
fisiologis, dan biokimia pada tubuh, sehingga akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan
tubuh secara keseluruhan. Menjadi tua ditandai dengan adanya kemunduran biologis yang
terlihat sebagai gejala-gejala kemunduran fisik, antara lain kulit menjadi mengendur, timbul
keriput, rambut menjadi beruban, gigi mulai ompong, pendengaran dan penglihatan
berkurang, mudah lelah, gerakan menjadi lamban dan kurang lincah, serta terjadi penimbunan
lemak terutama di perut dan pinggul. Kemunduran lain yang terjadi adalah kemampuan-
kemampua1n kognitif seperti suka lupa, kemunduran orientasi terhadap waktu, ruang, tempat
serta tidak mudah menerima ide baru. Usia lanjut dapat dikatakan usia emas, karena tidak
semua orang dapat mencapai usia tersebut, maka orang yang berusia lanjut memerlukan
tindakan keperawatan, baik yang bersifat promotif maupun yang preventif, agar ia dapat
menikmati masa usia emas serta menjadi usia lanjut yang berguna dan bahagia.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana edukasi lansia dan strategi Pendidikan Kesehatan Pada Lansia?
1.3 Tujuan Masalah
Mengetahui Metode Pelaksanaan Pendidikan Kesehatan Pada Lansia.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFENISI LANSIA
Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Menua
bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-angsur
mengakibatkan perubahan kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan
tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh, seperti didalam
Undang-Undang No 13 tahun 1998 yang isinya menyatakan bahwa pelaksanaan
pembangunan nasional yang bertujuan mewujudkan masyarakat adil dan makmur
berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945, telah menghasilkan kondisi
sosial masyarakat yang makin membaik dan usia harapan hidup makin meningkat,
sehingga jumlah lanjut usia makin bertambah.
Banyak diantara lanjut usia yang masih produktif dan mampu berperan aktif
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Upaya peningkatan
kesejahteraan sosial lanjut usia pada hakikatnya merupakan pelestarian nilai-nilai
keagamaan dan budaya bangsa. Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaaan yang
terjadi di dalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang
hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan
kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah
melalui tiga tahap kehidupan, yaitu anak, dewasa dan tua.

B. CIRI – CIRI LANSIA


Ciri-ciri lansia adalah sebagai berikut :
a) Lansia merupakan periode kemunduran.
Kemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan faktor psikologis.
Motivasi memiliki peran yang penting dalam kemunduran pada lansia. Misalnya
lansia yang memiliki motivasi yang rendah dalam melakukan kegiatan, maka akan
mempercepat proses kemunduran fisik, akan tetapi ada juga lansia yang memiliki
motivasi yang tinggi, maka kemunduran fisik pada lansia akan lebih lama terjadi.
b) Lansia memiliki status kelompok minoritas.

2
Kondisi ini sebagai akibat dari sikap sosial yang tidak menyenangkan terhadap
lansia dan diperkuat oleh pendapat yang kurang baik, misalnya lansia yang lebih
senang mempertahankan pendapatnya maka sikap sosial di masyarakat menjadi
negatif, tetapi ada juga lansia yang mempunyai tenggang rasa kepada orang lain
sehingga sikap sosial masyarakat menjadi positif.
c) Menua membutuhkan perubahan peran.
Perubahan peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami kemunduran
dalam segala hal. Perubahan peran pada lansia sebaiknya dilakukan atas dasar
keinginan sendiri bukan atas dasar tekanan dari lingkungan. Misalnya lansia
menduduki jabatan sosial di masyarakat sebagai Ketua RW, sebaiknya masyarakat
tidak memberhentikan lansia sebagai ketua RW karena usianya.
d) Penyesuaian yang buruk pada lansia.
Perlakuan yang buruk terhadap lansia membuat mereka cenderung
mengembangkan konsep diri yang buruk sehingga dapat memperlihatkan bentuk
perilaku yang buruk. Akibat dari perlakuan yang buruk itu membuat penyesuaian
diri lansia menjadi buruk pula. Contoh : lansia yang tinggal bersama keluarga
sering tidak dilibatkan untuk pengambilan keputusan karena dianggap pola
pikirnya kuno, kondisi inilah yang menyebabkan lansia menarik diri dari
lingkungan, cepat tersinggung dan bahkan memiliki harga diri yang rendah.

C. DEFENISI PENDIDIKAN KESEHATAN


Pendidikan kesehatan dalam arti pendidikan. secara umum adalah segala upaya yang
direncanakan untuk mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok, atau
masyarakat, sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan
atau promosi kesehatan. Dan batasan ini tersirat unsure-unsur input (sasaran dan
pendidik dari pendidikan), proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi
orang lain) dan output (melakukan apa yang diharapkan).
Hasil yang diharapkan dari suatu promosi atau pendidikan kesehatan adalah perilaku
kesehatan, atau perilaku untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang
kondusif oleh sasaran dari promosi kesehatan.

D. EDUKASI LANSIA
Edukasi pada usia lanjut terdiri dari :
1. Komponen penyebarluasan informasi kesehatan dengan melakaukan kegiatan :

3
 Mengembangkan, memproduksi, dan menyebarluaskan bahan – bahan
penyukuhan kesehatan masyarakat usia lanjut
 Meningkatkan sikap, kemampuan dan motivasi petugas
 Melengkapi puskesmas dan rujukannya dengan saran dan bahan penyuluhan
 Meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk media massa agar
pesan kesehatan masayarakat usia lanjut menjadi bagian integral.
 Meningkatkan penyuluhan kepda masyarakat umum dan kelompok khusus
seperti daera terpencil, transmigrasi dan lain – lain
 Menyebarluaskan informasi secara khusus dalam keadaan darurat seperti
wabah, bencana alam, dan kecelakaan
2. Komponen pengembangan potensi swadaya masyarakat di bidang kesehatan
dengan kegiatan antara lain :
 Melaksanakan kemampuan dan motivasi terhadap kelompok masyarakat,
termasuk swasta yang melaksanakan pengembangan potensi swadaya
masyarakat di bidang kesehatan usia lanjut secara sistemastis dan
berkesinambungan
 Mengembangkan, memproduksi , dan menyebarluaskan pedoman penyuluhan
kesehatan usia lanjut untuk para penyelenggara penyuluhan, baik pemerintah
maupun swasta
3. Komponen pengembangan penyelengaraan penyuluhan dengan kegiatan
 Melengkapi masukan penyuluhan pada usia lanjut
Langkah – langkah yang perlu diperhatikan dari pendidikan kesehatan pada
usia lanjut :
a. Perencanaan sudah dimulai dengan kegiatan tersebut diatas, dimana
masalah kesehatan, masyarakat usia lanjut, dan wilayahnya jelas sudah
diketahui.
b. Pelaksanaan pendidikan kesehatan masyarakat usia lanjut harus berdaya
guna serta berhasil guna
c. Merici tujuan jangka pendek, jangkah menengah, dan jangka panjang
yang harus jelas, realistis, dan bisa diukur
d. Jangkauan pendidikan harus dirinci, pendekatan ditetapkan dan dicapai
lebih objektif, rasional hasil sasarannya
e. Penyusunan pesan – pesan pendidikan

4
f. Pengembangan peran serta masyarakat, kemampuan penyelenggaraan
benar – benar tepat guna untuk dipergunakan
g. Memilih media atau slauran untuk mengembangkan peran serta
masyarakat dan kemampuan penyelenggaraan .
E. Melaksanakan Pendidikan Kesehatan Pada Lansia
1. Promosi Kesehatan dan Strategi Proteksi Kesehatan untuk Komunitas Lansia
Promosi kesehatan dan proteksi kesehatan adalah dua elemen pencegahan
primer. Promosi kesehatan menekankan pada upaya membantu masyarakat
mengubah gaya hidup mereka dan bergerak menuju kondisi kesehatan yang
optimum sedangkan fokus proteksi kesehatan adalah melindungi individu dari
penyakit dan cedera dengan memberikan imunisasi dan menurunkan pemajanan
terhadap agens karsinogenik toksin dan hal – hal yang membahayakan kesehatan
di lingkungan sekitar. Konsep kesehatan lansia harus ditinjau kembali dalam
upaya merencanakan intervensi promosi kesehatan. Kesehatan lansia sebagai
kemampuan lansia untuk hidup dan berfungsi secara efektif dalam masyarakat
serta untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan otonomi sampai pada tahap
maksimum, tidak hanya terbebas dari penyakit. Apabila dibandingkan dengan
kelompok usia lainnya di Amerika lansia lebih aktif dalam mencari informasi
mengenai kesehatan dan mempunyai kemauan untuk mempertahankan kesehatan
dan kemandirinya. Promosi kesehatan harus benar – benar berfokus pada perilaku
beresiko yang dapat dimodifikasi yang disesuaikan dengan masalah kesehatan
utama menurut usia (USDHHS, 1998)Secara umum, pelayanan kesehatan untuk
lansia memiliki tiga tujuan :
 Meningkatkan kemampuan fungsional
 Memperpanjang usia hidup
 Meningkatkan dan menurunkan penderita
Dalam memaksimalkan promosi kesehatan lansia di komunitas dibutuhkan
suatu pendekatan multiaspek. Target intervensi harus mengarah pada individu
dan keluarga serta kelompok dan komunitas
2. Intervensi Berfokus – Individu atau Kelompok
Intervensi promosi kesehatan / proteksi kesehatan berfokus – individu atau
keluarga dirancang dalam upaya meningkatkan pengetahuan keterampilan dan
kompetensi individu atau keluarga untuk membuat keputusan kesehatan yang

5
memaksimalkan promosi kesehatan dan perilaku proteksi kesehatan. Tujuannya
adalah mendayagunakan lansia dan keluarganya dalam membuat keputusan
kesehatan yang rasional. Beberapa kategori yang termasuk ke dalam intervensi
promosi kesehatan dan proteksi kesehatan dengan target individu dan / atau
keluarga adalah :
a. Skrining kesehatan
b. Modifikasi gaya hidup
c. Pendidikan kesehatan ( individu atau kelompok )
d. Konseling
e. Kelompok pendukung
f. Pelayanan kesehatan primer
g. Keamanan di rumah
h. Perawatan di rumah ( pelayanan kesehatan di rumah, perawatan personal
atau bantuan rumah tangga).
i. Dukungan sosial ( penjaminan kembali telepon dan kunjungan rumah
3. Intervensi berfokus pada komunitas
Intervensi berfokus komunitas adalah aktivitas dan program yang diarahkan pada
lansia komunitas secara keseluruhan atau sub kelompok lansia yang beragam di
komunitas. Tujuan intervensi berfokus komunitas adalah meningkatkan kapasitas dan
ketersediaan komunitas terhadap pelayanan gabungan kesehatan dan sosial yang sesuai
dan dibutuhkan dalam upaya mempertahankan kemandirian dan status fungsional lansia
di komunitas. Intervensi di komunitas terutama melibatkan advokasi tindakan politis dan
partisipasi dalam pembuatan kebijakan yang memengaruhi lansia di komunitas. Contoh
intervensi berfokus komunitas adalah sebagai berikut :
o Kampanye pendidikan kesehatan di masyarakat luas yang menekankan pada
masyarakat lansia
o Mengadakan kampanye pada bulan mei yang telah ditetapkan sebagai older
American Month ( bulan lansia Amerika )
o Koalisi komunitas untuk menangani isu spesifik lansia seperti pengembangan
pusat informasi lokal, botlines telepon atau situs internet
o Keterlibatan politis untuk advokasi kebutuhan lansia seperti mempertahankan
atau memperluas tanggunagan medicare untuk pelayanan di rumah

6
o Kolaborasi dengan universitas, gereja pusat perkumpulan lansia proyek
pemukiman lansia serta organisasi komunitas lain yang tersedia untuk
memberikan pelayanan yang komprehensif kepada subkelompok asia
o Aktivitas pencegahan kejahatan
o Berpartisipasi dalam pameran kesehatan berfokus pada komunitas.
4. Kemitraan dengan Komunitas Lansia
Secara umum komunitas lansia terbuka untuk praktik kesehatan baru dan berespons
terhadap bermacam – macam pendekatan yang berpotensi meningkatkan kesehatan
mereka. Dalam merencanakan program kesehatan yang efektif perawat kesehatan
komunitas harus memvalidasi strategi dan tujuan bersama kelompok lansia yang
ditargetkan. Keterlibatan lansia dalam merencanakan promosi kesehatan dan aktivitas
pencegahan penyakit adalah hal yang esensial karena lansia sensitif terhadap
kehilangan potensi kemandiriannya. Oleh karena itu jika lansia dilibatkan rasa
kemandirian mereka akan menngkat. Tahapan tindakan yang dilakukan ketika bekerja
dengan lansia di komunitas antara lain:
1. Jalankan program ditempat – tempat biasa lansia berkumpul seperti gereja,
senior center, dan tempat perkumpulan pensiunan.
2. Libatkan aktivitas outreach ke dalam seluruh program
3. Siapkan sarana transportasi menuju tempat aktivitas kelompok
4. Antisipasi kebutuhan lansia yang memiliki pandangan dan / atau penglihatan
tidak adekuat ( contoh penggunaan tulisanyang besar, membatasi penggunaan
makalah, penggunaan ruangan yang tenang dan / atau pengeras suara yang
adekuat.
5. Pertahankan aktivitas secara berlahan dan berikan waktu yang cukup untuk
berespons
6. Berikan waktu yang cukup bagi para lansia untuk berbagi pengalaman hidup
7. Pertahankan pengajaran dalam waktu yang relatif singkat
8. Lakukan pengulangan ganda dan penguatan informasi
9. Susunlah aktivitas pendidikan kesehatan yang dapat memberikan rasa nyaman
pada para lansia dalam mengajukan pertanyaan dan atau menanyakan informasi
baru atau informasi yang masih meragukan mereka
10. Dorong keterlibata keluarga, teman dan kerabat
11. Advokasi untuk meningkatkan sumber sumber yang ada di komunitas serta
kebijakan yang memengaruhi lansia

7
F. STRATEGI DALAM PENDIDIKAN KESEHATAN
A) Pelayanan kesehatan
Kebutuhan promosi kesehatan dan proteksi kesehatan lansia di komunitas a.
Pelayanan Kesehatan Lansia berusia lebih dari 65 tahun membutuhkan pelayanan
kesehatan primer yang teratur untuk mempertahankan kesehatan dan mencegah
penyakit 13 kronik kecacatan serta kondisi yang mengancam hidupnya. Pelayanan
promosi kesehatan yang dapat mendasari intervensi keperawatan komunitas meliputi :
a. Imunisasi ( influenza, difteri, tetanus, vaksin, pneumokokus )
b. Skrining penyakit kronik seperti kanker penyakit kardiovaskuler, dan
diabetes.
c. Manajemen dan pengendalian penyakit kronis yang ada ( pendidikan
kesehatan, manajemen kasus,dan manajemen medikasi).
d. Pengetahuan tentang praktik penggantia dan tangguan biaya ( termasuk
biaya pengobatan alternatif ) dari Medicare/Medicare Managed Care,
asuransi Medicare tambahan, dan program asuransi kesehatan spesifik.
e. Program outreach dan upaya advokasi untuk menjamin akses lansia pada
sumber-sumber yang dibutuhkan; seperti advokasi kesehatan, pelatihan
kesehatan, dan pengendali akses di komunitas, Personel yang ditugaskan
bisa karyawan perusahaan swasta, staf gereja, dan karyawan perudahaan
BUMN yang dapat merujuk lansia kepada sumber-sumber yang ada di
komunitas (Florioet al, 1996).
f. Rujukan kepada program bantuan farmasi negara yang ada serta advokasi
untuk membuat program yang mereka butuhkan.
g. Pendidikan mengenai manajemen medikasi ( penjadwalan, kepatuhan,
kalender, dan sebagainya ).
h. Sumber berkelanjutan datri pelayanan primer.
i. One stop shopping untuk pelayanan kesehatan.
j. Hubungan kepada kelompok pendukung penyakit kronik.

B) Nutrisi
Nutrisi adekuat adalah hal paling penting bagi lansia dalam
mempertahankan kesehatan, mencegah penyakit, yang memperlambat
perkembangan penyakit kronis yang di derita. Dalam upaya membantu lansia

8
meningkatkan dan mempertahankan status nutrisinya, pengkajian nutrisi dan
membangun kekuatan yang ada adalah hal yang sangat membantu. Daftar
Periksa Skrining Nutrisi ( Nutrision Screning Checklist ) yang dibuat oleh
American Academy of Family Physicians, American Dietetic Association, dan
National 14 Council on Aging ( Nutrition Screning Initiative, 1992 ) adalah
alat pengkajian nutrisi yang sangat baik. Berikut ini adalah program kemitraan
dalam bidang kesehatan nutrisi yang dapat Anda pertimbangkan.
C) Makan sehat dan enak
Rencanakan kelas atau serial kelas nutrisi yang berfokus pada nutrisi
dasar dan manajemen resiko nutrisi ( rendah garam, rendah lemak, rendah
gula, tinggi serat dan sebagainya ). Apabila kebutuhan terhadap diet gula
khusus harus dibahas, pertimbangkan untuk mengadakan serial kelas dan
bentuk kelompok menurut ingkatran kebutuhan diet spesifiknya. Kelas nutrisi
akan lebih efektif jiak penyajiannya sangat interaktif dengan para partisipan-
mencicipi dan berbagi resep, membangun kebiasaan positif yang ada, dan
memasukkan makanan yang etnis. Pemasangan poster dengan tulisan yang
besar dan berwarna-warni serta tayangan video aalah langkah yang tepat.
Makalah juga bisa membantu. Ingat, lansia senang membicarakan dan
menceritakan pengalaman hidup mereka. Berikan hadiah kepda lansia yang
menghadiri kelas, seperti tongkat, kanduk kertas, makaronidan makanan yang
tidak cepat membusuk. Dapatkan bantuan hadiah dari toko yang menjual
bahan makanan. Tantangan terbesarnya adalah enumbuhkan minat para lansia
untukmenghadirikelas ini. Pertimbangkan individu dari komunitas atau
kelompok teman sebaya untuk membantu marketing dan program outreach.
D) Olahraga dan Kebugaran
Manfaat olahraga telah dibuktikan sepanjang rentang kehidupan
manusia. Olahraga untuk lansia harus mempertimbangkan kesehatan dan
status fungsionalnya. Di bawah ini adalah beberapa bentuk program olahraga
kebugaran.
a) DUDUK MENENDANG KE ATAS: OLAHRAGA UNTUK LANSIA”
Ketika mengadakan klinik skrining tekanan darah dipusat nutrisi lansia,
perawat mengobservasi bahwa pengunjung sering kali datang sekitar pukul
8 pagi. Mereka mengisi waktu dengan duduk-duduk sampai makan 15
siang dihidangkan pada pukul 12 siang. Mereka bermain permainan meja

9
seperti kartu atau domino, tetapi aktivitas fisik mereka sedikit. Ketika
memeriksa tekanan darah, perawat menanyakan tentang aktivitas fisik
yang lansia lakukan dan memperoleh informasi bahwa kebanyakan lansia
tidak merasa aman untuk berjalan di sekitar lingkungan mereka atau
mereka belum mengetahui bentuk lain dari olahraga. Setelah memvalidasi
kebutuhan terhadap tipe olahraga ringan ( low-impact ) yang dapat
dilakukan di kursi,suatu program dikembangkan dan beberapa pertisipan
dilatih sebagai instruktur olahraga. Rogram tersebut dinamakan “Duduk,
Menendang ke Atas: Olahraga untuk Lansia”. Dengan bimbingan
sukarelawan instruktur olahraga, program telah dimasukkan secara nyata
ke dalam jadwal aktivitas sehari-hari.
b) Pencegahan jatuh Jatuh adalah masalah besar pada lansia. Anda mungkin
hendak membangun sebuah tim dengan ahli terapi oku pasional dan ahli
terapi fisik untuk mengadakan kelas pencegahan jatuh pada lokasi tempat
para lansia biasa berkumpul ( ya , mungkin saja anda tidak dapat
mempengaruhi para lansia untuk datang mengahadiri kelas ini yang justru
sangat mereka butuhkan; para lansia tersebut berada di rumahanya karena
meraka takut jatuh jika mereka pergi keluar). Beberapa individu dapat
memberikan koesioner mengenai pengkajian jatuh, sebagian lagi dapat
melakukan tes keseimbangan, mendemonstrasikan cara – cara untuk
mencegah jatuh dan memberikan konseling individual mengenai hal – hal
yang dapat menyebabkan jatuh. Proyek kolaborasif multidisiplin ini dapat
berdampak sangat besar terhadap masalah yang terkadang mengakibatkan
lansia kehilangan kemandiriannya atau bahkan dapat membawa kepada
kematian. Anda mungkin perlu memasarkan proyek ini serta mendapatkan
tempat untuk skrining, tes keseimbangan, demonstrasi dan konseling.
Pertimbangkan untuk memiliki formulir pernyataan dan persetujuan untuk
menjalani tes keseimbangan pada setiap kejadian jatuh.
c) Keamanan komunitas
Dalam upaya menurunkan ketakutan lansia terhadap kekerasan yang sering
menghantui mereka, perawat perlu bekerja sama dengan lembaga penegak
hukum setempat untuk mengembangkan program komunitas. Prototipe
program meliputi neighborbood crime watch program, citizens on patrol
dan program keamanan organisasi kemasyarakatan lainnya. Lansia

10
membutuhkan pendidikan yang mencakup program pertahan diri, baik
secara fisik maupun secara psikologis. Kampanye media di masyarakat
harus berkonsentrasi pada upaya menumbuhkan kewaspadaan lansia
terhadap tipe – tipe kejahatan spesifik di dalam masyarakat, termasuk
frekuensi dan waktu kejadian. Selain itu, menabungkan cek bulanan untuk
menurunkan kerentanan terhadap kejahatan.
d) Keamanan berkendara
Seiring dengan peningkatan presentasi lansia di amerika, jumlah
pengendara lansia juga semakin banyak. Derekomendasikan agar
pengendara lansia belajar mengemudi kembali untuk mengakomodasikan
perubahan neuromuskular dan sensorik yang terjadi seiring proses menua.
Pengendara lansia dianjurka untuk mengevaluasi kemabli secara periodik
kemampuan mereka dalam mengemudi, termasuk pemerikasaan
penglihatan / pendengaran dan evaluasi perubahan fisik lainnya dapat
mempengaruhi mereka dalam berkendara. AARP mensponsori 55 ALIVE
/ Mature Driving Program untuk membantu pengendara yang berusia
lanjut meningkatkan kemampuan berkendaranya, mencegah tabrakan
kendaraan dan menghindari pelanggaran lalu lintas (AARP, 1999a) .
AARP juga menerbitkan Older Driver Assesment and Resource Guide (
panduan pengkajian dan sumber pengemudi lansia) yang disediakan secara
gratis. Pengemudi yang berusia lanjut harus mengacu kepada sumber ini
atau sumber lain yang ada di komunitas.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Melaksanakan pendidikan kesehatan pada lansia mencakup :Promosi
kesehatan dan strategi proteksi kesehatan untuk komunitas lansia,Intervensi berfokus
– individu atau kelompok,Intervensi berfokus pada komunitas, Kemitraan dengan
komunitas lansia.
Penuaan adalah suatu prose salami yang tidak dapat dihindari, berjalan secara
terus menerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan mengakibatkan perubahan
anatomis, 49 fisiologis, dan biokimia pada tubuh, sehingga akan mempengaruhi
fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan. Secara fisik lansia akan mengalami
kemunduran dalam aktifitas, kemunduran organ dan berbagai kelemahan fisik.
Perlindungan kesehatan dan promosi kesehatan merupakan hal yang mendesak dan
juga merupakan kerangka kerja yang tepat untuk merawat lansia. Perawat profesional
untuk lansia mengenal bahwa pencegahan untuk orang yang berusia 65 tahun yang
dapat diharapkan hidup 20 tahun lagi merupakan komponen penting dalam perawatan
kesehatan.

B. Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaaat bagi pembaca dan khususnya kelompok,dan
menambah wawasan mengenai edukasi kepada lansia.

12
DAFTAR PUSTAKA

Hardiwiyanto dan setiabudhi tony (1999). Panduan gerontology : tinjauan dari


berbagai aspek. Jakarta : Gramedia.
Lueckenotte (2000). Pengkajian gerontology edisi 2. EGC jakarta.
Reichel William (2000). Geronotologi EDISI 2. EGC Jakarta.
Wahyudi Nugroho ( 2000), Keperawatan Gerontik Edisi 2 , EGC Jakarta.
Maryam, R.Siti, dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta:
Salemba Medika

13
MAKALAH EDUKASI LANSIA

DAN STRATEGI PENDIDIKAN

KESEHATAN

OLEH :

KELOMPOK 3

 NELVA ROZA

 NURLENI

 RESI SRI HASNURITA

 RIKA ERMA YANCE

 RESPOLITA

 ROSI SUSANTI

Kelas : NR.Kep 10 .A

STIKES SYEDZA SAINTIKA

PADANG 2018

14