Anda di halaman 1dari 6

Komponen Hematologi

a. Darah
Darah merupakan jaringan cair yang sangat penting bagi manusia yang
memiliki banyak kegunaan untuk menunjang kehidupan. Tanpa darah yang
cukup seseorang dapat mengalami gangguan kesehatan dan bahkan dapat
mengakibatkan kematian. Darah terdiri atas dua bagian, bagian cair yang
disebut plasma dan unsur –unsur padat yaitu sel-sel darah. Darah membentuk
6 sampai 8% dari berat badan tubuh total, volume darah secara keseluruhan
kira – kira 5 liter. Tiga jenis sel darah utama adalah sel darah merah (eritrosit),
sel darah putih (leukosit) dan keping darah (trombosit). Cairan kekuningan
yang membentuk medium cairan darah yang disebut plasma darah membentuk
55% dari volume darah total. Sedangkan 45% sisanya adalah sel darah.
Eritrosit menempati bagian besar volumenya yaitu sekitar 99%, trombosit (0,6
– 1,0%) dan leukosit (0,2%).
a. Fungsi Darah Pada Tubuh Manusia
1. Fungsi utama darah adalah untuk transportasi
2. Eritrosit tetap berada dalam sistem sirkulasi
a. Mengangkut Hemoglobin (Hb) → mengangkut oksigen dari paru-
paru ke jaringan, Hb merupakan pengatur keseimbangan asam basa
b. Mengkatalisis reaksi CO2 dan air secara cepat dengan bantuan
enzim karbon anhidrase
3. Leukosit bertanggung jawab terhadap pertahanan tubuh dan diangkut
oleh darah ke berbagai jaringan tepat sel – sel tersebut melakukan
fungsi fisiologiknya.
4. Trombosit berperan mencegah tubuh kehilangan darah akibat
perdarahan.
5. Plasma merupakan pengangkut utama zat gizi dan produk sampingan
metabolik ke organ-organ tujuan untuk penyimpanan atau ekskresi.
6. Eosinofil berperan untuk melakukan fagositosis, yaitu memusnahkan
setiap sel asing yang memasuki tubuh.
b. Plasma; air, elektrolit (inorganik), zat sisa,hormone, gas(organik), protein
plasma
Air plasma berfungsi sebagai medium bagi bahan-bahan yang dibawa
oleh darah. Karena air juga memiliki kapasitas besar untuk menahan panas,
maka plasma dapat menyerap dan menyebarkan sebagian besar dari panas yang
dihasilkan oleh proses metabolisme di dalam jaringan, sementara suhu darah
itu sendiri hanya mengalami sedikit perubahan. Sewaktu darah mengalir
mendekati permukaan kulit, energi panas yang tidak dibutuhkan untuk
mempertahankan suhu tubuh dikeluarkan ke lingkungan.
Sejumlah besar bahan inorganik dan organik terlarut dalam plasma.
Konstituen inorganik membentuk sekitar 1% dari berat plasma. Elektrolit (ion)
paling banyak dalam plasma adalah Na+ dan Cl-, komponen garam dapur.
Terdapat juga HCO3-, K+, Ca2+, dan bahan lain dalam jumlah lebih kecil.
Fungsi terpenting ion-ion ini adalah perannya dalam eksitabilitas membran,
distribusi osmotik cairan antara CES dan sel, dan menyangga perubahan pH.
Konstituen organik yang paling banyak berdasarkan berat adalah
protein plasma, yang membentuk 6% sampai 8% dari berat total plasma.
Persentase kecil plasma sisanya terdiri dari bahan organic lain, termasuk
nutrien (misalnya glukosa, asam amino, lemak, dan vitamin), produk sisa
(kreatinin, bilirubin, dan bahan bernitrogen seperti urea), gas larut (O2, dan
CO2), dan hormon. Sebagian besar dari bahan ini hanyalah bahan yang
diangkut oleh plasma. Sebagai contoh, kelenjar endokrin mengeluarkan
hormon ke dalam plasma, yang mengangkut perantara kimiawi ini ke tempat
kerja mereka.
Albumin, protein plasma yang paling banyak dan berperan besar dalam
menentukan tekanan osmotik koloid berkat jumlahnya. Protein ini secara
nonspesifik juga berikatan dengan banyak bahan yang kurang larut dalam
plasma (misalnya bilirubin, garam empedu, dan penisilin) untuk transportasi
dalam plasma.
Selain albumin terdapat protein plasma lainnya yaitu globulin. Globulin
terdapat tiga subkelas antara lain adalah alfa, beta, dan gama. Seperti albumin,
sebagian dari globulin alfa dan beta mengikat bahan-bahan yang kurang larut
dalam plasma untuk transportasi dalam plasma, tetapi globulin ini sangat
spesifik terhadap bahan yang akan mereka ikat dan angkut. Contoh bahan yang
diangkut oleh globulin spesifik adalah hormon tiroid, kolesterol, dan besi.
Banyak dari faktor yang berperan dalam proses pembekuan darah adalah
globulin alfa atau beta. Protein-protein darah inaktif, yang diaktifkan sesuai
kebutuhan oleh masukan regulatorik tertentu, termasuk dalam golongan
globulin alfa (misalnya globulin alfa angiotensinogen diaktifkan menjadi
angiotensin, yang beperan penring dalam mengatur keseimbangan garam
dalam tubuh. Globulin gamma adalah imunoglobulin (antibodi), yang sangat
penting bagi mekanisme pertahanan. Fibrinogen adalah faktor kunci dalam
pembekuan darah.
Protein plasma disintesis oleh hati, kecuali globulin gama, yang
dihasilkan oleh limfosit, salah saru tipe sel darah putih.
c. Komponen selular: eritrosit, leukosit (limfosit, monosit, neutrophil, eosinophil,
basophil), trombosit.
Sumber :
Sacher RA, McPherson RA. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium.
Edisi 11. Jakarta: EGC; 2004.

Pearce EC. Anatomi Dan Fisiologi untuk Para Medis. Jakarta: Gramedia; 1979.

Harun Y. Pustaka Sains Populer Islami. Bandung: Sygma Publishing; 2008.

Sherwood L. Fisiologi manusia: Dari sel ke sistem. Edisi 6. Jakarta:ECG; 2011.


Anemia Hemolitik
Prognosis
Prognosis pada anemia hemolitik tergantung pada etiologi dan deteksi dini.
Prognosis jangka panjang pada pasien dengan penyakit ini baik. Splenektomi dapat
mengontrol penyakit ini atau paling tidak memperbaikinya. Pada anemia hemolitik
autoimun, hanya sebagian kecil pasien mengalami penyembuhan dan sebagian
besar memiliki perjalanan penyakit yang kronik. Sebagai contoh penderita dengan
hemolisis autoimun akut biasanya datang dengan keadaan yang buruk dan dapat
meninggal akibat hemolisis berlebihan.
Sumber :
Rauf S. Penanganan Anemia. Dalam: Standar Pelayanan Medik Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Unhas. Makassar: SMF Anak RS DR.
Wahidin Sudirohusodo. 2009. Hal. 169.

Tranggana S. Anemia. Dalam: Buku Ajar Hematologi Anak. Edisi 1. Januari. 2009.
Hal. 7-30

Anemia Sel Sabit


Manifestasi Klinis
Gambaran klinik pada penderita anemia sel sabit dapat dibedakan menjadi
2 jenis, yaitu gambaran klinis yang bersifat akut, dan gambaran klinis yang bersifat
kronis. Berikut ini beberapa gambaran klinis yang bersifat akut:
a. Penyumbatan pembuluh darah (vasoocclusive)
Penyumbatan pembuluh darah ini dapat disebabkan apabila penderita
mengalami demam, dehidrasi, suhu dingin, kehamilan, tekanan emosional
maupun asidosis. Penyumbatan ini akan dirasakan oleh penderita sebagai rasa
nyeri. Rasa nyeri tersebut dapat terjadi diberbagai tempat, sesuai dengan
tempat terjadinya penyumbatan, seperti dada, tulang, perut maupun otak.
Penyumbatan yang terjadi pada otak dapat menyebabkan stroke. Rasa nyeri di
perut pada umumnya disebabkan karena terjadi infark pada limpa. Rasa nyeri
pada dada sering disertai dengan infeksi bakteri yang kemudian disebut dengan
istilah acute chest syndrome (ACS).
b. Hand-foot syndrome
Sindrom ini ditandai dengan adanya pembengkakan pada punggung
tangan dan kaki, nonerythematous, dan terasa sangat sakit yang disertai
dengan demam dan peningkatan jumlah leukosit.
c. Priapismus
Priapismus ini dialami oleh sebagian besar penderita anemia sel
sabit yang berusia antara 5-13 tahun dan 21-29 tahun. Hal ini umumnya
dimulai malam hari ketika tidur yang disebabkan karena terjadinya
dehidrasi dan hipoventasi yang kemudian menyebabkan terjadinya
stagnansi aliran darah pada daerah penis. Semakin tua usia penderita, maka
prognosisnya akan semakin buruk dan dapat menyebabkan impotensi.
d. Krisis aplastik
Krisis aplastik ini disebabkan karena terjadi penurunan
pembentukan sel darah merah yang disertai dengan demam. Berdasarkan
studi epidemiologi, hal ini disebabkan karena adanya infeksi virus, yaitu
human parvovirus B19.
e. Penggumpalan darah pada limpa
Hal ini ditandai dengan turunnya konsentrasi Hb paling tidak
menjadi 2 g/dl dan terjadinya spleenomegaly.
f. Krisis hemolisis
Krisis hemolisis ini disebabkan karena terlalu pendeknya usia sel
darah merah sehingga semakin cepat terjadinya hemolisis. Hal ini
menyebabkan turunnya hemoglobin dan naiknya retikulosit, yang kemudian
memicu terjadinya jaundice.
Berikut ini beberapa gambaran klinis yang bersifat kronis3: 1)
Terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan; 2) Osteonecrosis; 3)
Retardasi mental; 4) Berkurangnya integrasi visual-motor; 5) Berkurangnya
daya ingat; 6) Berkurangnya perhatian dan konsentrasi (attention and
concentration); 7) Cardiomegaly; 8) Obstructive lung disease; 9) Gangguan
fungsi hati; 10) Hematuria; 11) Gagal ginjal; 12) Kebutaan; dan 13) Leg
ulcer.
Sumber:
Sadikin, Mohamad. Sel Darah Merah. Dalam: Rusmiyati, editor. Biokimia Darah
edisi I. Jakarta: Widya Medika; 2001; 3; 20-9.

Wang, WC, John NL. Sickle Cell Anemia and Other Sickling Syndromes. Dalam:
Lee GR, Foerster J, Lukens J, Paraskevas F, Greer JP, Rodgers GM, editors.
Wintrobe’s Clinical Hematology 10th ed. USA: Williams & Wilkins; 1999; 51;
1346-97.

Bakta, IM. Anemia Hemolitik. Dalam: Kastrifah, Purba DL, editor. Hematologi
Klinik Ringkas edisi I. Jakarta: EGC; 2007; 5; 50-96.

Faktor Risiko

Mengapa Terjadi Splenomegali pada Kasus


Pembesaran limpa terjadi akibat destruksi eritrosit yang berlebihan,
hemopoiesis ekstramedula, dan lebih ;anjut akibat penimbunan besi. Limpa yang
besar meningkatkan kebutuhan darah dengan meningkatkan volume plasma, dan
meningkatkan destruksi eritrosit dan cadangan (pooling) eritrosit. Peningkatan
volume plasma seperti pada splenomegali dapat menyebabkan terjadinya anemia.

Sumber:

Hoffbrand, A V, et al. Kapita Selekta Hematologi. Edisi 4. Jakarta: EGC; 2012. Hal
18-69

Hubungan Anemia Ibu Dengan Kasus