Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH FARMAKOLOGI

OBAT ANALGETIK DAN ANTI PIRETIK

Disusun Oleh
Nama : Ayu Shandra
NIM : 16334088
Kelas : M

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTSA FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah “Obat Analgetik dan
Antipiretik” ini dengan tepat waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Farmakologi serta untuk memperluas pengetahuan tentang pemakaian obat analgetik dan
antipiretik.

Dalam menyelesaikan makalah ini, penyusun tidak terlalu banyak mengalami kesulitan,
karena referensi yang didapatkan oleh penyusun merupakan rekomendasi langsung dari dosen
mata kuliah yang bersangkutan. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen mata
kuliah Farmakologi yaitu Ibu Dra. Refdanita M.Si. Apt. yang telah memberikan kesempatan
kepada kami untuk menyusun makalah ini dengan baik.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak adanya kekurangan dan masih jauh
dari kesempurnaan.Penulis juga memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat
kesalahan pengetikan dan kekeliruan sehingga membingungkan pembaca dalam memahami
maksud penulis. Oleh karena itu penulis berharap akan kritik dan saran yang sifatnya
membangun dari segenap pembaca guna sempurnanya makalah ini.

Demikianlah, semoga makalah yang telah dibuat ini dapat bermanfaat bagi saya
khususnya dan bagi pembaca umumnya.Terimakasih.

Jakarta, April 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Obat merupakan bahan kimia yang memungkinkan terjadinya interaksi bila tercampur
dengan bahan kimia lain baik yang berupa makanan, minuman ataupun obat-obatan. Interaksi
obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat dengan bahan-bahan lain
tersebut termasuk obat tradisional dansenyawa kimia lain. Interaksi obat yang signifikan
dapat terjadi jika duaatau lebih obat sekaligus dalam satu periode (polifarmasi )
digunakanbersama-sama. Interaksi obat berarti saling pengaruh antarobat sehingga terjadi
perubahan efek. Di dalam tubuh obat mengalami berbagai macam proses hingga akhirnya
obat di keluarkan lagi dari tubuh. Proses-proses tersebut meliputi, absorpsi, distribusi,
metabolisme (biotransformasi), dan eliminasi. Dalam proses tersebut, bila berbagai macam
obat diberikan secara bersamaan dapat menimbulkan suatu interaksi. Selain itu, obat juga
dapat berinteraksi dengan zat makanan yang dikonsumsi bersamaan dengan obat.

Obat-obat analgesik antipiretik serta obat anti-inflamasi nonsteroid (AINS) merupakan


suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia.
Walaupun demikian obat-obat ini ternyata memiliki banyak persamaan dalam efek terapi
maupun efek samping. Golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga
konversi asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu. Setiap obat menghambat
siklooksigenase dengan cara yang berbeda.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan analgesik dan antipiretik ?
2. Apa kegunaan dari obat analgesic dan antipiretik ?
3. Bagaimana mekanisme dari kerja obat-obat tersebut ?
4. Apa saja macam-macam obat analgesic dan antipiretik ?

C. Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan analgesic dan antipiretik
2. Mengetahui kegunaan obat dari analgesic dan antipiretik
3. Mengetahui mekanisme dari kerja obat-obat tersebut
4. Mengetahui macam-macam obat dari analgesic dan antipiretik

1
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Nyeri
a. Patofisiologi Nyeri
Nyeri adalah keadaan yang subjektif dimana seseorang memperlihatkan tidak
nyaman secara verbal maupun nonverbal atau keduanya. Dapat akut atau kronis.
Pengalaman nyeri terdiri dari 2 komponen : persepsi dan reaksi. Reaksi nyeri adalah
apa yang dirasakan, dipikirkan seseorang dan hal-hal yang dirasakan nyeri. Respon
seseorang terhadap nyeri dipengaruhi oleh emosi, tingkat kesadaran, latar belakang
budaya, pengalaman masa lalu tentang nyeri dan pengertian nyeri. Nyeri mengganggu
2
kemampuan seseorang untuk beristirahat, konsentrasi dan kegiatan-kegiatan yang
biasa dilakukan.
Rasa sakit atau nyeri merupakan pertanda ada bagian tubuh yang bermasalah,
yang merupakan suatu gejala, yang fungsinya adalah melindungi serta memberikan
tanda bahaya tentang adanya gangguan-gangguan di dalam tubuh seperti peradangan
(rematik,encok), infeksi kuman atau kejang otot. Rasa nyeri timbul karena adanya
rangsangan mekanis ataupun kimiawi, yang dapat menimbulkan kerusakan pada
jaringan dan melepaskan zat-zat tertentu yang disebut mediator (perantara) nyeri
seperti bradikinin, histamin, serotonin, dan prostaglandin.
Rasa nyeri disebabkan rangsangan mekanis (benturan dengan benda tumpul) atau
kimiawi, kalor atau listrik, yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan
melepaskan zat yang disebut mediator nyeri. Sedangkan rasa nyeri pada gigi dapat
disebabkan adanya infeksi atau peradangan. Kejang atau ketegangan otot dapat
menimbulkan nyeri kepala. Mediator nyeri merangsang reseptor nyeri yang letaknya
pada ujung syaraf bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Dari tempat ini
rangsang dialirkan melalui syaraf sensoris ke susunan saraf pusat, melalui sumsum
tulang belakang ke talamus kemudian ke pusat nyeri dalam otak besar, dimana
rangsang terasa sebagai.

b. Reseptor Nyeri
Reseptor nyeri di dalam kulit dan jaringan lainnya merupakan ujung saraf bebas.
Reseptor ini tersebar luas pada permukaan superfisial kulit dan juga di jaringan-
jaringan dalam tertentu. Reseptor lainnya yang sensitif terhadap suhu panas atau
dingin yang ekstrem disebut reseptor nyeri termosensitif yang meneruskan nyeri
kedua melalui serabut C yang tak bermielin. Reseptor ini mempunyai respon terhadap
suhu dari 30oC-45oC dan pada suhu diatas 45oC, mulai terjadi kerusakan jaringan dan
sensasinya berubah menjadi nyeri.
c. Proses Merasakan Nyeri
Rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala, fungsinya memberi tanda tentang
adanya gangguan-gangguan di tubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau kejang otot.
Rasa nyeri disebabkan rangsang mekanis atau kimiawi, kalor atau listrik, yang dapat
menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat yan disebut mediator nyeri
(pengantara). Zat ini merangsang reseptor nyeri yang letaknya pada ujung syaraf bebas di
kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Dari tempat ini rangang dialaihkan melalui syaraf
sensoris ke susunan syaraf pusat (SSP), melalui sumsum tulang belakang ke talamus
(optikus) kemudian ke pusat nyeri dalam otak besar, dimana rangsang terasa sebagai
nyeri.
3
Cara Pemberantasan Rasa Nyeri:
1. Menghalangi pembentukan rangsang dalam reseptor nyeri perifer oleh analgetik
perifer atau oleh anestetik lokal.
2. Menghalangi penyaluran rangsang nyeri dalam syaraf sensoris, misalnya dengan
anestetik local.
3. Menghalangi pusat nyeri dalam SSP dengan analgesik sentral (narkotik) atau dengan
anestetik umum.
Umumnya cara kerja analgetik-antipiretik adalah dengan menghambat sintesa
neurotransmitter tertentu yang dapat menimbulkan rasa nyeri & demam. Dengan blokade
sintesa neurotransmitter tersebut, maka otak tidak lagi mendapatkan "sinyal"
nyeri,sehingga rasa nyerinya berangsur-angsur menghilang.

B. Analgetik
a. Pengertian Analgesik
Analgetik atau analgesik, merupakan obat untuk mengurangi atau menghilangkan
rasa sakit atau obat-obat penghilang nyeri tanpa menghilangkan kesadaran dan akhirnya
akan memberikan rasa nyaman pada orang yang menderita.
Pengujian aktivitas analgetik dilakukan dengan dua metode yaitu induksi nyeri cara
kimiawi dan induksi nyeri cara termik. Daya kerja analgetik dinilai pada hewan dengan
mengukur besarnya peningkatan stimulus nyeri yang harus diberikan sampai ada respon
nyeri atau jangka waktu ketahanan hewan terhadap stimulus nyeri.
b. Penggolongan Analgetika
Analgesik dibagi menjadi dua, yaitu analgesik narkotik dan analgesik non narkotik.
1. Analgetik Narkotik
Analgetik ini mempunyai sifat analgetik dan hipnotik (menyebabkan
kesadaran berkurang seperti bermimpi indah, dalam istilah sehari-hari disebut
“fly”). Khususnya digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti pada
kanker. Penggunaan untuk jangka waktu lama pada sebagian pemakai
menimbulkan kebiasaan dan ketergantungan.
Atas dasar cara kerjanya obat-obat ini dapat dibagi dalam tiga kelompok yakni:
1) Agonis Opiat, yang dapat dibagi dalam alkoloida candu: Morfin,
Kodein, Heroin, dan Nicomorfin.
2) Antagonis Opiat: Nalokson, Nalorfin, Pentazosin dan Buprenorfin. Bila
digunakan sebagai analgetik, obat ini dapat menduduki salah satu
reseptor.

4
3) Kombinasi, zat-zat ini juga mengikat pada reseptor opiat, tetapi tidak
mengaktifasi kerjanya dengan sempurna.
Menurut Widjajanti (1991), alkaloid golongan opium, misalnya :
a) Morfina
 Sifat analgetik dari morfina berdasarkan penekanannya pada susunan
saraf sentral yang disertai dengan perasaan nyaman, menghambat
pernafasan dan dapat menimbulkan batuk.
 Penggunaannya : untuk mengobati rasa sakit yang tidak dapat
disembuhkan dengan analgetika antipiretik, misalnya pada kanker,
menahan rasa sakit pada waktu operasi, dan sebagainya.
 Kerja ikutannya : dapat mengakibatkan sembelit yang hebat,
perasaan mual dan muntah-muntah, alergi (gatal-gatal) dan yang
terutama adalah mengakibatkan gatal-gatal.
 Morfina tidak boleh diberikan pada penderita radang hati atau asma,
karena morfina menekan pusat pernapasan. Juga tak boleh diberikan
kepada bayi. Pemberian morfina kepada orang tua dan anak anak
harus hati-hati, sebab mereka sangat peka.

b) Codein
 Dapat menekan batuk dan sering digunakan sebagai obat batuk.
Codein sering dikombinasi dengan asetosal, fanasetina dan cofeina
untuk mengurangi rasa sakit yang tidak begitu keras
 Kerja ikutannya berupa sembelit dan alergi
 Dosis oral 8 – 65 mg, tiap 3-4 jam, tergantung pada kebutuhan
penderita

c) Thebaina
 Yang sering digunakan adalah HCl atau fosfatnya.
 Oleh karena obat bius ini dapat mengakibatkan ketagihan dan
merusak kesehatan masyarakat
 maka pemakaian obat bius ini diatur oleh undang-undang obat bius
dan diawasi secara ketat oleh pemerintah.

Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan
tingkat kerja yang terletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya mengurangi
kesadaran (sifat meredakan dan menidurkan) dan menimbulkan perasaan
nyaman (euforia). Dapat mengakibatkan toleransi dan kebiasaan (habituasi)
serta ketergantungan psikis dan fisik (ketagihan adiksi) dengan gejala-gejala
abstinensia bila pengobatan dihentikan. Semua analgetik narkotik dapat

5
mengurangi nyeri yang hebat, teteapi potensi. Onzer, dan efek samping yang
paling sering adalah mual, muntah, konstipasi, dan mengantuk. Dosis yang
besar dapat menyebabkan hipotansi serta depresi pernafasan.

2. Analgetik non-Narkotik
Terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.
Obat- obat ini dinamakan juga analgetika perifer, karena tidak mempengaruhi
Sistem Saraf Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau mengakibatkan
ketagihan. Semua analgetika perifer juga memiliki kerja antipiretik, yaitu
menurunkan suhu badan pada keadaan demam, maka disebut juga analgetik
antipiretik. Oleh karena itu tidak hanya digunakan sebagai obat antinyeri,
melainkan juga pada demam (infeksi virus/kuman, selesma, pilek) dan
peradangan seperti rema dan encok.
Secara kimiawi, analgetik perifer dapat dibagi dalam beberapa kelompok,
yakni:
1) Parasetamol
2) Salisilat : asetosal, salisilamida, dan benorilat
3) Penghambat Prostaglandin (NSAID): ibuprofen
4) Derivat-deriva antranilat : mefenaminat, asam niflumat glafenin,
dan floktafenin
5) Derivat-derivat pirazolinon :aminofenazon, isopropil fenazon,
isopropyl amino fenazon, dan metamizol
6) Lainnya : benzidamin (tatum)

6
Obat-obat ini banyak diberikan untuk nyeri ringan sampai sedang, yang
penyebabnya beraneka ragam, misalnya nyeri kepala, gigi, otot atau sendi,
perut, nyeri haid, nyeri akibat benturan, kecelakaan (trauma). Untuk kedua
nyeri terakhir, NSAID lebih layak. Pada nyeri lebih berat misalnya setelah
pembedahan atau fraktur (patah tulang), kerjanya kurang ampuh.

c. Mekanisme Kerja Analgetik


Memblok rasa nyeri dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri.
Banyak cara dapat dilakukan untuk memblok nyeri, berdasarkan pemahaman
mekanisme terjadinya nyeri.
1) Memblok pembentukan mediator nyeri khususnya PG, yaitu dengan
pemberian analgetik steroid (prednisone,deksametason), maupun nonsteroid
(aspirin, parasetamol, ibu profen, dan lain-lain). Analgetik steroid (NSID) ini

7
yang lebih menonjol adalah sifat antiinflamasinya (anti radang), sementara
nonsteroid sebagian besar selain bersifat analgetik antipiretik juga beberapa
memiliki sifat antiinflamasi.
2) Memblok penghantaran nyeri oleh serabut saraf dapat dilakukan melalui
anestesi (obat bius), baik local (ditempat rangsang nyeri terjadi saja) atau
sistemik (seluruh saraf tubuh). Lidokain semprot/injeksi (pada cabut gigi,
khitan) adalah contoh anestesi local. Ada juga bermacam anestesi yang
diberikan melalui injeksi intravena (masuk pembuluh darah vena), bahkan
sekarang banyak diberikan melalui sumsum tulang belakang khususnya bila
diinginkan efek obat sangat cepat seperti pada operasi section cesaria (bedah
cesar)
3) Memblok pusat nyeri/reseptor nyeri di otak, yakni dengan analgetik narkotik
(morfin, pethidin). Hanya analgetik bentuk narkotik yang mampu menembus
penghalang antara darah dan otak sehingga dapat memblok rasa nyeri yang
amat sangat
4) Menghambat kerja enzim siklooksigenase yang akan mengurangi produksi
prostaglandin sehingga mengurangi rasa nyeri. Contohnya pada flavonoid
berkhasiat sebagai analgetik.
5) Menghambat enzim siklooksigenase sehingga pembentukan asam arakidonat
menjadi terganggu. Ibuprofen menghambat COX-1 dan COX-2 dan
membatasi produksi prostaglandin yang berhubungan dengan rusaknya
jaringan seperti analgetik dan inflamasi. ibuprofen lebih cepat diabsorbi dan
dikenal oleh masyarakat sebagai obat yang mampu mengobati nyeri dengan
baik. Ibuprofen diketahui merupakan obat yang memiliki kemampuan
analgetik.
d. Analgetik Untuk Terapi
Pada pengobatan rasa nyeri pemilihan obat analgetika tergantung dari jenis nyeri
yang dialami, maka dapatlah digunakan obat- obat sebagai berikut :
1) Nyeri ringan, seperti sakit gigi, kepala, otot-otot pada infeksi virus, kesleo,
obat yang digunakan yaitu analgetik perifer misalnya asetosal dan
parasetamol.
2) Nyeri ringan yang menahun, seperti rematik dan artrosis. Obat yang
digunakan yaitu yang berkhasiat anti radang golongan salisilat, ibu profen,
dan indometasin.
8
3) Nyeri yang hebat, seperti nyeri organ-organ dalam (lambung, usus). Obat yang
digunkan sebaiknya analgetik sentral (narkotik) dengan suatu obat pelawan
kejang, misalnya morfin dengan atropin.
4) Nyeri Hebat menahun, seperti kanker kadang-kadang rematik dan neuralgia.
Dalam hal ini yang digunakan adalah obat-obat yang berkhasiat kuat antara
lain analgetik narkotik fentanil, dekstromoramida atau bezitramida, bila perlu
bersama suatu neuroleptikum dengan kerja analgetik.
e. Cara Meminum Analgetik
Cara mengkonsumsi sediaan obat analgetik adalah sebagai berikut :
1) Semua salisilat harus diminum sesudah perut terisi makanan agar mengurangi
keasaman lambung. Dalam kondisi kosong, dengan keasaman yang tinggi,
ditambah minum analgetik jenis salisilat yang bersifat asam, akan memicu dan
memperparah gangguan lambung dan usus.
2) Parasetamol dan antalgin dianjurkan untuk diminum sebelum perut terisi
makanan. Kedua obat ini diserap oleh usus (bukan oleh lambung), sehingga
bila obat telah berada dalam lambung yang kosong, begitu ada makanan, obat
akan terdorong ke usus, maka proses penyerapan obat akan jauh lebih cepat
3) Parasetamol dan antalgin sebaiknya diminum dengan air yang tidak bersifat
asam (jangan jus atau minuman berkarbonansi) karena akan menghambat
penyerapan obat yang telah bereaksi membentuk sedikit garam dengan media
asam
4) Bila penderita tidak memiliki gangguan lambung, dianjurkan minum obat
golongan salisilat dengan jus yang asam karena akan mempercepat
penyerapan obat oleh lambung, sehingga efek obat lebih cepat.

f. Efek Samping Analgetik


Efek samping yang paling umum adalah gangguan lambung usus untuk salisilat,
penghambat prostaglandin (NSAID) dan derivat-derivat pirazolino. Kerusakan darah
untuk parasetamol, salisilat, derivat-derivat antranilat dan derivat-derivat pirazolinon.
Kerusakan hati dan ginjal untuk untuk parasetamol dan penghambat prostaglandin
(NSAID) serta reaksi alergi pada kulit. Efek-efek samping ini terutama terjadi pada
penggunaan lama atau dalam dosis tinggi. Oleh karena itu, penggunaan analgetik secara
kontinyu tidak dianjurkan.

C. Antipiretik
9
a. Pengertian Antipiretik
Antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan panas atau untuk obat mengurangi
suhu tubuh (suhu tubuh yang tinggi). Hanya menurunkan temperatur tubuh saat panas
dan tidak berefektif pada orang normal.
Pada umumnya demam adalah suatu gejala dan bukan merupakan suatu penyakit
tersendiri. Oleh sebab itu pembahasan antipiretik secara khusus jarang ada, pada
umumnya pembahasannya antipiretik ada pada pembahasan obat anti nyeri (analgetika).
Sebagai antipiretik, obat mirip aspirin akan menurunkan suhu badan hanya dalam
keadaan demam. Walaupun keadaan obat ini memperlihatkan efek antipiretik in vitro,
tidak semua berguna sebagai antipeiertik karena bersifat toksik bila digunakan secara
rutin atau terlalu lama.
b. Macam-macam obat Antipiretik
Terdapat banyak jenis obat antipiuretik, antara lain:
1) Obat-obatan anti radang nonsteroid, seperti ibu profen, ketoprofe, nimesulide
2) Aspirin
3) Paracetamol
4) Metimazol
5) Alphamol
Di antara obat antipiuretik tersebut yang banyak di gunakan adalah paracetamol.
Obat antipiretik ini di indikasi untuk segala penyakit yang menghasilkan gejala demam.
Sejumlah pedoman menyatakan bahwa obat antipiuretik sebaiknya di berikan jika demam
lebih dari 38,5 derajat celcius. Demam yang kurang dari batas tersebut sebaiknya jangan
cepat-cepat dikasih obat. Selain membantu menurunkan demam obat antipiuretik juga
berfungsi untuk mengurangi nyeri.
c. Mekanisme kerja obat Antipiretik
Bekerja dengan cara menghambat produksi prostaglandin di hipotalamus anterior
(yang meningkat sebagai respon adanya pirogen endogen).
d. Efek samping obat Antipiretik
1) Gangguang saluran pencernaan
Selain menimbulkan demam dan nyeri ternyata prostaglandin berperan
melindungi saluran cerna. Senyawa ini dapat menghambat pengeluaran asam
lambung dan mengeluarkan cairan (mukus) sehingga mengakibatkan dinding
saluran cerna rentan terluka, karena sifat asam lambung yang bisa merusak
2) Gangguan hati (hepar)
Obat yang dapat menimbulkan hepar adalah parasetamol karena penderita
gangguan hati disarankan mengganti dengan obat lain.
3) Reaksi obat

10
Penggunaan obat aspirin dapat menimbulkan reaksi alergi. Reaksi dapat berupa
asma bronkial hingga mengakibatkan syok.

D. Penggunaan Analgetik-Antipiretik dalam Kehamilan


Penggunaan obat Analgetik-Antipiretik pada saat mengandung bagi ibu hamil harus
diperhatikan. Ibu hamil yang mengkonsumsi obat secara sembarangan dapat menyebabkan
cacat pada janin. Sebagian obat yang diminum oleh ibu hamil dapat menembus plasenta
sampai masuk ke dalam sirkulasi janin, sehingga kadarnya dalam sirkulasi bayi hampir sama
dengan kadar dalam darah ibu yang dalam beberapa situasi akan membahayakan bayi.
Pengaruh buruk obat terhadap janin, secara umum dapat bersifat toksik, teratogenik,
maupun letal tergantung pada sifat obat dan umur kehamilan pada saat minum obat.
Pengaruh toksik adalah jika obat yang diminum selama masa kehamilan menyebabkan
terjadinya gangguan fisiologik atau bio-kimiawi dari janin yang dikandung, dan biasanya
gejalanya baru muncul beberapa saat setelah kelahiran. Pengaruh obat bersifat teratogenik,
jika menyebabkan terjadinya malformasi anatomic (kelainan/kekurangan organ tubuh) pada
pertumbuhan organ janin. Pengaruh teratogenik ini biasanya terjadi pada dosis subletal.
Sedangkan pengaruh obat yang bersifat letal adalah yang mengakibatkan kematian janin
dalam kandungan.
Secara umum pengaruh obat pada janin dapat beragam sesuai dengan fase-fase berikut:
a. Fase Implantasi yaitu pada umur kehamilan kurang dari 3 minggu.Pada fase ini obat dapat
member pengaruh buruk atau mingkin tidak sama sekali.Jika terjadi pengaruh buruk biasanya
menyebabkan kematian embrio atau berakhirnya kehamilan (abortus).
b. Fase Embrional atau Organogenesis,yaitu pada umur kehamilan antara 4-8 minggu.Pada fase
ini terjadi diferensiasi pertumbuhan untuk pembentukan organ-organ tubuh, sehingga
merupakan fase yang paling peka untuk terjadinya malformasi anatomik (pengaruh
teratogenik). Selama embriogenesis kerusakan bergantung pada saat kerusakan terjadi,
karena selama waktu itu organ-organ dibentuk dan blastula mengalami deferensiasi pada
waktu yang berbeda-beda. Jika blastula yang dipengaruhi masih belum berdeferensiasi dan
kerusakan tidak letal maka terdapat kemungkinan untuk restitutio ad integrum. Sebaliknya
jika bahan yang merugikan mencapai blastula yang sedang dalam fase deferensiasi maka
terjadi cacat (pembentukan salah)

11
Berbagai pengaruh buruk yang terjadi pada fase ini antara lain:
- Gangguan fungsional atau metabolic yang permanen yang biasanya baru muncul kemudian
jadi tidak timbul secara langsung pada saat kehamilan
- Pengaruh letal berupa kematian janin atau terjadinya abortus
- Pengaruh sub-letal,tidak terjadi kematian janin tetapi terjadi malformasi anatomik
(struktur) pertumbuhan organ atau pengaruh teratogenik. Kata teratogenik sendiri berasal
dari bahasa yunani yang berarti monster.
- Fase Fetal yaitu pada trimester kedua dan ketiga kehamilan.Dalam fase ini terjadi maturasi
dan pertumbuhan lebih lanjut dari janin.Pengaruh buruk senyawa asing bagi janin dalam
fase ini dapat berupa gangguan pertumbuhan baik terhadap fungsi-fungsi fisiologik atau
biokimiawi organ-organ.
Keluhan nyeri selama masa kehamilan umum di jumpai. Hal ini berkaitan dengan
masalah fisiologis dari si ibu karena adanya karena adanya tarikan otot-otot dan sendi karena
kehamilan maupun sebab-sebab yang lain.Untuk nyeri yang tidak berkaitan dengan proses
radang,pemberian obat pengurang nyeri biasanya dilakukan dalam jangka waktu relatife
pendek.Untuk nyeri yang berkaitan dengan proses radang,umunya diperlukan pengobatan
dalam waktu tertentu. Penilaian yang seksama terhadap pereda nyeri perlu dilakukan agar
dapat ditentukan pilihan jenis obat yang paling tepat.
Pemakaian obat NSAID(Non steroid anti infamantory Drug ) sebaiknya dihindari pada
wanita hamil. Obat-obat tersebut menghambat sintesis prostaglandin dan ketika diberikan
pada wanita hamil dapat menyebabkan penutupan ductus arteriousus, gangguan
pembentukan ginjal janin, menghambat agregasi trombosit dan tertundanya persalinan dan
kelahiran. Pengobatan NSAID selama trimester akhir kehamilan diberikan sesuai dengan
indikasi. Selama beberapa hari sebelum hari perkiraan lahir, obat-obat ini sebaiknya
dihindari. Yang termasuk golongan ini adalah diklofenac, diffunisal, ibuprofen,
indomethasin, ketoprofen, ketorolac, asam mefenamat, nabumeton, naproxen,
phenylbutazon, piroksikam, sodium salisilat, sulindac, tenoksikam, asam tioprofenic
mempunyai mekanisme lazim untuk menghambat sintesa prostaglandin yang terlibat dalam
induksi proses melahirkan, NSAID dapat memperpanjang masa kehamilan.

12
BAB III
PEMBAHASAN

A. Pembahasan Studi Kasus


a. Kasus
Pak Dodik, 37 tahun, datang ke dokter dengan keluhan nyeri kepala sebelah kanan
selama 2 hari dan kadang-kadang merasa mual. Satu (1) bulan sebelumnya opname 3 hari
dan didiagnosis ulkus pepticum. Tensi = 120/70 mmHg, nadi = 80x/menit, temp.= 37,20 C.
Obat apa yang dapat diberikan kepada pak dodik untuk mengatasi keluhannya?

b. Teori umum
Farmakologi adalah kajian bahan-bahan yang berinteraksi dengan sistem kehidupan
melalui proses kimia, khususnya melalui pengikatan molekul regulator dan pengaktifan atau
penghambatan proses-proses tubuh yang normal (Katzung, 2001). Farmakologi terfokus
dalam dua subdisiplin yaitu farmakodinamik (efek obat terhadap tubuh) dan farmakokinetik
13
(bagaimana tubuh mempengaruhi obat dengan berlalunya waktu). Masing-masing obat
mempunyai farmakodinamik dan farmakokinetik yang berbeda-beda. Oleh karena itu,
penggunaan suatu obat untuk terapi sebaiknya menggunakan dasar P-treatment.
P-treatment adalah terapi atau penanganan yang optimal terhadap masing-masing
personal dengan mempertimbangkan variasi respon dari suatu obat. Obat yang digunakan
harus rasional dan sesuai dengan masing-masing personal. Untuk mendapatkan P-
treatment yang sesuai diperlukan diagnosa yang tepat, derajat suatu penyakit, persetujuan
terapi penyakit, efikasi dan toksisitas. Sedang menurut WHO, Rational Drug Therapy dapat
tercapai bila memenuhi empat criteria yaitu:
 efficacy : obat yang diberikan harus efektif, yakni tepat dan cepat memberikan
efek
 safety : keamanan bagi pasien, dengan pertimbangan munculnya berbagai
macam efek samping
 suitability : kenyamanan bagi pasien dalam hal cara pemberian obat
 cost : keterjangkauan harga obat bagi pasien.
Dalam kasus kali ini akan didiskusikan mengenai obat dan penanganan terhadap
kasus migrain. Migrain adalah jenis sakit kepala umum yang mungkin terjadi dengan gejala
seperti mual, muntah, atau sensitif terhadap cahaya. Pada banyak orang, nyeri dirasakan
hanya pada satu sisi kepala.
Dengan mengetahui patofisiologi dari Migrain kita dapat menentukan teratment
yang cocok untuk mengobati migrain, salah satunya adalah peningkatan PGE.
Jadi untuk mengatasi keluhan Bapak Dodik maka salah satu cara yang dapat dipakai
adalah dengan menghambat Prostaglandin dengan pemberian NSAID yang juga aman Bapak
Dodik karena Bapak Dodik memiliki riwayat penyakit ulkus pepticum. P-drugs yang dipilih
hendaknya tidak hanya ditujukan untuk menyembuhkan keluhan utama tetapi juga jangan
sampai memperburuk keadaan pasien dalam kaitannya dengan riwayat penyakit yang diderita
dan jangan sampai mempengaruhi perkembangannya. Dalam menentukan dan menganalisa
hal-hal tersebut, diperlukan ilmu farmakologi yang mendalam.
c. Kata Kunci
1) Nyeri kepala 2 hari
2) Mual
3) Ulkus Pepticum
4) 37 tahun
5) Tensi = 120/70 mmHg
6) Nadi = 80x/ menit
7) Temp = 37,20 C
14
d. Diagnosis

Migrain dengan riwayat ulkus peptikum (tukak lambung)

e. Tujuan pengobatan spesifik

Menurunkan prostaglandin pada penderita Migrain

f. Pemilihan obat yang cocok

Indikasi
Nama Obat Sediaan
Intoksikasi

a. Salisilat Aspirin (asam asetil


salisilat dan natrium
- Farmakodinamik indikasi: salisilat) – dosis: 100
- Antipiretik
 Berfungsi sebagai analgesik, anti - Analgesik mg untuk anak dan 500
piretik, anti inflamasi. - Demam rheumatik akut mg untuk dewasa
 Efek terhadap - Arthritis rheumatoid
- Profilaksis thrombus - Metil salisilat
1) Pernafasan koroner dan thrombus vena (minyak Wintergreen)
profundus untuk obat luar (salep)
 Pada dosis terapi: mempertinggi
konsumsi O2 dan produksi Intoksikasi:
CO2 sehingga meningkatkan - Salisilismus (nyeri
pengeluaran CO2 melalui alveoli kepala, pusing, tinnitus,
dan PCO2 dalam plasma turun gangguan pendengaran, mata
(pernapasan lebih dalam dan kabur, haus, bingung, mual,
frekuensi sedikit bertambah). dan muntah).
- Lebih berat dapat
 Pada dosis lebih besar: menyebabkan gejala SSP
merangsang pusat napas (gelisah, cemas, iritatif,
sehingga terjadi hiperventilasi. vertigo, tremor, delirium,
 Keadaan intoxikasi: alkalosis koma).
respiratorik. - Gangguan keseimbangan
asam basa
2) Keseimbangan Asam Basa - Exsantem pustula
akneiform
Sebagai kompensasi alkalosis - Alkalosis respiratorik
respiratorik, maka ekskresi - Acidosis metabolik
bikarbonat, Na dan K melalui ginjal - Hipoglikemi
meningkat, sehingga pH darah - Demam (pada anak)
kembali normal. - Dehidrasi

15
3) Urikosurik (tergantung dosis)
 Dosis 1-2 gr/ hari menghambat
ekskresi asam urat sehingga
kadar dalam darah meningkat.
 Dosis 2-3 gr/ hari tidak
mengubah ekskresi asam urat.
 Dosis 5 gr/ hari peningkatan
ekskresi asam urat sehingga
kadar asam urat dalam darah
menurun.
4) Darah
 Pada orang sehat memperpanjang,
masa pendarahan karena asetlasi
pada trombosit sehingga
pembentukan TXA2 terhambat.
 Dosis kecil: untuk profilaksis
thrombosis koroner dan cerebral
 Dosis besar: hati-hati perdarahan
mukosa lambung.

5) Hati dan Ginjal


 Pada orang sehat memperpanjang,
masa pendarahan karena asetlasi
pada trombosit sehingga
pembentukan TXA2 terhambat.
 Dosis kecil: untuk profilaksis
thrombosis koroner dan cerebral
 Dosis besar: hati-hati perdarahan
mukosa lambung.

- Farmakokinetik
Oral:
 cepat diabsorbsi.
 Kadar puncak 2 jam setelah
16
pemberian.
 Secara rectal absorbsi lebih
lambat dan tidak sempurna
sehingga tidak dianjurkan.
 Cepat diabsorbsi oleh kulit yang
sehat.
 Setelah diabsorbsi segera
menyebar ke seluruh jaringan
tubuh dan cairan transeluler
sehingga dapat ditemukan dalam
cairan synovial, spinal, peritoneal,
liur, dan air susu.
 Mudah menembus BBB dan sawar
uri.
 80-90% terikat albumin
 Diserap dalam bentuk utuh,
dihidrolisis menjadi asam salisilat
terutama di hati, beredar di plasma
hanya 30 menit.
Ekskresinya terutama melalui ginjal (bentuk
metabolit), sebagian kecil melalui keringat
dan empedu.

b. Diflunisal
Derivat difluorofenil dari asam salisilat, tapi Indikasi:
in vivo tidak diubah jadi asam salisilat. - Analgesik ringan sampai
sedang dengan dosis awal 500
- Farmakodinamik:
mg disusul 250-500 mg tiap 8-
Analgesik dan anti inflamasi, hampir tidak 12 jam.
pernah sebagai anti piretik. - Osteoarthritis dosis awal
250-500mg/ hari, di mana
- Farmakokinetik: dosis pemeliharaan tidak
melampaui 1,5 gr/ hari.
 Pemberian secara oral.
 Kadar puncak 2-3 jam. Intoksikasi:
- Efek samping lbh ringan
 T ½ 8-12 jam. daripada asetosa.
- Tak menimbulkan
 99% terikat albumin. gangguan pendengaran.

17
c. Acetaminophen / Paracetamol

Farmakodinamik: Indikasi: Sediaan:


- Efek analgesiknya mengurangi nyeri - Untuk analgesik dan - Tablet 500 mg
ringan sampai sedang. antipiretik dan tidak - Sirup yg
- Menurunkan suhu tubuh. mempengaruhi GIT bleeding. mengandung 120 mg
- Efek anti inflamasinya sangat lemah per 5 Ml
(atau tidak ada). Efek Samping:
- Paracetamol merupakan penghambat - Eritema
biosintesis PG yang lemah. - Urtikaria
- Demam
Farmakokinetik:
- Diabsorbsi cepat dan sempurna melalui Akibat dosis toksik:
saluran cerna. - Nekrosis hati
- Konsentrasi tertinggi dalam plasma - Nekrosis tubulus renalis
dicapai dalam waktu ½ jam. - Hipoglikemi
- T ½ antara 1-3 jam. - Kerusakan hati dapat
- 25% paracetamol terikat protein plasma. mengakibatkan ensefalopati
- Dimetabolisme oleh enzim mikrosom dan kematian.
hati. - Radikal bebas dari
- Dikonjugasi dengan asam glukoronat. paracetamol berikatan secara
- Mengalami hidroksilasi. kovalen dengan makromolekul
- Metabolit hsl hidroksilasi menimbulkan vital sel hati.
methemoglobinemia & hemolisis eritrosit. - Hepatotoksik paracetamol
- Diekskresi melaui ginjal. meningkat pada penderita yang
juga mendapat barbiturat, anti
konvulsi lain, dan alkoholik
yang kronis.

d. Indometacin Dosis:
- 2-4 kali 25 mg/
Merupakan derivat indole-asam asetat Efek Samping: hari
- Pada saluran cerna berupa - 50-100 mg
Farmakodinamik: nyeri abdomen, diare,
- Walaupun efektif tapi toksik maka (sebelum tidur) untuk
perdarahan lambung, & mengurangi gejala
penggunaaannya dibatasi. pankreatitis.
- Efek: analgesik (perifer dan sentral), anti - Sakit kepala hebat, rheumatik di malam
inflamasi, dan anti piretik yang kira-kira depresi, bingung, hari
sebanding dengan aspirin. agranulositosis,
- Invivo menghambat enzim thrombositopenia, & anemia
cyclooksigenase. aplastik.
- Vasikonstriksi pembuluh
Farmakokinetik: koroner.
- Absorbsi per oral cukup baik. - Hiperkalemi
18
- 92-99% terikat protein plasma. - Mengurangi natriuretik
- Metabolisme di hati. dari thaizide dan furosemide.
- Ekskresi dalam bentuk asal maupun - Memperlemah efek
metabolik lewat urine dan empedu. hipotensif dari beta blocker.
- T ½ 24 jam.
Kontra Indikasi:
- Ibu hamil
- Anak
- Gangguan psikiatri
- Pasien dengan penyakit
lambung

Indikasi:
- Hanya dianjurkan bila
NSAID yang lain kurang
berhasil, misalnya pada
spondilitis ankilosa, arthritis
pirai akut, arthritis tungkai.

e. Diklofenak

Farmakokinetik: Efek Samping:


- Absorbsi melalui saluran cerna - Mual
berlangsung cepat dan lengkap. - Gastritis
- 99% terikat protein plasma. - Eritema kulit
- 40-50% mengalami FPE. - Sakit kepala
- T ½ 1-3 jam.
- Terakumulasi di cairan synovial. Kontra Indikasi:
- Tukak lambung
- Pemakaian selama
kehamilan

f. Ibuprofen

Derivat asam propionat Efek Samping: Dosis:


- Thd saluran cerna lebih - Efek anti
Farmakodinamik: ringan dibandingkan dengan inflamasinya dosis
- Analgesik (efeknya sama seperti aspirin) aspirin, indometacin, dan 1200-2400mg/ hari.
dengan anti infalamsi yg tidak terlalu kuat. naproksen.
- Interaksi obat, dengan: - Efek samping yang lain
 Warfarin: waspada gangguan fungsi jarang.
trombosit yg memperpanjang masa
perdrhn. Kontra indikasi:
 Furosemide dan thiazide: Wanita hamil dan menyusui.
mengurangi efek diuresis dan
19
natriuresis. Indikasi:
Paling aman untuk anak-anak.
 Beta blocker: prazosin dan captopril
mengurangi efek anti hipertensi.

- Mungkin akibat hambatan biosintesis PG


di ginjal.

Farmakokinetik:
- Absorbsi cepat melalui lambung.
- Kadar puncak 1-2 jam.
- T ½ 2 jam.
- 90% terikat protein plasma.
- Ekskresi cepat, lengkap melalui urine
sebagai metabolit atau konjugatnya.
- Metabolit utama merupakan hasil
hidroksilasi dan karboksilasi

g. Naproksen Efek Samping: Dosis:


- Dyspepsia ringan sampai - Untuk terapi
Derivat asam propionat perdarahan lambung rheumatik sendi 2x
- Naproksen bersama dngan ibuprofen - Efek SSP saikt kepala, 250-375mg/ hari.
dianggap paling tidak toksik diantara pusing, lelah - Bila perlu 2x
derivat asam propionat. - Ototoksisitas 500mg/ hari.
- Gangguan hepar dan
Farmakokinetik: ginjal
- Absorbsi baik melaui lambung.
- Kadar puncak 2-4 jam. Indikasi:
- T ½ 14 jam. - Rheumatik sendi
- Tidak terdapat korelasi antara efektivitas
dan kadar plasma.
- 98-99% terikat protein plasma.
- Ekskresi terutama dalam urine,
bentuiknya utuh maupun konjugat.
- Interaksi sama dengan ibuprofen.

h. Asam Mefenamat Efek Samping:


- Dyspepsia.
- Sebagai analgesik. - Iritasi terhadap mukosa
lambung.
- Sebagai anti inflamasi kurang efektif - Eritema kulit.
dibandingkan aspirin. - Brionkokonstriksi.
- Terikat dengan kuat pada protein - Anemia hemolitik.
plasma.
Kontra Indikasi:
- Anak di bawah 14 tahun.
- Ibu hamil.
20
Indikasi:
- Pemberian tidak melebihi
7 hari.

i. Piroksikam Dosis:
- 10-20 mg/ hari
- Struktur baru yaitu oksikam, derivat Efek Samping: diberikan pada pasien
asam enolat. - Tukak lambung yang tidak memberi
- Tinnitus
Farmakokinetik: - Pusing respon cukup dengan
- T ½ > 45 jam. - Nyeri kepala NSAID yang lebih
- Absorbsi cepat di lambung. - Eritema kulit aman
- 99% terikat protein plasma.
- Siklus enterohepatik (+). Kontra Indikasi:
- Kadar puncak 7-10 hari. - Ibu hamil.
- Kadar plasma kira-kira sama dengan - Tukak lambung.
kadar di cairan synovial.. - Sedang minum anti
koagulan.

Indikasi:
- Penyakit inflamasi sendi
misalnya arthritis rheumatoid,
osteoarthritis, spondilitis
ankilosa.

Berdasarkan table diatas maka dapat disimpulkan obat yang terpilih adalah
Acetaminophen/ Paracetamol.

g. Alasan Farmakologis pemilihan P-drug

Pemilihan obat Acetaminophen adalah dilihat dari segi efikasi: obat tsb cocok untuk
menurunkan nyeri kepala dengan jalan menghambat prostaglandine (relevan); dari
segi safety: efek sampingnya tidak mempengaruhi lambung yang mempunyai riwayat ulkus
pepticum; dari segi suitability: banyak sekali bentuk sediaan obat ini; terakhir dari segi cost:
harganya sangat terjangkau.

h. Penanganan Causa

Pemilihan P-drug yang telah dilakukan hanya berfungsi simptomatik sebagai analgesik,
namun untuk jangka panjang sebaiknya Bapak dodik harus menjauhkan diri dari faktor2
pencetus migraine atau diperiksaan lebih lanjut jika gejala-gejala terus dirasakan untuk
mengetahui causa pasti dari migraine.
21
Perlu dipertimbangkan penggunaan 5-HT 1 agonis (Triptan) atau anti-Dopamin
(prochlorperazine) sebagai pengganti atau terapi kombinasi dari Migraine serta mengurangi
mual (aura). Tindakan Propilaxis layak juga untuk dipertimbangkan untuk mengurangi
serangan (Antiepilepsi, antidepresan, dan antihipertensi)

i. P-treatment non drug

Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk meredakan migraine :

1) Body work
2) Massage
3) Creative arts (Menari , musik)
4) Nutrisi / suplemen (vitamins),
5) Eastern medicine (yoga),
6) Acupressure and acupuncture.
j. Kesimpulan
P-drug untuk pasien adalah Acetaminophen.
1) Bentuk sediaan : Tablet 500 mg
2) Cara pemberian : oral
3) Interval : 4-6 jam
4) Max dosis : 4 gram per hari (tidak boeh lebih)
5) Lama pemberian : simptomatik.
6) Efek samping : Eritema, Urtikaria, Demam, jaundice, kehilangan nafsu makan.

B. Pembahasan Jurnal Penelitian


a. Judul
Uji efek analgetik antipiretik ekstrak etanol alfalfa (Medicago sativa) pada tikus putih
jantan galur wistar

b. Teori Umum

Alfalfa merupakan salah satu jenis tanaman polong-polongan dengan habitat asli daerah
subtropics yang dahulu sering digunakan sebagai tanaman hias dan pakan ternak. Akan
tetapi, seiring dengan perkembangan zaman, pemanfaatan Alfalfa mulai diekspansi kea rah
medis untuk kepentingan manusia. Daun Alfalfa diyakini berkhasiat untuk menyembuhkan
berbagai macm penyakit seperti arterosklerosis, kolesterol tinggi, sakit jantung, kanker paru-
paru, kanker usus, kanker prostat, diabetes, asam urat, reumatik, osteoporosis, gangguan

22
pencernaan, penyakit ginjal, gangguan rambut, kulit dan kuku, eksim, anemia, menstruasi
tidak normal, keracunan, migraine dan lain-lain.

Penelitian terakhir membuktikan bahwa fraksi etil asetat ekstrak alfalfa dapat berefek
antiinflamasi. Hal ini diduga disebabkan oleh kandungan flavonoid, saponin dan steroid.
Flavonoid selain berefek antiinflamasi, juga diduga dapat berefek sebagai analgetik dan
antipiretik. Flavonoid dan alkaloid diduga dapat menghambat sintesis prostaglandin E-2
(suatu mediator demam perifer) melalui penghambatan sintesa prostaglandin, lebih tepatnya
endoperoksida.

c. Pembahasan

Pada penelitian ini dilakukan uji analgetik dan uji antipiretik, dengan bahan utama yaitu
herba alfalfa (Medicago sativa) yang sudah diekstrak dengan metode maserasi dan hewan uji
yang digunakan yaitu tikus putih jantan galur Wistar dengan usia 2-3 bulan dengan berat
badan 180-200 g yang akan dikelompokan sesuai perlakuan dimana Tikus kelompok I
(control negatif) yang diberi perlakuan suspensi CMC 0,5% secara oral, Tikus kelompok II
(control positif) diberi suspense parasetamol 50mg/BB secara oral. Tikus kelompok III, IV
dan V berturut-turut diberikan perlakuan ekstrak etanol alfalfa (50,100 dan 200) mg/kg BB.

Uji efek analgetik dilakukan dengan metode jentik ekor. Induksi untuk menimbulkan
rasa nyeri yaitu rangsangan fisis berupa panas yang berasal dari air dalam penangas air yang
sudah diatur suhunya, yaitu sebesar 40 oC. Hasil rata-rata orientasi data respon waktu
terhadap stimulus nyeri sebagai respon normal tikus terhadap stimulus nyeri sebesar 2-4
detik. Data respon waktu terhadap stimulus nyeri setelah perlakukan sediaan uji hasil uji
efek analgetik dapat dilihat pada tabel I.

23
Hasil penelitian menunjukkan bahwa data respon waktu normal tikus terhadap
stimulus nyeri adalah berkisar antara 2,45-3,82 detik. Perlakuan CMC-Na 0,5% pada
tikus tidak mampu meningkatkan respon waktu terhadap stimulus nyeri yang signifikan
(p>0,05). Pada menit ke-60 dan 90, tikus kelompok control negative sedikit mengalami
peningkatan respon waktu rangsangan stimulus nyeri. Hal ini berarti CMC-Na 0,5 %
dapat meingkatkan ambang nyeri, namun mungkin disebabkan adanya respon alami tubuh
saat mengalami nyeri. Tubuh lama kelamaan akan beradaptasi dengan adanya stimulus
nyeri, karena sesungguhnya tubuh mempunyai analgetik alami yaitu senyawa
endorphin. Hal ini yang menyebabkan tubuh akan meningkatkan kekuatannya dalam
menahan rasa nyeri (Goodman dan Gilman, 2006).

Perlakuan parasetamol 50 mg/Kg BB dan ekstrak etanol alfalfa (50, 100 dan 200)
mg/Kg BB mampu meningkatkan secara signifikan respon waktu terhadap stimulus
nyeri (p<0,05). Hal ini sudah mulai terlihat pada menit ke-10 setelah perlakuan sediaan
uji. Puncak meningkatnya nilai ambang terhadap nyeri pada tikus yang mendapatkan
perlakuan parasetamol 50 mg/KgBB terlihat pada menit ke-60 setelah perlakuan, dengan
rata-rata respon waktu terhadap stimulus nyeri paling lama, yaitu sebesar 9,60 detik
(gambar 1).

Parasetamol telah terbukti mempunyai kerja analgetik dan antipiretik, tetapi tidak
mempunyai aktivitas anti-inflamasi. Parasetamol atau asetaminofen menghambat sintesis
prostaglandin secara lemah dan tidak mempunyai efek pada agregasi platelet (Stringer,
2009). Parasetamol merupakan salah satu contoh analgetik perifer yang bekerja dengan
cara menghambat penerusan mediator nyeri berikatan dengan reseptor yang ada di ujung-
ujung syaraf perifer (nociceptor) (Tjay dan Rahardja, 2008).

Selanjutnya, kelompok perlakuan yang memberikan waktu rangsangan stimulus


nyeri terlama adalah pemberian ekstrak Alfalfa mulai dosis 200 mg/kg BB, 100 mg/kgBB
dan 50 mg/kgBB. Berdasarkan hal ini, ekstrak etanol alfalfa terbukti mempunyai efek
analgetik, dengan dosis efektif sebesar 200 mg/kgBB. Berdasarkan metode yang
digunakan dalam penelitian ini, ekstrak etanol alfalfa 200 mg/kgBB memiliki efek
analgetik yang hampir sama dengan parasetamol 50 mg/Kg BB. Diagram perubahan
respon waktu terhadap stimulus nyeri sebelum dan sesudah perlakuan dapat dilihat pada
g
a m
b ar
2.

24
M

Pada uji antipiretik hewan uji diinduksikan secara kimia dengan 0,2 ml vaksin
Difteri Pertusis Tetanus (DPT) secara intramuscular, yang menyebabkan hewan uji
mengalami peningkatan suhu tubuh. Setelah itu diberi perlakuan CMC-Na 0,5 % (kontrol
negatif), Parasetamol 50 mg/kg BB (kontrol positif) dan ekstrak etanol alfalfa (50, 100
dan 200) mg/kg BB tikus secara oral. Hasil uji antipiretik semua kelompok perlakuan
dapat dilihat pada table II.

25
Berdasarkan tabel II, tikus pada kelompok kontrol negatif terlihat terus mengalami
peningktan suhu rectal seiring dengan berjalannya waktu pengamatan. Hal ini
menunjukan bahwa hewan uji yang diberi CMC-Na 0,5% tetap dalam keadaan demam.
CMC-Na bukan merupakan obat antipiretik, namun berguna sebagai suspending agent
yaitu suatu zat yang dapat mendispersikan ekstrak etanol alfalfa dalam air karena ekstrak
etanol alfalfa tidak larut dalam air.

Kelompok kontrol positif menunjukkan adanya penurunan suhu rektal setelah


mengalami demam. Hal ini menunjukkan bahwa parasetamol 50 mg/Kg BB memang
telah terbukti secara klinis sebagai antipiretik. Parasetamol telah terbukti mempunyai
kerja analgetik dan antipiretik, tetapi tidak mempunyai aktivitas anti-inflamasi.
Parasetamol atau asetaminofen menghambat sintesis prostaglandin secara lemah dan
tidak mempunyai efek pada agregasi platelet (Stringer,2009). Parasetamol merupakan
salah satu contoh analgetik perifer yang bekerja dengan cara menghambat penerusan
mediator nyeri berikatan dengan reseptor yang ada di ujung-ujung syaraf perifer
(nociceptor) (Tjay dan Rahardja, 2008).

Hasil penelitian menunjukkan suhu rektal tikus yang mendapatkan perlakuan ekstrak
etanol alfalfa (50, 100 dan 200) mg/Kg BB lebih rendah dari pada tikus kelompok kontrol
negatif (p<0,05). Hal ini membuktikan bahwa ekstrak etanol alfalfa terbukti memiliki
efek antipiretik. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dosis ekstrak etanol alfalfa 50
mg/Kg BB sudah efektif menurunkan suhu rektal tikus demam yang diinduksi vaksin
DPT. Diagram perubahan suhu rektal awal, demam dan sesudah perlakuan sediaan uji
dapat dilihat pada gambar 3

26
d. K
esi
m
pu
lan Hasil Penelitian

Ekstrak etanol alfalfa (Medicago sativa) dapat berefek analgetik dan antipiretik pada
tikus jantan galur Wistar. Dosis efektif ekstrak etanol alfalfa (Medicago sativa) sebagai
analgetik-antipiretik sebesar 50mg/kg BB

BAB IV

27
PENUTUP

A. Kesimpulan

Obat analgetik-antipiretik merupakan kelompok obat yang memiliki aktivitas mengurangi


rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Nyeri sendiri timbul karena
adanya rangsangan mekanis ataupun kimiawi, yang dapat menimbulkan kerusakan pada
jaringan dan melepaskan zat-zat tertentu yang disebut mediator ke ujung saraf. Serabut saraf
kemudian menghantarkan impuls nyeri ke korteks sensorik diotak, sedangkan demam
merupakan suatu gejala dari penyakit.

Penggunan obat analgetik-antipiretik harus diperhatikan terutama bagi ibu hamil Ibu hamil
yang mengkonsumsi obat secara sembarangan dapat menyebabkan cacat pada janin. Obat
yang ada saat ini masih jauh dari ideal. Tidak ada obat yang memenuhi semua kriteria obat
ideal, tidak ada obat yang aman, semua obat menimbulkan efek samping, respon terhadap
obat sulit diprediksi dan mungkin berubah sesuai dengan hasil interaksi obat, dan banyak
obat yang mahal, tidak stabil, dan sulit diberikan.

Sebagai salah satu dari tim kesehatan, seyogyanya harus paham betul akan pemanfaatan
obat yang bertujuan memberikan manfaat maksimal dengan tujuan minimal. Dan berikut ini
adalah hal yang harus diperhatikan dalam pengobatan :
- Mengkaji kondisi pasien
- Mengobservasi kerja obat dan efek samping obat.
- Memberikan pengetahuan tentang indikasi obat dan cara penggunaannya.

B. Saran
Untuk menyempurnakan tugas ini penulis mengharapkan saran dan kritiknya dari pembaca
yang membangun.karena penulis menyadari bahwatugas ini jauh dari kesempurnaan.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


2007. Farmakologi dan Terapi (Edisi 5). Jakarta: Gaya Baru.

Brunton, L et al. 2006. Goodman & Gilman’s Manual of Pharmacology and Therapeutics
(Eleventh Edition). United States: The McGraw Hill Companies, Inc
28
Tjay, T.H dan Rahardja, K, 2002. Obat-Obat Penting. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Sunthornsaj, N et al. 2006. MIMS Indonesia 105th Edition 2006/2007. Jakarta: CMP Medika
Drug References Worldwide.

Puspitasari, Ika. 2010. Jadi Dokter untuk Diri Sendiri. Yogyakarta : B First

Afrianti, R., R. Yenti, dan D. Meustika. 2014. Uji Aktifitas Analgetik Ekstrak Etanol Daun
Pepaya pada Mencit Putih Jantan yang di Induksi Asam Asetat 1%. Jurnal Sains Farmasi dan
Klinis. Vol 1 (1) : 54-55.

Hesti, W.,U. Runingsih., I. Puspitaningrum.2015. Uji Analgetik Antipiretik Etanol Alfalfa


(Medicago sativa) Pada Tikus Putih Jantan Galur Wisatar. STIFAR “Yayasan Pharmasi”
Semarang

Erilian. Diskusi Farmakologi dan Terapi Analgetik-Antipiretik. UNAIR

29