Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

5.1. Latar Belakang


Indonesia adalah salah satu negara yang masih harus berjuang keras untuk menurunkan
prevalensi anak yang mengalami stunting (kerdil). Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
tahun 2013 prevalensi anak yang mengalami stunting di Indonesia adalah sebesar 37,2%,
sedangkan berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2016 sebesar 29,6%. Hal itu
menunjukkan bahwa menggunakan data yang manapun angka stunting di Indonesia tetap
masih jauh di atas batas ambang standar WHO yaitu 20%.

Gambar 1.1. Prevalensi Stunting Balita Menurut Karakteristik (Riskesdas 2013)

60.0 48.4
50.0 42.1 42.4 38.5
38.1 36.2
40.0 32.5 32.3 29.0
30.0
20.0
10.0
0.0

Teratas
Perdesaan

Menengah bawah
Laki-Laki

Perempuan

Menengah atas
Perkotaan

Terbawah

Menengah

Jenis Kelamin Tempat Tinggal Kuintil indeks kepemilikan

Sumber: BAPPENAS

Data Riskesdas 2013 di atas juga menunjukkan satu fakta penting bahwa angka
prevalensi stunting di kawasan perdesaan (42,1%) jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan
perkotaan (32,5%). Hal ini tidak dapat dibiarkan karena hanya memperkuat kenyataan pahit
akan adanya ketimpangan kesejahteraan antara kawasan perdesaan dengan kawasan perkotaan.
Padahal Desa memiliki potensi untuk berkontribusi dalam penanganan masalah stunting karena
berada paling dekat dengan masyarakat. Selain itu, saat ini Desa memiliki kemampuan yang
lebih besar untuk turut menanggulangi persoalan-persoalan pembangunan dan penyediaan
pelayanan sosial dasar secara berkelanjutan karena memiliki kewenangan lokal berskala desa
dan adanya kucuran Dana Desa.

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 1
Intervensi program pembangunan pada bidang-bidang yang terkait dengan
penanggulangan stunting di desa sendiri sebetulnya bukanlah merupakan sesuatu hal yang
baru. Program Generasi Sehat dan Cerdas (GSC) misalnya, merupakan salah satu contoh
program pemberdayaan masyarakat dan pemerintah desa di bidang pelayanan kesehatan dan
gizi yang cukup berhasil. Berdasarkan hasil studi monitoring dan evaluasi MCA-Indonesia,
implementasi program GSC telah menunjukkan terjadinya penurunan stunting yang cukup
signifikan (sekitar 7%) di daerah-daerah yang menjadi wilayah intervensinya. Namun, GSC
adalah program yang bersifat sementara (ad hoc), oleh sebab itu diperlukan upaya-upaya untuk
menginternalisasi substansi kegiatan penyediaan pelayanan sosial dasar yang berdampak
terhadap upaya penurunan stunting yaitu bidang kesehatan, gizi dan sanitasi seperti yang
dilakukan melalui GSC menjadi mekanisme reguler yang dilaksanakan oleh masyarakat dan
pemerintah Desa.
Salah satu upaya yang dapat menjadi landasan penting bagi penanggulangan stunting
secara berkelanjutan di desa adalah dengan membuat Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria
(NSPK) pelayanan sosial dasar di bidang kesehatan, gizi dan sanitasi. Untuk itulah,
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, melalui Direktorat
Pelayanan Sosial Dasar (Direktorat PSD) mengambil prakarsa untuk menyusun Pedoman
Standar Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi untuk Penanggulangan
Stunting di Desa. Inisiatif ini sejalan dengan tugas Direktorat PSD dalam menyiapkan
perumusan dan pelaksanaan kebijakan serta fungsi penyiapan perumusan norma, standar,
prosedur dan kriteria di bidang pelayanan sosial dasar, kesejahteraan sosial, kesejahteraan
masyarakat, adat dan budaya, perlindungan sosial, serta pengembangan askses informasi
masyarakat.
Penetapan Standar Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan, Gizi, dan Sanitasi untuk
penanggulangan stunting di Desa dapat dilihat juga sebagai bagian dari upaya untuk
melaksanakan pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang terkait dengan kesehatan,
gizi, dan sanitasi. Pemenuhan SPM sendiri merupakan upaya untuk memberikan pelayanan
dasar yang menjadi hak seluruh warga negara.

5.2. Maksud dan Tujuan


Maksud dari penyusunan Pedoman Standar Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan,
Gizi Dan Sanitasi Untuk Penanggulangan Stunting di Desa ini untuk memberi dukungan
terhadap upaya-upaya mempercepat penanggulangan stunting sekaligus pemenuhan SPM
Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 2
terkait bidang kesehatan, gizi dan sanitasi. Adapun tujuan yang hendak dicapai adalah
menyediakan sebuah acuan bagi Pemerintah Desa dan masyarakat serta para pengelola sarana
pelayanan sosial dasar di Desa seperti Poskesdes dan kader Posyandu dalam
menyelenggarakan jenis dan mutu pelayanan sosial dasar.

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 3
BAB II
PENANGGULANGAN STUNTING DI DESA MELALUI
PELAYANAN SOSIAL DASAR BIDANG KESEHATAN, GIZI DAN SANITASI

2.1. Isu Stunting dan Kebijakan Penanggulangannya


Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (di bawah 5 tahun) akibat
dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi itu
terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga setelah bayi lahir, kondisi stunting secara fisik baru
nampak nyata setelah anak berusia 2 tahun. Untuk menentukan status stunting atau tidak, anak
perlu diukur panjang atau tingginya, diketahui umur dan dibandingkan dengan rujukan.
Fenomena stunting yang terjadi di Indonesia tidak hanya dialami oleh keluarga yang
kurang mampu, tetapi cukup banyak juga dialami oleh keluarga yang mampu. Data Riskesdas
2013 sekali lagi memberikan fakta penting bahwa prevalensi stunting pada kelompok teratas
masyarakat (kuintil 5) juga cukup tinggi yakni sebesar 29%. Hal ini mengindikasikan bahwa
faktor kemiskinan bukan merupakan satu-satunya penyebab stunting tetapi juga disebabkan
oleh faktor-faktor non ekonomi seperti minimnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat
akan masalah kesehatan dan kecukupan gizi. Secara garis besar faktor-faktor penyebab stunting
dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Praktek pengasuhan anak yang kurang baik karena kurangnya pengetahuan ibu dalam
masalah kesehatan dan gizi.
2) Terbatasnya layanan kesehatan, khususnya layanan kesehatan untuk ibu selama masa
kehamilan.
3) Kurangnya akses rumah tangga ke makanan bergizi.
4) Kurangnya akses rumah tangga ke air bersih dan sanitasi.

Praktek pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai
kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan misalnya
ditunjukkan oleh fakta bahwa 60% dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan Air Susu Ibu
(ASI) secara eksklusif, dan 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima Makanan
Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). Masalah terbatasnya layanan kesehatan, termasuk
layanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan dan pembelajaran dini yang berkualitas
ditunjukkan oleh publikasi Kemenkes dan Bank Dunia yang menyatakan bahwa tingkat
kehadiran anak di Posyandu semakin menurun dari 79% (2007) menjadi 64% (2013) dan masih

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 4
banyak anak yang belum mendapat akses yang memadai ke layanan imunisasi. Fakta lain
adalah 2 dari 3 ibu hamil belum mengkonsumsi suplemen zat besi yang memadai.
Ketersediaan Pangan di tingkat rumah tangga yang belum baik dan masih kurangnya
akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi dapat dipastikan terjadi pada kelompok
masyarakat berpendapatan yang rendah (Rumah Tangga Miskin). Sedangkan masalah
kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi dibuktikan oleh data yang diperoleh di lapangan
yang menunjukkan bahwa 1 dari 5 rumah tangga di Indonesia masih buang air besar (BAB)
diruang terbuka, serta 1 dari 3 rumah tangga belum memiliki akses ke air minum bersih.
Pemerintah Indonesia sendiri memandang masalah stunting ini sebagai suatu persoalan
yang mendesak untuk ditangani. Pemerintah Indonesia melalui Proyek Kesehatan dan Gizi
Berbasis Masyarakat (PKGBM) yang dikelola Kementerian Kesehatan dan MCA-Indonesia,
mengembangkan inisiatif untuk menanggulangi stunting. Proyek ini dilaksanakan bertujuan
untuk mencegah bayi dengan berat lahir rendah, mencegah anak menjadi stunting, mencegah
terjadinya kekurangan gizi pada anak-anak di wilayah proyek, dan untuk meningkatkan
pendapatan rumah tangga melalui penghematan biaya, peningkatan produktivitas, dan
penghasilan yang lebih tinggi. PKGBM ini dilaksanakan di 64 kabupaten di 11 provinsi.
Dukungan untuk menangani stunting ini kemudian diperluas melalui dukungan dan kerjasama
dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Kegiatan ini
dijalankan di bawah payung PKGBM dengan fokus pada lokasi yang sudah diintervensi oleh
kegiatan Generasi Sehat dan Cerdas (GSC).
Upaya untuk memerangi stunting menemukan momentum yang lebih besar ketika pada
pertengahan tahun 2017 disepakati perlunya Intervensi Gizi Terintegrasi (Lintas Sektor) untuk
penanggulangan stunting dan menetapkan 100 Kabupaten/Kota yang menjadi fokus intervensi
untuk Tahun 2018, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K)
mengukuhkan kebijakan tersebut melalui dokumen “100 Kabupaten/Kota Untuk Intervensi
Stunting". Dari segi penganggaran, Pemerintah Pusat melalui Bappenas tengah merancang
dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kesehatan untuk Tematik Stunting.

2.2. Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan, Gizi, dan Sanitasi di Desa Untuk
Penanggulangan Stunting
Upaya penanggulangan masalah stunting di Desa difokuskan melalui penyediaan
pelayanan sosial dasar bidang kesehatan, gizi dan sanitasi. Oleh sebab itu, perumusan standar
pelayanan sosial dasar bidang kesehatan, gizi dan sanitasi dalam rangka penanggulangan

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 5
masalah stunting di Desa secara metodologis dan teknis mengacu kepada ketentuan atau norma
yang mengatur penyediaan pelayanan dasar di bidang kesehatan, gizi dan sanitasi.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2018 setiap warga negara Indonesia
berhak untuk mendapatkan pelayanan dasar yang pemenuhannya menjadi kewajiban
pemerintah. Pelayanan dasar itu sendiri dimaknai sebagai pelayanan publik untuk memenuhi
kebutuhan dasar warga negara. Ketentuan mengenai jenis dan mutu pelayanan dasar yang
merupakan urusan pemerintahan wajib yang berhak diperoleh setiap warga negara secara
minimal disebut Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Sebagai Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar SPM
meliputi 6 bidang, yaitu:
1) Pendidikan.
2) Kesehatan.
3) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.
4) Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman.
5) Ketenteraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat.
6) Sosial.

Dua di antara enam SPM di atas relevan untuk dijadikan acuan standar teknis bagi
perumusan Standar Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi di Desa, yaitu
SPM Bidang Kesehatan dan SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Sedangkan
acuan standar teknis untuk pelayanan belum ada ketentuan yang berbentuk SPM namun
terdapat norma lain yang dapat digunakan sebagai acuan. Acuan utama untuk standar teknis
pelayanan sosial dasar bidang kesehatan, gizi, dan sanitasi di Desa adalah:
 Peraturan Menteri Kesehatan No. 43 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Minimal
Bidang Kesehatan Tingkat Kabupaten/Kota untuk bidang kesehatan.
 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 51 Tahun 2016 tentang Standar Produk Suplemen
Gizi untuk bidang gizi.
 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 1 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan
Minimal Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang untuk bidang sanitasi.
2.3. Kewenangan Desa Dalam Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan Gizi dan
Sanitasi
Penyelenggaraan standar pelayanan sosial dasar bidang kesehatan, gizi dan sanitasi di
Desa tidak boleh tumpang tindih dengan kewajiban pelaksanaan SPM oleh Kabupaten/Kota
dan Provinsi, melainkan bersifat kolaboratif sesuai kewenangan masing-masing. Oleh karena
Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 6
itu perumusan Standar Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi untuk
Penanggulangan Stunting di Desa ini akan dibatasi atau difilter oleh faktor kewenangan lokal
berskala desa.
Menurut Peraturan Menteri Desa Nomor 1 Tahun 2015, daftar kewenangan lokal
berskala desa dalam pembangunan pelayanan dasar desa yang terkait upaya penanggulangan
maslaah stunting meliputi:
a. Pengembangan Poskesdes/Polindes
b. Pengembangan tenaga kesehatan Desa
c. Pembinaan dan Pengelolaan Posyandu, melalui
1) Layanan gizi balita
2) Pemeriksaan ibu hamil
3) Pemberian makanan tambahan
4) Penyuluhan kesehatan
5) Gerakan hidup bersih dan sehat
6) Penimbangan bayi; dan
7) Gerakan sehat untuk lanjut usia
d. Pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan tradisional

Kewenangan Desa dalam pembangunan sarana prasarana yang terkait dengan upaya
penanggulangan masalah stunting, meliputi:
a. Pembangunan dan pengelolaan air bersih skala Desa
b. Pembangunan dan pemeliharaan sanitasi lingkungan

Kewenangan Desa dalam pemberdayaan masyarakat Desa yang terkait dengan upaya
penanggulangan masalah stunting, meliputi
a. Fasilitasi terhadap kelompok-kelompok rentan, kelompok masyarakat miskin, perempuan,
masyarakat adat dan difabel
b. Penyelenggaraan promosi kesehatan dan gerakan hidup bersih dan sehat

Melalui Sinkronisasi dengan aspek kewenangan lokal berskala Desa, diharapkan


pelaksanaan pemenuhan Standar Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
di Desa akan dapat diintegrasikan ke dalam sistem regulasi dan sistem perencanaan dan
penganggaran di Desa.

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 7
BAB III
STANDAR PELAYANAN SOSIAL DASAR BIDANG KESEHATAN, GIZI DAN
SANITASI UNTUK PENANGGULANGAN STUNTING DI DESA

Standar Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi Untuk
Penanggulangan Stunting di Desa ini disusun dengan maksud untuk memberi dukungan
terhadap upaya-upaya untuk mempercepat penanggulangan masalah stunting di Desa melalui
penyediaan pelayanan kesehatan, gizi dan sanitasi yang memadai. Kerangka yang digunakan
dalam proses perumusan Standar Pelayanan adalah: i) Standar Pelayanan Minimal yang terkait
sebagai acuan teknis standar pelayanan; ii) Klasifikasi sasaran atau penerima manfaat layanan;
dan iii) Ruang lingkup pelayanan yang dapat diberikankan oleh Desa sebagai penyedia
layanan.

3.1. Standar Pelayanan Minimal Sebagai Acuan Teknis


Acuan teknis standar pelayanan yang digunakan adalah Permenkes No. 43/2016 tentang
SPM Kesehatan untuk bidang kesehatan, Permenkes Nomor 51/2016 tentang Standar Produk
Suplemen Gizi untuk bidang gizi, dan Permen PU Nomor 1/2014 SPM Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang untuk bidang sanitasi.

3.2. Sasaran/Penerima Manfaat

Upaya-upaya penanggulangan stunting difokuskan kepada 1.000 Hari Pertama


Kehidupan, yang dihitung dari saat pertama kali seorang ibu memulai kehamilannya hingga
anak yang dilahirkannya berusia 2 tahun. Oleh karena itu sasaran dari Standar Pelayanan Sosial
Dasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi untuk Penanggulangan Stunting di Desa adalah:

1. Ibu Hamil.
2. Ibu Bersalin.
3. Bayi Baru Lahir dan Ibu Menyusui.
4. Anak Di Bawah Dua Tahun (Baduta).
5. Rumah Tangga / Keluarga yang Memiliki Ibu Hamil dan Baduta.

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 8
3.3. Ruang Lingkup Peran Desa Dalam Penyediaan Pelayanan Sosial Dasar Bidang
Kesehatan, Gizi dan Sanitasi

Dalam konteks penyediaan pelayanan dasar yang menjadi hak setiap warganegara,
kewajiban untuk melaksanakan pemenuhan SPM secara normatif ada pada Pemerintah
Kabupaten/Kota dan Pemerintah Provinsi. Akan tetapi pada tataran implementasi, terkait faktor
kendala jangkauan dan rentang kendali, peran serta Desa dapat turut menentukan keberhasilan
upaya pemenuhan atau penerapan SPM tersebut. Oleh sebab itu, khusus terkait penanganan
masalah stunting di Desa, upaya-upaya penanggulangan perlu diletakkan pula dalam perspektif
upaya pemenuhan SPM-SPM yang terkait, agar terjadi kerja sama atau gotong royong di antara
Pemerintah Daerah dengan Desa dalam pelaksanaannya. Untuk itu, sebelum menetapkan
Standar Pelayanan Sosial Dasar di Desa, terlebih dahulu perlu ditentukan mengenai ruang
lingkup peran yang dapat dan layak dilakukan Desa dalam upaya penanggulangan stunting
melalui pelayanan sosial dasar bidang kesehatan, gizi dan sanitasi.
Secara normatif, ruang lingkup peran Desa dalam pelaksanaan pemenuhan pelayanan
sosial dasar dibatasi oleh regulasi yang mengatur tentang kewenangan lokal berskala Desa.
Secara metodologis, ruang lingkup pelayanan yang dapat dilaksanakan oleh Desa mengikuti
langkah-langkah atau tahapan pemenuhan standar pelayanan yang meliputi aspek-aspek:
pendataan, penyuluhan, pemberian akses pelayanan dan kepatuhan (compliance) untuk setiap
jenis pelayanan standar.

1. Pendataan
Urusan pendataan merupakan hal yang mendasar, karena pelaksanaan pemenuhan Standar
PSD di Desa harus dilakukan berdasarkan data empiris (evidence based approach).
Pendataan seputar pelayanan bidang kesehatan, gizi dan sanitasi yang terkait dengan
penanggulangan masalah stunting dapat dilakukan di tingkat Desa dengan menugaskan
aparat Pemerintah Desa, Kader Desa dan petugas kesehatan yang ada di Desa. Pendataan
tentang kondisi kesehatan dan gizi ibu hamil, ibu bersalin, bayi baru lahir/ibu menyusui dan
baduta dapat dilakukan oleh Kader Posyandu sesuai dengan panduan buku kader posyandu
yang dikoordinasi dan kemudian direkap oleh Bidan Desa. Pendataan tentang kondisi akses
terhadap air bersih dan pengelolaan limbah dilakukan oleh aparatur Desa yang menangani
urusan pembangunan bersama-sama dengan Kader Desa yang menangani kesehatan
lingkungan, menghasilkan peta sanitasi. Pendataan sedapat mungkin memanfaatkan format
yang sudah ada di Posyandu atau yang disediakan oleh Puskeksmas yang membinanya.

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 9
2. Penyuluhan, Pemicuan dan Pendampingan
Kesadaran/pemahaman masyarakat sebagai sasaran atau penerima manfaat merupakan
bagian yang sangat penting dalam upaya pemenuhan standar pelayanan sosial dasar bidang
kesehatan, gizi dan sanitasi di Desa, karena pada banyak hal peran serta dan kepatuhan
penerima manfaat pelayanan turut memastikan terpenuhi atau tidaknya suatu standar
pelayanan. Untuk itu, Desa melalui aparat dan kader-kadernya diharapkan dapat
mengambil peran dalam menyelenggarkan berbagai kegiatan penyuluhan, pemicuan dan
pendampingan terkait kesehatan, gizi dan sanitasi, khususnya yang terkait dengan
penaganan masalah stunting. Sasaran dari kegiatan penyuluhan/pemicuan/pendampingan
adalah: ibu hamil, ibu menyusui, serta anggota keluarga yang memiliki ibu hamil dan
baduta. Materi penyuluhan tersebut mencakup antara lain:
a) Penyuluhan manfaat dan pentingya Tablet Tambah Darah bagi ibu hamil;
b) Penyuluhan makanan bergizi untuk ibu hamil;
c) Penyuluhan pentingnya persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan;
d) Penyuluhan tentang Inisiasi Menyusu Dini;
e) Penyuluhan pentingnya imunisasi dasar lengkap, ASI eklusif dan pemberian ASI hingga
usia 23 bulan;
f) Penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan meneruskan pemberian
ASI hingga usia 23 bulan, serta pemberian MP ASI pada usia 6 bulan ke atas;
g) Penyuluhan makanan bergizi dengan praktek pengolahan makan berbahan lokal;
h) Penyuluhan pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
i) Pemicuan Sanitasi Total Bermasis Masyarakat (STBM)

Penyuluhan dan pemicuan dapat dilakukan melalui penyelenggaraan kelas-kelas: ibu hamil,
ibu menyusui dan ibu yang memiliki anak baduta. Sedangkan pendampingan dilakukan
oleh para kader, baik pada melalui pelayanan posyandu maupun kunjungan terhadap para
penerima manfaat.

3. Pemberian Akses Pelayanan


Untuk mendapatkan pelayanan sosial dasar adakalanya masyarakat Desa menghadapi
kendala, baik disebabkan oleh terbatasnya sarana/prasarana sosial dasar yang tersedia
maupun disebabkan oleh terbatasnya kemampuan masyarakat untuk menjangkau pelayanan
yang ada (Rumah Tangga Miskin atau RTM). Untuk itu Desa diharapkan dapat
memberikan bantuan akses pelayanan kesehatan, gizi dan sanitasi kepada ibu hamil, ibu

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 10
bersalin/menyusui, dan keluarga yang memiliki baduta yang membutuhkannya. Lingkup
pemberian akses pelayanan tersebut meliputi:
a) Pelayanan posyandu untuk ibu hamil, bayi dan Baduta;
b) Pelayanan kesehatan di Polindes/Poskesdes;
c) Memfasilitasi akses pelayanan kesehatan di Puskesmas atau menghadirkan petugas
kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan, dengan prioritas bagi masyarakat
tidak mampu (RTM).
d) Memfasilitasi ibu yang akan melahirkan ditempat pelayanan kesehatan atau
menghadirkan petugas kesehatan dalam kasus darurat, dengan prioritas bagi
masyarakat tidak mampu (RTM).
e) Memfasilitasi ibu yang melahirkan dengan komplikasi ke Puskesmas berupa
penyediaan transportasi, rumah singgah/rumah tunggu bagi yang mendampingi ibu
yang melahirkan di pelayanan kesehatan;
f) Memfasilitasi akses setiap rumah tangga terhadap air bersih, termasuk melalui
pembangunan dan pengelolaan air bersih berskala Desa.
g) Memfasilitasi akses setiap rumah tangga terhadap sarana sanitasi lingkungan,
termasuk melalui pembangunan dan pemeliharaan jamban komunal.

4. Kepatuhan dalam Pemanfaatan Pelayanan (Compliance)


Karena terbatasnya ruang interaksi atau daya jangkau, petugas kesehatan seperti Bidan
Desa atau petugas Puskesmas seringkali kesulitan untuk memastikan suatu pelayanan
sudah terpenuhi secara tuntas atau belum. Untuk memastikan semua jenis layaanan
kesehatan, gizi dan sanitasi benar-benar diterima dan dimanfaatkan sesuai dengan standar
minimal para Kader Desa dapat mendampingi atau mendorong kepatuhan masyarakat Desa
dalam hal antara lain:
a) Memastikan setiap Tablet Tambah Darah yang diberikan oleh petugas kesehatan
benar-benar dikonsumsi oleh setiap ibu hamil;
b) Memastikan ketersediaan Vitamin A di Bidan Desa dan Posyandu dan benar-benar
dikonsumsi oleh setiap baduta;
c) Memastikan MP ASI yang diberikan dikonsumsi oleh anak Baduta
d) Memastikan PMT pemulihan yang diberikan dikonsumsi oleh anak kurus (anak
kurang gizi).

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 11
3.4. Standar Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi Untuk
Penanggulangan Stunting di Desa

1. Standar Pelayanan Untuk Ibu Hamil


Setiap ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar sebagai berikut:

Pernyataan Pelayanan Lingkup Pelayanan Peran Instrumen


Standar Desa Kader Desa Pendukung
1. Timbang berat badan  Memastikan  Mendata seluruh  Formulir
dan ukur tinggi badan seluruh ibu hamil ibu hamil di Desa, pendataan ibu
2. Ukur tekanan darah terdata; termasuk ibu hamil
3. Nilai status gizi (Ukur  Memastikan hamil risiko tinggi  Transport
Lingkar Lengan seluruh ibu hamil (risti) dan ibu kader
Atas/LILA) menerima buku hamil Kurang
4. Ukur tinggi puncak KIA Energi Kronis
rahim (fundus uteri);  Melaporkan
5. Tentukan presentasi jumlah ibu hamil
janin dan Denyut ke Puskesmas
Jantung Janin (DJJ);  Membantu ibu
6. Skrining status hamil memiliki
imunisasi tetanus dan Kartu Indonesia
berikan imunisasi Sehat ( KIS)
Tetanus Toksoid (TT) /BPJS / Jampersal
bila diperlukan  Memastikan  Memantau  Form
7. Pemberian tablet tambah seluruh ibu hamil ketersediaan penerimaan
darah minimal 90 tablet mengkonsumsi Tablet Tambah TTD
selama kehamilan; tablet tambah darah Darah (TTD) di  Kartu
8. Tes laboratorium: tes posyandu/bidan kepatuhan
kehamilan, pemeriksaan desa minum TTD
hemoglobin darah (Hb),  Memantau setiap  Transport
pemeriksaan golongan ibu hamil kader
darah (bila belum mengkonsumsi
pernah dilakukan TTD
sebelumnya),
 Menyelenggarakan  Mengundang  Konsumsi
pemeriksaan protein
kegiatan narasumber dari  Daftar hadir
urin (bila ada indikasi);
yang pemberian
penyuluhan kelas petugas puskesmas  Surat
remaja putri/WUS/ dan peserta undangan
pelayanannya
calon  Mempersiapkan  Dokumentas
disesuaikan dengan
pengantin/PUS, ibu pertemuan dan i/foto
trimester kehamilan
9. Tatalaksana/penanganan
hamil, dan bahan-bahan untuk  Kwitansi
menyusui tentang penyuluhan bukti
kasus sesuai
manfaat TTD (contoh : bahan pembayaran
kewenangan
untuk mencegah baku MP ASI dari  ATK
10. Temu wicara
anemia bahan lokal, dapat  Transport
(konseling)
 Menyelenggarakan bekerja sama kader
kegiatan dengan Kawasan
penyuluhan kelas Rumah Pangan
kepada suami dan Lestari)
anggota keluarga
lain yang memiliki

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 12
Pernyataan Pelayanan Lingkup Pelayanan Peran Instrumen
Standar Desa Kader Desa Pendukung
ibu hamil,
menyusui dan
baduta (di bawah 2
tahun) tentang
manfaat TTD
untuk mencegah
anemia
 Menyelenggarakan
kegiatan
penyuluhan bergizi
untuk ibu hamil
dengan praktek
pengolahan
makanan berbahan
lokal
 Memastikan ibu
hamil Kurang
Energi Kronis
(KEK)
mendapatkan PMT
 Melakukan  Mendampingi ibu  Alat
rujukan apabila hamil yang dirujuk Transportasi
ada kasus yang ke fasilitas  Rumah
tidak dapat di atasi pelayanan singgah /
desa kesehatan rumah tunggu
 Memastikan ibu  Mendampingi ibu  Informasi
hamil datang ke hamil ke fasilitas fasilitas
fasilitas pelayanan pelayanan pelayanan
kesehatan kesehatan kesehatan
 Melakukan  Transport
kunjungan ke kader
rumah yang
memiliki ibu hamil
(sweeping)

2. Standar Pelayanan Untuk Ibu Bersalin


Setiap ibu bersalin mendapatkan pelayanan persalinan sesuai standar sebagai berikut:
Pernyataan Pelayanan Lingkup Pelayanan Peran Instrumen
Standar Desa Kader Desa Pendukung

1. Setiap persalinan yang  Menyelenggarakan  Mengundang  Konsumsi


dilakukan oleh Bidan kegiatan narasumber dari  Daftar hadir
dan atau Dokter dan penyuluhan kepada petugas puskesmas  Surat
atau Dokter Spesialis ibu, suami dan dan peserta undangan
Kebidanan yang bekerja anggota keluarga  Mempersiapkan  Dokumentasi/f
di fasilitas pelayanan lain tentang pertemuan dan oto
kesehatan Pemerintah pentingnya bahan-bahan untuk  Kwitansi bukti
maupun Swasta yang persalinan di penyuluhan pembayaran
memiliki Surat Tanda fasilitas pelayanan
Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 13
Register (STR) baik kesehatan  Transport
persalinan normal dan  Menyelenggarakan kader
atau persalinan dengan kegiatan
komplikasi; penyuluhan kepada
2. Fasilitas pelayanan ibu bersalin
kesehatan meliputi tentang Inisiasi
Polindes, Poskesdes, Menyusu Dini
Puskesmas, bidan
praktek swasta, klinik
pratama, klinik utama,  Memfasilitasi  Mendampingi ibu  Alat
klinik bersalin, balai pelaksanaan bersalin ke fasilitas transfortasi
kesehatan ibu dan anak, rujukan dari bidan pelayanan  Transport
rumah sakit pemerintah ke Puskesmas kesehatan kader
maupun swasta apabila diperlukan;  Rumah
 Memastikan singgah /
ketersediaan rumah tunggu
transportasi kepada
ibu yang akan
melahirkan
 Memastikan
adanya pengantar
untuk ibu yang
akan bersalin

3. Standar Pelayanan Untuk Bayi Baru Lahir dan Ibu Menyusui


Setiap bayi baru lahir mendapatkan pelayanan kesehatan dan gizi sesuai standar sebagai
berikut:

Pernyataan Pelayanan Lingkup Pelayanan Peran Instrumen


Standar Desa Kader Desa Pendukung
1. Memberikan akses  Memastikan  Mendata seluruh  Formulir
pelayanan kesehatan pendataan seluruh bayi baru lahir pendataan
bayi baru lahir yang bayi baru lahir  Melaporkan jumlah
dilakukan oleh Bidan bayi baru lahir ke
Puskesmas
dan atau perawat dan
 Mengundang  Konsumsi
atau Dokter dan atau
narasumber dari  Materi
Dokter Spesialis Anak petugas puskesmas penyuluhan
yang memiliki Surat dan peserta (media KIE
Tanda Register (STR)  Mempersiapkan seperti poster,
2. Penyuluhan Inisiasi pertemuan dan lembar balik,
Menyusu Dini (IMD) bahan-bahan untuk leaflet, dll)
3. Penyuluhan Imunisasi penyuluhan  Kwitansi bukti
bukti
hepatitis
pembayaran
 Transport
kader
 Menyediakan  Membantu
akte kelahiran pendaftaran akte
kelahiran

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 14
4. Standar Pelayanan Untuk Anak Dibawah Dua Tahun (Baduta)
Setiap Baduta mendapatkan pelayanan kesehatan dan gizi sesuai standar sebagai berikut:
Pernyataan Lingkup Pelayanan Peran Instrumen
Pelayanan Standar Desa Kader Desa Pendukung
1. Penimbangan  Memastikan  Melakukan  Transport
minimal 8 kali pendataan seluruh pendataan jumlah kader
setahun, pengukuran anak bawah dua tahun baduta (di bawah 2  Insentif bagi
panjang/tinggi badan (baduta) tahun) di Desa kader yang
 Memastikan  Menyelenggarakan menyelenggar
minimal 2 kali
ketersediaan Vitamin kegiatan 5 langkah akan
setahun A di Posyandu /Bidan kegiatan Posyandu Posyandu
2. Pemberian kapsul Desa secara rutin
vitamin A 2 kali  Menyelenggarakan minimal satu kali
setahun. kegiatan penyuluhan sebulan
3. Pemberian imunisasi pentingnya imunisasi  Melakukan
dasar lengkap dasar lengkap, ASI pengukuran tinggi
eklusif dan pemberian badan saat bulan
diberikan fasilitas
ASI hingga usia 23 pemberian vitamin
kesehatan bulan A (Februari dan
pemerintah maupun Agustus)
swasta, dan UKBM  Mendata dan
4. Setiap bayi diberi memantau
ASI Eksklusif selama pertumbuhan
6 bulan (PIS PK) seluruh baduta (di
bawah 2 tahun) :
5. Setiap bayi diberi
 Berat badan anak
ASI hingga usia 23
tidak naik 2 kali
bulan penimbangan
6. Setiap bayi berusia 6 berturut-turut (2T)
bulan ke atas diberi  Bawah Garis
MPASI Merah (BGM)
 Tanda-tanda
bahaya gizi buruk
 Melaporkan jumlah
dan hasil
pemantauan
pertumbuhan
seluruh baduta (di
bawah 2 tahun),
termasuk SKDN :
Seluruh anak
didata, seluruh
anak mendapatkan
KMS/buku KIA,
seluruh anak
ditimbang, dan
seluruh anak naik
berat badannya.
 Melaporkan hasil
N/D yang tetap
atau tidak naik
selama 2 bulan

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 15
Pernyataan Lingkup Pelayanan Peran Instrumen
Pelayanan Standar Desa Kader Desa Pendukung
berturut-turut
kepada Puskesmas
(D/S minimal
80%).
 Memastikan  Memantau setiap  Transport kader
ketersediaan vitamin anak baduta (di
A di Posyandu bawah 2 tahun)
konsumsi kapsul
vitamin A 2 kali
setahun (Februari
dan Agustus)
sesuai dengan
ketentuan (usia 6-
11 bulan satu
kali, usia 12-23
bulan dua kali)
 Melakukan
“sweeping”
pemberian
vitamin A ke
rumah yang
memiliki baduta
(di bawah 2
tahun)
 Memantau setiap
anak
mendapatkan
imunisasi dasar
lengkap.
 Menyelenggarakan  Mengundang  Konsumsi
kegiatan penyuluhan narasumber dari  Daftar hadir
kepada ibu untuk petugas  Surat undangan
memberikan ASI puskesmas dan  Dokumentasi/fo
eksklusif selama 6 peserta to
bulan dan meneruskan  Mempersiapkan  Kwitansi bukti
pemberian ASI hingga pertemuan dan pembayaran
usia 23 bulan, serta bahan-bahan  Transport kader
pemberian MP ASI untuk penyuluhan
pada usia 6 bulan ke  Memastikan
atas bahan PMT tepat
 Menyelenggarakan sasaran, tepat
kegiatan penyuluhan jumlah, tepat
makanan bergizi waktu dll
dengan praktek
pengolahan makan
berbahan lokal
 Memastikan Baduta
mendapatkan PMT
 Memastikan Baduta
kurus mendapatakan
PMT pemulihan

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 16
5. Standar Pelayanan Untuk Rumah Tangga / Keluarga yang Mempunyai Ibu
Hamil, Bayi dan Baduta
Setiap Keluarga yang mempunyai ibu hamil, Bayi dan Baduta mendapatkan pelayanan
sanitasi sesuai standar sebagai berikut:

Pernyataan Lingkup Pelayanan Peran Instrumen


Pelayanan Standar Desa Kader Desa Pendukung

1. Tersediannya air  Membuat peta  Mendata jumlah  Transport kader


bersih 60 liter/ sanitasi, pemetaan penduduk
hari/orang sumber air bersih pemakai air
2. Setiap kepadatan dan penggunaannya,  Mendata jumlah
penduduk lebih dari serta jamban penduduk yang
300 jiwa/Ha , keluarga menggunakan
memiliki jaringan jamban keluarga
sistem pengolahan  Menyediakan air  Membentuk  Transport kader
limbah yang terpusat bersih berskala desa kelompok
(komunal) pemakai air
3. Sitem air limbah  Menyelenggarakan  Mengundang  Transport kader
setempat yang kegiatan penyuluhan narasumber dari
memadai (septic tentang pentingnya petugas puskesmas
tank) Perilaku Hidup Bersih dan peserta
4. air ledeng, kran dan Sehat (PHBS)  Memastikan bahan
umum, air hujan, terutama air bersih, tepat sasaran, tepat
mata air, dan sumur jamban keluarga, jumlah, tepat
tertutup yang pengelolaan sampah, waktu dll)
jaraknya lebih dari pengamanan air  Mempersiapkan
10 meter dari limbah dan cucitangan pertemuan dan
pembuangan sistem pakai sabun (CTPS) bahan-bahan untuk
limbah dan  Menyelenggarakan pemicuan
pembuangan sampah kegiatan pemicuan
sanitasi total berbasis
masyarakat (STBM)

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 17
6. Standar Fasilitas Pendukung Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan sesuai standar memerlukan fasilitas pendukung sebagai berikut:

Pernyataan Lingkup Pelayanan Peran Instrumen


Pelayanan Standar Desa Kader Desa Pendukung

1. Tersediannya tempat  Membangun/ Mengikuti  Biaya


pelayanan kesehatan rehabilitasi, Musrembangdes operasional
masyarakat desa pemeliharaan
2. Tersediannya sarana Poskesdes
dan prasarana di  Membangun/
fasilitas kesehatan rehabilitasi,
pemeliharaan
Posyandu
 Menyiapkan sarana  Sarana (meja,
dan prasarana kursi, lemari,
Poskesdes dan ATK)
Posyandu.  Seragam kader

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 18
BAB IV
PELAKSANAAN PEMENUHAN STANDAR PELAYANAN SOSIAL DASAR BIDANG
KESEHATAN, GIZI DAN SANITASI DI DESA
UNTUK PENANGGULANGAN STUNTING

4.1. Regulasi Yang Dibutuhkan Untuk Pelaksanaan

Untuk memastikan Standar Pelayanan Sosial Dasar di Bidang Kesehatan, Gizi dan
Sanitasi dalam rangka penanggulangan stunting di desa dilaksanakan oleh desa, kabupaten,
Provinsi dan Pusat, diperlukan regulasi yang menjadi landasan formal dalam penyusunan
kebijakan, program dan kegiatan pelayanan sosial dasar. Kerangka regulasi ditetapkan oleh
Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota dan Desa.

Melalui aspek regulasi memberikan arah dan kebijakan strategis dalam


penanggulangan stunting, sehingga langkah langkah pencapaian dapat dilaksanakan secara
optimal.

Pemerintah desa dapat mengeluarkan Peraturan Desa tentang pelaksanaan pelayanan


sosial dasar bidang kesehatan, gizi dan sanitasi. Peraturan Desa menjadi dasar dalam
penyusunan rencana kerja pemerintah desa (RKPDes) beserta rencana anggaran pendapatan
dan belanja desa (RAPBDes).

4.2. Pengembangan dan Penguatan Kelembagaan:

Pelaksanaan regulasi dijalankan oleh kelembagaan di Pusat, Daerah dan Desa.


Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi melalui Direktorat
Pelayanan Sosial Dasar (PSD), menjalankan tugas berkoordinasi dengan K/L lain dan
pemangku kepentingan lain dalam bidanga pelayanan sosial dasar untuk mencapai tujuan
penanggulangan stunting di desa secara nasiona

Di Provinsi dan Kabupaten penyelenggaraan program/kegiatan Pelayanan Sosial Dasar


dijalankan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Provinsi/ Kabuaten/ Kota masing masing.
Pemerintah daerah berkoordinasi dengan Pusat dan Desa untuk pencapaian tujuan melalui
perencanaan dan penganggaran dengan fokus dan lokus yang disepakati bersama.

1.1.1. Lembaga Kemasyarakatan Desa

Lembaga Kemasyrakatan Desa dalam penanggulangan stunting dengan penerapan


standar pelayanan sosial dasar ini dapat dilaksanakan oleh Posyandu/Poskedes atau Polindes.
Pengembangan dan penguatan lembaga kemasyarakatam desa dilakukan secara berkala,
sehingga kapasitas pengelolaan lebih profesional.
Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 19
Lembaga kemsyarakat desa memiliki kapasitas untuk pendataan, perencanaan dan
penganggaran , pengendalian dan pemantauan dan evaluasi dalam pelaksanaan standar
pelayanan sosial dasar di desa.

1.1.2. Kader

Kader menjadi ujung tombak keberhasilan penyelenggaraan standar pelayanan sosial


dasar di desa. Kader-kader yang terlatih dalam pengorganisasian menjadi syarat penting untuk
mencapai hasil yang optimal dalam pencapaian tujuan/sasaran kegiatan. Pemerintah desa
berkewajiban untuk mengembangkan kaspasitas kader (posyandu/pkk dan sebagainya).

4.3. Perencanaan dan Penganggaran

Perencanaan dan penganggaran yang menerapkan standar pelayanan sosial dasar


bidang kesehatan, gizi dan sanitasi di desa untuk penanggulangan stunting memiliki tahapan
yang meliputi pendataan, identifikasi dan perhitungan kebutuhan jenis pelayanan dan
pembiayaannya, memasukkan ke dalam dokumen perencanaan sebagai basis untuk
penganggaran dan pelaksanaan anggaran (APBDes).

4.3.1. Perencanaan Partisipatif Berbasis Bukti

Perencanaan pembangunan desa dilakukan secara musyawarah dengan prinsip


partisipatif, yakni keterlibatan aktif masyarakat. Tahapan pendataan dan identifikasi
kebutuhan menghasilkan kegiatan dan pembiayaannya, maka dokumen yang dihasilkan
merupakan dokumen usulan kegiatan yang disusun secara partisipatif dengan berdasar pada
data data yang diperoleh dari masyarakat. Dokumen perencanaan yang disusun oleh Kader
Posyandu, Pemerintah Desa dan Tim perumus RKPDes ini menjadi dasar untuk dimasukkan ke
dalam dokumen RKPDesa.

4.3.2. Penganggaran
1) Sumber Pembiayaan
Pembiayaan untuk melaksanakan standar pelayanan bidang kesehatan. Gizi dan
sanitasi bersumber dari APBDesa, baik dana desa, alokasi dana desa, bantuan
keuangan provinsi/kabupaten atau dana K/L yang berbasis desa khususnya dalam
bidang kesehatan, gizi dan sanitasi.

2) Komponen Pembiayaan
Standar Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan, Gizi dan sanitasi memiliki
cakupan komponen komponen yang dibiayai oleh berbagai sumber. Komponen
pembiayaan meliputi biaya operasional kelembagaan masyarakat desa ( seperti
ponsyandu/poskesdes), fasilitasi penyuluhan dan pemicuan, dan fasilitasi untuk
pemanfaat (ibu hamil, ibu melahirkan, ibu menyusui dan bayi dibawah dua tahun).

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 20
BAB V
MONITORING DAN EVALUASI

Monitoring dan evaluasi (monev) sangat penting dalam upaya pelaksanaan pemenuhan
Standar Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi Untuk Penanggulangan
Stunting di Desa yang dimaksudkan untuk menanggulangi masalah stunting. Monev dalam hal
ini bukan semata-mata sebagai kelengkapan sebuah program, melainkan merupakan sebuah
instrumen untuk mengawal agar upaya pelaksanaan pemenuhan standar tersebut dapat
mencapai sasarannya. Dengan mengadopsi mekanisme penerapan dan pelaporan SPM
sebagaimana dijelaskan dalam PP No. 2 Tahun 2018, kedudukan kegiatan monev dalam
pelaksanaan pemenuhan Standar Pelayanan Sosial Dasar di Desa Bidang Kesehatan, Gizi dan
Sanitasi dapat dilihat pada gambar 5.1. di bawah ini.

Gambar 5.1.
Kedudukan Monev dalam Pelaksanaan Pemenuhan
Standar Pelayanan Sosial Dasar Di Desa Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi

Evaluasi Pengumpulan
Data

Monitoring
Pelaksanaan Perhitungan
Pemenuhan Kebutuhan

Rencana
Pemenuhan

Monitoring atau pemantauan adalah sebuah tindakan manajemen yang dilakukan pada
saat suatu kegiatan sedang berlangsung, yaitu dengan mengamati perkembangan pelaksanaan
kegiatan, mengidentifikasi berbagai penyimpangan dan permasalahan yang dihadapi, dan

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 21
menilai pencapaian output atau keluaran dari suatu kegiatan dan akhirnya disajikan dalam
laporan kemajuan secara berkala. Monitoring dalam pelaksanaan pemenuhan Standar
Pelayanan Sosial Dasar di Desa Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi akan difokuskan kepada
variabel-variabel input yang umumnya terkait dengan keberhasilan pengintegrasian standar
pelayanan sosial dasar bidang kesehatan, gizi dan sanitasi ke dalam mekanisme perencanaan
dan penganggaran pembangunan Desa, dan variabel-variabel output yang bersangkutan
dengan pemenuhan pelayanan standar bagi penerima manfaat.

Adapun evaluasi adalah sebuah tindakan manajemen yang dilakukan setelah suatu
kegiatan dinyatakan berakhir atau setelah periode waktu tertentu dalam pelaksanaan kegiatan
yang dianggap tepat untuk menilai keberhasilan sementara dari kegiatan, yaitu dengan menilai
tingkat efektivitas (pencapaian tujuan) melalui variabel-variabel keluaran (output) dan hasil
(outcome) dan tingkat efisiensi dengan membandingkan variabel-variabel input dan variabel-
variabel output dan outcome dan kemudian dikemas dalam bentuk kesimpulan dan
rekomendasi. Dalam konteks pelaksanaan pemenuhan Standar Pelayanan Sosial Dasar di Desa
Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi, kegiatan evaluasi dilakukan untuk mengkaji tingkat
efektivitas dan efisiensi dari upaya-upaya penyediaan pelayanan sosial dasar di bidang
kesehatan, gizi dan sanitasi dan dampaknya terhadap penanggulangan stunting di Desa.

5.1. Indikator

Untuk melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pemenuhan Standar


Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi Untuk Penanggulangan Stunting
di Desa diperlukan indikator sebagai alat untuk mengukur pencapaian tujuan. Akan tetapi
berbeda dengan program pembangunan pada umumnya yang pengukuran kemajuannya bertitik
tolak dari data dasar/awal atau baseline, pengukuran kemajuan pencapaian suatu standar
pelayanan bertitik tolak dari suatu kondisi atau satandar yang ingin dicapai. Indikator monev
tetap teridir dari indikator input, indikator proses, indikator output, indikator hasil (outcome)
dan indikator dampak, akan tetapi fokus perhatian kegiatan monitoring akan lebih diarahkan
kepada indikator output sebagai tolok ukur pencapaian standar, sedangkan untuk keperluan
evaluasi akan dilihat pula indikator input untuk dibandingkan dengan indikator input supaya
dapat dianalisa mengeni faktor-faktor keberhasilan atau faktor-faktor kegagalan dari upaya
pelaksanaan pemenuhan Standar Pelayanan Sosial Dasar Di Desa Bidang Kesehatan, Gizi dan
Sanitasi.

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 22
1. Indikator Kinerja Pelaksanaan Pemenuhan Standar Pelayanan (Output/Keluaran)

STANDAR LINGKUP INDIKATOR


NO.
PELAYANAN PELAYANAN DESA KINERJA

a. Ibu Hamil
Setiap ibu hamil  Memastikan pendataan 1) Seluruh ibu hamil terdata
mendapatkan pelayanan seluruh ibu hamil dengan baik dan akurat
antenatal sesuai standar termasuk status kesehatan
(SPM Kesehatan) dan gizinya
 Memastikan seluruh ibu 2) Seluruh ibu hamil memiliki
hamil menerima buku KIA dan memahami pemanfaatan
buku KIA
 Memastikan seluruh ibu 3) Seluruh ibu hamil
hamil mengkonsumsi tablet memperoleh dan
tambah darah mengkonsumsi tablet tambah
darah sebanyak minimal 90
tablet selama kehamilan
 Mengadakan penyuluhan 4) Ada kelas penyuluhan
kelas remaja putri/WUS/ tentang manfaat TTD bagi
calon pengantin/PUS, ibu remaja putri, calon pengantin
hamil, dan menyusui dan ibu hamil
tentang manfaat TTD untuk 5) Ada kelas penyuluhan gizi
mencegah anemia dan pelatihan pengolahan
 Mengadakan penyuluhan makanan berbahan lokal bagi
kelas kepada suami dan ibu hamil
anggota keluarga lain yang 6) Seluruh ibu hamil KEK
memiliki ibu hamil, mendapatkan PMT
menyusui dan baduta (di
bawah 2 tahun) tentang
manfaat TTD untuk
mencegah anemia
 Mengadakan penyuluhan
bergizi untuk ibu hamil
dengan praktek pengolahan
makanan berbahan lokal
 Memastikan ibu hamil
Kurang Energi Kronis
(KEK) mendapatkan PMT

b. Ibu Bersalin
Setiap ibu bersalin  Mengadakan penyuluhan 1) Ada penyuluhan bagi
mendapatkan pelayanan kepada ibu, suami dan keluarga tentang pentingnya
persalinan sesuai standar anggota keluarga lain melakukan persalinan di
tentang pentingnya fasilitas kesehatan
persalinan di fasilitas
pelayanan kesehatan
 Memfasilitasi pelaksanaan 2) Seluruh ibu bersalin yang
rujukan dari bidan ke perlu rujukan difasilitasi
Puskesmas apabila 3) Seluruh ibu yang akan
diperlukan; melahirkan yang
 Memastikan ketersediaan membutuhkan bantuan
transportasi kepada ibu yang penyediaan pelayanan
akan melahirkan transportasi terfasilitasi
 Memastikan adanya 4) Seluruh ibu yang akan
pengantar untuk ibu yang melahirkan yang
akan bersalin membutuhkan pendampingan,
didampingi oleh kader
Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 23
STANDAR LINGKUP INDIKATOR
NO.
PELAYANAN PELAYANAN DESA KINERJA

c Bayi Baru Lahir


Setiap bayi baru lahir  Memastikan pendataan 1) Seluruh bayi baru lahir
mendapatkan pelayanan seluruh bayi baru lahir terdata dengan baik dan
kesehatan sesuai standar akurat termasuk status
kesehatan dan gizinya
 Mengadakan penyuluhan 2) Seluruh ibu bersalin telah
kepada ibu bersalin tentang mendapatkan penyuluhan
Inisiasi Menyusui Dini tentang Inisiasi Menyusui
Dini
 Menyediakan akte kelahiran 3) Seluruh bayi baru lahir
mendapatkan akte kelahiran

d. Anak Bawah Dua Tahun


1). Setiap balita mendapatkan  Memastikan pendataan 1) Seluruh Baduta terdata
pelayanan kesehatan sesuai seluruh anak bawah dua dengan baik dan akurat
standar tahun (baduta) termasuk status kesehatan dan
gizinya
 Memastikan ketersediaan 2) Seluruh Baduta memperoleh
Vitamin A di Posyandu dan mengkonsumsi vitamin A
/Bidan Desa sebanyak minimal 2 kali
setahun
 Melakukan penyuluhan 3) Seluruh ibu/keluarga yang
pentingnya imunisasi dasar memiliki baduta memperoleh
lengkap penyuluhan tentang imunisasi
dasar
2). Setiap baduta mendapatkan  Melakukan penyuluhan 4) Seluruh ibu/keluarga yang
pemberian ASI sesuai pentingnya pemberian ASI memiliki baduta yang
standar ekslusif selma 6 bulan memperoleh penyuluhan
tentang ASI eksklusif
 Melakukan penyuluhan 5) Seluruh ibu/keluarga yang
pentingnya meneruskan memiliki baduta memperoleh
pemberian ASI hingga usia penyuluhan tentang
23 bulan pemberian ASI hingga usia 23
bulan
2). Setiap baduta mendapatkan  Melakukan penyuluhan 6) Seluruh ibu/keluarga yang
pemberian makanan yang pentingnya memberikan memiliki baduta yang
cukup MPASI mulai usia 6 bulan memperoleh penyuluhan
 Mengadakan penyuluhan tentang pemberian MPASI
makanan bergizi dengan 7) Ada penyuluhan tentang
praktek pengolahan pengolahan makanan
makanan berbahan lokal berbahan lokal
 Memastikan Baduta gizi 8) Seluruh Baduta gizi buruk
buruk mendapatkan PMT mendapatkan dan
 Memastikan Baduta kurus mengkonsumsi PMT
mendapatakan PMT 9) Seluruh Baduta kurus
pemulihan mendaptakan dan
menngkonsumsi PMT
pemulihan

e. Rumah Tangga/Keluarga yang Memiliki Ibu Hamil/Baduta


Tersedianya air baku untuk  Melakukan pemetaan 1) Ada pemetaan penggunaan air
memenuhi kebutuhan pokok sumber air bersih dan bersih dan pemetaan sanitasi
minimal sehari-hari, akses penggunaannya, serta
terhadap air minum yang jamban keluarga
Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 24
STANDAR LINGKUP INDIKATOR
NO.
PELAYANAN PELAYANAN DESA KINERJA
aman serta sistem air limbah  Menyediakan air bersih 2) Tersedia sistem penyediaan air
yang memadai berskala desa bersih berskala desa
 Menyediakan jamban 3) Tersedia jamban komunal bagi
komunal bagi kelompok masyarakat yang tidak mampu
masyarakat yang tidak membangun jamban keluarga
mampu membangun jamban
keluarga
 Mengadakan penyuluhan 4) Ada penyuluhan tentang
tentang pentingnya Perilaku PHBS, CTPS dan STBM
Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) terutama air bersih,
jamban keluarga,
pengelolaan sampah,
pengamanan air limbah,
cucitangan pakai sabun
(CTPS), dan Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat
(STBM)

2. Indikator Pengintegrasian Standar Pelayanan Sosial Dasar Di Desa (Input/Masukan)

NO. ASPEK INDIKATOR TOLOK UKUR


a. Regulasi  Landasan hukum untuk 1) Adanya regulasi dari
pelaksanaan pemenuhan Kementerian Desa PDTT
Standar Pelayanan Sosial tentang Standar Pelayanan
Dasar Di Desa Bidang Sosial Dasar Di Desa
Kesehatan, Gizi dan SAnitasi Bidang Kesehatan, Gizi dan
Sanitasi
2) Adanya Peraturan Bupati
tentang Kewenangan Desa
yang mengadopsi substansi
Standar Pelayanan Sosial
Dasar DI Desa Bidang
Kesehatan, Gizi dan
Sanitasi
3) Adanya Peraturan Desa
tentang Pelaksanaan
Pemenuhan Standar
Pelayanan Sosial Dasar di
Desa Bidang Kesehatan,
Gizi dan Sanitasi
b. Kelembagaan  Fasilitas pelayanan sosial 1) Tersedianya fasilitas/tenaga
dasar bidang kesehatan, gizi kesehatan di Desa
dan sanitasi 2) Terbentuknya posyandu di
setiap unit permukiman di
Desa (dusun/RW)
3) Adanya aparat Desa yang
ditugasi menangani urusan
air bersih dan sanitasi
lingkungan
 Kader Desa 4) Tersedianya kader
posyandu terlatih minimal
5 orang
5) Adanya kader desa lain

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 25
NO. ASPEK INDIKATOR TOLOK UKUR
(kesling atau PKK) yang
menangani masalah air
bersih dan sanitasi
6) Adanya alokasi APBDes
untuk insentif dan
operasional kegiatan kader
c. Perencanaan dan  Data Perencanaan 1) Adanya data kebutuhan
Penganggaran yang dapat digunakan
untuk menetapkan rencana
pelaksanaan pemenuhan
Standar Pelayanan Sosial
Dasar di Desa Bidang
Kesehatan, Gizi dan
Sanitasi
 Adopsi Standar Pelayanan 2) Terdapat kegiatan dalam
Sosial Dasar di Desa Bidang rangka pelaksanaan
Kesehatan, Gizi dan Sanitasi pemenuhan Standar
dalam RKPDes Pelayanan Sosial Dasar di
Desa Bidang Kesehatan,
Gizi dan Sanitasi di dalam
RKPDes
 Alokasi APBDes untuk 3) Terdapat alokasi
kegiatan dalam rangka penganggaran di dalam
pelaksanaan pemenuhan APBDes untuk pelaksanaan
Standar Pelayanan Sosial pemenuhan Pelayanan
Dasar di Desa Bidang Sosial Dasar di Desa
Kesehatan, Gizi dan Sanitasi Bidang Kesehatan, Gizi dan
Sanitasi

5.2. Monitoring

Keberhasilan sistem monitoring bergantung kepada 2 hal, yaitu data dan pelaporan.
Pengumpulan data atau pendataan menjamin tersedianya alat yang obyektif dan otentik
untuk menilai suatu kondisi atau pencapaian, sedangkan sistem pelaporan menjamin
bahwa semua informasi yang dibutuhkan akan sampai kepada para pengambil
keputusan/perumus kebijakan.

1. Sistem Pendataan
Data tentang status kesehatan, gizi dan sanitasi masyarakat Desa yang relevan dengan
isu stunting penting sebagai:

a. Dasar untuk perumusan kebijakan dan rencana pelaksanaan pemenuhan


pelayanan sosial dasar bidang kesehatan, gizi dan sanitasi.

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 26
Kegiatan pengumpulan data dimulai dari tingkat Dusun yang nantinya dapat
diagregasi secara berjenjang mulai dari tingkat Desa hingga tingkat nasional. Data
yang dikumpulkan meliputi:

 Data Ibu hamil


 Data Ibu bersalin
 Data bayi baru lahir
 Data anak usia di bawah 2 tahun
 Data rumah tangga dengan/tanpa akses air bersih
 Data rumah tangga dengan/tanpa akses pembuangan air limbah

Dalam konteks pemenuhan standar pelayanan sosial dasar bidang kesehatan, gizi
dan sanitasi di Desa, pemanfaatan data mengikuti alur sebagai berikut:

1. Pengumpulan data, yang dilakukan oleh para kader dan petugas kesehatan
yang ada di tingkat Desa (Posyandu, PKK, Kesling dan Poskesdes/Bidan
Desa).
2. Penghitungan kebutuhan pemenuhan berbasis kepada data empiris.
3. Penyusunan rencana pemenuhan.
4. Pelaksanaan pemenuhan.

Rencana pemenuhan standar pelayanan sosial dasar bidang kesehatan, gizi dan
sanitasi dikoordinasikan dengan Pemerintah Kabupaten yang memiliki kewajiban
dalam pemenuhan Standar Pelayanan Minimal Pelayanan Dasar (PP No. 2 Tahun
2018)

b. Sistem Peringatan Dini dalam rangka antisipasi krisis/kejadian luar biasa dibidang
kesehatan, gizi dan sanitasi.

Data yang secara reguler dikumpulkan dari tingkat Desa dapat menjadi petunjuk
awal akan kecenderungan untuk terjadinya krisis/kejadian luar biasa di bidang
kesehatan, gizi buruk dan sanitasi. Informasi awal tersebut selanjutnya dibawa ke
tingkat Provinsi yang memiliki kewajiban dalam pemenuhan Standar Pelayanan

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 27
Minimal bagi penduduk terdampak krisis akibat bencana atau kejadian luar biasa
(PP No, 2 Tahun 2018).

5.3. Mekanisme Pelaporan

Pelaksanaan pemenuhan standar pelayanan sosial dasar bidang kesehatan, gizi dan
sanitasi di Desa dilaporkan mengikuti alur seperti pada Gambar 5.1. Substansi laporan
pelaksanaan pemenuhan standar pelayanan sosial dasar di Desa meliputi:

 Hasil pelaksanaan pemenuhan standar.


 Kendala teknis pelaksanaan pemenuhan standar.
 Kendala pembiayaan dalam pelaksanaan pemenuhan standar.

Pelaporan kondisi kesehatan, gizi dan sanitasi di Desa dilaporkan secara reguler. Untuk kondisi
kesehatan dan gizi jadual pelaporan dilakukan mengikuti kegiatan para kader di Desa yang
berbasis bulanan. Sedangkan jadual pelaporan kondisi sanitasi yang berkaitan dengan kegiatan
pembangunan fisik dilakukan setiap tahun.

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 28
Gambar 5.2.

Alur Pelaporan Pelaksanaan Pemenuhan Standar Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan,
Gizi dan Sanitasi untuk Penanggulangan Stunting di Desa

Bupati

Dinas Dinas Dinas


Kesehatan PMD PUPERA

Puskesmas
KABUPATEN

Pemerintah DESA
Desa

Poskesdes/Bidan Posyandu PKK

5.4. Evaluasi

Evaluasi adalah merupakan cara untuk membuktikan keberhasilan atau kegagalan


pelaksanaan dari suatu program atau kegiatan. Oleh sebab itu, kegiatan evaluasi seringkali
dikaitkan dengan tahapan dalam siklus pengelolaan program. Maka secara umum dikenal

1. Evaluasi pada tahap perencanaan (ex-ante) yang biasanya digunakan untuk


memilih alternatif rencana dan menetapkan skala prioritas;
2. Evaluasi pada tahap pelaksanaan (on-going evaluation) untuk mengukur
tingkat kemajuan pelaksanaan; dan
3. Evaluasi pada tahap pasca pelaksanaan (ex-post) untuk melihat pencapaian
sasaran atau efektivitas dan tingkat efisiensi dari pelaksanaan
program/kegiatan.
Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 29
Pelaksanaan pemenuhan Standar Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan, Gizi dan
Sanitasi Untuk Penanggulangan Stunting di Desa bukanlah suatu kegiatan yang berbentuk
proyek yang memiliki jangka waktu tertentu (biasanya jangka pendek), melainkan suatu
kegiatan yang diharapkan berjangka panjang yang berkelanjutan karena terintegrasi menjadi
kegiatan reguler di tingkat Desa. Oleh sebab itu kegiatan evaluasi untuk kegiatan dengan
karakter seperti ini adalah evaluasi pada tahap pelaksanaan sekaligus pada tahap pasca-
pelaksanaan. Dikatakan pada tahap pelaksanaan karena kegiatan berlangsung terus secara
berkelanjutan, namun dapat dikatakan pula sebagai evaluasi pasca-pelaksanaan karena kegiatan
evaluasi mengikuti siklus perencanaan/penganggaran dan pelaksanaan pembangunan Desa
yang memiliki jangka waktu satu tahun (Tahun Anggaran).

Dengan demikian, kegiatan evaluasi dalam pelaksanaan pemenuhan Standar Pelayanan


Sosial Dasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi Untuk Penanggulangan Stunting di Desa
akan meliputi:

1. Analisis efektivitas pencapaian kemajuan pemenuhan standar dengan melihat


indikator output, yaitu pencapaian pemenuhan seluruh jenis pelayanan yang menjadi
standar.
2. Analisis efektivitas pencapaian hasil dan dampak dari pemenuhan standar dengan
melihat indikator outcome dan dampak, yaitu peningkatan derajat kesehatan
penerima manfaat, peningkatan status gizi penerima manfaat dan peningkatan akses
terhadap sanitasi di Desa, serta dampaknya terhadap penanggulangan masalah
stunting.
3. Analisis efisiensi dengan membandingkan indikator input dan output.
4. Analisis terhadap kendala-kendala teknis dan penganggaran yang masih dihadapi
dalam pelaksanaan pemenuhan standar pelayanan sosial dasar bidang kesehatan, gizi
dan sanitasi di Desa

5.5. Kelembagaan/Pelaku Monev

Monev terhadap pelaksanaan pemenuhan Standar Pelayanan Sosial Dasar Bidang


Kesehatan, Gizi dan Sanitasi Untuk Penanggulangan Stunting di Desa dilakukan oleh semua
pemangku kepentingannya, mulai dari tingkat Desa hingga Kabupaten. Di tingkat Desa,

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 30
pemangku kepentingan pemenuhan Standar Pelayanan Sosial Dasar di Desa Bidang Kesehatan,
Gizi dan Sanitasi adalah Pemerintah Desa, Lembaga Desa yang terkait (Posyandu,
Poskesdes/Bidan Desa, Kader lain seperti PKK dan Kesling), dan para penerima manfaat.

Pelaksanaan pemenuhan standar pelayanan sosial bidang kesehatan, gizi dan sanitasi di
Desa selain dimaksudkan untuk memerangi atau menanggulangi stunting, juga dilakukan
dalam rangka membantu Pemerintah Kabupaten dalam pelaksanaan Standar Pelayanan
Minimal Kabupaten. Oleh sebab itu pihak yang juga paling berkepentingan untuk melakukan
kegiatan monitroing dan evaluasi disamping para pemangku kepentingan di tingkat Desa
adalah Pemerintah Kabupaten.

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 31
BAB VI

PE NUTUP

Penyusunan Pedoman Standar Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan, Gizi dan
Sanitasi Untuk Penanggulangan Stunting di Desa adalah lagkah awal implementasi
pelaksanaan Pelayanan Sosial Dasar di Desa Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi desa untuk
Penanggulangan Stunting. Langkah berikutnya adalah mensosialisasikan pedoman standar
pelayanan sosial dasar ke para pemangku kepentingan di tingkat Pusat, Daerah dan Desa,
menyusun Panduan Integrasi Pedoman ke Dalam Sistem Perencanaan dan Penganggaran Desa,
dan melakukan peningkatan kapasitas terhadap Desa agar mampu mengimplementasikan
pelaksanaan pemenuhan standar pelayanan sosial dasar ini di tempatnya masing-masing.

Implementasi dari Standar Pelayanan Sosial Dasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
untuk Penanggulangan Stunting di Desa ini, jika dilaksanakan secara sunguh-sungguh,
diharapkan akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa. Secara lebih khusus,
pelaksanaan pemenuhan standar pelayanan sosial dasar di Desa ini diharapkan akan dapat
mendorong percepatan penurunan prevalensi stunting di Desa.

Pedoman Standar Pelayanan Sosial Sasar Bidang Kesehatan, Gizi dan Sanitasi
Untuk Penanggulangan Stunting di Desa Hal - 32