Anda di halaman 1dari 22

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.

Y DENGAN DIAGNOSA TB PARU


DI RUANG AFIAT
RUMAH SAKIT H. DAMANHURI BARABAI

DISUSUN OLEH :

HADERIANSYAH

POLTEKES KEMENKES BANJARMASIN


PRODI D3 KEPERAWATAN
JL. H.MISTAR COKROKUSUMO NO.1A BANJARBARU 70714
1

LEMBAR PERSETUJUAN

JUDUL KASUS : ASKEP PADA Tn. Y DENGAN DIAGNOSA TB PARU


NAMA MAHASISWA : HADERIANSYAH

Barabai , 12 Januari 2018


Menyetujui,
RSUD.H.DAMANHURI BARABAI
RUANG AFIAT
Pembimbing (CI)

EDY ROSADI, S.Kep.

POLTEKES KEMENKES BANJARMASIN


PRODI D3 KEPERAWATAN
JL. H.MISTAR COKROKUSUMO NO.1A BANJARBARU 70714
2

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL KASUS : ASKEP PADA Tn. Y DENGAN DIAGNOSA TB PARU


NAMA MAHASISWA : HADERIANSYAH

Barabai , 12 Januari 2018


Menyetujui,
RSUD.H.DAMANHURI BARABAI
RUANG AFIAT
Pembimbing (CI)

EDY ROSADI, S.Kep

Mengetahui,
DOSEN PEMBIMBING
POLTEKES KEMENKES BANJARMASIN
PRODI D3 KEPERAWATAN

MARWANSYAH, S.Kep,Ns.,M.Kep.
3

ASKEP TB PARU
TINJAUAN TEORITIS

I. KONSEP DASAR
I.I DEFENISI
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium
tubeculosis. Kuman batang tanhan asam ini dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit.
Ada beberapa mikrobakteria patogen , tetapi hanya strain bovin dan human yang patogenik
terhadap manusia. Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 μm, ukuran ini lebih kecil dari
satu sel darah merah.

I.2 ANATOMI FISIOLOGI


Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak). Droplet yang mengandung Mycobakterium tuberkulosis dapat menetap dalam udara
bebas selama 1-2 jam. Orang dapat terifeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran
pernapasan. Setelah Mycobacterium tuberkulosis masuk ke dalam saluran pernapasan, masuk ke
alveoli, tempat dimana mereka berkumpul dan mulai memperbanyak diri. Basil juga secara sistemik
melalui sistem limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lainnya (ginjal, tulang, korteks serebri), dan area
paru-paru lainnya (lobus atas).
Sistem imun tubuh berespons dengan melakukan reaksi inflamasi. Fagosit (neutrofil dan
makrofag) menelan banyak bakteri; limfosit melisis (menghancurkan) basil dan jaringan normal. Reaksi
jaringan ini mengakibatkan penumpukan eksudat dalam alveoli, menyebabkan bronkopneumonia.
lnfeksi awal biasanya terjadi 2 sampai 10 minggu setelah pemajanan.
Massa jaringan baru, yang disebut granulomas, yang merupakan gumpalan basil yang masih hidup dan
yang sudah mati, dikelilingi oleh makrofag yang membentuk dinding protektif. Granulomas diubah
menjadi massa jaringan fibrosa. Bagian sentral dari massa fibrosa ini disebut tuberkel Ghon. Bahan
(bakteri dan makrofag) menjadi nekrotik, membentuk massa seperti keju. Massa ini dapat mengalami
kalsifikasi, membentuk skar kolagenosa. Bakteri menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif.
Setelah pemajanan dan infeksi awal, individu dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau
respons yang inadekuat dari respons sistem imun. Penyakit aktif dapat juga terjadi dengan infeksi ulang
dan aktivasi bakteri dorman. Dalam kasus ini, tuberkel Ghon memecah, melepaskan bahan seperti keju
4

ke dalam bronki. Bakteri kemudian menjadi tersebar di udara, mengakibatkan penyebaran penyakit lebih
jauh. Tuberkel yang memecah menyembuh, membentuk jaringan parut. Paru yang terinfeksi menjadi
lebih membengkak, mengakibatkan terjadinya bronkopneumonia lebih lanjut, pembentukan tuberkel dan
selanjutnya.
Kecuali proses tersebut dapat dihentikan, penyebarannya dengan lambat mengarah ke bawah ke
hilum paru-paru dan kemudian meluas ke lobus yang berdekatan. Proses mungkin berkepanjangan dan
ditandai oleh remisi lama ketika penyakit dihentikan, hanya supaya diikuti dengan periode aktivitas yang
diperbaharui. Hanya sekitar 10% individu yang awalnya terinfeksi mengalami penyakit aktif (Brunner
dan Suddarth, 2002)

I.3 ETIOLOGI
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium
tuberkulosis tipe humanus, sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/mm
dan tebal 0,3-0,6/mm. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang
membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik.
Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-
tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat
dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Sifat lain
kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi
kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada
bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis.
Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. Basil
mikrobakterium tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection)
sampai alveoli, maka terjadilah infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah
bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke). keduanya dinamakan tuberkulosis
primer, yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan. Tuberkulosis
paru primer, peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil
mikobakterium. Tuberkulosis yang kebanyakan didapatkan pad usia 1-3 tahun. Sedangkan yang
disebut tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena terjadi
penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil tersebut.
5

I.4 MANIFESTASI KLINIS


Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, gejala respiratorik dan gejala
sistemik:
1. Gejala respiratorik, meliputi :
a. Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. Mula-
mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada kerusakan
jaringan.
b. Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis atau bercak-
bercak darak, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk darak terjadi
karena pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya
pembuluh darah yang pecah.
c. Sesak napas
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang
menyertai seperti efusi pleura, pneumothorax, anemia dan lain-lain.
d. Nyeri dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul apabila sistem
persarafan di pleura terkena.

2. Gejala sistemik, meliputi:


a) Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip demam
influenza, hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas serangan
makin pendek.
b) Gejala sistemik lain
Gejala sistemik lain ialah keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan serta malaise.
6

Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan, akan tetapi penampilan
akut dengan batuk, panas, sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala
pneumonia.
Gejala klinis Haemoptoe:
Kita harus memastikan bahwa perdarahan dari nasofaring dengan cara membedakan ciri-ciri
sebagai berikut :
1. Batuk darah
a. Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan
b. Darah berbuih bercampur udara
c. Darah segar berwarna merah muda
d. Darah bersifat alkalis
e. Anemia kadang-kadang terjadi
f. Benzidin test negatif
2. Muntah darah
a. Darah dimuntahkan dengan rasa mual
b. Darah bercampur sisa makanan
c. Darah berwarna hitam karena bercampur asam lambung
d. Darah bersifat asam
e. Anemia seriang terjadi
f. Benzidin test positif
3. Epistaksis
a. Darah menetes dari hidung
b. Batuk pelan kadang keluar
c. Darah berwarna merah segar
d. Darah bersifat alkalis
e. Anemia jarang terjadi
7

I.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


a. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah tepi pada umumnya akan memperlihatkan adanya :
 Anemia, terutama bila penyakit berjalan menahun
 Leukositosis ringan dengan predominasi limfosit
 Laju Endap Darah (LED) meningkat terutama pada fase akut, tetapi pada umumnya
nilai-nilai tersebut normal pada tahap penyembuhan
b. Pemeriksaan radiologi
– Bayangan lesi radiologik yang terletak di lapangan atas paru
– Bayangan yang berawan atau berbecak
– Adanya kavitas tunggal atau ganda
– Adanya kalsifikasi
– Kelainan bilateral, terutama bila terdapat di lapangan atas paru
– Bayangan yang menetap atau relatif setelah beberapa minggu
c. Pemeriksaan bakteriologik (sputum)
Ditemukan kuman mikobakterium tuberkulosis dari dahak penderita, memastikan diagnosis
TB paru
pada pemeriksaan dahak.
d. Uji tuberkulin
Sangat penting bagi diagnosis tersebut pada anak. Hal positif pada orang dewasa kurang
bernilai.

I.6 PENATALAKSANAAN MEDIS


a) Jenis dan Dosis Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
 Isoniazid (H)
Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90 % populasi kuman dalam
beberapa hari pertama pengobatan. Sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik
aktif yaitu kuman yang sedang berkembang. Dosis harian 5 mg/kg berat badan, sedangkan
untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg/kg berat badan.
 Rifampisin (R)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman semi dormant yang tidak dapat dibunuh oleh isoniasid.
8

Dosis 10 mg/kg berat badan. Dosis sama untuk pengobatan harian maupun intermiten 3 kali
seminggu.
 Pirazinamid (Z)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian 25
mg/kg berat badan, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis
35 mg/kg berat badan.
 Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, dosis 15 mg/kg berat badan, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali
seminggu digunakan dosis yang sama.
 Etambutol (E)
Bersifat menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik). Dosis harian 15 mg/kg berat
badan, sedangkan untuk intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan 30 mg/kg berat badan.
b) Tahap Pengobatan
Pengobatan Tuberculosis diberikan dalam 2 tahap yaitu:
1. Tahap Intensif
Penderita mendapat obat setiap hari. Pengawasan berat/ketat untuk mencegah terjadinya
kekebalan terhadap semua Obat Anti Tuberculosis (OAT).
2. Tahap Lanjutan
Penderita mendapat jenis obat lebih sedikit dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap
lanjutan penting untuk membunuh kuman persistem (dormant) sehingga mencegah terjadinya
kekambuhan.
c) Kategori Pemberian Obat Anti Tuberculosis
1. Kategori 1 (211RZE/4113R3)
Tahap intensif terdiri dari isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) dan Etambutol(E). Obat-obatan
tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan (2 HRZE), kemudian teruskan dengan tahap lanjutan yang
terdiri dari Isoniasid (H) dan Rifampisin (R), diberikan tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan
(4H3R3). Obat ini diberikan untuk :
- Penderita baru TBC paru BTA positif
- Penderita TBC paru BTA negatif, rontgen positif.
- Penderita TBC ekstra paru berat.
9

2. Kategori 2 (2HRZES/HRZE/5H3RE3)
Tahap intensif diberikan selama 3 (tiga) bulan, yang terdiri dari 2 bulan dengan isoniasid (H), Rifampisn,
Pirazinamid (Z), Etambutol (E) setiap hari. Setelah itu diteruskan dengan tahap lanjutan selama 5 bulan
dengan Isoniasid (H),Rifampisin (R), Etambutol (E) yang diberikan 3 kali dalam seminggu.
Perlu diperhatikan bahwa suntikan streptomisin diberikan setelah penderita selesai menelan obat. Obat
ini diberikan untuk penderita kambuh, penderita gagal, penderita dengan pengobatan setelah lalai
3. Kategori 3 (2HRZ/4H3R3)
Tahap intensif terdiri dari Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) diberikan setiap hari
selama 2 bulan (2HRZ) diteruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari Isoniasid (H), Rifampisin
(R) selama 4 bulan diberikan 3 kali seminggu (4H3R3). Obat ini diberikan untuk :
 Penderita baru BTA negatif dan roentgen positif sakit ringan
 Penderita ekstra paru ringan, yaitu TBC kelenjar limfe (limfadenitis), pleuritis aksudativa
unilateral, TBC kulit, TBC tulang (kecuali tulang belakang) sendi dan kelenjar adrenal.
4. OAT Sisipan (HRZE)
Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1 atau
penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2, hasil pemeriksaan dahak
masih BTA positif, diberikan obat sisipan Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z),
Etambutol (E) setiap hari selama 1 bulan.

I.7 KOMPLIKASI
Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita
tuberculosis paru stadium lanjut yaitu :
 Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian
karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
 Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi
bronchial.
 Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses
pemulihan atau reaktif) pada paru.
 Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.
10

ASKEP TEORITIS
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
2.I PENGKAJIAN (DATA DASAR)
Data dasar pengkajian pasien ( Doengoes, Marilynn E : 2000 ) adalah sebagai berikut:
a) Pola aktivitas dan istirahat
Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas pendek), demam,
menggigil.
Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap,lanjut;infiltrasi
radang sampai setengah paru), demam subfebris (40 -410C) hilang timbul.
b) Pola nutrisi
Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.
Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan.
c) Respirasi
Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.
Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent,mukoid
kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi
basah, kasar di daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim
paru dan pleural), sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi
pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural), deviasi trakeal
(penyebaran bronkogenik).
d) Rasa nyaman/nyeri
Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa timbul bila
infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.
e) Integritas ego
Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tak ada harapan.
Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah tersinggung.
f) Keamanan
Subyektif : adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS, kanker.
Obyektif : demam rendah atau sakit panas akut.
11

g) Interaksi Sosial
Subyektif: Perasaan isolasi/ penolakan karena penyakit menular, perubahan pola biasa dalam
tanggung jawab/ perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.

2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN


a) Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah,
kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakeal/faringeal.
b) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru,
atelektasis, kerusakan membran alveolar kapiler, sekret yang kental, edema bronchial.
c) Gangguan keseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelelahan,
batuk yang sering, adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia, penurunan kemampuan
finansial.
d) Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap.
e) Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif.
f) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen.
g) Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan berhubungan dengan tidak
ada yang menerangkan, interpretasi yang salah, informasi yang didapat tidak lengkap/tidak
akurat, terbatasnya pengetahuan/kognitif
h) Risiko tinggi infeksi penyebaran / aktivitas ulang infeksi berhubungan dengan pertahanan
primer tidak adekuat, fungsi silia menurun/ statis sekret, kerusakan jaringan akibat infeksi
yang menyebar, malnutrisi, terkontaminasi oleh lingkungan, kurang informasi tentang
infeksi kuman.
12

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. Y DENGAN DIAGNOSA TB PARU


DI RUANG AFIAT RSUD H.DAMANHURI KABUPATEN HST.

Tanggal masuk RS : 12 Januari 2018 jam 13.00 WITA


Tanggal pengkajian : 12 Januari 2018 jam 13.00 WITA
Pengkaji : Haderiansyah
NIM : ---

A. IDENTITAS
1. IDENTITAS KLIEN
Nama : Tn. Y
Umur/jenis kelamin : 55 tahun/Laki-laki
Status : Kawin
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Petani
Agama : Islam
Alamat : Desa Sungai Buluh
Dx Medis : TBC paru-paru

2. IDENTITAS PENANGGUNGJAWAB
Nama : Ny. R
Umur/jenis kelamin : 50 tahun/Perempuan
Hubungan dengan klien : Isteri
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Alamat : Desa Sungai Buluh
Hubungan dg keluarga : Isteri

B. RIWAYAT KESEHATAN
1. Keluhan Utama
Klien merasakan sesak nafas ( 28x/m)
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klen datang ke RSUD H.Damanhuri tanggal 12 Januari 2018 dengan keluhan sesak nafas kurang
lebih 1 bulan, kaki bengkak 2 hari yang lalu, tidak mual dan muntah,
3. Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien tidak pernah dirawat di RSUD H.Damanhuri dan tidak pernah mengalami sakit TBC.Paru
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tidak ada yang mengalami riwayat penyakit yang sama dengan klien.
13

C. PEMERIKSAAN KEBUTUHAN DASAR (VIRGINIA HENDERSON)

1) Pola Oksigenasi
Sebelum sakit : klien bernafas secara normal dan RR dbn 16-24 x/menit
Saat dikaji : klien bernafas secara abnormal dengan RR28 x/menit, dan batuk.
2) Pola Nutrisi dan Metabolik
Sebelum sakit : klien makan sehari 3x dan dalam porsi yang sedang dengan
menu sayuran dan kadang ikan dan selalu habis. Minum
4-6 gelas.
Saat dikaji : klien makan makanan yang diberikan dari Rumah Sakit dan
habis setengah porsi dari yang disediakan dan minum hanya
3-4 gelas/hari
3) Pola Eliminasi
Sebelum sakit : klien BAK normal 3-4X tiap hari dengan warna jernih, tidak
ada darah, bau urine khas. BAB 1 x sehari, konsistensi
lembek, tidak ada darah.
Saat dikaji : klien BAK abnormal 2-3 sehari dengan warna jernih kekuning-
kuningan, tidak ada darah.BAB dengan konsistensi lembek tanpa
darah
4) Pola Aktivitas
Sebelum sakit : klien beraktifitas seperti biasa, bekerja, jalan-jalan.
Saat dikaji : klien mampu jalan ke kamar mandi buat BAB/BAK dengan
dibantu oleh keluarga, serta berbaring di tempat tidur/ lemas .
5) Pola Istirahat dan Tidur
Sebelum sakit : klien istirahat normal, 8 jam/24 jam, pola tidur teratur
Saat dikaji : klien merasakan kurang tidur selama dirumah sakit, karena
kondisi tubuh yang sesak RR(28x/m), waktu tidur sekitar 6 jam.
6) Kebutuhan Berpakaian
Sebelum sakit : klien barpakaian sesuai kebutuhan, ganti baju 2xsehari
Saat dikaji : klien tampak lusuh dan hanya berpakaian seadanya dang anti
1Xsehari.
14

7) Mempertahankan Suhu Tubuh dalam Batas Normal


Sebelum sakit : klien mampu menyesuaikan suhu tubuh dengan lingkungan
sekitar suhu normal.
Saat dikaji : klien tidak mengalami masalah dalam menyesuaikan suhu tubuh
8) Pola Personal Hygiene
Klien mampu mandi di seka di tempat tidur 2 x sehari, gosok gigi kadang-kadang, ganti pakaian
1X sehari. Klien tampak kusut, rambut acak-acakan, penampilan tidak rapi.
9) Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman
Sebelum sakit : klien merasa aman dan betah untuk tinggal di rumahnya sendiri
bersama keluarganya
Saat dikaji : klien merasa gelisah dengan penyakit yang dialami sesak nafas.
10) Komunikasi dengan Orang Lain
Sebelum sakit : klien mampu berkomunikasi dengan orang lain dengan bahasa
daerahnya
Saat dikaji : hari pertama klien hanya diam dan baru berkomunikasi jika
ditanya, hari kedua sama, hari ketiga klien hanya menjawab jika
ditanya
11) Kebutuhan Spiritual
Klien tidak dapat menjalankan sholat karena badan lemah,sesak , klien mempunyai motivasi
tinggi untuk sembuh, tetapi klien juga berkeluh kesah karena keadaannya tidak segera membaik.
12) Pola bekerja
Sebelum sakit : klien mampu melaksanakan pekerjaannya dengan baik.
Saat dikaji : klien mampu beristirahat dengan keadaannya yang seperti itu.
13) Kebutuhan rekreasi dan bermain
Sebelum sakit : klien suka jalan-jalan bersama keluarga jika ada waktu luang
Saat dikaji : klien hanya bisa menikmati keadaanya, ditemani anaknya.
14) Kebutuhan belajar
Sebelum sakit : klien mampu belajar dari Koran, radio, dan televisi
Saat dikaji : klien mendapatkan info dari perawat dan nformasi dari
keluarganya melaluai handphone
15

D. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Sesak Nafas
Kesadaran : Composmentis
TTV :
TD : 110/70 mmHg; Suhu : 37.80C ; Nadi : 130 x/menit; RR : 28 x/menit
Pemeriksaan Fisik (menggunakan IPPA) :
1. Sistem pernafasan
I: Nampak retraksi dada, bentuk dadan Barrel Chest, Nampak penggunaan otot bantu nafas, tidak
ada massa, pola nafas abnormal, tampak pemasangan WSD.
P: fokal fremitus abnormal ( ada hambatan oleh secret dan penumpukan cairan), tidak ada nyeri
tekan, tidak teraba massa.
P: suara paru redup di daerah yang terjadi efusi
A: suara paru vesikuler, ronchi baik sinistra et dextra
2. Sistem kardiovaskular
I: Tidak terlihat ada massa, ictus cordis tampak pada itercosta ke 5.
P: tidak ada nyeri tekan, tidak teraba massa, pulse teraba kuat, terjadi peningkatan JVP
P: batas-bats jantung normal, suara redup
A: Tidak terdengar gallop
3. Sistem pencernaan (IAPePa)
I: Abdomen flat, simetris, pernafasan perut .
A: auskultasi gaster normal, peristaltik gaster dan intestine normal.
P: suara lambung tympani, batas hepar normal.
P: tidak ada nyeri tekan, tidak terasa pembesaran hepar, tak teraba adanya massa
4. Sistem perkemihan
Karakteristik urine/BAK jernih, frekuensi 2-3 sehari,tidak ada nyeri pinggang, tidak terpasang alat
bantu BAK, tidak ada darah, bau khas, tidak ada benjolan.
5. sistem endokrin
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfatik
6. sistem genetalia
tak Nampak terpasang DC
7. Sistem musculoskeletal
Pergerakan sendi normal, kekuatan otot penuh, ada edema daerah kaki, turgor kulit baik, tidak ada
deformitas, tidak ada nyeri gerak, nyeri tekan, tidak ada pembengkakan pada sendi,tidak
menggunakan alat bantu, tidak ada fraktur, kemampuan ADL mandi( diseka oleh keluarga),
berpakaian, eliminasi, mobilisasi di tempat tidur, pindah, ambulasi normal.
8. Sistem integumen
Turgor kulit baik, tidak ada sianosis/anemis, warna kulit sawo matang, tidak ada luka, ada edema,
tidak ada memar, benjolan,lesi.
9. Sistem persarafan
Tidak ada tremor, reflex cahaya pupil bagus, GCS baik, Kesadaran compos mentis, tidak ada
parese, plegi, parastese, paraplegi, orientasi waktu, tempat, orang normal.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Rontgen dengan hasil terdapat efusi
2. Lab darah ( 12/1/2018 )
a. lab serum
total protein bio 75 g/dl (normal), albumin 31 g/dl (LOW), globulin 44 mg/dl normal.
16

b. Kimia darah
Pemeriksaan Hasil Normal
Kolesterol 191 mg/dl ≤800
Trigliserid 135 mg/dl ≤200
HDL 42 mg/dl ≥45
LDL 122 mg/dl ≤155
Ureum 27 mg/dl 15-45
Kreatinin 1.06 mg/dl ≤1.13
Asam Urat 10.15 mg/dl 2.50-600
SGOT 25 ≤37
SGPT 24 ≤31
F. THERAPHY
 Injeksi (IV): Furosemid 10mg/ml, dexamethasone 10mg, Cyprofloxacin (1gr/12 jam )
 Infuse RL 16tpm mac
 O2 2-4 lt
 Diet yang diberikan TKTP
G. ANALISA DATA
NO DATA FOKUS ETIOLOGI MASALAH
KEPERAWATAN
1 SUBJEKTIF : klien mengatakan Peradangan kuman Ketidak efektifan
sesak nafas TB di paru pola nafas b/d
OBJEKTIF : peningkatan prod
RR: 28x/m Produksi cairan paru cairan paru
Penggunaan cuping hidung, retraksi naik mendesak paru
dada, penggunaan otot bentu nafas,
terdapat efusi pleura. Expansi paru tidak
maximal

Ketidakefektifan pola
nafas
2 SUBJEKTIF : klien merasakan Efusi pleura Intoleransi aktifitas
lemas b/d penurunan suplay
OBJEKTIF : Gannguan o2 jaringan
Klien tidak mampu beraktifitas pemenuhan suplai o2
normal, energy berkurang, lemas
Penurunan proses
metabolisme

Suplay energi turun

Lemas

Intoleransi aktifitas
H. PRIORITAS DIAGNOSA
1. Ketidak efektifan pola nafas b/d peningkatan prod cairan paru
2. Intoleransi aktifitas b/d penurunan suplay o2 jaringan
17

I. INTERVENSI KEPERAWATAN
NO DX HARI/TGL/ NOC NIC
JAM
NOC : NIC :
Sabtu, 13/1/2018,  Respiratory status : Airway
1
13.00 WITA patency Airway Management
 Vital sign Status
Setelah diberikan tindakan kep  Posisikan pasien untuk
selama 2x24 jam klien memaksimalkan ventilasi
menunjukan perubahan dengan  Keluarkan sekret dengan
Kriteria Hasil : batuk .
 Menunjukkan jalan nafas yang  Auskultasi suara nafas,
paten (klien tidak merasa catat adanya suara
tercekik, irama nafas, frekuensi tambahan
pernafasan dalam rentang  Atur intake untuk cairan
normal, tidak ada suara nafas mengoptimalkan
abnormal) keseimbangan.
 Tanda Tanda vital dalam rentang  Monitor respirasi dan
normal (tekanan darah, nadi, status O2
pernafasan)
Terapi Oksigen
 Pertahankan jalan nafas
yang paten
 Atur peralatan oksigenasi
 Monitor aliran oksigen
 Pertahankan posisi pasien
 Observasi adanya tanda
tanda hipoventilasi
 Monitor adanya kecemasan
pasien terhadap oksigenasi

Vital sign Monitoring

 Monitor TD, nadi, suhu,


dan RR
 Monitor kualitas dari nadi
 Monitor frekuensi dan
irama pernapasan
 Monitor pola pernapasan
abnormal
 Monitor sianosis perifer
 Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
18

NIC :
Senin, 15/1/2018, NOC :  Observasi adanya pembatasan
2
13.00 WITA  Toleransi aktivitas klien dalam melakukan
 Konservasi eneergi aktivitas
Selasa, Setelah dilakukan tindakan  Kaji adanya faktor yang
3
16/1/2018, keperawatan selama menyebabkan kelelahan
13.00 WITA 2x24Pasien bertoleransi  Monitor nutrisi dan sumber
terhadap aktivitas dengan energi yang adekuat
Kriteria Hasil :  Monitor pola tidur dan
 Berpartisipasi dalam aktivitas lamanya tidur/istirahat
fisik tanpa disertai peningkatan pasien
tekanan darah, nadi dan RR  Bantu pasien untuk
 Mampu melakukan aktivitas mengembangkan motivasi
sehari hari (ADLs) secara diri dan penguatan
mandiri  Monitor respon fisik, emosi,
 Keseimbangan aktivitas dan sosial dan spiritual
istirahat
19

J. IMPLEMENTASI
NO HARI/TANGGAL/JAM IMPLEMENTASI RESPON TTD
DX KEPERAWATAN PERAWAT
1 Jumat, 12/1/2018, Airway Management
13.00 WITA - Klien
 Posisikan pasien untuk mengikuti
Sabtu, 13/1/2018, memaksimalkan anjuran
13.00 WITA ventilasi - Klien
 Keluarkan sekret mengikuti
dengan batuk . - Klien merasa
 Monitor respirasi dan termonitor
status O2

Terapi Oksigen - Klien


 mengatur peralatan mengikuti
oksigenasi pemeriksaan
 Monitor aliran oksigen - Klien
 Pertahankan posisi kolaboratif
pasien - Klien
 Monitor adanya kolaboratif
kecemasan pasien - Klien merasa
terhadap oksigenasi lebih baik
Vital sign Monitoring
 Memonitor TD, nadi, - Klien
suhu, dan RR termonitor
 Memonitor frekuensi dan - Klien
irama pernapasan termonitor
 Memonitor pola - Klien
pernapasan abnormal termonitor
2 Senin, 15/1/2018,  mengobservasi adanya - Klien
13.00 WITA pembatasan klien dalam termonitor
melakukan aktivitas - Klien terkaji
Selasa, 16/1/2018,  mengkaji adanya faktor - Klien
13.00 WITA yang menyebabkan termonitor
kelelahan - Klien
 Memonitor pola tidur berusaha
dan lamanya mengikuti
tidur/istirahat pasien
 Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan
Monitor respon fisik,
emosi, sosial dan
spiritual
20

K. CATATAN PERKEMBANGAN
NO HARI/TANGGAL/JAM CATATAN PERKEMBANGAN TTD
DX PERAWAT
1 Sabtu, 13/1/2018, S : klien mengatakan sesak berkurang
13.00 WITA O : SRR 27x/m
Indicator
 Respiratory status : Airway patency
 Vital sign Status
RR 27 0 x/m
A :masalah klien belum teratasi
P : observasi terjasi kekambuhan,pertahankan
kondisi klien sekarang dan lanjutkan intervensi
- Monitor TTV
- Beri terapi o2

2 Senin, 15/1/2018, S : klien mengatakan masih lemas


13.00 WITA O : Klien tidak mampu beraktifitas normal,
energy berkurang, lemas Indicator
 Toleransi aktivitas ( masih intoleransi )
 Konservasi eneergi ( sedikit mengalami
peningkatan)
3 Selasa, 16/1/2018, A : masalah klien belum teratasi
13.00 WITA P : observasi terjadi keparahan,pertahankan
kondisi klien sekarang usahakan terjadi
peningkatan kondisi dengan melanjutkan
intervensi
 Mengobservasi adanya pembatasan klien
dalam melakukan aktivitas
 Mengkaji adanya faktor yang
menyebabkan kelelahan
 Memonitor pola tidur dan lamanya
tidur/istirahat pasien
 Bantu pasien untuk mengembangkan
motivasi diri dan penguatan
 Memonitor respon fisik, emosi, sosial dan
spiritual
21

LEMBAR KONSULTASI
NAMA MAHASISWA : HADERIANSYAH
NIM. :
SEMESTER :
RUANGAN : AFIAT
RUMAH SAKIT : RSUD. H.DAMANHURI BARABAI
JUDUL ASKEP : TB . PARU
PERIHAL CATATAN PEMBIMBING
NO. TANGGAL YANG DIKONSULKAN / PARAF