Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Energi surya merupakan energi yang didapat dengan mengkonversi energi

radiasi panas surya (Matahari) melalui peralatan tertentu menjadi sumber daya

dalam bentuk lain. Energi surya menjadi salah satu sumber pembangkit daya selain

air, uap, angin, biogas, batu bara, dan minyak bumi. Teknik pemanfaatan energi

surya mulai muncul pada tahun 1839, ditemukan oleh A.C. Becquerel. Ia

menggunakan kristal silikon untuk mengkonversi radiasi Matahari, namun sampai

tahun 1955 metode itu belum banyak dikembangkan. Selama kurun waktu lebih dari

satu abad, sumber energi yang banyak digunakan adalah minyak bumi dan batu bara.

Upaya pengembangan cara memanfaatkan energi surya baru muncul lagi pada tahun

1958. Sel silikon yang dipergunakan untuk mengubah energi surya menjadi sumber

daya mulai diperhitungkan sebagai metode baru, karena dapat digunakan sebagai

sumber daya bagi satelit angkasa luar (Anonim, 2012).

Energi mempunyai peranan penting dalam pencapaian tujuan sosial,

ekonomi, dan lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan, serta merupakan

pendukung bagi kegiatan ekonomi nasional. Penggunaan energi di Indonesia

meningkat pesat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk.

Untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat tersebut, dikembangkan

berbagai energi alternatif, di antaranya energi terbarukan. Potensi energi terbarukan,

seperti: biomassa, panas bumi, energi surya, energi air, energi angin dan energi

samudera, sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan, padahal potensi energi

terbarukan di Indonesia sangatlah besar.

1
Energi surya merupakan salah satu energi yang sedang giat dikembangkan

saat ini oleh pemerintah Indonesia karena sebagai negara tropis, Indonesia

mempunyai potensi energi surya yang cukup besar.

1.2 Perumusan Masalah

Masalah yang dibahas dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

A. Bagaimana Pemanfaatan Sumber Daya Energi Surya?


B. Bagaimana Proses Konversi Energi Surya menjadi Energi Listrik pada PLTS?
C. Apakah dampak negatif terhadap lingkungan yang ditimbulkan akibat penggunaan
panel surya ?
D. Bagaimana cara menanggulangi dampak negatif tersebut?

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

A. Mempelajari tentang Pemanfaatan Sumber Daya Energi Surya


B. Untuk Mengetahui dan Memahami Proses Konversi Energi Surya menjadi Energi
Listrik
C. Mengetahui Dampak Negatif Penggunaan Panel Surya terhadap Lingkungan
D. Dapat Mempelajari Proses Penanggulangan Dampak Lingkungan Panel Surya

1.4 Manfaat

Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak,
khususnya kepada mahasiswa Program Studi Teknik Energi Polsri semester 4 untuk
memberi informasi dan menambah wawasan mengenai Energi Surya.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Energi Surya

Energi surya adalah radiasi yang di produksi oleh reaksi fusi nuklir pada inti matahari.
Matahari mensuplai hampir semua panas dan cahaya yang diterima bumi untuk
digunakan makhluk hidup. Selain itu energi surya berjumlah besar dan bersifat
kontinyu terbesar yang tersedia di alam ini, khususnya energi elektromagnetik yang
dipancarkan oleh matahari. Energi surya yang sampai ke bumi dalam bentuk paket –
paket energi disebut foton. Semua radiasi elektromagnetik termasuk cahaya matahari
mengandung foton yang dimana foton tersebut mengandung energi. Terdapat dua
paramater dalam energi surya yang paling penting, : pertama intensitas radiasi, yaitu
jumlah daya matahari yang datang kepada permukaan per luas area, dan karakteristik
spektrum cahaya matahari. Intensitas radiasi matahari diluaratmosfer bumi disebut
konstanta surya, yaitu sebesar 1365 W/m2. Setelah disaring oleh atmosfer bumi,
beberapa sepktrum cahaya hilang, dan intensitas puncak radiasi menjadi sekitar
1000W/m2 . Nilai ini adalah tipikal intensitas radiasi pada keadaan permukaan tegak
lurus sinar matahari dan pada keadaan cerah. Radiasi surya dipancarkan dari
fotoshpere matahari pada temperatur 6000K, yang memberikan distribusi
spektrumnya mirip dengan distribusi spektrum black body.

Energi surya tidak bersifat polutif, tak dapat habis dan didapatkan secara gratis.
Namun, kekurangan dari energi surya sendiri adalah sangat halus dan tidak konstan.
Arus energi surya yang rendah mengakibatkan dipakainya sistem dan kolektor yang
luas permukaannya besar untuk mongkonsentrasikan energi itu. Sistem kolektor ini
berharga cukup mahal dan ada masalah lagi bahwa sistem – sistem di bumi tidak

3
dapat diharapkan akan menerima persediaan yang terus menerus dari energi surya ini.
Hal ini berarti diperlukan semacam sistem penyimpanan energi atau konversi lain
untuk menyimpan energi pada malam hari serta pada saat cuaca mendung.

Energi surya dapat dikonversi secara langung menjadi bentuk lain dengan tiga proses,
yaitu : proses helochemical, proses helioelectrical, dan proses heliothermal. Reaksi
heliochemical yang utama adalah proses fotosintesa. Proses ini adalah sumber dari
semua bahan bakar fosil. Proses helioelectrical yang utama adalah produksi listrik
oleh sel – sel surya dapat dikatakan energi radiasi matahari dikonversi menjadi energi
listrik. Proses heliothermal adalah penyerapan radiasi matahari dan pengkonversian
energi ini menjadi energi termal.Bumi bergerak mengelilingi matahari dalam suatu
orbit berbentuk elips yakni hampir berupa lingkaran. Pada titik terdekat di tanggal 21
desember, bumi berjarak sekitar 1,45 x 1011 m sementara pada titik terjauh di tanggal
22 juni, bumi berjarak sekitar 1,54 x 1011 m dari matajari. Waktu matahari rata – rata
ialah waktu matahari setempat jika bumi bergerak mengelilingi matahari dengan
kecepatan konstan. Orbit yang bergerak elips itu menunjukan bahwa bumi tidak
bergerak dengan kecepatan konstan dan pada berbagai waktu matahari timbul lebih
cepat atau lebih lambat dari waktu matahari rata – rata. Perbedaan waktu matahari
sebenarnya dengan waktu matahari rata – rata disebut dengan “persamaan waktu”.
Persamaan waktu bukanlah sebuah persamaan melainkan hanyalah sebuah faktor
koreksi yang tergantung dari waktu tahun. Harga koreksi ini berkisar dari +16,3 menit
dibulan nopember hingga -14,4 menit dibulan februari. Waktu matahari rata – rata
dapat dihitung secara langusng dari garis bujur setempat. Oleh karena bumi berevolusi
360o dalam 24 jam, satu derajat dari rotasi bumi sama dengan atau sama dengan 4
menit. Ada sebuah garis bujur imajiner yang membujur kira – kira pusat dari tiap –
tiap zone waktu yang disebut meridian standar zona waktu. Pada garis bujur ini,
waktu matahari rata – rata dan waktu standar setempat adalah identik. Berapa besar
jumlah energi yang dikeluarkan oleh matahari sukar dibayangkan. Menurut perkiraan,
inti matahari yang merupakan suatu tungku termonukler bersuhu 100.000.000o C
dimana tiap detik mengkonversi 5 ton materi menjadi energi yang dipancarkan ke
angksa luas sebanyak 6,41 x 107 W/m2. Matahari mempunyai radius sebesar 8.96 x
105 km. dalam perjalanannya di ruang angkasa dalam kedinginan yang hampir
mendekati nol absolute, yaitu kira – kira 2 K, bumi menerima sebagian kecil dari
jumlah energi itu.

4
A. Radiasi

Radiasi dapat dibagi menjadi dua dari tipe yaitu Direct Radiation dan Diffuse
Radiation. Direct Radiation radiasi yang datang dalam balok lurus dan dapat
difokuskan oleh lensa atau cermin. Diffuse Radiation adalah radiasi yang dicerminkan
oleh atmosfer dan dapat dipantulkan oleh awan. Awan dan debu di atmosfer dapat
menyerap atau memantulkan radiasi sehingga mengurangi radiasi yang sampai di
permukaan bumi. Pada keadaan cerah biasanya radiasi akan langsung sampai ke
permukaan bumi, sedangkan pada saat keadaan berawan radiasi tersebut akan terserap
lalu di sebarkan secara global. Radiasi yang sampai di permukaan bumi pada cuaca
mendung biasanya hanya satu per sepuluh dari yang menerima di bawah sinar
matahari penuh. Oleh karena itu, sistem surya harus dirancang untuk menjamin daya
yang cukup pada periode berawan dengan tingkat radiasi yang lebih rendah. Pada saat
yang sama, pengguna sistem harus menghemat energi penggunaan ketika itu cuaca
sedang mendung mendung. Radiasi adalah satuan daya per luas W/m2 dimana daya
dari matahari per satuan unit area. Jika modul menghadap ke matahari secara
langsung maka radiasi yang sampai ke permukaan modul akan bernilai besar.

2.1.1 Fotovoltaik

Fotovoltaik atau sel surya adalah teknologi yang dapat menghasilkan arus searah
(Direct Current) dengan satuan daya Watt (W) atau kilo Watt (kW) dari bahan
semikonduktor ketika bahan ini tersinari oleh foton. Prinsip dasar sel surya
merupakan kebalikan dari LED (Light Emitting Diode) yang mengubah energi
listrik menjadi cahaya atau boleh dikatakan identik dengan sebuah dioda cahaya p-n
junction. Sel surya terdiri dari lapisan semikonduktor doping – n dan doping – p yang
membentuk p – n junction, lapisan antirefleksi, dan substrat logam sebagai tempat
mengalirnya arus dari lapisan tipe – n (elektron) dan tipe – p (hole). Semikonduktor
tipe – n didapat dengan mendoping silikon dengan unsur dari golongan V sehingga
terdapat kelebihan elektron valensi dibanding atom sekitar. Pada sisi lain
semikonduktor tipe – p didapat dengan doping oleh golongan III sehingga elektron
valensinya defisit satu dibanding atom sekitar.

5
Gambar 2.1 Struktur Sel Surya p-n junction

Ketika dua tipe material tersebut mengalami kontak maka kelebihan elektron dari
tipe-n berdifusi pada tipe-p. Sehingga area doping-n akan bermuatan positif
sedangkan area doping- p akan bermuatan negatif. Medan elektrik yang terjadi antara
keduanya mendorong elektron kembali ke daerah-n dan hole ke daerah-p. Pada proses
ini terlah terbentuk p-n junction. Dengan menambahkan kontak logam pada area p
dan n maka telah terbentuk dioda.Sel surya (Photovoltaic) menghisap radiasi dari
matahari sebesar 80% namun hanya 5 –20% energi yang dapat dikonversikan menjadi
energi listrik tergantung dari teknologi panel surya yang digunakan sendiri. Panel
surya dibuat dengan bahan semi konduktor murni (Ge & Si) yang bersifat setengah
penghantar dan mampu menghantarkan arus listrik ke suatu arah saja. Bahan semi
konduktor ini sebenarnya adalah isolator yang tidak dapat menghantarkan arus listrik.
Namun dengan mencampurkan bahan tersebut dengan bahan lain maka semi
konduktor dapat bersifat sebagai setengah penghantar. Pada dasarnya terjadinya arus
listrik pada panel surya adalah karena pergerakan elektron (Ge & Si).Teori lubang
elektron mengatakan bahwa elektron dapat terlepas dari orbitnya. Elektron yang
terlepas dari lingkaran orbit terluar akan meninggalkan hole, dan menyebabkan atom
bermuatan positif. Atom bermuatan positif tersebut akan menarik elektron dari atom
lainnya dan menjadi netral kembali. Atom yang ditarik elektronnya akan menjadi
positif, dan akan menarik elektron dari atom yang lainnya lagi. Demikian seterusnya
sampai terjadi pergerakan elektron dari satu atom ke atom lainnya. Ketika energi
foton yang datang lebih besar dari celah energi ini maka foton akan diserap oleh
semikonduktor dan akan membuat elektron bebas bergerak untuk membentuk
pasangan electron-hole sebagai pembawa muatan. Selanjutnya elektron dan hole
bergerak berturut – turut kearah lapisan n dan p sehingga timbul beda potensial dan

6
photocurrent (arus yang dihasilkan cahaya) ketika dua muatan melintasi daerah
sambung p – n. Jika energi foton yang datang lebih kecil dari celah energi akan tidak
akan dapat menggerakan elektron bebas. Hal ini akan menyebabkan energi foton
berjalan – jalan melalui solar cell dan diserap pada bagian belakang solar cell sebagai
panas.

1. Jenis Fotovoltaik

Secara komersil jenis fotovoltaik dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan jenis dari
bahan solar cell yang digunakan.

a. Modul sel mono-crystalline yang mempunyai effisiensi sel tertinggi sekitar 17%.

b. Modul sel multi-crystalline yang mempunyai effisensi sel ertinggi sekitar 15%. sel
multi-crystalline diperoleh dari batang multi-crystalline silicon dan biasanya dalam
keadaan bujur sangkar.

c.Modul amorphous silicon dibuat dari film tipis dimana effisiensinya sangat rendah
yaitu sekitar 5 – 7% tetapi proses pembuatannya membutuhkan sedikit material.
Potensi untuk pengurangan biaya adalah hal utama untuk jenis ini dan banyak
penelitian telah dilakukan tahun terakhir ini untuk mengembangkan teknologi
amorphous silicon. Tidak seperti mono dan multi- crystalline, dengan amorphous
silicon terbentuk tingkatan sepanjang waktu.

(a) Mono-crystalline (b) Multi-crystalline (c) Amorphous silicon

2.2 Jenis-Jenis Fotovoltaik

2. Karakteristik Fotovoltaik

7
Gambar dibawah ini menunjukan kurva karakteistik dari sel surya. Kurva ini
menunjukan tegangan dan arus keluaran yang didapat dari fotovoltaik ketika tidak
dibebani secara langsung.

Gambar 2.3. Kurva Karakteristik I-V Sel Surya (sumber: Handbook of Photovoltaic
Science and Engineering)

Ketika sel dalam kondisi short circuit, arus maksimum atau arus short circuit (Isc)
dihasilkan, sedangkan pada kondisi open circuit tidak ada arus yang dapat mengalir
sehingga tegangannya maksimum, disebut tenganan open circuit (Voc). Titik pada
kurva I-V yang menghasilkan arus dan tegangan maksimum disebut Maximum Power
Point (MPP). Karakteristik penting lainnya dari sel surya yaitu fill factor (FF), dengan
persamaan sebagai berikut:

Dengan menggunakan fill factor maka maksimum daya dari sel surya didapat dari
persamaan:

Sehingga efisiensi sel surya yang didefinisikan sebagai daya yang dihasilkan dari sel
(Pelektrik) dibagi dengan daya dari cahaya yang datang (Pcahaya):

8
Nilai efisiensi ini menjadi ukuran global dalam menentukan performansi suatu sel
surya.

Fotovoltaik pada umumnya mempunyai hambatan parasitik seri dan hambatan shunt
yang berpengaruh pada penurunan efisiensi, seperti ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar 2.4. Rangkaian

Ekivalen Fotovoltaik

Berdasarkan persamaan 2.3. efisiensi dari fotovoltaik sendiri dinyatakan sebagai rasio
antara daya keluaran yang dihasilkan (daya listrik) terhadap energi cahaya yang
sampai dipermukaan fotovoltaik, atau dinyatakan sebagai berikut:

Energi keluaran yang dihasilkan fotovoltaik adalah dengan mengalikan arus modul
berbeban dikalikan dengan peak sun hour dan dikalikan dengan tegangan maka akan
didapatkan energi yang dibangkitakan oleh fotovoltaik.

9
2.5. Diagram Blok Sistem
Dari gambar diatas energi dari matahari dikonversi menjadi energi listrik oleh
fotovoltaik lalu akan disalurkan ke charge controller untuk mengatur pengisian battery.
Dari charge controller juga bisa langsung digunakan untuk beban DC. Kondisi
meteorologi yang dominan dalam mendesain sistem solar home system adalah
besarnya radiasi matahari harian (W/m2/hari), serta temperatur lingkungan sekitar
sedangkan kelembaban dan kecepatan angin tidak terlalu bepengaruh. Daya keluaran
fotovoltaik berbanding lurus dengan intensitas cahaya matahari (W/m2). Gambar
berikut adalah pengaruh dari intensitas cahaya matahari yang berbeda – beda terhadap
keluaran tegangan dan arus.

10
Gambar 2.6. Efek dari Intensitas Cahaya Matahari (sumber: Strong, Steven J.Solar
Electric House)

Perubahan temperatur yang terjadi pada fotovoltaik tidak semuanya dikonversi


menjadi listrik, hal ini dikarenakan pada fotovoltaik akan menimbulkan panas, maka
tegangan keluaran mengecil seperti pada gambar berikut:

Gambar 2.7. Efek dari Temperatur Terhadap Kurva I-V (sumber: Strong, Steven J.
The Solar Electric House)

Daya keluaran pada fotovoltaik sangat bergantung pada intensitas cahaya


matahari. Gambar diatas memperjelas hubungan antara temperatur lingkungan dengan
daya keluaran. Oleh karena itu karakteristik arus dan tegangan fotovoltaik tidak linier,
sehingga daya keluaran maksimumnya bergantung pada tegangan dan arus yang
didapat dari fotovoltaik.Daerah kerja fotovoltaik terbagi menjadi dua daerah wilayah
kerja yaitu daerah tegangan dan arus. Pada daerah kerja arus impedansi dalamnya
tinggi sedangkan pada daerah sumber tegangan, nilai impedansi dalamnya rendah.
Pada daerah arus, arus keluaran mendekati konstan pada perubahan nilai tengangan.
Sedangankan pada daerah tegangnan, nilai tegangan akan berubah pada range
perubahan arus yang besar. Daerah arus dan tegangan pada fotovoltaik dengan luas
tertentu nilainya dapat bermacam – macam terhadap besar intensitas matahari dan
temperatur.Berdasarkan teori transfer daya maksimum, daya yang disalurkan ke
beban akan maksimum bila impedansi dalam fotovoltaik sama besar dengan
impedansi beban (matching). Untuk dapat selalu beroperasi pada titik daya
maksimum, suatu kontroler digunakan untuk mengatur tegangan keluaran converter
sehingga titik kerja fotovoltaik dapat dijaga pada titik daya maksimumnya.Nilai
efisiensi sebuah modul surya juga sangat tergantung kepada nilai Peak Sun Hour
(PSH). PSH sangat subyektif tergantung pada karakteristik lingkungan termasuk

11
lamanya penyinaran matahari dan indeks kecerahan disuatu tempat. Besarnya nilai
PSH bisa diperoleh dengan menggunakan rumus berikut:

Gambar 2.8. Radiasi matahari dan peak sun hour (sumber: Renewable Energy

Primer)

3. Faktor Pengoperasian Sel Surya

Pengoperasian sel surya agar didapatkan nilai yang maksimum sangat tergantung pada
faktor berikut:

a. Ambient Air Temperature. Sebuah sel surya dapat beroperasi secara maksimum
jika tempeteratur sel tetap normal (pada 25oC). Kenaikan temperatur lebih tinggi dari
temperatur normal pada sel surya akan melemahkan tegangan (Voc).

b.Radiasi matahari. Radiasi matahari di bumi dan berbagai lokasi bervariabel, dan
sangat tergantung keadaan radiasi solar ke bumi. Intensitas cahaya matahari akan
banyak berpengaruh pada arus (I) dan berpengaruh sedikit pada tegangan.

12
c.Kecepatan Angin. Kecepatan tiup angin disekitar lokasi sel surya dapat membantu
mendinginkan permukaan temperatur kaca-kaca sel surya.

d. Keadaan Atmosfir Bumi. Keadaan atmosfir bumi berawan, mendung, jenis partikel
debu udara, asap, uap air, kabut dan polusi sangat menentukan hasil maximum arus
listrik dari deretan sel surya.Posisi. Mempertahankan sinar matahari jatuh ke sebuah
permukaa panel sel surya secara tegak lurus akan mendapatkan energi maksimum ±
1000 W/m2atau 1kW/m2 . Kalau tidak dapat mempertahankan ketegak lurusan antara
sinar matahari dengan bidang PV, maka ekstra luasan bidang panel sel surya
dibutuhkan (bidang panel sel surya terhadap sun altitude yang berubah setiap jam
dalam sehari). Indonesia yang memiliki potensi energi surya yang cukup besar,
terutamaIndonesia adalah Negara tropis dan hampir sepanjang tahunnya seluruh
wilayah Indonesia terkena radiasi matahari.

4. Instalasi Fotovoltaik

Dalam memanfaatkan fotovoltaik sebagai sumber energi listrik, perlu dilakukan


perencanaan untuk proses pemasangan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh hasil
yang maksimal dan mengurangi energi yang terbuang. Dalam hubungannya dengan
sistem sumber energi listrik yang lain, maka instalasi dibagi menjadi dua yaitu sistem
Instalasi Stand Alone dan sistem Instalasi Connecting Grid.

A. Sistem Stand Alone

13
Sistem instalasi mandiri (stand alone) adalah instalasi fotovoltaik dimana
tidak dihubungkan dengan sumber listrik dari jaringan umum (PLN). Oleh karena itu,
pada sistem ini pemenuhan kebutuhan beban sangat tergantung pada fotovoltaik.
Untuk menjaga pasokan daya listrik sistem ini membutuhkan baterai kareana
ketersediaan intensitas matahari yang berfluktuatif sehingga dimana cuaca tidak cerah
fotovoltaik tidak dapat mensuplai energi yang sama seperti pada saat cuaca cerah.
intsalasi jenis ini biasa digunakan dalam Solar Home System (SHS). Sistem ini terdiri
dari modul fotovoltaik, BCR, baterai dan komponen pendukung. Besar daya beban
yang dapat dipenuhi dibatasi oleh jumlah fotovoltaik dan kapasitas baterai yang
digunakan. Kapasitas baterai dirancang agar dapat menyimpan energi untuk kondisi
paling buruk, yaitu tidak tersedianya intensitasi matahari dalam beberapa hari.

gambar 2.9. Sistem stand alone

B. Sistem Connecting Grid

Sistem terhubung jaringan (Connecting Grid) merupakan sistem instalasi yang


dihuungkan dengan sumber listrik dari jaringan listrik umum (PLN). Pada sistem ini
tidak terlalu diperlukan adanya baterai karena pada saat sistem kekurangan daya maka
untuk memenuhi kekurangan daya beban tersebut disuplai dari listrik jaringan yang
ada. Sistem fotovoltaik akan bekerja pada saat siang hari dengan ketersediaan
intensitas surya yang memenuhi. Sedangkan kekurangan daya pada saat malam hari
atau cuaca mendung, disuplai dari jaringan.

14
Gambar 2.10. Sistem Connecting Grid

5. Balance of Systems

Sebuah sistem pada PLTS tidak hanya terdiri dari panel surya saja. Dalam
penambahannya ini membutuhkan elemen – elemen penting dikenal sebagai “Balance
of Systems” (BOS). BOS biasanya terdiri dari battery, control unit, inverter, kabel
elektrik dan peralatan proteksi seperti fuse, sambungan tanah dan disconnect switches.

1. Battery

Fotovoltaik akan menghasilkan energi listrik ketika matahari bersinar.


Energi yang dihasilkan fotovoltaik akan ditampung pada baterai. Sederhananya
baterai itu seperti tanki penyimpanaan untuk energi listrik. Baterai sendiri adalah
kumpulan dari sel elektrokimia yang mengubah energi kimia menjadi energi listrik.
Ketika baterai sedang diisi, energi listrik disimpan sebagai energi kimia dalam cell.
Kapasitas baterai sangat tergantung pada tipe, umur, temperature dan rate of discharge
baterai. Dianjurkan menggunakan tipe baterai dengan kapasitas yang mampu
memberikan DOD regular 40% dan dapat mensuplai energi selama 3-4 hari (autonomi
day) pada saat tidak ada matahari dengan DOD maksimum 80%.

Gambar 2.11. Baterai jenis lead acid

15
Kapasitas baterai yang ada dipasaran bermacam – macam mulai dari 0.5 Ah sampai
dengan 100 Ah. Kapasitas baterai berpengaruh pada lamanya waktu penggunaan
beban, semakin besar kapasitas baterai yang digunakan maka akan semakin lama
penggunaan beban. Namun dengan mempertimbangan penghematan energi dan biaya
baterai yang digunakan sebaiknya berkapasitas sesuai dengan lamanya penggunaan
keperluan beban yang akan digunakan. Selain itu dalam sistem ini baterai juga akan
berpengaruh pada lamanya pengisian yang dilakukan fotovoltaik, maka daripada itu
aspek ini perlu diperhatikan dalam pemilihan

2. BCR

BCR berfungsi sebagai pengontrol pengisian/charge baterai atau bisa


dikatakan sebagai sistem proteksi bagi baterai yang bertujuan untuk menghindari
baterai dari kerusakan. BCR juga berfungsi sebagai MCB pada sistem serta pengaman
dari arus balik dari baterai ke fotovoltaik, over charge, over discharge dan arus
berlebih. Prinsip kerja dari BCR adalah apabila baterai telah terisi penuh oleh muatan
listrik, maka BCR akan memutuskan hubungan antara panel surya dengan baterai
sehingga pengisian baterai berhenti. Sebaliknya, apabila muatan listrik yang ada pada
baterai dibawah kondisi yang ditentukan, maka BCR akan menghubungkan solar
panel dengan baterai dan mengisi baterai dengan muatan listrik.

16
Gambar 2.12. Batteru Charge Regulator

3. Inverter

Inverter adalah alat pengubah arus searah (DC) menjadi arus bolak-balik Bentuk
gelombang, efisiensi dan surge capability memegang peranan penting pada jenis
inverter yang akan digunakan. Jenis gelombang pada inverter ada 3 macam yaitu
gelombang kotak, modifikasi gelombang kotak dan gelombang sinu. Dari sisi
kualitas inverter gelombong sinus adalah yang terbaik karena sama dengan
gelombang listrik umum.

Bentuk gelombang keluaran inverter akan mempengaruhi faktor umur beban jika
gelombang inverter berbentuk selain sinus maka akan cepat merusak beban.

Gambar 2.13. Inverter

2.1.2 Sistem Pompa Air Tenaga Surya

Fotovoltaik dapat mencatu daya sistem pompa air, terutama bagi


daerah – daerah yang sulit mendapatkan air serta tidak terdapat jaringan listrik. Sistem
pompa air tenaga surya terdiri dari komponen – komponen fotovoltaik, motor, pompa
dan inverter apabila motor yang digunakan mempunyai sistem tegangan AC,
sedangkan untuk motor sistem tegangan DC menggunakan solarverter yang berfungsi
menselaraskan keluaran listrik dari modul surya yang berubah – ubah menjadi relatif
konstan sebelum mencatu daya motor. Sistem pompa air tenaga surya sering menjadi
pilihan untuk keperluan skala kecil seperti kebutuhan air rumah tangga, pertanian
ataupun peternakan. Modul surya dipasang dengan pompa elektrik untuk memompa
air dari sumur ataupun dari sumber airnya. Air ini biasanya digunakan untuk air
minum, mencuci, kebutuhan rumah tangga dan irigasi skala kecil.

17
2.1.3 Perancangan Sistem

Pada perancangan sistem fotovoltaik, faktor terpenting bagaimana


menentukan kapasitas komponen yang diperlukan sesuai dengan kebutuhuan beban,
lokasi dimana sistem ditempatkan, serta batasan-batasan lain yang perlu diperhatikan.
Untuk menjamin agar tidak terjadi kegagalan pada sistem atau memperkecil
semaksimum mungkin kegagalan sistem, maka perlu diketahui juga problema apa
yang umumnya terjadi dalam perancangan suatu perencanaan sistem fotovoltaik.
Untuk perancangan hal pertama yang dibutuhkan adalah energi total yang dibutuhkan.
Asumsi rugi-rugi (losses) pada sistem untuk beban DC sebesar 20% asumsi ini hanya
pada kabel, BCR dan baterai sedangkan jika dengan fotovoltaik maka sebesar
efisiensi sistem sebesar 40% (Mark Hankins, 2010), maka total energi yang
disyaratkan adalah sebesar:

Perhitungan Kapasitas Komponen Sistem

Adapun komponeennya sebagai berikut :

1.Modul Surya

2.Baterai

3.Baterai Charge Regulator

Perencanaan pembuatan sistem pompa air tenaga surya perlu dilakukan dengan
menghitung kapasitas-kapasitas komponen berikut.

1. Kapasitas Baterai

Setelah mendapatkan energi total yang dibutuhkan maka dibutuhkan tempat


penyimpanan energi pada sistem stand alone. Besarnya Deep of Discharge (DOD)

18
pada baterai umumnya adalah 80% (Mark Hankins,2010). Maka kapasitas baterai
yang dibutuhkan :

2. Kapasitas Modul

Setelah mendapatkan kapasitas baterai yang akan digunakan maka dapat


ditentukan jumlah modul yang akan digunakan yaitu dengan cara membagi
battery storage dengan PSH dengan faktor safety 1,2 (Mark Hankins,2010)

3. Kapasitas BCR

BCR dalam sistem ini berfungsi pengaman dari arus pendek yang berasal
dari modul ataupun dari arus maksimum pada beban dengan faktor safety 1,25
(Mark Hankins,2010). BCR juga berfungsi sebagai proteksi over charge,over
discharge dan arus dari baterai ke sumber.

Menentukan Jumlah Seri dan Paralel

19
Generator fotovoltaik merupakan bentuk kombinasi hubungan seri dan
paralel modul-modul fotovoltaik. Langkah penting berikutnya adalah menentukan
jumlah modul fotovoltaik yang harus dihubungkan seri dan paralel. Jumlah modul
yang harus dihubungkan seri ditentukan oleh tegangan masukan beban,dengan
rumus dibawah ini (Dalimi,Rinaldy,Dr.Ir.Faisal.Fuad:1996) :

2.2 Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)

Pembangkit Listrik Tenaga Surya adalah pembangkit listrik yang mengubah

energi surya menjadi energi listrik. Pembangkitan listrik bisa dilakukan dengan

dua cara, yaitu secara langsung menggunakan photovoltaic dan secara tidak

langsung dengan pemusatan energi surya. Photovoltaic mengubah secara langsung

energi cahaya menjadi listrik menggunakan efek fotoelektrik. Pemusatan energi

surya menggunakan sistem lensa atau cermin dikombinasikan dengan sistem

pelacak untuk memfokuskan energi matahari ke satu titik untuk menggerakan

mesin kalor.

Sistem pemusatan energi surya (concentrated solar power, CSP)

menggunakan lensa atau cermin dan sistem pelacak untuk memfokuskan energi

20
matahari dari luasan area tertentu ke satu titik. Panas yang terkonsentrasikan lalu

digunakan sebagai sumber panas untuk pembangkitan listrik biasa yang

memanfaatkan panas untuk menggerakkan generator. Sistem cermin parabola,

lensa reflektor Fresnel, dan menara surya adalah teknologi yang paling banyak

digunakan. Fluida kerja yang dipanaskan bisa digunakan untuk menggerakan

generator (turbin uap konvensional hingga mesin Stirling) atau menjadi media

penyimpan panas.

2.2.1. Prinsip Kerja dan Klasifikasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)

Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) merupakan jenis pembangkit energi

listrik alternatif yang dapat mengkonversi energi cahaya menjadi energi listrik.

Secara umum, ada dua cara pembangkit listrik tenaga surya untuk dapat

menghasilkan energi listrik, yaitu :

1. Pembangkit Listrik Surya Termal (Solar Thermal Power Plants)

Dalam pembangkit ini, energi cahaya matahari akan digunakan untuk

memanaskan suatu fluida yang kemudian fluida tersebut akan memanaskan air.

Air yang panas akan menghasilkan uap yang digunakan untuk memutar turbin

sehingga dapat menghasilkan energi listrik.

Pembangkit Listrik Termal Surya dapat bekerja dalam berbagai cara.

Pembangkit ini juga biasa dikenal sebagai pembangkit listrik surya terkonsentrasi

(concentrated solar power plants). Tipe yang paling banyak digunakan adalah

desain parabola cekung. Cermin parabola dirancang untuk menangkap dan

memfokuskan berkas cahaya ke satu titik fokus, seperti seorang anak yang

menggunakan kaca pembesar untuk membakar kertas. Pada titik fokus tersebut

21
terdapat pipa hitam yang panjangnya sepanjang cermin tersebut. Didalam pipa

tersebut terdapat fluida yang dipanaskan hingga temperatur yang sangat tinggi,

seringkali diatas 150oC. Fluida panas tersebut dialirkan dalam pipa menuju ke ruang
pembangkitan energi listrik untuk memasak air, menghasilkan uap air dan
menghasilkan energi listrik.

Gambar.1. Diagram Alir Pembangkit Listrik Termal Surya

Versi lain dari pembangkit listrik surya termal adalah penggunaan tower

listrik (power tower). Tower listrik ini membuat pembangkit listrik surya termal

menuju ke arah baru. Cermin disituasikan untuk memfokuskan radiasi cahaya ke

satu titik fokus, yaitu sebuah menara tinggi yang mana menara ini menerima

cahaya untuk mendidihkan air dan menghasilkan uap air. Cermin-cermin yang

digunakan biasanya dikoneksikan ke sebuah sistem penjejakan (tracking system)

cahaya dimana sistem tersebut mengatur cermin agar selalu menghadap matahari.

Tower listrik ini memiliki beberapa keuntungan, seperti waktu pembangunan yang

relatif cepat.

22
2. Pembangkit Listrik Tenaga Surya Fotovoltaik (Solar Photovoltaic Plants)

Pembangkit jenis ini memanfaatkan sel surya (solar cell) untuk

mengkonversi radiasi cahaya menjadi energi listrik secara langsung. Pembangkit

fotovoltaik ini sangatlah sederhana. Beberapa panel surya dipasang sehingga

membentuk array. Masing-masing panel akan mengumpulkan energi cahaya dan

mengkonversikan nya secara langsung menjadi energi listrik. Energi listrik ini

dapat dialirkan ke jaringan listrik. Saat ini, pembangkit surya fotovoltaik masih

jarang ditemukan. Hal ini dikarenakan pembangkit listrik surya termal saat ini

lebih efisien untuk memproduksi energi listrik dalam skala besar.

Gambar 2. Pembangkit Listrik Tenaga Surya Fotovoltaik

a) Sel Surya

Sel surya atau sel fotovoltaik adalah sebuah alat yang mengubah cahaya menjadi
arus listrik dengan menggunakan efek fotolistrik. Sel surya pertama diciptakan oleh
Charles Fritts pada tahun 1880. Pada tahun 1931 seorang insinyur Jerman, Dr Bruno
Lange, mengembangkan sel fotovoltaik menggunakan selenida perak di tempat oksida
tembaga. Meskipun sel prototipe selenium mengkonversi kurang dari 1% dari cahaya
menjadi listrik, Ernst Werner von Siemens dan James Clerk Maxwell mengakui
penemuan ini sangatlah penting. Setelah karya Russell Ohl pada 1940-an, peneliti
Gerald Pearson, Calvin Fuller dan Daryl Chapin menciptakan sel surya silikon pada
tahun 1954. Sel-sel surya awal biaya 286 USD/watt dan mencapai efisiensi dari
4,5-6%.

23
b) Tipe Sel Surya

Ditinjau dari konsep struktur kristal bahannya, terdapat tiga tipe utama sel surya,
yaitu sel surya berbahan dasar monokristalin, poli (multi) kristalin, dan amorf. Ketiga
tipe ini telah dikembangkan dengan berbagai macam variasi bahan, misalnya silikon,
CIGS, dan CdTe.

Berdasarkan kronologis perkembangannya, sel surya dibedakan menjadi sel surya


generasi pertama, kedua, dan ketiga. Generasi pertama dicirikan dengan pemanfaatan
wafer silikon sebagai struktur dasar sel surya; generasi kedua memanfaatkan
teknologi deposisi bahan untuk menghasilkan lapisan tipis (thin film) yang dapat
berperilaku sebagai sel surya; dan generasi ketiga dicirikan oleh pemanfaatan
teknologi bandgap engineering untuk menghasilkan sel surya berefisiensi tinggi
dengan konsep tandem atau multiple stackes. Kebanyakan sel surya yang diproduksi
adalah sel surya generasi pertama, yakni sekitar 90% (2008). Di masa depan, generasi
kedua akan makin populer, dan kelak akan mendapatkan pangsa pasar yang makin
besar. European Photovoltaic Industry Association (EPIA) memperkirakan pangsa
pasar thin film akan mencapai 20% pada tahun 2010. Sel surya generasi ketiga hingga
saat ini masih dalam tahap riset dan pengembangan, belum mampu bersaing dalam
skala komersial.

c) Prinsip Kerja Sel Surya

Bahan sel surya sendiri terdiri kaca pelindung dan material adhesive transparan
yang melindungi bahan sel surya dari keadaan lingkungan, material anti-refleksi
untuk menyerap lebih banyak cahaya dan mengurangi jumlah cahaya yang
dipantulkan, semi-konduktor P-type dan N-type (terbuat dari campuran Silikon) untuk
menghasilkan medan listrik, saluran awal dan saluran akhir (terbuat dari logam tipis)
untuk mengirim elektron ke perabot listrik.

24
Gambar 3. Proses Kerja Sel Surya

Cara kerja sel surya identik dengan piranti semikonduktor dioda. Ketika

cahaya bersentuhan dengan sel surya dan diserap oleh bahan semi-konduktor,

terjadi pelepasan elektron. Apabila elektron tersebut bisa menempuh perjalanan

menuju bahan semikonduktor pada lapisan yang berbeda, terjadi perubahan sigma

gaya-gaya pada bahan. Gaya tolakan antar bahan semi-konduktor, menyebabkan

aliran medan listrik. Dan menyebabkan elektron dapat disalurkan ke saluran awal

dan akhir untuk digunakan pada perabot listrik.

2.2.2. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Skala Rumah Tangga

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia, paling populer digunakan


untuk listrik pedesaan (terpencil), system seperti ini populer dengan sebutan SHS
(Solar Home System). SHS umumnya berupa system berskala kecil, dengan
menggunakan modul surya 50-100 Wp (Watt Peak) dan menghasilkan listrik harian
sebesar 150-300 Wh.

Berikut adalah diagram instalasi pembangkit listrik tenaga surya skala rumah tangga:

25
Gambar 4. Diagram Instalasi PLTS

Dari diagram pembangkit listrik tenaga surya diatas dapat diketahui bahwa beberapa
panel surya di paralel untuk menghasilkan arus yang lebih besar. Combiner digunakan
untuk menghubungkan kaki positif panel surya satu dengan yang lainnya. Begitu pula
untuk kaki negatifnya. Ujung kaki positif panel surya dihubungkan ke kaki positif
charge controller dan begitu pula untuk kaki negatifnya. Tegangan panel surya yang
dihasilkan akan digunakan oleh charge controller untuk mengisi baterai. Untuk
menghidupkan beban perangkat dengan arus AC, seperti : Televisi, Radio, komputer,
dll, arus baterai yang merupakan arus DC harus diubah terlebih dahulu menjadi AC
dengan menggunakan inverter. Untuk mengukur jumlah energi listrik yang telah
dihasilkan oleh panel surya dapat digunakan kWh meter. Untuk melindungi panel
surya dan perangkat lainnya dari gangguan, maka digunakanlah panel pemutus AC.

Pada pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala rumah tangga, biasanya

sering terjadi Islanding. Islanding adalah terjadinya pemutusan aliran listrik pada

jaringan distribusi yang dimiliki oleh perusahaan listrik ketika PLTS tetap bekerja.

Hal ini dapat terjadi karena adanya kerusakan pada jaringan distribusi listrik. Agar

tidak merusak PLTS, digunakanlah power conditioner. Alat ini berfungsi untuk

mendeteksi terjadinya Islanding dan dengan segera menghentikan kerja PLTS.

Power conditioner biasanya menjadi satu dengan inverter.

26
2.3. Dampak Negatif Panel Surya Terhadap Lingkungan

Akhir-akhir ini, sedang marak digunakannya panel surya, terutama sebagai sumber
energi yang terbarukan pengganti bahan bakar fosil. Penggunaan panel surya sangat
banyak sekali manfaatnya, contohnya adalah mengurangi polusi udara akibat
pembakaran bahan bakar fosil, menghasilkan energy dengan biaya yang murah dan
merupakan investasi jangka panjang, serta tidak menimbulkan polusi suara (tanpa
suara), tidak seperti pembangkit-pembangkit listrik yang lain. Namun dari sekian
banyaknya manfaat yang ada, panel surya ternyata memiliki dampak negatif, terutama
bagi lingkungan.

Yang pertama, panel surya membutuhkan lahan yang luas. Dari data yang
diperoleh dari situs resmi Itjen ESDM pada tahun 2013, panel surya yang memiliki
keefisienan 15-20% membutuhkan lahan seluas 1,2 hektar untuk menghasilkan energi
sebesar 1 MW yang dimana 1 unit PLTP (pembangkit listrik tenaga panas bumi) di
Kamojang dapat menghasilkan energy sebesar 55 MW.

Yang kedua, panel surya dapat berbahaya bagi lalu lintas udara. Panel surya
tidak dapat menyerap sinar matahari secara menyeluruh. Sinar matahari yang tidak
terserap tersebut terpantul dan terkosentrasi ke atas. Sinar yang dipantulkan tersebut
sangatlah panas dan mengganggu lingkungan sekitar, terutama ekosistem udara. Sinar
yang panas tersebut dapat membuat hewan-hewan yang terkena sinar pantulan panel
surya mati kepanasan. Selain mengganggu ekosistem udara, panel surya juga dapat
jalur penerbangan pesawat-pesawat yang lewat.

Yang ketiga, panel surya dapat mengurangi pasokan air yang ada. Sistem
tenaga surya seperti PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) memerlukan air untuk
pembersihan konsentrator dan reciever secara rutin, begitu juga dengan pendinginan
turbin dan generator sehingga air yang dibutuhkan untuk pengoprasian dan
pemeliharaan panel surya jumlahnya besar. Walau system tenaga surya menggunakan
sumber air bawah tanah untuk mengurangi penggunaan air permukaan yang ada, akan
tetapi penggunaan sumber air bawah tanah dapat mempengaruhi ekosistem di
beberapa lokasi yang gersang karena makhluk hidup yang ada di gurun menggunakan
sumber air bawah tanah, contohnya kaktus.

27
Dan yang terakhir, panel surya bersifat beracun. Sementara sistem tenaga
surya mungkin tidak menghasilkan sisa pembakaran dan gas rumah kaca selama
menghasiilkan energy (listrik), akan tetapi pada proses manufaktur (pembuatan) panel
surya menggunakan beberapa bahan beracun sperti polysilicon. Untuk setiap ton
polysilicon yang dibuat, yaitu bahan yang membentuk jantung panel surya,
menciptakan empat ton silikon tetraklorida beracun. Selain itu, pembuatan panel surya
menggunakan sesuatu yang disebut tetrafluoride nitrogen, yang merupakan gas rumah
kaca 17.000 kali lebih kuat daripada karbon dioksida. Jika panel surya rusak dan
limbahnya tidak diproses dengan baik maka kerusakan lingkungan tidak dapat
terhindarakan.

2.4. Penanggulangan Dampak Negatif Panel Surya terhadap


Lingkungan

Dari semua dampak negatif yang ada, penanggulangan dan penanganan perlu
dilakukan. Untuk sekarang penanggulangan untuk mengurangi luas penggunaan lahan
penggunaan panel surya masih sulit dicapai dikarenakan efisiensi penyerapan energi
panel surya yang masih rendah menjadi salah satu faktornya, terutama untuk
menghasilkan energi yang ramah lingkungan. Begitu pula untuk pengurangan bahan
beracun dalam pembuatan panel surya, karena untuk membuat panel surya dengan
efisiensi tertinggi sekarang (20%-30%) tetap menggunakan bahan-bahan yang
beracun. Langkah terbaik yang dapat kita lakukan adalah dengan mengolah limbah
panel surya sebaik-baiknya. Untuk masalah pantulan cahaya panel surya, dapat
dilakukan pengkonsentrasian cahaya yang panas tersebut ke suatu titik untuk
menghasilkan energi panas, sehingga energy panas itu akan menggerakan turbin dan
menghasilkan energi listrik. Hal ini dapat dicontoh seperti pembangkit listrik tenaga
surya dan panas di Australia, yang mencetak rekor dunia untuk efisiensi energi surya
dengan memanfaatkan cahaya matahari dan pantulan sinar matahari yang panas.
Untuk pengurangan penggunaan air sediri dapat dilakukan dengan mendaur ulang air
yang digunakan untuk merawat panel sehingga dapat digunakan kembali untuk
membersihkan dan mendinginkan generator lagi.

28
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Energi surya mempunyai potensi untuk menyediakan berbagai kebutuhan energi


di seluruh Indonesia. Selain untuk pembangkit listrik, energi surya juga membantu
tumbuhan untuk berfotosintesis. Energi surya bukan saja bisa digunakan untuk proses
pemanasan ataupun untuk energi listrik, energi surya juga bisa digunakan untuk
pendingin. Jadi, energi surya adalah energi yang paling penting untuk digunakan
dalam kehidupan.

3.2 Saran

3.2.1 Bagi Pemerintah

Instansi pemerintah dan lembaga pendidikan perlu mendorong dan menggalakkan


penelitian-penelitian serta aplikasi sel surya.

3.2.2 Bagi Mahasiswa

Energi surya sangat berpotensi di Indonesia karena wilayah Indonesia yang


memiliki iklim tropis dan matahari dapat muncul sepanjang tahun, oleh sebab itu kita
harus lebih mengembangkan lagi baik dari segi pemanfaatan ataupun
pengaplikasiannya.

29
DAFTAR PUSTAKA

Hamid, R. (2018, April 13). Energi Surya dan Dampaknya Pada Lingkungan.
Retrieved from IndoEnergi

web site:http://www.indoenergi.com/2012/07/energi-surya-dan-dampaknya-pada.html

Abdur,Arief.2012. Laporan Tugas Akhir. Energi Surya. Bab II. Diambil Dari:

http://digilib.polban.ac.id/files/disk1/97/jbptppolban-gdl-ariefabdur-4827-3-bab2--6.p
df

Swijaya,Andi. (2016,November). Konversi Energi-Pembangkit Listrik Tenaga Surya


(PLTS). Web site:
https://drive.google.com/file/d/1QOunP3-AC_sQxaBcc-dtxx56i0iYv1rlPhisqHA3O8
Q/view

30