Anda di halaman 1dari 19

2013

[LAPORAN PLENARY
DISCUSSION]
Disusun Oleh Tutorial 7

Citra Kirana Nareswari 20110340019


Dania Rahma Alifianti 20110340022
Herlinda Citra Mutiara 20110340029
Defitara Florentina 20110340061
Islami Jihadiyah 20110340064
Sania Kurniavi Isyana 20110340066
Elok Faiqotul Umma 20110340070
Prawatya Laksmitaputri 20110340087
Puspa Wardhani 20110340088
Ikhsan Masyruri 20110340099
Mega Ulandari 20110340101
Irene Dwi Rahmawati 20110340108
Ariyo Nugroho 20110340110
Daftar Isi

SCENARIO 1 ............................................................................................................................................................................... 1
1. Klarifikasi Istilah ............................................................................................................................................................ 1
2. Menetapkan Permasalahan ....................................................................................................................................... 1
3. Menganalisis masalah .................................................................................................................................................. 2
1. Klasifikasi obat analgesic dari Aspirin dan obat antibiotic dari Tetrasiklin ..................................... 2
2. Fungsi dari tetrasiklin dan aspirin ..................................................................................................................... 3
3. Efek samping obat Tetrasiklin dan Aspirin..................................................................................................... 6
4. Indikasi dan kontraindikasi dari Tetrasiklin dan Aspirin......................................................................... 8
5. Dosis yang tepat untuk Tetrasiklin dan Aspirin ........................................................................................... 8
6. Farmakokinetik dan farmakodinamik obat Tetrasiklin dan Aspirin ................................................... 9
7. Interaksi obat Tetrasiklin dan Aspirin jika digabung dengan obat lain, dan interaksi obat
tersebut jika digabung dengan makanan ................................................................................................................ 11
8. Mekanisme hemostasis pendarahan dalam skenario ............................................................................... 12
9. Obat yang dapat menggantikan Aspirin ......................................................................................................... 15
10. Dalam penggunaanya Tetrasiklin tidak boleh diminum bersama dengan susu ............................ 15
KESIMPULAN .......................................................................................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................................................ 17

i
SCENARIO 1

A 50 years old man came back to a dentist with feeling so weak and headache after a tooth
extraction a day before and still have bleeding. Right after extraction he was gives two kind of
medicine, 20 capsules of 250 mg Tetracyclin and 10 tablets of 500 mg Aspirin. It was advised not to
consume the drugs with milk.

1. Klarifikasi Istilah
 Aspirin :
Merupakan analgetik dari AINS (Anti Inflamasi Non Steroid), yakni turunan dari Asam
Salisilat, yang berfungsi sebagai analgesic, antipiretik dan antiinflamasi
 Tetracyclin :
Merupakan Antibiotik, golongan besar obat yang mempunyai struktur dasar dan aktivitas
umum, yang memiliki spectrum luas

2. Menetapkan Permasalahan
1. Bagaimana klasifikasi obat analgesic dari Aspirin dan obat antibiotic dari Tetrasiklin ?
2. Bagaimana fungsi dari tetrasiklin dan aspirin ?
3. Apa efek samping dari obat Tetrasiklin dan Aspirin ?
4. Apa saja Indikasi dan kontraindikasi dari Tetrasiklin dan Aspirin ?
5. Berapa dosis yang tepat untuk Tetrasiklin dan Aspirin ?
6. Bagaimana cara kerja Aspirin dan Tetrasiklin ditinjau dari farmakokinetik dan
farmakodinamik obat ?
7. Bagaimana interaksi obat Tetrasiklin dan Aspirin jika digabung dengan obat lain ? dan
bagaimana interaksi obat tersebut jika digabung dengan makanan ?
8. Mengapa pasien dalam scenario tersebut masih mengalami pendarahan ? dan bagaimana
mekanisme hemostasisnya ?
9. Obat apa saja yang dapat menggantikan Aspirin terkait kasus dalam skenario ?
10. Mengapa dalam penggunaanya Tetrasiklin tidak boleh diminum bersama dengan susu ?

1
3. Menganalisis masalah
1. Klasifikasi obat analgesic dari Aspirin dan obat antibiotic dari Tetrasiklin
1. Klasifikasi Obat Analgesic :
a. Analgesic Narkotik/Opioid
b. Analgesic Non Narkotik
Berasal dari AINS (Anti Inflamasi Non Steroid) yang menghilangkan nyeri ringan
sampai sedang. Disebut AINS karena selain sebagai analgesik, sebagaian anggotanya
mempunyai efek antiinflamasi dan antipiretik (penurun demam), dan secara
kimiawi bukan steroid
 Analgetik-Antipiretik, diantaranya :
 Golongan Asam Salisilat, yaitu Aspirin
 Asetaminofen (Parasetamol)
Aspirin
Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah sejenis obat turunan dari salisilat
yang sering digunakan sebagai senyawa analgesik (penahan rasa sakit atau nyeri minor),
antipiretik (terhadap demam), dan anti-inflamasi (peradangan). Aspirin juga memiliki efek
antikoagulan dan dapat digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah
serangan jantung. Kepopuleran penggunaan aspirin sebagai obat dimulai pada tahun 1918
ketika terjadi pandemik flu di berbagai wilayah dunia..
Aspirin merupakan asam organik lemah yang unik diantara obat-obat AINS dalam
asetilasi (dan juga inaktivasi) siklooksigenase ireversibel. AINS lain termasuk salisilat,
semuanya penghambat siklooksigenase reversible. Aspirin cepat dideasetilasi oleh esterase
dalam tubuh, menghasilkan salisilat, yang mempunyai efek anti-inflamasi, anti-piretik, dan
analgesik (Mycek dkk., 2001). Aspirin (asam asetilsalisilat) mempunyai pKa 3,5. Asam
asetilsalisilat disintesis tahun 1853, tetapi obat ini belum digunakan sampai tahun 1899,
ketika diketahui bahwa obat ini efektif pada artritis dan dapat ditoleransi dengan baik.
Nama aspirin diciptakan dari gabungan kata bahasa Jerman untuk senyawa acetylspirsäure
(spirea, nama genus tanaman asal zat tersebut dan säure, yang dalam bahasa Jerman berarti
asam).
Aspirin mengandung gugus fungsi asam karboksilat, dengan rumus molekul
C9H8O4. Nama IUPAC dari aspirin adalah asam 2-asetilbenzoat. Nama generik aspirin
adalah asetosal. Nama kimia dari aspirin adalah asam asetilsalisilat.

2
2. Klasifikasi Obat Antibiotic :
Tetrasiklin
Tetrasiklin merupakan basa yang sukar larut dalam air, tetapi bentuk garam
natrium atau garam HClnya mudah larut. Dalam keadaan kering, bentuk basa dan garam
HCl tetrasiklin bersifat relatif stabil. Dalam larutan, kebanyakan tetrasiklin sangat labil
sehingga cepat berkurang potensinya.
Tetrasiklin adalah zat anti mikroba yang diperolah denga cara deklorrinasi
klortetrasiklina, reduksi oksitetrasiklina, atau denga fermentasi. Tetrasiklin mempunyai
mempunyai potensi setara dengan tidak kurang dari 975 μg tetrasiklin
hidroklorida,(C22H24N2O8.HCl), per mg di hitung terhadap zat anhidrat.
Tetrasiklin adalah spektrum luas Poliketida antibiotik yang dihasilkan oleh
Streptomyces genus dari Actinobacteria , diindikasikan untuk digunakan melawan infeksi
bakteri banyak. Ini adalah inhibitor sintesis protein. Hal ini umumnya digunakan untuk
mengobati jerawat hari ini, dan yang lebih baru, rosacea , dan memainkan peran historis
dalam memerangi kolera di negara maju. Itu dijual dengan merek Sumycin, Terramycin,
Tetracyn, dan Panmycin, antara lain. Actisite adalah seperti bentuk-serat benang, digunakan
dalam aplikasi gigi. Hal ini juga digunakan untuk memproduksi turunan semi-sintetik
beberapa yang bersama-sama dikenal sebagai antibiotik tetrasiklin.
Tetrasiklin adalah salah satu antibiotik yang dapat menghambat sintesis protein
pada perkembangan organisme. Antibiotik ini diketahui dapat menghambat kalsifikasi
dalam pembentukan tulang. Tetrasiklin diketahui dapat menghambat sintesis protein pada
sel prokariot maupun sel eukariot. Mekanisme kerja penghambatannya, yaitu tetrasiklin
menghambat masuknya aminoasil-tRNA ke tempat aseptor A pada kompleks mRNA-
ribosom, sehingga menghalangi penggabungan asam amino ke rantai peptide.

2. Fungsi dari tetrasiklin dan aspirin


Fungsi aspirin :
 Obat anti rasa nyeri dan anti peradangan (dipakai untuk mengobati nyeri kepala atau nyeri
lain pada tubuh)
 Obat anti agregasi trombosit (dipakai pada pasien yang berisiko mempunyai penyakit
jantung dan pembuluh darah, dalam bahasa awamnya disebut sebagai obat "pengencer
darah")

3
Fungsi tetrasiklin
Pada dasarnya antibiotic tetrasiklin ini berfungsi untuk menekan pertumbuhan bakteri.
Kemampuan antibiotic tetrasiklin untuk mencegah dan menekan hidup bakteri agar tidak
berkembang didalam tubuh secara sporadic
 Indikasi:
Bruselosis, batuk rejan, pneumonia, demam yang disebabkan oleh Rickettsia, infeksi saluran kemih,
bronkitis kronik. Psittacosis dan Lymphogranuloma inguinale. Juga untuk pengobatan infeksi-
infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus dan Streptococcus pada penderita yang peka terhadap
penisilin, disentri amuba, frambosia, gonore dan tahap tertentu pada sifilis.
 Manfaat Tetrasiklin Untuk penyakit
Ini adalah beberapa contoh penyakit yang dapat di obati dengan golongan tetrasiklin :
1. Infeksi Klamidia
a) Limfogranuloma venereum.
Untuk penyakit ini golongan tetrasiklin merupakan obat pilihan utama. Pada
infeksi akut diberikan terapi selama 3-4 minggu dan untuk keadaan kronis
diberikan terapi 1-2 bulan. Empat hari setelah terapi diberikan bubo mulai
mengecil.
b) Psikatosis
Pemberian golongan tetrasiklin selama beberapa hari dapat mengatasi
gejala klinis. Dosis yang digunakan ialah 2 gram per hari selama 7-10hari atau 1
gram per hari selama 21 hari.
c) Trakoma
Pemberian salep mata golongan tetrasiklin yang dikombinasikan dengan
doksisiklin oral 2 x 100 mg/hari selama 14 hari memberikan hasil pengobatan yang
baik.
2. Infeksi Basil
a) Bruselosis
Pengobatan dengan golongan tetrasiklin memberikan hasil baik sekali untuk
penyakit ini. Hasil pengobatan yang memuaskan biasanya didapat dengan
pengobatan selama 3 minggu. Untuk kasus berat, seringkali perlu diberikan
bersama streptomisin 1gram sehari IM.
b) Tularemia

4
Obat pilihan utama untuk penyakit ini sebenarnya ialah streptomisin, tetapi
terapi dengan golongan tetrasiklin juga memberikan hasil yang baik.
c) Kolera
Doksisiklin dosis tunggal 300 mg merupakan antibiotik yang efektif untuk
penyakit ini. Pemberian dapat mengurangi volume diare dalam 48 jam.
Berikut ini contoh obat yang mengandung tetrasiklin antara lain :
1. Conmycin
 Komposisi : Tetracycline HCL
 Indikasi : Infeksi karena organisme yang peka terhadap tetrasiklin
 Dosis : 1 kaps 4 x/ hr. Brucellosis 500 mg 4 x/hr selama 3 minggu. Sifilis 30-40 g dalam
dosis terbagi selama 15 hr.
 Penggunaan obat : Berikan pada saat perut kosong 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah
makan dengan segelas air, dalam posisi tegak. Dapat diberikan bersama makanan untuk
mengurangi rasa tidak nyaman pada GI.
 Kontra Indikasi : Riwayat hipersensitivitas terhadap tetrasiklin. Hamil, anak <12 tahun.
 Efek samping : Anoreksia, mual, muntah, diare, gossitis, disfagia, enterokolitis, lesi
inflamasi, ruam makulopapular dan eritematosa, fotosensitif.

2. Corsamycin
 Komposisi : Oxytetracycline HCl
 Indikasi : Bronkitis akut dan kronis termasuk pencegahan eksaserbasi akut,
bronkopneumonia dan atipikal pneumonia disebabkan oleh mikoplasma pneumonia,
bronkiektasis terinfeksi, bronkiolitis, otitis media, angina vincenti, infeksi traktus urinatius,
uretritis non-GO, infeksi bakteri pada trakusGI dan biliaris, infeksi jaringan lunak, infeksi
pasca persalinan (endometritis), meningitis dan endokarditis, akne vulgaris, GO dan sifilis
yang tidak sesuai dengan penisilin. Granuloma inguinal dan khankroid, bruselosis, kolera,
amubasis, tifus dan Q-fever, psikatosis dan limfogranuloma venereum, trakoma.
 Dosis : Dewasa 250-500mg tiap 6 jam selama 5-10 hari (untuk kebanyakan infeksi). Infeksi
nafas seperti eksaserbasi akut bronkitis dan pneumonia karena mikoplasma 500 mg 4 x/hr.
Profilaksis infeksi saluran respiratorius 250 mg 2-3 x/hr. GO dan sifilis, bruselosis total
dosis 2-3 g/hr.
 Penggunaan Obat : Berikan pada saat perut kosong 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah
makan.

5
 Kontra Indikasi : Hipersensitif, gangguan ginjal. Hamil, anak < 7 tahun.
 Efek samping : Gangguan GI, gatal di anus dan vulva. Perubahan warna gigi dan hipoplasia
pada anak, hambatan pertumbuhan tulang sementara. Dosis tinggi: uremia.

3. Efek samping obat Tetrasiklin dan Aspirin


1. Efek Samping Tetrasiklin
 Sakit perut  Hilangnya nafsu makan
 Diare  Sakit perut
 Gatal pada anus atau vagina  Muntah
 Sakit pada mulut * Kemerahan  Sakit perut
pada kulit (sunburn)  Kelelahan atau kelemahan yang
 Perubahan warna pada kulit ekstrim
 Sakit kepala parah  Rasa bingung
 Penglihatan kabur  Rasa kaku atau pembengkakan
 Ruam kulit  Perdarahan atau memar
 Gatal-gatal  Penurunan buang air kecil
 Kesulitan bernapas atau menelan  Rasa sakit atau tidak nyaman di mulut
 Kulit atau mata menguning  Luka pada tenggorokan
 Gatal  Demam atau menggigil
 Urin berwarna gelap

2. Efek Samping Aspirin


Pada dosis biasa, efek samping utama aspirin adalah gangguan pada lambung. Aspirin
adalah suatu asam dengan harga pKa 3,5 sehingga pada pH lambung tidak terlarut sempurna
dan partikel aspirin dapat berkontak langsung dengan mukosa lambung. Akibatnya mudah
merusak sel mukosa lambung bahkan sampai timbul perdarahan pada lambung. Gejala yang
timbul akibat perusakan sel mukosa lambung oleh pemberian aspirin adalah nyeri epigastrum,
indigest rasa seperti terbakar, mual dan muntah. Oleh karena itu sangat dianjurkan aspirin
diberi bersama makanan dan cairan volume besar untuk mengurangi gangguan saluran cerna
(Katzung,et al.,2004)
 Nyeri ulu hati
 Sakit kepala
 Masalah pendengaran

6
 Demam
 Bengkak
Efek Utama
a) Efek anti-inflamasi
Aspirin menghambat perlekatan granulosit pada pembuluh darah yang
rusak, menstabilkan membran lisosom, dan menghambrat migrasi leukosit
polimorfonuklear dan makrofag ketempat peradangan, sehingga dapat mengurangi
rasa sakit di daerah peradangan. Sifat anti-inflamasi salisilat dosis tinggi
bertanggung jawab terhadap dianjurkannya obat ini sebagai terapi awal artritis
rematoid, demam rematik, dan peradangan sendi lainnya.
b) Efek Analgesik
Asprin sangat efektif dalam meredakan nyeri dengan intensitas ringan
sampai sedang, namun tidak efektif pada terapi nyeri visera seperti yang menyertai
abdomen akut, kolik ginjal, perikarditis, atau infark miokard. Aspirin
menghilangkan nyeri dari berbagai penyebab seperti yang berasal dari otot,
pembuluh darah, gigi, keadaan pasca persalinan, artritis dan bursitis.
c) Efek anti-piretik
Aspirin menurunkan demam, tetapi hanya sedikit mempengaruhi suhu
badan yang normal. Penurunan suhu badan berhubungan dengan peningkatan
pengeluaran panas karena pelebaran pembuluh darah superfisial. Antipiesis
mungkin disertai dengan pembentukan banyak keringat. Demam yang menyertai
infeksi dianggap akibat dari dua kerja. Pertama pembentukan prostaglandin di
dalam susunan saraf pusat sebagai respon terhadap bakteri pirogen. Kedua efek
interleukin-1 pada hipotalamus. Interleukin-1 dihasilkan oleh makrofag dan
dilepaskan selama respon peradangan. Aspirin menghambat baik pirogen yang
diinduksi oleh pembentukan prostaglandin maupun respon susunan saraf pusat
terhadap interleukin-1 dan sehingga dapat mengatur kembali “pengontrol suhu”
dihipotalamus, sehingga memudahkan pelepasan panas dengan jalan vasodilatasi.
d) Efek terhadap trombosit
Aspirin mempengaruhi hemostatis. Aspirin dosis tunggal sedikit
memanjangakan waktu perdarahan hal ini digambarkan dengan penghambatan
agregasi trombosit sekunder akibat penghambatan sintesis tromboksan. Karena
kerja ini bersifat ireversibel aspirin menghambat agregasi trombosit sampai selama

7
8 hari sampai terbentuk trombosit baru. Aspirin mempunyai masa kerja yang lebih
panjang dibandingkan senyawa lain penghambat agregasi trombosit seperti
tiklopidin, fenilbutazon, dan dipiridamol.

4. Indikasi dan kontraindikasi dari Tetrasiklin dan Aspirin


 Tetrasiklin
Indikasi : Tetrasiklin merupakan kelompok antibiotik spektrum luas sebagai obat pilihan
untuk infeksi yang disebabkan oleh klamidia (trakoma, psitakosis, salpingitis, uretritis dan
limfogranuloma venerum-LGV, riketsia, brucella, dan spirokaeta. Golongan tetrasiklin juga
digunakan untuk infeksi saluran napas dan genital oleh micoplasma, pada akne (jerawat),
penyakit jaringan penyangga gigi yang destruktif (periodontal), bronkitis kronik yang kambuh
kembali dan leptospirosis (sebagai alternatif eritromisin bagi penderita yang hipersensitif
dengan penisilin
Kontra indikasi : Tetrasiklin dapat menyebabkan pewarnaan pada gigi karena deposisi pada
tulang dan gigi yang sedang tumbuh. Untuk itu tetrasiklin sebaiknya tidak diberikan pada :
 Anak di bawah 12 tahun
 Ibu hamil
 Ibu menyusui
Tetrasiklin dapat memicu gagal ginjal untuk itu sebaiknya tidak diberikan kepada pasien
dengan penyakit ginjal (kecuali doksisiklin dan minosiklin).
 Aspirin
Indikasi : Meringankan rasa sakit, nyeri otot dan sendi, demam, nyeri karena haid, migren,
sakit kepala dan sakit gigi tingkat ringan hingga agak berat.
Kontra indikasi : Tukak lambung dan peka terhadap derivet asam salisilat, penderita asma dan
alergi, penderita yang pernah atau sering mengalami pendarahan di bawah kulit, penderita
hemofilia;, anak-anak di bawah umur 16 tahun.

5. Dosis yang tepat untuk Tetrasiklin dan Aspirin


 TETRASIKLIN
Dosis : DEWASA: 250 – 500 mg – tiap 6 jam
Sediaan : Kapsul 250 mg, 500 mg
Lama pemakaian : Kecuali apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pengobatan dengan
Tetracycline kapsul hendaknya paling sedikit berlangsung selama 3 hari, agar kuman-

8
kuman penyebab penyakit dapat terberantas seluruhnya dan untuk mencegah terjadinya
resistansi bakteri terhadap tetrasiklin.
 Dewasa & anak-anak dengan berat badan lebih dari 40 kg: 2-4 kali sehari 250-500 mg.
 Anak berusia 6-15 tahun: 2-3 kali sehari 250 mg.
 Anak berusia 1-5 tahun: 2-3 kali sehari 125 mg.

 ASETOSAL / ASPIRIN
Dosis :
DEWASA : - Dosis lazim th/ = 300 – 900 mg
- Dosis max = 4 gram / hari
ANAK : 50-75 mg/kg/hari dalam dosis terbagi
Kontraindikasi : REYE SYNDROME
Pemakaian : 4 x / hari (tiap 4-6 jam /hari )
Sediaan : Tab 100 mg, 500 mg

6. Farmakokinetik dan farmakodinamik obat Tetrasiklin dan Aspirin


TETRASIKLIN

 FARMAKOKINETIK
 Absorbsi
Kira-kira 30-80% tetrasklin diserap lewat saluran cerna. Doksisiklin dan minosiklin
diserap lebih dari 90%. Absorpsi ini sebagian besar berlangsung di lambung dan usus
halus bagian atas. Berbagai faktor dapat menghambat penyerapan tetrasiklin seperti
adanya makanan dalam lambung (kecuali doksisiklin dan monosiklin), pH tinggi,
pembentukan kelat (kompleks tetrasiklin dengan zat lain yang sukar diserap seperti
kation Ca2+, Mg2+, Fe2+, Al3+, yang terdapat dalam susu dan antasid). Oleh sebab itu
sebaiknya tetrasiklin diberikan sebelum atau 2 jam setelah makan.
Tetrasiklin fosfat kompleks tidak terbukti lebih baik absorbsinya dari sediaan
tetrasiklin biasa.
 Distribusi
Dalam plasma serum jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam jumlah yang
bervariasi. Pemberian oral 250 mg tetrasiklin, klortetrasiklin dan oksitetrasiklin tiap 6
jam menghasilkan kadar sekitar 2,0-2,5 μg/ml.

9
Masa paruh doksisiklin tidak berubah pada insufisiensi ginjal sehingga obat ini boleh
diberikan pada gagal ginjal. Dalam cairan serebrospinal (CSS) kadar golongan
tetrasiklin hanya 10-20% kadar dalam serum. Penetrasi ke CSS ini tidak tergantung dari
adanya meningitis. Penetrasi ke cairan tubuh lain dalam jaringan tubuh cukup baik.
Obat golongan ini ditimbun dalam sistem retikuloendotelial di hati, limpa dan sumsum
tulang, serta di dentin dan email gigi yang belum bererupsi. Golongan tetrasiklin
menembus sawar uri, dan terdapat dalam air susu ibu dalam kadar yang relatif tinggi.
Dibandingkan dengan tetrasiklin lainnya, daya penetrasi doksisiklin dan minosiklin ke
jaringan lebih baik.
 Metabolisme
Obat golongan ini tidak dimetabolisme secara berarti di hati. Doksisiklin dan minosiklin
mengalami metabolisme di hati yang cukup berarti sehingga aman diberikan pada
pasien gagal ginjal.
 Ekskresi
Golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin berdasarkan filtrasi glomerulus. Pada
pemberian per oral kira-kira 20-55% golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin.
Golongan tetrasiklin yang diekskresi oleh hati ke dalam empedu mencapai kadar 10 kali
kadar serum. Sebagian besar obat yang diekskresi ke dalam lumen usus ini mengalami
sirkulasi enterohepatik; maka obat ini masih terdapat dalam darah untuk waktu lama
setelah terapi dihentikan. Bila terjadi obstruksi pada saluran empedu atau gangguan
faal hati obat ini akan mengalami kumulasi dalam darah. Obat yang tidak diserap
diekskresi melalui tinja.

Antibiotik golongan tetrasiklin yang diberi per oral dibagi menjadi 3 golongan berdasarkan
sifat farmakokinetiknya, yaitu :
1. Tetrasiklin, klortetrasiklin dan oksitetrasiklin. Absorpsi kelompok tetrasiklin ini tidak
lengkap dengan masa paruh 6-12 jam.
2. Demetilklortetrasiklin. Absorpsinya lebih baik dari masa paruhnya kira-kira 16 jam
sehingga cukup diberikan 150mg per oral tiap 6 jam.
3. Doksisiklin dan minosiklin. Absorpsinya baik sekali dan masa paruhnya 17-20 jam.
Tetrasiklin golongan ini cukup diberikan 1 atau 2 kali 100 mg sehari

10
 FARMAKODINAMIK
Golongan tetrasiklin menghambat sintesisprotein bakteri pada ribosomnya.
Paling sedikit terjadi dua proses dalam masuknya anti biotik ke dalam ribosom bakteri
gram negative, pertama secara difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua melalui sistem
transport aktif. Setelah masuk anti biotik berikatan secara revarsible dengan ribosom
30S dan mencegah ikatan tRNA – amino asil pada kompleks mRNA – ribosom. Hal
tersebut mencegah perpanjangan rantai peptida yang sedang tumbuh dan berakibat
terhentinya sintesis protein

7. Interaksi obat Tetrasiklin dan Aspirin jika digabung dengan obat lain, dan
interaksi obat tersebut jika digabung dengan makanan
Aspirin jika berinteraksi dengan: steroid, anticoagulants (obat anti pembekuan
darah), obat antirheuma, dan obat anti gout. Pemberian aspirin bersama dengan salah satu
obat tersebut akan meningkatkan risiko perdarahan.
Selain itu, pemberian aspirin pada anak dengan infeksi virus potensial menimbulkan
sindrom Reye, suatu kondisi yang potensial mengancam jiwa yang pada intinya melibatkan
kelainan berat pada otak dan hati.
Bila tetrasiklin diberikan dengan metoksifluoran maka dapat menyebabkan
nefrotoksisk. Bila dikombinasikan dengan penisilin maka aktivitas antimikrobanya
dihambat antibiotika tetrasiklin. Tetrasiklin dapat berikatan dengan senyawa kalsium
membentuk senyawa yang tidak dapat diserap oleh tubuh, sehingga mengurangi efek
tetrasiklin. Jadi jika tetrasiklin diminum bersama susu, atau suplemen vitamin-mineral yang
mengandung kalsium, efek tetrasiklin bisa jadi berkurang.
Tetracycline merupakan golongan antibiotik. Untuk pengkonsumsian tetrasiklin
tidak dapat diminum bersamaan dengan golongan yang serupa seperti khloramfenikol Dan
linkomisin. Tetrasiklin bisa diminum bersamaan dengan analgesik contoh nya asam
mefenamat. Jika ingin menggabungkan tetrasiklin maka harus dengan antibiotik golongan
lain. Pengobatan dengan tetrasiklin jangan dikombinasikan dengan penisilin atau
sefalosporin. Selain itu karbamazepin Dan fenitoin dapat menurunkan efektifitas tetrasiklin
secara oral.
Selain itu tetrasiklin tidak boleh diminum dengan susu karena tetrasiklin
membentuk kompleks khelat dengan ion-ion kalsium,magnesium,besi,Dan aluminium.

11
Maka sebaiknya tidak diberikan bersamaan dengan tonikum-tonikum yang mengandung
banyak kalsium,sehingga sebaiknya tidak diminum dengan susu.
ASPIRIN
 FARMAKOKINETIK
1. Diserap dan dihidrolisis menjadi asam asetat dan salisilat oleh esterase jaringan dalam
darah.
2. Mulai bekerja: menit 20 - 2 jam.
3. Tingkat puncak dalam plasma: tingkat plasma salisilat tidak berbanding lurus dengan
besarnya dosis.
4. Waktu paruh: asetil 15-20 menit asam salisilat, asam salisilat 2-20 jam tergantung pada
dosis yang diberikan.
5. Bioavailabilitas: tergantung pada dosis, waktu pengosongan lambung, pH lambung,
antasida dan ukuran partikel obat.
6. Metabolisme: sebagian dihidrolisis menjadi asam salisilat untuk penyerapan, dan
didistribusikan ke seluruh jaringan dan cairan tubuh yang memiliki tingkat tertinggi
dalam plasma, hati, ginjal korteks, jantung dan paru-paru.
7. Ekskresi: dieliminasi oleh ginjal dalam bentuk asam salisilat dan metabolit terkonjugasi
dan oksidasi.

 FARMAKODINAMIK
Efektivitas mekanisme kerja aspirin terutama karena kemampuannya untuk
menghambat biosintesis prostaglandin. bekerja dengan menghambat enzim COX2
ireversibel. Adanya makanan dalam lambung memperlambat absorbsinya; pemberian
bersama antasida dapat mengurangi iritasi lambung tetapi meningkatkan kelarutan dan
absorbsinya.

8. Mekanisme hemostasis pendarahan dalam skenario


Efektivitas aspirin terutama disebabkan oleh kemampuannya menghambat
biosintesis prostaglandin. Kerjanya menghambat enzim siklooksigenase secara ireversibel
(prostaglandin Sintetase), yang mengkatalisis perubahan asam arakidonat menjadi
senyawa endoperoksida pada dosis yang tepat, obat ini akan menurunkan pembentukan
prostaglandin maupun tromboksan A2 sehinggapasien terus mengalami pendarahan
 HEMOSTASIS .

12
Hemostasis berasal dari kata haima (darah) dan stasis (berhenti), merupakan
proses yang amat kompleks, berlangsung secara terus menerus dalam mencegah
kehilangan darah secara spontan, serta menghentikan pendarahan akibat kerusakan
pembuluh darah. Mekanisme hemostasis yang seimbang terjadi karena interaksi dari 4
faktor yaitu :
1. Faktor Vaskular .
2. Faktor Trombosit.
3. Faktor Koagulasi.
4. Faktor Fibrinolysis.

Adapun fungsi dari proses hemostasis ini adalah :


1. Mencegah keluarnya darah dari pembuluh darah yang utuh. Hal ini tergantung dari :
a. Intergritas Pembuluh darah.
b. Fungsi trombosit yang normal.
2. Menghentikan perdarahan dari pembuluh darah yang terluka. Proses yang terjadi
setelah adanya suatu luka adalah :
a. Vasokonstriksi pembuluh darah.
b. Pembentukan sumbat trombosit.
c. Proses pembekuan darah.
 Bila terjadi suatu luka pada pembuluh darah, maka pembuluh darah tersebut akan
mengalami vasokonstriksi, sehingga aliran darah terhambat, dan darah yang
dikeluarkan juga sedikit, serta terjadi kontak antara trombosit dengan dinding
pembuluh darah yang cukup lama.
 Kontak trombosit dengan pembuluh darah tersebut akan mengakibatkan adesi
trombosit dengan jaringan kolagen. Proses ini memerlukan adanya glikoprotein 1b dari
trombosit, dan faktor Von Willebrand dari pembuluh darah.
 Trombosit yang mengalami adesi akan melepaskan ADP (Adenosine DiPhosphat) dan
tromboxan A2 yang akan menyebabkan terjadinya agegrasi trombosit, sehingga
terbentuklah suatu sumbat trombosit yang tidak stabil.
 Trombosit yang mengalami agegresi terebut akan mengeluarkan Platelet Faktor 3
(PF3), yang akan merangsang terjadinya proses pembekuan darah. Proses pembekuan
darah ini akan menghasilkan benang benang fibrin.

13
 Benang benang fibrin yang terjadi akan mengikat sumbat trombosit yang tidak stabil itu
sehingga menjadi sumbat trombosit yang stabil.

 PROSES PEMBEKUAN DARAH :


Ada di aliran darah, dan proses ini terbagi menjadi 2 jalur yaitu:
1. Jalur Intrinsik : Pada jalur ini semua bahan yang diperlukan untuk proses pembekuan
darah terdapat dalam aliran darah. Bahan-bahan tersebut biasanya beredar dalam
bentuk precursor yang inaktif (tidak aktif), dan beberapa diantaranya merupakan
proensim dan kofaktor.
2. Jalur Extrinsik : Pada jalur ini diperlukan bahan yang berasal dari jaringan pembuluh
darah yang terluka/ rusak (tissue factor/tissue tromboplastin).
Gabungan faktor intinsik dan ektrinsik tersebut akan mengakibatkan perubahan faktor X
menjadi faktor X aktif, dan selanjutnya bersama-sama membentuk benang-benang fibrin.

 FAKTOR – FAKTOR PEMBENTUKAN DARAH :


Faktor I : Fibrinogen
Faktor II : Protrombin
Faktor III : Tissue Tromboplastin
Faktor IV : Calcium
Faktor V : Proaccelerin = Labile Faktor
Faktor VII : Proconvertin = Stabile Faktor
Faktor VIII : Anti Hemophilic Faktor (Hemophili A)
Faktor IX : Christmas Faktor (Hemophili B)
Faktor X : Stuart Faktor
Faktor XI : Plasma Thomboplastin Antecedent (PTA)
Faktor XII : Contac Faktor = Hageman Faktor
Faktor XIII : Fibrin Stabilizing Faktor
Faktor VI : ternyata merupakan bentuk inaktif dari faktor V, sehingga dikeluarkan dari
deretan faktor pembekuan darah.
 Proses koagulasi darah dimulai dengan jalur intrinsik, dimana terjadi aktivasi F.XII
karena adanya pesentuhan darah dengan permukaan yang asing. F XII aktif selanjutnya
akan mengaktivasi F.XI menjadi F.Xla, selanjutnya mengaktivasi F.IX menjadi F.IXa .
F.IXa ini bersama sama F.VIII, PF3, dan ion Ca akan mengativasi F.X.

14
 Pada jalur ektrinsik, dimulai dari aktivasi F.VII, yang bersama tromboplastin jaringan
dan ion Ca akan masuk jalur umum dan akan mengaktivasi F.X, seperti halnya dengan
jalur intrinsic. F.X yang diaktivasi oleh jalur Intrinsik & ektrinsik dan dibantu oleh
F,V,PF3, dan ion Ca, akan merubah protrombin menjadi thrombin. Selanjutnya thrombin
yang terbentuk akan merubah fibrinogen (F.1.) menjadi benang-benang fibrin yang
akan di pakai untuk menstabilkan sumbat trombosit yang telah terbentuk.

9. Obat yang dapat menggantikan Aspirin


1) Paracetamol 500 mg
Menghilangkan rasa sakit & penurun panas
2) Asam mefenamat 500 mg
Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik. Asam mefenamat sangat kuat terikat
pada protein plasma
3) Ibu profen
Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan banyak negara.
Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat
4) Tramadol
Tramadol adalah senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.
Tramadol digunakan untuk sakit nyeri menengah hingga parah. Sediaan tramadol
pelepasan lambat digunakan untuk menangani nyeri menengah hingga parah yang
memerlukan waktu yang lama. Minumlah tramadol sesuai dosis yang diberikan,
jangan minum dengan dosis lebih besar atau lebih lama dari yang diresepkan dokter.
Jangan minum tramadol lebih dari 300 mg sehari.

10. Dalam penggunaanya Tetrasiklin tidak boleh diminum bersama dengan susu
Karena, susu yang mengandung kalsium (Ca), magnesium (Mg), besi (Fe), dan
aluminium (Al) bila dikonsumsi bersamaan dengan tetrasiklin akan membentuk khelat
inaktif (tetrasiklin + logam) yaitu kompleks yang tidak larut. Susu juga mengandung protein
dan lemak sehingga tetrasiklin tidak boleh diminum bersamaan dengan susu karena dapat
menurunkan absorpsi dari tetrasiklin oleh lambung. Sehingga dapat menimbulkan
kegagalan terapi pengobatan.

15
KESIMPULAN

Analgesik

Antibiotik

Antibiotic Obat
(Tetrasiklin)

Interaksi Obat Definisi Tetrasiklin

Farmakokinetik dan
Fungsi Tetrasiklin
Farmakodinamik obat

Dosis Efek samping obat

Indikasi dan
kontraindikasi
Analgesik
(Aspirin)

Mekanisme Definisi
Hemostasis

Fungsi
Interaksi Obat Aspirin

Farmakokinetik dan Efek samping obat


Farmakodinamik obat

Dosis Indikasi dan


kontraindikasi

16
DAFTAR PUSTAKA

Priyanto. 2008. “Farmakologi Dasar Untuk Mahasiswa Farmasi dan Keperawatan”. Ed.ke-2. Leskonfi.
Jakarta. Hlm. 114-118

Tim Dosen Kimia., 2004, “Kimia Dasar II”, TPB, Universitas Hasanuddin, Makassar.

17