Anda di halaman 1dari 7

Fisiologi Head-Up / Posisi Reverse Trendelenburg

Perubahan pada mekanisme sistem respirasi relatif kecil pada subjek sehat yang sadar disebabkan
adanya kemampuan adaptasi terhadap perubahan mekanik dinding dada secara total. Perubahan posisi
dari supine ke head-up 30o menghasilkan penurunan yang tidak bermakna pada dinding dada dan
elastisitas paru dan memperbaiki komplians tetapi menyebabkan peningkatan FRC hingga mendekati
20%. Pada orang dewasa sehat yang dianestesi, head-up menyebabkan pengurangan CO yang
signifikan dan MAP hingga 40% dibandingkan dengan posisi supine. Denyut jantung dan resistensi
vaskuler perifer mengalami sedikit peningkatan karena tekanan pengisian berkurang secara signifikan.
Echocardiografi menunjukkan preload yang diukur dengan end-diastolic ventrikel kiri, juga
menurun, mengalami perubahan yang sama seperti yang ditunjukkan oleh tekanan pengisian. Secara
respektif, hal ini berhubungan dengan penurunan volume darah intratorakal dan pulmonal, sekitar 14
dan 17%. Penurunan ini mungkin disebabkan adanya perpindahan volume darah melalui
kompartemen ekstratorakal, terutama ekstremitas bawah yang dependent.

Terjadinya pneumoperitoneum selama operasi laparoskopi pada viscera abdominal atas, dilaporkan
terjadi pengurangan CO sebanyak 13% pada pasien yang dianestesi dengan paralisis dengan posisi
reverse Trendelenburg 20o. Efek CO2 pneumoperitoneum menyebabkan pengurangan cardiac
index (CI) sebesar 3%, stroke volume 10%, dan peningkatan baik pada denyut jantung dan MAP
sebesar 7% dan 16%. Head-up 20o dapat menurunkan cardiac outputsebesar 11%, dan stroke
volume 22%, dimana denyut jantung meningkat hingga 14% dan MAP 19%. Mekanisme yang
dihasilkan oleh perubahan hemodinamik ini bersifat kompleks dan termasuk efek-efek mekanikal
secara langsung, respon-respon neurohumoral dan CO2 yang diabsorbsi.

Efek terhadap sistem respirasi didokumentasikan dengan baik. Total komplians paru dapat berkurang
hingga 48% disebabkan adanya pergeseran dari diafragma ke arah cephal akibat insuflasi gas.
Insuflasi gas ini tidak meningkatkan distribusi ventilasi dan perfusi intrapulmoner secara
signifikan.18 Walaupun posisi reverse Trendelenburg meningkatkan FRC, komplians paru, namun
oksigenasi tidak terlalu meningkat.19 Hal ini kemungkinan disebabkan oleh penurunan cardiac output,
yang terjadi pada head-up, dengan mengesampingkan efek positif dari posisi ini pada distribusi
ventilasi. Terdapat beberapa data mengenai efek posisi reverse Trendelenburg pada pediatrik. Dari
suatu laporan terbaru, 25 anak yang berusia 1-14 tahun yang menjalani laparoskopi fundoplikasi
menunjukkan bahwa pada tiga pasien terjadi hipotensi atau bradikardi yang terjadi selama insuflasi
peritoneal. Hipotensi yang sementara mungkin berhubungan dengan hipovolemi. Suatu episode
intubasi bronchial terjadi akibat perubahan posisi dan terjadinya pneumoperitoneum.

Komplikasi Posisi Kepala yang Dielevasikan


Komplikasi yang berhubungan dengan posisi prone dengan kepala yang dielevasi atau
posisisupine dengan kepala yang dielevasi hampir sama dengan posisi prone dan supine tradisional.
Disamping komplikasi yang mungkin muncul sebagai hasil dari perubahan fisiologis akibat reposisi,
pada posisi prone dengan kepala yang dielevasi ditakutkan terjadinya komplikasi opthalmika berupa
kompresi pada mata.

Penempatan penyanggah yang tepat pada bagian bawah bokong harus digunakan untuk mencegah
pasien meluncur jatuh dari meja yang diekstensikan. Penyanggah seharusnya diposisikan antara caput
femoralis dan krista iliaka untuk menghindari kompresi pada persilangan pembuluh darah dari
persendian panggul dan dapat menyebabkan nekrosis iskemik caput femoralis.
Jika kepala dielevasi di atas posisi jantung dapat timbul resiko terjadinya emboli udara, walaupun
secara signifikan kurang bila dibandingkan dengan posisi duduk klasik. Monitoring yang baik
seharusnya dilakukan.

perlu diperhatikan tentang jenis anastesi yang diberikan, karena hal ini penting untuk pemberian
posisi kepada pasien post operasi. Pada pasien dengan anastesi spinal maka posisi kepala harus agak
ditinggikan untuk mencegah depresi otot-otot pernafasan oleh obat-obatan anastesi

1) Anastesi Spinal
Anestesi spinal merupakan tipe blok konduksi saraf yang luas dengan
memasukkan anestesi local dalam rung subarachnoid di tingkat lumbal (biasanya L4
dan L5). Cara ini menghasilkan anesthesia pada ekstermitas bawah, perenium dan
abdomen bawah. Untuk prosedur fungsi lumbal, pasien dibaringkan miring dalam
posisi lutut-dada. Teknik steril diterapkan saat melakukan fungsi lumbal dan medikasi
disuntikkan melalui jarum. Segera setelah penyuntikan, pasien dibaringkan
terlentang. Jika diinginkan tingkat blok yang secara relative tinggi, maka kepala dan
bahu pasien diletakkan lebih rendah.
Penyebab agens anastetik dan tingkat anesthesia bergantung pada jumlah
cairan yang disuntikkan, posisi pasie setelah penyuntikan, dan berat jenis agens. Jika
berat jenis agens lebih berat dari berat jenis cairan serebrospinal (CSS), agens akan
bergerak keposisi dependen spasium subarachnoid, jika berat jenis agens anastetik
lebih kecil dadri CSS, maka anasteti akan bergerak menjauh bagian dependen.
Perbatasan ini dikendalikan oleh ahli anestesi. Secara umum, agens yang digunakan
adalah prokain, tetrakain (Pontocaine), dan lidokain (Xylokain).
Dalam beberapa menit, anestesia dan paralisis mempengaruhi jari-jari kaki
dan perineum dan kemudian secara bertahap mempengaruhi tungkai dan abdomen.
Jika anestetik mencapai toraks bagian atas dan medulla spinalis dalam konsentrasi
yang tinggi, dapat terjadi paralisis respiratori temporer, parsial atau komplit. Paralisis
oto-otot pernapasan diatasi dengan mempertahankan respirasi artificial sampai efek
anestetik pada saraf respiratori menghilang. Mual, muntah dan nyeri dapat terjadi
selama pembedahan ketika digunakan anestesia spinal. Sebagai aturan, reaksi ini
terjadi akibat traksi pada berbagai struktur, terutama pada struktur di dalam rongga
abdomen. Reaksi tersebut dapat dihindari dengan pemberian intarvena secara
simultan larutan teopental lemah dan inhalasi oksida nitrat.
Indikasi
Anestesi spinal dapat diberikan pada tindakan yang melibatkan tungkai
bawah, panggul, dan perineum. Anestesi ini juga digunakan pada keadaan khusus
seperti bedah endoskopi, urologi, bedah rectum, perbaikan fraktur tulang panggul,
bedah obstetric, dan bedah anak. Anestesi spinal pada bayi dan anak kecil dilakukan
setelah bayi ditidurkan dengan anestesi umum.
Kontraindikasi
Kontraindikasi mutlak meliputi infeksi kulit pada tempat dilakukan pungsi
lumbal, bakteremia, hipovolemia berat (syok), koagulopati, dan peningkatan tekanan
intracranial. Kontraindikasi relatf meliputi neuropati,prior spine surgery, nyeri
punggung, penggunaan obat-obatan preoperasi golongan AINS, heparin subkutan
dosis rendah, dan pasien yang tidak stabil, serta a resistant surgeon.
Persiapan Pasien
Pasien sebelumnya diberi informasi tentang tindakan ini (informed concernt)
meliputi pentingnya tindakan ini dan komplikasi yang mungkin terjadi.
Pemeriksaan fisik dilakukan meliputi daerah kulit tempat penyuntikan untuk
menyingkirkan adanya kontraindikasi seperti infeksi. Perhatikan juga adanya
scoliosis atau kifosis. Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan adalah
penilaian hematokrit. Masa protrombin (PT) dan masa tromboplastin parsial (PTT)
dilakukan bila diduga terdapat gangguan pembekuan darah.

Perlengkapan
Tindakan anestesi spinal harus diberikan dengan persiapan perlengkapan
operasi yang lengkap untuk monitor pasien, pemberian anestesi umum, dan tindakan
resusitasi.
Jarum spinal dan obat anestetik spinal disiapkan. Jarum spinal memiliki
permukaan yang rata dengan stilet di dalam lumennya dan ukuran 16G sampai
dengan 30G. obat anestetik lokal yang digunakan adalah prokain, tetrakain, lidokain,
atau bupivakain. Berat jenis obat anestetik lokal mempengaruhi aliran obat dan
perluasan daerah teranestesi. Pada anestesi spinal jika berat jenis obat lebih besar dari
berat jenis CSS (hiperbarik), maka akan terjadi perpindahan obat ke dasar akibat
gravitasi. Jika lebih kecil (hipobarik), obat akan berpindah dari area penyuntikan ke
atas. Bila sama (isobarik), obat akan berada di tingkat yang sama di tempat
penyuntikan. Pada suhu 37oC cairan serebrospinal memiliki berat jenis 1,003-1,008.
Perlengkapan lain berupa kain kasa steril, povidon iodine, alcohol, dan duk
steril juga harus disiapkan. Jarum spinal. Dikenal 2 macam jarum spinal, yaitu jenis
yang ujungnya runcing seperti ujung bamboo runcing (Quincke-Babcock atau
Greene) dan jenis yang ujungnya seperti ujung pensil (whitacre). Ujung pensil banyak
digunakan karena jarang menyebabkan nyeri kepala pasca penyuntikan spinal.
Teknik Anestesi Spinal
Berikut langkah-langkah dalam melakukan anestesi spinal, antara lain:

1. Posisi pasien duduk atau dekubitus lateral. Posisi duduk merupakan posisi
termudah untuk tindakan punksi lumbal. Pasien duduk di tepi meja operasi
dengan kaki pada kursi, bersandar ke depan dengan tangan menyilang di depan.
Pada posisi dekubitus lateral pasien tidur berbaring dengan salah satu sisi tubuh
berada di meja operasi.

2. Posisi permukaan jarum spinal ditentukan kembali, yaitu di daerah antara


vertebrata lumbalis (interlumbal).

3. Lakukan tindakan asepsis dan antisepsis kulit daerah punggung pasien.

4. Lakukan penyuntikan jarum spinal di tempat penusukan pada bidang medial


dengan sudut 10o-30o terhadap bidang horizontal ke arah cranial. Jarum lumbal
akan menembus ligamentum supraspinosum, ligamentum interspinosum,
ligamentum flavum, lapisan duramater, dan lapisan subaraknoid.

5. Cabut stilet lalu cairan serebrospinal akan menetes keluar.


6. Suntikkan obat anestetik local yang telah disiapkan ke dalam ruang
subaraknoid. Kadang-kadang untuk memperlama kerja obat ditambahkan
vasokonstriktor seperti adrenalin.

Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah hipotensi, nyeri saat penyuntikan,
nyeri punggung, sakit kepala, retensio urine, meningitis, cedera pembuluh darah dan
saraf, serta anestesi spinal total.
Pengkajian keperawatan yang dilakukan setelah anestesia spinal, selain
memantau tekanan darah, perawat perlu mengobservasi pesien dengan cermat dan
mencatat waktu saat perjalanan sensasi kaki dan jari kembali. Jika sensasi pada jari
kaki telah kembali sepenuhnya, pasien dapat dipertimbangkan telah pulih dari efek
anestetik spinal.
2) Blok Epidural
Anestesia epidural dicapai dengan menyuntikkan anestetik local ke dalam
kanalis spinalis dalam spasium sekeliling durameter. Anestesia epidural memblok
fungsi sensori, motor dan otonomik yang mirip, tetapi tempat injeksinya yang
membedakannya dari anestesi spinal. Dosis epidural lebih besar disbanding dosis
yang diberikan selama anestesi spinal karena anestesi epidural tidak membuat kontak
langsung dengan medulla atau radiks saraf. Keuntungan dari anestesi epidural adalah
tidak adanya sakit kepala yang kadang disebabkan oleh penyuntikan subarachnoid.
Kerugiannya adalah memiliki tantangan teknik yang lebih besar dalam memasukkan
anestetik ke dalam epidural dan bukan ke dalam spasium subarachnoid. Jika terjadi
penyuntikan subarachnoid secarA tidak sengaja selama anestesi epidural dan
anestetik menjalar ke arah kepala, akan terjadi anestesia spinal “tinggi”. Anestesia
spinal tinggi dapat menyebabkan hipotensi berat dan depresi atau henti napas.
Pengobatan untuk komplikasi ini adalah dukungan jalan napas, cairan intravena, dan
penggunaan vasopresor.
3) Blok Pleksus Brakialis
Blok pleksus brakialis menyebabkan anestesia pada lengan.
4) Anestesia Paravertebral
Anestesia paravertebral menyebabkan anestesia pada saraf yang mempersarafi dada,
dindind abdomen dan ekstremitas.
5) Blok Transakral (Kaudal)
Blok transakral menyebabkan anestesia pada perineum dan kadang abdomen bawah.

kepala serta dada ditinggikan untuyk mengurangi aliran balik vena.


Hipotensi selama anesthesi umumnya terjadi oleh berbagai faktor, hipotensi sebagai akibat anesthesi
dipotensiasi oleh adanya blok pada saluran kalsium, beta bloker dan berbagai obat anesthesi.
Penyebab-penyebab hipotensi selama anesthesi dapat dikarenakan :
a. Cairan preoperative tidak adekuat, perdarahan, hilangnya cairan pada sistim gastroinstestinal,
pulmonal emboli, pneumothorak, hipovolumi, obstruksi, meningkatnya tekanan dalam rongga thorak,
posisi head up.
b. Terbanyak oleh obat-obat anesthesi dan obat anti hipertensi, hal ini dapat menyebabkan
menurunnya kontraktilitas miokardium.
c. Penggunaan obat premedikasi seperti morphin, pethidin, fenthanyl, hal ini dapat menyebabakan
vasodilatasi pembuluh darah, dan depresi pada miokardium (Aitkenhead & Smit, 2001).

3. Faktor – Faktor Mempengaruhi Terjadinya Hipotensi Pasien Spinal Anesthesi


a. Status Hidrasi Pasien
Pada pasien yang tidak diberikan cairan yang cukup sebelum dimulai penyuntikan larutan anesthesi
lokal dapat menyebabkan hipotensi yang lebih berat. Pada pasien yang akan dilakukan spinal
anesthesi sebaiknya diberikan cairan pada beban 20 ml/kg BB dalam waktu 30 menit sebelum
dlakukan penyuntikan larutan anesthesi lokal.
b. Status Fisik
Status fisik pasien sangat mempengaruhi terjadinya hipotensi maupun komplikasi lainnya. Menurut
Muhaimin (2008) berdasarkan status fisik pasien pra anesthesi, ASA (American Society of
Anesthesiologist) membuat klasifikasi yang membagi pasien kedalam 5 kelompok atau kategori
sebagai berikut:
ASA 1:
ASA 2 :
ASA 3 :
ASA 4 :
ASA 5 : Pasien dalam keadaan sehat yang memerlukan operasi.
Pasien dengan kelainan sistemik ringan sampai dengan sedang baik karena penyakit bedah maupun
penyakit lainnya. Contohnya: Pasien batu ureter dengan hipertensi sedang terkontrol atau pasien
apendicitis akut denagn lekositosis dan febris.
Pasien dengan gangguan atau penyakit sistemik berat yang diakibatkan karena berbagai penyebab.
Contohnya: Pasien appendicitis perporasi dengan septic semia, atau pasien ileus obstruksi dengan
iskemia miokardium.
Pasien dengan kelainan sistemik berat yang secara langsung mengancam kehidupannya. Contohnya:
Pasien dengan syok atau dekompensasi cordis.
Pasien tak diharapkan hidup setelah 24 jam walaupun dioperasi atau tidak. Contohnya : Pasien tua
dengan perdarahan basis cranii dan syok hemorargik karena ruptur hepatic.

c. Ketinggian Level Blokade


Persyarafan yang mengatur denyut jantung berasal dari thorakal ke-1 sampai thorakal ke-4. Akibat
adanya blokade impuls saraf simpatis pada kardiovaskuler akan mengakibatkan perubahan
hemodinamik sesuai derajat blok simpatis. Blokade pada sistem darah vena dapat menyebabkan
penurunan tonus pembuluh darah vena (vasodilatasi) sehingga terjadi penumpukan darah paska
arteriole, sehingga aliran balik vena menuju ke jantung berkurang yang akibatnya menurunkan
cardiak output, volume sirkulasi menurun serta tekanan darah menurun. Ketinggian level blokade ini
dipengaruhi oleh barisitas larutan anesthesi lokal, posisi pasien (selama penyuntikan maupun segera
setelah penyuntikan), dosis larutan anestesi lokal yang digunakan, lokasi penyuntikan, kecepatan
penyuntikan, anatomi tulang belakang, umur, tekanan intra abdominal, dan berat badan.
4. Pengamatan Tekanan Darah Selama Anesthesi / Pembedahan
Pengamatan tanda dan gejala hipotensi adalah sesuatu yang sangat penting mengamati atau
memonitor keadaan pernafasan, nadi, tekanan darah secara ketat selama anesthesi. Tekanan darah
dapat menurun secara cepat setelah masuknya obat lokal anesthesi kedalam ruang subarachnoid,
khususnya pasien yang tua dan pasien yang tidak diberikan cairan pra beban yang adekuat. Tanda
peringatan pertama akan turunnya tekanan darah adalah pucat, berkeringat, mual, perasaan yang tidak
enak yang merupakan menifestasi pengorbanan organ ginjal dan sistem kulit untuk memenuhi
kebutuhan organ vital seperti otak dan jantung (Syllvia. 2005)
Menurutnya tekanan darah sistolik tingkat menengah yaitu antara 80-90 mmhg pada pasien muda dan
sehat atau 100 mmhg pada orang tua, juga merupakan tanda awal adanya hipotensi. Bradikardi juga
sering terjadi selama SAB(sub arachnoid blockade), khususnya bila terjadibila terjadi manipulasi
saluran pencernaan dan uterus. Disebut bradikardi bila frekuensi nadi dibawah 50x/menit (Casey,
2000)
Auskultasi tekanan darah merupakan cara yang paling sederhana dan efektif untuk mengetahui
tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan darah arteri dengan mendengarkan timbul dan menghilangnya
bunyi korotkoff pada arteri yang dibebat dengan manset yang dihubungkan dengan manometer air
raksa. Permulaan timbulnya aliran turbulen akan terdengar sebagai bunyi korotkoff pertama dan
sesuai dengan bunyi sistolik, bunyi diastolik terdengar saat dimulai terendam atau menghilangnya
bunyi (Syllvia. 2005).
Nilai sistolik diambil dari bunyi ke-1 yaitu bunyi pertama terdengar, yang sifatnya lemah, nadanya
agak tinggi terdengar, sedang bunyi diastolik diperoleh dari bunyi korotkoff ke-5, yaitu saat bunyi
teredam atau menghilang (Augustinus, 2002). Pada penelitian ini peneliti memanfaatkan pengukuran
tekanan darah elektrik, sehingga tidak perlu menggunakan manometer air raksa dalam pengukuran
tekanan darah, cukup dengan mengamati perubahan tekanan darah (MAP) pada monitor dan
mencatatnya dalam lembar pengumpulan data.

5. Pencegahan Hipotensi
Pencegahan terjadinya hipotensi ini adalah mengembalikan volume sirkulasi dengan memberikan
cairan serta menghilangkan vasodilatasi dengan memberikan obat vasokontriksi. Semua pasien
Hipotensi harus diberikan oksigen sampai tekanan darah kembali normal. Beberapa cara untuk
mencegah hipotensi pada spinal anesthesi:
a. Prabeban Cairan / Loading Cairan
Pemberian cairan intravena (kristaloid dan koloid) secara luas digunakan untuk mencegah penurunan
tekanan darah / hipotensi. Dengan pemberian cairan intravena akan meningkatkan volume darah
sirkulasi untuk mengkompensasi penurunan tahanan vaskuler perifer. Dan juga peningkatan curah
jantung sehingga tekanan darah dapat meningkat. Secara umum penggunaan cairan kristaloid
memerlukan volume lebih besar dari pada koloid. Cairan koloid berada di intravaskuler lebih lama,
tetapi lebih mahal dan resiko anafilaksis shock (Covino, 2002)
b. Vasopresor
Efedrin merupakan vasopresor yang paling sering digunakan untuk mencegah terjadinya hipotensi
pada spinal anesthesi, pertama digunakan pada tahun 1927. Efedrin merupakan golongan
fenilisopropanolamin non katekolamin yang mempunyai α dan β untuk meningkatkan curah jantung,
denyut jantung, tekanan darah baik systolic maupun diastolic.
Efedrin bias digunakan lewat oral (20-50 mg), Intra Muskuler (25-50 mg), dan Intravena (5-20 mg).
Pada pemberian Intravena, onsetnya terjadi hampir langsung, dengan lama aksi 10-15 menit, dan efek
puncak 2-5 menit. Sedangkan pemberian melalui Intra Muskuler onsetnya beberapa menit setelah
injeksi, dengan efek puncak 10 menit dan lam aksi 15-60 menit (Stoelting, 2002).
C. Pengaturan Posisi
Elevasi ekstermitas bawah merupakan pengaturan posisi dimana anggota gerak bagian bawah diatur
pada posisi lebih tinggi dari pada jantung atau badan sehingga darah balik akan meningkat karena
penumpukan darah pada anggota gerak bagian bawah tidak terjadi, sehingga penurunan tekanan darah
dapat dicegah. Elevasi ekstermitas dapat memberi auto tranfusi sebanyak 400-500 ml darah (Covino,
2002).

Normal volume darah manusia sekitar 70-75 ml/kg BB. Volume darah didistribusikan diantara intra
thorak (15%) dan ekstra thorak (85%). Prosentase terbanyak ekstra thorak berada didalam sistem vena
(70%) sekitar 2500 ml, arteri (10%) dan kapiler (5 %) (Ganong, 2002; Stoelting, 2002).
Pada keadaan normal, pada posisi berdiri dimana kaki tidak bergerak, sistem vena pada kaki bisa
berisi darah sampai 500 ml (Ganong, 2002). Aliran darah melalui pembuluh darah ditentukan oleh
perbedaan tekanan diantara kedua ujung pembuluh darah yang merupakan tenaga pendorong darah
melalui pembuluh darah, dan tahanan pembuluh darah (Milnor, 2002).

Tekanan yang mendorong darah melalui pembuluh darah merupakan gabungan dari tiga komponen
energi hidrolik yakni energi tekanan, energi kinetik dan energi gravitasi. Sedangkan tahanan akan
tergantung pada panjang pembuluh, diameter pembuluh, kekentalan darah. Semakin kental zat cair
yang melewati pembuluh darah dan semakin panjang pembuluh darah yang dilewati maka tahanannya
semakin besar, sebaliknya semakin besar diameter pembuluh darah maka akan semakin kecil tahanan
yang merintangi aliran darah (Gabriel, 2002).
Aliran darah di dalam sirkulasi bersifat laminar dan di dalam vena terdapat katub yang
memungkinkan aliran darah vena selalu menuju ke jantung (Ganong, 2002). Pada pasien dengan
spinal anesthesi terjadi blok simpatis dimana akan terjadi vasodilatasi, sehingga terjadi penumpukan
darah vena di ekstremitas bawah, sehingga menyebabkan penurunan tekanan darah. Hal ini dapat
dicegah dengan cara mengatur posisi tubuh segera setelah injeksi lokal anesthesi. Mengangkat kaki
lebih tinggi dari jantung diharapkan penumpukan darah di ekstremitas bawah tidak terjadi karena
darah akan mengalir dari kaki ke jantung, darah balik akan terpelihara, tekanan darah tidak turun. Hal
ini dimungkinkan karena dengan posisi kaki lebih tinggi daripada jantung maka energi gravitasi di
kaki lebih besar, tahanan pembuluh darah vena sentral lebih rendah daripada vena perifer yang
mempunyai diameter relative lebih kecil dan adanya sistem katub yang senantiasa memungkinkan
darah selalu mengalir ke jantung (Milnor, 2002).
Graffney dalam Myabi (2002) melaporkan dengan mengangkat kaki secara pasif (60 derajat) tidak
menghasilkan pengaruh autotranfusi yang signifikan pada orang sehat dan sadar. Hasil ini karena
volume vaskuler pada kaki relative kecil (100-150 cc) dan hanya sebagian yang dapat dipindahkan,
tetapi lain pada keadaan blok simpatis dimana penumpukan darah pada vena ekstremitas bawah
sekitar 500-1000 cc tergantung berapa cm kaki lebih tinggi dari jantung, besarnya efek autotranfusi
akan terjadi. Pada posisi litotomi standar, ujung paling tinggi dari kaki kira-kira 15-20 cm diatas
jantung. Posisi litotomi pada spinal anesthesi terjadi peningkatan tekanan darah systole dari kejadian
penurunan 16% menjadi penurunan 8% dibanding posisi horizonta