Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang Nitrimetri (Diazotasi) ini dengan baik meskipun banyak kekurangan
didalamnya. Dan juga kami berterima kasih kepada Bapak M. Reza Gozaly MSi, Apt
selaku Dosen mata kuliah Kimia Analisis yang telah memberikan tugas ini kepada
kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai teroi titrasi nitrimetri/diazotasi, prinsip
reaksi nitrimetri, indikator nitrimetri, dan aplikasi analisis nitrimetri/diazotasi dalam
analisis obat dan bahan obat beserta contoh obatnya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik,
saran dan usulan dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, Juni 2018


DAFTAR ISI

JUDUL ........................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang............................................................................................ 1
1.2 Tujuan .........................................................................................................2
1.3 Manfaat .......................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................3
2.1 Pengertian Nitrimetri ..................................................................................3
2.2 Prinsip Nitrimetri ........................................................................................ 3
2.3 Syarat-syarat Titrasi Nitrimetri...................................................................4
2.4 Larutan Titer, Baku Primer, dan Pembakuan .............................................5
2.5 Indikator .....................................................................................................7
2.6 Sampel ........................................................................................................9
BAB III METODE KERJA ....................................................................................... 10
3.1 Uraian Alat dan Bahan .............................................................................10
3.2 Prosedur Kerja .......................................................................................... 10
BAB IV PEMBAHASAN ........................................................................................... 14
BAB V PENUTUP ......................................................................................................17
5.1 Kesimpulan ............................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................18

ANALIS FARMASI II
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kimia analisis adalah bagian dari ilmu kimia yang bertujuan untuk mengetahui
komponen atau komposisi suatu zat atau senyawa anorganik, organik, hasil sintesis
maupun biosintesis di dalam campurannya. Kimia analisis mencakup 2 bidang yaitu
analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif merupakan analisis untuk
melakukan identifikasi elemen, spesies, dan/atau senyawa-senyawa yang ada di dalam sampel.
Dengan kata lain, analisis kualitatif berkaitan dengan cara untuk mengetahui ada atau tidaknya
suatu analit yang dituju dalam suatu sampel. Sedangkan analisis kuantitatif adalah analisis untuk
menentukan jumlah (kadar) dari suatu elemen atau spesies yang ada di dalam sampel. Dalam
bidang farmasi terutama pada industri farmasi, analisis kimia digunakan secara rutin untuk
menentukan suatu bahan baku yang akan digunakan, produk setengah jadi dan produk jadi.
Hasilnya dibandingkan dengan spesifikasi yang ditetapkan. (Harpolia C, 2016)
Cara klasik dapat dibagi menjadi beberapa metode diantaranya adalah volumetri.
Berdasarkan pengukuran, analisa kuantitatif dibagi atas 3 bagian yaitu analisa titrimetri,
analisa gravimetrik dan analisa instrumental. Analisa titrimetri melibatkan pengukuran
volume suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui yang diperlukan untuk bereaksi
dengan analit.
Nitrimetri merupakan cara analisa volumetri yang berdasarkan pada reaksi
pembentukan garam diazonium. Garam diazonium itu terbentuk dari hasil reaksi antara
senyawa yang mengandung gugus amin aromatis bebas, pada suhu di bawah 15°C dalam
senyawa asam. Titrasi diazotasi berdasarkan pada pembentukan garam diazonium dari
gugus amin aromatis bebas yang direaksikan dengan asam nitrit, dimana asam nitrit ini
diperoleh dengan cara mereaksikan natrium nitrit dengan suatu asam (Harmita, 2006).
Senyawa-senyawa yang dapat ditentukan dengan metode nitrimetri antara lain
golongan sulfonamida seperti sulfamerazin, sulfadiazin dan sulfanilamid. Senyawa-
senyawa ini dalam dunia farmasi sangat bermanfaat seperti sulfanilamid sangat berguna
sebagai obat antimikroba. Selain senyawa-senyawa tersebut, pemanis buatan seperti
natrium siklamat bisa ditetapkan kadarnya menggunakan metode nitrimetri. Melihat
kegunaannya maka nitrimetri merupakan salah satu metode analisis yang diperlukan
untuk menganalisis senyawa-senyawa tersebut.

ANALIS FARMASI 1
Dalam titrasi diazotasi, digunakan macam indikator, yaitu indikator dalam dan
indicator luar. Sebagai indikator dalam digunakan campuran indikator tropeolin 00 dan
metilen biru, yang mengalami perubahan warna dari ungu menjadi biru kehijauan.
Sedangkan untuk indikator luarnya digunakan kertas kanji iodide.

1.2 Tujuan
1. Memperoleh molaritas larutan baku NaNO2
2. Menetapkan kadar zat dalam sampel secara nitrimetri

1.3 Manfaat
1. Untuk mengetahui teori titrasi nitrimetri/diazotasi
2. Untuk mengetahui prinsip reaksi nitrimetri
3. Untuk mengetahui indikator nitrimetri

ANALIS FARMASI 2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Nitrimetri


Nitrimetri adalah cara penetapan kadar suat zat dengan larutan nitrit. Prinsipnya
adalah reaksi diazotasi, yaitu pembentukan garam diazonium dari gugus amin aromatik
primer dan senyawa yang dapat diubah menjadi amin aromatik primer (amin aromatik
sekunder dan gugus nitro aromatik); pembentukan senyawa nitrosamin dari amin alifatik
sekunder; pembentukan senyawa azidadari gugus hidrazida; dan pemasukan gugus nitro
yang jarang terjadi karena sulitnya nitrasi dengan menggunakan asam nitrit dalam
suasana asam.
Contoh zat yang memiliki gugus amin aromatik primer misalnya benzokain, sulfa;
zat yang mempunyai gugus amin alifatis sekunder misalnya Na siklamat; zat yang
memiliki gugus hidrazida misalnya INH; zat yang memiliki gugus amin aromatis
sekunder misalnya parasetamol, fenasetin; dan zat yang memiliki gugus nitroaromatik
misalnya kloramfenikol.
Titrasi nitrimetri merupakan titrasi yang dipergunakan dalam analisa senyawa-
senyawa organik, khususnya untuk persenyawaan amina primer. Penetapan kuantitas zat
didasari oleh reaksi antara fenil amina primer (aromatik) dengan natrium nitrit dalam
suasana asam yang membentuk garam diazonium dan dikenal sebagai reaksi diazotasi.
Untuk membuat suasana asam umumnya digunakan asam klorida.
Dalam nitrimetri, berat ekivalen suatu senyawa sama dengan berat molekulnya
karena 1 mol senyawa bereaksi dengan 1 mol asam nitrit dan menghasilkan 1 mol garam
diazonium. Dengan alasan ini pula, untuk titrasi nitrimetri konsentrasi larutan baku
sering dinyatakan dengan molaritas, karena molaritasnya sama dengan normalitasnya.
Titrasi nitrimetri umum digunakan untuk penetapan sebagian besar obat
sulfonamida dalam Farmakope dan sediaannya, juga obat-obat lain jika titrasi nitrimetri
ini sesuai untuk digunakan.

2.2 Prinsip Nitrimetri


Prinsip titrasi nitrimetri adalah reaksi diazotasi, yaitu :
1. Pembentukan garam diazonium dari gugus amin aromatik primer (amin aromatik
sekunder dan gugus nitro aromatik). Contoh zat yang memiliki gugus amin aromatik
primer adalah benzokain. Contoh zat yang memiliki gugus amin aromatis sekunder

ANALIS FARMASI 3
adalah parasetamol dan fenasetin. Contoh zat yang memiliki gugus nitroaromatik
adalah kloramfenikol.
2. Pembentukan senyawa nitrosamine dari amin alifatik sekunder. Contoh zat yang
mempunyai gugus amin alifatis adalah Na siklamat.
3. Pembentukan senyawa azo dari gugus hidrazida. Contoh zat yang memiliki gugus
hidrazida adalah INH.
4. Pemasukan gugus nitro yang jarang terjadi karena sulitnya titrasi dengan
menggunakan asam nitrit dalam suasana asam.
Reaksi diazotasi tidak stabil dalam suhu kamar,karena garam diazonium yang terbentuk
mudah terdegradasi membentuk senyawa fenol dan gas nitrogen. Sehingga reaksi
dilakukan pada suhu dibawah 15°C. Untuk mendapatkan suhu dibawah 15°C dapat
dilakukan dengan merendam erlenmeyer yang berisi sampel dalam bejana berisi batu
es.

Sampel
Asam (HCl)
Butiran es
Indikator dalam
Katalis (KBr)

2.3 Syarat-syarat Titrasi Nitrimetri


Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam nitrimetri, antara lain:
1. Suhu
Pada saat melakukan titrasi, suhu harus antara 5-15ºC walaupun sebenarnya
pembentukan garam diazonium berlangsung pada suhu yang lebih rendah, yaitu 0-
5ºC. Pada suhu 5-15ºC, stabilisator yang digunakan adalah KBr. Titrasi tidak dapat
dilakukan pada suhu tinggi karena:
a. HNO2 yang terbentuk akan menguap pada suhu tinggi.
b. Garam diazonium yang terbentuk akan terurai menjadi fenol.
2. Keasaman
Titrasi ini berlangsung pada pH ± 2. Hal ini dibutuhkan untuk :
a. Mengubah NaNO2 menjadi HNO2
b. Pembentukan garam diazonium

ANALIS FARMASI 4
3. Kecepatan Reaksi
Reaksi diazotasi berlangsung lambat sekali sehingga agar reaksi berjalan sempurna,
titrasi harus dilakukan perlahan-lahan dan dengan pengocokan yang kuat. Frekuensi
tetesan pada awal titrasi kira-kira 1 ml/menit, lalu menjelang titik akhir titrasi menjadi
2 tetes/menit. Untuk menetukan titik akhir titrasi nitrimetri dapat digunakan 2 macam
indikator, yaitu :
a. Indikator dalam
Indikator dalam adalah indikator yang digunakan dengan cara memasukkan
indikator tersebut ke dalam larutan yang akan dititrasi, contohnya tropeolin 00 dan
metilen blue (5:3).
b. Indikator luar
Indikator luar adalah indikator yang dipakai tidak dengan memasukkan ke dalam
larutan yang akan dititrasi, tetapi hanya dengan menggoreskan larutan yang akan
diperiksa pada indikator ini pada saat titik akhir hampir dicapai. Contohnya pasta
kanji oidida.

2.4 Larutan Titer, Baku Primer, dan Pembakuan

Sebelum menetapkan kadar, karena NaNO2 yang digunakan sebagai titran bukan
baku primer, perlu dilakukan pembakuan terhadap NaNO2 terlebih dahulu. Sebagai baku
primer untuk pembakuan NaNO2 digunakan asam sulfanilat. Asam sulfanilat ditimbang
seksama sebanyak sekitar 50 mg, lalu dilarutkan dalam amonia 25% karena asam
sulfanilat sukar larut dalam air. Amonia di sini hanya digunakan untuk melarutkan
sehingga untuk melarutkan sehingga jangan terlalu banyak karena akan mempengaruhi
pH. Untuk mengakali masalah ini, pada saat memasukkan asam sulfanilat ke dalam
Erlenmeyer usahakan terlokalisasi pada satu titik agar tidak diperlukan banyak ammonia
untuk melarutkan.
Setelah seluruh asam sulfanila larut, larutan kemudian diasamkan dengan HCl
25% sampai pH 2 karena asam nitrit terbentuk pada suasana asam. Kemudian tambahkan
KBr yang pada titrasi nitrimetri diperlukan sebagai:
a. Katalisator, yaitu untuk mempercapat reaksi karena KBr dapat menigikat NO2- dan
membentuk nitrosobromid yang akan meniadakan reaksi tautomerasi dari bentuk
keto dan langsung membentuk etanol.
b. Stabilisator, yaitu untuk mengikat NO2- agar asam nitrit tidak terurai atau menguap.

ANALIS FARMASI 5
Cara kerja pembakuan NaNO2 dengan asam sulfanilat adalah sebagai berikut:
a. Timbang seksama ± 50mg asam sulfanilat, masukkan ke dalam labu Erlenmeyer 100
ml.
b. Tambahkan 1-2 tetes ammonia 25%, kocok sampai larut.
c. Tambahkan 20 ml air.
d. Tambahkan 5 ml HCl P.
e. Tambahkan ±0,5 g serbuk KBr.
f. Masukkan 5 tetes treopilin 00 0,1% dan 3 tetes metilen blue 0,1%.
g. Titrasi dengan NaNO2 0,1 M sambil diaduk kuat sampai terjadi perubahan warna dari
ungu ke biru (dengan indikator dalam) dan terjadi goresan warna biru pada pasta
kanji iodida yang terulang lagi setelah digoreskan 1 menit kemudian (dengan
indikator luar).

Reaksi yang terjadi pada pembakuan NaNO2 adalah

NaNO2 + HCl HNO2 + NaCl

H2O + HCl H3O+ + Cl-

HNO2 + H3O- + Br- N=O + 2H2O

Br

Setelah KBr ditambahkan, tambahkan indikator dalam yang berupa campuran tropeolin
00 dan metilen blue dengan perbandingan 5:3. Digunakan campuran indikator karena
perubahan warna tropeolin 00 dari warna merah menjadi kuning dan warna kuning tidak
jelas sehingga untuk memperjelas titik akhir diperlukan metilen blue agar pada titik akhir
terlihat warna biru.

Jadi, dengan mencampur kedua indikator ini akan terjadi perubahan warna dari violet
menjadi biru. Reaksi dari indikator adalah:

ANALIS FARMASI 6
Pada titrasi nitrimetri ini digunakan dua indicator, yaitu indikator dalam dan indikator
luar. Untuk indikator luar, digunakan pasta kanji iodida. Pada titik akhir, terdapat ion
NO2- berlebih sehingga NO2- akan bereaksi dengan iodida dan mengoksidasi iodida
menjadi iodium yang akan bereaksi dengan amilum membentuk kompleks warna
baru.

2.5 Indikator
Pada titrasi nitrimetri penetuan titik akhir titrasi dapat menggunakan indikator luar,
indikator dalam dan secara potensiometri.
 Indikator Luar
Indikator luar yang digunakan adalah pasta kanji-iodida atau dapat pula
menggunakan kertas kanji-iodida. Ketika larutan digoreskan pada pasta atau kertas,
adanya kelebihan asam nitrit akan mengoksidasi iodida menjadi iodium dan dengan
adanya kanji atau amylum akan menghasilkan warna biru segera. Indikator kanji-
iodida ini peka terhadap kelebihan 0,05 – 0,10 ml natrium nitrit dalam 200 ml
larutan. Reaksi yang terjadi dapat dituliskan sebagai berikut :
NaNO2 + HCl HNO2 + NaCL
KI + HCL KCL + HI
2 HI + 2 HONO I2 + 2 NO + 2 H2O
I2 + kanji kanji iod (biru)

Titik akhir titrasi tercapai apabila pada penggoresan larutan yang dititrasi pada pasta
kanji–iodida atau kertas kanji–iodida akan terbentuk warna biru segera sebab warna
biru juga terbentuk beberapa saat setelah dibiarkan di udara. Hal ini disebabkan
karena oksidasi iodida oleh udara (O2) menurut reaksi :

4 KI + 4 HCL + O2 2H2O + 2 I2 +4 KCL

ANALIS FARMASI 7
I2 + kanji kanji iod (biru)

Untuk meyakinkan apakah benar – benar sudah terjadi titik akhir titrasi, maka
pengujian seperti diatas dilakukan lagi setelah dua menit. Dengan indikator luar,
dengan pasta kanji-KI mempunyai kelebihan dan kekurangan yaitu sebagai berikut :

Kelebihan :
a. Untuk beberapa zat lebih tepat dipakai karena perubahan warna lebih jelas.

Kekurangan :
a. Cara kerja tidak praktis
b. Terlalu sering menguap menyebabkan adanya kemungkinan zat terbuang.
c. Titrasi harus dilakukan pada suhu dibawah 150 C
d. Harus diketahui jumlah volume titran yang dibutuhkan. Bila tidak, titrasi akan
berlangsung sangat lama yang berarti makin banyak larutan yang dititrasi
hilang (karena digoreskan pada pasta kanji iodida untuk mengetahui titik akhir
titrasi).

 Dengan Indikator Dalam (Visual)


Dengan indikator dalam, terdiri atas campuran tropeolin OO dan Metilen Blue.
Tropeolin OO merupakan indikator asam–basa yang berwarna merah dalam suasana
asam dan berwarna kuning bila dioksidasikan oleh adanya kelebihan asam nitrit,
sedangkan metilen blue sebagai pengkontras titik akhir titrasi akan terjadi perubahan
warna sehingga pada titik akhir titrasi akan terjadi perubahan dari ungu menjadi biru
sehingga hijau tergantung senyawa yang dititrasi.

Pada pemakaian Indikator dalam ini ternyata mempunyai kelebihan dan


kekurangan yaitu sebgai berikut :
Kelebihan :
a. Cara kerja cepat dan praktis.
b. Dapat dilakukan pada suhu kamar.

Kekurangan :
a. Penggunaan terbatas hanya untuk beberapa zat saja, untuk beberapa zat lainnya
perubahannya tidak jelas.

ANALIS FARMASI 8
b. Perubahan warna yang terjadi pada titik akhir titrasi berbeda-beda untuk sampel
yang berbeda.
 Metode Potensiometri
Metode yang baik untuk menetapkan titik akhir titrasi nitrimetri adalah secara
potensiometri, dengan menggunakan elektroda platina yang dicelupkan kedalam
larutan titran. Pada saat tercapai titik akhir, akibat adanya asam nitrit yang bebas akan
terjadi depolarisasi elektroda sehingga terjadi perubahan-perubahan arus yang
mendadak diamati pada galvanometer.
Pada saat titik akhir titrasi (adanya kelebihan asam nitrit), akan terjadi
depolarisasi elektroda sehingga akan terjadi perubahan arus yang sangat tajam sekitar
+ 0,80 Volt sampai + 0,90 Volt. Metode ini sangat cocok untuk sampel dalam bentuk
sedian sirup yang berwarna.

2.6 Sampel
Titrasi siazotasi dapat digunakan untuk: (Ibnu ghalib ganjar: 2007. P 166)
a. Penetapan kadar senyawa-senyawa yang mempunyai gugus amin aromatis primer
bebas seperti sulfamilamid.
b. Penetapan kadar senyawa-senyawa yang mana gugus amin aromatis terikat dengan
gugus lain seperti suksinil sulfatiazol, ftalil sulfatiazol, dan parasetamol. Pada
penetapan kadar senyawa yang mempunyai gugus aromatik yang terikat dengan
gugus lain seperti suksinil sulfatiazol harus dihidrolisi lebih dahulu sehingga
diperoleh gugus amin aromatis bebas untuk selanjutnya bereaksi dengan natrium
nitrit dalam suasana asam membentuk garam diazonium.
c. Senyawa-senyawa yang mempunyai gugus nitri aromatis seperti kloramfenikol.
Senyawa-senyawa nitro aromatis dapat ditetapkan kadarnya secara nitrimetri setelah
direduksi terlebih dahulu untuk menghasilkan senyawa amin aromatis pimer.
Kloramfenikol yang mempunyai gugus nitro aromatis direduksi terlebih dahulu
dengan Zn / HCl untuk menghasilkan senyawa amin aromatis primer yang bebas
yang selanjutnya bereaksi dengan asam nitrit untuk membentuk garam diazonium.

Dalam Farmakope Indonesia, titrasi nitrimetri digunakan untuk menetapkan kadar :


benzokain; primakuin fosfat dan sediaan tabeltnya ; prokain HCl ; sulfasetamid ; natrium
sulfasetamid ; sulfametazin ; sulfadoksin ; sulfametoksazol ; tertrakain ; dan tetrakain
HCl.

ANALIS FARMASI 9
BAB III
METODE KERJA

3.1 Uraian Alat dan Bahan


Alat : Bahan :
1. Buret 1. Aquadest
2. Klem buret dan statif 2. Sampel
3. Labu takar 3. Asam sulfanilat standar
4. Gelas ukur 4. NaNO2 0,1 M
5. Beaker glass 5. HCl 2 N
6. Erlenmeyer 6. Serbuk KBr
7. Pipet volume 7. Indikator tropeolin 00
8. Pipet 8. Indikator metilen blue
9. Botol semprot 9. Indikator pasta kanji iodide
10. Stirer
11. Tempat es
12. Ubin Keramik
13. Ubin keramik

3.2 Prosedur Kerja


1) Pembuatan pasta kanji iodida
a. Larutkan 750 mg KI P dalam 5 ml air.
b. Larutkan 2 g ZnCl2 P dalam 10 ml air.
c. Campurkan kedua larutkan, tambahkan 100 ml air, panaskan hingga mendidih.
d. Tambahkan suspensi 5 g pati P dalam 35 ml air sambil aduk.
e. Didihkan selama 2 menit, dinginkan.

2) Penetapan kadar sampel amin primer


a. Timbang 250 mg sampel, masukkan kedalam Erlenmeyer 100 ml, tambahkan 50
ml air dan 5 ml HCl P.
b. Dinginkan hingga suhu 15oC, tambahkan 5 tetes tropeolin 00 0,1% dan 3 tetes
metilen blue 0,1%.
c. Titrasi larutan pada suhu ruang dengan NaNO2 0,1 M sambil diaduk kuat sampai
terjadi perubahan warna dari ungu ke biru (dengan indikator dalam) dan terjadi

ANALIS FARMASI 10
goresan warna biru pada pasta kanji iodida yang terulang lagi setelah digoreskan 1
menit kemudian (dengan indikator luar).

3) Penetapan kadar nitrogen


Beberapa Alkaloid dan senyawa organik lain yangmengandung nitrogen tidak dapat
melepaskan seluruh nitrogen setelah ekstraksi dengan asam sulfat P; karena itu metode
ini tidak dapat digunakan untuk menetapkan nitrogen dalam semua senyawa organik.

Metode 1
Tanpa Nitrat dan Nitrit. Timbang saksama lebih kurang 1 g zat, masukan ke dalam
labu Kjeldahi setengah padat, dapat dibungkus dengan sehelai kertas saring bebas
nitrogen untuk memudahkan pemindahan ke dalam labu. Tambahkan 10 g serbuk
kalium sulfat P atau natrium sulfat anhidrat P. 500mg serbuk tembaga (II) sulfat P dan
20 ml asam sulfat P.
Miringkan labu pada posisi dengan sudut lebih kurang 45o, panaskan campuran
dengan hati-hati, jaga suhu di bawah titik didih sampai tidak berbuih lagi. Tingkatkan
pemanasan sampai asam mendidih secara cepat dan teruskan pemanasan sampai laritan
berwarna hijau jernih atau hampir tak berwarna selama 30 menit. Biarkan hingga
dingin, tambahkan 150 ml air, campur dna dinginkan lagi.
Tambahkan hati-hati 100 ml larutan natrium hidroksida P (2 dan 5) melalui
dinding sebelah dalam labu hingga terbentuk lapisan di bawah larutan asam. Segera
tambahkan beberapa butir zink P dan segera hubungkan labu ke bola (perangkap)
penghubung Kjedahl yang sebelumnya telah dihubungkan dengan kondensor yang
pipa penyalurannya tercelup di bawah permukaan lauratan 100 ml asam borat P (1
dalam 25) dalam labu Erlenmeyer 500 ml.
Campur isi labu Kjedahl dengan memutar hati-hati dan destilasi sampai lebih
kurang empat perlima isi labu terdestilasi. Tirrasi dengan asaam sulfat 0,5 N LV.
Tetapkan titik akhir secara potensiometrik. Lakukan penetapan blanko.
1 ml asam sulfat 0,5 N setara dengan 7,003 mg nitrogen

Jika kandungan nitrogen dalam zat rendah, asam sufat 0,5 N LV dapat diganti dengan
asam sulfat 0,1 N LV
1 ml asam sulfat 0,1 N setara dengan 1,401 mg nitrogen

ANALIS FARMASI 11
Jika Ada Nitrat dan Nitrit. Timbang saksama sejumlah sejumlah zat secara dengan
lebih kurang 150 ml nitrogen, masukan ke dalam labu Khjedahl 50 ml dari kaca
borosilikat keras, tambahkan larutan 1 g asam salilsilat P dalam 25 ml asam sulfat P.
Campur isi labu, biarkan selama 30 menit dan sering dikocok. Tambahkan 5g
serbuk natrium tiosulfat P, campur, kemudian tambahkan 500 mg serbuk tembaga (II)
sulfat P. Lakukan seperti yang tertera pada Tanpa Nitrat dan Nitrit, mulai dari
’’Miringkan labu pada posisi dengan sudut lebih kurang 45o’’
Jika kandungan nitrogen dalam zat lebih dari 10% tambahkan 500 mg hingga 1
g asam benzoat P sebelum ekstraksi untuk memudahkan peruraian senyawa.

Metode II
Peralatan. Pilih satu unit tipe umum alat kjehedahl semimikro, mula-mula nitrogen
dibebaskan dengan ekstraksi asam dan dipindahkan secara kuantitatif ke dalam wadah
titrasi dengan destilasi uap.
Prosedur. Timbang seksama atau ukur secara kuantitatif sejumlah zat setara
dengan 2 mg hingga 3 mg nitrogen, masukkan kedalam labu ekstraksi. Tambahkan 1 g
campuran serbuk kalium sulfat P dan tembaga (II) sulfat p (10:1) dan cuci serbuk yang
menempel pada leher labu dengan semprotan air. Tambahkan 7 ml asam sulfat dinding
untuk membilas, kemudian sambil memutar labu, tambahkan 1 ml hidrogen peroksida
P 30% dengan hati-hati melalui dinding labu (jangan menambahkan hidrogen
peroksida selama ektraksi)
Panaskan labu di atas api langsung atau pemanas elektrik sampai larutan
berwarna biru jernih dan dinding labu bebas dari zat yang mengarang. Tambahkan
hati-hati 70 ml air pada campuran ekstrak, dinginkan, lakukan destilasi uap.
Tambahkan 30 ml larutan natrium hidroksida P (2 dalam 5) dengan corong sedemikian
rupa sehingga larutan mengalir melalui dinding sebelah dalam labu hingga terbentuk
lapisan di bawah larutan asam, bilas corong dengan 10 ml air, tutup rapat segera
lakukan destilasi uap. Tampang destilat dalam 15 ml larutan asam borat P (1 dalam 25)
yang telah ditambahkan dengan 3 tetes merah metil biru metilena LP dan air
secukupnya untuk menutup ujung pipa kondensor.
Lanjutkan destilasi hingga destilat mencapai 80 ml hingga 100 ml. Pindahkan
labu serap, bilas ujung pipa pendingin dengan sedikit air dan titrasi destilat dengan
asam sulfat 0,01 N LV lakukan penetapan blangko.

ANALIS FARMASI 12
1 ml asam sulfat 0,01 N setara dengan 140,1 µg nitrogen

Jika zat mengandung nitrogen lebih dari 2 mg hingga 3 mg, dapat digunakan
asam sulfat 0,02 N atau asam sulfat 0,1 N dan dibutuhkan tidak kurang dari 15 ml.
Jika jumlah bobot bahan kering lebih besar dari yang digunakan, naikkan hingga
sebanding dengan bobot bahan.

Reaksi
H2 SO4 P
C13 H18 C12 N2 O2 (NH4 )2 SO4 + HCl + CO2 + H2 O
H2 O2
(NH4 )2 SO4 + 2 NaOH → 2 NH4 OH + H2 SO4

merah metil
2 NH4 OH + H2 SO4 (NH4 ) SO4 + H2 O
biru metilen

ANALIS FARMASI 13
BAB IV
PEMBAHASAN

Contoh Senyawa-senyawa yang dapat ditetapkan kadarnya dengan metode nitrimetri antara
lain adalah Kloramfenikol, Sulfanilamid, dan Sulfametoksazol.
1. Kloramfenikol (4)
Nama resmi : Chloramphenicolum
Sinonim : Kloramfenikol, D(-) treo-2-diklorasetamida-1-p-nitrofenil
propana-1,3-diol.
RM/BM : C11H12Cl2N2O5/323,12
Rumus struktur :

Pemerian : Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng


memanjang, putih, tidak berbau, rasa sangat pahit.
Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 400 bagian air, dalam 2,5 bagian
etanol 95% P, sukar larut dalam kloroform P dan eter P.
Khasiat : Antibiotikum
Kegunaan : Sebagai sampel
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Persyaratan Kadar : Mengandung tidak kurang dari 97,0% dan tidak lebih dari
103,0%.

Cara Kerja:
Timbang seksama 500 mg, tambahkan 20 ml HCl P, kemudian 5 g debu seng sedikit
demi sedikit. Tambahkan 15 ml HCl P, biarkan selama 1 jam. Saring melalui kapas,
cuci 3x, tiap kali dengan 5 ml air. Dinginkan hingga suhu 15oC, tambahkan kurang
lebih 30 g S. Titrasi perlahan-lahan dengan natrium nitrit 0,I N hingga 1 tetes larutan
segera menghasilkan warna biru pada kertas kanji iodida P. Titrasi dianggap selesai
hingga titik akhir dapat ditunjukkan lagi setelah larutan dibiarkan selama 5 menit.
1 ml NaNO2 0,1 M setara dengan 32,31 mg C11H12Cl2N2O5

ANALIS FARMASI 14
1. Sulfanilamid
Nama Resmi : Sulfanilamidum
Nama Lain : Sulfanilamida
RM/BM : C6H8N2O2S/172, 21
Rumus struktur :

Pemerian : Hablur serbuk halus atau putih, tidak berbau, rasa agak pahit
kemudian manis.
Kelarutan : Larut dalam 200 bagian air, sangat mudah larut dalam air
mendidih, agak sukar larut dalam etanol (95%) P dan sangat sukar
larut dalam kloroform P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat terlindung dari cahaya.
Kegunaan : Antibakteri

Cara kerja:
Lakukan penetapan menurut cara nitrimetri dengan menggunakan larutan yang dibuat
sebagai berikut. Timbang seksama 500 mg, larutkan dalam campuran 10 ml asam
klorida P dan 75 ml air, dinginkan.
1 ml natrium nitrit 0,1 M setara dengan 17,22 mg C6H8N2O2S

Reaksi penetapan kadar sulfonilamida secara nitrimetri:

ANALIS FARMASI 15
2. Sulfametoksazol

Nama resmi : Sulfamethoxazolum


Nama lain : Sulfametoksazol
RM/BM : C10H11N3O3S/253,28
Rumus struktur :

Pemerian : Serbuk hablur; putih sampai hampir putih; praktiks tidak berbau.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air; larut dalam 50 bagian etanol (95%)
P; dalam 3 bagian aseton P; mudah larut dalam larutan natrium
hidroksida.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Antibiotik

Cara kerja:
Timbang seksama 500 mg, larutkan dalam campuran 20 ml asam asetat glasial P, 40
ml air, dan 15 ml asam klorida P, dinginkan hingga suhu 15o. Segera titrasi dengan
natrium nitrit 0,1 M sexara potensiometrik menggunakan elektroda kalomel dan
platina.
1 ml natrium nitrit 0,1 M setara dengan 25,33 mg C10H11N3O3S

ANALIS FARMASI 16
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Titrasi nitrimetri adalah salah satu metode analisis kuantitatif dengan prinsip
pembentukan garam diazonium.
2. Titrasi nitrimetri digunakan untuk menganalisis sampel senyawa amin primer
contohnya senyawa sulfonamida.
3. Titrasi nitrimetri harus dilakukan pada suhu dingin (15°), suasana asam dan reaksinya
berlangsung lambat sehingga bisa ditambahkan katalisator berupa KBr.
4. Titrasi nitrimetri menggunakan larutan NaNO2 sebagai larutan pentiter dengan
indikator dalam tropeolin O.O dan metilen blue (5:3) dan indikator luar pasta kanji
iodida.
5. Pembentukan garam diazonium dari gugus amin aromatik primer (amin aromatik
sekunder dan gugus nitro aromatik). Contoh zat yang memiliki gugus amin aromatik
primer adalah benzokain. Contoh zat yang memiliki gugus amin aromatis sekunder
adalah parasetamol dan fenasetin. Contoh zat yang memiliki gugus nitroaromatik
adalah kloramfenikol.
6. Pembentukan senyawa nitrosamine dari amin alifatik sekunder. Contoh zat yang
mempunyai gugus amin alifatis adalah Na siklamat.
7. Pembentukan senyawa azo dari gugus hidrazida. Contoh zat yang memiliki gugus
hidrazida adalah INH.
8. Pemasukkan gugus nitro yang jarang terjadi karena sulitnya titrasi dengan
menggunakan asam nitrit dalam suasana asam.

ANALIS FARMASI 17
DAFTAR PUSTAKA

Harmita. 2006. Analisis Kuantitatif Bahan Baku dan Sediaan Farmasi edisi I (hal 98-101).
Departemen Farmasi FMIPA Universitas Indonesia. Depok.
Dra. Harpolia Cartika, M.Farm., Apt. 2016. Kimia Farmasi. Kemenkes. Jakarta.
Gandjar, I. Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis (hal.164-167). Pustaka Pelajar.
Yogyakarta.
Prof. Dr. Gholib Ibnu dan R.Abdul. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar:
Yogyakarta.
Harmita. 2009. Penetapan Kadar Bahan Baku Obat dan Sediaan Farmasi. Departemen
Kedokteran EGC Universitas Indonesia. Depok.
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III . Jakarta: Departemen Kesehatan RI
Analisa Kimia Farmasi Kuantitatif . Makassar : UNHAS (http//pharmaceutical
world. blogspot.com)
(http// www. scribs.co / titrasi nitrimetri)
(https://www.academia.edu/7838810/Diazotasi)

ANALIS FARMASI 18