Anda di halaman 1dari 17

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL................................................................................... i
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN. ....................................................................... iii
UCAPAN TERIMA KASIH ........................................................................ iv
DAFTAR ISI................................................................................................... v
DAFTAR TABEL .......................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang. ................................................................................... 1


1.2 Tujuan dan Kegunaan. ........................................................................ 2

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Klasifikasi dan Morfologi Udang Kaki Putih (Penaeus vannamei) ...
2.1.1 Kelangsungan hidup udang kaki putih (Penaeus vannamei) ....
2.2 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Bandeng (Chanos chanos) ...............
2.2.2 Kelangsungan hidup ikan bandeng (Chanos chanos) ..............

III. METODE PRAKTIKUM


3.1 Waktu dan Tempat. ............................................................................. 8
3.2 Alat dan Bahan.................................................................................... 8
3.3 Prosedur Pelaksanaan Praktek Lapang..... .......................................... 9
3.4 Analisa Kelayakan Usaha ...................................................................
3.4.1 Revenue Cost Ratio ...................................................................
3.4.2 Analisa Titik Impas ....................................................................
3.4.3 Rentabilitas ................................................................................

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Lapang. ........................................... 8
4.1.1 Lokasi dan Tata Letak Bangunan. ............................................ 8
4.2 Sistem Budidaya. ................................................................................ 9
4.2.1 Intensif. ..................................................................................... 11
4.2.2 Pemberantasan Hama dan Penyakit ..........................................
4.3 Manajmen Benih .................................................................................
4.4 Manajmen Pakan.................................................................................
4.5 Manajmen Kulaitas Air .......................................................................
4.6 Pemanenan dan Penanganan pasca panen ..........................................
4.7 Pemasaran dan Analisis Kelayakan Usaha .........................................
V. SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan.. ........................................................................................... 13
5.2 Saran. ..................................................................................................
I. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Lapang

4.1.1 Lokasi dan Tata Letak Bangunan

Gambar 2. Lokasi Tambak Budidaya Udang Kaki Putih (Penaeus vannamei)

4.1.4 Fasilitas pendukung

Fasilitas pendukung pada budidaya udang vaname yang dilakukan di tambak meliputi

1. Salinometer

Salinometer berfungsi untuk mengamati salinitas air.

2. Kertas lakmus

Kertas ini berfungsi untuk mengukur pH air.

4.2 Kegiatan Budidaya

4.2.1 Persiapan tambak

4.2.1.1 Perbaikan alat dan konstruksi tambak


Pemasangan kincir diarahkan ke seluruh kolom air agar sirkulasi/distribusi oksigen

menjadi merata (agar tidak ada titik mati). Penyediaan pompa air diperhitungkan harus

mampu mengganti air minimal 30% perhari.Penyediaan dan pemasangan peralatan lain

disesuaikan dengan kebutuhan.

Gambar 5. Perbaikan alat berupa kincir angin


Kontruksi tambak harus mampu mendukung proses budidaya dan memiliki desain

yang sesuai. Desain kontruksi tambak terdiri dari petakkan dan saluran tambak, baik untuk

pemasukan maupun pengeluaran. Luas petakan tambak tradisional sebaiknya tidak lebih dari

10 Ha. Pada tambak udang semiintensif, gunakan tandon minimal 30% dari lahan budidaya

udang. Luas petak pemeliharaan maksimal 1 Ha .

Gambar 6. Perbaikan konstruksi tambak


1. Pematang/tanggul

a. Pematang harus kedap dengan maksimum kebocoran sebesar 10% dalam tiap minggu.

b. Tambak dapat diisi air sampai kedalaman minimal 70cm dari dasar tambak dan

maksimal 1 meter.

2. Dasar tambak

a. Kemiringan dasar tambak sekitar 0,2% (selisih 20 cm ke arah pembuangan/outlet).

b. Caren berjarak 1 meter dari berem tanggul dengan lebar tergantung dengan

kebutuhan. Kedalaman caren 0.2 – 0,5 meter. Caren bertujuan untuk memudahkan

pengeringan.

c. Hindari tanah yang bersifat sulfat masam (kandungan pyrit tinggi).

3. Pintu air

Pintu air berfungsi untuk mengisi air ke dalam petakan tambak dan membuang air pada

saat pemeliharaan dan panen udang. Pintu air dapat terbuat dari kayu atau semen, serta

dilengkapi dengan saringan untuk mencegah masuknya udang dan ikan liar ke dalam tambak

pada saat pengisian air. Pintu air sebaiknya:

a. Pintu pemasukan dan pengeluaran terpisah.

b. Dimensi pintu air yang banyak digunakan adalah model pintu monik. Ukuran idealnya

adalah lebar mulut pintu 0,8-1 meter, dan dipasang 2 buah tiap petakan 1 Ha,

sehingga mampu membuang air bagian dasar.

c. Pintu air juga dapat berupa pipa PVC dengan sistem pipa goyang. Jumlah pipa untuk

luas 1 Ha minimal 4 buah dengan diameter pipa 8 inci, sehingga dapat membuang air

dengan cepat. Lakukan pengecekan kebocoran tanah di sekitar pipa dengan

memadatkan tanah disekitar. Jika perlu, lakukan dengan membelah tanggul sehingga

bagian yang dilewati pipa, tanahnya dapat dipadatkan.

4.2.1.2 Pembersihan dan pencucian dasar tambak


Dasar tambak merupakan tempat udang vannamei hidup, mencari makan, sekaligus

membuang kotoran. Maka dari itu kebersihan dasar tambak pada saat persiapan harus

menjadi proritas utama. Lumpur dari dasar tambak yang berupa sisa metabolisme serta

plankton yang mati tidak boleh ditumpuk diatas pematang, karena bila hujan, akan dapat

kembali ke tambak dan memperburuk kondisi tambak. Selain itu bahan organik ini akan

meningkatkan timbulnya gas beracun seperti NH3 atau H2S yang sangat membahayakan

benur udang vannamei.

Gambar 7. Pembersihan dan pencucian dasar tambak

Pengeringan tanah dasar tambak bertujuan untuk meningkatkan oksidasi tanah,

sehinga dapat mempercepat penguraian bahan organik. Proses pengeringan dapat dipercepat

dengan pembuatan parit/caren keliling. Pengeringan tanah dilakukan hingga tanah retak-retak

(kadar air sekitar 20%). Pengeringan tidak boleh dilakukan sampai tanah berdebu karena

proses mineralisasi bahan organik akan berhenti. Pembalikan tanah dilakukan apabila tanah

bagian bawah setebal 10-20 cm masih banyak bahan organik (ditandai dengan warna hitam

dan bau menyengat).

4.2.1.3 Pengeringan dasar tambak


Pengeringan dasar tambak bertujuan untuk memperbaiki kualitas tanah dasar tambak

maupun untuk mematikan hama dan penyakit di dasar tambak.

Pengeringan dilakukan sampai tanah dasar terlihat pecah-pecah/retak-retak (kandungan air

20%), warna cerah dan tidak berbau; atau bila dilakukan pemeriksaan laboratorium

kandungan bahan organik kurang dari 12%.

Gambar 8. Pengerikan dasar tambak

Jika terdapat endapan lumpur hitam di dasar tambak, harus diangkat dan dibuang ke

luar petakan tambak. Untuk menghilangkan sisa bau lumpur dapat digunakan cairan molase

(tetes tebu).

4.2.1.4 Pengapuran

Pemupukan dasar tambak dengan menggunakan pupuk organik. Pupuk organik

berasal dari tanaman atau kotoran hewan yang telah diberi pelakuan dan teskturnya seperti

tanah serta tidak berbau lagi. Pupuk ditebar merata di seluruh dasar tambak dengan dosis 500

kg/ha. Fungsinya untuk memperbaiki tekstur tanah.


Gamba 9. Pemupukan tambak

Selain itu, pupuk organik yang telah terfermentasi ini juga berfungsi sebagai pakan

untuk zooplankton. Kelimpahan zooplankton cukup, menjadi pakan alamibagi benur udang

windu yang akan ditebar.

4.2.1.5 Pengisian air

Pengisian air dilakukan pada saat pasang air laut melalui pintu air atau menggunakan

pompa. Pastikan air tidak keruh, dan hindari penggerusan lumpur disaluran yang teraduk

sehingga dapat mencemari tambak.

Gambar 10. Penggunaan pompa air untuk penambahan air di tambak

Proses pengisian tambak ini dilakukan selama 4-6 hari (di waktu bulan purnama, yaitu

hari ke 13-18 atau waktu bulan mati, yaitu hari ke 28-3). Pada hari pertama, isi tambak

hingga ketinggian air mencapai minimal 30 cm untuk proses pengendalian hama dan
penyakit. Pengisian air dilakukan hingga kedalaman minimal 70 cm dan dilakukan secara

bertahap selam bulan purnama atau bulan mati (3-7 hari).

4.2.1.6 Pemberantasan hama

Pemberantasan hama dan penyakit dapat dilakukan dengan pengobatan, atau

melakukan panen dini jika tidak bisa lagi ditanggulangi, agar penyakit tidak menyebar.

Gambar 11. Pemasangan jaring dalam mencegah hama

1. Tidak membuang dan mengganti air apabila udang yang dipelihara diketahui terkena

virus. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ke perairan umum

dan tambak lainnya.

2. Tumbuhan air yang diambil dari petakan tambak, tidak dibuang ke petak lain atau

perairan umum karena dikhawatirkan dapat menyebarkan penyakit.

3. Udang yang sakit atau mati segera dikeluarkan dari tambak dan dicelupkan ke larutan

formalin, selanjutnya dikubur di luar area petakan tambak.

4. Menerapkan biosekuriti pada seluruh kegiatan dan area pertambakan, yaitu :

a. Menyiapkan bak sterilisasi bagi manusia yang ingin masuk ke area tambak,

b. Membatasi akses manusia dan hewan pembawa penyakit, antara lain kepiting, burung,

dan hewan lainnya untuk masuk ke area tambak dengan pembuatan pagar pembatas

dari jarring ke sekeliling tambak.


c. Pengendalian hewan berupa burung dapat dilakukan dengan membuat penghalau

berupa tali senar di atastambak.

4.2.1.7 Pemupukan

Pemupukan bertujuan untuk memperbaiki kualitas air, meningkatkan suplai pakan

alami berupa plankton (mengurangi ransum pakan buatan).

Gambar 12. Proses pemupukan tambak

Pemupukan tambak dilakukan sebagai berikut :

1. Tambak dengan dasar berpasir sebaiknya menggunakan pupuk organik (kompos atau

komersial).

2. Pemupukan dengan pupuk nitrat (N) dan fosfat (P) dilakukan secara langsung ke tanah

dasar tambak. Perbandingan kandungan N : P rasio (nitrogen dan fosfat) yaitu 1 : 4 atau 1

: 6, dosis pemupukan minimal 1 ppm untuk pupuk Sp36.

3. Jika air tambak berkadar garam rendah (kurang dari 15 ppt) perlu ditambahkan KCL

sebanyak 1 ppm dengan frekuensi pemberian seminggu sekali. Jika pH tanah antara 4 -

4,5, gunakan kapur pertanian (CaCO3) sebanyak 5 - 10 ton/ha.

4.2.2 Penanganan benih/benur


4.2.2.1 Sumber benih/benur dan pengangkutannya

Pengangkutan bibit udang vannamei dengan menggunakan mobil pick up.

1. Pastikan alat yang dipakai untuk mengangkut benur, seperti plastik, styrofoam, kardus

dalam kondisi bersih dari sumber pencemaran.

2. Pastikan kendaraan pengangkut benur tidak digunakan untuk mengangkut bahan yang

berbahaya, seperti bahan kimia dan pupuk, yang dapat mengkontaminasi benur.

3. Jumlah benur PL 10 – 12 dalam kantong plastik berkisar 2000 – 3000 Ind./liter untuk

transportasi jarak dekat (pengangkutan di bawah 12 jam).

Sedangkan untuk transportasi jarak jauh (pengangukutan > 12 jam), lebih diutamakan

ukuran benur yang lebih kecil (PL 9) dengan kepadatan dalam kantong plastik berkisar

2000 – 3000 ind./liter.

4. Lakukan penurunan suhu air media angkut hingga 240 C untuk pengangkutan benur lebih

dari 3 jam perjalanan. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi

metabolisme. Salinitas media angkut minimal 25 ppt untuk perjalanan lebih dari 12 jam

dannminimal 20 ppt untuk pengangkutan jarak dekat.

5. DO air media angkut sampai di tempat tujuan minimal 4 ppm; perbandingan air dan

oksigen dalam kantong plastik (wadah angkut) adalah 1 : 3 untuk perjalanan maksimum

15 jam; apabila perjalanan lebih dari 15 jam sebaiknya dilakukan.

4.2.2.2 Aklimasi

Sebagai dasar penentuan lamanya aklimatisasi, gunakan selalu perbedaan kualtitas air

yang terbesar antara kolam dan wadah pengangkutan. Bila perbedaan suhu adalah 2 C tapi

perbedaan salinitasnya 4 ppt dan pH 0,1 unit, lamanya aklimatisasi harus 15 x 4 = 60 menit.
Gambar 13. Proses aklimasi udang vaname

Langkah-langkah dalam melakukan aklimsi pada larva udang vaname

1. Biarkan kantong plastik berisi benih udang yang masih tertutup mengapung di

air kolam yang akan ditebari (Gambar 22) selama 30 - 60 menit.

2. Pilih 2 - 3 buah kantong untuk penghitungan dan tuangkan isi tiap kantong ke

baskom. Hitunglah benih di tiap baskom dan cari rata-ratanya dari 3 kali

hitungan.

3. Periksa suhu, salinitas, dan pH dari air tempat pengangkutan setiap 15 menit.

Sebagai patokan, biarkan aklimatisasi berlangsung selama 15 menit untuk

setiap perbedaan suhu 1 C, salinitas 1 ppt dan pH 0,1 unit. O

4. Buka sisa kantong plastik lainnya dan sedikit demi sedikit tambahkan atau

cipratkan air kolam kedalam kantong.

5. Teruskan menambah air kolam secara perlahan-lahan sampai salinitas, suhu dan pH dari

air di dalam kantong pengangkutan dan kolam menjadi sama.

6. Tebarkan 100 ekor benih dalam setiap hapa untuk kontrol kelangsungan hidup

udang.

7. Biarkan sisa benih keluar berenang sendiri dari kantong ke kolam.

4.2.2.3 Penebaran benih/benur


Penebaran benur dilakukan di tengah pematang, dengan mengapung-apungkan

kantong plastik berisi benur ke permukaan air tambak.

Gambar 13. Proses penebaran benih/benur

Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam penebaran benur adalah sebagai

berikut:

1. Padat penebaran budidaya udang vannamei umumnya 60 – 100 ind./m2.

2. Penebaran benur dilakukan setelah air dalam tambak siap, ditandai dengan warna hijau

cerah/cokelat muda.

3. Penebaran diawali dengan proses aklimatisasi suhu media angkut benur dengan cara

mengapungkan kantong plastik ke perairan tambak.

4. Adaptasi salinitas dengan cara memasukkan air tambak ke dalam kantong

plastik secara bertahap, hingga salinitas air dalam kantong plastik relatif sama dengan

salinitas air di tambak.

5. Pelepasan benur ke tambak dengan menenggelamkan kantong plastik ke air tambak

secara perlahan. Benur keluar dengan sendirinya ke air tambak. Sisa benur yang tidak

keluar dari kantong, dibantu pengeluarannya secara hati-hati.

6. Penebaran benur tidak dilakukan pada area tambak yang tidak terdapat arus (titik mati).
7. Untuk mempercepat proses aklimatisasi benur, sebaiknya pembudidaya memesan

hatchery untuk menurunkan salinitas air di hatchery mendekati salinitas air di tambak

(maksimal perbedaan salintas sebesar 5 ppm).

4.2.3 Pemeliharaan

4.2.3.1 Manajemen pakan

Faktor yang menentukan keberhasilan budidaya udang antara lain adalah

ketersediaan pakan. Jumlah, kualitas dan waktu pemberian pakan adalah beberapa faktor

adalah yang harus diperhatikan dalam penyediaan pakan. Secara umum pakan yang diberikan

selama proses pemeliharaan larva udang vannamei ada dua jenis yaitu pakan alami dan pakan

buatan. Selanjutnya dikatakan bahwa pakan alami digolongkan menjadi planton nabati

(fitoplanton) dan planton hewani (zooplankton). Kedua jenis pakan alami tersebut sangat

memegang peranan penting sebagai dasar pemenuhan gizi pada saat awal kehidupan larva

udang vannamei. Sehingga keberhasilan usaha budidaya udang sangat tergantung pada

keberhasilan pada saat melewati masa awal pemeliharaan larva.

4.2.3.2 Manajemen kualitas air

Agar udang vannamei yang dipelihara dapat hidup dan tumbuh dengan baik, maka

selain ketersediaan pakan yang bergizi hal terpenting juga yaitu kualitas air, karena air

merupakan lingkungan dimana organisme perairan hidup. Oleh karena itu kualitas air secara

lansung sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan pertumbuhan organisme yang

dibudidayakan terutama budidaya udang vannamei.

Beberapa parameter kualitas yang mendukung kehidupan udang vannamei adalah

sebagai berikur :

1. Suhu
Suhu air sangat mempengaruhi laju metabolisme dan pertumbuhan organisme perairan.

Batas suhu paling tinggi untuk litopenaeus vannamei sekitar 35. Udang akan bertahan pada

suhu 24-32, diluar kisaran tersebut udang akan stress dan tidak tumbuh dengan baik.

2. Salinitas

Salinitas sangat besar pengaruhnya terhadap proses metabolisme dan kelansungan hidup

udang, dimana salinitas merupakan konsentrasi total ion-ion terlarut didalam air yang

dinyatakan dalam satuan mil atau ppt atau gram/liter yang berpengaruh dalam

pertumbuhan udang vannamei.

3. pH

Derajat keasaman (pH) sangat berpengaruh terhadap meningkat tidaknya daya racun

amoniak dan hydrogen sulfide karena juga mempengaruhi kehidupan organisme kultivan

melalui efeknya terhadap parameter lain, seperti tingkat toksik amoniak dan keberadaan

pakan alami.

4. Oksigen Terlarut

Oksigen terlarut sangat berpengaruh terhadap metabolisme udang vannamei dan kadar

oksigen yang baik berkisar antara 4-6 ppm.

4.2.3.3 Manajemen kesehatan ikan/udang

Pengandalian penyakit pada udang vannamei dilakukang dengan prinsip dasar yaitu

tindakan pencegahan dan pengobatan. Dengan melakukan pencegahan diharapkan agar udang

tidak sampai terserang penyakit yang dapat mengakibatkan mortalitas dan kualitas menurun.

Lingkungan yang sehat seperti kualitas air baik dan pemberian cukup akan menyebabkan

daya tahan udang terhadap serangan penyakit.

4.2.3.4 Sampling

Dalam sampling hal-hal yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Mengambil 50 ekor benur udang vannamei (Litopenaeus vannamei).


2. Kemudian menimbang berat badan dan mengukur panjang tubuhnya.

3. Mencatat hasil yang diperoleh.

4.2.4 Pemanenan dan Pemasaran Hasil

Udang dapat dipanen setelah memasuki ukuran pasar (100 – 30 ind./kg). Untuk

mendapatkan kualitas udang yang baik, sebelum panen dapat dilakukan penambahan dolomit

untuk mengeraskan kulit udang dengan dosis 6 - 7 ppm.

Gambar 14. Pemanenan total

1. Panen Selektif

Pada panen ini hanya udang vannamei yang telah memenuhi syarat ukuran konsumsi

(pemasaran) yang ditangkap. Caranya :

a. Menggunakan alat tangkap berupa jarring atau jala lempar dengan ukuran mata jaring

yang lebih besar, sehingga memungkinkan udang vannamei yang masih kecil lolos.

b. Masukkan air yang baru, sehingga udang vannamei berkumpul dipintu air, lalu gunakan

serok/seser untuk menangkapnya. Bila ada udang vannamei yang masih kecil tertangkap

dapat dilepaskan kembali.

2. Panen Total

Panen ini semua udang atau ikan yang dipelihara ditangkap (gambar 7) sehingga

pengelolaan tambak untuk penebaran berikutnya dapat dilakukan lagi caranya :


a. Keluarkan air secara perlahan-lahan pada malam hari, sehingga dinihari air ditambak

tinggl yang berada dalam caren (saluran).

b. Udang atau ikan digiring menyusuri caren menuju pintu air, kemudian dikurung dengan

kere bamboo agar ruang geraknya sempit.

c. Setelah udang atau ikan terkumpul, lakukan penangkapan dengan jala, seser atau

menggunkan tangan.