Anda di halaman 1dari 5

A.

Pembuatan Pakan
Ada dua cara yang dapat ditempuh dalam pembuatan pakan berbentuk pellet, yaitu
secara manual dan atau dengan menggunakan mesin (feedmill). Pembuatan pakan secara
manual dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang sederhana. Alat yang dipergunakan
adalah sekop (paddle) atau drum yang dirancang dengan mengunakan prinsip kerja mixer
(Pujaningsih, 2011).
Cara yang kedua dengan menggunakan mesin. Mesin pembuat pakan ini terdiri atas
mesin-mesin penggiling (hammer mill), mesin penimbang (weigher), mesin pemusing
(cyclone), mesin pengangkat/pemindah bahan (auger, elevator), mesin penghembus (blower),
mesin pencampur (mixer), dan mesin pembuat pellet. Untuk pembuatan pellet
menggunakan alat blower, boiler, mash bin, cooler, die, screw conveyor, mixer,
vibrator dan transporter.

B. Persyaratan Alat Mesin Pengolah Pakan


Alat mesin dan perlengkapan pendukung yang dipergunakan untuk memproduksi
pakan harus disesuaikan dengan jenis pakan yang akan diproduksi serta memenuhi
persyaratan teknis minimal. Persyaratan dari alat mesin pengolah pakan yang akan dibeli dan
dipergunakan oleh kelompok peternak/pembudidaya menurut Ma’sum (2011) adalah :
1. Sesuai dengan jenis bahan pakan yang akan diproses
2. Permukaan yang berhubungan dengan bahan pakan yang di proses harus halus, tidak
berlubang/bercelah, tidak mengelupas, tidak menyerap air dan tidak berkarat.
3. Alat mesin tidak mencemari hasil produksi dengan jasad renik, unsur atau fragmen logam
yang lepas atau pergeseran dari peralatan, minyak pelumas, bahan bakar, dan sebagainya.
4. Bentuk konstruksinya diupayakan agar bahan pakan tidak tumpah/terbuang sewaktu
diproses.
5. Dalam pengadaan mesin, agar dilakukan uji coba operasional sampai bisa memproduksi
pakan. Oleh karena itu diperlukan jaminan atau garansi dari suplier sampai alat mesin dapat
berfungsi dengan baik.
Selain alat utama dari pembuatan pakan, terdapat pula peralatan pendukung untuk
menunjang proses produksi pakan. Peralatan pendukung lain terdiri dari :
1. Gerobak/troli
Untuk memudahkan dan mempercepat membawa bahan pakan.
2. Conveyor
Berfungsi sebagai sarana untuk memindahkan bahan pakan yang diproses dari satu
unit ke unit operasi lainnya.
3. Kaitan (gaco)
Penggunaan gaco diperlukan pada saat menaikkan atau menurunkan karung/kemasan
bahan pakan atau pakan yang di produksi.
4. Wadah atau bak penampung dan sekop
5. Peralatan bengkel
Terdiri dari kunci, palu, obeng, tang, gergaji, dsb yang dapat digunakan jika ada
masalah pada alat mesin pengolah pakan.

C. Alat-alat Produksi Pakan


1. Alat Penepung (Grinding)
Grinding adalah proses pengecilan ukuran partikel bahan dari bentuk kasar menjadi
ukuran yang lebih halus dan menghindari segregasi partikel-partikel bahan. Pengecilan
ukuran merupakan suatu bentuk proses penghancuran dan pemotongan bentuk padatan
menjadi bentuk yang lebih kecil oleh gaya mekanik (Susi,2012).
Menurut Susi ( 2012) Terdapat empat cara yang diterapkan pada mesin-mesin
pengecilan ukuran :
· Kompresi, pengecilan ukuran dengan tekstur yang keras;
· Impact atau pukulan, digunakan untuk bahan padatan dengan tekstur kasar;
· Attrition, digunakan untuk menghasilkan produk dengan tekstur halus dan;
· Cutting, digunakan untuk menghasilkan produk dengan ukuran dan bentuk tertentu.
Tujuan utama dari proses grinding adalah :
· Meningkatkan luas permukaan partikel bahan terhadap sistem pencernaan sehingga
meningkatkan daya cerna bahan
· Memperbaiki cara penanganan terhadap bahan baku
· Memperbaiki karakteristik mixing dari setiap bahan baku sehingga bisa diperoleh hasil
mixing yang lebih homogen.
· Memuaskan selera konsumen karena tampilan pakan menjadi
lebih baik.
Pada prinsipnya pengecilan ukuran diklasifikasikan menurut produk akhir yang
dihasilkan.
a. Pengecilan ukuran ekstrim yaitu merubah dimensi ukuran bahan secara signifikan,
misalnya penggilingan dan penggerusan.
b. Pengecilan bahan yang menghasilkan ukuran produk yang masih berdimensi besar atau
nisbah produk akhir dengan awalnya tidak terlalu signifikan, misalnya pada proses
pemotongan dan pengempaan.
Bahan–bahan yang harus melewati proses grinding adalah jagung, sorghum, kedelai,
kacang tanah, dedak kasar, sumber protein hewani yang kasar dan lain-lain.
Proses grinding berkaitan dengan ukuran partikel bahan karena ukuran partikel yang bisa
dihasilkan sangat dipengaruhi oleh ukuran diameter saringan yang digunakan dan kecepatan
putaran pisau. Diameter saringan 3 mm pada kecepatan putaran tinggi cukup untuk
menghasilkan partikel-partikel berdiameter <2 mm yang sudah cukup halus untuk menjaga
kualitas pellet (Lintang, 2013).
Karakteristik bahan menentukan efisiensi grinding. Bahan dengan kadar air tinggi
akan mempersulit grinding karena bahan cenderung lengket dan sulit keluar dari lubang
saringan. Bahan yang digunakan sebaiknya cukup kering sehingga mempermudah proses
dan cenderung cepat keluar dari ruang grinding.
Ada dua jenis alat yang dapat digunakan untuk melakukan penepungan bahan baku.
Peralatan yang digunakan pada proses penepungan menggunakan saringan adalah alat
penepung hammer disk mill dan disk mill.

2. Alat pencampur (Mixer)


Bahan baku yang telah berbentuk tepung ditimbang sesuai dengan jumlah bahan baku
yang akan digunakan. Apabila bahan baku yang akan digunakan cukup banyak sebaiknya
digunakan timbangan duduk atau timbangan beras. Namun bila sedikit sebaiknya
menggunakan timbangan kue atau timbangan lainnya yang mempunyai tingkat ketelitian
lebih tinggi.
Untuk bahan baku dengan jumlah sedikit, terlebih dahulu dilakukanpre-mixing atau
pencampuran awal. Bahan yang dicampur pada tahap awal meliputi vitamin, mineral, kalsium
karbonat, asam amino kristal, pemacu pertumbuhan, koksidiostat dan antioksidan.
Penimbangan bahan – bahan ini harus dilakukan dengan timbangan yang mempunyai tingkat
ketelitian tinggi.
Minimal diperlukan waktu 15 menit untuk mencampur bahan pakan dengan
menggunakan mesin pencampur jenis beton molen supaya diperoleh campuran yang merata.
Apabila digunakan mixer horisontal, diperlukan waktu pencampuran lebih singkat.
Setelah ditimbang, bahan dicampur secara merata dan homogen agar seluruh bagian
pakan yang dihasilkan mempunyai komposisi zat gizi yang merata dan sesuai dengan
formulasi. Pencampuran bahan-bahan dilakukan secara bertahap mulai dari bahan yang
volumenya paling besar hingga bahan yang volumenya paling kecil.
Pencampuran bahan baku dalam jumlah kecil dapat dilakukan pada wadah dan
pengadukannya dapat dilakukan dengan tangan atau alat seperti centong nasi. Pencampuran
bahan baku dalam jumlah besar biasanya menggunakan alat bantu, misalnya serok sebagai
pengganti mesin pencampur (mixer). Untuk memperoleh hasil yang sempurna dan homogen
dan apabila biaya tersedia maka dianjurkan menggunakan mesin pencampur (mixer).

3. Pencetakan (Pelletizing)
Pembuatan pellet terdiri dari proses pencetakan, pendinginan dan pengeringan.
Perlakuan akhir terdiri dari proses sortasi, pengepakan dan pergudangan. Proses penting
dalam pembuatan pellet adalah pencampuran (mixing), pengaliran uap (conditioning),
pencetakan (extruding) dan pendinginan (cooling).
Proses conditioning adalah proses pemanasan dengan uap air pada bahan yang
ditujukan untuk gelatinisasi agar terjadi perekatan antar partikel bahan penyusun sehingga
penampakan pellet menjadi kompak, durasinya mantap, tekstur dan kekerasannya bagus.
Proses conditioning ditujukan untuk gelatinisasi dan melunakkan bahan agar mempermudah
pencetakan. Disamping itu juga bertujuan untuk membuat pakan menjadi steril, terbebas dari
kuman atau bibit penyakit; menjadikan pati dari bahan baku yang ada sebagai perekat; pakan
menjadi lebih lunak sehingga ternak mudah mencernanya; menciptakan aroma pakan yang
lebih merangsang nafsu makan ternak.
Proses conditioning dilakukan dengan bantuan steam boiler yang uapnya diarahkan ke
dalam campuran pakan. Apabila penguapan dilakukan dengan mixer jenis beton molen,
proses penguapan dilakukan sambil mengaduk campuran pakan tersebut. Penguapan tidak
boleh dilakukan di atas suhu yang diizinkan, yaitu sekitar 80°C. Pengukusan dengan suhu
terlalu tinggi dalam waktu yang lama akan merusak atau setidaknya mengurangi kandungan
beberapa nutrisi dalam pakan, khususnya vitamin dan asam amino. Dalam proses pembuatan
pakan ayam ras pedaging, penguapan tidak mutlak diperlukan. Selama proses kondisioning
terjadi penurunan kandungan bahan kering sampai 20% akibat peningkatan kadar air bahan
dan menguapnya sebagian bahan organik. Proses kondisioning akan optimal bila kadar air
bahan berkisar 15 – 18%.
Sistem kerja mesin pencetak sederhana adalah dengan mendorong bahan campuran
pakan di dalam sebuah tabung besi atau baja dengan menggunakan ulir (screw) menuju
cetakan (die) berupa pelat berbentuk lingkaran dengan lubang – lubang berdiameter 2 – 3
mm, sehingga pakan akan keluar dari cetakan tersebut dalam bentuk pellet. Kelemahan
sistem ini adalah diperlukannya tambahan air sebanyak 10 – 20% ke dalam campuran pakan,
sehingga diperlukan pengeringan setelah proses pencetakan tersebut. Penambahan air
dimaksudkan untuk membuat campuran atau adonan pakan menjadi lunak, sehingga bisa
keluar melalui cetakan. Jika dipaksakan tanpa menambahkan air ke dalam campuran, mesin
akan macet. Di samping itu, pellet yang keluar dari mesin pencetak biasanya kurang padat.