Anda di halaman 1dari 3

Nama : Ananda Azaria Febriana

NRP : 02111540000033

TUGAS REVIEW JURNAL “DIFFUSION FLAMES”

1) Plasma-Discharge Stabilization of Jet


Diffusion Flames
Wookyung Kim, Hyungrok Do, M. Godfrey Mungal, and Mark A. Cappelli
(IEEE TRANSACTIONS ON PLASMA SCIENCE, VOL. 34, NO. 6, DECEMBER 2006)
Pada jurnal ini membahas 3 jenis keluaran plasma yang tidak seimbang untuk
meningkatkan stabilitas pada kenaikan api pada methana-jet yaitu Discharges include
a single-electrode corona discharge {SECD}, asymmetric dielectric barrier discharge
{DBD} dan ultrashort repetitively pulsed discharge {USRD}. Pada penggunaan SECD
meningkatkan kestabilan api seiring dengan menurunnya daya simpan. Jika
dibandingkan dengan SECD, DBD lebih efektif dikarenakan memiliki peak discharge
paling tidak 5 kalinya dengan kondisi tidak terdapat dielectric berbeda dengan SECD
dimana mengumpamakan api sebagai elektroda dasar yang sebenarnya dan
keunggulan DBD lainnya adalah 3 kalinya dari kecepatan api laminar. Pada
penggunaan USRD didapatkan kenaikan 20 kalinya pada kecepatan api laminar dan
daya yang dipakai sebesar 15 W berbeda dengan daya yang dipakai pada DBD dan
SECD, dengan nilai sebesar 1 W dan 0,1 W. Discharge placement pada USRD
optimum saat posisi radial berada pada 1,6 d dan untuk analisis emisi pada plasma
didapatkan CN ≅388nm dan N2 ≅337nm dengan menggunakan perbedaan variasi
pada tegangan keluaran untuk kasus pure methane jet in air coflow. Optimum
disscharge placement in jet diffusion flame pada Z/Zst ~ 0,65 kasus kekurangan dimana
berkebalikan dengan dasar api pada Z/Zst = 1,14
2) Modeling of Extinction in Turbulent
Diffusion Flames by the Velocity-
Dissipation-Composition PDF Method
A. T. NORRIS*
Institute for Computational Mechanics in Propulsion, NASA Lewis Research Center, 22800 Cedar Point
Road,
Brookpark, OH 44142
S. B. POPE
Sibley School of Mechanical and Aerospace Engineering, Cornell University, Ithaca, NY14853

Pada jurnal ini membahas dissipation and composition mengambil kasus pada a
piloted turbulent, CO/H2/N2-air diffusion flame investigated, dan menggunakan 5
variasi pada bulk fuel yang besarnya masing masing adalah 98,0. 131,0. 147,0. 155,0.
164,0 m/s. Reaksi kimia pada eksperimen ini menggunakan metode intrinsic low-
dimensional manifold {ILDM} dimana tingkat keakuratan untuk mengurangi
mekanisme sistem kimia penuh bergantung pada angka variabel yang di kontrol dan
tingkat kemurnian dapat dilihat pada tabel. Pada model pdf eksperimen ini didapatkan
dari plot titik yang acak pada pdf data dimana data eksperimen hampir sama dengan
data pdf. Tetapi tidak menuntut kemungkinan terjadinya perbedaan dimana data
eksperimen lebih baik dibandingkan dengan data pdf, ini dikarenakan oleh 3 faktor
yaitu experimental error, differential diffusion dan deficiencies in the mixing model.
Dimana dari hasil percobaan didapatkan kesimpulan bahwa kandungan local
extinction yang sedikit dapat diprediksi pada meode pdf ini untuk flames with jet
velocity dengan 10% of the extinction velocity dimana eksperimen tidak terbukti/ada.
Asumsi perbedaan difusi pada percobaan ini diabaikan sehingga menyebabkan
terjadinya local extinction. Walaubegitu, derajat titik acak yang berada pada data
ekperimen tidak bergantung pada kandungan local extinction yang sedikit. Metode
ILDM digunakan dalam kehidupan nyata untuk aliran turbulen dan terbukti baik.
3) Effect of hydrogen and helium addition
to fuel on soot formation in an
axisymmetric coflow laminar methane/air
diffusion flame
Fengshan Liu a, Yuhua Ai b,*, Wenjun Kong b
aMeasurement Science and Standards, National Research Council, Building M-9, 1200 Montreal Road,
Ottawa,
Ontario K1A 0R6, Canada
b Institute of Engineering Thermophysics, Chinese Academy of Sciences, 11 Beisihuanxi Road, Beijing
100190, China
Pada jurnal ini membahas tentang efek penambahan cairan kimia hidrogen dan
helium untuk mengurangi soot (gas buang) pada axisymmetric coflow laminar
methane/air diffusion flame dengan menggunakan model PAH dan HACA sebagai
mekanisme untuk pertumbuhan permukaan dan oksidasinya, didapatkan hasil berupa
penambahan zat helium jauh lebih efektif dibandingkan dengan penambahan hidrogen
dalam mengurangi soot pada methane/air diffusion flame, dikarenakan dalam
penambahan hidrogen memiliki dilution effect meskipun hydrogen lebih ramah
lingkungan. Didalam eksperimen ini didapatkan kesimpulan bahwa penambahan
hidrogen menyebabkan tinggi api yang lebih dari pada sebelumnya, sedangkan pada
penambahan helium tidak berdampak pada tinggi api. Penambahan hidrogen
menyebabkan kenaikan suhu terjeda sedangkan penambahan helium sedikit
mengalami penurunan. Penambahan zat kimia hidrogen maupun helium menyebabkan
pembentukan gas buang methana tertekan sedangkan penambahanhelium jauh lebih
efektif. Dan kesimpulan terakhir pada jurnal ini adalah perbedaan penambahan zat
kimia hidrogen pada pembentukan gas buang untuk pembakaran methane dan ethylene
diffusion flames menyebabkan perbedaan pada inti soot dengan tahapan pembuatan
soot yang terlalu cepat.