Anda di halaman 1dari 13

STABILISASI TANAH DENGAN MEMANFAATKAN SERUTAN KAYU

DAN POLYACRYLAMIDE UNTUK LERENG JALAN YANG MUDAH


TEREROSI
(SOIL STABILITATIONS USING WOOD SHAVINGS AND
POLYACRYLAMIDE FOR ERODIBLE’S ROAD SLOPE)
Asep Sunandar1), Sri Yeni Mulyani2)
1)2)
Pusat Litbang Jalan dan Jembatan
1)2)Jl.
A.H. Nasution 264 Bandung 40294
e-mail: 1) asep.sunandar@pusjatan.pu.co.id, 2) yeni.mulyani@pusjatan.pu.co.id
Diterima: 20 Juli 2017; direvisi: 17 November 2017; disetujui: 5 Desember 2017.

ABSTRAK
Di Indonesia, erosi pada lereng jalan mencapai 120-400 ton/ha per tahun. Hal ini berdampak negatif seperti
kerusakan infrastuktur jalan dan kecelakaan. Stabilisasi tanah dengan memamfaatkan serutan kayu dan
polyacrilamide dalam campuran hydroseeding diharapkan dapat menurunkan erosi terutama pada permukaan
lereng jalan. Stabilisasi ini dapat mengubah sifat fisika tanah yaitu menurunkan bobot isi, meningkatkan
porositas, meningkatkan kemantapan agregat, dan C-organik. Tujuan makalah ini, membahas kombinasi terbaik
antara serutan kayu dan polyacrilamide dalam campuran hydroseeding. Penelitian dilakukan dalam skala
laboratorium. Parameter fisika tanah yang diukur, dianalisis dengan Analisis Rancangan Acak Kelompok Pola
Faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah serutan kayu dengan empat taraf yaitu 0 g/m2, 250 g/m2,
350 g/m2, 450 g/m2. Faktor kedua adalah polyacrilamide dengan empat taraf yaitu 0 g/m2, 1 g/m2, 2 g/m2, 3 g/m2
dengan pengulangan tiga kali. Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi terbaik antara serutan kayu dan
polyacrilamide memberikan hasil yang berbeda-beda untuk bobot isi, porositas, kemantapan agregat dan C-
organik tanah. Kombinasi 350 g/m2 serutan kayu dengan polyacrilamide 2 g/m2 memberikan hasil yang terbaik
terhadap bobot isi dan porositas tanah. Kombinasi serutan kayu 450 g/m2 dengan polyacrilamide 2
g/m2memberikan hasil yang terbaik terhadap kemantapan agregat tanah. Kombinasi serutan kayu 450 g/m2
dengan polyacrilamide 3 g/m2 memberikan hasil yang terbaik terhadap C-organik tanah.
Kata Kunci: erosi, hydroseeding, bobot isi, kemantapan agregat tanah, porositas tanah dan C-organik tanah.

ABSTRACT
In Indonesia, sheet erosion on road slope has reached 120-400 ton ha/ year. This condition caused negative
effect on road infrastructure damage and road user safety. Soil stabilization using wood shavings and
polyacrylamide in the hydroseeding mixture is expected to reduce sheet erosion on road slopes. The stabilization
could change land physical properties by reducing soil bulk density, increasing soil porosity, soil aggregate
stability and soil C-organic. This research paper aims to discus the best combination of wood shavings and
polyacrylamide in hydroseeding. The reserch was conducted in the laboratory. Parameter of soil physical
properties were measured and analysed using Factorial Randomized Block Design with two factors. The first
factor is wood shavings with four levels i.e. 0 g/m2, 250 g/m2, 350 g/m2, 450 g/m2 and the second is
polyacrylamide with four levels i.e. 0 g/m2, 1 g/m2, 2 g/m2, 3 g/m2 with three times repetitions. Results shows that
the best combination of wood shavings and polyacrylamide in hydroseeding mixture gives variation in terms of
soil bulk density, soil porosity, aggregate stability, and soil C-organic. The combination of 350 g/m2 of wood
shavings with polyacrylamide 2 g/m2 gives the best result in terms of bulk density and porosity of the soil. The
combination of wood shavings 450 g/m2 with polyacrylamide 2 g/m2 gives the best result in terms of aggregate
stability. The combination of wood shavings 450 g/m2 with polyacrylamide 3 g/m2 gives the best results on the C-
organic soil.
Keywords: erosion, hydroseeding, soil bulk density, soil agregate stability, porosity of the soil and soil C-
organic

Stabilisasi Tanah dengan Memanfaatkan Serutan Kayu


dan Polyacrylamide untuk Lereng Jalan yang Mudah Tererosi (Asep Sunandar, Sri Yeni Mulyani) 91
PENDAHULUAN hydroseeding. Hydroseeding merupakan teknik
penanaman yang sudah diterapkan pada skala
Di Indonesia, erosi pada lereng jalan luas, terutama untuk merehabilitasi tepi-tepi
mencapai 120-400 ton/ha per tahun (Pusjatan konstruksi jalan dan lahan bekas tambang.
1991). Hal ini akan mengakibatkan dampak Teknik penanaman hydroseeding adalah teknik
seperti gangguan drainase jalan sehingga akan penyemprotan material hydroseeding yang
merusak prasarana dan sarana jalan dan terdiri dari campuran antara biji, mulsa, pupuk,
keselamatan pengemudi. Peristiwa erosi ini bahan pemantap tanah dan air.
dapat terjadi pada jenis tanah inceptisol yang Mulsa dalam campuran hydroseeding
banyak ditemukan di Indonesia, seperti di yang digunakan adalah mulsa organik.
Pulau Sumatera, Jawa, Bali, NTT, Kalimantan Penggunaan mulsa organik berfungsi
dan Papua (Munir 1996). Tanah inceptisol mempertahankan agregat tanah dari hantaman
adalah tanah aluvial muda yang sangat air hujan, memperkecil erosi permukaan tanah,
berpotensi terjadi erosi. Sebagian besar mencegah penguapan air dan melindungi tanah
Inceptisol menunjukkan kelas besar butir dari terpaan sinar matahari serta menekan
berliat dengan kandungan liat cukup tinggi pertumbuhan gulma. Mulsa dapat
(35-78 %), tetapi sebagian termasuk memperbaiki sifat fisika tanah terutama
berlempung halus dengan kandungan liat lebih struktur tanah sehingga memperbaiki stabilitas
rendah (18-35 %). Reaksi tanah masam sampai agregat tanah (Thomas, Franson, and
agak masam (pH 4,6-5,5), sebagian khususnya Bethelenfalvay 1993).
pada Eutrudepts reaksi tanahmya lebiih tinggi, Bahan pemantap tanah dalam campuran
agak masam sampai netral (pH 5,6-6,8). hydroseeding berfungsi memperbaiki sifat
Kandungan bahan organik sebagian rendah fisika tanah yaitu memperbaiki struktur tanah,
sampai sedang dan sebagian lagi sedang peredaran udara tanah, kapasitas tukar kation
sampai tinggi. Kandungann lapisan atas selalu tanah, kapasitas penyangga tanah, kapasitas
lebih tinggi daripada lapisan bawah, dengan penahan air tanah dan merupakan sumber
rasio C/N tergolong rendah (5-10) sampai energi bagi mikroorganisme (Arsyad 2000).
sedang (10-18) (Indonesia 2000). Hasil penelitain Yang et al. (2011)
Erosi pada dasarnya terjadi akibat menunjukkan bahwa kombinasi
adanya interaksi kerja beberapa faktor, yang polyacrilamide (PAM) dan tekstur tanah yang
salah satunya adalah faktor tanah. Berbagai terbaik dalam meningkatkan infiltrasi dan
tipe tanah mempunyai kepekaan terhadap erosi mengurangi erosi adalah PAM 14 Mg mol dan
yang berbeda-beda. Kepekaan erosi tanah pasir liat 30 %, PAM 6 Mg mol dan lempung
adalah mudah tidaknya tanah tererosi, yang berdebu 30 %. Begitu juga dengan hasil
merupakan fungsi dari berbagai interaksi sifat- penelitian Lee et al. (2011) menunjukan bahwa
sifat fisika dan kimia tanah. Sifat-sifat tanah PAM 40 kg/ha dapat mengurangi erosi sebesar
yang mempengaruhi kepekaan erosi yaitu: 72 %. Hal ini diperkuat dengan hasil
1. Laju infiltrasi, permeabilitas, porositas dan penelitian yang dilakukan oleh Zhang dan
kapasitas menahan air, Miller (1996) dalam Arsyad (2000) dimana
2. Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi setelah simulasi hujan pertama laju infiltrasi
ketahanan strutur tanah terhadap dispersi tanah yang diberi PAM lebih tinggi
dan pengikisan oleh butir-butir hujan yang dibandingkan dengan tanpa PAM. Laju aliran
jatuh dan aliran permukaan. permukaan, koefisien aliran permukaan,
Menurut Arsyad (2000), beberapa sifat konsentrasi sedimen dan laju erosi tanah yang
tanah yang mempengaruhi erosi adalah tekstur, diberi PAM lebih rendah dibandingkan dengan
struktur, porositas, bobot isi, bahan organik, tanpa PAM. Begitu juga Faucette et al. (2007)
kedalaman, sifat lapisan tanah, dan tingkat menyatakan bahwa kombinasi PAM dan mulsa
kesuburan tanah. serutan kayu dapat mengurangi erosi sebesar
Masalah erosi pada lereng jalan perlu 60 %.
dilakukan penanganan, salah satu metoda Penelitian Kusminingrum dkk (2014)
penanganannya adalah dengan menggunakan menunjukkan bahwa kombinasi campuran

92 Jurnal Jalan-Jembatan, Volume 34 No. 2 Juli-Desember 2017: 91-103


hydroseeding terbaik adalah serutan kayu 350 sudah banyak dilakukan di lingkungan lahan-
g/m2, PAM 3 g/m2, rumput signal 22 g/m2, lahan bekas pertambangan, namun demikian
pupuk organik 500 g/m2 yang mempunyai untuk lereng jalan masih relatif sedikit. Salah
kemampuan melekatkan campuran satu contoh penanganan erosi permukaan
hydroseeding dan penutupan mulsa. Penelitian lereng jalan yang telah dilakukan adalah di
ini sudah menunjukkan kinerja campuran ruas jalan Tol Cipularang, Lingkar Gentong
hydroseeding, dimana pada penutupan tanah dan Lingkar Nagreg. Penerapan di Lingkar
oleh tanaman sudah mencampai minimal 60 % Gentong dan Nagreg masih dalam lingkup uji
maka besarnya erosi dapat diturunkan sampai coba skala lapangan, dimana pada lokasi
minimal 90 %. Namun demikian pengaruh tersebut tekhnologi hydroseeding
terhadap sifat fisika tanah belum diungkapkan, menunjukkan kinerja yang baik, yang
padahal sifat fisika tanah berpengaruh terhadap diindikasikan dengan semakin kecilnya tanah
ketahanan tanah terhadap erosi. yang tererosi pada petak-petak uji coba yang
Berdasarkan uraian tersebut, perlu diterapkan. Hal ini didukung dengan hasil
adanya penelitian untuk mengetahui komposisi percobaan skala laboratorium, dimana pada
mulsa serutan kayu dan PAM yang tepat dalam penutupan tanah oleh tanaman minimal 60 %,
campuran hydroseeding. Karakteristik fisika erosi permukaan dapat direduksi hingga
tanah yang ditinjau dibatasi pada parameter mendekati 90 % (Sunandar 2013).
bobot isi, porositas, stabilitas agregat dan C-
organik tanah. Adanya perbaikan sifat fisika Pengertian hydroseeding
tanah tersebut, diperkirakan dapat Hydroseeding adalah proses penanaman
meningkatkan kemampuan tanah untuk dengan menggunakan campuran antara biji,
menurunkan besarnya erosi permukaan tanah, mulsa, pupuk, bahan pemantap tanah dan air.
termasuk lereng jalan. Campuran tersebut diangkut dalam tanki atau
truk dan disemprotkan di atas lahan yang telah
KAJIAN PUSTAKA dipersiapkan. Hydroseeding merupakan
alternatif dari proses penanaman biji tanaman
Permukaan tanah
Permukaan tanah seperti pada lereng secara tradisional, yang memiliki kelebihan
jalan yang memiliki dua elevasi yang berbeda dalam percepatan berkecambah biji tanaman
dengan membentuk sudut mudah tererosi dan dapat mengurangi erosi (Sunandar 2013).
(Indonesia 1991). Perbedaan elevasi pada Evaluasi pendahuluan terhadap kondisi
permukaan tanah seperti lereng dapat lahan perlu dilakukan guna memilih material
mengakibatkan pergerakan massa tanah dari campuran Hydroseeding yang tepat salah
bidang dengan elevasi yang tinggi menuju satunya adalah menggunakan bahan limbah
bidang dengan elevasi yang rendah. serutan kayu. Keberhasilan hydroseeding
Pergerakan ini diakibatkan oleh gravitasi, selain bahan media serutan kayu juga
aliran air dan gaya gempa. Pergerakan atau mengevaluasi kondisi lahan tersebut yaitu
gaya tersebut akan menghasilkan gaya geser kondisi tanah, topografi lahan, cuaca dan
yang berfungsi sebagai gaya penahan dan iklim, tipe vegetasi, sensitivitas areal dan
apabila berat massa tanah yang bekerja sebagai ketersediaan air. Hydroseeding merupakan
gaya pendorong itu lebih besar dari tegengan pilihan yang paling ekonomis dalam hasil
geser tersebut maka akan mengkibatkan erosi. pertumbuhan yang diinginkan tanpa
Sebuah lereng dikatakan stabil apabila mengkonsumsi biaya, waktu, dan material
lereng tersebut tidak mengalami erosi. Salah yang besar.
satu faktor yang menyebabkan ketidakstabilan Serutan kayu
lereng adalah kenaikan tekanan air pori, Serutan kayu merupakan salah satu
hilangnya sementasi material. produk limbah proses industri kayu. Serutan
Permasalahan tersebut dapat ditangani kayu adalah substrat yang memiliki rongga
dengan memanfaatkan metode/teknologi udara yang lebih besar dibandingkan dengan
mekanik, kimia, dan vegetatif. Salah satu sekam padi dan jerami. Menurut Junianto
metode vegetatif adalah dengan hydroseeding (2003), substrat serutan kayu memiliki berat
yang tepat. Penerapan teknologi hydroseeding jenis yang lebih besar dari sekam padi, tekstur

Stabilisasi Tanah dengan Memanfaatkan Serutan Kayu


dan Polyacrylamide untuk Lereng Jalan yang Mudah Tererosi (Asep Sunandar, Sri Yeni Mulyani) 93
yang seragam dan baik. Selain itu, unsur-unsur berpengaruh positif terhadap penggurangan
kimia yang terkadung dalam serutan kayu kepekaan tanah terhadap erosi. Menurut
terdiri dari C (49-50 %), H 6 %, O (44-45 %) Kartasapoetra (1985), bahan pemantap tanah
dan N (0,1-1 %) (Istikowati 2011). membentuk struktur tanah dengan pori atau
Serutan kayu yang digunakan dalam ruang udara di dalam tanah di antara agregat
campuran hydroseeding berfungsi sebagai sehingga mencapai kestabilan. Bahan
mulsa. Mulsa berfungsi sebagai bahan organik pemantap tanah ini dapat memperbaiki sifat
dalam tanah yang berperan sebagai unsur hara, fisik tanah antara lain meningkatkan pori tanah
memperbaiki tanah, drainase tanah, peredaraan dan kestabilan agregat tanah.
udara tanah, kapasitas tukar kation tanah, Dari uraian di atas, terlihat bahwa
kapasitas penyangga tanah, kapasitas penahan permasalah erosi pada permukaan tanah harus
air dan merupakan sumber energi bagi ditangani. Teknologi hydroseeding dengan
mikroorganisma (Mulyatri 2003). Mulsa dalam menggunakan campuran serutan kayu dan
campuran hydroseeding dapat membantu PAM menjadi salah satu alternatif penanganan,
pengendalian erosi yang cukup efektif karena dimana serutan kayu dan PAM secara partial
dapat memperbaiki sifat fisika tanah yaitu sangat berperan dalam memperbaiki sifat fisika
menjaga kestabilan suhu tanah, meningkatkan tanah yang pada akhirnya dapat menurunkan
aerasi dan permeabilitas tanah (Yuwono dan besarnya erosi permukaan.
Rosmarkan 2002).
HIPOTESIS
PAM
PAM adalah sejenis bahan pemantap Kombinasi terbaik antara serutan kayu
tanah polymer non-hidrophobik, mempunyai dengan PAM dalam campuran hydroseeding
bagian aktif amide yang mengikat bagian- terhadap bobot isi, dapat menghasilkan
bagian OH pada butir liat melalui ikatan peningkatan kestabilan suhu tanah,
hidrogen (Arsyad 2000). PAM merupakan meningkatkan aerasi dan permeabilitas tanah
bahan yang larut dalam air, bahan tersebut agregat, porositas, dan C-organik tanah.
dipasaran telah dipakai secara luas untuk
memperbaiki struktur tanah (Sarief 1998). METODOLOGI
Bahan-bahan polimer yang dapat dipakai Penelitian ini dilakukan melalui uji coba
sebagai bahan pemantap tanah yang baik harus laboratorium terhadap karakteristik fisika
memiliki sifat bahan tersebut adesif (melekat), tanah sebelum dan sesudah diberi campuran
dapat bercampur dan menyebar dengan tanah serutan kayu dan PAM. Pengumpulan data
secara merata, dapat membentuk agregat tanah fisika tanah awal, serutan kayu dan PAM
yang mantap dengan air, tidak bersifat racun dilakukan melalui data sekunder, sedangkan
dan harganya murah. Pemakaian bahan data fisika tanah setelah perlakuan dilakukan
pemantap tanah dapat dilakukan dengan cara melalui pengamatan atau pengujian
penerapan langsung di permukaan tanah, laboratorium. Untuk membukti-kan kombinasi
dicampur dengan tanah dan pemakaian terbaik antara serutan kayu dan PAM dalam
setempat/lubang (Sarief 1998). campuran hydroseeding terhadap sifat fisika
Pemberian bahan pemantap tanah akan tanah, metode penelitian yang digunakan
mempunyai pengaruh yang sangat besar adalah Analisis Rancangan Acak Kelompok
terhadap stabilitas agregat tanah. Pengaruhnya (RAK) pola faktorial dengan dua faktor. Faktor
bertahan dalam jangka lama karena senyawa pertama adalah mulsa serutan kayu dan fakor
tersebut tahan terhadap serangan mikroba kedua adalah PAM, masing-masing terdiri dari
tanah Arsyad (2000). Selain itu, pengaruh empat taraf faktor yang diulang sebanyak tiga
pemberian PAM dalam perbaikan struktur kali. Total seluruh perlakuan 4x4x3 = 48 pot
tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu; percobaan. Adapun rancangan perlakukan
berat molekul polymer, kandungan air tanah dalam penelitian ini menggunakan dua faktor
yang optimum, dan konsentrasi emulsi. perlakuan dengan empat taraf faktor, sebagai
Pemantap tanah dalam campuran berikut:
hydroseeding ini bermanfaat untuk Faktor pertama adalah serutan kayu (S) dengan
menstabilkan struktur tanah sehingga empat taraf faktor :

94 Jurnal Jalan-Jembatan, Volume 34 No. 2 Juli-Desember 2017: 91-103


s0 = tanpa serutan kayu Yijk = µ + αi + βj + (αβ)ij + ρk + εijk
s1 = mulsa serutan kayu 15,73 g/pot (250 I = 1, 2,…, r; j = 1, 2,..., a; k =1, 2, ..., b
g/m2)
Keterangan:
s2 = mulsa serutan kayu 22,02 g/pot (350 = Pengamatan pada satuan percobaan
Yijk
g/m2) ke-i yang memperoleh kombinasi
s3 = mulsa serutan kayu 28,31 g/pot (450 perlakuan taraf ke-j dari faktor A
g/m2) dan taraf ke-k dari faktor B
Faktor kedua adalah PAM (P) dengan empat µ = Rataan umum
taraf faktor: Αi = Pengaruh taraf ke-i dari faktor A
p0 = tanpa PAM (Serutan Kayu)
p1 = PAM 0,06 g/pot (1 g/m2) Βj = Pengaruh taraf ke-j dari faktor B
p2 = PAM 0,13 g/pot (2 g/m2) (PAM)
p3 = PAM 0,19 g/pot (3 g/m2) (αβ)ij = Pengaruh taraf ke-i dari faktor A
dan taraf ke-j dari faktor B
Kombinasi perlakuan dapat dilihat pada Tabel ρk = Pengaruh taraf ke- k dari faktor
1 dibawah ini. kelompok

Tabel 1. Kombinasi perlakuan serutan kayu dan


εijk = Pengaruh acak dari satuan
percobaan ke-k yang memperoleh
PAM. kombinasi perlakuan ij. εijk ˜ N (0,
PAM (P) σ 2)
Serutan Kayu (S)
p0 p1 p2 p3
s0 s0p0 s0p1 s0p2 s0p3 Pengujian pengaruh perbedaan rata-rata
s1 s1p0 s1p1 s1p2 s1p3 perlakuan dilakukan dengan uji F pada taraf 5
s2 s2p0 s2p1 s2p2 s2p3 %. Jika terdapat perbedaan yang nyata di
s3 s3p0 s3p1 s2p2 s3p3 antara masing-masing perlakuan, maka
dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan
Masing-masing kombinasi tersebut (untuk menguji perbedaan diantara semua
ditambah pupuk dan biji rumput Signal dengan pasangan perlakuan yang mungkin tanpa
dosis/konsentrasi yang sama, sehingga tidak memperhatikan jumlah perlakuan) pada taraf 5
mempengaruhi terhadap sifat fisika tanah yang % (Gasperz 1991). Uji Jarak Berganda Duncan
diamati. Selanjutnya, pengamatan dilakukan ini didasarkan pada sekumpulan nilai beda
dalam penelitian ini meliputi: nyata yang ukurannya semakin besar
1) Pengamatan penunjang yang tidak di tergantung pada jarak antara pangkat-pangkat
analisis secara statistik yaitu: dari dua nilai tengah yang dibandingkan.
a. Analisis tanah awal. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah
b. Analisis fisik dan kimia serutan gergaji. Kaca Pusat Litbang Jalan dan Jembatan
c. Analisis fisik dan kimia Polyacrilamide. Bandung yang berada pada ketinggian 791
2) Pengamatan utama yang di analisis secara meter di atas permukaa laut, dari bulan
statistik, yaitu: Desember 2014 sampai dengan Maret 2015.
a. Bobot isi (g/cm3) dengan metode uji Analisis tanah dilakukan di Laboratorium
bongkahan. Konservasi dan Fisika Tanah, serta
b. Stabilitas agregat tanah dengan metode Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah,
uji loveday. Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya
c. Porositas tanah (%) dengan metode uji Lahan, Fakultas Pertanian, Universitas
gravimetrik. Padjadjaran.
d. C-organik (%) dengan uji metode Bahan-bahan yang digunakan dalam
Wallkey dan Black. penelitian ini adalah tanah inceptisol berasal
Rancangan analisis yang digunakan dari Lingkar Gentong Tasikmalaya, serutan
dalam penelitian ini adalah Model Linier kayu, PAM, biji rumput Signal, pupuk kandang
Rancangan Acak Kelompok Pola Faktorial. dan air.
Menurut Gomez dan Gomez (1995), model
linier tersebut adalah sebagai berikut:

Stabilisasi Tanah dengan Memanfaatkan Serutan Kayu


dan Polyacrylamide untuk Lereng Jalan yang Mudah Tererosi (Asep Sunandar, Sri Yeni Mulyani) 95
HASIL DAN ANALISIS 2) Karakteristik mulsa serutan kayu
Karakteristik fisika dan kimia serutan
Pengamatan penunjang
kayu dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4.
Pengamatan penunjang dilakukan dari
Dari tabel tersebut terlihat bahwa secara sifat
hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan
fisika serutan kayu yang digunakan untuk
oleh Pusjatan (2015). Parameter penunjang
campuran hydroseeding adalah yang memiliki
yang diamati adalah karakteristik tanah awal,
panjang serat 0,998 mm, diameter serat 24,20
karakteristik fisika dan kimia mulsa serutan
µm, panjang serutan kayu 0,5 cm, dan massa
kayu dan PAM.
jenis 0,384 g/cm3. Parameter sifat fisika ini
1) Karakteristik tanah awal terkait dengan disain alat hydroseeder, supaya
Karakteristik tanah awal (Inceptisol alat tersebut dapat didesain sesuai dengan
berasal dari Lingkar Gentong Tasikmalaya) ukuran dari serutan kayu tersebut, serta massa
memiliki bobot isi tanah 1,29 g/cm3, jenis yang ringan ini memudahkan
kemantapan agregat 15, porositas tanah 51 % pencampuran bahan pada waktu aplikasi di
dan C-organik 0,5 %, selengkapnya lapangan.
ditampilkan pada Tabel 2. Dari tabel 2
Tabel 3. Karakteristik fisik serutan kayu
tersebut menunjukkan bahwa tanah tersebut No Parameter Satuan Nilai
memiliki sifat fisika tanah yang kurang baik. 1 Panjang Serat mm 0,998
Tanah ini mempunyai nilai bobot isi tanah 2 Diamater Serat µm 24,20
yang tinggi, yaitu 1,29 g/cm3. Tingginya bobot 3 Panjang serutan kayu cm 0,5
isi tanah tersebut disebabkan karena tanah 4 Massa Jenis g/cm3 0,384
sudah mengalami pemadatan untuk lereng Sumber: Pusjatan (2015)
jalan, sesuai dengan spesifikasi penguatan
tebing nomor 11/S/BNKT/1991. Nilai Tabel 4. Karakteristik kimia serutan kayu
kemantapan agregat tanah ini sangat rendah No Parameter Satuan Nilai Kriteria*)
(sangat tidak mantap) yaitu 15. Kondisi ini 1. C-organik % 32,81 Sangat
tinggi
akan mengakibatkan struktur tanah mudah
2 C/N 96,50 Sangat
hancur bilamana terkena pukulan butiran tinggi
hujan. Selain itu dapat menyebabkan pori-pori 3 pH 5,07 Agak
tanah tersumbat oleh partikel-partikel agregat Masam
yang hancur sehingga tanah mudah memadat 4 N % 0,34 Sangat
dan tanah akan mudah tererosi (Soepardi tinggi
1983). Menurut Utomo (1985), proses erosi Sumber: Pusjatan (2015)
bermula dengan terjadinya penghancuran
agregat-agregat tanah sebagai akibat pukulan Kandungan organik (C-organik) yang
air hujan yang mempunyai energi lebih besar terkandung dalam serutan kayu cukup tinggi
daripada daya tahan tanah. Nilai porositas yaitu 32,81 %. Kandungan organik ini sangat
tanah tergolong tinggi yaitu 51 %, artinya berperan dalam hal memperbaiki sifat fisika
tanah mempunyai ruang pori untuk pergerakan tanah, meningkatkan aktivitas biologi tanah
air dan udara bebas bergerak secara leluasa serta meningkatkan ketersediaan unsur hara
dalam tanah (Hanafiah 2005). Nilai C-organik tanaman.
yang rendah yaitu 0,5 %. C-organik tanah
sangat berpengaruh terhadap kesuburan dan 3) PAM
produksi biomassa. Karakteristik fisika dan kimia PAM
dapat dilihat pada Tabel 5 dan Tabel 6. Dari
Tabel 2. Karakteristik tanah awal tabel tersebut terlihat bahwa PAM berwarna
No Parameter Satuan Nilai Kriteria*)
putih, berat jenisnya 0,77 g/cm3 dan bentuknya
1. Bobot Isi g/cm3 1,29 Tinggi
2. Kemantapan 15 serbuk. PAM yang dipilih berwarna dasar putih
Rendah setelah dicampur air menjadi bening. Berat
Agregat Tanah
3. Porositas % 50 Tinggi jenis PAM ringan dan bentuknya serbuk,
Tanah supaya lebih memudahkan dalam
4. C- Organik % 0,50 Sangat
rendah
pencampuran bahan pada saat aplikasi di
Sumber: Pusjatan (2015)

96 Jurnal Jalan-Jembatan, Volume 34 No. 2 Juli-Desember 2017: 91-103


lapangan dengan alat hydroseeding yang Tabel 7. Bobot isi tanah
digunakan. Bobot Isi Tanah (g/cm3)
No Perlakuan
1 2 3
Tabel 5. Karakteristik fisika PAM 1 s0p0 1,26 1,25 1,28
No Parameter Satuan Nilai 2 s0p1 0,86 0,89 0,87
1 Warna Putih 3 s0p2 0,84 0,85 0,85
2 Berat Jenis g/cm3 0,77 4 s0p3 0,83 0,83 0,76
3 Bentuk Serbuk 5 s1p0 1,01 1,02 1,23
Sumber: Pusjatan (2015) 6 s1p1 0,85 0,89 0,85
7 s1p2 0,82 0,78 0,83
Tabel 6. Karakteristik kimia PAM 8 s1p3 0,78 0,75 0,73
No Parameter Satuan Nilai Kriteria*) 9 s2p0 0,89 0,89 0,85
1. C-Organik % 14,77 Sangat 10 s2p1 0,78 0,85 0,87
tinggi 11 s2p2 0,69 0,70 0,68
2 C/N 3,68 Sangat 12 s2p3 0,71 0,70 0,71
tinggi 13 s3p0 0,89 0,87 0,83
3 pH 8,11 Agak 14 s3p1 0,74 0,84 0,83
Masam 15 s3p2 0,71 0,71 0,70
4 N % 4,20 Sangat 16 s3p3 0,70 0,70 0,69
tinggi
Sumber: Pusjatan (2015) Selanjutnya dari tabel di atas dilanjutkan
analisis statistik taraf Uji Berganda Duncan 5
Selain itu dari sifat kimia, PAM % guna mengetahui interaksi antara serutan
memiliki C-organik sangat tinggi (14,77 %) , kayu dan PAM dalam campuran hydroseeding
C/N sangat rendah (1,04 %), pH yang alkalis terhadap bobot isi tanah. Hasil analisis dapat
(8,11), dan N sangat tinggi (4,20). Hal ini dilihat pada Tabel 8.
sesuai dengan persyaratan pembenah tanah
menurut Peraturan Menteri Pertanian nomor 28 Tabel 8. Pengaruh interaksi antara serutan kayu
tahun 2009. dengan PAM terhadap bobot isi tanah
Serutan PAM (g/pot)
Pengamatan utama Kayu p0 p1 (0,06 ) p2(0,13) p3(0,19
Karakteristik utama dari sifat tanah yang (g/pot) )
diamati dalam penelitian ini adalah bobot isi s0(0) 1,26 (a) 0,87 (a) 0,85(a) 0,81(a)
tanah, kemantapan agregat tanah, porositas A B C D
tanah dan C-organik tanah. s1(15,73) 1,09 (b) 0,86 (a) 0,81(a) 0,75(a)
A B C D
1) Bobot isi tanah
s2 (22,02) 0,88(c) 0,83 (a) 0,69(b) 0,71(a)
Hasil pengujian bobot isi tanah untuk A B D C
masing-masing perlakuan dapat dilihat pada s3(28,31) 0,86(d) 0,80(a) 0,71(a) 0,70(a)
Tabel 7. Dari tabel tersebut terlihat bahwa A B D D
bobot isi tanah terendah terjadi pada perlakuan Keterangan:
S3P3 (rata-rata 0,69 g/cm3) dan bobot isi Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda
tertinggi terjadi pada perlakuan S0P0 (rata-rata nyata pada taraf Uji Berganda Duncan 5 %. Huruf kecil
dalam kurung dibaca arah vertikal dan huruf tanpa
1,26 g/cm3). Hardjowigeno (2002) menyatakan kurung dibaca arah horizontal.
bahwa bobot isi menunjukkan perbandingan
antara berat tanah kering dengan pori-pori 2) Kemantapan kestabilan tanah
tanah. Bobot isi tanah digunakan untuk menilai Hasil pengujian kemantapan tanah untuk
kepadatan suatu tanah, semakin padat suatu masing-masing perlakuan dapat dilihat pada
tanah, maka semakin tinggi bobot isinya yang Tabel 9. Dari tabel tersebut terlihat bahwa
berarti semakin sulit ditembus akar tanaman. kemantapan tanah terendah terjadi pada
perlakuan S3P3 (rata-rata 9) dan kemantapan
tanah tertinggi terjadi pada perlakuan S0P0
(rata-rata 15). Menurut penilaian kemantapan
agregat tanah, nilai indeks 9 masuk dalam
katagori sedang atau agak mantap, sedangkan

Stabilisasi Tanah dengan Memanfaatkan Serutan Kayu


dan Polyacrylamide untuk Lereng Jalan yang Mudah Tererosi (Asep Sunandar, Sri Yeni Mulyani) 97
nilai indeks 15 masuk dalam katagori sangat 3) Porositas tanah
rendah (tidak mantap) Arsyad (2000). Hasil pengujian porositas tanah untuk
Kemantapan mempengaruhi ketahanan tanah masing-masing perlakuan dapat dilihat pada
terhadap pukulan air hujan. Semakin tinggi Tabel 11. Dari tabel tersebut terlihat bahwa
kemantapan tanah, maka akan makin sulit porositas tanah terendah terjadi pada perlakuan
tanah tersebut terpengaruhi oleh gaya S0P0 (rata-rata 52,33 %) dan porositas tanah
pengrusakan dari pukulan air hujan atau aliran tertinggi terjadi pada perlakuan S3P3 (rata-rata
air. 73,71 %). Porositas tanah adalah kemampuan
Dari Tabel 9, guna mengetahui interaksi tanah dalam menyerap air berkaitan dengan
antara serutan kayu dan PAM dalam campuran tingkatan kepadatan tanah. Semakin padat
hydroseeding terhadap kemantapan agregat tanah berarti semakin sulit untuk menyerap air,
tanah, dilakukan analisis statistik taraf Uji maka porositas tanah semakin kecil.
Berganda Duncan 5 %. Hasil analisis dapat Sebaliknya semakin mudah tanah menyerap
dilihat pada Tabel 10. air, maka tanah tersebut memiliki porositas
Tabel 9. Kestabilan tanah
tanah yang besar (Sarief 1998).
Kestabilan Tanah Tabel 11. Porositas tanah
No Perlakuan
1 2 3 Porositas Tanah (%)
No Perlakuan
1 s0p0 15 15 15 1 2 3
2 s0p1 14 14 14 1 s0p0 52,45 52,83 51,70
3 s0p2 13 13 13 2 s0p1 67,55 66,42 67,17
4 s0p3 13 13 13 3 s0p2 68,30 67,92 67,92
5 s1p0 13 13 13 4 s0p3 68,68 68,68 71,32
6 s1p1 13 13 13 5 s1p0 61,89 61,51 53,58
7 s1p2 12 12 12 6 s1p1 67,92 66,42 67,92
8 s1p3 11 11 11 7 s1p2 69,06 70,57 68,68
9 s2p0 12 12 12 8 s1p3 70,57 71,70 72,45
10 s2p1 11 12 11 9 s2p0 66,42 66,42 67,92
11 s2p2 10 10 11 10 s2p1 70,57 67,92 67,17
12 s2p3 9 10 9 11 s2p2 73,96 73,58 74,34
13 s3p0 11 12 11 12 s2p3 73,21 73,58 73,21
14 s3p1 10 10 10 13 s3p0 66,41 67,17 68,68
15 s3p2 9 9 10 14 s3p1 72,08 68,30 68,68
16 s3p3 9 9 10 15 s3p2 73,21 73,21 73,58
16 s3p3 73,58 73,58 73,96
Tabel 10. Pengaruh interaksi antara serutan kayu
dengan PAM terhadap kestabilan tanah Dari tabel diatas tersebut guna
Serutan PAM (g/pot) mengetahui interaksi antara serutan kayu dan
Kayu p0 p1 p2 p3 PAM dalam campuran hydroseeding terhadap
(g/pot) (0) (0,06) (0,13) (0,19) porositas tanah, selanjutnya dilakukan analisis
s0(0) 15 (a) 14 (a) 13(a) 13(a)
statistik taraf Uji Berganda Duncan 5 %. Hasil
A B C C
s1(15,73) 13 (b) 13 (b) 12(b) 11(b)
analisis dapat dilihat pada Tabel 12.
A A B C
s2 (22,02) 12(c) 11 (c) 10(c) 9(c)
A B C D
s3(28,31) 11(d) 10(d) 9(d) 9(c)
A B C C
Keterangan:
Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda
nyata pada taraf Uji Berganda Duncan 5 %. Huruf kecil
dalam kurung dibaca arah vertikal dan huruf tanpa
kurung dibaca arah horizontal.

98 Jurnal Jalan-Jembatan, Volume 34 No. 2 Juli-Desember 2017: 91-103


Tabel 12. Pengaruh interaksi antara serutan kayu Selanjutnya dari tabel di atas dilanjutkan
dengan PAM terhadap porositas tanah analisis statistik taraf Uji Berganda Duncan 5
(%) % guna mengetahui interaksi antara serutan
kayu dan PAM dalam campuran hydroseeding
terhadap C Organik Tanah. Hasil analisis dapat
dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Pengaruh interaksi antara Serutan Kayu


dengan PAM terhadap c-organik

Keterangan:
Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda
nyata pada taraf Uji Berganda Duncan 5 %. Huruf kecil
dalam kurung dibaca arah vertikal dan huruf tanpa
kurung dibaca arah horizontal.

4) C- organik Tanah
Hasil pengujian C-organik tanah Keterangan:
Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda
untuk masing-masing perlakuan dapat dilihat nyata pada taraf Uji Berganda Duncan 5 %. Huruf kecil
pada Tabel 13. Dari tabel tersebut terlihat dalam kurung dibaca arah vertikal dan huruf tanpa
bahwa C-organik tanah terendah terjadi pada kurung dibaca arah horizontal.
perlakuan S0P0 (rata-rata 0,87 %) dan C-
organik tanah tertinggi terjadi pada perlakuan PEMBAHASAN
S3P3 (rata-rata 2,65 %). C-organik tanah sangat
Dalam pembahasan ini, kombinasi
berperan dalam hal memperbaiki sifat fisika,
antara serutan kayu dan PAM dalam campuran
meningkatkan aktivitas biologi tanah serta
hydroseeding akan dibahas secara parsial
meningkatkan ketersedian unsur hara tanaman.
untuk setiap sifat fisika tanah (bobot isi,
Kadar C-organik tanah dipengaruhi oleh
porositas, kemantapan agregat dan C-organik
kedalaman, iklim, drainase dan pengolahan
tanah).
tanah. Bahan organik ditentukan kadarnya
melalui penetapan unsur karbon organik
Kombinasi terbaik antara serutan Kayu
(Hakim dkk. 1986).
dengan PAM terhadap bobot isi tanah
Hasil analisis statistik dwi arah antara
Tabel 13. C- organik tanah
C-organik Tanah (%)
serutan kayu dengan PAM dapat dilihat pada
No Perlakuan Tabel 8. Dari tabel tersebut terlihat bahwa
1 2 3
1 s0p0 0,85 0,98 0,77 kombinasi serutan kayu 22,09 g/pot (s2)
2 s0p1 0,87 0,98 0,96 dengan PAM 0,13 g/pot (p2) merupakan
3 s0p2 1,25 1,23 1,24 kombinasi terbaik untuk bobot isi, dimana
4 s0p3 1,34 1,36 1,38 perlakuan s2p2 berbeda nyata dengan kontrol
5 s1p0 0,87 0,88 0,89 s0p0. Penurunan bobot isi tanah ini dipengaruhi
6 s1p1 0,98 1,49 1,58 oleh interaksi bahan organik yang terkandung
7 s1p2 1,45 1,58 1,57 dalam serutan kayu dengan PAM. Sejalan
8 s1p3 1,58 1,60 1,62 dengan hasil penelitian Sarief (1998)
9 s2p0 0,90 0,93 0,95 menyatakan bahwa penurunan bobot isi tanah
10 s2p1 1,35 1,58 1,65 dipengaruhi banyak faktor, diantaranya bahan
11 s2p2 1,59 1,58 1,59
12 s2p3 1,79 1,78 1,75
organik tanah dan bahan pemantap tanah.
13 s3p0 0,98 1,28 1,24 Bahan organik yang terkandung dalam
14 s3p1 2,01 2,13 2,12 tanah, PAM dan serutan kayu berperan
15 s3p2 2,15 2,15 2,13 sebagai perekat partikel tanah sehingga
16 s3p3 2,63 2,48 2,84 agregasi tanah menjadi baik, ruang pori tanah
meningkat dan berat isi menurun. Hal ini

Stabilisasi Tanah dengan Memanfaatkan Serutan Kayu


dan Polyacrylamide untuk Lereng Jalan yang Mudah Tererosi (Asep Sunandar, Sri Yeni Mulyani) 99
sesuai dengan hasil penelitian Pravin et al. menghasilkan substansi organik yang berperan
(2013) menunjukkan bahwa kandungan bahan sebagai perekat dalam proses agregasi tanah.
organik tanah menentukan tinggi rendahnya Sejalan dengan Soepardi (1983), bahan
bobot isi tanah. Begitu juga dengan hasil organik berfungsi sebagai bahan pengikat
penelitian Brady, (2002) menyatakan bahwa partikel-partikel tanah. Menurut Arsyad
penambahan bahan organik dalam tanah dapat (2000), bahan pemantap tanah (PAM) dapat
menurunkan bobot isi tanah. Mariana (2006) digunakan untuk menstabilkan tanah, sehingga
menyatakan bahwa bahan organik bersifat mengurangi risiko erosi, meningkatkan
porus, ketika diberikan ke dalam tanah akan kapasitas tanah menahan air karena memiliki
menciptakan ruang pori di dalam tanah sifat hidrofobik atau hidrofilik, dan mampu
sehingga berat isi tanah menjadi turun. Ruang meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK)
pori tanah yang stabil akan memudahkan air tanah. Hal ini sejalan dengan Greacen (1981)
mengalir ke bawah dan diserap oleh matriks yang menyatakan bahwa semakin mantap
tanah sehingga kemampuan tanah menahan air tanah, penetrasi akar harus semakin besar
dapat meningkat. Bahan organik mempunyai karena pori-pori mikro yang terbentuk lebih
massa padatan lebih ringan dibanding padatan banyak dibanding pori meso dan pori makro.
mineral tanah sehingga akan berpengaruh pada Dari uraian di atas terlihat bahwa
berat isi tanah (Soepardi 1983). dalam campuran hydroseeding (serutan kayu
Bahan pemantap tanah dalam hal ini dan PAM) memiliki interaksi terhadap sifat
PAM dapat berperan dalam menurunkan bobot fisika tanah inceptisol melalui peningkatan
isi tanah. Hal ini sesuai dengan Sutono dan kestabilan tanah. Kondisi ini dapat
Abdurrachman (1997) bahwa bahan pemantap menurunkan besarnya erosi akibat tumbukan
tanah dapat memperbaiki sifat fisika tanah air hujan.
(agregasi tanah menjadi baik, ruang pori
meningkat dan bobot isi menurun), sehingga Kombinasi terbaik antara serutan kayu
dapat mendukung pertumbuhan akar tanaman dengan PAM terhadap porositas tanah (%)
yang berperan sebagai perekat partikel tanah. Hasil analisis statistik dwi arah antara
Dari uraian di atas terlihat bahwa dalam serutan kayu dengan PAM terhadap porositas
campuran hydroseeding (serutan kayu dan agregat tanah dapat dilihat pada Tabel 12. Dari
PAM) memiliki interaksi terhadap sifat fisika hasil statistik terlihat bahwa interaksi serutan
tanah inceptisol melalui penurunan bobot isi kayu 22,02 g/pot (s2) dan PAM 0,13 g/pot (p2)
tanah. Kondisi ini dapat menurunkan laju run merupakan kombinasi terbaik mengahasilkan
off (aliran permukaan) yang menyebabkan porositas tanah yang tinggi. Nilai porositas
erosi. tanah dikatakan optimal apabila lebih besar
dari 50 % (Hasanah 2009).
Kombinasi terbaik antara serutan kayu Penambahan bahan organik berupa
dengan pam terhadap kestabilan tanah serutan kayu kedalam campuran hydroseeding
Hasil analisis statistik dwi arah antara akan meningkatkan total ruang pori. Hal
serutan kayu dengan PAM terhadap kestabilan tersebut karena serutan kayu mengalami proses
tanah dapat dilihat pada Tabel 10. Dari hasil dekomposisi dan berangsur-angsur
analisis statistik tersebut terlihat bahwa menghasilkan humus. Interaksi humus dan
kombinasi yang terbaik adalah pemberian partikel tanah akan menciptakan struktur tanah
serutan kayu 28,31 g/pot (s3) dengan PAM 0,13 yang lebih mantap dan memperbesar ruang
g/pot (p2) yang menghasilkan nilai indeks pori. Hal tersebut sesuai dengan Santi, Dariah,
kestabilan tanah rendah. Perlakuan s3p2 ini dan Goenadi (2008), bahwa porositas
berbeda nyata dengan Kontrol (s0p0), namun dipengaruhi oleh bahan organik tanah.
tidak berbeda nyata dengan s3p3. Nilai indeks 9 Penambahan bahan organik menyebabkan
dari perlakuan s3p2 merupakan nilai stabilitas kepadatan tanah berkurang (Tabel 7), agregat
tanah yang sedang atau agak mantap. tanah stabil (Tabel 8), pertumbuhan akar
Penambahan serutan kayu dan PAM tanaman meningkat karena meningkatnya pori
dapat meningkatkan nilai kestabilan tanah, meso dan menurunnya pori mikro. Begitu juga
dimana bahan organik yang ditambahkan ke dengan penambahan PAM dapat meningkatkan
tanah mengalami proses dekomposisi dan porositas tanah. Indriani, Wisnubroto, dan

100 Jurnal Jalan-Jembatan, Volume 34 No. 2 Juli-Desember 2017: 91-103


Drajad (1997) menyatakan bahwa pembenah tanah dan porositas tanah. Selain itu C-organik
tanah mampu memperbaiki sifat fisika tanah berhubungan dengan makro fauna, bahan
khususnya porositas tanah. Porositas tanah organik tanah, pertumbuhan tanaman dan erosi
tidak terlepas dari sifat fisika tanah lainnya, tanah.
yaitu bobot isi dan kemantapan agregat tanah. Peran C-organik dalam serutan kayu
Bobot isi merupakan perbedaan ukuran agregat dan PAM sangatlah penting, karena menjadi
tanah yang secara langsung berpengaruh sumber energi bagi organisme, menambah
terhadap kemantapan agregat, porositas tanah kesuburan tanah dan menciptakan agregat
dan pergerakan akar dalam tanah (Alexander tanah (Muklis 2007). Dengan stabilitas agregat
dan Miller 1991). yang baik, tanah akan mengatur peredaran air
Selain itu, Arsyad (2000) menyatakan sehingga tanah tidak mudah hancur akibat
bahwa pemantap tanah PAM memiliki daya adanya tekanan dari luar yang menyebabkan
serap air yang tinggi dan mampu terjadinya erosi. Menurut Arsyad (2000)
meningkatkan kapasitas tanah menahan air peranan bahan organik dalam pembentukan
serta meningkatkan porositas. Peningkatan agregat yang stabil terjadi karena tanah
kapasitas tanah menahan air melalui membentuk senyawa yang lebih kompleks.
pemanfaatan bahan pembenah tanah akan Dari uraian di atas terlihat bahwa
memberi peluang untuk ketersediaan air bagi dalam campuran hydroseeding (serutan kayu
tanaman dan PAM) memiliki interaksi terhadap sifat
Dari uraian di atas terlihat bahwa dalam fisika tanah inceptisol melalui peningkatan C
campuran hydroseeding (serutan kayu dan organik tanah. Kondisi ini dapat meningkatkan
PAM) memiliki interaksi terhadap sifat fisika kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman
tanah inceptisol melalui peningkatan porositas yang dapat berfungsi mengurangi erosi.
tanah. Kondisi ini dapat menurunkan laju run Hasil analisis masing-masing parameter
off (aliran permukaan) yang menyebabkan sifat fisika tanah tersebut di dapat 3 kombinasi
erosi. terbaik yaitu:
1) bobot isi dan porositas tanah: 22,09 g/pot
Kombinasi terbaik antara serutan kayu atau 350 g/m2 (s2) serutan kayu dengan
dengan PAM terhadap c-organik tanah PAM 0,13 g/pot atau 2 g/m2 (p2).
Hasil analisis statistik dwi arah antara 2) kemantapan agregat tanah: 28,31 g/pot atau
serutan kayu dengan PAM terhadap C-organik 450 g/m2 (s3) serutan kayu dengan PAM
tanah dapat dilihat pada Tabel 14. Hasil 0,13 g/pot atau 2 g/m2 (p2).
analisis statistik memperlihatkan bahwa 3) C-Organik tanah: serutan kayu 28,32 g/pot
kombinasi perlakuan yang terbaik serutan kayu atau 450 g/m2 (s3) dengan PAM 0,19 g/pot
28,31 g/pot (s3) dan PAM 0,19 g/pot (p3) atau 3 g/m2 (p3).
menghasilkan C-organik yang tinggi dan Dengan melihat 3 kombinasi terbaik
memiliki nilai C-organik memenuhi kriteria untuk masing masing parameter sifat fisika
tanah subur dimana perlakuan s3p3 berbeda tanah tersebut dapat dirumuskan bahwa
nyata dengan kontrol s0p0, namun tidak penambahan 450 g/m2 serutan kayu dan 3
berbeda nyata dengan s3p2. g/m2 PAM merupakan dosis atau konsentrasi
Penambahan serutan kayu dan PAM campuran hydroseeding yang optimal dalam
dapat meningkatkan C-organik tanah. Menurut memperbaiki sifat fisika tanah. Penambahan
Hairiah dkk. (2000) menyatakan bahwa tanah dosis kombinasi serutan kayu dan PAM lebih
dikategorikan subur apabila mengandung dari dosis tersebut dianggap tidak efektif dari
organik tanah minimal (2,4-4,0) %. C-organik segi ekonomi (menjadi lebih mahal) dan teknis
tanah sangat menentukan tingkat kesuburan pelaksanaan (sulit dalam penyemprotan).
fisika tanah, terlihat dari Tabel 7 dimana bobot
isi semakin menurun, agregat tanah stabil
(Tabel 8), porositas tanah meningkat (Tabel 9).
Hal ini disebabkan karena kandungan C-
organik mempengaruhi terbentuknya agregat
tanah yang lebih mantap dan berpengaruh
langsung terhadap bobot isi tanah, agregat

Stabilisasi Tanah dengan Memanfaatkan Serutan Kayu


dan Polyacrylamide untuk Lereng Jalan yang Mudah Tererosi (Asep Sunandar, Sri Yeni Mulyani) 101
KESIMPULAN DAN SARAN Gasperz, V. 1991. Metode Perancangan
Percobaan. CV. Armico: Bandung.
Kesimpulan Gomez, K. A and A. A. Gomez. 1995. Prosedur
Pemberian serutan kayu dengan PAM Statistika untuk Penelitian Pertanian.
Terjemahan E. Syamsuddin dan J. S
dalam campuran hydroseeding dapat
Baharsyah. UI-Press: Jakarta.
meningkatkan kestabilan tanah, porositas, C- Greacen, E. L. 1981. Physical Properties and Water
organik dan menurunkan bobot isi tanah. Relations, 83-96. (Eds.) J. M. Oades, D. G.
Kombinasi 28,31 g/pot atau 450 g/m2 (s3) Lewis and K. Norrish. Adelaide: Waite
serutan kayu dengan PAM 0,13 g/pot atau 2 Agricultural Research Institute, University
g/m2 (p2) memberikan hasil yang terbaik of Adelaide South Australia and CSIRO
terhadap kemantapan agregat tanah. Untuk Division of Soils.
porositas dan bobot isi tanah, kombinasi 22,09 Hakim, N., M. Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S. G.
g/pot atau 350 g/m2 (s2) serutan kayu dengan Nugroho, M. A. Tina, G. B. Hong dan H. H.
PAM 0,13 g/pot atau 2 g/m2 (p2) memberikan Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.
Universitas Lampung.
hasil yang terbaik. Sedangkan kombinasi
Hanafiah, Kemas Ali. 2005. Dasar-dasar Ilmu
serutan kayu 28,32 g/pot atau 450 g/m2 (s3) Tanah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
dengan PAM 0,19 g/pot atau 3 g/m2 (p3) Hairiah, D. K., Widianto, Utami R. S., Suprayogo
memberikan hasil yang terbaik terhadap C- D., Sunaryo D., Sitompul S. M., Lusiana B.,
organik. Mulia R. M., Van Noordwijk M., Cadisch G.
2000. Pengelolaan Tanah Masam Secara
Saran Biologi.
Teknologi Hydroseeding dapat http://outputs.worldagroforestry.org/cgi-
diterapkan untuk penanganan erosi permukaan bin/koha/opac-
lereng jalan pada jenis-jenis tanah inceptisol detail.pl?biblionumber=35945
Indonesia, Departemen Pekerjaan Umum.
yang tersebar di Indonesia. Kombinasi antara
Direktorat Jenderal Bina Marga. 1991.
serutan kayu dan PAM dalam campuran Spesifikasi Penguatan Tebing. Jakarta:
hydroseeding disarankan menggunakan Departemen Pekerjaan Umum.
2
dosis/konsentrasi 450 g/m serutan kayu dan 3 Indonesia, Departemen Pertanian. Balai Penelitian
g/m2 PAM. dan Pengembangan Pertanian. 2006. Sifat
Fisik Tanah dan Metode Analisisnya. Bogor:
UCAPAN TERIMA KASIH Departemen Pertanian
Penulis mengucapkan terima kasih Indonesia, Departemen Pertanian. Balai Penelitian
kepada Muhammad Idris, Hikmat Iskandar, Tanah. 2005. Petunjuk Teknis Analisis
dan Nanny Kusminingrum atas bimbingan Kimia Tanah, Tanaman, Air dan Pupuk.
Bogor: Departemen Pertanian.
yang telah diberikan kepada kami.
Indonesia, Departemen Pertanian. Pusat Penelitian
Tanah dan Agroklimat (Puslittanak). 2000.
DAFTAR PUSTAKA Atlas Sumberdaya Tanah Eksplorasi
Indonesia. Skala 1:1.000.000. Bogor:
Alexander and Miller. 1991. The Effect of Soil Departemen Pertanian.
Aggregate Size on Early Growth And Shoot- Indonesia, Kementerian Pertanian. 2009.
Root Ratio of Maize (Zea mays. L). Palnt Persyaratan Teknis Minimal Pembenah
and Soil. 138.189-194. Tanah. Jakarta: Kementerian Pertanian.
Arsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. Indriani, L., Sukardi Wisnubroto dan M. Drajad.
Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, 1997. “Pengaruh Pembenah Tanah Terhadap
Institut Pertanian Bogor, Bogor. Efisiensi Penggunaan Air Tanaman Kedelai
Brady, N. C. 2002. The Nature and Properties of (Glycine max. L) pada Regosol”. Skripsi.
Soil. Mac Millan Publishing Co.: New York. Universitas Gajah Mada. (Tidak
Faucette, L. B., J. Governo, C. F. Jordan, B. G. Dipublikasikan).
Lockaby, H. F. Carino, and R. Governo. Istikowati. 2011. Kimia Kayu.
2007. “Erosion Control and Storm Water http://kyoshiro67.files.wordpress.com/2014/
Quality From Straw With PAM, Mulch, And kimia-kayu-3. (Diakes Tanggal 23 oktober
Compost Blankets Of Varying Particle 2014).
Sizes”. Journal Soil and Water Junianto. 2003. Teknik Penangkaran Ikan. Jakarta:
Conservation 62(6): 183-185. Penebar Swadaya.

102 Jurnal Jalan-Jembatan, Volume 34 No. 2 Juli-Desember 2017: 91-103


Kartasapoetra. 1985. Teknologi Konservasi Tanah Santi, L. P., A. Dariah dan D. H. Goenadi. 2008.
dan Air. Jakarta: PT Rineka Cipta. “Peninglatan Kemantapan Agregat Tanah
Kusminingrum, N., dan A. Sunandar. 2014. Mineral oleh Bakteri Penghasil Eksopo-
“Komposisi Campuran Biji Rumput Untuk lisakarida”. Jurnal Litbang Pertanian 76
Bahan Pengendali Erosi Permukaan Dengan (2):93-103.
Teknologi Hidrosiding”. Prosiding Sarief, E. S., 1998. Ilmu Tanah Pertanian.
Kolokium Jalan dan Jembatan ke-7. Bandung: Pustaka Buana.
Bandung: Pusjatan. Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Bogor:
Mariana, H. 2006. “Pengaruh Kompos Ampas IPB Press.
Tapioka dan Pemberian Air terhadap Sunandar, A. 2013. Penanganan Erosi Permukaan
Ketersediaan Air dan Pertumbuhan Lereng Jalan Secara Vegetatif Melalui
Tanaman Sawi (Brassica juncea. L) pada Teknologi Hydroseeding. Naskah Ilmiah di
Entisol Wajak, Malang”. Skripsi. Puslitbang Jalan dan Jembatan. Bandung:
Universitas Brawijaya. (Tidak Adika.
Dipublikasikan). Sutono dan A. Abdurrachman. 1997. “Pemanfaatan
Muklis. 2007. Analisis Tanah dan Tanaman. Soil Conditioner dalam Upaya
Medan: Universitas Sumatera Utara. Merehabilitasi Lahan Terdegradasi”.
Mulyatri. 2003. “Peranan Pengelolaan Tanah dan Prosiding Pertemuan Pembahasan dan
Bahan Organik Terhadap Konservasi Tanah Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan
dan Air”. Prosiding Nasional Hasil-Hasil Agroklimat 107-122. Bogor: Pusat Penelitian
Penelitian dan Pengkajian Teknologi Tanah dan Agroklimat.
Spesifik Lokasi. Hal. 90-95. Thomas, R.S., R.L Franson and G.J.
Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia. Bethelenfalvay. 1993. “Separation of VAM
Jakarta: Pustaka Jaya. Fungus and Root Effect on Soil
Pravin, R. Chaudhari, Dodha V. Ahire, Vidya D. Agregation”. Soil Sci (57): 77-31.
Ahire, Manab Chkravarty and Saroj Maity. United States, Departemen of Agriculture. Natural
2013. Soil Bulk Density as Related to Soil Resources Conservation Service. 2010. Keys
Texture, Organic Metter Content and Soil Taxonomy Eleventh Edition. New York:
Available Total Nutrients of Coimbatore United States Departemen of Agriculture.
Soil. International Journal of Scientific and Utomo, W.H. 1985. Fisika tanah. Fakultas
Research Publication. 3 (2): 1-8. Pertanian. Universitas Brawijawa.
Pusat Litbang Jalan dan Jembatan (Pusjatan). 1991. Yang Li Xia, Sun Ye, Fei Fei and Luo, S. 2011.
Penanggulangan Erosi Lereng Jalan. “Ploacrilamide Molecular Formulation
Laporan Internal. Bandung: [s.n.]. Effect On Erosion Control Of Disturbed Soil
---------. 2013. Aplikasi Teknologi Hidroseeding On Sleep Rocky Slopes”. Canadian Journal
Rumput Bahia untuk Penanganan Erosi of Soil Science (62):77-85.
Permukaan Lereng Jalan. Laporan Internal. Yuwono, N.W. dan Rosmarkan. 2002. Ilmu
Bandung: [s.n.]. Kesuburan Tanah. Yogyakarta: Kanisius.
---------. 2015. Kajian Pengaruh Peranan Material
Hydrosiding Terhadap Sifat Fisik Tanah.
Bandung: [s.n.].

Stabilisasi Tanah dengan Memanfaatkan Serutan Kayu


dan Polyacrylamide untuk Lereng Jalan yang Mudah Tererosi (Asep Sunandar, Sri Yeni Mulyani) 103