Anda di halaman 1dari 28

1

MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Fungi adalah mikroorganisme tidak berklorofil, berbentuk hifa

atau sel tunggal, eukariotik, dan berdinding sel dari kitin atau selulosa.

Fungi memperoleh makanannya dengan cara absorpsi. Sebagian besar

tubuh fungi terdiri atas benang-benang yang disebut hifa, yang saling

berhubungan menjalin semacam jala yang disebut miselium. Miselium

dapat dibedakan atas miselium vegetatif yang berfungsi menyerap

nutrien dari lingkungan dan miselium fertil yang berfungsi dalam

reproduksi.

Fungi tidaklah sulit untuk ditemukan di alam, karena bagian

vegetatifnya yang umumnya berupa miselium berwarna putih mudah

terlihat pada substrat yang membusuk (kayu lapuk, buah-buahan yang

terlalu masak, makanan yang membusuk). Selain itu, konidianya atau

tubuh buahnya dapat mempunyai aneka warna pada daun, batang,

kertas, dan tekstil. Tubuh buah fungi lebih mencolok karena langsung

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
2
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

dapat dilihat dengan mata kasar, sedangkan miselium vegetatif yang

menyerap makanan hanya dapat dilihat dengan mikroskop.

Kapang adalah fungi multiseluler yang mempunyai filamen,

dan pertumbuhannya pada makanan mudah dilihat karena

penampakannya yang berserabut seperti kapas. Pertumbuhannya mula-

mula akan berwarna putih, tetapi jika spora telah timbul akan

terbentuk berbagai warna tergantung dari jenis kapang. Khamir

termasuk fungi tetapi dibedakan dari kapang karena bentuknya yang

bersifat uniseluler. Reproduksi khamir terutama dengan cara

pertunasan. Sebagai sel tunggal khamir tumbuh dan berkembang biak

lebih cepat jika dibandingkan dengan kapang karena mempunyai

perbandingan luas permukaan dengan volume yang lebih besar.

Pengamatan kapang dan khamir dengan menggunakan mikroskop penting

dilakukan untuk mengetahui bagian-bagian dari mikroorganisme

tersebut.

B. Tujuan

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui morofologi

dari kapang dan khamir.

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
3
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

C. Manfaat

Manfaat yang dapat diperoleh setelah melakukan percobaan ini

adalah dapat mengetahui morfologi dari kapang dan khamir.

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
4
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

Mikroba endofit adalah mikroba yang hidup di dalam jaringan

tanaman dan mampu hidup dengan membentuk koloni dalam jaringan

tanpa membahayakan tanaman inang. Mikroba endofit terdapat di

jaringan tanaman seperti bunga, buah, batang, daun, akar dan biji serta

merupakan pelindung bagi tanaman inang dari stress lingkungan dan

kompetisi mikroba. Mikroba ini hidup bersimbiosis saling

menguntungkan dengan tanaman inang, dimana mikroba endofit

mendapatkan nutrisi dari hasil metabolisme tanaman sedangkan

mikroba menghasilkan senyawa aktif berupa metabolit sekunder yang

menjaga inang dari serangan penyakit (Widowati dkk., 2016).

Mikrobia endofit merupakan mikrobia yang sebagian atau seluruh

siklus hidupnya berada pada jaringan tanaman tetapi tidak memberikan

efek negatif terhadap host plant. Hampir semua jenis tanaman

berinteraksi dengan mikrobia endofit karena dapat membantu

peningkatan pertumbuhan tanaman memberikan proteksi terhadap

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
5
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

serangan mikrobia patogen dan membantu dalam penyerapan nutrien.

Mikrobia endofit mampu menghasilkan senyawa kimia yang sama dengan

senyawa kimia tanaman inang. Oleh sebab itu, mikrobia endofit

berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai alternatif senyawa obat

yang baru (Wilson dkk., 2017).

Mikroorganisme endofit di dalam bagian tanaman dapat terdiri

dari bermacam mikroorganisme, salah satunya yang paling banyak

diisolasi yaitu kapang. Fungi berperan penting dalam kehidupan manusia

seperti dibidang pertanian dan dibidang farmasi. Dibidang farmasi

jamur endofit yang umum digunakan dalam menghasilkan antibiotik

penisilin yaitu jenis jamur Penicillium (Hafsari dan Isma, 2013).

Kapang adalah mikroba yang tidak dapat memenuhi kebutuhan

nutriennya secara autotrof, sehingga hidup secara saprofit atau

parasit pada organisme lain. Kapang dapat tumbuh di berbagai

substrat, terutama yang mengandung karbohidrat dan dapat hidup

pada kondisi asam. Bahan pangan alami yang telah terkontaminasi

kapang dapat mengalami penurunan kualitas, baik rasa, gizi, tekstur,

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
6
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

dan menghasilkan racun yang menyebabkan bahan pangan tersebut

berbahaya untuk dikonsumsi (Putri dkk., 2013).

Penyimpanan koleksi kapang pada awalnya dilakukan dengan

melakukan transfer koloni secara berkala (subculturing) yaitu

memindahkan isolat kapang dari satu media tumbuh ke media tumbuh

selanjutnya. Dalam perjalanannya metode tersebut tidak dapat lagi

diterapkan karena memiliki banyak kelemahan. Kelemahan metode

penyimpanan berkala diantaranya; isolat kapang menjadi berubah

karakter morfologi dan fisiologinya, berkurang atau kehilangan

viabilitasnya, beresiko tinggi terkontaminasi, serta membutuhkan

banyak dana perawatan, waktu, dan tenaga pelaksana terlebih bila

koleksi kapang yang dimiliki dalam jumlah yang sangat besar (Ilyas,

2017).

Khamir merupakan mikrorganisme kemoorganotrop karena

menggunakan senyawa organik sebagai sumber energi dan tidak

memerlukan sinar untuk pertumbuhannya. Khamir juga terdapat dan

menyebar luas di alam serta sangat sering ditemukan pada produk

pangan dengan kadar gula tinggi. Ada enam faktor yang mempengaruhi

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
7
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

pertumbuhan dan aktivitas khamir secara umum di dalam makanan.

Faktorfaktor tersebut antara lain kelembaban, konsentrasi oksigen,

suhu, nutrien, pH dan ada tidaknya senyawa penghambat. Nutrien yang

memadai bagi khamir tergantung pada komposisi makanan dimana

khamir itu tumbuh. Setiap khamir mempunyai kemampuan yang berbeda

dalam metabolisme protein, karbohidrat dan lemak (Yurliasni dan

Zakariya, 2013).

Keberadaan mikroorganisme khamir di tanah tidak begitu tinggi

jika dibandingkan dengan bakteri dan jamur benang. Namun, khamir di

tanah memegang peranan penting dalam menstimulasi dekomposisi dan

mineralisasi senyawa organik di dalam tanah. Selain itu khamir juga

memegang peran penting dalam hidrolisis selulosa yang berada di dalam

tanah. Khamir dikenal memiliki rentang ekologi yang cukup luas dan

mampu hidup pada daerah ekstrem serta umumnya banyak ditemukan

pada lingkungan yang memiliki bahan organik tinggi. Beberapa kelompok

khamir yang dominan ditemukan dalam ekosistem tanah adalah genus

Cryptococcus, Candida dan Debaryomyces (Jumiyati dkk., 2012).

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
8
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

B. Uraian Bahan

1. Alkohol (Ditjen POM, 1979 : 65)

Nama resmi : AETHANOLUM

Nama lain : Alkohol, Etanol

RM/BM : C2H6O/46,07g/mol

Rumus struktur :

Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah

menguap, dan mudah bergerak; bau khas;

rasa panas. Mudah terbakar dengan

memberikan nyala biru yang tidak berasap

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam

kloroform P dan dalam eter P

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung

dari cahaya; ditempat sejuk, jauh dari nyala

api

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
9
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

K/P : Antiseptikum

2. Aquades (Ditjen POM, 1979 : 96)

Nama resmi : AQUA DESTILLATA

Nama lain : Air Suling

RM/BM : H2O/18,02 g/mol

Rumus struktur : O

H H

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau,

tidak mempunyai rasa

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

K/P : Zat tambahan

3. Metilen Biru (Ditjen POM, 1979)

Nama resmi : Methylthionini Chloridum

Nama lain : Biru metilen

Rumus struktur :

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
10
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

RM / BM : C₁₆H₁₈CIN₃S.3H₂O / 373,90 g/mol

Pemerian : Hablur atau serbuk hablur hijau tua,


berkilauan seperti perunggu, tidak berbau
atau praktis tidak berbau. Stabil diudara;
larutan dalam air dan dalam etanol berwarna
biru tua

Kelarutan : Larut dalam air dan dalam kloroform; agak


sukar larut dalam etanol

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

4. Gliserol (Ditjen POM, 1979 : 271)

Nama resmi : GLYSEROLUM

Nama lain : Gliserol, gliserin.

RM / BM : C3H8O3/92,10

Pemerian : Cairan seperti sirup, jernih, tidak berwarna,

tidak berbau, manis diikuti rasa hangat.

Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dengan etanol

(95%) p, praktis tidak larut dalam kloroform p

dan dalam eter p dan dalam minyak lemak.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan : Sebagai pemberi kelembaban

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
11
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
12
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

C. URAIAN TANAMAN

1. Tanaman sirih

a. Klasifikasi (Wiryowidagdo dan Sitanggang, 2002)

Regnum : Plantae

Divisi : Magnoliopsida

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Piperales

Famili : Piperaceae

Genus : Piper

Spesies : Piper betle L.

b. Morfologi (Wiryowidagdo dan Sitanggang, 2002)

Batang bulat memanjang, dengan mencapai ketinggian 5-15

m, dan tumbuh dengan menjalar atau merambat. Selain itu,

batang ini juga bersulur, beruas, berbuku dengan jarak 5-10 cm,

dan memiliki pertunasan yang banyk dibagian batang.Pada

umumnya, batang ini berwarna kecoklatan hingga kehijauan.Daun

berbentuk bulat oval atau telur, pangkal daun berberbentuk

hampir menyerupai jantung, pertulangan menyirip, permukaan

bagian tepi merata, dan juga berbulu pada permukaan bagian


NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
13
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

bawah.Daun ini tebal, dengan lebar 2-10 cm, panjang 5-15 cm

yang berwarna kehijauan muda hingga tua.

2. Tanaman Jati

a) Klasifikasi (Wiryowidagdo dan Sitanggang, 2002)

Regnum : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Lamiales

Famili : Verbenaceae

Genus : Tectona

Spesies : Tectona Grandis

b) Morfologi (Wiryowidagdo dan Sitanggang, 2002)

Daun berbentuk jantung membulat dengan ujung meruncing,

berukuran panjang 20-50 cm dan lebar 15-40 cm, permukaannya

berbulu.Daun muda berwarna hijau kecoklatan, sedangkan daun

tua berwarna hijau tua keabu-abuan.Pada kondisi bagus batang

jati dapat mencapai tinggi 30-40 meter.Pada habitat kering,

pertumbuhan menjadi terhambat, cabang lebih banyak, melebar

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
14
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

dan membentuk semak.Pada daerah yang bagus, batang bebas

cabang 15-20 m atau lebih, percabangan kurang dan

rimbun.Pohon tua sering beralur dan berbanir.Kulit batang tebal,

abu-abu atau coklat muda ke abu-abuan.

3. Tanaman Kumis Kucing

a) Klasifikasi (Wiryowidagdo dan Sitanggang, 2002)

Regnum : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Lamiales

Famili : Lamiaceae

Genus : Orthosiphon

Spesies : Orthosiphoon staineus Benth

b) Morfologi (Wiryowidagdo dan Sitanggang, 2002)

Bunga terdiri dari dua bagian yaitu bunga tunggal dan

bunga majemuk. Bunga tunggal berbentuk bibi, mahkota

berwarna putih hingga keungguan, bagian tas di tutupi dengan

rambul halus dan pendek berwarna keungguan. Sedangkan bunga

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
15
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

majemuk berwarna putih keungguan, panjang menca[ai 7-29 cm

dan di tutupi rambut halus dengan panjang 1-6 mm, kelopak

bunga berurat, pangkal rambut pendek dan juga jarang.Akar

tunggang, berbetuk bulat, dan berserabut banyak. Akar tanaman

ini berdiamater 1-2 mm dengan pangkal ujung kecil yang

berwarna kekuningan dengan panjang mencapai 25 – 30 cm yang

akan menembus permukaan tanah.

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
16
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:

1) Cawan petri

2) Erlenmeyer

3) Elektromantel

4) Gelas kimia

5) Gelas ukur

6) Lampu spiritus

7) LAF (Laminal Air Flow)

8) Ose

9) Pinset

10) Tabung reaksi

11) Rak tabung

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
17
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

2. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:

1) Alkohol 70%

2) Aluminium Foil

3) Aquades Steril

4) Beklin

5) Gliserol

6) Media PDA

7) Metilen blue

8) Plastic Wrap

9) Spoit 1 ml dan 5 ml

10) Sampel kapang (batang sirih, daun sirih, bunga kumis kucing,

batang jati, akar kumis kucing, dan daun jati).

11) Sampel khamir (Yogurt, air tape singkong, ai tape ketan,

yogurt plain, air tuak, dan Ragi roti).

12) Tissu

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
18
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

B. Prosedur Kerja

1. Pembuatan media jamur khamir

a) Disiapkan alat dan bahan

b) Dimasukkan 10 ml larutan media PDAnya kedalam cawan petri

sampai memadat, selanjutnya

c) Dilakukan pengambil 5 ml sampel, dimasukkan kedalam gelas

kimia

d) Dilakukan pengenceran pertingkat

e) Diambil 9 ml air steril dan 1 ml sampel kedalam tabung reaksi

sampai 10-3, dilakukuan secara aseptik

f) Dimasukkan larutan 10-3, diambil 1 ml dari larutan tersebut

kedalam cawan petri yang sudah memadat PDAnya

g) Dihomogenkan

h) Dibungkus dengan plastik wrap

i) Diinkubasi dengan suhu ruang selama 3 x 24 jam

j) Diamati

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
19
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

2. Pembuatan media jamur kapang

a) Disiapkan alat dan bahan

b) Dimasukkan 10 ml larutan media PDAnya kedalam cawan petri

sampai memadat, selanjutnya

c) Dibersihkan sampel yang akan digunakan dan dipotong

menjadi 4 bagian

d) Dimasukkan ke dalam LAF, dilakukan secara aseptik

e) Dicuci dengan alkohol, baiklin, alkohol, akuades 3x selama 5

menit

f) Dikeringkan diatas tissu

g) Dimasukkan kedalam media PDA menggunakan pinset

h) Dibungkus dengan plastik wrap

i) Diinkubasi dengan suhu ruang selama 3x 24 jam

j) Diamati

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
20
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

3. Pembuatan preparasi jamur secara langsung

a) Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

b) Gelas objek dan dek gelas dibilas dengan alcohol 70 %.

c) Diambil jamur Rhizopus Oligorpus dengan menggunakan ose

bulat, lalu diletakkan diatas objek gelas.

d) Setelah itu diambil 1 tetes metilen blue dan diteteskan di

atas sampel.

e) Preparat ditutup dengan deck gelas.

f) Diamati morfologi melalui mikroskop

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
21
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

1. Identifikasi Khamir

N Sampel Tampilan luar Gambar pada


o. Mikroskop

1. Yogurt
plain

2. Ragi roti

3. Air tuak

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
22
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

4. Tape
ketan

5. Tape
singkong

6. Yogurt

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
23
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

2. Identifikasi kapang

N Sampel Tampilan luar Gambar pada


o. Mikroskop

1. Batang
jati

2. Daun
sirih

3. Daun jati

4. Bunga
kumis
kucing

5. Akar
kumis
kucing

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
24
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

B. Pembahasan

Fungi adalah mikroorganisme tidak berklorofil, berbentuk hifa

atau sel tunggal, eukariotik, dan berdinding sel dari kitin atau selulosa.

Fungi memperoleh makanannya dengan cara absorpsi. Sebagian besar

tubuh fungi terdiri atas benang-benang yang disebut hifa, yang saling

berhubungan menjalin semacam jala yang disebut miselium. Miselium

dapat dibedakan atas miselium vegetatif yang berfungsi menyerap

nutrien dari lingkungan dan miselium fertil yang berfungsi dalam

reproduksi.

Fungi dapat ditemukan pada aneka substrat. Fungi tidaklah sulit

untuk ditemukan di alam, karena bagian vegetatifnya yang umumnya

berupa miselium berwarna putih mudah terlihat pada substrat yang

membusuk (kayu lapuk, buah-buahan yang terlalu masak, makanan yang

membusuk). Selain itu, konidianya atau tubuh buahnya dapat mempunyai

aneka warna pada daun, batang, kertas, dan tekstil. Tubuh buah fungi

lebih mencolok karena langsung dapat dilihat dengan mata kasar,

sedangkan miselium vegetatif yang menyerap makanan hanya dapat

dilihat dengan mikroskop.

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
25
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

Secara morfologi, fungi dibagi menjadi tipe kapang dan khamir.

Fungi dalam bentuk uniseluler disebut khamir, merupakan fungi

berbentuk oval atau bola dan ukurannya lebih besar dari bakteri.

Kapang adalah tipe fungi yang terlihat seperti serabut-serabut benang

yang disebut miselia. Miselia terdiri dari filamen-filamen (hifa) panjang

yang bercabang dan saling menjalin. Sementara itu, beberapa fungi

membentuk struktur makroskopik yang disebut tubuh buah (cendawan).

Tubuh buah dapat memproduksi spora dan dari tempat tersebut pula

spora dapat disebarkan.

Khamir, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, merupakan

fungi bersel tunggal. Sel khamir berbentuk oval, bola, atau silinder.

Secara khas, khamir melakukan pembelahan sel dengan cara bertunas

(budding). Selama proses pertunasan, sebuah sel baru merupakan

sebuah perkembangan kecil dari sel yang tua (induk), kemudian

mengalami pembesaran dan memisahkan diri dari sel induknya. Apabila

tunas-tunas yang baru tetap bersama-sama akan terlihat seperti

filamen yang disebut pseudohypha. Sel khamir dapat dengan mudah

dibedakan dari sel bakteri, karena sel khamir memiliki ukuran yang

lebih besar dari sel bakteri dan sel khamir mempunyai nukleus dan

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
26
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

vakuola sitoplasmik yang terlihat dengan jelas. Khamir mempunyai

spora seksual yang disebut askospora.

Pengamatan morfologi khamir dapat dilakukan secara

makroskopik maupun mikroskopik. Pengamatan makroskopik yang perlu

diperhatikan antara lain warna koloni, tekstur koloni, keadaan

permukaan koloni, dan permukaan tepi koloni. Pengamatan mikroskopik

yang perlu diperhatikan antara lain bentuk sel, ada tidaknya pertunasan

(budding), banyaknya tunas pada tiap sel, askospora, dan ada tidaknya

miselium semu (pseudomycelium).

Kapang merupakan tipe fungi yang berbentuk filamen. Filamen-

filamen pada kapang disebut hifa. Hifa dibedakan menjadi dua jenis,

yaitu hifa septat dan hifa coenocytic. Hifa septat mempunyai dinding

yang disebut septa (singular: septum). Septum membagi hifa ke dalam

unit-unit seperti sel yang uninukleat (satu nukleus). Sementara itu, hifa

coenocytic tidak memiliki septa dan nukleusnya membaur satu sama

lain. Sel-sel pada hifa coenocytic terlihat memanjang dengan banyak

nukleus (tidak ada pembagian sitoplasma yang jelas). Kapang dapat

menghasilkan spora seksual dan aseksual. Spora seksual contohnya

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
27
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

zigospora, askospora, dan basidiospora, sedangkan spora aseksual

contohnya sporangiospora dan konidiospora.

Pengamatan morfologi kapang dapat dilakukan secara

makroskopik maupun mikroskopik. Hal- hal yang perlu diperhatikan pada

pengamatan makroskopis adalah tekstur permukaan koloni (berbutir-

butir/granular, beludru/velvety, kapas/wooly, floccose), warna koloni,

warna sebalik koloni (reverse colony), ada tidaknya zona pertumbuhan,

ada tidaknya garis atau lingkaran konsentris (zonation), ada tidaknya

garis-garis radial dari pusat koloni ke arah tepi koloni (radial furrow),

ada tidaknya bau yang khas, dan ada tidaknya exudate drops. Hal-hal

yang perlu diperhatikan dalam pengamatan mikroskopik ialah struktur

pendukung sel generatif (sporangiofor atau konidiofor), struktur

penghasil sel generatif (sporangium atau fialid), bentuk dan ukuran sel

generatif (spora/konidia), dan keadaan miselium (bercabang atau tidak,

berseptum atau tidak).

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI
28
MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

DAFTAR PUSTAKA

Hafsari, A.R. dan Isma A., 2013, Isolasi dan Identifikasi Kapang
Endofit dari Tanaman Obat Surian (Toona sinensis),
Biodiversitas, Vol. 8 (2).

Ilyas, M., 2017, Uji Viabilitas Koleksi Kapang LIPI-MC dalam Ampul
Penyimpanan Kering-beku L-drying setelah Satu Tahun
Penyimpanan pada Suhu 50 C, Biodiversitas, Vol. 8 (1).

Jumiyati, Siti H.B., dan Ibnul M., 2012, Isolasi dan Identifikasi Khamir
secara Morfologi di Tanah Kebun Wisata Pendidikan
Unversitas Negeri Semarang, Biosentifika, Vol. 4 (1).

Putri, H.S., Suranto dan Ratna S., 2013, Kajian Keragaman Jenis dan
Pertumbuhan Kapang dalam Acar Mentimun, Biodiversitas,
Vol. 4 (1).

Widowati, T., Bustanussalam, Harmastini S. dan Partomuan S., 2016,


Isolasi dan Identifikasi Kapang Endofit dari Tanaman Kunyit
(Curcuma longa L.) sebagai Penghasil Antioksidan, Biopropal
Industri, Vol. 7 (1).

Wilson, W., Yekti A.P. dan Langkah S., 2017, Isolasi, Karakterisasi dan
Skrining Antimikrobia Bakteri Endofit Tanaman Purwoceng
(Pimpinella pruatjan Molk.), Jurnal Labora Medika, Vol. 1 (1).

Yurliasni dan Zakaria Y., 2013, Kajian Penambahan Khamir


Kluyveromyces lactis, Candida curiosa dan Brettanomyces
custersii asal Dadih terhadap Konsentrasi Asam-Asam Amino,
Lemak, Organik dan Karbohidrat Susu Kerbau Fermentasi
(Dadih), Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati dan Fisik, Vol. 15 (1).

NAMA : MULIANI
NIM : O1A116034 MIKA FEBRYATI