Anda di halaman 1dari 11

BAGIAN 1 : FAKTOR FAKTOR DALAM PERENCANAAN PERKERASAN KAKU

( RIGID PAVEMENT )

1. Peranan dan tingkat pelayanan


 Intensitas lalu lintas  makin tinggi intensitas lalu lintas maka makin tinggi
pula performa/ ujuk kerja yang dituntut. Jumlah lajur erat hubungannya dengan
distribusi kendaraan niaga ( Dkn ) pada lajur rencana.
Tabel hubungan jumlah lajur dengan koefisien dist. kend. niaga (Dkn)
Koefisien distribusi kend. Niaga (Dkn)
Jumlah lajur
1 arah 2 arah
1 1 1
2 0,70 0,50
3 0,50 0,475
4 - 0,45
5 - 0,425
6 - 0,40

 Faktor keamanan (FK) yang dikaitkan dengan fungsi jalan


Peran Jalan Faktor keamanan (FK)
Jalan Tol 1,2
Jalan Arteri 1,1
Jalan Kolektor/ lokal 1,0

 Pemilihan jenis perkerasan


 Perkerasan beton semen bersambung tanpa tulangan
 Perkerasan beton semen bersambung dengan tulangan
 Perkerasan beton semen menerus dengan tulangan
 Perkerasan beton semen pratekan
 Perkerasan beton semen komposit

 Kenyamanan
 Dikendalikan melalui kualitas hasil perkerasan, kekasaran, retak 
biasanya dibuat perkerasan komposit ( kaku – lentur )
 Sistem sambungan
2. Lalu – lintas
 Volume lalu lintas yang diperhitungkan adalah dari jenis kendaraan niaga
keatas, data lalu lintas dua tahun terakhir.
 Kendaraan niaga (comercial vehicle) yaitu kendaraan dengan berat total
minimum (tonase 5 ton).
 Konfigurasi sumbu (Kf.Sb), dikelompokan dalam
 Sumbu tunggal roda tunggal (STRT)
 Sumbu tunggal roda ganda (STRG)
 Sumbu tandem roda ganda (SGRG/ STdRG)
 Jumlah repetisi selama umur rencana
 % repetisi = % KfSb. * DKn * total
 Perhitungan kendaraan niaga
 Jumlah kendaraan niaga harian (JKNH)  hasil survei
 Jumlah kendaraan niaga selama umur rencana (JKN) 
JKN = 365 * JKNH * R
 Jumlah sumbu kendaraan niaga (JSKN)  JSKN = 365 * jml sb * R
3. Umur rencana
 Taksiran umur rencana harus memperhatikan unsur unsur sebagai berikut :
 Peranan jalan, pola lalu lintas, pengembangan wilayah.
 Kelayakan proyek  studi : kelayakan ekonomi, kelayakan finansial,
BCR, IRR, pay back periode
 Faktor pertumbuhan lalu lintas
 Angka pertumbuhan (i) tetap selama umur rencana

R
 1  i n 1 i 0
ln  1  i 
 Angka pertumbuhan (i) tidak tetap, setelah m tahun lalu lintas tidak
tumbuh lagi

R
 1 i m 1  ( n  m ) (1  i ) m1 i 0
ln  1  i 
 Angka pertumbuhan berbeda, setelah tahun m tahun angka pertumbunan
(i) berubah menjadi (i’)
R
 1  i m 1  1  i m (1  i! ) nm  1 i 0
ln (1  i ) ln (1  i! )
4. Tanah dasar
 Parameter untuk menyatakan daya dukung tanah (DDT)  modulus reaksi
tanah dasar ( k ), dapat dicari korelasinya dengan CBR
 Pengaruh tanah dasar terhadap konstruksi
 Sifat kembang-susut akibat perubahan kadar air  dapat berakibat retak
refleksi
 Intrusi & pumping pada sambungan  retak
 Daya dukung tanah tidak merata
 Tambahan pembebanan akibat lalu lintas & penurunan akibat sub base
tidak dipadatkan dengan baik
 Modulus reaksi (MR) tanah dasar  dalam perencanaan digunakan k
 Untuk jalan tol  k = k’– 2s
 Jalan arteri  k = k’ - 1,64s
 Jalan kolektor / lokal  k = k’ – 1,28s
 Faktor keseragaman (FK), desain perkerasan kaku lebih mengutamakan
keseragaman tanah dasar dibadingkan besarnya nilai CBRnya.
s
 FK  * 100 %  FK  25%
k'
 k = MR mewakili seksi; k’ MR rata-rata dan ki MR tiap titik
n

k
i 1
i
 k' 
n

n  ki    ki 
2 2

 s
n( n  1)
 Jika sub base diperhitungkan ikut berkontribusi dalam mendukung konstruksi
 digunakan k gabungan (lihat grafik k gabungan)
Modulus elastisitas (E)
Jenis Bahan
psi kg./cm2
Granuler material 8.000 - 20000 565 - 1.410
Lapis pondasi stabilisasi semen 50.000 - 1.000.000 35.210 - 70.420
Tanah stabilisasi semen 40.000 - 900.000 28.170 - 63.380
Lapis pondasi diperbaiki aspal 350.000 - 1.000.000 24.650 - 70.420
LP. diperbaiki aspal emulsi 40.000 - 300.000 2.815 - 21.125

5. Lapis pondasi bawah


 Mengendalikan kembang susut tanah dasar
 Memperbaiki keseragaman daya dukung dibawah plat
 Mencegah efek pemompaan (pumping)
 Dapat dimanfaatkan untuk menambah daya dukung tanah  k gabungan
 Sebagai lantai kerja  digunakan alat berat untuk pelaksanaan
 Berfungsi sebagai drainase bawah slab.
 Tebal 10 s/d 15 cm

6. Plat beton
 Mutu beton ≥ k-350  yang diperhitungkan adalah kuat lentur tarik
 bk!
 Nilai modulus resilent beton berkisar  MR  9
11
 Tebal slab minimum 15 cm
 Nilai slump  kerja mekanis 2,5 s/d 5 cm
 kerja konvesional/ semi mekanis, maksimum 5 cm
 slump untuk mengantisipasi retak

BAGIAN 2: LANGKAH PERHITUNGAN

1. Komposisi lalu lintas harian


 Jenis kendaraan  komposisi lalu lintas, harus juga diperhatikan adanya
kemungkinan pada suatu saat kapasitas jalan sudah sampai tahapan jenuh
sehingga terjadi jamp/ maccet
 Untuk perencanaan digunakan dasar kendaraan niaga, yaitu kendaraan dengan
tonase total ≥ 5 ton.
 Konfigurasi sumbu
 Sumbu tunggal roda tunggal/ single axle single whell (STRT / SASW)
 Sumbu tunggal roda ganda/ single axle double whell (STRG / SADW)
 Sumbu tandem roda ganda/ tandem axle double whell (STdRG / TADW)
 Jumlah kendaraan niaga (JKN), didapatkan dari perkalian kendaraan niaga
dalam tahun rencana.
 JKN = 365 * JKNH * R
 Jumlah sumbu kendaraan niaga (JSKN),
 JSKN = 365 * JSKNH * R
2. Prosentase tiap konfigurasi sumbu selama umur rencana
 Dihitung prosentase sumbu sesuai komosisi tiap jenis sumbu kendaraan
 Prosentase konfigurasi sumbu (PKS)
KSb
 PKS  x 100 %
 Sb
 KSb. : jumlah sumbu tiap jenis konfigurasi beban sumbu.
 Σ Sb : total jumlah sumbu
3. Repetisi beban yang diijinkan (dalam kurun waktu umur rencana)
 Jumlah repetisi selama umur rencana (RUR)
RUR = PKS * Dkn * JSKN
 Penentuan repetisi ijin
o Beban sumbu rencana (BSR), memperhitungkan faktor keamanan (FK)
BSR = BS * FK
o Tegangan yang terjadi akibat BSR memperhitungkan modulus tanah dasar
(k), tebal slab beton,
BSR dengan mempergunakan nomogram sesuai konfigurasi
k  sumbu  didapat tegangan yang terjadi pada slab beton (σ)
t
o Perbandingan tegangan : tegangan akibat BSR terhadap modulus resilent
beton (PT)
 
 PT 
MR MR

o Repetisi beban yang diijinkan (RI)


 Digunakan tabel repetisi ijin
 PT ≤ 0,5  RI : ∞
 Untuk masing masing sumbu

4. Prosentase fatique (PF)


o Dihitung untuk masing masing konfigurasi sumbu
RUR
o PFi  %
RI
o PF   PFi i : konfigurasi sumbu
i

o PF ≤ 100 %  tebal slab mencukupi


o PF > 100 %  tebal slab kurang, maka harus trial lagi dengan
ketebalan yang lebih tebal.
5. Contoh pengerjaan
t : 16 cm faktor keamanan : 1,2
MR : 40 kg/cm2
Beban sumbu (ton) Repetisi Tegangan Perbandingan Repetisi Prosentase
Konfigurasi Rencana beban terjadi tegangan beban ijin fatigue
standar
sumbu
ton FK = 1,2 10 5 Kg/cm2 %
1 2 3 4 5 6 7 8
STRT 2 2,4 150 - - - -
STRT 5 6,0 4,0 23 0,475 ∞ 0
STRT 6 7,2 1,2 22 0,55 130.000 92
STRG 8 9,6 3 14 0,35 ∞ 0
STdRG 14 16,8 4 20 0,50 ∞ 0
Total prosentase fatigue 92

Kolom [1] sesuai beban sumbu dari tiap kendaraan, contoh STRT, STRG
Kolom [2] beban sumbu, contoh STRT : 3 ton, STRG : 5 ton, STdRG : 14 ton
Kolom [3] FK sesuai kelas jalan, contoh jalan tol FK : 1,2
Kolom [4] RUR = PKS * Dkn * JSKN
Kolom [5] dari pembacaan nomogram dengan data [3], k, dan t
Kolom [6] hasil bagi [5] / MR
Kolom [7] pembacaan tabel dengan data [6]
Kolom [8] hasil bagi [4] / [7]  kemudian dijumlahkan, jika Σ prosen fatigue ≤ 100% tebal slab cukup, jika > 100 trial slab kurang tebal
BAGIAN 3 PERENCANAAN TULANGAN
1. Tujuan
a. Membatasi slab beton sesuai karakteristik bahannya maka akan mengalami
kembang-susut, maka pada permukaan akan terjadi gaya lenting untuk
mengaturnya maka perlu dibuatkan bagian-bagian perlemahan ( salah satunya
sambungan, takikan)
b. Memungkinkan pelat dapat dibuat lebih panjang, meningkatkan kenyamanan
c. Mengurangi biaya pemeliharaan
2. Penulangan pada perkerasan beton bersambung
1200. F . L. h
Luas tulangan : As 
fs
Keterangan: As : luas tulangan cm2 / m lebar
F : koefisien gesek antara plat dengan lapis dibawahnya
L : jarak antar sambungan (m)
h : tebal slab (m)
fs : tegangan tarik ijin baja ( kg/cm2 )

Untuk jarak antar sambungan ≤ 13 m , maka As = 0,1% luas tampang


3. Penulangan pada perkerasan beton menerus

 100 ft 
Luas tulangan Ps    . (1,3  0,2 . F )
 fy  n. ft 
Keterangan Ps : prosetase tulangan memanjang terhadap luas penampang beton
ft : kuat lentur tarik beton ( 0,4 MR s/d 0,5 MR )
fy : tegangan leleh baja
Es
n 
Ec
Ps min = 0,6 % luas tampang
4. Jarak retak teoritis ( Lcr. )
ft 2
Jarak retak teoritis antar retakan  Lcr. 
n . p 2 u . fb . ( S . Ec  fb)
Keterangan p : luas tulangan memanjang persatuan luas beban
u : perbandingan keliling dan luas tulangan = 4/d
2,16.  bk
fb : tegangan lekat antara tulangan dengan beton =
d
s : koefisien susut beto ( 400. 10-6 )
Es : modulus elastisitas baja
Ec : modulus elastisitas beton
Nilai Lcr 1,5 m s/d 2,5 m
Lcr < 1,5 m  tidak ada kesempatan kembang susut
 beton terlalu kuat dipegang
 terjadi disintegrasi pada plat
Lcr > 2,5 m  lebar retak melebar akan terjadi korosi pada tulangan
 untuk memodifikasinya dapat digunakan deformed bar/
tulangan yang diprofilkan.

BAGIAN 4 PERKERASAN KOMPOSIT

1. Penjelasan umum
a. Perkerasan komposit merupakan konstruksi yang menggabungkan perkerasan
kaku dan lentur, dengan susunan kaku-lentur maupun lentur-kaku.
b. Lapisan lentur tetap diperhitungkan ikut memikul beban.
c. Susunan kaku-lentur dapat meningkatkan kenyamanan dan kekesatan.

2. Tebal rencana
a. Perhitungan tahap I  lapisan aspal beton diabaikan
b. Tebal lapisan aspal beton (flexible) setebal 25 mm dapat disetarakan
(mengganti) dengan lapisan beton (rigid) 10 mm.
c. Tebal lapis beton minimal 150 mm.
d. Untuk mencegah retak refleksi digunakan lapis aspal beton 100 mm

3. Pelapisan tambahan (overlay)


a. Jenis lapis tambahan sesuai kebutuhan dan nialai sisa konstruksi lama.
b. Overlay perkerasan kaku diatas perkerasan lentur
o Dihitung seperti perhitungan perkerasan kaku biasa (baru)
o Nilai modulus reaksi tanah dasar (k) diperoleh dengan pengujian
pembebanan plat (plate bearing test).
o Jika nilai k > 14 kg/cm2 (500 psi) , maka dalam perhitungan digunakan
k =14 kg/cm2 , keseragaman daya dukung tanah harus diperhatikan.
c. Overlay perkerasan kaku diatas perkerasan kaku
o Pelapisan tambahan dengan lapis pemisah (un-bound / separated overlay)

 Tebal lapis tambahan Tp  T 2  c.T02

 Keterangan
Tp : tebal lapis tambahan
T : tebal yang seharusnya, dihitung berdasarkan beban rencana, k,
dan sub base perkerasan lama
To : tebal perkerasan eksisting.
c : koefisien kondisi plat
c=1  plat lama masih baik
c = 0,75  plat lama retak awal pada sambungan
c = 0,35  plat lama rusak struktur.
 Tp ≥ 150 mm
 Harus ada lapis pemisah yang berfungsi mencegah retak refleksi dari
perkerasan lama, jenis yang digunakan aspal beton ± 30 mm
 Letak sambungan overlay tidak perlu sama dengan sambungan pada
perkersan lama.
 Penulangan overlay tidak tergantung lapis perkerasan lama
o Pelapisan tambahan langsung (partialy bonded / direct overlay)

 Tebal lapis tambahan Tl  1, 4 T 1, 4  c.T 1, 4


 Nilai c hanya boleh 1 dan 0,75
 Tebal minimun Tl ≥ 130 mm
 Letak sambungan overlay harus sama dengan sambungan pada
perkersan lama, sedang jenis sambungannya boleh tidak sama.
 Penulangan lapis overlay tidak tergantung dengan perkerasan lama.
o Pelapisan tambahan monolit (bonded / monolithic overlay)
 Tebal lapis tambahan Tm = T - To
 Nilai c : 1 (kondisi perkerasan eksisting masih baik).
 Tebal minimun Tm ≥ 30 mm
 Letak dan jenis sambungan overlay harus sama dengan sambungan
pada perkersan lama.
 Penulangan lapis overlay jika Tm >>, jika tulangan diperlukan maka
diusahakan sama dengan perkerasan lama.