Anda di halaman 1dari 9

Available online at http://journal.uny.ac.id/index.

php/jrpm

Jurnal Riset Pendidikan Matematika 4 (1), 2017, 78-86

Keefektifan Setting TPS dalam Pendekatan Discovery Learning dan Problem-


Based Learning pada Pembelajaran Materi Lingkaran SMP
Rahmi Hidayati
SMK Kesehatan Borneo Lestari. Jl Kelapa Sawit No. 8 Bumi Berkat Banjar Baru, 70732, Indonesia
Email: rahmihidayati.pmatc@gmail.com
Received: 19 July 2016; Revised:5 May 2017; Accepted: 8 May 2017
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keefektifan setting TPS dalam pendekatan
discovery learning dan problem-based learning terhadap prestasi belajar, kemampuan komunikasi
matematis, dan kemampuan interpersonal siswa. Jenis penelitian ini adalah quasi-experimental dengan
pretest-posttest nonequivalent group design. Sampel penelitian dipilih secara acak dari delapan kelas
yang ada, terpilih dua kelas. Instrumen yang digunakan adalah tes prestasi belajar, tes kemampuan
komunikasi matematis, dan angket kemampuan interpersonal. Untuk menguji keefektifan setting TPS
dalam pendekatan discovery learning dan problem-based learning data dianalisis menggunakan uji
one sample t-test. Untuk menguji perbedaan keefektifan, data dianalisis menggunakan MANOVA.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setting TPS dalam pendekatan discovery learning dan problem
based learning efektif terhadap prestasi belajar, kemampuan komunikasi matematis, dan kemampuan
interpersonal siswa. Tidak terdapat perbedaan keefektifan setting TPS dalam pendekatan discovery
learning dengan problem-based learning ditinjau dari aspek prestasi belajar, kemampuan komunikasi
matematis, dan kemampuan interpersonal siswa.
Kata Kunci: setting TPS, pendekatan discovery learning, pendekatan problem-based learning,
prestasi belajar, kemampuan komunikasi matematis, kemampuan interpersonal

The Effectiveness of Setting Think Pair Share in Discovery Learning Approach and
Problem-Based Learning in Circle of Junior High School Students
Abstract
The purpose of this study was to describe the effectiveness of setting Think Pair Share (TPS) in
the approach to discovery learning and problem-based learning in terms of student achievement,
mathematical communication skills, and interpersonal skills of the student. This study was a quasi-
experimental study using the pretest-posttest nonequivalent group design. The research population
comprised all Year VIII students of SMP Negeri 1 Yogyakarta. The research sample was randomly
selected from eight classes, two classes were elected. The instrument used in this study is the learning
achievement test, a test of mathematical communication skills, and interpersonal skills student
questionnaires. To test the effectiveness of setting Think Pair Share (TPS) in the approach to discovery
learning and problem-based learning, the one sample t-test was carried out. Then, to investigate the
difference in effectiveness between the setting Think Pair Share (TPS) in the approach to discovery
learning and problem-based learning, the Multivariate Analysis of Variance (MANOVA) was carried
out. The research findings indicate that the setting TPS discovery approach to learning and problem-
based approach to learning (PBL) is effective in terms of learning achievement, mathematical
communication skills, and interpersonal skills of the students. No difference in effectiveness between
setting TPS discovery approach to learning and problem-based learning (PBL) in terms of learning
achievement, mathematical communication skills, and interpersonal skills of the students.
Keywords: TPS setting in discovery learning approach, in problem-based learning, academic
achievement, mathematical communication skills, and interpersonal skills of the student
How to Cite: Hidayati, R. (2017). Keefektifan setting TPS dalam pendekatan discovery learning dan problem-
based learning pada pembelajaran materi lingkaran SMP. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 4(1), 78-86.
doi:http://dx.doi.org/10.21831/jrpm.v4i1.9451
Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.21831/jrpm.v4i1.9451

Copyright © 2017, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


ISSN 2356-2684 (print), ISSN 2477-1503 (online)
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 4 (1), 2017 - 79
Rahmi Hidayati

matematika memiliki bahasa tersendiri yang


PENDAHULUAN
berupa lambang-lambang atau simbol-simbol
Prestasi belajar siswa diperoleh setelah dan angka. Hal ini senada dengan pendapat
proses pembelajaran dilakukan dan nilainya Masykur & Fathani (2009, p. 45) yang menya-
dapat diketahui dengan memberikan seperangkat takan bahwa bahasa merupakan suatu sistem
alat evaluasi berupa tes. Menurut Good (Phye, yang terdiri dari lambang-lambang atau simbol-
1997, p. 4), prestasi didefinisikan sebagai (a) simbol, kata-kata, dan kalimat-kalimat yang
pencapaian atau keahlian dalam keterampilan disusun menurut aturan tertentu dan digunakan
dan pengetahuan, (b) kemajuan di sekolah. Le- sekelompok orang untuk berkomunikasi.
bih lanjut diungkapkan bahwa prestasi akademik Menurut Van de Walle (2007, p. 4)
didefinisikan sebagai pengetahuan yang diper- mengatakan bahwa komunikasi merupakan
oleh atau keterampilan yang dikembangkan pada standar pokok yang memiliki arti penting dalam
mata pelajaran di sekolah, yang biasanya berbicara, menulis, menggambarkan, dan menje-
didesain dengan skor tes atau dengan pemberian laskan ide-ide matematika Komunikasi tidak
tanda yang dinilai oleh guru. dapat dipungkuri merupakan bagian penting
Fakta lapangan menunjukan bahwa dalam proses belajar dan mengajar matematika.
prestasi belajar matematika masih cenderung Komunikasi dapat digunakan oleh siswa untuk
kurang. Hal tersebut ditunjukan dengan nilai berbagai ide atau gagasan sehingga diperoleh
ulangan matematika tahun ajaran 2014-2015 suatu pemahaman yang benar dalam meme-
terhadap penguasaan materi soal mengenai cahkan masalah
menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan LACOE (Mahmudi, 2009, p. 3) menyata-
unsur-unsur/bagian-bagian lingkaran atau kan bentuk komunikasi matematis (1) merefleksi
hubungan dua lingkaran. Diperoleh persentase dan mengklarifikasi pemikiran tentang ide-ide
ketuntasan siswa kelas VIII pada materi ling- matematika, (2) menghubungkan bahasa sehari-
karan tahun ajaran 2014/2015 sebesar 69,14 dari hari dengan bahasa matematika yang meng-
256 siswa. gunakan simbol-simbol, (3) menggunakan kete-
Masalah prestasi belajar siswa diindikasi- rampilan membaca, mendengarkan, menginter-
kan karena kemampuan komunikasi dan inter- pretasikan, dan mengevaluasi ide-ide matema-
personal siswa yang belum terbangun dengan tika, dan (4) menggunakan ide-ide matematika
baik. Daniyati & Sugiman (2015) mengemuka- untuk membuat dugaan (conjecture) dan mem-
kan bahwa proses pembelajaran yang dilak- buat argumen yang meyakinkan. Ontario
sanakan di SMP di Kabupaten Purworejo masih Ministry of Education (2005, p. 16) memberikan
berlangsung satu arah di mana siswa hanya gambaran yang sama mengenai komunikasi
mendengarkan penjelasan guru sehingga mem- yaitu sebagai proses mengekspresikan ide-ide
batasi interaksi siswa dalam pembelajaran dan matematika dan pemahaman secara lisan, visual,
menghambat perkembangan kemampuan inter- dan secara tertulis, yaitu menggunakan angka,
personal siswa. Dengan demikian maka siswa simbol, gambar, grafik, diagram, dan kata-kata.
jarang sekali berdiskusi sehingga kemampuan Dengan demikian dapat disimpulkan bah-
interpersonal tidak berkembang dengan baik. wa matematika memiliki cara tersendiri dalam
Kemampuan komunikasi dan iterpersonal berkomunikasi yang sering disebut dengan
dianggap merupakan suatu hal penting yang komunikasi matematis. Dalam penelitian ini
harus dikembangkan dalam proses pembelajar- kemampuan komunikasi matematis meliputi: (1)
an. Hal tersebut nempak jelas pada salah satu Kemampuan merepresentasikan apa yang dike-
poin di peraturan menteri. Poin tersebut adalah tahui dan ditanyakan, (2) Kemampuan dalam
menenkankan agar peserta didik mampu meng- mengubah kalimat sehari-hari ke dalam kalimat
komunikasikan gagasan dengan simbol, diagram matematika dengan menggunakan angka, kata-
atau media lain untuk memperjelas keadaan atau kata, simbol, gambar, grafik dan diagram
masalah, (5) Memiliki sikap menghargai kegu- dengan tepat terhadap suatu permasalahan, (3)
naan matematika dalam kehidupan yaitu me- Kemampuan dalam meruntutkan penyelesaikan
miliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat permasalahan, (4) Kemampuan dalam memberi-
dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet kan alasan atau kesimpulan secara sistematis
dan percaya diri dalam pemecahan masalah terhadap akhir dari penyelesaian permasalahan.
(Menteri Pendidikan Nasional, 2006). Fenomena yang diperoleh dari lapangan
Komunikasi dalam pembelajaran matema- menunjukkan bahwa selama proses pembelajar-
tika merupakan hal yang sangat penting, karena an siswa masih kurang aktif untuk meng-

Copyright © 2017, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


ISSN 2356-2684 (print), ISSN 2477-1503 (online)
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 4 (1), 2017 - 80
Rahmi Hidayati

komunikasikan ide-ide yang mereka miliki. teman yang dianggap lebih pandai atau kepada
Pada saat siswa diberikan soal untuk diselesai- guru untuk meminta bantuan saat mengalami
kan, masih ada siswa yang kurang lengkap kesulitan dalam menyelesaikan suatu perma-
dalam menuliskan proses pengerjaannya. Hal ini salahan matematika. Dengan demikian, kemam-
dapat dilihat dari penyelesaian soal ulangan puan interpersonal akan memudahkan siswa
yang telah dikerjakan oleh siswa. Salah satu soal dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Inter-
yang diberikan adalah suatu relasi dinyatakan aksi dalam kegiatan belajar dapat berupa tanya
dengan himpunan pasangan berurutan berikut jawab dengan guru atau berdiskusi dengan
*( )( )( ) ( ) ( ) ( )+ teman.
(a) tentukan domain, dan kodomainnya; (b) Dalam konteks pembelajaran di kelas,
nyatakan relasi tersebut ke dalam diagram pa- Gillies (2003, p. 38) mengungkapkan komponen
nah; (c) gambarlah relasi tersebut dalam bentuk kemampuan interpersonal meliputi (a) actively
diagram cartesius. Hasil penyelesaian menun- listening to each other (aktif mendengarkan satu
jukkan masih ada siswa yang salah dalam sama lain), (b) stating ideas freely (menyatakan
membuat diagram cartesius dan diagram panah. ide dengan bebas), (c) accepting responsibility
Padahal sebelumnya siswa sudah diajarkan cara for one’s behaviors (menerima tanggung jawab
membuat diagram panah dan diagram cartesius. atas perilaku seseorang), dan (d) providing
Selain kominikasi, kemampuan interper- concructivism criticsm (memberi kritik yang
sonal merupakan kemampuan yang harus ber- membangun). Adapun komponen kemampuan
kembang dengan baik. Banyak orang yang tidak interpersonal siswa dalam penelitian ini adalah:
menyadari bahwa kemampuan interpersonal (1) toleran/empati terhadap orang lain; (2) ber-
merupakan hal penting untuk dapat berhubungan tanggung jawab; (3) berkomunikasi; (4) kerja
dengan orang lain Kemampuan interpersonal sama, sehingga dapat memperoleh hasil terbaik
yang baik diperlukan dalam kehidupan pribadi, dan mencapai tujuan dalam pembelajaran
lingkungan pekerjaan, bermasyarakat, bahkan matematika.
dibutuhkan oleh siswa dalam berinteraksi di Memperhatikan permasalahan yang
lingkungan sekolah. Kemampuan interpersonal terjadi, peneliti berpendapat diperlukan adanya
pada umunya digunakan saat berhadapan lang- terobosan dalam pembelajaran yang diharapkan
sung dengan orang lain. mampu meningkatkan prestasi belajar, mengem-
Interpersonal skills merupakan keteram- bangkan kemampuan komunikasi matematis,
pilan berinteraksi yang berkaitan dalam berso- dan kemampuan interpersonal siswa. Oleh
sialisasi. Hayes (2003, p. 3) mengatakan bahwa karena itu, guru dituntut untuk memahami dan
keterampilan interpersonal adalah perilaku yang mampu menerapkan berbagai metode pembel-
diarahkan pada tujuan tertentu yang digunakan ajaran serta pendekatan pembelajaran yang
dalam interaksi tatap muka, hal itulah yang “sesuai” dengan kekhasan materi serta karak-
efektif dalam mewujudkan keadaaan yang teristik siswa sehingga guru dapat memfasilitasi
diinginkan. Menurut Hayes (1991, p. 5) kemam- kegiatan siswa dalam belajar.
puan interpersonal efektif dalam mewujudkan Diperlukan suatu perubahan yang men-
keadaan yang diinginkan dalam konteks ini dasar terutama strategi pembelajaran dan pende-
yaitu efektif dalam mewujudkan keberhasilan katan dalam pembelajaran matematika dimana
pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran, awalnya berpusat pada guru (tearcher centered)
terjadi interaksi antara guru dengan siswa, atau menjadi pendekatan yang berpusat pada siswa.
antara siswa dengan siswa yang lain. Interaksi Banyak terdapat model pembelajaran serta
tersebut dapat membantu perkembangan siswa, pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan
salah satunya perkembangan kognitif. Kemam- dalam pembelajaran matematika. Merupakan
puan individu dalam berinteraksi sosial sangat tugas guru untuk memilih model serta pende-
diperlukan dalam proses belajar. Dengan demi- katan pembelajaran yang sesuai agar tujuan
kian kemampuan interpersonal seseorang meme- pembelajaran tercapai.
gang peranan yang cukup penting karena dengan Salah satu model yang memiliki karakter
kemampuan ini, siswa akan dapat bekerjasama sesuai untuk menyelesaikan berbagai masalah
dengan siswa lain dalam mengembangkan yang terpapar adalah model kooperatif tipe think
pemahaman yang dimiliki. pair share (TPS). Arends, Prajitno, &
Kemampuan interpersonal berperan pen- Mulyantini (2008, p. 15) berpendapat bahwa
ting dalam pembelajaran matematika di sekolah. model pembelajaran TPS merupakan cara yang
Siswa perlu lebih banyak berinteraksi dengan efektif untuk membuat variasi suasana pola

Copyright © 2017, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


ISSN 2356-2684 (print), ISSN 2477-1503 (online)
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 4 (1), 2017 - 81
Rahmi Hidayati

diskusi di kelas. Hal ini disebabkan karena pro- yakni: (1) perumusan masalah untuk dipecahkan
sedur yang digunakan dalam model TPS mem- siswa; (2) menetapkan jawaban sementara atau
beri siswa lebih banyak berpikir, untuk meres- lebih dikenal dengan istilah hipotesis; (3) siswa
pons dan saling membantu antar sesama siswa. mencari informasi, data, fakta yang diperlukan
Dalam penerapannya, model TPS memiliki untuk menjawab permasalahan/hipotesis; (4)
beberapa kelebihan sebagaimana yang diung- menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi;
kapkan oleh Radhakrishna & Chikthimmah dan (5) mengaplikasikan kesimpulan/general-
(2012) yaitu (1) membantu mengorganisir siswa isasi dalam situasi baru. Metode mengajar yang
dalam memahami materi; (2) siswa menjadi biasa digunakan guru dalam pendekatan ini
lebih siap pada setiap sesi kelas; (3) waktu yang antara lain metode diskusi dan pemberian tugas,
diperlukan relatif singkat; (4) memberikan diskusi untuk memecahkan permasalahan
kesempatan para siswa untuk saling berdiskusi dilakukan oleh sekelompok kecil siswa anatara
dengan anggota kelompoknya; dan (5) mem- empat sampai lima orang dengan arahan dan
bantu guru dalam membuat suasana kelas lebih bimbingan guru.
interaktif. Satu pendekatan lain adalah problem
Untuk memaksimalkan proses pembel- based learning. Pendekatan problem based
ajaran, maka TPS akan diposisikan sebagai learning yang merupakan pendekatan yang
setting mendampingi suatu pendekatan. Ter- melibatkan siswa berperan lebih aktif dalam
dapat dua pendekatan yang dirasa memiliki proses pembelajaran. Problem based learning di
keselarasan dengan TPS sehingga dapat mem- Indonesia dikenal dengan belajar berbasis masa-
bangun proses pembelajaran yaitu discovery lah. Dimana guru merancang dan memulai
learning dan problem based learning. kegiatan pembelajaran dengan memberikan
Pendekatan discovery learning merupa- masalah kepada siswa. Dengan pendekatan
kan suatu pendekatan pembelajaran dimana problem based learning memungkinkan siswa
siswa dituntut untuk mampu menemukan suatu untuk melakukan investigasi, memecahkan
konsep dalam belajar. Dengan ini siswa dituntut masalah, dan menghubungkan antara konsep
untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran. yang satu dengan konsep yang lain.
Menurut Roestiyah NK (2008, p. 20) “Discovery Menurut Maxwell, Mergendoller, &
adalah proses mental dimana siswa mampu Bellisimo (2005, p. 317) bahwa praktek peng-
mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip”. ajaran dengan pendekatan belajar berbasis
Proses mental yang dimaksud yaitu: mengamati, masalah mengubah arah interaksi pembelajaran
mencerna, mengerti, menggolongkan, membuat yang berpusat pada guru kepada pembelajaran
dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat yang memungkinkan siswa terlibat aktif dalam
kesimpulan, dan sebagainya. Peran guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Karakteristik
pembelajaran berlangsung hanya sebagai pem- dari pendekatan pembelajaran PBL yaitu adanya
bimbing dan memberikan instruksi. Siswa masalah sebagai awal dari proses belajar meng-
berperan lebih aktif dalam menemukan konsep ajar. Masalah yang dirancang berasal dari
sendiri. permasalahan sehari-hari yang menarik untuk
efran ois (2000, p. 209) berpendapat disajikan kepada siswa. Kemudian masalah
bahwa pembelajaran discovery adalah harus disajikan dengan menyesuaikan pada tun-
pembelajaran yang terjadi ketika siswa tidak tutan kurikulum, terutama standar kompetensi,
disajikan materi pelajaran secara langsung kompetensi dasar serta kompetensi yang harus
melainkan diminta untuk menemukan sendiri dimiliki siswa setelah mempelajari topik
hubungan yang ada antara informasi-informasi bersangkutan.
yang diberikan. Balım (2009, p. 2) mengutara- Berdasarkan uraian masalah yang terpapar
kan bahwa dalam pembelajaran terjadi oleh pe- tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk
nemuan, yang mengutamakan refleksi, berpikir, mendeskripsikan keefektifan pembelajaran
bereksperimen, dan bereksplorasi. Dengan tuju- setting tps pendekatan discovery learning
an penemuan disini dari yang awalnya tidak dengan setting TPS pendekatan problem based
diketahui menjadi diketahui oleh siswa itu learning ditinjau dari aspek prestasi belajar,
sendiri. Siswa berpartisipasi aktif selama proses kemampuan komunikasi matematis, dan ke-
pembelajaran berlangsung. mampuan interpersonal siswa. Diharapkan hasil
Sagala (2009, p. 197) mengemukakan dari penelitian ini menjadi referensi bagi guru
terdapat lima tahapan yang ditempuh dalam dalam pembelajaran matematika, terutama yang
melaksanakan pendekatan inquiry/discovery berkaitan dengan pembelajaran setting tps

Copyright © 2017, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


ISSN 2356-2684 (print), ISSN 2477-1503 (online)
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 4 (1), 2017 - 82
Rahmi Hidayati

pendekatan discovery learning dan problem one sample t-test dengan formula sebagai
based learning, dan bagaimana keefektifan berikut:
kedua pembelajaran tersebut pada ditinjau dari
aspek prestasi belajar, kemampuan komunikasi
matematis, dan kemampuan interpersonal siswa.
METODE : Nilai rata-rata sampel
Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dan : nilai rata-rata yang ditetapkan
menggunakan desain penelitian kuasi eksperi- S : Standar deviasi sampel
men (eksperimen semu). Penelitian ini dilaku- n : banyak anggota sampel
kan di SMP Negeri 1 Yogyakarta. Penelitian ini Nilai rata-rata yang ditetapkan ( ) untuk
dilaksanakan pada siswa kelas VIII semester 2 kriteria keefektifan ditinjau dari prestasi belajar,
tahun pelajaran 2015/2016. Populasi dalam pe- kemampuan komunikasi matematis, dan
nelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP kemampuan interpersonal siswa berturut-turut
Negeri 1 Yogyakarta tahun ajaran 2015/2016, adalah 71, 71, dan 68. Pengujian hipotesis
terdiri atas 8 kelas. Dengan menggunakan teknik menggunakan bantuan SPSS 21 for Windows
pengundian secara acak dari 8 kelas diperoleh dengan kriteria keputusan pendekatan pembel-
dua kelas yaitu kelas VIII E dipilih sebagai ajaran dikatakan efektif apabila diperoleh nilai
kelompok eksperimen setting tps pendekatan signifikansinya lebih besar atau sama dengan
discovery learning sedangkan kelas VIII F 0,05.
sebagai kelompok eksperimen setting tps Sebelum melakukan uji MANOVA, ter-
pendekatan problem based learning. lebih dahulu dilakukan uji asumsi terhadap data
Data dalam penelitian ini diperoleh prestasi belajar, kemampuan komunikasi mate-
dengan pemberian tes prestasi, tes kemampuan matis, dan kemampuan interpersonal siswa,
komunikasi matematis, dan pengisian angket yaitu uji normalitas multivariat dan uji homo-
kemampuan interpersonal siswa. Instrumen yang genitas matriks varians-kovarians, baik untuk
digunakan adalah instrumen prestasi belajar, data sebelum dan setelah perlakuan. Uji normal-
kemampuan komunikasi matematis, dan itas multivariat dilakukan menggunakan uji
kemampuan interpersonal. jarak Mahalanobis dengan kriteria keputusan
Dari segi validitas isi, instrumen tes dan bahwa data dikatakan berdistribusi normal jika
angket dinyatakan layak berdasar penilaian ahli. sekitar 50% data mempunyai nilai. Uji homo-
Dari segi validitas konstruk, berdasarkan hasil genitas matriks varians-kovarians dilakukan
analisis faktor pada angket kemampuan inter- dengan menggunakan uji Box’s M dengan kri-
personal siswa. Reliabilitas tes prestasi belajar teria keputusan bahwa data dikatakan homogen
terdiri atas tes pilihan ganda yaitu 0,709 dan jika nilai signifikansi F lebih besar dari 0,05.
0,727 dengan Standar Error Measurement Untuk data sebelum perlakuan dilakukan uji
(SEM) sebesar 9,808 dan 9,583. Reliabilitas tes MANOVA untuk melihat apakah terdapat per-
kemampuan komunikasi matematis adalah 0,775 bedaan kemampuan awal antara dua kelas
dan 0,873 dengan SEM sebesar 1,054 dan 1,021. sampel ditinjau dari aspek prestasi belajar,
Reliabilitas tes kemampuan interpersonal 0,805 kemampuan komunikasi matematis, dan
dengan SEM sebesar 3,887. kemampuan interpersonal siswa dengan meng-
Data pretest dan posttest disajikan secara gunakan formula sebagai berikut:
deskriftif dan inferensial. Teknik analisis data
dilakukan dengan cara mendeskripsikan data
dan menganalisis statistik inferensial terhadap (Stevens, 2009, p. 148) dengan:
data yang diperoleh. Deskripsi data dilakukan : Hotelling’s
dengan mencari rata-rata, standar deviasi, : banyak subjek kelompok I
varians, skor minimal, dan skor maksimal dari :banyak subjek kelompok II
data yang diperoleh, baik untuk data sebelum : vektor rata-rata kelompok I
perlakuan, maupun untuk data setelah perlakuan. : vektor rata-rata kelompok II
Untuk menguji apakah setting tps dalam pen-
: invers matriks kovarians.
dekatan discovery learning dan problem based
Setelah memperoleh nilai T2 Hotteling’s,
learning efektif ditinjau dari prestasi belajar,
selanjutnya nilai tersebut ditransformasikan
kemampuan komunikasi matematis, dan
kemampuan interpersonal siswa digunakan uji

Copyright © 2017, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


ISSN 2356-2684 (print), ISSN 2477-1503 (online)
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 4 (1), 2017 - 83
Rahmi Hidayati

untuk memperoleh nilai distribusi F dengan HASIL DAN PEMBAHASAN


formula sebagai berikut:
Data yang dideskripsikan berupa hasil
pretest dan posttest prestasi belajar, kemampuan
komunikasi matematis, dan hasil angket ke-
Dengan p merupakan banyaknya variabel mampuan interpersonal siswa yang dikumpul-
terikat. Kriteria pengujiannya yakni hipotesis kan sebelum dan sesudah diberi perlakuan serta
terdapat perbedaan rata-rata kelompok setting hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran.
tps dalam pendekatan discovery learning dengan Data hasil tes prestasi belajar pada kelas
kelompok setting tps dalam pendekatan problem TPS+DL dan kelas TPS+PBL dideskripsikan
based learning ditolak jika nilai signifikansinya berdasarkan nilai pretest dan posttest.
lebih kecil dari 0,05. Setelah diketahui bahwa
tidak terdapat perbedaan kemampuan awal Tabel 1. Dekskripsi Hasil Pretest dan Postest
antara kedua kelas sampel, maka untuk data Prestasi Belajar Kelas TPS+DL dan TPS+PBL
prestasi belajar, kemampuan komunikasi mate- TPS + DL TPS + PBL
Deskripsi
matis, dan kemampuan interpersonal siswa Pret Postt Pret Postt
setelah perlakuan pun dilakukan uji untuk Rata-rata 51,3 79,9 45,0 79,1
melihat apakah terdapat perbedaan. Variansi 178,5 66,9 157,6 64,4
Pengujian perbedaan keefektifan pembel- Standar Dev 13,36 8,18 12,55 8,02
ajaran setting tps dalam pendekatan discovery Max Teor 100 100 100 100
Min Teor 0 0 0 0
learning dan pembelajaran setting tps dalam
Nilai Max 75 95 75 95
pendekatan problem based learning ditinjau dari Nilai Min 30 60 25 60
prestasi belajar, kemampuan komunikasi mate- Berdasarkan Tabel 1, diperoleh informasi
matis, dan kemampuan interpersonal siswa bahwa nilai rata-rata prestasi belajar, baik untuk
menggunakan rumus MANOVA. Setelah dike- kelas TPS+DL, maupun kelas TPS+PBL meng-
tahui bahwa terdapat perbedaan keefektifan, alami peningkatan setelah dilakukan treatment.
maka terhadap data tersebut dilakukan uji Pada kelas TPS+DL mengalami peningkatan
independent t-test untuk melihat perbandingan sebesar 28,6 yaitu skor awal 51,3 menjadi 79,9.
setting tps dalam pendekatan discovery learning Sedangkan untuk kelas TPS+PBL mengalami
dengan setting tps dalam pendekatan problem peningkatan sebesar 34,1 denagn rata-rata awal
based learning ditinjau dari prestasi belajar, 45,0 menjadi 79,1.
kemampuan komunikasi matematis, dan ke- Deskripsi data kemampuan komunikasi
mampuan interpersonal siswa, dengan meng- matematis, baik untuk kelas TPS+DL, maupun
gunakan formula sebagai berikut: untuk kelas TPS+PBL bisa dilihat pada Tabel 2
Tabel 2. Dekskripsi Hasil Pretest dan Postest
Kemampuan Komunikasi Matematis Kelas
TPS+DL dan TPS+PBL
Dengan TPS + DL TPS + PBL
Deskripsi
(Stevens, 2009, p. 147) dengan: Pret Postt Pret Postt
Rata-rata 66,0 71,4 64,6 71,5
: nilai rata-rata sampel I
Variansi 37,15 59,37 20,55 70,80
: nilai rata-rata sampel II Kategori Rendah Sedang Rendah Rendah
: varians sampel I Standar Dev 6,09 7,71 4,53 8.41
: varians sampel II Max Teor 125 125 125 125
: jumlah subjek kelompok I Min Teor 25 25 25 25
Nilai Max 79 85 73 85
: jumlah subjek kelompok II Nilai Min 56 53 57 53
Pengujian hipotesis perbandingan dalam Berdasarkan Tabel 2, diperoleh informasi
penelitian ini menggunakan bantuan SPSS 21 for bahwa nilai rata-rata kemampuan komunikasi
Windows dengan kriteria keputusan pembelajar- matematis, baik untuk kelas TPS+DL, maupun
an setting tps dalam pendekatan problem based kelas TPS+PBL mengalami peningkatan setelah
learning lebih efektif dibandingkan dengan dilakukan treatment. Pada kelas TPS+DL meng-
setting tps dalam pendekatan discovery learning. alami peningkatan sebesar 45,9 yaitu skor awal
32,9 menjadi 78,8. Sedangkan untuk kelas

Copyright © 2017, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


ISSN 2356-2684 (print), ISSN 2477-1503 (online)
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 4 (1), 2017 - 84
Rahmi Hidayati

TPS+PBL mengalami peningkatan sebesar 49,3 Tabel 4 memperlihatkan bahwa sekitar


denagn rata-rata awal 30,4 menjadi 79,7. 50% data mempunyai nilai ( ) . Atau
Deskripsi data kemampuan interpersonal dengan kata lain, data prestasi belajar, data
siswa, baik untuk kelas TPS+DL, maupun untuk kemampuan komunikasi matematis, dan
kelas TPS+PBL bisa dilihat pada Tabel 3 kemampuan interpersonal siswa untuk sebelum
Tabel 3. Dekskripsi Hasil Pretest dan Postest dan setelah perlakuan, baik untuk kelas
Kemampuan Interpersonal Siswa Kelas TPS+DL, maupun untuk kelas TPS+PBL sudah
TPS+DL dan TPS+PBL memenuhi asumsi normalitas.
TPS + DL TPS + PBL Tabel 5. Hasil Uji Homogenitas
Deskripsi
Pretest Posttest Pretest Posttest
Sebelum Setelah
Rata-rata 32,9 78,8 30,4 79,7 Perlakuan Perlakuan
Variansi 86,78 185,21 145,88 214,43 Box’s M 9,870 12,458
Standar Dev 9,32 13,6 12,08 14,64 F 1,565 1,975
Max Teor 100 100 100 100 Sig. 0,153 0,065
Min Teor 0 0 0 0
Nilai Max 50 100 75 100
Berdasarkan Tabel 5, diperoleh informasi
Nilai Min 5,56 50 11,11 50 bahwa nilai signifikansi F lebih besar dari 0,05
Berdasarkan Tabel 3, diperoleh informasi atau dengan kata lain, data prestasi belajar,
bahwa nilai rata-rata kemampuan interpersonal kemampuan komunikasi matematis, matematika,
siswa, baik untuk kelas TPS+DL, maupun kelas dan kemampuan interpersonal siswa untuk
TPS+PBL mengalami peningkatan setelah dila- sebelum dan setelah perlakuan sudah memenuhi
kukan treatment. Pada kelas eksperimen 1 asumsi homogenitas.
mengalami peningkatan sebesar 5,5 yaitu skor Hasil uji mengenai keefektifan pembel-
awal 66,0 kategori rendah menjadi 71,5 dengan ajaran setting tps dalam pendekatan discovery
kategori sedang. Sedangkan untuk kelas ekspe- learning dan problem based learning ditinjau
rimen 2 mengalami peningkatan sebesar 6,9 dari aspek prestasi belajar, kemampuan komu-
denagn rata-rata awal 64,6 kategori rendah nikasi matematis, dan kemampuan interpersonal
menjadi 71,5 dengan kategori sedang. siswa dapat dilihat pada Tabel 6.
Berdasarkan analisis yang telah dilaku- Tabel 6. Hasil Uji One Sample t-test
kan, diperoleh rata-rata total keterlaksanaan
TPS+DL TPS+PBL
pembelajaran matematika setting tps dalam Aspek
t sig t sig
pendekatan discovery learning adalah 92,98%
PB 6,407 0,000 5,901 0,000
sedangkan rata-rata total keterlaksanaan pembel- KKM 3,395 0,002 3,480 0,001
ajaran matematika setting tps dalam pendekatan KI 2,611 0,013 2,446 0,020
problem based learning adalah 93,94%. Dari Keterangan
rerata butir kegiatan pembelajaran yang PB : Prestasi Belajar
terlaksana dapat dikatakan bahwa pembelajaran KKM : Kemampuan Komunikasi Matematis
dengan setting tps dalam pendekatan discovery KI : Kemampuan Interpersonal Siswa
learning dan setting tps dalam pendekatan Berdasarkan Tabel 6, diperoleh informasi
problem based learning sudah terlaksana dengan bahwa nilai signifikansi t untuk semua aspek
baik. lebih kecil dari 0,05. Artinya, pembelajaran
Uji normalitas dan homogenitas data setting TPS dalam pendekatan discovery
prestasi belajar, kemampuan komunikasi mate- learning dan pembelajaran setting TPS dalam
matis, dan kemampuan interpersonal siswa pendekatan problem based learning efektif
untuk sebelum dan setelah perlakuan, baik untuk ditinjau dari aspek prestasi belajar, kemampuan
kelas eksperimen 1, maupun untuk kelas eks- komunikasi matematis, dan kemampuan inter-
perimen 2 secara berturut-turut bisa dilihat pada personal siswa. Hasil di atas kemudian sejalan
Tabel 4 dan Tabel 5. dengan kajian teori yang mengungkapkan bahwa
kedua pembelajaran tersebut efektif ditinjau dari
Tabel 4. Hasil Uji Normalitas
ketiga aspek yang diukur. Hal ini disebabkan
Sebelum Setelah karena pada pembelajaran dengan setting tps
Kelas
Perlakuan Perlakuan siswa aktif dalam berdiskusi menyelesaikan
TPS+DL 51,43% 48,57% masalah yang terdapat pada LKS.
TPS+PBL 44,12% 44,12% Pada pembelajaran setting tps dalam
pendekatan discovery learning, siswa diberikan

Copyright © 2017, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


ISSN 2356-2684 (print), ISSN 2477-1503 (online)
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 4 (1), 2017 - 85
Rahmi Hidayati

kesempatan untuk menyelesaikan suatu soal Tabel 7. Hasil Hotelling Sebelum dan
yang bersifat masalah yang terdapat dalam LKS. Setelah Perlakuan
Siswa diberi waktu untuk menyelesaikannya
F Sig.
terlebih dahulu secara individu (think), disini Sebelum Perlakuan 2,316 0,084
siswa dapat mengembangkan pemahamannya Setelah Perlakuan 0,135 0,939
terhadap masalah yang diberikan. Setidaknya Berdasarkan Tabel 7, diperoleh informasi
pada tahap think ini siswa sudah memiliki per- bahwa nilai signifikansi F lebih besar dari 0,05
mahaman dan jawaban sementara terhadap untuk data sebelum perlakuan dan setelah
masalah yang diberikan. Selanjutnya, siswa perlakuan. Artinya, untuk sebelum dan sesudah
duduk berpasangan (pair) untuk mendiskusikan perlakuan, tidak terdapat perbedaan kemampuan
masalah yang diberikan, menyatukan pemikiran, awal antara kelas setting tps dalam pendekatan
menemukan konsep, setelah mendapat jawaban discovery learning dengan setting tps dalam
dan kesepakatan maka siswa akan mempre- pendekatan problem based learning ditinjau dari
sentasikan hasil diskusi mereka ke depan kelas aspek prestasi belajar, kemampuan komunikasi
(share). Pada tahap share memungkinkan matematis, dan kemampuan interpersonal siswa.
peningkatan pemahaman siswa karena siswa Setelah perlakuan, tidak terdapat perbedaan
dapat bertanya atas apa yang tidak dipahaminya keefektifan pembelajaran setting tps dalam
kepada teman yang presentasi, bertukar ide dan pendekatan discovery learning dengan setting
gagasan. tps dalam pendekatan problem based learning
Pada pembelajaran setting tps dalam pen- ditinjau dari aspek prestasi belajar, kemampuan
dekatan problem based learning, siswa diberi- komunikasi matematis, dan kemampuan
kan kesempatan untuk menyelesaikan suatu soal interpersonal siswa.
yang bersifat masalah yang terdapat dalam LKS.
Siswa diberi waktu untuk menyelesaikan masa- SIMPULAN
lahnya terlebih dahulu secara individu (think), Pembelajaran setting TPS dalam pende-
disini siswa dapat mengembangkan pemaha- katan discovery learning dan pembelajaran
mannya terhadap masalah yang diberikan. setting TPS dalam pendekatan problem based
Setidaknya pada tahap think ini siswa sudah learning efektif ditinjau dari aspek prestasi
memiliki pemahaman dan jawaban sementara belajar, kemampuan komunikasi matematis, dan
terhadap masalah yang diberikan. Selanjutnya, kemampuan interpersonal siswa. Pembelajaran
siswa duduk berpasangan (pair) untuk men- setting TPS dalam pendekatan discovery
diskusikan masalah yang diberikan, menyatukan learning dan pembelajaran setting TPS dalam
pemikiran, setelah mendapat jawaban dan ke- pendekatan problem based learning tidak
sepakatan maka siswa akan mempresentasikan terdapat perbedaan keefektifan ditinjau dari
hasil diskusi mereka ke depan kelas (share). aspek prestasi belajar, kemampuan komunikasi
Pada tahap share memungkinkan peningkatan matematis, dan kemampuan interpersonal siswa.
pemahaman siswa karena siswa dapat bertanya
atas apa yang tidak dipahaminya kepada teman DAFTAR PUSTAKA
yang presentasi, bertukar ide dan gagasan. Arends, R. I., Prajitno, H., & Mulyantini, S.
Hasil penelitian pun selaras dengan hasil (2008). Belajar untuk mengajar (Learning
penelitian yang dilakukan oleh Siregar & to teach), 1 Edisi 9 (7 edition).
Marsigit, (2015, p. 2) bahwa pendekatan Yogyakarta: Salemba Humanika .
discovery learning dan problem based learning
Balım, A. G. (2009). The effects of discovery
efektif ditinjau prestasi belajar, kemampuan
learning on students’ success and inquiry
komunikasi matematis dan kemampuan inter-
learning skills. Eurasian Journal of
personal siswa. Hasil uji mengenai apakah terda-
Educational Research Egitim
pat perbedaan kemampuan awal antara kedua
Arastirmalari-Eurasian Journal of
kelas sampel sebelum diberikan perlakuan dan
Educational Research, 35(35), 1–20.
perbedaan keefektifan pembelajaran setting tps
Retrieved from
dalam pendekatan discovery learning dan
http://www.ejer.com.tr/0DOWNLOAD/p
problem based learning ditinjau dari prestasi
dfler/eng/1177009234.pdf
belajar, kemampuan komunikasi matematika,
dan kemampuan interpersonal siswa dapat Daniyati, N. A., & Sugiman, S. (2015).
dilihat pada Tabel 7. Hubungan antara kemampuan verbal,
kemampuan interpersonal, dan minat

Copyright © 2017, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


ISSN 2356-2684 (print), ISSN 2477-1503 (online)
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 4 (1), 2017 - 86
Rahmi Hidayati

belajar dengan prestasi belajar Mathematics: The Ontario Curriculum


matematika. PYTHAGORAS: Jurnal Grades 9 and 10. Toronto: Queen’s
Pendidikan Matematika, 10(1), 50–60. Printer for Ontario. Retrieved from
http://doi.org/10.21831/PG.V10I1.9109 http://www.edu.gov.on.ca/eng/curriculum
Gillies, R. M. (2003). Cooperative learning: /secondary/math910curr.pdf
Integrating theory and practice. London: Phye, G. D. (1997). Handbook of classroom
SAGE Publications. assessment: Learning, achievement, and
Hayes, J. (1991). Interpersonal skills: Goal- adjustment. San Diego, CA: Academic
directed behaviour at work. New York: Press, Inc.
Routledge. Radhakrishna, R., & Chikthimmah, N. (2012).
Hayes, J. (2003). Interpersonal skills at work. TPS (think, pair and share) as an active
New York: Routledge. learning strategy. NACTA Journal, 56(3),
84–85. Retrieved from
efran ois, G. . (2000). Psychology for
https://www.nactateachers.org/images/Se
teaching: A bear is not a choirboy!
p12_3_TPS_Think_Pair_and_Share_as_a
Belmont: Wadsworth/Thomson Learning.
n_Active_Learning_Strategy.pdf
Mahmudi, A. (2009). Komunikasi dalam
Roestiyah NK. (2008). Strategi belajar
pembelajaran matematika. Jurnal
mengajar: salah satu unsur pelaksanaan
MIPMIPA UNHALU, 8(1), 1412–2318.
strategi belajar mengajar, teknik
Masykur, M., & Fathani, A. H. (2009). penyajian. Jakarta: Rhineka Cipta.
Mathematical intelegence: Cara cerdas
Sagala, S. (2009). Konsep dan makna
melatih otak dan menanggulangi
pembelajaran untuk membantu
kesulitan belajar. Jogyakarta: AR-Ruzz
memecahkan problematika belajar dan
Media.
mengajar. Bandung: Alfabeta.
Maxwell, N. L., Mergendoller, J. R., &
Siregar, N. C., & Marsigit, M. (2015). Pengaruh
Bellisimo, Y. (2005). Problem-based
pendekatan discovery yang menekankan
learning and high school
aspek analogi terhadap prestasi belajar,
macroeconomics: A comparative study of
kemampuan penalaran, kecerdasan
instructional methods on JSTOR. The
emosional spiritual. Jurnal Riset
Journal of Economic Education, 36(4),
Pendidikan Matematika, 2(2), 224.
315–331. Retrieved from
http://doi.org/10.21831/jrpm.v2i2.7336
https://www.jstor.org/stable/30042670?se
q=1#page_scan_tab_contents Stevens, J. P. (2009). Applied multivariate
statistics for the social sciences, Fifth
Menteri Pendidikan Nasional. Peraturan Menteri
Edition. New York: Routledge.
Pendidikan Nasional RI nomor 22, tahun
2006, tentang standar isi intuk satuan Van de Walle, J. A. (2010). Elementary and
pendidikan dan menengah, Peraturan middle school mathematics : teaching
Menteri Pendidikan Nasional (2006). developmentally. Boston: Pearson /Allyn
and Bacon.
Ontario Ministry of Education. (2005).

Copyright © 2017, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


ISSN 2356-2684 (print), ISSN 2477-1503 (online)