Anda di halaman 1dari 18

Kekurangan Pasokan Darah karna Agina Pectoris

Ellon Julian Emus Akasian

Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Terusan Arjuna No. 6 Kebun jeruk, Jakarta Barat

Abstrak

Jantung merupakan organ yang sangat fungsional, organ ini penting karena berfungsi dalam
sistem sirkulasi darah dalam tubuh. Dalam sistem sirkulasi ini memiliki tiga komponen yang
utama yaitu jantung, pembuluh darah, dan darah. Jantung juga mempunyai lapisan serta terbagi
menjadi 4 ruang dan mempunyai 4 katup, serta terdapat pembuluh darah yang melewati katub
tersebut. Fungsi dan mekanisme kerja jantung berhubungan dengan aliran listrik yang
ditimbukan oleh jantung dan enzim yang terdapat pada jantung serta berpengaruh pada siklus
jantung. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi mekanisme kerja jantung. Pemeriksaan
pada jantung ialah berupa rekam aktivitas jantung yang disebut EKG (elektrokardiogram).
Dalam mekanisme kerja jantung pun dapat tejadi kelainan pada sistem tersebut antara lain
Angina pektoris yang merupakan penyakit jantung iskemik didefinisikan sebagai berkurangnya
pasokan oksigen dan menurunnya aliran darah ke dalam miokardium.

Kata kunci : mekanisme jantung, listrik jantung, enzim, EKG

Abstrack

The heart is a very functional organ, the organ is important because it functions in the blood circulation
system in the body. In this circulatory system has three main components namely the heart, blood vessels,
and blood. The heart also has a layer and is divided into 4 chambers and has 4 valves, and there are blood
vessels that pass through the valve. The function and mechanism of the work of the heart associated with
the flow of electricity that is supplemented by the heart and enzymes found in the heart and affect the
heart cycle. There are several factors that affect the mechanism of heart work. The examination of the
heart is a record of cardiac activity called the EKG (electrocardiogram). In the mechanism of the heart's
work can occur abnormalities in the system, among others, Angina pectoris is an ischemic heart disease is
defined as reduced oxygen supply and decreased blood flow into the myocardium.

Keywords: heart mechanism, heart electrical, enzyme, ECG


Pendahuluan

Jantung adalah suatu organ yang merupakan bagian dari suatu sistem dalam tubuh manusia yang
ikut berperan dalam mekanisme untuk mempertahankan homeostasis. Sistem yang dimaksud
adalah system kardiovaskular. Sistem kardiovaskular dikenal juga sebagai sistem jantung-
pembuluh darah. Fungsi utama jantung adalah mendorong darah agar dapat mengalir dengan
lancer di dalam pembuluh pada sistem sirkulasi ke seluruh tubuh. Sistem Kardiovaskuler
merupakan system transportasi dalam tubuh yang berfungsi menghantarkan berbagai
nutrisi,oksigen, air dan elektrolit menuju jaringan tuubuh dan membawa berbagai sisa
metabolism jaringan ke alat eksresi. Selanjutnya juga mengangkut panas sebagai hasil proses
metabolism sel ke seluruh tubuh serta membawa berbagai hormone dari kelenjar endokrin ke
organ sasaran. Komponen utama dari system Kardiovaskuler adalah Jantung yang berfungsi
sebagai pompa, Pembuluh darah yang berperan sebagai saluran dan darah yang menjadi media
transportnya. Jantung memiliki 2 sistem Sirkulasi yaitu Sirkulasi Sistemik dan Sirkulasi
Pulmonal. Sirkulasi Pulmonal merupakan peredaran darah dari jantung ke paru-paru dan dari
paru-paru ke jantung. Sedangkan sirkulasi sistemik menyalurkan darah ke seluruh organ/jaringan
tubuh dan dari seluruh tubuh kembali ke jantung.

Isi

Makroskopis jantung

Jantung merupakan organ yang terbentuk dari otot-otot jantung atau miocardium yang memiliki
rongga di dalamnya. Jantung pada umumnya berbentuk kerucut dengan ukuran seperti satu
tangan yang di kepal. Jantung di dalam dada duduk di atas diaphragma di antara bagian inferior
kedua paru. Jantung di bungkus oleh suatu membran yang di sebut pericardium yang berfungsi
menjaga jantung dari gesekan.1

permukaan jantung:

1. Permukaan anterior (sternokostalis) terdiri dari atrium kanan, sulcus atrioventrikular,


ventrikel kanan, segaris tipis ventrikel kiri, dan aurikula atrium kiri.
2. Permukaan inferior (diafragmatica) terdiri dari atrium kanan, sulcus atrioventrikular dan
kedua ventrikel yang dipisahkan oleh sulcus intraventrikular.
3. Permukaan posterior (basalis) terdiri dari atrium kiri yang menerima keempat vena
pulmonalis. Jantung terletak di dalam mediastinum media pars inferior, di ventralnya
ditutupi oleh sternum dam cartilago costalis III-VI.

Jantung memiliki apex atau puncak yang terletak di sebelah inferior anterior sinistra. Pada orang
dewasa, jantung memiliki ukuran panjang 12 cm, lebar 8-9 cm, berat jantung pada laki-laki
berkisar antara 280-350 gram, sementara pada wanita berkisar antara 230-280 gram.2

Lapisan jantung

- Selaput yang membungkus jantung disebut pericardium dimana terdiri antara


lapisanfibrosa dan serosa. Dalam cavum pericardii berisi 50 cc yang berfungsi sebagai
pelumas agar tidak ada gesekan antara pericardium dan epicardium.
- Epicardium adalah lapisan paling luar dari jantung, lapisan berikutnya adalah laipasan
miokardium dimana lapisan ini adalah lapisan yang paling tebal.2

Jantung memiliki 4 ruang yaitu 2 atrium dan 2 ventrikel, yaitu :

1. Atrium dextrum,
mengeluarkan darah yang kurang beroksigen dari jaringan tubuh. Atrium dextrum terbagi
atas atrium propria dan auricula dextra. Atrium propria dibagi atas ostium v. Cava
superior, ostium v. Cava inferior, ostium sinus coronarius, foramina vanarum
minimarum, fossa ovalis, dan tuberculum intervenosum. Auricula dextra berhubungan
dengan sulcus terminalis yang merupakan batas auricula dengan atrium.
2. Atrium sinistrum
menerima darah yang kaya oksigen dari paru-paru untuk
nantinya dislaurkan keseluruh tubuh untuk proses metabolisme. Terdiri dari dua bagian,
yaitu atrium proprium dan auricula. Dimana pada atrium proprium ini bermuara 4 vena
pulmonalis dan masing masing sisi bermuara 2 vena (ostium vv. Pulmonale dan ostium
atrioventricularis sinister).
3. Ventriculus dexter
Memompa darah ke paru-paru. Ventrikel ini meliputi sebagian besar fascies
sternococtalis. Terdapat ostium atrioventrikularis dextra/valve trikuspidalis, trabekula
carneae, m. Papilaris, ostium trunci pulmonalis.
4. Ventriculus sinistrum
Memompa darah ke seluruh jaringan tubuh. Sehingga dinding ventrikel kiri lebih tebal
daripada ventriculus dexter. Ventrikel ini terletak sebagian kecil di fascies sternocostalis
dan separuh di fascies diaphragmatica. Terdapat ostium atrioventrikularis sinistra/valva
mitralis, trabekula carneae, m. Papilaris, chorda tendinae, dan ostium aorticum (valvula
semilunaris)

Di download dari : https://www.google.co.id/search?q=anatomi+jantung&client=firefox

Dinding atrium lebih tipis daripada dinding ventrikel. Selain itu, dinding atrium lebih rata,
sedangkan dinding ventrikel terdapat tonjolan-tonjolan yang disebut trabekula. Trabekula yang
tinjolannya nyata disebut M. Papilaris, melanjut sebagai chorda tendinae.

Dua pasang rongga di masing-masing belahan jantung disambungkan oleh sebuah katup.
Katup di antara atrium dextra dan ventrikel dextra disebut katup atrioventrikularis dextra atau
biasa disebut sebagai katup trikuspidalis, dan katup di antara atrium sinistra dan ventrikel sinistra
disebut katup atrioventrikularis sinistra atau katup mitralis.

Katup lainnya yaitu katup aorta dan katup pulmonalis yang dikenal sebagai katup semilunaris
yang terletak pada sambungan dimana tempat arteri-arteri besar keluar dari ventrikel. Katup ini
akan terbuka setiap kali tekanan di ventrikel dextra dan sinistra melebihi tekanan di aorta. Arteri
pulmonalis selama ventrikel berkontraksi dan mengosongkan isinya. Katup ini akan tertutup
apabila ventrikel melemas dan tekanan ventrikel turun di bawah tekanan aorta dan arteri
pulmonalis. Katup yang tertutup mencegah aliran balik dari arteri ke ventrikel.3

Hubungan jantung dengan sekitarnya : ruangan pada cavum thoracis terletak antara pulmo
dextra dan sinistra di atas diafragma dibelakang sternum dan costae disebut dengan mediastinum.
Mediastinum di bagi menjadi :

1. Mediastinum superior, terisi sebagian besar oleh pembuluh-pembuluh darah besar dari
jantung.
2. Mediastinum inferior di bagi menjadi :
- Mediastinum anterior : jaringan lemak dan lymphonodi
- Mediastinum media : pericardium yang meliputi cor dan pembuluh darah yang keluar
masuk jantung
- Mediastinum posterior : aorta desecendes (ductus thoracica). Ductus thoracica, v.
Azygos dan hemiazygos, dan esophagus.

Vaskularisasi jantung

Jantung mendapat pendarahan dari a. Coronaria cordis cabang dari aorta ascendens. A.Coronaria
cordis terdapat 3 cabang yaitu :

1. Anterior mendarahi ke lengan kiri

2. Inferior mendarahi ke bagian lambung

3. Posterior mendarahi ke bagian punggung

Vena-vena jantung

Bermuara pada sinus coronarius

- V. Cordis magna
- V. Cordis parva
- V. Cordis media
- V. Ventricularis sinistra posterior
- V. Obliqua atrii sinistra Marshalli

Struktur mikroskopis dinding jantung terdiri dari 3 lapisan :


1. Endokardium, terdiri atas :

 Selapis endotel merupakan lapisan terdalam, terdiri atas selapis pipih


 Lapisan subendotel : terdiri atas jaringan ikat yang mengandung sabut elastin dan sedikit
otot polo
 Lapisan elastika muskuler : mengandung banyak sabut elastis dan sedikit otot polos
 Lapisan subendokardium :lapisan di bawah endokardium, menghubungkan endokardium.
Terdiri atas jaringan ikat longgar dengan pembuluh darah dan kadang mengandung serat
purkinye
2. Miokardium merupakan anyaman otot jantung yang tersusun berlapis-lapis secara spiral
sehingga daya pompanya besar. Otot-otot jantung saling berhubungan disebut syncytium.
Otot jantung mempunyai (discus interkalaris), yaitu membran pemisah antara dua sel otot
jantung yang bersebelahan. Mengandung pembuluh-pembuluh darah dan serabut-serabut
saraf tak bermielin, kapiler banyak. Miokardium atrium dan miokardium ventrikel
dipisahkan oleh annulus fibrosus.
3. Epikardium, lapisan paling luar yang disebut juga pericardium, terdiri dari 2 lapisan yaitu
pericardium visceralis dan pericardium pars parietalis.

https://www.google.co.id/search?q=vaskularisasi+jantung+sampai+lengan&client=firefox

Pembuluh Darah

Darah di pompa dari jantung ke seluruh tubuh melalui suatu saluran yang dikenal sebagai
pembuluh nadi. Dari jantung darah akan melalui arteri besar (aorta), arteri sedang, arteri kecil
(arteriol) kemudian kapiler. Kemudian darah kembali lagi ke jantung melalui kapiler, venula,
vena kecil, vena sedang, kemudian vena besar.

Pembuluh darah terdiri dari 3 :

1. Arteri, menyalurkan darah dari jantung ke seluruh tubuh (distribusing system). Ada arteri
besar, sedang, kecil, dan alveolar

2. Vena, mengumpulkan darah dari tubuh untuk disalurkan ke jantung (collecting system). Ada
vena besar, sedang, kecil, dan venular.

3. Kapiler, tempat pertukaran zat. Peralihan dari arteriol ke venular.

Susunan umum pembuluh darah terdiri dari :

1. Tunika Intima : endotel (epitel selapis gepeng) dan subendotel (jaringan ikat areolar)

2. Tunika media : jumlah jaringan ikat padat bervariasi dan otot polos

3. Tunika adventitia : Jaringan ikat dan serat saraf, pembuluh limfe dan vasa vasorum

Mekanisme kerja jantung

Jantung berfungsi sebagai pompa yang memberi tekanan pada darah untuk menghasilkan gradien
tekanan yang dibutuhkan untuk mengalirkan darah ke jaringan. Seperti semua cairan, darah
menuruni gradien tekanan dari daerah dengan tekanan tinggi ke daerah dengan tekanan rendah.1
Mekanisme kerja jantung itu sendiri meliputi aktivitas kelistrikan pada jantung, siklus jantung
dan enzim pada jantung.

Aktivitas Listrik di Jantung

Kontraksi sel otot jantung untuk menyemprotkan darah dipicu oleh potensial aksi yang menyapu
ke seluruh membran sel otot. Jantung berkontraksi, atau berdenyut, secara ritmis akibat potensial
aksi yang dihasilkannya sendiri, suatu sifat yang dinamai otoritmisitas. Terdapat dua jenis khusus
sel otot jantung.

1. Sel kontraktil, yang membentuk 99% dari sel-sel otot jantung, melakukan kerja
mekanis memompa darah. Sel-sel ini dalam keadaan normal tidak membentuk sendiri
potensal aksinya.
2. Sel-sel otoritmik, sel-sel jantung sisanya yang sedikit tetapi sangat penting. Sel
otoritmik tidak berkontraksi tetapi khusus memulai dan menghantarkan potensial aksi
yang menyebabkan kontraksi sel-sel jantung kontraktil.

Berbeda dari sel saraf dan sel otot rangka, yang membrannya berada pada potensial istirahat
yang konstan kecuali jika sel dirangsang, sel otoritmik jantung tidak memilki potensial istirahat.
Sel-sel ini malah memperlihatkan aktivitas pemacu yaitu potensial membrannya secara perlahan
terdepolarisasi,

Potensial pemacu disebabkan oleh adanya interaksi kompleks beberapa mekanisme ionic yang
berbeda. Perubahan terpenting dalam perpindahan ion yang menimbulkan potensial pemacu
adalah penurunan arus K + keluar disertai oleh arus Na + masuk yang konstan dan peningkatan
arus Ca 2+ masuk. Pada sel otoritmik parmeabilitas K + tidak tetap. Permeabilitas membrane
terhadap K + menurun di antara dua potensial aksi karena saluran K + secara perlahan menutup
pada potensial negatif. Sel otoritmik pada jantung juga tidak mempunyai saluran Na + berpintu
voltase. Sehingga saluran ini selalu terbuka dan permeable terhadap Na + pada potensial negatif.
Karena itu, bagian dalam secara gradual menjadi kurang negative, yaitu membrane secara
bertahap mengalami depolarisasi dan bergeser menuju ambang.

Pada paruh kedua potensial pemacu, suatu saluran Ca2+ transien (saluran Ca2+ tipe T), salah
satu dari dua jenis saluran Ca2+ berpintu voltase terbuka. Saluran ini membuka sebelum
mencapai ambang. Influks singkat Ca2+ yang terjadi semakin mendepolarisai membran,
membawanya ke ambang. Jika ambang telah tercapai, terbentuk fase naik potensial aksi sebagai
respon terhadap sebagai respons terhadap pengaktifan saluran Ca2+ berpintu voltase yang
berlangsung lebih lama (saluran Ca2+ tipe L) dan diikuti oleh influs Ca2+ dalam jumlah besar.

Fase turun disebabkan oleh efluks K+ meningkat akibat pengaktifan saluran K+ berpintu
voltase. Setelah potensial aksi selesai, terjadi depolarisasi lambat berikutnya menuju ambang
akibat penutupan saluran K+ secara perlahan. Sel-sel jantung non-kontraktil yang mampu
melakukan otoritmisitas yaitu nodus sinuatrialis (nodus SA), nodus atrioventrikularis (nodus
AV), berkas his (berkas atrioventrikular), dan serat pukinje.

Nodus sinuatrialis (nodus SA), suatu daerah kecil khusus di dinding atrium kanan dekat pintu
masuk vena kava superior. Nodus SA mlepaskan impuls sebanyak 72 kali per menit, frekuensi
irama yang lebih cepat diandingkan dalam atrium (40-60 kali permenit), dan ventrikel (20 kali
per menit). Nodus SA mengatur frekuensi kontraksi irama, sehingga disebut pemacu jantung.

Nodus atroventrikular (nodus AV) suatu berkas kecil sel-sel otot jantung khusus yang
terletak di dasar atrium kanan dekat septum, tepat diatas pertemuan atrium dan ventrikel. Nodus
AV menunda impuls seperaturan detik, sampai ejeksi darah atrium selesai sebelum terjadi
kontraksi ventriukular.

Berkas his (berkas atrioventrikular), suatu jaras sel-sel khusus yang berasal dari nodus AV
dan masuk ke septum antarventrikel. Di sini berkas tersebut terbagi menjadi cabang berkas kanan
dan kiri yang turun menyusuri septum, melengkung mengelilingi ujung rongga ventrikel, dan
berjalan balik ke arah atrium di sepanjang dinding luar.

Potensial pada otot jantung

Potensial aksi yang direkam dalam sebuah serabut otot ventrikel memperlihatkan rata- rata
potensial aksi yang terbentuk adalah 105 milivolt, yang berarti bahwa potensial intrasel tersebut
meningkast dari suatu nilai yang sangat negatif menjadi sekitar -85milivolt, dan di antara denyut
jantung menjadi sedikit positif +20milivolt, sepanjang tiap denyut jantung. Setelah terjadi bentuk
gelombang paku (spike) yang pertama, mebran tetap dalam keadaan depolarisasi selama kira-kira
0,2 second.
Di dalam grafiknya memperlihatkan suatu pendataran, yang kemudian diikuti dengan keadaan
repolarisasi yang terjadi dengan tiba-tiba pada bagian akhir dari pendataran, adanya pendataran
ini terjadi karena pada otot jantung, potensial aksi ditimbulkan oleh pembukaan dua macam
kanal, yaitu kanal cepat natrium dan kanal lambat kaslium, yang juga di sebut sebagai kanal
kalsium-natrium. Kumpulan kanal yang kedua ini berbeda dengan kanal cepat narium karena
lebih lambat membuka dan kanal ini tetap terbuka selama beberapapuluh detik.

Faktor kedua yang mengakibatkan pendataran grafik potensial aksi adalah sesuah potensial aksi
timbul, permeabilitas membran otot jantung terhadap ion kalium menurun kira-kira 5 kali lipat,
yang merupakan suatu efek yang tidak terjadi pada otot rangka. Penurunan permeabilitas
terhadap kalium ini mungkin di sebabkan oleh terlalu banyaknya pemasukan kalium melalui
kanal kalsium. Permeabilitas membran untuk ion kalium juga akan meningkat dengan cepat dan
hilangnya ion kalium yang cepat dari serabut secepatnya akan mengembalikan potensial aksi
membran ke keadaan istirahat sehingga mengakhiri potensial aksi.4

Elektrokardiogram (EKG)

Arus listrik yang dihasilkan oleh otot jantung selama depolarisasi dan repolarisasi
menyebar ke dalam jaringan sekitar jantung dan dihantarkan melalui cairan tubuh dan dapat
dideteksi dengan menggunakan elektroda perekam. Rekaman yang dihasilkan adalah suatu
elektrokardiogram. Elektrokardiogram (EKG) adalah rekaman grafik aktivitas yang menyertai
kontraksi atrium dan ventrikel jantung. Depolarisasi dan polarisasi otot jantung mengasilkan
daya potensial pada permukaan kulit yang dapat direkam melalui sebuah poligraf atau oliskop
setelah melekatkan elektroda permukaan pada lokasi yang tepat.

Posisi elektroda berhubungan satu sama lain dan terhadap jantung disebut sadapan (lead).
Ada 12 sadapan (lead) berbeda yang masing-masing merekam aktivitas listrik di jantung dari
lokasi yag berbeda-beda. Enam sadapan dari ektremitas atas dan enam sadapan dada di berbagai
tempat di sekitar jantung. Sadapan ekstremitas mencakup sadapan I, II, III, aVR, aVL, dan aVF

EKG normal memiliki tiga bentuk gelombang yang jelas geolmbang P, komplek QRS,
dan gelombang T (Gambar 9). Gelombang P mencerminkan depolarisasi atrium. Gelombang
yang pertama kali terekam ialah gelombang P terjadi ketika impuls atau gelombang depolarisasi
menyebar ke seluruh atrium. Kompleks QRS mencerminkan depolarisasi ventrikel. Aktivitas
listrik yang berkaitan dengan repolarisasi atrium normalnya terjadi bersamaan dengan
depolarisasi ventrikel dan ditandai oleh kompleks QRS. Gelombang T mencerminkan
repolarisasi ventrikel.

Elektrokardiografi / EKG digunakan untuk merekam pola kerja jantung yang akan dicetak pada
sebuah kertas perekam. Alat ini dapat mengidentifikasi dan mendiagnosis apabila ditemukan
keabnormalan pada kerja jantung.

Kertas perekam EKG


Sebuah elektrokardiograf khusus berjalan di atas kertas dengan kecepatan 25 mm/s, meskipun
kecepatan yang di atas daripada itu sering digunakan. Setiap kotak kecil kertas EKG berukuran 1
mm². Dengan kecepatan 25 mm/s, 1 kotak kecil kertas EKG sama dengan 0,04 s (40 ms). 5 kotak
kecil menyusun 1 kotak besar, yang sama dengan 0,20 s (200 ms). Karena itu, ada 5 kotak besar
per detik. 12 sadapan EKG berkualitas diagnostik dikalibrasikan sebesar 10 mm/mV, jadi 1 mm
sama dengan 0,1 mV. Sinyal "kalibrasi" harus dimasukkan dalam tiap rekaman. Sinyal standar 1
mV harus menggerakkan jarum 1 cm secara vertikal, yakni 2 kotak besar di kertas EKG.6

Seleksi saring
Monitor EKG modern memiliki banyak penyaring untuk pemrosesan sinyal. Yang paling umum
adalah mode monitor dan mode diagnostik. Dalam mode monitor, penyaring berfrekuensi rendah
(juga disebut penyaring bernilai tinggi karena sinyal di atas ambang batas bisa lewat) diatur baik
pada 0,5 Hz maupun 1 Hz dan penyaring berfrekuensi tinggi (juga disebut penyaring bernilai
rendah karena sinyal di bawah ambang batas bisa lewat) diatur pada 40 Hz. Hal ini membatasi
EKG untuk pemonitoran irama jantung rutin.7

Sadapan
Grafik yang menunjukkan hubungan antara elektrode positif, muka gelombang depolarisasi (atau
rerata vektor listrik), dan kompleks yang ditampilkan di EKG. Sebuah elektrokardiograf 12
sadapan biasanya hanya menggunakan 10 kabel/elektrode.

 Saat bergerak ke arah elektrode positif, muka gelombang depolarisasi (atau rerata vektor
listrik) menciptakan defleksi positif di EKG di sadapan yang berhubungan.
 Saat bergerak dari elektrode positif, muka gelombang depolarisasi menciptakan defleksi
negatif pada EKG di sadapan yang berhubungan.
 Saat bergerak tegak lurus ke elektrode positif, muka gelombang depolarisasi (atau rerata
vektor listrik) menciptakan kompleks equifasik (atau isoelektrik) di EKG, yang akan
bernilai positif saat muka gelombang depolarisasi (atau rerata vektor listrik) mendekati
(A), dan kemudian menjadi negatif saat melintas dekat (B).
Sadapan prekordial
Sadapan prekordial V1, V2, V3, V4, V5, dan V6 ditempatkan secara langsung di dada. Karena
terletak dekat jantung, 6 sadapan itu tak memerlukan augmentasi. Terminal sentral Wilson
digunakan untuk elektrode negatif, dan sadapan-sadapan tersebut dianggap unipolar. Sadapan
prekordial memandang aktivitas jantung di bidang horizontal. Sumbu kelistrikan jantung di
bidang horizontal disebut sebagai sumbu Z. Sadapan V1, V2, dan V3 disebut sebagai sadapan
prekordial kanan sedangkan V4, V5, dan V6 disebut sebagai sadapan prekordial kiri.9

 Sadapan V1 ditempatkan di ruang intercostal IV di kanan sternum.


 Sadapan V2 ditempatkan di ruang intercostal IV di kiri sternum.
 Sadapan V3 ditempatkan di antara sadapan V2 dan V4.
 Sadapan V4 ditempatkan di ruang intercostal V di linea midclavicula (sekalipun detak
apeks berpindah).
 Sadapan V5 ditempatkan secara mendatar dengan V4 di linea axillaris anterior.
 Sadapan V6 ditempatkan secara mendatar dengan V4 dan V5 di linea midaxillaris.
Gelombang dan interval
Sebuah EKG yang khas melacak detak jantung normal (atau siklus jantung) terdiri atas 1
gelombang P, 1 kompleks QRS dan 1 gelombang T. Sebuah gelombang U kecil normalnya
terlihat pada 50-75% di EKG. Voltase garis dasar elektrokardiogram dikenal sebagai garis
isoelektrik. Khasnya, garis isoelektrik diukur sebagai porsi pelacakan menyusul gelombang T
dan mendahului gelombang P berikutnya:

Analisis Irama

a. Gelombang P
Selama depolarisasi atrium normal, vektor listrik utama diarahkan dari nodus SA ke
nodus AV, dan menyebar dari atrium kanan ke atrium kiri. Sebuah gelombang P harus
tegak di sadapan II dan aVF dan terbalik di sadapan aVR untuk menandakan irama
jantung sebagai Irama Sinus.
b. Hubungan antara gelombang P dan kompleks QRS membantu membedakan sejumlah
aritmia jantung.
c. Bentuk dan durasi gelombang P dapat menandakan pembesaran atrium.
d. Interval PR
Interval PR diukur dari awal gelombang P ke awal kompleks QRS, yang biasanya
panjangnya 120-200 ms. Pada pencatatan EKG, ini berhubungan dengan 3-5 kotak kecil.
e. Kompleks QRS
Kompleks QRS adalah struktur EKG yang berhubungan dengan depolarisasi ventrikel.
Karena ventrikel mengandung lebih banyak massa otot daripada atrium, kompleks QRS
lebih besar daripada gelombang P. Di samping itu, karena sistem His/Purkinje
mengkoordinasikan depolarisasi ventrikel, kompleks QRS cenderung memandang
"tegak" daripada membundar karena pertambahan kecepatan konduksi
f. Hubungan antara gelombang P dan kompleks QRS membantu membedakan sejumlah
aritmia jantung.
g. Interval PR
Interval PR diukur dari awal gelombang P ke awal kompleks QRS, yang biasanya
panjangnya 120-200 ms. Pada pencatatan EKG, ini berhubungan dengan 3-5 kotak kecil.
h. Kompleks QRS
Kompleks QRS adalah struktur EKG yang berhubungan dengan depolarisasi ventrikel.
Karena ventrikel mengandung lebih banyak massa otot daripada atrium, kompleks QRS
lebih besar daripada gelombang P. Di samping itu, karena sistem His/Purkinje
mengkoordinasikan depolarisasi ventrikel, kompleks QRS cenderung memandang
"tegak" daripada membundar karena pertambahan kecepatan konduksi
i. Segmen ST
Segmen ST menghubungkan kompleks QRS dan gelombang T serta berdurasi 0,08-0,12 s
(80-120 ms). Segmen ini bermula di titik J (persimpangan antara kompleks QRS dan
segmen ST) dan berakhir di awal gelombang T
j. Gelombang T
Gelombang T menggambarkan repolarisasi ventrikel pada akhir sistol ventrikel. Interval
dari awal kompleks QRS ke puncak gelombang T disebut sebagai periode refraksi
absolut. Separuh terakhir gelombang T disebut sebagai periode refraksi relatif (atau
peride vulnerabel).
k. Interval QT
Interval QT diukur dari awal kompleks QRS ke akhir gelombang T. Interval QT yang
normal biasanya sekitar 0,40 s. Interval QT di samping yang terkoreksi penting dalam
diagnosis sindrom QT panjang dan sindrom QT pendek
l. Hubungan antara gelombang P dan kompleks QRS membantu membedakan sejumlah
aritmia jantung.
m. Bentuk dan durasi gelombang P dapat menandakan pembesaran atrium.
n. Interval PR
Interval PR diukur dari awal gelombang P ke awal kompleks QRS, yang biasanya
panjangnya 120-200 ms. Pada pencatatan EKG, ini berhubungan dengan 3-5 kotak kecil.
o. Kompleks QRS
Kompleks QRS adalah struktur EKG yang berhubungan dengan depolarisasi ventrikel.
Karena ventrikel mengandung lebih banyak massa otot daripada atrium, kompleks QRS
lebih besar daripada gelombang P. Di samping itu, karena sistem His/Purkinje
mengkoordinasikan depolarisasi ventrikel, kompleks QRS cenderung memandang
"tegak" daripada membundar karena pertambahan kecepatan konduksi
p. Segmen ST
Segmen ST menghubungkan kompleks QRS dan gelombang T serta berdurasi 0,08-0,12 s
(80-120 ms). Segmen ini bermula di titik J (persimpangan antara kompleks QRS dan
segmen ST) dan berakhir di awal gelombang T
q. Gelombang T
Gelombang T menggambarkan repolarisasi ventrikel pada akhir sistol ventrikel. Interval
dari awal kompleks QRS ke puncak gelombang T disebut sebagai periode refraksi
absolut. Separuh terakhir gelombang T disebut sebagai periode refraksi relatif (atau
peride vulnerabel).
r. Interval QT
Interval QT diukur dari awal kompleks QRS ke akhir gelombang T. Interval QT yang
normal biasanya sekitar 0,40 s. Interval QT di samping yang terkoreksi penting dalam
diagnosis sindrom QT panjang dan sindrom QT pendek
s. Gelombang U
Gelombang U tak selalu terlihat. Gelombang ini khasnya kecil, dan menurut definisi,
mengikuti gelombang T. Gelombang U diperkirakan menggambarkan repolarisasi otot
papillaris atau serabut Purkinje

Faktor-faktor yang memperngaruhi kerja jantung:


1. Beban awal
Otot jantung diregangkan sebelum ventrikel kiri berkontraksi, berhubungan dengan
panjang otot jantung, peningkatan beban awal menyebabkan kontrksi ventrikel lebih
kuat dan menigkatkan volume curah jantung.
2. Kontraktilitas
Bila saraf simpatis yang menuju ke jantung dirangsang maka ketegangan keseluruhan akan
bergeser ke atas atau ke kiri atau meningkatkan kontraktikitas, frekuesnsi dan irama
jantung juga mempengaruhi kontraktilitas. Bila sebagian dari miokard ventrikel tidak
berfungsi maka kerja ventrikel akan berkurang yang menyebabkan depresi (menurunnya)
kontraktilitas setiap unit miokard.10
3. Beban Akhir
Resistensi (tahanan) yang harus diatasi waktu darah dikeluarkan dari ventrikel, suatu
beban ventrikel kiri untuk membuka katup semilunaris aorta dan mendorong darah
selama kontraksi. Peningkatan drastis beban akhir akan meningkatkan kerja ventrikel,
meningkatkan kebutuhan oksigen dan mengakibatkan kegagalan ventrikel.
4. Frekuensi Jantung
Dengan meningkatnya frekuensi jantung akan memperberat pekerjaan jantung

Enzim jantung
Enzim-enzim jantung utama yang ditemukan pada jaringan jantung troponin T, troponin I,
creatine kinase (CK) / Kreatin Phosphokinase (CPK), aminotranferase aspartate (AST) dan
laktat dehidrogenase (LDH).

Enzim adalah katalis biokimia. Dengan kata lain, enzim adalah molekul protein-besar yang
terbuat dari asam amino yang diperlukan untuk struktur tubuh, fungsi, dan peraturan-yang
membantu reaksi kimia terjadi. Enzim jantung ditemukan dalam jaringan jantung dan mereka
berfungsi sebagai katalis untuk berbagai reaksi biokimia jantung. enzim jantung utama adalah
Troponin dan Kreatin Phosphokinase (CPK).

1. CK MB (creatinin kinase MB)


Dalam keadaan normal enzim ini ditemukan di dalam otot jantung dan dilepaskan ke
dalam darah jika terjadi kerusakan jantung. Peningkatan kadar enzim ini akan tampak
dalam waktu 6 jam setelah serangan jantung dan menetap selama 36-48 jam.
2. Enzim CPK (Creatine phosophokinase)
juga penting, karena memberikan energi yang dibutuhkan untuk gerakan oleh hati.
Ketika otot jantung rusak dalam kasus serangan jantung, konsentrasi tinggi enzim
jantung yang dilepaskan ke dalam aliran darah.
3. Troponin CTN (cardiac specific Troponin)
Troponin adalah enzim jantung sangat penting, karena memainkan peran sentral dalam
cara kontrak otot jantung. Troponin kontrol bagaimana otot jantung merespon sinyal
yang diterima untuk kontraksi, dan mengatur gaya yang kontraksi otot
4. LDH (Lactic Dehydrogenase)
LDH yang paling sering diukur untuk memeriksa kerusakan jaringan. LDH enzim
dalam jaringan tubuh, terutama jantung, hati, ginjal, otot rangka, otak, sel-sel darah, dan
paru-paru
5. Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) dan Aminotransferase alanin
(ALT)/SGPT)
Merupakan enzim yang utama banyak ditemukan pada sel hati serta efektif dalam
mendiagnosis dekstruksi hepatoseluler.Enzim ini juga ditemukan dalam jumlah sedikit
pada otot jantung, ginjal serta otot rangka.

Kesimpulan

Nyeri dada yang menjalar ke punggung dan lengan kiri disebabkan oleh mekanisme kerja
jantung yang abnormal tepatnya pada bagian pembuluh darah yang anterior yang mensuplai
darah ke otot jantung tersumbat, yang mempengaruhi sistem persarafan ekstremitas atas sehingga
terasa nyeri pada pungung dan lengan kiri. Nyeri tersebut harus diperiksa salah satu cara
pemeriksaannya adalah dengan menggunakan EKG dimana kita data mengukur irama
jantungnya sehingga dapat diidentifikasi apakah ada kerja jantung yang abnormal.
Daftar Pustaka

1. Bogart BI. Integrated anatomy and embryology. Philadelphia: Mosby Inc; 2007.
2. Faiz O, Moffat D. At a glance anatomy. Jakarta: Erlangga Medical Series; 2004
3. Sherwood L. Human Physiology: from cells to systems. 7 th ed. Canada:
CengageLearning; 2010
4. Ganong WF. Review of medical physiology. 21th ed. San Francisco: Lange; 2005
5. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi ke-11. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2006.h.133-68.
6. David. Human anatomy and physiology. New York: McGraw-Hill; 2004
7. Conrath C. The patient u wave. Philadelphia: Mosby Inc; 2008
8. Sherwood L. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2011.h.327-47.
9. Murray K.R, Granner D.K, Rodwell V.W. Biokimia harper. 27th ed. Jakarta: EGC; 2009.
10. Sloane. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. 2nd ed. Jakarta: EGC; 2004